Anda di halaman 1dari 95

USULAN TEKNIS

Metoda deskriptif pada kegiatan perencanaan ini tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada
saat ini. Metoda ini merupakan metoda input-output bagi setiap komponen perancangan yang
berurutan dan saling ketergantungan mulai dari kegiatan persiapan, pengumpulan data, analisis
data, konsep dasar rencana induk dan preliminary design.
Kedalaman dan implementasi proses perencanaan ini sangat tergantung kepada kondisi dan
sasaran yang diinginkan. Beberapa bidang kajian yang mempunyai saling keterkaitan pada
penyusunan DED Masterplan Kota Rantepao ini sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan,
serta perkembangan kawasan terkini meliputi bidang arsitektur, sipil, mekanikal elektrikal, geodesi,
perencanaan wilayah & kota, sosial, ekonomi dan lingkungan.
Metoda merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan. Untuk studi ini
dipakai metoda Deskriptif yang tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada saat ini. Metoda
ini merupakan metoda input output bagi setiap komponen perancangan yang berurutan dan saling
ketergantungan mulai dari Kegiatan Persiapan, Pengumpulan data, Analisis Data, Konsep Dasar
Perencanaan dan Perencanaan Bangunan Gedung (Pra Rencana).
Kedalaman dan implementasi Proses Perencanaan ini sangat tergantung kepada kondisi dan
sasaran yang diinginkan. Beberapa bidang kajian yang mempunyai saling keterkaitan pada
penyusunan DED Masterplan Kota Rantepao ini sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan,
serta perkembangan konstruksi terkini meliputi bidang Arsitektur, Sipil,
Planologi,Geodesi,Mekanikal Elektrikal, Sosial, Ekonomi dan Lingkungan. Dalam melaksanakan
proses/pentahapan Perancangan ini, setiap output dari satu tahapan akan merupakan input yang
yang telah melalui kendali mutu yang dijamin kebenarannya untuk tahapan berikutnya. Kendali
mutu setiap tahapan akan melalui diskusi konsultan dengan pemberi tugas.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 1


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 2

Kaitan Rencana Tata Ruang dengan Rencana Program Pembangunan


Rencana pembangunan harus dilakukan dengan pendekatan wilayah. Oleh karena itu, rencana
tata ruang harus dijabarkan secara jelas sehingga mampu mengarahkan pembangunan,
menetapkan fungsi dan peran setiap kawasan (bagian suatu ruang) dalam wilayah atau ruang
secara keseluruhan. Selain itu rencana tata ruang harus dapat menjadi acuan lokasi bagi program-
program / proyek - proyek pembangunan. Oleh karenanya, rencana tata ruang diharapkan dapat
menjadi pedoman untuk mengarahkan jenis lokasi investasi pada suatu kawasan.

Pada skala nasional, rencana-rencana pembangunan yang memuat kebijakan nasional diturunkan
dalam suatu program pembangunan nasional lima tahunan yakni Program Pembangunan Nasional
(PROPENAS). Program lima tahunan ini kemudian dirinci lagi menjadi Program Pembangunan
Tahunan (PROPETA).

Tingkatan rencana seperti dijelaskan diatas, dimiliki pula oleh daerah, yakni dengan adanya
rencana pembangunan yang bersifat jangka panjang disebut Pola Dasar Pembangunan Daerah
(POLDAS). Poldas dirinci ke dalam program pembangunan daerah jangka menengah/lima tahun,
yakni Program Pembangunan Daerah (PROPEDA). Program jangka menengah ini selanjutnya
dijabarkan lagi ke dalam Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (REPETADA). Ketiga dokumen
perencanaan ini menjadi referensi pokok dalam pelaksanaan program-program pembangunan di
daerah.

Pada pembangunan di daerah (kota/kabupaten), Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota


(RTRW) merupakan dimensi ruang dari Poldas dan Propeda, serta menjadi acuan bagi
penyusunan Repetada. Poldas dan Propeda memuat arahan kebijakan pengembangan sektor-
sektor, sementara pengembangan sektor memerlukan ruang sebagai wadah kegiatannya. Dengan
demikian, rencana tata ruang akan terkait langsung dengan Poldas dan Propeda, dengan arahan
ruangnya secara langsung (untuk sektor tertentu) maupun tidak langsung. Kebijaksanaan tata
ruang dalam Poldas dan Propeda masih bersifat makro (berupa struktur) dan belum dapat
memberikan arahan pemanfaatan ruang secara definitif. Dengan rencana tata ruang, maka
investasi atau kegiatan pembangunan dapat diarahkan ke dalam ruang yang sesuai. Selain itu,
rencana tata ruang dapat menjadi acuan bagi keterkaitan atau kesinambungan antar sektor dan
antar ruang di wilayah perencanaannya, maupun acuan bagi penyusunan rencana yang lebih rinci

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 2


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 3

serta perijinan pemanfaatan ruang. Dengan kata lain, rencana tata ruang merupakan bagian dari
penataan ruang yang merupakan penjabaran dari tujuan pembangunan dalam aspek keruangan.

Pengertian Rencana Tata Bangunan Dalam Lingkup Masterplan Kawasan Revitalisasi


Untuk dapat mengendalikan pemanfaatan ruang, suatu rencana tata ruang seyogyanga
ditindaklanjuti pula dengan pengaturan di bidang tata bangunan secara memadai, diantaranya
melalui perangkat peraturan bangunan setempat. Pada bagian-bagian lingkungan kota yang
memiliki pertumbuhan fisik yang cepat, yang telah berkembang secara kurang tertib, kurang
produktif, atau kurang serasi dengan lingkungannya, memerlukan pengaturan tata bangunan yang
lebih khusus, yang juga sekaligus dapat lebih mengarahkan perwujudan arsitektur
lingkungan/perkotaan (urban architecture), melengkapi peraturan bangunan yang sudah ada.
Rencana Tata Bangunan diperlukan tidak hanya untuk mengendalikan pertumbuhan fisik tata
bangunan sejak dini dalam rangka memandu pembangunan, tetapi terutama untuk melengkapi
peraturan bangunan setempat yang sudah ada dan yang biasanya bersifat umum, yaitu dengan
memberikan arahan secara lebih khusus, spesifik, untuk menata bangunan yang kurang tertib,
kurang produktif, dan agar dapat lebih serasi dengan lingkungannya serta lebih manusiawi.
a. Perbaikan/penataan lingkungan, dengan titik berat penanganan pada kegiatan perbaikan serta
pembangunan sarana dan prasarana lingkungan, termasuk sebagian aspek tata bangunan.

b. Pelestarian/konservasi kawasan, dengan titik berat penanganan yang dapat tetap


menghidupkan kemajemukan dan keseimbangan fungsi lingkungan atau perlindungan bangunan
dan lingkungannya, seperti kegiatan revitalisasi, regenerasi, dll.

c. Pengembangan kembali kawasan, dengan titik berat penanganan memanfaatkan ruang


lingkungan/kawasan seoptimal mungkin berdasarkan rencana tata ruang yang lebih berkualitas,
dan optimalisasi intensitas bangunan.

Pembangunan Kawasan Baru, dengan titik berat penanganan kegiatan membangun baru suatu
lingkungan/kawasan berdasarkan rencana tata ruang dan prinsip-prinsip penataan bangunan yang
serasi terhadap lingkungannya.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 3


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 4

Gambar 6-1 Kaitan Rencana Tata Ruang dengan Kebijakan & Strategi Pembangunan
Kota

Pelestarian Bangunan dan Lingkungan

Pelestarian adalah uapaya perawatan, pemugaran dan pemeliharaan bangunan gedung dan
lingkungan untuk memperpanjang usia, dan untuk mengembalikan keandalan bangunan gedung
tersebut sesuai dengan aslinya atau sesuai dengan keadaan menurut periode yang dikehendaki,
serta memenuhi persyaratan administratif dan teknis bangunan gedung dan lingkungan yang
mencakup persyaratan kelayakan fungsi dan keandalan bangunan gedung serta sebagai bagian
dari upaya perlindungan dan pemanfaatannya. Manfaat pelestarian bangunan dan lingkungan
adalah;

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 4


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 5

1. Untuk memfungsikan kembali bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan
bersejarah.

2. Untuk memberdayakan bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi bagi kepentingan
yang sesuai dengan kaidah pelestarian.

3. Untuk mencegah dan menanggulangi segala gejala dan akibat yang dapat menimbulkan
kerugian atau kemusnahan nilai manfaat, keutuhan dan kelestarian bangunan gedung dan
lingkungan yang disebabkan oleh proses alam atau manusia.

4. Mengembangkan potensi bangunan gedung dan lingkungan yang dilindungi dan bersejarah
sebagai modal pengembangan pariwisata.

Pemahaman Arsitektur Neo-Vernakular

Vernakular artinya adalah bahasa setempat, dalam arsitektur istilah ini untuk menyebut bentuk-
bentuk yang menerapkan unsur-unsur budaya, lingkungan termasuk iklim setempat diungkapkan
dalam bentuk fisik arsitektural (tata letak denah, struktur, detail-detail bagian, ornamen dan
lainlain). Dengan batasan tersebut maka arsitektur tradisional adalah baik dalam bentuk
permukiman maupun unit-unit bangunan di dalamnya dapat dikategorikan dalam murni, terbentuk
oleh tradisi turun-temurun, tanpa pengaruh dari luar. Dalam perkembangan arsitektur modern, ada
suatu bentuk-bentuk yang mengacu pada bahasa setempat dengan mengambil elemen-elemen
arsitektur yang ada ke dalam bentuk modern yang disebut neo-vernakular. Dalam arsitektur neo-
vernakular, kadang tak hanya elemenelemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern, tetapi
juga elemen non fisik seperti budaya, pola pikir, kepercayaan/pandangan terhadap ruang, tata
letak mengacu pada makro kosmos, religi atau kepercayaan yang mengikat dan lain-lain menjadi
konsep dan kriteria perancangannya.
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai arsitektur neo-vernakular maka perlu diketahui arsitektur
itu sendiri. Arsitektur neo vernakular merupakan arsitektur yang menggunakan unsur-unsur
vernakular untuk kemudian disesuaikan dalam bentuk dan fungsi bangunan yang lebih memasa-
kini.
Arsitektur vernakular, lebih banyak dirancang dan dibangun di Asia karena kawasan belahan bumi
Timur ini, penduduknya dalam kelompok bangsa maupun suku bangsa, masing-masing
mempunyai budaya, alam dan iklim regional khas, terungkap dalam bentuk seni dan arsitektur

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 5


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 6

khas pula. Oleh karena itu aliran ini sering pula disebut sebagai aliran regionalisme. Salah satu
tujuan dari arsitektur vernakular adalah melestarikan unsur-unsur lokal yang secara empiris
dibentuk oleh tradisi turun menurun, hingga bentuk dan sistem terutama yang berkaitan dengan
iklim seperti misalnya penghawaan dan penyinaran alami penanggulangan terhadap air hujan dan
lain-lain, sesuai dengan alam setempat.
Rancangan-rancangan vernakular dapat juga diterapkan pada arsitektur yang dibuat dengan
mendasarkan kajian dan konsep-konsep bangunan tropis, tradisional termasuk penggunaan bahan
lokal, sehingga menciptakan bentuk-bentuk bermakna dan simbol-simbol budaya lokal. Bahasa
setempat selain berupa nilai-nilai tradisional baik dalam tata-letak, konstruksi, dekorasi juga unsur
dalam arsitektur tropis mengacu pada iklim. Pada intinya, arsitektur neo-vernakular adalah
arsitektur yang memodernkan arsitektur tradisional. Namun, bagaimana cara memodernkan
arsitektur tradisional Indonesia? Pekerjaan ini memang bisa sulit dan bisa mudah. Pekerjaan ini
menjadi kurang derajat kesulitannya bila sebelum melakukannya, para perancang menyadari
kembali hal-hal berikut ini:
1. Apapun proses dan kegiatan yang dilakukan oleh perancang, pada akhirnya hanyalah gedung-
gedung itu yang harus mereka hadirkan. Bukanlah proses dan kegiatan yang membuat orang
berkata bahwa sesuatu obyek itu adalah karya arsitektur, tetapi obyek itu sendirilah yang membuat
orang menamankannya sebagai karya arsitektur.

2. Dalam kenyataan, sesuatu karya arsitektur akan dapat dirasakan dan dilihat sebagai karya
yang bercorak Indonesia bila karya ini mampu untuk:

Membangkitkan parasaan dan suasana

Menampilkan unsur dan komponen arsitektur yang nyata-nyata nampak corak kedaerahannya

3. Dalam menggarap kebudayaan, perancang ini tidak lagi mengartikan tradisi sebagai
mempertahankan arsitektur terhadap kemungkinan modifikasi dan perubahan. Justru sebaliknya,
tradisi meminta untuk memodifikasi dan menambah (bila perlu) arsitektur itu sendiri.

4. Kemodernan tidak harus diartikan sebagai mangcopy proses bekerja pada arsitektur modern,
tetapi lebih ke arah pengertian pola berpikir. Kemodernan pola berpikir tidak harus diikuti dengan
mengikuti proses bekerjanya, bahan dasarnya, alatnya dan apalagi tenaganya.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 6


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 7

5. Tumbuhnya keyakinan dalam diri perancang bahwa arsitektur tradisional Indonesia haruslah
menjadi titik berangkat dan sekaligus sumber kearsitekturan. Baik unsur dan komponen bentuk
arsitektur daerah, maupun kandungan lambang dan maknanya, kesemua ini ternyara lebih kaya

6. dari sumber arsitektur barat itu sendiri. Betapa tidak, arsitektur barat hanya memiliki arsitektur
Romawi dan Yunani sebagai sumber utama, sedangkan kita (warga Indonesia) memiliki tak kurang
dari dua puluh tujuh sumber utama arsitektur (berdasarkan jumlah propinsi yang ada dahulu,
bukan dari jumlah arsitektur daerah itu sendiri).

Sering terjadi kesalah pahaman antara arsitektur tradisional/ dan arsitektur regionalisme. Meskipun
pemahaman antara kedua aliran arsitektur ini sangat tipis namun tetap dapat dibedakan. Menurut
Ir. Nurinayat Vinky Rahman, MT dalam artikel pendekatan tradisi berarsitektur di Indonesia
menegaskan bahwa yang dimaksud dengan arsitektur tradisional adalah pandangan yang
menganggap bahwa karya arsitektur itu haruslah bercermin pada nilai-nilai luhur tradisi yang sudah
terbukti dan teruji kesesuaiannya. Sedangkan yang dimakdus dengan arsitektur regionalisme
adalah membumikan desain sesuai dengan daerah dimana desain tersebut dilakukan. Sebagai
ilustrasi adalah desain tiap anjungan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Anjungan propinsi
Sumatera Utara misalnya, dibangunan dengan berpedoman pada konsep-konsep arsitektur
tradisional salah satu daerah di Sumatera Utara, tetapi karena keberadaannya didaerah khusus
Ibukota Jakarta Raya, dia bukanlah arsitektur tradisional regional. Anjungan yang tradisional dan
sekaligus regional adalah anjungan DKI dengan tipe rumah Betawinya. Arsitektur neo-
berkembangan pada jaman arsitektur post modern. Arsitektur post modern lebih dapat diterima
oleh arsitek-arsitek Indonesia karena kode ganda (double coding) aliran post modern, yakni
setengah modern dan setengah konvensional yang didapat melalui bahasa tradisional ataupun
bahasa regional dalam bangunan.

Pengertian Terhadap Revitalisasi Kawasan


Revitalisasi adalah upaya untuk menghidupkan kembali kawasan mati, yang pada masa silam pernah
hidup, atau mengendalikan, dan mengembangkan kawasan untuk menemukan kembali potensi yang
dimiliki atau pernah dimiliki atau seharusnya dimiliki oleh sebuah kota baik dari segi sosio-kultural,
sosio-ekonomi, segi fisik alam lingkungan, sehingga diharapkan dapat memberikan peningkatan
kualitas lingkungan kota yang pada akhirnya berdampak pada kualitas hidup dari penghuninya.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 7


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 8

Tujuan dari revitalisasi ini adalah penataan dan revitalisasi kawasan diarahkan untuk memberdayakan
daerah dalam usaha menghidupkan kembali aktivitas perkotaan dan vitalitas kawasan untuk
mewujudkan kawasan yang layak huni (livable), mempunyai daya saing pertumbuhan dan stabilitas
ekonomi lokal, berkeadilan sosial, berwawasan budaya serta terintegrasi dalam kesatuan sistem kota.
Sedangkan sasaran yang ingin diraih dalam revitalisasi ini yaitu :
1. Mencegah terjadinya penurunan produksi ekonomi melalui penciptaan usaha lapangan kerja
dan pendapatan ekonomi daerah

2. Meningkatkan stabilitas ekonomi kawasan dengan upaya mengembangkan daerah usaha dan
pemasaran serta keterikatan dengan kegiatan lain

3. Meningkatkan daya saing ekonomi kawasan dengan mengatasi berbagai permasalahan


lingkungan dan prasarana sarana yang ada

4. Meningkatkan pelayanan prasarana sarana di kawasan kumuh

5. Mengkonservasi aset warisan budaya kawasan lama

Mendorong partisipasi komunitas, investor dan pemerintah lokal dalam revitalisasi kawasan
Revitalisasi yang dilakukan harus memenuhi beberapa kriteria sbb :

1. Revitalisasi diarahkan pada penanganan kawasan-kawasan khusus yang memiliki nilai secara
kultural maupun sosial-ekonomi, seperti permukiman tradisional dan kawasan bersejarah.

2. Revitalisasi kawasan harus disertai upaya dan aturan konservasi yang jelas dan tegas, agar
kondisi permukiman yang padat dan kumuh tidak semakin tumbuh dan berkembang.

3. Refungsionalisasi pada kawasan khusus dan perbaikan sarana prasarana dasar (drainase,
sanitasi, air bersih).

4. Dilakukan secara bertahap dan bertumpu pada masyarakat, serta didukung oleh berbagai
bantuan pembiayaan perbaikan rumah

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 8


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 9

Wujud Tampilan Arsitektur Neo Vernakular

Pekerjaan memodernkan arsitektur tradisional Indonesia sebenarnya dapat lebih realistik karena
yang dapat dilakukan adalah memasa-kinikan atau memodernkan ungkapan rupa, rasa dan
suasana arsitektur-arsitektur tradisional. Berarsitektur dapat dilakukan dengan penghadiran
kembali (lewat modifikasi) berbagai unsur dan komponen arsitektur tradisional yang telah ada di
daerah-daerah. Guna menghindari penerapan yang tidak pada tempatnya, bukanlah mustahil bila
titik berangkat dalam mewujudkan tampilan arsitektur neo-vernakular justru adalah segenap
ungkapan arsitektur tradisional tadi. Jadi tidak lagi diharamkan untuk memulai kegiatan
berarsitektur dengan mengambil ungkapan yang tersedia, memodifikasi serta mengkombinasikan
ungkapan menjadi satu sarana berarsitektur. Karya arsitektur diketahui pencerminan
kebudayaannya melalui sebuah pola, struktur atau susunan, atau wujud tampilannya. Mengingat
bahwa pola dan struktur lebih cenderung untuk tidak dengan segera tampak bagi penglihatan
maka masyarakat awam lebih mengandalakan wujud tampilan dalam mengenali kebudayaan yang
tercerminkan oleh suatu karya. Bagian-bagian yang merupakan wujud tampilan yang biasa disebut
dengan gaya bangunan (style) adalah:
a. Tampilan bangunan (atap)
b. Ornamen dan dekorasi
c. Warna
Sementara itu, melengkapi rincian dari wujud tampilan dan sekaligus dimasukkan menjadi isi dari
gaya bangunan tadi adalah kesan dan suasana yang tertangkap pada wujud-wujud itu sendiri.
Gaya bangunan ini pulalah yang dengan erat dan ketatnya diidentikkan dengan kebudayaan..

Penerapan Unsur-Unsur Tradisional Pada Bangunan

Penerapan unsur-unsur tradisional pada rancang bangun adalah dengan mengadaptasi bentuk-
bentuk arsitektur tradisional Toraja Utarayang kemudian diadaptasi dan dimodifikasi untuk
memodernkan ungkapan rupa pada bangunan yang hendak direncanakan. Selain itu juga
menerapkan unsur filosofis pada pemaknaan wayang (gunungan/kayon) untuk kemudian
mengambil esensi yang ada kedalam bentuk rancang bangun. Ada pula ornamen-ornamen yang
digunakan pada kolom, balok atau dinding untuk memperkaya keindahan budaya Toraja Utara.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 9


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 10

Bentuk arsitektur tradisional Toraja Utara memiliki beragam bentuk yang mempengaruhi struktur
ataupun bentuk dasar bangunan. Arsitektur ini biasanya dimiliki oleh orang-orang mampu karena
membutuhkan bahan bangunan yang lebih banyak dan lebih mahal. Selain itu jika rumah tersebut
mengalami kerusakan dan perlu diperbaiki maka tidak perbaikan tidak boleh berubah dari bentuk
semula. Paling tidak arsitektur joglo berbentuk bujur sangkar dan bertiang empat. Namun sekarang
sudah mengalami banyak perubahan. Susunan ruangannya biasanya dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu ruangan pertemuan yang disebut pendhapa, ruang tengah atau ruang yang dipakai untuk
mengadakan tontonan wayang kulit disebut pringgitan dan ruang belakang disebut dalem atau
omah jero sebagai ruang keluarga. Dalam ruangan ini terdapat 3 buah senthing (kamar) yaitu
senthong kiwa, senthong tengah (petanen) dan senthong kanan.

Limasan
Arsitektur limasan memiliki denah empat persegi panjang dan dua buah atap (kejen atau cocor)
serta dua atap lainnya (brunjung) yang bentuknya jajaran genjang sama kaku. Kejen atau cocor
berbentuk segi tiga sama kaki seperti tutup keyong. Karena cenderung berubah, maka arsitektur
limasan mengalami penambahan sisi-sisinya yang disebut empyak emper atau atap emper.
Perbedaan arsitektur limasan dengan arsitektur joglo ialah pada atap brunjung dan konstruksi
bagian tengah. Ternyata atap brunjung arsitektur limasan lebih panjang daripada atap brunjung
arsitektur joglo, tapi lebih rendah bila dibandingkan dengan arsitektur joglo Kampung

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 10


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 11

Arsitektur kampung pada umumnya mempunyai denah empat persegi panjang. Namun bagi yang
menginginkan kesederhanaan hanya memakai empat buah tiang dan dua buah atap yang
berbentuk empat persegi panjang. Dibagian samping atas, ditutup dengan tutup keyong (siput air).

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 11


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 12

Tajug
Merupakan arsitektur yang mempunyai denah bujur sangkar dan bentuk inilah yang masih
dipertahankan bentuk denah aslinya sampai sekarang. Jika terdapat variasi, maka variasi tadi tidak
akan mengubah bentuk denah bujur sangkar tersebut. Merupakan sebuah bangunan yang cukup
kokoh dan termasuk yang paling tua. Mudah untuk dibuat dan biasanya riangan dan jika rusak
tidak memerlukan resiko besar. Jika ada penambahan, maka cukup mudah pula
pengembangannya apabila diberi tambahan

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 12


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 13

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 13


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 14

Pendekatan Dan Metodologi Pekerjaan

Pendekatan Pekerjaan
Pendekatan eksploratif bercirikan pencarian yang berlangsung secara menerus.
Pendekatan ini akan digunakan baik dalam proses pengumpulan data dan informasi
maupun dalam proses analisa dan evaluasi guna perumusan konsep penanganan.
A. Eksplorasi dalam Proses Pengumpulan Data dan Informasi

Dalam proses pengumpulan data dan informasi, pendekatan eksploratif digunakan


mulai dari kegiatan inventarisasi dan pengumpulan data awal, hingga eksplorasi
data dan informasi di lokasi studi yang dilakukan. Sifat pendekatan eksploratif
yang menerus akan memungkinkan terjadinya pembaharuan data dan informasi
berdasarkan hasil temuan terakhir. Pendekatan eksploratif juga memungkinkan
proses pengumpulan data yang memanfaatkan sumber informasi secara luas,
tidak terbatas pada ahli yang sudah berpengalaman dalam bidangnya ataupun
stakeholder yang terkait dan terkena imbas secara langsung dari kegiatan terkait,
namun juga dari berbagai literatur baik dalam bentuk buku maupun tulisan singkat
yang memuat teori atau model perlindungan cagar budaya skala besar,
penanganan kawasan cagar budaya, dan studi kasus penerapan kebijakan
pengembangan Kawasan Cagar budaya yang telah dilakukan.
Dalam pendekatan eksploratif ini sangat memungkinkan diperoleh informasi-
informasi tambahan yang tidak diduga sebelumnya atau yang tidak pernah
dikemukakan dalam teori-teori yang ada. Informasi yang didapat dengan
pendekatan ini bisa bersifat situasional dan berdasarkan pengalaman sumber.
B. Eksplorasi dalam Proses Analisa dan Evaluasi

Eksplorasi dalam proses analisa dan evaluasi dilakukan guna mengelaborasi


pokok permasalahan serta konsep-konsep penanganan dan pengembangan
pelestarian cagar budaya yang ada berikut dukungan regulasi dan kebijakan di
Indonesia. Ekpslorasi perlu mengaitkan konsep-konsep teoritis dengan kondisi
dan karakteristik permasalahan di Indonesia melalui pendalaman pemahaman
terhadap lokasi sasaran yang menjadi sasaran studi.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 14


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 15

Proses eksplorasi ini akan mengkerucut pada suatu bentuk pendekatan yang
konfirmatif dalam menilai kesesuaian suatu pola penanganan pelestarian cagar
budaya serta kebutuhan rumusan kebijakan yang dapat mengintervensi
permasalahan agar pola penanganan terpilih dapat diimplementasikan dan
mencapai hasil yang optimal.
Secara teoritis, sebenarnya terdapat 3 pendekatan perencanaan sejalan dengan
perkembangan pemahaman akan perencanaan, yaitu :
1. Pendekatan rasional menyeluruh atau rational comprehensive approach,
yang secara konseptual dan analitis mencakup pertimbangan perencanaan yang
luas, dimana dalam pertimbangan luas tersebut tercakup berbagai unsur atau
subsistem yang membentuk sistem secara menyeluruh. Meyerson Banfield
mengidentifikasi terdapat 4 ciri utama pendekatan perencanaan rasional
menyeluruh, yaitu:

Dilandasi oleh suatu kebijakan umum yang merumuskan tujuan yang ingin
dicapai sebagai suatu kesatuan yang utuh.

Didasari oleh seperangkat spesifikasi tujuan yang lengkap, menyeluruh, dan


terpadu.

Peramalan yang tepat serta ditunjang oleh sistem informasi (masukan data)
yang lengkap, andal, dan rinci.

Peramalan yang diarahkan pada tujuan jangka panjang.

Namun demikian, pendekatan ini ternyata banyak dikritik karena dianggap


memiliki kelemahan-kelemahan seperti produk yang dihasilkan dirasakan kurang
memberikan informasi dan arahan yang relevan bagi stakeholders, cakupan
seluruh unsur dirasakan sukar direalisasikan, dukungan sistem informasi yang
lengkap dan andal biasanya membutuhkan dana dan waktu yang cukup besar,
serta umumnya sistem koordinasi kelembagaan belum mampan dalam rangka
pelaksanaan pembangunan dengan pendekatan yang rasional menyeluruh.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 15


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 16

2. Pendekatan Perencanaan Terpilah atau Disjointed Incremental Planning


Approach, muncul sebagai tanggapan dari ketidakefektifan perencanaan dengan
pendekatan rasional menyeluruh. Dikemukakan oleh Charles E. Lindblom, dkk,
pendekatan ini memiliki 3 ciri utama, yaitu:

Rencana terpilah tidak perlu ditunjang oleh penelaahan serta evaluasi alternatif
rencana secara menyeluruh.

Hanya mempertimbangkan bagian-bagian dari kebijakan umum yang berkaitan


langsung dengan unsur atau subsistem yang diprirotiaskan.

Dengan terbatasnya lingkup perencanaan, yaitu pada unsur atau subsistem


tertentu saja, maka ada anggapan bahwa pelaksanaan menjadi lebih mudah
dan realistik.

Namun ternyata, pendekatan ini juga masih memiliki kelemahan-kelemahan,


seperti karena kurang berwawasan menyeluruh sering terjadi dampak ikutan yang
tidak terduga sebelumnya, dianggap hanya merupakan usaha penyelesaian
jangka pendek yang kurang mengkaitkan dengan sasaran dan tujuan jangka
panjang, serta dianggap sebagai penyelesaian permasalahan secara tambal
sulam yang bersifat sementara sehingga harus dilakukan secara terus menerus
(tidak efisien).
3. Pendekatan Terpilah Berdasarkan Pertimbangan Menyeluruh atau Mixed
Scanning Planning Approach atau Third Approach (Amitai Etzioni), yang
merupakan kombinasi antara pendekatan rasional menyeluruh dengan
pendekatan terpilah, yaitu menyederhanakan pendekatan menyeluruh dalam
lingkup wawasan secara sekilas dan memperdalam tinjauan atas unsur yang
strategis terhadap permasalahan menyeluruh. Ciri utama pendekatan
perencanaan ini adalah:

Perencanaan mengacu pada garis kebijakan umum yang ditentukan pada tingkat
tinggi

Perencanaan dilatarbelakangi oleh suatu wawasan menyeluruh serta


memfokuskan pendalaman penelaahan pada unsur-unsur yang diutamakan.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 16


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 17

Ramalan mendalam menyangkut unsur yang diutamakan dilandasi oleh ramalan


singkat tentang lingkup menyeluruh dan didasarkan pada wawasan sistem.

Dinilai sebagai penghematan waktu dan dalam dalam lingkup penelaahan,


analisis, serta proses teknis penyusunan rencana karena terdapat
penyederhanaan dalam penelaahan dan analisis makro.

Untuk menunjang hasil ramalan dan analisis sekilas, maka proses pemantauan,
pengumpulan pendapat, komunikasi, dan konsultasi dengan masyarakat yang
berkepentingan dan pemerintah dilakukan secara menerus mulai dari perumusan
sasaran dan tujuan rencana pembangunan.

Dengan pendekatan Mixed Scanning Planning Approach, maka secara lebih


substantif, pendekatan dalam pekerjaan ini dapat dibagi atas:
Pendekatan eksternal, yang berarti bahwa dalam penataan ruang
dipertimbangkan faktor-faktor determinan yang dianggap mempengaruhi dalam
penentuan arah pengembangan, seperti kebijakan-kebijakan yang mengikat atau
harus diacu, kondisi dinamika global, dan lain-lain. Dari pendekatan ini nantinya
akan teridentifikasi gambaran tentang peluang yang tercipta dan tantangan yang
harus dijawab dalam penataan ruang suatu wilayah atau kawasan.

Pendekatan internal, yang berarti bahwa dalam penataan ruang dipertimbangkan


faktor-faktor lingkungan strategis yang berpengaruh, seperti kondisi fisik dan
lingkungan, kependudukan, perekonomian, kelembagaan, dll. Pendekatan ini
terkait dengan potensi yang dimiliki dan permasalahan yang akan dihadapi dalam
penataan ruang suatu wilayah.

Kedua pendekatan itu lebih lanjut akan dikembangkan dengan didukung pula oleh
pendekatan keberlanjutan (sustainability). Kata sustainability sangat penting dalam
sebuah kerangka pengembangan dan pembangunan. Kata tersebut merujuk pada
abilility of something to be sustained. Pendekatan Sustainability Development saat ini
umum digunakan dalam hal-hal yang terkait dengan kebijakan lingkungan atau etika
bisnis, terutama sejak dipublikasikannya istilah ini dalam dokumen Bruntland Report

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 17


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 18

oleh World Commission on Environtment and Development (WCED), tahun 1987.


Dalam dokumen tersebut, sustainability development diartikan sebagai:
"development that meets the needs of the present without compromising the ability of
future generations to meet their own needs. In a way that "promote[s] harmony among
human beings and between humanity and nature".
Dalam ekonomi, pengembangan seperti ini mempertahankan atau meningkatkan
modal saat ini untuk menghasilkan pendapatan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Modal yang dimaksud disini tidak hanya berupa modal fisik yang bersifat privat,
namun juga dapat berupa infrastruktur publik, sumberdaya alam (SDA), dan
sumberdaya manusia (SDM).
Di Indonesia, pembangunan berkelanjutan ini muncul dari pemikiran untuk
menanggapi tantangan global di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan, melalui
pengembangan ketiga komponen tersebut secara sinergi. Konsep ini memperhatikan
kualitas pertumbuhan, bukan hanya kuantitasnya saja. Dengan demikian, secara
singkat pembangunan berkelanjutan ini dapat diartikan sebagai upaya menumbuhkan
perekonomian dan pembangunan sosial tanpa mengganggu kelangsungan
lingkungan hidup yang sangat penting artinya bagi generasi saat ini dan masa
mendatang. Oleh karena itu, pembangunan keberlanjutan menempatkan 3 pilar
utama yang satu sama lainnya saling terkait dan mendukung, yaitu: 1) pertumbuhan
ekonomi, 2) pemerataan sosial, dan 3) pelestarian lingkungan hidup.
Dengan didasari oleh pendekatan eksternal, internal, dan sustainability, maka
diharapkan penataan ruang yang akan dilakukan merupakan:
1. Penataan ruang yang berdaya guna dan berhasil guna, artinya penataan ruang
yang mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi dan fungsi ruang.

2. Penataan ruang yang terpadu, artinya penataan ruang yang dianalisis dan
dirumuskan menjadi satu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang
yang dilaksanakan oleh Pemerintah maupun masyarakat.

3. Penataan ruang yang serasi, selaras, dan seimbang, artinya penataan ruang
yang dapat menjamin terwujudnya keserasian, keselarasan, dan keseimbangan
struktur dan pola pemanfaatan ruang bagi persebaran penduduk antarwilayah,

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 18


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 19

pertumbuhan dan perkembangan antarsektor, antardaerah, dan antara sektor


dengan daerah.

4. Penataan ruang yang berkelanjutan, artinya penataan ruang yang menjamin


kelestarian kemampuan daya dukung sumberdaya alam.

A. Analisa Pendekatan Konsep Perencanaan Dan Perancangan


Analisa pendekatan konsep perencanaan dan perancangan meliputi halhal yang
berkaitan dengan pengonsepan makro dan mikro dengan dasar pendekatan berupa
yang telah dieksplorasikan pada bab tinjauan pustaka. Pengonsepan makro terdiri
atas pengonsepan yang bersifat dari luar site kedalam site dengan memperhatikan
kondisi dan lingkungan disekitar. Sedangkan pengonsepan mikro lebih mengarah
pada pengonsepan yang menginteraksikan arsitektur neo-vernakular sebagai tema
pendekatan arsitektur yang diangkat. Oleh karena itu, relevansi antara graha seni dan
budaya dengan arsitektur neo-vernakular akan tampak pada pendekatan konsep dan
pendekatan desain tampilan bangunan, permassaan, pola tata letak, landscape, dan
struktur dan konstruksi.
A.1. Dasar-dasar Pendekatan Umum
A.1.1. Pendekatan Dalam Perencanaan Site
Site dapat menggunakan fasilitas seni budaya yang sudah ada atau
menggunakan site lain baik berupa tanah kosong maupun pembebasan lahan

Site menguntungkan dari segi akustik

Site dapat diakses melalui jalur transportasi umum

Site mampu mendukung pencitraan arsitektur neo-vernakular yang ingin


diciptakan dalam hal ini, site memiliki lahan kontur.

A.1.2. Fasilitas-fasilitas yang diwadahi (peruangan)


Fasilitas pagelaran baik yang bersifat indoor, outdoor maupun semi outdoor.

Galeri seni yang berfungsi sebagai ruang pamer hasil karya seni pajang

Fasilitas jual-beli, maupun pendidikan berupa sanggar seni, sanggar lukis serta
perpustakaan seni dan budaya.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 19


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 20

Fasilitas pengelola sebagai pengurus graha seni dan budaya.

Fasilitas pendukung seperti tempat penginapan bagi pemain ataupun crew

A.1.3. Pendekatan arsitektur neo-vernakular


Arsitektur neo-vernakular akan terlihat pada tampilan bangunan berupa atap
joglo/limasan yang dimodifikasi sebagai penerapan arsitektur masa kini dengan
arsitektur tradisional

Desain pola tata letak secara vertikal maupun horizontal menerapkan filosofi
dari gunungan

Ornamen berdasarkan ornamen-ornamen pada rumah tradisional Toraja Utara


yang disesuaikan dengan kebutuhan.

A.2. Makro
Pendekatan konsep makro meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pendekatan
konsep dari luar site kedalam site.
A.2.1. Pendekatan Konsep Pencapaian Menuju Site
Pencapaian menuju site dianggap penting karena bangunan berfungsi sebagai
bangunan komersil, sehingga pencapaian perlu diutamakan untuk menarik minat
masyarakat. Maka dari itu beberapa dasar pertimbangan pencapaian menuju site
antara lain:
Kemudahan pencapaian Kemudahan pencapaian diperlukan untuk meningkat
minat masyarakat untuk datang sesuai dengan fungsinya sebagai bangunan
komersil. Seperti apakah jalan menuju lokasi berupa jalan utama atau sekunder,
ataupun kemudahan pengguna menempuh perjalanan dengan transportasi
umum ataupun pribadi.

Lebar jalan Untuk menghindari kemacetan yang mungkin dapat ditimbulkan,


dibutuhkan jalan yang cukup lebar baik jalan utama ataupun jalan lokal
sekunder.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 20


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 21

Ketersediaan transportasi umum Untuk mempermudah mobilisasi, maka


dibutuhkan transportasi umum yang dapat melayani masyarakat yang bermukim
dilokasi yang jauh dari bangunan yang direncanakan.

Tingkat kepadatan lalu lintas

Beberapa hal dapat mempengaruhi kepadatan lalu lintas. Karena kemungkin


bangunan yang direncanakan dapat menimbulkan kemacetan maka lingkungan
disekitar site perlu diperhatikan, apakah terdapat hal-hal yang dapat
meningkatkan kepadatan lalu lintas.
Kemudahan sirkulasi dari dan menuju site Yang dimaksud dengan kemudahan
sirkulasi adalah jalan masuk ataupun jalan keluar yang memudahkan pengguna
kendaraan ataupun pejalan kaki untuk masuk dan keluar tanpa hambatan yang
berarti.

Secara teoritis, sebenarnya terdapat 3 pendekatan perencanaan sejalan dengan


perkembangan pemahaman akan perencanaan, yaitu:
4. Pendekatan Rasional Menyeluruh Atau Rational Comprehensive Approach,
yang secara konseptual dan analitis mencakup pertimbangan perencanaan yang
luas, dimana dalam pertimbangan luas tersebut tercakup berbagai unsur atau
subsistem yang membentuk sistem secara menyeluruh. Meyerson Banfield
mengidentifikasi terdapat 4 ciri utama pendekatan perencanaan rasional
menyeluruh, yaitu:
Dilandasi oleh suatu kebijakan umum yang merumuskan tujuan yang ingin
dicapai sebagai suatu kesatuan yang utuh.

Didasari oleh seperangkat spesifikasi tujuan yang lengkap, menyeluruh, dan


terpadu.

Peramalan yang tepat serta ditunjang oleh sistem informasi (masukan data)
yang lengkap, andal, dan rinci.

Peramalan yang diarahkan pada tujuan jangka panjang.

Namun demikian, pendekatan ini ternyata banyak dikritik karena dianggap memiliki
kelemahan-kelemahan seperti produk yang dihasilkan dirasakan kurang memberikan

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 21


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 22

informasi dan arahan yang relevan bagi stakeholders, cakupan seluruh unsur
dirasakan sukar direalisasikan, dukungan sistem informasi yang lengkap dan andal
biasanya membutuhkan dana dan waktu yang cukup besar, serta umumnya sistem
koordinasi kelembagaan belum mampan dalam rangka pelaksanaan pembangunan
dengan pendekatan yang rasional menyeluruh.
5. Pendekatan Perencanaan Terpilah atau Disjointed Incremental Planning
Approach, muncul sebagai tanggapan dari ketidakefektifan perencanaan dengan
pendekatan rasional menyeluruh. Dikemukakan oleh Charles E. Lindblom, dkk,
pendekatan ini memiliki 3 ciri utama, yaitu:

Rencana terpilah tidak perlu ditunjang oleh penelaahan serta evaluasi alternatif
rencana secara menyeluruh.

Hanya mempertimbangkan bagian-bagian dari kebijakan umum yang berkaitan


langsung dengan unsur atau subsistem yang diprirotiaskan.

Dengan terbatasnya lingkup perencanaan, yaitu pada unsur atau subsistem


tertentu saja, maka ada anggapan bahwa pelaksanaan menjadi lebih mudah
dan realistik.

Namun ternyata, pendekatan ini juga masih memiliki kelemahan-kelemahan,


seperti karena kurang berwawasan menyeluruh sering terjadi dampak ikutan yang
tidak terduga sebelumnya, dianggap hanya merupakan usaha penyelesaian
jangka pendek yang kurang mengkaitkan dengan sasaran dan tujuan jangka
panjang, serta dianggap sebagai penyelesaian permasalahan secara tambal
sulam yang bersifat sementara sehingga harus dilakukan secara terus menerus
(tidak efisien).
6. Pendekatan Terpilah Berdasarkan Pertimbangan Menyeluruh atau Mixed
Scanning Planning Approach atau Third Approach (Amitai Etzioni), yang
merupakan kombinasi antara pendekatan rasional menyeluruh dengan
pendekatan terpilah, yaitu menyederhanakan pendekatan menyeluruh dalam
lingkup wawasan secara sekilas dan memperdalam tinjauan atas unsur yang
strategis terhadap permasalahan menyeluruh. Ciri utama pendekatan
perencanaan ini adalah:

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 22


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 23

Perencanaan mengacu pada garis kebijakan umum yang ditentukan pada


tingkat tinggi

Perencanaan dilatarbelakangi oleh suatu wawasan menyeluruh serta


memfokuskan pendalaman penelaahan pada unsur-unsur yang diutamakan.

Ramalan mendalam menyangkut unsur yang diutamakan dilandasi oleh


ramalan singkat tentang lingkup menyeluruh dan didasarkan pada wawasan
sistem.

Dinilai sebagai penghematan waktu dan dalam dalam lingkup penelaahan,


analisis, serta proses teknis penyusunan rencana karena terdapat
penyederhanaan dalam penelaahan dan analisis makro.

Untuk menunjang hasil ramalan dan analisis sekilas, maka proses


pemantauan, pengumpulan pendapat, komunikasi, dan konsultasi dengan
masyarakat yang berkepentingan dan pemerintah dilakukan secara menerus
mulai dari perumusan sasaran dan tujuan rencana pembangunan.

Dengan pendekatan Mixed Scanning Planning Approach, maka secara lebih


substantif, pendekatan dalam pekerjaan ini dapat dibagi atas:
Pendekatan eksternal, yang berarti bahwa dalam penataan ruang
dipertimbangkan faktor-faktor determinan yang dianggap mempengaruhi dalam
penentuan arah pengembangan, seperti kebijakan-kebijakan yang mengikat atau
harus diacu, kondisi dinamika global, dan lain-lain. Dari pendekatan ini nantinya
akan teridentifikasi gambaran tentang peluang yang tercipta dan tantangan yang
harus dijawab dalam penataan ruang dan pelestarian cagar budaya suatu
wilayah atau kawasan.

Pendekatan internal, yang berarti bahwa dalam perencanaa perlindungan cagar


budaya dipertimbangkan faktor-faktor lingkungan strategis yang berpengaruh,
seperti kondisi fisik dan lingkungan, kependudukan, perekonomian,
kelembagaan, dll. Pendekatan ini terkait dengan potensi yang dimiliki dan
permasalahan yang akan dihadapi dalam perencanaan perlindungan suatu
wilayah.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 23


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 24

Kedua pendekatan itu lebih lanjut akan dikembangkan dengan didukung pula oleh
pendekatan keberlanjutan (sustainability). Kata sustainability sangat penting dalam
sebuah kerangka pengembangan dan pembangunan. Kata tersebut merujuk pada
abilility of something to be sustained. Pendekatan Sustainability Development saat ini
umum digunakan dalam hal-hal yang terkait dengan kebijakan lingkungan atau etika
bisnis, terutama sejak dipublikasikannya istilah ini dalam dokumen Bruntland Report
oleh World Commission on Environtment and Development (WCED), tahun 1987.
Dalam dokumen tersebut, sustainability development diartikan sebagai:
"development that meets the needs of the present without compromising
the ability of future generations to meet their own needs. In a way that
"promote[s] harmony among human beings and between humanity and
nature".
Dalam ekonomi, pengembangan seperti ini mempertahankan atau meningkatkan
modal saat ini untuk menghasilkan pendapatan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Modal yang dimaksud disini tidak hanya berupa modal fisik yang bersifat privat,
namun juga dapat berupa infrastruktur publik, sumberdaya alam (SDA), dan
sumberdaya manusia (SDM).
Di Indonesia, pembangunan berkelanjutan ini muncul dari pemikiran untuk
menanggapi tantangan global di bidang ekonomi, sosial, dan lingkungan, melalui
pengembangan ketiga komponen tersebut secara sinergi. Konsep ini memperhatikan
kualitas pertumbuhan, bukan hanya kuantitasnya saja. Dengan demikian, secara
singkat pembangunan berkelanjutan ini dapat diartikan sebagai upaya menumbuhkan
perekonomian dan pembangunan sosial tanpa mengganggu kelangsungan
lingkungan hidup yang sangat penting artinya bagi generasi saat ini dan masa
mendatang. Oleh karena itu, pembangunan keberlanjutan menempatkan 3 pilar
utama yang satu sama lainnya saling terkait dan mendukung, yaitu: 1) pertumbuhan
ekonomi, 2) pemerataan sosial, dan 3) pelestarian lingkungan hidup.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 24


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 25

Pendekatan Landscape Sejarah


Lanskap merupakan bentang alam dengan karakteristik tertentu yang dapat dinikmati
oleh seluruh indera manusia, dimana karakter lanskap tersebut menyatu secara
harmoni dan alami yang dapat memperkuat karakter lanskapnya (Simonds 1983).
Eckbo (1964) menyatakan bahwa lanskap adalah ruang di sekeliling manusia yang
mencakup segala sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan dan merupakan
pengalaman yang berkelanjutan sepanjang waktu dan dalam seluruh kehidupan
manusia.
Pada konteks lanskap sejarah, Nurisjah dan Pramukanto (2001) mengemukakan
bahwa lanskap sejarah adalah bagian dari suatu lanskap yang memiliki dimensi waktu
di dalamnya. Lanskap sejarah ini dapat mempunyai bukti fisik dari keberadaan
manusia di atas bumi ini. Waktu yang tertera dalam satu lanskap sejarah yang
membedakan dengan desain lanskap lainnya adalah keterkaitan pembentukan
essential character dari lanskap ini pada waktu periode yang lalu yang didasarkan
pada sistem periodikal yang khusus (seperti System politik, ekonomi, dan social).
Oleh karena itu, lanskap sejarah akan memainkan peranan penting dalam mendasari
dan membentuk berbagai tradisi budaya, ideological, dan etnikal dalam satu
kelompok masyarakat. Sedangkan menurut Harris dan Dines (1988) lanskap sejarah
merupakan lanskap yang berasal dari masa lampau dimana di dalamnya terdapat
bukti-bukti fisik yang menunjukkan keberadaan manusia pada lanskap tersebut.
Goodchild (1990) mengatakan bahwa suatu lanskap dinyatakan memiliki nilai historis
jika mengandung satu atau beberapa kondisi lanskap berikut ini:
a. Merupakan contoh yang menarik dari tipe lanskap sejarah;
b. Memiliki bukti penting dan menarik untuk dipelajari yang terkait dengan tata
guna lahan, lanskap dan taman, atau sikap budaya terhadap lanskap dan
taman;
c. Terkait dengan sikap seseorang, masyarakat, atau peristiwa penting dalam
sejarah;
d. Memiliki nilai sejarah yang berkaitan dengan bangunan, monument, atau tapak
yang bersejarah.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 25


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 26

Menurut Nurisjah dan Pramukanto (2001) Pelestarian lanskap sejarah dapat


didefinisikan sebagai usaha manusia untuk memproteksi atau melindungi peninggalan
atau sisa-sisa budaya dan sejarah terdahulu yang bernilai dari berbagai perubahan
negatif atau merusak keberadaannya atau nilai yang dimilikinya. Upaya ini bertujuan
untuk memberikan kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik berdasarkan
kekuatan aspek-aspek budaya lama, dan melakukan pencangkokan program-
program yang menarik dan kreatif, berkelanjutan, serta juga merencanakan program
partisipasi dengan memperhitungkan estimasi ekonomi.
Goodchild (1990) mengatakan bahwa lanskap sejarah perlu dilestarikan karena
memiliki arti penting sebagai berikut :
1. Menjadi bagian penting dan bagian integral dari warisan budaya (Cultural
heritage);
2. Menjadi bukti fisik dan arkeologis dari sejarah warisan budaya tersebut;
3. Memberi konstribusi bagi keberlanjutan pembangunan kehidupan berbudaya;
4. Memberi konstribusi bagi keanekaragaman pengalaman yang ada;
5. Memberikan suatu kenyaman publik (public amenity);
6. Memiliki nilai ekonomis dan dapat mendukung pariwisata.

Pelestarian lanskap sangat penting, menurut Nurisjah dan Pramukanto (2001) tujuan
pelestarian lanskap terkait dengan aspek budaya dan sejarah secara lebih spesifik
adalah untuk :
1. Mempertahankan warisan budaya/sejarah yang memiliki karakter spesifik suatu
kawasan
2. Menjamin terwujudnya ragam kontras yang menarik dari suatu areal atau
kawasan tertentu yang relatif modern akan memiliki kesan visual dan sosial yang
berbeda
3. Memenuhi kebutuhan psikis manusia, untuk melihat dan merasakan eksistensi
dalam alur kesinambungan masa lampau, masa kini, masa depan yang
tercermin dalam obyek/karya taman/lanskap untuk selanjutnya dikaitkan dengan

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 26


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 27

harga diri, percaya diri, dan sebagai identitas diri satu bangsa atau kelompok
masyarakat tertentu
4. Menjadikan motivasi ekonomi, peninggalan budaya dan sejarah memiliki nilai
yang tinggi apabila dipelihara dengan baik, terutama dapat mendukung
perekonomian kota/daerah bila dikembangkan sebagai kawasan tujuan wisata
(cultural and historical type of tourism)
5. Menciptakan simbolisme sebagai manifestasi fisik dan identitas dari satu
kelompok masyarakat tertentu Secara lebih spesifik dalam kaitannya dengan
lanskap, Harris dan Dines (1988) mengajukan empat hal utama tujuan tindakan
preservasi untuk pelestarian lanskap sejarah ini, yaitu :

Menyelamatkan karakter estetik dari suatu areal, wilayah, atau property


Mengkonservasi sumberdaya
Memfasilitasi pendidikan lingkungan
Mengakomodasi perubahan-perubahan keutuhan akan hunian, baik yang
terdapat dalam kawasan perkotaan, di tepi kota, maupun di kawasan
pedesaan.
Selanjutnya Nurisjah dan Pramukanto (2001) juga mengemukakan beberapa pilihan
bentuk tindakan teknis yang umumnya dilakukan dalam upaya pengelolaan lanskap
bersejarah, yaitu sebagai berikut :
1. Adaptive Use (Penggunaan Adaptif)
Mempertahankan dan memperkuat lanskap dengan mengakomodasi berbagai
penggunaan, kebutuhan, dan kondisi masa kini. Kegiatan model ini memerlukan
pengakjian yang cermat dan teliti terhadap sejarah, penggunaan, pengelolaan dan
faktor lain yang turut berperan dalam pembentukan lanskap tersebut. Pendekatan
ini akan memperkuat arti sejarah dan mempertahankan warisan sejarah yang
terdapat pada lanskap itu dan mengintegrasikannya dengan kepentingan,
penggunaan, dan kondisi sekarang yang relevan.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 27


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 28

2. Rekonstruksi
Pembangunan ulang suatu bentuk lanskap, baik secara keseluruhan atau
sebagian dari tapak asli, yang dilakukan pada kondisi :
Tapak tidak dapat bertahan lama pada kondisi yang asli atau mulai hancur
karena faktor alam;
Suatu babakan sejarah tertentu yang perlu untuk ditampilkan;
Lanskap yang hancur sama sekali sehingga tidak terlihat seperti kondisi
awalnya;
Alasan kesejarahan yang harus ditampilkan.
Pendekatan ini dapat diterapkan bila memenuhi syarat
Tidak terdapat lagi peninggalan bersejarah, baik yang disebabkan karena
hilang, hancur, rusak, atau berubah
Data sejarah, arkeologi, etnografis, dan lanskap memungkinkan pelestarian
dapat dilakukan secara akurat dengan persyaratan minimal
Rekonstruksi dilakukan pada lokasi tapak asli (original site)
Tindakan yang dilakukan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap
sumberdaya lain
Alternatif kebijakan dan studi kelayakan sudah dipertimbangkan dan pilihan
alternatif dilakukan sejauh hanya untuk kepentingan tertentu, yaitu agar dapat
memperlihatkan kepada masyarakat akan suatu makna sejarah dan
meningkatkan apresiasi terhadap nilai tersebut.

3. Rehabilitasi
Merupakan tindakan untuk memperbaiki utilitas, fungsi, atau penampilan suatu
lanskap bersejarah. Pada kasus ini, keutuhan lanskap dan struktur/susunannya
secara fisik dan visual serta nilai yang terkandung harus dipertahankan. Tindakan
ini dilakukan dengan pertimbangan terhadap kenyamanan, lingkungan, sumber
daya alam, dan segi administratif.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 28


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 29

4. Restorasi
Merupakan model pelestarian yang paling konservatif, yaitu pengembalian
penampilan lanskap pada kondisi aslinya dengan upaya mengembalikan
penampilan sejarah dari lanskap ini sehingga apresiasi terhadap karya lanskap ini
tetap ada. Tindakan ini dilakukan melalui penggantian atau pengadaan elemen
yang hilang atau yang tidak ada, atau menghilangkan elemen tambahan yang
mengganggu. Tindakan ini dapat dilakukan secara keseluruhan (murni) atau
hanya sebagian.

5. Stabilisasi
Merupakan tindakan dalam melestarikan lanskap atau objek yang ada dengan
memperkecil pengaruh negatif terhadap tapak.

6. Konservasi
Merupakan tindakan yang pasif dalam upaya pelestarian untuk melindungi suatu
lanskap bersejarah dari kehilangan atau pelanggaran atau pengaruh yang tidak
tepat. Tindakan ini bertujuan untuk melestarikan apa yang ada saat ini,
mengendalikan tapak sedemikian rupa untuk mencegah penggunaan lahan yang
tidak sesuai dengan kemampuan dan daya dukung
serta mengarahkan perkembangan di masa depan, tindakan ini juga bertujuan
untuk memperkuat karakter spesifik yang menjiwai lingkungan/tapak dan menjaga
keselarasan antara lingkungan lama dan pembangunan baru mendekati
perkembangan aspirasi masyarakat. Dasar tindakan yang dilakukan, umumnya
adalah hanya untuk tindakan pemeliharaan.

7. Interpretasi
Merupakan usaha pelestarian mendasar untuk mempertahankan lanskap
asli/alami secara terpadu dengan usaha yang dapat menampung kebutuhan dan
kepentingan baru serta berbagai kondisi yang akan dihadapi masa ini dan yang
akan datang. Pendekatan pelestarian dengan tindakan interpretasi ini mecakup
pengkajian terhadap tujuan desain dan juga penggunaan lanskap sebelumnya.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 29


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 30

Desain yang baru haruslah mampu untuk memperkuat integritas nilai historis
lanskap ini dan pada saat yang bersamaan juga mengintegrasikannya dengan
program kegiatan tapak yang diintroduksikan.

8. Period Setting, Replikasi dan Imitasi


Merupakan tindakan penciptaan suatau tipe lanskap pada tapak tertentu yang non
original site. Tindakan ini memerlukan adanya data dan dokumentasi yang
dikumpulkan dari tapak serta berbagai pengkajian akan sejarah tapaknya
sehingga pembangunan lanskap tersebut akan sesuai dengan suatu periode yang
telah ditentukan sebelumnya (rencana baru). Penerapannya, umumnya tidak
secara luas tetapi hanya untuk situasi atau kasus tertentu.

9. Release
Merupakan tindakan pengelolaan yang memperbolehkan adanya suksesi alam
yang asli. Misalnya adalah diperbolehkannya vegetasi menghasilkan suatu produk
tertentu secara alami pada suatu lanskap sejauh tidak merusak keutuhan atau
merusak nilai historisnya. Tetapi tindakan ini memiliki kekurangan karena dapat
memberikan andil terhadap kemungkinan hilang atau terhapusnya arti dan nilai
sejarah dari lanskap dalm sistem budaya tersebut.

10.Replacement
Merupakan tindakan subtitusi atas suatu komuniti biotik dengan lainnya. Misalnya
adalah penggunaan jenis tanaman penutup tanah (ground cover) yang dapat
menampilkan bentukan lahan, contoh yang lain adalah substitusi spesies dengan
spesies yang berkarakter sama pada taman-taman barat. Hal yang sama tidak
dapat dilakuan pada taman timur karena taman timur memiliki nilai spiritual
sehingga tidak dapat disubtitusikan atau digantikan dengan spesies lain.
Sedangkan menurut Harvey dan Buggey (1988), beberapa tindakan yang perlu
dilakukan terhadap lankap bersejarah adalah:

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 30


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 31

Preservasi, yaitu mempertahankan tapak sebagaimana adanya tanpa


memperkenankan adanya tindakan perbaikan dan perusakan pada obyek.
Campur tangan rendah.
Konservasi, yaitu tindakan pelestarian untuk mencegah kerusakan lebih jauh
dengan campur tangan secara aktif
Rehabilitasi, yaitu memperbaiki lanskap ke arah standar-standar modern
dengan tetap menghargai dan mempertahankan karakter-karakter sejarah
Restorasi, yaitu meletakkan kembali seakurat mungkin apa yang semula
terdapat pada tapak
Rekonstruksi, yaitu menciptakan kembali apa yang dulunya ada tetapi sudah
tidak ada lagi pada tapak
Meletakkan apa yang sesuai pada suatu periode, skala, penggunaan, dan
seterusnya.

Pendekatan Konsep Orientasi Bangunan

Agar bangunan dapat terlihat dengan baik sehingga menarik perhatian masyarakat,
maka dibutuhkan dasar pertimbangan untuk orientasi bangunan seperti:
Bangunan dapat dilihat dari berbagai sudut pandang Bangunan di orientasikan
agar dapat terlihat dari berbagai sudut pandang sehingga dengan mudah dapat
dikenali oleh pengguna jalan yang hendak menuju bangunan tersebut.

Bagian bangunan yang terlihat merupakan bagian terbaik dari bangunan Bagian
bangunan yang terlihat merupakan bagian terbaik bangunan maka baik dari sisi
depan ataupun samping.

Pendekatan Konsep Kebisingan


Kebisingan merupakan salah satu faktor pengganggu bagi bangunan yang akan
direncanakan karena kegiatan-kegiatan yang menghasilkan suara merupakan
kegiatan utama dari bangunan ini. Maka dari itu, beberapa dasar pertimbangan
kebisingan antara lain:
Arah datang dan sumber bunyi Perlu dianalisa arah datangnya sumber bunyi,
sehingga peruangan pada bangunan dapat diatur sedemikian rupa agar ruang

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 31


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 32

ruang penghasil suara tidak berdekatan dengan sumber bunyi yang berasal dari
lingkungan.

Penzoningan Ruang-ruang yang membutuhkan tingkat privasi dan konsentrasi


tinggi mungkin membutuhkan suasana yang sunyi, sehingga diusahakan agar
ruang-ruang tersebut tidak diletakkan dizona paling tenang (jauh dari sumber
suara lingkungan).

Buffer Bagaimana kondisi site mampu mengurangi kebisingan dari kebisingan


lingkungan. Seperti kondisi kontur site ataupun pepohonan disekitar site.

Pendekatan Konsep Klimatologis (Matahari dan Arah Angin)

Beberapa ruang membutuhkan sinar matahari pagi dan angin segar, namun adapula
kegiatan-kegiatan yang terhindar dari sinar matahari. Maka dari itu dibutuhkan analisa
klimatologis dengan dasar pertimbangan:
Arah datang sinar matahari Untuk mengetahui daerah mana yang terkena sinar
matahari pagi, siang maupun sore.

Sun shading (naung) Untuk mengetahui daerah-daerah yang terkena shading


matahari sehingga dapat diletakkan ruang-ruang yang harus terhindar dari sinar
matahari

Arah angin yang berhembus

Untuk mengetahui daerah-daerah yang terkena hembusan angin segar sehingga


ruang-ruang yang membutuhkan angin segar dapat diletakkan didaerah tersebut.
Serta mengatasi permasalahan angin menuju site, apabila kondisi angin yang
berhembus kedalam site dapat memberi efek negatif pada site seperti misalnya, angin
yang memusar pada site maka harus diberi pemecahan masalahnya.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 32


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 33

Pendekatan Konsep Zonifikasi

Dasar pertimbangan zonifikasi diperlukan untuk menentukan ruang-ruang mana yang


harus diletakkan sesuai dengan tingkat privasi, tingkat kebisingan maupun fungsi
kegiatan ataupun klasifikasi ruang kegiatan.
Tingkat privasi Agar peruangan dapat ditata dengan baik maka ruang-ruang
tersebut perlu diklasifikasikan berdasarkan tingkat privasi seperti publik, semi
publik, semi privat dan privat.

Tingkat kebisingan Beberapa ruang membutuhkan tingkat kebisingan yang


tenang dan tidak bising, dengan adanya zonifikasi berdasarkan tingkat
kebisingan maka dapat diperoleh daerah-daerah yang diperlukan untuk ruangan-
ruangan tersebut.

Fungsi kegiatan Graha seni dan budaya terdiri atas berbagai fungsi kegiatan,
untuk mempermudah sirkulasi dalam site ataupun menuju site, maka dibutuhakn
zonifikasi fungsi kegiatan.

Klasifikasi ruang kegiatan Klasifikasi ruang kegiatan merupakan kelompok ruang


kegiatan yang dibedakan menjadi ruang kegiatan publik, pementasan, produksi,
administrasi dan penunjang. Maka dari itu dibutuhkan analisa klasifikasi ruang
kegiatan untuk dapat menata peruangan dengan baik.

Zonifikasi dari hasil analisa-analisa tersebut berbentuk zonifikasi berdasarkan tingkat


privasi yakni:
Publik : menampung kegiatan yang bersifat umum dan terbuka yang dapat
diakses oleh semua orang seperti, pengunjung, pementas, pengelola, dll.

Semi publik : menampung kegiatan yang tidak sepenuhnya terbuka atau dapat
diakses oleh beberapa orang saja seperti pengunjung dan pengelola.

Semi private : menampung kegiatan yang hanya dapat diakses segelintir orang
seperti pementas dan pengelola.

Private : menampung kegiatan yang bersifat pribadi dan hanya dapat diakses
orang orang-orang tertentu seperti pengelola.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 33


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 34

Zonifikasi berdasarkan tingkat privasi tersebut kemudian disesuaikan dengan


kebutuhan ruang kegiatan pada graha seni dan budaya yang direncanakan, seperti:
Ruang kegiatan publik

Ruang kegiatan pementasan

Ruang kegiatan produksi

Ruang kegiatan administrasi

Ruang kegiatan penunjang

Ruang kegiatan tersebut akan dijelaskan lebih detail di analisa pendekatan konsep
mikro.

Pendekatan Konsep Sirkulasi Dalam Site

Sirkulasi dalam site membutuhkan dasar-dasar pertimbangan seperti:


Adanya pertimbangan parkir kendaraan Parkir kendaraan baik itu berupa mobil,
motor, truk, dll membutuhkan luasan tempat parkir yang berbeda dengan letak
yang berbeda pula

Kendaraan dan pejalan kaki di dalam site Kendaraan dan pejalan kaki yang
hendak menuju site hendaknya diperhatikan jalan, rambu-rambu, serta alur agar
pengguna gedung dapat merasakan kenyamanan dan keamanan.

Letak pintu masuk dan pintu keluar Letak pintu masuk dan pintu keluar
disesuaikan dengan kebutuhan ruang dan juga pengguna.

Pendekatan Konsep Hal-hal Yang Mempengaruhi Pendenahan Beberapa hal yang


dikumpulkan pada tahap eksplorasi menyarankan agar pendenahan juga dipengaruhi
oleh bentuk dasar ruang, bentuk panggung dan bentuk penataan (layout) tempat
duduk.
Bentuk Dasar Ruang Bentuk dasar ruang terdiri atas bentuk segi empat, bentuk
kipas, bentuk tapal kuda, bentuk melengkung dan bentuk tak teratur. Bentuk-
bentuk tersebut perlu dianalisa untuk mendapat bentuk dasar ruang terbaik untuk
graha seni dan budaya yang direncanakan.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 34


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 35

Bentuk Panggung Bentuk panggung terdiri atas panggung proscenium,


panggung terbuka, panggung arena dan panggung fleksibel. Bentuk panggung
tersebut perlu dianalisa untuk mendapat bentuk panggung terbaik untuk kegiatan
pertunjukan yang ada di graha seni dan budaya yang direncanakan.

Bentuk Penataan (Layout) Tempat Duduk Bentuk penataan (layout) tempat


duduk terdiri atas sistem continental dan sistem conventinal. Kedua sistem ini
memiliki kekurangan dan kelebihan, maka perlu dianalisa agar mendapatkan
sistem terbaik untuk graha seni dan budaya yang direncanakan.

Pendekatan Konsep Penggunaan Sistem Akustik

Sistem akustik jelas diperlukan pada graha seni dan budaya. Sistem akustik yang
dimaksud adalah sistem akustik yang berkaitan dengan bentuk-bentuk arsitektural,
ada baiknya dianalisa dengan pertimbangan-pertimbangan seperti berikut:
Kemiringan lantai Bentuk kemiringan lantai tertentu mampu mengurangi
penyerapkan suara.

Sistem penguat bunyi Sistem penguat bunyi terdiri atas sistem sentral dan
sistem steriofonik yang dapat dianalisa untuk mendapatkan sistem penguat bunyi
terbaik.

Pendekatan Konsep Pola Tata Letak Filosofi pada gunungan wayang diterapkan
pada desain salah satunya dengan pola tata letak baik secara vertikal maupun
horizontal. Maksud dari konsep pola tata letak ini adalah semakin keatas/kedalam
semakin kesakral/private sesuai dengan tingkatan-tingkatan pada gunungan yang
dimaksud.
Pendekatan Konsep Massa Bangunan Bentuk dasar permassaan disesuaikan
dengan hasil analisa makro terhadap pengolahan site maupun hasil pengonsepan
mikro terhadap ruang kegiatan untuk mendapatkan stuktur permassaan. Selain itu
bentuk dasar bangunan juga didapatkan dari hasil analisa terhadap bentuk dasar
bangunan rumah tradisional Toraja Utarayang kemudian dapat dikembangkan
menjadi bentuk-bentuk dasar yang sesuai dengan fungsi dan kegiatan.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 35


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 36

Pendekatan Konsep Tampilan Bangunan Tampilan bangunan disesuaikan dengan


hasil analisa makro terhadap permassaan dan orientasi bangunan. Selain itu juga
terdapat beberapa dasar pertimbangan lain seperti:
Tampilan yang menarik sebagai graha seni dan budaya yang komersial dan
multifungsi.

Menyajikan tampilan bangunan yang mampu mencerminkan budaya/nuansa


Toraja Utara.

Tampilan bangunan yang mampu mencerminkan budaya/nuansa Toraja Utara


dapat didapat dengan menganalisa bentuk-bentuk rumah tradisional Toraja
Utara yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah bentuk yang baru yang
mampu mencerminkan arsitektur neovernakular.

Pendekatan Konsep Landscape


Mendukung penampilan

Kontinuitas terhadap lingkungan sekitar

Berfungsi sebagai pelindung, peneduh, penyejuk udara dan sebagai filter atau
barrier polusi (udara dan suara)

Ruang interaksi sosial

Ruang pengikat kegiatan yang ada dalam tapak

Konsep zonifikasi, orientasi, pencapaian dan pola sirkulasi

Kesatuan antar elemen lansekap yaitu tanaman, tanah, air dan elemen buatan
seperti pedestrian, sculpture.

Pendekatan Konsep Ornamen

Ornamen yang digunakan berupa ornamen-ornamen yang biasa digunakan pada


rumah tradisional Toraja Utara. Jenis ornamennya disesuaikan dengan makna dan
kegunaan yang dibutuhkan pada bangunan. ornamen-ornamen yang digunakan
diterapkan pada balok, kolom ataupun bukaan seperti jendela dan pintu. Beberapa
contoh ornamen pada rumah tradisional Toraja Utara.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 36


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 37

Pendekatan Desain Perencanaan dan Perancangan

Analisa pendekatan desain perencanaan dan perancangan dimaksudkan untuk


mempermudah perancangan dengan menganalisa hal-hal yang bersifat makro maupun
mikro. Analisa pendekatan desain makro terdiri atas analisa yang bersifat dari luar site
kedalam site dengan memperhatikan kondisi dan lingkungan disekitar. Sedangkan
analisa pendekatan desain mikro lebih mengarah pada analisa yang menginteraksikan
arsitektur neo-vernakular sebagai tema pendekatan arsitektur yang diangkat. Oleh
karena itu, relevansi antara graha seni dan budaya dengan arsitektur neo-vernakular
akan tampak pada pendekatan desain tampilan bangunan, permassaan, pola tata letak,
landscape, dan struktur dan konstruksi.
B.1. Makro
Analisa pendekatan desain secara makro meliputi hal-hal yang bersifatdari luar site
menuju site. Secara garis besar terdiri atas beberapa analisa pendekatan.
B.1.1. Analisa Penentuan Pencapaian Menuju Site
Analisa penentuan pencapaian menuju site bertujuan untuk mengetahui aksesibilitas
terbaik dan termudah untuk dapat mencapai site graha seni dan budaya yang
direncanakan.
Dasar Pertimbangan Dasar pertimbangan penentuan pencapaian menuju site antara
Kemudahan pencapaian

Lebar jalan

Ketersediaan transportasi umum

Tingkat kepadatan lalu lintas

Kemudahan sirkulasi dari dan menuju site

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 37


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 38

B.1.1.3. Hasil Analisa


Kemudahan pencapaian Site terpilih dapat dicapai dari arah pusat kota Dapat pula
diakses melalui kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.
Lebar jalan merupakan jalan lokal sekunder I yang berarti jalan tersebut mampu
menyediakan jalan bagi kendaraan roda 4, roda 2, trotoar dan parkir darurat.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 38


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 39

Analisa Penentuan Orientasi Bangunan Analisa penentuan orientasi bangunan


bertujuan untuk mengetahui orientasi bangunan atau arah hadap bangunan agar
mudah dikenali oleh masyarakat.

B.1.3. Analisa Penentuan Kebisingan


Analisa penentuan kebisingan bertujuan untuk mengetahui daerah mana saja yang
memiliki tingkat kebisingan tinggi maupun tingkat kebisingan rendah sehingga
penataan peruangan dapat disesuaikan dengan persyaratan ruang.
B.1.3.1. Dasar Pertimbangan
Dasar pertimbangan analisa penentuan kebisingan antara lain:
Arah datang dan sumber bunyi

Penzoningan

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 39


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 40

B.1.3.3. Hasil Analisa


Daerah sangat bising digunakan untuk ruang-ruang yang bersifat publik, daerah
bising untuk ruang-ruang yang bersifat semi publik/semi private dan daerah agak
bising untuk ruang-ruang yang bersifat private.

B.1.4. Analisa Penentuan Klimatologis (Matahari dan Arah Angin)


Analisa penentuan klimatologis bertujuan untuk mengetahui daerahdaerah yang
terkena sinar matahari pagi ataupun naung (sun-shading) yang dapat digunakan pada
ruang-ruang yang membutuhkan persyaratan matahari tersebut. Sedangkan arah
angin juga berguna untuk mengetahui daerah-daerah yang mampu memberikan
angin yang sejuk dan segar.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 40


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 41

B.1.4.1. Dasar Pertimbangan


Arah datang sinar matahari

Sun shading (naung)

Arah angin yang berhembus

B.1.4.2. Analisa

Pendekatan Eksploratif Dalam Pengumpulan Data


Pendekatan eksploratif bercirikan pencarian yang berlangsung secara menerus.
Pendekatan ini akan digunakan baik dalam proses pengumpulan data & informasi
maupun dalam proses analisa dan evaluasi guna perumusan konsep penanganan.
a. Eksplorasi dalam Proses Pengumpulan Data & Informasi

Dalam proses pengumpulan data & informasi, pendekatan eksploratif digunakan


mulai dari kegiatan inventarisasi dan pengumpulan data awal, hingga eksplorasi
data & informasi di lokasi studi yang dilakukan. Sifat pendekatan eksploratif yang
menerus akan memungkinkan terjadinya pembaharuan data dan informasi
berdasarkan hasil temuan terakhir. Pendekatan eksploratif juga memungkinkan
proses pengumpulan data yang memanfaatkan sumber informasi secara luas,
tidak terbatas pada ahli yang sudah berpengalaman dalam bidangnya ataupun
stakeholder yang terkait dan terkena imbas secara langsung dari kegiatan terkait,
namun juga dari berbagai literatur baik dalam bentuk buku maupun tulisan singkat
yang memuat teori atau model penanganan permukiman skala besar,

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 41


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 42

penanganan lahan permukiman, dan studi kasus penerapan kebijakan


pengembangan Kasiba yang telah dilakukan. Dalam pendekatan eksploratif ini
sangat memungkinkan diperoleh informasi-informasi tambahan yang tidak diduga
sebelumnya atau yang tidak pernah dikemukakan dalam teori-teori yang ada.
Informasi yang didapat dengan pendekatan ini bisa bersifat situasional dan
berdasarkan pengalaman sumber.
b. Eksplorasi dalam Proses Analisa dan Evaluasi

Eksplorasi dalam proses analisa dan evaluasi dilakukan guna mengelaborasi


pokok permasalahan serta konsep-konsep penanganan dan pengembangan
Kasiba yang ada berikut dukungan regulasi dan kebijakan di Indonesia. Ekpslorasi
perlu mengaitkan konsep-konsep teoritis dengan kondisi dan karakteristik
permasalahan di Indonesia melalui pendalaman pemahaman terhadap lokasi
sasaran yang menjadi sasaran studi. Proses eksplorasi ini akan mengkerucut
pada suatu bentuk pendekatan yang konfirmatif dalam menilai keseusaian suatu
pola penanganan lahan permukiman serta kebutuhan rumusan kebijakan yang
dapat mengintervensi permasalahan agar pola penanganan terpilih dapat
diimplementasikan dan mencapai hasil yang optimal.

Pendekatan Partisipatif dan Stakeholder Approach


Dalam pelaksanaan studi di lapangan, akan dilakukan kegiatan-kegiatan diskusi dan
pengumpulan data/informasi. Untuk itu, pelibatan stakeholder melalui suatu bentuk
stakeholder approach perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan
pelaksanaan kegiatan serta kemungkinan keberlanjutan pekerjaan. Pendekatan
partisipatif pada intinya merupakan usaha penyelesaian persoalan yang menjadi
target pekerjaan secara aktif dengan melakukan pelibatan semua stakeholder terkait,
baik pemerintah daerah, masyarakat, maupun para pakar dan pihak lainnya yang
berkaitan dengan pembangunan dan pengembangan kota, khususnya dalam bidang
perumahan & permukiman. Pendekatan partisipatif dalam pekerjaan ini lebih
mengarah pada bentuk pengumpulan dan pertukaran informasi dan dalam proses
analisa kebutuhan pengembangan kawasan. Selain dalam bentuk diskusi,
pendekatan partisipatif juga diterapkan dalam kegiatan survey primer. Survey melalui

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 42


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 43

pendekatan ini akan memungkinkan penggalian dan pengumpulan data dan informasi
terutama yang bersifat kualitatif dan lebih informatif. Pendekatan partisipatif ini dipilih
dalam penyelesaian pekerjaan untuk mengali informasi yang dalam, sehingga
rumusan persoalan dan solusi yang dihasilkan tepat pada sasarannya. Pendekatan ini
memungkinkan ownership yang tinggi dari para stakeholders di daerah terhadap
seluruh proses maupun hasil pekerjaan studi ini.

Pendekatan Benchmarking
Pada pendekatan ini, Mit-Term Review Program Dan Kegiatan Pengembangan
Permukiman disusun berdasarkan hasil pengamatan dan pembelajaran atas apa
yang sudah dilakukan oleh pihak lain/di lokasi lainnya untuk diterapkan di lokasi kajian
dengan perbaikan/penyempurnaan berdasarkan permasalahan-permasalahan yang
dihadapi oleh pihak lain yang sudah lebih dulu melakukan hal yang serupa.
Pendekatan Benchmarking ini banyak dilakukan oleh para peneliti dan perancang
teknologi di Jepang dalam membuat produk teknologinya. Bahkan seringkali
benchmarking ini dilakukan dengan melakukan delivery time atas produk hasil
benchmarking tersebut lebih cepat daripada produk basis benchmarking. Pendekatan
ini menurut bahasa orang awam dinamakan dengan Pencontekan Cerdas. Pada
pendekatan ini perlu dilakukan pengamatan atau investigasi atas apa yang sudah
dilakukan oleh pihak lain untuk hal yang serupa. Dalam hal ini, apa yang sudah
dilakukan pihak lain dalam bimbingan teknis (best practice) khususnya bidang
penataan ruang di dalam maupun di luar negeri sebagai basis dalam melakukan
benchmarking. Bahkan apa yang sudah dilakukan di luar negeri juga dapat dijadikan
sebagai basis benchmarking. Secara diagramatis, pendekatan benchmarking ini
dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar Error! No text of specified style in document.-2 Diagram Konseptual Pendekatan


Benchmarking
Pengamatan/ Perbaikan/ Produk baru
Proses/hasil/
Investigasi/ Penyempurnaan/ yang lebih
/Produk/Teknologi/
Spionase Perubahan disempurnakan
sebagai basis
atas basis lebih baik dr sbg hasil
Benchmarking
Benchmarking basis Benchmark Benchmarking

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 43


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 44

Pendekatan Konsep Urban Design dalam Masterplan


Dalam rangka mencapai suatu lingkungan yang seimbang dalam arti kesesuaian
tersedianya ruang dengan tuntutan kebutuhan, perlu diadakan pengaturan dan
penataan ruang. Usaha pengaturan dan penataan ruang ini pertama akan
menyangkut pengaturan dan penataan lahan dengan struktur dan segala prasarana
yang akan ditempatkan sesuai dengan macam dan bentuk kegiatan fungsionalnya.
Suatu daerah dengan kegiatan fungsional yang bermotif ekonomis, seperti daerah
perdagangan, perindustrian, perkantoran, dll, akan memberikan bentuk, jenis, ukuran
serta kesan lingkungan yang berbeda dengan daerah yang bermotif non ekonomis
seperti daerah perumahan. Adanya berbagai macam kegiatan fungsional dengan
motivasi, kepentingan serta kebutuhan lokasi yang berbeda-beda akan menyebabkan
timbulnya pengelompokkan dari struktur-struktur bangunan dan sarana kota yang
khas sesuai dengan kebutuhan fungsi-fungsi tersebut. Secara keseluruhan keadaan
ini akan terwujud dalam suatu bentuk tata ruang, baik secara pengertian kawasan
maupun secara tiga dimensional. Kenyataan dasar inilah sebenarnya yang akan
merupakan titik tolak Urban Design, seperti yang akan dibahas lebih lanjut pada
bagian ini.
A. PERKEMBANGAN DAN ESENSI URBAN DESIGN

London Wingo (1969), mengemukakan bahwa urban design merupakan bagian dari
perencanaan kota yang menyangkut segi estetika yang akan menentukan keteraturan
bentuk kota tersebut. Dalam pengertian yang lebih luas, Urban Design dapat diartikan
sebagai suatu pendekatan terpadu yang berkaitan dengan usaha-usaha pemecahan
masalah pembangunan kota dan daerah dari segi design. Lingkup utamanya adalah
dalam skala yang luas dengan penekanan khusus pada kesan-kesan kota yang
dikaitkan dengan pola, struktur serta perkembangan kebutuhan teknologi komunikasi
dan pergerakan serta juga dengan aspek perkembangan kehidupan manusia. Dari
pembatasan lingkup pengertian di atas, jelas bahwa urban design merupakan suatu
bagian penting dari keseluruhan proses perencanaan.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 44


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 45

Pada urban design pemikiran mengenai suatu kegiatan fungsional kota tidak lagi
hanya terbatas kepada lingkup dan dimensional seperti peruntukkan tata guna lahan,
tetapi sekaligus juga memikirkan dan menjabarkan bagaimana secara tiga dimensionil
hal tersebut akan diatur dan ditata sedemikian rupa sehingga sesuai dengan
kebutuhannya. Jadi urban design akan merupakan salah satu pernyataan atau
perwujudan fisik dari suatu rencana kota. Urban design dengan sendirinya akan
merupakan produk dari suatu kebutuhan kegiatan fungsional perkotaan.
Lingkup peninjauan urban design akan mencakup aspek perencanaan yang tidak
terbatas hanya pada bangunan secara individual atau bangunan individual beserta
lingkungan di sekitarnya saja, tetapi juga merupakan pemikiran yang mencakup
lingkup bangunan-bangunan sebagai suatu kelompok di atas suatu lahan serta dalam
hubungannya dengan lingkungan fisik sekitarnya. Didalam perencanaan kota,
pengetahuan urban design akan memberikan kemampuan :
1. Mengembangkan perencanaan kota yang menyeluruh dan lengkap kedalam
perencanaan terperinci (detail plan).

2. Meningkatkan kesadaran akan skala dan proporsi ruang yang sering kurang
memadai apabila hanya terbatas pada peninjauan secara dua dimensional saja.

3. Untuk mengembangkan cara atau alat untuk menjembatani suatu rencana induk
kota, yang masih bersifat umum ke perencanaan segi engineering.

4. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah kebutuhan ruang secara lebih


rasional dan konkrit sesuai dengan kondisi dan batasan daerah perencanaan.

5. Memberikan cara pengintegrasian dalam suatu kelompok inter disiplin, karena


urban design menyangkut berbagai disiplin keahlian yang ada kaitannya dengan
perencanaan kota dan design.

B. HUBUNGAN URBAN DESIGN DALAM PERENCANAAN KAWASAN

Suatu perencanaan kota menyeluruh yang produknya lebih banyak didasarkan


kepada pertimbangan-pertimbangan yang masih terbatas pada lingkup dua
dimensional, masih akan memerlukan penjabaran lebih lanjut di dalam usaha
implementasinya.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 45


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 46

Suatu rencana induk kota memang telah merupakan suatu pedoman dasar umum
di dalam pembangunan kota. Tetapi dalam kaitannya dengan implementasi
rencana, masih diperlukan penjabaran lebih lanjut sehingga akan tersedia suatu
pedoman pelaksanaan rencana kota. Dalam hubungan ini maka pengembangan
dan pengisian selanjutnya dari suatu rencana kota adalah mutlak apabila rencana
itu akan dilaksanakan secara nyata.
Selanjutnya sebagai suatu pedoman dalam pengisian rencana terperinci, akan
dikenal pula rencana khusus yaitu yang menyangkut perencanaan suatu daerah
tertentu dengan suatu fungsi kegiatan tertentu. Kontribusi Urban Design dalam hal
ini adalah terutama pada pengisian suatu rencana induk kota yang tertuang di
dalam suatu rencana terperinci. Didalam proses penyusunan rencana induk
sebagai rencana umum kota, seharusnya aspek urban design sudah
diperhitungkan. Hal tersebut dilakukan agar suatu rencana induk dapat
diterjemahkan lebih mudah kedalam bentuk rencana yang lebih rinci, atau dengan
kata lain pendetailan rencana umum (dua dimensi) ke dalam rencana tiga dimensi
akan sinkron.

Metodologi Pelaksanaan
Metoda pelaksanaan Penyusunan DED Masterplan Kota Rantepao diuraikan dalam
bentuk tahapan-tahapan yang berisikan alur kegiatan penyelesaian pekerjaan
sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan;

2. Tahap Survey dan Pengumpulan Data;

3. Tahap Analisis;

4. Tahap Penyusunan Masterplan

5. Tahap Penyusunan DED sub sub Kawasan Prioritas

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 46


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 47

Secara lebih rinci tahapan-tahapan dalam kegiatan Penyusunan DED Masterplan Kota
Rantenpao diuraikan sebagai berikut.

Kerangka Pemikiran

Alur pekerjaan mengacu pada kerangka dasar pemikiran mengenai substansi dan
proses pekerjaan yang perlu dilakukan, sesuai dengan konsepsi kebutuhan awal.
Sesuai dengan penjelasan dalam KAK serta pendekatan pekerjaan yang dilakukan,
pekerjaan ini perlu dikembangkan sesuai prinsip analisa kebijakan dan perencanaan
sebagaimana dijelaskan di atas.
Alur pekerjaan dikembangkan berdasarkan:
Pemahaman mengenai substansi pekerjaan dan fokus upaya yang harus
dilakukan pada jenis kegiatan tertentu

Pemahaman mengenai kebutuhan dasar pelaksanaan pekerjaan guna mencapai


target yang diharapkan

Pemikiran inovatif pelaksanaan pekerjaan

Pemahaman logis mengenai struktur dan alur pelaksanaan pekerjaan yang


terintegrasi dalam satu rangkaian pelaksanaan pekerjaan (sistem pelaksanaan
pekerjaan).

Pada tahapan ini dilakukan persiapan pekerjaan, baik yang menyangkut persiapan
administratif maupun persiapan teknis, serta kajian literatur (desk study).
1. Persiapan Teknis

Persiapan teknis meliputi kegiatan mobilisasi personil dan koordinasi tim kerja
yang akan dilibatkan dalam keseluruhan pekerjaan, penajaman metoda dan
rencana kerja, penyiapan perangkat survei, penyiapan peta dasar serta
pengumpulan data awal.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 47


USULAN TEKNIS

UNAN MASTERPLAN BALAI PERAWATAN PERKERETAAPIAN BAB 05 HAL 48

Secara rinci, pokok pekerjaan dan hasil kegiatan pada tahap ini adalah sebagai
berikut:
Mobilisasi Personil dan Koordinasi Tim Kerja

Meliputi kegiatan penyiapan tenaga ahli dan kegiatan koordinasi/diskusi antara


tenaga ahli yang terlibat dalam tim kerja konSitus. Tenaga ahli yang akan
dilibatkan harus memenuhi kriteria yang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan
pekerjaan (bidang keahlian, kualifikasi personil, dan pengalaman kerja).
Penentuan personil yang akan dilibatkan dilakukan dengan mempertimbangkan
tingkat efesiensi dan efektifitas kerja yang dapat diberikan, sehingga proses
pelaksanaan pekerjaan dapat berlangsung secara efektif dan efesien.

Tahap Persiapan
Tahapan kegiatan persiapan (pendahuluan), pokok-pokok pekerjaan yang akan
dilakukan dan hasil yang diharapkan antara lain meliputi:

1. Persiapan dasar, berupa telaah keputusan yang menghasilkan postulat-postulat,


asumsi-asumsi dan hipotesa-hipotesa mengenai arah dan kebijakan
perencanaan kawasan yang direncanakan yang berkaitan dengan:

2. Persiapan teknik survei, berupa:

- Persiapan peta-peta dasar yang dibutuhkan.


- Kerangka studi sebagai usulan teknis penyigian.
- Penyiapan daftar pertanyaan antara lain mengenai kondisi kawasan, keadaan
pusat-pusat kegiatan yang ada, kondisi bangunan, kondisi sosial ekonomi
penduduk, ketersediaan sarana dan prasarana dan kegiatan-kegiatan khusus
terkaitlainnya.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 48


USULAN TEKNIS

Tahap Survei
Langkah kegiatan survei meliputi pokok-pokok pekerjaan yang akan dilaksanakan
dan hasil yang diharapkan antara lain:

1. Survei data instansional, berupa pengumpulan dan atau perekaman data dari
instansi-instansi terkait. Hasilnya adalah uraian fakta dan informasi, baik
dalam bentuk data atau peta mengenai kondisi kawasan dan wilayah
sekitarnya.

2. Survei lapangan, untuk menguji kebenaran fakta informasi yang diperoleh


dari data instansional dan untuk mengetahui kondisi lapangan yang
sebenarnya. Untuk lingkup eksternal, data yang perlu dipetakan adalah
pusat-pusat kegiatan dan potensi lainnya yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan kawasan. Untuk lingkup internal, data yang
perlu dipetakan antara lain data kondisi fisik dasar, kondisi bangunan, sosial
kependudukan, ekonomi, ketersediaan sarana dan prasarana, penggunaan
lahan dan status kepemilikan lahan dan sebagainya.

3. Survei terhadap obyek khusus, berupa penyebaran dan pengisian daftar


pertanyaan sesuai metodologi riset, antara lain kepada stakeholders terkait
seperti pemerintah, swasta dan tokoh masyarakat setempat.

4. Wawancara, untuk melengkapi ketiga jenis survei di atas yang pada intinya
bertujuan untuk menangkap isyu dan persoalan kawasan.

Tahap Survey dan Pengumpulan Data


Pengumpulan data bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi (primer
dan sekunder) yang dibutuhkan dalam proses Penyusunan DED Masterplan Kota
Rantepao, sekaligus untuk mengetahui kondisi kawasan perencanaan.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah survey sekunder (data
sekunder) serta survey primer (diskusi dan wawancara) yang dapat untuk menguji
kevaliditasan data yang diperoleh melalui interview dan observasi.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 49


USULAN TEKNIS

1. Metode Dokumenter dan Kajian Literatur (Kajian Sekunder)

Metode atau teknik dokumenter adalah teknik pengumpulan data dan


informasi melalui pencarian dan penemuan bukti-bukti. Metode dokumenter ini
merupakan metode pengumpulan data yang berasal dari sumber data
sekunder (non-manusia). Sumber-sumber ini umumnya bersifat kualitatif,
tersedia dan siap pakai. Dokumen berguna karena dapat memberikan latar
belakang yang lebih luas mengenai pokok permasalahan dan kondisi yang
dihadapi.
2. Metode Diskusi dan Wawancara Terstruktur (Kajian Primer)

Diskusi dan wawancara merupakan teknik komunikasi antara interviewer


dengan interview yang merupakan stakeholder praktisi dalam pelestarian dan
perlindungan cagar budaya maupun pakar di pusat/nasional. Interviewer harus
responsive, tidak subjektif, menyesuaikan diri dengan responden dan
pembicaraannya harus terarah. Karenanya, bahan wawancara telah disiapkan
berdasarkan hasil inventarisai permasalahan di awal kajian pekerjaan,
sehingga selanjutnya metode ini disebut wawancara terstruktur.
Berbeda dengan pendekatan kajian lapangan sebagai kajian empirik dan
kasus yang bersifat deduktif, dimana kasus hanya digunakan sebagai sample
dan representasi dalam melakukan generalisasi temuan, maka pendekatan
metode yang digunakan dalam diskusi dan wawancara terstruktur lebih
mendudukkan stakeholders daerah sebagai narasumber yang merupakan
praktisi yang diasumsikan mengetahui permasalahan dasar terkait upaya
penanganan sesuai dengan karakter.

Tahap Kompilasi Data


Pada tahap awal, kegiatan koordinasi tim kerja konSitus bertujuan untuk
mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan
secara matang dan rinci, berkaitan dengan proses pekerjaan yang akan dilakukan,
Kegiatan ini meliputi penyusunan organisasi kerja, penyusunan rencana kerja,
pembagian kerja, serta kebutuhan fasilitas pendukung yang diperlukan bagi
kelancaran pelaksanaan pekerjaan.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 50


USULAN TEKNIS

Pada tahap selanjutnya kegiatan koordinasi dan diskusi tim kerja akan dilakukan
secara berkelanjutan (selama proses pelaksanaan pekerjaan berlangsung), untuk
memperoleh kesepakatan-kesepakatan yang diperlukan.
Penajaman Metode dan Rencana Kerja

Kegiatan ini bertujuan untuk menajamkan rencana/metodologi penanganan


pekerjaan, sebagai suatu pegangan yang harus ditaati oleh pihak-pihak yang
terlibat dalam proses pelaksanaan pekerjaan ini. Rumusan rencana kerja ini
secara garis besar meliputi detail kegiatan dan jadwal pelaksanaan
pekerjaan, pelibatan dan jadwal penugasan tenaga ahli, serta keluaran
pekerjaan yang harus dihasilkan.
Penyiapan Perangkat Survei

Sebagai langkah awal pelaksanaan survei lapangan yang akan dilakukan


pada tahap berikutnya, terlebih dahulu dilakukan beberapa persiapan yang
diperlukan agar pelaksanaan survei dapat berjalan dengan lancar. Persiapan
yang dilakukan antara lain meliputi perumusan desain survei, daftar
kebutuhan data dan instansi sumber data/informasi, penyiapan personil
(surveyor) dan peralatan survei yang akan digunakan dalam kegiatan
lapangan.
Penyiapan Peta Dasar

Penyiapan peta yang akan digunakan sebagai peta dasar yang telah
memenuhi standar kartografis Bakosurtanal.
Pengumpulan Data Awal

Pengumpulan data awal ilakukan melalui studi literatur dan penalaahan


materi kebijakan pembangunan (tata ruang dan sektoral) pada lingkup
regional maupun internal kawasan perencanaan.
2. Kajian Literatur/Desk Study

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini, meliputi:


Kajian Terhadap Peraturan-Perundangan Terkait

1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan


Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3699);

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 51


USULAN TEKNIS

2. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377);

3. Undang-undang Republik Indonesia No 26 Tahun 2007 tentang


Penataan Ruang;

4. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan


Undang-Undang No 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya;

5. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan


Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran serta
Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1996 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3660);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata


Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1997 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 372);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis


Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3838);

8. Peraturan Pemerintah RI Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan


Provinsi sebagai Daerah otonom (Lembaran Negara Tahun 2000
Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan


Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4385);

Kajian Kebijakan Pembangunan/Sektoral Terkait

1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok

Agraria;

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 52


USULAN TEKNIS

Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274);

3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam


Hayati Dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419);

4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran

Negara Tahun 1999 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3881);

5. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran

Negara Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4247);

6. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran

Negara Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4377);

7. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara

Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4444);

8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

9. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4858)

10. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran

Negara Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4966)

11. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan


Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 5025);

12. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan


Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059);

13. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan


Permukiman (Lembaran Negara Tahun 2011 Nomor 7, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 5188);

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 53


USULAN TEKNIS

14. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 86 Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4655);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber


Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4858);

16. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan

Kawasan Perkotaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009


Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5004);

17. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan

Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor

21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);

18. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 74, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5230);

19. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008 tentang


Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan
Perkotaan

20. Peraturan Daerah Kabupaten Toraja Utara Nomor 6 Tahun 2010 tentang

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2010-2030


(Lembaran Daerah Kabupaten Toraja Utara Tahun 2010 Nomor 4, Tambahan
Lembaran Daerah Kabupaten Toraja Utara Nomor 1);

21. Peraturan Daerah Kabupaten Toraja Utara Nomor 3 Tahun 2012 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Toraja Utara Tahun 2012-2032
(Lembaran Daerah Kabupaten Toraja Utara Tahun 2012 Nomor 3, Tambahan
Lembaran Daerah Kabupaten Toraja Utara Nomor 23);

22. Peraturan Daerah Kabupaten Toraja Utara Nomor 1 Tahun 2013 tentang

Bangunan Gedung (Lembaran Daerah Kabupaten Toraja Utara Tahun 2013


Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Toraja Utara Nomor 25);

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 54


USULAN TEKNIS

Kajian Teoritis dan Studi-studi Sebelumnya

Tentang studi-studi yang ada sebelumnya terkait dengan Penyusunan DED Kota
Rantepao.

Penyusunan Konsep Penyusunan DED Masterplan Kota Rantepao


Penyusunan konsep adalah menyusun konsep pengembangan dan pemanfaatan
kawasan di sekitar. Perumusan konsep dan strategi pengembangan terdiri dari:
1. Isu Pengembangan dan Pemanfaatan Kawasan, perumusan Konsep diawali
dengan identifikasi potensi, masalah, peluang dan tantangan pembangunan
(SWOT). Identifikasi SWOT tidak hanya mencakup perhatian pada masa
sekarang namun juga yang akan mengemuka di masa depan. Idenfikasi
SWOT membutuhkan terjalinnya komunikasi antara seluruh pemangku
kepentingan.

2. Tujuan Pengembangan dan Pemanfaatan Kawasan, tujuan pengembangan


dan pemanfaatan kawasan dilakukan dengan memperhatikan karakteristik
kawasan yang akan dikembangkan sehingga akan relatif mungkin untuk
dicapai.

3. Konsep dan Strategi Pengembangan dan Pemanfaatan Kawasan, konsep


perencanaan perlu dirumuskan sesuai dengan potensi, permasalahan, peluang
dan tantangan yang ada.

Penyusunan Penyusunan Penyusunan DED Masterplan Kota Rantepao


Penyusunan DED Masterplan Kota Rantepao merupakan tahap akhir dari
pekerjaan teknis Penyusunan DED Masterplan Kota Rantepao Di dalam tahap ini
pokok-pokok pekerjaan dan hasilnya adalah sebagai berikut:
1. Rencana Struktur Ruang Kawasan;

2. Rencana Zoning Peruntukkan kawasan;

3. Rencana Pengembangan Sarana dan Prasarana pendukung kawasan;

4. Rencana Sistem jaringan transportasi dan utilitas kawasan;

5. Rencana Tapak Pemanfaatan Ruang Lingkungan;

6. Rencana Konservasi Revitalisasi;

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 55


USULAN TEKNIS

7. Rencana Sistem Pengelolaan dan Sumber Pembiayaan Pengembangan dan


Pembiayaan.

Persyaratan Teknis
Secara umum persyaratan teknis bangunan kegaitan wisata harus mengikuti
standard ketentuan tata cara mendirikan bangunan gedung, yaitu SNI No. 03-
1728-1989, Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 02/KPTS/1985 tentang
ketentuan pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung
standar teknis lainnya. Persyaratan tata bangunan dan lingkungan bangunan
meliputi ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembangunan
bangunan gedung negara dari segi tata bangunan dan lingkungan yaitu:
A. Peruntukan Ruang

Bangunan gedung negara harus memenuhi persyaratan peruntukan ruang


dan persyaratan fungsi yang telah ditetapkan.
B. Jarak Antar Blok/Massa bangunan

Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan daerah setempat tentang


bangunan, maka jarak antar blok/masa bangunan harus mempertimbangkan hal-
hal sebagai berikut:
Keselamatan terhadap bahaya kebakaran.

Kesehatan, termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan.

Kenyamanan.

C. Ketinggian Bangunan

Ketinggian bangunan harus mengikuti peraturan dan pedoman yang berlaku di


kawasan perencanaan.
D. d. Ketinggian Langit-Langit

Ketinggian langit-langit bangunan gedung minimum adalah 2,80 meter


dihitung dari permukaan lantai. Untuk ruang pertemuan, dan bangunan lainnya
dengan fungsi yang memerlukan ketinggian langit-langit khusus, agar
mengikuti standar nasional yang berlaku.
E. Koefesien Dasar Bangunan (KDB)

Ketentuan besarnya Koefesien Dasar Bangunan (KDB) mengikuti ketentuan


yang di akan diatur dalam Penyusunan tata letak kawasan kota Rantepao.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 56


USULAN TEKNIS

F. Koefesien Lantai Bangunan (KLB)

Koefesien Lantai Bangunan (KLB) ketentuannya mengikuti peraturan daerah


yang akan disusun dalam penyusunan tata letak kawasan Kota Rantepao.
G. Koefesien Daerah Hijau (KDH)

Perbandingan antara luas seluruh daerah hijau dengan luas persil bangunan,
sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan daerah setempat dengan
mempertimbangkan:
Daerah resapan air.

Ruang terbuka hijau.

Untuk bangunan gedung yang mempunyai KDB kurang dari 40% harus
mempunyai KDH minimum 15%.
H. Garis Sempadan Bangunan

Ketentuan besarnya garis sempadan, baik garis sempadan pagar maupun


garis sempadan bangunan harus mengikuti ketentuan yang diatur dalam
peraturan daerah setempat tentang bangunan untuk lokasi yang
bersangkutan.
I. Wujud Arsitektur

Wujud arsitektur tata letak kawasan wisata harus memenuhi kriteria-kriteria


sebagai berikut:
Mencerminkan fungsi sebagai bangunan wisata;

Seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya;

Indah namun tidak berlebihan;

Efisien dalam penggunaan sumber daya;

Memenuhi tuntunan sosial budaya setempat;

Pelestarian bangunan bersejarah.

j. Kelengkapan Sarana dan Prasarana Lingkungan


Bangunan gedung harus dilengkapi dengan prasarana bangunan yang
memadai, dengan biaya pembangunannya diperhitungkan sebagai pekerjaan
non standar. Sarana dan prasarana bangunan yang harus ada pada
bangunan gedung pemerintahan adalah:

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 57


USULAN TEKNIS

Sarana parkir kendaraan;

Sarana penyandang cacat;

Sarana penyedian air bersih;

Sarana drainase, limbah dan sampah;

Sarana ruang terbuka hijau;

Sarana hidran kebakaran halaman;

Sarana penerangan halaman.

Metoda/Teknik Analisis
Beberapa model analisis yang akan digunakan untuk mengkaji aspek-aspek
kawasan perencanaan adalah sebagai berikut.
Analisis data meliputi analisis sumberdaya budaya, analisis lansekap, dan analisis
tekstual, yaitu perbandingan antara data media dengan perolehan data di
lapangan..
Analisis lansekap difokuskan pada lansekap alami dan lansekap. Hal ini dilakukan
dengan pertimbangan, bahwa lansekap alami di kawasan ini memiliki keunikan
tersendiri yang dapat menambah bobot nilai penting.
a. Analisis Makro

Analisis makro meliputi:


a. Kedudukan Kawasan perencanaan dalam kerangka perwilayahan antara
lain menilai:

Kedudukan dan fungsi kawasan yang direncanakan di dalam sistem


perencanaan tata ruang

Perkembangan sektor-sektor kegiatan di kawasan perencanaan dan


pengaruhnya terhadap wilayah disekitarnya.

b. Analisis pengaruh kebijakan sektor dan regional, antara lain menilai:

Pengaruh kebijakan terhadap perkembangan sektor-sektor kegiatan di wilayah


perencanaan.
b. Analisis Mikro

Analisis mikro meliputi:

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 58


USULAN TEKNIS

a. Analisis Tapak (Site Analysis), antara lain menilai:

Orientasi Terhadap Matahari.

Topografi.

Struktur Keruangan.

Pola Sirkulasi.

Drainase.

b. Analisis kependudukan, antara lain menilai:

Kecenderungan pertambahan, kecenderungan penyebaran dan karakteristik


sosial budaya.
c. Analisis perekonomian, antara lain menilai:

Kecenderungan perkembangan dan perkiraan di masa depan tiap sektor


kegiatan ekonomi dalam hal kapasitas investasi, penyerapan tenaga
kerja, produksi, sifat-sifat kegiatan dan perkiraan kebutuhan investasi.

Karakteristik kelembagaan bidang usaha dan koperasi.

d. Analisis Komponen dan Kebutuhan Ruang, antara lain menilai:

Analisis komponen ruang, seperti: Sekretariat Daerah/DPRD, Dinas


Daerah, lembaga teknis daerah.

Analisis kebutuhan ruang, seperti: kebutuhan ruang untuk fasilitas penun


jang kegiatan

Analisis Keterkaitan/Hubungan Fungsional Antar Komponen.

e. Analisis bentuk dan struktur, antara lain menilai:

Keadaan fisik dasar alamiah dalam hal kemampuan menerima kegiatan


pembangunan.

Keadaan tata guna tanah, yang diarahkan untuk dapat menggambarkan


kecenderungan lokasi berbagai kegiatan.

Sistem hubungan antara berbagai fungsi yang bekerja pada kehidupan


sosial ekonomi masyarakat.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 59


USULAN TEKNIS

f. Analisis keadaan fasilitas dan prasarana, antara lain menilai:

Karakteristik keadaan fasilitas dan prasarana di Kawasan perencanaan


baik yang melayani kegiatan kota mapun kegiatan wilayah hinterlandnya.

Perkiraan kebutuhan fasilitas dan prasarana untuk melayani kegiatan


regional dan kawasan, yang menyangkut jenis dan jumlah serta
kemungkinan penyediannya.

Perkiraan sistem pusat pelayanan yang dibutuhkan dalam hal


pengelompokan fasilitas dan prasarana, jenjang pelayanan dan pola
jaringan antara pusat pelayanan.

g. Analisis khusus unsur-unsur utama kawasan perencanaan, antara lain


menilai:

Karakteristik penginapan, dalam hal keadaan sosial ekonomi penghuni,


keadaan fisik perumahan, kebutuhan prasarana lingkungan dan fasilitas
sosial lingkungan, dan lain sebagainya.

Karakteristik kawasan pusat komplek pelayanan wisata, penggunaan


bangunan, keadaan fisik bangunan, tingkat efisiensi dan intensitas
penggunaan bangunan dan lain sebagainya.

Karakteristik dalam hal pola jaringan jalan angkutan yang ada, keadaan
alat/jenis angkutan, kecenderungan perkembangan kebutuhan di masa
depan dan sebagainya.

h. Analisis Penggalian Ciri Arsitektur Lokal, antara lain menilai:

Ciri arsitektur lokal sebagai masukan untuk perumusan tata bangunan dan
lingkungan.
c. Analisis Zonasi

Dalam UU No. 11 Tahun 2010 Pasal 72 mengatur mengenai penetapan batas-


bataskeluasan dan pemanfaatan ruang dalam situs dan kawasan berdasarkan
kajian, sedangkan Pasal 73 Ayat (3). Sistem zonasi dapat terdiri dari: a. zona
inti, b. zona penyangga, c. zona pengembangan, dan/atau d. zona penunjang.
Selain itu dalam pasal yang sama pada Ayat (4) dijelaskan bahwa penetapan
luas, tata letak, dan fungsi zona ditentukan berdasarkan hasil kajian dengan
mengutamakan peluang peningkatan kesejahteraan rakyat.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 60


USULAN TEKNIS

Model Analisis Fisik Lingkungan/Analisis Tapak (Site Analysis)


Metode ini digunakan untuk mengetahui kecocokan kondisi fisik dasar wilayah
perencanaan dengan tujuan ideal yang diinginkan. Untuk menganalisis ini
diperlukan kondisi fisik wilayah beserta peta tata guna lahan. Pada intinya metode
ini dilakukan dengan overlay beberapa buah peta konidisi fisik tertentu.

Analisis Kebutuhan Ruang


Penggunaan model kebutuhan lahan ini adalah untuk mengetahui proyeksi luasnya
kebutuhan lahan setiap sektor di kawasan tertentu dengan adanya Penyusunan
DED Masterplan Kota Rantepao Standar mempunyai pengertian dan jenis cakupan
yang cukup luas, tergantung dari penggunaannya, penerapan dan sifatnya.
Umumnya standar mempunyai tujuan umum yaitu sebagai alat kendali, pembatas
dan pengawasan. Standar itu sendiri merupakan suatu pernyataan, ketentuan atau
ketetapan yang dianggap sebagai acuan mengenai karakteristik suatu lingkungan
yang dikehendaki (Statement about desirable characteristicts of environment,
Lynch, 1984)
Dalam proses penetapan suatu standar kadang-kadang melalui proses yang tidak
ilmiah. Tetapi melalui proses yang kebetulan atau intiusi. Suatu standar mungkin
muncul dari pandangan pribadi seorang pakar yang dibahas oleh kelompok ahli
yang potensial yang kemudian disepakati sebagai suatu standar yang dapat
diterima oleh berbagai kondisi. Selanjutnya standar tercatat dalam literatur dan
kemudian disebar luaskan secara luas/nasional dan akhirnya standar itu diakui
sebagi suatu yang menjadi landasan hukum.
Beberapa standar (seperti garis sempadan, floor area ratio, building coverage ratio,
ketentuan-ketentuan untuk menjaga kelestarian lingkungan, kesehatan dan
kesejahtraan) merupakan standar yang banyak sekali menuntut pertimbangan dari
berbagai aspek.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 61


USULAN TEKNIS

Analisis Transportasi
Pengembangan jaringan jalan dan pengaturan mengenai transportasi untuk
menghubungkan pusat-pusat kegiatan yang ada, yang direncanakan, maupun untuk
mengarahkan perkembangan kawasan, dilakukan dengan metoda-metoda antara
lain:
A. Nilai Aksesibilitas

Terdapat 4 faktor utama yang menjadi dasar pertimbangan penilaian aksesibilitas,


yaitu fungsi jalan, konstruksi jalan, kondisi jalan dan jarak antar titik.
FKT
A = ---------
d

Dimana:
A = Nilai Aksesibilitas
F = Fungsi Jalan (Arteri, Kolektor, Lokal)
K = Konstruksi Jalan (Aspal, Perkerasan, Tanah)
T = Kondisi Jalan (Baik, Sedang, Buruk)
d = Jarak

Asumsi yang digunakan dalam menghitung nilai asesibilitas dengan metoda ini adalah
sebagai berikut:
Relief topografi dianggap sama;

Selera/faktor sosial diabaikan;

Hanya ada satu jalan ke tempat yang dituju.

B. Indeks Aksesibilitas

Ej
Ai = ---------- b
dij

Dimana:
Ai = Indeks Aksesibilitas
Ej = Ukuran Aktivitas (dapat digunakan antara lain jumlah penduduk usia kerja)
dij = Waktu tempuh perjalanan antara i dan j

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 62


USULAN TEKNIS

b = Parameter

Perhitungan parameter b, dilakukan dengan menggunakan grafik regresi linier, diperoleh


berdasarkan perhitungan:
T
b = ----------
P

Dimana:
T = Total perjalanan individu
P = Jumlah penduduk di seluruh daerah

Pi Pj
Tij = k ----------
P

Dimana :
Tij = Volume perjalanan hipotesis
PiPj = Jumlah penduduk di daerah I dan j
P = Jumlah penduduk seluruh daerah

Pengukuran Nilai Volume/Kapasitas (V/C)

Pengukuran ini dilakukan untuk menilai tingkat kemampuan pelayanan jaringan


jalan dalam menampung kendaraan. Volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan
yang melewati suatu penggal jalan persatuan waktu menurut kecepatan
kendaraan yang direncanakan pada penggal jalan tersebut. Nilai volume per
kapasitas jalan, dilakukan dengan fungsi dari jalan tersebut. Adapun besar V/C
dari hasil perhitungan tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
V/C > 1 : Volume kendaraan lebih kecil dari kapasitas jalan, atau kapasitas
jalan masih lebih besar daripada volume kendaraan yang melalui jalan
tersebut. Dengan demikian tingkat pelayanan jalan (level of
Service/LOS) masih cukup baik.
V/C = 1 : Volume kendaraan sama besar dengan kapasitas jalan, atau kapasitas
jalan yang tersedia masih dapat menampung volume kendaraan yang
melalui jalan tersebut. Besaran ini mencerminkan bahwa tingkat
pelayanan jalan mulai menurun dan menimbulkan tundaan. Hal ini perlu

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 63


USULAN TEKNIS

adanya antisipasi dalam permasalahan yang akan timbul akan


peningkatan lalu lintas di masa yang akan datang.
V/C > 1 : Volume kendaraan lebih besar dari kapasitas jalan, atau kapasitas
jalan yang tersedia sudah tidak mampu lagi untuk menampung volume
lalu lintas yang melewati jalan tersebut. Kondisi ini mencerminkan
tingkat pelayanan jalan relatif buruk akibat adanya peningkatan volume
lalu lintas yang tidak diiringi dengan penambahan kapasitas jalan yang
ada.

C. Penilaian Kondisi Jalan

Penilaian kondisi jalan ini bertujuan untuk mendukung penilaian tingkat


kemampuan pelayanan jaringan jalan dalam menghubungkan suatu kawasan
(lokasi) dengan kawasan (lokasi) lainnya. Penilaian kondisi jalan dengan
melakukan analisis terhadap kondisi jalan (baik, sedang, buruk), konstruksi
jalan (aspal, perkerasan, tanah) dan dikaitkan dengan fungsi jalan tersebut
(arteri, kolektor, lokal)
D. Analisis Multiple Regresi

Metoda yang populer dalam analisa bangkita lalu lintas diperkirakan dengan
metoda analisa Multiple Regresi. Multiple Regresi menunjukkan hubungan
antara perjalan tiap zone dengan berbagai kegiatan sosial-ekonomi pada zone
tersebut.
Persamaan yang dipakai yaitu :
y = b0 + b1X1 + + bkXk

Dimana:
Y = Variabel tidak bebas, yaitu perjalanan yang ditimbulkan atau ditarik oleh
sebuah zone
X1X2, Xk = Variabel bebas, yaitu penyebab timbulnya bengkitan perjalanan
B01b1, bk = Koefisien regresi yang dikalibrasi/dihasilkan dari data sosial ekonomi
yang digunakan (misalnya penduduk income perkapita, pemilikan
kendaraan dan sebagainya).

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 64


USULAN TEKNIS

E. Pembagian Perjalanan

Trip Distribution merupakan langkah analisis tentang perjalanan yang ditimbulkan dan
ditarik oleh setiap zone (didistribusikan ke berbagai zone lainnya)

Model yang digunakan adalah Grafiti Potensial Model. Prinsip model ini adalah
perjalanan antara dua zone (i dan j) proporsional langsung dengan perjalanan yang
ditarik oleh zone j.

Bentuk modelnya adalah :


Gi Aj. Fij
Tij = ----------------
n Aj. Fij
j-i

Dimana :
Tij = Jumlah perjalanan dari zone i ke zone j.
Gi = Perjalanan-perjalanan yang ditimbulkan oleh zone i.
Aj = Perjalanan-perjalanan yang ditarik oleh zone j.
Fij = Faktor interaksi antara i dan j (makin besar angkanya menyatakan hubungan yang
paling erat, dan berarti trip semakin besar antara i dan j, biasanya antara 0-1)
N = Jumlah zone

F. Model Gravitasi

Model gravitasi merupakan salah satu model pendekatan yang melihat atau menilai
hubungan antar daerah. Dalam analisis daerah atau kawasan perencanaan,
pengelompokkan penduduk, pemusatan kegiatan, atau potensi sumber daya alam,
dianggap mempunyai daya tarik yang dapat dianalogikan dengan daya tarik magnet.
Model ini lebih banyak digunakan dalam analisis perangkutan yang menilai besarnya
interaksi antar dua wilayah yang diukur melalui besarnya arus lalu lintas.
Adapun cara matematis jumlah perjalanan yang dilakukan penduduk dari suatu wilayah ke
wilayah sekitarnya adalah sebagai berikut:

P1 . Pj
Tij = k -----------
P

Dimana:

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 65


USULAN TEKNIS

Tij = Jumlah perjalanan dari sub daerah i ke daerah j


K = Angka jumlah perjalanan rata-rata
Pi = Jumlah penduduk di sub daerah i
P = Jumlah penduduk seluruh daerah

Metoda Analisis Kelembagaan dan Sumber Pembiayaan


Metoda analisis yang digunakan untuk analisis kebijakan dan kelembagaan
adalah metoda analisis kualitatif. Analisis ini dipergunakan untuk mengetahui:
1. Kesiapan lembaga pemerintah dan non pemerintah dalam menjalani
mengembangkan kawasan;

2. Kesiapan sumber daya manusia dalam pengelolaan lembaga pemerintah


dan non pemerintah;

3. Efisiensi lembaga-lembaga pemerintah dan non pemerintah yang dibutuhkan


dalam otonomi daerah untuk mengembangkan kawasan;

4. Menggali dan mencari sumber-sumber pendanaan;

5. Pengelolaan/manajemen sumber-sumber pembiayaan pembangunan;

6. Mengetahui pos-pos pemasukan dan pengeluaran belanja daerah.

Metoda analisis yang dipakai untuk analisis sektoral adalah metoda scalling
technique dan win-win solution. Analisis pembobotan/scallong tachnique
digunakan untuk menentukan prioritas pelaksanaan kebijakan. Sedangkan
metoda win-win solution digunakan untuk menghasilkan output kebijakan, berupa
tindakan nyata dalam merealisasikan kebijakan.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 66


USULAN TEKNIS

Analisis Bangunan Dan Lingkungan


A. Pengaturan Garis Sempadan

Yang dimaksud dengan garis sempadan bangunan adalah garis yang tidak boleh
dilampaui oleh denah bangunan ke arah garis sempadan yang ditetapkan dalam rencana
tata ruang Kawasan perencanaan. diantaranya:
1. Jalan

Kawasan sempadan jalan adalah kawasan sepanjang jaringan jalan, yang mempunyai
sifat manfaat penting untuk memperlancar arus kendaraan dan menjaga keamanan
bangunan dan pejalan kaki di tepi jalan. Ketentuan garis sempadan jalan adalah:
Selebar 8 meter dikiri dan kanan jalan arteri primer;

Selebar 6 meter dikiri dan kanan jalan kolektor primer;

Selebar 4 meter di kiri dan kanan jalan kolektor sekunder;

Selebar 2 meter di kiri dan kanan jalan lokal.

Sempadan jalan di kawasan perencanaan dilengkapi dengan pavement untuk pejalan


kaki dan taman disepanjang tepi jalan yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat
pembibitan tanaman. Alternatif desain sempadan disajikan pada gambar berikut:

Gambar C.1
Desain Sempadan Jaringan Jalan

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 67


USULAN TEKNIS

2. Sungai

Kawasan sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk
sungai buatan/kanal; yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan
kelestarian fungsi sungai.
Tujuan ditetapkannya kawasan sempadan sungai adalah untuk melindungi sungai dari
kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi
fisik pinggir dan dasar sungai, serta mengamankan aliran sungai
Kriteria yang ada dalam memberikan perlindungan terhadap kawasan sempadan
sungai adalah sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter
di kiri kanan anak sungai yang berada diluar permukiman
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penataan sempadan sungai adalah :
Sungai-sungai tersebut harus sebagai pusat orientasi (bukan sebagai daerah
belakang)

Perlu adanya pembenahan di sepanjang aliran sungai, supaya aspek visualnya


dapat ditingkatkan

3. Listrik

Kawasan sempadan listrik adalah kawasan sepanjang kiri kanan jalur tegangan tinggi
yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi tegangan tinggi

Persyaratan Teknis Dalam Bangunan dan Kontruksi

Secara umum persyaratan teknis bangunan gedung harus mengikuti ketentuan tata
cara mendirikan bangunan gedung, yaitu SNI No. 03-1728-1989, Keputusan
Menteri Pekerjaan Umum No. 02/KPTS/1985 tentang ketentuan pencegahan dan
penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung standar teknis lainnya.
Persyaratan tata bangunan dan lingkungan bangunan gedung meliputi ketentuan-
ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembangunan bangunan gedung dari segi
tata bangunan dan lingkungan yaitu:
a. Peruntukan ruang
bangunan gedung negara harus memenuhi persyaratan peruntukan ruang dan
persyaratan fungsi yang telah ditetapkan.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 68


USULAN TEKNIS

b. Jarak Antar blok/Massa bangunan


Sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan daerah setempat tentang
bangunan, maka jarak antar blok/masa bangunan harus mempertimbangkan hal-
hal sebagai berikut:
Keselamatan terhadap bahaya kebakaran

Kesehatan, termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan

Kenyamanan

c. Ketinggian bangunan
Ketinggian bangunan harus mengikuti peraturan dan pedoman yang berlaku di
kawasan perencanaan.
d. Ketinggian langit-langit
Ketinggian langit-langit bangunan gedung kantor minimum adalah 2,80 meter
dihitung dari permukaan lantai. Untuk bangunan gedung olah raga, ruang
pertemuan, dan bangunan lainnya dengan fungsi yang memerlukan ketinggian
langit-langit khusus, agar mengikuti standar nasional yang berlaku.
e. Koefesien Dasar Bangunan (KDB)
Ketentuan besarnya Koefesien Dasar Bangunan (KDB) mengikuti ketentuan yang
di akan diatur dalam Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
(UDGL) Koridor Utama.
f. Koefesien Lantai Bangunan (KLB)
Koefesien Lantai Bangunan (KLB) ketentuannya mengikuti peraturan daerah yang
akan disusun dalam penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
g. Koefesien Daerah Hijau (KDH)
Perbandingan antara luas seluruh daerah hijau dengan luas persil bangunan,
sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan daerah setempat dengan
mempertimbangkan:
Daerah resapan air

Ruang terbuka hijau

Untuk bangunan gedung yang mempunyai KDB kurang dari 40 % harus


mempunyai KDH minimum 15 %.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 69


USULAN TEKNIS

h. Garis Sempadan Bangunan


Ketentuan besarnya garis sempadan, baik garis sempadan pagar maupun garis
sempadan bangunan harus mengikuti ketentuan yang diatur dalam peraturan
daerah setempat tentang bangunan untuk lokasi yang bersangkutan.
i. Wujud Arsitektur
Wujud arsitektur Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (UDGL) Koridor
Utama harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
Mencerminkan fungsi sebagai bangunan gedung pemerintahan

Seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya

Indah namun tidak berlebihan

Efisien dalam penggunaan sumber daya

Memenuhi tuntunan sosial budaya setempat

Pelestarian bangunan bersejarah

j. Kelengkapan Sarana dan Prasarana Lingkungan


Bangunan gedung kawasan perkantoran Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan (UDGL) Koridor Utama harus dilengkapi dengan prasarana bangunan
yang memadai, dengan biaya pembangunannya diperhitungkan sebagai
pekerjaan non standar. Sarana dan prasarana bangunan yang harus ada pada
bangunan gedung pemerintahan adalah:
Sarana parkir kendaraan

Sarana penyandang cacat

Sarana penyedian air bersih

Sarana drainase, limbah dan sampah

Sarana ruang terbuka hijau

Sarana hidran kebakaran halaman

Sarana penerangan halaman

k. Persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) dan asuransi


Setiap pembangunan bangunan gedung harus memenuhi persyaratan K3,
sesuai yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 70


USULAN TEKNIS

dan Menteri Pekerjaan Umumn Nomor: Kep. 174/MEN/1986 dan 104/KPTS/1986


tentang keselamatan dan kesehatan kerja pada tempat kegiatan konstruksi.

Ketentuan asuransi selama pelaksanaan pembangunan bangunan gedung


negara mengikuti ketentuan yang berlaku.

TEKNIK-TEKNIK YANG DIGUNAKAN

Beberapa model analisis yang akan digunakan untuk mengkaji aspek-aspek


Kawasan perencanaan adalah sebagai berikut:
A. Model Analisis Fisik Lingkungan/ Analisis Tapak (Site Analysis)

Metode ini digunakan untuk mengetahui kecocokan kondisi fisik dasar wilayah
perencanaan dengan tujuan ideal yang diinginkan. Untuk menganalisis ini
diperlukan kondisi fisik wilayah beserta peta tata guna lahan. Pada intinya metode
ini dilakukan dengan overlay beberapa buah peta konidisi fisik tertentu.
B. Analisis Kebutuhan Ruang

Penggunaan model kebutuhan lahan ini adalah untuk mengetahui proyeksi


luasnya kebutuhan lahan setiap sektor di kawasan tertentu dengan adanya
Penyusunan Masterplan Balai Perawatan Perkeretaapian.
Standar mempunyai pengertian dan jenis cakupan yang cukup luas, tergantung
dari penggunaannya, penerapan dan sifatnya. Umumnya standar mempunyai
tujuan umum yaitu sebagai alat kendali, pembatas dan pengawasan.
Standar itu sendiri merupakan suatu pernyataan, ketentuan atau ketetapan yang
dianggap sebagai acuan mengenai karakteristik suatu lingkungan yang
dikehendaki (Statement about desirable characteristicts of environment, Lynch,
1984)
Dalam proses penetapan suatu standar kadang-kadang melalui proses yang tidak
ilmiah. Tetapi melalui proses yang kebetulan atau intiusi. Suatu standar mungkin
muncul dari pandangan pribadi seorang pakar yang dibahas oleh kelompok ahli
yang potensial.
Kemudian disepakati sebagai suatu standar yang dapat diterima oleh berbagai
kondisi. Selanjutnya standar tercatat dalam literatur dan kemudian disebar
luaskan secara luas/nasional dan akhirnya standar itu diakui sebagi suatu yang
menjadi landasan hukum.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 71


USULAN TEKNIS

Beberapa standar (seperti garis sempadan, floor area ratio, building coverage
ratio, ketentuan-ketentuan untuk menjaga kelestarian lingkungan, kesehatan dan
kesejahtraan) merupakan standar yang banyak sekali menuntut pertimbangan
dari berbagai aspek. Karena itu setiap standar yang ada harus selalu dikaji:
Apakah ketentuan mengenai ukuran bentuk memang benar-benar
memberikan persyaratan kenyamanan kenikmatan yang dikehendaki
masyarakat?

Apakah persyaratan kenyamanan dan kenikmatan tersebut sesuai dengan


kemampuan masyarakat?

Sehingga standar selalu diuji dan kemudian disempurnakan secara berkala


agar benar-benar merupakan persyaratan yang paling cocok bagi lingkungan
dan masyarakat setempat.

Pengukuran Nilai Volume/Kapasitas (V/C)

Pengukuran ini dilakukan untuk menilai tingkat kemampuan pelayanan jaringan


jalan dalam menampung kendaraan. Volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan
yang melewati suatu penggal jalan persatuan waktu menurut kecepatan
kendaraan yang direncanakan pada penggal jalan tersebut. Nilai volume per
kapasitas jalan, dilakukan dengan fungsi dari jalan tersebut.
Adapun besar V/C dari hasil perhitungan tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
V/C > 1 : Volume kendaraan lebih kecil dari kapasitas jalan, atau kapasitas
jalan masih lebih besar daripada volume kendaraan yang melalui jalan tersebut.
Dengan demikian tingkat pelayanan jalan (level of Service/LOS) masih cukup
baik.
V/C = 1 : Volume kendaraan sama besar dengan kapasitas jalan, atau kapasitas
jalan yang tersedia masih dapat menampung volume kendaraan yang melalui
jalan tersebut. Besaran ini mencerminkan bahwa tingkat pelayanan jalan mulai
menurun dan menimbulkan tundaan. Hal ini perlu adanya antisipasi dalam
permasalahan yang akan timbul akan peningkatan lalu lintas di masa yang akan
datang.
V/C > 1 : Volume kendaraan lebih besar dari kapasitas jalan, atau kapasitas
jalan yang tersedia sudah tidak mampu lagi untuk menampung volume lalu lintas
yang melewati jalan tersebut. Kondisi ini mencerminkan tingkat pelayanan jalan

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 72


USULAN TEKNIS

relatif buruk akibat adanya peningkatan volume lalu lintas yang tidak diiringi
dengan penambahan kapasitas jalan yang ada.
Kepadatan bangunan sedang yang ideal tidak kurang 40 bangunan/ha
sebagaimana diataur dalam Keputusan Menteri PU No. 378/KPTS/1987.
Klasifikasi kepadatan bangunan berdasarkan KDB dapat dilihat sebagai berikut:
Sangat rendah < 10 bangunan/ha

Rendah 11 40 bangunan/ha

Sedang 41 60 bangunan/ha

Tinggi 61 80 bangunan/ha

Sangat Tinggi > 81 bangunan/ha

Prinsip yang digunakan dalam penetapan kepadatan bangunan adalah sebagai


berikut:
Kepadatan bangunan perlu memperhatikan ruang kawasan perencanaan
yang tercipta akibat adanya bangunan-bangunan

Pemanfaatan ruang dengan fungsi konservasi, meminimalkan penggunaan


ruang untuk kawasan terbangun dan memperbesar ruang terbuka hijau.

Menciptakan suasana asri dan alamiah, dengan menciptakan ketenangan


dan kenyamanan

Penetapan kepadatan bangunan dapat dilihat pada tabel.


Tabel 6-1 Penetapan Kepadatan Bangunan

a) Koefesien Dasar Bangunan (KDB)

Koefesien Dasar Bangunan (KDB), adalah rasio perbandingan luas lahan terbangun
(land coverage) dengan luas lahan keseluruhan. Batasan KDB dinyatakan dalam (%)

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 73


USULAN TEKNIS

Selain mempertimbangkan kecenderungan perkembangan Kawasan perencanaan dan


rencana pemanfaatan lahan, penentuan KDB juha didasarkan atas kondisi fisik, seperti
kemiringan lereng. Diagram di bawah ini menyajikan hubungan antara kemiringan tanah
dengan KDB maksimum, dengan asumsi kemiringan lahan maksimum yang
diperkenankan adalah 40 % (gambar).
Gambar Error! No text of specified style in document.-3 Hubungan Antaran KDB
Maksimum Dengan Kemiringan

b) Koefesien Lantai Bangunan (KLB)

Koefisien Lantai Bangunan (KLB) adalah rasio perbandingan luas lantai blok peruntukan
dengan luas lahan keseluruhan. Batasan KLB dinyatakan dalam desimal.
Ketentuan teknis KLB adalah sebagai berikut:
KLB sangat rendah untuk bangunan tidak bertingkat dan bertingkat maksimum 2
lantai

KLB rendah untuk bangunan bertingkat maksimum 4 lantai

KLB sedang untuk bangunan bertingkat 8 lantai

KLB tinggi untuk bangunan bertingkat maksimum 9 lantai

KLB sangat tinggi untuk bangunan bertingkat maksimum 20 lantai

c) Ketinggian Bangunan

Ketinggian bangunan ialah suatu nilai yang menyatakan jumlah lapis/lantai (storey)
maksimum pada petak lahan. Ketinggian bangunan dinyatakan dalam satuan lapis atau

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 74


USULAN TEKNIS

lantai (Lantai dasar = 1 lantai) atau meter. Perhitungan ketinggian bangunan dapat
ditentukan sebagai berikut :
1. Ketinggian ruang pada lantai dasar ditentukan dengan fungsi ruang dan arsitektur
bangunannya

2. Dalam hal perhitungan ketinggian bangunan, apabila jarak vertikal dari lantai penuh
kelantai penuh berikutnya lebih dari 5 meter, maka ketinggian bangunan dianggap
sebagai dua lantai.

3. Mezanine yang luasnya 50 % dari luas lantai dasar dianggap sebagai lantai penuh

4. Terhadap bangunan tempat ibadah, gedung pertemuan, gedung pertunjukan, gedung


sekolah, bangunan monumental, gedung olah raga, bangunan serbaguna, dan
bangunan sejenis lainnya tidak berlaku sebagaimana butir 2.

5. Apabila tinggi tanah perkarangan berada dibawah titik ketinggian (peil) bebas banjir
atau terdapat kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang besar pada tanah
asli suatu perpetakan, maka tinggi maksimum lantai dasar ditetapkan oleh instansi
yang berwenang mengeluarkan IMB.

6. Pada bangunan rumah tinggal kopel, apabila terdapat perubahan atau penambahan
pada ketinggian bangunan, harus tetap diperhatikan kaidah-kaidah arsitektur
bangunan kopel.

Klasifikasi ketinggian bangunan dapat dilihat pada tabel dibawah ini


Tabel Error! No text of specified style in document.-2 Klasifikasi Ketinggian Bangunan

d) Jarak Bebas Bangunan

Selain dikenal kendala batasan intensitas, perlu diatur pula jarak bangunan yang
diperbolehkan untuk dibangun dari batas daerah perencanaan.
Dalam perencanaan ruang atau lingkungan bangunan, harus dibuat perencanaan
tapak menyeluruh yang mencakup rencana sirkulasi kendaraan, orang dan

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 75


USULAN TEKNIS

barang, pola parkir, pola penghijauan, ruang terbuka, saran dan prasarana
lingkungan, dengan memperhatikan keserasian terhadap lingkungan dan sesuai
dengan standar lingkungan yang ditetapkan.
Ketentuan jarak bebas bangunan diuraikan sebagai berikut :
Ruang terbuka diantara GSJ dan GSB harus digunakan sebagai unsur
penghijauan dan atau daerah resapan air hujan serta kepentingan umum
lainnya

Bagian/unsur bangunan yang terletak didepan GSB yang masih


diperbolehkan adalah:

Detail atau unsur bangunan akibat keragaman rancangan arsitektur


dan tidak digunakan sebagai ruang kegiatan

Detail atau unsur bangunan akibat rencana perhitungan struktur dan


atau instalasi bangunan

Unsur bangunan yang diperlukan sebagai sarana sirkulasi

Dengan memasukkan peraturan bangunan, jarak bebas samping dan belakang


bangunan ditinjau dari ketinggian bangunan disajikan gambar tentang jarak
bebas dan ketinggian bangunan.

Gambar Error! No text of specified style in document.-4 Jarak Bebas dan Ketinggian
Bangunan

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 76


USULAN TEKNIS

C. Analisis Tata Ruang

Konsep tata ruang adalah analisis cara-cara dasar bagaimana mengatur dan
mengorganisir ruang dalam suatu kawasan.
Dasar pertimbangan dalam analisis tata ruang adalah:
Adanya ruang dengan fungsi khusus/bentuk khusus

Berfungsi tunggal

Memiiliki fungsi-fungsi yang serupa dan dapat dikelompokan

Penggunaan yang fleksibel/bebas

Harus dipisah untuk mendapatkan suasana tertentu

1) Organisasi Ruang

a) Organisasi terpusat

Komposisi terpusat yang terdiri dari sejumlah ruang-ruang sekunder


dikelompokkan mengelilingi suatu ruang pusat yang luas dan dominan.

Ruang sekunder mungkin seimbang satu sama lain dalam fungsi, bentuk dan
ukuran agar menciptakan konfigurasi keseluruhan teratur dan simetris terhadap
sumbu-sumbunya.
b) Organisasi Linier

Komposisi terdiri dari sederetan ruang-ruang yang berulang yang mirip dalam
ukuran, bentuk dan fungsi, namun dapat pula berbeda pada ketiga hal tersebut.
Ruang yang secara fungsional dan simbolis penting, ditegaskan oleh ukuran
maupun bentuknya, lokasi dalam deretan (di ujung, keluar barisan, pada titik
poros)
Sifat: menunjukkan arah, mengggambarkan gerak.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 77


USULAN TEKNIS

c) Organisasi Radial

Komposisi yang menggabungkan unsur-unsur organisasi terpusat dan linier.


Terdiri dari ruang pusat yang dominan dan sejumlah organisasi linier berkembang
seperti jaringa lengan,
linier mungkin mirip satu sama lain dalam bentuk dan panjang, namun dapat pula
berbeda satu sama lain.

d) Organisasi Cluster

Komposisi yang menggunakan cara perletakan sebagai dasar untuk


menghubungkan suatu ruang dengan ruang yang lain. Organisasi kluster dapat
menerima organisasi dalam komposisinya ruang-ruang yang berlainan dalam
ukuran, bentuk dan fungsinya.
Berhubungan satu sama lain berdasarkan perletakan dan aturan visual seperti
simetri dan sumbu.

Sifat: luwes, dapat menerima perubahan asal tidak mempengaruhi


karaktersitiknya.
e) Organisasi Grid

Terdiri dari bentuk-bentuk dan ruang dimana posisinya dan hubungannya satu
sama lain diatur oleh pola grid.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 78


USULAN TEKNIS

Grid dibentuk dengan menetapkan pola teratur dari titik-titik yang menentukan
pertemuan-pertemuan dari 2 set garis-garis sejajar.

Sifat: teratur keutuhan pola.


2) Kualitas Ruang

3) Hubungan antar ruang

4) Pengelompokan Bentuk Berdasarkan Kualitas-Kualitasnya

Perhubungan bentuk ke bentuk yang spesifik

a) Muka ke muka

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 79


USULAN TEKNIS

b) Sudut ke sudut

c) Tepi ke tepi

d) Pusat ke Pusat

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 80


USULAN TEKNIS

Program Kerja
A. Strategi Dasar

Dalam pelaksanaan pekerjaan Penyusunan DED Masterplan Kota Rantepao,


digunakan strategi dasar yang menjadi jiwa dalam setiap pelaksanaan tahap-
tahap kegiatan, yakni:
Inovasi, artinya bahwa sebagai penterjemahan ide yang relatif baru.

Akuntabilitas, artinya bahwa semua pelaksanaan yang dilakukan harus


dapat dipertanggung jawabkan dikemudian hari dan terukur, terutama dalam
pengelolaan data primer dan sekunder.

Optimasi, artinya bahwa baik proses maupun hasil, berjalan seoptimal


mungkin dan memuaskan semua pihak.

Kerjasama, artinya bahwa pekerjaan ini memerlukan kerja sama yang erat
dengan instansi lain, maupun seluruh stakeholder, terutama pada saat
pengumpulan data sekunder dan primer serta perumusan konsep-konsep
pemanfaatan dan pengendalian ruang kawasan.

B. Strategi Operasional

Perlunya strategi operasional dalam pelaksanaan pekerjaan Penyusunan DED


Masterplan Kota Rantepao ini adalah untuk menjamin agar kinerja dari
pelaksanaan operasional tetap terjaga, sehingga dapat mencapai tujuan dan
sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.
Strategi operasional ini adalah:
1. Manajemen Pengelolaan Program

Agar program kerja Penyusunan DED Masterplan Kota Rantepao berjalan sesuai
target yang telah direncanakan sebelumnya, maka perlu adanya strategi untuk
mengelola program. Strategi ini meliputi pengumpulan data, pelaporan (reporting) dan
dapat dipertanggungjawabkan (reliable).
Pengumpulan data (colecting data)

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 81


USULAN TEKNIS

Untuk keperluan analisis, diperlukan pengumpulan data awal baik data primer
maupun sekunder.

Pelaporan (reporting)

Untuk mendokumentasikan semua hasil kegiatan diciptakan sistem


pelaporan. Pelaporan ini dilaksanakan sejak dimulainya pekerjaan (setelah
diterimanya SPK) sampai dengan selesainya pekerjaan.
Bisa dipertanggungjawabkan (reliable)

Yang sangat penting dipertahankan bahwa setiap hasil kerja dari konSitus ini
harus bisa dipertahankan kehandalannya.
2. Koordinasi Secara Simultan

Pelaksanaan pekerjaan ini melibatkan banyak pihak terutama pada tahap


pengumpulan data, diskusi/dialog, seminar dengan para pihak terkait. Koordinasi yang
baik dari Team Leader sangat penting untuk dilaksanakan, koordinasi yang dilakukan
dapat berupa :
Konsultasi yang intensif dengan Tim Teknis.

Kontrol yang dilaksanakan secara terus menerus terhadap kemajuan pekerjaan,


sehingga setiap penyimpangan yang terjadi dapat diketahui secara dini dan dapat
dipecahkan.

Berhubungan secara intensif dengan pihak pemberi data (seluruh stakeholder).

C. Strategi Penanganan Pekerjaan

Pada penanganan pekerjaan Penyusunan DED Masterplan Kota Rantepao,


penekanan lebih kepada upaya pencapaian sasaran yang diinginkan, tidak
semata-mata untuk mencapai produk fisik semata. Dengan demikian pelaksanaan
pekerjaan ini sangat menekankan pada tahap proses yang akan menunjang
tercapainya sasaran yang diinginkan. Pendekatan penanganan pekerjaan sangat
berkaitan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam perumusan konsep pekerjaan.
Pihak-pihak yang terlibat dalam pekerjaan sebelum merancang langkah-langkah
konkrit dalam penanganan pekerjaan ini, maka terlebih dahulu perlu
diidentifikasikan pihak-pihak yang terlibat dalam proses perencanaan. Secara

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 82


USULAN TEKNIS

garis besar ada tiga pihak yang terlibat dalam pekerjaan Penyusunan DED
Masterplan Kota Rantepao yaitu sebagai berikut :
1. Pihak Pemerintah, yang diwakili oleh pejabat-pejabat pemerintah yang terkait
memberikan arahan pada pekerjaan ini dan menyediakan data baik sekunder
maupun primer yang diperlukan.

2. Pihak Masyarakat, menyediakan dan mengoreksi data tentang pemanfaatan


ruang di wilayah yang akan direncanakan maupun aspirasi mereka untuk
masukan bagi kegiatan ini.

3. Pihak KonSitus, yang berperan aktif untuk memperoleh dan mengumpulkan


data yang diperlukan sebagai bahan analisis dalam penyelesaian pekerjaannya.

6.1. TEKNIK PELAKSANAAN PEKERJAAN


Tahap Pekerjaan Perencanaan:
6.3.1 Tahap Persiapan dan Survey
Tahap Persiapan dan survey Lapangan untuk pengumpulan data dan penelitian
tanah kegiatan dimulai overlapping dengan masa Persiapan yang dirinci sebagai
berikut:
1. Persiapan
Pekerjaan- pekerjaan yang akan dilaksanakan antara lain adalah :
Persiapan Administrasi * personil
Mempersiapkan perlengkapan dan bahan-bahan
Mengadakan pengecekan/kalibrasi alat-alat yang akan diperlukan.
Mempersiapkan format peta diatas kertas dan formulir-formulir pengukuran.
Collecting data hasil survai terdahulu, gambar-gambar rencana master plan
dan pengumpulan peta - peta terkait.
Pembentukan organisasi pelaksana, penugasan personil dan penyediaan
peralatan survei dan peralatan studio
Penyediaan akomodasi, transportasi dan perlengkapan lain
Koordinasi dengan Pihak Pemberi Kerja
Membuat Rencana Kerja terinci dan Peta Rencana Kerja.
2. Klarifikasi Acuan Tugas (TOR)
Klarifikasi dengan Pemberi Tugas dilakukan konsultan dalam hal ini Team
leader didampingi Koordinator Perancangan untuk lebih menetapkan tugas dan
tanggung jawab konsultan yang lebih rinci, lengkap dan jelas mengacu kepada

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 83


USULAN TEKNIS

Kerangka Acuan Tugas (TOR) sehingga tidak ada keraguan dalam peleksanakan
pekerjaan, dilakukan selama 3 hari.
3. Mengumpulkan Data Sekunder, berupa meneliti data dan dokumen-dokumen
Pemberi Tugas. Dalam hal ini, Konsultan melakukan pengumpulan data instansi
yang sebagai referensi dan data awal sebagai persiapan sebelum melakukan
Survey lapangan selama 4 hari kalender dengan tenaga yang terlibat meliputi
Koordinator Proyek, Tenaga ahli Senior, meliputi:
Data kebutuhan minimal luas area perencanaan
Persyaratan lokasi ruang.
Persyaratan pemakaian bahan bangunan
Peraturan dan standar yang berhubungan dengan Arsitektur, Struktur, Interior
dan Mekanikal / Elektrikal
Peraturan setempat
Informasi lain
Elemen, konsep dan ciri khas yang akan ditampung dalam perancangan
nantinya
Pengadaan bahan bangunan yang akan dipakai
4. Mengumpulkan Data Primer, berupa data-data perencanaan, baik yang
bersifat fisik maupun non fisik, dilakukan oleh Team Leader, Tenaga Ahli Senior
setiap disiplin serta tenaga lokal pengukuran, meliputi:
Pengecekan dan pengukuran kembali lahan.
Bertujuan untuk melengkapi ukuran maupun keterangan pada gambar-gambar
lahan (Situasi), meliputi:
Panjang lahan
Lebar lahan
Luas lahan
Garis sempadan bangunan
Identifikasi jaringan eksisting untuk Listrik, Telepon, Air Bersih, Air Kotor
Material yang akan dipakai dalam ruangan yang memiliki persyaratan teknis
khusus untuk perencanaan sarana perkotaan
Masukan jenis, bentuk, dan corak model tipikal penataan area
Identifikasi struktur dan kondisi tanah
Pemotretan, untuk merekam kondisi, potensi dan permasalahan dilapangan
mengenai:

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 84


USULAN TEKNIS

Kondisi lahan
Sirkulasi diluar lahan
Luas dan daya tampung lahan
Kondisi lingkungan lahan pasar
Identifikasi kondisi utilitas pada areal proyek, baik air bersih, air kotor maupun
instalasi listrik, telepon dan lain sebagainya.

6.3.2. Tahap Kajian Lingkungan


I. Lingkup Rencana Kegiatan Yang Perlu Ditelaah
Lingkup kegiatan yang perlu ditelaah dalam studi akan disesuaikan dengan
spesifikasi kegiatan, bagi kegiatan sebagaimana telah disebutkan diatas.
Tahapan kegiatan secara umum meliputi
A. Tahap Pra Konstruksi
1. Penentuan tapak
2. Pembebasan lahan
B. Tahap Konstruksi
1. Mobilisasi tenaga kerja
2. Mobilisasi alat dan bahan
3. Pematangan lahan
4. Konstruksi sipil dan mekanik listrik
C. Tahap Operasi
1. Mobilisasi tenaga kerja
2. Operasional kegiatan
D. Tahap Pasca Operasi
Uraian tahap pasca operasi hanya berlaku bagi kegiatan kegiatan-kegiatan yang
ada masa berakhirnya kegiatan secara umum seperti pertambangan galian C
atau kegiatan lain sebagaimana ditetapkan, penjelasan kegiatan pada tahap
pasca operasi meliputi kegiatan kegiatan :
1. Penanganan tenaga kerja yang dilepas
2. Reklamasi lahan bekas kegiatan

II. Lingkup Komponen Lingkungan Yang Perlu Ditelaah


Komponen lingkungan yang perlu ditelaah akan disesuaikan dengan uraian
kegiatan yang akan dikaji dan khususnya ada relevansinya dengan dampak-

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 85


USULAN TEKNIS

dampak yang akan ditimbulkan, secara umum komponen lingkungan yang perlu
ditelaah meliputi :
A. Komponen Fisik - Kimia
1. Iklim Kualitas Udara dan Intensitas Kebisingan
a. Iklim
b. Kualitas udara
c. Kebisingan
2. Fisiografi & Geologi
a. Fisiografi
b. Geologi
3. Hidrologi dan kualitas air
a. Hidrologi (pola aliran sungai, debit air, tata guna badan air, neraca air, dll)
b. Kualitas air (air pemukaan dan air tanah) meliputi paramater fisik, kimia dan
bakteriologi
4. Aspek Ruang, Lahan dan Tanah
a. Pemanfaatan ruang
b. Tata guna lahan
c. Sistim transportasi dan sirkulasinya
c. Fasilitas lingkungan
e. Estetika lingkungan
f. Tanah (erosi tanah dan kesuburan tanah),
C. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya
1. Kependudukan
a. Kependudukan (struktur kependudukan, pendidikan, tenaga kerja, mobilisasi
tenaga kerja).
b. Pertumbuhan penduduk
c. Kepadatan penduduk.
2. Sosial - ekonomi
a. Struktur ekonomi
b. Mata pencaharian
c. Sumber pendapatan
d. Lapangan pekerjaan
e. Angka pengangguran
3. Sosial budaya

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 86


USULAN TEKNIS

a. Komunitas penduduk yang terlewati jalan akses


b. Karakteristik budaya yang berhubungan dengan kondisi ekonomi dan
penyelesaian konflik
c. Tanggapan secara umum dari penduduk terhadap rencana kegiatan
D. Komponen Kesehatan Masyarakat
a. Jumlah kasus penyakit
b. Jenis penyakiit yang dominan diderita penduduk
c. Jumlah tenaga kesehatran (medis., paramedis dan non medik)
d. Sarana kesehatan
e. Kondisi sanitasi lingkungan

III. Metoda Penyusunan Pedoman Teknis


Menjelaskan tahapan pelaksanan pekerjaan penyusunan pedoman teknis khusus
untuk keperluan di lingkungan Kota Makassar dan dibuat dalam bentuk alur
tahapan kegiatan mulai dari awal pekerjaan hingga selesainya pekerjan, meliputi :
a. Pengumpulan data kegiatan
b. Studi literatur dari peraturan-peraturan yang sebelumnya telah ada
c. Penyusunan konsep draft format teknis penyusunan dokumen
d. Pembahasan laporan pendahuluan
e. Penyusunan konsep pedoman teknis penyusunan dokumen
f. Pembahasan konsep pedoman teknis penyusunan dokumen
g. Penyempurnaan pedoman teknis penyusunan dokumen

IV. Telaahan Format Acuan Penyusunan Masing-Masing Bidang


Sebagaimana disadari bahwa pedoman teknis bagi penyusunan dokumen bagi
seluruh sektor / bidang kegiatan terdapat kelemahan / kekurangan sempurnaan
yang perlu dikaji lagi atau disempurnakan kembali sesuai dengan rencana
kegiatan

6.3.3. Konsepsi Dasar Perencanaan


Konsepsi Dasar Perencanaan ini merupakan rekomendasi dari hasil kegiatan
analisa dan pengolahan data yang telah dikumpulkan baik teknis maupun non
teknis, dilaksanakan dengan berbagai metoda analisis baik metoda Deskriptif,

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 87


USULAN TEKNIS

Historis maupun Experiment dilaksanakan dalam kegiatan Persiapan dan Survey


Lapangan, yang dirinci berdasarkan komponen perencanaan, meliputi :
1. Jadwal dan Tahap kegiatan:
Untuk jadwal pekerjaan perencanaan akan lebih terinci pada bab Jadwal
Perencanaan berdasarkan tahapan perencanaan berikut ini:
a. Tahap Pekerjaan Persiapan dan survey
b. Tahap Pekerjaan Analisis
c. Tahap Konsepsi Dasar Perencanaan,
c. Tahap Pekerjaan Pra Rencana Teknis
Semua kegiatan diatas dilakukan dengan cara overlapping dikarenakan
waktu perencanaan yang relatif singkat

2. Analisa Hasil pengumpulan Data dan Informasi :


Berdasarkan hasil pengumpulan data baik data Instansional maupun data
observasi lapangan dan pengukuran dan penelitian tanah, Konsultan mengkaji
kondisi lahan untuk Penyusunan DED Masterplan Kota Rantepao.
Diperlukan pekerjaan Sondir atau Borring untuk lebih menghasilkan analisa
kondisi lahan yang optimal.
Sebagai hasil observasi lapangan dapat ditemu kenali berbagai potensi,
permasalahan dan kendala yang harus dianalisa untuk mendapatkan solusi dan
langkah lanjut yang terbaik, terutama yang menyangkut Rencana lahan, meliputi:

a. Analisa Kondisi dan Data Teknis


Kondisi lahan.
Unsur-unsur bangunan yang potensial sebagai dasar pengembangan
pekerjaan pembangunan pasar meliputi:
1) Site plan
2) Jaringan jalan disekitar dan di lingkungan lahan perencanaan
3) Bangunan utama pasar
4) Bangunan penunjang
Analisa Kebutuhan Ruang berdasarkan fungsi dan kegiatan
Kebutuhan ruang berdasarkan fungsi ruang publik dan terbuka dalam rangka
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
b. Analisa Kebutuhan Ruang diluar bangunan

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 88


USULAN TEKNIS

Untuk mengantisipasi kebutuhan total luas sarana parkir, terlebih dahulu dianalisis
seluruh jenis, jumlah dan kebutuhan penggunanya dan dihitung berdasarkan
standard/persyaratan ruang sesuai dengan kebutuhan ruang, organisasi ruang,
fungsi ruang menurut ketentuan, kriteria dan standar perencanaan Ruang Publik.

c. Analisa Struktur
Sarana dan prasarana komersial yang dalam hal ini pembangunan Gedung akan
dibangun dengan pertimbangan faktor keamanan pemakaian bahan dan material.
d. Analisa Elektrikal dan Mekanikal
Dalam perencanaan ini sistem plumbing direncanakan berdasarkan Buku
Pedoman Plumbing Indonesia 1979, Sofyan & Imamura.
(1). Sistem Plumbing
(a) Sistem Air Bersih
Sumber air bersih digunakan untuk keperluan air bersih didalam gedung.
Penyediaan Air Bersih seluruh bangunan, sumber air bersih berasal dari
jaringan distribusi dari PDAM atau Sumur Pompa.
(b) Sistem Air Buangan dan Air Kotor
Seluruh air buangan dari bangunan berupa buangan air kotor yang berasal dari
water closet, urinal dibuang ke Septic Tank. Sedangkan air buangan yang berasal
dari floor drain, lavatory dan dapur dibuang ke drainase.
(c) Sistim Pembuangan Air Hujan
Air hujan yang jatuh di atap bangunan disalurkan melalui pipa-pipa PVC yang
kemudian disalurkan kedrainase.
(2) Sistem Penanggulangan Kebakaran
Untuk melindungi gedung ini dari bahaya kebakaran, direncanakan pemasangan
peralatan penanggulangan bahaya kebakaran (portable fire extinguisher).

6.3.4. Pra Rencana


Berdasarkan Konsep Perencanaan disusun Pra Rencana,
1. Uraian Program Rencana
a. Kebutuhan ruang luar
Kebutuhan ruang luar dikaji dan dihitung berdasarkan standard / persyaratan
ruang sesuai jenisnya menurut ketentuan yang berlaku, meliputi:
Program kebutuhan ruang parkir pemiliki dan pengunjung

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 89


USULAN TEKNIS

Program kebutuhan ruang hijau


Program kebutuhan ruang pengelola
Program kebutuhan ruang service dan utilitas
Program kebutuhan ruang sirkulasi dan pergerakan manusia dan kendaraan
2. Analisa pengembangan program rencana dan pola rencana eksterior/ interior
a. Perletakan ruang:
Pola Sirkulasi
Pola sirkulasi utama ditata dengan menghubungkan perletakan simpul-simpul
sirkulasi serta mengakses ke setiap bagian ruang fungsional secara linear yang
diteruskan ke sub-sub bagian ruang baik secara pola linear maupun pola
distribusi.
Pola Tata Ruang
Pola tata ruang ditata sesuai dengan hierarki pembagian ruang fungsional
kerja pada struktur ruang yang telah ditetapkan, hubungan fungsional antar
kegiatan , penataan zona utama dan penunjang
Bagan Organisasi Ruang
b. Penampilan Ruang, Bentuk, Karakter Arsitektur Bangunan
Penampilan ukuran, bidang dan garis-garis maupun ornamen ruang harus
merujuk kepada ukuran dan penampilan bangunan yang ada, untuk keserasian
penampilan keseluruhan ruang .
Penampilan interior, ekterior harus berkesan modern dinamis, serasi dan
berkesinambungan penampilan dengan lingkungan ruang dan suasana nyaman
dan aman
Berpenampilan ruang yang dapat mewakili zamannya yang kota Rantepao
c. Sistem Struktur Interior / Eksterior
Berdasarkan criteria, mudah dilaksanakan, memungkinkan untuk
dikembangkan serta memenuhi persyaratan keselamatan ruang.
Faktor lokasi membatasi jenis bahan/alat-alat pembangunan yang tersedia.
Pemilihan jenis konstruksi maupun sistem struktur dipertimbangkan dengan
matang dalam pembuatan rancangan.
Kriteria Disain Interior:
Berciri khas bentuk Sarana dan Prasarana.
Mampu dan kuat untuk menahan beban rencana.
Memenuhi persyaratan kekuatan, kekakuan, kestabilan, estetis dan ekonomis.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 90


USULAN TEKNIS

d. Sistem Mekanikal & Elektrikal


Sumber air bersih berasal dari PAM atau sumur dalam dialirkan ke daerah
basah Toilet dan areal taman/halaman gedung
Sumber listrik dari PLN disambung dari gardu listrik yang ada,
Sistem penghawaan disamping penghawaan alam juga dipasang penghawaan
buatan (Split)
3. Prakiraan Rencana Anggaran Biaya
Prakiraan biaya konstruksi fisik (pre engineeri estimate) berdasarkan konsep
rancangan disusun secara kasar. Harga didasarkan atas harga perkiraan per
meter persegi jenis pekerjaan Interior dan bagian bangunan serta harga per unit
jenis pekerjaan merujuk kepada Pedoman Harga satuan tertinggi, sebagai
pedoman penyusunan Pra Rencana Anggaran Biaya.
4. Keluaran Pra Rencana
Berdasarkan Konsep Rencana, Analisa pengembangan program dan pola
rancangan, maka disusun pra rencana untuk:
Pra Rencana Arsitektur, Sipil (bagian ilmu teknik lainnya yang berkaitan
lainnya, meliputi:
Site plan dan tata guna lahan dan infra struktur
Denah pembagian ruang (Layout) secara garis besar
Sketsa tampak tapak dan potongan,
Sehingga dapat diperkirakan baik bentuk maupun ruangan-ruangan yang akan
direncanakan secara detail tetapi tidak skala.
Pra Rencana Interior:
Usulan Pola, Warna dan penggunaan material/bahan konstruksi
Gambar konstruksi Interior
Pra Rencana Mekanikal dan Elektrikal.

6.3.5. Pengembangan Rencana


Berdasarkan Konsep dan Pra Rencana maka disusun rencana detail dari
bangunan gedung, meliputi :
1. Rencana Tapak dan system pada tapak
a. Rencana Tapak /Layout area merupakan aplikasi hasil analisa dan
rekomendasi berupa tata letak sarana dan prasarana komersial dengan ukuran
lebih terinci.

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 91


USULAN TEKNIS

b. Garis koordinasi tata letak ruang pada tapak disesuaikan dengan pola grid
yang ada, sedang tata letak tanaman berfungsi sebagai tanaman penyejuk dan
tanaman hias.
c. Orientasi ruang bangunan terhadap lingkungan meliputi:
Terhadap matahari: diupayakan bangunan banyak pembukaan kearah
matahari pagi dan menghindarkan matahari sore dan menganut pola hemat
energi (penerangan alam).
Terhadap view: Pembukaan ruang lebih diarahkan kearah view penghijauan.
Terhadap iklim dan angin: Konfigurasi ruang diupayakan tidak bertentangan
dengan arah angin dominan memanfaatkan penghawaan alam langsung,
disamping kondisi udara buatan.
d. Pola jaringan air bersih baru merupakan kelanjutan jaringan air bersih dari
bangunan bangunan yang sudah ada yang bersumber dari PAM dan sumur
dalam.
2. Rencana BangunanEksterior/ Interior dan system pada bangunan, meliputi:
a. Rencana ruang tapak (denah, tampak dan potongan), dengan ukuran yang
lebih rinci untuk memperjelas teknik pelaksanaan agar dapat diwujudkan secara
fisik
c. Rencana Terinci Konstruksi
Untuk mencapai kenyamanan dan keamanan pengguna sarana komersial,
direncanakan suasana ruang yang dapat memenuhi persyaratan fungsi ruang
terbuka dan sirkulasi kegiatan, yang dikaitkan pula dengan fungsi zona kegiatan.
d. Rencana Mekanikal dan Elektrikal
Direncanakan sarana pendukung untuk kegiatan pada bangunan berupa:
Sistem penerangan yang berasal dari jaringan PLN dan Genset
Sistem penghawaan alam beserta penghawaan buatan (AC Split dan AC
sentral),
Plumbing yang bersumber dari PAM atau Sumur dalam.
Penanggulangan Kebakaran (Penginderaan Api) dalam bentuk (portable fire
extinguisher) yang ditempatkan pada tempat-tempat yang terlihat oleh umum dam
mudah dijangkau.
3. Rencana Pentahapan Pelaksanaan Pembangunan
Rencana pentahapan pelaksanaan fisik ini untuk mengantisipasi pola
pelaksanaan fisik bertahap sehubungan dengan pembongkaran bangunan pasar

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 92


USULAN TEKNIS

lama dan pembangunan kembali bangunan pasar baru. Sedangkan laju


operasional kegiatan harus tetap berjalan. Dengan demikian maka diupayakan
sistem pembangunan secara bertahap berskala prioritas, meliputi:
a. Volume pentahapan dari komponen perancangan fisik
b. Rancangan jadwal pentahapan pelaksanaan fisik dari komponen bangunan
c. Rancangan biaya pelaksanaan masing-masing pentahapan
5. Laporan Teknis:
Laporan teknis dari rancangan sejalan dengan penyusunan proses Penyusunan
Masterplan Balai Perawatan Perkeretapian

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 93


USULAN TEKNIS

Gambar 6.1 Diagram Alir Perencanaan

KAJIAN KELAYAKAN TERHADAP TATA TAHAP I - INPUT


RUANG, SOSIAL DAN EKONOMI PENGUMPULAN DATA &
&LINGKUNGAN INFORMASI PENUNJANG LAINNYA
KAJIAN TERHADAP MASTERPLAN TAHAP 1 PERSIAPAN &
KOTA RANTEPAO SURVEY DATA

TAHAP II - PROSES
KONSEP DASAR DED ANALISIS KEBUTUHAN & IDENTIFIKASI
MASTERPLAN KOTA ANALISIS TAPAK PERMASALAHAN
RANTEPAO ANALISIS (IDENTIFIKASI
PERUMUSAN KONSEP)

PERENCANAAN & PENYUSUNAN ALTERNATIF KONSEP TAHAP III - OUTPUT


PENGEMBANGAN DED DOKUMEN PERENCANAAN PERENCANAAN TAPAK &
MASTERPLAN KOTA DED MASTERPLAN KOTA PRA RENCANA ANGGARAN
RANTEPAO RANTEPAO BIAYA PENYUSUNAN DED MASTERPLAN
KOTA RANTEPAO

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 94


USULAN TEKNIS

6.1. ANALISA PERENCANAAN


Dalam proses perencanaan tahapan analisa sangat penting dilakukan. Analisa tersebut
akan menentukan konsep yang akan dirumuskan untuk diwujudkan dalam bentuk gambar
perencanaan.
Terdapat 2 (dua) jenis analisa dalam proses perencanaan bangunan gedung. Analisa yang
dimaksud adalah :
Analisa tapak adalah analisa terhadap kesesuaian lahan, kontur, iklim, vegetasi,
keterikatan dengan funsi-fungsi di luar lahan dan sebagainya.
Analisa ruang adalah analisa terhadap kebutuhan dan keterkaitan fungsi antar ruang di
dalam lahan yang ada.
Keterpaduan dari analisa tersebut menjadi panduan dalam merumuskan konsep
perencanaan.
Beberapa aspek kajian dalam proses analisa perencanaan rehabilitasi sekolah dasar akan
diuraikan berdasarkan aspek-aspek yang berpengaruh terhadap terbentuknya lingkungan
binaan yang nyaman dan aman dalam kegiatan komersial.

A. Aspek Aspek Kajian


Untuk merencanakan dan menganalisa proyek yang efektif, mereka yang
bertanggung jawab terhadap proyek harus mempertimbangkan banyak aspek yang
secara bersamasama menentukan bagaimana keuntungan yang diperoleh dari
suatu pengelolaan bangunan dalam hal ini adalah sekolah. Seluruh aspekaspek ini
saling berhubungan. Masingmasing aspek saling berhubungan dengan yang
lainnya, dan suatu putusan mengenai satu aspek akan mempengaruhi putusan
putusan terhadap aspekaspek lainnya. Seluruh aspek harus dipertimbangkan dan
selalu dipertimbangkan pada setiap tahap (stage) dalam perencanaan proyek dan
siklus pelaksanaannya. Tanggung jawab utama dari seorang tenaga ahli proyek
pengelolaan (manajerial) adalah selalu berhubungan dengan semua spesialis teknis
yang mempunyai kontribusi dalam suatu perencanaan proyek agar dapat
meyakinkan bahwa semua aspekaspek yang relevan sudah dipertimbangkan
secara aksplisit dan sudah disertakan dalam pertimbangan tersebut

PENYUSUNAN DED MASTERPLAN KOTA RANTEPAO BAB 06 HAL 95