Anda di halaman 1dari 2

Epidemiologi

Kolelitiasis lebih sering dijumpai pada individu berusia diatas 40 tahun terutama pada wanita
dikarenaan memiliki faktor risiko, diantaranya : obesitas, usia lanjut, diet tinggi lemak dan genetik
(Jong W. & Sjamsuhidajat R., 2005). Insidens kolelitiasis di negara Barat adalah 20% dan banyak
menyerang orang dewasa dan lanjut usia. Angka kejadian penyakit batu empedu dan penyakit
saluran empedu di Indonesia diduga tidak berbeda jauh dengan angka di negara lain di Asia
Tenggara dan sejak tahun 1980-an angkanya berkaitan erat dengan cara diagnosis dengan
ultrasonografi (Jong W. & Sjamsuhidajat R., 2005)
Prevalensi GD bervariasi sesuai dengan daerahnya masing-masing. Di negara-negara Barat,
prevalensi GD diketahui adalah sebesar 7,9% pada laki-laki dan 16,6% pada wanita. Di ras Asia ,
angka kejadiannya adalah sebesar 3-15%, sementara pada ras Afrika hampir tidak ada (kurang dari
5%) dan ras Cina sebesar 4,21-11%. Prevalensi GD juga diketahui tinggi pada kelompok-kelompok
etnis tertentu, seperti 73% pada wanita suku Indian Pima, 29,5% dan 64,1% pada masing-masing
laki-laki dan wanita suku Indian Amerika, dan 8,9% dan 26,7% pada masing-masing laki-laki dan
wanita Meksiko Amerika

Diagnosis

2.10.1 Anamnesis

Setengah sampai duapertiga penderita kolelitiasis adalah asimtomatis. Keluhan yang mungkin
timbul adalah dispepsia yang kadang disertai intoleran terhadap makanan berlemak. Pada yang simtomatis,
keluhan utama berupa nyeri di daerah epigastrium, kuadran kanan atas atau perikondrium. Rasa nyeri
lainnya adalah kolik bilier yang mungkin berlangsung lebih dari 15 menit, dan kadang baru menghilang
beberapa jam kemudian. Timbulnya nyeri kebanyakan perlahan-lahan tetapi pada 30% kasus timbul tiba-
tiba. Lebih kurang seperempat penderita melaporkan bahwa nyeri berkurang setelah menggunakan antasida.
Kalau terjadi kolelitiasis, keluhan nyeri menetap dan bertambah pada waktu menarik nafas dalam.

2.10.2 Pemeriksaan Fisik

Apabila ditemukan kelainan, biasanya dengan berhubungan dengan komplikasi, seperti kolesistitis
akut dengan peritonitis lokal atau umum, empiema kandung empedu, atau pankreatitis. Pada pemeriksaan
ditemukan nyeri tekan dengan punktum maksimum di daerah letak anatomis kandung empedu. Tanda
Murphy positif apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik napas panjang karena kandung
empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik napas.

Batu saluran empedu juga tidak menimbulkan gejala dalam fase tenang. Kadang teraba hati dan
sklera ikterik. Perlu diketahui bahwa bila kadar bilirubin darah kurang dari 3 mg/dL, gejala ikterik tidak
jelas. Apabila sumbatan saluran empdu bertambah berat, akan timbul ikterus klinis.

2.10.3 Pemeriksaan Penunjang


a) Pemeriksaan radiologis
USG merupakan pemeriksaan standard, yang sangat baik untuk menegakkan diagnosa Batu
Kantong Empedu. Kebenaran dari USG ini dapat mencapai 95% di tangan Ahli Radiologi. Foto polos
abdomen juga dapat membantu diagnosis. Kadang-kadang diperlukan CT Scan apabila batu berada di
saluran empedu.

b) Pemeriksaan laboratorium
Batu kandung empedu yang asimptomatik, umumnya tidak menunjukkan kelainan laboratorik.
Kenaikan ringan bilirubin serum terjadi akibat penekanan duktus koledokus oleh batu, dan penjalaran
radang ke dinding yang tertekan tersebut.