Anda di halaman 1dari 9

DANA CSR PT ANEKA TAMBANG TIDAK TEPAT SASARAN

DAN PENUH PENYIMPANGAN

Anggota Komisi VIII DPRRI, M Oheo Sinapoy MBA menilai pemanfaatan dana Corporate
Social Responsibility (CSR) PT Antam Tbk, khususnya pada Unit Bisnis Pertambangan (UBP)
Nikel Pomalaa, banyak yang tidak tepat sasaran, atau tidak sesuai dengan semangat dan tujuan
CSR.
Bukan saja itu, pemanfaatan dana CSR baik itu Community Development (Comdev) maupun
Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL), terjadi penyimpangan dalam prosedur
pengunaannya.
Menurut Oheo, terjadinya pemanfaatan dana CSR Antam yang tidak tepat sasaran itu, akibat
intervensi pemerintah baik itu provinsi maupun kabupaten yang terlalu berlebihan. Dia
mencontohkan, pemanfaatan dana CSR Antam untuk pembangunan bandara Sangia
Nibandera, yang jumlahnya sudah mencapai sekitar Rp 12 miliar, penggunaan dana Antam
dalam program bedah kecamatan, dan bantuan CSR Antam kepada Pemprov Sultra yang
nilainya sudah mencapai Rp 138 miliar selama tiga tahun.
Menurut Oheo, sesuai Pasal 74 Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT) No. 40 tahun
2007, dana CSR harusnya diserahkan kepada masyarakat sasaran, baik itu secara langsung
maupun melalui organisasi masyarakat pendamping. Kalau dana CSR itu diambil alih
pemerintah pengelolaannya maka akan bias, apalagi sudah diintervensi dengan kepentingan
politik bupatinya.
"Bandara itu kan obyek pembangunan yang memang sudah ada anggarannya. Jadi tidak pantas
jika diambilkan lagi dari dana CSR. Saya akan melakukan pengecekan secara detail dengan
Komisi yang membidangi perhubungan. Saya juga akan mengecek jangan-jangan anggaran
dari Antam dalam kegiatan bedah kecamatan tidak masuk dalam APBD. Padahal seharusnya
masuk APBD dulu dan dibahas di DPRD," kata Oheo.
Dari hasil kunjungannya, Oheo juga memperoleh data, bahwa Pemda selalu memaksakan
kehendekanya untuk mendapatkan dana CSR, dengan nada ancaman akan meninjau kembali
izin yang dimiliki Antam.
"Jika dilihat posisi Antam saat ini, tidak lebih menjadi sapi perahan Pemda. Makanya, saya
akan berusaha membantu Antam agar mengembalikan posisi pengelolaan dana CSR sesuai
tujuannya," katanya.

1
Oheo juga mengaku prihatin dengan pemanfaatan lahan eks Antam oleh perusahaan yang
diberikan izin oleh Pemkab Kolaka, karena lahan-lahan tersebut dikelola secara serampangan
tanpa memperhatikan kelestarian lingkungannya.
"Lahan yang tadinya sudah menhijau kembali karena Antam sudah melakukan reklamasi, kini
hancur tak beraturan. Ini semua kesalahan Pemkab yang terlalu bernafsu menjual daerahnya
tanpa melakukan kontrol dan pengawasan secara ketat," katanya.
(http://peldes.blogspot.co.id/2011/07/dana-csr-antam-salah-sasaran.html)
PT Aneka Tambang (Antam) Jakarta juga kecewa terhadap penyalahgunaan dana CSR khusus
berkaitan dengan keberadaan PT.ANTAM, misalnya ada salah satu Gubernur di Sulawesi yang
diduga ikut mencicipi dana CSR dari PT Antam (Persero) Tbk sebesar Rp.223 M dan anehnya
lagi dana tersebut tidak dinikmati oleh masyarakat dan Unsur Pemkab setempat yang dimana
kabupaten itu merupakan wilayah operasi dari PT ANTAM. Berikutnya adalah
penyalahgunaan proyek kerjasama dengan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)
Purwokerto Jawa Tengah. Proyek pertanian terpadu di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag
Purworejo senilai Rp 5,8 miliar menjadi ladang korupsi sejumlah pejabat Universitas Jend.
Sudirman sebagai pihak pelaksana program dan PT Antam.
(http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2013/03/04/225630/pt-antam-kecewa-projek-kerja-
sama-dengan-unsoed-jadi-ladang-korupsi)

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Orang Indonesia sepertinya belum siap mental untuk melihat duit lewat. Bahkan dana untuk
membantu masyarakat kecil dalam berbagai program Tanggung Jawab Sosial Perusahan (CSR)
pun disikat. Inilah yang kemudian memunculkan kasus korupsi dana CSR (Corporate Social
Responsibility). Dana yang berasal dari perusahaan yang seharusnya diperuntukan bagi
pemberdayaan masyarakat, justru dipangkas dan dibagi sana sini sesuka hati seperti Kasus PT
Aneka Tambang
Pertanyaannya menjadi banyak: apakah kesalahan penggunaan dana CSR itu tindak pidana
korupsi?, Apa saja komponen biaya dalam penggunaan dana CSR yang diperbolehkan? Siapa
yang berhak mengalokasikan dan mengawasi dana CSR tersebut? Adakah lembaga khusus
yang punya otoritas tentang program CSR dan seterusnya.
Program CSR yang secara konseptual diharapkan adanya kepedulian dari perusahaan untuk
ikut serta mengatasi persoalan sosial, akhirnya justru banyak menimbulkan persoalan. Pertama,
Sejak kelahirannya, isu mengenai kewajiban CSR di Indonesia telah membawa masalah.

2
Kewajiban melaksanakan CSR bagi perusahaan perusahaan yang diatur dalam UU No 25
Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UUPM) dan UU No 40 Tahun 2007 (UUPT) tentang
Perseroan Terbatas tidak bisa diterapkan secara sederhana
Mengenai besaran biayanya, dalam UUPM tidak disebutkan secara jelas jumlah dan
sumbernya. Dalam UUPT dana CSR wajib dianggarkan berdasarkan kepatutan dan kewajaran.
Sedangkan dalam UUBUMN yang dijelaskan melalui Peraturan Menteri Negara BUMN No
Per-05/MBU/2007 (Per.Men PKBL) mengatur dana PKBL sebesar 4% keuntungan bersih.
Kesimpangsiuran aturan tersebut sangat potensial melahirkan konflik maupun untuk
disalahgunakan. Saat ini masih banyak perusahan yang bingung dalam menentukan besaran
dana CSR. Akhirnya, perusahaan hanya mengira-ira saja. Kepatutan dan kewajaran yang
dijadikan dasar adalah dari kebiasaan praktik sebelumnya.
Yang perlu dicatat adalah: (1) dana CSR tidak boleh dipungut atau dikelola pemerintah.
Karena pada prinsipnya ini adalah dana perusahaan untuk masyarakat. Pemerintah tidak punya
dasar untuk pelaporan pertanggungjawaban dana CSR. Pemerintah hanya boleh mengarahkan
program CSR agar bersinergi dengan program pemerintah, (2) Penggunaan dana CSR selain
untuk program dan biaya operasional bisa dikategorikan tindak pidana, karena mengambil hak
milik masyarakat. Dan Jika itu dilakukan oleh/untuk pejabat pemerintah, maka masuk kategori
korupsi.
PT.ANTAM cenderung memberikan ruang terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh
sejumlah kepala daerah atas kejahatan korupsi, sudah saatnya bagi PT.ANTAM untuk
membuka tabir dibalik praktek korupsi sejumlah kepala daerah sehingga PT.ANTAM sebagai
BUMN tidak tersandera oleh kejahatan sistemik para penguasa korup yang senantiasa ingin
merampok kekayaan sumber daya alam kita termasuk sektor Minerba yang merupakan sasaran
empuk para penguasa.

PEMBANGUNAN PROYEK PULAU G OLEH PT AGUNG PODOMORO LAND


JUSTRU PERSULIT MASYARAKAT

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli memutuskan bahwa pulau G telah
melakukan pelanggaran berat. Untuk diketahui pulau tersebut sedang dibangun oleh
pengembang PT. Agung Podomoro Land."Komite Gabungan dan para menteri sepakat
bahwa Pulau G masuk dalam pelanggaran berat," ujar Rizal di kantor Kementerian
Koordinator bidang Kemaritiman di Gedung BPPT 1, Jakarta, Kamis (30/6/2016).

3
Alasan Komite gabungan yang membahas reklamasi menilai Pulau G melakukan pelanggaran
berat, karena ditemukan banyak kabel yang terkait dengan listrik dan pembangkit milik PLN.
Selain itu Rizal memaparkan pembangunan Pulau G mengganggu lalu lintas kapal
nelayan."Sebelum ada pulau itu, kapal nelayan dengan mudah mendarat, parkir di Muara
Angke. Tapi begitu pulau ini dibikin, dia tutup sampai daratan sehingga kapal-kapal musti
muter dulu," jelas Rizal. (http://www.tribunnews.com/metropolitan/2016/06/30/rapat-tim-
kabinet-agung-podomoro-land-terbukti-lakukan-pelanggaran-berat-di-reklamasi-pulau-g).
Menurut Ketua Kelompok Keahlian Teknik Pantai Institut Teknologi Bandung, Muslim Muin,
reklamasi di teluk Jakarta dampaknya memperparah banjir Jakarta, pembangunan 17 pulau di
pantai utara Jakarta dapat menghambat aliran 13 sungai ke Teluk Jakarta.Menurut Muslim,
elevasi muka air 13 sungai akan naik secara drastis dibandingkan sebelum reklamasi.
Akibatnya, Teluk Jakarta akan menjadi comberan dari 13 sungai karena tidak ada
penampungan. (http://www.tribunnews.com/metropolitan/2016/10/05/pakar-teknik-pantai-
itb-reklamasi-memperparah-banjir-di-jakarta)
PT Agung Podomoro Land alih-alih memberikan dana bantuan CSR untuk meningkatkan
perekonomian masyarakat sekitar justru melalui anak perusahaannya PT Muara Wisesa
Samudera memberikan uang sogokan kepada sejumlah nelayan dan pengurus RT di Kelurahan
Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara. Uang itu disebut diberikan agar penduduk dan
nelayan Muara Angke menerima proyek reklamasi Pulau G yang dibangun di perairan Muara
Angke. Tempo mendapat kuitansi pemberian Rp 160 juta kepada ketua RT di RW 11. Pada
kuitansi tersebut tertulis duit itu untuk biaya sosialisasi dan pernyataan 12 ribu masyarakat
dalam mendukung reklamasi.
(https://metro.tempo.co/read/news/2017/02/01/214841815/nelayan-benarkan-ada-uang-
sogok-dari-agung-podomoro-tapi)
Akibat dari banyaknya pelanggaran yang dilakukan Agung Podomoro Land melalui anak
usahanya PT Muara Wisesa Samudra, maka pemerintah sepakat tidak memberikan izin
pembangunan di pulau G.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Sangat disanyangkan pembangunan pulau reklamasi di Jakarta yang tidak berlajar dari
negara-negara lain di Dunia yang telah melakukannya sebelumnya. Salah satu contoh adalah
proyek tanggul laut di St Petersburg, Rusia. Rusia memiliki kondisi geografis yang mirip
dengan Teluk Jakarta. Namun, pembangunanya dilakukan melalui proses yang benar.

4
Sebelum membangun Sea Wall, mereka terlebih dahulu membangun Sewage
Treatment Plant (STP). Sewage adalah sistem atau jaringan untuk mengelola air limbah.
Sementara drainage adalah sistem yang menyerap air hujan. Tanggul tersebut akan melindungi
kota dari gelombang badai (storm surge). Namun sebelum membangun tanggul merekaharus
punya sewage dan drainage yang dipisahkan.
Jika reklamasi terus dipaksanakan, maka Jakarta harus membangun Giant Sea Wall
(GSW) . Namun pembangunan GSW memiliki dampak dan biaya yang besar.
Pembangunannya membutuhkan biaya yang sangat besar, harus memindahkan Pembangkit
Listrik Tenaga Uap Muara Karang, pelabuhan perikanan harus ditutup dan nelayan harus
pindah serta dampak lingkungan di daerah pengambilan pasiri urugan. Selain itu, Jakarta juga
harus memompa air hujan yang turun di daerah hulu yakni Cipanas, Bogor. Pompa yang
dibutuhkan harus besar dan jika pompa macet, Jakarta akan tergenang oleh banjir kiriman dari
daerah hulu.
Dalam kasus ini saya menilai peran pemerintah sudah cukup bagus dengan tidak
memberikan izin reklamasi Pulau G karena pada dasarnya dari awal proyek ini sudah
bermasalah. Dengan dibangunnya Pulau G yang dikelola oleh PT Agung Podomoro Land justru
menimbulkan kerugian pada PT PLN selaku BUMN, nelayan, dan warga sekitar teluk Jakarta.
Jadi dalam kasus ini saya tidak dapat melihat maksud atau tujuan yang baik dari PT Agung
Podomoro Land, dan dari awal mereka juga sudah memiliki tujuan tidak baik dilihat dari PT
APL melakukan penyogokan kepada sejumlah nelayan agar mendukung reklamasi pulau G.

TAMAN DIGITAL SEBAGAI BENTUK CSR PT TELKOM TBK CABANG


BENGKULU DINILAI TIDAK EFEKTIF

Kota Bengkulu terus berbenah untuk menjadikan wilayahnya sebagai kawasan berbasis
teknologi berbasis interkoneksi jaringan. Untuk mewujudkannya, saat ini tengah dibangun
sebuah taman digital atau Digital Park di pusat kota kawasan Jalan Soeprapto tepat di sisi
selatan Simpang Lima Ratu Samban.
Ketua Komisi II DPRD Kota Bengkulu Suimi Fales mengatakan, Digital Park yang
dibangun dengan konsep kawasan berbasis teknologi tinggi akan memberikan ruang yang luas
bagi pengguna layanan internet dan virtual lengkap dengan sarana pendukungnya.
"Sengaja kami pilih lokasi pusat kota yang padat lalu lalang orang dan kendaraan. Supaya
pemanfaatannya bisa maksimal," ujar Suimi di Bengkulu, Rabu, 19 Oktober 2016.

5
Kawasan Jalan Soeprapto Bengkulu merupakan pusat perdagangan, perkantoran Kota
Bengkulu, dan terkoneksi dengan kawasan pendidikan dan olahraga. Tidak jauh dari kawasan
ini juga terdapat situs sejarah rumah kediaman Bung Karno saat diasingkan di Bengkulu,
kediaman Fatmawati, dan Masjid Jamik yang sering dijadikan pusat kajian Islam di Bengkulu.
"Sarana pendukung berupa kafetaria dan pusat kuliner berada tepat di samping Digital Park.
Tujuannya memberikan kenyamanan dan membuat masyarakat betah berlama-lama di lokasi
ini," Suimi menambahkan.
Secara terpisah, General Manager PT Telkom Bengkulu, Nugroho Setia Budi,
memastikan pihaknya akan memberikan layanan akses internet tanpa batas berkecepatan
tinggi. Telkom juga akan memberikan layanan virtual image yang dipasang di lokasi Digital
Park.
"Kecepatan tinggi dan unlimited kami sediakan bagi siapa pun yang berada dalam jangkauan
taman digital. Teknologi 4D juga kami siapkan," kata Nugroho.
Namun sangat disayangkan semua manfaat tersebut tidak diapresiasi dengan baik oleh
masyarakat, terbukti dari sangat sedikitnya masyarakat yang menfaatkan taman digital dan
sampah yang berserakan serta rumput dan taman yang tidak terawat. Ekspektasinya taman
digital dapat dijadikan sebagai tempat yang memberikan kemudahan dan kecepatan dalam
menggunakan internet dengan nyaman dan membuat masyarakat betah berlama-lama di lokasi.
Namun realitanya taman tersebut sepi pengunjung dan tak terawat.
(http://harianrakyatbengkulu.com/ver3/2016/12/07/taman-digital-lengkap-dengan-internet-
gratis/)

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Setelah ada regulasi tentang Corporate Social Responsibility (CSR), setiap perusahaan
diharuskan untuk menganggarkan sebagian dana bantuan untuk kebutuhan sosial. Dengan
adanya kebijakan mengenai keharusan menyalurkan CSR ini, sebetulnya bisa menjadi salah
satu upaya yang baik untuk menjadikan perusahaan-perusahaan itu menjadi pro sosial.
Perusahaan sebagai salah satu lembaga yang ada di tengah-tengah masyarakat harus bisa
memberikan kontribusinya pada kehidupan masyarakat sosial dalam banyak hal yang salah
satunya membangun fasilitas umum.
Meski kewajiban atas pembangunan fasilitas umum itu adalah paling besar oleh
pemerintah, namun semua pihak juga tidak ada salahnya untuk ikut membantu. Dalam hal ini,
perusahaan juga bisa menjadi salah satu bagian yang direkomendasikan untuk ikut membantu

6
melakukan perbaikan pada fasilitas umum ataupun mungkin membangun fasilitas yang baru.
Sebagaimana kita ketahui bahwa fasilitas umum itu menjadi salah satu fasilitas yang sangat
penting sekali karena mencakup kebutuhan masyarakat sosial masyarakat yang dibutuhkan.
Saya sebagai pelajar yang menuntut ilmu di kota bengkulu mengakui bahwa maksud
dan tujuan didirikannya taman digital ini sudah bagus, baik dari perusahaan maupun
pemerintah. namun sepertinya sudah lepas tangan saja dari taman digital tersebut, dilihat dari
taman yang tidak terawat dan kebersihan yang tidak terjaga. Agar sebuah program CSR dapat
menjalankan perannya secara efektif, dibutuhkan peran aktif dari ketiga pihak. Pertama
perusahaan, namun saya sudah cukup mengapresiasi niat baik PT Telkom yang bahkan sampai
menghhabiskan biaya 1.4 miliyar rupiah dalam pembangunannya.
Kedua pemerintah, saya juga mengapresiasi peran pemerintah yang mendukun
terealisasinya proyek tersebut namun sangat disayangkan pemerintah terlihat sudah lepas
tangan pada proyek tersebut. Seharusnya pemerintah mempekerjakan petugas kebersihan dan
taman yang khusus untuk Taman Digital agar kebesihan dapat terjaga sehingga memberikan
kenyamanan bagi penggunanya. Ketiga mayarakat, pada dasarnya fasilitas umum dibangun
atas dasar kebutuhan masyarakat jadi sudah seharusnya masyarakat turut menjaga kebersihan
serta ikut mengapresiasi Fasilitas Umum tersebut dengan cara memanfaatkan taman digital
sesuai dengan maksud didirikannya yaitu sebagai tempat mencari informasi, menggunakan
internet dengan cepat dan mudah.

MONOPOLI KASUS PT. PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA

PT. Perusahaan Listrik Negara Persero (PT. PLN) merupakan Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) yang diberikan mandat untuk menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia.
Seharusnya sudah menjadi kewajiban bagi PT. PLN untuk memenuhi itu semua, namun pada
kenyataannya masih banyak kasus dimana mereka merugikan masyarakat. Kasus ini menjadi
menarik karena disatu sisi kegiatan monopoli mereka dimaksudkan untuk kepentingan
mayoritas masyarakat dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai UUD 1945 Pasal 33,
namun disisi lain tindakan PT. PLN justru belum atau bahkan tidak menunjukkan kinerja yang
baik dalam pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat.

7
Fungsi PT. PLN sebagai pembangkit, distribusi, dan transmisi listrik mulai dipecah.
Swasta diizinkan berpartisipasi dalam upaya pembangkitan tenaga listrik. Sementara untuk
distribusi dan transmisi tetap ditangani PT. PLN. Saat ini telah ada 27 Independent Power
Producer di Indonesia. Mereka termasuk Siemens, General Electric, Enron, Mitsubishi,
Californian Energy, Edison Mission Energy, Mitsui & Co, Black & Veath Internasional, Duke
Energy, Hoppwell Holding, dan masih banyak lagi. Tetapi dalam menentukan harga listrik
yang harus dibayar masyarakat tetap ditentukan oleh PT. PLN sendiri.
Krisis listrik memuncak saat PT. Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN) memberlakukan
pemadaman listrik secara bergiliran di berbagai wilayah termasuk Jakarta dan sekitarnya,
selama periode 11-25 Juli 2008. Hal ini diperparah oleh pengalihan jam operasional kerja
industri ke hari Sabtu dan Minggu, sekali sebulan. Semua industri di Jawa-Bali wajib menaati,
dan sanksi bakal dikenakan bagi industri yang membandel. Dengan alasan klasik, PLN berdalih
pemadaman dilakukan akibat defisit daya listrik yang semakin parah karena adanya gangguan
pasokan batubara pembangkit utama di sistem kelistrikan Jawa-Bali, yaitu di pembangkit
Tanjung Jati, Paiton Unit 1 dan 2, serta Cilacap. Namun, di saat yang bersamaan terjadi juga
permasalahan serupa untuk pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) PLTGU Muara Tawar
dan PLTGU Muara Karang.
Dikarenakan PT. PLN memonopoli kelistrikan nasional, kebutuhan listrik masyarakat
sangat bergantung pada PT. PLN, tetapi mereka sendiri tidak mampu secara merata dan adil
memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya daerah-daerah
yang kebutuhan listriknya belum terpenuhi dan juga sering terjadi pemadaman listrik secara
sepihak sebagaimana contoh diatas. Kejadian ini menyebabkan kerugian yang tidak sedikit
bagi masyarakat, dan investor menjadi enggan untuk berinvestasi.
(https://lppcommunity.wordpress.com/2009/01/08/etika-bisnis-monopoli-kasus-pt-
perusahaan-listrik-negara/)

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Dalam kasus ini, PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) sesungguhnya mempunyai
tujuan yang baik, yaitu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional. Akan tetapi tidak
diikuti dengan perbuatan atau tindakan yang baik, karena PT. PLN belum mampu memenuhi
kebutuhan listrik secara adil dan merata. Dari pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan
bahwa PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah melakukan tindakan monopoli, yang
menyebabkan kerugian pada masyarakat. Tindakan PT. PLN ini telah melanggar Undang-

8
undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Pasal 33 UUD 1945 menyebutkan bahwa sumber daya alam dikuasai negara dan
dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Sehingga. Dapat disimpulkan bahwa
monopoli pengaturan, penyelengaraan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan sumber daya
alam serta pengaturan hubungan hukumnya ada pada negara. Pasal 33 mengamanatkan bahwa
perekonomian Indonesia akan ditopang oleh 3 pemain utama yaitu koperasi, BUMN/D (Badan
Usaha Milik Negara/Daerah), dan swasta yang akan mewujudkan demokrasi ekonomi yang
bercirikan mekanisme pasar, serta intervensi pemerintah, serta pengakuan terhadap hak milik
perseorangan. Penafsiran dari kalimat dikuasai oleh negara dalam ayat (2) dan (3) tidak
selalu dalam bentuk kepemilikan tetapi utamanya dalam bentuk kemampuan untuk
melakukan kontrol dan pengaturan serta memberikan pengaruh agar perusahaan tetap
berpegang pada azas kepentingan mayoritas masyarakat dan sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat secara adil dan merata, ada baiknya
Pemerintah membuka kesempatan bagi investor untuk mengembangkan usaha di bidang listrik.
Akan tetapi Pemerintah harus tetap mengontrol dan memberikan batasan bagi investor tersebut,
sehingga tidak terjadi penyimpangan yang merugikan masyarakat. Atau Pemerintah dapat
memperbaiki kinerja PT. PLN saat ini, sehingga menjadi lebih baik demi tercapainya
kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat banyak sesuai amanat UUD 1945 Pasal 33.

Anda mungkin juga menyukai