Anda di halaman 1dari 5

Sekuen Stratigrafi dan Perubahan Muka Air Laut Selang Masa

Kretasius-Tersier pada Tepian Pasif di New Jersey

Sequence Stratigraphy and Sea-Level Change Across Cretaceous-


Tertiary Boundary on the New Jersey Passive Margin

Resume paper

*Penyusun paper: Richard K.G., Kenneth G., James V.B., James Wright,
Benjamic Cramer
Department of Geological Sciences, Rutders University, New Jersey, USA.

Peresume:
Nanda Najih Habibil Afif 270110120183

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014
Pendahuluan
Condensed section pada daerah tepian pasif New Jersey merupakan
lapisan tipis dari sedimen marine yang menandakan tingkat pengendapan yang
sangat rendah (1-10mm/tahun). Umumnya terdiri dari sedimen pelagic
hemipelagic, material starved indigeous, terendapkan di middle atau outer shelf,
dan terbentuk pada saat transgresi maksimum. Condensed section mempunyai ciri
log gamma ray yang tinggi, karena respon dari sifat radioaktif yang tinggi dari
material organik (cyanobacteria dan phytoplankton) yang terakumulasi pada
condensed section.
Pada zaman Kretasius hingga Tersier, Maximum Flooding Surface (MFS)
pada tepian pasif New Jersey diduga dicirikan oleh kehadiran serpih radioaktif
dan kaya organik, glaukonit, dan hardground. Umumnya terdapat lapisan tipis
akumulasi fauna (condensed section) yang menyebar dan beraneka ragam. MFS
seringkali berupa siklus sedimen yang kaya fauna. MFS pada arah landward bisa
saja sesuai atau sama dengan batas bawah Transgresive surface yang terbentuk
pada awal transgresi kemudian seketika diikuti langsung diikuti oleh penurunan
relative sea level. Pada kasus ini Glossifungites burrow mungkin terdapat pada
MFS. MFS umumnya tidak terdapat burrow atau bor. Beberapa burrow dan bor
banyak ditemukan pada Transgresive surface, dimana air belum makin dalam dan
sebelum kondisi menjadi berbahaya bagi koloni fauna tetapi bagus untuk
pelestarian (pembentukan fosil burrow dan bor).
Pada tepian New Jersey, MFS juga menjadi batas antara siklus fining
upward dengan coarsening upward yang dikaitkan dengan siklus pendalaman dan
pendangkalan dalam geologi. MFS termasuk sinonim dari transgresif surface
maksimum, final transgresive surface bagian atas lapisan retrogradasi, di-downlap
oleh lapisan normal regresi Highstand. Penentuan siklus pengendapan berdasarkan
sikuen stratigrafi sangat berkaitan dengan kenaikan dan penurunan relative sea
level. Relative sea level merupakan posisi muka air laut relatif yang diukur dari
datum tertentu yang berada di dasar laut dan dipengaruhi oleh dua faktor utama
yaitu eustasy (muka air laut) dan pergerakan vertikal dasar laut (tektonik).
Force regresi yang cukup dominan terjadi menyebabkan kondisi
pergeseran garis pantai ke arah basin ward (Ancora Bass River) karena terdorong
oleh suplai sedimen ketika terjadi penurunan relative sea level, sehingga
accommodation space mengecil menyebabkan suplai sedimen melebihi
accommodation space yang tersedia. Endapan yang terbentuk ketika terjadi force
regresi ini bersifat progradasi. Pola urutan endapan sedimen menunjukkan
pendangkalan secara vertikal.

Metodologi
Dalam tahap penelitian, data penelitian dibagi menjadi data primer yaitu
data foraminifera dan palinologi dan data sekunder yaitu data geologi regional.
Data primer didapat dari sampel cutting yang kemudian diolah dan dipreparasi
dalam bentuk preparat yang kemudian siapuntuk dilakukan pengamatan.
Pengamatan yang dilakukan dalam peneltian ini mencakup identifikasi jenis dan
penamaan spesies serta perhitungan jumlah dari masing- masing spesies untuk
selanjutnya ditentukan jumlah dan persentase kelimpahannya. Pengamatan
dilakukan menggunakan mikroskop transmisi dengan perbesaran hingga 1000 kali
untuk melihat struktur eksternal dari peraga yang diamati. Penciri utama yang
difokuskan adalah pada foraminifera Rugoglobigerina sp. dan Anomalinoides
midwayenses. Perhitungan polen dilakukan dengan menghitung kelimpahan
masing- masing jenis polendalam tiap sampel yang diamati. Setelah dilakukan
pengamtan kemudian dibuat diagram kelimpahan palinomorf berdasarkan data
pengamatan tersebut. Dari diagram tersebut kemudian dapat ditentukan pola
sikuen yang mungkin terbentuk pada sumur ini. Penentuan pola sikuen yang
terbentuk didasarkan atas penentuan marker dari maximum flooding surface dan
sequence boundary. Batas tersebut dapat diketahui dari kelimpahan beberapa
palinomorf yang ditemukan. Setalah diketahui pola sikuen dan system tract nya,
analisis dilanjutkan pada tahap interpretasi dengan sebelumnya
mengkorelasikannya terlebih dahulu pada geologi regional. Presisi internal yang
diperoleh minimal adalah NBS 987 ~0,00002 hinga ~0,00003.
Hasil dan Pembahasan
Zona Proxapertites operculatus (1774 1704 m). Pada zona ini ditemukan
spesies indeks sebagai penciri utama yaitu Proxapertites operculatus. Proxapertites
operculatus ditemukan pada kedalaman 1774 m dan 1704 m. Terdapat spesies
indeks lain yang muncul yaitu Florschuetzia levipolli, Florschuetia meridionalis,
Florschuetzia trilobata yang merupakan asosiasi dari zona lain. Hal ini dapat
disebabkan adanya proses infiltrasi fosil yang lebih muda masuk ke dalam data
batuan yang lebih tua pada saat pengambilan cutting. Pada sampel juga terlihat
morfologi fosil yang berbeda dengan fosil insitu pada kedalaman tersebut. Hanya
terdapat spesies Proxapertites operculatus sebagai spesies penciri utama pada zona
ini. Spesies lain yang juga muncul adalah Palmaepollenites kutchensis dan
Florschuetzia trilobata, serta beberapa kelompok dari Acrostichum spp,
Laevigatosporites spp, dan Verrucatosporites spp. sebagai spesies penyerta pada
zona ini. Bagian atas dari zona ini dibatasi oleh kemunculan akhir dari
Proxapertites operculatus pada kedalaman 1704 m sedangkan bagian bawah dari
zona ini dibatasi oleh kemunculan awal dari Proxapertites operculatus pada
kedalaman 1774 m.
Sikuen awalberada pada interval kedalaman 750 630 m. Sikuen (a)
berada diatas kedalaman 750 m. Tepat dibawahnya merupakan fase Transgressive
System Tract dan Highstand System Tract yang ditandai dengan melimpahnya
jumlah presenetase palinomorf jenis mangrove akibat bertambahnya ruang
akomodasi bagi vegetasi mangrove. Sikuen tersebut dimulai pada interval
kedalaman 680 750 m ketika terdapat penurunan jumlah persentase palinomorf
dari jenis mangrove yang mengindikasikan adanya pengurangan ruang akomodasi
bagi vegetasi jenis mangrove untuk dapat berkembang. Penurunan ruang
akomodasi ini diduga disebabkan adanya penurunan muka air laut secara relatif
yang kemudian menyingkapkan dataran yang dulunya tergenang oleh air laut.
Dataran yang tersingkap kemudian menjadi bidang erosi dan menjadi sedikit
tempat bagi vegetasi jenis mangrove untuk dapat berkembang. Penurunan muka
air laut secara relatif pada fase ini lebih dikenal dengan Lowstand System Tract.
Sikuen selanjutnya berada pada interval kedalaman 630 485 m. Sikuen b
tepat berada pada interval kedalaman diatas Sikuen ini dimulai ketika pada akhir
Sikuen sebelumnya, pada kedalaman 550630 m terdapat penurunan jumlah
persentase palinomorf dari jenis mangrove yang mengindikasikan adanya
pengurangan ruang akomodasi bagi vegetasi jenis mangrove untuk
dapatberkembang. Penurunan ruang akomodasi ini diduga disebabkan adanya
penurunan muka air laut secara relatif yang kemudian menyingkapkan dataran
yang dulunya tergenang oleh air laut. Dataran yangtersingkap kemudian menjadi
bidang erosi dan menjadi sedikit tempat bagi vegetasi jenis mangrove untuk dapat
berkembang. Penurunan muka air laut secara relatif pada fase ini lebih dikenal
dengan Lowstand System Tract dan batas mulainya air lautnaik tersebut disebut
sebagai transgressive surface yang diinterpretasikan berada kedalaman 580 m.