Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Infark adalah kematian suatu jaringan tubuh. Hal ini dapat disebabkan
berkurangnya pasokan darah yang menuju jaringan tubuh tersebut. Adanya
penyumbatan pada vena atau arteri yang mengalirkan darah menuju organ tubuh
dapat menimbulkan terjadinya infark jaringan 7,9.

Infark paru adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fokus


nekrosis lokal pada jaringan parenkim paru yang diakibatkan oleh penyumbatan
vaskular. Kematian jaringan paru akibat tersumbatnya aliran darah seperti arteri
pulmonalis oleh suatu embolus.

Iskemia sepintas pada jaringan paru mengakibatkan dilatasi kapiler,


arteriol dan venula dan juga menimbulkan peningkatan permeabilitas vaskular
dengan kebocoran cairan dan eritrosit. Hal ini terjadi karena sel endotel pembuluh
darah sangat peka terhadap hipoksemia. Perdarahan paru yang terjadi menyerupai
infark paru, tetapi struktur jaringan paru di pertahankan dan arsitektur sebelumnya
kembali lagi setelah resorbsi darah. Perdarahan paru yang disebabkan
tromboemboli paru atau infark paru dapat multiple dan banyak di temukan pada
lobus bawah, terutama pada paru kanan. Infark paru biasanya terletak pada
jaringan paru perifer, cenderung berbentuk kerucut/taji(wedge-shaped), pada
pertolongan melintang dengan puncak menuju ke tromboemboli dan dasar pada
pleura, daerah ini berwarna merah gelap dan merah coklat dan biasanya berbatas
tegas 1,3.

Pada infark paru, jaringan nekrosis selalu hemoragis dan struktur paru asli
rusak atau tidak ada. Pada perjalanannya, warna infark paru berubah dari merah
gelap menjadi coklat bila eritrosit rusak dan pigmen hemosiderin di fagositosis
oleh makrofag, kemudian warna berubah menjadi keabu-abuan bila terjadi fibrosis
dan infark paru berubah menjadi jaringan parut. Retraksi daerah fibrotik ini
menyebabkan cekungan pada permukaan pleura. Pada infark paru septik, warnya
putih keabu-abuan karena lisis eritrosit dengan pengumpulan sel granulosit

1
polimormonuklear. Infark paru septik dapat disebabkan karena emboli terinfeksi
stau proses infeksi di paru. Sebaliknya infark paru septik dapat menyebabkan
abses paru 2.

Terkadang infark paru dikaitkan pula dengan kanker paru. Akan tetapi,
kejadiannya jauh lebih jarang jika dibandingkan dengan infark akibat emboli paru.
Kanker paru dapat mengakibatkan infark paru jika terjadinya metastase sel kanker
ke arteri dan vena pulmonal sehingga terjadi obstruksi. Sebuah kasus infark paru
pernah dilaporkan di Tokyo yag setelah dianalisis penyebabnya adalah
adenosquamous cell carcinoma paru-paru kanan. Kanker ini megakibatka infark
paru multiple di lobus superior dan medial dextra.

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui
definisi, etiologi, patofisiologi, factor presdiposisi, manifestasi klinis, pemeriksaan
penunjang, penatalaksanaan, dan komplikasi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Infark adalah kematian suatu jaringan tubuh. Hal ini dapat disebabkan
berkurangnya pasokan darah yang menuju jaringan tubuh tersebut. Adanya
penyumbatan pada vena atau arteri yang mengalirkan darah menuju organ tubuh
dapat menimbulkan terjadinya infark jaringan.

Infark paru adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fokus


nekrosis lokal pada jaringan parenkim paru yang diakibatkan oleh penyumbatan
vaskular. Kematian jaringan paru akibat tersumbatnya aliran darah seperti arteri
pulmonalis oleh suatu embolus 2.

2.2 Etiolog

Infark paru merupakan suatu keadaan yang sering disebabkan oleh adanya
embolus pada paru (pulmonary embolism).2,3,5 Emboli dapat terjadi dikarenakan
tromboemboli vena (venous thromboembolism).2,3,5,6Hal ini dapat berhubungan
dengan adanya trauma, post operasi dan kelahiran.Tiga faktor predisposisi yang
dapat menimbulkan trombus sesuai trias virchow adalah :

- Endotel cedera
- Statis aliran darah
- Darah hiperkoagulabilitas

Emboli yang dapat menyebabkan infark paru jika terjadi penyumbatan


total di arteri pulmonalis dan arteri bronkialis yang merupakan pembuluh darah
secara langsung berada pada alveoulus.2,3,6 Jika sirkulasi bronkus normal dan
ventilasi tetap normal, keadaan infark paru jarang terjadi. Infark paru terjadi jika
adanya gangguan pada jantung atau sirkulasi bronkus.2,3,6

Embolus yang dapat menyebabkan infark paru biasanya sering berasal dari
vena dalam ekstremitas bawah seperti vena femoralis, vena poplitea dan vena

3
iliaka.2,3,6 Embolus tersebut masuk kealiran darah menuju jantung dan akhirnya
menyumbat di pembuluh darah paru.

2.3 Epidemiologi

Kasus emboli paru dapat berhubungan dengan infark paru, namun


biasanya hanya 10% kasus emboli paru yang berujung pada infark paru.3Kasus
terbanyak yang dapat menyebabkan infark paru adalah adanya penyakit dasar
seperti gagal jantung ataupun thromboflebitis.4,5

Faktor predisposisi lain yang dapat menimbulkan penyumbatan pembuluh


darah akibat embolus antara lain2,3,5 :

Obesitas

4
Hal ini dapat menyebabkan terjadinya emboli lemak yang jika terjadi
penyumbatan pada pembuluh darah paru dapat menyebabkan infark paru.
Hiperkoagulabilitas darah
Aktivitas pembekuan darah yang meningkat dapat menyebabkan
penggumpalan darah dan jika gumpalan darah tersebut terlepas yang
mungkin menyebabkan penyumbatan pada aliran darah paru akan
menimbulkan infark pada paru.
Obat kontrasepsi
Terapi dengan kontrasepsi ataupun steroid dapat menyebabkan
hiperkoagulobilitas darah.

2.4 Patofisiologi dan Patogenesis

Infark paru sangat berhubungan dengan adanya penyumbatan pada aliran


darah paru, seperti arteri pulmonalis dan arteri bronkialis oleh karena adanya
embolus (emboli paru). Pembentukan trombus dapat berasal dari pembuluh arteri
dan vena, terutama pada ekstremitas bawah, pelvis serta dapat pula akibat
lepasnya trombus dari jantung kanan 10,11.

Trombus ini terjadi karena rusaknya dinding pembuluh darah arteri, aliran
darah vena yang tidak lancar serta pembekuan darah dalam vena jika terjadi
kerusakan endotel vena. Infark paru yang sering terjadi sering berhubungan
dengan tromboemboli vena. Trombus vena ini biasanya lepas dari pembuluh darah
dan mengalir bersama darah vena menuju jantung. Saat diperjalanan, trombus
tersebut dapat beragregasi dengan trombus-trombus kecil yang lain sehingga dapat
menambah ukuran trombus tersebut.3 Ditambah dengan perlambatan aliran darah
(statis) dan faktor pembekuan darah dapat mendukung terbentuknya trombus
dengan ukuran besar. Faktor pembekuan darah dapat meningkat kerjanya pada
beberapa keadaan seperti post operasi, persalinan dan trauma pada organ-organ
tubuh 2.

Trombus tersebut akan mengikuti aliran darah menuju jantung, lalu dari
jantung kanan akan menuju paru melewati arteri pulmonalis. Trombus tersebut
dapat menyumbat pada arteri pulmonalis yang menyebabkan obstuksi total

5
ataupun sebagian.3Perlu diketahui, penyumbatan tersebut dapat mengaktifkan
refleks neurohumoral yang akan menyebabkan terjadinya vasokonstriksi pada
cabang-cabang arteri pulmonalis serta timbulnya bronkokonstriksi (gangguan
respirasi) akibat adanya obstruksi tersebut.3 Hal ini dapat menjelaskan gejala-
gejala yang akan timbul dari infark paru akibat emboli paru.

Namun, keadaan ini belum tentu dapat dengan mudah menyebabkan


terjadinya infark paru. Infark paru dapat terjadi jika terjadi penyumbatan tidak
hanya di arteri pulmonalis namun juga pada arteri bronkialis dan terjadi gangguan
pada saluran pernapasan.2,3Infark paru sangat jarang terjadi pada keadaan emboli
paru disalah satu arteri paru saja. Ini dikarenakan jaringan paru mendapatkan
oksigen dari sirkulasi arteri pulmonalis, sirkulasi arteri bronkialis dan langsung
dari saluran pernapasan.2,3

Sehingga infark paru jarang terjadi dan mekanismenya tidaklah jelas.


Namun, infark paru sering terjadi pada pasien gagal jantung serta penyakit paru
obstruktif kronik (PPOK).2,3 Pada pasien gagal jantung akan terjadi penurunan
aliran darah menuju arteri bronkialis dalam waktu lama sedangkan PPOK dapat
menyebabkan perubahan atau hilangnya struktur normal arteri bronkialis yang
akan memudahkan terjadinya infark paru.2,3

Keadaan lain yang dapat menyebabkan infark paru adalah vaskulitis yang
terjadi pada arteri bronkialis dapat menyebabkan peradangan pan trombosis.2,3,5
Serta emboli sepsis yang akan mengaktifkan proses radang dari suatu
mikroorganisme pada jaringan parenkim paru yang akan menimbulkan nekrosis
langsung pada paru.3

2.5 Manifestasi Klinis Infark Paru

Gejala infark paru hampir menyerupai gejala emboli paru3. Adapun gejala
dapat terjadi antara lain :

Sesak napas mendadak


Keadaan ini disebabkan bronkokonstriksi dari penyumbatan arteri paru
secara total.

6
Takipnea
Batuk-batuk
Hemoptisis
Hemoptisis dapat timbul setelah 12 jam terjadinya emboli paru dan
sesudah 24 jam daerah infark menjadi terbatas dikelilingi oleh daerah paru
yang sehat serta terbentuknya suatu perdarahan dan ateletaksis. Lama
kelamaan jaringan yang mengalami perdarahan tersebut akan mengering
dan terbentuk jaringan parut.
Nyeri Pleuritik
Nyeri dirasakan pada dinding dada daerah paru yang terkena serta sering
juga dirasakan pada daerah bahu ipsilateral. Nyeri pleuritik ini disebabkan
karena terjadinya perdarahan pada arteri pulmonalis segmental atau
subsegmental yang mengalami obstruksi.6 Cairan pleura akan bercampur
dengan darah sehingga akan terjadi gesekan pleura. Nyeri ini juga dapat
dilihat pada pasien dengan ketidaksimetrisan pergerakan dinding dada.3
Adanya tanda-tanda fisis paru, seperti : peluritis, elevasi diafragma yang
terkena dan tanda-tanda konsolidasi daerah paru yang terkena seperti
terjadinya ateletaksis.
Jika terjadi obstruksi pada arteri besar paru, maka akan tampak gejala
seperti gagal jantung kanan (tanda hemodinamika) : tekanan vena jugularis
meninggi, sianosis sentral.
Apabila terjadi obstruksi pada ateri kecil, maka akan tampak gangguan
respirasi (bronkokonstriksi).

2.6 Diagnosa Infark Paru3,4,5

Untuk mendiagnosa suatu infark paru dapat dilakukan beberapa pemeriksaan.


Namun, untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya infark paru tetap dapat
dilakukan dengan anamnesa dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik lalu
menentukan bagian paru yang terkena infark dengan pemeriksaan penunjang.

Anamnesis

7
Dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab terjadinya gejala-gejala
yang menjurus pada kasus infark paru. Tanyakan riwayat penyakit yang
dapat menerangkan faktor risiko terjadinya infark paru. Serta tanyakan
gejala-gejala yang terjadi yang dapat menunjang penegakan diagnosa.
Pemeriksaan fisik
Dari inspeksi lihat tanda-tanda adanya trombosis vena dalam biasanya
pada daerah ekstremitas bawah. Adakah terjadinya fraktur femur, tirah
baring yang lama, tanda-tanda infark miokard lainnya. Dari auskultasi
dapat didengan suara gesekan pleura pada bagian yang terkena obstruksi.
Pemeriksaan penunjang
- Radiologis
Densitas paru yang sesuai dengan infark paru didapatkan sekitar 25-
30% kasus, dengan tampak sebagai kesuraman pada sudut kosto
frenik. Atau sebagai densitas bulat dengan batas tidak jelas diatas
diafragma, yang disebut Hamptons hump yang berbentuk kerucut
dengan dengan basis pada pleura dan puncak menuju hilus tetapi
gambaran ini jarang ditemukan.
- Sidikan Paru Perfusi dan Ventilasi
Pemeriksaan sidikan perfusi paru dengan menggunakan albumin yang
ditanda dengan Te99m. Bahan kontras radioaktif tadi disuntikkan
intravena. Beberapa saat kemudian perfusinya dibaca dengan kamera
gamma. Efek sidikan paru (cold nodule) menentukan kemungkinan
letak infark paru. Namun hal ini perlu dikombinasikan dengan sidikan
ventilasi paru dengan gas Xenon133 yang diinhalasi oleh pasien,
hasilnya akan dibaca pada kamera gamma.
Angiografi paru
Pemeriksaan ini paling akurat untuk menilai terjadi penyumbatan pada
arteri-arteri paru. Pada kasus infark paru akibat adanya penyumbatan
(emboli paru) akan terlihat penghentian aliran kontras dengan mendadak
(filling defect). Angiografi penting dilakukan jika penegakan diagnosa
pasti pada sidikan paru perfusi dan ventilasi telah menunjukkan adanya
suatu obstruksi arteri. Angiografi paru mutlak perlu dilakukan apabila

8
pasien akan embolektomi paru. Angiografi paru dapat dilakukan satu
minggu setelah fase akut.
CT Scan7
Jika terdapat sarana penunjang yang tepat seperti CT Scan, dapat dengan
mudah menilai adanya infark paru tanpa memberikan intervensi dengan
pemberian kontras seperti sidikan dan angiografi. Namun, sering
terkendala pada sarana dan harganya yang mahal. Gambaran infark paru
pada CT Scan :

2.7 Diagnosa Banding


Pneumonia
Sumbatan bronkus oleh lendir pekat
Tuberkulosis paru dengan efusi pleura
Karsinoma paru

2.8 Penatalaksanaan Infark Paru

Pengobatan emboli paru dan infark paru mempunyai prinsip terapi yang sama
dan juga keadaan ini merupakan keadaan gawat darurat yang harus ditindaklanjuti
dengan tepat dan segera. Pengobatan yang diberikan kepada pasien emboli paru
dan infark paru, terdiri dari:

1. Tindakan untuk memperbaiki keadaan umum pasien

9
Tindakan ini adalah hal untuk memperbaiki dan mempertahankan fungsi
vital tubuh seperti memberikan oksigen saat terjadinya sesak atau
hipoksemia, infus untuk menstabilkan cairan yang keluar dari ventrikel
kanan menuju aliran darah pulmonal.
2. Pengobatan atas dasar indikasi khusus.
Keadaan ini mencakup menangani faktor penyebab terjadinya emboli dan
infark paru, seperti gagal jantung kanan yang dapat diberikan vasopressor,
obat inotropik ataupun digitalis.
3. Pengobatan utama terhadap emboli dan infark paru
Dengan cara memberikan pengobatan untuk menghambat pertumbuhan
tromboemboli dan melarutkan tromboemboli.

Pengobatan antikoagulan
- Heparin dapat diberikan untuk melarutkan trombus, menghambat
agregasi trombosit dan mencegah emboli ulang. Pemberian
heparin dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti : 1) drip
heparin dengan infus intravena, 2) suntikan intravena intermitten,
3) suntikan subkutan. Namun pemberian drip heparin dengan
infus intravena lebih disukai dibanding dengan suntikan intra
vena intermiten karena kasus perdarahan yang minimal.Dosis
heparin : bolus 3000 5000 unit IV ditambah dengan 30.000
35.000 unit/hari infus glukosa 5% atau salin 0,9%. Lama
pengobatan diberikan selama 7 10 hari, selanjutnya diberikan
obat antikoagulan oral.
- Warfarin juga dapat diberikan untuk menghambat aktivitas
vitamin K sebagai faktor pembekuan darah. Dikarenakan aktivitas
warfarin bekerja lama, dianjurkan pemberian warfarin setelah
pemberian heparin. Dosis yang biasa dipakai adalah 10-15 mg/Kg
BB oral. Lama pemberian warfarin sekitar 3 bulan (12 minggu)
secara terus menerus.
Pengobatan trombolitik

10
Pengobatan ini ditujukan untuk menghilangkan sumbatan mekanik
karena tromboemboli dengan melisiskan tromboemboli tersebut. Obat
yang tersedia adalah streptokinase dan urokinase.
4. Pengobatan lain
Pembedahan dapat dilakukan pada pasien yang tidak adekuat dengan
pemberian terapi warfarin ataupun heparin. Tindakan pembedahan yang
dapat dilakukan adalah :
Venous interruption
Yang bertujuan untuk mencegah terjadinya emboli berulangdari
trombus vena pada ekstremitas bawah. Cara kerjanya dengan
memasang filter pada vena cava inferior sehingga dapat mencegah
emboli dengan ukuran lebih dari 2 mm memasuki sirkulasi jantung
dan paru.
Embolektomi
Dahulu banyak dikerjakan pada pasien kontraindikasi dengan
pemakaian antikoagulan. Namun, risiko yang cukup besar dengan
embolektomi dapat terjadi sehingga pada masa sekarang sudah sangat
jarang dipakai.

2.9 Pencegahan

Cegah terjadinya tromboemboli vena dalam pada ekstremitas bawah


dengan pemakaian stocking elastis yang akan membantu aliran darah secara lancar
dan mencegah terjadinya statis aliran darah. Mencegah posisi duduk atau berdiri
yang terlalu lama untuk mencegah pembentukan trombus 9.

Tindakan lain yang dapat dilakukan dengan meninggikan letak kaki pada
pasien tirah baring yang lama. Suntikan heparin dosis rendah, 5000 unit subkuran
tiap 8 -12 jam dapat diberikan sebelum 2 jam operasi dapat mencegah terjadinya
trombus pada pasien pasca operasi.

11
BAB III

KESIMPULAN

Infark paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh proses


tromboemboli dalam sistem vaskular paru-paru.Ini merupakan penyakit serius
yang dapat dalam kasus yang parah menyebabkan kematian. Infark paru adalah
istilah yang digunakan untuk menggambarkan fokus nekrosis lokal pada jaringan
parenkim paru yang diakibatkan oleh penyumbatan vaskular. Kematian jaringan
paru akibat tersumbatnya aliran darah seperti arteri pulmonalis oleh suatu
embolus.

Pada infark paru, jaringan nekrosis selalu hemoragis dan struktur paru asli
rusak atau tidak ada. Pada perjalanannya, warna infark paru berubah dari merah
gelap menjadi coklat bila eritrosit rusak dan pigmen hemosiderin di fagositosis
oleh makrofag, kemudian warn berubah menjadi keabu-abuan bila terjadi fibrosis
dan infark paru berubah menjadi jaringan parut. Retraksi daerah fibrotik ini
menyebabkan cekungan pada permukaan pleura. Pada infark paru septik, warnya
putih keabu-abuan karena lisis eritrosit dengan pengumpulan sel granulosit
polimormonuklear. Infark paru septik dapat disebabkan karena emboli terinfeksi
stau proses infeksi di paru. Sebaliknya infark paru septik dapat menyebabkan
abses paru.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton, Arthur C dan John E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.
2007. Jakarta : EGC

2. Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi : konsep klinis Proses-Proses


Penyakit. Jilid 1. Edisi keenam. 2005. Jakarta : EGC

3. Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia. Jakarta : EGC

4. Djojodibroto, R.Darmanto.2009. Respirologi (Respiratory Medicine).


Jakarta :EGC

5. Mangunnegoro, hadiarto, dkk. 2004. ASMA : Pedoman diagnosis &


penatalaksanaan di Indonesia.Jakarta : Perhimpunan dokter paru Indonesia.

6. Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan


Gangguan SistemPernapasan. Jakarta : Salemba Medika. hal : 40

7. Sudoyo, Aru W.2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi V jilid I.
Jakarta : Interna Publishing.

8. Gunawan, Gan, Sulistia. 2007. Farmakologi dan Terapi edisi 5. Jakarta:


Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI.

9. Stein, Jay H. 1998. Panduan Klinik Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : EGC.

10. Kowalak, Jennifer P. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC.

11. Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.

13