Anda di halaman 1dari 6

ANALISA ANTENA MIKROSTRIP PATCH

SEGIEMPAT DENGAN TEKNIK PLANAR ARRAY 1x2


PADA FREKUENSI 950MHZ
Maria Chris Tinna Tanggahma1, Sigit Pramono2
Sekolah Tinggi Teknologi Telematika Telkom Purwokerto
1
14101098@st3telkom.ac.id, 2sigit@st3telkom.ac.id
__________________________________________________________________________________________________________________

Abstract Antenna deployment needs in to a good landing and the acquisition of a high gain can be fulfilled with the drafting of the
antenna with the antenna array configuration. The antenna array is the order of multiple antennas are identical. In the antenna mikrostrip
arranged in an array is part of the patch. Planar array has advantages in setting up and controlling the direction of the radiation pattern.
This paper presents the design of antenna arrays from microstrip patch antenna type oriented -900 and 900. This antenna is capable of
producing dual-polarization. Leaning on the radiation pattern of the -900 and 900. A combination of two impedance matching using patches
that have been used to design antenna arrays operate at frequencies up to 0.905 GHz -0.890 GHz. The design is simulated using CST Studio
Suite 2016 and created on the substrate dielectric Constant Er with FR4 = 4.7, tan = 0.019 and thickness = 1.6 mm. The results of the
simulations and measurements have been compared. Design of antenna arrays 1x2 yield Return loss <-10dB. The resulting antenna gain of
0.8495 dB and a bandwidth 0.01526 GHz radiation pattern with intermediate.

Keywords Microstrip, Antena Array, CST, Rectangular Patch

Intisari Kebutuhan pengaplikasian antena dalam keterarahan yang baik dan perolehan gain yang tinggi dapat dipenuhi dengan menyusun
antena dengan konfigurasi antena array. Antena array adalah susunan dari beberapa antena yang identik. Dalam antena mikrostrip yang
disusun secara array adalah bagian patch. Planar array memiliki kelebihan dalam pengaturan dan pengendalian arah pola radiasi.
Paper ini menyajikan desain antena array dari jenis antena patch microstrip yang berorientasi pada 900 dan -900. Antena ini mampu
menghasilkan dual-polarisasi. Pola radiasi miring pada 900 dan -900. Kombinasi dua patch menggunakan pencocokan impedansi yang telah
digunakan untuk merancang antena array beroperasi pada frekuensi 0.890 GHz sampai 0.905 GHz. Desainnya disimulasikan menggunakan
CST Studio Suite 2016 dan dibuat pada substrat FR4 dengan dielektrik Konstan Er = 4,7, tan = 0,019 dan ketebalan = 1,6 mm. Hasil
simulasi dan pengukuran telah dibandingkan. Desain antena array 1x2 menghasilkan Return loss <-10dB. Gain yang dihasilkan antenna
sebesar 0.8495dB dan bandwidth 0.01526 GHz dengan pola radiasi intermediate.

Kata KunciMicrostrip, Antena Array, CST, Rectangular Patch


_____________________________________________________________________________________

I. PENDAHULUAN dengan berdasarkan substrate yang dipilih yaitu FR 4 dengan


ketebalan bahan sebesar 1.6 mm dan frekuensi kerja dengan
Antena mikrostrip terdiri dari tiga susunan yaitu patch, rentang 0.5 GHz hingga 0.95 GHz.
substrate dan ground plane. Untuk teknik pencatuan yang Pada jurnal ini, akan dianalisis antena mikrostrip patch
digunakan adalah microstrip line feed dimana konektor segiempat yang disusun secara linear. Jenis antena yang
dihubungkan dengan ground plane dan patch. Konektor yang digunakan antena mikrostrip patch segiempat linear array 2
digunakan memiliki nilai impedansi sebesar 50. Dalam elemen. Adapun hasil yang diharapkan adalah diperolehnya
perhitungan ukuran antena atau dimensi sangat dipengaruhi karakteristik dari antena mikrostrip yang disusun secara linear
oleh frekuensi kerja dan jenis karakteristik bahan yang berupa gain, pola radiasi, dan VSWR. Analisis dilakukan
digunakan. Semakin tinggi frekuensi yang digunakan maka dengan menggunakan perangkat lunak CST Studio Suite 2016.
semakin kecil dimensi antena dan sebaliknya semakin kecil
frekuensi akan semakin besar dimensi patch antena. II. DASAR TEORI
Dalam merancang sebuah antena mikrostrip sangat
dipengaruhi oleh karakteristik bahan yang digunakan. 2.1 Antena Mikrostrip
Langkah awal dalam perancangan antena adalah dengan Antena mikrostrip merupakan antena yang
menentukan bentuk fisiknya terlebih dahulu. Patch yang populer saat ini. Hal ini dikarenakan bentuk dan
digunakan dalam paper ini adalah rectangular. Kemudian ukurannya yang sederhana serta mudah dibuat dan
diintegrasikan. Elemen peradiasi antena mikrostrip refleksi merupakan perbandingan antara tegangan yang
memiliki bentuk yang beragam seperti segitiga (triangle), dipantulkan terhadap tegangan maju. Antena yang sangat
persegi (square), atau persegi panjang (rectangular). bagus dapat memiliki nilai return loss yang lebih rendah
Bentuk paling sederhana pada substrat mikrostrip adalah dari 10 dB sehingga 90% sinyal diserap dan hanya 10%
berupa sisipan dua buah lapisan konduktif yang saling yang dipantulkan kembali[8].
paralel yang dipisahkan oleh suatu substrat dielektrik[3]. | |
G = | +|
(2-3)
Keuntungan dari antena mikrostrip adalah
dengan Vo adalah tegangan pantul dan Vo+ adalah
-
mempunyai bobot yang ringan dan volume yang kecil,
tegangan pancar. Return loss dinyatakan sebagai bentuk
konfigurasi yang low profile, biaya pabrikasi yang murah,
logaritmik dari koefisien pantul.
mendukung polarisasi linier dan sirkular, kemampuan
1 1 = 20 log|G| (2-4)
dalam dual frekuency dan triple frequency, dan tidak
d. Pola radiasi
memerlukan catuan tambahan. Sedangkan kelemahan
Pola radiasi antena didefinisikan sebagai fungsi
antena mikrostrip adalah bandwidth yang sempit, efisiensi
matematis atau representasi grafis dari sifat-sifat radiasi
yang rendah, penguatan yang rendah, memiliki daya yang
antena sebagai fungsi dari koordinat ruang. Sifat-sifat
rendah, dan timbulnya gelombang permukaan [2].
radiasi meliputi rapat fluks daya, intensitas radiasi, kuat
Antena mikrostrip mempunyai struktur yang terdiri
medan, directivity fasa atau polarisasi. Pola radiasi terdiri
dari 3 lapisan[1] seperti yang diperlihatkan pada Gambar
atas bagian-bagian yang disebut Lobes, yang
2.1, yaitu :
dikelompokkan ke dalam major dan minor (side dan back
a. Patch bagian yang terletak paling atas dari antena
lobe)[8]. Adapun untuk pembagian lobe selanjutnya dapat
dan terbuat dari bahan konduktor ini berfungsi untuk
dilihat pada Gambar 2.2.
meradiasikan gelombang elektromagnetik ke udara.
b. Substrat berfungsi sebagai media penyalur
gelombang elektromagnet dari sistem pencatuan.
c. Groundplane yaitu lapisan paling bawah yang
berfungsi sebagai reflektor yang memantulkan sinyal
yang tidak diinginkan.
Gambar 2. Lobe-lobe Pola Radiasi[8]
1) HPBW (Half Power Beamwidth) dapat didefinisikan
sebagai sudut yang terbentuk oleh titik setengah daya
dari main lobe
Gambar 1. Antena Mikrostrip[1]
2) Main Lobe : Bagian dari daerah radiasi dimana arah
Berikut ini merupakan beberapa parameter yang
radiasi antena maksimum.
digunakan pada antena mikrostrip,yaitu :
3) Minor lobe: Bagian ini menyatakan daerah radiasi
a. Bandwidth
yang tidak diinginkan. Level dari minor lobe ini
Bandwidth suatu antena didefinisikan sebagai rentang
menyatakan besarnya rasio densitas daya atau side
frekuensi. Bandwidth dapat dicari dengan menggunakan
lobe level.
rumus [4][5]:
21
4) Back lobe : Bagian dari minor lobe yang berlawanan
= (2-1) dengan main lobe.

b. VSWR (Voltage Standing Wave Ratio) 5) Side lobe : Bagian dari minor lobe yang bersebelahan
VSWR adalah perbandingan antara amplitudo gelombang dengan main lobe.
berdiri (standing wave) maksimum (|V|max) dengan e. Directivity (Keterarahan)
minimum (|V|min)[6]: Directivity sebuah antena didefinisikan sebagai
=
||
=
1+|G|
(2-2) perbandingan antara intensitas radiasi antena pada suatu
|| 1|G| arah tertentu dengan intensitas radiasi rata-rata dari segala
Kondisi yang paling baik adalah ketika VSWR bernilai arah[8].
1[6]. Namun pada umumnya nilai VSWR yang dianggap 2
4(180)
masih baik adalah VSWR 2[7]. = 10 log (2-5)
.
c. Return loss dengan,
Return loss merupakan parameter yang menggambarkan DdB = keterarahan (directivity) (dB)
kesesuaian impedansi (matching) antena. Koefisien = lebar berkas daya pada polarisasi horizontal (0)
= lebar berkas daya pada polarisasi vertikal (0) 1. Mencari jarak antar elemen
6. Gain (Penguatan) Sesuai dengan rumus, maka:
Salah satu pengukuran yang penting untuk 1
D=
menggambarkan performa suatu antena adalah gain 4

(penguatan). Pada praktiknya pengukuran gain dilakukan 1 3 108


=
dengan menggunakan metode pembandingan 4 0.9 109

(Gaincomparison Method) atau gain transfer mode. = 0,012125


Prinsip pengukuran ini adalah dengan menggunakan = 12.125 mm
antena referensi (biasanya antena dipole standar) yang 2. Mencari lebar antena
sudah diketahui nilai gainnya (Stutzman, 1981: 39). Sesuai dengan rumus, maka:

2.2 Teknik Array Wp=
+1
2
Agar dapat membuat banyak aplikasi diperlukan 2

antena dengan keterarahan yang baik dan perolehan gain 3 108


=
yang tinggi. Kebutuhan karakteristik ini dapat dipenuhi 20.95 109
4,4+1
2
dengan menyusun antena dengan beberapa konfigurasi
disebut sebangai antena array. Antena array adalah = 0,15789
susunan dari beberapa antena yang identik. Dalam antena = 157.89 mm
mikrostrip yang disusun secara array adalah bagian 3. Mencari dielektrik efektif patch
patch[6]. Sesuai dengan rumus, maka:
1
+1 1
Ada beberapa macam konfigurasi antena array, eff = ( + ) x (1 + 12 )2
2 2
di antaranya: linear, planar, dan circular. Masing-masing 1
4,4+1 4,41 1,6
konfigurasi memiliki keuntungan. Planar array memiliki =( + ) x (1 + 12 96.1)2
2 2
kelebihan dalam pengaturan dan pengendalian arah pola
= 4.017 mm
radiasi[7].
4. Mencari penambahan panjang saluran
Sesuai dengan rumus, maka:
III. PERANCANGAN DAN SIMULASI
(eff+0,3) ( +0,264)
L = 0.412 h [
]
Perancangan antena mikrostrip patch rectangular (eff0,258) ( +0,8)

didesain untuk bekerja pada frekuensi 950MHz. dan patch (4.017+0,3) (
96.1
+0,264)
= 0.412 x 1,6 [ ]
1,6
yang terbuat dari Copper (annealed). Substrate berfungsi 96.1
(4.0170,258) ( +0,8)
untuk membatasi elemen peradiasi dengan elemen ground. 1,6
4,317 (60.0625+0.264)
Variasi ketebalan yang dapat berpengaruh pada bandwidth, = 0.6592 ( )
3,759 60.3265
frekuensi kerja, dan juga efisiensi antena. Patch digunakan
= 0,757 mm
untuk meradiasikan gelombang elektromagnetik ke udara.
5. Mencari panjang antena
Patch terbuat dari bahan konduktor seperti tembaga atau
Sesuai dengan rumus, maka:
emas dengan bentuk persegi panjang, Ground berfungsi
sebagai pembumian bagi sistem antena mikrostrip. Lp = 2L
2 eff
Tabel 1. Parameter Antena Mikrostrip 3 108
No. Parameter Nilai = 2(0,757)
2 0.95 109 4.017
1 Frekuensi Kerja 950 MHZ = 77.266 mm
2 Jenis Substrat FR4 6. Mencari jarak lebar patch dengan substrat
3 Kostanta Dielektrik Relatif () 4.4 Sesuai dengan rumus, maka:
4 Dielectric Loss Tangen () 0.008 Wg= 6h + W
5 Ketebalan Substrat (h) 1.6 mm = (6 x 1,6) + 96.1
6 Impedansi 50 = 105.7 mm
7 Thicknes (tebal tembaga) 0.035 mm 7. Mencari jarak panjang patch dengan substrat
Sesuai dengan rumus, maka:
A. Dimensi Desain Antena Lg= 6h + L
Berikut adalah langkah-langkah dalam menentukan = (6 x 1,6) + 77.286
dimensi antena: = 86.886 mm
8. Mencari lebar stripline
Pertama, kita harus mencari parameter B terlebih Tabel 1. Dimensi Awal Antena
dahulu, sesuai dengan rumus, maka: Nama Parameter Ukuran (mm)
602 Lebar Patch Wp 96.1
B=
z0
Panjang Patch Lp 77.266
602
= Tebal Patch Hp 0.035
4,4 50
= 5,64617 Lebar Stripline Wst 3.061
Setelah mengetahui nilai B, baru masukkan ke Panjang Stripline Lst 19.65
rumus untuk mencari lebar stripline. Tebal Stripline Hp 0.035
2 1
Wst = {B 1 ln (2B 1) + [ln (B 1) + Jarak Antar Elemen D 157.89
2
0,61 Jarak Lebar Patch Wg 105.7
0,39 - ]} Dengan Substrat

21,6 Jarak Panjang Patch Lg 86.886
= {5,64617 1 ln (2 x 5,64617 1) +
Dengan Substrat
4,41 0,61
[ln (5,64617 1) + 0,39 - ]} Tebal Substrat Hs 1,6
24,4 4,4
Panjang Substrat Ls 183.802
= 1,01859 {4,64617 - ln(10,29234) + 0,3863
[ln(4,64617) + (0,25136)]} Lebar Substrat Ws 415.725
= 1,01859 (2,31477 + 0,69042) Tebal Ground Plane Hgp 0.035
= 3,061 mm
9. Mencari dielektrik efektif stripline B. Desain Antena Awal
3,061
=
1.6

= 1,9132 sehingga >1

Maka sesuai rumus :
1
+1 1
eff = + x (1 + 12 ) 2
2 2
1
4,4+1 4,41 1,6
= + x (1 + 12 ) 2
2 2 3,061 Gambar 3. Desain Antena Awal
= 3,3304 mm
10. Mencari panjang stripline C. Hasil Simulasi
Pertama, kita harus mencari parameter dan g Berdasarkan desain antenna yang dibuat dengan
terlebih dahulu, sesuai dengan rumus, maka: software CST diatas maka dihasilka gambar grafik

= sebagai berikut:

a. S-Parameter
3 108
=
0.9 109
= 0,31579
= 315.79 mm

g =
eff
315.79
=
4.017
= 78.61
Gambar 4. Hasil S-Parameter Simulasi
Setelah mengetahui nilai g, masukkan ke rumus
Berdasarkan Gambar 4., dapat diketahui nilai
untuk mencari panjang stripline.
bandwidth yaitu pada nilai S11 dan VSWR, dimana nilai
Lst= S11 -10 dB. Dari hasil simulasi didapat nilai return
4
78.61 loss terbaiknya bernilai -10,09dB pada frekuensi 0.89055.
=
4 Nilai tersebut masih belum berada pada frekuensi yang
= 19.65 mm diharapkan, yaitu 0.9 Mhz.
b. VSWR 0.88991)GHz = 0.01526 GHz atau (0.01526/0.90)*100% =
1.695 % dan frekuensi operasinya 0.890 GHz sampai 0.905
GHz. Nilai gain ditunjukkan pada Gambar 12, dimana nilai
gain pada frekuensi 0.9 GHz adalah sebesar -0.8495 dB.

Gambar 9. Hasil VSWR Simulasi


Pada perancangan antena mikrostrip dua elemen
array, jarak antar elemen dapat diatur untuk
mendapatkan hasil yang lebih optimal, yaitu dengan Gambar 10. Hasil S-Parameter Simulasi
VSWR 2. Dari hasil simulasi didapat nilai VSWR
terbaik belum berada pada frekuensi yang diharapkan,
yaitu 0.9 Mhz. Selain itu nilai VSWR juga belum
maksimal karena nilai VSWR-nya menunjukan nilai
1.9827 pada frekuensi 0.89005 MHz.
Berdasarkan hasil simulasi yang telah dijalankan
dapat diketahui bahwa antenna yang telah di desain
masih belum optimal. Maka dilakukan proses optimasi
antenna dengan merubah desainnya sesuai dengan tabel Gambar 11. Hasil VSWR Optimasi
optimasi berikut:
Tabel 2. Dimensi Akhir Antena
Nama Parameter Ukuran (mm)
Lebar Patch Wp 96.1
Panjang Patch Lp 78.3264
Tebal Patch Hp 0.035
Lebar Stripline Wst 3.061 Gambar 12. Hasil Gain Optimasi
Panjang Stripline Lst 19.65 Berdasarkan simulasi yang dilakukan menunjukan bahwa
Tebal Stripline Hp 0.035 pola radiasinya adalah intermediate. Simulasi yang bekerja
Jarak Antar Elemen D 157.89 menghasilkan polarisasi dengan arah maksimum main lobe
berada diantara bentuk broad side (ditunjukkan pada gambar
Jarak Lebar Patch Wg 105.7
Dengan Substrat 15) dan end fire (ditunjukkan pada gambar 14).
Jarak Panjang Patch Lg 86.886 Hasil pengujian menunjukan bahwa untuk polarisasi
Dengan Substrat vertikal pada frekuensi 0.9 GHZ, antena memiliki nilai -
Tebal Substrat Hs 1,6 14.2dB dengan beamwidth sebesar 52.20 dan nilai pola
Panjang Substrat Ls 183.802 radiasi horizontal-nya memiliki nilai -19.7dB dengan
Lebar Substrat Ws 415.725 beamwidth sebesar 46.90. Hasil pengukuran menunjukan
bahwa antena berpolarisasi elips.
Tebal Ground Plane Hgp 0.035

IV. ANALISA

Berdasarkan hasil optimasi yang telah dilakukan dapat


dilihat pada Gambar 10 bahwa nilai return loss setelah
optimasi nilainya masih mendekati -10dB yaitu -9.9817dB.
Nilai VSWR 2 dapat dilihat pada Gambar 11, dimana nilai
VSWR-nya dimulai dari frekuensi 0.88991 GHz sampai
Gambar 13. Hasil Pola Radiasi Optimasi
0.90517 GHz, sehingga nilai bandwidth-nya adalah (0.90517-
[4] Balanis, Constantine A, 2005, Antena Theory Analysis
and Design, third edition, Willey inc.
[5] Yong, Daniel, 2008, UHF Microstrip Antenna Design and
Simulation, first edition, Sim University Press.
[6] Surjati, Indra. Antena Mikrostrip: Konsep dan
Aplikasinya, Jakarta, Universitas Trisakti, 2010.
[7] Rambe, Ali Hanafiah, 2008, Rancang Bangun Antena
Mikrostrip Patch Segiempat Planar Array 4 Elemen
Gambar 14. Hasil Pola Radiasi Phi Optimasi
Dengan Pencatuan Aperture-Coupled Untuk Aplikasi
CPE Pada WIMAX. Jakarta: Universitas Indonesia.
[8] Ida Bagus Ngurah Wily Wiguna. Perancangan dan
Pembuatan Antena Mikrostrip Circular Patch Array
Empat Elemen dengan Konfigurasi Symmetry Parallel
Feed Network untuk Frekuensi Kerja 2,4 GHz.
Universitas Brawijaya Malang. [Online]
http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/34943
175/MAKALAH_SEMINAR_HASIL.pdf. Diakses pada
tanggal 21 Mei 2017.
Gambar 15. Hasil Pola Radiasi Theta Optimasi [9] Stutzman, Warren L. and G. A. Thiele. 1981. Antenna
Theory and Design. John Willey and Son, Inc. New York.
V. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari pembuatan jurnal


ini yaitu:
1. Nilai return loss mendekati -10dB yaitu -9.9817dB.
2. Nilai VSWR< 2 dimulai dari frekuensi 0.88991 GHz
sampai 0.90517 GHz, sehingga nilai bandwidth-nya
adalah 0.01526 GHz atau 1.695 % dan frekuensi
operasinya 0.890 GHz sampai 0.905 GHz.
3. Nilai gain pada frekuensi 0.9 GHz adalah sebesar -
0.8495 dB.
4. Pola radiasi antena adalah intermediate
5. Polarisasi antena adalah elips

REFERENSI

[1] Maria Natalia Silalahi, Ali Hanafiah Rambe. Analisis


Antena Mikrostrip Patch Segiempat dengan Teknik
Planar Array. DTE FT USU, VOL. 2 NO. 3/Juni 2013.
[Online]
http://jurnal.usu.ac.id/singuda_ensikom/article/download/
2274/1866. Diakses pada tanggal 3 Mei 2017.
[2] Apurva N. Mody, Gerald Chouinard, 2010.Enabling
Rural Broadband Wireless Access Using Cognitive Radio
Technology.
[3] Firmansyah, Teguh, dkk. Antena Mikrostrip Rectangular
Patch 1575,42 MHz dengan Polarisasi Circular untuk
Receiver GPS. JNTETI, Vol. 4, No. 4, November 2015.
ISSN 2301 - 4156. [Online]
http://ejnteti.jteti.ugm.ac.id/index.php/JNTETI/article/do
wnload/170/159 . Diakses pada tanggal 5 Mei 2017.