Anda di halaman 1dari 9

Petunjuk Praktikum:

Regiones Abdominopelvis pars III


(Pelvis et Perineum Masculinum)
Disusun oleh: Obed Paundralingga

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang

__________________________________________________________________________________

F. Scrotum et Funiculus spermaticus


Funiculus spermaticus dan scrotum dibungkus oleh fascia yang berasal dan merupakan kelanjutan dari
dinding abdomen. Untuk mengamati funiculus spermaticus, carilah preparat dengan scrotum yang
sudah dibuka

1. Amatilah Scrotum (S2.187, Gb 7.47)


a. Tunica dartos. (S2.187, Gb 7.47) Merupakan lapisan tipis tanpa lemak yang
sinambung dengan fascia Scarpa dan membentuk septum scroti. Lapisan ini
mengandung banyak serabut otot polos yang oleh karenanya kulit scrotum tampak
berkerut-kerut
b. Septum scroti. (S2.187, Gb 7.47) Merupakan sekat yang membagi scrotum menjadi
kompartemen kiri dan kanan
c. Raphe scroti (S2.187, Gb 7.47)
2. Temukanlah funiculus spermaticus (S2.191, Gb 7.55 dan S2.192, Gb 7.56) saat struktur ini
keluar dari canalis inguinalis melalui anulus inguinalis superficialis. Identifikasilah komponen-
komponen pembungkusnya (seringkali sulit untuk dipisahkan satu dengan yang lain)
a. Fascia spermatica externa. Lapisan pembungkus tipis ini sinambung dengan
aponeurosis M. Obliquus abdominis externus
b. M. Cremaster (S2.187, Gb 7.47 dan S2.189, Gb7.51) & fascia cremasterica. Lapisan
pembungkus tengah ini sinambung dengan M. Obliquus abdominis internus
c. Fascia spermatica interna. Lapisan pembungkus paling dalam ini merupakan
kelanjutan dari fascia transversalis
Amatilah struktur-struktur pembentuk funiculus spermaticus
a. Ductus deferens (S2.189, Gb 7.50 dan S2.192,Gb 7.56) (pars funicularis & pars
scrotalis)
b. A. Testicularis (S2.192,Gb 7.56 dan S2.193,Gb 7.59) yang dilapisi oleh serabut-
serabut saraf simpatis
c. Plexus pampiniformis (S2.192,Gb 7.56 dan S2.193,Gb 7.59)
d. R. Genitalis N. Genitofemoralis yang memberikan inervasi untuk M. cremaster
3. Testis (S2.183, Gb 7.48). Amatilah
a. Tunica Vaginalis testis. (S2.187, Gb 7.47 dan S2.189, Gb7.51) Hampir seluruh
permukaan testis ditutupi oleh tunica vaginalis yang merupakan kantong serosa yang

1
berasal dari peritoneum parietalis. Tunica vaginalis memiliki lamina parietalis (berfusi
dengan fascia spermatica interna) dan lamina visceralis yang melekat ke permukaan
anterior, medial, dan lateral dari testis dan epididymis). Ruangan dalam tunica
vaginalis normalnya berisi cairan dengan jumlah yang sangat sedikit.
b. Polus superior et inferior, margo anterior et posterior, dan facies lateralis et medialis.
Pada preparat dengan testis yang sudah dibuka, amatilah tunica albuginea yang
merupakan kapsul fibrosa dari testis. Septula testis membagi bagian internal dari
testis menjadi lobuli testis yang berisikan tubulus seminiferus
c. Scrotal ligament, sisa dari gubernaculum testis, merupakan jaringan ikat yang
melekatkan polus inferior testis ke permukaan internal scrotum
4. Epididymis(S2.189, Gb 7.50). Organ yang merupakan gelungan dari ductus epididymidis ini
dipisahkan dari testis oleh celah yang disebut sinus epididymidis. Epididymis melekat di margo
posterior dari testis dan memiliki bagian-bagian berikut:
a. Caput epididymidis(S2.189, Gb 7.50) (head): bagian superior yang menerima ductuli
efferentes testis
b. Corpus epididymidis(S2.189, Gb 7.50) (body): bagian tengah yang menyempit
c. Cauda epididymidis(S2.189, Gb 7.50) (tail): bagian inferior yang membelok ke arah
superior untuk menjadi ductus deferens

G. Perineum Masculinum et Penis


1. Pelajarilah kembali regio perinealis (S2.197, Gb 7.64). Regio ini berbentuk seperti
wajik/diamond dengan batas-batas:
a. Anterior: Symphisis pubica
b. Anterolateral: Ramus ischiopubica
c. Posterolateral: Ligamentum sacrotuberosum
d. Posterior: coccyx
2. Pelajari kembali dari bahwa regio perinealis dapat dibagi menjadi dua trigonum/regiones
a. Trigonum/regio urogenitalis (S2.199, Gb 7.66), subdivisi anterior berbentuk segitiga
yang dibentuk dari tiga titik, symphysis pubica dan dua tuber ischiadica.
b. Trigonum analis (S2.199, Gb 7.66): subdivisi posterior berbentuk segitiga yang
dibentuk dari tiga titik yaitu dua tuber ischiadica dan ujung coccyx.
3. Fascia superficialis pada trigonum urogenitalis merupakan kelanjutan dari fascia superficialis
abdomen
a. Tela subcutanea perinei merupakan kelanjutan dari fascia Camper, merupakan
lapisan adiposa. Selain sinambung dengan lapisan adiposa abdomen, tela subcutanea
ini juga sinambung dengan tela subcutanea regio femoris. Lapisan adiposa ini tidak
didapatkan di scrotum dan penis
b. Stratum membranosum (fascia Colles) merupakan kelanjutan dari fascia Scarpa,
terletak profundus dari tela subcutanea. Lapisan ini sinambung dengan tela
subcutanea penis (fascia dartos) dan tunica dartos scroti. Stratum ini melekat pada
fascia profunda regio femoris (fascia lata) dan ramus ischiopubis.
i. Saccus subcutaneus perinei merupakan ruangan potensial yang terletak
diantara stratum membranosum (fascia Colles) dengan fascia profunda. Pada
keadaan trauma, ekstravasasi cairan abnormal (urine, darah) dapat menyebar
di ruangan ini sampai ke dinding anterior abdomen, penis/clitoris,

2
scrotum/labia. Secara klinis hematoma disini disebut sebagai butterfly
hematoma

4. Dalam posisi anatomis, penis dalam keadaan ereksi, sehingga permukaan penis yang dekat
dengan abdomen disebut sebagai dorsum penis (S2.182, Gb 7.40) dan sisi corpus spongiosum
disebut sebagai facies urethralis.
5. Identifikasilah bagian bagian dari penis
a. Radix penis. merupakan bagian penis yang menepel ke ramus ischio pubic dan
membrana perinei
i. Bulbus penis (S2.186, Gb 7.44 dan Gb 7.45)
ii. Crus penis (S2.186, Gb 7.44 dan Gb 7.45)
b. Corpus penis (S2.182, Gb 7.40) . merupakan bagian penis yang menggantung.
c. Glans penis. (S2.186, Gb 7.44 dan Gb 7.45 dan S2.187, Gb 7.46) Merupakan
pembesaran di distal dari corpus spongiosum yang menutupi ujung corpora cavernosa
i. Corona glandis (S2.187, Gb 7.46)
ii. Collum glandis
d. Preputium penis (S2.187, Gb 7.46)
i. Frenulum preputii(S2.187, Gb 7.46)
e. Ostium uretrae externum (S2.186, Gb 7.44)
6. Pelajarilah potongan melintang dari penis untuk memahami lapisan-lapisan pembungkus
penis
a. Tela subcutanea penis (superficial penile fascia; dartos layer). Struktur ini sinambung
dengan fasciae Scarpa, Colles, dan dartos; fascia ini tidak memiliki jaringan lemak.
Vasa dorsalis penis superficialis berjalan didalam fascia ini.
i. Lig. Fundiforme penis: struktur ini menggantung penis dari sisi dorsal. Struktur
ini merupakan kelanjutan dari linea alba yang kemudian memecah untuk
melingkari penis dan berakhir di facies urethralis
b. Fascia penis (bucks fascia) (S2.192, Gb 7.57) struktur yang relatif tebal ini sinambung
dengan fascia spermatica externa pada scrotum.

3
i. Lig. Suspensorium penis merupakan stuktur khusus fascia penis yang terletak
lebih profundus dari lig. Fundiforme penis yang menggantung penis dengan
symphisis pubis
struktur struktur yang dibungkus oleh fascia penis adalah
i. Corpora capernosa penis (sepasang). Jaringan erektil ini terletak di sebelah
dorsal dan dilapisi oleh tunica albuginea yang tebal
ii. Corpus spongiosum penis. Jaringan erektil ini terletak di ventral dan dilapisi
oleh tunica albuginea yang lebih tipis. Urethra masculina pars spongiosa
berjalan didalamnya
iii. V. dorsalis penis profunda (tunggal). Sebagian besar darah dari penis
mengalir keluar melalui vena ini menuju ke plexus venosus prostacicus
iv. A. dorsalis penis (sepasang). Arteri yang merupakan cabang terminal A.
pudenda interna ini terletak sebelah lateral dari v. dorsalis penis profunda
v. N. dorsalis penis (sepasang). Nervus yang merupakan cabang N. pudendus
ini terletak disebelah lateral A. dorsalis penis. Nervus inilah yang akan diblok
pada tindakan circumcisi.
7. Spatium superficiale perinei (S2.201,Gb7.68) (superficial perineal space/pouch). Jika anda
melihat pada skema potongan coronal pelvis dan perineum, spatium ini merupakan regio di
trigonum urogenital di antara stratum membranosum perinei dan membrana perinei.
Temukanlah struktur stuktur pada spatium ini:
a. M. Ischiocavernosus (S2.199, Gb 7.66). Otot ini berorigo di tuber ischiadicum dan
ramus ichiopubis untuk melapisi crus penis (corpora cavernosa yang menempel ke
ramus ischiopubis). Otot ini dapat memberikan tekanan pada crura penis dan
kemungkinan membantu dalam mempertahankan ereksi
b. M. Bulbospongiosus(S2.199, Gb 7.66) . Otot ini melapisi bulbus penis. Kontraksi otot
ini dapat membantu mengeluarkan tetes-tetes terakhir urine saat miksi.
c. M. Transversus perinei superficialis (tidak ada di preparat)
Ketiga otot di atas dibungkus oleh fascia profunda yang disebut fascia perinei
8. Spatium profundum perinei (S2.201,Gb7.68) (deep perineal space/pouch) masculinum.
Pelajarilah skema dari ruangan ini dan perhatikanlah di atlas bahwa didalam ruangan ini
terdapat:
a. M. transversus perinei profundus
b. M. sphincter urethrae externus . Otot melingkari urethra pars membranosa dan
berfungsi sebagai sfingter volunter ketika miksi
c. Membrana perinei
d. Glandula bulbourethralis
9. Pelajarilah urethra masculina (S2.178, Gb 7.35) yang memiliki beberapa bagian
a. Pars intramuralis. (S2.178, Gb 7.35) Bagian ini berada di dinding vesica urinaria
b. Pars prostatica. (S2.178, Gb 7.35) Bagian ini melintasi prostata. Panjangnya 3cm. Pada
dinding posterior bagian ini, identifikasilah :
i. Crista urethralis, suatu penonjolan memanjang
ii. Colliculus seminalis (S2.177, Gb 7.32), merupakan pelebaran dari crista
urethralis
iii. Sinus prostaticus, merupakan ceruk di sebelah lateral coliculus seminalis
iv. Utriculus prostaticus, lubang buntu pada pertengahan colliculus seminalis

4
v. Ostium untuk ductus ejaculatorius, terletak disebelah lateral utriculus
prostaticus
c. Pars membranacea. (S2.178, Gb 7.35) Bagian ini terletak pada spatium profundum
perinei (deep perineal space), panjangnya 1cm, merupakan bagian yang paling tipis,
paling sempit, dan sulit mengembang
d. Pars spongiosa. (S2.178, Gb 7.35) Bagian ini terletak pada corpus spongiosum dan
berakhir pada ostium urethrea externum
i. Fossa navicularis. (S2.178, Gb 7.35) Pelebaran dari urethra pars spongiosa di
dalam glans penis

H. Pelvis masculinum
1. Telusuri perjalanan peritoneum urogenitale masculinum yang :
a. Melapisi aspek internal dinding anterior abdomen di superior pubis, kemudian
b. Melapisi facies superior corpus vesicae urinariae, kemudian
c. Melapisi sekitar 1 cm dari facies posterior (fundus) vesicae bagian superior, kemudian
d. Melapisi bagian superior dari vesicula seminalis, kemudian
e. Menurun melapisi celah antara vesica urinaria dan rectum untuk membentuk
excavatio rectovesicalis (S2.221,Gb 7.96), kemudian
f. Membungkus bagian anterior dan lateral dari rectum, dan membentuk fossa
pararectalis, kemudian
g. Berakhir sebagai mesocolon sigmoideum
2. Pelajarilah vesica urinaria (S2.177, Gb 7.32). Bentuk dan ukuran vesica urinaria bervariasi
tergantung dari derajat distensinya, tetapi kapasitas rata-ratanya berkisar antara 500-550 cc,
a. identifikasilah bagian-bagian urinaria :
i. Apex vesicae. (S2.177, Gb 7.32) Bagian runcing ini mengarah ke dinding
anterior abdomen dan berlanjut sebagai ligamentum umbicale mediana
ii. Corpus vesicae. (S2.177, Gb 7.32) Terletak diantara apex dan fundus
iii. Fundus vesicae. (S2.177, Gb 7.32) Merupakan bagian inferior dari dinding
posterior, disebut juga sebagai basis vesicae. Pada laki-laki fundus
bersinggungan dengan ductus deferens, glandula vesiculosa (vesicula
seminalis), dan rectum.
iv. Cervix vesicae. Merupakan tempat urethra meninggalkan vesica urinaria.
Dindingnya menebal membentuk sfingter urethra internum. Merupakan otot
yang involunter
b. Identifikasilah permukaan-permukaan vesica urinaria
i. Permukaan superior
ii. Permukaan posterior
iii. Permukaan inferolateral
c. Perhatikanlah dinding vesica urinaria dan amatilah ketebalannya, dinding ini tersusun
atas otot polos yang disebut sebagai m. detrusor vesicae
d. Perhatikanlah tunica serosa yang pada keadaan kosong memiliki lipatan-lipatan
ireguler.
e. Carilah Trigonum vesicae (S2.177, Gb 7.32) [Lieutaud] yang merupakan bagian halus
berbentuk segitiga dibagian fundus vesicae yang dibentuk oleh :

5
i. Dua Ostia ureteris (S2.177, Gb 7.32) yang dihubungkan satu sama lain oleh
plica interureterica (S2.177, Gb 7.32)
ii. Ostium urethrae internum (S2.177, Gb 7.32) (terletak pada cervix vesicae)
f. Uvula vesicae (S2.177, Gb 7.32) terletak di sebelah posterior dari orificium urethra
internum dan dibentuk oleh lobus medius prostata
g. Perhatikanlah hubungan vesica urinaria dengan simfisis pubis, os. Pubis, permukaan
superior prostata, dan ampulla recti.
3. Ductus deferens. (S2.192. Gb 7.57) Saluran yang berdinding tebal dan muscular merupakan
kelanjutan dari epididimis yang dapat dibagi menjadi 4 bagian :
a. Pars scrotalis, sudah dipelajari dibagian sebelumnya
b. Pars funicularis, sudah dipelajari dibagian sebelumnya
c. Pars inguinalis, sudah dipelajari dibagian sebelumnya
d. Pars pelvica, dari anulus inguinalis profundus, struktur ini berjalan melintasi vasa
epigastrica inferior dan memasuki pelvis vera, berlanjut ke posteromedial melihat
vasa obturatoria dan ureter untuk mencapai permukaan posterior vesica urinaria.
Ductus kemudian melebar membentuk ampulla ductus deferentis (S2.178, Gb 7.34)
yang kemudian saling mendekat dan masing-masingnya bergabung dengan saluran
dari glandula vesiculosa (vesicula seminalis) untuk membentuk ductus ejaculatorius
(S2.177, Gb 7.32 dan S2.183, Gb 7.41).

4. Glandula vesiculosa (vesicula seminalis) (S2.183, Gb 7.41 dan S2.178, Gb 7.34) merupakan 2
tabung yang berkantong-kantong yang terletak di basis vesica urinaria berukuran panjang 5cm
dan lebar 2cm dengan panjang ductus mencapai 12cm.
5. Prostata. (S2.183, Gb 7.41 dan S2.178, Gb 7.34) Merupakan organ yang dibentuk dari lobuli
kelenjar yang dikelilingi oleh stroma fibromuskular. Cobalah untuk mempalpasi prostata untuk
mengkonfirmasi kekenyalan struktur ini. Prostata kira-kira berukuran sebesar kenari dan
secara kasar berbentuk seperti contong terbalik. Prostata memiliki basis (S2.190, Gb 7.52)
yang lebar yang terletak dekat cervix vesicae dan apex prostata yang mengarah ke inferior
dan terletak diatas diafragma urogenitalis. Pelajarilah skema pembagian prostata menjadi 5
lobi :
a. Lobus anterior, terletak di anterior dari uretra dan tidak memilik jaringan kelenjar

6
b. Lobus medius, berbentuk seperti baji (wedge) diantara uretra dan ductus
ejaculatorius. Permukaan superiornya membuat tonjolan yang disebu sebagai uvula
vesicae; kaya akan kelenjar
c. Lobus posterior terletak di posterior dari uretra dan inferior dari ductus ejaculatorius
d. Lobi prostate dexter et sinister, terletak di sebelah lateral uretra dan mengandung
banyak kelenjar

Pada potongan sagittal prostata cobalah untuk menemukan ductus ejaculatorius (S2.183, Gb
7.41) yang akan bermuara di colliculus seminalis
6. Rectum. Dimulai dari level vertebrae S3 dan mengikuti kelengkungan sakrum dan berakhir
sekitar 2-3 cm di anterior dari ujung coccyx
a. Identifikasikan ampulla recti (S2.237. Gb. 7.116) (bagian bawah yang melebar dari
rectum). Pada ampulla rectum menekuk ke posterior (flexura anorectalis) (S2.198.
Gb 7.65) dan berubah nama menjadi canalis analis.
b. Amatilah permukaan dalam rectum. Perhatikan bahwa mukosanya halus tetapi
terdapat plicae transversae recti (S2.180. Gb 7.37) (sering kali tidak dapat
diidentifikasi).
c. Perhatikanlah organ yang berada di sekitar rectum :
i. Anterior : prostata, glandula vesiculosa, ampulla ductus deferentis, permukaan
posterior vesica urinaria, ureter terminal
ii. Lateral : Spina ischiadica
iii. Posterior : Permukaan anterior sacrum dan coccyx, lig. Coccygeum
d. Cobalah untuk meletakan jari tengah anda melewati canalis analis cadaver samapi
ujung jari anda berada di dalam ampulla recti dan periksalah struktur-struktur yang
dapat anda jangkau dengan jari saat melakukan DRE (Digital Rectal Examination /
Rectal touche).
7. Canalis analis (S2.92. Gb 6.38). Perhatikanlah panjang struktur ini sekitar 2,5-3,5 cm. Canalis
analis meninggalkan cavum pelvis untuk berada di trigonum analis perinei
a. Collumnae anales. (S2.222. Gb 7.98) Lima sampai sepuluh tonjolan longitudinal pada
mukosa bagian proksimal canalis analis yang berisikan cabang-cabang vasa rectalis
superior

7
b. Valvulae anales. (S2.222. Gb 7.98) Lipatan semilunar yang menghubungkan bagian
distal coloumna anales. Ruangan yang dibentuk oleh valvulae anales disebut sebagai
anales
c. Linea pectinata. (S2.222. Gb 7.98) Merupakan garis ireguler yang dibentuk dari
keseluruhan valvulae anales
d. M. sphincter ani interna et externa. (S2.222. Gb 7.98) Kedua otot ini dipisahkan oleh
otot polos longitudinal dinding canalis analis.
8. Pelajarilah dinding cavitas pelvis pada preparat hemisectio pelvis yang telah di-eviscerasi
(diambil viscera-nya)
a. Canalis obturatorius (S2.214. Gb 7.87). Merupakan celah yang terdapat pada
permukaan internal sebelah superior dari m. obturator internus (S2.214. Gb 7.87)
yang dilewati oleh A, V, dan N obturatorius
b. Arcus tendineus fasciae pelvis. Struktur yang terletak di inferior dari canalis
obturatorius ini merupakan penebalan dari fascia m. obturator internus yang
melengkung antara os pubis dan spina ischiadica. Arcus ini merupakan batas
superolateral dari m. levator ani. Di superior dari arcus ini, M. obturator internus
membentuk dinding lateral cavitas pelvis, sedangkan di sebelah inferior dari arcus ini,
M. obturator internus membentuk dinding lateral dari fossa ischioanalis.
c. Diaphragma pelvis. Otot berbentuk corong ini membentuk dasar dari cavitas pelvis.
Organ-organ pelvis dijepit di tengah-tengah diaphragma pelvis. Struktur ini dibentuk
oleh dua pasang otot yang berfusi di bidang midsagittal.
i. M. levator ani: (S2.217. Gb 7.91) (S2.214. Gb.7.87) tersusun atas tiga otot
sinambung yang dinamakan sesuai dengan perlekatannya. Levator ani
berperan dalam menggantung viscera pelvis dan menahan peningkatan
tekanan intraabdominal.
1. M. puborectalis. Terletak paling medial. Otot ini membentuk tepian
hiatus urogenitalis di sebelah anterior. Di sebelah lebih posterior otot
ini juga membentuk puborectal sling, yang mengait rectum ke arah
anterior sehingga menekuk membentuk sudut yang disebut flexura
anorectalis. Saat defekasi, otot ini mengalami relaksasi sehingga
tekukan flexura menghilang dan pengeluaran feces dapat terfasilitasi.
2. M. Pubococcygeus (S2.214. Gb.7.87) Perlekatan anterior terletak di
corpus pubis sedangkan perlekatan posteriornya di coccyx dan corpus
anococcygeum.
3. M. iliococcygeus. (S2.214. Gb.7.87) Terletak paling lateral, berorigo
pada arcus tendineus dan berinsertio pada coccyx dan corpus
anococcygeum.
ii. M. coccygeus (ischiococcygeus). (S2.214. Gb.7.87) Berorigo dari spina
ischiadica dan berinsertio ke coccyx
d. Di posterior dari diaphragma pelvis, apertura pelvis inferior ditutup oleh M. Piriformis
(S2.196. Gb.7.63) atau lihat (S1.306 Gb.4.123c) yang berorigo dari sacrum untuk
berinsersi ke femur. Celah yang dibentuk oleh M. piriformis dan diaphragma pelvis
merupakan jalan keluar utama untuk nervus dan vasa dari pelvis menuju ke regiones
glutea et perinei.

8
e. Fossa ischioanalis (ischiorectalis) merupakan ruangan di sisi lateral anus yang berisi
jaringan adiposa.
i. Dinding lateral: M. obturator internus yang ditutupi fascia-nya. Pada dinding
lateral berjalan canalis pudendalis Alcock (S2.199. Gb.7.66) yang berisi N.
pudendus dan AV pudenda interna
ii. Dinding medial: sisi inferior M. levator ani
iii. Superior: pertemuan dinding medial dan dinding lateral
iv. Inferior: lemak subkutan dan kulit perineum
v. Anterior: recessus anterior fossae ischioanalis
vi. Posterior: ligamentum sacrotuberosum dan m. gluteus maximus
f. Temukanlah vasa yang terdapat pada pelvis
i. Identifikasilah A. iliaca communis (S2.232. Gb 7.110-7.111) dan telusuri
sampai bifurcatio-nya menjadi A. iliaca interna et externa
ii. Identifikasilah A. iliaca interna (S2.232. Gb 7.110-7.111) yang mempunyai dua
divisi, divisi anterior dan divisi posterior
iii. Dari banyak cabang divisi anterior, temukanlah
1. A. Umbilicalis (S2.232. Gb 7.110-7.111) yang berlanjut sebagai
ligamentum umbilicale medialis yang telah anda pelajari sebelumnya
2. A. Obturatoria (S2.232. Gb 7.110-7.111) yang memasuki canalis
obturatorius
3. A. pudenda interna, (S2.232. Gb 7.110-7.111) yang keluar dari
cavitas pelvis melalui foramen ischiadicum majus di inferior m.
piriformis. Arteri ini dapat anda lihat lagi di regio glutea sebelum
memasuki fossa ischioanalis dalam canalis pudendalis
g. Pelajarilah saraf-saraf pelvis. Terdapat plexus somatic (plexus sacralis et coccygealis)
dan plexus visceralis (plexus hypogastricus inferior) pada pelvis.
i. Identifikasilah plexus sacralis (S2.231. Gb.7.109) yang terletak di permukaan
anterior m. piriformis. Plexus ini dibentuk oleh rami anteriores nervi spinales
L4-S4. Dari plexus ini dipercabangkan N. ischiadicus (L4-S3, meninggalkan
pelvis melalui foramen ishiadicum majus), N. Pudendus (S2-4, nantinya
berjalan di canalis pudendalis setelah meninggalkan pelvis), N. gluteus
superior, N. gluteus inferior, dan N. obturatorius (berjalan menuju canalis
obturatorius)

--gratias tibi HWIG--