Anda di halaman 1dari 2

Nama : Hana Muzdalifah

NIM : P1337420614014

Judul : Impact Of Intraoperative Behavior On Surgical Site Infections

Sumber : The American Journal of Surgery (2009) 198, 157-162

DAMPAK DARI PERILAKU INTRAOPERATIF PADA INFEKSI PEMBEDAHAN

1. Latar Belakang

Infeksi pembedahan atau dalam bahasa inggris Surgical Site Infection ( SSI )
merupakan kejadian infeksi nosokomial nomor 3 , terhitung dari 14% - 16% yang
merupakan infeksi nosokomial keseluruhan dan 38 % untuk pasien pembedahan.
Infeksi pembedahan meningkatkan lama hari rawat di rumah sakit rata- rata menjadi 7
13 hari dan biaya kurang lebih 2,6 3 kali per kasus.

Faktor risiko infeksi pembedahan / SSI tergantung dari kondisi pasien atau
karakter dari pembedahan. Menurut penyelidikan faktor risiko terkait dengan
karakteristik intraoperatif dibatasi oleh faktor individual dan lingkungan operasi
seperti ventilasi ruangan, pencukuran , desinfeksi dan penggunaan kain spesifik. Studi
kali ini lebih difokuskan pada faktor yang secara umum terkait dengan tindakan
antiseptik intraoperatif diimplentasikan oleh anggota tim bedah. Hal ini dilakukan
berdasarkan 2 hipotesis: (1) tindakan antiseptik ekstensif mengurangi kejadian SSI,
dan (2) disiplin untuk mematuhi prinsip-prinsip asepsis oleh anggota tim bedah
mempengaruhi kejadian SSI.

2. Metodologi

Metode penelitian ini menggunakan uji kohort prospektif , kamar operasi akan
diobservasi antara 2 kelompok yang pertama adalah pengukuran tindakan antiseptik
yang ekstensif dan yang kedua adalah pengukuran pada tindakan antiseptik yang
standar sebagai kontol kongruen independen. Penelitian dilakukan mulai pukul 7 pagi
dan berakhir jam 7 pagi keesokan harinya. Terdapat 20 responden yang dipilih secara
acak serta pengobatannya tidak dibedakan antar pasien.

Tindakan antiseptik yang ekstensif dilakukan dengan cara tim bedah


menggunakan 2 pasang sarung tangan, dan sarung tangan diganti setiap 2 jam dan
setelah bersentuhan atau kontak dengan saluran organ tubuh. Semua tim bedah
menggunakan topi yang menutupi kepala hingga leher. Instrumen bedah diganti setiap
setelah digunakan untuk tindakan anatomis. Dan setelah selesai operasi bagian perut
yang dioperasi duibersihkan dengan minimal 5 L larutan RL. Terutama bagian yang
dekat dengan perut, bagian perut yang dioperasi ditutup kembali dengan drape steril

1
dan jaringan subkutan dibersihkan dengan larutan RL 1 L. Sedangkan untuk tindakan
antiseptik standar pembedah menggunakan 1 atau 2 pasang sarung tangan berdasar
kebutuhan dan tidak diganti. Tim bedah menggunakan topi seperti biasa, dan
instrumen bedah yang tidak diganti selama operasi. Dan setelah selesai operasi bagian
perut dan jaringan subkutan dibersihkan sesuai kebijakan dari tim bedah. Dan tidak
ada draping yang dilakukan sebelum pentupan abdomen.

3. Hasil

Dalam jurnal ini setelah dilakukan penelitian selama juli 2005 dan januari
2007, dari total 1,032 pasien yang dilakukan study dan terpilih secara acak dengan
menggunakan tindakan aseptik standar dan tindakan aseptik ekstensif. Dari 1,032
pasien , 961 (93%) mendapat tindak lanjut selama 30 hari setelah operasi.

Penilaian terhadap infeksi pembedahan tidak ada perbedaan antara tindakan


antiseptik ekstensif dan tindakan antiseptik standar. Analisis univariat yang
menyelidiki tentang karakteristik pasien menyatakan yang termasuk mempengaruhi
tingkat infeksi adalah penyimpangan tim operasi yang minim, indek massa tubuh > 30
kg/m2 dan lama durasi operasi yang tidak lebih dari 3 jam. Sehingga tindakan
antiseptik ekstensif tidak mengurangi tingkat infeksi pembedahan.

4. Kesimpulan

Jadi, studi mengungkapkan bahwa disiplin untuk mematuhi prinsip asepsis


oleh anggota tim bedah adalah hal yang penting dan signifikan untuk menurunkan
faktor risiko intraoperasi yang dapat dijadikan intevensi. Dan penambahan tindakan
antiseptik atau tindakan ekstensif bagaimanapun tidak dapat mengurangi kejadian SSI
atau infeksi pembedahan.