Anda di halaman 1dari 9

Proses Pelaksanaan Kebijakan Publik

Pelaksanaan merupakan salah satu tahap dalam proses kebijakan publik.


Biasanya Pelaksanaan dilaksanakan setelah sebuah kebijakan dirumuskan dengan
tujuan yang jelas. Pelaksanaan adalah suatu rangkaian aktivitas dalam rangka
menghantarkan kebijakan kepada masyarakat sehingga kebijakan tersebut dapat
membawa hasil sebagaimana yang diharapkan. Rangkaian kegiatan tersebut
mencakup persiapan seperangkat peraturan lanjutan yang merupakan interpretasi
dari kebijakan tersebut. Misalnya dari sebuah undang-undang muncul sejumlah
Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, maupun Peraturan Daerah,
menyiapkan sumber daya guna menggerakkan pelaksanaan tersebut termasuk di
dalamnya sarana dan prasarana, sumber daya keuangan, dan tentu saja siapa yang
bertanggung jawab melaksanakan kebijakan tersebut, dan bagaimana
mengantarkan kebijakan secara langsung ke masyarakat.
Pelaksanaan kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan
dapat mencapai tujuannya, tidak lebih dan kurang. Untuk melaksanakan kebijakan
publik, maka ada dua pilihan langkah yang ada, yaitu langsung melaksanakannya
dalam bentuk program-program atau melalui formulasi turunan dari kebijakan
tersebut. Proses pelaksanaan kebijakan publik baru dapat dimulai apabila tujuan-
tujuan kebijakan publik telah ditetapkan, program-program telah dibuat, dan dana
telah dialokasikan untuk pencapaian tujuan kebijakan tersebut, Pelaksanaan
kebijakan bila dipandang dalam pengertian yang luas, merupakan alat administrasi
hukum dimana berbagai aktor, organisasi, prosedur, dan teknik yang bekerja
bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan
yang diinginkan.
Dalam setiap perumusan kebijakan yang menyangkut program maupun
kegiatan-kegiatan, selalu diiringi dengan suatu tindakan pelaksanaan. Betapa pun
baiknya suatu kebijakan tanpa suatu pelaksanaan maka tidak akan banyak berarti.
Pelaksanaan kebijakan bukanlah sekedar bersangkut paut dengan mekanisme
penjabaran keputusan-keputusan politik ke dalam prosedur rutin lewat saluran-
saluran birokrasi, melainkan lebih dari itu, ia menyangkut masalah konflik,
keputusan dan siapa yang memperoleh apa dari suatu kebijakan (Grindle dalam
Wahab, 1990:59).
Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika dikatakan pelaksanaan kebijakan
merupakan aspek yang penting dari keseluruhan proses kebijakan. Ini
menunjukkan adanya keterkaitan yang erat antara perumusan kebijakan dengan
pelaksanaan kebijakan dalam arti walaupun perumusan dilakukan dengan
sempurna namun apabila proses pelaksanaan tidak bekerja sesuai persyaratan,
maka kebijakan yang semula baik akan menjadi jelek begitu pula sebaliknya.
Dalam kaitan ini, seperti dikemukakan oleh Wahab (1990:51), menyatakan bahwa
pelaksanaan kebijakan adalah sesuatu yang penting, bahkan jauh lebih penting
daripada pembuatan kebijaksanaan. Kebijaksanaan hanya sekedar impian atau
rencana bagus yang tersimpan dalam arsip kalau tidak mampu dilaksanakan.
Pada tahap inilah alternatif pemecahan yang telah disepakati tersebut
kemudian dilaksanakan. Pada tahap ini, suatu kebijakan seringkali menemukan
berbagai kendala. Rumusan-rumusan yang telah ditetapkan secara terencana dapat
saja berbeda di lapangan. Hal ini disebabkan berbagai faktor yang sering
mempengaruhi pelaksanaan kebijakan. Kebijakan yang telah melewati tahap-
tahap pemilihan masalah tidak serta merta berhasil dalam pelaksanaan. Dalam
rangka mengupayakan keberhasilan dalam Pelaksanaan kebijakan, maka kendala-
kendala yang dapat menjadi penghambat harus dapat diatasi sedini mungkin.
Tahap Pelaksanaan kebijakan sendiri merupakan Tahap dimana alternatif yang
telah ditetapkan diujudkan dalam tindakan yang nyata, Dilaksanakan oleh unit-
unit administratif dengan memobilisasi sumber daya serta Merupakan rantai yang
menghubungkan formulasi kebijakan dengan hasil (outcome) kebijakan yang
diharapkan
Contoh kasus Pelaksanaan Kebijakan Publik: Kita tahu bahwa proses
kebijakan kurikulum 2013 yang telah dilaksanakan oleh pemerintah pada
pertengahan tahun 2013 lalu yang merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2003, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005,
mempunyai peranan penting dalam pengembangan pendidikan di Indonesia.
Permasalahan yang timbul dan menjadi isu publik tidak mencerminkan akan
filosofi yang terkandung dalam semangat kurikulum 2013 yang secara normatif
sangat mendukung terhadap perubahan paradigma pemikiran kependidikan yang
berpangkal pada perubahan mind set tenaga kependidikan maupun anak didik.
Hasil yang diharapkan dengan kebijakan kurikulum ini, pemerintah, pendidik,
anak didik dan stakeholder dapat bersinergi untuk terciptanya kualitas pendidikan
dan karakter di Indonesia.
Namun dalam implementasinya, Kurikulum 2013 ini menimbulkan beberapa
pro dan kontra. Hal ini diakibatkan kebijakan yang pemerintah buat tidak sesuai
dengan harapan dan kondisi nyata yang ada di lapangan. Para guru yang ditunjuk
sebagai pelaksana kurikulum merasa bingung dengan diterapkannya kurikulum
2013 ini. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan kurikulum sebelumnya
yakni kurikulum KTSP dalam pembelajarannya, karena mereka belum begitu
paham dengan kurikulum 2013 yang sebenarnya, padahal beberapa dari mereka
telah dilatih dalam persiapan dan pelaksanaan Kurikulum 2013. Salah satu
perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya
buku siswa dan buku guru yang telah disediakan oleh pemerintah pusat sebagai
buku wajib sumber belajar di sekolah. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan
dalam kurikulum 2013, yakni pendekatan ilmiah. Pendekatan ini lebih
menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Pendekatan ini
dilaksanakan dengan melibatkan tiga model pembelajaran diantaranya
adalah pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis tugas, dan
pembelajaran berbasis penemuan. Ketiga model ini akan menunjang apa yang
kamu lakukan yang dielu-elukan dalam kurikulum 2013. Dalam pelaksanaannya
pendekatan ilmiah ini menekankan lima aspek penting, yaitu mengamati,
menanya, mencoba, menalar, dan komunikasi. Dalam kurikulum 2013 ini guru
dituntut untuk secara profesional merancang pembelajaran afektif dan bermakna,
mengorganisasikan pembelajaran, memilih pendekatan pembelajaran yang tepat,
menentukan prosedur pembelajaran dan pembentukan kompetensi secara efektif,
serta menetapkan kriteria keberhasilan.
Pelaksanaan kebijakan kurikulum 2013 merupakan hubungan timbal balik
yang cukup signifikan dalam arti implementasi akan berjalan dengan baik bila
rumusan kebijakan yang ditetapkan dalam kurikulum 2013 dapat dipahami atau
dinterpretasikan dan diaplikasikan secara benar. Hal ini menujukan bahwa
rumusan kurikulum 2013 yang ditetapkan dalam suatu kebijakan akan sangat
ditentukan oleh ketepatan model implementasi yang tepat oleh Departemen
Pendidikan Nasional dan Kebudayaan, dinas pendidikan provinsi, Lembaga
Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), dinas pendidikan kabupaten dan kota, UPTD
Pendidikan maupun masyarakat, kelompok, komunitas ataupun individu manusia
yang memiliki hubungan dan kepentingan terhadap suatu organisasi dalam
pelaksanaan pendidikan dalam menginterpretasikan serta mengaplikasikan
kebijakan ini secara nyata kepada pengguna layanan pendidikan atau masyarakat.

Proses Penilaian Kebijakan Publik


Penilaian kebijakan adalah kegiatan untuk menilai kinerja suatu kebijakan
(Subarsono, 2005:119). Kapan suatu penilaian dapat dilakukan, tidak ada batasan
waktu yang pasti kapan suatu kebijakan dapat dinilai. Menurut AG. Subarsono
penilaian kebijakan dilakukan sangat bergantung pada jenis kebijakan publik yang
sedang dilaksanakan. Semakin strategis suatu kebijakan maka diperlukan
tenggang waktu yang lebih panjang, paling tidak 5 tahun semenjak kebijakan
dilaksananakan guna mengetahui hasil dan dampak suatu kebijakan. Sebaliknya
semakin teknis sifat dari suatu kebijakan atau program, maka evaluasi dapat
dilakukan dalam kurun waktu yang relatif lebih cepat semenjak diterapkannya
kebijakan tersebut.
Jones (1984:199) mendefiniskan penilaian kebijakan sebagai suatu aktivitas
yang dirancang untuk menilai hasil-hasil program dan proses pemerintahan yang
bervariasi dalam spesifikasi kriteria, teknik-teknik pengukuran, metode analisis
dan bentuk-bentuk rekomendasinya. Penilaian Kebijakan biasanya ditujukan
untuk menilai sejauh mana keefektifan kebijakan publik guna
dipertanggungjawabkan kepada konstituennya. Sejauh mana tujuan dicapai.
Penilaian diperlukan untuk melihat kesenjangan antara harapan dengan
kenyataan. Tujuan pokok dari penilaian bukanlah untuk menyalah-nyalahkan
melainkan untuk melihat seberapa besar kesenjangan antara pencapaian dan
harapan dari suatu kebijakan publik. Tugas selanjutnya adalah bagaimana
mengurangi atau menutup kesenjangan tersebut. Jadi, penilaian kebijakan
bertujuan mencari kekurangan dan menutup kekurangan. Berbagai pendapat
mengenai evaluasi kebijakan menyiratkan beberapa jenis evaluasi kebijakan
dimana Islamy (2006) berpendapat bahwa evaluasi dapat dilakukan sebelum
kebijakan itu dilaksanakan atau pada saat telah dilaksanankan. Ada beberapa jenis
evaluasi kebijakan yaitu:
1. Penilaian pada Tahap Perencanaan (ex-ante), yaitu evaluasi dilakukan
sebelum ditetapkannya rencana pembangunan dengan tujuan untuk
memilih dan menentukan skala prioritas dari berbagai alternatif dan
kemungkinan cara mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya;
2. Penilaian pada Tahap Pelaksanaan (on-going), yaitu evaluasi dilakukan
pada saat pelaksanaan rencana pembangunan untuk menentukan tingkat
kemajuan pelaksanaan rencana dibandingkan dengan rencana yang telah
ditentukan sebelumnya, dan
3. Penilaian pada Tahap Pasca-Pelaksanaan (ex-post), yaitu evaluasi yang
dilaksanakan setelah pelaksanaan rencana berakhir, yang diarahkan untuk
melihat apakah pencapaian (keluaran/hasil/dampak) program mampu
mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan. Evaluasi ini
digunakan untuk menilai efisiensi (keluaran dan hasil dibandingkan
masukan), efektivitas (hasil dan dampak terhadap sasaran), ataupun
manfaat (dampak terhadap kebutuhan) dari suatu program.
4. Penilaian Administrasi, yaitu penilaian yang lazim dilakukan oleh
pemerintah dengan tujuan menyeimbangkan antara tujuan yang ingin
dicapai dengan pembiayaan
5. Penilaian Judicial, yaitu penilaian kebijakan yang dilakukan di lembaga
peradilan, diamana menekankan pada masalah hokum dalam cara
pemerintah melaksanakan kebijakan dan diskresi serta berkaitan dengan
pemeriksaan konstitusional
6. Penilaian politik, yaitu penilaian kebijakan yang didasarkan pada seberapa
banyak orang yang tertarik pada politik, keberhasialan atau kegagalan
dilihat dari kepengikutan yang berlanjut dalam suasana perubahan politik
Contoh Kasus Penilaian Kebijakan Publik :
Evaluasi Kebijakan Peremajaan Angkutan Kota dalam Upaya Peningkatan
Pelayanan Publik Di Kota Malang
Kebijakan peremajaan angkutan kota ini merupakan salah satu kebijakan
yang dibuat oleh pemerintah untuk mengatasi keluhan masyarakat yang
menginginkan adanya peningkatan pelayanan publik dalam bidang transportasi
khususnya angkutan kota. Kebijakan peremajaan angkutan kota ini awalnya
dibuat Peraturan Daerah no 9 tahun 2006, tetapi karena banyak protes dan
ketidaksetujuan dari para pemilik angkutan kota yang menganggap kebijakan itu
tidak sesuai apabila diterapkan dimasa sekarang ini. Akhirnya Peraturan daerah
pun direvisi menjadi Peraturan Daerah no 5 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan
angkutan orang di jalan dengan kendaraan umum.
Berdasarkan kriteria-kriteria yang diungkapkan oleh Dunn (2000, h.610) evaluasi
kebijakan peremajaan angkutan kota dapat dilihat berdasarkan kriteria sebagai
berikut.
a. Efektivitas kebijakan peremajaan angkutan kota
Kebijakan peremajaan angkutan kota ini dilihat dari pembuat kebijakan
dan masyarakat pengguna angkutan kota yang merasakan kebijakan
tersebut bisa dikatakan telah sesuai dengan Perda no 5 tahun 2011.
Persyaratan yang dilakukan pun tidak terlalu rumit yaitu dengan
memenuhi syarat administrasi dengan ketentuan surat-surat yang
dibutuhkan seperti BPKB, STNK, surat tanda uji kendaraan, ijin trayek,
surat ijin usaha angkutan serta harus memenuhi syarat fisik. Dari hasil
peremajaan yang dilakukan pada kenyataannya masih belum terlalu
banyak pemilik angkutan kota yang meremajakan angkutan kotanya
dikarenakan terhambat oleh harga biaya penggantian angkutan baru yang
dirasa mahal. Dari 2189 hanya 447 unit angkutan yang diremajakan
padahal kebijakan ini sudah berjalan selama 3 tahun dan kebijakan ini
dirasa tidak efektif.
b. Efisiensi Kebijakan Peremajaan Angkutan Kota
Persyaratan yang harus dipenuhi dalam penggantian armada angkutan kota
dilakukan oleh para pemilik angkutan kota yang ingin dan bersedia
meremajakan armada angkutannya dengan memenuhi ketentuan yaitu
surat-surat yang ada harus lengkap serta memenuhi syarat fisik dan
administrasi. Prosedurnya yang harus dilakukannya pun tidak rumit.
Namun kebijakan peremajaan dirasa kurang efisien oleh beberapa pemilik
angkutan kota, karena dengan adanya penggantian angkutan kota yang
baru pun tidak menjamin penghasilan mereka akan bertambah. Dengan
pendapatan mereka yang tidak pasti setiap harinya kebijakan ini dirasa
kurang efisien.

c. Kecukupan Kebijakan Peremajaan Angkutan Kota


Kebijakan peremajaan angkutan kota ini dilakukan dengan bertujuan untuk
memecahkan masalah di bidang kualitas transportasi yang semakin
menurun kualitasnya. Dengan adanya kebijakan peremajaan angkutan kota
ini dimaksudkan sebagai pembenahan sistem transportasi angkutan kota
dengan penggantian armada yang sudah lama menjadi armada yang baru
dengan maksud sebagai upaya peningkatan pelayanan publik. Kriteria
kecukupan dalam kebijakan peremajaan angkutan kota ini telah sedikit
tercapai, walaupun belum semua bisa diremajakan angkutan kotanya,
tetapi ini sudah memenuhi kriteria tersebut karena dengan tujuan yang
dapat tercapai.

d. Pemerataan Kebijakan Peremajaan Angkutan Kota


Dalam Kebijakan peremajaan angkutan kota ini yang berperan adalah
pemerintah dibantu oleh beberapa pihak dalam pelaksanaannya. Beberapa
pihak terlibat dalam kebijakan peremajaan angkutan kota ini seperti Dinas
Perhubungan, Polresta atau Samsat, Dispenda, DPRD, para pemilik
angkutan kota dan masyarakat pengguna jasa angkutan kota. Dari sini
dapat dilihat, bahwa kriteria pemerataan dalam kebijakan ini dapat tercapai
dengan masing-masing tanggung jawab kepada pihak-pihak yang terlibat.
Kebijakan peremajaan angkutan kota ini merupakan musyawarah bersama
dan persetujuan dari berbagai pihak, bukan kebijakan yang hanya
mementingkan satu golongan masyarakat saja, hal ini terlihat dari
banyaknya pihak dan instansi yang dilibatkan.

e. Responsivitas Kebijakan Peremajaan Angkutan Kota


Kebijakan peremajaan angkutan kota ini mendapat respon yang baik dari
masyarakat dikarenakan dengan adanya kebijakan peremajaan angkutan
kota ini membawa berbagai dampak positif bagi pelayanan publik karena
dapat terciptanya keamanan, kenyamanan dan keselamatan. Ada sebagian
dari pemilik angkutan kota yang tidak merespon baik adanya kebijakan
tersebut. Karena hal itu bisa berdampak negatif bagi mereka yaitu masalah
ekonomi yang dihadapi oleh pemilik angkutan kota karena harus
menyiapkan biaya yang cukup besar untuk penggantian angkutan yang
baru dan dampak negatif lainnya adalah dapat memicu kemacetan di jalan
raya dikarenakan volume kendaraan yang semakin bertambah.

f. Ketepatan Kebijakan Peremajaan Angkutan Kota


Kebijakan peremajaan angkutan kota mengacu pada Peraturan Daerah no 5
Tahun 2011 tentang penyelenggaraan angkutan orang di jalan dengan
kendaraan umum di Kota Malang ini sudah melalui proses yang matang
dan dalam pembahasannya sudah melibatkan semua unsur yang terkait
baik dari Dinas Perhubungan, pemilik angkutan kota, serta wakil dari
rakyat yaitu DPRD. Jadi, peremajaan dilakukan apabila para pemilik
angkutan kota bersedia mengganti armada angkutannya yang lama dengan
yang baru atau armada kendaraan yang ada tidak memenuhi syarat teknis
dan layak jalan pengujian kendaraan bermotor. Ketepatan dalam kebijakan
ini sudah bisa dilihat dari tujuan yang ada sudah bermanfaat bagi
masyarakat. Karena dengan kebijakan peremajaan angkutan kota ini secara
otomatis menjadi suatu perbaikan bagi kualitas transportasi umum di Kota
Malang ini khususnya untuk angkutan kota.
Hasil dari kebijakan peremajaan angkutan kota dilihat dari kriteria evaluasi
kebijakan sendiri bahwa kebijakan peremajaan angkutan kota ini masih belum
efektif dan efisien, ini terlihat dari kurangnya respon dari para pemilik angkutan
kota untuk meremajakan angkutan kotanya. Dari data yang ada hanya sedikit
angkutan kota yang diremajakan dibandingkan dengan jumlah keseluruhan
angkutan kota padahal kebijakan peremajaan angkutan kota ini dibuat sebagai
upaya untuk peningkatan pelayanan transportasi umum di Kota Malang.
Kebijakan peremajaan angkutan kota di Kota Malang membawa dampak positif
terhadap pelayanan publik karena dapat terciptanya keamanan, kenyamanan dan
keselamatan dengan pergantian angkutan yang baru dan dukungan dari
masyarakat merupakan faktor pendukung yang cukup besar dalam kebijakan ini.
Sedangkan faktor penghambat adalah dari pemilik angkutan kota yang harus
mengeluarkan biaya untuk penggantian angkutan yang baru dan dampak negatif
dari kebijakan peremajaan angkutan kota ini yaitu dapat memicu kemacetan di
jalan raya dikarenakan volume kendaraan yang semakin bertambah.