Anda di halaman 1dari 7

Laporan Kasus

Purnama

1
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini, tanggal .. Telah dipresentasikan oleh:


Nama Peserta :
Judul/Topik :
Nama Pendamping :
Nama Wahana :

Nama Peserta Presentasi :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pendamping

dr. Rizqi Rifani

2
Kasus 14

Topik : Chronic Obstructive Pulmonary Disease


Tanggal kasus : 11 September 2015
Presenter : dr. Purnama
Tanggal presentasi :
Pendamping : dr. Rizqi Rifani
Tempat presentasi : RS Bhayangkara Hoegeng Imam Santoso, Banjarmasin
Obyek presentasi : Keterampilan, Diagnostik, Geriatri
Deskripsi : 71 tahun, batuk berdahak selama tiga hari SMRS dan sesak.
Keluhan batuk dan sesak berulang sejak 5 tahun yang lalu,
tidak ada demam, pasien merupakan perokok aktif, tidak ada
riwayat TB.
Tujuan : Mengurangi keluhan sesak akibat COPD
Bahan bahasan : Kasus
Cara membahas : Diskusi
Data pasien : Nama pasien: Tn. K
Data untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis
COPD
2. Riwayat pengobatan
Pasien sudah diberi obat batuk.
3. Riwayat kesehatan/penyakit
a. Batuk berdahak sejak 3 hari
b. Pasien sesak
c. Tidak ada demam
d. Riwayat TB disangkal
e. Pasien merupakan perokok aktif
f. Keluhan batuk dan sesak berulang dan berkurang setelah di nebulizer

3
4. Riwayat keluarga
Riwayat TB dan pneumonia pada keluarga disangkal
5. Kondisi lingkungan sosial dan fisik
Dalam satu rumah berukuran 5x9 m2, pasien tinggal dengan ayah dan ibu.
Pasien tinggal di komplek perumahan tidak terlalu padat. Biaya pengobatan
pasien ditanggung biaya pribadi.
6. Lain-lain:
a. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Baik, sadar
Kesadaran : Composmentis
Vital sign : TD : 130/80 mmHg,
N: 92x/m, kuat angkat
R: 42x/m,
S: 36,8 C
SpO2: 85 % tanpa oksigen, 90% dengan O2 2
lpm
Berat badan : 55 kg
Tinggi badan : 165 cm
Pemeriksaan kepala leher
Mata : Konj.anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Hidung : Pernapasan cuping hidung (-/-)
Mulut : Mukosa bibir lembab (+)
Leher : Pembesaran KBG (-/-)
Pemeriksaan thoraks
Pulmo
Inspeksi : Dinding dada simetris, retraksi interkostal (-),
ketinggalan gerak (-), jejas (-)
Palpasi : Vokal fremitus simetris pada kedua lapang
paru

4
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara dasar : vesikuler
Wh - -
+ +
+ +
Rh (-/-)
Cor
Inspeksi : Ictus cordis tampak pada SIC V 1 jari medial
LMC sinistra
Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V 1 jari medial
LMCsinistra, kuat angkat (-), thrill (-).
Perkusi : Batas jantung
Kanan atas SIC II LPS dextra
Kanan bawah SIC IV LPS dextra
Kiri atas SIC II LPS sinistra
Kiri bawah SIC V 1 jari medial LMC sinistra
Auskultasi : S1>S2, regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen:
Inspeksi : distensi (-), jejas (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani
Palpasi : hepar, lien dan massa tidak teraba. nyeri
tekan (-). Turgor kulit cepat kembali.
Pemeriksaan ekstremitas
Superior : Akral hangat (+/+)
Inferior : Akral hangat (+/+), Edema (-/-)

5
Hasil pembelajaran
1. Diagnosis kerja
Laki-laki mengeluh batuk 3 hari berdahak dan sesak, pasien merupakan
perokok aktif, tidak ada demam, tidak ada riwayat TB.
2. Dasar diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan hasil radiologi didapatkan
gambaran emfisema paru. Pasien didiagnosis menderita Chronic Obstructive
Pulmonary Disease atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
COPD merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk
sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh
peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai
gambaran patofisiologi utamanya. Bronkitis kronik, enfisema paru, dan
asma bronchial membentuk satu kesatuan yang disebut PPOK.
3. Etiologi
Kerusakan paru-paru pada Chronic Obstructive Pulmonary Disease
disebabkan oleh emphysema ataupun chronic asthmatic bronchitis. Sebagian
besar penderita chronic obstructive pulmonary disease mengidap kedua
penyakit tersebut. Chronic obstructive pulmonary disease dipicu oleh rokok,
debu, asap bahan kimia dari pabrik, dan polusi udara.
Faktor yang meningkatkan risiko Chronic Obstructive Pulmonary Disease yaitu :
Terpapar asap rokok.
Terpapar asap, debu, dan bahan kimia di tempat kerja.
Umur. Penderita penyakit ini biasanya berumur di atas 40 tahun.
4. Penatalaksanaan
Berhenti merokok adalah terapi intervensi utama untuk COPD. Tatalaksana
berdasarkan derajat serangan:
o Stadium I (Obstruksi ringan): Short-acting bronchodilator
o Stadium II (Obstruksi sedang): Short-acting bronchodilator, long-acting
bronchodilator(s); cardiopulmonary rehabilitation

6
o Stadium III (obstruksi berat): Short-acting bronchodilator, long-acting
bronchodilator; cardiopulmonary rehabilitation; glucocorticoid inhalasi jika
terjadi eksaserbasi berulang
Obat-obatan yang dapat digunakan adalah:
Short-acting beta 2 -agonist bronchodilators (albuterol, metaproterenol,
levalbuterol, pirbuterol)
Long-acting beta 2 -agonist bronchodilators (salmeterol, formoterol,
arformoterol, indacaterol, vilanterol)
Respiratory anticholinergics (ipratropium, tiotropium, aclidinium)
Xanthine derivatives (theophylline)
Phosphodiesterase-4 Inhibitors (roflumilast)
Inhaled corticosteroids (fluticasone, budesonide)
Oral corticosteroids (prednisone)
Kombinasi Beta 2 -agonist and anticholinergic inhalasi (ipratropium and
albuterol, umeclidinium bromide/vilanterol)
Kombinasi Beta 2 -agonist and corticosteroid inhalasi (budesonide/formoterol,
fluticasone and salmeterol, vilanterol/fluticasone)
Pada pasien ini diberikan nebulizer combivent kemudian sesak berkurang.
Obat rawat jalan yang diberikan adalah berotec inhaler.
5. Rencana monitoring
1) Awasi tanda sesak di rumah
6. Edukasi
Hentikan kebiasaan merokok
Gunakan inhaler saat sesak, jika sesak tidak berkurang segera dibawa ke RS.