Anda di halaman 1dari 7

BAB II

KONDISI HIDROLOGI DAN KLIMATOLOGI

2.1. HIDROLOGI
Pergerakan air di Bumi, secara umum dapat dinyatakan sebagai suatu rangkaian kejadian
yang biasanya disebut dengan siklus hidrologi. Siklus ini dapat dilukiskan secara skematik seperti
ditunjukan pada Gambar 2.1. siklus hidrologi merupakan suatu sistem yang tertutup, dalam arti
bahwa pergerakan air pada sistem tersebut selalu tetap berada di dalam sistemnya. Siklus
hidrologi terdiri dari enam sub sistem yaitu :
1. Air di atmosfer
2. Aliran permukaan
3. Aliran bawah permukaan
4. Aliran air tanah
5. Aliran sungai/saluran terbuka
6. Air di laut dan air genangan

Gambar 2.1. Siklus Hidrologi (Soemarto, 1987)

Air di lautan dan di genangan (danau, rawa, waduk) oleh karena adanya radiasi matahari
maka air tersebut akan menguap ke dalam atmosfer. Uap air akan berubah menjadi hujan karena
proses pendinginan. Sebagian air hujan yang jatuh di permukaan bumi akan menjadi aliran
permukaan. Aliran permukaan sebagian akan meresap ke dalam tanah menjadi aliran bawah
permukaan melalui proses infiltrasi dan perkolasi, selebihnya akan berkumpul di dalam jaringan
alur sungai alam atau buatan menjadi aliran sungai/saluran terbuka dan mengalir kembali ke
dalam lautan.

LAPORAN HIDROLOGI BAB II | 1


Perencanaan Jaringan Irigasi Paket IV (DI. Tangin Angin)
Sebagai air hujan yang tertahan oleh tumbuh-tumbuhan dan sebagian lagi yang jatuh
langsung ke dalam laut dan danau akan menguap kembali ke dalam atmosfer. Sebagian dari air
bawah permukaan kembali ke atmosfer melalui proses penguapan (evoporasi) dan transpirasi
oleh tanaman dan sebagian lagi menjadi aliran air tanah melaui proses perkolasi dan mengalir ke
lautan.

2.1.1. Karakteristik DAS


Sebagai akibat dari siklus hidrologi yang terjadi dan dengan karakter alam serta bentuk
topografi telah mendukung terbentuknya beberapa aliran sungai besar maupun kecil di wilayah
Lombok Barat. Aliran tersebut dimulai dari wilayah utara di Kecamatan Sekotong Pegunungan
Belatung dan Pegunungan Kelise mengalir ke arah Selatan menuju wilayah selatan di Kekalek,
Desa Buwun Mas Kecamatan Sekotong Tengah. Aliran-aliran sungai tersebut membentuk daerah
pengaliran sungai dengan titik kontrol Bendung rencana di point (391871;9021887) yang disebut
DAS Blongas
DAS Blongas memiliki pola aliran sungai berbentuk kombinasi dendritik dan pararel dimana
bentuk percabangan anak sungai yang tidak teratur dengan arah dan sudut yang beragam. Pada
bagian hulu DAS anak sungai yang mengalir sejajar dan bermuara membentuk sudut lancip
dengan sungai utama. Berdasarkan keadaan fluktuasi debitnya, Sungai Blongas merupakan jenis
sungai perennial dimana kondisi lapisan aquifernya dapat memberikan aliran dasar baik pada
musim penghujan maupun musim kemarau. Tingkat kemiringan lereng Das Blongas rata-rata
sekitar 16% ini menggambarkan kondisi topografinya secara umum bergelombang dan agak
miring.

2.1.2. Curah Hujan


Besarnya curah hujan tahunan untuk DAS Blongas yang tercatat pada stasiun penakar
hujan Kabul antara tahun 2001 2015 adalah 1051 mm. Distribusi hujan pada daerah studi tiap
bulannya sebagaimana ditampilkan pada Tabel 2.1 dan Gambar 2.2. Berdasarkan data tersebut, di
DAS Blongas bulan basah terjadi antara bulan Oktober-April sedangkan bulan kering terjadi antara
bulan Mei-September. Sama halnya dengan Jangkok, bulan basah di Sub DAS Satan terjadi
antara bulan Oktober-April dan bulan kering terjadi antara bulan Mei-September.
Curah hujan yang tercatat pada stasiun terpilih yang diperkirakan dapat mewakili kondisi
proyek masih merupakan data Point Rainfall. Artinya data tersebut masih berupa data curah hujan
setempat. Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan bangunan Sabo dan
pengendalian banjir adalah curah hujan rerata daerah (Area Rainfall) bukan curah hujan pada
suatu titik tertentu (Point Rainfall). Besarnya curah hujan daerah dinyatakan dalam mm. Untuk
mendapatkan area rainfall perlu dianalisis terlebih dahulu point rainfall masing-masing stasiun
yang digunakan.

LAPORAN HIDROLOGI BAB II | 2


Perencanaan Jaringan Irigasi Paket IV (DI. Tangin Angin)
Tabel 2.1. Curah Hujan Rerata Bulanan Stasiun Hujan Kabul

Bulan Total
N Tahu
o n Ju
Jan Feb Mar Apr May Jun Aug Sep Oct Nov Dec
l
1 2001 306 90 133 179 37 88 0 0 0 0 108 54 994
2 2002 212 412 232 185 0 0 0 0 0 0 140 202 1382
3 2003 148 113 81 63 12 4 9 0 137 0 90 235 891
4 2004 83 105 96 5 48 0 0 0 0 0 186 200 722
5 2005 62 109 156 118 48 38 48 30 11 69 76 221 984
6 2006 339 231 338 221 20 57 0 0 0 58 22 131 1418
7 2007 85 75 62 209 54 8 32 6 0 8 49 118 703
8 2008 113 150 316 104 15 0 0 2 11 4 55 75 844
9 2009 405 287 116 21 10 0 0 0 13 36 51 110 1049
10 2010 151 100 55 128 67 6 18 11 251 0 103 155 1044
11 2011 116 99 129 122 118 1 20 0 0 25 58 209 896
12 2012 115 112 156 27 171 1 2 1 5 29 246 133 997
13 2013 219 211 138 250 117 80 2 0 1 79 60 272 1429
14 2014 198 174 132 102 55 0 24 3 1 0 206 405 1298
15 2015 150 119 249 164 80 0 1 3 7 0 122 213 1107
Max 405 412 338 250 171 88 48 30 251 79 246 405 1429
Min 62 75 55 5 0 0 0 0 0 0 22 54 703
Rerata 180 159 159 126 57 19 10 4 29 21 105 182 1051

Gambar 2.2. Grafik Curah Hujan Rerata Bulanan Stasiun Hujan Kabul

LAPORAN HIDROLOGI BAB II | 3


Perencanaan Jaringan Irigasi Paket IV (DI. Tangin Angin)
2.1.3. Tata Guna Lahan
Tata guna lahan di daerah pengaliran sungai Jangkok Hulu sebagian besar berupa Hutan
dan Semak Belukar sebesar 48.28% dan 33.07%. Sedangkan sebagian kecilnya berupa
Permukiman sebesar 0.21%, Perkebunan sebesar 3.22%, Sawah Irigasi sebesar 0.99%, Sawah
tadah hujan sebesar 0.17% dan sisanya 14.05% merupakan Tanah Ladang. Jika dilihat dari kriteria
tutupan vegetasi lahan yang minimal berada diatas 75%, maka DAS Blongas masuk dalam
klasifikasi lahan potensial kritis.
Tabel 2.2 akan menampilkan luasan penggunaan lahan di Das Blongas. Dibawah ini
ditampilakan foto kondisi eksisting di daerah sekitar rencana Bendung di Desa Buwun Mas. Peta
tata guna lahan DAS Blongas akan ditampilkan pada Gambar 2.5.

Tabel 2.2. Tata Guna Lahan DAS Blongas


No Penggunaan Lahan Luas (km2) Prosentase
1 Permukiman 0.013 0.21%
2 Perkebunan 0.195 3.22%
3 Sawah Irigasi 0.060 0.99%
4 Hutan 2.920 48.28%
5 Belukar 2.000 33.07%
6 Tanah Ladang 0.850 14.05%
7 Sawah Tadah Hujan 0.010 0.17%
Total 6.048 100.00%
Sumber : Dinas Kehutanan Prov.NTB 2015

Gambar 2.3. Kondisi Sungai Blongas Gambar 2.4. Kondisi penggunaan lahan di Das
Blongas

2.2. KLIMATOLOGI

LAPORAN HIDROLOGI BAB II | 4


Perencanaan Jaringan Irigasi Paket IV (DI. Tangin Angin)
Faktor iklim yang membentuk ciri-ciri hidrologi suatu daerah, antara lain adalah jumlah dan
distribusi presipitasi (hujan), pengaruh angin, temperatur dan kelembaban udara terhadap
evaporasi. Evaporasi merupakan faktor penting di dalam studi tentang pengembangan sumber-
sumber daya air. Evaporasi sangat mempengaruhi debit sungai, besarnya kapasitas waduk,
besarnya kapasitas pompa untuk irigasi, penggunaan konsumtif (consumptive use) untuk tanaman
dan lain-lain. Air akan menguap dari dalam tanah, baik tanah gundul atau yang tertutup oleh
tanaman dan pepohonan, permukaan tidak tembus air seperti atap dan jalan raya, air bebas dan
air mengalir. Laju evaporasi atau penguapan akan berubah-ubah menurut warna dan sifat
pemantulan permukaan (albedo) dan berbeda pada permukaan yang langsung tersinari matahari
(air bebas) dan yang terlindung.
Data klimatologi untuk keperluan perencanaan Bendung ini diambil dari stasiun meteorologi
yang berada pada lokasi yang terdekat dengan lokasi pekerjaan yaitu stasiun klimatologi Pengga
untuk mewakili kondisi klimatologi di Das Blonga. Informasi klimatologi ini meliputi :
Suhu udara
Kelembaban relatif
Kecepatan angin
Penyinaran Matahari

2.2.1. Kelembaban Relatif/Relative Humidity (Rh)


Jika kelembaban relatif udara naik, maka kemampuan udara untuk menyerap air akan
berkurang sehingga laju evaporasinya menurun. Besarnya kelembaban relatif (Rh) rata-rata
bulanan pada lokasi Bendung sesuai dengan data dari stasiun klimatologi yang ada seperti pada
Tabel 2.3. Dari hasil pencatatan Stasiun Pengga rata-rata kelembaban relatif adalah 86.21%

2.2.2. Suhu/Temperatur Udara (t)


Jika suhu udara dan tanah cukup tinggi, proses evaporasi berjalan lebih cepat
dibandingkan dengan jika suhu dan tanah rendah dengan adanya energi panas yang tersedia.
Kemampuan udara untuk menyerap uap air naik jika suhunya naik, maka suhu udara mempunyai
efek ganda terhadap besarnya evaporasi dengan mempengaruhi kemampuan udara menyerap
uap air dan mempengaruhi suhu tanah yang akan mempercepat penguapan. Sedangkan suhu
tanah dan air hanya mempunyai efek tunggal.
Besarnya temperatur/suhu (T) rata-rata bulanan pada lokasi Bendung sesuai dengan data dari
stasiun klimatologi yang ada seperti pada Tabel 2.3. Dari hasil pencatatan rata-rata suhu di Das
Blongas adalah 25.81C.

2.2.3. Kecepatan Angin (u)


LAPORAN HIDROLOGI BAB II | 5
Perencanaan Jaringan Irigasi Paket IV (DI. Tangin Angin)
Jika air menguap ke atmosfir maka lapisan batas antara permukaan tanah dan udara
menjadi jenuh oleh uap air sehingga proses penguapan berhenti. Agar proses tersebut dapat
berjalan terus, lapisan jenuh harus diganti dengan udara kering. Pergantian itu hanya mungkin
kalau ada angin, yang akan menggeser komponen uap jenuh.
Dari hasil pencatatan rata-rata kecepatan angin di Das Blongas adalah 8.38 km/jam.

2.2.4. Penyinaran Matahari (n/N)


Evaporasi merupakan konversi air ke dalam uap air. Proses ini berjalan terus hampir tanpa
berhenti di siang hari dan kerap kali juga di malam hari. Perubahan dari keadaan cair menjadi gas
ini memerlukan energi berupa panas laten untuk evaporasi. Proses tersebut akan sangat aktif jika
ada penyinaran matahari langsung. Awan merupakan penghalang/penyinaran matahari dan
menghambat proses evaporasi.
Besarnya penyinaran matahari (n/N) rata-rata bulanan pada lokasi Bangunan Bendung
rencana sesuai dengan data dari pencatatan stasiun klimatologi yang ada seperti pada Tabel 2.3.
Dari pencatatan stasiun klimatologi Pengga rata-rata penyinaran matahari di Das Blongas adalah
49.92%.

Tabel 2.3. Data Klimatologi Stasiun Pengga

Sumber : BISDA Prov NTB

LAPORAN HIDROLOGI BAB II | 6


Perencanaan Jaringan Irigasi Paket IV (DI. Tangin Angin)
Gambar 2.5. Tata guna lahan di Das Blongas

LAPORAN HIDROLOGI BAB II | 7


Perencanaan Jaringan Irigasi Paket IV (DI. Tangin Angin)