Anda di halaman 1dari 19

Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

Isra Miraj Nabi Muhammad SAW


Isra Miraj Nabi Muhammad SAW Seringkali di kalangan masyarakat kita, dalam
mendefinisikan isra dan miraj, mereka menggabungkan Isra Miraj menjadi satu peristiwa yang
sama. Padahal sebenarnya Isra dan Miraj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Dan untuk
meluruskan hal tersebut, pada kesempatan ini saya bermaksud mengupas tuntas pengertian isra
dan miraj, sejarah isra miraj nabi muhammad SAW serta hikmah dari perjalanan isra miraj
Nabi Besar Muhammad SAW.

Pengertian / Definisi Isra dan Miraj


Isra Miraj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad dalam waktu satu
malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada
peristiwa ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk
menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

Isra dan Miraj merupakan dua cerita perjalanan yang berbeda. Isra merupakan kisah
perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerussalem.
Sedangkan Miraj merupakan kisah perjalanan Nabi dari bumi naik ke langit ketujuh dan
dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (akhir penggapaian) untuk menerimah perintah di hadirat Allah
SWT.

Namun karena dua peristiwa ini terjadi pada waktu yang bersamaan maka disebutlah peristiwa
Isra Miraj. Selama perjalanan Nabi ditemani Malaikat Jibril dengan menunggangi Buraq.
Peristiwa Isra Miraj terjadi dalam waktu singkat, yaitu hanya dalam satu malam.

Isra Miraj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Miraj terjadi pada
tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-
Manshurfuri, Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang
populer.
Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan
alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian,
yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-
Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Miraj. Tetapi tidak ada
satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra
Miraj.

Peristiwa Isra Miraj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad
Shallallahu Alaihi wa Sallam diberangkatkan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga
Masjidil Aqsa. Lalu dalam Miraj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul
Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah
SWT untuk menunaikan salat lima waktu.

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah
salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke
Sidratul Muntaha seperti ini. Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai
macam hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.

Sejarah / Kisah Perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW


Perjalanan dimulai Rasulullah mengendarai buraq bersama Jibril. Jibril berkata, turunlah dan
kerjakan shalat.

Rasulullahpun turun. Jibril berkata, dimanakah engkau sekarang ?

tidak tahu, kata Rasululullah.

Engkau berada di Madinah, disanalah engkau akan berhijrah , kata Jibril.

Perjalanan dilanjutkan ke Syajar Musa (Masyan) tempat penghentian Nabi Musa ketika lari dari
Mesir, kemudian kembali ke Tunisia tempat Nabi Musa menerima wahyu, lalu ke Baitullahmi
(Betlehem) tempat kelahiran Nabi Isa AS. Kemudian terjadilah peristiwa pembelahan dada Nabi
Muhammad untuk disucikan dengan air Zamzam oleh Malaikat Jibril di samping Kabah
sebelum berangkat ke Masjidil Aqsha di Yerussalem sebagai kiblat nabi-nabi terdahulu.

Sesampainya di Yerussalem, Jibril menurunkan Rasulullah dan menambatkan kendaraannya.


Setelah Rasululullah memasuki masjid ternyata telah menunggu Para nabi dan rasul. Rasulululah
bertanya : Siapakah mereka ?

Saudaramu para Nabi dan Rasul.

Nabi Muhammad kemudian menjadi imam bagi nabi-nabi terdahulu ketika melaksanakan salat
sunnah dua rakaat di Masjidl Aqsa. Jibril membawa dua gelas minumam berisi susu dan arak,
Nabi memilih susu sebagai isyarat bahwa umat Islam tidak akan tersesat.

Kemudian Jibril membimbing Rasul kesebuah batu besar, tiba-tiba Rasululullah melihat tangga
yang sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya menyentuh langit. Kemudian Rasulullah
bersama Jibril naik tangga itu menuju kelangit tujuh dan ke Sidratul Muntaha.

Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada
waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad
melihat Jibril) ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya
(Muhammad) tidak berpaling dariyang dilihatnya itu dan tidakpula melampauinya.
Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling
besar. (QS. An-Najm : 13 18).

Di langit pertama Muhammad bertemu dengan Nabi Adam A.S, di langit kedua bertemu dengan
Nabi Isa dan Yahya A.S, di langit ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf A.S, di langit keempat
bertemu dengan Nabi Idris A.S, di langit keenam bertemu dengan Nabi Musa A.S dan di langit
ketujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim A.S.

Dari Said bin Al Musayyib, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,

- -
.
- -
.


.
-

. .

.

Ketika aku diisrakan (diperjalankan), aku bertemu Musa alaihis salam. Lalu Nabi
shallallahu alaihi wa sallam mensifatinya dengan mengatakan bahwa ia adalah pria yang tidak
gemuk yang berambut antara lurus dan keriting serta terlihat begitu gagah.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Aku pun bertemu Isa. Lalu beliau mensifati Isa
bahwa ia adalah pria yang tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek dan kulitnya kemerahan
seakan baru keluar dari kamar mandi.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Aku pun bertemu Ibrahim -shalawatullah alaih-
dan aku adalah keturunan Ibrahim yang paling mirip dengannya. Aku pun datang dengan
membawa dua wadah. Salah satunya berisi susu dan yang lainnya khomr (arak). Lantas ada yang
mengatakan padaku, Ambillah mana yang engkau suka. Aku pun memilih susu, lalu aku
meminumnya. Ia pun berkata, Engkau benar-benar berada dalam fithrah. Seandainya yang
kau ambil adalah khomr, tentu umatmu pun akan ikut sesat. (HR. Muslim no. 168).

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil
Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan
kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Q.S Al Isra (17):1)

Selanjutnya Rasulullah melanjutkan perjalanan menghadap Allah tanpa ditemani Jibril.


Rasulullah membaca yang artinya : Segala penghormatan adalah milik Allah, segala Rahmat
dan kebaikan.
Allah berfirman yang artinya: Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan
berkahnya.

Rasul membaca lagi yang artinya: Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah
yang sholeh.

Berfirman Allah SWT : Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku
telah mengambil Ibrahim sebagai kesayanagan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti
firman kepada Musa Akupun menjadikan umatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah
dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan
pilihan), Maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-
orang yang bersyukur.

Kembalilah kepada umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku. Nabi kemudian
menerima perintah untuk membawa amanah Allah berupa salat 50 waktu dalam sehari semalam
untuk Nabi Muhammad dan umatnya.

Kemudian Rasulullah turun ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan pulang di langit keenam,
beliau bertemu Musa A.S. Terjadilah percakapan di antara keduanya, Musa menanyakan apa
yang dibawa Muhammad setelah menghadap Allah. Muhammad kemudian menjelaskan
mengenai perintah untuk melakukan salat 50 waktu dalam sehari semalam. Musa lantas
menyuruh Muhammad untuk kembali menghadap Allah dan meminta keringanan.

Muhammad lantas kembali kehadirat Allah untuk meminta keringanan. Permintaan tersebut
dikabulkan, perintah salat diturunkan menjadi 45 kali. Setelah itu Muhammad kembali dan
bertemu lagi dengan Musa. Dikisahkan Nabi Muhammad SAW sempat beberapa kali pulang
pergi untuk meminta keringanan salat, hingga akhirnya turun menjadi lima kali dalam waktu
sehari semalam.
Setelah perintah salat diturunkan menjadi lima waktu dalam sehari semalam, dikisahkan bahwa
Nabi Musa masih menyuruh Muhammad untuk meminta keringanan. Tapi Nabi Muhammad
tidak berani lagi melakukannya karena malu pada Allah, ia pun rela dan ikhlas dengan ketentuan
tersebut. Nabi akhirnya kembali dengan membawa perintah salat selama lima waktu yang kita
kenal sebagai salat Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya.

Kemudian Jibril berkata : Allah telah memberikan kehormatan kepadamu dengan penghormatan
yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun dari makhluk Nya baik malaikat yang terdekat
maupun nabi yang diutus. Dan Dia telah membuatmu sampai suatu kedudukan yang tak
seorangpun dari penghuni langit maupun penghuni bumi dapat mencapainya. Berbahagialah
engkau dengan penghormatan yang diberikan Allah kepadamu berupa kedudukan tinggi dan
kemuliaan yang tiada bandingnya. Ambillah kedudukan tersebut dengan bersyukur kepadanya
karena Allah Tuhan pemberi nikmat yang menyukai orang-orang yang bersyukur.

Lalu Rasulullah memuji Allah atas semua itu.

Kemudian Jibril berkata : Berangkatlah ke surga agar aku perlihatkan kepadamu apa yang
menjadi milikmu disana sehingga engkau lebih zuhud disamping zuhudmu yang telah ada, dan
sampai lah disurga dengan izin Allah SWT. Tidak ada sebuah tempat pun aku biarkan
terlewatkan. Rasul melihat gedung-gedung dari intan mutiara dan sejenisnya, Rasul juga
melihat pohon-pohon dari emas. Rasul melihat disurga apa yang belum pernah dilihat mata,
belum pernah didengar telinga dan tidak terlintas dihati manusia. Semua itu membuat Rasul
kagum dan untuk mengejar surgalah mestinya manusia beramal. Kemudian Rasululullah
diperlihatkan neraka sehingga rasul dapat melihat belenggu-belenggu dan rantai-rantainya
selanjutnya Rasulullah turun ke bumi dan kembali ke masjidil haram menjelang subuh.

Mendapat Mandat Shalat 5 waktu


Agaknya yang lebih wajar untuk dipertanyakan, bukannya bagaimana Isra Miraj, tetapi
mengapa Isra Miraj terjadi? Jawaban pertanyaan ini sebagaimana kita lihat pada ayat 78 surat
al-lsra, Miraj itu untuk menerima mandat melaksanakan shalat Lima waktu. Jadi, shalat inilah
yang menjadi inti peristiwa IsraMiraj tersebut.
Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan antara seorang hamba dengan Allah. Shalat
juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan
penuh kedamaian. Makanya tidak berlebihan apabila Alexis Carrel menyatakan : Apabila
pengabdian, sholat dan doa yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari tengah
kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran
masyarakat tersebut. Perlu diketahui bahwa A. Carrel bukanlah orang yang memiliki latar
belakang pendidikan agama, tetapi dia adalah seorang dokter dan pakar Humaniora yang telah
dua kali menerima nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja dan
pencangkokannya. Tanpa pendapat Carrel pun, AlQuran 15 abad yang lalu telah menyatakan
bahwa shalat yang dilakukan dengan khusu akan bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar,
sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis, egaliter, dan beretika.

Hikmah Isra Miraj Nabi Besar Muhammad SAW


Perintah sholat dalam perjalanan isra dan miraj Nabi Muhammad SAW, kemudian menjadi
ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-
ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-
ilmiah, Isra Miraj merupakan kajian yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi
kehidupan umat beragama (Islam).

Bersandar pada alasan inilah, Imam Al-Qusyairi yang lahir pada 376 Hijriyah, melalui buku
yang berjudul asli Kitab al-Mikraj, berupaya memberikan peta yang cukup komprehensif
seputar kisah dan hikmah dari perjalanan agung Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, beserta
telaahnya. Dengan menggunakan sumber primer, berupa ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadits
shahih, Imam al-Qusyairi dengan cukup gamblang menuturkan peristiwa fenomenal yang
dialami Nabi itu dengan runtut.

Selain itu, buku ini juga mencoba mengajak pembaca untuk menyimak dengan begitu detail dan
mendalam kisah sakral Rasulullah SAW, serta rahasia di balik peristiwa luar biasa ini, termasuk
mengenai mengapa mikraj di malam hari? Mengapa harus menembus langit? Apakah Allah
berada di atas? Mukjizatkah mikraj itu hingga tak bisa dialami orang lain? Ataukah ia semacam
wisata ruhani Rasulullah yang patut kita teladani?

Bagaimana dengan mikraj para Nabi yang lain dan para wali? Bagaimana dengan mikraj kita
sebagai muslim? Serta apa hikmahnya bagi kehidupan kita? Semua dibahas secara gamblang
dalam buku ini.

Dalam pengertiannya, Isra Miraj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan
wisata biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan
menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku In the
Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience, seperti pernah dikutip
Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Miraj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting
dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Miraj,
menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia
spiritual.

Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum
Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci
Mekkah, maka Isra Miraj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang
pencipta (al-Khalik). Isra Miraj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil).
Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah
menuju langit yang tinggi.

Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan menurut Dr
Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Miraj yakni ketika Rasulullah
SAW berjumpa dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasulullah berkata,
Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah; Segala penghormatan, kemuliaan,
dan keagungan hanyalah milik Allah saja. Allah SWT pun berfirman, Assalamualaika
ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh.
Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat.
Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari
bacaan shalat.

Selain itu, Seyyed Hossein Nasr dalam buku Muhammad Kekasih Allah (1993)
mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Miraj
mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian
bahwa shalat adalah miraj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya,
ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.

Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam.
Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Miraj dan perintah
shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk
bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam
salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
(Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka
akan kembali kepada-Nya.

Mengacu pada berbagai aspek diatas, buku setebal 178 halaman ini setidaknya sangat menarik,
karena selain memberikan bingkai yang cukup lengkap tentang peristiwa Isra mikraj Nabi saw,
tetapi juga memuat mirajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa wali. Kemudian kelebihan
lain dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai kisah Mirajnya Abu Yazid al-Bisthami.
Miraj bagi ulama kenamaan ini merupakan rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan
ruhaninya menuju Allah.

Ia menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan niat menempuh
perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah. Maka,
sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum
Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci
Mekah, maka Isra Miraj menjadi puncak perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan
ruhani.

Isra Miraj juga merupakan suatu peristiwa besar yang sekarang oleh sains dan teknologi
diakui, karena ternyata memang demikianlah yang bisa terjadi bahwa Rasulullah benar-benar
bergerak dari Mekkah ke Palestina, dan kemudian diteruskan ke Sidratil Muntaha hanya dalam
waktu tidak sampai satu malam. Sudut pandang ilmiahnya bahwa ini adalah peristiwa fenomenal
dan kontroversial. Fenomena sejarah bahwa peristiwa ini belum pernah terjadi dan diyakini
takkan pernah terjadi lagi.

Dengan pendekatan secara saintifik dapatlah dijelaskan bahwa sebenarnya perpindahan


Rasulullah dari satu tempat ke tempat lain pada peristiwa Isra Miraj itu terjadi secara cahaya.
Peristiwa Isra Miraj ini tentunya kontroversial hampir 1500 tahun di kalangan agamawan
maupun para saintis karena memang sulit menjelaskannya. Selalu ada yang tidak percaya, ragu-
ragu, dan ada juga yang meyakininya sejak masa hidupnya Rasulullah hingga kini. Yang ragu-
ragu sampai sekarang tentunya masih ada, bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Ketika ditanya
apakah perjalanan Nabi Muhammad dari Mekkah ke Palestina itu dengan badannya atau bukan.
Ada yang mengatakan bahwa itu hanya penglihatan saja. Ada juga yang mengatakan bahwa itu
hanya ruh saja. Ada yang mengatakan itu hanya mimpi. Dan ada yang mengatakan bahwa
peristiwa itu memang dialami Nabi Muhammad dengan badannya.

Yang meyakini bahwa peristiwa Isra Miraj itu dialami Nabi Muhammad dengan badannya
adalah mengacu kepada Abu Bakar Shiddiq. Ketika itu Abu Bakar ditanya apakah dia meyakini
peristiwa tersebut. Lalu ditanyakan oleh Abu Bakar kepada yang bertanya itu siapa yang
menceritakan hal tersebut. Dijawab oleh yang bertanya kepada Abu Bakar itu bahwa yang
menceritakan hal tersebut adalah Nabi Muhammad. Dikatakan oleh Abu Bakar, bahwa kalau
Nabi Muhammad yang menceritakannya, maka ia meyakininya, karena Nabi Muhammad tak
pernah berbohong.
Cara Abu Bakar memersepsi mengenai Isra Miraj ini oleh sebagian kalangan dinyatakan bahwa
beragama itu tak perlu berpikir. Padahal jika dicermati bahwa sebenarnya ketika itu Abu Bakar
berpikir dahulu, karena ia menanyakan bahwa siapakah yang menceritakan hal tersebut. Kalau
memang Nabi Muhammad yang menceritakannya, maka ia meyakini kebenaran yang diceritakan
oleh Nabi Muhammad itu. Tapi kalau yang menceritakannya bukan Nabi Muhammad tentunya
Abu Bakar takkan langsung meyakini kebenaran cerita tersebut. Jadi dalam beragama memang
kita harus berpikir, janganlah ikut-ikutan saja. Perintahnya sangat jelas di dalam al-Quran: Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya. (Q.S. al-Isr [17]: 36)

Skenario Isra Miraj dan Tafsir Fisik


Perjalanan Isra Miraj itu terdiri dari dua etape: satu etape mendatar (horizontal), sedangkan
satunya lagi adalah etape vertikal ke langit ketujuh. Etape mendatarnya diceritakan di dalam
surah al-Isr ayat pertama:

Maha Suci Allah, yang telah memerjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan
kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. al-Isr [17]: 1)

Dalam tinjauan Agus Mustofa (2006:11), setidak-tidaknya ada delapan kata kunci yang menjadi
catatan penting dan menuntut pemahaman kita menembus batas-batas langit untuk menafsir
perjalanan kontroversial ini. Baiklah, jika kita mencoba untuk menguraikan makna kata-kata
tersebut, maka akan menjadi seperti ini:
Pertama, ayat ini dimulai dengan kata subhnalladz. Kata subhnallh diajarkan kepada
kita untuk diucapkan pada saat kita menemui peristiwa yang menakjubkan, yang memesona,
yang hebat, yang luar biasa. Artinya, dengan memulai cerita itu menggunakan kata
subhnalladz sebenarnya Allah menginformasikan bahwa cerita yang akan diceritakan
tersebut bukanlah cerita yang biasa, melainkan cerita tersebut adalah cerita yang luar biasa dan
menakjubkan.
Kedua, yaitu kata asr. Penggunaan kata asr memiliki beberapa makna. Yang pertama
bahwa itu adalah perjalanan berpindah tempat. Jadi penggunaan kata ini mengcounter
pemahaman ataupun kesimpulan yang menyatakan bahwa pada perjalanan tersebut Rasulullah
tidak berpindah tempat. Yang kedua maknanya bahwa pada perjalanan itu Rasulullah
diperjalankan, bukanlah berjalan sendiri, dan bukan juga atas kehendak sendiri, karena peristiwa
ini terlalu dahsyat untuk bisa dilakukan sendiri oleh Rasulullah.

Ketiga, yaitu kata abdihi yang artinya adalah hamba Allah. Hamba terhadap majikan adalah
seorang yang tak berani membantah, taat, seluruh hidupnya diabdikan untuk majikannya, untuk
Tuhannya. Yang bisa mengalami perjalanan hebat ini bukanlah manusia yang kualitasnya
sembarangan, melainkan manusia yang kualitasnya sudah mencapai tingkatan hamba Allah,
yaitu manusia seperti Nabi Muhammad. Karena itulah, kita mungkin tidak bisa menerima ketika
Nabi Muhammad digambarkan mendapat perintah salat 50 waktu, kemudian beliau menawar
perintah tersebut kepada Allah. Anjuran tawar-menawar itu datangnya dari Nabi Musa.
Digambarkan bahwa tawar-menawar itu terjadi hingga sembilan kali Nabi Muhammad bolak-
balik menemui Allah, yang akhirnya perintah salat fardu yang diterima Nabi Muhammad
menjadi lima waktu saja sehari semalam.
Kita mungkin tak sampai hati membayangkan Nabi Muhammad yang begitu taat kepada Allah
yang tak pernah membantah kalau mendapat wahyu dan perintah dari Allah yang dalam cerita
versi ini digambarkan sampai sembilan kali tawar-menawar dengan Allah untuk mengurangi
jumlah salat fardu yang diperintah-Nya. Digambarkan pada cerita versi ini bahwa Nabi Musa
lebih superior dibandingkan Nabi Muhammad, sehingga Nabi Muhammad dipingpong oleh Nabi
Musa bolak-balik menemui Allah memohon agar jumlah salat fardu yang diperintahkan Allah itu
dikurangi. Tentunya patut pula kita ingat bahwa Nabi Musa adalah nabinya bani Israil
(sebetulnya juga nabinya umat Islam/umat Nabi Muhammad), tetapi orang-orang bani Israil tidak
mau menerima Nabi Muhammad. Bagi bani Israil, Nabi Musa lebih hebat dibandingkan Nabi
Muhammad, sehingga dalam cerita versi ini Nabi Muhammad dipingpong saja. Jadi ini
indikasinya adalah hadis Israiliyat.

Keempat , yaitu kata laylan yang artinya adalah perjalanan malam di waktu malam. Hal ini
menunjukkan sebagai penegasan bahwa perjalanan malam itu tidak sepanjang malam, melainkan
cuma sebagian kecil dari malam. Sehingga diriwayatkan di beberapa hadis, bahwa ketika
Rasulullah berangkat dari rumah meninggalkan pembaringan, kemudian menuju ke Masjidil
Haram, dan kemudian terjadi peristiwa Isra Miraj tersebut. Ketika Rasulullah kembali lagi ke
rumahnya, ternyata pembaringannya masih hangat. Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu beliau
tidak lama meninggalkan rumahnya. Di hadis yang lain juga diceritakan, bahwa ketika
Rasulullah meninggalkan rumahnya, beliau menyenggol tempat minumnya kemudian tumpah,
dan ternyata ketika Rasulullah kembali lagi ke rumahnya, air dari tempat minum yang
disenggolnya itu masih menetes. Hal ini menunjukkan bahwa sebetulnya Isra Miraj yang
dialami Rasulullah itu berlangsung dalam waktu yang sebentar dan cepat.
Bayangkanlah, perjalanan semalam saja masih sulit diterima, apalagi perjalanan yang hanya
sekejap yang itu mungkin hanya beberapa menit, atau mungkin hanya beberapa detik.
Kelima, minal masjidil harmi ilal masjidil aqsha (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa).
Mengapa perjalanan Rasulullah ini dari masjid ke masjid? Mengapa pula tidak dari rumahnya
atau dari Gua Hira ke tujuan lain yang bukan masjid (dari tempat yang bukan masjid ke tempat
lain yang bukan masjid juga)?
Patut diketahui, bahwa masjid adalah tempat yang menyimpan energi positif sangat besar.
Dengan kamera aura yang bisa memfoto dan memvideokan sesuatu, jika ada orang yang sedang
berzikir ataupun membaca al-Quran, ternyata orang tersebut memancarkan cahaya yang terang
benderang. Berbeda halnya dengan orang yang sedang marah, depresi, ataupun stress, maka
orang tersebut akan memancarkan cahaya berwarna merah. Warna aura ini bertingkat, yaitu dari
merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, sampai warna putih. Setiap kita memancarkan
energi. Akan terpancar energi dari setiap aktivitas yang kita lakukan, dan energi itu menancap di
tempat kita berada ketika itu. Energi itu membekas, sehingga seluruh aktifitas kita akan terekam.
Allah berfirman:
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang
selalu hadir. (Q.S. Qf: 18)

Raqib dan Atid kemudian dijadikan sebagai nama malaikat yang mencatat amal kebaikan dan
keburukan. Rekaman tersebut di ruang tiga dimensi, dan suatu ketika akan diputar lagi. Allah
berfirman:Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami
singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat
tajam. (Q.S. Qf: 22)

Di pengadilan akhirat itu, manusia akan bisa melihat seluruh perbuatan yang dilakukannya di
dunia.
Masjid mengandung energi positif sangat besar, terutama masjid yang sering digunakan sebagai
tempat beribadah. Semakin sering, semakin banyak, dan semakin khusyuk, maka energinya akan
semakin besar. Rasulullah berangkat dari masjid menuju ke masjid. Terminal keberangkatannya
di masjid.
Keenam, brakn hawlahu (yang telah Kami berkahi sekelilingnya). Allah memberkati
sepanjang perjalanan itu, hal ini karena perjalanan itu memang membahayakan. Dengan
keberkahan Allah kondisi Nabi tetap membaik.
Ketujuh, linuriyah min ytin (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami). Dalam perjalanan isra miraj ketika itu Rasulullah ditunjukkan berbagai
peristiwa. Mengapakah bisa seperti itu, sedangkan itu adalah waktu yang sangat singkat. Itulah
yang disebut sebagai relativitas waktu, yaitu ada perbedaan waktu antara orang yang
berkecepatan tinggi dengan orang yang berkecepatan rendah. Kita mengetahui, bahwa antara
orang yang tidur dengan orang yang sadar (terjaga) itu waktunya berbeda. Misalnya, ada yang
tiba-tiba terlelap tidur yang itu hanya sebentar (mungkin hanya beberapa detik), lalu yang
tertidur itu dibangunkan. Yang tertidur itu pun terbangun, lalu ia bercerita baru saja ia bermimpi.
Ceritanya itu begitu panjang, seakan-akan mimpinya itu sangat lama, padahal ia hanya tertidur
beberapa detik saja. Begitupun dengan Rasulullah, meskipun perjalanan yang dialaminya itu
hanya berlangsung sepersekian detik, tetapi beliau ditampakkan berbagai macam peristiwa oleh
Allah. Hal ini karena yang memberjalankan Rasulullah adalah Allah yang tak lain adalah zat
Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Kemahamendengaran dan kemahamelihatan Allah
itu ditularkan kepada Nabi Muhammad, sehingga kemampuan Rasulullah untuk melihat dan
mendengar menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dan kata kunci yang terakhir ( kedelapan ) adalah innahu huwas samiiul bashir,
sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat. Ini adalah proses penegasan informasi
kalimat sebelumnya. Dengan adanya kalimat ini, seakan-akan Alalh ingin memberikan jaminan
kepada kita bahwa apa yang telah Dia ceritakan dalam ayat ini adalah benar adanya. Kenapa?
Karena berita ini datang dari Allah, Tuhan yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Maka tak
perlu ada keraguan tentang kisah fenomenal ini (Mustofa, 2006:41).
Selanjutnya mengenai Miraj diceritakan pada surah an-Najm 14-18:
(14) (yaitu) di Sidratil Muntaha. (15) Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (16) (Muhammad
melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (17)
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula)
melampauinya. (18) Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan)
Tuhannya yang paling besar. (Q.S. an-Najm: 14-18)

Di dekat Sidratil Muntaha, Rasulullah menyaksikan surga. Tentunya tidak sembarangan orang
yang bisa menyaksikan surga, karena sudut padangnya harus tertinggi di alam semesta ini. Dari
dunia tidak kelihatan, kalaupun kelihatan hanya sebagian. Jadi, kalau kita merasakan
kebahagiaan, maka hal itu mungkin kita telah mendapatkan kebahagiaan surga, namun hanya
sedikit sekali perbandingannya, mungkin bagaikan setetes air dibandingkan dengan samudera, itu
pun setetes airnya dibagi lagi tak berhingga. Sebaliknya kalau kita menderita, maka itu adalah
penderitaan neraka, namun skalanya tak berhingga.
Lantas ke manakah Rasulullah melanglang buana? Menyeberangi langit ataukah beliau langsung
masuk ke Sidratil Muntaha yang kita tidak tahu di mana letaknya.
Betapa besarnya langit angkasa semesta. Apakah langit? Langit adalah seluruh ruangan alam
semesta ini. Matahari dikelilingi oleh planet-planet, bumi tempat kita tinggal adalah termasuk
salah satu planet yang mengitari matahari. Matahari yang tadinya kelihatan besar, semakin jauh
kita lihat maka semakin kecil. Ketika matahari yang kita terlihat itu semakin kecil, maka
biasanya kita tidak lagi menyebutnya matahari, melainkan kita menyebutnya bintang.

Matahari itu ternyata demikian banyaknya, seluruh bintang-bintang itu sebenarnya adalah
matahari. Diperkirakan jumlahnya trilyunan. Matahari-matahari (bintang-bintang) itu
bergerombol membentuk galaksi. Galaksi adalah gerombolan matahari (bintang), di tengahnya
ada matahari yang lebih besar, dan di sekitarnya ada sekitar 100 milyar matahari (bintang).

Bintang-bintang itu bergerombol mengitari pusatnya membentuk suatu galaksi. Galaksi tempat
bumi dan matahari kita berada adalah galaksi Bimasakti. Di sebelah galaksi Bimasakti ada
galaksi Andromeda yang isinya diperkirakan juga 100 milyar matahari. Galaksi-galaksi itu
diperkirakan trilyunan jumlahnya. Para ahli astronomi bahkan sampai kehabisan nama untuk
menyebut galaksi karena saking banyaknya.

Galaksi-galaksi itu ternyata bergerombol-gerombol lagi membentuk gerombolan yang lebih


besar yang dinamakan sebagai supercluster. Isinya diperkirakan 100 milyar galaksi. Apakah
supercluster adalah benda terbesar dan terjauh di alam semesta, hingga kini belum ada yang
mengetahuinya.

Jarak bumi ke matahari adalah 150 juta kilometer. Kalau dilewati cahaya maka dibutuhkan
waktu 8 menit. Jadi, kalau kita melihat matahari terbit yang sinarnya sampai ke mata kita, maka
cahaya yang sampai ke mata kita itu sebetulnya bukanlah matahari sekarang, melainkan matahari
8 menit yang lalu. Cahaya matahari itu berjalan selama 8 menit barulah sampai ke mata kita.
Sementara bintang kembar (Alpha Century) jaraknya dari bumi adalah 4 tahun perjalanan
cahaya. Kalau kita melihat bintang kembar pada malam hari, maka sebetulnya itu bukanlah
cahaya bintang kembar saat itu, melainkan bintang 4 tahun yang lalu. Di belakangnya lagi ada
bintang yang berjarak 10 tahun perjalanan cahaya. Bayangkanlah kalau kita mau menuju bintang
berjarak 10 tahun cahaya menggunakan pesawat tercepat yang dimiliki manusia, misalnya
menggunakan pesawat ulang alik yang kecepatannya 20 ribu kilometer per jam. Apakah yang
kemudian terjadi? Ternyata dibutuhkan waktu 500 tahun untuk sampai ke bintang tersebut.

Ternyata bumi kita ini bukanlah benda besar di alam semesta, melainkan benda yang sangat
kecil. Di belakang bintang berjarak 10 tahun cahaya ada bintang berjarak 100 tahun cahaya, di
belakangnya lagi ada yang berjarak 1000 tahun cahaya, yang berjarak 1 juta tahun cahaya, dan
juga yang berjarak 1 milyar tahun cahaya. Yang terjauh diketahui oleh ilmuwan Jepang yaitu
yang berjarak 10 milyar tahun cahaya. Jadi, bumi kita ini hanyalah sebutir debu di padang pasir
alam semesta raya.

Jadi, manusia adalah debunya bumi, bumi debunya tata surya, tata surya debunya galaksi
Bimasakti, galaksi Bimasakti debunya supercluster, supercluster debunya langit pertama, karena
langit itu ada tujuh (saba samawti). Ilmu astronomi hanya mengetahui langit itu satu, tapi al-
Quran mengatakan langit itu ada tujuh, karena menurut al-Quran bahwa langit yang kita kenal itu
yang banyak bintang-bintangnya barulah langit dunia (langit pertama). Allah berfirman:
Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang,
(Q.S. ash-Shfft: 6)

Sudah sedemikian besarnya langit pertama, ternyata langit pertama adalah debunya langit kedua,
karena langit kedua itu besarnya tak berhingga kali dibandingkan langit pertama. Langit ketiga
besarnya tak berhingga kali dibandingkan langit kedua. Begitu seterusnya setiap naik ke langit
selanjutnya selalu tak berhingga kali besarnya dibandingkan langit sebelumnya, hingga langit
ketujuh tak berhingga kali dibandingkan langit keenam, serta tak berhingga pangkat tujuh
dibandingkan langit pertama.
Jadi, langit pertama adalah debunya langit kedua, langit kedua debunya langit ketiga, seterusnya
hingga langit ketujuh, dan seluruh langit yang tujuh beserta seluruh isinya hanyalah debu atau
lebih kecil lagi di dalam kebesaran Allah. Beginilah cara al-Quran menggiring pemahaman kita
tentang makna Allahu Akbar. Semestinya menurut al-Quran, bahwa belajar mengenal Allah itu
adalah dari seluruh ciptaan-Nya. Dengan begitu kita akan mengetahui betapa Maha Besarnya
Dia, betapa Maha Menyayangi, Maha Teliti, Maha Berkuasa, Maha Berkehendak, tak cukup
hanya dari lafaznya, karena kita takkan mendapatkan rasa yang sesungguhnya.
Bayangkanlah betapa Rasulullah melakukan perjalanan menuju langit ketujuh. Sebetulnya
Rasulullah berjalan ke langit ketujuh itu apakah melintasi ruang angkasa atau tidak?
Kalaupun badan Rasulullah diubah menjadi cahaya, maka dari bumi menuju bintang Alpha
Century yang berjarak 4 tahun cahaya, maka Rasulullah membutuhkan waktu 4 tahun untuk
sampai ke bintang Alpha Century, untuk menempuh yang berjarak 10 tahun cahaya dibutuhkan
waktu 10 tahun, untuk menempuh yang berjarak 10 milyar tahun cahaya dibutuhkan 10 milyar
tahun. Sepertinya Rasulullah tidak melewati ruang angkasa, melainkan ada ruangan langsung
yang tidak ke sana (tidak ke ruang angkasa) tetapi memahami semua itu. Di manakah itu?
Ternyata langit kedua terhadap langit pertama tidak bertumpuk seperti kue lapis (dalam konteks
Mirajnya Rasulullah). Sering kita berpendapat dari cerita-cerita klasik bahwa Nabi Muhammad
dan malaikat Jibril menuju ke langit ketujuh dengan cara naik menggunakan tangga, kemudian
bertemu langit yang digambarkan seperti langit-langit, kemudian di situ ada pintunya dan ada
penjaganya. Lalu Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad ditanya mau ke mana oleh si penjaga
langit. Dijawab oleh Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad bahwa akan bertemu dengan Allah.
Kalau begitu, berarti Allah itu jauh sekali. Padahal di dalam al-Quran digambarkan bahwa Allah
itu dekat, dan Nabi Muhammad mengetahui itu. Allah berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat
kepadanya dari pada urat lehernya, (Q.S. Qf: 16)
Bahkan dinyatakan juga di dalam al-Quran: Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke
manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-
Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al-Baqarah [2]: 115)
Timur dan Barat milik Allah. Ke manapun kita menghadap, maka kita berhadapan dengan Allah,
karena Allah sedang meliputi kita. Dan Rasulullah tahu persis akan hal itu. Jadi untuk bertemu
Allah tak perlu ke Sidratil Muntaha. Dan memang Rasulullah ke Sidratil Muntaha bukanlah
untuk menemui Allah, karena Allah sudah meliputi Rasulullah, juga meliputi kita semua di
manapun kita berada.
Tujuan isra miraj
Isra Miraj itu sebetulnya bertujuan membawa Rasulullah ke satu posisi yang paling tinggi
untuk memahami betapa dahsyatnya ciptaan Allah. Untuk apakah semuanya itu? Yaitu untuk
memotivasi Rasulullah. Mengapakah demikian? Karena sebelum Isra Miraj, Rasulullah sedang
berada pada titik terendah perjuangannya yang paling sulit, yaitu ketika dijepit oleh orang kafir
dan diembargo secara ekonomi. Di saat-saat itu justru Allah mewafatkan paman Rasulullah (Abi
Thalib) dan mewafatkan istri Rasulullah (Khadijah). Hal ini bukannya tidak sengaja, melainkan
disengaja oleh Allah, karena memang tak ada yang kebetulan di dalam kehidupan ini.

Semuanya itu justru terjadi pada saat Rasulullah berada pada titik nadir perjuangannya. Beliau
berharap memindahkan front syiarnya ke luar kota (yaitu ke Thaif). Beliau berharap disambut
baik oleh penduduk Thaif, tapi malah yang terjadi beliau dilempari batu sampai berdarah-darah.
Maka kemudian Allah memompa kembali semangat beliau, yaitu dengan cara Isra Miraj.
Muhammad, engkau adalah utusan Allah, mungkin seperti itulah yang ingin disampaikan oleh
Allah melalui peristiwa Isra Miraj tersebut.
Ketika Rasulullah kembali dari Isra Miraj, maka setahun kemudian terjadilah titik balik
perjuangannya, yaitu beliau bersama pengikutnya hijrah ke Madinah, kemudian dari Madinah
bisa menaklukkan kota Mekkah.