Anda di halaman 1dari 10

A.

Komponen Ilmu

http://teknologidanpolitikkomunikasi.blogspot.co.id/2013/06/pengertian-syarat-komponen-dan-
sitaf.html

Komponen Ilmu:

1. Fenomena, Kejadian atau gejala-gejala yang ditangkap oleh indra manusia dan dijadikan
masalah karena belum diketahui (apa, mengapa, bagaimana) adanya.

2. Konsep, Istilah atau symbol yang mengandung pengertian singkat dari fenomena, atau
abstraksi dari fenomena.

3. Variabel adalah adalah konsep yang mempunyai variasi sifat yang dapat dinyatakan dengan
jumlah atau besaran yang bernulai kategorial. Variable sifat, jumlah atau besaran yang
mempunyai nilai kategori (bertingkat) baik kualitatif, maupun kuantitatif , sebagai hasil
penelaan mendasar dari konsep.

4. Proposisi adalah kalimat ungkapan yang terdiri dari dua variable atau lebih, yang menyatakan
hubungan sebab akibat (kausalitas)

5. Fakta adalah proposisi yang telah teruji secara empiris (hubungan yang ditunjang oleh data
empiris)

6. Teori adalah jalinan fakta menurut kerangka bermakna.

Komponen ilmu pengetahuan

A.J. Bahm dalam Axiology: The Science of Values mengatakan, ilmu pengetahuan terkait dengan
masalah. Masalah adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Jika tidak ada masalah, maka tidak akan
muncul ilmu pengetahuan. Pengetahuan ilmiah adalah hasil dari pemecahan masalah ilmiah. Jika
tidak ada masalah, maka tidak ada pemecahan masalah, dus dengan demikian tidak ada
pengetahuan ilmiah. Untuk menjadi ilmiah, maka seseorang harus memiliki kemauan untuk mencoba
memecahkan masalah.

Menurut Bahm, ilmu pengetahuan setidaknya melibatkan enam komponen penting: 1) masalah
(problems); 2) sikap (attitude); 3) metode (method); 4) aktivitas (activity); 5) kesimpulan
(conclusion); 6) pengaruh (effects).

1. Masalah (Problems)

Masalah mana yang dianggap mengandung sifat ilmiah? Menurut Bahm, suatu masalah bisa
dianggap ilmiah, sedikitnya memiliki tiga ciri: 1) terkait dengan komunikasi; 2) sikap ilmiah dan 3)
metode ilmiah. Tidak ada masalah yang disebut ilmiah kecuali masalah tersebut bisa
dikomunikasikan kepada orang lain. Jika belum atau tidak dapat dikomunikasikan kepada orang lain
atau masyarakat maka belum dianggap ilmiah. Tidak ada masalah yang pantas disebut ilmiah kecuali
masalah tersebut bisa dihadapkan pada sikap ilmiah. Demikian pula tidak ada masalah yang pantas
disebut ilmiah kecuali harus terkait dengan metode ilmiah.
2. Sikap (attitude)

Sikap ilmiah (scientific attitude) menurut Bahm setidaknya harus memiliki enam ciri pokok, yaitu: 1)
keingintahuan (curiosity); 2) spikulasi (speculativeness); 3) kemauan untuk berlaku objektif
(willingness to be objective); 4) terbuka (open-maindedness); 5) kemauan untuk menangguhkan
penilaian (willingness to suspend judgment) dan 6) bersifat sementara (tentativity).

1). Keingintahuan (curiosity). Keingintahuan harus dimiliki oleh seorang ilmuwan, seperti keinginan
untuk menyelidiki, investigasi, eksplorasi, dan eksperimentasi.

2). Spikulasi (spiculativeness). Hal ini penting dalam rangka menguji hipotesis. Spikulasi juga
merupakan ciri penting dalam sikap ilmiah.

3). Kesadaran untuk berlaku objektif (willingness to be objective). Sikap ini penting, sebab
objektivitas merupakan ciri ilmiah. Sikap demikian harus dimiliki oleh seorang ilmuwan. Menurut
Bahm sikap objektif harus memenuhi syarat-sayarat sebagai berikut:

1. Memiliki sifat rasa ingin tahu terhadap apa yang diselidiki untuk memperoleh pemahaman
sebaik mungkin;

2. Melangkah dengan berdasarkan pada pengalaman dan alasan, artinya, pengalaman dan
alasan saling mendukung, karena alasan yang logis dituntut oleh pengalaman;

3. Dapat menerima data sebagaimana adanya (tidak ditambah dan dikurangi). Hal ini terkait
dengan sikap objkektif seorang ilmuwan;

4. Bisa menerima perubahan (fleksibel, terbuka), artinya jika objeknya berubah, maka seorang
ilmuwan mau menerima perubahan tersebut;

5. Berani menanggung resiko kekeliruan. Oleh sebab itu trial and error merupakan karakteristik
dari seorang ilmuwan;

6. Tidak mengenal putus asa, artinya gigih dalam mencari objek atau masalah, hingga mencapai
pemahaman secara maksimal.

4). Terbuka (open mindedness), artinya selalu bersedia menerima kritik dan saran ilmuwan lain secara
lapang dada.

5). Menangguhkan keputusan/penilaian (willingness to suspend judgment), artinya bersedia


menangguhkan keputusan sampai semua bukti penting terkumpul.

6). Bersifat sementara, artinya harus menerima bahwa kesimpulan ilmiah bersifat sementara.

3. Metode (Method)

Menurut Bahm, bahwa esensi dari sebuah pengetahuan adalah metode. Setiap pengetahuan
memiliki metodenya sendiri sesuai dengan permasalahannya. Meski diantara para ilmuwan terjadi
perbedaan tentang metode ilmiah, tetapi mereka sepakat bahwa masalah tanpa observasi tidak akan
menjadi ilmiah, sebaliknya observasi tanpa masalah juga tidak akan menjadi ilmiah. Menurutnya,
bahwa ilmu pengetahuan adalah aktivitas menyelesaikan masalah dan melihat metode ilmiah
sebagai sesuatu yang memiliki karakteristik yang esensial bagi penyelesaian masalah. Ada lima
langkah esensial dan ideal menurut Bahm dalam menerapkan metode ilmiah yang harus dipahami
oleh seorang peneliti (ilmuwan), yaitu 1) memahami masalah; 2) menguji masalah; 3) menyiapkan
solusi; 4) menguji hipotesis dan 5) memecahkan masalah.
4. Aktivitas (Activity)

Aktivitas dimaksud adalah penelitian ilmiah, yang memiliki dua aspek: individual dan sosial. Aktivitas
penelitian ilmiah meliputi: 1) observasi; 2) membuat hiopotesis, 3) menguji observasi dan hipotesis
dengan cermat dan terkontrol.

5. Kesimpulan (Conclusion)

Kesimpulan merupakan penilaian akhir dari suatu sikap, metode dan aktivitas. Kesimpulan ilmiah
tidak pasti, tetapi bersifat sementara dan tidak dogmatis. Bahkan jika kesimpulan dianggap
dogmatis, maka akan mengurangi sifat dasar dari ilmu pengetahuan tersebut. Pada dasarnya ilmu
pengetahuan itu bersifat tidak stabil, setiap generasi berhak untuk menginterpretasikan kembali
tradisi ilmu pengetahuan itu.

6. Pengaruh (Effects)

Ilmu pengetahuan memiliki dua pengaruh, yaitu: 1) pengaruh terhadap teknologi dan industri;
2) pengaruh pada peradaban manusia. Industrialisasi yang berkembang dengan pesat merupakan
produk dari ilmu pengetahuan yang mempunyai dampak besar terhadap perkembangan ilmu,
sehingga nampak seperti yang terjadi dalam perubahan sifat ilmu itu sendiri. Proses industrialisasi
tidak akan dapat diputarulang yang akhirnya ilmu pengetahuan itu sendiri mengalami proses
terindustrialisasi. Ilmu pengetahuan yang terindustrialisasi ini menjadi bagian utama dari penggerak
ilmu pengetahuan dan menjadi sebuah sumber bidang penelitian yang memiliki prestise tinggi.

Ilmu pengetahuan (dengan produk teknologinya), juga memiliki dampak negatif, misalnya
dipergunakannya senjata nuklir sebagai alat pemusnah massal di Hiroshima pada perang Dunia II
(termasuk pengeboman Iraq oleh Amerika dan Sekutunya sekarang ini). Berbagai reaksi timbul dari
dampak negatif ini. Maka lahirlah perkumpulan-perkumpulan ilmuwan yang peduli terhadap
masalah dampak negatif teknologi, seperti Federasi ilmuwan Atom, Badan Penelitian Teknologi US,
Masyarakat Internasional untuk Penelitian Teknologi, Kongres Internasional.

Menurut Bahm, bahwa seseorang yang memiliki perhatian pada permasalahan ilmiah bisa disebut
sebagai ilmuwan, kerena sikap ilmiah merupakan bagian dari seorang ilmuwan. Seseorang yang
berhasil mengungkap permasalahan dengan menggunakan metode tertentu meski tidak paham
banyak mengenai sifat ilmu bisa disebut sebagai ilmuwan. Demikian pula seseorang yang
mengamati kesimpulan dari seorang ilmuwan dan memiliki concern dalam mengikuti perkembangan
ilmu pengetahuan juga bisa dikatakan telah memiliki aspek ilmiah dalam dirinya.
Komponen Ilmu Pengetahuan Menurut A.J. Bahm:
Masalah Sikap Metode Aktivitas Kesimpulan Pengaruh
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Komu 1. Keingintahuan 1. Memaha 1. Observasi Bersifat 1. pengaruh
nikasi 2. Spikulatif mi 2. Membuat sementara dan terhadap
2. Sikap 3. Objektif masalah hiopotesis tidak pasti teknologi
ilmiah: 4. Terbuka 2. Menguji 3. Menguji dan
3. Metod 5. Menangguhkan masalah observasi industri
e penilaian 3. Menyiapk dan 2. pengaruh
ilmiah 6. Bersifat sementara an solusi hipotesis terhadap
4. Menguji peradaban
hipotesis manusia
5. Memecah
kan
masalah.

Menurut Peter R. Senn (dalam Jujun, 1991:111), bahwa ilmu pengetahuan memiliki empat
komponen utama, yaitu: 1) perumusan masalah; 2) pengamatan dan deskripsi; 3) penjelasan; 4)
ramalan dan kontrol. Seperti juga Bahm, Senn berpendapat, bahwa penelitian keilmuan dimulai
dengan masalah, misalnya dengan mempertanyakan sesuatu yang terkait dengan fenomena yang
ada: Bagaimana kita harus mendidik anak-anak kita? Apakah yang harus dilakukan untuk mencegah
terjadinya perang dunia III? Apakah penyebab pelacuran? dst.

Cara yang biasa dilakukan dalam menemukan masalah menurut Senn adalah melalui persepsi. Salah
satu syarat utama dalam konteks hubungan antara ilmuwan dengan masalah adalah soal perhatian
terhadap masalah tersebut. Kemudian Senn (lihat hal. 112-115) mesyaratkan empat ciri ideal dari
masalah dalam ilmu, yaitu: 1) penting dan menarik: 2) dapat dijawab dengan jelas dan kongkret: 3)
jawaban dapat diuji oleh orang lain; 4) dapat dirumuskan secara tepat.

Sementara menurut Jujun (1990: 142), ilmu pengetahuan memiliki tiga fungsi, yaitu: menjelaskan,
meramalkan dan mengontrol. Mengutip Ernest Nagel, Jujun berpendapat, bahwa terdapat empat
jenis penjelasan, yaitu: probabilistik, fungsional, teleologis dan genetik.

B. Sumber-sumber ilmu :

https://sulthonkalimosodho.wordpress.com/2011/11/03/sumber-sumber-ilmu-pengetahuan/

Sumber pengetahuan adalah tanda-tanda yang ada di dalam alam semesta, yang ada dalam diri
manusia sendiri, dalam sejarah, atau dalam berbagai peristiwa sosial dan berbagai aspek bangsa dan
masyarakat, dalam akal atau prinsip-prinsip yang sudah jelas dan di dalam hati .
Sumber-sumber ilmu pengetahuan itu secara garis besar ada tiga, yaitu alam semesta (alam fisik),
Alam akal (nalar) dan Hati (intuisi dan ilham) .
A. Alam Semesta (Alam Fisik)
Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia tidak akan lepas dari
hubungannya dengan materi secara interaktif. Hubungan manusia dengan materi , menuntutnya untuk
menggunakan alat yang sifatnya materi pula, yakni indra, karena sesuatu yang materi tidak bisa
diubah menjadi yang tidak materi . Contoh yang paling nyata dari hubungan dengan materi dengan
cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, seperti makan,
minum, dan lain sebagianya. Dengan demikian, alam semesta yang materi merupakan sumber
pengetahuan yang paling awal dan indra merupakan alat untuk mendapatkan pengetahuan dari alam
fisik ini .
Pengetahuan yang bersumber dari indra-indra lahiriah seperti hasil dari melihat, mendengar, meraba,
mencium, dan merasa adalah suatu jenis pengenalan dan pemahaman yang bersifat lahiriah,
permukaan, dan tidak mendalam. Berhubungan dengan alat dan sumber pengetahuan ini tidak terdapat
perbedaan antara manusia dan hewan, karena keduanya sama-sama dapat melihat, mencium, merasa,
dan mendengar, bahkan pada sebagian binatang mempunyai indra yang sangat kuat dan tajam
dibanding manusia.
Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam fisik. Pengetahuan indrawi bersifat parsial,
disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan yang lainnya. Masing-masing indra
menangkap objek atau sesuatu yang berbeda menurut perbedaan indra dan terbatas pada sensibilitas
organ-organ tertentu, oleh karena itu, secara objektif, pengetahuan yang ditangkap satu indra saja,
tidak dapat dipandang sebagai pengetahuan yang utuh . Namun pengetahuan indrawi menjadi sangat
penting karena bertindak sebagai pintu gerbang pertama menuju pengetahuan yang lebih utuh. Dalam
filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksioamatis
(Analityca Posteriora). Benda-benda alam seperti bumi, langit, matahari, lautan, dan segala sesuatu
yang ada di sekitar manusia yang dapat ditangkap manusia dengan indra disebut sebagai hal yang
dapat disimpulkan atau dipersepsi .
B. Alam Akal (Nalar)
Kaum Rasionalis, selain alam semesta atau alam fisik, meyakini bahwa akal merupakan sumber
pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah
yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya
merekam atau memotret realita yanng berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah
adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya, dan untuk meng-generalisasi-
kan indra juga dibutuhkan akal.
Alam akal digolongkan sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan karena :
1. Dalam pemikiran, Akal menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah
mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dalam
istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif.
2. Mengetahui konsep-konsep yang general. Mengatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep
yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman ke dalam benak,
dan penyimpulan.
3. Pengelompokkan Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam
realita ke beberapa kelompok, misalnya realita-realita yang dikelompokkan ke dalam substansi,
apakah benda itu bersifat cair atau keras, dan lain sebagainya.Pemilahan dan Penguraian.
4. Akal dapat menggabungan dan dapat menyusun. Akal juga dapat memilah dan menguraikan.
5. Kreativitas. Dalam hal ini, akal dapat bersifat membangun dan mengeluarkan pendapat atau
pemikiran dalam mengefisiankan sesuatu.
Sebagian konsepsi-konsepsi dan pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh manusia tidak mungkin
bersumber dari indra dan empiris, melainkan hanya dapat diperoleh dengan perantaraan akal dan
rasio, seperti konsepsi-konsepsi tentang Tuhan, jiwa, dan yang sejenisnya. Menurut Imam Khomeni,
manusia secara fitri bersandar pada argumentasi akal dan demonstrasi rasional, yakni fitrah manusia
tunduk pada dalil dan burhan akal. Itulah fitrah yang dikhususkan bagi manusia dan tidak ada
perubahan dalam penciptaan Tuhan.
Al-Ghazali mengatakan, bahwa akal juga termasuk sumber ilmu pengetahuan sekaligus sebagai alat
mencapai pengetahuan,. Akal itu sebagai kekuatan fitri sehingga membuat manusia lebih tinngi
dibandingkan dengan hewan. Diperjelas dalam karyanya Ihya Ulum Ad-din bahwa yang menjadi
jiwa rasional adalah akal . Sama halnya menurut Immanuel Kant bahwa Akal mengucapkan putusan-
putusan. Artinya, akal menyimpulkan yang ditangkap oleh indra, bagaimanakah sifat, bentuk,
kandungan dan proses yang ada pada objek atau sesuatu yang ditangkap oleh indra tersebut .
C. Hati (Intuisi dan Ilham)
Kaum empiris memandang bahwa sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang
inmateri tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosofi) yang meyakini bahwa ada sesuatu hal
yang lebih luas dari sekedar materi, mereka meyakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan
tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal dan hati. Hati dapat merasakan sesuatu hal lain
yang bukan bersifat materi, tetapi merasakan apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya sendiri seperti
rasa sakit, rasa lapar, dan sebagainya. Seperti yang tertulis di batu nisan kant, bahwa Ada dua hal
yang sangat mengundang decak kagum manusia, yaitu langit berbintang di atas kepala kita, dan hati
nurani di dalam diri kita . Intinya, Kant sendiri meyakini bahwa yang merupakan sumber ilmu
pengetahuan selain alam semesta adalah hati. Menurut Muhyiddin Arabi, beliau memandang bahwa
hati itu bersumber dari rahmat Tuhan dan bahkan lebih luas dari rahmat Tuhan itu sendiri, karena hati
dan kalbu para insan kamil dan urafa ialah satu-satunya wadah yang dapat menerima hakikat-
hakikat Ilahi. Menurut Henry Bergson, Intuisi adalah semacam kekuatan rohani atau tenaga rohani
untuk menyelami hakikat segala kenyataan yang tentunya telah mendapat kesadaran diri .
Dalam konteks islam, pengetahuan intuitif merupakan pengetahuan khas manusia . Pengetahuan ini
sebenarnya juga berada pada akal budi manusia, tetapi yang dibedakan disini adalah menekankan
pada sistematika dan kekuatan metodologis. Selain itu, terdapat sumber pengetahuan lagi dalam
perspektif islam, yaitu Ilham dan wahyu. Hal ini disebutkan sebagai sumber pengetahuan tertinggi di
luar struktur pengalaman dan pengetahuan rasio, bahkan diluar jangkauan akal. Para filosof sufilah
yang memaparkan hal ini. Pengetahuan wahyu juga dapat mengungkap tabir metafisik .
Intuisi dan Wahyu, adalah sumber yang datang dari mereka yang menjunjung tinggi peranan wujud
tertentu diluar zat atau benda fisik yang tampak dan dapat dibuktikan oleh indrawi manusia, intuisi
dinaggap jadi sumber pengetahuan karena intuisi manusia mendapati ilmu pengetahuan secara
langsung tanpa melalui proses penalaran tertentu, dari intuisi secara tiba-tiba menemukan jawaban
dari masalah yang dihadapi, dan Nietzshe menyebut intuisi sebagai sumber ilmu yang paling tinggi,
tetapi diluar itu juga ia berpendapat bahwa intuisi hanya dijadikan hipotesis yang butuh analisis
lanjutan. Berbeda dengan wahyu yang didapati manusia melalui pemberian Tuhan secara langsung
kepada hamba-Nya yang terpilih yang disebut Nabi dan Rasul. Agama jadi kata kunci dalam wahyu,
dalam proses hidup manusia dan agama menerangkan pada manusia tentang sejumlah pengetahuan
yang baik, terjangkau, atau tidak.
C. Etika keilmuwan

Etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran yang mengatakan bagaimana
seharusnya hidup, tetapi itu adalah ajaran moral. Ilmu Pengetahuan dan etika sebagai suatu
pengetahuan yang diharapkan dapat meminimalkan dan menghentikan perilaku
penyimpangan dan kejahatan di kalangan masyarakat. Ilmu pengetahuan dan etika
diharapkan mampu mengembangkan kesadaran moral di lingkungan masayarakat sekitar agar
dapat menjadi ilmuwan yang memiliki moral dan akhlak yang baik dan mulia.
Sebagai suatu obyek, etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu
maupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dilakukan itu salah
atau benar, baik atau buruk. Dengan begitu dalam proses penilaiannya ilmu pengetahuan
sangat berguna dalam memberikan arah atau pedoman dan tujuan masing-masing orang.
Ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan umat manusia tanpa merendahkan
martabat seseorang.
Etika memberikan batasan maupun standar yang mengatur pergaulan manusia di
dalam kelompok sosialnya yang kemudian dirupakan ke dalam aturan tertulis yang secara
sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat
diperlukan dapat di fungsikan sebagai pedoman untuk melakukan tindakan tertentu terhadap
segala macam tindakan yang secara umum dinilai menyimpang dari kode etik yang telah
ditentukan dan disepakati bersama. Ilmu sebagai asas moral atau etika mempunyai kegunaan
khusus yakni kegunaan universal bagi umat manusia dalam meningkatkan martabat
kemanusiaannya.
Masalah moral tidak dapat dilepaskan dengan tekad nanusia untuk menemukan
kebenaran. Sebab untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran diperlukan keberanian.
Sejarah kemanusiaan telah mencatat semangat para ilmuwan yang rela mengorbankan
nyawanya untuk mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Kemanusiaan tak pernah
urung dihalangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka ilmuwan akan
mudah melakukan pemaksaan intelektual. Penalaran secara rasional yang telah membawa
manusia mencapai harkat kemanusiaannya berganti dengan proses rasionalisasi yang
mendustakan kebenaran.
Maka inilah pentingnya etika dan moral dalam ilmu pengetahuan yang menyangkut
tanggung jawab manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi
sebesar-besarnya kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena dalam penerapannya ilmu
pengetahuan juga mempunyai akibat positif dan negatif bahkan destruktif maka diperlukan
nilai atau norma untuk mengendalikannya. Di sinilah etika menjadi ketentuan mutlak yang
akan menjadi pengendali bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk
meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan manusia.
Di bidang etika tanggung jawab ilmuwan bukan lagi hanya memberikan informasi
namun juga memberikan contoh bagaimana bersifat obyektif, terbuka, menerima kritikan,
menerima pendapat orang lain, kukuh pada pendirian yang dianggap benar dan berani
mengakui kesalahan. Tugas seorang ilmuwan harus menjelaskan hasil penelitiannya sejernih
mungkin berdasarkan rasionalitas dan metodologis yang tepat. Secara moral seorang ilmuwan
tidak akan membiarkan hasil penelitiannya digunakan untuk tujuan yang melanggar asas-asas
kemanusian.
Pengetahuan merupakan sarana yang dapat digunakan untuk kemaslahatan manusia
dan dapat pula disalahgunakan. Sehingga tanggung jawab ilmuwan sangatlah besar, tanggung
jawab akademis dan tanggung jawab moral. Jika ilmuwan telah dapat memenuhi tanggung
jawab sosialnya, maka ilmu penetahuan itu akan berkembang dengan pesat, ilmu
pengetahuan itu akan dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia, dan ilmu
pengetahuan itu tidak akan menimbulkan kerusakan dan konflik di masyarakat.

D. Sikap keilmuwan dan kesadaran moral :

Manusia sebagai makhluk Tuhan berada bersama-sama dengan alam dan


berada di dalam alam itu. Manusia akan menemukan pribadinya dan membudayakan dirinya
bilamana manusia hidup dalam hubungannya dengan alamnya. Manusia yang merupakan
bagian alam tidak hanya merupakan bagian yang terlepas darinya. Manusia senantiasa
berintegrasi dengan alamnya. Sesuai dengan martabatnya maka manusia yang merupakan
bagian alam harus senantiasa merupakan pusat dari alam itu. Dengan demikian, tampaklah
bahwa diantara manusia dengan alam ada hubungan yang bersifat keharusan dan mutlak.
Oleh sebab itulah, maka manusia harus senantiasa menjaga keles-tarian alam dalam
keseimba-ngannya yang bersifat mutlak pula. Kewajiban ini merupakan kewajiban moral
tidak saja sebagai manusia biasa lebih-lebih seorang ilmuwan dengan senantiasa menjaga
kelesta-rian dan keseimbangan alam yang juga bersifat mutlak.

Para ilmuwan sebagai orang yang profesional dalam bidang keilmuan sudah barang
tentu mereka juga perlu memiliki visi moral yaitu moral khusus sebagai ilmuwan. Moral
inilah di dalam filsafat ilmu disebut juga sebagai sikap ilmiah. (Abbas Hamami M., 1996)
Sikap ilmiah harus dimiliki oleh setiap ilmuwan. Hal ini disebabkan oleh karena sikap
ilmiah adalah suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai suatu pengetahuan ilmiah yang
bersifat obyektif. Sikap ilmiah bagi seorang ilmuwan bukanlah membahas tentang tujuan dari
ilmu, melainkan bagaimana cara untuk mencapai suatu ilmu yang bebas dari prasangka
pribadi dan dapat dipertanggungjawabkan secara sosial untuk melestarikan dan
keseimbangan alam semesta ini, serta dapat dipertanggungawabkan kepada Tuhan. Artinya
selaras dengan kehendak manusia dengan kehendak Tuhan.
Sikap ilmiah yang perlu dimiliki para ilmuwan menurut Abbas Hamami M., (1996)
sedikitnya ada enam , yaitu:
1. Tidak ada rasa pamrih (disinterstedness), artinya suatu sikap yang diarahkan untuk
mencapai pengetahuan ilmiah yang obyektif dengan menghilangkan pamrih atau kesenangan
pribadi.
2. Bersikap selektif, yaitu suatu sikap yang tujuannya agar para ilmuwan mampu
mengadakan pemilihan terhadap pelbagai hal yang dihadapi. Misalnya hipotesis yang
beragam, metodologi yang masing-masing menunjukkan kekuatannya masing-masing, atau ,
cara penyimpulan yang satu cukup berbeda walaupun masing-masing menunjukkan
akurasinya.
3. Adanya rasa percaya yang layak baik terhadap kenyataan maupun terhadap alat-alat
indera serta budi (mind).
4. Adanya sikap yang berdasar pada suatu kepercayaan (belief) dan dengan merasa pasti
(conviction) bahwa setiap pendapat atau teori yang terdahulu telah mencapai kepastian.
5. Adanya suatu kegiatan rutin bahwa seorang ilmuwan harus selalu tidak puas terhadap
penelitian yang telah dilakukan, sehingga selalu ada dorongan untuk riset, dan riset sebagai
aktivitas yang menonjol dalam hidupnya.
6. Seorang ilmuwan harus memiliki sikap etis (akhlak) yang selalu berkehendak untuk
mengembangkan ilmu untuk kemajuan ilmu dan untuk kebahagiaan manusia, lebih khusus
untuk pembangunan bangsa dan negara.

BAB III
KESIMPULAN

Sebagai suatu obyek etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh oleh
individu maupun masyarakat untuk menilai suatu tindakan yang akan dikerjakan. Dimana
etika memberikan penilaian. batasan dan arahan yang mengatur manusia dalam kelompok
sosial lainnya. Dalam proses penilaiannya etika memberikan arahan agar ilmu pengetahuan
berguna dalam memberikan arah atau pedoman dan tujuan masing-masing orang. Ilmu
secara moral harus ditujukan untuk kebaikan umat manusia tanpa merendahkan martabat
seseorang.
Dalam penyelenggaraan ilmu pengetahuan menurut pendapat beberapa tokoh
menyatakan bahwa ilmu pengetahuan bersifat bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap
kegiatan ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan
tidak terpengaruh oleh faktor eksternal seperti faktor politis, idiologis, agama dan budaya.
Tetapi dalam penerapannya ilmu pengetahuan harus mempertimbangkan segi
kemaslahatannya bagi umat manusia.
Persoalan yang mendasar dalam etika keilmuan adalah bahwa penerapan ilmu
pengetahuan selalu memerlukan pertimbangan dari segi etis yang berpengaruh pada
pengembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang. Sehingga dalam
pengembangannya para ilmuwan harus memperhatikan dan menjaga martabat manusia dan
kelestarian lingkungan. juga diperlukan, kedewasaan yang sesungguhnya dari manusia untuk
menentukan mana yang baik dan buruk bagi kehidupannya.
Dalam penyelenggaraan ilmu pengetahuan seorang ilmuwan harus menghasilkan
pengetahuan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka, kritis rasional, logis
dan obyektif. Dan dalam pengembangannya diperlukan moralitas dan tanggung jawab yang
tinggi dari ilmuwan sehingga berdampak positif bagi kehidupan manusia. Tanggung jawab
ilmuwan meliputi tanggung jawab terhadap tata ilmiah, manusia dan kepada Allah Swt.

Darftar Pustaka
Prof. Dr. Amsal Bakhtiar,MA, Filsafat Ilmu, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta
Prof. Konrad Kebung, Ph.D, Filsafat Ilmu Pengetahuan, Pustakaraya, Jakarta, 2011.

Mohammad Adib, MA, Filsafat Ilmu ( Ontologi, Epistimologi, Aksiologi dan Logika Ilmu
Pngetahuan), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011