Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

PEMBAHASAN
A. Keterampilan Reseptif: Menyimak
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang
lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk
memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna
komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa
lisan (Tarigan dalam Daeng dkk., 2010:16). Menyimak adalah suatu keterampilan
yang hingga sekarang agak diabaikan dan belum mendapat tempat yang sewajarnya
dalam pengajaran bahasa. Masih kurang sekali materi berupa buku teks dan sarana
lain, seperti rekaman yang diperdagangkan untuk menunjang tugas guru dalam
pengajaran menyimak untuk digunakan di Indonesia.
Seperti diutarakan dalam pembahasan sebelumnya, pendekatan pemahaman
justru menekakan pemahaman melalui mendengarkan atau menyimak. Ini akan
menggeser penekanan dari keterampilan berbicara sebagai keterampilan yang terlebih
dahulu harus dikuasai pelajar BT ke keterampilan reseptif tanpa berbicara terlebih
dahulu. Bagaimana pun urutan penyajian yang dianggap benar, dalam bab ini kita
membicarakan metode dan teknik yang diusulkan untuk digunakan sebagai petunjuk
bagi guru bahasa.
Dalam teori menyimak ada beberapa konsep yang sekilas perlu dibahas
terlebih dahulu sebelum kita membicarakan materi dan metode penyajian. Konsep-
konsep itu ialah: (a) unsur-unsur yang berlebihan (redundant features), (b) gangguan
jalur (noise); (c) pengharapan mengenai apa yang akan didengar sebelum
didengarnya (anticipation), dan (d) unsur-unsur yang tidak dapat didengar (blind
spots).

(a) Unsur-unsur yang berlebihan


Unsur-unsur yang berlebihan ialah adanya unsur-unsur atau ciri-cira yang,
dari sudut teori informasi, tidak diperlukan. Artinya, tanpa disimak pun, unsur-
unsur/ciri-ciri itu tidak ada informasi yang berkurang yang diterima. Umpamanya,
dalam bahasa Inggris, tidak dapat/pernah /s/ yang didahului oleh bunyi letup yang
bersuara (yang menyebabkan selaput suara bergetar), seperti /b/, /d/, dan /g/ dalam
kata-kata robrobs /rabz/, (tetapi bukan /rabs/); seedseeds /siydz/ (tetapi bukan
/siyds/). Bunyi /s/ selalu didahului oleh bunyi letup yang tidak bersuara, seperti dalam
kata-kata bookbooks /buks/ (tetapi bukan /bukz/); bathbaths /bas/ (tetapi bukan
baz/) dan seterusnya . Jadi, ciri bersuara atau tidak bersuara itu di depan bunyi /s/
pada akhir kata adalah berlebihan atau mubazir (redundant); artinya asal kita
mengetahui bunyi di depan /s/ adalah bunyi letup, kita tidak perlu lagi mendengar
dengan saksama apakah bunyi letup itu bersuara atau tidak, seperti dalam pasangan
rip rips /s/ dan rib ribs /z/, dan seterusnya. Contoh dalam bahasa Indonesia, kalau
kita mendengar: Beberapa ongkos ... kereta api pulang ...?, maka kata-kata yang
kurang jelas kita dengar itu dapat kita terka (nail, pergi) karena hanya satu kata yang
dapat mengisi setiap tempat kosong itu. Dalam mengajar bahasa, khususnya
menyimak, guru seyogianya memberi latihan-latihan dalam mengenal unsur yang
berlebihan ini, sebab dalam komunikasi yang wajar, kita memang tidak selalu dapat
mendengar setiap bunyi yang diucapkan pembicara.

(b) Gangguan jalur (noise)


Gangguan jalur atau noise ialah suatu konsep lain yang penting diketahui
oleh guru bahasa. Dalam teori informasi, setiap gangguan atau kerusakan pada mesin
(radio, telepon, TV) yang menyebabkan suatu pesan tidak atau sukar didengar melalui
sesuatu jalur atau channel disebut gangguan jalur. Dalam berbicara, gangguan jalur
ini dapat disebabkan oleh suara-suara dari luar (radio, suara orang lain, mesin bubut,
dan sebagainya). Akan tetapi, gangguan jalur ini dapat diatasi dengan kemampuan
untuk mengetahui unsur-unsur yang berlebihan yang kita bicarakan dalam butir (a) di
atas. Makin tinggi tingkat kemampuan berbahasa seorang pelajar bahasa, makin
berkurang pengaruh ganggguan ini dan pelajar tetap akan dapat menangkap pesan
yang disampaikan itu. Latihan-latihan simulasi melalui telepon merupakan salah satu
cara yang baik untuk belajar mengatasi pengaruh gangguan jalur ini.
(c) Pengharapan mengenai apa yang akan didengar sebelum didengarnya
Konsep ini ialah suatu konsep yang merupakan fakta bahwa dalam kita
berbicara dengan orang lain, sering apa yang belum terucapkan oleh lawan bicara kita
itu dapat kita terka sebelumnya. Makin tinggi tingkat kemampuan berbahasa seorang
pelajar bahasa, makin akurat atau tepat terkaan tentang informasi apa yang akan
datang. Sebagai contoh dalam bahasa Indonesia kita ambil percakapan anatara guru
dan pelajar. Kalau seorang mengangkat tangan dan mengatakan Boleh saya pergi
ke., maka guru sudah mengerti dan mengangguk untuk memberi izin. Latihan
mengharap apa yang akan dikatakan ini ialah, antara lain, memberi kalimat yang
belum selesai, atau cerita yang tidak ada akhir ceritanya, dan pelajar disuruh menerka
bagian yang belum selesai ini. Prinsip ini dapat juga diterapkan dalam tes rumpang.
Tes rumpang ialah suatu tes yang setiap kata (ke-5, ke-6, ke-7, dan sebagainya)
dikosongkan dalam suatu bacaan. Pelajar harus mengisi tempat kosong ini dengan
satu kata, yang sesuai dengan arti/makna dalam bacaan, dapat berupa kata benda, kata
kerja, atau kata sifat. Dalam tes rumpang yang aturannya sudah dirumuskan seperti di
atas, guru tidak dapat menguasai pilihan kata yang dikosongkan.

(d) Unsur-unsur yang tidak dapat didengar (blind spots)


Konsep ini ialah kata-kata atau bunyi ujar (speech sounds) yang sudah jelas
diucapkan guru (atau diucapkan penutur asli dalam rekaman), tetapi yang tidak dapat
didengar oleh pelajar dengan pengertian atau pemahaman. Dengan lain perkataan,
bunyi itu didengar dengan telinganya, tetapi tidak ditangkap dengan otaknya. Dalam
bahasa Indonesia untuk orang asing, perbedaan anatara / / dan / g / sukar didengar
oleh orang itu dalam kata-kata: dengan dan bangga. Untuk melatih kepekaan
pendengaran, guru dianjurkan untuk menyajikan kata-kata, frasa-frasa, atau kalimat-
kalimat dalam pasangan minimal. Contoh dalam bahasa Inggris; set dan sat; dalam
bahasa Prancis: le poisson (ikan) dan le poison (racun); dalam bahasa Jerman: Ohr
(telinga)-Uhr (jam); dan dalam bahasa Arab: kalab (anjing)-qalb (hati/jantung)
B. Materi Menyimak
Untuk situasi di Indonesia, materi yang dapat digunakan untuk mengajar menyimak
BT (bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, Jerman, dan Arab) secara bertahap, ialah
1. Fase pengenalan
Fonologi (fonem-fonem), kata-kata, frasa-frasa, dan kalimat-kalimat.
2. Frasa pemahaman permulaan
Melakukan respons non-linguistik, (Ini dianjurkan dalam pendekatan pemahaman,
umpamanya).
3. Fase pemahaman pertengahan
Menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai isi bacaan pendek, percakapan para
penutur asli, percakapan melalui telepon, dan sebagainya.
4. Fase pemahaman lanjut
Bertanya-jawab tentang isi berita radio, TV, penyajian bahan otentik, dan
sebagainya.

Catatan: Untuk bahasa Indonesia, yang merupakan bahasa kedua secara


sosiolinguistik, setiap fase itu dapat diperpendek, sebab para pelajar sudah diharapkan
kepada bahasa itu dalam masyarakat formal dan informal dan juga di sekolah. Jalur
pemerolehan memang digunakan juga dalam pelajaran bahsa kedua seperti dikatakan
dalam bab sebelumnya.
Langkah-langkah (metode) penyajian ialah sebagai berikut:
a. Untuk fase pengenalan: fonologi
Pembendaan bunyi-bunyi dalam kata-kata yang berupa pasangan minimal.
Allen & Valette (dalam Subyakto, 1988:158) memberi contoh-contoh dari
bahasa Prancis dengan gambar-gambar. Pelajar menunjuk yang mana yang
dikatakan, kolom A atau B

Bahasa Prancis A B
le poisson /s/ (ikan)
(bukan la poison racua /z/)

Le livre /iy/ buku


(bukan la lvere bibi //

Grand-mere /nm/ nenek


(bukan grammair, tata
bahasa /m/)

b. Untuk fase pemahaman permulaan


Melakukan; perintah tanpa respon lisan.
1) Melakukan perintah secara fisik. Contoh
Bangkitlah!
Angkat tangan kanan!
Turungkan!
Angkat kaki kiri!
2) Bereaksi pada seruan seperti Awas!, Hati-hati! atau Stop. Juga bereaksi
pada pengumuman melalui pengeras suara: harap semua mendekat kemari!
3) Melakukan perintah dengan menulis/menggambar di kertas. (para pelajar
menggambar dengan sangat sederhana).
4) Melakukan perintah dengan menggunakan gambar,sketsa, denah, dan
sebagainya yang sudah disediakan guru. Dalam akitastivitas ini guru
membagikan kertas yang ada gambar/sketsa/denah. Para pelajar harus
mendengarkan perintah guru, kemudian mengerjakan perintah itu dengan
mengisi tempat-tempat kosong dalam gambar/sketsa/denah itu. Contoh
wanita yang tinggi itu namanya Janet, dan yang pendek itu Tina. Tulislah
nama-nama mereka di bawah gambar-gambarnya
c. Untuk fase pemahaman pertengahan
Para pelajar menjawab pertanyaan-pertanyaan (secara lisan atau di kertas).
1) Guru membacakan bacaan pendek (atau rekaman). Kemudian guru memberi
pertanyaan-pertanyaan mengenai isi bacaan itu.
2) Guru memutar rekaman percakapan dua orang penutur asli. Kemudian guru
menayakan mengenai isi percakapan (tentang apa) dan juga, antara lain, siapa-
siapa yang berbicara (anak dan ibunya), laki-laki: dua orang pemuda;
bagaimana nada suara penutur A atau B (heran, marah, terkejut, dan lain-lain);
di mana mereka berbicara (di ruangan kelas, di rumah, di tempat ibadah), dan
sebagainya.
3) Guru memutar rekaman percakapan satu arah melalui telepon. Para pelajar
mendengarkan, lalu mereka diminta menerka apa kira-kira yang dikatakan
oleh pihak lain yang tidak dapat mereka dengar. Contoh dari bahasa Inggris:
Percakapan telepon (didengar hanya satu arah)
A: Hello, is this 555-678
B: (1)
A: May I speak to Mr. Aziz, please?
B: (2)
A: Well, in that case, can I leave a message?
B:..... (3)
A: Could you tell him that Jadi called? My number is 356-789. Ask him to
call me back. Thank you.
Pertanyaan dapat dituangkan dalam bentuk pilihan ganda sebagai berikut:
jawaban B yang mana yang benar?
1. (a) Yes, please.
(b) Yes, it isnt it.
(c) Yes, it is.
(d) Yes, what do you want?.
(jawaban yang benar ialah : c)

2. (a) Hes, not here.


(b) Im sorry, but hes not in right now.
(c) Whos calling please?
(d) No.
(jawaban yang benar ialah : b)
3. (a) Yes, OK.
(b) Yes, go ahead.
(c) Yes, please.
(d) Yes, certainly.
(jawaban yang benar ialah : d)

4) Guru menyediakan kalimat-kalimat yang ditujukan kepada orang lain.


Pembicara-pembicara itu menawarkan dagangan. Contoh yang kita ambil
ialah dari (Allen & Valette dalam Subyakto, 1988:161) dari bahasa Jerman.
Pertanyaan: Apa yang diperdengarkan?
A : wollen Sie nicht ihrer Freundin einen herlichen Rosenstrau
kaufen? (Apakah Anda tidak mau membelikan teman wanita Anda
satu ikat bunga ros yang segar?)
Jawaban : Rosenstrau
B :
A : Nehmen Sie zwei von der roten Tabletten, eine um acht Uhr
morgens, die andere acht Uhr abends! (ambillah 2 tablet yang merah
itu; yang satu pada jam 8 pagi, dan yang lainya pada jam 8 malam).
Jawaban: Tabletten (aber Medizine).
B :

d. Untuk fase pemahaman lanjut

Dalam fase ini, para pelajar diberi latihan untuk mendengarkan berita-berita
dari radio, TV, dan juga ulasan-ulasan berita dari radio dan TV. Selanjutnya dapat
juga disajikan potongan-potongan dari kuliah dalam bidang tertentu, yang secara
bertahap dapat dijadikan lebih panjang. Dalam aktivitas ini para pelajar dianjurkan
untuk mendengarkan sambil membuar catatan (mengenai fakta-fakta seperti nama,
tahun, angka, tempat, dan waktu) untuk menolong mereka dalam mengingat.

1) Penyajian berita radio


Radio memang suatu sarana yang baik dalam melatih menyimak dalam
bahasa asing, tetapi harus diingat bahwa tidak semua siaran radio merupakan
contoh BT yang dapat dianggap wacana yang spontan atau otentik. Ada
banyak siaran radio yang dikhususkan untuk para pendengar non-penutur asli
(umpamanya: Voice of America) kadang-kadangmenyajikan acara dalam
bahasa Inggris yang mudah dan lambat pembacaannya, yang disebutnya
special English. Ada juga siaran yang dapat kita klasifikasikan sebagai
wacana tulisan yang dibacakan. Adalah tugas guru BT untuk memilih teks-
teks radio yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kemampuan berbahsa
para pelajarnya.
2) Penyajian berita TV
Sama dengan keterampilan-keterampilan lainya, kita tidak pernah menyimak
tanpa tujuan. Widdowson (dalam Subyakto, 1988:163) membedakan
mendengar (hearing) dengan mendengarkan (listening). Kita dapat
mendengar radio/TV berbunyi tanpa mendengarkannya atau menyimaknya.
Untuk memimpin pelajaran dalam keterampilan menyimak, yakni
mendengarkan, guru dapat memberi tugas tertentu, umpamanya: para
pelajar (secara berkelompok) diberi intruksi untuk mengikuti siaran TV (pada
jam 6.30-7.00 malam untuk mereka yang tinggal di Jakarta, dan sekitarnya),
dan mencatat butir-butir kabar apa saja yang dibacakan penyiar pada suatu
tanggal tertentu. Guru dapat juga memberi tugas lain, yakni mengikuti siaran
TV seri cerita TV dari luar negeri dan mencatat sejumlah kalimat yang
belum pernah mereka dengar sebelumnya, dan lain aktivitas yang semacam di
atas.
3) Penyajian ulasan-ulasan berita, potongan-potongan perkuliahan, dan berita-
berita lainya yang otentik. Materi untuk ini dapat direkam oleh guru dan
diputar untuk para pelajar di kelas atau di laboraturium bahasa. Yang
dipentingkan di sini ialah materi yang digunakan oleh penutur asli sewajarnya
dalam perilaku berbahasa, baik dala pidato maupun dalam kuliah atau diskusi.
Dalam teks-teks yang otentik ini guru memperkenalkan pelajar kepada
wacana yang asli, yang diucapkan penutur dalam keadaan yang wajar dan
alamiah dan yang memiliki ciri-ciri:
(a) Kemungkinan penggunaan tata bahasa yang kurang benar;
(b) Kalimat-kalimat yang tidak diselesaikan;
(c) Kalimat-kalimat yang dipotong dengan ucapan seperti hm, er, dan eh.

Memang lebih baik pelajar dianjurkan untuk mendengarkan materi yang


otentik sebanyak mungkin, teteapi ini pun memberi problem pula kepada
pelajar yang sudah tinggi tingkatan kemampuannya, karena mereka sedikit
banyak akan bingung mengikuti wacana yang demikian banyak kesalahan-
kesalahannya. Untuk menghindari rasa kebingungan pada pihak para pelajar,
mungkin lebih baik apabila guru menggunakan wacana otentik yang
disimulasi, yang berarti bahwa guru merekam suara pembicara yang diberi
pengarahan terlebih dahulu, tanpa mengorbangkan keotentikan bahasanya.
PENUTUP

Berdasarkan uraian pada bagian pembahasa dapat disimpulkan sebagai


berikut:
1. Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang
lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk
memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna
komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau
bahasa lisan.
2. Dalam teori menyimak ada beberapa konsep yang sekilas perlu dibahas
terlebih dahulu sebelum kita membicarakan materi dan metode penyajian
yakni: (a) unsur-unsur yang berlebihan, (b) gangguan jalur, (c) pengharapan
mengenai apa yang akan didengar sebelum didengarnya, dan (d) unsur-unsur
yang tidak dapat didengar.
3. Materi yang dapat digunakan untuk mengajar menyimak BT (bahasa
Indonesia, Inggris, Prancis, Jerman, dan Arab) secara bertahap, yakni: (a) fase
pengenalan, (b) fase pemahaman pemulaan, (c) fase pemahaman
pertengahan, dan (d) fase pemahaman lanjutan
DAFTAR PUSTAKA

Daeng, Kembong dkk. 2010. Pembelajaran Keterampilan Menyimak. Makassar:


Badan Penerbit UNM.

Subyakto, Sri Utami. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: P2IPTK Dikti
Depdiknas.