Anda di halaman 1dari 21

BAB III :

F. Definisi Operasional Variabel

Dalam penelitian ini terdapat 6 (enam) variabel yang dikelompokkan menjadi tiga bagian

yaitu variabel terikat (dependent variable), variabel bebas (independent variable) dan variabel

kontrol. Dependen variabel (Y) dalam penelitian ini adalah pembiayaan yang disalurkan

perbankan syariah, independen variabel (X) yaitu DPK (X1), CAR (X2), NIM (X3), NPF (X4)

dan variabel kontrol adalah ukuran perusahaan (X5).

Berikut ini akan dijelaskan mengenai definisi operasional variabel yang akan digunakan

dalam penelitian, yaitu:

1. Pembiayaan

Pembiayaan merupakan penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu

berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak

yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu

dengan imbalan atau bagi hasil. Dalam penelitian ini variabel pembiayaan yang digunakan

adalah n+1 dimana yang dimaksud data periode yang digunakan adalah data satu periode

berikutnya. Contoh : data yang digunakan adalah triwulan maka pada saat yang di hitung data

bulan maret maka variabel pembiayaan yang digunakan adalah bulan juni.

Pembiayaan diperoleh rumus sebagai berikut (Sagita, 2010):

Pembiayaan = Piutang Murabahah + Piutang Salam + Piutang Istishna + Piutang Qardh +

Pembiayaan + Ijarah
Revisi BAB IV :

C. Analisis Regresi Berganda

Persyaratan untuk melakukan metode analisis regresi linier berganda telah selesai dan

sesuai, maka tahapan berikutnya adalah melakukan analisis metode regresi linier berganda.

Dalam penelitian ini analisa regresi linier berganda dilakukan sebanyak dua kali yakni tanpa

variabel kontrol dan dengan variabel kontrol.

Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda tanpa Ukuran Perusahaansebagai variabel

kontrol pada program komputer SPSS diperoleh hasil seperti ditunjukkan pada Tabel 4.10

berikut ini :

Tabel 4.10
Hasil Analisa Berganda Penelitian Tanpa Variabel Kontrol

Unstandardized Coefficients
Model B Std. Error t Sig.
1 (Constant) 0,529164 0,122576 4,317016 0,0000
Trans DPK 0,925865 0,020227 45,77313 0,0000
Trans CAR -0,007171 0,017329 -0,413798 0,6797
Trans ROA -0,089211 0,018892 -4,722164 0,0000
NPF -0,002706 0,009488 -0,285155 0,7760
Sumber : Data Primer Diolah, 2013

Berdasarkan Tabel 4.9 maka model persamaan regresi linier berganda yang diperoleh sebagai

berikut :

Pembiayaan = 0,529164 + 0,925865 trans_DPK - 0,007171 trans_CAR - 0,089211 trans_ROA

0,002706 NPF

Konstanta (a) = 0,529164

Menunjukkan jika semua variabel independen bernilai tetap maka pembiayaan akan bertambah

sebesar 0,529164.
Koefisien regresi (b1) trans_DPK = 0,925865

Nilai koefisien regresi trans_DPK menunjukkan adanya hubungan yang searah dengan variabel

Pembiayaan, artinya jika trans_DPK mengalami penambahan nilai satu maka variabel

pembiayaan akan naik 0,925865 dengan asumsi variabel independen lainnya konstan.

Koefisien regresi (b2) trans_CAR = - 0,007171

Nilai koefisien regresi trans_CAR menunjukkan adanya hubungan yang hubungan yang

berlainan arah dengan variabel Pembiayaan, artinya jika trans_DPK mengalami penambahan

nilai satu maka variabel pembiayaan akan naik (- 0,007171) dengan asumsi variabel independen

lainnya konstan.

Koefisien regresi (b3) trans_ROA = - 0,089211

Nilai koefisien regresi positif menunjukkan adanya hubungan yang berlainan arah dengan

variabel Pembiayaan, artinya jika variabel trans_ROA mengalami penambahan nilai satu satuan

maka variabel trans_ROA akan turun sebesar negatif (- 0,089211) dengan asumsi variabel

independen lainnya konstan.

Koefisien regresi (b4) NPF = 0,002706

Nilai koefisien regresi NPF positif menunjukkan adanya hubungan yang searah dengan variabel

Pembiayaan, artinya jika variabel NPF mengalami penambahan nilai satu satuan maka variabel

Pembiayaan akan naik sebesar ( 0,002706) dengan asumsi variabel independen lainnya konstan.

Hasil analisis regresi linier berganda penelitian dengan Ukuran Perusahaansebagai variabel

kontrol akan disajikan pada Tabel 4.11.


Tabel 4.11
Hasil Analisa Berganda Penelitian Dengan Variabel Kontrol

Unstandardized
Coefficients
Model B Std. Error t Sig.
1 (Constant) 0,411796 0,188356 2,186268 0,0306
Trans DPK 0,927288 0,020327 45,61824 0,0000
Trans CAR -0,006340 0,017381 -0,364782 0,7159
Trans ROA -0,087916 0,018982 -4,631627 0,0000
NPF -0,002995 0,009507 -0,315051 0,7532
Ukuran Perusahaan 0,016235 0,019763 0,821450 0,4129
Sumber : Data Primer Diolah, 2013

Berdasarkan Tabel 4.11 maka model persamaan regresi linier berganda yang diperoleh

sebagai berikut :

Pembiayaan = 0,411796 + 0,927288 DPK - 0,006340 CAR - 0,087916 ROA - 0,002995 NPF +

0,016235 Ukuran Perusahaan

Konstanta (a) = 0,411796

Menunjukkan bahwa jika variabel independen dan kontrol bernilai tetap maka variabel dependen

yaitu pembiayaan akan mengalami penurunan dengan nilai konstan sebesar 0,411796.

Koefisien regresi (b1) trans_DPK = 0,927288

Nilai koefisien regresi trans_DPK positif menunjukkan adanya hubungan yang searah dengan

variabel Pembiayaan, artinya jika trans_DPK mengalami penambahan nilai satu maka variabel

pertumbuhan Pembiayaan akan naik 0,927288 dengan asumsi variabel independen lainnya

konstan.

Koefisien regresi (b2) CAR = - 0,006340

Nilai koefisien regresi trans_CAR menunjukkan adanya hubungan yang hubungan yang

berlawanan arah dengan variabel Pembiayaan, artinya jika trans_DPK mengalami penambahan
nilai satu maka variabel pembiayaan akan berkurang sebesar (- 0,006340) dengan asumsi

variabel independen lainnya kostan.

Koefisien regresi (b3) trans_ROA = - 0,087916

Nilai koefisien regresi trans_ROA negatif menunjukkan adanya hubungan yang tidak searah

dengan variabel Pembiayaan, artinya jika trans_ROA mengalami penambahan nilai satu maka

variabel pertumbuhan laba akan turun sebesar (-0,087916) dengan asumsi variabel independen

lainnya kostan.

Koefisien regresi (b4) NPF = - 0,002995

Nilai koefisien regresi NPF positif menunjukkan adanya hubungan yang berlawanan arah dengan

variabel Pembiayaan, artinya jika variabel NPF mengalami penambahan nilai satu satuan maka

variabel Pembiayaan akan turun sebesar (- 0,002995) dengan asumsi variabel independen lainnya

kostan.

Koefisien Regresi (b5) Ukuran Perusahaan= 0,016235

Nilai koefisien regresi Ukuran Perusahaanpositif menunjukkan adanya hubungan yang searah

dengan variabel Pembiayaan, artinya jika variabel Ukuran Perusahaanmengalami penambahan

nilai satu satuan maka variabel Pembiayaan akan naik sebesar 0,016235 dengan asumsi variabel

independen lainnya konstan.

D. Uji Hipotesis

Uji hipotesis yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah uji F, uji t dan uji R2. Untuk

uji yang akan dilakukan adalah sebagai berikut.


1. Uji F

Uji F yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model

persamaan yang dibuat merupakan model yang fit atau sehat bukan bertujuan untuk menguji

hipotesis. Uji ini dilakukan untuk menguji DPK, CAR, ROA, NPF dan Ukuran

Perusahaan(Ukuran). Hasil uji F tanpa menggunakan Ukuran Perusahaansebagai variabel kontrol

didapatkan sebagai berikut:

Tabel 4.12
Hasil Uji F Penelitian Tanpa Variabel Kontrol

Model F Sig.
1 Regression 751.6519 0,000a
Residual
Total
Sumber : Data Primer Diolah, 2013

Dari Tabel 4.12 yang terdapat diatas diperoleh F hitung sebesar 751.6519 dengan nilai sig

0,000 yang berarti < 0,05 maka, artinya variabel bebas dari penelitian yang meliputi DPK, CAR,

ROA dan mempunyai pengaruh terhadap pembiayaan perbankan syariah.

Uji F yang dilakukan dengan menyertakan Ukuran Perusahaansebagai variabel kontrol

diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.13
Hasil Uji F Penelitian Dengan Variabel Kontrol

Model F Sig.
1 Regression 599,9166 0,000a
Residual
Total
Sumber : Data Primer Diolah, 2013

Dari Tabel 4.13 yang terdapat diatas diperoleh F hitung sebesar 599,9166 dengan nilai sig

0,000 yang berarti < 0,05 maka, artinya variabel bebas dari penelitian yang meliputi DPK, CAR,
ROA, NPF dan Ukuran Perusahaan(Ukuran) mempunyai pengaruh terhadap pembiayaan

perbankan syariah.

2. Uji T

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara parsial dimaksukkan ke

dalam model akan mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel tergantungnya. Dengan

nilai signifikan uji t < 0,05 maka, artinya variabel bebas mempunyai pengaruh terhadap variabel

tergantung. Jika nilai signifikan > 0,05, artinya variabel bebas tidak mempunyai pengaruh

terhadap variabel tergantung. Hasil uji t dapat dilihat pada Tabel 4.13 di bawah ini :

Tabel 4.13
Hasil Uji T Tanpa Variabel Kontrol

Model t Sig.
DPK 45,77313 0,0000
CAR -0,413798 0,6797
ROA -4,722164 0,0000
NPF -0,285155 0,7760
Sumber : Data Primer Diolah, 2013

Dari Tabel 4.13 diperoleh hasil :

DPK
Hasil uji t antara variabel DPK terhadap pembiayaan perbankan syariah menunjukkan nilai

45,77313 dengan signifikan sebesar 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa secara DPK

berpengaruh positif signifikan terhadap pembiayaan perbankan syariah. Hipotesis pertama

penelitian yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK) mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan

bisa diterima.
CAR

Hasil uji t antara variabel CAR terhadap pembiayaan perbankan syariah menunjukkan nilai (-

0,413798) dengan signifikan sebesar 0,6797 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa CAR

berpengaruh positif tidak signifikan terhadap pembiayaan perbankan syariah. Hipotesis kedua

penelitian tidak bisa diterima, yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR) mempunyai pengaruh positif

terhadap pembiayaan.

ROA

Hasil uji t antara variabel Return On Assets (ROA) terhadap pembiayaan perbankan syariah

menunjukkan nilai t hitung sebesar (-4,722164) dengan nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05,

maka dapat disimpulakan bahwa Return On Assets (ROA) secara individu berpengaruh negatif

signifikan terhadap pembiayaan perbankan syariah. Hipotesis ketiga penelitian yaitu Net Interest

Margin (ROA) mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan bisa diterima

NPF

Hasil uji t antara variabel Non Performing Financing (NPF) terhadap pembiayaan perbankan

syariah menunjukkan nilai sebesar (-0,285155) dengan nilai signifikan sebesar 0,7760 > 0,05,

maka dapat disimpulakan bahwa secara individu Non Performing Financing (NPF) berpengaruh

negative tidak signifikan terhadap pembiayaan perbankan syariah. Hipotesis keempat dari

penelitian yaitu Non Performing Financing (NPF) mempunyai pengaruh negatif terhadap

pembiayaan tidak bisa diterima.

Tabel 4.14 berikut merupakan uji t variabel penelitian dengan menyertakan Ukuran

Perusahaansebagai variabel kontrol.


Tabel 4.14
Hasil Uji T Dengan Variabel Kontrol

Model t Sig.
DPK 45,61824 0,0000
CAR -0,364782 0,7159
ROA -4,631627 0,0000
NPF -0,315051 0,7532
Ukuran Perusahaan 0,821450 0,4129
Sumber : Data Primer Diolah, 2013

Dari Tabel 4.13 diperoleh hasil :

DPK
Hasil uji t antara variabel DPK terhadap pembiayaan perbankan syariah menunjukkan nilai t

hitung sebesar 45,61824 dengan nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan

bahwa secara DPK berpengaruh positif signifikan terhadap pembiayaan perbankan syariah. Dari

dasar tersebut maka hipotesis pertama penelitian yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK) mempunyai

pengaruh positif terhadap pembiayaan bisa diterima.

CAR

Hasil uji t antara variabel CAR terhadap pembiayaan perbankan syariah menunjukkan nilai t

hitung sebesar (-0,364782) dengan signifikasi sebesar 0,7159 > 0,05, maka dapat disimpulkan

bahwa CAR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap pembiayaan perbankan syariah

sehingga hipotesis kedua penelitian tidak bisa diterima, yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR)

mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan.

ROA

Hasil uji t antara variabel Return On Assets (ROA) terhadap pembiayaan perbankan syariah

menunjukkan nilai t hitung sebesar (-4,631627) dengan nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05,

maka dapat disimpulakan bahwa Return On Assets (ROA) secara individu berpengaruh negatif
signifikan terhadap pembiayaan perbankan syariah. Berdasar dari hipotesis ketiga penelitian

yaitu Net Interest Margin (ROA) mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan tidak

bisa diterima.

NPF

Hasil uji t antara variabel Non Performing Financing (NPF) terhadap pembiayaan perbankan

syariah menunjukkan nilai signifikan sebesar (-0,315051) dengan nilai signifikan sebesar 0,7532

> 0,05, maka dapat disimpulakan bahwa secara individu Non Performing Financing (NPF)

berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap pembiayaan perbankan syariah. Dari dasar diatas

maka dapat disimpulkan bahwa hipotsis keempat dari penelitian yaitu Non Performing

Financing (NPF) mempunyai pengaruh negatif terhadap pembiayaan ditolak.

Ukuran Perusahaan

Hasil uji t antara variabel Ukuran Perusahaanterhadap pembiayaan menunjukkan nilai t

hitung sebesar 0,821450 dengan nilai signifikan sebesar 0,4129 > 0,05, maka dapat disimpulkan

bahwa secara individu Ukuran Perusahaanberpengaruh positif tidak signifikan terhadap

pembiayaan perbankan syariah.

3. Uji R2

Uji R2 pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan

variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang

kecil berarti kemampuan variabel-variabel indenpenden dalam menjelaskan variasi variabel

dependen amat terbatas.

Pada Tabel 4.15 berikut merupakan hasil dari uji R2 dari penelitian tanpa melibatkan

Ukuran Perusahaan sebagai variabel kontrol.


Tabel 4.15
Hasil Uji R2 Tanpa Variabel Kontrol

Model R Square Adjusted R Square


1 0,959472 0,958195
Sumber : Data Primer Diolah, 2013

Berdasar dari Tabel 4.15 diatas didapat nilai R2 adalah 0, 959472, hal ini berarti bahwa

95,9472 % variabel pembiayaan dapat di jelaskan oleh variabel independen DPK, CAR, ROA

dan NPF, sedangkan sisanya sebesar 4,0528 % di jelaskan variabel yang lain.

Tabel 4.16
Hasil Uji R2 Dengan Variabel Kontrol

Model R Square Adjusted R Square


1 0,959688 0,958088
Sumber : Data Primer Diolah, 2013

Pada tabel 4.16 di atas merupakan hasil uji R2 dengan melibatkan Ukuran

Perusahaansebagai variabel kontrol. Adapun hasil dari uji R2 adalah 0,959688 atau 95,9688 %

variabel pembiayaan dapat di jelaskan oleh variabelin dependen DPK, CAR, ROA, NPF dan

Ukuran Perusahaan, sedangkan sisanya sebesar 4,0312 % pembiayaan perbankan syariah di

jelaskan variabel yang lain.

E. Pembahasan

Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov

diperoleh bahwa data yang diuji peneliti tidak signifikan yang berarti data tidak terdistribusi

normal. Adanya data tidak normal peneliti melakukan langkah transformasi data untuk

mendapatkan data yang normal. Setelah peneliti melakukan transformasi data dengan ketentuan

yang telah ditetapkan sebelumnya maka data yang telah di transformasi di uji ulang untuk

mendapatkan data yang terdistribusi normal. Dari hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov
yang kedua yakni pada Tabel 4.7 didapatkan nilai Kolmogorov-Smirnov dari semua variabel

penelitian berdistribusi normal. Dengan data yang normal tersebut peneliti melanjutkan

pengolahan data untuk menguji hasil selanjutnya.

Untuk analisis deskriptif variabel pembiayaan perbankan syariah di Indonesia mengalami

pertumbuhan dari periode maret 2011 sampai dengan Desember 2013, hal ini menandakan

bahwa semenjak terbitnya Undang-Undang Perbankan Syariah Nomor 21 Tahun 2008 mampu

mendorong pertumbuhan perbankan syariah. Pertumbuhan perbankan syariah ini dapat dilihat

dari pembiayaan yang disalurkan ke masyarakat meningkat dari Rp 6.669.774,36 juta pada

Maret 2011 menjadi Rp 12.278.447,09 juta pada Desember 2013. Dari penjelasan tersebut dapat

kita ketahui bahwa fungsi perbangkan syariah sebagai lembaga intermediasi mampu berjalan

dengan baik.

Pada analisis variabel DPK perbankan syariah diperoleh nilai rata-rata DPK mengalami

peningkatan selama periode pengamatan. Peningkatan DPK ini menunjukkan bahwa kehadiran

perbankan syariah di Indonesia dapat diterima oleh masyarakat hal ini diperlihatkan dengan

kemampuan perbankan syariah dalam menghimpun dana dari masyarakat (DPK) yang terus

meningkat. Untuk variabel CAR perbankan syariah berdasarkan analisa diskriptif menunjukkan

penurunan. Penurunan CAR ini di akibatkan oleh naikknya pembiayaan yang dilakukan oleh

perbankan syariah. Nilai rata-rata CAR perbankan syariah pada periode Desember 2013 adalah

20,5427, nilai ini masih jauh diatas nilai miROAum yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yakni

8 %, sehingga perbankan syariah masih bisa menambah penyaluran pembiayaan yang

dilakukannya kepada masyarakat.

Nilai rata-rata dari variabel ROA perbankan syariah selama periode pengamatan stabil

berada dikisaran 1,2364 % - 2,2045 % hal ini memandakan bahwa kemampuan manajemen
perbankan syariah dalam menghasilkan laba selama masa pengamatan tidak jauh berbeda. Pada

nilai rata-rata dari variabel NPF perbankan syariah selama masa pengamatan mengalami

kenaikan dari 2,0482 menjadi 2,5655, hal ini mengindikasikan pembiayaan bermasalah pada

perbankan syariah mengalami kenaikan, kenaikan NPF ini selaras dengan pertumbuhan

pembiayaan yang dilakukan oleh perbankan syariah. Untuk diskriptif data dari variabel kontrol

dalam penelitian ini adalah Ukuran Perusahaan. Nilai rata-rata untuk Ukuran

Perusahaanperbankan syariah selama masa pengamatan mengalami kenaikan dari 6,4664 pada

bulan Maret 2011 naik menjadi 6,8755 pada Desember 2013. Kenaikan Ukuran Perusahaan ini

menandakan naiknya nilai aset yang dimiliki perbankan syariah.

Hasil uji analisis regresi linier berganda tanpa menyertakan Ukuran Perusahaan sebagai

variabel kontrol didapatkan hasil bahwa pada variabel DPK menunjukkan nilai 45,809, variabel

CAR menunjukkan nilai nbgatif (- 0,451), Variabel ROA menunjukkan nilai negatif (- 4,720)

dan variabel NPF menunjukkan nilai negatif (-0,297). Hasil dari uji regresi tersebut

menunjukkan bahwa variabel DPK, CAR dan NPF tersebut mempunyai hubungan yang searah

dengan variabel pembiayaan, jika variabel DPK mengalami penambahan nilai maka variabel

pembiayaan juga akan mengalami penambahan nilai. Variabel CAR, NPF dan ROA mempunyai

berhubungan yang berlawanan arah dengan variabel pembiayaan, hal ini menunjukkan jika CAR,

NPF dan ROA mengalami penambahan nilai maka variabel pembiayaan akan berkurang.

Uji analisis regresi linier berganda dengan menyertakan Ukuran Perusahaan sebagai

variabel kontrol didapatkan hasil bahwa variabel DPK menunjukkan nilai 45,653 dan Ukuran

Perusahaan memiliki nilai positif 0,820. Hasil dari uji regresi ini berarti bahwa variabel DPK

mempunyai arah yang sama dengan variabel dependen pembiayaan, artinya jika variabel DPK

mengalami kenaikan maka pembiayaan perbankan syariah akan mengalami kenaikan. Untuk
variabel CAR menunjukkan nilai negatif (-0,402), variabel ROA mempunyai nilai negatif (-

4,611) dan variabel NPF menunjukkan nilai nilai negatif (-0,327). Hasil nilai negatif dari

variabel penelitian CAR, NPF dan Ukuran Perusahaan menunjukkan bahwa ketiga variabel

tersebut mempunyai hubungan yang berlawanan arah dengan variabel pembiayaan, jika variabel

CAR, ROA dan NPF mengalami penambahan nilai maka variabel pembiayaan akan mengalami

penurunan nilai.

Hasil uji F yang telah dilakukan baik tanpa menyertakan maupun menyertakan Ukuran

Perusahaan sebagai variabel kontrol diperoleh bahwa model yang digunakan dapat dikatakan fit

atau sehat, hal ini dikarenakan nilai signifikan yang didapatkan dari pengolahan menunjukkan

nilai signifikan sebesar 0,000 dibawah probabilitas yang ditetapkan 0,05. Dari hasil uji F yang

telah dilakukan dapat disimpulkan dari model yang ada bahwa variabel, DPK, CAR, ROA, NPF

dan Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu Pembiayaan.

Hasil dari uji t yang telah dilakukan dalam penelitian ini didapatkan hasil sebagai berikut:

DPK
Dari hasil uji t tanpa menyertakan Ukuran Perusahaan sebagai variabel kontrol diperoleh bahwa

variabel DPK terhadap pembiayaan menunjukkan bahwa t hitung sebesar 45,77313 dengan nilai

signifikan sebesar 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel DPK berpengaruh

positif signifikan terhadap pembiayaan. Dalam penelitian ini nilai koefisien DPK adalah positif

ini menunjukkan bahwa semakin meningkat DPK maka pembiayaan semakin meningkat. Hasil

penelitian ini sesuai dengan penelitian Olokoyo (2011) yang menunjukkan bahwa deposito bank

komersial memiliki dampak terbesar pada penyaluran pinjaman. Meningkatnya DPK

mengakibatkan naiknya pembiayaan menunjukkan bahwa fungsi intermediasi perbankan berjalan

dengan baik dimana fungsi perbankan dengan menghimpun dana dari pihak ketiga dan

menyalurkan kembali kemasyarakat atau pihak yang membutuhkan dalambentuk pembiayaan.


Berdasar uji t yang menyertakan Ukuran Perusahaan sebagai variabel kontrol diperoleh

nilai t hitung dari variabel DPK sebesar 45, 61824 dengan nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05,

maka dapat disimpulkan bahwa variabel DPK berpengaruh positif signifikan terhadap

pembiayaan. Dalam penelitian ini nilai koefisien DPK adalah positif ini menunjukkan bahwa

semakin meningkat DPK maka pembiayaan semakin meningkat. Hasil penelitian ini selaras

dengan penelitian Olokoyo (2011) yang menunjukkan bahwa deposito bank komersial memiliki

dampak terbesar pada penyaluran pinjaman. Pada penelitian Maharani (2010) juga menyatakan

bahwa berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran pembiayaan.

CAR

Hasil uji t tanpa menyertakan Ukuran Perusahaan sebagai variabel kontrol diperoleh bahwa

variabel CAR terhadap pembiayaan menunjukkan t hitung (-0,413798) dengan nilai signifikan

sebesar 0,6797 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa CAR berpengaruh negatif tidak signifikan

terhadap pembiayaan sehingga hipotesis kedua penelitian di tolak tidak bisa diterima, yaitu

Capital Adequacy Ratio (CAR) mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan. Dalam

penelitian ini nilai koefisien CAR adalah negatif yang menunjukkan bahwa semakin meningkat

CAR maka pembiayaan semakin menurun. Menurunnya pembiayaan disebabkan kenaikan CAR

di karenakan dana yang ada dipergunakan untuk menjaga likuiditas sehingga dana yang

dipergunakan untuk pembiayaan berkurang.

Uji t yang menyertakan Ukuran Perusahaan sebagai variabel kontrol diperoleh nilai t

hitung dari variabel CAR sebesar (- 0, 364782) dengan nilai signifikan sebesar 0, 7159 > 0,05,

maka dapat disimpulkan bahwa variabel CAR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap

pembiayaan. Dari hasil kedua uji t menyatakan bahwa CAR tidak berpengaruh signifikan

terhadap pembiayaan perbankan syariah sehingga hipotesis kedua penelitian tidak bisa diterima,
yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR) mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan. Hasil

penelitian bertolak belakang dengan penelitian Maharani (2010) yang menyatakan bahwa CAR

berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran pembiayaan, namun hasil penelitian ini

mendukung penelitian Olokoyo (2011) yang menyatakan bahwa rasio likuiditas tidak

berpengaruh terhadap penyaluran pinjaman.

ROA

Hasil uji t tanpa menyertakan Ukuran Perusahaan sebagai variabel kontrol diperoleh bahwa

variabel Return On Assets (ROA) terhadap pembiayaan menunjukkan nilai t hitung sebesar (-

4,722164) dengan nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulakan bahwa Return

On Assets (ROA) secara individu berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan karena t hitung

bernilai negatif. Berdasar paparan tersebut maka hipotesis ketiga dari peneltian ini ditolak yaitu

Return On Assets (ROA) mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan. Dalam penelitian

ini nilai koefisien ROA adalah negatif yang menunjukkan bahwa semakin meningkat ROA maka

pembiayaan akan berkurang. Pada uji t dengan menyertakan Ukuran Perusahaan sebagai variabel

kontrol diperoleh hasil yang bertentangan dimana nilai t hitung dari variabel Return On Assets

(ROA) sebesar negatif (-4,631627) dengan nilai signifikan sebesar 0,000 > 0,05, maka dapat

disimpulkan bahwa Return On Assets (ROA) secara individu berpengaruh negatif signifikan

terhadap pembiayaan. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian Yoga

Pradana dan R. Djoko Sampurno (2013) yang menyatakan ROA mempunyai pengaruh yang

positif dan signifikan terhadap volume KPR.

NPF

Hasil uji t tanpa menyertakan Ukuran Perusahaan sebagai variabel kontrol antara variabel Non

Performing Financing (NPF) terhadap pembiayaan perbankan syariah menunjukkan nilai t


sebesar (-0,285155) dengan nilai signifikan sebesar 0,7760 > 0,05, maka dapat disimpulkan

bahwa secara individu Non Performing Financing (NPF) tidak berpengaruh signifikan terhadap

pembiayaan perbankan syariah. Dari dasar diatas maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis

keempat dari penelitian yaitu Non Performing Financing (NPF) mempunyai pengaruh negatif

terhadap pembiayaan ditolak. Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian Maula

(2009) dan Maharani (2010) yang menyatakan bahwa NPF berpengaruh negatif signifikan

terhadap penyaluran pembiayaan.

Uji t yang dilakukan dengan menyertakan Ukuran Perusahaan sebagai variabel kontrol diperoleh

hasil dimana nilai t hitung dari variabel Non Performing Financing (NPF) sebesar (-0,315051)

dengan nilai signifikan sebesar 0,7532 >, maka dapat disimpulkan bahwa Non Performing

Financing (NPF) secara individu tidak berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan.

Kedua nilai koefisien NPF dalam penelitian ini adalah negatif yang menunjukkan bahwa

semakin meningkat NPF maka pembiayaan semakin menurun. Meningkatnya NPF disebabkan

kenaikan pembiayaan yang bermasalah sehingga perbankan syariah berhati-hati untuk

mengeluarkan pembiayaan yang dikeluarkannya untuk meminimalkan timbulnya pembiayaan

bermasalah.

Ukuran Perusahaan

Hasil uji t antara variabel Ukuran Perusahaan terhadap pembiayaan menunjukkan nilai t hitung

sebesar 0,821450 dengan nilai signifikan sebesar 0,4129 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa

secara individu Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan. Hasil

penelitian ini bertentangan dengan penelitian Osei (2013) yang menyatakan bahwa ukuran bank

berpengaruh positif terhadap pembiayaan. Nilai koefisien Ukuran Perusahaandalam penelitian ini

adalah positif yang menunjukkan bahwa semakin meningkat Ukuran Perusahaanmaka


pembiayaan semakin meningkat. Meningkatnya Ukuran Perusahaanakan menaikkan pembiayaan

disebabkan kenaikan Ukuran Perusahaan dikarenakan naiknya asset perusahaan sehingga dana

yang dipergunakan untuk melakukan pembiayaan meningkat.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini mencoba untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan

pada perbankan syariah di Indonesia dengan ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol. Sampel

yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua populasi Bank Umum Syariah yang

berjumlah 11 Bank Umum Syariah. Karena dalam penelitian ini mencoba menggunakan data

time series dari laporan triwulan maka sampel menjadi 132 Bank Umum Syariah dari 11 Bank

Umum Syariah selama tiga tahun. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Pembiayaan, Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Assets

(ROA), Non Performing Financing (NPF) dan Ukuran Perusahaan. Dari analisia dan

pembahasan yang telah dilakukan atas hasil penelitian pada bab sebelumnya, maka dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut :

1. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis melalui uji F yang dilakukan tanpa menyertakan

Ukuran Perusahaan sebagai variabel kontrol menyatakan bahwa semua variabel bebas

(independen) yang terdiri dari Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR),

Return On Assets (ROA), Non Performing Financing (NPF) dan Ukuran Perusahaan sebagai

variabel kontrol berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan Bank Umum Syariah. Adapun

kesimpulan dari uji F yang dilakukan dengan menyertakan Ukuran Perusahaan menyatakan

bahwa variabel Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On

Assets (ROA), Non Performing Financing (NPF) dan Ukuran Perusahaan sebagai variabel

kontrol berpengaruh signifikan terhadap pembiayaan Bank Umum Syariah. Hal tersebut dapat

diketahui nilai dari uji F lebih kecil dari nilai signifikan berada diatas alpha 0,05.
2. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis melalui uji t tanpa menyertakan Ukuran Perusahaan

sebagai variabel kontrol maka didapat kesimpulan bahwa :

a. Hipotesis pertama penelitian yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK) mempunyai pengaruh positif

terhadap pembiayaan bisa diterima.

b. Hipotesis kedua penelitian tidak bisa diterima, yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR)

mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan.

c. Hipotesis ketiga penelitian tidak diterima yaitu Return On Assets (ROA) mempunyai

pengaruh positif terhadap pembiayaan di karenakan t hitung bernilai negatif.

d. Hipotesis keempat dari penelitian yaitu Non Performing Financing (NPF) mempunyai

pengaruh negatif terhadap pembiayaan tidak diterima.

3. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis melalui uji t variabel penelitian dengan menyertakan

Ukuran Perusahaan sebagai variabel kontrol didapat kesimpulan bahwa :

a. Hipotesis pertama penelitian yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK) mempunyai pengaruh positif

terhadap pembiayaan bisa diterima.

b. Hipotesis kedua penelitian tidak bisa diterima, yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR)

mempunyai pengaruh positif terhadap pembiayaan.

c. Hipotesis ketiga penelitian tidak bisa diterima yaitu Return On Assets (ROA) mempunyai

pengaruh positif terhadap pembiayaan.

d. Hipotesis keempat dari penelitian yaitu Non Performing Financing (NPF) mempunyai

pengaruh negatif terhadap pembiayaan tidak bisa diterima.

e. Ukuran Perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap pembiayaan perbankan

syariah.
B. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang apabila dapat diatasi pada penelitian

selanjutnya akan memperbaiki hasil penelitian. Beberapa keterbatasn dari penelitian ini adalah :

1. Jumlah sampel yang diteliti masih sedikit disebabkan populasi Bank Umum Syariah yang

terbatas dan periode penelitian dalam penelitian ini hanya terbatas selama maret 2011 sampai

dengan Desember 2013. Sehingga memungkinkan adanya ketidakakuratan pada hasil

penelitian.

2. Dalam penelitian ini hanya meneliti lima variabel bebas yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK),

Capital Adequacy Ratio (CAR), Return On Assets (ROA), Non Performing Financing (NPF)

dan Ukuran Perusahaan dan satu variabel terikat yaitu Pembiayaan.

3. Dalam penelitian ini data tidak terdistribusi secara normal, maka dilakukan trasformasi data,

sehingga uji outlier tidak dilakukan pada penelitian ini, dikarenakan sampel data yang akan

dioutliner terlalu sedikit.

C. Saran

Berdasarkan hasil penelitian serta kesimpulan yang telah diuraikan maka peneliti menyarankan :

1. Dalam penelitian selanjutnya diharapkan agar jumlah sampel dapat ditambah menjadi lebih

banyak denagn menggabungkan populasi Bank Umum Syariah dengan Unit Usaha Syariah

atau semua perbankan syariah di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh hasil yang

lebih akurat.

2. Penelitian yang akan datang hendaknya menambah variabel penelitian tidakhanya dari faktor

internal tetapi faktor eksternal perbankan sehingga dapat memnetahui faktor-faktor yang

mempengaruhi pembiayaan Bank Umum Syariah.