Anda di halaman 1dari 2

Nama : Hana Muzdalifah

NIM : P1337420614014

Judul : Impact Of Intraoperative Behavior On Surgical Site Infections

DAMPAK DARI PERILAKU INTRAOPERATIF PADA INFEKSI PEMBEDAHAN

Infeksi pembedahan atau dalam bahasa inggris Surgical Site Infection ( SSI )
merupakan kejadian infeksi nosokomial nomor 3 , terhitung dari 14% - 16% yang merupakan
infeksi nosokomial keseluruhan dan 38 % untuk pasien pembedahan. Infeksi pembedahan
meningkatkan lama hari rawat di rumah sakit rata- rata menjadi 7 13 hari dan biaya kurang
lebih 2,6 3 kali per kasus.

Faktor risiko infeksi pembedahan / SSI tergantung dari kondisi pasien atau karakter
dari pembedahan. Faktor risiko dipengaruhi oleh lingkungan operasi seperti durasi operasi,
hilangnya darah, dan tipe pembedahan juga mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap
infeksi pembedahan kemudian kondisi pasien seperti umur, diabetes dan pengguna nikotin
atau steroid. Menurut penyelidikan faktor risiko terkait dengan karakteristik intraoperatif
dibatasi oleh faktor individual dan lingkungan operasi seperti ventilasi ruangan, pencukuran ,
desinfeksi dan penggunaan kain spesifik. Studi kali ini lebih difokuskan pada faktor yang
secara umum terkait dengan tindakan antiseptik intraoperatif diimplentasikan oleh anggota
tim bedah. Hal ini dilakukan berdasarkan 2 hipotesis: (1) tindakan antiseptik ekstensif
mengurangi kejadian SSI, dan (2) disiplin untuk mematuhi prinsip-prinsip asepsis oleh
anggota tim bedah mempengaruhi kejadian SSI.

Metode penelitian ini menggunakan uji kohort prospektif , kamar operasi akan
diobservasi antara 2 kelompok yang pertama adalah pengukuran tindakan antiseptik yang
ekstensif dan yang kedua adalah pengukuran pada tindakan antiseptik yang standar sebagai
kontol kongruen independen. Penelitian dilakukan mulai pukul 7 pagi dan berakhir jam 7
pagi keesokan harinya. Terdapat 20 responden yang dipilih secara acak serta pengobatannya
tidak dibedakan antar pasien. Tindakan antiseptik yang ekstensif dilakukan dengan cara tim
bedah menggunakan 2 pasang sarung tangan, dan sarung tangan diganti setiap 2 jam dan
setelah bersentuhan atau kontak dengan saluran organ tubuh. Semua tim bedah menggunakan
topi yang menutupi kepala hingga leher. Instrumen bedah diganti setiap setelah digunakan
untuk tindakan anatomis. Dan setelah selesai operasi bagian perut yang dioperasi
duibersihkan dengan minimal 5 L larutan RL. Terutama bagian yang dekat dengan perut,
bagian perut yang dioperasi ditutup kembali dengan drape steril dan jaringan subkutan
dibersihkan dengan larutan RL 1 L. Sedangkan untuk tindakan antiseptik standar pembedah
menggunakan 1 atau 2 pasang sarung tangan berdasar kebutuhan dan tidak diganti. Tim
bedah menggunakan topi seperti biasa, dan instrumen bedah yang tidak diganti selama
operasi. Dan setelah selesai operasi bagian perut dan jaringan subkutan dibersihkan sesuai
kebijakan dari tim bedah. Dan tidak ada draping yang dilakukan sebelum pentupan abdomen.

1
Setelah dilakukan penelitian selam juli 2005 dan januari 2007, dari total 1,032 pasien
yang dilakukan study dan terpilih secara acak dengan menggunakan tindakan aseptik standar
dan tindakan aseptik ekstensif. Dari 1,032 pasien , 961 (93%) mendapat tindak lanjut selama
30 hari setelah operasi.

Penilaian terhadap infeksi pembedahan tidak ada perbedaan antara 2 grup . infeksi
paling banyak adalah daerah permukaan, dimana insisi dalam dan infeksi intra-abdominal
yang diobservsi memiliki frekuensi lebih sedikit. Analisis univariat yang menyelidiki tentang
karakteristik pasien menyatakan yang termasuk mempengaruhi tinkat infeksi adalah indek
massa tubuh > 30 kg/m2 dan lama durasi operasi.