Anda di halaman 1dari 50

H a s i l D a n P r o s e s B e l a j a r S e b a g a i O b je k Penilaian

M. fazlur rahman rhazes A. (2011-1111-112)


C h a n d r a A t a r Aminatus Zuhria
A.

Pengantar

Ditinjau dari sudut bahasa, penilaian diartikan sebagai proses menentukan nilai
suatu objek. Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan
adanya ukuran atau kriteria. Dengan demikian penilaian adalah proses memberikan
atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu.
Dalam penilaian Pendidikan, mencangkup tiga sasaran utama yakni program
pendidikan, proses belajar mengajar dan hasil-hasil belajar.
B.

Penilaian Hasil Belajar


Sudjana (2005) mengatakan bahwa penilaian hasil belajar adalah proses pemberian
nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Hal
ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar siswa. Hasil
belajar siswa pada hakikatnya merupakan perubahan tingkah laku setelah melalui
proses belajar mengajar. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian luas
mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Penilaian dan pengukuran
hasil belajar dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar, terutama hasil
belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan
tujuan pendidikan dan pengajaran. Hasil belajar merupakan hal yang dapat
dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil
belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan
pada saat sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada
jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil
belajar merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran. Hasil juga bisa diartikan
adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang
tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi
mengerti. Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Hasil belajar
tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak
pengajaran dan dampak pengiring. Kedua dampak tersebut bermanfaat bagi guru
dan siswa. Menurut Woordworth (dalam Ismihyani 2000), hasil belajar merupakan
perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar. Woordworth juga
mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan aktual yang diukur secara
langsung. Hasil pengukuran belajar inilah akhirnya akan mengetahui seberapa jauh
tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah dicapai.

Dari penjelasan beberapa ahli, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar pada
hakekatnya adalah proses perubahan perilaku siswa dalam bakat pengalaman dan
pelatihan.
C.

Tujuan Penilaian Hasil Belajar


Sudjana (2005) mengutarakan tujuan penilaian hasil belajar sebagai berikut: 1.

Mendeskripsikan kecakapan belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan


kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang
ditempuhnya. Dengan pendeskripsian kecakapan tersebut dapat diketahui pula
posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan siswa lainnya. 2.

Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni


seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku siswa ke arah tujuan
pendidikan yang diharapkan. 3.

Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan


penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta sistem
pelaksanaannya. 4.

Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada


pihak-pihak yang berkepentingan.
D.

Penilaian Proses Belajar


Penilaian proses dilaksanakan saat proses pembelajaran berlangsung. Penilaian
proses merupakan penilaian yang menitik beratkan sasaran penilaian pada tingkat
efektifitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.
Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru,
kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar
mengajar, sedangkan penilaian hasil belajar menyangkut hasil belajar jangka
panjang dan hasil belajar jangka pendek. Penilaian proses belajar berkaitan dengan
paradigma bahwa dalam kegiatan belajar kegiatan utama terletak pada siswa, siswa
yang secara dominan berkegiatan beajar mandiri dan guru hanya melakukan
pembimbingan. Dalam konteks ini guru harus memantau berbagai kesukaran siswa
dalam proses belajar tersebut setiap pertemuan. Sedangkan untuk mengukur hasil
belajar dilakukan ulangan harian, tengah semester, dan akhir semester. Pada
dasarnya, penilaian kelas mempunyai fungsi dan kegunaan sebagai berikut: 1.

Alat penilaian disusun dalam rangka menciptakan kesempatan bagi siswa untuk
memperlihatkan kemampuannya. 2.

Laporan kemajuan belajar siswa merupakan sarana komunikasi dan sarana kerja
sama antara sekolah dan orang tua, yang bermanfaat bagi kemajuan belajar siswa
maupun pengembangan sekolah. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa ciri
penilaian kelas adalah sebagai berikut: a.

Proses penilaian merupakan bagian integral dari proses pembelajaran b.

Strategi yang digunakan mencerminkan kemampuan anak secara autentik c.

Penilaiannya menggunakan acuan patokan atau criteria. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui ketercapaian kompetensi siswa. d.

Memanfaatkan berbagai jenis informasi

e.

Menggunakan berbagai cara dan alat penilaian. f.

Menggunakan system pencatatan yang bervariasi g.

Keputusan tingkat pencapaian hasil belajar berdasrkan berbaga informasi Bersifat


holistis, penilaian yang menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Di
samping ujian, ada berbagai bentuk dan teknik yang bisa dilakukan dalam
penilaian kelas, yaitu penilaian kinerja (performance), penilaian penugasan (proyek
atau project), penilaian hasil kerja (produk atau peoduct), penilaian tertulis (paper
dan pen), penilaian portopolio (portfolio), Checklist, dan penilaian sikap. Tindak
lanjut dari penilaian proses pembelajaran ( jika memperoleh hasil yang kurang
memuaskan) dilakukan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK). Berarti seorang guru
berusaha mendiagnosa penyebab kesukaran anak didik dalam proses belajar
tersebut, pada gilirannya menemukan suatu cara seagai solusi permasalahan
tersebut. Inilah yang menjadi cikal bakal PTK bagi seorang guru. Berbeda halnya
dengan kegiatan ujian, jika seorang guru menemukan anak didik tidak memenuhi
kriteria yang telah ditetapkan pada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka
solusinya adalah melakukan pembelajaran remedial. Tujuan penilaian proses
belajar-mengajar pada hakikatnya adalah untuk mengetahui kegiatan belajar
mengajar, terutama efesiensi, keefektifan, dan produktivitas dalam mencapai
tujuan pengajaran. Dimensi penilaian proses belajar-mengajar berkenaan dengan
komponen-komponen proses belajar-mengajar seperti tuju mengajaran pengajaran,
metode, bahan pengajaran, kegiatan belajar, kegiatan mengajar guru, dan penilaian.
E.

Fungsi Penilaian
Penilaian mempunyai sejumlah fungsi di dalam proses belajar mengajar, yaitu: a.

Sebagai alat guna mengetahui apakah siswa talah menguasai pengetahuan, nilai-
nilai, norma-norma dan keterampilan yang telah diberikan oleh guru. b.

Untuk mengetahui aspek-aspek kelemahan peserta didik dalam melakukan


kegiatan belajar. c.

Mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar. d.

Sebagai sarana umpan balik bagi seorang guru, yang bersumber dari siswa. e.

Sebagai alat untuk mengetahui perkembangan belajar siswa. f.

Sebagai materi utama laporan hasil belajar kepada para orang tua siswa.
F.

Ruang Lingkup Penilaian Proses Dan Hasil Belajar


1.

Sikap Adalah kebiasaan, motivasi, minat, bakat yang meliputi bagaimana sikap
peserta didik terhadap guu, mata pelajaran, orang tua, suasana sekolah, lingkungan,
metode, media dan penilaian. 2.

Pengetahuan dan Pemahaman Pemahaman peseta didik sudah mengetahui dan


memahami tugas-tugasnya sebagai warga Negara, warga masyakat, warga sekolah,
dan sebagainya 3.
Kecerdasan Meliputi apakah peserta didik samapi taraf tertentu sudah dapat
memecahkan masalah-masaah yang di hadapi dalam pelajaran. 4.

Perkembangan Jasmani

3.

KRITERIA PENILAIAN PROSES DAN HASIL PEMBELAJARAN a.

Kriteria penilaian proses


Pembelajaran Menurut Nana Sudjana, bahwa penilaian proses belajar mengajar
memiliki kriteria, yaitu :
a. Konsistensi
kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum Kurikulum adalah program belajar
mengajar yang telah ditentukansebagai acuan apa yang seharusnya dilaksanakan.
Keberhasilan proses belajar mengajar dilihat s ejauh mana acuan tersebut
dilaksanakan secara nyata dalam bentuk dan aspek-aspek : 1). Tujuan-tujuan
pengajaran 2). Bahan pengajaran yang diberikan 3). Jenis kegiatan yang
dilaksanakan 4). Cara melaksanakan jenis kegiatan 5). Peralatan yang digunakan
untuk masing- masing kegiatan, dan 6). Penilaian yang digunakan untuk setiap
tujuan.
b. Keterlaksanaannya oleh guru
Dalam hal ini adalah sejauh mana kegiatan program yang telah dilaksanakan oleh
guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti. Dengan apa yang
direncanakan dapat diwujudkan sebagaimana seharusnya, keterlaksanaan ini dapat
dilihat dalam hal : 1). Mengkodisikan kegiatan belajar siswa. 2). Menyiapkan alat,
sumber dan perlengkapan belajar. 3). Waktu yang disediakan untuk waktu belajar
mengajar. 4). Memberikan bantuan dan bimbingan belajar kepada siswa. 5).
Melaksanakan proses dan hasil belajar siswa. 6). Menggeneralisasikan hasil belajar
saat itu dan tindak lanjut untuk kegiatan belajar mengajar berikutnya.
c. Keterlaksanaannya oleh siswa
Dalam hal ini dinilai sejauh mana siswa melakukan kegiatan belajar mengajar
dengan program yang telah ditentukan guru tanpa mengalami hambatan dan
kesulitan yang berarti, keterlaksaan siswa dapatdilihat dalam hal: 1). Memahami
dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh guru. 2). Semua siswa turut
melakukan kegiatan belajar. 3). Tugas-tugas belajar dapat diselesaikan
sebagaimana mestinya. 4). Manfaat semua sumber belajar yang disediakan guru.
5). Menguasai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan guru.
d. Motivasi belajar siswa
Keberhasilan proses belajar-mengajar dapat dilihat dalam motivasi belajar yang
ditujukan para siswa pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar . dalam hal
: - Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran - Semangat siswa untuk
melakukan tugas-tugas belajarnya - Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan
tugas-tugas belajarnya - Reaksi yang ditunjukan siswa terhadap stimulus yang
diberikan guru - Rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan

e. Keaktifan
para siswa dalam kegiatan belajar Penilaian proses belajar mengajar terutama
adalah melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar
mengajar , keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal : - Turut serta dalam
melaksanakan tugas belajarnya - Terlibat dalam pemecahan masalah - Bertanya
kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang
dihadapi - Berusaha tahu mencari informasi yang diperlukan untuk pemecahan
masalah - Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru - Menilai
kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya - Melatih diri dalam
memecahkan masalah atau soal yang sejenis - Kesempatan mengunakan atau
menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau
persoalan yang dihadapinya.
f. Interaksi
guru siswa Interaksi guru siswa berkenaan dengan komunikasi atau hubugan
timbal balik atau hubungan dua arah antara siswa dan guru atau siswa dengan
siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, hal ini dapat dilihat: - Tanya
jawab atau dialog antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa -
Bantuan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, baik secara
individual mupun secara kelompok - Dapatnya guru dan siswa tertentu dijadikan
sumber belajar - Senangtiasa beradanya guru dalam situasi belajar mengajar
sebagai fasilitator belajar - Tampilnya guru sebagai pemberi jalan eluar manakala
siswa menghadapi jalan buntu dalam tugas belajarnya - Adanya kesempatan
mendapat umpan balik secara berkesinambungan dari hasil belajar yang diperoleh
siswa. g. Kemampuan atau keterampilan guru mengajar Kemampuan atau
keterampilan guru mengajar merupakan puncak keahlian guru yang profesional
sebab merupakan penerapan semua kemampuan yang telah dimilikinya dalam hal
bahan pengajaran, komunikasi dengan siswa, metode mengajar, dll. Beberapa
indikator dalam menilai kemampuan ini antara lain : - Menguasai bahan pelajaran
yang diajarkan kepada siswa - Terampil berkomunikasi dengan siswa - Menguasai
kelas sehingga dapat mengendalikan kegiatan kelas - Terampil mengunakan
berbagai alat dan sumber belajar - Terampil mengajukan pertanyaan, baik lisan
maupun tulisan
h. Kualitas hasil belajar yang diperoleh siswa
Salah satu keberhasilan proses belajar-mengajar dilihat dari hasil belajar yang
dicapai oleh siswa. Dalam hal ini aspek yang dilihat antara lain: - Perubahan
pengetahuan, sikap dan perilaku siswa setelah menyelesaikan pengalaman
belajarnya. - Kualitas dan kuantitas penguasaan tujuan instruksional oleh para
siswa - Jumlah siswa yang dapat mencapai tujuan instruksional minimal 75 dari
jumlah intrusional yang harus dicapai

- Hasil belajar tahan lama diingat dan dapat digunakan sebagai dasar dalam
mempelajari bahan berikutnya.
b.

Kriteria Penilaian Hasil Pembelajaran


Kriteria penilaian hasil pembelajaran antara lain : 1. Dikembangkan dengan
mengacu pada tiga aspek yaitu pengetahuan, keterampilam dan sikap. 2.
Menggunakan berbagai cara didasarkan pada tuntutan kompetensi dasar 3.
Mengacu pada tujuan dan fungsi penilaian (sumatif, formatif) Tujuan dan fungsi
formatif: keputusannya aspek apa yang masih harus diperbaiki dan aspek apa yang
dianggap sudah memenuhi dari indikator penilaian. Tujuan dan fungsi sumatif:
keputusannya apakah siswa dianggap mampu menguasai kualitas yang
dikehendaki oleh tujuan pembelajaran. 1)

Mengacu kepada prinsip diferensiasi 2)

Tidak bersifat diskriminatif


KESIMPULAN
Keberhasilan pengajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh
siswa, tetapi juga dari segi prosesnya. Hasil belajar pada dasarnya merupakan
akibat dari suatu proses belajar. Ini berarti optimalnya hasil belajar siswa
tergantung pula pada proses belajar siswadan proses mengajar guru. Oleh sebab
itu, perlu dilakukan penilaian terhadap proses belajar-mengajar Dimensi penilaian
proses belajar-mengajar berkenaan dengan komponen-komponen proses belajar-
mengajar seperti tujuan pengajaran, metode, bahan pengajaran, kegiatan belajar
oleh murid, kegiatan mengajar guru, dan penilaian . Kriteria yang digunakan dalam
menilai proses belajar mengajar antara lain ialah konsitensi kegiatan belajar
mengajar dengan kurikulum, keterlaksanaan oleh guru, keterlaksanaanya oleh
siswa, motivasi belajar siswa, keaktifan siswa, interaksi guru siswa, kemampuan
atau ketrampilan guru, kualitas hasil belajar siswa. Penilaian proses belajar-
mengajar berkenaan dengan komponen-komponen hasil pembelajaran seperti
Masukan baku/pasar (peserta didik), Masukan instrumental (kurikulum, metode
mengajar, sarana dan guru), Masukan lingkungan (lingkungan sosial dan
lingkungan bukan manusia), dan Keluaran (hasil output) dari pembelajaran.
Sedangkan kriteria penilaian hasil pembelajaran antara lain dikembangkan dengan
mengacu pada tiga aspek yaitu pengetahuan, keterampilam dan sikap,
menggunakan berbagai cara didasarkan pada tuntutan kompetensi dasar, mengacu
pada tujuan dan fungsi penilaian (sumatif, formatif), mengacu kepada prinsip
diferensiasi, dan tidak bersifat diskriminatif.

Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek


tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu Untuk dapat menentukan suatu nilai
atau harga suatu objek diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Dalam penilaian
Pendidikan, mencangkup tiga sasaran utama yakni program pendidikan, proses
belajar mengajar dan hasil-hasil belajar.
Keberhasilan pengajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai
oleh siswa, tetapi juga dari segi prosesnya. Hasil belajar pada dasarnya merupakan
akibat dari suatu proses belajar. Ini berarti optimalnya hasil belajar siswa
tergantung pula pada proses belajar siswadan proses mengajar guru. Oleh sebab
itu, perlu dilakukan penilaian terhadap proses belajar-mengajar.
Penilaian proses merupakan penilaian yang menitikberatkan sasaran
penilaian pada tingkat efektivitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka
pencapaian tujuan pengajaran. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut
penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan
keterlaksanaan proses belajar mengajar.
Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi
siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat
perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum
belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah
kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar
merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah penilaian proses belajar?
2. Bagaimanakah penilaian hasil belajar?
3. Apa sajakah ruang lingkup penilaian proses dan hasil belajar?
4. Apa sajakah komponen penilaian proses dan hasil belajar?
5. Bagaimanakah criteria penilaian proses dan hasil belajar?
PEMBAHASAN
PENILAIAN PROSES DAN HASIL BELAJAR

Penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek


tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu Untuk dapat menentukan suatu nilai
atau harga suatu objek diperlukan adanya ukuran atau kriteria. Dalam penilaian
Pendidikan, mencangkup tiga sasaran utama yakni program pendidikan, proses
belajar mengajar dan hasil-hasil belajar.
A. PENILAIAN PROSES BELAJAR
Penilaian proses dilaksanakan saat proses pembelajaran berlangsung.
Penilaian proses merupakan penilaian yang menitikberatkan sasaran penilaian pada
tingkat efektivitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan
pengajaran. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap
kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses
belajar mengajar.
Tindak lanjut dari penilaian proses pembelajaran jika memperoleh hasil yang
kurang memuaskan, maka dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berarti
seorang guru berusaha mendiagnosa penyebab kesukaran anak didik dalam proses
belajar tersebut, pada gilirannya menemukan suatu cara seagai solusi permasalahan
tersebut. Inilah yang menjadi cikal bakal PTK bagi seorang guru. Berbeda halnya
dengan kegiatan ujian, jika seorang guru menemukan anak didik tidak memenuhi
kriteria yang telah ditetapkan pada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka
solusinya adalah melakukan pembelajaran remedial.
Tujuan penilaian proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah untuk
mengetahui kegiatan belajar mengajar, terutama efesiensi, keefektifan, dan
produktivitas dalam mencapai tujuan pengajaran. Dimensi penilaian proses belajar
mengajar berkenaan dengan komponen-komponen proses belajarmengajar seperti
tujuan pengajaran, metode, bahan pengajaran, kegiatan belajar dan mengajar guru,
dan penilaian.
Penilaian mempunyai sejumlah fungsi di dalam proses belajar mengajar,
yaitu:
1. Sebagai alat guna mengetahui apakah siswa talah menguasai pengetahuan, nilai-
nilai, norma-norma dan keterampilan yang telah diberikan oleh guru.
2. Untuk mengetahui kelemahan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar.
3. Mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar.
4. Sebagai sarana umpan balik bagi seorang guru, yang bersumber dari siswa.
5. Sebagai alat untuk mengetahui perkembangan belajar siswa.
6. Sebagai materi utama laporan hasil belajar kepada para orang tua siswa.
B. PENILAIAN HASIL BELAJAR
Sudjana (2005) mengatakan bahwa penilaian hasil belajar adalah proses
pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria
tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar
siswa. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian luas mencakup bidang
kognitif, afektif dan psikomotorik. Penilaian dan pengukuran hasil belajar
dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar, terutama hasil belajar kognitif
berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan
dan pengajaran.
Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi
siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat
perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum
belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah
kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar
merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran.
Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Hasil belajar tersebut
terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak
pengajaran dan dampak pengiring. Kedua dampak tersebut bermanfaat bagi guru
dan siswa.
Menurut Woordworth (dalam Ismihyani 2000), hasil belajar merupakan
perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar. Woordworth juga
mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan aktual yang diukur secara
langsung. Hasil pengukuran belajar inilah akhirnya akan mengetahui seberapa jauh
tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah dicapai.
Dari penjelasan beberapa ahli, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar pada
hakekatnya adalah proses perubahan perilaku siswa dalam bakat pengalaman dan
pelatihan.
Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai
pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran. Permendiknas
No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan menjelaskan bahwa
penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan meliputi kegiatan sebagai berikut:
1. Menentukan KKM pada setiap mata pelajaran dengan memperhatikan
karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi sekolah
melalui rapat dewan pendidik.
2. Mengkoordinasikan kegiatan ulangan tengah semester, ulangan akhir semester,
dan ulangan kenaikan kelas.
3. Menentukan criteria kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang menggunakan
sistem paket melalui rapat dewan pendidik.
4. Menentukan criteria program pembelajaran bagi satuan pendidikan yang
menggunakan sistem kredit semester melalui rapat dewan pendidik.
5. Menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata
pelajaran pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan melalui rapat dewan
pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik.
6. Menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan
kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui
rapat dewan pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian pendidik dan
nilai hasil ujian sekolah.
7. Menyelenggarakan ujian sekolah/madrasah dan menentukan kelulusan peserta
didik dari ujian sekolah/madrasah sesuai dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah
bagi satuan pendidikan penyelenggara UN.
8. Melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata
pelajaran pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam
bentuk buku laporan pendidikan.
9. Melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan kepada dinas
pendidikan kabupaten/kota. Cara melaporkan pencapaian hasil belajara adalah
sebagai berikut.
a. Menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan melalui rapat dewan
pendidik sesuai dengan kriteria:
1) Menyelesaikan seluruh program pembelajaran.
2) Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata
pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; kelompok mata
pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; kelompok mata pelajaran estetika;
dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
3) Lulus ujian sekolah/madrasah.
4) Lulus UN.
b. Menerbitkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) setiap peserta
didik yang mengikuti Ujian Nasional bagi satuan pendidikan penyelenggara UN.
c. Menerbitkan ijazah bagi setiap peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan
bagi satuan pendidikan penyelenggara UN.
Sudjana (2005) mengutarakan tujuan penilaian hasil belajar sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan kecakapan belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan
dan kekurangannya dalam berbagai mata pelajaran yang ditempuhnya.
2. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni
seberapa efektifannya mampu mengubah tingkah laku siswa ke arah tujuan
pendidikan.
3. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan
penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta sistem
pelaksanaannya.
4. Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada
pihak-pihak yang berkepentingan.
C. RUANG LINGKUP PENILAIAN PROSES DAN HASIL BELAJAR
Ruang lingkup penilaian proses dan hasil belajar adalah sebagai berikut.
1. Sikap mencakup kebiasaan, motivasi, minat, bakat yang meliputi bagaimana
sikap peserta didik terhadap guru, mata pelajaran, orang tua, suasana sekolah,
lingkungan, metode, media dan penilaian.
2. Pengetahuan dan Pemahaman peseta didik sudah mengetahui dan memahami
tugas-tugasnya sebagai warga Negara, warga masyakat, warga sekolah, dan
sebagainya
3. Kecerdasan meliputi apakah peserta didik samapi taraf tertentu sudah dapat
memecahkan masalah-masaah yang di hadapi dalam pelajaran.
4. Perkembangan jasmani meliputi apakah jasmani peserta didik sudah
berkembang secara harmonis, apaka peserta didik sudah membiasakan diri hidup
sehat
5. Keterampilan ini menjelaskan apakah peserta didik sudah terampil membaca,
menulis dan menghitung, apakah peserta didik sudah terampil menggambar atau
olahraga.
D. KOMPONEN PENILAIAN PROSES DAN HASIL PEMBELAJARAN
1. Komponen Penilaian Proses Pembelajaran
Dimensi penilaian proses belajar mengajar berkenan dengan komponen-
komponen yang membentuk proses belajar-mengajar dan keterkaitan antara
komponen-komponen tersebut. Komponen pengajaran sebagai dimensi penilaian
proses belajar-mengajar mencakup :
a. Komponen tujuan instruksional meliputi aspek-aspek ruang lingkup tujuan,
abilitas yang terkandung didalamnya, rumusan tujuan , kesesuaian dengan
kemampuan siswa, jumlah dan waktu yang tersedia untuk mencapainya,
kesesuaian dengan kurikulum yang berlaku, keterlaksanaan dalam pengajaran.
b. Komponen bahan pengajaran meliputi ruang lingkupnya, kesesuaian dengan
tujuan, tingkat kesulitan bahan kemudahan memperoleh dan mempelajarinya, daya
guna bagi siswa, keterlaksanaan sesuai dengan waktu yang tersedia, sumber-
sumber untuk mempelajarinya, cara mempelajarinya, kesinambungan bahan,
relevansi bahan dengan kebutuhan siswa, prasyarat mempelajarinya.
c. Komponen siswa meliputi kemampuan prasyarat, minat dan perhatian, motivasi,
sikap, cara belajar yang dimiliki, hubungan sosialisasi dengan teman sekelas,
masalah belajar yang dihadapi, karakteristik dan kepribadian, kebutuhan belajar,
indetitas siswa dan keluarganya yang erat kaitannya dengan pendidikan di
sekolah.
d. Komponen guru meliputi penguasaan mata pelajaran, keterampilan mengajar,
sikap keguruan, pengalaman mengajar, cara mengajar, cara menilai, kemauan
mengembangkan profesinya, keterampilan berkomunikasi, kepribadian ,
kemampuan dan kemauaan memberikan bantuan dan bimbingan kepada siswa,
hubungan dengan siswa dan rekan sejawatnya, penampilan dirinya, keterampilan
lain yang diperlukan.
e. Komponen alat dan sumber belajar meliputi jenis alat dan jumlahnya, daya
guna, kemudahan pengadaanya, kelengkapannya, maanfaatnya bagi siswa dan
guru, cara pengunaanya. Dalam alat dan sumber belajar ini termasuk alat peraga,
buku sumber, laboratorium dan perlengkapan belajar lainya.
f. Komponen penilaian meliputi jenis alat penilaian yang digunakan, isi dan
rumusan pertayaan, pemeriksaan dan interprestasinya, sistem penilaian yang
digunakan, pelaksanaan penilaian, tindak lanjut hasil penilaian, pemanfaatan hasil
penilaian, administrasi penilaian, tingkat kesulitan soal, validitas dan reliabilitas
soal penilaian, daya pembeda, frekuensi penilaian dan perencanaan penilaian.
2. Komponen Penilaian Hasil Belajar
Komponen penilaian hasil belajar meliputi:
a. Masukan baku/pasar (peserta didik) Departemen Pendidikan Nasional (2003)
menegaskan bahwa, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
b. Masukan instrumental (kurikulum, metode mengajar, sarana dan guru)
1) Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga
penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan
kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan
perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap
jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut.
2) Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan,langkah- langkah, dan cara yang
digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Satu pendekatan dapat
dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Dari metode, teknik
pembelajaran diturunkan secara aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat
pembelajaran berlangsung.
3) Sarana pendidikan sebagai alat yang digunakan secara langsung dalam proses
pendidikan. Sementara prasarana pendidikan adalah segala macam alat yang tidak
secara langsung digunakan dalam proses pendidikan.
4) Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan formal yang harus
mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap
orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru.
c. Masukan lingkungan (lingkungan sosial dan lingkungan bukan manusia)
Lingkungan pendidikan merupakan lingkungan tempat berlangsungnya proses
pendidikan sebagai bagian dari lingkungan sosial. Lingkungan pendidikan dibagi
menjadi tiga yaitu: keluarga, sekolah dan masyarakat.
d. Keluaran (output) pendidikan adalah hasil belajar (prestasi belajar) yg
merefleksikan seberapa efektif proses belajar mengajar diselenggarakan. Ada 3
aspek yang dinilai dalam penilaian hasil pembelajaran yaitu aspek kognitif,
afektif, dan psikomotrik.
E. KRITERIA PENILAIAN PROSES DAN HASIL PEMBELAJARAN
Menurut Nana Sudjana, penilaian proses belajar mengajar memiliki
kriteria, yaitu :
1. Konsistensi kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum.
Kurikulum adalah program belajar mengajar yang telah ditentukan sebagai acuan
apa yang seharusnya dilaksanakan. Keberhasilan proses belajar mengajar dilihat
sejauh mana acuan tersebut dilaksanakan secara nyata dalam bentuk dan aspek-
aspek :
a. Tujuan-tujuan pengajaran.
b. Bahan pengajaran yang diberikan.
c. Jenis kegiatan yang dilaksanakan
d. Cara melaksanakan jenis kegiatan
e. Peralatan yang digunakan untuk masing- masing kegiatan.
f. Penilaian yang digunakan untuk setiap tujuan.
2. Keterlaksanaannya oleh guru
Dalam hal ini adalah sejauh mana kegiatan program yang telah dilaksanakan oleh
guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti. Dengan apa yang
direncanakan dapat diwujudkan sebagaimana seharusnya, keterlaksanaan ini dapat
dilihat dalam hal :
a. Mengkodisikan kegiatan belajar siswa.
b. Menyiapkan alat, sumber dan perlengkapan belajar.
c. Waktu yang disediakan untuk waktu belajar mengajar.
d. Memberikan bantuan dan bimbingan belajar kepada siswa.
e. Melaksanakan proses dan hasil belajar siswa.
f. Menggeneralisasikan hasil belajar saat itu dan tindak lanjut untuk kegiatan
belajar mengajar berikutnya.
3. Keterlaksanaannya oleh siswa
Dilihat sejauh mana siswa melakukan kegiatan pembelajaran dengan program yang
telah ditentukan guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti, hal ini
mencakup:
a. Memahami dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh guru.
b. Semua siswa turut melakukan kegiatan belajar.
c. Tugas-tugas belajar dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.
d. Manfaat semua sumber belajar yang disediakan guru.
e. Menguasai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan guru.
4. Motivasi belajar siswa
Keberhasilan proses belajar-mengajar dapat dilihat dalam motivasi belajar yang
ditujukan para siswa pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar . dalam hal
:
a. Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran.
b. Semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya.
c. Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya.
d. Reaksi yang ditunjukan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru.
e. Rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
5. Keaktifan para siswa dalam kegiatan belajar
Penilaian proses belajar mengajar terutama adalah melihat sejauh mana keaktifan
siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar , keaktifan siswa dapat dilihat
dalam hal :
a. Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya.
b. Terlibat dalam pemecahan masalah.
c. Bertanya kepada teman atau guru apabila tidak memahami persoalan yang
dihadapi.
d. Berusaha tahu mencari informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
e. Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru.
f. Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.
g. Melatih diri dalam memecahkan masalah atau soal yang sejenis.
h. Kesempatan mengunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam
menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.
6. Interaksi guru dan siswa
Interaksi guru dan siswa berkenaan dengan hubungan timbal balik dalam
melakukan kegiatan belajar mengajar, hal ini dapat dilihat:
a. Tanya jawab atau dialog antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan
siswa.
b. Bantuan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, baik secara
individual mupun secara kelompok.
c. Dapatnya guru dan siswa tertentu dijadikan sumber belajar.
d. Senangtiasa beradanya guru dalam situasi belajar mengajar sebagai fasilitator
belajar.
e. Tampilnya guru sebagai pemberi jalan eluar manakala siswa menghadapi jalan
buntu dalam tugas belajarnya.
f. Adanya kesempatan mendapat umpan balik secara berkesinambungan dari hasil
belajar yang diperoleh siswa.
7. Kemampuan atau keterampilan guru mengajar
Keterampilan guru mengajar merupakan puncak keahlian guru yang professional
dalam hal bahan pengajaran, komunikasi dengan siswa, metode mengajar, dll.
Beberapa indikator dalam menilai kemampuan ini antara lain :
a. Menguasai bahan pelajaran yang diajarkan kepada siswa.
b. Terampil berkomunikasi dengan siswa.
c. Menguasai kelas sehingga dapat mengendalikan kegiatan kelas.
d. Terampil mengunakan berbagai alat dan sumber belajar.
e. Terampil mengajukan pertanyaan, baik lisan maupun tulisan.
8. Kualitas hasil belajar yang diperoleh siswa
Salah satu keberhasilan proses belajar-mengajar dilihat dari hasil belajar yang
dicapai oleh siswa. Dalam hal ini aspek yang dilihat antara lain:
a. Perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa setelah menyelesaikan
pengalaman belajarnya.
b. Kualitas dan kuantitas penguasaan tujuan instruksional oleh para siswa.
c. Jumlah siswa yang dapat mencapai tujuan instruksional minimal 75 dari jumlah
intrusional yang harus dicapai.
d. Hasil belajar tahan lama diingat dan dapat digunakan sebagai dasar dalam
mempelajari bahan berikutnya.
Kriteria penilaian hasil pembelajaran antara lain :
1. Dikembangkan dengan mengacu pada 3 aspek: pengetahuan, keterampilam dan
sikap.
2. Menggunakan berbagai cara didasarkan pada tuntutan kompetensi dasar.
3. Mengacu pada tujuan dan fungsi penilaian (sumatif, formatif). Tujuan dan fungsi
formatif: keputusan aspek apa yang masih harus diperbaiki dan aspek apa yang
dianggap sudah memenuhi dari indikator penilaian. Tujuan dan fungsi sumatif:
keputusan apakah siswa dianggap mampu menguasai kualitas yang dikehendaki
oleh tujuan pembelajaran.
4. Mengacu kepada prinsip diferensiasi.
5. Tidak bersifat diskriminat.
PENUTUP
A. Simpulan
Keberhasilan pengajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar yang
dicapai oleh siswa, tetapi juga dari segi prosesnya. Hasil belajar pada dasarnya
merupakan akibat dari suatu proses belajar. Ini berarti optimalnya hasil belajar
siswa tergantung pula pada proses belajar siswadan proses mengajar guru. Oleh
sebab itu, perlu dilakukan penilaian terhadap proses belajar-mengajar.
Dimensi penilaian proses belajar-mengajar berkenaan dengan komponen-
komponen proses belajar-mengajar seperti tujuan pengajaran, metode, bahan
pengajaran, kegiatan belajar oleh murid, kegiatan mengajar guru, dan penilaian .
Kriteria yang digunakan dalam menilai proses belajar mengajar antara lain ialah
konsitensi kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum, keterlaksanaan oleh guru,
keterlaksanaanya oleh siswa, motivasi belajar siswa, keaktifan siswa, interaksi
guru siswa, kemampuan atau ketrampilan guru, kualitas hasil belajar siswa.
Dimensi penilaian proses belajar-mengajar berkenaan dengan komponen-
komponen hasil pembelajaran seperti Masukan baku/pasar (peserta didik),
Masukan instrumental (kurikulum, metode mengajar, sarana dan guru), Masukan
lingkungan (lingkungan sosial dan lingkungan bukan manusia), dan Keluaran
(hasil output) dari pembelajaran. Sedangkan kriteria penilaian hasil pembelajaran
antara lain dikembangkan dengan mengacu pada tiga aspek yaitu pengetahuan,
keterampilam dan sikap, menggunakan berbagai cara didasarkan pada tuntutan
kompetensi dasar, mengacu pada tujuan dan fungsi penilaian (sumatif, formatif),
mengacu kepada prinsip diferensiasi, dan tidak bersifat diskriminatif.
B. Saran
Diharapkan penilai dalam hal ini guru memperhatikan komponen-
komponen dalam penilaian proses dan hasil pembelajaran. Diharapkan dalam hal
in,i guru dapat menyusun standar yang baik dalam menentukan kriteria untuk
penilaian hasil dan proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya


Arikunto, Suharsimi.2009.Dasar-dasar evaluasi pendidikan edisi revisi. Jakarta:PT Bumi
Aksara
Sudjana, Nana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
Aby Farhan.2011.Penilaian Proses Dan Hasil Belajar.http://www.abyfarhan.com/2011/12/
penilaian-proses-dan-hasil-belajar.html. (akses:17 Maret 2013)

Pengertian pengukuran, penilaian dan evaluasi pembelajaran

Filed under: materi kuliah, public Leave a comment


October 5, 2012

Secara umum pengukuran, penilaian, dan evaluasi saling berkaitan hal ini dapat di
lihat dari pengertian ketiganya di bawah ini:
Pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu dan
bersifat kuantitatif.
Penilaian adalah kegiatan mengambil keputusan untuk menentukan sesuatu
berdasarkan kriteria baik buruk dan bersifat kualitatif. Sedangkan
Evaluasi adalah kegiatan yang meliputi pengukuran dan penilaian
Semntara dalam bidang pendidikan pengukuran, penilaian dan evolusi
pembelajaran memiliki arti sebagai berikut :
Evaluasi
Arikunto (2003) mengungkapkan bahwa evaluasi adalah serangkaian kegiatan
yang ditujukan untuk mengukur keberhasilan program pendidikan. Tayibnapis
(2000) dalam hal ini lebih meninjau pengertian evaluasi program dalam konteks
tujuan yaitu sebagai proses menilai sampai sejauhmana tujuan pendidikan dapat
dicapai.
Penilaian (assessment)
penerapan berbagai cara dan penggunaannya beragam alat penilaian untuk
memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian
kompetensi siswa.
Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana
pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan.
Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan
yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan
pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau
tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat
dinyatakan dengan nilai.
Pengukuran
proses pemberian angka atau usaha untuk memperoleh deskripsi numerik dari
suatu tingkatan dimana siswa telah mencapai karakteristik ttt.
Measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performance
siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (system angka) sedemikian rupa
sehingga sifat kualitatif dari performance siswa tersebut dinyatakan dengan angka-
angka (Alwasilah et al.1996).
Perbedaan Evaluasi, Penilaian dan Pengukuran
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa :
Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai,
kriteria-judgment atau tindakan dalam pembelajaran.
Penilaian dalam pembelajaran adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai
informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan
hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik
melalui program kegiatan belajar.
Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk
menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat
kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Dalam dunia
pendidikan, yang dimaksud pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi
(1995: 21) adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris.
Tujuan dan fungsi evaluasi pembelajaran
Evaluasi pembelajaran memilki berbagai tujuan diantaranya adalah untuk :

1. Menentukan angka kemajuan atau hasil belajar pada siswa. Berfungsi sebagai
a. Laporan kepada orang tua / wali siswa.
b. Penentuan kenaikan kelas
c. Penentuan kelulusan siswa.
2.Penempatan siswa ke dalam situasi belajar mengajar yang tepat dan serasi
dengan tingkat kemampuan, minat dan berbagai karakteristik yang dimiliki.

3. Mengenal latar belakang siswa (psikologis, fisik dan lingkungan) yang berguna
baik bagi penempatan maupun penentuan sebab-sebab kesulitan belajar para siswa,
yakni berfungsi sebagai masukan bagi tugas Bimbingan dan Penyuluhan (BP).
4. Sebagai umpan balik bagi guru, yang pada gilirannya dapat digunakan untuk
memperbaiki proses belajar mengajar dan program remdial bagi siswa.
5. untuk mengetahui keefektifan dan efisiensi sistem pembelajaran

Menurut Depdiknas (2003:6) tujuan evaluasi pembelajaran adalah :


1. Melihat produktivitas & efektivitas kegiatan belajar mengajar.
2. Memperbaiki & menyempurnakan kegiatan guru.
3. Memperbaiki, menyempurnakan & mengembangkan program belajar mengajar
4. Mengetahui kesulitan-kesulitan apa yang dihadapi oleh siswa selama kegiatan
belajar & mencarikan jalan keluar
5. Menempatkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat sesuai dengan
kemampuannya.
Evaluasi mempunyai fungsi :
1. Kurikuler (alat pengukur ketercapaian tujuan mata pelajaran),
2. instruksional (alat ukur ketercapaian tujuan proses belajar mengajar),
3. diagnostik (mengetahui kelemahan siswa, penyembuhan atau penyelesaian
berbagai kesulitan belajar siswa).
4. placement (penempatan siswa sesuai dengan bakat dan minatnya, serta
kemampuannya)
5. administratif BP (pendataan berbagai permasalahan yang dihadapi siswa dan
alternatif bimbingan dan penyuluhanya).
Prinsip dan ciri evaluasi pembelajaran

Prinsip Keseluruhan (comprehensive); artinya evaluasi dilakukan secara bulat, utuh


atau menyeluruh, tidak terpisah-pisah atau sepotong-sepotong.

Prinsip Kesinambungan (contonuity); artinya evaluasi dilakukan secara teratur dan


sambung-menyambung dari waktu ke waktu.

Prinsip obyektivitas (objectivity); artinya evaluasi harus dilakukan dengan apa


adanya, wajar, tidak dicampuri oleh kepentingan2, dan terlepas dari faktor-faktor
yg sifatnya subyektif.
Sebagai komponen dalam pembelajaran, evaluasi mempunyai ciri-ciri tertentu.
Adapun ciri-ciri tersebut antara lain:

1. dilakukan secara tidak langsung. Maksudnya, dalam evaluasi yang diukur


kemudian dinilai bukanlah kepandaian atau kebodohan anak, akan tetapi tanda-
tanda kepandaian atau kebodohannya.

2. penggunaan ukuran kuantitatif (menggunakan simbul bilangan sebagai hasil


pertama pengukuran).
3. menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap. Seperti sangat memuskan,
memuaskan, kurang memuaskan, tidak memuaskan dan lain-lain.
4. bersifat relatif. Nilai seorang siswa tidak selalu tetap dari waktu ke waktu.
Artinya, sangat mungkin seorang anak nilainya berubah-ubah.
5. dalam melakukan penilaian sering terjadi kesalahan-kesalahan
6. Pengukuran dilakukan secara tidak langsung, melainkan melalui fenomena atau
gejala yang tampak.
7. Pengukuran menggunakan ukuran-ukuran yg berupa angka-angka.
8. Penilaian menggunakan unit-unit atau satuan-satuan tetap.
9. Dalam evaluasi sulit dihindari terjadinya kekeliruan (error) pengukuran

Ditinjau dari sudut bahasa, penilaian diartikan sebagai proses menentukan nilai
suatu objek. Untuk dapat menentukan suatu nilai atau harga suatu objek diperlukan
adanya ukuran atau kriteria. Dengan demikian penilaian adalah proses memberikan
atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu.
Dalam penilaian Pendidikan, mencangkup tiga sasaran utama yakni program
pendidikan, proses belajar mengajar dan hasil-hasil belajar.
2.1.1. Penilaian Hasil Belajar
Sudjana (2005) juga mengatakan bahwa penilaian hasil belajar adalah proses
pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria
tertentu. Hal ini mengisyaratkan bahwa objek yang dinilainya adalah hasil belajar
siswa.

Hasil belajar siswa pada hakikatnya merupakan perubahan tingkah laku setelah
melalui proses belajar mengajar. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam
pengertian luas mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Penilaian dan
pengukuran hasil belajar dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar,
terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran
sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.
Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan
dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan
mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat
perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif,
dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat
terselesikannya bahan pelajaran. Hasil juga bisa diartikan adalah bila seseorang
telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya
dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Hasil belajar tersebut terjadi
terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengajaran dan
dampak pengiring. Kedua dampak tersebut bermanfaat bagi guru dan siswa.
Menurut Woordworth (dalam Ismihyani 2000), hasil belajar merupakan perubahan
tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar. Woordworth juga mengatakan
bahwa hasil belajar adalah kemampuan aktual yang diukur secara langsung. Hasil
pengukuran belajar inilah akhirnya akan mengetahui seberapa jauh tujuan
pendidikan dan pengajaran yang telah dicapai.
Dari penjelasan beberapa ahli, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar pada
hakekatnya adalah proses perubahan perilaku siswa dalam bakat pengalaman dan
pelatihan.
Penilaian hasil belajar dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah
(PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pasal 63 Ayat 1) .
Pada Edisi ke-3 kita telah membahas penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh
pendidik. Sekarang kita akan membahas penilaian hasil belajar yang dilakukan
oleh satuan pendidikan.
Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian
kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran. Permendiknas No. 20 Tahun
2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan menjelaskan bahwa penilaian hasil
belajar oleh satuan pendidikan meliputi kegiatan sebagai berikut:
1. Menentukan KKM
setiap mata pelajaran dengan memperhatikan karakteristik peserta didik,
karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan melalui rapat dewan
pendidik.
2. Mengkoordinasikan
ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.
3. Menentukan kriteria
kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket melalui
rapat dewan pendidik.
4. Menentukan kriteria
program pembelajaran bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem kredit
semester melalui rapat dewan pendidik.
5. Menentukan nilai
akhir kelompok mata pelajaran estetika dan kelompok mata pelajaran pendidikan
jasmani, olah raga dan kesehatan melalui rapat dewan pendidik dengan
mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik.
6. Menentukan nilai
akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata
pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui rapat dewan
pendidik dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik dan nilai hasil
ujian sekolah/madrasah.
7. Menyelenggarakan
ujian sekolah/madrasah dan menentukan kelulusan peserta didik dari ujian
sekolah/madrasah sesuai dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah bagi satuan
pendidikan penyelenggara UN.
8. Melaporkan hasil
penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran pada setiap akhir
semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan
pendidikan.
9. Melaporkan pencapaian
hasil belajar tingkat satuan pendidikan kepada dinas pendidikan kabupaten/kota.
1. Menentukan kelulusan
peserta didik dari satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik sesuai dengan
kriteria:
- Menyelesaikan seluruh program pembelajaran.
- Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata
pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; kelompok mata
pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; kelompok mata pelajaran estetika;
dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.
- Lulus ujian sekolah/madrasah.
- Lulus UN.
1. Menerbitkan Surat
Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) setiap peserta didik yang mengikuti
Ujian Nasional bagi satuan pendidikan penyelenggara UN.
2. Menerbitkan ijazah
setiap peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan bagi satuan pendidikan
penyelenggara UN. (ton)
Tujuan Penilaian Hasil Belajar
Sudjana (2005) mengutarakan tujuan penilaian hasil belajar sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan
kecakapan belajar siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan
kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang
ditempuhnya. Dengan pendeskripsian kecakapan tersebut dapat diketahui pula
posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan siswa lainnya.
2. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran
di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku
siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.
3. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan
perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta
sistem pelaksanaannya.
4. Memberikan
pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihak-pihak
yang berkepentingan.
2.1.2. Penilaian Proses Belajar
Penilaian
proses dilaksanakan saat proses pembelajaran berlangsung. Penilaian
proses merupakan penilaian yang menitik beratkan sasaran penilaian pada
tingkat efektifitas kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian
tujuan pengajaran.
Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru,
kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar
mengajar, sedangkan penilaian hasil belajar menyangkut hasil belajar jangka
panjang dan hasil belajar jangka pendek.
Penilaian proses belajar berkaitan dengan paradigma bahwa dalam kegiatan belajar
kegiatan utama terletak pada siswa, siswa yang secara dominan berkegiatan beajar
mandiri dan guru hanya melakukan pembimbingan. Dalam konteks ini guru
harus memantau berbagai kesukaran siswa dalam proses belajar tersebut
setiap pertemuan. Sedangkan untuk mengukur hasil belajar dilakukan ulangan
harian, tengah semester, dan akhir semester.
Pada dasarnya, penilaian kelas mempunyai fungsi dan kegunaan sebagai berikut:
1. Alat
penilaian disusun dalam rangka menciptakan kesempatan bagi siswa untuk
memperlihatkan kemampuannya.
2. Laporan
kemajuan belajar siswa merupakan sarana komunikasi dan sarana kerja sama
antara sekolah dan orang tua, yang bermanfaat bagi kemajuan belajar siswa
maupun pengembangan sekolah.
Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa ciri penilaian kelas adalah sebagai
berikut:
1. Proses penilaian merupakan bagian integral dari proses pembelajaran
2. Strategi yang digunakan mencerminkan kemampuan anak secara autentik
3. Penilaiannya menggunakan acuan patokan atau criteria. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui ketercapaian kompetensi siswa.
4. Memanfaatkan berbagai jenis informasi
5. Menggunakan berbagai cara dan alat penilaian.
6. Menggunakan system pencatatan yang bervariasi
7. Keputusan tingkat pencapaian hasil belajar berdasrkan berbaga informasi
Bersifat holistis, penilaian yang menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor.
Di samping ujian, ada berbagai bentuk dan teknik yang bisa dilakukan
dalam penilaian kelas, yaitu penilaian kinerja (performance), penilaian
penugasan (proyek atau project), penilaian hasil kerja (produk atau peoduct),
penilaian tertulis (paper dan pen), penilaian portopolio (portfolio), Checklist,
dan penilaian sikap.
Tindak lanjut dari penilaian proses pembelajaran ( jika memperoleh hasil yang
kurang memuaskan) dilakukan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK). Berarti
seorang guru berusaha mendiagnosa penyebab kesukaran anak didik dalam proses
belajar tersebut, pada gilirannya menemukan suatu cara seagai solusi
permasalahan tersebut. Inilah yang menjadi cikal bakal PTK bagi seorang guru.
Berbeda halnya
dengan kegiatan ujian, jika seorang guru menemukan anak didik tidak memenuhi
kriteria yang telah ditetapkan pada KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka
solusinya adalah melakukan pembelajaran remedial.
Tujuan penilaian proses belajar-mengajar pada hakikatnya adalah untuk
mengetahui kegiatan belajar mengajar, terutama efesiensi, keefektifan, dan
produktivitas dalam mencapai tujuan pengajaran.
Dimensi penilaian proses belajar-mengajar berkenaan dengan komponen-
komponen proses belajar-mengajar seperti tuju mengajaran pengajaran, metode,
bahan pengajaran, kegiatan belajar, kegiatan mengajar guru, dan penilaian.

2.1.3. Fungsi Penilaian


Fungsi
Penilaian Penilaian mempunyai sejumlah fungsi di dalam proses belajar
mengajar, yaitu:
1. Sebagai alat guna mengetahui apakah siswa talah menguasai pengetahuan,
nilai-nilai, norma-norma dan keterampilan yang telah diberikan oleh guru.
2. Untuk mengetahui aspek-aspek kelemahan peserta didik dalam melakukan
kegiatan belajar.
3. Mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar.
4. Sebagai sarana umpan balik bagi seorang guru, yang bersumber dari siswa.
5. Sebagai alat untuk mengetahui perkembangan belajar siswa.
6. Sebagai materi utama laporan hasil belajar kepada para orang tua siswa.
2.2. RUANG LINGKUP PENILAIAN PROSES DAN HASIL BELAJAR
2.2.1. Sikap
Adalah kebiasaan, motivasi, minat, bakat yang meliputi bagaimana sikap peserta
didik terhadap guu, mata pelajaran, orang tua, suasana sekolah, lingkungan,
metode, media dan penilaian.
2.2.2. Pengetahuan dan Pemahaman
Pemahaman peseta didik sudah mengetahui dan memahami tugas-tugasnya sebagai
warga Negara,
warga masyakat, warga sekolah, dan sebagainya
2.2.3. Kecerdasan
Meliputi apakah peserta didik samapi taraf tertentu sudah dapat memecahkan
masalah-masaah yang di hadapi dalam pelajaran.
2.2.4. Perkembangan Jasmani
Meliputi apakah jasmani peserta didik sudah berkembang secara harmonis, apaka
peserta didik sudah membiasakan diri hidup sehat
2.2.5. Keterampilan
Hal ini menjelaskan apakah peserta didik sudah terampil membaca, menulis
dan menghitung, apakah peserta didik sudah terampil menggambar, olahraga,
dan sebagainya.
3.1. KOMPONEN PENILAIAN PROSES DAN hASIL PEMBELAJARAN
3.1.1. Komponen Penilaian Proses Pembelajaran
Dimensi penilaian proses belajar mengajar berkenan dengan komponen-komponen
yang membentuk proses belajar-mengajar dan keterkaitan atau hubungan
diantara komponen-komponen tersebut. Komponen pengajaran sebagai dimensi
penilaian proses belajar-mengajar setidak tidaknya mencakup :
1. Tujuan pengajaran atau instruksional
2. Bahan pengajaran
3. Kondisi siswa dan kegiatan belajarnya.
4. Kondisi guru dan kegiatan belajarnya.
5. Alat dan sumber belajar yang digunakan.
6. Tekhnik dan cara pelaksanaan penilaianya.
Aspek aspek yang dinilai dari komponen-komponen diatas dapat dijelaskan
sebagai berikut:
Komponen Tujuan Instruksional, yang meliputi aspek-aspek ruang lingkup tujuan,
abilitas yang terkandung didalamnya, rumusan tujuan , kesesuaian dengan
kemampuan siswa, jumlah dan waktu yang tersedia untuk mencapainya,
kesesuaian dengan kurikulum yang berlaku, keterlaksanaan dalam
pengajaran.
Komponen Bahan Pengajaran, yang meliputi ruang lingkupnya , kesesuaian dngan
tujuan, tingkat kesulitan bahan kemudahan memperoleh dan mempelajarinya, daya
gunanya bagi siswa, keterlaksanaan sesuai dengan waktu yang tersedia, sumber-
sumber untuk mempelajarinya, cara mempelajarinya, kesinambungan bahan,
relevansi bahan dengan kebutuhan siswa, prasyarat mempelajarinya.
Komponen Siswa, yang meliputi kemampuan prasyarat, minat dan perhatian,
motivasi, sikap, cara belajar yang dimiliki, hubungan sosialisasi dengan teman
sekelas, masalah belajar yang dihadapi, karakteristik dan kepribadian, kebutuhan
belajar, indetitas siswa dan keluarganya yang erat kaitannya dengan pendidikan di
sekolah.
Komponen Guru, yang meliputi penguasaan mata pelajaran, keterampilan
mengajar, sikap keguruan, pengalaman engajar, cara mengajar, cara menilai,
kemauan mengembangkan profesinya, keterampilan berkomunikasi, kepribadian ,
kemampuan dan kemauaan memberikan bantuan dan bimbingan kepada siswa,
hubungan dengan siswa dan rekan sejawatnya, penampilan dirinya, keterampilan
lain yang
diperlukan.
Komponen Alat dan Sumber Belajar, yang meliputi jenis alat dan jumlahnya, daya
guna, kemudahan pengadaanya, kelengkapannya, maanfaatnya bagi siswa dan
guru, cara pengunaanya. Dalam alat dan sumber belajar ini termasuk alat peraga,
buku sumber, laboratorium dan perlengkapan belajar lainya.
Komponen Penilaian, yang meliputi jenis alat penilaian yang digunakan, isi
dan rumusan pertayaan, pemeriksaan dan interprestasinya, sistem penilaian
yang digunakan, pelaksanaan penilaian, tindak lanjut hasil penilaian,
pemanfaatan hasil penilaian, administrasi penilaian, tingkat kesulitan soal, validitas
dan reliabilitas soal penilaian, daya pembeda, frekuensi penilaian dan perencanaan
penilaian.
3.1.2. Komponen Penilaian Hasil Belajar
Komponen penilaian hasil belajar meliputi:
1. Masukan baku/pasar (peserta didik) Departemen Pendidikan Nasional
(2003) menegaskan bahwa, peserta didik adalah anggota masyarakat yang
berusaha mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
2. Masukan instrumental (kurikulum, metode mengajar, sarana dan guru)
1. Kurikulum
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga
penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan
kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan
perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap
jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut.
1. Metode Mengajar
Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan,langkah- langkah, dan cara yang
digunakan guru dalam
pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode
pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat
dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Dapat pula dikatakan bahwa
metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan.
Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan secara aplikatif, nyata, dan praktis di
kelas saat pembelajaran berlangsung.
1. Sarana
Sarana pendidikan sebagai segala macam alat yang digunakan secara langsung
dalam proses pendidikan.
Sementara prasarana pendidikan adalah segala macam alat yang tidak
secara langsung digunakan dalam proses pendidikan.
1. Guru
Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah
atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru
seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang
lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap
seorang guru.
3. Masukan lingkungan (lingkungan sosial dan lingkungan bukan manusia)
Lingkungan pendidikan merupakan lingkungan tempat berlangsungnya proses
pendidikan yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Lingkungan pendidikan
dibagi menjadi tiga yaitu: keluarga,
sekolah dan masyarakat
4. Keluaran (hasil output)
Output pendidikan adalah hasil belajar (prestasi belajar) yg merefleksikan
seberapa efektif proses belajar mengajar diselenggarakan. Artinya prestasi
belajar ditentukan oleh tingkat efektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar.
Ada 3 aspek yang dinilai dalam penilaian hasil pembelajaran antara lain:
Aspek Kognitif
Aspek Afektif
Aspek Psikomotrik
3.2. KRITERIA PENILAIAN PROSES DAN HASIL PEMBELAJARAN
4.2.1. Kriteria penilaian proses
Pembelajaran Menurut Nana Sudjana, bahwa penilaian proses belajar mengajar
memiliki kriteria, yaitu :
a. Konsistensi
kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum Kurikulum adalah program belajar
mengajar yang telah
ditentukansebagai acuan apa yang seharusnya dilaksanakan.
Keberhasilan proses belajar mengajar dilihat sejauh mana acuan tersebut
dilaksanakan secara nyata dalam bentuk dan aspek-aspek :
1). Tujuan-tujuan pengajaran
2). Bahan pengajaran yang diberikan
3). Jenis kegiatan yang dilaksanakan
4). Cara melaksanakan jenis kegiatan
5). Peralatan yang digunakan untuk masing- masing kegiatan, dan
6). Penilaian yang digunakan untuk setiap tujuan.
b. Keterlaksanaannya oleh guru
Dalam hal ini adalah sejauh mana kegiatan program yang telah dilaksanakan oleh
guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti. Dengan apa yang
direncanakan dapat diwujudkan
sebagaimana seharusnya, keterlaksanaan ini dapat dilihat dalam hal :
1). Mengkodisikan kegiatan belajar siswa.
2). Menyiapkan alat, sumber dan perlengkapan belajar.
3). Waktu yang disediakan untuk waktu belajar mengajar.
4). Memberikan bantuan dan bimbingan belajar kepada siswa.
5). Melaksanakan proses dan hasil belajar siswa.
6). Menggeneralisasikan hasil belajar saat itu dan tindak lanjut untuk kegiatan
belajar mengajar berikutnya.
c. Keterlaksanaannya oleh siswa
Dalam hal ini dinilai sejauh mana siswa melakukan kegiatan belajar mengajar
dengan program yang telah ditentukan guru tanpa mengalami hambatan dan
kesulitan yang berarti, keterlaksaan siswa
dapatdilihat dalam hal:
1). Memahami dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh guru.
2). Semua siswa turut melakukan kegiatan belajar.
3). Tugas-tugas belajar dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.
4). Manfaat semua sumber belajar yang disediakan guru.
5). Menguasai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan guru.

d. Motivasi belajar siswa


Keberhasilan proses belajar-mengajar dapat dilihat dalam motivasi belajar yang
ditujukan para siswa pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar . dalam hal
:
- Minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran
- Semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya
- Tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya
- Reaksi yang ditunjukan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru
- Rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan

e. Keaktifan
para siswa dalam kegiatan belajar Penilaian proses belajar mengajar terutama
adalah melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar
mengajar , keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal :
- Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya
- Terlibat dalam pemecahan masalah
- Bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan
yang dihadapi
- Berusaha tahu mencari informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah
- Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru
- Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya
- Melatih diri dalam memecahkan masalah atau soal yang sejenis
- Kesempatan mengunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam
menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.
f. Interaksi
guru siswa Interaksi guru siswa berkenaan dengan komunikasi atau hubugan
timbal balik atau hubungan dua arah antara siswa dan guru atau siswa dengan
siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, hal ini dapat dilihat:
- Tanya jawab atau dialog antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan
siswa
- Bantuan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, baik secara
individual mupun secara kelompok
- Dapatnya guru dan siswa tertentu dijadikan sumber belajar
- Senangtiasa beradanya guru dalam situasi belajar mengajar sebagai fasilitator
belajar
- Tampilnya guru sebagai pemberi jalan eluar manakala siswa menghadapi jalan
buntu dalam tugas belajarnya
- Adanya kesempatan mendapat umpan balik secara berkesinambungan dari hasil
belajar yang diperoleh siswa.
g. Kemampuan atau keterampilan guru mengajar
Kemampuan atau keterampilan guru mengajar merupakan puncak keahlian guru
yang profesional
sebab merupakan penerapan semua kemampuan yang telah dimilikinya dalam
hal bahan pengajaran, komunikasi dengan siswa, metode mengajar, dll.
Beberapa indikator dalam menilai kemampuan ini antara lain :
- Menguasai bahan pelajaran yang diajarkan kepada siswa
- Terampil berkomunikasi dengan siswa
- Menguasai kelas sehingga dapat mengendalikan kegiatan kelas
- Terampil mengunakan berbagai alat dan sumber belajar
- Terampil mengajukan pertanyaan, baik lisan maupun tulisan
h. Kualitas hasil belajar yang diperoleh siswa
Salah satu keberhasilan proses belajar-mengajar dilihat dari hasil belajar
yang dicapai oleh siswa. Dalam hal ini aspek yang dilihat antara lain:
- Perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa setelah menyelesaikan
pengalaman belajarnya.
- Kualitas dan kuantitas penguasaan tujuan instruksional oleh para siswa
- Jumlah siswa yang dapat mencapai tujuan instruksional minimal 75 dari jumlah
intrusional yang harus dicapai
- Hasil belajar tahan lama diingat dan dapat digunakan sebagai dasar dalam
mempelajari bahan berikutnya.
4.2.2. Kriteria Penilaian Hasil Pembelajaran
Kriteria penilaian hasil pembelajaran antara lain :
1. Dikembangkan dengan mengacu pada tiga aspek yaitu pengetahuan,
keterampilam dan sikap.
2. Menggunakan berbagai cara didasarkan pada tuntutan kompetensi dasar
3. Mengacu pada tujuan dan fungsi penilaian (sumatif, formatif) Tujuan dan
fungsi formatif: keputusannya aspek apa yang masih harus diperbaiki dan aspek
apa yang dianggap sudah memenuhi dari indikator penilaian. Tujuan dan fungsi
sumatif:
keputusannya apakah siswa dianggap mampu menguasai kualitas yang
dikehendaki oleh tujuan pembelajaran.
4. Mengacu kepada prinsip diferensiasi
5. Tidak bersifat diskriminatif

4.1 KESIMPULAN
Keberhasilan pengajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh
siswa, tetapi juga dari segi prosesnya. Hasil belajar pada dasarnya merupakan
akibat dari suatu proses belajar. Ini berarti optimalnya hasil belajar
siswa tergantung pula pada proses belajar siswadan proses mengajar guru. Oleh
sebab itu, perlu dilakukan penilaian terhadap proses belajar-mengajar
Dimensi penilaian proses belajar-mengajar berkenaan dengan komponen-
komponen proses belajar-mengajar seperti tujuan pengajaran, metode, bahan
pengajaran, kegiatan belajar oleh murid, kegiatan
mengajar guru, dan penilaian . Kriteria yang digunakan dalam menilai proses
belajar mengajar antara lain ialah konsitensi kegiatan belajar mengajar dengan
kurikulum, keterlaksanaan oleh guru, keterlaksanaanya oleh siswa, motivasi belajar
siswa, keaktifan siswa, interaksi guru siswa, kemampuan atau ketrampilan guru,
kualitas hasil belajar siswa.
6. Dimensi
penilaian proses belajar-mengajar berkenaan dengan komponen-komponen hasil
pembelajaran seperti Masukan baku/pasar (peserta didik), Masukan instrumental
(kurikulum, metode mengajar, sarana dan guru), Masukan lingkungan (lingkungan
sosial dan lingkungan bukan manusia), dan Keluaran (hasil output) dari
pembelajaran. Sedangkan kriteria penilaian hasil pembelajaran antara lain
dikembangkan dengan mengacu pada tiga aspek yaitu pengetahuan, keterampilam
dan sikap, menggunakan berbagai cara didasarkan pada tuntutan kompetensi dasar,
mengacu pada tujuan dan fungsi penilaian (sumatif, formatif), mengacu kepada
prinsip diferensiasi, dan tidak bersifat diskriminatif
4.2 SARAN
4.2.1. Diharapkan penilai dalam hal ini guru memperhatikan komponen-
komponen dalam penilaian proses dan hasil pembelajaran
4.2.2.Diharapkan penilai dalam hal ini guru dapat menyusun standar yang
baik dalam menentukan kriteria untuk penilaian hasil dan proses pembelajaran

Log In
Sign Up

PENILAIAN, EVALUASI DAN REMEDIASI PEMBELAJARAN BIOLOGI

Uploaded by


top 2%
3,437

62Dr. Bambang Subali, M.S.


program dapat dilihat dari tingkat efektif dan efisiensinya strategi/metode,
sumberbelajar, dan teknik penilaian yang dirancang.Karena peserta program
sudah selesai dalam mengikut suatu program,makatinjauan dalam konteks

assessment of learning

difokuskan kepada peninjauanprogram pembelajaran yang telah disusun secara


keseluruhan, baik dalam bentuk silabus meupun RPP. Dengan demikian, ada
kemungkinan guru memperbaiki silabusdan/atau RPP, dan ada pula kemungkinan
guru tidak memperbaiki silabus dan/atau RPPbila hasil akhir dari penilaian
menunjukkan hasil yang menggembirakan.Namun demikian harus diingat, karena
Standar yang ditetapkan dimungkinkanuntuk ditingkatkan, maka guru dapat
membenahi silabut dengan meningkatkan kualitasSK dan/atau KD dan/atau
indicator.

63Dr. Bambang Subali, M.S.

BAB VIIIPROGRAM REMEDIASIA.

Prinsip Program Remediasi

Program remediasi merupakan suatu rancangan pembelajaran ulang yang


dikenakanbagi peserta didik yang gagal menguasai suatu KD yang ditargetkan.
Sebagai suaturancangan pembelajaran, maka diperlukan adanya pemikiran
apakah program itu akandikenakan secara klasikal, atau hanya dikenakan pada
sebagian peserta didik yangmengalami kegagalan.Seara teoretik, program
remediasi klasikal seharusnya alangkah kecil peluangnyauntuk terjadi apabila guru
dalam menyusun RPP sudah memperhatikan danmempertimbangkan strategi
yang akan digunakan, demikian pula dalam merancangpengalaman yang harus
dialami peserta didik selama berlangsungnya proses pembelajaran.Terlbih guru
sudah memilih pula media dan sumber belajar yang diharapkan dapat
untuk mendukung pencapaian target agar siswa menguasai KD yang
bersangkutan.Sementara, program remediasi bagi sebagian kecil atau satu dua
peserta didik berpeluang terjadi mengingat faktor penentu aktualisasi
pembelajaran bukan sekedarditetentukan oleh faktor guru. Terlebih dari fator
peserta didik, peserta didik banyak mengalami kegagalan akibat mereka tidak
berada pada lingkungan yang kondusif untuk belajar. Lingkungan itu dapat berasal
dari lingkungan informal di rumah, juga faktornonformal akibat peserta didik
banyak berinteraksi dengan orang lain yang tidak adahubungannya dengan
kegiatan tugas utamanya sebagai pebelajar.Di lingkungan informal, sering sekali
justru ada keluarga yang kurang mendukungpembelajaran anak-anaknya.
Kesibukan yang sangat padat menjadikan orang tua kurangmember perhatian
pada anak-ananya. Akibatnya peserta didik kurang terkontrol
dalammemanfaatkaan waktu untuk belajar.Banyak peserta didik yang ikut
berbagai kegiatan yang ada di masyarakat untuk memperoleh pengalaman lain di
luar pengalaman yang diperoleh di sejokolah.Permasalahannya adalah, seberapa
baik peserta didik dapat mengatur waktu belajarnyasehingga kegiatan di
lingkungan nonformal yang mereka ikutitidak mengganggupencapaian prestasi
hasil belajarnya.

64Dr. Bambang Subali, M.S.

B.

Prosedur pelaksanaan program remediasi

Prosedur remediasi harus dirancang dengan memperhatikan factor


penyebabpeserta didik mengalami kegagalan. Bla kegagalan yang terjadi bersifat
nonakademik,maka penanganannya harus melibatkan guru bimbingan dan
konseling. Merekadiharapkan dapat menjembatani antara pihak sekolah dan
pihak keluarga untuk menangani kegagalan peserta didik. Tannpa ada dukungan
dari pihak keluarga, akanlahsulit untuk mengatasi kegagalan peserta didik yang
bersangkutan. Dalamhal ini, perludigali secara mendalam apa yang menjadi
penyebabnya. Terlebih bagi peserta didik SMAyang sudah memasuki masa
remaja. Problem remaja sering ditutup-tutupi atau tanpasepengetahuan orang
tua, sehingga perlu penanganan yang hati-hatai agar peserta didik mau secara
terbuka memaparkan penyebab akegagalannya.Bila kegagalan bersifat akademk,
maka berbagai metode dapat diterapkantergantun pada tingkat kegagalannya.
Bila kegagalannya tidak parah, maka peserta didik dapat diberi kesempatan untuk
belajar mandiri atau belajar dengan teman sebaya/temansekelasnya untuk
mengatadi kegagalannya. Dengan memanfaatkan peserta didik yangtidak
mengalami kesulitan belajar, mereka diminta kerelaannya untuk membantu
temanyang gagal. Hal ini juga tidak mudah untuk dilaksanakan, bilapeserta didik
kurangmemilikiiwa social.Bila dimungkinkan, hguru dapat menyusun modul untuk
membantu peserta didik mengatasi kesulitannya. Dengan modul yang baik maka
dimungkinkan peserta didik dapat belajar mendiri.Pembelajaran ulang oleh guru
juga dimungkinkan bila memang kegagalannyaparah. Dalam keadaan yang
demikian, dimungkinkan sekolah mengalokasikan waktukhusus bagi
penyelenggaraan program remediasi.Sebagai suatu program, kegiatan remediasi
juga harus diukur keberhasilannya.Oleh karena itu asesmen atau penilaian hasil
belajar harus dilakukan pada akhir program.

65Dr. Bambang Subali, M.S.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan (2007). Panduan penilaian kelompok mata


pelajaranilmu pengetahuan dan teknologi. Jakarta: Badan Standar Nasional
Pembelajaran.Brennan, R.L.. (2001). Some problems, pitfalls, and paradoxes in
educationalmeasurement [Versi elektronik].

Educational Measurement

Issues and Practice,

20,4, 6-18.Callahan, S. & Spalding, E. (2006). Can high-stakes writing assessment


support high-quality professional development.
The Educational Forum;

70, 4: 337 350.Carin, A.A. & Sund, R.B. (1989).

Teaching science through discovery

-th

ed

). Columbus:Merrill Publishing Company.Dettmer, P. (2006). New Blooms in


Established Fields: Four Domains of Learning andDoing [Versi elektronik].

Roeper Review

, 28, 2, 70-78.Djemari Mardapi. (2007).

Teknik penyusunan instrumen tes dan non tes

. Yogyakarta:Mitra Cendekia Press.Ebel, R.L. & Frisbie, D.A. (1986).

Essentials of educational measurement

. New Jersey:Prentice Hall, Inc.Esler, W.K. & Dziuban, Ch.D. (1974). Criterion
referenced test: Some advantages anddisadvatages for science education. Science
Education 5R(2): 171-172 (1974). JohnWiley and Sons Inc.Gronlund, N.E. (1998).

Assessment of student achievement( 9-

th

ed).

Boston: Allyn andBacon.Hargreaves, A., Earl, L., & Schmidt, M. (2002). Perspectives
on alternative assessmentreform [Versi elektronik].

American Educaional Research Journal


, 39, 1, 69-95.Hart, D. (1994).

Authentic assessment: A handbook for educators

. California: Addison-Wiley Publishing Company.Hedges, W.D. (1969).

Testing and evaluation for the science

. Belmont, California:Wadsworth Publishing Company, Inc.

66Dr. Bambang Subali, M.S.

Hibbard, K.M. (t.t.).

Performance assessment in the science classroom

. New York:McGraw-Hill Companies.Jehlen, A. (2007). Testing how the sausage is


made [Versi Electronik].

NEA Today,

25,7: 29-34.Kind, P. M. & Kind, V. (2007). Creativity in science education:


Perspectives andchallenges for developing school science [Versi elektronik].

Studies in Science Education

, 43, 1-37.Martin, M., Miller, G., & Delgado, J. (1995). Portfolio performance.

The ScienceTeacher,

62, 1: 50 54.Mandeville, Th.F. (1994). KWLA: Linking the affective and cognitive
domains [Versielektronik].

The Reading Teacher

, 47, 8, 679-680.McMillan, J.H. (Ed). (2007).

Formative classroom assessment: Theory into practice.


NewYork: Teacher College, Columbia University.Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Republik Indonesia (2007). Peraturan MenteriPendidikan Nasional
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2007 Tentang StandarPenilaian Pendidikan
untuk Satuan Pendidikan dasar dan
Menengah.__________________________________________________ (2006).
Peraturan MenteriPendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006
Tentang StandarIsi untuk Satuan Pendidikan dasar dan
Menengah.__________________________________________________ (2006).
Peraturan MenteriPendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2006
tentangPelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Repubrik Indonesia
Nomor22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan dasar dan
Menengahdan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Repubrik Indonesia Nomor
23 Tahun2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan
dasar danMenengah.Subkoviak, M.J. (1988). A practitioner's guide to computation
and interpretation of reliability indices for mastery tests [Versi elektronik].

Journal of Educational Measurement

,25,1,47-55.Wright,A.W.(2001).TheABCsofassessment[Versielektronik].

TheScienceTeacher

,68,7:6066.

Job Board
About
Press
Blog
Stories
Terms
Privacy
Copyright
We're Hiring!
Help Center

Academia 2015
amet wanita yakni oosit, tumbuh dan matang dalam proses yang dikenal sebagai
siklus ovarium. Artikel akan membahas tentang bagian pertama dari siklus
ovarium yaitu fase folikular, dalam artikel singkat ini.

Siklus ovarium

Ah, siklus ovarium tunggu! Siklus Ovarium apakah seperti perputaran


sepeda? Bukan, bukan jenis siklus itu- lebih seperti siklus yang dimulai, kemudian
berakhir, kemudian mulai lagi, dan kemudian berakhir lagi, dan itu hanya terus
berjalan dan pergi, jenis seperti siklus matahari dan bulan, atau mungkin siklus air.
Anda tahu, air menguap ke awan, dan kemudian hujan, dan hujan masuk ke danau,
dan menguap kembali ke dalam awan hal semacam itu. Dan seperti kebanyakan
siklus yang memiliki beberapa bagian atau fase, demikian juga siklus ovarium
tepatnya dua tahap utama.

Siklus ovarium adalah rata-rata sekitar 28 hari dan dibagi menjadi dua bagian:

1. Fase folikular, yang terjadi sebelum ovulasi dan merupakan fokus dari artikel
ini, memakan waktu sampai 1-14 hari, dengan ovulasi terjadi pada hari ke-14.

Dan

2. Fase luteal, yang terjadi setelah ovulasi dari oosit matang selama hari ke 15-28
dan yang akan dibahas dalam artikel terpisah.

Tahap Folikel : Fase folikel primordial

Kita dapat memecah fase folikuler menjadi langkah-langkah, dengan setiap


langkah yang ditandai dengan tahap pertumbuhan. Pertama adalah tahap folikel
primordial.

Untuk memulai, semua oosit kita, sebelum mereka mulai dewasa, terletak di apa
yang disebut sarang telur pada korteks bagian dari ovarium. Sarang telur hanyalah
kelompok oosit yang belum matang, atau telur, jenis seperti pembibitan besar di
rumah sakit di mana bayi disimpan tepat setelah mereka lahir.
Fase folikuler

Setiap oosit dikelilingi oleh lapisan sel-sel folikel yang akan menjadi seperti
selimut bayi yang baru lahir yang dibungkus dalamnya. Bersama-sama, oosit
ditambah sel-sel folikel membuat folikel primordial kita. Setiap folikel primordial
berada di sarang telur dari ovarium sampai wanita mencapai tahap kehidupan yang
biasanya canggung yang dikenal sebagai pubertas.

Setelah pubertas sempurna, putaran bulanan perekrutan folikel dimulai. Setiap


bulan bagian dari folikel primordial direkrut, atau dipilih, untuk memulai jalur
pertumbuhan dan perkembangan, semua dengan harapan yang tinggi menjadi
folikel matang berikutnya akan dibebaskan dari ovarium dan dibuahi, harapan
berkembang menjadi generasi berikutnya yaitu bayi. Jadi apa yang terjadi
selanjutnya?

Fase Folikel: Tahap folikel primer

Setelah oosit dipilih dari sarang telur dan telah berkembang menjadi folikel
primordial, mereka bergerak ke tahap folikel primer. Dan Anda dapat
menebaknya tahap ini ditandai dengan pembentukan folikel primer.

Sebenarnya hal ini cukup sederhana, saat manusia memiliki ledakan pertumbuhan
sekitar pubertas, begitu juga folikel kita, atau gamet. Ketika folikel primordial
direkrut, mereka diaktifkan oleh hormon lokal dalam ovarium dan mereka mulai
tumbuh. Mereka tumbuh membesar dan jumlah sel folikel yang mengelilingi setiap
oosit.
Sebagai sel-sel folikel meningkat jumlahnya, mereka dapat dibagi menjadi dua
jenis. Yang paling dekat dengan oosit adalah sel granulosa, dan mereka di sebelah
sel granulosa di antara folikel yang berdekatan adalah sel-sel teka. Baik granulosa
dan sel teka bekerja sama untuk menghasilkan hormon seks wanita yaitu estrogen.

Pada tahap ini, kita juga memiliki penampilan struktur lain yaitu zona pelusida. Ini
adalah lapisan, atau perbatasan, antara oosit dan sel granulosa. Tugasnya adalah
untuk membantu memberi nutrisi dan melindungi oosit yang berkembang.

Sekarang, sementara hampir semua dari folikel primordial kita direkrut selama
tahap pertama akan berkembang menjadi folikel primer, tidak semua folikel primer
kita akan melanjutkan menyusuri jalan untuk berkembang menjadi folikel
sekunder. Ini semacam seperti uji coba untuk tim olahraga. Katakanlah semua
gadis di sekolah Anda mencoba anak perempuan sepak bola atau basket. Hanya
beberapa dari mereka yang benar-benar dipilih untuk bergabung dengan tim, kan?
Ini pun hal yang sama terjadi di sini.

Folikel Tahap: Tahap folikel Sekunder

Hanya beberapa folikel primer dipilih untuk terus berkembang dan untuk
melanjutkan ke langkah berikutnya yaitu tahap folikel sekunder.

Folikel yang dipilih untuk melanjutkan akan terus dewasa lebih lanjut. Bagian
dalam folikel mulai berkembang ruang berisi cairan yang menyebabkan folikel
akan memperbesar. Pada titik ini, kita memiliki apa yang disebut folikel sekunder.
Dan, karena hanya beberapa folikel primer dipilih untuk dewasa lebih lanjut ke
folikel sekunder, hanya satu dari folikel-folikel sekunder biasanya dipilih untuk
melanjutkan ke tahap berikutnya, tahap folikel tersier. Anda dapat menganggap
folikel ini jenis seperti MVP, atau kapten tim. Anda biasanya hanya memiliki satu.

Tahap Folikel : Tahap folikel tersier

Setelah MVP oosit kita terpilih, terus tumbuh semakin besar sampai mencapai
kematangan. Tahap folikel tersier ditandai dengan kehadiran bentuk yang besar,
berisi ruang cairan di dalam folikel matang, atau folikel Graafian, yang hanya
istilah lain untuk folikel matang. Anda dapat memberitahu tahap ini selain tahap
sekunder karena ruang di tengah folikel, antrum, lebih besar dan lebih baik
didefinisikan pada tahap perkembangan maka pada tahap folikel sekunder.

Fungsi Ovarium
Meskipun ovarium cukup kecil, mereka sangat penting dalam fungsi reproduksi
secara keseluruhan dari tubuh wanita. Banyak fungsi yang baik secara langsung
dikendalikan atau tidak langsung dipengaruhi oleh indung telur. Mari kita lihat
beberapa fungsi tersebut.

Oogenesis

Oogenesis adalah proses dimana tubuh wanita memproduksi telur. Proses ini
terjadi sebelum kelahiran, dan setiap anak perempuan dilahirkan dengan semua
telur yang dia perlukan untuk hidupnya. Oogenesis adalah bentuk meiosis, atau
reproduksi sel seks. Setiap telur akan memiliki 23 kromosom, yang merupakan
dari total jumlah yang diperlukan bagi manusia untuk berkembang dengan baik.
Demikian juga, sel sperma memiliki 23 kromosom, dan ketika telur dan sperma
bersatu, jumlah kromosom penuh akan dipulihkan.

Ovulasi

Agar telur untuk bersatu dengan sel sperma, terlebih dahulu harus dilepaskan dari
ovarium. Ovarium melepaskan sel telur ke dalam saluran rahim selama ovulasi.
Proses ini sebagian besar dikontrol oleh dua hormon yang dikenal sebagai folikel
stimulating hormone, atau FSH, dan hormon luteinizing, atau LH. Selama siklus
menstruasi, ovulasi biasanya terjadi sekitar hari ke 14 dari jangka waktu 28 hari.
Pada saat ini, FSH dan LH akan meningkat, dan ini akan merangsang pelepasan
telur.

Produksi hormon

Ovarium juga bertanggung jawab untuk produksi beberapa hormon seks. Ini
termasuk progesteron, testosteron, dan estrogen. Progesteron dan estrogen adalah
hormon yang bekerja sama untuk mempertahankan pertumbuhan rahim untuk
mempersiapkan kehamilan yang potensial. Hormon-hormon dilepaskan dalam
jumlah besar setelah ovulasi dalam kasus telur bersatu dengan sperma. Testosteron,
pada wanita, yang ikut bertanggung jawab atas dorongan seks, atau keinginan
seksual.