Anda di halaman 1dari 8

Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2016 (SENTIKA 2016) ISSN: 2089-9815

Yogyakarta, 18-19 Maret 2016

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BANTUAN DANA RUTILAHU


DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELECTRE
Wildan Fauzi1
1
Program Studi Informatika, Fakultas MIPA, Universitas Jenderal Achmad Yani
Jl. Terusan Jenderal Sudirman, Cimahi, Jawa Barat 40285
Telp. (022) 6652069
E-mail: wildansite.1990@gmail.com

ABSTRAK
Kelurahan Cigugur Tengah merupakan salah satu Pemerintahan yang berada di Kecamatan Cimahi Tengah,
mendapatkan beberapa bantuan dari Pemerintah, diantaranya bantuan dana Rutilahu. Dalam proses
pembangunan sistem pendukung keputusan ini menggunakan metode Electre. Metode Electre merupakan salah
satu metode pengambilan keputusan multi kriteria berdasarkan pada konsep outranking dengan menggunakan
perbandingan berpasangan dari alternatif-alternatif berdasarkan setiap kriteria yang sesuai. Metode ini dipilih
karena mampu menyelesaikan rekomendasi dari kasus multi kriteria dalam penentuan calon penerima bantuan
dana Rutilahu. Berdasarkan hasil pengujian, sistem yang dibangun dapat membantu pengambilan keputusan
pada bagian BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) program bantuan dana Rutilahu dengan cepat dan tepat
dengan hasil yang objektif dan tidak memihak pada salah satu penduduk.

Kata Kunci: Rutilahu, Sistem Pendukung Keputusan, Electre.

1. PENDAHULUAN dapat membantu dalam menentukan siapa yang


1.1 Latar Belakang berhak didahulukan dalam mendapatkan bantuan
Rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar dana Rutilahu.
manusia menjadi kebutuhan yang harus diperhatikan Salah satu metode yang digunakan untuk sistem
karena menyangkut kesejahteraan masyarakat. pendukung keputusan adalah metode Electre
Kebutuhan akan rumah layak huni semakin (Elimination and Choice Translation Reality).
meningkat, namun tidak seiring dengan Metode Electre merupakan salah satu metode
meningkatnya taraf hidup masyarakat ekonomi pengambilan keputusan multi kriteria berdasarkan
lemah yang mengharuskan hidup dalam rumah yang pada konsep outranking dengan menggunakan
tidak layak huni. perbandingan berpasangan dari alternatif-alternatif
Bantuan dana Rutilahu (Rumah Tidak Layak berdasarkan setiap kriteria yang sesuai. Metode ini
Huni) merupakan program pemerintah yang berupa digunakan karena mampu menyelesaikan
bantuan dana untuk perbaikan rumah yang tidak rekomendasi dari kasus multi kriteria dalam
layak huni. Bantuan dana Rutilahu ini harus dapat penentuan calon penerima bantuan dana rutilahu.
tepat sasaran kepada penduduk tidak mampu yang Penelitian sebelumnya penggunaan metode
memenuhi kriteria-kriteria sebagai syarat penerima Electre digunakan untuk pemilihan produksi sepatu
bantuan dana Rutilahu, sehingga penduduk tidak dan sandal (Akshaeri, 2013), untuk pemilihan
mampu penerima bantuan dana Rutilahu dapat sepeda motor honda (Agung, 2008), untuk
menerima bantuan tersebut. Dalam pelaksanaannya, pemilihan tanaman toga (Sanda, 2008), dan untuk
penduduk tidak mampu yang berhak menerima menentukan kenaikan pangkat dan gaji berkala
bantuan rumah tidak layak huni ditentukan oleh (Sutrisno, 2013)..
BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat).
Untuk menentukan layak tidaknya, penduduk 1.2 Rumusan Masalah
harus memenuhi kriteria yang telah ditentukan yaitu Adanya kesulitan pengolahan data penduduk
dari kondisi rumah (bangunan) yang meliputi calon penerima bantuan dana Rutilahu dalam proses
kondisi luas ruangan, kondisi jenis lantai, kondisi penyeleksiannya karena membutuhkan ketelitian,
jenis atap, kondisi jenis dinding, kondisi sumber sehingga memungkinkan terjadinya rangkap data
penerangan (listrik), kondisi pembuangan akhir juga terjadinya kesalahan dalam penentuan
(wc), dan kondisi sumber air minum. Akan tetapi penduduk yang harus diutamakan, sehingga
pihak penentuan dalam hal ini yaitu pihak BKM diperlukan suatu sistem terkomputerisasi yang dapat
masih mengalami kesulitan seperti dalam merekomendasikan siapa yang berhak didahulukan
pengolahan datanya membutuhkan ketelitian, dalam mendapatkan bantuan dana Rutilahu.
sehingga memungkinkan terjadinya rangkap data
juga terjadinya kesalahan dalam penentuan
penduduk yang harus diutamakan, sehingga
diperlukan suatu sistem pendukung keputusan yang

432
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2016 (SENTIKA 2016) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 18-19 Maret 2016

1.3 Tujuan b. Pembobotan matriks


Tujuan dari penelitian ini yaitu membuat sistem Pembobotan matriks ternormalisasi
yang memberikan rekomendasi ataupun usulan merupakan hasil perkalian dari normalisasi
penerima bantuan dana Rutilahu untuk mendukung matriks keputusan dengan bobot kriteria
pengambil keputusan dengan menggunakan metode yang diambil dari rata-rata jumlah altertanif
Electre (Elimination and Choice Translation yang ada.
Reality) c. Menentukan concordance index dan
discordance index
1.4 Metodologi Penelitian Concordance index dan discordance index
Metode yang digunakan di dalam penentuan didapatkan dari hasil perbandingan antara
penerima bantuan dana rumah layak huni ini dengan setiap alternatif yang telah didapatkan.
menggunakan metode Electre (Elimination and d. Menghitung concordance set dan
Choice Translation Reality). discordance set
Concordance dan discordance didapatkan
Masukan Data : dari proses menentukan concordance index
Data Kriteria Rumah Tidak Layak Huni
dan discordance index. Hasil dari
concordance didapatkan dari penjumlahan
bobot setiap alternatif, dan hasil
discordance didapatkan dari pembagian
Proses :
setiap alternatif yang telah ada dari
discordance index.
e. Menentukan matriks concordance dan
Menentukan rating kecocokan setiap alternatif pada setiap
kriteria matriks discordance
Matriks concordance dan discordance
didapatkan dari perbandingan antara
Menentukan bobot preferensi perhitungan concordance dan discordance
dengan matrik ternormalisasi yang telah
dihitung sebelumnya.
Perhitungan menggunakan metode electre f. Menentukan aggregate dominance matriks
Agregat dominan didapatkan dengan
membandingkan antara matriks
concordance dengan nilai threshold
Keluaran Data : concordance dan threshold discordance,
sehingga mendapatkan matriks yang
Rekomendasi penerima bantuan dana rumah tidak layak huni
bernilai 1 atau 0.
g. Eliminasi alternatif yang less favourable
Gambar 1. Metodologi Penelitian Dalam proses ini electre merankingkan
setiap alternatif yang ada dengan
Keterangan : menyesuaikan setiap perhitungan yang
Dalam metodologi penelitian ini ada 3 tahapan, telah dilakukan pada proses sebelumnya.
yaitu : 3. Keluaran
1. Masukan Keluaran yang dihasilkan yaitu berupa
Dalam metode penelitian ini masukannya perankingan dan rekomendasi penerima yang layak
adalah data dari setiap alternatif untuk setiap menerima bantuan dana rumah layak huni.
kriteria. Alternatif yang dimaksud disini adalah
masyarakat calon penerima bantuan dana rumah 2. PEMBAHASAN
layak huni. 2.1 Program Bantuan Dana Rutilahu
2. Proses Undang-undang No.1 Tahun 2011 tentang
Dalam tahapan kedua, terdapat beberapa Perumahan dan Kawasan Permukiman, bahwa setiap
langkah yang di lakukan, dalam metode electre orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin,
yaitu sebagai berikut : bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan
a. Normalisasi matriks keputusan hidup yang baik dan sehat. Rumah memiliki fungsi
Matriks keputusan ternormalisasi yang sangat besar bagi individu dan keluarga tidak
merupakan perhitungan perbandingan dari saja mencakup aspek fisik, tetapi juga mental dan
setiap alternatif berdasarkan kriteria yang sosial. Untuk menunjang fungsi rumah sebagai
didapatkan dari hasil nilai terbobot pada tempat tinggal yang baik maka harus dipenuhi syarat
fungsi keanggotaan masing-masing fisik yaitu aman sebagai tempat berlindung, secara
alternatif. mental memenuhi rasa kenyamanan dan secara
sosial dapat menjaga privasi setiap anggota keluarga,

433
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2016 (SENTIKA 2016) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 18-19 Maret 2016

menjadi media bagi pelaksanaan bimbingan serta


pendidikan keluarga.
x ij
, Untuk i = 1,2,3, m dan j
r
x
ij m 2
2.2 Sistem Pendukung Keputusan i 1 ij
Sistem pendukung keputusan merupakan sistem = 1,2,3, n (2.1)
informasi interaktif yang menyediakan informasi,
pemodelan, dan pemanipulasian data. Sistem ini Keterangan :
digunakan untuk membantu di dalam proses
pengambilan keputusan dalam situasi yang r ij
= normalisasi pengukuran pilihan dari
semiterstruktur dan situasi yang tidak terstruktur, alternatif dan kriteria.
dimana tidak seorangpun tahu secara tidak pasti m = Alternatif.
bagaimana keputusan seharusnya dibuat. Sistem n = Kriteria.
pendukung keputusan biasanya dibangun untuk
mendukung solusi atas suatu masalah atau untuk Sehingga didapat matriks R hasil normalisasi
mengevaluasi suatu peluang.
Sistem pendukung keputusan lebih ditujukan
untuk mendukung manajemen dalam melakukan r11 r ... r

12 1n
pekerjaan yang bersifat analitis dalam situasi yang R r 21 r 22
... r 2n
kurang terstruktur dan dengan kriteria yang kurang
r r ... r
jelas. Sistem pendukung keputusan tidak m1 m2 mn
dimaksudkan untuk mengotomatisasikan
pengambilan keputusan, tetapi memberikan R adalah matriks yang telah dinormalisasi atau
perangkat interaktif yang memungkinkan pengambil disebut normalized decision matrix. Dimana m
keputusan untuk melakukan berbagai analisis
menyatakan alternatif, n menyatakan kriteria
menggunakan model-model yang tersedia (Kusrini,
2007). dan r ij
adalah normalisasi pengukuran pilihan
dari alternatif ke- i dalam hubungannya dengan
2.3 Electre (Elimination and Choice
kriteria ke- j .
Translation Reality)
Electre merupakan salah satu metode
pengambilan keputusan yang multikriteria 2. Pembobotan pada matriks yang telah
berdasarkan pada konsep outranking dengan dinormalisasi.
menggunakan perbandingan berpasangan dari Setelah dinormalisasi, setiap kolom dari
alternatif-alternatif berdasarkan setiap kriteria yang matriks R dikalikan dengan bobot-bobot
sesuai. Metode Electre digunakan pada kondisi
dimana alternatif yang kurang sesuai dengan kriteria
( w) j
yang ditentukan oleh pembuat

akan dieliminasi, dan alternatif yang sesuai dapat keputusan. Sehingga, wighted normalized
dihasilkan, dengan kata lain Electre digunakan untuk matrix adalah V RW adalah yang ditulis
kasus-kasus dengan banyak alternatif. Namun, hanya persamaan (2.2).
sedikit kriteria yang dilibatkan. Suatu alternatif
dikatakan mendominasi alternatif yang lainnya jika v11 v ... v

12 1n
satu atau lebih kriterianya melebihi (dibandingkan
V v21 v v
... 2n =
dengan kriteria dari alternatif yang lain) dan sama 22
..
dengan kriteria lain yang tersisa (Kusumadewi, ... ... ... ...
2006).
vm1 v m2
... vmn
Langkah-langkah yang dilakukan dalam
penyelesaian masalah menggunakan metode Electre
adalah sebagai berikut : w1 r11 wr ... wr

2 12 n 1n

RW w1 r 21 wr wr
2 22
... n 2n
1. Normalisasi matriks keputusan ... ... ... ...
Dalam prosedur ini, setiap atribut diubah
w1 r m1 wr 2 m2
... wn r mn
menjadi nilai yang compareable. Setiap
normalisasi ij r
dapat dilakukan dengan Dimana W adalah :
persamaan (2.1) :
w1 0 0 ... 0

W
0 w 2
0 ... , dan
... ... ... ...

0 0 0 ... wn

434
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2016 (SENTIKA 2016) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 18-19 Maret 2016

n
w 1 max( v vmn ln); m, n, d klv

max( v vln); m, n 1,2,3,...
i 1 mn

(2.2)
d kl
mn
(2.6)
3. Menentukan concordance dan discordance Selanjutnya diperoleh matriks discordance :
index
Untuk setiap pasang dari alternatif k dan l
d d ... d
( k , l 1,2,3,..., m dan k 1 ) kumpulan kriteria J
12 13

1n

D d 21 d d
... ... 2n
dibagi menjadi dua subsets, yaitu concordance dan 23

discordance. Bilamana sebuah kriteria dalam satu ... ... ... ... ...

alternatif termasuk concordance adalah :
d m1 d m2 d m3
...

C kl

j , vkj vij , untuk j 1,2,3,..., n
5. Menentukan matriks dominan concordance
(2.3) dan discordance
Sebaliknya, komplementer dari subset ini adalah a. Concordance
discordance, yaitu bila : Matriks dominan concordance dapat dibangun
dengan bantuan nilai threshold, yaitu dengan
D kl

j , k kj v , untuk j 1,2,3,..., n
ij
membandingkan setiap nilai elemen matriks
concordance dengan nilai threshold.
(2.4)
Keterangan :
= himpunan concordance. c c
C kl
kl

= himpunan discordance. (2.7)


D kl

v kj
= indeks dari matriks V. Dengan nilai threshold , adalah :

v = indeks dari matriks V.


c
n n
ij
c k 1 l 1 kl

4. Hitung matriks concordance dan m * (m 1)


discordance (2.8)
a. Concordance
Untuk menentukan nilai dari elemen-elemen Dan setiap elemen matriks F sebagai matriks
pada matriks concordance adalah dengan dominan concordance ditentukan sebagai berikut :
menjumlahkan bobot-bobot yang termasuk
dalam subset concordance : f 1 , jika c kl
c dan f 0 , jika c kl
c
kl kl


(2.9)
c kl jc w w j
(2.5) b. Discordance
Untuk membangun matriks dominan
Sehingga matriks concordance yang dihasilkan discordance juga menggunakan bantuan nilai
adalah : threshold, yaitu :

d
n n
c c ... c

12 13 1n
d k 1 l 1 kl

m * (m 1)
C c21 c c
... 23
... 2n
... ... ... ... ... (2.10)

cm1 c c ...
m2 m3 Dan nilai setiap elemen untuk matriks G sebagai
matriks dominan discordance ditentukan sebagai
b. Discordance berikut :
Untuk menentukan nilai dari elemen-elemen
pada matriks discordance adalah dengan
membagi maksimum selisih nilai kriteria yang g 1 , jika d kl
d dan g 0 , jika
kl kl
termasuk dalam subset discordance dengan
d kl
d
maksimum selisih nilai seluruh kriteria yang
ada, secara matematisnya adalah : (2.11)

435
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2016 (SENTIKA 2016) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 18-19 Maret 2016

6. Menentukan aggregate dominance matrix C5 : Kondisi Sumber Penerangan (Listrik)


Langkah selanjutnya adalah menentukan C6 : Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (WC)
aggregate dominance matrix sebagai matriks C7 : Kondisi Sumber Air Minum
E, yang setiap elemennya merupakan perkalian
antara elemen matriks F dengan elemen 2.5 Praproses
matriks G, sebagai berikut : Tahap praproses pada metode Electre yaitu
menentukan rating kecocokan pada setiap kriteria.

e f *g Rating kecocokan ditentukan berdasarkan dari hasil


kl kl kl wawancara dengan Fasilitator bantuan dana rumah
(2.12) tidak layak huni Teguh Mulyono, terdiri dari :

7. Eliminasi alternatif yang less favourable a. Kondisi Luas Ruangan


Matriks E memberikan urutan pilihan dari Sempit = 1 (<= 9 Meter)
setiap alternatif, yaitu bila e kl
1 maka Sedang = 2 (10-13 Meter)
Lebar = 3 (>14 Meter)
alternatif A merupakan pilihan yang lebih b. Kondisi Jenis Lantai
k

baik daripada sehingga baris dalam Buruk = 1 (Tanah, Bambu, Kayu)


A
r
Sedang = 2 (Semen/Aci)
matriks E yang memiliki jumlah e kl
1 Baik = 3 (Keramik)
paling sedikit dapat dieliminasi. Dengan c. Kondisi Jenis Atap
demikian alternatif terbaik adalah yang Buruk = 1 (Seng, Ijuk)
mendominasi alternatif lainnya. Sedang = 2 (Genteng, Asbes)
Baik = 3 (Beton)
2.4 Proses Data Masukan d. Kondisi Jenis Dinding
Data yang digunakan sebagai masukan meliputi Buruk = 1 (Bambu, Rumbia)
kondisi ruangan, kondisi lantai, kondisi atap, kondisi Sedang = 2 (Seng, Triplek)
dinding, kondisi sumber penerangan (Listrik), Baik = 3 (Tembok, Beton)
kondisi pembuangan akhir (WC), dan kondisi air e. Kondisi Sumber Penerangan (Listrik)
minum. Kriteria data masukan tersebut merupakan Buruk = 1 (<= 450 Watt)
indikator yang digunakan untuk rekomendasi calon Sedang = 2 (900-1300 Watt)
penerima bantuan dana rumah tidak layak huni. Baik = 3 (>2.200 Watt)
f. Kondisi Pembuangan Akhir (WC)
Tabel 1. Proses Data Masukan Buruk = 1 (Lubang Tanah)
Sedang = 2 (Kolam, Sawah, Sungai)
A Baik = 3 (Tangki, SPAL)
No. g. Kondisi Sumber Air Minum
A1 A2 A3 A4
C1 10m2 9m2 9m2 9m2 Buruk = 1 (Air Hujan, Air Sungai)
C2 Kayu Keramik Semen Kayu Sedang = 2 (Sumur Bor, Pompa)
(Aci) Baik = 3 (Air Kemasan/Air Isi
C3 Genteng Asbes Seng Genteng Ulang.
C4 Bambu Triplek Tembok Triplek
C5 450 Watt 900 Watt 450 Watt 900 Watt Bobot untuk setiap kriteria didapat dari hasil
C6 Kolam Kolam Sungai Sungai wawancara bersama Teguh Mulyono yaitu
C7 Air Sumur Sumur Air Fasilitator bantuan dana rumah tidak layak huni,
Kemasan Bor Bor Kemasan dengan ketentuan sebagai berikut :
W={3, 3, 4, 4, 2, 2, 1}, keterangan bobot W sebagai
berikut :
Keterangan : 1. Indeks 1 (W1) diisi dengan angka 3 yang
menunjukkan bobot untuk kondisi ruangan.
A : Alternatif 2. Indeks 2 (W2) diisi dengan angka 3 yang
A1 : Dadan Heryana menunjukkan bobot untuk kondisi lantai.
A2 : Asep Suherman 3. Indeks 3 (W3) diisi dengan angka 4 yang
A3 : Dedi Nazri menunjukkan bobot untuk kondisi atap.
A4 : Ajat Sujana 4. Indeks 4 (W4) diisi dengan angka 4 yang
menunjukkan bobot untuk kondisi dinding.
C : Kriteria 5. Indeks 5 (W5) diisi dengan angka 2 yang
C1 : Kondisi Luas Ruangan menunjukkan bobot untuk kondisi sumber
C2 : Kondisi Jenis Lantai penerangan (listrik).
C3 : Kondisi Jenis Atap
C4 : Kondisi Jenis Dinding

436
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2016 (SENTIKA 2016) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 18-19 Maret 2016

6. Indeks 6 (W6) diisi dengan angka 2 yang 3. Menentukan himpunan concordance dan
menunjukkan bobot untuk kondisi discordance index.
pembuangan akhir (WC). Menentukan himpunan concordance seperti pada
7. Indeks 7 (W7) diisi dengan angka 1 yang Persamaan (2.5), sebagai berikut :
menunjukkan bobot untuk kondisi sumber air
minum. C 12
V 11 V 21 1,8972 0,9486

2.6 Hasil Praproses V 22 0,7746 2,3238


V 12

Tabel 2. Hasil Praproses


V 13
V 23 2,2188 2,2188
Kriteria
Alternatif C C C C C C C V 14
V 24 0,9428 1,8856
1 2 3 4 5 6 7
A1 2 1 2 1 1 2 3
A2 1 3 2 2 2 2 2 V 15
V 25 0,6324 1,2648
A3 1 2 1 3 1 2 2
A4 2 1 2 2 2 2 3 V 16
V 26 1 1

2.7 Proses Electre V 27 0,5883 0,3922


1.
Normalisasi matriks keputusan V 17

Tahap ini setiap atribut diubah menjadi


nilai yang comparable seperti pada Persamaan (2.1). Dan seterusnya hingga C . 43

| x |
2 2 2 2
10 3,1622 Tabel 3. Himpunan Concordance
2 111
C Himpunan
x 11

2
0,6234
kl

R 11 C12 {1,3,6,7}
x 1
3,1662
C13 {1,3,5,6,7}
C14 {1,2,3,6,7}
x 21

1
0,3162 C21 {2,3,4,5,6}
R 21
x 1
3,1662
C23 {1,2,3,5,6,7}
C24 {2,3,4,5,6}
x 31

1
0,3162 C31 {2,4,5,6}
R 31
x 1
3,1662 C32 {1,4,6,7}
C34 {2,4,6}
x 2 C41 {1,2,3,4,5,6,7}
R 41
0,6234
41
x 3,1662 C42 {1,3,4,5,6,7}
1
C43 {1,3,5,6,7}
Dan seterusnya sampai | x7 | sehingga didapat Menentukan himpunan discordance seperti pada
matriks R hasil normalisasi seperti pada Persamaan Persamaan (2.6), sebagai berikut :
(2.2), sebagai berikut :
D 12
V 11 V 21 1,8972 0,9486
0,6324 0,2582 0,5547 0,2357 0,3162 0,5 0,5883
0,3162 0,7746 0,5547 0,4714 0,6324 0,5 0,3922
R V V 22 0,7746 2,3238
0,3162 0,5164 0,2773 0,7071 0,3162 0,5 0,3922 12

0,6324 0,2582 0,5547 0,4714 0,6324 0,5 0,5883
2. Pembobotan pada matriks yang telah V 13
V 23 2,2188 2,2188
dinormalisasi.
Matriks V merupakan hasil perkalian R dengan V 14
V 24 0,9428 1,8856
W (bobot), dimana W={3, 3, 4, 4, 2, 2, 1}. Untuk
mencari matriks V dihitung berdasarkan pada V 25 0,6324 1,2648
Persamaan (2.3), sebagai berikut : V 15

1,8972 0,7746 2,2188 0,9428 0,6324 1 0,5883 V 16


V 26 1 1
0,9486 2,3238 2,2188 1,8856 1,2698 1 0,3922
V
0,9486 1,5492 1,1092 2,8284 0,6324 1 0,3922 V V 27 0,5883 0,3922
17
1,8972 0,7746 2,2188 1,8856 1,2648 1 0,5883

437
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2016 (SENTIKA 2016) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 18-19 Maret 2016

Dan seterusnya hingga D . 43 max | 0,7746 2,3238 |; | 0,9428 1,8856 |; | 0,6324 1,2648 |
D
12
| 1,8972 0,9486 |; | 0,7746 2,3238 |; | 2,2188 2,2188 |;

Tabel 4. Himpunan Discordance max | 0,9428 1,8856 |; | 0,6324 1,2648 |; | 1 1 |;
| 0,5883 0,3922 |

D kl Himpunan
D12 {2,4,5} max | 1,5492 |; | 0,9428 |; | 0,6324 |

D13 {2,4} | 0,9486 |; | 1,5492 |; | 0,9428 |; | 0,6324 |;
max
D14 {4,5} | 0,1961 |
D21 {1,7}
D23 {4} 1,5492
1
D24 {1,7} 1,5492

D31 {1,3,7} max | 0,7746 1,5492 |; | 0,9428 2,8284 |


D
D32 {2,3,5} 13
| 1,8972 0,9486 |; | 0,7746 1,5492 |; | 2,2188 1,1092 |;

D34 {1,3,5,7} max | 0,9428 2,8284 |; | 0,6324 0,6324 |; | 1 1 |;
| 0,5883 0,3922 |
D41 {}
D42 {2}
max| 0,7746 |; | 1,8856 |
D43 {2,4}

4. Hitung matriks concordance dan discordance. max| 0,9486 |; | 0,7746 |; | 1,1096 |; | 1,8856 |; | 0,1961 |
Menghitung concordance menggunakan
persamaan (2.7), sebagai berikut : 1,8856
1
1,8856
C 12
W 1 W 3 W 6 W 7
dan seterusnya hingga , sehingga menghasilkan
3 4 2 1 10 matriks discordance sebagai berikut :

C 12
W 1 W 3 W 5 W 6 W 7 1 1 1
0,6123 0,8496 0,6123
3 4 2 2 1 12 D
0,5884 1 1
W 1 W 2 W 3 W 6 W 7
C 12
0 1 0,8496
3 3 4 2 1 13 5. Menentukan threshold dari matriks dominan
concordance dan discordance.
dan seterusnya hingga C . Threshold didapat dari penjumlahan seluruh
43

Nilai dari komponen matriks disusun berdasarkan elemen matriks dibagi ukuran matriks.
himpunan concordance dengan bobot (W) dan Menghitung matriks dominan concordance
dijumlahkan, sehingga menghasilkan matriks menggunakan persamaan (2.10), sebagai berikut
concordance sebagai berikut : :

10 12 13 15 15 15 11 10 9 19 16 12
10 12 13 C
15 15 15 4 * (4 1)
C
11 10 9 156
13
19 16 12 12

Menghitung discordance. Sehingga, matriks dominan concordance adalah :


Untuk menghitung nilai dari elemen pada matriks
discordance adalah dengan membagi maksimum 0 0 1
selisih nilai kriteria yang termasuk dalam subset 1 1 1
discordance dengan maksimum selisih nilai seluruh F
kriteria yang ada, secara matematisnya seperti pada 0 0 0

Persamaan (2.8), sebagai berikut :
1 1 0

Menghitung matriks dominan discordance


mengunakan Persamaan (2.12), sebagai berikut :

438
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2016 (SENTIKA 2016) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 18-19 Maret 2016

kondisi jenis dinding, kondisi sumber penerangan


1 1 1 0,6123 0,8496 0,6123 0,5884 1 1 0 1 0,8496 (listrik), kondisi tempat pembuangan akhir (wc), dan
D
4 * (4 1) kondisi air minum sehingga dapat membantu Badan
Keswadayaan Masyarakat (BKM) dalam proses
9,5122 penentuan calon penerima bantuan dana Rutilahu.

12 Sistem menghasilkan keluaran berupa rekomendasi
Sehingga, matriks dominan discordance adalah : calon penerima bantuan dana Rutilahu yang layak
menerima bantuan berdasarkan ranking terbaik.
1 1 1 Hasil pengujian kualitas secara fungsional sistem
0 1 0 menggunakan black box testing sesuai dengan
G perancangan yang telah dibangun.
0 1 1

0 1 1 PUSTAKA
Agung A, Gede I, Sistem Pendukung Keputusan
Pemilihan Sepeda Motor Honda Menggunakan
6. Menentukan aggregate dominance matrix
Metode ELECTRE Berbasis Web, STIKom
Matriks memberikan urutan pilihan alternatif Jurnal, Volume 12 Nomor 12, September 2008,
sehingga dalam matriks yang memiliki angka Surabaya.
1 dieliminasi. Dengan demikian, alternatif Daihaini, U.D, 2001, Komputerisasi Pengambil
terbaik adalah alternatif yang mendominasi Keputusan, Elex, Media Komputindo, Jakarta.
alternatif lainnya. Kusrini, 2007, Konsep dan Aplikasi Sistem
Menentukan matriks secara matematis Pendukung Keputusan, Yogyakarta: Andi.
menggunakan Persamaan (2.14), sebagai Kusumadewi, Sri., Hartati., Harjoko., Wardoyo.
berikut : 2006. Fuzzy Multy Attribute Decision Making
(FUZZY MADM). Yogyakarta: Graha Ilmu.
R. M. U. W. Syeril Akshaeri, Sistem Pendukung
Keputusan Pemilihan Produksi Sepatu dan
0 0 1 1 1 1 Sandal Dengan Metode Electre Jurnal Online
1 0 0
Matematika S1 Eurekamatika, vol I, 2013.
1 1 1
F G Sanda T. T., Sistem Pendukung Keputusan untuk
0 0 0 0 1 1 Pemilihan Tanaman Toga dengan Metode

1 1 0 0 1 1 ELECTRE, STIKom Jurnal, Vol 12 No 10,
September 2008, Surabaya.
Sutrisno, Pembangunan Sistem Pendukung
7. Eliminasi alternatif yang less favourable
Keputusan Kenaikan Pangkat dan Kenaikan Gaji
Matriks E dihasilkan dari perkalian matriks F
Berkala pada Dinas Pengelolaan Sumber Daya
dan matriks G, sebagai berikut :
Air (PSDA) Provinsi Jawa Barat, Bandung:
Perpustakaan UNIKOM, 2013.
0 0 1
0 1 0
E
0 0 0

0 1 0

Hasil dari perhitungan dengan metode Electre maka


diperoleh peringkat yang paling tinggi yaitu Dadan
Heryana, Asep Suherman, dan Ajat Sujana karena
jika mengindikasikan bahwa alternatif
merupakan alternatif terpilih.

3. KESIMPULAN
Pada penelitian ini telah menghasilkan sebuah
sistem untuk menentukan calon penerima bantuan
dana rumah tidak layak huni dengan menerapkan
metode Electre. Metode Electre pada sistem ini
dapat melakukan proses eliminasi dan menghasilkan
alternatif yang lebih mendominasi alternatif lainnya
dalam merekomendasikan calon penerima bantuan
dana Rutilahu dengan kriteria yaitu kondisi luas
ruangan, kondisi jenis lantai, kondisi jenis atap,

439