Anda di halaman 1dari 45

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT LAPORAN K3

FAKULTAS KEDOKTERAN JUNI 2017


UNIVERSITAS HASANUDDIN

ASPEK K3 PADA PEKERJA PERUSAHAAN


PEMOTONGAN AYAM ALHAMDULILLAH

Oleh:

Ummi Asyiqin Binti Kamil C111 12 851


Zaidatul Hidayah Binti Idris C111 12 852
Muhammad Taufik Bin Awang C111 12 856
Nurhijrah Binti Zin C111 12 862

Pembimbing:
dr. Sultan Buraena, MS, Sp.OK

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar belakang


Era industrialisasi saat ini dan dimasa mendatang memerlukan dukungan tenaga kerja
yang sehat dan produktif dengan suasana kerja yang aman, nyaman dan serasi.Tenaga kerja
merupakan asset yang berharga bagi sebuah perusahaan. Teknologi yang semakin tinggi,
semakin besar juga bahaya yang ditimbulkan sehingga diperlukan teknik pengendalian yang
tepat agar tidak menimbulkan dampak negatif. Indonesia sebagai negara berkembang telah
memiliki perhatian terhadap masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Hal ini dapat
dilihat sejak dikeluarkannya UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan UU No.
36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
Sayangnya, hingga saat ini implementasi terhadap program K3 masih
belum terlaksana secara konsisten. Pandangan tersebut muncul berdasarkan data dari PT.
Jamsostek (Persero) pada tahun 2009 yang menunjukkan terjadi 96.697 kasus kecelakaan
dan sedikitnya 35 orang per 100.000 pekerja meninggal karena kecelakaan atau penyakit
akibat kerja. Pada umumnya, semua tempat kerja selalu terdapat sumber bahaya yang dapat
mengancam keselamatan maupun kesehatan tenaga kerja. Potensi bahaya di tempat kerja
dapat ditemukan dapat ditemukan mulai dari bahan baku, proses kerja, produk dan limbah
(cair, padat, dan gas) yang dihasilkan.
Alhamdulillah merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang
pemotongan ayam. Seluruh kegiatan operasional yang dilakukan di tempat potong ayam
memiliki berbagai macam potensi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja karena
melibatkan berbagai macam peralatan, alat-alat listrik, dan banyaknya interaksi antara
pekerja dan peralatan.
Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sangat membantu dalam
menangani permasalahan tersebut. Oleh karena itu, keberadaan K3 berupaya untuk
menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja serta lingkungan hidup agar terwujud nuansa
kerja yang aman, sehat, dan selamat. Akan tetapi, semua itu tidak terlepas dari keikutsertaan
atau partisipasi baik seluruh pekerja maupun pihak manajemen. Bagian K3 berfungsi
sebagai staff penunjang yang berupaya untuk mengurangi atau menurunkan tingkat risiko
bahaya sampai derajat nol kecelakaan bagi pekerja dan mencegah dampak negatif bagi
lingkungan.
Salah satu program penerapan K3 adalah inspeksi K3 (Keselamatan dan Kesehatan
Kerja), dimana program inspeksi ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya secara
dini dan berupaya untuk menurunkan tingkat risiko dan bahaya bagi pekerja.

1.2 Rumusan Masalah


1. Tindakan tidak aman oleh pekerja
2. Permasalahan K3
3. Perlindungan, pengawasan dan pembinaan K3 informal pada pekerja di perusahaan
pemotongan ayam Alhamdulillah.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum :
Untuk mengetahui tentang aspek keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja
perusahaan pemotongan ayam Alhamdulillah.
1.3.2 Tujuan Khusus :
1. Untuk mengetahui tentang faktor hazard yang dialami pekerja perusahaan
pemotongan ayam Alhamdulillah.
2. Untuk mengetahui tentang alat kerja yang digunakan perusahaan pemotongan
ayam Alhamdulillah.
3. Untuk mengetahui tentang APD yang digunakan pekerja perusahaan pemotongan
ayam Alhamdulillah.
4. Untuk mengetahui tentang ketersediaan obat P3K di perusahaan pemotongan
ayam Alhamdulillah.
5. Untuk mengetahui pemeriksaan kesehatan yang pernah dilakukan sesuai
peraturan (sebelum bekerja, berkala, berkala khusus).
6. Untuk mengetahui tentang peraturan perusahaan tentang K3 di tempat kerja.
7. Untuk mengetahui keluhan/penyakit yang dialami yang berhubungan dengan
pekerja perusahaan pemotongan ayam Alhamdulillah.
8. Untuk mengetahui upaya K3 lainnya yang dijalankan misalnya ada
penyuluhan/pelatihan, pengukuran/pemantauan lingkungan tentang hazard yang
pernah dilakukan.
9. Untuk mengetahui informasi tentang pencegahan dan penanggulangan
kebakaran.
10. Untuk mengetahui informasi tentang konstruksi bangunan perusahaan
pemotongan ayam Alhamdulillah.
1.4 Manfaat
1) Manfaat bagi mahasiswa :
a. Menambah pengetahuan tentang syarat dan prosedur keselamatan dan kesehatan
kerja di sektor pelayanan medis.
b. Mengetahui berbagai masalah kesehatan dan keselamatan kerja di sektor pelayanan
medis.
c. Mengaplikasikan teori yang didapat selama perkuliahan dalam menganalisis
permasalahan dalam K3 informal.

2) Manfaat bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat :


a. Dapat menjadi referensi baru tentang permasalahan K3 informal di Fakultas
Kesehatan Masyarakat
b. Sebagai sarana sosialisasi dengan masyarakat maupun publikasi kepada khalayak
sehingga Fakultas Kesehatan Masyarakat dapat dikenal oleh masyarakat luas.

3) Manfaat bagi masyarakat :


a. Meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk menciptakan budaya K3
di lingkungan kerja.
b. Memberikan informasi mengenai pentingnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3)
c. Mendapatkan informasi tentang masalah kesehatan yang dimanfaatkan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara optimal.
d. Sebagai masukan referensi untuk penulis/peneliti selanjutnya yang berhubungan
dengan bidang keselamatan dan kesehatan kerja dan pengaruhnya dengan
produktivitas kerja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kesehatan kerja sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor,salah satu diantaranya


adalah yang berhubungan dengan persyaratan fisik lingkungan kerja. Disamping
persyaratan fisiklingkungan kerja, faktor lain yang berhubungan dengan kesehatan kerja
adalah cara kerja yang dilakukan oleh pekerja saat melaksanakan pekerjaan. Cara kerja yang
tidak sesuai dengan prosedur kerja untuk jangka panjang akan mengakibatkan terjadinya
penyakit akibat kerja.

A. Pengertian Kesehatan Kerja


Kesehatan kerja adalah:
a. Keadaan sejahtera secara fisik, jiwa dan sosial yg memungkinkan setiap pekerja dapat
bekerja produktif secara sosial ekonomi tanpa membahayakan diri sendiri, teman
sekerja, keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.
b. Cara yang dilakukan dalam pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat kerja,
misalnya kebisingan, pencahayaan (sinar), getaran, kelembaban udara, dan lain-lain
yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat pendengaran, gangguan pernapasan,
kerusakan paru-paru, kebutaan, kerusakan jaringan tubuh akibat sinar ultraviolet,
kanker kulit, kemandulan, dan lain-lain (UU nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja).

1. Manfaat Kesehatan Kerja


Kesehatan kerja bermanfaat untuk memelihara dan melindungi derajat kesehatan tenaga
kerja dari faktor2 bahaya yang dihadapi di tempat kerja untuk mencapai produktivitas &
kesejahteraan tenaga kerja.

2. Tujuan Kesehatan Kerja


Tujuan kesehatan kerja menurut Joint ILO/WHO Committee tahun 1995 antara lain:
a. Mempromosikan dan memelihara kesehatan fisik, mental dan sosial pekerja.
b. Mencegah gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kondisikerja.
c. Melindungi pekerja dari resiko terhadap faktor-faktor yang mengganggu kesehatan.
d. Menempatkan dan memelihara pekerja dalam lingkungan kerja yang sesuai
kemampuan fisik dan psikologisnya.
e. Menyesuaikan manusia pada pekerjaannya.
3. Alasan Perlunya Kesehatan Kerja
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan perlunya kesehatan kerja, antara lain:
a. Tenaga kerja selalu berhadapan dengan potensi bahaya di tempat kerja, yang sewaktu-
waktu dapat menggangu kesehatannya, yang dapat mengakibatkan:
1) Penurunan derajat kesehatan;
2) Menderita penyakit ;
3) Penyakit Akibat Kerja (PAK) Occupational Disease;
4) Penyakit terkait kerja (PAHK) Work Related Disease;
5) Menderita gangguan kesehatan lainnya;
6) Kelelahan (fatigue);
7) Ketidaknyamanan bekerja.
b. Keselamatan kerja dapat dicapai bila pekerja sehat.
c. Kesehatan tenaga kerja yang terganggu akan mengakibatkan penurunan produktifitas
kerja, karena:
1) Gangguan kerja/konsentrasi kerja
2) Kecenderungan kecelakaan kerja meningkat
3) Motivasi kerja menurun
4) Absenteisme meningkat
5) Biaya pengobatan/perawatan meningkat
6) Kehilangan waktu kerja
7) Turn over pekerja meningkat
8) Kualitas dan kuantitas produksi menurun
d. Gangguan kesehatan tenaga kerja dapat dicegah atau diminimalisir dengan upaya
preventif & promotif.
e. Penyakit dan cidera akibat kerja dapat diminimalkan dampaknya dengan pelayanan
kesehatan kerja secara memadai melaluiupaya pencegahan dan pengobatan.

4.
5. Aspek Terkait dengan Kesehatan Kerja
Kesehatan kerja sangat terkait dengan kesehatan tenaga kerja, yang dipengaruhi oleh 3
faktor berikut, yaitu:
a. Beban kerja baik beban secara fisik maupun mental
b. Kapasitas kerja , yang dipengaruhi oleh hal-hal berikut:
1) Keterampilan
2) Kesegaran jasmani dan rohani
3) Status kesehatan dan gizi
4) Usia
5) Jenis kelamin
6) Ukuran tubuh
c. Lingkungan kerja, meliputi antara lain:
1) Fisik
2) Kimia
3) Biologi
4) Ergonomi
5) Psikologi

B. Desain Perabot Kerja


Salah satu perabot yang erat kaitannya dengan penyiapkan makanan adalah meja kerja.
Meja kerja yang digunakan harus memiliki tinggi antara 80 90 cm, dengan lebar 80 cm,
sedangkan panjang disesuaikan dengan kebutuhan produksi dan luas dapur yang dimiliki.
Disain meja kerja untuk dapur pengolahan makanan disesuaikan dengan jenis pekerjaan
yang akan dilakukan (lihat Gambar 19), tujuannya adalah untuk dapat mengurangi
terjadinya kelelahan akibat kerja.

Gambar 1. Ukuran Ketinggian Meja Kerja untuk Berbagai Jenis dan Fungsi
1. Tempat Penyimpanan Peralatan
Peralatan memotong ayam disimpan pada rak yang mudah dilihat dan disimpan dalam
keadaan kering. Penataan peralatan disesuaikan dengan kelompoknya sehingga mudah
untuk ditemukan saat akan digunakan.
2. Ergonomi Kerja
Untuk melaksanakan program ergonomi, maka 4 hal berikut perlu dilakukan antara
lain:
a. Desain pekerjaan (Job Design) :
1) Rotasi kerja;
2) Perbaikan cara kerja;
3) Kerja tim.
b. Desain tempat kerja (Workplace Design):
1) Fleksibilitas (adjustable);
2) Penyesuaian terhadap bentuk & ukuran tubuh pekerja
c. Desain perkakas & peralatan (Tools and Equipment design): yaitu penyesuaian
pegangan (handle) perkakas dan tatakan barangdengan pekerjaan dan tenaga kerja.
d. Prosedur kerja (SOP): penyusunan prosedur kerja yang harus diikuti tenaga kerja.
3. Cara Kerja
Untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja (PAK), cara melakukan pekerjaan
harus mengikuti ergonomi kerja. Beberapa cara kerja yang sesuai dengan ergonomi
diuraikan berikut ini.
a. Cara mengangkat barang
b. Cara membawa barang
c. Cara Peletakan Barang dan Posisi Bekerja
Gambar 4. Cara mengangkat barang dan alat angkut barang
4. Penyakit Akibat Kerja
Pekerjaan yang dikerjakan dengan cara kerja yang tidak tepat, serta fasilitas lingkungan
kerja yang tidak sesuai dengan ergonomi kerja dalam jangka waktu tertentu akan dapat
mengakibatkan terjadinya penyakit akibat kerja (Permenaker No.1 Tahun 1981).
Berdasarkan pengertian tersebut jelas bahwa PAK sangat terkait erat dengan pekerjaan
yang dilakukan oleh pekerja, untuk jangka waktu tertentu.

C. Jenis Penyakit Akibat Kerja


Beberapa jenis penyakit akibat kerja yang kemungkinan terjadi di area pemotongan ayam
antara lain:
a. Masalah kulit: kontak lama dengan daging ayam
b. Gangguan otot dan sendi : cara mengangkat yang salah, kelelahan
c. Varises: berdiri terlalu lama.
d. Kejang panas: terlalu lama terpapar panas/suhu panas.
e. Stress: monoton, isolasi pekerjaan, tekanan pekerjaan.
1. Faktor Penyebab PAK
Berdasarkan faktor penyebabnya PAK dikelompokkan atas:
a. Faktor fisik
FAKTOR FISIK PENYAKIT
Suhu tinggi Heat stress, heat cramp
Suhu dingin Frostbite

Kebisingan Kehilangan pendengaran (hearing loss)

Getaran Reynold disease

Tekanan Caisons disease

b. Faktor Ergonomi
FAKTOR FISIK PENYAKIT
Beban kerja Hernia
Cara kerja Trauma otot dan sendi

Posisi kerja tidak ergonomis Penyakit muskuloskeletal

Gerak repetitive Carpal tunnel syndrome

Kontrasi statis kelelahan

c. Faktor Kimia
FAKTOR KIMIA PENYAKIT
Zat iritan Iritasi selaput lendir
Zat Korosif Luka bakar

Zat karsinogenik Kanker

Zat allergen Dermatitis, asma

Zat mutagenik Mutasi genetik/kanker


d. Faktor biologi terkait dengan binatang pengerat atau mikroorganisme yang dapat
menyebabkan penyakit.

D. Pencegahan penyakit akibat kerja


Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui:
a. Pengaturan tempat kerja, disain tempat kerja disesuaikan dengan anatomi tubuh
manusia.
b. Pemilihan dan Peraturan Peralatan kerja (Tools and Equipment).
c. Pengaturan cara kerja.
d. Pencatatan dan pelaporan.
e. Penanganan kasus/treatment
Upaya untuk mencegah atau mengurangi terjadinya PAK dapat ditinjau dari faktor
penyebabnya antara lain adalah:
a. Alat
Gunakan alat pelindung diri atau pilihlah peralatan yang lebih aman untuk digunakan
khususnya pada beberapa peralatan yang dapat berdampak pada kesehatan antara lain,
komputer, mesin jahit, peralatan yang bergetar atau menimbulkan bising dan peralatan
lain-lain.
b. Manusia
Faktor manusia yang menjadi penyebab terjadinya PAK adalah cara melakukan
pekerjaan atau cara kerja. Cara kerja yang tidak benar akan mempengaruhi postur
tubuh, misalnya saat mengangkat barang, saat memindahkan barang dan lain-lain.
Untuk mencegah PAK berkaitan dengan perubahan postur tubuh, maka perhatikan
aturan-aturan berikut:
Hindari kegiatan melekukkan kepala dan leher kedepan (menunduk) atau
melekukkan kebelakang (mendongak).
Hindari melekukkan badan kedepan (membungkuk).
Hindari gerakan memutar dan asimetrik. Jika harus berputar usahakan hanya sampai
dua pertiga putaran.
Pada pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar, posisi tubuh tegak dan lekukan
siku pada posisi 90 120 derajat, sehingga tubuh berada optimal untuk
mengeluarkan tenaga.
Jika bekerja pada posisi berdiri, usahakan dapat sesekali duduk pada waktu senggang
untuk relaksasi otot kaki.
c. Lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan penyakit akibat kerja antara lain faktor
lingkungan fisik, kimia dan lingkungan sosial. Untuk mencegah terjadinya PAK, maka
lingkungan fisik dan kimia perlu didisain sesuai dengan standar kesehatan kerja.
Disamping itu perlu diciptakan hubungan sosial yang erat antar pekerja yang akan
membantu terwujudnya kesehatan kerja.
Faktor lingkungan yang perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya PAK antara lain:
a) Pengaturan beban kerja, meliputi:
i. Pembebanan tidak melebihi 30 - 40% dari kemampuan kerja maksimum
tenaga kerja dalam jangka waktu 8 jam sehari.
ii. Berdasarkan hasil beberapa observasi, beban maksimum untuk tenaga kerja
Indonesia adalah 40 kg.
iii. Bila mengangkat dan mengangkut dikerjakan lebih dari sekali maka beban
maksimum tersebut harus disesuaikan.
iv. Denyut nadi setelah bekerja tidak melebihi 30-40/menit di atas denyut nadi
sebelum bekerja.
v. Tidak mengangkat beban lebih dari 4.5 kg pada posisi duduk.
vi. Tidak mengangkat beban lebih dari 16-20 kg saat berdiri.
vii. Alat bantu mekanik dan tim mengangkat harus di rancang untuk megurangi
risiko cidera yang berkaitan dengan beban 16 kg s.d 55 kg;
viii. Tidak mengangkat, menurunkan atau membawa beban lebih dari 55 kg tanpa
bantuan mekanis yang tersedia.
b) Letak objek kerja 10 s.d 20 cm lebih tinggi dari siku untuk pekerjaan yang
membutuhkan ketelitian.
c) c) Letak objek kerja 10 s.d 20 cm lebih rendah dari siku untuk pekerjaan yang
membutuhkan penekanan dengan tangan.
d) d) Bahan kimia yang digunakan saat bekerja dapat
e) menyebabkan penyakit akibat kerja, misalnya pestisida, insektisida, atau bahan
saniter yang biasa digunakan dalam pembersihan karkas seperti klorin dan senyawa
klorin, iodofor, asam dan basa yang kuat serta bahan kimia lainnya dapat
menyebabkan PAK. Tempatkan bahan kimia berbahaya bagi kesehatan di ruang
penyimpanan khusus dan wadah tertutup rapat.

E. Keselamatan Kerja
a. Definisi :
Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 dalam (Budiono, 2003) menerangkan bahwa
keselamatan kerja yang mempunyai ruang lingkup yang berhubungan dengan mesin,
landasan tempat kerja dan lingkungan kerja, serta cara mencegah terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja, memberikan perlindungan sumber-sumber produksi sehingga dapat
meningkatkan efisiensi dan produktifitas.

b. Sasaran
Sasaran keselamatan kerja ditujukan untuk melindungi tenaga kerja dan orang lain
yang berada di tempat kerja. Terjadinya kecelakaan kerja, peledakan, penyakit akibat
kerja, kebakaran dan polusi yang memberi dampak negatif terhadap korban, keluarga
korban, perusahaan, teman sekerja korban, pemerintah dan masyarakat. Pada dasarnya
tempat kerja yang dapat dianalisa termasuk darat, udara, dalam tanah, permukaan air
dan dalam air serta mencakup proses produksi dan distribusi (barang dan jasa).

c. Tujuan keselamatan kerja :


Menurut Mangkunegara (2002) bahwa tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja
adalah sebagai berikut:
Agar setiap pegawai/tenaga kerja mendapat jaminan keselamatan dan
kesehatankerja baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya, selektif
mungkin.
Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya
Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
gizipegawai/tenaga kerja.
Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
Agar tehindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau
kondisi kerja.
Agar setiap pegawai/tenaga kerja merasa aman dan terlindungi dalam bekerja

d. Peranan keselamatan kerja:


Aspek teknis : upaya preventif untuk mencegah timbulnya resiko kerja.
Aspek hukum : sebagai perlindungan bagi tenaga kerja dan orang lain di tempat
kerja.
Aspek ekonomi : untuk efisiensi
Aspek sosial : menjamin kelangsungan kerja dan penghasilan yang lebih layak.
Aspek kultural : mendorong terwujudnya sikap dan perilaku yang disiplin, tertib,
cermat, kreatif dan bertanggung jawab.

F. Kesehatan Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja merupakan tempat dimana seseorang atau karyawan dalam
beraktifitas bekerja. Lingkungan kerja dalam hal ini menyangkut kondisi kerja, seperti
ventilasi, suhu, penerangan dan situasinya
Tujuan kesehatan lingkungan kerja adalah:
Mencegah timbulnya kecelakaan dan penyakit akibat kerja melalui usaha-usaha
pengenalan (recognition), penilaian (evaluation), dan pengendalian (control) bahaya
lingkungan kerja atau occupational health hazard.
Menciptakan kondisi tempat dan lingkungan kerja yang sehat, aman dan nyaman,
memberikan keuntungan baik kepada perusahaan maupun kepada karyawan, guna
meningkatkan derajat kesehatan, moral dan produktivitas kerja karyawan.
Tujuan utama dari kesehatan lingkungan kerja adalah melindungi pekerja dan
masyarakat sekitar suatu perusahaan dari bahaya-bahaya yang mungkin timbul. Untuk
dapat mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya lingkungan kerja yang
diperkirakan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja, utamanya terhadap pekerja,
ditempuh tiga langkah utama yaitu: pengenalan, penilaian dan pengendalian dari berbagai
bahaya dan resiko kerja.
Program kesehatan lingkungan kerja membicarakan hal-hal yang menyangkut
faktor-faktor yang terdapat atau muncul di lingkungan kerja yang merupakan hazard
kesehatan yaitu: faktor fisik, kimia, biologi, psikososial dan ergonomi.
BAB III
Metodologi

A. Bahan dan cara


Kami merencanakan untuk wawancara, memantau dan mengidentifikasi aspek
keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerja perusahaan pemotongan ayam Alhamdulillah.
Pemantauan ini dilakukan dengan metode walk through survey dengan menggunakan check
list dan wawancara.

B. Jadwal Survey
a. Lokasi
Lokasi survei kesehatan dan keselamatan kerja adalah di Perusahaan Pemotongan
Ayam Alhamdulillah, Makassar.

Gambar1. Peta lokasi pengusahaan pemotongan ayam Alhamdulillah

b. Waktu

Waktu pelaksanaan yaitu 5-7 Juni 2017 dengan agenda sebagai berikut.

No. Tanggal Kegiatan

1. 5 Juni - Melapor ke bagian


2017 K3 RS Ibnu Sina
- Pengarahan
kegiatan
- Pembuatan
proposal walk
through survey
- Walk through
survey
- Pembuatan
2. 6 Juni
laporan walk
2017
through survey
- Pembuatan status
okupasi
- Presentasi walk
7 Juni
through survey
3.
- Presentasi status
2017
okupasi

c. Biaya
Biaya yang digunakan pada survei ini adalah swadaya.

d. Peralatan yang diperlukan


Adapun peralatan yang diperlukan untuk melakukan walk through survey (survei jalan
sepintas) dengan menggunakan alat-alat tambahan antara lain:
1). Alat tulis menulis
Berfungsi sebagai media untuk pencatatan selama survei jalan sepintas
2). Kamera
Berfungsi sebagai alat untuk memotret keadaan yang terjadi dan untuk mengidentifikasi
sumber bahaya selama survei jalan sepintas
3). Check List
Berfungsi sebagai alat untuk mendapatkan data primer mengenai survei jalan sepintas
yang dilakukan.

LAMPIRAN
CHECK LIST ASPEK KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)
PADA PEKERJA PENGUSAHAAN PEMOTONGAN AYAM
ALHAMDULILLAH.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
Berdasarkan hasil Walk Through Survey mengenai Aspek Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) yang telah dilaksanakan dipabrik Roti Daeng, dalam proses kerjanya dibagi
menjadi 4 tim kerja. Berdasarkan checklist yang telah ditetapkan Pabrik Roti Daeng dibagi
menjadi :
a) Tim pertama
b) Tim kedua
c) Tim ketiga
d) Tim keempat .
a) Tim pertama
Tim pertama yaitu tim Bagian pemilihan bahan penimbangan pengadukan
fermentasi awal penimbangan adonan pembulatan adonan.
Pada kriteria Hazard Lingkungan Kerja Tim pertama telah memenuhi 16 dari 35 kriteria
yang telah diterapkan antara 16 dari kriteria tersebut adalah 1) faktor kebisingan sumbernya
ada yaitu mixer, 1 shift, berlangsung pada saat bekerja sekitar 4-5 jam tetapi tidak terus
menerus, 2) faktor pencahayaan ada sumbernya dari lampu yang berlangsung pada saat bekerja.
3) Faktor temperatur tidak ada, 4) faktor tekanan tidak ada, 5) faktor getaran tidak ada, 6) faktor
kimia ada yaitu bahan padat berupa ragi, terigu dan mentega, bahan cair ada yaitu air dingin,gas
tidak ada,fume tidak ada, 7) faktor Biologi; sumber sampah langsung dibuang ke tempat
sampah sehingga tidak menjadi sumber penularan penyakit, orang sakit tidak datang kerja
supaya tidak menularkan ke pekerja lain, hygiene perorangan setiap pekerja mencuci tangan
sebelum bekerja, 8) faktor ergonomi yaitu cara bekerja berdiri dengan posisi tubuh saat bekerja
untuk menimbang dan membentuk adonan di atas meja setinggi tengah paha pekerjadan ketata
rumah tanggaan, barang-barang yang digunakan tidak tersusun rapi. 9) faktor Psikososial
jadwal kerja terbagi 3 shift yaitu pagi jam 07.00-12.00 dan siang 12.00-16.00, dan sore 16.00-
22.00 tiap shift terdiri dari 4 pekerja, hubungan interpersonal pekerja baik, beban kerja dari
ringan hingga sedang dan kemampuan pekerja baik serta gaji yang cukup dan sesuai dengan
beban kerja.
Pada kriteria Alat yang digunakan Tim ketiga telah memenuhi 3 dari 5 kriteria yaitu
jenis alat kerja yaitu mesin pemotong roti, penggunaan alat tidak secara terus menerus, alat
kerja yang berhubungan dengan cara kerja.
Pada kriteria Alat Pelindung Diri Tim ketiga telah memenuhi 6 daripada 8 kriteria yaitu
apron yang dipakai pada saat pelangsungan proses ini, sarung tangan digunakan pekerja pada
proses kerja di tim ketiga, penutup kepala ada, penutup telinga tidak ada, pelindung mata tidak
ada, pelindung kaki menggunakan sepatu, pemeliharaan APD cuma apron yang dicuci sesekali
dan diganti jika rusak.
Pada kriteria Pemeriksaan Kesehatan Tim ketiga tidak mempunyai bukti dari
pemeriksaan kesehatan, tidak ada pemeriksaan kesehatan awal,tidak ada pemeriksaan
kesehatan berkala,tidak ada pemeriksaan berkala khusus.
Pada kriteria rambu-rambu tentang K3 di tempat kerja tim pertama telah memenuhi 2
dari 4 kriteria yaitu pekerja hanya diberikan sosialisasi informal dalam menggunakan alat-alat
untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang berhubungan dengan penggunaan APAR
pemotong roti, penggunaan mixer dan oven, tidak terdapat petugas K3, tidak terdapat rambu-
rambu tentang penggunaan APD.
Pada kriteria keluhan kesehatan atau sakit tim ketiga memenuhi 4 dari 11 kriteria yaitu,
diizinkan berkunjung ke klinik/RS untuk tujuan pengobatan, selain itu tim ketiga tidak
mempunyai keluhan lain yang menyangkut keluhan dermatologi berupa luka bakar dan
permintaan surat cuti sakit.
Pada kriteria upaya K3 lainnya tim pertama memenuhi 1 dari 5 kriteria yaitu tim sudah
pernah mendapatkan penyuluhan berupa sosialisasi informal. Tidak ada pemantauan
pengukuran hazard dari dinas kesehatan setempat yang berlokasi dekat dengan pabrik roti,
tidak ada rambu-rambu bahaya, dan tidak ada rambu-rambu evakuasi yang dilakukan.
Pada kriteria Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran cuma memenuhi 6 dari 9
kriteria yaitu memiliki APAR sejumlah satu yang mudah dicapai dan dekat dengan tempat
pendinginan, hydran, alarm, fire detector, smoke detector, heat detector, sprinkler, rambu-
rambu lalu lintas, atau organisasi pemadam kebakaran.
Pada kriteria Konstruksi bangunan tim ketiga memenuhi 5 dari 6 kriteria yaitu tim
pertama mempunyai lantai yang terdiri dari ubin yang licin karena mentega, flapon yang terdiri
dari beton,dinding yang terdiri dari beton, ventilasi yang kurang baik, dan satu toilet, limbah
pada proses kerja di tim pertama hampir tidak ada karena bahan yang habis dipakai dapat diolah
kembali.
b) Tim kedua
Berdasarkan checklist yang telah ditetapkan Pabrik Roti Daeng, tim kedua yaitu tim
Bagian pembakaran mengeluarkan roti dari cetakan/loyang.
Pada kriteria Hazard Lingkungan Kerja, tim kedua telah memenuhi 9 dari 34 kriteria
yang telah diterapkan, di antaranya adalah 1) faktor kebisingan sumbernya tidak ada; 2)
faktor pencahayaan ada, dimana sumbernya berasal dari lampu dan ventilasi yang
berlangsung selama proses pekerjaan berjalan; 3) faktor temperatur ada, dimana sumbernya
berasal dari oven, cetakan roti dan loyang yang digunakan membakar roti pada 150-
200oC,jumlah pekerja sebanyak empat orang dan faktor temperatur ini berlangsung terus-
menerus selama proses pembakaran roti; 4) faktor tekanan tidak ada; 5) faktor getaran tidak
ada; 6) faktor kimia ada, yaitu gas LPG yang mudah terbakar, jumlah pekerja sebanyak
empat orang; 7) faktor biologi tidak ada; sumber sampah langsung dibuang ke tempat
sampah sehingga tidak menjadi sumber penularan penyakit, orang sakit tidak datang kerja
supaya tidak menularkan ke pekerja lain, hygiene perorangan setiap pekerja mencuci tangan
sebelum bekerja; 8) faktor ergonomi, yaitu cara bekerja berdiri dengan posisi tubuh saat
bekerja untuk memanggang dan mengeluarkan roti dari oven di atas meja setinggi tengah
paha pekerja; 9) Faktor psikososial, jadwal kerja terbagi 2 shift yaitu pagi jam 07.00-15.00
WITA dan siang 16.00-22.00 WITA, tiap shift terdiri dari 3 pekerja, hubungan interpersonal
pekerja baik, beban kerja dari ringan hingga sedang, dan kemampuan pekerja baik serta gaji
yang cukup dan sesuai dengan beban kerja.

c) Tim ketiga

Tim ketiga yaitu tim Pendinginan pemotongan roti penghiasan roti.


Pada kriteria Hazard Lingkungan Kerja Tim ketiga telah memenuhi 14 dari 34 kriteria
yang telah diterapkan antara 14 dari kriteria tersebut adalah 1) faktor kebisingan sumbernya
yaitu mesin pemotong roti, berlangsung pada saat pemotongan roti sekitar 5 menit tidak terus
menerus, 2) Faktor pencahayaan tidak ada, 3) Faktor temperatur ada yaitu saat membuka oven,
hal ini tidak berlangsung terus-menerus, hanya sewaktu akan melakukan proses pendinginan,
4) faktor tekanan tidak ada, 5) faktor getaran sumbernya dari mesin pemotong roti sekitar 5
menit tidak` terus menerus, 6) faktor kimia tidak ada, 7) faktor Biologi tidak ada, 8) faktor
ergonomi yaitu posisi tubuh saat bekerja dalam kondisi berdiri saat akan memotong dan
menghias roti, cara kerja dengan memasukkan roti ke tempat pemotong roti, menunggu roti
keluar dari tempat pemotongan, dan menghias roti, 9) faktor Psikososial jadwal kerja terbagi 2
shift yaitu pagi jam 07.00-15.00 dan siang 15.00-22.00, tiap shift terdiri dari 3 pekerja,
hubungan interpersonal pekerja baik, beban kerja dari ringan hingga sedang dan kemampuan
pekerja baik serta gaji yang cukup dan sesuai dengan beban kerja.

d) Tim keempat

Pada kriteria Hazard Lingkungan Kerja Tim keempat terdapat 6 kriteria dari 34 kriteria.
Pada kriteria Alat yang digunakan Tim keempat tidak ada penggunaan alat tangan dan mesin
cuma menggunakan sellotape untuk merapikan bungkusan roti dan disusun di tempat roti.Pada
kriteria Alat Pelindung Diri Tim keempat telah memenuhi 2 daripada 8 kriteria. Pada kriteria
Pemeriksaan Kesehatan Tim keempat tidak mempunyai kriteria dari pemeriksaan kesehatan.
Pada kriteria rambu-rambu tentang K3 di tempat kerja tim keempat hanya memenuhi 1 dari 4
kriteria. Pada kriteria keluhan kesehatan atau sakit tim keempat memenuhi 1 dari 11 kriteria.
Pada kriteria upaya K3 lainnya tim pertama memenuhi 2 dari 5 kriteria. Pada kriteria
Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Cuma memenuhi 1 dari 9 kriteria. Pada kriteria
Konstruksi bangunan tim keempat memenuhi 5 dari 6 kriteria.

B. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil walk through survey mengenai Aspek Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) yang telah dilaksanakan dipabrik rotiTaeng bakery, dalam proses kerjanya dibagi
menjadi 4 tim kerja. Berdasarkan checklist yang telah ditetapkan Pabrik Roti Taeng Bakery:
a) Tim pertama
b) Tim kedua
c) Tim ketiga
d) Tim keempat

a) Tim pertama

Tim pertama yaitu tim Bagian pemilihan bahan penimbangan pengadukan


fermentasi awal penimbangan adonan pembulatan adonan.
Pada kriteria Hazard Lingkungan Kerja Tim pertama telah memenuhi 16 dari 35 kriteria
yang telah diterapkan antara 16 dari kriteria tersebut adalah 1) faktor kebisingan sumbernya
ada yaitu mixer, 3 shift, berlangsung pada saat bekerja sekitar 4 jam tetapi tidak terus menerus,
2) faktor pencahayaan ada sumbernya dari lampu yang berlangsung pada saat bekerja. 3) Faktor
temperatur tidak ada, 4) faktor tekanan tidak ada, 5) faktor getaran tidak ada, 6) faktor kimia
ada yaitu bahan padat berupa ragi, terigu dan mentega, bahan cair ada yaitu air dingin,gas tidak
ada,fume tidak ada, 7) faktor Biologi; sumber sampah langsung dibuang ke tempat sampah
sehingga tidak menjadi sumber penularan penyakit, orang sakit tidak datang kerja supaya tidak
menularkan ke pekerja lain, hygiene perorangan setiap pekerja mencuci tangan sebelum
bekerja, 8) faktor ergonomi yaitu cara bekerja berdiri dengan posisi tubuh saat bekerja untuk
menimbang dan membentuk adonan di atas meja setinggi tengah paha pekerjadan ketata rumah
tanggaan, barang-barang yang digunakan tidak tersusun rapi. 9) faktor Psikososial jadwal kerja
terbagi 3 shift yaitu pagi jam 07.00-12.00 dan siang 12.00-16.00, dan sore 16.00-22.00 tiap
shift terdiri dari 4 pekerja, hubungan interpersonal pekerja baik, beban kerja dari ringan hingga
sedang dan kemampuan pekerja baik serta gaji yang cukup dan sesuai dengan beban kerja.
Pada kriteria Alat yang digunakan Tim pertama telah memenuhi 3 dari 5 kriteria yaitu
jenis alat kerja tangan seperti kayu penggulung dan alat mesin seperti mixer adunan,freezer
dan alat penimbang, penggunaan alat tidak secara terus menerus, alat kerja yang berhubungan
dengan badan Cuma digunakan tangan untuk tujuan mengaduk serta menimbang bahan, alat
kerja yang berhubungan dengan listrik cuma mesin mixer dan freezer.
Pada kriteria Alat Pelindung Diri Tim pertama telah memenuhi 3 daripada 8 kriteria
yaitu apron yang dipakai pada saat pelangsungan proses bekerja, sarung tangan tidak
digunakan pekerja pada proses kerja di tim pertama, penutup kepala tidak ada, penutup telinga
tidak ada, pelindung mata tidak ada, pelindung kaki cuma memakai sepatu boot biasa yang
menutup seluruh kaki, pemeliharaan APD cuma dengan pemakaian apron yang dipakai selama
bekerja.
Pada kriteria Pemeriksaan Kesehatan Tim pertama tidak mempunyai bukti dari
pemeriksaan kesehatan, tidak ada pemeriksaan kesehatan awal,tidak ada pemeriksaan
kesehatan berkala,tidak ada pemeriksaan berkala khusus.
Pada kriteria rambu-rambu tentang K3 di tempat kerja tim pertama hanya memenuhi 1
dari 4 kriteria yaitu pekerja diberikan pelatihan dalam menggunakan alat-alat untuk mencegah
terjadinya kecelakaan kerja yang berhubungan dengan penggunaan APAR pemotong roti,
penggunaan mixer dan oven.
Pada kriteria keluhan kesehatan atau sakit tim pertama memenuhi 4 dari 11 kriteria
yaitu pekerja mengeluh kelelahan dan pegal-pegal terutama pada pinggang, dermatitis kontak
alergi, pernah berkunjung ke klinik/RS untuk tujuan pengobatan, selain itu tim pertama tidak
mempunyai keluhan lain yang menyangkut keluhan respirasi, digestiv, neurologi, oftalmologi,
THT, kardiovaskuler dan permintaan surat cuti sakit.
Pada kriteria upaya K3 lainnya tim pertama memenuhi 1 dari 5 kriteria yaitu tim
memiliki pemantauan pengukuran hazard dari dinas kesehatan setempat yang berlokasi dekat
dengan pabrik roti,tetapi tidak ada penyuluhan yang pernah dilakukan, tidak ada rambu-rambu
bahaya, dan tidak ada rambu-rambu evakuasi yang dilakukan, serta pelatihan K3.
Pada kriteria Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Cuma memenuhi 1 dari 9
kriteria yaitu memiliki APAR sejumlah satu yang mudah dicapai dan dekat dengan oven,tetapi
tim tidak mempunyai hydran, alarm, fire detector, smoke detector, heat detector, sprinkler,
rambu-rambu lalu lintas, atau organisasi pemadam kebakaran.
Pada kriteria Konstruksi bangunan tim pertama memenuhi 5 dari 6 kriteria yaitu tim
pertama mempunyai lantai yang terdiri dari ubin yang licin karena mentega, flapon yang terdiri
dari beton,dinding yang terdiri dari beton, ventilasi yang kurang baik, dan satu toilet, limbah
pada proses kerja di tim pertama hampir tidak ada karena bahan yang habis dipakai dapat diolah
kembali.

b) Tim kedua

Berdasarkan checklist yang telah ditetapkan Pabrik Roti Daeng, tim kedua yaitu
tim Bagian pembakaran mengeluarkan roti dari cetakan/loyang.
Pada kriteria Hazard Lingkungan Kerja, tim kedua telah memenuhi 9 dari 34 kriteria
yang telah diterapkan, di antaranya adalah 1) faktor kebisingan sumbernya tidak ada; 2)
faktor pencahayaan ada, dimana sumbernya berasal dari lampu dan ventilasi yang
berlangsung selama proses pekerjaan berjalan; 3) faktor temperatur ada, dimana sumbernya
berasal dari oven, cetakan roti dan loyang yang digunakan membakar roti pada 150-
200oC,jumlah pekerja sebanyak empat orang dan faktor temperatur ini berlangsung terus-
menerus selama proses pembakaran roti; 4) faktor tekanan tidak ada; 5) faktor getaran tidak
ada; 6) faktor kimia ada, yaitu gas LPG yang mudah terbakar, jumlah pekerja sebanyak
empat orang; 7) faktor biologi tidak ada; sumber sampah langsung dibuang ke tempat
sampah sehingga tidak menjadi sumber penularan penyakit, orang sakit tidak datang kerja
supaya tidak menularkan ke pekerja lain, hygiene perorangan setiap pekerja mencuci tangan
sebelum bekerja; 8) faktor ergonomi, yaitu cara bekerja berdiri dengan posisi tubuh saat
bekerja untuk memanggang dan mengeluarkan roti dari oven di atas meja setinggi tengah
paha pekerja; 9) Faktor psikososial, jadwal kerja terbagi 2 shift yaitu pagi jam 07.00-15.00
WITA dan siang 16.00-22.00 WITA, tiap shift terdiri dari 3 pekerja, hubungan interpersonal
pekerja baik, beban kerja dari ringan hingga sedang, dan kemampuan pekerja baik serta gaji
yang cukup dan sesuai dengan beban kerja.
Pada kriteria alat, pekerja di Roti Daeng menggunakan alat-alat yang dapat
menyebabkan luka seperti oven, dan penggunaan oven ini dapat kontak dengan tangan
pekerja. Tetapi penggunaan alat-alat ini telah diantisipasi dengan penggunaan Alat
Pelindung Diri, yaitu apron, sarung tangan, dan alas kaki. APD ini digunakan selama
bekerja, dan kebersihan APD dijaga oleh masing-masing pekerja.
Pekerja telah mengetahui alat-alat yang dapat membahayakan diri sehingga pekerja
telah dibekali mengenai keselamatan kerja melalui sosialisasi dan pelatihan. Selain itu, di
tempat kerja juga telah tersedia APAR yang letaknya terjangkau dan dekat dengan titik-titik
sumber bahaya sehingga memudahkan pekerja saat terjadi kecelakaan kerja.

c) Tim ketiga
Pada kriteria Hazard Lingkungan Kerja Tim ketiga telah memenuhi 14 dari 34 kriteria
yang telah diterapkan antara 14 dari kriteria tersebut adalah 1) faktor kebisingan sumbernya
yaitu mesin pemotong roti, berlangsung pada saat pemotongan roti sekitar 5 menit tidak terus
menerus, 2) Faktor pencahayaan tidak ada, 3) Faktor temperatur ada yaitu saat membuka oven,
hal ini tidak berlangsung terus-menerus, hanya sewaktu akan melakukan proses pendinginan,
4) faktor tekanan tidak ada, 5) faktor getaran sumbernya dari mesin pemotong roti sekitar 5
menit tidak terus menerus, 6) faktor kimia tidak ada, 7) faktor Biologi tidak ada, 8) faktor
ergonomi yaitu posisi tubuh saat bekerja dalam kondisi berdiri saat akan memotong dan
menghias roti, cara kerja dengan memasukkan roti ke tempat pemotong roti, menunggu roti
keluar dari tempat pemotongan, dan menghias roti, 9) faktor Psikososial jadwal kerja terbagi 2
shift yaitu pagi jam 07.00-15.00 dan siang 15.00-22.00, tiap shift terdiri dari 3 pekerja,
hubungan interpersonal pekerja baik, beban kerja dari ringan hingga sedang dan kemampuan
pekerja baik serta gaji yang cukup dan sesuai dengan beban kerja.
Pada kriteria Alat yang digunakan Tim ketiga telah memenuhi 3 dari 5 kriteria yaitu
jenis alat kerja yaitu mesin pemotong roti, penggunaan alat tidak secara terus menerus, alat
kerja yang berhubungan dengan cara kerja.
Pada kriteria Alat Pelindung Diri Tim ketiga telah memenuhi 6 daripada 8 kriteria yaitu
apron yang dipakai pada saat pelangsungan proses ini, sarung tangan digunakan pekerja pada
proses kerja di tim ketiga, penutup kepala ada, penutup telinga tidak ada, pelindung mata tidak
ada, pelindung kaki menggunakan sepatu, pemeliharaan APD cuma apron yang dicuci sesekali
dan diganti jika rusak.
Pada kriteria Pemeriksaan Kesehatan Tim ketiga tidak mempunyai bukti dari
pemeriksaan kesehatan, tidak ada pemeriksaan kesehatan awal,tidak ada pemeriksaan
kesehatan berkala,tidak ada pemeriksaan berkala khusus.
Pada kriteria rambu-rambu tentang K3 di tempat kerja tim pertama telah memenuhi 2
dari 4 kriteria yaitu pekerja hanya diberikan sosialisasi informal dalam menggunakan alat-alat
untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang berhubungan dengan penggunaan APAR
pemotong roti, penggunaan mixer dan oven, tidak terdapat petugas K3, tidak terdapat rambu-
rambu tentang penggunaan APD.
Pada kriteria keluhan kesehatan atau sakit tim ketiga memenuhi 4 dari 11 kriteria yaitu,
diizinkan berkunjung ke klinik/RS untuk tujuan pengobatan, selain itu tim ketiga tidak
mempunyai keluhan lain yang menyangkut keluhan dermatologi berupa luka bakar dan
permintaan surat cuti sakit.
Pada kriteria upaya K3 lainnya tim pertama memenuhi 1 dari 5 kriteria yaitu tim sudah
pernah mendapatkan penyuluhan berupa sosialisasi informal. Tidak ada pemantauan
pengukuran hazard dari dinas kesehatan setempat yang berlokasi dekat dengan pabrik roti,
tidak ada rambu-rambu bahaya, dan tidak ada rambu-rambu evakuasi yang dilakukan.
Pada kriteria Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran cuma memenuhi 6 dari 9
kriteria yaitu memiliki APAR sejumlah satu yang mudah dicapai dan dekat dengan tempat
pendinginan.Tidak terdapat hydran, alarm, fire detector, smoke detector, heat detector,
sprinkler, rambu-rambu lalu lintas, atau organisasi pemadam kebakaran.
Pada kriteria Konstruksi bangunan tim ketiga memenuhi 5 dari 6 kriteria yaitu tim
pertama mempunyai lantai yang terdiri dari keramik yang tidak licin, flapon yang terdiri dari
beton,dinding yang terdiri dari beton, ventilasi jendela yang baik, dan satu toilet, limbah pada
proses kerja di tim pertama hampir tidak ada karena bahan yang habis dipakai langsung
dibuang pada saat itu.
d) Tim keempat

Pada kriteria Hazard Lingkungan Kerja Tim keempat terdapat 6 kriteria dari 34 kriteria
1) faktor kebisingan tidak ada, 2) faktor pencahayaan ada sumbernya dari lampu yang
berlangsung pada saat bekerja. 3) Faktor temperatur tidak ada, 4) faktor tekanan tidak ada, 5)
faktor getaran tidak ada, 6) faktor kimia tidak ada, 7) faktor Biologi; sumber sampah langsung
dibuang ke tempat sampah sehingga tidak menjadi sumber penularan penyakit, orang sakit
tidak datang kerja supaya tidak menularkan ke pekerja lain, hygiene perorangan setiap pekerja
mencuci tangan sebelum bekerja, 8) faktor ergonomi yaitu posis bekerja secara duduk atau
berdiri di lantai, cara bekerja memasukkan roti ke dalam plastik roti dan dirapikan dengan
menggunakan sellotape, kemudian disusun di tempat roti, 9) faktor Psikososial jadwal kerja
terbagi 3 shift yaitu pagi jam 07.00-12.00, siang 12.00-16.00 dan malam 16.00-21.00 tiap shift
terdiri dari 1 pekerja, hubungan interpersonal pekerja baik, beban kerja dari ringan hingga
sedang dan kemampuan pekerja baik serta gaji yang cukup dan sesuai dengan beban kerja.

Pada kriteria Alat yang digunakan Tim keempat tidak ada penggunaan alat tangan dan
mesin cuma menggunakan sellotape untuk merapikan bungkusan roti dan disusun di tempat
roti.
Pada kriteria Alat Pelindung Diri Tim keempat telah memenuhi 2 daripada 8 kriteria
yaitu menngunakan sarung tangan dan pelindung kaki, apron tidak dipakai pada saat
pelangsungan proses bekerja, penutup kepala tidak ada, penutup telinga tidak ada, pelindung
mata tidak ada, pelindung kaki cuma memakai sandal biasa yang tidak menutup seluruh kaki.
Pada kriteria Pemeriksaan Kesehatan Tim keempat tidak mempunyai bukti dari
pemeriksaan kesehatan, tidak ada pemeriksaan kesehatan awal,tidak ada pemeriksaan
kesehatan berkala,tidak ada pemeriksaan berkala khusus.
Pada kriteria rambu-rambu tentang K3 di tempat kerja tim keempat hanya memenuhi 1
dari 4 kriteria yaitu terdapat petugas K3 dari pegawaisementara pelatihan dalam menggunakan
alat-alat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang berhubungan dengan penggunaan
APAR pemotong roti, penggunaan mixer dan oven, rambu-rambu tentang penggunaan APD
tidak ada.
Pada kriteria keluhan kesehatan atau sakit tim keempat memenuhi 1 dari 11 kriteria
yaitu diijinkan berkunjung ke klinik/RS untuk tujuan pengobatan, selain itu tim keempat tidak
mempunyai keluhan lain yang menyangkut keluhan respirasi, digestiv, neurologi, dermatologi,
oftalmologi, THT, kardiovaskuler dan permintaan surat cuti sakit.
Pada kriteria upaya K3 lainnya tim pertama memenuhi 2 dari 5 kriteria yaitu tim sudah
pernah mendapatkan pelatihan, dan ada pemantauan pengukuran hazard dari dinas kesehatan
setempat yang berlokasi dekat dengan pabrik roti,tetapi tidak ada penyuluhan yang pernah
dilakukan, tidak ada rambu-rambu bahaya, dan tidak ada rambu-rambu evakuasi yang
dilakukan.
Pada kriteria Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Cuma memenuhi 1 dari 9
kriteria yaitu memiliki APAR sejumlah satu yang mudah dicapai dan dekat dengan oven,tetapi
tim tidak mempunyai hydran, alarm, fire detector, smoke detector, heat detector, sprinkler,
rambu-rambu lalu lintas, atau organisasi pemadam kebakaran.
Pada kriteria Konstruksi bangunan tim keempat memenuhi 5 dari 6 kriteria yaitu tim
pertama mempunyai lantai yang terdiri dari ubin yang licin karena mentega, flapon yang terdiri
dari beton,dinding yang terdiri dari beton, ventilasi yang kurang baik, dan satu toilet, limbah
pada proses kerja di tim pertama hampir tidak ada karena bahan yang habis dipakai dapat diolah
kembali.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan, karena sakit
dan kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) suatu perusahaan
atau negara. Maka dari itu kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola secara maksimal
bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi seluruh masyarakat.

Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan diatas maka kami ajukan saran:

1. Bagi karyawan lebih memperhatikan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
dengan bekerja secara disiplin dan berhati-hati serta mengikuti proses.
2. Lengkapi alat pelindung diri (APD)
3. Perusahaan pemotongan ayam merupakan tempat dimana terjadi penyimpanan,
penyembelihan dan pemotongan sehingga mendistribusikan ayam menjadi bagian
yang fundamental sebagai suatu bahan keperluan asas sehingga sanitasi harus tetap
terjaga.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kurniawidjaja, Meily. 2010.Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja. Jakarta:UIPress


2. New Jersey Departement of Health. 2007. Hazardous Substance Fact Sheet:Acrylic
acid
3. Ishaq. 2010. Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja (SMK3). Jakarta
4. Riswan D. 2016. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta
5. Tarwaka, Bakri, Solichul HA, Sudiajeng, Lilik. 2004. Ergonomi Untuk Keselamatan,
Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Surakarta; UNIBA PRESS.
6. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sarana untuk Produktivitas. 2013. Jakarta:
International Labour Organization.
7. Keselamatan Kerja. 1970. Undang-Undang nomor I Tahun 1970.
8. Sarwono, Sarlito Wirawan, 2005, Psikologi Lingkungan, Penerbit PT. Gramedia
Grasindo, Jakarta.
9. Sumamur P.K, 1995. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Kerja.
Jakarta. PT Toko Gunung Agung.
10. Barry S. Levy, David H. Wegman. 2006. Occupational Health : Recognizing and
Preventing Work Related Disease. Edisi ke-3
LAMPIRAN
Tim I : Bagian pemilihan bahan penimbangan pengadukan fermentasi awal
penimbangan adonan pembulatan adonan

HASIL KET.
NO ASPEK YANG DINILAI
TAMBAHAN
YA TIDAK
I. HAZARD LINGKUNGAN KERJA
A. Faktor Kebisingan
Sumbernya (Jenis)
Jumlah pekerja 4
Berlangsung pada saat bekerja
B. Faktor pencahayaan
Sumbernya (Jenis) lampu + ventilasi
Jumlah pekerja 4
Selama proses

Berlangsung pada saat bekerja pekerjaan berjalan
C. Faktor Temperatur
Sumbernya (Jenis)
Jumlah pekerja
Berlangsung pada saat bekerja
D. Faktor Tekanan
Sumbernya (Jenis)
Jumlah pekerja
Berlangsung pada saat bekerja
E. Faktor Getaran
Sumbernya (Jenis)
Jumlah pekerja
Berlangsung pada saat
F. Faktor Kimia
Jenis Bahan Kimia:
Ragi, terigu,

Padat mentega
Cair air
Gas
Fume
Nama bahan
Jumlah pekerja 4 orang
G. Faktor Biologi
Sumber Makanan
Tim I : Bagian pemilihan bahan penimbangan pengadukan fermentasi awal
penimbangan adonan pembulatan adonan

HASIL KET.
NO ASPEK YANG DINILAI
TAMBAHAN
YA TIDAK
Sampah langsung
dibuang ke tempat
sampah sehingga

tidak menjadi
sumber penularan
Sumber Sampah penyakit
Orang sakit tidak
datang kerja supaya

tidak menularkan
Orang Sakit ke pekerja lain
Setiap pekerja
mencuci tangan
Hygine perorangan sebelum bekerja
H. Faktor Ergonomi
Pekerja berdiri saat
menimbang dan
membentuk adonan

di atas meja
setinggi tengah
Posisi tubuh saat bekerja paha pekerja
Cara bekerja Berdiri & duduk
Barang-barang
yang digunakan
Ketata Rumahtanggaan (house Keeping) tidak tersusun rapi
I. Faktor Psikososial
Ada tiga shift: pagi
dari jam 7-12 siang,
siang dari jam 12-4
sore, malam dari
Jadwal kerja jam 4-10 malam.
Hubungan Interpersonal Baik
Beban kerja Ringan-sedang.
Kemampuan Baik
Cukup dan sesuai
dengan bebean
Gaji kerja
Tim I : Bagian pemilihan bahan penimbangan pengadukan fermentasi awal
penimbangan adonan pembulatan adonan

HASIL KET.
NO ASPEK YANG DINILAI
TAMBAHAN
YA TIDAK
II ALAT YANG DIGUNAKAN
kayu penggulung,
dan mesin yang
digunakan yaitu

mesin mixer
adunan,freezer dan
Jenis alat kerja (Alat tangan / mesin) alat penimbang
Kegunaan (terus-menerus atau tidak)
Tangan untuk
menimbang dan
Alat kerja yang berhunbungan dengan badan mengaduk bahan
Mesin mixer dan

Alat kerja yang berhunbungan dengan Listrik freezer
Alat kerja yang berhubungan dengan cara kerja
III ALAT PELINDUNG DIRI
Berbahan kain,
yang tidak terlalu
Celemek/Apron berat
Pekerja
menggunakan

sarung tangan saat
Sarung Tangan (gloves) membuat adonan
Penutup kepala
Penutup telinga
Pelindung mata
Menggunakan

Pelindung kaki sepatu
Dibawa pulang
masing-masing

pegawai, dicuci
Pemeliharaan APD sendiri.
Dipakai selama bekerja
IV PEMERIKSAAN KESEHATAN
Bukti pemeriksaan
Pemeriksaan kesehatan awal
Tim I : Bagian pemilihan bahan penimbangan pengadukan fermentasi awal
penimbangan adonan pembulatan adonan

HASIL KET.
NO ASPEK YANG DINILAI
TAMBAHAN
YA TIDAK
Pemeriksaan kesehatan berkala
Pemeriksaan Berkala khusus
Hasil
Penyiapan obat

Peraturan Perusahaan generik
RAMBU-RAMBU TENTANG K3 DI
V TEMPAT KERJA
Pekerja hanya
diberikan
sosialisasi informal
menggunakan alat-

alat yang ada untuk
mencegah
terjadinya
Peraturan kecelakaan kerja.
Penggunaan mixer,
oven, pemotong

roti, dan
Berhubungan dengan pekerjaan apa penggunaan APAR
Pegawai dengan
double job dan
Terdapat petugas K3 apoteker
Rambu-rambu tentang pengunaan APD
VI KELUHAN KESEHATAN ATAU SAKIT
Keluhan Respirasi
Keluhan Digestiv
Kelelahan dan
pegal-pegal pada
Keluhan Musculoskeletal pinggang
Keluhan Neurologi
Keluhan Dermatologi
Keluhan oftlmologi
Keluhan THT
Keluhan Kardiovaskuler
Izin kunjungan klinik / RS / balai pengobatan
Tim I : Bagian pemilihan bahan penimbangan pengadukan fermentasi awal
penimbangan adonan pembulatan adonan

HASIL KET.
NO ASPEK YANG DINILAI
TAMBAHAN
YA TIDAK
Surat cuti sakit
Pegal-pegal

Jenis keluhan / penyakit yang paling seing terutama pinggang
VII UPAYA K3 LAINNYA
Sosialisasi di

Penyuluhan: perusahaan
Pelatihan: Pelatihan
Pemantauan hazard / pengukuran Belum ada
Rambu-rambu bahaya
Rambu-rambu evakuasi
PENCEGAHAN DAN
VIII PENANGGULANGAN KEBAKARAN

Mudah dicapai,
sesuai dengan
rekomendasi dinas
pemadam
Apar kebakaran.
Hydran
Alarm
Fire Detector
Smoke Detector
Heat Detector
Sprikler
Rambu-rambu Lalu Lintas
Organisasi Pemadam Kebakaran
KONSTRUKSI BANGUNAN
Lantai Terdiri dari ubin yang licin karena mentega.
Flapon Terdiri dari beton
Dinding Terdiri dari beton
Ventilasi Dari kaca dan baik
Limbah hampir tidak ada karena menggunakan
Saluran Buangan Limbah bahan habis pakai dan dapat diolah kembali.
Toilet Ada satu
Tim II : Pembakaran mengeluarkan roti dari cetakan/ loyang
HASIL
ASPEK YANG DINILAI
No. YA TIDAK KET. TAMBAHAN
Jumlah Pekerja 4

I. HAZARD LINGKUNGAN KERJA

A. Faktor Kebisingan
Sumbernya (Jenis)
Berlangsung pada saat bekerja

B. Faktor pencahayaan
Sumbernya (Jenis) lampu + ventilasi
Berlangsung pada saat bekerja
Selama proses pekerjaanberjalan
C. Faktor Temperatur
Sumbernya (Jenis) Oven, cetakan roti, dan loyang
yang digunakan membakar roti
150-200oC
Berlangsung pada saat bekerja Terus-menerusselamapembakaran
roti
D. Faktor Tekanan
Sumbernya (Jenis)
Berlangsung pada saat bekerja

E. Faktor Getaran
Sumbernya (Jenis)
Berlangsung pada saat
F. Faktor Kimia
JenisBahan Kimia:
Padat
Cair
Gas LPG mudah terbakar
Fume
G. Faktor Biologi
Sumber Makanan
Sumber Sampah Sampah langsung dibuang ke
tempat sampah sehingga tidak
menjadi sumber penularan penyakit
Orang Sakit Orang sakit tidak datang kerja
supaya tidak menularkan ke pekerja
lain
Hygine perorangan Setiap pekerja mencuci tangan
sebelum bekerja
H. Faktor Ergonomi
Posisi tubuh saat bekerja Pekerja berdiri saat memanggang
dan mengeluarkan roti dari oven di

atas meja setinggi tengah paha
pekerja
Cara bekerja Berdiri
Ketatarumahtanggaan (House keeping) Barang atau alat kerja mudah

dijangkau dan meringankan kerja
I. Faktor Psikososial
Jadwal kerja Ada dua shift: jam 7.00-15.00, dan
jam 16.00-22.00. Tiap shift
terdiridari 3 pekerja
Hubungan Interpersonal Baik
Beban kerja Ringan-sedang.
Kemampuan Baik
Gaji Cukup dan sesuai dengan beban
kerja
II ALAT YANG DIGUNAKAN
Jenis alat kerja (Alat tangan / mesin)
Oven pembakar

Kegunaan (terus-menerus atau tidak)

Alat kerja yang berhunbungan dengan badan Tangan

Alat kerja yang berhunbungan dengan listrik Oven pembakar

Alat kerja yang berhubungan dengan cara kerja


III ALAT PELINDUNG DIRI
Celemek/Apron Berbahan kain tebal dan tidak
terlalu berat
Sarung Tangan (gloves) Pekerja menggunakan sarung
tangan saat pengambilan roti yang
selesai dibakar
Penutup kepala
Penutup telinga
Pelindung mata
Pelindung kaki Memakai sepatu
Pemeliharaan APD Masing-masing pegawai
bertanggung jawab dengan APD
masing-masing, baik menjaga
kelengkapannya maupun menjaga
kebersihannya
Dipakai selama bekerja
IV PEMERIKSAAN KESEHATAN
Bukti pemeriksaan
Pemeriksaan kesehatan awal
Pemeriksaan kesehatan berkala
Pemeriksaan Berkala khusus
Hasil
Peraturan Perusahaan
RAMBU-RAMBU TENTANG K3 DI TEMPAT
V KERJA
Peraturan Pekerja diberikan pelatihan
menggunakan alat-alat yang ada
untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja.
Berhubungan dengan pekerjaan apa Penggunaan oven, pemotong roti,
dan penggunaan APAR
Terdapat petugas K3 Petugas K3 dari dinas kesehatan
yang datang setiap 3 bulan

Rambu-rambu tentang pengunaan APD

VI KELUHAN KESEHATAN ATAU SAKIT


Keluhan Respirasi
Keluhan Digestiv
Keluhan Musculoskeletal Kelelahan dan pegal-pegal pada
pinggang
Keluhan Neurologi
Luka bakar derajat 1 yang dapat
mengenai kulit akibat kontak
Keluhan Dermatologi dengan bagian dari oven
Keluhan oftlmologi
Keluhan THT
Keluhan Kardiovaskuler

Izin kunjungan klinik / RS / balai pengobatan


Surat cuti sakit
Pegal-pegal terutama pinggang
Jenis keluhan / penyakit yang paling seing
VII UPAYA K3 LAINNYA
Penyuluhan:
Pelatihan: Sosialisasi di perusahaan
Pemantauan hazard / pengukuran Pelatihan
Rambu-rambu bahaya
Rambu-rambu evakuasi

PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN


VIII KEBAKARAN
Apar Mudah dicapai, sesuai dengan
rekomendasi dinas pemadam
kebakaran.
Hydran
Alarm
FireDetector
SmokeDetector
HeatDetector
Sprikler
Rambu-rambu Lalu Lintas
Organisasi Pemadam Kebakaran

KONSTRUKSI BANGUNAN

Lantai Terdiri dari ubin


Flapon Terdiri dari beton
Dinding Terdiri dari beton
Ventilasi Dari kaca dan baik
Saluran Buangan Limbah
Limbah hampir tidak ada karena
menggunakan bahan habis pakai
dan dapat diolah kembali.
Toilet Ada satu

Tim III :Pendinginan pemotongan roti pemodelan roti

NO ASPEK YANG DINILAI HASIL KET. TAMBAHAN


YA TIDAK
Jumlah Pekerja 3
I. HAZARD LINGKUNGAN KERJA
A. Faktor Kebisingan
Mesin pemotong

Sumbernya (Jenis) roti
Tidak
terus-menerus, sewaktu
Berlangsung pada saat bekerja proses pemotongan roti
B. Faktor pencahayaan
Sumbernya (Jenis)
Berlangsung pada saat bekerja
C. Faktor Temperatur
Sumbernya (Jenis) Membuka oven
tidak terus-menerus sewaktu
akan melakukan proses
Berlangsung pada saat bekerja pendinginan
D. Faktor Tekanan
Sumbernya (Jenis)
Berlangsung pada saat bekerja
E. Faktor Getaran
Tim III :Pendinginan pemotongan roti pemodelan roti

NO ASPEK YANG DINILAI HASIL KET. TAMBAHAN


YA TIDAK
Mesin pemotong

Sumbernya (Jenis) roti
tidak terus-menerus sewaktu

Berlangsung pada saat proses pemotongan roti
F. Faktor Kimia
Jenis Bahan Kimia:
Padat
Cair
Gas
Fume
Nama bahan
Jumlah pekerja
G. Faktor Biologi
Sumber Makanan
Sumber Sampah Serbuk roti dari pemotongan
Orang sakit tidak datang kerja
supaya tidak menularkan ke pekerja
Orang Sakit lain
Setiap pekerja mencuci tangan

Hygine perorangan sebelum bekerja
H. Faktor Ergonomi
Posisi tubuh saat bekerja Pekerja berdiri saat memotong dan menghiasi roti
Memasukkan roti ke tempat pemotong roti, menunggu
Cara bekerja roti keluar dari tempat pemotongan, dan menghias roti
Ketata Rumahtanggaan (house Keeping) Barang-barang yang digunakan tersusun rapi.
I. Faktor Psikososial
Ada dua shift: pagi dari jam 7-3
siang, siang dari jam 3-10 malam.
Jadwal kerja Tiap shift terdiri dari 3 pekerja
Hubungan Interpersonal Baik
Beban kerja Ringan
Kemampuan Baik
Cukup dan sesuai dengan bebean

Gaji kerja
II ALAT YANG DIGUNAKAN
Jenis alat kerja (Alat tangan / mesin) Mesin pemotong
Tim III :Pendinginan pemotongan roti pemodelan roti

NO ASPEK YANG DINILAI HASIL KET. TAMBAHAN


YA TIDAK
roti
Kegunaan (terus-menerus atau tidak) Terus-menerus digunakan
Alat kerja yang berhubungan dengan badan
Alat kerja yang berhubungan dengan Listrik
Alat kerja yang berhubungan dengan cara kerja
III ALAT PELINDUNG DIRI
Berbahan kain tebal, yang tidak

Celemek/Apron terlalu berat
Pekerja menggunakan sarung
tangan saat menggunakan mesin
Sarung Tangan (gloves) pemotong roti
Penutup kepala
Penutup telinga
Pelindung mata
Pelindung kaki Menggunakan sepatu
Alat yang dipakai hanya apron yang
dicuci sesekali dan diganti jika
Pemeliharaan APD rusak.
Dipakai selama bekerja
IV PEMERIKSAAN KESEHATAN
Bukti pemeriksaan
Pemeriksaan kesehatan awal
Pemeriksaan kesehatan berkala
Pemeriksaan Berkala khusus
Hasil
Peraturan Perusahaan
RAMBU-RAMBU TENTANG K3 DI
V TEMPAT KERJA
Pekerja hanya diberikan sosialisasi
informal menggunakan alat-alat

yang ada untuk mencegah
Peraturan terjadinya kecelakaan kerja.
Penggunaan mixer, oven,
pemotong roti, dan penggunaan
Berhubungan dengan pekerjaan apa APAR
Terdapat petugas K3
Tim III :Pendinginan pemotongan roti pemodelan roti

NO ASPEK YANG DINILAI HASIL KET. TAMBAHAN


YA TIDAK
Rambu-rambu tentang pengunaan APD
VI KELUHAN KESEHATAN ATAU SAKIT
Keluhan Respirasi
Keluhan Digestiv
Keluhan Musculoskeletal
Keluhan Neurologi
Keluhan Dermatologi Luka bakar
Keluhan oftalmologi
Keluhan THT
Keluhan Kardiovaskuler
Izin kunjungan klinik / RS / balai pengobatan
Surat cuti sakit
Jenis keluhan / penyakit yang paling seing Luka bakar
VII UPAYA K3 LAINNYA
Penyuluhan: Sosialisasi informal
Pelatihan:
Pemantauan hazard / pengukuran
Rambu-rambu bahaya
Rambu-rambu evakuasi
PENCEGAHAN DAN
VIII PENANGGULANGAN KEBAKARAN

Satu, mudah dicapai, dekat dengan



Apar tempat pendinginan roti
Hydran
Alarm

Fire Detector
Smoke Detector
Heat Detector
Sprikler
Rambu-rambu Lalu Lintas
Organisasi Pemadam Kebakaran
KONSTRUKSI BANGUNAN
Lantai Terdiri dari ubin yang licin karena mentega.
Flapon Terdiri dari beton
Dinding Terdiri dari beton
Ventilasi Ada namun kurang baik
Tim III :Pendinginan pemotongan roti pemodelan roti

NO ASPEK YANG DINILAI HASIL KET. TAMBAHAN


YA TIDAK
Limbah hampir tidak ada karena menggunakan bahan
Saluran Buangan Limbah habis pakai dan dapat diolah kembali.
Toilet Ada satu

Tim IV : Pembungkusan Roti

NO ASPEK YANG DINILAI HASIL KET. TAMBAHAN


YA TIDAK
I. HAZARD LINGKUNGAN KERJA
A. Faktor Kebisingan
Sumbernya (Jenis)
Jumlah pekerja 3 orang
Berlangsung pada saat bekerja
B. Faktor pencahayaan
Sumbernya (Jenis) Lampu + Ventilasi
Jumlah pekerja
Berlangsung pada saat bekerja Selama proses pekerjaan berjalan
C. Faktor Temperatur
Sumbernya (Jenis)
Jumlah pekerja
Berlangsung pada saat bekerja
D. Faktor Tekanan
Sumbernya (Jenis)
Jumlah pekerja
Berlangsung pada saat bekerja
E. Faktor Getaran
Sumbernya (Jenis)
Jumlah pekerja 1
Berlangsung pada saat
F. Faktor Kimia
Jenis Bahan Kimia:
Padat
Cair
Gas
Fume
Nama bahan
Tim IV : Pembungkusan Roti

NO ASPEK YANG DINILAI HASIL KET. TAMBAHAN


YA TIDAK
Jumlah pekerja
G. Faktor Biologi
Sumber Makanan
Sampah langsung dibuang ke
tempat sampah sehingga tidak
Sumber Sampah menjadi sumber penularan penyakit
Orang sakit tidak datang kerja
supaya tidak menularkan ke pekerja
Orang Sakit lain
Setiap pekerja mencuci tangan

Hygine perorangan sebelum bekerja
H. Faktor Ergonomi
Posisi tubuh saat bekerja Pekerja duduk diatas lantai
Memasukkan roti ke dalam plastik roti dan dirapikan
Cara bekerja dengan menggunakan sellotape (berdiri & duduk)
Ketata Rumahtanggaan (house Keeping) Barang-barang yang digunakan tidak tersusun rapi.
I. Faktor Psikososial
Ada tiga shift: pagi dari jam 7-12
siang, siang dari jam 12-4 sore.
Jadwal kerja Tiap shift terdiri dari 1 pekerja
Hubungan Interpersonal Baik
Beban kerja Ringan
Kemampuan Baik
Cukup dan sesuai dengan beban

Gaji kerja
II ALAT YANG DIGUNAKAN
Jenis alat kerja (Alat tangan / mesin)
Kegunaan (terus-menerus atau tidak)
Alat kerja yang berhubungan dengan badan
Alat kerja yang berhubungan dengan Listrik
Alat kerja yang berhubungan dengan cara kerja
III ALAT PELINDUNG DIRI
Celemek/Apron
Pekerja
menggunakan sarung tangan oven
Sarung Tangan (gloves) saat bekerja
Tim IV : Pembungkusan Roti

NO ASPEK YANG DINILAI HASIL KET. TAMBAHAN


YA TIDAK
Penutup kepala
Penutup telinga
Pelindung mata
Memakai sepatu biasa yang

Pelindung kaki menutup seluruh kaki
Pemeliharaan APD
Dipakai selama bekerja
IV PEMERIKSAAN KESEHATAN
Bukti pemeriksaan
Pemeriksaan kesehatan awal
Pemeriksaan kesehatan berkala
Pemeriksaan Berkala khusus
Hasil
Peraturan Perusahaan Penyediaan obat generic
RAMBU-RAMBU TENTANG K3 DI
V TEMPAT KERJA
Hanya menggunakan media

Peraturan sosialisasi
Penggunaan mixer, oven,
pemotong roti, dan penggunaan
Berhubungan dengan pekerjaan apa APAR
Petugas K3 dari pegawai sehingga

Terdapat petugas K3 double job dan apoteker
Rambu-rambu tentang pengunaan APD
VI KELUHAN KESEHATAN ATAU SAKIT
Keluhan Respirasi
Keluhan Digestiv
Keluhan Musculoskeletal
Keluhan Neurologi
Keluhan Dermatologi
Keluhan oftlmologi
Keluhan THT
Keluhan Kardiovaskuler
Izin kunjungan klinik / RS / balai pengobatan
Surat cuti sakit
Jenis keluhan / penyakit yang paling seing tidak ada
Tim IV : Pembungkusan Roti

NO ASPEK YANG DINILAI HASIL KET. TAMBAHAN


YA TIDAK
VII UPAYA K3 LAINNYA
Penyuluhan:
Pelatihan: Pelatihan
Dari
dinas kesehatan setempat,

lokasi pabrik dekat dengan
Pemantauan hazard / pengukuran dinas kesehatan
Rambu-rambu bahaya
Rambu-rambu evakuasi
PENCEGAHAN DAN
VIII PENANGGULANGAN KEBAKARAN

Satu, mudah dicapai, dekat dengan



Apar tempat pendinginan roti
Hydran
Alarm
Fire Detector
Smoke Detector
Heat Detector
Sprikler
Rambu-rambu Lalu Lintas
Organisasi Pemadam Kebakaran
KONSTRUKSI BANGUNAN
Lantai Terdiri dari ubin yang licin karena mentega.
Flapon Terdiri dari beton
Dinding Terdiri dari beton
Ventilasi Ada namun kurang baik
Limbah hampir tidak ada karena menggunakan bahan
Saluran Buangan Limbah habis pakai dan dapat diolah kembali.
Toilet Ada satu