Anda di halaman 1dari 23

Laporan Akhir Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Hewan Kecil

DERMATOPHYTOSIS

Oleh Kelompok 27

Gelombang III
Anggi Anggraini Ulfa 1402101010123

Dessy Ayu Mega P 1402101010096

Nelma Sari 1402101010173

Firdaus 1402101010195

Ahmad Wahyudi 1402101010180

Ali Guru Harahap 1002101010

Ozy Fahreza 1002101010

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya persembahkan kepada Allah Tuhan Semesta Alam yang
telah meridhai penulis untuk menyelesaikan tugas makalah Laboratorium Klinik pada
matakuliah Ilmu Penyakit Dalam Hewan Kecil (IPDHK).
Terima kasih juga kepada teman-teman kelompok yang telah bekerjasama dalam
proses pembuatan makalah ini. Makalah ini merupakan salah satu syarat yang harus
dipenuhi dalam menyelesaikan mata kuliah IPDHK. Makalah ini telah diupayakan agar
sesuai dengan apa yang diharapkan dan bermanfaat bagi pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan dan dengan segala
kerendahan hati penulis mohon kritik dan saran yang bersifat membangun, sehingga apa
yang kita harapkan dapat tercapai.

Banda Aceh, 14 Mei2017

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i


DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1
A. Latar Belakang .......................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................................... 2
C. Tujuan......................................................................................................................... 2
BAB II ................................................................................................................................ 3
TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................... 3
A. Dermatophytosis .......................................................................................................... 3
a) Definisi Jamur.............................................................................................................. 3
b) Morfologi Jamur .......................................................................................................... 3
c) Reproduksi Jamur ........................................................................................................ 3
B. Faktor-faktor predisposisi kucing yang mudah terkena infeksi jamur ini adalah: ...... 5
C. Gejala klinis yang umum dan tidak umum terlihat...................................................... 6
BAB III............................................................................................................................... 7
PEMBAHASAN ................................................................................................................ 7
1. Pemeriksaan Fisik...................................................................................................... 7
2. Pemeriksaan Darah ................................................................................................... 8
3. Pemeriksaan Urin .................................................................................................... 10
4. Pemeriksaan Kulit dan Bulu .................................................................................. 11
5. Pemeriksaan Mata dan Telinga.............................................................................. 13
6. Differensial Diagnosa .............................................................................................. 14
7. Diagnosa ................................................................................................................... 14
8. Terapi Yang Telah Diberikan ................................................................................ 14
9. Prognosa ................................................................................................................... 15
10.Status Kesehatan Sekarang....................................................................................... 15
BAB IV ............................................................................................................................. 16
PENUTUP ........................................................................................................................ 16
ii
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 17
LAMPIRAN..................................................................................................................... 19

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hewan merupakan inang dari berbagai spesies jamur patogen yang juga infektif
terhadap manusia. Sumber penularan jamur kepada manusia salah satunya diperantarai
oleh hewan peliharaan. Penularan jamur dari satu inang ke inang lainnya dapat melalui
kontak langsung maupun lewat perantara. Beberapa spesies jamur juga mudah
beradaptasi dengan lingkungannya, dan berkembang sangat baik pada iklim tropis karena
perubahan suhu udaranya tidak terlalu ekstrim. Indonesia merupakan negara yang secara
geografis terletak di garis khatulistiwa yang memiliki kelembaban udara tinggi. Kondisi
demikian sangat sesuai dengan lingkungan hidup jamur. Selain jamur mudah tumbuh di
tempat yang lembab, penyakit kulit karena jamur (mikosis kutis) mudah menyebar dari
satu hewan ke hewan lain melalui kontak fisik. Mikosis kutis dianggap menggangu oleh
kebanyakan pemilik hewan karena merusak estetika dan mempengaruhi perilaku hewan,
selain sifatnya yang zoonotik (Prasetya, 2013).

Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh kucing yang membatasi tubuh dengan
dunia luar, selain itu kondisi kulit merupakan refleksi kesehatan kucing secara umum
serta dapat merupakan indikator terhadap adanya penyakit dalam tubuh kucing tersebut.
Penyakit kulit merupakan jenis penyakit yang sering menginfeksi kucing, terkadang
kucing yang terkena penyakit kulit tampak baik-baik saja dan tidak merasa terganggu
sehingga pemilik kucing tidak terlalu menghiraukan. Namun bila hal tersebut dibiarkan
secara terus-menerus, maka akan berakibat fatal bahkan dapat menyebabkan kematian.
Pemilik kucing terkadang baru menyadari saat kucing peliharaannya sudah mengalami
perubahan yang signifikan seperti kebotakan, kulit kemerahan bahkan terdapat luka,
berbau dan lain sebagainya. Apabila penyakit kulit sudah menginfeksi melebihi 40% area
tubuh kucing maka kucing tersebut berpotensi mengalami infeksi sekunder yang dapat
menyebabkan kematian.

1
Dermatofitosis atau ringworm adalahpenyakit infeksi kutaneus superfisial yang
dapatmenyerang lapisan berkeratin seperti stratumkorneum kulit, rambut, dan kuku.
Penyakit inidisebabkan oleh jamur dermatofita dan mampumenginfeksi berbagai jenis
hewan. Tiga genus jamur dermatofita yaituMicrosporum, Trichophyton, dan
Epidermophyton(Putiningsih, dkk., 2016).Dermatofitosis adalah salah satu
kelompokdermatomikosis superfisialis yang disebabkan olehjamur dermatofit, terjadi
sebagai reaksi pejamuterhadap produk metabolit jamur dan akibat invasioleh suatu
organisme pada jaringan hidup (Kurniati, 2008).

Dermatophytosis pada kucingumumnya zoonotik dan sangat tinggipenularannya.


Penanganan penyakit ini cukupsulit karena sering terjadi reinfeksi
disampingmembutuhkan waktu dan biaya tinggi. Paradokter hewan kadangkala terkecoh
dalammendiagnosa penyakit kulit jamur ini,seringkali terditeksi hanya sebagai
penyakitkulit biasa. Spora jamur akan menetap dalam periodeyang lama dalam
lingkungannya, melalui sporapenyakit dapat menular tidak saja lewat kontakterhadap
hewan yang terinfeksi juga dapatmelalui kandang yang pernah digunakanhewan
terinfeksi, lewat sisir grooming, collar,dan bulu kucing (Sajuthi, 2013).Dengan demikian
penyakit kulit pada kucing merupakan jenis penyakit yang harus ditangani dengan benar,
cepat dan tepat oleh pemiliknya secara dini. Fakta inilah yang menjadi alasan pemilihan
penyakit kulit pada kucing sebagai permasalahan yang diangkat dalam tugas akhir ini
agar dapat melakukan tindakan yang cepat dalam penanganan penyakit kulit pada kucing.

B. Rumusan Masalah

Apa yang dimaksud dengan dermatofitosis dan bagaimana penjelasan tentang


kasus yang didapat ?

C. Tujuan

Untuk menjelaskan tentang kasus yang didapat (Dermatofitosis).

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Dermatophytosis
a) Definisi Jamur

Jamur berbentuk sel atau benang bercabang, mempunyai dinding dari selulosa
atau kitin atau keduanya, mempunyai protoplasma yang mengandung satu atau lebih inti,
tidak mempunyai klorofil, dan berkembang biak secara aseksual, seksual, atau keduanya.
Beberapa jamur meskipun saprofit, dapat juga menyerang inang yang hidup lalu tumbuh
dengan subur sebagai parasit dan jamur menimbulkan penyakit pada tumbuhan, hewan,
termasuk manusia, tidak kurang dari 100 spesies yang patogen terhadap manusia.

b) Morfologi Jamur
Jamur terdiri dari kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang berfilamen
dan multiseluler, khamir berupa sel tunggal dengan pembelahan sel melalui pertunasan.

c) Reproduksi Jamur
Jamur berkembang biak dengan cara aseksual (membelah diri, bertunas) atau
seksual (spora).

Mikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan jamur (fungi) baik di
dalam maupun permukaan tubuh. Diantara penyakit tersebut yang paling umum
ditemukan adalah ringworm, sporotrichosis, dan aspergillosis (Boden 2005). Mikosis
dapat digolongkan dalam beberapa kelompok: mikosis superfisial (superficial
phaeohyphomycosis, tinea versicolor, black piedra, white piedra), mikosis kutis
(dermatofitosis, dermatomikosis), mikosis subkutis (chromoblastomycosis,
rhinosporidiasis, mycetoma, sporotrichosis, subcutaneous phaeohyphomycosis,
lobomycosis), mikosis sistemik (deep) seperti blastomycosis, histoplasmosis,
coccidiomycosis, paracoccidiomycosis; mikosis oportunis (candidiasis, cryptococcosis,
aspergillosis), mikosis lain (otomycosis, occulomycosis), alergi terhadap fungi, mycetism
dan mikotoksikosis (Prasetya, 2013). Jamur yang sering menginfeksi kulit dan rambut

3
hewan kesayangan adalah Dermatofita (Microsporum, Trichophyton, Epidermophyton),
Sporotrix, Cryptococcus, dan Malassezia.

Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofit disebut Dermatofitosis.


Infeksi jamur ini menyerang lapisan-lapisan kulit mulai dari stratum korneum sampai
dengan stratum basalis, rambut, dan kuku (Siregar, 2004). Dermatofitosis adalah infeksi
jamur pada rambut dan stratum korneum yang disebabkan jamur yang bersifat
keratinofilik. Kejadian dermatofitosis banyak ditemukan pada anjing dan kucing muda,
hewan dengan kekebalan tubuh rendah dan kucing berambut panjang. Faktor lain yang
mempengaruhi jumlah infeksi mikosis kutis adalah mikroklimat yang meliputi
manajemen pakan (kandungan nutrisi, jenis pakan yang diberikan), imunitas masing-
masing individu, frekuensi kontak dengan antigen, dan metode perawatan seperti mandi
dan grooming serta obat-obatan yang dipakai. Transmisi dapat terjadi melalui kalung,
sikat atau mainan yang terkontaminasi (Horzinek, 2012).

Terdapat tiga genus penyebab dermatofitosis, yaitu Trichophyton, Microsporum,


dan Epidermophyton, yang dikelompokkan dalam kelas Deuteromycetes. Dari ketiga
genus tersebut telah ditemukan 41 spesies, terdiri dari 17 spesies Microsporum, 22

4
spesies Trichophyton, 2 spesies Epidermophyton. Dari 41 spesies yang telah dikenal, 17
spesies diisolasi dari infeksi jamur pada manusia, 5 spesies Microsporum menginfeksi
kulit dan rambut, 11 spesies Trichophyton meninfeksi kulit, rambut dan kuku, 1 spesies
Epidermophyton menginfeksi hanya pada kulit dan jarang pada kuku (Kurniati, 2008).

Tricophyton sp. merupakan jamur berfilamen keratinofilik yang memiliki


kemampuan untuk menyerang jaringan keratin. Jamur ini memiliki beberapa enzim
seperti proteinase, elastase, keratinase yang merupakan faktor virulensi utama dari
Tricophyton sp. Jamur ini dapat menyebabkan infeksi pada pasien imunocompromised.
Tricophyton rumbrum adalah agen penyakit dermatofitosis paling umum di seluruh
dunia. Jamur Trichophyton rubrum merupakan rata-rata penyebab infeksi di Indonesia.
Trycophyton ini merupkan penyebab umum infeksi pada kulit dan rambut pada anjing,
kucing, kambing, dan hewan lain. Kapang ini menyebar secara radial pada lampisan kulit
berkeratin dengan pembentukan cabang hifa dan kadang-kadang artrospora. Peradangan
jaringan hidup dibawahnya sangat ringan dan hanya terlihat sedikit yang bersisik kering.
Biasanya terjadi iritasi, eritema (merah-merah menyebar pada kulit), edema (akumulasi
berlebihan zan alir serum didalam jaringan), dan berbentuk gelembung pada bagian tepi
yang menjalar.

Lesio yang ditemukan pada kucing yang menderita dermatofitosis antara lain
alopesia fokal atau multifokal, kerak, follicular cast, keropeng, papula, hiperpigmentasi,
dan kolaret epidermis. Penyebaran penyakit ini dapat terjadi secara kontak langsung
dengan lesi pada tubuh hewan, yaitu kontak dengan kulit atau bulu yang terkontaminasi
ringworm maupun secara tidak langsung melalui spora dalam lingkungan tempat tinggal
hewan. Kapang mengambil keuntungan dari hewan dengan mengurangi kapasitas
kekebalan tubuh atau sistem imum hewan (Adzima, dkk., 2013).

B. Faktor-faktor predisposisi kucing yang mudah terkena infeksi jamur ini adalah:
1. Iklim yang lembab dan hangat.
2. Kesehatan yang memburuk.
3. Rendahnya nilai kesadaran akan pentingnya kesehatan hewan kesayangannya
untuk tingkat sosial tertentu.

5
4. Buruk sanitasi kandang per grup, kucing liar yang tidak terkontrol karena
dibebaskan keluar rumah.
5. Berhubungan atau berdekatan dengan sejumlah kucing liar atau kelompok
kucing yang berjumlah besar (misalnya ditempat penitipan).
6. Kucing dari segala umur, namun di tempat klinik sering ditemukan pada usia
mudan dan kucing tua.
7. Kucing dengan bulu panjang

C. Gejala klinis yang umum dan tidak umum terlihat


Gejala klinis dari dermatophytosis berhubungan dengan pathogenesisnya,
dermatophytosis memnginvasi rambut dan epitel tanduk. Jamur akan merusak rambut,
dan mengganggu keratinisasi kulit normal, secara klinis bulu rontok, timbul kerak,
sehingga dapat juga terinfeksi dengan kuman lain.
Gatal.
Bulu rontok dan pitak bisa sebagian kecil simetris ataupun asimetris dengan
peradangan maunpun tanpa peradangan.
Kerak-kerak, kemerahan, sampai lecet dapat berkembang di daerah muka,
pipi, telinga, kuku, kaki depan, ekor dan sebagian badan.
Komedo sering ditandai dengan kerak-kerak tipis dibawah dagu untuk kucing
muda.
Hyperpigmemtasi walaupun jarang terjadi.
Kucing dengan dermatophytosis yang parah dan sistemik kadang disertai
dengan muntah, konstipasi atau hairball (Sajuthi, 2009).

6
BAB III

PEMBAHASAN
1. Pemeriksaan Fisik
Hasil:

Sinyalmen
Nomor : 01
Nama : Syuang
Jenis Hewan : Kucing
Pemilik : Yudi
Ras/Breed : Domestik
Kelamin/Sex : Betina
Umur : 1,5 tahun
Bulu Dan Warna : Bulu berwarna putih dan sedikit hitam
dibagian telinga dan ekor
Berat Badan : 2 kg
Alamat : Cut Iri

Status Present
1. Keadaan Umum:
a. Gizi : Buruk
b. Temperamen : Jinak
c. Habitus : Lordosis
2. a. Frekuensi Nafas : 64/menit
b. Frekuensi Pulsus : 116/menit
c. Suhu : 38,2C
3. Kulit dan Bulu : Kusam dan Rontok
4. Selaput Lendir : Normal

7
5. Kelenjar Limfe : Bengkak
6. Alat Pernafasan : Normal
7. Alat Peredaran Darah : Abnormal (CRT 3 detik)
8. Alat Pencernaan : Normal
9. Alat Kelamin/Perkencingan : Normal
10. Urat Saraf : Abnormal (Tremor)
11. Anggota Gerak : Normal

Gambar: Lampiran

Pembahasan:
Pada pemeriksaan fisik dilakukan metode pengumpulan data yang sistematik
untuk menentukan adanya kelainan-kelainan dari suatu sistem atau suatu organ tubuh.
Pemeriksaan dilakukan mulai dari pemeriksaan klinis pada kucing meliputi pemeriksaan
yang didahului dengan sinyalmen yang dilakukan terhadap pasien maupun terhadap klien
(pemilik hewan) setelah melakukan sinyalemen maka di lanjutkan dengan melakukan
periksaan status present yang meliputu keadaan umum, frekuensi nafas, kulit dan bulu,
selaput lendir, kelenjar limfe, alat pernafasan, alat peredaran darah, alat pencernaan, alat
kelamin, urat saraf dan anggota gerak.
Menurut Kozier et al. (1995) Pemeriksan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk
menentukan adanya kelainan-kelainan dari suatu sistem atau suatu organ tubuh dengan
cara melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk (perkusi) dan mendengarkan
(auskultasi).
Secara umum, pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan :
Untuk mengumpulkan dan memperoleh data dasar tentang kesehatan klien.
Untuk membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan
penatalaksanaan. (Andayani, 2012).

2. Pemeriksaan Darah
Hasil :
Hemoglobin : 14 g/dl (Normal)
Difrensial Leukosit

8
Monosit :-
Limfosit :7
Neutrofil :-
Eosinofil : 11
Basofil :18

Gambar: Lampiran
Pembahasan:
Pada pemeriksaan darah digunakan metode sahli dan metode preparat darah
hapus.
Tujuan dilakukannya metode sahli adalah untuk mengetahui dan menetapkan
kadar hemoglobin dalam darah. Prinsip dari metode sahli ialah hemoglobin dengan
penambahan HCL 0.1N akan dirubah menjadi hematin asam ( hemin ) yang berwarna
coklat. Warna yang terjadi diencerkan dengan aquadest sampai menyamai warna standar.
Sediaan apus darah ini tidak hanya digunakan untuk mempelajari sel darah tapi
juga digunakan untuk menghitung perbandingan jumlah masing-masing sel darah.
Pembuatan preparat apus darah ini menggunakan suatu metode yang disebut metode oles
(metode smear) yang merupakan suatu sediaan dengan jalan mengoles atau membuat
selaput (film) dan substansi yang berupa cairan atau bukan cairan di atas gelas benda
yang bersih dan bebas lemak untuk kemudian difiksasi, diwarnai dan ditutup dengan
gelas penutup.
Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pembuatan preparat dengan
metode smear sebagai berikut:

1. Ketebalan film
2. Film difiksasi agar melekat erat pada gelas benda sehingga yakin bahwa sel-sel di
dalamnya strkturnya tetap normal
3. Memberi warna (pewarnaan)
4. Menutup dengan gelas penutup

9
Pewarnaan Giemsa disebut juga pewarnaaan Romanowski. Metode pewarnaan ini
banyak digunakan untuk mempelajari morfologi sel-sel darah, sel-sel lien, sel-sel
sumsum dan juga untuk mengidentifikasi parasit-parasit darah misal Tripanosoma,
psedopodia dan lain-lain dari golongan protozoa.

3. Pemeriksaan Urin
Hasil:
I. Pemeriksaan Fisik
Kuantitas : 25ml
Warna : Kuning Tua
Kejernihsn : Jernih
Berat Jenis :1,030
Bau : Amoniak
II. Pemeriksaan Kimia
Ph : 6,5
Uji Robett (Protein) : Negatif
Uji Benedict (Glukosa) : Negatif

Gambar: Lampiran
Pembahasan:
Pada periksaan ini di gunakan metode periksaan fisik dan metode pemeriksaan
kimiawi. Pada metode pemeriksaan fisik yang di amati adalah kuantitas atau jumlah dari
urin, warna, kejernihan, berat jenis dan bau urin sedangkan pada metode kimiawi yang di
amati adalah reaksi Ph, pemeriksaan protein (uji robert), dan periksaan glukosa (uji
benedict).
Urine normal berwarna antara kuning muda sampai kuning tua warna itu
disebabkan oleh karena adanya urobilin lurocrom. Berat jenis urine mercerminkan
jumlah zat padat yang terlarut dalam urin. BJ normal urin kucing adalah 1.020-1.030. pH
normal pada urine kira-kira asam yaitu 5.9-6.4 ( Sadjana dan Kusmawati, 2006 ). Warna
urine yang normal kuning-kuningan dan ada juga urine yang jernih itu disebabkan karena

10
obat itu warnanya kuning ke orange. Urine normal baunya memusingkan atau bau khas
hewan itu sendiri.

Proses-proses yang mencakup ekskresi dan reabsorbsi yang dilakukan oleh sistem
perkemihan akan mempengaruhi pH urin. Pada hewan normal, pH urin bervariasi
tergantung pada makanannya. Apabila asupan protein tinggi, maka urin menjadi lebih
bersifat asam, sedangkan apabila asupan makanan banyak mengandung serat yang tinggi,
maka urin menjadi lebih bersifat alkalis atau netral (Meyer dan Harvey, 1998).
Selain pH, kandungan albumin dan bilirubin dapat diindikasikan adanya
gangguan pada system perkemihan berdasarkan analisis urin. Adanya albumin dalam urin
merupakan indikator pertama yang paling sensitif untuk mengetahui adanya gangguan
pada glomerulus, sebelum timbul albuminemia. Sedangkan adanya bilirubin dalam urin
dapat sebagai petunjuk adanya penyakit pada sistem perkemihan sendiri atau yang
berkaitan dengan sistem lain.
Kadar potein yang tinggi didalam urin disebut hiperproteinuria, dan kadar protein rendah
didalam urine disebut hipoproteinuria. Pemeriksaan glukosa urin merupakan pengukuran
kadar glukosa dalam urin. Pemeriksaan ini sebenarnya tidak dapat digunakan untuk
menggambarkan kadar glukosa dalam darah. Kadar glukosa normal pada kucing adalah <
100 mg/dl.

4. Pemeriksaan Kulit dan Bulu


Hasil:

I. Kerokan Kulit : (-) Negatif


II. Jamuran : (+) Positif Tricophyton sp
III. Pemeriksaan Bulu Secara Mikroskopis : Bulu terlihat patah-patah

Gambar: Lampiran

Pembahasan:

Pada pemeriksaan kulit dan bulu dilakukan metode pengerokan kulit untuk

mendapatkan bakteri dan jamur. Terdapat dua metode pemeriksaan kulit dan bulu yaitu

dengan metode scrapping (dengan menggunakan scalpel) dan metode dengan

11
menggunakan selotip. Pengerokan dilakukan pada pada daerah yang mengalami luka dan

kerontokan rambut. Pengerokan dilakukan dengan scalpel dari daerah yang sehat

(normal) sampai daerah yang mengalami kerontokan rambut hingga berwarna

kemerahan. Sedangkan yang menggunakan selotip cukup ditempelkan di daerah yang

dicurigai lalu tarik kembali. Lalu sampel di letakkan di atas objek glass. Pada sampel

untuk pemeriksaan jamur ditambah reagen Methylene blue sedangkan untuk pemeriksaan

parasit dengan menggunakan KOH 10%.

Seperti yang dikatakan Adiyati dan Pribadi (2014) pemeriksaan mikroskopik

terhadap spesimen kerokan kulit juga dapat dilakukan. Spesimen kulit ditambahkan tiga

tetes KOH 10%. Pemeriksaan miroskopis dilakukan dengan pembesaran tinggi. Spesimen

yang mengandung khamir (jamur) akan memperlihatkan adanya struktur hifa dan spora.

Faktor-faktor predisposisi kucing yang mudah terkena infeksi jamur ini adalah:

Iklim yang lembab dan hangat.

Kesehatan yang memburuk.

Rendahnya nilai kesadaran akan pentingnya kesehatan hewan kesayangannya

untuk tingkat sosial tertentu.

Buruk sanitasi kandang per grup, kucing liar yang tidak terkontrol karena

dibebaskan keluar rumah.

Berhubungan atau berdekatan dengan sejumlah kucing liar atau kelompok

kucing yang berjumlah besar (misalnya ditempat penitipan).

Kucing dari segala umur, namun di tempat klinik sering ditemukan pada usia

muda dan kucing tua.

Kucing dengan bulu panjang.

12
Gejala klinis dari dermatophytosis yaitu sebagai berikut:

Gatal-gatal.

Bulu rontok dan pitak bisa sebagian kecil simetris ataupun asimetris dengan

peradangan maupun tanpa peradangan.

Kerak-kerak, kemerahan, sampai lecet dapat berkembang di daerah muka,

pipi, telinga, kuku, kaki depan, ekor dan sebagian badan.

Hyperpigmentasi walaupun jarang terjadi (Sajuthi, 2010).

5. ` Pemeriksaan Mata dan Telinga.


Hasil:

1. Mata

I. Reflek Pupil : Normal

II. Pembuluh darah pada mata : Adanya buluh kecil pada mata (Normal)

III. Kelainan lainnya :-

2. Telinga

I. Radang :-
II. Pembengkakan :-
III. Swab telinga :-
IV. Kelainan lainnya : -
Gambar: Lampiran

Pembahasan:

Pada pemeriksaan mata dilakukan pemeriksaan reflek pupil untuk mendeteksi

mata dalam keadaan normal ataupun tidak, kemudian juga dilakukan pemeriksaan dengan

pencahayaan menggunakan alat yaitu ophthalmoscope tepat di depan pupil, diamati

pergerakan pengecilan pupil (miosis), pembesaran pupil (midriasis) dan mendeteksi

13
adanya pembuluh darah pada mata. Pada mata normal, saat mata disenteri cahaya pupil

akan mengecil (miosis) lalu saat senter dimatikan pupil akan kembali membesar

(midriasis), dan pembuluh darah yang terlihat hanyalah pembuluh-pembuluh darah kecil,

dan untuk pemeriksaan mata secara kesulurahan tidak ada terdeteksi kelainan atau masi

dalam keadaan yang normal.

Sedangkan pada pemeriksaan telinga yaitu menggunakan othoscope. Othoscope


yaitu ophtalmoscope yang ditambah suatu instrumen di bagian depannya agar mudah
dimasukkan ke dalam telinga. Pemeriksaan tersebut untuk melihat apakah di dalam
telinga terdapat kelainan atau luka seperti adanya radang atau pembengkakan pada
telinga. Pemeriksaan lain pada telinga dapat dilakukan dengan pengambilan sampel
serumen/swab telinga. Bila terdapat banyak serumen memungkinkan adanya tungau jenis
Otodectes spp. yang biasanyan terdapat pada anjing dan kucing. Untuk menemukan
Otodectes spp. dapat dilakukan dengan pengambilan sampel serumen dengan
penambahan KOH 10 % pada objek glass lalu diamati di bawah mikroskop. Dan pada
hewan coba yang sedang kami tangani tidak terdapat kelaina pada telinga hewan (kucing)
tau dapat dikatakan normal.

6. Differensial Diagnosa
Scabies

Gigitan Serangga

Infeksi Bakteri

Dermatitis. (Herman, dkk. 2015)

7. Diagnosa
Infeksi jamur ( Mikosis ).

8. Terapi Yang Telah Diberikan


Pengobatan yang diberikan yaitu dengan pemberian mikonazol secara topical
sebanyak 2 kali sehari. Pada awal pemberian terapi, kucing dimandikan terlebih dahulu
untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada tubuh kucing. Terapi

14
selanjutnya kucing tidak perlu dimandikan, akan tetapi lokasi infeksi terlebih dahulu
dibersihkan menggunakakan handuk yg sudah dibasahi air hangat.

9. Prognosa
Sembuh ( fausta )

10. Status Kesehatan Sekarang


Lokasi infeksi yang paling dominan berlokasi dibagian pungung, selama beberapa
mingu terapi menggunakan obat salap mikonazol kucing dapat dinyatakan sembuh dari
infeksi jamur, hal ini dapat dibukrikan dengan tumbuhnya rambut pada lokasi infeksi (
Gambar terlampir).

15
BAB IV

PENUTUP
1. Kesimpulan.

Hewan coba pada praktikum Ilmu Penyakit Hewan Dalam Kecil ( IPDHK )
adalah kucing yang didiagnosa mengalami infeksi jamur. Jenis jamur yang
menginfeksi kucing adalah spesies dari Tricophyton sp. Terapi menggunakan obat
mikonazol dalam bentuk salap yang diberiakan sebanyak 2 kali sehari.
2. Saran.
Untuk menunjang dan mempercepat penyembuhan dari hewan yang rerinfeksi,
terapi yang diberikan tidak hanya diberikan diluar tubuh akan tetati perlu
ditambah terapi baik secara oral atau injeksi.

16
DAFTAR PUSTAKA

Adzima, vodzan., Jamin, F., Abrar. M. 2013. Isolasi dan Identifikasi Kapang Penyebab
Dermatifitosis pada Anjing di kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh. Banda Aceh :
Jurnal Medika Veterinaria. Vol 7(1).

Adiyati, P. N dan Pribadi, E. S. 2014. Malassezia spp. dan peranannya sebagai penyebab
dermatitis pada hewan peliharaan. Jurnal Veteriner, 15(4): 570-581.
Ahmad., R.Z. 2009. Permasalahan & Penanggulangan Ring Worm Pada Hewan.
Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.

Andayani, Candra, N. 2012. Pemeriksaan Anjing. Yogyakarta: UGM.


Chairlain & Estu Lestari 2011, Pedoman Teknik Dasar Untuk Laboratorium
Kesehatan, EGC, Jakarta.
Ganong, William F. 1999 Buku Ajar Fisiologi kedokteran. Jakarta: ECG.
Herman, N. F., Cerdinawan, Nandar H., Nur S. R., Rini A.. 2015. Penyakit Kulit Dan
Parasit Darah Serta PenanganannyaPada Kucing. Jurnal Program Studi
Kedokteran Hewan universitas Hasanuddin.
Kurniati. 2008. Etiopatogenesis Dermatofitosis. Surabaya : Jurnal Berkala Ilmu
Kesehatan Kulit dan kelamin. Vol. 20 (3).

Kozier, Barbara.1995. Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and Practice :


Sixth edition. Menlo Park : Calofornia.
Meyer, D.J. and J.W. Harvey. 1998. Vete rinary Laboratory Medicin Interpretation and
Diagnosis. Philadelphia : W.B.Saunders

Muhammad dan Kusumaningtyas. 2008. Hewan Kesayangan. Yogyakarta : PS.

Prasetya. T. A. 2013. Studi Kasus Mikosis Kutis pada Kucing dengan Menggunakan
Woods Lamp Screening Test. Bogor : Skripsi FKH IPB.
17
Putriningsih, P. A., Widyastuti, S. K., Arjentinia, I.P. Y., Batan, I. W. 2016. Identifikasi
dan Prevalensi Kejadian Ringworm pada Sapi Bali. Bali : Jurnal Veteriner. Vol.
17(1).

Sajuthi, C.K. 2009. Dermatophytosis pada Kucing sebagai Penyakit Zoonosis . Bandung :
Jurnal Lokalkarya Nasional Penyakit Zoonosis.

Sardjana,I.K.W dan Kusumawati,D. 2006. Perbandingan Pemberian Cat Food dan


Pindang terhadap pH Urin, Albuminuria dan Bilirubinuria Kucing. Surabaya:
Unair
Siregar, R.S. 2004. Penyakit Jamur Kulit. Jakarta : EGC.

Soeharsono. 2002. Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. Yogyakarta : kanisius.

18
LAMPIRAN

19