Anda di halaman 1dari 27

Simbol: Sn

Nomor atom: 50
Berat atom: 118,71
Klasifikasi: Logam Pasca transisi
Fase pada Suhu Kamar: Padat
Berat jenis (putih): 7,365 gram per cm3
Titik leleh: 231 C, 449 F
Titik didih: 2602 C, 4716 F
Ditemukan oleh: Sudah dikenal sekitar sejak zaman kuno (Zaman Perunggu)

Dalam kondisi standar timah adalah logam lembut berwarna perak abu-abu. Timah sangat
lunak (yang berarti bahwa hal itu dapat potong menjadi lembaran tipis) dan dapat dipoles
agar bersinar.

Timah dapat membentuk dua alotrop berbeda di bawah tekanan normal. Yaitu timah putih
dan timah abu-abu. Timah putih adalah bentuk logam timah yang paling akrab dengan kita.
Timah abu-abu adalah non-logam dan merupakan bahan tepung berwarna abu-abu. Timah
abu-abu mempunyai banyak kegunaan.

Timah resistif (dapat melawan korosi) dari air. Hal ini memungkinkan untuk digunakan
sebagai bahan pelapis untuk melindungi logam lainnya.

Dimana Timah ditemukan di Bumi?


Timah ditemukan dalam lapisan kulit bumi terutama pada bijih kasiterit. Timah umumnya
tidak ditemukan dalam bentuk bebas. Timah merupakan 50 elemen yang paling melimpah di
kulit bumi.

Mayoritas timah ditambang di Cina, Malaysia, Peru, dan Indonesia. Ada yang
memperkirakan bahwa timah yang ditambang di Bumi akan hilang dalam 20 sampai 40 tahun
kedepan.

Bagaimana timah digunakan?


Mayoritas timah saat ini digunakan untuk membuat patri solder. Patri solder adalah campuran
timah dan timbal yang digunakan untuk menyambungkan pipa dan membuat sirkuit
elektronik.

Timah juga digunakan sebagai pelapis untuk melindungi logam lainnya seperti timbal, seng,
dan baja dari korosi.

Aplikasi lain untuk timah termasuk paduan logam seperti perunggu dan timah, produksi kaca
menggunakan proses Pilkington, tempat pasta gigi, dan dalam pembuatan tekstil.

Bagaimana itu ditemukan?


Timah telah diketahui sejak zaman kuno. Timah pertama banyak digunakan dimulai pada
Zaman Perunggu ketika timah dikombinasikan dengan tembaga untuk membuat campuran
perunggu.

Dari mana asal nama timah?


Timah mendapatkan namanya dari bahasa Anglo-Saxon. Simbol Sn berasal dari kata Latin
untuk timah, yaitu stannum.

Isotop
Timah memiliki sepuluh isotop stabil. Ini adalah isotop yang paling stabil dari semua elemen.
Isotop yang paling berlimpah adalah timah-120

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Timah berasal dari Bahasa Inggris, yaitu Stannum (timah) dan nama lainnya adalah Tin.

Diambil dari nama dewa dalam mitologi Prancis. Timah telah ada sejak pembentukan Bumi

dan digunakan sejak Zaman Perunggu, mulai sekitar 3000 SM. Sumber timah yang terbesar

yaitu sebesar 80% berasal dari endapan timah sekunder (alluvial) yang terdapat di alur-alur

sungai, di darat (termasuk pulau-pulau timah), dan di lepas pantai. Endapan timah sekunder

berasal dari endapan timah primer yang mengalami pelapukan yang kemudian terangkut oleh

aliran air, dan akhirnya terkonsentrasi secara selektif berdasarkan perbedaan berat jenis dengan

bahan lainnya. Endapan alluvial yang berasal dari batuan granit lapuk dan terangkut oleh air

pada umumnya terbentuk lapisan pasir atau kerikil.

Mineral utama yang terkandung pada bijih timah adalah cassiterite (Sn02). Batuan pembawa

mineral ini adalah batuan granit yang berhubungan dengan magma asam dan menembus

lapisan sedimen (intrusi granit). Pada tahap akhir kegiatan intrusi, terjadi peningkatan

konsentrasi elemen di bagian atas, baik dalam bentuk gas maupun cair, yang akan bergerak

melalui pori-pori atau retakan. Karena tekanan dan temperatur berubah, maka terjadilah proses

kristalisasi yang akan membentuk deposit dan batuan samping.


Pembentukan mineral kasiterit (Sn02) dan mineral berat lainnya, erat hubungannya dengan

batuan granitoid. Secara keseluruhan endapan bijih timah (Sn) yang membentang dari Mynmar

Tengah hingga Paparan Sunda merupakan kelurusan sejumlah intrusi batholit. Batuan induk

yang mengandung bijih timah (Sn) adalah granit, adamelit, dan granodiorit. Batholit yang

mengandung timah (Sn) pada daerah Barat ternyata lebih muda (Akhir Kretasius) daripada

daerah Timur (Trias).

Proses pembentukan bijih timah (Sn) berasal dari magma cair yang mengandung mineral

kasiterit (Sn02).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut diatas, makalah ini secara khusus akan membahas permasalahan

1) Bagaimana proses pembentukan timah ?

2) Apa saja sifat kimia dan sifat fisika timah ?

C. Tujuan

1) Mengetahui proses pembentukan timah

2) Mengetahui sifat kima dan sifat fisika timah


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Timah
Timah adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Sn

(bahasa Latin: stannum) dan nomor atom 50. Unsur ini merupakan logam miskin keperakan,

dapat ditempa (malleable), tidak mudah teroksidasi dalam udara sehingga tahan karat,

ditemukan dalam banyak aloy, dan digunakan untuk melapisi logam lainnya untuk mencegah

karat. Timah diperoleh terutama dari mineral cassiterite yang terbentuk sebagai oksida.

Timah adalah logam berwarna putih keperakan, dengan kekerasan yang rendah, berat

jenis 7,3 g/cm3, serta mempunyai sifat konduktivitas panas dan listrik yang tinggi. Dalam

keadaan normal (13 1600C), logam ini bersifat mengkilap dan mudah dibentuk.

B. Proses Pembentukan Dan Keterdapatannya Timah

Proses pembentukan bijih timah berasal dari magma cair yang mengandung kasiterit

(SnO2). Intrusi batuan granit kepermukaan menyebabkan fase pneumatolitic yang

menghasilkan mineral-mineral bijih diantaranya bijih timah. Mineral ini terakumulasi dan

terasosiasi dalam batuan granit ataupun batuan lain yang diterobos membentuk vein-vein bijih

timah primer. Sesuai dengan namanya, endapan timah sekunder terdiri dari mineral-mineral

bijih kasiterit yang telah tertransportasi jauh dari sumbernya (endapan timah primer). Biasanya

bijih kasiterit ini terbawa oleh arus sungai menuju muara sungai hingga lepas pantai dan

terakumulasi disana. Karenanya banyak dilakukan kegiatan penambangan bijih timah sekunder

pada daerah muara sungai dan lepas pantai. Hal ini dilakukan dengan harapan akan diperoleh

bijh timah dalam jumlah besar.

1. Endapan Timah Primer


Endapan timah primer terbentuk dari proses pneumatolitis. Pada proses ini mineral

timah ditransfortasi dari magma chamber sebagai gas Tinchloride (SnCL4) atau Tin-flouride

(SnF4) yang kemudian bereaksi dengan air membentuk Tin-oxide (SnO2 ) atau kasiterit dan

asam klorida atau asam flourida seperti reaksi sebagai berikut :

SnCL4(g) + 2H2O(l) -------------------- SnO2(s) + HCL(g)

SnF4(g) + 2H2O(l) ---------------------- SnO2(s) + 4HF(g)

Dari reaksi di atas dapat dilihat bahwa pada proses ini akan terbentuk kasiterit sebagai padatan

dan asam chloride atau asam fluoride sebagai gas.

2. Endapan Timah Sekunder

Endapan timah sekunder termasuk salah satu jenis endapan placer yang mempunyai

nilai ekonomis. Endapan timah sekunder terbentuk oleh proses pelapukan, erosi, transportasi

Berdasarkan tempat atau lokasi pengendapannya, endapan bijih timah sekunder dapat

diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Endapan Elluvial

Endapan elluvial adalah endapan bijih timah yang terjadi akibat pelapukan secara

intensif. Proses ini diikuti dengan disintegrasi batuan samping dan perpindahan mineral

kasiterit (Sn02) secara vertikal sehingga terjadi konsentrasi residual.

Ciri-ciri endapan elluvial adalah sebagai berikut :

Terdapat dekat sekali dengan sumbernya

Tersebar pada batuan sedimen atau batuan granit yang telah lapuk

Ukuran butir agak besar dan angular

b. Endapan Kollovial
Endapan bijih timah yang terjadi akibat peluncuran hasil pelapukan endapan bijih timah

primer pada suatu lereng dan terhenti pada suatu gradien yang agak mendatar diikuiti dengan

pemilahan.

Ciri-cirinya :

Butiran agak besar dengan sudut runcing

Biasanya terletak pada lereng suatu lembah

c. Endapan Alluvial

Endapan bijih yang terjadi akibat proses transportasi sungai, dimana mineral berat

dengan ukuran butiran yang lebih besar diendapkan dekat dengan sumbernya. Sedangkan

mineral-mineral yang berukuran lebih kecil diendapkan jauh dari sumbernya.

Ciri-cirinya :

Terdapat di daerah lembah

Mempunyai bentuk butiran yang membundar

d. Endapan Miencan

Endapan bijih timah yang terjadi akibat pengendapan yang selektif secara berulang-

ulang pada lapisan tertentu.

Ciri-cirinya :

Endapan berbentuk lensa-lensa

Bentuk butiran halus dan bundar

e. Endapan Disseminated

Endapan bijih timah yang terjadi akibat transportasi oleh air hujan. Jarak transportasi

sangat jauh sehingga menyebabkan penyebaran yang luas tetapi tidak teratur.
Ciri-cirinya :

Tersebar luas, tetapi bentuk dan ukurannya tidak teratur

Ukuran butir halus karena jarak transportasi jauh

Terdapat pada lapisan pasir atau lempung

C. Sifat Timah

Sifat timah yaitu sebagai berikut :

a. Timah termasuk golongan IV A dan mempunyai bilangan oksidasi +2 dan +4.

b. Timah merupakan logam lunak, fleksibel, dan warnanya abu-abu metalik.

c. Timah tidak mudah dioksidasi dan tahan terhadap korosi disebabkan terbentuknya lapisan

oksida timah yang menghambat proses oksidasi lebih jauh. Timah tahan terhadap korosi air

distilasi dan air laut, akan tetapi dapat diserang oleh asam kuat, basa, dan garam asam. Proses

oksidasi dipercepat dengan meningkatnya kandungan oksigen dalam larutan.

d. Jika timah dipanaskan dengan adanya udara maka akan terbentuk SnO2.

e. Timah ada dalam dua alotrop yaitu timah alfa dan beta. Timah alfa biasa disebut timah abu-

abu dan stabil dibawah suhu 13,2 C dengan struktur ikatan kovalen seperti diamond. Sedangkan

timah beta berwarna putih dan bersifat logam, stabil pada suhu tinggi, dan bersifat sebagai

konduktor.

f. Timah larut dalam HCl, HNO3, H2SO4, dan beberapa pelarut organic seperti asam asetat asam

oksalat dan asam sitrat. Timah juga larut dalam basa kuat seperti NaOH dan KOH.

g. Timah umumnya memiliki bilangan oksidasi +2 dan +4. Timah(II) cenderung memiliki sifat

logam dan mudah diperoleh dari pelarutan Sn dalam HCl pekat panas.

h. Timah bereaksi dengan klorin secara langsung membentuk Sn(IV) klorida.

i. Hidrida timah yang stabil hanya SnH4.


I. Sifat Kimia Timah

a) Bobot atom : 118.710 sma


berat jenis : 7,3 g/cm3
Jari-jari atom : 145 (145) pm
Jari-jari kovalen : 141 pm
Jari-jari van der Waals : 217 pm
Konfigurasi elektron : [Kr]4d10 5s2 5p2
Elektron per tingkat energi : 2, 8, 18, 18, 4
Bilangan oksidasi : 4,2, -4
Nomor atom : 50
Nomor massa : 118,71
Elektronegatifitas : 1,96 (skala pauli)

b) Energi ionisasi 1 : 708,6 kJ/mol


Energi ionisasi 2 : 1411,8 kJ/mol
Energi ionisasi 3 : 2943,0 kJ/mol
Jari-jari atom : 140 pm
Jari-jari ikatan kovalen: 139 pm

c) Jari-jari van der waals : 217 pm

Struktur kristal : tetragonal (Sn putih) kubik diamond (Sn abu-abu)

d) Konduktifitas termal : 66,8 W/mK

Timah merupakan logam lunah, fleksibel, dan warnanya abu-abu metalik. Timah tidak mudah

dioksidasi dan tahan terhadap korosi disebabkan terbentuknya lapisan oksida timah yang

menghambat proses oksidasi lebih jauh. Timah tahan terhadap korosi air distilasi dan air laut,

akan tetapi dapat diserang oleh asam kuat, basa, dan garam asam. Proses oksidasi dipercepat

dengan meningkatnya kandungan oksigen dalam larutan.

Jika timah dipanaskan dengan adanya udara maka akan terbentuk SnO2.
Timah ada dalam dua alotrop yaitu timah alfa dan beta. Timah alfa biasa disebut timah abu-

abu dan stabil dibawah suhu 13,2 C dengan struktur ikatan kovalen seperti diamond.

Sedangkan timah beta berwarna putih dan bersifat logam, stabil pada suhu tinggi, dan bersifat

sebagai konduktor.

Timah larut dalam HCl, HNO3, H2SO4, dan beberapa pelarut organic seperti asam asetat asam

oksalat dan asam sitrat. Timah juga larut dalam basa kuat seperti NaOH dan KOH.

Timah umumnya memiliki bilangan oksidasi +2 dan +4. Timah(II) cenderung memiliki sifat

logam dan mudah diperoleh dari pelarutan Sn dalam HCl pekat panas.

Timah bereaksi dengan klorin secara langsung membentuk Sn(IV) klorida.

Hidrida timah yang stabil hanya SnH4.

Gambar Timah

II. Sifat Fisika Timah

Keadaan benda : Padat

Titik lebur : 505.08 K (449.47 F)

Titik didih : 2875 K (4716 F)

Densitas : 7,365 g/cm3 (Sn putih) 5,769 g/cm3 (Sn abu-abu)

Volume molar : 16.29 10-6 m3/mol

Kalor penguapan : 295.8 kJ/mol

Kalor peleburan : 7.029 kJ/mol

Kalor jenis : 27,112 J/molK

Panas fusi : 7,03 kJ/mol


Tekanan uap : 5.78 E-21 Pa at 505 K

Kecepatan suara : 2500 m/s pada 293.15 K

Kekuatan tariknya rendah, sekitar 2000 psi

Modulus Youngnya adalah 5,9-7,8 x 10^6 psi

Kekuatan Mohs 1,8 atau Brinell 5,0 (1000 kg, 10 mm)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Timah adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki symbol Sn (bahasa

Latin: stannum) dan nomor atom 50. Unsur ini merupakan logam miskin keperakan, dapat

ditempa ("malleable"), tidak mudah teroksidasi dalam udara sehingga tahan karat, ditemukan

dalam banyak aloy, dan digunakan untuk melapisi logam lainnya untuk mencegah karat. Timah

diperoleh terutama dari mineral cassiterite yang terbentuk sebagai oksida.

Sumber timah yang terbesar yaitu sebesar 80% berasal dari endapan timah sekunder

(alluvial) yang terdapat di alur-alur sungai, di darat (termasuk pulau-pulau timah), dan di lepas

pantai. Berdasarkan tempat atau lokasi pengendapannya, endapan bijih timah sekunder dapat

diklasifikasikan menjadi 5, yaitu : Endapan Elluvial, Endapan Kollovial, Endapan Alluvial,

Endapan Miencan, dan Endapan Disseminated.


B. Saran

Kami sebagai penyusun menyadari bahwa bahasan makalah ini masih jauh dari harapan,

masih kurang memadai dan kurang merinci, maka dari itu kami meminta saran dan kritik para

pembaca, agar makalah di masa-masa mendatang akan lebih sempurna lagi dari masa sekarang,

sehingga dapat di sajikan dengan baik.

Proses Penambangan Timah di Bangka Belitung

Timah merupakan sumber daya alam utama pulau Bangka Belitung sejak
lama. Besarnya kandungan biji timah di daerah ini merupakan yang terbesar dari beberapa
daerah lain di Indonesia. Bahkan untuk di dunia, produksi timah asal Indonesia sangat
mempengaruhi harga pasar dunia. Didalam sejarah penambangan timah, telah banyak
mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Proses penambangan timah pun kian
efektif dan efesien berkat kemajuan teknologi pertambangan. Sejak dulu telah tercatat
berbagai teknik penambangan timah yang terjadi di Bangka Belitung. Proses penambangan
timah terdiri dari beberapa tahapan yang dilakukan secara menyeluruh, hal ini oleh PT.
TIMAH di sebut dengan Penambangan Timah Terpadu.

1. EKSPLORASI (exploration)

Eksplorasi merupakan kegiatan kajian dan analisa sistematis guna mengetahui


seberapa besar cadangan biji timah yang terkandung. Didalam operasional kegiatan
eksplorasi melibatkan beberapa komponen seperti surveyor (pemetaan awal), sumur
bor/small bore ( mengambil sample timah dengan teknik bor tanah), lab analisis, hingga
pemetaan akhir geologis (geological map). Proses eksplorasi sangat menentukan berjalannya
suatu proses penambangan timah. Karena dari tahap inilah muncul DATA PETA
GEOLOGIS secara lengkap sebagai panduan utama dalam kebijakan penambangan timah.
Sehingga proses selanjutnya dapat ditempuh dengan berbagai analisa operasional yang baik,
termasuk rencana anggaran dan sebagainya.

( Peta Geologi Pulau Belitung )


Mulai tahun 1996, perusahaan menggunakan peralatan berteknologi modern
yaitu Global Positioning System (GPS) untuk melengkapi fasilitas kegiatan dan aktivitas
eksplorasi. Hal ini sangat membantu meningkatkan efisiensi dan keakuratan dari pemetaan
dan pengukuran. Data dari tes laboratorium dan GPS disimpan di dalam komputer untuk
memproduksi dan menghasilkan peta geologis yang sangat tinggi keakuratannya bagi
pertambangan yang sistematis dan efisien.

2. OPERASIONAL PENAMBANGAN ( mining )

Didalam proses penambangan timah dikenal 2 jenis penambangan yang


dikenal di Bangka Belitung.

a. Penambangan Lepas Pantai

( Kapal Keruk)

Penambangan Timah Lepas Pantai (laut lepas). Pada kegiatan penambangan


lepas pantai, perusahaan mengoperasikan armada kapal keruk untuk operasi produksi di daerah
lepas pantai (off shore). Armada kapal keruk mempunyai kapasitas mangkok (bucket) mulai
dari ukuran 7 cuft sampai dengan 24 cuft. Kapal keruk dapat beroperasi mulai dari kedalaman
15 meter sampai 50 meter di bawah permukaan laut dan mampu menggali lebih dari 3,5 juta
meter kubik material setiap bulan. Setiap kapal keruk dioperasikan oleh karyawan yang
berjumlah lebih dari 100 karyawan yang waktu bekerjanya terbagi atas 3 kelompok dalam 24
jam sepanjang tahun.

( Kapal Isap )

Hasil produksi bijih timah dari kapal keruk diproses di instalasi pencucian
untuk mendapatkan kadar minimal 30% Sn dan diangkut dengan kapal tongkang untuk
dibawa ke Pusat Pengolahan Bijih Timah (PPBT) untuk dipisahkan dari mineral ikutan
lainnya selain bijih timah dan ditingkatkan kadarnya hingga mencapai persyaratan peleburan
yaitu minimal 70-72% Sn.

b. Penambangan Timah Darat - Gravel Pump

Penambangan darat dilakukan di wilayah daratan pulau Bangka Belitung,


tentunya system operasional yang digunakan tidaklah sama seperti pada wilayah lepas pantai.
Proses penambangan timah alluvial menggunakan pompa semprot (gravel pump).Setiap
kontraktor atau mitra usaha melakukan kegiatan penambangan berdasarkan perencanaan yang
diberikan oleh perusahaan dengan memberikan peta cadangan yang telah dilakukan
pemboran untuk mengetahui kekayaan dari cadangan tersebut dan mengarahkan agar sesuai
dengan pedoman atau prosedur pengelolaan lingkungan hidup dan keselamatan kerja di
lapangan. Hasil produksi dari mitra usaha dibeli oleh perusahaan sesuai harga yang telah
disepakati dalam Surat Perjanjian Kerja Sama.

(Proses penambangan di Darat )

Pada daerah tertentu, penambangan timah darat menghasilkan wilayah sungai


besar yang disebut dengan kolong/danau. Kolong/danau itulah merupakan inti utama cara
kerja penambangan darat, karena pola kerja penambangan darat sangat tergantung pada
pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air dalam jumlah besar. Sehingga bila kita lihat
dari udara, penambangan timah darat selalu menimbulkan genangan ari dalam jumlah besar
seperti danau dan tampak berlobang-lobang besar.

(Proses penambangan di Darat )

Produksi penambangan darat yang berada di wilayah Kuasa Pertambangan


(KP) perusahaan dilaksanakan oleh kontraktor swasta yang merupakan mitra usaha dibawah
kendali perusahaan. Hampir 80% dari total produksi perusahaan berasal dari penambangan di
darat mulai dari Tambang Skala Kecil berkapasitas 20 m3/jam sampai dengan Tambang
Besar berkapasitas 100 m3/jam. Produksi penambangan timah menghasilkan bijih pasir timah
dengan kadar tertentu.

3. PENGOLAHAN (smelting)

Timah diolah dari bijih timah yang didapatkan dari batuan atau mineral timah
( kasiterit SnO2 ). Proses produksi logam timah dari bijinya melibatkan serangkaian proses
yang terbilang rumit yakni pengolahan mineral ( peningkatan kadar timah/proses fisik dan
disebut juga upgrading ), persiapan material yang akan dilebur, proses peleburan, proses
refining dan proses pencetakan logam timah. Pemakaian timah biasanya dalam bentuk
paduan timah yang dikenal dengan nama timah putih yakni campuran 80% timah, 11 %
antimony dan 9% tembaga serta terkadang ditambah timbal. Timah putih ini terutama dipakai
untuk peralatan logam pelindung dan pipa dalam industri kimia, industri bahan makanan dan
untuk menyimpan bahan makanan. Proses pengolahan timah ini bertujuan sesuai dengan
namanya yaitu meningkatkan kadar kandungan timah dimana Bijih timah diambil dari dalam
laut atau lepas pantai dengan penambangan atau pengerukan setelah itu dilakukan pembilasan
dengan air atau washing dan kemudian diisap dengan pompa. Bijih timah hasil dari
pengerukan biasanya mengandung 20 30 % timah. Setelah dilakukan proses pengolahan
mineral maka kadar kandungan timah menjadi lebih dari 70 %, sedangkan bijih timah hasil
penambangan darat biasanya mengandung kadar timah yang sudah cukup tinggi >60%.
Adapun Proses pengolahan mineral timah ini meliputi banyak proses, yaitu :

a. Washing atau Pencucian

( Wassrij (wasre) tempat pencucian PasirTimah )

Pencucian timah dilakukan dengan memasukkan bijih timah ke dalam ore bin
yang berkapasitas 25 drum per unit dan mampu melakukan pencucian 15 ton bijh per jam. Di
dalam ore bin itu bijih dicuci dengan menggunakan air tekanan dan debit yang sesuai dengan
umpan.

( Proses Pengolahan Timah )

b. Pemisahan berdasarkan ukuran atau screening/sizing dan uji kadar


Bijih yang didapatkan dari hasil pencucian pada ore bin lalu dilakukan
pemisahan berdasarkan ukuran dengan menggunakan alat screen,mesh, setelah itu dilakukan
pengujian untuk mengetahui kadar bijih setelah pencucian. Prosedur penelitian kadar tersebut
adalah mengamatinya dengan mikroskop dan menghitung jumlah butir dimana butir timah
dan pengotornya memiliki karakteristik yang berbeda sehinga dapat diketahui kadar atau
jumlah kandungan timah pada bijih.

c. Pemisahan berdasarkan berat jenis


Proses pemisahan ini menggunakan alat yang disebut jig Harz.bijih timah
yang mempunyai berat jenis lebih berat akanj mengalir ke bawah yang berarti kadar timah
yang diinginkan sudah tinggi sedangkan sisanya, yang berkadar rendah yang juga berarti
mengandung pengotor atau gangue lainya seperti quarsa , zircon, rutile, siderit dan
sebagainya akan ditampung dan dialirkan ke dalam trapezium Jig Yuba.

d. Pengolahan tailing
Dahulu tailing timah diolah kembali untuk diambil mineral bernilai yang
mungkin masih tersisa didalam tailing atau buangan. Prosesnya adalah dengan gaya
sentrifugal. Namun saat ini proses tersebut sudah tidak lagi digunakan karena tidak efisien
karena kapasitas dari alat pengolah ini adalah 60 kg/jam.

e. Proses Pengeringan
Proses pengeringan dilakukan didalam rotary dryer. Prinsip kerjanya adalah
dengan memanaskan pipa besi yang ada di tengah tengah rotary dryer dengan cara
mengalirkan api yang didapat dari pembakaran dengan menggunakan solar.

f. Klasifikasi
Bijih bijih timah selanjutnya akan dilakukan proses proses
pemisahan/klasifikasi lanjutan yakni:
klasifikasi berdasarkan ukuran butir dengan screening
klasifikasi berdasarkan sifat konduktivitasnya dengan High Tension separator.
klasifikasi berdasarkan sifat kemagnetannya dengan Magnetic separator.
Klasifikasi berdasarkan berat jenis dengan menggunakan alat seperti shaking table , air table
dan multi gravity separator(untuk pengolahan terak/tailing).

g. Pemisahan Mineral Ikutan


Mineral ikutan pada bijih timah yang memiliki nilai atau value yang terbilang
tinggi seperti zircon dan thorium( unsur radioaktif ) akan diambil dengan mengolah kembali
bijih timah hasil proses awal pada Amang Plant. Mula mula bijih diayak dengan vibrator
listrik berkecepatan tinggi dan disaring/screening sehingga akan terpisah antara mineral halus
berupa cassiterite dan mineral kasar yang merupakan ikutan. Mineral ikutan tersebut
kemudian diolah pada air table sehingga menjadi konsentrat yang selanjutnya dilakukan
proses smelting, sedangkan tailingnya dibuang ke tempat penampungan. Mineral mineral
tersebut lalu dipisahkan dengan high tension separator pemisahan berdasarkan sifat
konduktor nonkonduktornya atau sifat konduktivitasnya. Mineral konduktor antara lain:
Cassiterite dan Ilmenite. Mineral nonconductor antara lain: Thorium, Zircon dan Xenotime.
Lalu masing masing dipisahkan kembali berdasarkan kemagnetitanya dengan magnetic
separation sehingga dihasilkan secara terpisah, thorium dan zircon.
h. Proses pre-smelting
Setelah dilakukan proses pengolahan mineral dilakukan proses pre-smelting
yaitu proses yang dilakukan sebelum dilakukannya proses peleburan, misalnya preparasi
material,pengontrolan dan penimbangan sehingga untuk proses pengolahan timah akan
efisien.

i. Proses Peleburan ( Smelting )


Ada dua tahap dalam proses peleburan :
- Peleburan tahap I yang menghasilkan timah kasar dan slag/terak.
- Peleburan tahap II yakni peleburan slag sehingga menghasilkan hardhead dan slag II.

( Peleburan )

Proses peleburan berlangsung seharian 24 jam dalam tanur guna menghindari


kerusakan pada tanur/refraktori. Umumnya terdapat tujuh buah tanur dalam peleburan. Pada
tiap tanur terdapat bagian bagian yang berfungsi sebagai panel kontrol: single point
temperature recorder, fuel oil controller, pressure recorder, O2 analyzer,multipoint
temperature recorder dan combustion air controller. Udara panas yang dihembuskan ke dalam
mfurnace atau tanur berasal dari udara luar / atmosfer yang dihisap oleh axial fan exhouster
yang selanjutnya dilewatkan ke dalam regenerator yang mengubahnya menjadi panas.Tahap
awal peleburan baik peleburan I dan II adalah proses charging yakni bahan baku bijih timah
atau slagI dimasukkan kedalam tanur melalui hopper furnace. Dalam tanur terjadi proses
reduksi dengan suhu 1100 15000C.unsure unsure pengotor akan teroksidasi menjadi
senyawa oksida seperti As2O3 yang larut dalam timah cair. Sedangkan SnO tidak larut semua
menjadi logam timah murni namun adapula yang ikut ke dalam slag dan juga dalam bentuk
debu bersamaan dengan gas gas lainnya. Setelah peleburan selesai maka hasilnya
dimasukkan ke foreheart untuk melakukan proses tapping. Sn yang berhasil dipisahkan
selanjutnya dimasukkan kedalam float untuk dilakukan pendinginan /penurunan temperatur
hingga 4000C sebelum dipindahkan ke dalam ketel.sedangkan hardhead dimasukkan ke dalm
flame oven untuk diambil Sn dan timah besinya.

j. Proses Refining ( Pemurnian )

- Pyrorefining
Yaitu proses pemurnian dengan menggunakan panas diatas titik lebur
sehingga material yang akan direfining cair, ditambahkan mineral lain yang dapat mengikat
pengotor atau impurities sehingga logam berharga dalam hal ini timah akan terbebas dari
impurities atau hanya memiliki impurities yang amat sedikit, karena afinitas material yang
ditambahkan terhadap pengotor lebih besar dibanding Sn. Contoh material lain yang
ditambahkan untuk mengikat pengotor: serbuk gergaji untuk mengurangi kadar Fe,
Aluminium untuk untuk mengurangi kadar As sehingga terbentuk AsAl, dan penambahan
sulfur untuk mengurangi kadar Cu dan Ni sehingga terbentuk CuS dan NiS. Hasil proses
refining ini menghasilkan logam timah dengan kadar hingga 99,92% (pada PT.Timah).
Analisa kandungan impurities yang tersisa juga diperlukan guina melihat apakah kadar
impurities sesuai keinginan, jika tidak dapat dilakukan proses refining ulang.
- Eutectic Refining
Yaitu proses pemurnian dengan menggunakan crystallizer dengan bantuan
agar parameter proses tetap konstan sehingga dapat diperoleh kualitas produk yang stabil.
Proses pemurnian ini bertujuan mengurangi kadar Lead atau Pb yang terdapat pada timah
sebagai pengotor /impuritiesnya. Adapun prinsipnya adalah berhubungan dengan temperatur
eutectic Pb- Sn, pada saat eutectic temperature lead pada solid solution berkisar 2,6% dan
aakan menurun bersamaan dengan kenaikan temperatur, dimana Sn akan meningkat
kadarnya. Prinsip utamnya adalah dengan mempertahankan temperatur yang mendekati titik
solidifikasi timah.

- Electrolitic Refining
Yaitu proses pemurnian logam timah sehingga dihasilkan kadar yang lebih
tinggi lagi dari pyrorefining yakni 99,99%( produk PT. Timah: Four Nine ). Proses ini
melakukan prinsip elektrolisis atau dikenal elektrorefining.Proses elektrorefining
menggunakan larutan elektrolit yang menyediakan logam dengan kadar kemurnian yang
sangat tinggi dengan dua komponen utama yaitu dua buah elektroda anoda dan katoda
yang tercelup ke dalam bak elektrolisis.Proses elektrorefining yang dilakukan PT.Timah
menggunakan bangka four nine (timah berkadar 99,99% ) yang disebut pula starter
sheetsebagai katodanya, berbentuk plat tipis sedangkan anodanya adalah ingot timah yang
beratnya berkisar 130 kg dan larutan elektrolitnya H2SO4. proses pengendapan timah ke
katoda terjadi karena adanya migrasi dari anoda menuju katoda yang disebabkan oleh adanya
arus listrik yang mengalir dengan voltase tertentu dan tidak terlalu besar.

k. Pencetakan

( Tumpukan Timah siap Jual )

Pencetakan ingot timah dilakukan secara manual dan otomatis. Peralatan


pencetakan secara manual adalah melting kettle dengan kapasitas 50 ton, pompa cetak and
cetakan logam. Proses ini memakan waktu 4 jam /50 ton, dimana temperatur timah cair
adalah 2700C. Sedangkan proses pencetakan otomatis menggunakan casting machine, pompa
cetak, dan melting kettleberkapasitas 50 ton dengan proses yang memakan waktu hingga 1
jam/60 ton.
Langkah langkah pencetakan:

1. Timah yang siap dicetak disalurkan menuju cetakan.


2. Ujung pipa penyalur diatur dengan menletakkannya diatas cetakan pertama pada
serinya, aliran timah diatur dengan mengatur klep pada piapa penyalur.
3. Bila cetakan telah penuh maka pipa penyalur digeser ke cetakan berikutnyadan
permukaan timah yang telah dicetak dibersihkan dari drossnya dan segera dipasang
capa pada permukaan timah cair.
4. Kecepatan pencetakan diatur sedemikian rupa sehingga laju pendinginan akan
merata sehingga ingot yang dihasilkan mempunyai kulitas yang bagus atau sesuai
standar.
5. Ingot timah ynag telah dingin disusun dan ditimbang.

5. DISTRIBUSI DAN PEMASARAN (marketing)


Kegiatan pemasaran mencakup kegiatan penjualan dan pendistribusian logam
timah.Pendistribusian logam timah hampir 95% dilaksanakan untuk memenuhi pasar di luar
negeri atau ekspor dan sebesar 5% untuk memenuhi pasar domestik. Negara tujuan ekspor
logam Timah antara lain adalah wilayah Asia Pasifik yang meliputi Jepang, Korea, Taiwan,
Cina dan Singapura, wilayah Eropa meliputi Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol dan Italia
serta Amerika dan Kanada.

Pendistribusian dilaksanakan melalui pelabuhan di Singapura untuk ekspor


sedangkan untuk domestik dilaksanakan secara langsung dan melalui gudang di Jakarta. Tipe
pembeli logam timah dapat dikelompokkan atas pengguna langsung (end user) seperti pabrik
atau industri solder serta industri pelat timah serta pedagang besar (trader).

Produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang telah diterima oleh pasar internasional dan
terdaftar dalam pasar bursa logam di London (London Metal Exchange). Kualitas setiap
produk yang dihasilkan oleh perusahaan dijamin dengan sertifikat produk (weight and
analysis certificate) yang berstandar internasional dan berpedoman kepada standar produk
yang ditetapkan oleh London Metal Exchange (LME) sehingga dapat diperdagangkan sebagai
komoditi di pasar bursa logam.

Jenis-jenis produk yang diproduksi oleh PT Tambang Timah dibedakan atas kualitas dan
bentuknya.

A. Berdasarkan kualitas produk dapat dibedakan atas:


Banka Tin (kadar Sn 99.9%)
Mentok Tin (kadar Sn 99,85%)
Banka Low Lead (Banka LL) terdiri atas Banka LL100ppm, Banka LL50ppm, Banka
LL40ppm, Banka LL80ppm, Banka LL200ppm
Tin Alloy, dalam bentuk babbit (kadar Sn 80-88 %) dan Pewter (kadar Sn 91-95 %)
Tin Solder, produk solder (info lebih lanjut dapat dilihat di situs resmi PT.TIMAH.)
B. Berdasarkan bentuk dapat dibedakan atas:
Banka Small Ingot
Banka Tin Shot
Banka Pyramid
Banka Anoda

6. Pengelolaan Lingkungan dan Reklamasi

( Reklamasi Perairan dan Pantai )

Salah satu pijakan penting di Indonesia dalam upaya membangun kepedulian


terhadap lingkungan adalah pemberlakuan ketentuan tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL), sebagai syarat bagi para pelakuk usaha dalam upaya menciptakan
kegiatan ekonomi dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Para pelaku
usaha dituntut untuk memenuhi ketentuan perundang-undangan dan standar dibidang
lingkungan. Untuk memastikan pengelolaan lingkungan yang dijalankan benar-benar
berlangsung efektif, PT Timah melakukan tindakan pengawasan secara internal maupun
pengawasan dengan melibatkan pihak independen, mengacu pada Sistem Manajemen
Lingkungan ISO 14001, yang sejak tahun 1997 telah kami raih. Dalam melakukan praktek
penambangan, kami mengacu pada pedoman good mining practices serta melakukan
reklamasi lahan pasca tambang secara efektif dan bertanggung jawab.

Strategi utama PT Timah


Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis karyawan dalam menjaga kualitas
lingkungan.
Menjadikan etika dan ketentuan mengenai kepedulian pelestarian lingkungan sebagai materi
pokok dalam buku pedoman tata kelola perusahaan yang baik.
mewajibkan mitra usaha tambang untuk mematuhi ketentuan praktek penambangan yang
baik dan menjaga keselamatan saat bekerja.

Kegiatan menambang berpotensi mengubah bentang alam dan mengganggu


ekosistem. Oleh sebab itu, sejak kegiatan operasi penambangan direncanakan, PT Timah
memberikan perhatian khusus bagi perbaikan kembali kualitas lingkungan. Terutama pada
masa pasca tambang sehingga kondisi lingkungan diupayakan bisa kembali seperti sedia kala.
Kami juga secara tegas mengatur bahwa kegiatan penambangan hanya boleh dilakukan pada
lokasi - lokasi yang merupakan kuasa pertambangan (KP) Perseroan dan di kawasan yang
bukan termasuk hutan lindung.

PT Timah juga mengembangkan konsep hutan tanaman industri (HTI) dengan


memilih jenis tanaman produktif seperti karet unggul untuk ditanam masyarakat, dan
diharapkan dengan konsep HTI maka masyarakat lebih menjadi peduli untuk melakukan
perawatan dengan bantuan penyediaan pupuk maupun perangkat lain dari Perseroan. Jenis
dari tanaman dalam pelaksanaan reklamasi adalah tanaman unggul yang dapat dinikmati
hasilnya dalam kurun waktu tidak terlalu lama, antara 5-6 tahun setelah tanam.

Timah (Tin) adalah logam berwarna putih keperakan, dengan kekerasan yang rendah, berat
jenis 7,3 g/cm3, serta mempunyai sifat konduktivitas panas dan listrik yang tinggi. Dalam
keadaan normal (13 1600C), logam ini bersifat mengkilap dan mudah dibentuk. Ada 2
macam timah yaitu Sn (stnnum) atau timah putih dan Pb (timbal) atau timah hitam.
Timah putih (sn) adalah unsur kimia dengan simbol Sn (Latin : stannum) dan nomor atom 50,
adalah logam golongan utama di kelompok 14 dari tabel periodik. Timah menunjukkan
kemiripan kimia untuk kedua kelompok 14 elemen tetangga, germanium dan memimpin dan
memiliki dua kemungkinan oksidasi, +2 dan sedikit lebih stabil 4. Timah adalah unsur paling
melimpah ke-49 dan memiliki, dengan 10 isotop stabil, jumlah terbesar yang stabil isotop
dalam tabel periodik. Tin diperoleh terutama dari mineral kasiterit , di mana itu terjadi
sebagai timah dioksida.
Timah hitam ( Pb ) merupakan logam lunak yang berwarna kebiru-biruan atau abu-abu
keperakan dengan titik leleh pada 327,5C dan titik didih 1.740C pada tekanan atmosfer.
Senyawa Pb-organik seperti Pb-tetraetil dan Pb-tetrametil merupakan senyawa yang penting
karena banyak digunakan sebagai zat aditif pada bahan bakar bensin dalam upaya
meningkatkan angka oktan secara ekonomi. PB-tetraetil dan Pb tetrametil berbentuk larutan
dengan titik didih masing-masing 110C dan 200C. Karena daya penguapan kedua senyawa
tersebut lebih rendah dibandingkan dengan daya penguapan unsur-unsur lain dalam bensin,
maka penguapan bensin akan cenderung memekatkan kadar P-tetraetil dan Pb-tetrametil.
Kedua senyawa ini akan terdekomposisi pada titik didihnya dengan adanya sinar matahari
dan senyawa kimia lain diudara seperti senyawa holegen asam atau oksidator.

Sumber timah yang terbesar yaitu sebesar 80% berasal dari endapan timah sekunder (alluvial)
yang terdapat di alur-alur sungai, di darat (termasuk pulau-pulau timah), dan di lepas pantai.
Endapan timah sekunder berasal dari endapan timah primer yang mengalami pelapukan yang
kemudian terangkut oleh aliran air, dan akhirnya terkonsentrasi secara selektif berdasarkan
perbedaan berat jenis dengan bahan lainnya. Endapan alluvial yang berasal dari batuan granit
lapuk dan terangkut oleh air pada umumnya terbentuk lapisan pasir atau kerikil.

Mineral utama yang terkandung pada bijih timah adalah cassiterite (Sn02). Batuan pembawa
mineral ini adalah batuan granit yang berhubungan dengan magma asam dan menembus
lapisan sedimen (intrusi granit). Pada tahap akhir kegiatan intrusi, terjadi peningkatan
konsentrasi elemen di bagian atas, baik dalam bentuk gas maupun cair, yang akan bergerak
melalui pori-pori atau retakan. Karena tekanan dan temperatur berubah, maka terjadilah
proses kristalisasi yang akan membentuk deposit dan batuan samping.

Proses pembentukan bijih timah (Sn) berasal dari magma cair yang mengandung mineral
kasiterit (Sn02). Pada saat intrusi batuan granit naik ke permukaan bumi, maka akan terjadi
fase pneumatolitik, dimana terbentuk mineral-mineral bijih diantaranya bijih timah (Sn).
Mineral ini terakumulasi dan terasosiasi pada batuan granit maupun di dalam batuan yang
diterobosnya, yang akhirnya membentuk vein-vein (urat), yaitu : pada batuan granit dan pada
batuan samping yang diterobosnya.
Disini saya akan lebih membahas tentang proses penambangan timah di pulau bangka
belitung,

Tahap penambangan Timah


1. Tahap pengkajian / Eksplorasi
Tujuan tahap ini untuk mengetahui seberapa besar cadangan logam ini, beberapa
komponennya meliputi pemetaan awal atau surveyo, sumur bor atau small bor berarti
menggambil contoh logam dengan teknik bor tanah dan melakukan analisis di laboraturium.
Sehingga pemetaanakhir geologis (geological map) sangat menentukan.
2. Tahap Operasional Tambang
Meliputi dua tahap yaitu penanmbagan lepas pantai dan darat. Untuk lepas pantai biasanya
perusahaan mengoperasikan dengan armada kapal kruk, bucket(mangkuk) kapal keruk
memiliki ukuran 7cuft sampai 20 cuft, digunakan pada kedalaman 15 sampai 50 meter
dibawah permukaan laut, perbulannya kapal keruk ini mampu menggali lebih dari 3 setengah
juta meter kubik material setiap bulan.
Sedang kan untuk Darat banyak dilakukan ditempat tertentu di kepulauan BangkaBelitung
yang nantinya akan menghasilkan danau/kolong hasil dari penambangan tersebut
3. Tahap peningkatan kadar bijih logam atau pengolahan
Proses ini dilakukan untuk mendapatkan produk akhir berupa logam berkualitas dengan kadar
pengotor rendah dan sn/pb tinggi
4. Tahap peleburan
Proses ini meleburkan bijihnya menjadi logam timah, dan harus dilakukan pemurnian terlebih
dahulu dengan alat pemurnian crystallizer
5. Tahap distribusi pemasaran
Proses ini meliputi kegiatan penjualan atau penyaluran logam timah ke dalam atau luar
negeri.
Didalam proses penambangan timah dikenal 2 jenis penambangan yang dikenal di Bangka
Belitung.

a. Penambangan Lepas Pantai

kapal keruk
Penambangan Timah Lepas Pantai (laut lepas). Pada kegiatan penambangan lepas pantai,
perusahaan mengoperasikan armada kapal keruk untuk operasi produksi di daerah lepas
pantai (off shore). Armada kapal keruk mempunyai kapasitas mangkok (bucket) mulai dari
ukuran 7 cuft sampai dengan 24 cuft. Kapal keruk dapat beroperasi mulai dari kedalaman 15
meter sampai 50 meter di bawah permukaan laut dan mampu menggali lebih dari 3,5 juta
meter kubik material setiap bulan. Setiap kapal keruk dioperasikan oleh karyawan yang
berjumlah lebih dari 100 karyawan yang waktu bekerjanya terbagi atas 3 kelompok dalam 24
jam sepanjang tahun.
kapal isap
Hasil produksi bijih timah dari kapal keruk diproses di instalasi pencucian untuk
mendapatkan kadar minimal 30% Sn dan diangkut dengan kapal tongkang untuk dibawa ke
Pusat Pengolahan Bijih Timah (PPBT) untuk dipisahkan dari mineral ikutan lainnya selain
bijih timah dan ditingkatkan kadarnya hingga mencapai persyaratan peleburan yaitu minimal
70-72% Sn.

b. Penambangan Timah Darat - Gravel Pump

Penambangan darat dilakukan di wilayah daratan pulau Bangka Belitung, tentunya system
operasional yang digunakan tidaklah sama seperti pada wilayah lepas pantai. Proses
penambangan timah alluvial menggunakan pompa semprot (gravel pump).

(Proses penambangan di Darat )


Setiap kontraktor atau mitra usaha melakukan kegiatan penambangan berdasarkan
perencanaan yang diberikan oleh perusahaan dengan memberikan peta cadangan yang telah
dilakukan pemboran untuk mengetahui kekayaan dari cadangan tersebut dan mengarahkan
agar sesuai dengan pedoman atau prosedur pengelolaan lingkungan hidup dan keselamatan
kerja di lapangan. Hasil produksi dari mitra usaha dibeli oleh perusahaan sesuai harga yang
telah disepakati dalam Surat Perjanjian Kerja Sama.
Pada daerah tertentu, penambangan timah darat menghasilkan wilayah sungai besar yang
disebut dengan kolong/danau. Kolong/danau itulah merupakan inti utama cara kerja
penambangan darat, karena pola kerja penambangan darat sangat tergantung pada
pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air dalam jumlah besar. Sehingga bila kita lihat
dari udara, penambangan timah darat selalu menimbulkan genangan ari dalam jumlah besar
seperti danau dan tampak berlobang-lobang besar.
Produksi penambangan darat yang berada di wilayah Kuasa Pertambangan (KP) perusahaan
dilaksanakan oleh kontraktor swasta yang merupakan mitra usaha dibawah kendali
perusahaan. Hampir 80% dari total produksi perusahaan berasal dari penambangan di darat
mulai dari Tambang Skala Kecil berkapasitas 20 m3/jam sampai dengan Tambang Besar
berkapasitas 100 m3/jam. Produksi penambangan timah menghasilkan bijih pasir timah
dengan kadar tertentu.

Kegunaan Timah
Data pada tahun 2006 menunjukkan bahwa logam timah banyak dipergunakan untuk
solder(52%), industri plating (16%), untuk bahan dasar kimia (13%), kuningan & perunggu
(5,5%), industri gelas (2%), dan berbagai macam aplikasi lain (11%).
Akibat dari petumbuhan permintaan, kegunaan baru dari timah ditemukan. Masalah
lingkungan, keselamatan dan kesehatan mempengaruhi kegunaan timah. Hasil dari riset yang
sedang dilakukan di Internatioanal Tin Research Institude Ltd., lembaga yang dibiayai
industri, banyak pasar baru untuk timah sedang dikembangkan.
Timah dalam kimia
Industri kimia adalah konsumen timah yang paling cepat berkembang. Permintaan sangat
kuat untuk peralatan rumah tangga dan cat industri, pada plastik dan lapisan tanpa belerang
yang digunakan industri teknik (tembaga, perunggu dan fosfor perunggu diantara yang
lainnya). Contoh aplikasi komersil adalah pelapisan timah pada kawat dan kabel tembaga dan
pembuatan bentuk-bentuk timah tempa.

sekian pembahasan saya mengenai logam timah , salam damaiku

IKT Bilang PT Timah Terancam Bangkrut


raposJanuary 25th, 2016, 3:11 amNo comment 817 views

Direksi Timah Didesak Mundur


Hari ini 2000 Karyawan Duduki Kantor Gubernur

Pangkalpinang Persoalan internal dan eksternal yang menimpa PT Timah (Persero), Tbk
selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terbesar dan berkantor pusat di Pangkalpinang,
Provinsi Bangka Belitung sepertinya kian parah. Jabatan jajaran direksinya pun digoyang
oleh kalangan internal. Bahkan para karyawan menyebut PT Timah terancam bangkrut.
Karenanya, ribuan karyawan yang tergabung dalam Ikatan Karyawan Timah (IKT) meminta
dengan tegas agar jajaran Direksi PT Timah dibawah kepemimpinan Sukrisno segera
mengundurkan diri. Permintaan tersebut dilandasi oleh beberapa penilaian dan kajian-kajian
yang dilakukan oleh IKT terhadap kondisi kinerja direksi yang tidak baik dan kondisi
perusahaan yang saat ini diambang keterpurukan, sehingga mengancam keberlangsungan
perusahaan dan kesejahteraan karyawan.
Ketua IKT Ali Samsuri dalam press release yang disampaikan ke Rakyat Pos menilai,
kebijakan direksi sangat tidak jelas sehingga mengakibatkan perusahaan saat ini carut marut.
Direksi juga dianggap telah melakukan kebohongan-kebohongan melalui media massa, yang
terkesan menutup-nutupi kondisi perusahaan yang sangat terpuruk bahkan diambang
kebangkrutan.
Salah satu fakta yang menujukkan perusahaan diambang keterpurukan adalah analisa yang
dilakukan oleh IKT terhadap laporan keuangan perusahaan sejak tahun 2010 hingga 2015
yang dapat dilihat dalam tabel, ungkap Ali Samsuri.
Dilihat dari tabel 1, kata Ali, menunjukkan bahwa kinerja operasi sejak tahun 2012 terus
menurun. Sementara itu, harga jual dalam rupiah (akibat kenaikan kurs) meningkat sampai
tahun 2014, tetapi manajemen tidak mampu memanfaatkan kondisi yang menguntungkan
tersebut, peluang untuk meraih pendapatan yang lebih besar tidak dapat direalisasikan.
Sedangkan pada tabel 2 menunjukkan bahwa pendapatan pada tahun 2014 naik cukup
signifikan, (sekitar Rp1,5 triliun) namun beban pokok penjualannya juga naik cukup
signifikan (Rp1,3 triliun), sehingga kenaikan laba operasi hanya Rp96 miliar. Bahkan, pada
tahun 2015, kondisi perusahaan makin parah, dimana laba operasi negatif (rugi) Rp59 miliar.
Sedangkan laba bersih semester I 2015 sebesar Rp5 miliar diperoleh dari revaluasi aset yang
tidak berpengaruh terhadap arus kas perusahaan, papar Ali.
Artinya, lanjut dia, dari 2 tabel diatas membuktikan bahwa program efisiensi yang
dicanangkan oleh direksi dapat dikatakan gagal total.
Hal ini membuktikan bahwa direksi melakukan kebohongan publik, dimana pada press
release laporan keuangan semester I 2015 dinyatakan Efisiensi dan Strategi yang Tepat
Membuahkan Kinerja Positif pada Semester I 2015, kenyataannya laba operasi rugi sebesar
Rp59 miliar, sebutnya.
Kemudian dari tabel 3, menunjukkan bahwa sejak tahun 2012 kinerja operasi menurun, utang
jangka pendek meningkat dari Rp263 miliar menjadi Rp2,4 triliun pada tahun 2015.
Sementara itu, dari tabel 4, angka Current Ratio sejak tahun 2014 menurun sampai di bawah
2,0 dan Leverage Ratio sejak 2013 menurun sampai kurang dari 1,0.
Ratio tersebut menunjukkan kondisi keuangan memburuk dan terancam gagal bayar atau
dengan kata lain, PT Timah saat ini terancam bangkrut, tandas Ali.
Selain analisa keuangan, IKT juga menilai penghentian seluruh tambang darat oleh
perusahaan dan menyerahkan 80% tambang laut kepada mitra juga sangat aneh. Sangat
ironis, jika perusahaan tambang sekelas PT Timah tidak memiliki tambang darat di IUP nya
sendiri, dan tambang laut 80% dikuasai oleh mitra. Oleh karena itu, produksi tidak dalam
kendali perusahaan dan sangat bergantung kepada mitra, sesalnya.
Ditambah lagi, IKT juga menilai direksi tidak mampu menciptakan hubungan baik terhadap
pihak-pihak eksternal yang mengakibatkan banyak terjadi demontrasi yang menolak
beroperasinya tambang laut di IUP milik PT Timah. Dan hal tersebut sangat mengganggu
produksi perusahaan.
Akibatnya, dari permasalahan diatas berimbas terhadap kesejahteraan karyawan yang
semakin menurun. Hal ini mengakibatkan demotivasi karyawan, yang berimbas pada kinerja
karyawan di perusahaan. Oleh karena itu, IKT minta agar direksi mundur karena dinilai tidak
mampu menjalankan roda perusahaan, serta tidak bisa memberikan kesejahteraan kepada
masyarakat, khususnya karyawan, tutup Ali.
Selain rilis ini, Ali dalam pemberitaan sebelumnya menyatakan hari ini, Senin (25/1/2016),
sekitar 2 ribuan anggota IKT akan menggelar aksi unjukrasa di Kantor Gubernur Provinsi
Babel. Hal ini terungkap saat pengurus IKT menggelar audiensi dengan Gubernur Babel
beberapa hari lalu.
Saya setuju jika ini terjadi (kisruh penambangan) bagian dari kegagalan managemen.
Disharmonisasi antara pemerintah daerah dan manajemen (PT Timah). Kami akan melakukan
aksi untuk minta Sukrisno mundur, karena telah gagal mengawal perusahaan ini, tegasnya.
Ali menyambut baik jika Gubernur Babel akan mengundang Dirut Timah Sukrisno untuk
membahas pencabutan SK penghentian sementara penambangan kapal isap. Untuk mengawal
pertemuan dengan Dirut PT Timah dan Gubernur itulah, Ali mengatakan IKT akan membawa
sekitar 2.000 massa ke kantor Gubernur Babel.
Senin nanti kami akan kawal dan kami akan kerahkan anggota (IKT-red) untuk datang ke
sana. Sekitar tiga ribuan orang untuk kawal pertemuan ini, baik dari wilayah di Bangka,
Belinyu, Sungailiat, Jebus, Toboali, tandasnya.
Jangan Arogan
Dipihak lain, Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (Gempa) Kabupaten Bangka Selatan
meminta PT Timah tidak arogan menyikapi penolakan masyarakat terhadap aktivitas
tambang luat di perairan Toboali Bangka Selatan.
Gempa justru mengapresiasi upaya DPRD Basel dalam menampung aspirasi masyarakat
nelayan dan ormas yang menolak aktivitas tambang laut di Payak Ubi Sukadamai dan
kawasan destinasi wisata Pantai Kubu.
Ketua Gempa Basel, Yudi Ardianto mengatakan pihaknya telah menerima undangan dari
DPRD Basel untuk pertemuan Senin (hari ini-red) 25 Januari 2016 jam 09.00 Wib di gedung
DPRD setempat.
Kami menyambut baik upaya DPRD Basel yang telah memfasilitasi pertemuan terkait untuk
ke sekian kalinya, sebab audiensi sebelumnya sudah 2 (dua) kali dilaksanakan di gedung
wakil rakyat tersebut tetapi sampai sejauh ini tidak ada upaya penindakan ataupun
penghentian yang dilakukan penegak hukum daerah, ujarnya dalam rilis kepada wartawan
Minggu (24/1/2016).
Menurut pria yang biasa disapa Oday ini beroperasinya Tambang Inkonvensional (TI) Apung
berkedok Ponton Isap Produksi (PIP) tersebut merupakan aktivitas penambangan liar (ilegal
mining) di perairan Bangka Selatan. Hasil pantauan Gempa di lapangan bahwa aktivitas
tambang laut ilegal tersebut makin hari kian membabi buta. Seharusnya jangan dibiarkan
beroperasi sebab aktivitas tambang laut tersebut dikhawatirkan berpotensi konflik dan
memicu dampak sosial lainnya. Aktivitas tambang laut tersebut merupakan bentuk kejahatan
terhadap lingkungan dan ekosistem laut, sangat bertentangan dengan Undang-undang (UU)
No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), berikut
pada pasal 97 mengenai tindak pidana dalam undang-undang ini merupakan kejahatan.
Sementara, penegakan hukum lingkungan hidup tersebut diklasifikasikan dalan 3 (tiga)
kategori, yaitu penegakan hukum lingkungan berkaitan dengan hukum administrasi, hukum
perdata dan hukum pidana, jelas Oday.
Ia menjelaskan hasil audiensi hari pertama unjuk rasa masyarakat nelayan dan ormas di
kantor Wasprod dan berakhir di halaman gedung DPRD Basel beberapa waktu lalu,
dibuktikan dengan dikeluarkannya surat pernyataan sikap DPRD Basel menolak segala
praktik penambangan laut di perairan Bangka Selatan. Berlanjut, untuk kedua kalinya
masyarakat nelayan dan ormas kembali berorasi di halaman gedung DPRD Basel minggu lalu
untuk menindaklanjuti tuntutan terkait.
Alhasil, audiensi yang dihadiri oleh Kapolres Basel dan Danpos AL tersebut kembali
membuka wacana pertemuan lanjutan. Inisiatif tersebut bertujuan untuk menghadiri
perwakilan dari PT.Timah Tbk, BUMD Provinsi dan kabupaten serta unsur muspida
Kabupaten Bangka Selatan.
Kami sangat berharap pertemuan nanti dihadiri oleh semua pihak terutama PT.Timah Tbk
dan kedua pihak BUMD daerah. Sesuai dengan klaim PT.Timah terkait pelegalan tambang
laut, maka dalam hal ini perusahaan negara tersebut harus menjelaskan legalitas PIP secara
prosedural dan transparan sebagai dasar dalam kegiatan penambangannya baik itu
sertifikasinya, unsur kesehatan dan keselamatan kerja lingkungan hidup (K3LH), termasuk
Amdal dari badan sertifikasi kompetensi serta unsur pendukung lainnya sesuai rekomendasi
teknis dari kementerian, imbuhnya.
Oday menambahkan, pada September tahun lalu Lintas Kementerian Bidang Perekonomian
seperti Kementerian Koordinator Bidang Maritim (Kemenko Maritim), Kemenko
Perekonomian, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian ESDM dan Kementerian
Perindustrian juga tengah menyusun regulasi baru kemitraan tambang timah untuk membuat
kepastian hukum para mitra PT.Timah Tbk agar memiliki payung hukum yang lebih tinggi.
Kalau PT.Timah (Persero) Tbk mengklaim Ponton Isap Produksi (PIP) merupakan kegiatan
legal, maka harus dibuktikan dengan surat rekomendasi teknis dari kementerian dalam
melaksanakan kegiatan penambangan laut perairan di Bangka Selatan, Kami akan konsisten
dan terus berkomitmen untuk menolak segala praktik penambangan laut di perairan Bangka
Selatan. Kita menyarankan PT.Timah (Persero) Tbk agar tidak ngotot melakukan kegiatan
penambangan di laut daerah, jangan sampai menimbulkan polemik pertambangan
berkepanjangan. Jangan arogan lah, kalau memang bertanggungjawab hadapi massa ketika
kami berorasi, gak usah bikin pernyataan di media massa. Kita berargumentasi di forum
pertemuan saja lah, gak perlu perang statement di media. Kita kupas tuntas dalam pertemuan
nanti, termasuk persoalan reklamasi dan program Corporate Social Reponsibility (CSR) yang
merupakan bentuk pertanggungjawaban perusahaan selama ini, pungkas Oday.
(rell/das/raw/1)