Anda di halaman 1dari 5

1.

Kemukakan permasalahan yang akan anda teliti :

Memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, pendidikan di suatu negara tentu
harus mampu berinovasi agar generasi penerus bangsanya dapat terus bersaing dan bertahan di era
globalisasi. Kualitas pendidikan di suatu negara sering dijadikan barometer perkembangan suatu
negara. Kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika, sains dan membaca beserta
aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari dijadikan sebagai gambaran baik atau tidaknya kualitas
pendidikan. Salah satu penilaian utama berskala internasional adalah PISA (Program for
International Students Assesment) yang bertujuan meneliti secara berkala tentang kemampuan
siswa usia 15 tahun (kelas IX SMP dan kelas X SMA) dalam membaca (reading literacy),
matematika (mathematics literacy), dan IPA (scientific literacy).
Capaian literasi siswa Indonesia terlihat dari hasil keikutsertaan Indonesia dalam beberapa
studi komperatif internasional seperti PISA dan TIMMS. Dari hasil keikutsertaan pada penilaian
literasi siswa pada taraf internasional tersebut menunjukkan bahwa literasi matematika siswa di
Indonesia masih belum memuaskan. Rendahnya prestasi tersebut dikarenakan pada proses
kegiatan pembelajaran di sekolah, salah satunya siswa belum terbiasa menyelesaikan soal-soal
dengan karakteristik konteks nyata, dan hanya menyelesaikan soal-soal yang dicontohkan oleh
guru tanpa mengetahui manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam menguji kemampuan literasi terdapat beberapa materi yang dijadikan acuan untuk
mengukur tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa yakni literasi dalam
materi geometri, statistik, aljabar, dan bilangan. Dari ke empat materi tersebut penulis tertarik
dalam menganalisis salah satunya yakni pada kemampuan literasi siswa terhadap materi aljabar.
Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian terhadap pemahaman siswa SMP dalam
menyelesaikan masalah aljabar pada butir soal yang terdapat pada PISA dan TIMMS. Peneliti telah
menyiapkan sebanyak 5 butir soal yang sudah memenuhi standar sehingga tidak perlu lagi
dilakukan uji reabilitas.
Pada hakikatnya matematika adalah sebuah bahasa yang menggunakan simbol dan aturan-
aturan yang telah disepakati. Aljabar merupakan sebuah bidang kajian dalam matematika juga
dapat disebut dalam bahasa.
2. Hasil Analisis dari beberapa siswa
Data hasil analisis jawaban siswa yang dikembangkan berdasarkan kerangka analisis
model Newman (Newman Error Analysis) diperoleh 4 jenis kesalahan siswa dalam
menyelesaikan soal matematika PISA dan TIMMSS pada materi aljabar yaitu kesalahan
pemahaman, kesalahan transformasi, kesalahan keterampilan proses dan kesalahan encoding.
Berikut akan penulis lampirkan beberapa kesalahan dan faktor penyebab dari kesalahan
tersebut terjadi dalam pengerjaan soal yang diberikan kepada siswa :
a. Kesalahan Pemahaman
Kesalahan pemahaman dapat dilihat dari soal 5 (gbr .1) terlihat melalui pertanyaan
2 bahwa siswa salah memahami dan mengidentifikasi soal ke dalam konteks aljabar.
Jawaban yang diselesaikan oleh siswa tidak jelas alurnya, siswa tidak mampu merubah
masalah ke dalam model matematika yang benar.

P : Dari soal yang kamu kerjakan untuk


pertanyaan 1 sudah benar, tapi untuk
pertanyaan 2 maksudnya dari jawaban kamu
apa ya dek, coba jelaskan prosesnya ?

S-12: Saya bingung kak, jadi saya kerjain


sepengetahuan saya saja. Saya belum pernah
ketemu soal yang membingungkan seperti ini.

P : Soal ini berkaitan dengan aljabar, kamu


bisa memisalkan terlebih dahulu dengan suatu
variabel.

S-12 : Saya tidak tahu jawabannya kak, yang


penting ke isi jawaban saya.

(gbr.1)
Berdasarkan hasil analisis jawaban hasil tes dan hasil wawancara kesalahan
disebabkan olh faktor-faktor berikut :
1. Kemampuan penalaran siswa yang rendah.
2. Lemahnya kemampuan siswa dalam mengidentifikasikan, memanfaatkan,
mengorganisasikan data dalam bentuk gambar, tabel, dan formula/rumus ke
dalam konsp matematika yang relevan.
3. Kreativitas siswa yang rendah dalam memunculkan ide untuk mengaitkan
beberapa kemampuan dalam menyelesaikan soal.
4. Kemampuan berfikir kreatif yang rendah untuk menangkap informasi penting
dengan menuangkan pikiran ke dalam strategi yang tepat untuk pemecahan
masalah.
5. Siswa tidak terbiasa menggunakan proses pemecahan masalah dengan benar
sesuai langkah seperti meliputi tahapan memahamu, merencanakan, dan
mengecek hasil pemecahan masalah.
6. Siswa tidak terbiasa mengerjakam soal sesuai konteks nyata.

b. Kesalahan Transformasi
Kesalahan transformasi dapat dilihat dari soal 1 (gbr.2) , dari gambar 2 siswa
mampu memahami konsep soal yang digunakan bahwa soal tersebut menggunakan
proses aljabar namun siswa gagal atau salah ketika menerjemahkan data berupa gambar
ke dalam bentuk persamaan aljabar. Faktor penyebabnya ialah siswa masih bingung
dan belum memahami konsep permisalan bentuk aljabar. Dari gambar tersebut dapat
dimaknai bahwa kemmpuan siswa masih rendah dalam menggunakan konsep untuk
merubah masalah nyata ke dalam model matematika atau bentuk aljabar.

P : Bagaimana kamu bisa dapat persamaan 3 + 6 = 21


dan 2 + 5 = 19 ?

S-23 : Saya ibaratkan 3 itu bentuk peregi dan 6-nya jumlah


dari persegi dan segi 6 kak dan juga sama seperti 2 untuk
persegi di tower 2 dan 5-nya untuk keseluruhan jumlahnya.

P : Apa kamu yakin seperti itu cara membuat persamaanya


?

S-23 : mmmmh aku juga masih bingung sih kak, karena aku
juga belum paham bagaiman cara membuat persamaanya.

(gbr.2)
Berdasarkan hasil analisis jawaban tes dan hasil wawancara faktor kesalahan
transformasi adalah :
1. Belum memahami konsep permisalan bentuk aljabar.
2. Kemampuan siswa yang rendah dalam memanipulasi masalah atau data ke
dalam bentuk aljabar.
3. Siswa tidak terbiasa belajar sambil berfikir, sehingga tidak mampu
mengkaitkan informasi penting dan menuangkan ke dalam solusi yang tepat.
c. Kesalahan Keterampilan Proses
Dari soal 2 (gbr 3) siswa salah menggunakan proses penyelesaian yang tidak jelas
langkahnya atau tidak matematis sehingga perhitungan yang dilakuka salah. Siswa
tampak bingung dan berbelit-belit dalam melakukan proses pemecahan masalah
terutama mensubtitusikan pada soal aljabar.

P : Maksudnya dari = 1 + dan = 1 yang kamu


gunakan dalam menyelesaikan masalah soal 2 itu apa ya
dek ?

S-10 : Ya saya juga bingung sih kak, pokoknya supaya


nanti dicari y nya biar satu variabel saja dan supaya
ketemu hasil y dan x nya .

P : Kenapa kamu bisa mengerjakan dengan langkah


seperti ini ?

S-10 : Dari soal ceritanya saja saya bingung kak pusing,


awalnya saya ingin cari x nya eh masih ada y jadi aku y
kan semuanya di persamaanya.

(gbr.3)
Berdasarkan hasil analisis jawaban dan hasil wawancara faktor penyebab kesalahan
keterampilan proses adalah :
1. Keterampilan siswa yang lemah dalam menyelesaikan perhitungan aljabar.
2. Siswa tidak terbiasa menyelesaikan soal secara matematis.
3. Kurang melatih diri mengerjakan soal-soal matematika.
d. Kesalahan Encoding
Dari soal 4 (gbr.4) siswa salah menafsirkan solusi ke dalam konteks nyata. Jawaban
siswa mengenai panjang terumbu karang 98,125 m merupakan jawaban yang tidak
realistis.

P : Hmmm, hayoooo jelas-jelas di dalam soal memakai


satuan mm mengapa jawaban kamu dalam m ?

S-19 : Ohya kak aku salah, aku kurang teliti ngerjain


soalnya kak.

P : Apa kamu yakin cara menyelesaikan soalnya seperti itu


?

S-19 : Aku tidak yakin kak, aku tidak begitu paham dalam
penyelesaian soal cerita.

(gbr.4)
Berdasarkan hasil analisis jawaban tes dan hasil wawancara kesalahan encoding
disebabkan :
1. Kemampuan siswa yang rendah dalam menafsirkan solusi dengan konteks
nyata
2. Keterampilan berhitung siswa
3. Siswa tidak terbiasa menggunakan langkah Polya pada tahapan mengecek dan
memeriksa hasil yang diperoleh dengan proses pengerjaan terbalik.
4. Siswa tidak membaca soal dengan baik perintah yang diberikan soal.

3. Hasil observasi dengan guru


4. Analisis Jurnal