Anda di halaman 1dari 13

ANALISA JURNAL (PICO)

KEHADIRAN KELUARGA SELAMA RESUSITASI JANTUNG PARU

DISUSUN OLEH
KELOMPOK B

SYAIFUL RAKHMAN, S.KEP I4B110211


SUARDIANTO, S.KEP I4B111006
RINAWATI, S.KEP I4B111008
APRILIA AYU WIDIARTI, S.KEP I4B110020
RAIHANATUSSAZIAH, S.KEP I4B111024
FILIA SOFIANI IKASARI, S.KEP I4B111028
ALPI RAHMAH, S.KEP I4B111203
RIZKA HAYYU NAFIAH, S.KEP I4B111206

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITASLAMBUNG MANGKURAT
2015
LEMBAR PENGESAHAN
ANALISA JURNAL (PICO)

KEHADIRAN KELUARGA SELAMA RESUSITASI JANTUNG PARU

Kelompok B :

Syaiful rakhman, s.kep I4B110211


Suardianto, s.kep I4B111006
Rinawati, s.kep I4B111008
Aprilia ayu widiarti, s.kep I4B110020
Raihanatussaziah, s.kep I4B111024
Filia sofiani ikasari, s.kep I4B111028
Alpi rahmah, s.kep I4B111203
Rizka hayyu nafiah, s.kep I4B111206

Banjarmasin, 23 November 2015

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Abdurrahman Wahid, S.Kep.,Ns, M.Kep Aisyahtul Ranie Yulianti, S.Kep.,Ns


NIP. 198311 200812 1 002 NIP 19750726 199803 2 004
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara epidemiologi angka kematian akibat penyakit jantung mencapai 17.3


juta orang per tahun, berdasarkan laporan dari WHO tahun 2008. Di Amerika
Serikat penyakit jantung merupakan penyebab kematian pertama baik untuk pria
ataupun wanita, dengan angka kejadian 1 juta per tahunnya. Di Indonesia,
berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007 memperlihatkan bahwa prevalensi
beberapa penyakit jantung dan pembuluh darah seperti hipertensi sangat tinggi,
yaitu sebesar 31.7%, sedangkan penyakit jantung 7.1% dan Stroke 0.83%.
Penyakit kardiovaskuler adalah penyebab kematian nomor satu di dunia.
Penyakit kardiovaskular adalah penyakit gangguan pada jantung dan pembuluh
darah. Karena sistem kardiovaskular sangat vital, maka penyakit kardiovaskular
sangat berbahaya bagi kesehatan. Ada banyak macam penyakit kardiovaskular,
tetapi yang paling umum dan paling terkenal adalah penyakit jantung dan stroke.
Dalam banyak kasus kelainan jantung baru terdeteksi saat terjadi serangan
jantung. Oleh karena itu diperlukan penanganan dan edukasi terhadap pasien
dengan penyakit jantung.
Salah satu penanganan kegawatdarurat pada pasien jantung adalah tindakan
resusiatsi. Resusitasi adalah usaha dalam memberikan ventilasi yang adekuat,
pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen
kepada otak, jantung dan alat-alat vital lainnya. Menurut Tjokonegoro, Resusitasi
adalah tindakan untuk menghidupkan kembali atau memulihkan kembali
kesadaran seseorang yang tampaknya mati sebagai akibat berhentinya fungsi
jantung dan paru, yang berorientasi pada otak. saat dilakukan tindakan RJP,
perawat dan dokter mengijinkan keluarga pasien untuk ikut menyaksikan dan
memberikan motivasi pada pasien dalam bentuk tuntunan spiritual pada pasien
yang akan menghadapi kematian. Kehadiran keluarga pada saat klien dilakukan
resusitasi jantung paru memiliki beberapa keuntungan bagi pasien.
Dalam konsisi kritis, kehadiran keluarga di sisi pasien juga sangat berguna
sebagai saksi terhadap semua tindakan yang telah dilakukan. Dengan demikian
saat kondisi pasien dinyatakan meninggal setelah dilakukan tindakan resusitasi,
maka keluarga akan merasa bahwa usaha sudah benar-benar dilaksanakan secara
maksimal sehingga keluarga akan memberikan ucapan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada tim kesehatan dan pasien dianggap meninggal dengan tenang.
Kehadiran keluarga saat RJP juga akan memberikan support dan kenyamanan
pada pasien, mempercepat proses pengambilan keputusan, memahami situasi
kritis, membantu proses koping dan berduka, membantu menurunkan kecemasan
dan ketakutan anggota keluarga lain (Kosowan and Jenses, 2010).
Namun, pada beberapa kondisi, keluarga pasien seharusnya tidak diijinkan
berada di samping pasien saat proses RJP. Contoh kondisi yang tidak
memperbolehkan keluarga dihadirkan di samping pasien adalah kondisi emosi
anggota keluarga yang labil, sehingga dikhawatirkan akan mengganggu proses
RJP.
Kehadiran keluarga pasien saat tindakan resusitasi juga berdampak kepada
perawat maupun tim kesehatan lain, diantaranya berdampak pada tingkat
kepercayaan diri dalam melakukan tindakan.

B. Tujuan dan Manfaat


Tujuannya adalah dengan adanya peran Kehadiran keluarga saat RJP juga
akan memberikan support dan kenyamanan pada pasien, mempercepat proses
pengambilan keputusan, memahami situasi kritis, membantu proses koping dan
berduka, membantu menurunkan kecemasan dan ketakutan anggota keluarga lain
BAB II
ABSTRAK

Family Presence During Cardiopulmonary Resuscitation


Kehadiran Keluarga Selama Resusitasi Jantung Paru

1. Pendahuluan
Serangan jantung adalah menyumbang 600.000 kematian setiap tahunnya di
negara-negara industri. Anggota keluarga yang hadir pada saat tindakan resusitasi
beresiko tinggi memiliki beban diri baik secara emosional atau fisik. Selama
keluarga melihat proses resusitasi pada klien, dapat memberikan pemahaman
kepada keluarga bahwa segala kemungkinan untuk membawa pasien kembali ke
kehidupan awal itu sudah dilakukan . Di sisi lain, dengan kehadiran keluarga saat
tindakan resusitasi pada klien, dapat meminimalkan kecurigaan upaya resusitasi
dengan realitas harapan hidup klien. Anggota keluarga yang menyaksikan
memiliki kesempatan terakhir perjuangan klien dan petugas kesehatan serta
membantu dalam memahami kematian klien, dengan harapan bahwa proses
berkabung tidak akan diperpanjang atau rumit atau menyebabkan post-traumatic
stress disorder (PTSD).
2. Intervensi
Intervensi pada penelitian ini pada unit layanan medis darurat yang
ditugaskan untuk intervensi, tim anggota medis meminta anggota keluarga mereka
untuk hadir selama RJP. Sedangkan unit layanan medis darurat yang ditugaskan
untuk kontrol, meminta anggota keluarga tidak selalu berhadir selama RJP.

3. Hasil
Hasil penelitian ini adalah tekanan dari anggota keluarga selama RJP pasien
orang dewasa yang dilakukan di rumah mendapatkan hasil positif pada evaluasi
psikologis dan tidak mengganggu upaya tim medis serta tidak meningkatkan stres
dalam tim perawatan kesehatan, ataupun hasil dalam konflik medikolegal.

BAB III
ANALISIS JURNAL
Family Presence During Cardiopulmonary Resuscitation
ANALISIS PICO ISI JURNAL

No. Kriteria Jawab Inti Jurnal

1. P Ya Penelitian ini, permasalahannya adalah serangan


jantung menyumbang 600.000 kematian setiap
tahunnya di negara-negara industri. Anggota
keluarga yang hadir pada saat RJP (Resusitasi
Jantung Paru) akan beresiko tinggi untuk terbebani
dalam hal emosional dan fisik keluarga. Kehadiran
keluarga selama RJP dapat membantu mengurangi
kecurigaan dari keluarga terhadap tindakan yang
dilakukan oleh tim medis selama RJP dan mungkin
menawarkan kesempatan terakhir untuk keluarga
mengucapkan selamat tinggal dan membantu
keluarga memahami bagaimana kematian klien,
dengan harapan bahwa masa berkabung tidak akan
terlalu lama atau rumit atau menyebabkan post-
traumatic stress disorder (PTSD).
Desain penelitian yaitu prospektif, kelompok acak,
dan uji coba terkontrol pada 15 unit layanan medis
darurat pra-rumah sakit (Service d'Aide Mdicale
d'Urgence) di Perancis berpartisipasi dalam studi
dari November 2009 sampai Oktober 2011.
Prosedur pengacakan sederhana digunakan untuk
menetapkan delapan unit yang berpartisipasi
sebagai intervensi dan tujuh unit sebagai kontrol.
Sebanyak 570 anggota keluarga (semua populasi
dijadikan sampel) yang terdaftar dalam penelitian
ini terbagi menjadi 266 diberi pilihan untuk hadir
selama RJP (kelompok intervensi) dan 304 yang
tidak secara rutin ditanya apakah mereka ingin
hadir atau tidak (kelompok kontrol).
2. I Ya Intervensi pada penelitian ini pada unit layanan
medis darurat yang ditugaskan untuk intervensi, tim
anggota medis meminta anggota keluarga mereka
untuk hadir selama RJP. Sedangkan unit layanan
medis darurat yang ditugaskan untuk kontrol,
meminta anggota keluarga tidak selalu berhadir
selama RJP.
3. C Ya Pada jurnal ini peneliti menyebutkan bahwa
efektivitas RJP tidak terpengaruh oleh adanya
anggota keluarga, durasi RJP, pemilihan obat,
ataupun tingkat kelangsungan hidup. Hasil ini
berbeda dengan dua temuan besar yang
mengungkapkan kekhawatiran keluarga akan
berpengaruh terhadap RJP.
Pada jurnal ini tidak ada membahas perbandingan
penelitian dengan jurnal lain yang membahas hal
yang sama.
4. O Ya Hasil penelitian ini adalah tekanan dari anggota
keluarga selama RJP pasien orang dewasa yang
dilakukan di rumah mendapatkan hasil positif pada
evaluasi psikologis dan tidak mengganggu upaya
tim medis serta tidak meningkatkan stres dalam tim
perawatan kesehatan, ataupun hasil dalam konflik
medikolegal.

ANALISIS PICO ISI JURNAL MENURUT KELOMPOK


No. Kriteria Jawab Inti Jurnal

1. P Ya Penelitian ini menggunakan metode prospektif,


klaster-acak, dan uji coba terkontrol. Pada
penelitian ini ada Lima belas darurat pra-rumah
sakit unit layanan medis (Service d'Aide Mdicale
d'Urgence) di Perancis yang berpartisipasi dalam
studi dari bulan November 2009 sampai Oktober
2011 yang mana didapatkan data ada 570 keluarga
pasien yang mengalami serangan jantung dan
diberi CPR 15 unit layanan medis darurat pra-
rumah sakit dan dilakukan prosedur pengacakan
sederhana untuk menetapkan delapan unit yang
berpartisipasi untuk intervensi dan tujuh untuk
kontrol. Pada kelompok control disebutkan
bahwa keluarga tidak pernah di berikan opsi untuk
hadir selama CPR, dan setelah itu setelah itu
diberikan opsi kepada keluarga untuk hadir
selama CPR ataukah tidak, keluarga yang memilih
untuk menyaksikan resuscitasi yang dibawa ke
ruang sedangkan pada kelompok intervensi dalam
penelitian disebutkan bahwa tim medis anggota
sistemik tematically meminta anggota keluarga
apakah mereka ingin hadir selama resusitasi
tersebut menggunakan prosedur komunikasi
memperkenalkan adegan resusitasi.
Pada penelitian ini menjelaskan mengenai apakah
kehadiran keluarga selama tindakan CPR dapat
membantu anggota keluarga memahami bahwa
segala kemungkinan untuk membawa pasien
kembali ke kehidupan telah diusahakan. Selain
itu untuk menghilangkan kecurigaan tentang tidak
ada upaya resusitasi dan realistis harapan upaya
tersebut, Kehadiran mungkin membantu orang
yang memahami realitas kematian, dengan
harapan bahwa fase berkabung tidak akan
diperpanjang atau rumit oleh berkabung patologis
atau post-traumatic stress disorder (PTSD).Namun
pada penelitian ini tidak dijelaskan mengapa
waktu untuk mengetahui hasil evaluasi PTSD oleh
keluarga dalam rentang waktu 90 hari.
2. I Ya Pada penelitian ini menunjukkan bahwa tekanan
dari anggota keluarga selama CPR orang pasien
dewasa yang dilakukan di rumah, mendapatkan
hasil positif pada evaluasi psikologis dan tidak
mengganggu upaya medis, tidak meningkatkan
stres dalam tim perawatan kesehatan, atau hasil
dalam konflik medikolegal.
Kelebihan dari penelitian ini merupakan penelitian
yang mencoba merancang multicenter percobaan
kehadiran keluarga selama resuscitation dan juga
memiliki stategi untuk mengatasi beberapa data
yang hilang, pada penelitian ini instrument yang
digunakan sudah di jelaskan dengan alur
pengambilan data yang cukup jelas.
Kekurangan dari penelitian ini adalah tidak
mengevaluasi serangan jantung di rumah sakit
sedangkan di Indonesia sendiri kurang popular
dengan EMS.

3. C Ya Menurut penelitian Compton S, Levy P, Griffin


M, Waselewsky D, Mango L, Zalenski R. yang
berjudul Family-witnessed resuscitation:
bereavement outcomes in an urban
environment.J Palliat Med 2011;14:715-21.
Mengemukakan bahwa Dari 200 responden, 77%
menentang keluarga menyaksikan resusitasi.
Penelitian tersebut menemukan bahwa jenis
kelamin, usia, paparan sebelumnya untuk FWR
atau khusus (kecuali untuk darurat dokter)
berpengaruh terhadap keberadaan keluarga selama
CPR, Itu paling alasan umum yang diberikan
untuk menentang keberadaan keluarga yang takut
trauma psikologis kepada anggota keluarga,
kemungkinan gangguan dengan perawatan
pasien /pengambilan keputusan, dan peningkatan
dirasakan dalam stres staf. Kesimpulan: survei
menunjukkan bahwa mayoritas responden CPR
tidak mendukung kehadiran kerabat selama
resusitasi cardiopulmonary. Sehingga untuk perlu
pemaparan informasi terkait manfaat jika kerabat
hadir selama resusitasi. Pendidikan terkait CPR
juga akan menjadi elemen mendasar untuk
melaksanakan program resmi mendorong
keluarga-menyaksikan CPR di rumah sakit.
Berdasarkan penelitian Patricia Jabre, M.D.,
Ph.D., Vanessa Belpomme, M.D., Elie Azoulay,
M.D., Ph.D., Line Jacob, M.D., Lionel Bertrand
yang berjudul Family Presence during
Cardiopulmonary Resuscitation kelompok
mengemukakan bahwa pada kelompok intervensi
menunjukkan dapat menyelesaikan kuesioner IES
dibandingkan kelompok control yang mana
sebanyak 79% dari kelompok intervensi
menyaksikan selama proses CPR dibandingkan
kelompok control yang hanya 43% saja yang
mengikuti proses CPR yang mana responden yang
tidak dapat menyelesaikan kuesioner IES lebih
banyak di bandingkan kelompok intervensi yang
artinya fase berkabung tidak akan diperpanjang
atau rumit oleh berkabung patologis atau post-
traumatic stress disorder (PTSD) pada kelompok
intervensi.
4. O Ya a. Bagi Mahasiswa Keperawatan
Menambah pengetahuan dan referensi mahasiswa
tentang kehadiran keluarga pada saat resusitasi
mendapatkan hasil positif pada evaluasi psikologis
dan tidak mengganggu upaya tim medis serta tidak
meningkatkan stres dalam tim perawatan kesehatan,
ataupun hasil dalam konflik medikolegal.

b. Bagi Institusi Keperawatan


Sebagai referensi dan pengetahuan baru bagi
Institusi Keperawatan tentang kehadiran keluarga
pada resusitasi mendapatkan hasil positif pada
evaluasi psikologis namun tidak mengganggu upaya
tim medis serta tidak meningkatkan stres dalam tim
perawatan kesehatan, ataupun hasil dalam konflik
medikolegal.Sehingga pada pengajar dapat
menyampaikan dalam pembelajaran terhadap
mahasiswa.
c. Bagi Institusi Rumah Sakit (RSUD ULIN)
Bagi rumah sakit sebagai bahan referensi untuk
mempertimbangkan kehadiran keluarga saat
dilakukan resusitasi mengingat pentingnya bagi
rumah sakit untuk menghilangkan kecurigaan
tentang tidak ada upaya resusitasi dan realistis
harapan upaya tersebut, Kehadiran mungkin
membantu orang yang memahami realitas kematian
dengan melihat bahwa hasil penelitian ini
menyebutkan bahwa dengan kehadiran keluarga
saat resusitasi tidak mengganggu upaya tim medis
serta tidak meningkatkan stres dalam tim perawatan
kesehatan, ataupun hasil dalam konflik
medikolegal.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kehadiran keluarga saat tindakan resusitasi dapat menrunkan tekanan dari
anggota keluarga selama RJP pasien orang dewasa yang dilakukan. Mendapatkan
hasil positif pada evaluasi psikologis dan tidak mengganggu upaya tim medis
serta tidak meningkatkan stres dalam tim perawatan kesehatan, ataupun hasil
dalam konflik medikolegal.

B. Saran
Untuk mempertimbangkan kehadiran keluarga saat dilakukan resusitasi
mengingat pentingnya bagi rumah sakit untuk menghilangkan kecurigaan tentang
tidak ada upaya resusitasi dan realistis harapan upaya tersebut, Kehadiran
mungkin membantu orang yang memahami realitas kematian dengan melihat
bahwa hasil penelitian ini menyebutkan bahwa dengan kehadiran keluarga saat
resusitasi tidak mengganggu upaya tim medis serta tidak meningkatkan stres
dalam tim perawatan kesehatan, ataupun hasil dalam konflik medikolegal..

DAFTAR PUSTAKA
1. World Heart Federation. (2010). Cardiovascular Health: Global Facts and
Map.
2. Departemen Kesehatan RI. (2009). Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta
3. Jabre P et al. (2013). Family Presence During Cardiopulmonary
Resuscitation. The new England journal of medicine. 368 (2013) 1008-
1018.
4. Compton S, Levy P, Griffin M, Waselewsky D, Mango L, Zalenski R.
( 2011). Family-Witnessed Resuscitation: Bereavement Outcomes In An
Urban Environment. J Palliat Med, 14 (2011):715-21.