Anda di halaman 1dari 46

MAKALAH

AIK
KONSEP ISLAM TENTANG MAKANAN DAN MINUMAN

KELOMPOK 4 :

1. Delfi Dwi Ikamadya (0513070)


2. Elita (0513075)
3. Monica Putri (0513086)
4. Putri Rama Diana Sari (0513097)
5. Uswatun Khasanah (0513108)
6. Kaget Asoka (0513119)

Dosen Pembimbing : Muhammad Sulaiman S.Pd.I

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat
limpahan rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini
dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami akan
membahas secara singkat mengenai tugas AIK Konsep Islam Tentang Makanan
dan Minuman
Makalah ini semoga dapat bermanfaat bagi teman sejawat. Kami
menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karena itu, kami menerima saran dan kritik yang dapat membangun. Kritik
konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan pembuatan
makalah - makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita
semua.

Penulis, November 2015

Kelompok IV
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .....................................................................................


Daftar Isi ...............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .........................................................................
B. Rumusan Masalah.....................................................................
C. Tujuan ........................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Kajian ayat al-quran dan hadist tentang makanan dan
Minuman .....................................................................................
I. Al-Quran ............................................................................
II. Hadist ..................................................................................
B. Konsep Halal dan Thoyyib Dalam Islam ....................................
1. Kata Thayyib dalam Al-Quran ..............................................
2. Makanan yang Thayyib ........................................................
3. Halal dalam Al-Quran ........................................................
4. Hidangan yang halal dan thayyib ..........................................
C. Makanan dan Minuman yang halal dan haram ...........................
1. Pengertian Halal ....................................................................
2. Pengertian Haram ..................................................................
3. Jenis Makanan dan Minuman Halal ......................................
4. Jenis Makanan dan Minuman Haram ....................................
D. Fenomena Makanan di Indonesia ...............................................
1. Pengertian Makanan Siap Saji dan Kandungannya ..............
2. Makanan Siap Saji Menurut Pandangan Islam .....................
E. Sertifikasi Halal MUI ..................................................................

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................

Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang
halal serta menjauhi makanan haram. Rasulullah bersabda: Dari Abu Hurairah ra
berkata : Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah baik tidak menerima
kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-
orang mumin sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah
berfirman: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan
kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang

kamu kerjakan.

Dan firmanNya yang lain: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di


antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu Kemudian beliau
mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya
kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi !
Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang
ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan
dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima doanya.
(HR Muslim no. 1015).
Dijaman sekarang banyak yang menyebut era teknologi. Manusia semakin
mudah dalam menggapai keinginan-keinginan dengan bantuan teknologi,
khususnya teknologi telekomunikasi, industri, pertanian dan ekonomi. Dengan
kemajuan di berbagai bidang maka berpangaruh juga kepada pola pikir
masyarakat. Misalkan masalah makan dan minuman, banyak manusia atau oaring
yang makan dan minum mengikuti tren yang sedang ada diwaktu itu. Dan sering
kali kita lalai tentang halal atau haram makanan yang kita makan.Makanan
budaya luar yang masuk ke Indonesia banyak sekali, contoh: Pizza hut, Hot Dog,
Steak, bir, dan minuman beralkohol lainya.
Melihat masalah yang terjadi di atas kami selaku penulis makalah akan
memberikan rambu-rambu dan penjelasan tantang makanan dan minuman yang
halal dan yang haram berdasarkan dalil-dalil Al Quran danAl Hadist. Sehingga
kita sebagai umat islam tidak salah makan makanan yang justru makanan itu
tergolong makanan yang haram. Semoga dengan makalah ini kita bisa
membedakan makanan yang halal dan yang haram.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja kajian ayat Al Quran dan hadits terkait makanan dan minuman?
2. Bagaimana konsep halal dan thoyyib dalam islam?
3. Apa saja makanan dan minuman yang halal maupun haram?
4. Apa fenomena makanan di Indonesia?
5. Bagaimana sertifikasi Halal MUI?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita tentang segala
sesuatu yang berkaitan dengan makanan yang halal maupun yang
haram.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu mengetahui kajian yang terkandung dalam Al-Quran dan
hadits terkait makanan dan minuman.
b. Mengetahui konsep halal dan thoyyib dalam islam.
c. Dapat mengidentifikasi makanan dan minuman yang halal
maupun haram.
d. Mengetahui fenomena makanan yang ada di Indonesia.
e. Mengetahui sertifikasi halal MUI terhadap makanan dan
minuman.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kajian ayat al-quran dan hadist tentang makanan dan minuman

I. Al-Quran

1. Surat Al Baqarah Ayat 172-173

Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 172 dan 173 sebagai

berikut:


[ 172]


[173]

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang

baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah,

jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya

Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan

binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi

barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak

menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa

baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

a. Tafsir Surat al Baqarah Ayat 172

Di dalam ayat ini ditegaskan agar seseorang mukmin makan

makanan yang baik yang diberikan Allah, dan rezeki yang diberikan-

Nya itu haruslah disyukuri. Dalam ayat 168 perintah makan makanan
yang baik-baik ditujukan kepada manusia umumnya. Karenanya

perintah itu diiringi dengan larangan mengikuti ajaran setan.

Sedangkan dalam ayat ini perintah ditujukan kepada orang mukmin

saja agar mereka makan rezeki Allah yangbaik-baik, sebab itu,

perintah ini diiringi dengan perintah mengsyukurinya

Kesadaran iman yang bersemi di hati mereka menjadikan ajakan

Allah kepada orang-orang beriman sedikit berbeda dengan ajakannya

kepada seluruh manusia. Bagi orang-orang mukmin, tidak lagi di sebut

kata halal, sebagaimana yang di sebut pada ayat 168 yang lalu, karena

keimanan yang bersemi di dalam hati merupakan jaminan kejauhan

mereka dari yang tidak halal. Mereka disina bahkan di perintah untuk

bersyukur disertai dengan dorongan kuat yang tercermin pada penutup

ayat 172 ini, yaitu bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya

kepadanya kami menyembah.

Syukur adalah mengakui dengan tulus bahwa anugerah yang

diperoleh semata-mata bersumber dari Allah sambil menggunakannya

sesuai tujuan penganugerahannya, atau menempatkan pada tempat

semestinya.

Setelah menekankan perlunya makanan yang baik-baik, di

jelaskannya makanan yang buruk, dalam bentuk redaksi yang

mengesankan bahwa hanya yang disebut itu yang terlarang, walau pada

hakikatnya tidak demikian.


b. Tafsir Surat al Baqarah Ayat173

Yang di maksud bangkai adalah binatang yang berhembus

nyawanya tidak melalui cara yang sah seperti yang mati tercekik,

terpukul, jatuh, di tanduk, di terkam binatang buas, namun tidak

sempat disembelih, dan yang di sembelih untuk berhala. Di kecualikan

dari pengertian bangkai adalah binatang air (ikan dan sebagainya) dan

belalang.

Binatang yang mati kerena faktor ketuaan atau mati karena

terjangkit penyakit pada dasarnya mati karena zat beracun, sehingga

bila dikonsumsi manusia, sangat mungkin mengakibatkan keracunan.

Demikian juga binatang karena tercekik dan dipukul, darahnya

mengendap di dalam tubuhnya. Ini mengidap zat beracun yang sangat

membahayakan manusia.

Darah, yakni darah yang mengalir, bukan yang subtansi asalnya

membeku seperti limpah dan hati. Daging babi, yakni seluruh tubuh

babi, termasuk tulang, lemak dan kulitnya.

Binatang yang (ketika disembelih) disebut nama selain Allah. Ini

berarti ia baru haram dimakan bila disembelih dalam keadaan

menyebut selain nama Allah. Adapun bila tidak disebut namanya,

maka binatang halal yang disembelih demikian, masih dapat

ditoleransi untuk dimakan.

Kasih sayang Allah melimpah kepada mahluk, karena itu ia selalu

menghendaki kemudahan buat manusia. Dia tidak menetapkan sesuatu


yang menyulitkan mereka, dan mereka itu pula larangan di atas

dikecualikan oleh lanjutan ayat: siapa yang berada dalam keadaan

terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan

tidak (pula)melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya

Keadaan terpaksa adalah keadaan yang di duga dapat

mengakibatkan kematian, sedang tidak menginginkannya adalah tidak

memakannya padahal ada makanan halal yang dapat dia makan, tidak

pula memakannya memenuhi keinginan seleranya. Sedang yang

dimaksud tidak melampaui batas adalah tidak memakannya dalam

kadar yang melibihi kebutuhan menutup rasa lapar dan memelihara

jiwanya. Keadaan terpaksa dengan ketentuan demikian ditetapkan

Allah, karena sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha

penyayang.[4]

Penutup ayat ini dipahami juga oleh sementara ulama sebagai

isyarat bahwa keadaan darurat tidak di alami seseorang kecuali akibat

dosa yang dilakukannya, yang dipahami dari kata maha pengampun.

Keputus-asaan yang mengantar seseorang merasa jiwanya terancam

tidak akan menyentuh hati seorang mukmin, sehinngga dia kan

bertahan dan bertahan sampai datangnya jalan keluar dan pertolongan

Allah. Bukankah Allah telah menganugerahkan kemampuan kepada

manusia untuk tidak menyentuh makanan, melalui ketahanan yang

dimilikinya, juga lemak, daging, dan tulang yang membungkus

badannya?
Penjelasan tentang makanan-makanan yang diharamkan di atas,

dikemukakan dalam konteks mencela masyarakat jahiliyah, baik di

Makkah maupun di Madinah, yang memakannya. Mereka misalnya

membolehkan memakan binatang yang mati tanpa di sembelih dengan

alasan bahwa yang disembelih/dicabut nyawanya oleh manusia halal,

maka mengapa haram yang dicabut sendiri nyawanya oleh Allah?

Penjelasan tentang keburukan ini dilanjutkan dengan uraian ulang

tentang mereka yang menyembunyikan kebenaran, baik menyangkut

kebenaran Nabi Muhammad, urusan kiblat, haji dan umrah, maupun

menyembunyikan atau akan menyembunyikan tuntunan Allah

menyengkut makanan. Orang-orang Yahudi misalnya, menghalalkan

hasil suap, orang-orang Nasrani membenarkan sedikit minuman keras,

kendati dalam kehidupan sehari-hari tidak sedikit dari mereka yang

meminumnya dengan banyak.

2. Surat Al Maidah ayat 4

Artinya :

Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?"

Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang

ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya

untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan


Allah kepadamu, Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu,

dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan

bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya"

a. Tafsir Surat al Maidah Ayat 4

Ayat ini menerangkan tentang dua makanan yang dihalalkan:

Makanan yang baik, yaitu semua jenis makanan yang menimbulkan

selera untuk memakannya dan tidak ada nas yang

mengharamkannya. Adapun yang sudah ada ketentuan haramnya,

maka harus dipatuhi ketentuan itu.

Binatang buruan yang ditangkap oleh binatang-binatang

pemburu yang terlatih sehingga buruannya langsung dibawa kepada

tuannya dan tidak akan dimakannya kecuali kalau diberi oleh

tuannya. Apabila binatang pemburu itu memakan buruannya terlebih

dahulu, sebelum diberi oleh tuannya, maka buruannya itu haram

dimakan seperti haramnya bangkai.

Selanjutnya ayat ini menerangkan bahwa hasil buruan binatang

yang terlatih itu boleh dimakan apabila pada saat melepas binatang,

si pemburu membaca basmala. Hukum membaca basmalah itu wajib

menurut sebagian ulama seperti Abu Hanifah, menurut imam Syafii

hukumnya sunnah.

Kemudian akhir ayat ini menerangkan supaya tetap bertakwa,

yaitu mematuhi semua perintah Allah dan menjauhi larangannya,


karena Allah sangat menghitung semua amal hambanya tanpa ada

yang tertinggal adan tersembunyi baginya.

3. Surat Al Maidah ayat 87-88

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang

baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu

melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang

melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa

yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah

yang kamu beriman kepada-Nya.

a. Tafsir

Batas yang dapat diketahui oleh akal, pikiran dan perasaan,

misalnya batas mengenai banyak sedikitnya serta manfaat dan

mudharatnya, suatu hal yang perlu kita ingat ialah prinsip yang

terdapat dalam syariat islam, bahwa apa yang dihalalkan oleh agama,

adalah karena ia bermanfaat dan tidak berbahaya; sebaliknya apa

yang diharamkannya adalah karena ia berbahaya dan tidak

bermanfaat, atau karena bahayanya lebih besar dari pada manfaatnya.

Oleh sebab itu tidak boleh mengubah-ubah sendiri hukum-hukum

agama yang telah di tetapkan Allah dan Rasulnya. Allah maha


mengetahui apa yang baik dan bermanfaat bagi hambanya dan apa

yang berbahaya bagi mereka. Dia maha pengasih terhadap mereka

Ayat 88 pada surat ini, Allah memerintahkan kepada hambanya agar

mereka makan rezeki yang halal dan baik, yang telah

dikaruniakannya kepada mereka halal disini mengendung

pengertian, halal bendanya dan halal cara memperolehnya.

Sedangkan baik adalah dari segi kemanfaatannya. Yaitu yang

mengendung manfaat dan maslahat bagi tubuh, mengendung gizi,

vitamin, protein dan sebagainya. Makan tidak baik, selain tidak

mengendung gizi, juga jika dikonsumsi akan merusak kesehatan.

Prinsip halal dan baik itu hendaklah senantiasa menjadi

perhatian dalam menentukan makanan dan minuman yang akan

dimakan untuk diri sendiri dan untuk keluarga, karena makanan dan

minuman itu tidak hanya berpengaruh terhadap jasmani melainkan

juga terhadap rohani.

Tidak ada halangan bagi orang-orang mukmin yang mampu,

untuk menikmati makanan dan minuman yang enak, dan untuk

mengedakan hubungan dengan istri, akan tetapi haruslah menaati

ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan syara, yaitu: baik, halal,

dan menurut ukuran yang layak dan tidak berlebihan. Maka pada

akhir ayat ini Allah memperingatkan orang beriman agar mereka

berhati-hati dan bertakwa kepadanya dalam soal makanan, minuman

dan kenikmatan-kenikmatan lainnya. Janganlah mereka menetapkan


hukum-hukum menurut kemauan sendiri dan tidak pula berlebihan

dalam menikmati apa-apa yang telah dihalalkannya

Agama islam sangat mengutamakan kesederhanaan. Ia tidak

membenarkan umatnya berlebih-lebihan dalam makan, minum,

berpakain dan sebagainya, bahkan dalam beribadah. Sebaliknya, juga

tidak dibenarkannya seseorang terlalu menahan diri dari menikmati

sesuatu, padahal ia mampu untuk memperolehnya. Apalagi bila sifat

menahan diri itu sampai mendorongnya untuk mengharmkan apa-apa

yang telah dihalalkan syara.

Setiap orang beriman diperintahkan Allah SWT. Untuk

senantiasa mengkonsumsi makanan yang halal dan baik

(mengandung gizi dan vitamin yang cukup). Jadi bagian ayat yang

tersembunyi halal dan baik (halalan tayyiba)tersebut diatas

mengandung makna dua aspek yang akan melekat pada setiap rezeki

makanan yang dikonsumsi manusia. Aspek pertama, hendaklah

makanan di dapatkan dengan cara yang halal yang sesuai dengan

syariat islam yang dicontohkan Rasul. Dalam hal ini mengandung

makna perintah untuk bermuamalah yang benar. Sementara dalam

aspek baik atau tayyib adalah dari sisi kandungan zat makanan yang

dikonsumsi. Makanan handaknya mengandung zat yang dibutuhkan

oleh tubuh, baik mutu maupun jumlah. Makanan gizi berimbang

adalah dianjurkan. Ada makanan halal tetapi todak tayyib, misalnya

Rasul mencontohkan kepada, kulit dan jeroan binatang sembelihan


dibuang. Bahkan beliau bersabda jangan memakan tulang karena

tulang adalah makanan untuk saudaramu dari bangsa jin. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa bagian-bagian tersebut ternyata

banyak mengendung zat penyebab kadar kolesterol darah dalam

tubuh manusia cepat meningkat.

4. Surat Al Maidah ayat 93

Artinya :

Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan

yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu,

apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan

yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian

mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah

menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

a. Tafsir

Ayat 93 surat al Maidah diatas berhubungan dengan ayat yang

lalu sekaligus menjawab pertanyaan yang muncul dengan

menegaskan bahwa: tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman

dengan iman yang benar dan mengerjakan amal shaleh, yakni yang

bermanfaat dan sesuai dengan nilai-nilai ilahi, tidak ada dosa bagi

mereka, menyangkut apa yang telah mereka makan dan minum dari
makanan dan minuman yang terlarang sebelum turunnya larangan

apabila mereka bertakwa dan beriman serta mengerjakan amal-amal

shaleh, kemudian walau berlalu masa yang panjang maka tetap

bertakwa dan beriman, kemudian mereka tetap juga bertakwa dan

berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai al-muhsinin, yakni orang-

orang yang mantap upayanya berbuat kebajikan, atau membudaya

dalam tingkah lakunya kebajikan

Pengulangan kata bertakwa dan beriman dapat dipahami dalam

arti penekanan serta perbedaan objek takwa dan iman. Seperti terbaca

diatas, kata takwa yang pertama disusul dengan iman dan amal

shaleh; yang kedua takwa dengan iman saja; dan yang ketiga adalah

takwa dengan ihsan, Athtabari memahami takwa dan iman yang

pertama dalam arti menerima tuntunan ilahi, memebenarkan dengan

tulus, serta mengamalkan dengan penuh kesungguhan. Sedang yang

kedua adalah upaya mempertahankan keimanan dan ketakwaan

pertama itu, serta mengasah dan mengasuhnya; sedang yang ketiga,

adalah meningkatkannya dengan berbuat ihsan dan amalan-amalan

sunnah.

5. Surat al Maidah ayat 94



Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji

kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh

tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-

Nya, biar pun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar

batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.

a. Tafsir

Dimulainya ayat ini dan ayat-ayat serupa dengan panggila mesra,

bertujuan mengantarkan mitra dialog untuk memenuhi perintah ayat ini.

Panggilan mesra itu adalah: hai orang-orang beriman, betapapun tingkat

keimanan kamu, sesungguhnya Allah pasti akan menguji kamu, yakni

akan memperlakukan kamu dengan perlakuan siapa yang ingin tahu. Ujian

itu antara lain dengan sesuatu yang pada hakikatnya mudah dan tidak

melampaui kemampuan kamu.

Ujian itu terlaksana ketika kamu dalam keadaan berihram untuk

haji atau umrah. Sesuatu itu dari yakni berupa binatang buruan yang

mudah di dapat oleh tangan kamu jika kamu menginginkannya dalam

keadaan hidup dan mudah pula mendapatkannya dengan menggunakan

tombak kamu jika kamu menghendaki binatang buruan itu terbunuh

olehmu. Tujuan ujian adalah supaya Allah mengetahui dalam kenyataan

sehingga tidak dapat diingkari oleh pelakunya siapa yang takut kepadanya,

meskipun dia ghaib, yakni tidak dilihat dan terjangkau hakikatnya oleh

siapapun. Barang siapa yang memaksakan diri melanggar batas yang


ditetapkaan Allah sesudah itu, yakni sesudah peringatan ini, maka baginya

azab yang pedih.

6. Surat al Maidah Ayat 95

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh

binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di antara kamu

membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan

binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut

putusan dua orang yang adil di antara kamu, sebagai had-ya yang di bawa

sampai ke Kakbah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi

makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang

dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari

perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barang

siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya

Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.

a. Tafsir

Ayat ini adalah ujian yang dimaksud oleh ayat yang lalu. Demikian

hubungannya dengan ayat yang lalu mengikuti pandangan Alqurtubi.

Berbeda dengan ini adalah pandangan Albiqai yang menulis bahwa

setelah menjelaskan adanya ujian, ayat ini menegaskan ancaman yang


diakibatkan oleh pelanggaran terhadap apa yang diujikan itu. Karena

itu, ayat ini mengajak mereka yang memiliki sifat yang dapat

menghalangi pelanggaran, yakni sifat iman dengan menyatakan: hai

orang-orang yang beriman janganlah kamu membunuh atau

menyembelih binatang buruan yang halal dimakan diluar keadaan

ihram, yakni jangan membunuhnya ketika kamu sedang berihram, baik

untuk haji, umrah, atau keduanya, demikian juga jika kamu berada

dalam wilayah tanah haram.

Barang siapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja dan

menyadari bahwa itu terlarang baginya, bahkan menurut imam malik,

abu Hanifa dan Syafii berdasarkan hadis Nabi SAW, walau tidak

sengaja maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak

serupa, yakni seimbang atau paling dekat persamaannya dengan

buruan yang dibunuhnya. Keserupaan itu ditetapkan menurut putusan

dua orang yang adil diantara kamu wahai kaum muslimin. Denda ini

sebagai had-y, yakni mempersembahkan kepada Allah yang dibawa

sampai ke Kabah, dalam arti disembelih disana untuk dibagikan

kepada fakir miskin, atau dendanya membayar kafarat dengan

memberi makan orang-orang miskin, makanan yang umum dimakan,

atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya

dia, yakni yang melanggar itu merasakan akibat yang buruk dari

perbuatannya melanggar ketentuan Allah


Karena pembunuhan semacam yang terlarang ini telah sering terjadi,

maka ayat ini menghilangkan kecemasan mereka dengan menegaskan

bahwa: Allah telah memaafkan apa yang telah lalu karena rahmatnya

kepada kamu, sehingga ketetapan ini tidak berlaku surut, dan barang siapa

kembali mengerjakannya, yakni membunuh buruan dalam keadaan dia

berihram, niscaya Allah akan menyiksanya. Jangan duga dia akan luput

karena Allah maha kuasa lagi mempunyai kekuasaan untuk menyiksa.

Binatang buruan yang terlarang dibunuh disini adalah binatang darat.

Adapun binatang laut, maka ia diperbolehkan, berdasarkan firmannya

dalam ayat berikutnya. Larangan membunuh binatang darat adalah

binatang darat yang halal dimakan, karena demikian itulah biasanya atau

ketika itu tujuan perburuan. Demikian pendapat mazhab Syafii, sedang

mazhab Abu Hanifah mengharamkan membunuh segala binatang darat

baik ang dimakan dan yang tidak dimakan, kecuali yang diizinkan untuk

dibunuh, seperti kalajengking, ular, tikus, dan anjing gila.

7. Surat al Maidah Ayat 96

Artinya :

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal)

dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang

dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan


darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang

kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.

a. Tafsir

Karena redaksi ayat yang lalu berbicara tentang perburuan secara

umum, tanpa menjelaskan apakah ia menyangkut binatang darat atau

laut, maka melalui ayat ini dijelaskannya bahwa: dihalalkan bagi kamu

berburu binatang laut juga sungai, danau, dan makanannya yang

berasal dari laut seperti, ikan, udang atau apapun yang hidup disana

dan tidak dapat hidup didarat walau telah mati dan mengapung, adalah

makanan lezat bagi kaum, baik bagi yang bertempat tinggal tetap

disatu tempat tertentu, dan juga bagi orang-orang yang dalam

perjalanan; dan diharamkan atas kamu menangkap atau membunuh

binatang darat, selama kamu dalam keadaan berihram, dan atau berada

di tanah haram walaupun berulang-ulang ihram itu kamu lakukan. Dan

bertakwalah kepada Allah yang kepadanyalah kamu akan

dikumpulkan.

Ayat diatas menegaskan sekali larangan berburu binatang darat

dalam keadaan berihram atau ketika berada di tanah haram.

Pengulangan-pengulangan itu mengisyaratkan bahwa larangan ini

berlaku kapan saja, dan sepanjang makna berihram disandang oleh

seseorang, walaupun telah berulang dia dalam keadaan berihram.


8. Surat al Maidah Ayat 97

Artinya :

Allah telah menjadikan Kabah, rumah suci itu sebagai pusat

(peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan

Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu

tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan

apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui

segala sesuatu.

a. Tafsir

Melalui ayat ini Allah menetapkan tuntunan-Nya yang memberi

rasa aman kepada manusia. Untuk itulah maka ayat ini menegaskan

bahwa: Allah telah menjadikan kabah, rumah suci itu sebagai qiaman,

yakni pusat peribadatan dan urusan dunia bagi manusia, dan demikian

pula bulan haram, bad-y, dan al qalaid, Allah mengsyariatkan yang

demikian itu, atau yang demikian itulah ketetapan yang hak, agar kamu

tahu melalui ketetapan itu bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa

yang ada di langit, kerena itu diaturnya perjalanan planet-planet,

matahari dna bulan agar terjadi siang dan malam, dan silih berganti

bulan dan tahun, serta apa yang ada di bumi, sehingga dia pun

mengetur dan menetapkan ketentuan-ketentuan hidup mahluk

termasuk manusia, dan dengan demikian mereka akan sampai kepada


kesimpulan bahwa sesungguhnya Allah yang mengatur dan

menetapkan itu semua adalah maha mengetahui segala sesuatu

sebelum terjadi, lebih-lebih setelah terjadinya

II. Hadits

1) Barang yang di halalkan oleh Allah dalam kitab-Nya adalah halal,

dan barang yang diharamkan oleh Allah dalam kitab-Nya adalah

haram. Dan sesuatu yang tidak dilarang-Nya, mak barang itu termasuk

yang diafkan-Nya, sebagai kemudahan bagi kamu.(HR. Ibnu Majah

dan Tirmidzi) Fiqih sunnah oleh Sulaiman Ar Rasyid).

2) Sesungguhnya Saad Ibnu Ubayyin mohon pada Rosulullah SAW

agar didoakan kepada Allah supaya doanya diterima (mustajab), maka

beliau bersabda kepadanya : Perbaiki makanan, niscaya diterima doa-

doamu (HR. Tabrani)

B. Konsep Halal dan thoyyib dalam islam

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah

rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman

kepada-Nya. (QS. Al-Maidah; 88)

Mengkonsumsi sesuatu yang halalan thayyiban merupakan salah

satu ciri dari orang yang bertaqwa. Hal tersebut bisa kita mengerti,

apabila kita menelaah dengan baik ayat di atas; perintah mengkonsumsi

makanan yang halalan thayyiban dilanjutkan dengan perintah untuk

bertaqwa. Ini menandakan akan pentingnya perhatian Islam terhadap

halal dan thayyib-nya sesuatu sebelum dikonsumsi atau digunakan.


1. Kata thayyib dalam Al-Quran

Thayyib adalah sebuah kata sifat yang berfungsi paling dasar

untuk menyatakan kualitas yang menjelaskan perasaan seperti sangat

menggembirakan, senang dan manis. Kata ini seringkali juga

digunakan untuk mengkualifikasikan baiknya rasa makanan, air,

wangi-wangian dan sejenisnya. Di samping itu, kata ini juga tepat

diaplikasikan pada berbagai hal lain; oleh karna itu kita bisa temukan

beberapa kolaborasi kata dalam Al-Quran seperti; riih thayyibah

angin yang baik yang membawa sebuah kapal diatas laut, sebagai

lawan riih asifah angin badai (QS. Yunus; 22), begitu juga dengan

balad thayyib daerah dengan tanah yang baik dan subur (QS. Al-

Araf; 58), lalu masakin thayyibah tempat tinggal yang

menyenangkan yang berfungsi sebagai ungkapan untuk tempat tinggal

bagi laki-laki dan perempuan di surga Adn (QS. At-Tawbah; 72).

Kata thayyib -walaupun tidak sering- dapat juga digunakan

dalam pengertian kualitas religius seorang hamba. Adalah sebuah

contoh yang tepat;. orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik

(thayyibiin) oleh Para Malaikat dengan mengatakan (kepada mereka):

"Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan

apa yang telah kamu kerjakan".(QS. An-Nahl; 32). Maka jelaslah

dalam konteks ini thayyib bisa menggantikan muttaqi yaitu orang

yang takut kepada Allah. Sedangkan pada ayat sebelumnya (QS. An-

Nahl; 28) kata thayyibuun dipertentangkan dengan zalimii anfusihim,


yaitu orang yang menganiaya diri mereka sendiri, sepadan dengan

sebuah ungkapan yang telah kita ketahui bersama yaitu kafiruun.

Dalam frase al-kalimah at-thayyibah ucapan yang baik (QS.

Ibrahim; 24) merupakan ungkapan yang menunjukan rumusan Tawhid;

tidak ada tuhan selain Allah. Maka bagaimanapun juga makna baik

disini haruslah berarti baik secara agama atau shalih, karna frase itu

sendiri berhubungan erat dengan al-amal as-shalih perbuatan shalih.

Hal ini sebagaimana ternyatakan dalam QS. Fathir ayat 10;

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah

kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan

yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.

2. Makanan yang thayyib

Penting untuk diperhatikan bahwa dalam ihwal makanan,

sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, merupakan sesuatu yang

paling disorot diantara berbagai benda yang dikelilingi oleh segala

macam larangan. Al-Quran memasukkan ide yang khusus, yaitu

pensucian dengan mengasosiasikan thayyib dengan halal, yang

berarti sah menurut hukum dalam pengertian bebas dari semua

larangan. Maka dalam kasus makanan, thayyib hampir menjadi

sinonim dari halal, sebagaimana yang telah difirmankan Allah SWT;

Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi

mereka?". Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik. (QS. Al-

Maidah; 4). Dari sini kita bisa menggariskan kesimpulan bahwa


makanan yang thayyib seharusnya merupakan makanan yang halal,

bukanlah makanan yang thayyib apabila Allah tidak menghalalkan

makanan tersebut.

Perlu kita garisbawahi juga bahwa kata thayyib sebagian

besar- dipertentangkan dengan khabits, dan sangat signifikan selalu

berkaitan dengan pertentangan antara kata halal-haram; orang-orang

yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati

tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang

menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka

dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka

segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk

dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu

yang ada pada mereka. (QS. Al-Araf; 157).

3. Halal dalam Al-Quran

Bila kita telaah dengan seksama kata halal dalam Al-Quran

selalu dikaitkan dengan kata haram. Jika dikatakan dengan tegas,

haram adalah larangan, sedangkan halal menunjukkan apapun yang

tidak masuk ke dalam larangan, yaitu apapun yang ditetapkan bebas

dari larangan itu. Haram diberlakukan pada tempat, benda, orang dan

tindakkan, lalu pada level selanjutnya haram merupakan sesuatu yang

tidak boleh didekati, tidak boleh disentuh. Kata haram dalam Al-

Quran menciptakan suatu konsepsi moral dan spiritual yang baru

mengenai larangan, dan memberikan sisi etik pada konsep haram yang
dimiliki arab jahiliyyah; Katakanlah: "Tuhanku hanya

mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang

tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa

alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan

sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan

(mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak

kamu ketahui." (QS. Al-Araf; 33)

Dalam Al-Quran terdapat kata lain untuk menyatakan barang

tabu (haram). Untuk salah satu contohnya Al-Quran mendatangkan

kata; suht, sebagaimana yang dimakan oleh orang Yahudi (QS. Al-

Maidah; 62). Walaupun kita tidak bisa mengatakan secara pasti tentang

apa barang larangan yang dimakan orang Yahudi tersebut, sangat

mungkin bahwa hal itu merujuk pada riba. Kita mengetahui bahwa

larangan memakan bunga dari uang yang dipinjamkan ditujukan secara

eksklusif kepada orang Yahudi; Dan disebabkan mereka memakan

riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan

karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil.

Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara

mereka itu siksa yang pedih. (QS. An-Nisa; 161)

Secara semantik kata haram memiliki hubungan mendasar

dengan rijs kekotoran. Dalam QS. Al-Anam; 145, Al-Quran

memaparkan susunan makanan yang terlarang bagi Muslim, yang

mana dalam ayat itu secara eksplisit kekotoran menjadi alasan utama
pelarangan bangkai, darah dan daging babi. Lalu dengan alasan yang

sama kekotoran menjadi alasan pelarangan bagi anggur yang

memabukkan, permainan judi, syirk dan mengundi nasib dengan anak

panah. Dalam QS. Al-Maidah; 90 hal-hal tersebut dilarang karna

dinilai tidak bersih, rijsun min amali asy-syaithan. Kata rijs di tempat

lain diperluas sampai kepada penyakit yang ada dalam hati orang

kafir QS. At-Tawbah 125. Dan pada akhirnya kafir sendiri disebut rijs;

Maka berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya mereka itu

adalah kotor dan tempat mereka Jahannam; sebagai balasan atas apa

yang telah mereka kerjakan. (QS. At-Tawbah; 95)

Lebih jauh lagi, makanan yang baik tidak akan menjadi halal

apabila tidak diproses dengan cara yang telah disyariatkan Allah SWT.

Seperti dalam QS. Al-Anam; 118, bahwa Allah mewajibkan kepada

umat Muslim untuk menyebut nama Allah sebelum menyembelih

binatang-binatang untuk dikonsumsi; Maka makanlah binatang-

binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika

menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya.

Lalu mengenai kata halal, secara semantik hanya sedikit yang

dapat diungkapkan. Namun, pada hakikatnya kata halal menunjuk

kepada segala sesuatu yang tidak terlarang, maka bukanlah sesuatu

yang halal apabila hal itu dilarang. Halal juga merupakan sesuatu

yang baik dan patut disyukuri; Hai orang-orang yang beriman,

makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan


kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-

Nya kamu menyembah. (QS. Al-Baqarah; 172).

4. Hidangan yang halal dan thayyib

Untuk memenuhi kebutuhan primer hamba-Nya, Allah SWT

dengan kasih sayang-Nya menganugerahkan bumi beserta isinya untuk

dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh manusia.

Kendati demikian, bukan berarti kita dapat memanfaatkan bumi

beserta isinya itu dengan mengeksploitasi sebebas-bebasnya. Namun

harus sesuai dengan apa yang digariskan syariat. Terkait dalam hal

makanan dan minuman, tidak semua yang di bumi ini, baik binatang,

tumbuhan maupun benda-benda lainnya itu halal dan

baik (thayyib) bagi manusia. Ada yang memang dibolehkan (halal) dan

ada yang dilarang (haram). Ada yang baik (thayyib), ada pula yang

tidak baik (khabits).

Dalam al-Quran dijelaskan bahwa halal dan thayyib ini

merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar oleh manusia dalam

mengonsumsi makanan dan minuman. Dalam Islam, ketetapan tentang

haram dan halal segala sesuatu, termasuk urusan makanan, adalah hak

absolut Allah dan Rasul-Nya. Seperti yang telah disinggung di atas

bahwa persyaratan halal ini terkait dengan standar syariat yang

melegislasinya, dalam arti boleh secara hukum.

Adapun thayyib berkenaan dengan standar kelayakan, kebersihan dan

efek fungsional bagi manusia. Maka, bisa jadi suatu makanan itu halal
tapi tidak thayyib atau sebaliknya. Maka bila dua syarat ini tidak

terpenuhi dalam suatu makanan atau minuman, semestinya ia tidak

boleh dikonsumsi.

Sebagai contoh, bila di hadapan kita terhidang sepiring gule

kambing yang begitu menggoda baik dari sisi rasa, tampilan, dan

baunya, namun ternyata kambing itu tidak disembelih secara islami,

ataupun kambingnya hasil curian, maka gule kambing tersebut tidak

halal dan kita tidak boleh menyantapnya. Tegasnya, Allah SWT hanya

menyuruh kepada kita makan dan minum dari sesuatu yang betul-betul

halal dan thayyib.

Dari uraian singkat di atas, dapat kita simpulkan bahwa

aktivitas makan dan minum bukan hanya urusan duniawi semata. Akan

tetapi ia sangat terkait dengan urusan agama. Islam menaruh perhatian

yang sangat besar padanya. Secara tegas Islam menyuruh kita untuk

memperhatikan apa yang kita makan dan dari mana kita

mendapatkannya. Kita pun disuruh memakan dan meminum sesuatu

yang benar-benar halal danthayyib dan menghindari yang

buruk (khabaits).

Demikian pula dengan salah satu doa yang biasa dipanjatkan

seorang Muslim dalam kesehariannya,Allahumma inna nasaluka

rizqan wasian halalan thayyiban mubarakan, ya Allah,

sesungguhnya kami memohon kepada-Mu rezeki yang luas, halal

lagi thayyib serta penuh berkah. Wallahu a`lam.


Jadi kita bisa menarik kesimpulan penting. untuk kebaikan

manusia itu sendiri. Makanan bergizi merupakan makanan yang sangat

dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk memperoleh kualitas kesehatan

yang baik. Dan kesehatan yang baik berati sangat berpengaruh

terhadap kualitas akal dan rohaninya.

Untuk dapat menilai suatu makanan thoyyib (bergizi) atau

tidak, harus kita ketahui dulu komposisinya. Bahan makan yang

thoyyib bagi ummat Islam harus terlebih dahulu memenuhi syarat

halal. Bagi seorang muslim tidak ada makanan halal yang baik

(thoyyib). Bahan makanan yang menurut ilmu pengetahuan tergolong

baik, belum tentu ternasuk halal bagi orang muslim, dan juga

sebaliknya makanan yang tergolong halal, belum tentu termasuk baik

menurut ilmu pengetahuan,pada kondisi tertentu. Misalnya otak hewan

ternak adalah halal, tetapi tidak baik untuk dikonsumsi oleh orang

yang menderita penyakit jantung, karena mengandung kolesterol tinggi

yang dapat membahayakan jiwa.

Kata Thayyib dalam ayat al-Quran di atas adalah yang baik,

dalam arti yang memiliki manfaat bagi tubuh. Tidak sekedar halal.

Sebab, ternyata saat ini pun terdapat makanan halal akan tetapi ia tidak

bagus atau tidak memberi manfaat untuk kesehatan. Makanan yang

bermutu di sini dianjurkan agar seseorang itu menjadi kuat tidak

lemah. Sehingga lebih bersemangat dalam beribadah.


Makanya dalam Islam, tidak diperkenankan menggunakan

bahan-bahan pengawet yang tidak mendukung kesehatan manusia.

Sebab itu akan mengurangi kualitas kesehatan makanan tersebut.

(Hasib, Hidayatullah.Com)

Pilihlah makanan yang bergizi, memiliki mutu kesehatan.

Sebab itu menguatkan tubuh. Jika tubuh kuat, maka kita mampu

menunaikan semua kewajiban dengan sempurna. Tidak sekedar bergizi

dan bermutu, akan tetapi juga halal. Cara mendapatkannya pun harus

dengan cara yang halal. Inilah cara sehat secara Islami. Menyehatkan

rohani menguatkan jasmani Bahwa sesuatu yang halalan thayyiban

haruslah berupa sesuatu yang baik, produktif, menyenangkan serta

shalih, bukan menurut ukuran manusia tetapi menurut ukuran Allah

Tuhannya manusia, sebagaimana yang telah Allah terangkan dalam

kitabNya dan sunnah nabiNya. Halal dan thayyib juga harus

berkonotasi terhadap ketaqwaan terhadap Allah, serta harus

dikonsumsi atau digunakan dengan cara yang telah disyariatkan Allah.

Barang haram adalah barang yang kotor, bagi jasmani maupun

bagi rohani. Barang haram tidak hanya akan mengotori dan menyakiti

tubuh fisik, tetapi juga akan mengotori jiwa dan mempengaruhi akhlaq

dan mendatangkan penyakit hati. Sebab itu marilah kita senantiasa

berusaha memperoleh hal-hal yang halal dan menjauhi hal-hal yang

haram. Wallahu alam bishowab.


C. Makanan dan Minuman yang halal dan haram

1. Pengertian Halal

Kata halal berasal dari bahasa Arab ()yang berarti

disahkan,diizinkan,dan diperbolehkan. Pada prinsipnya semua

makanan dan minuman yang asd di dunia ini halal semua untuk

dimakan dan diminum kecuali ada larangan dari Allah yaitu yang

terdapat dalam Al Quran dan yang terdapat dalam hadist Nabi

Muhammad SAW.Tiap benda di permukaan bumi menurut hukum

asalnya adalah halal kecuali kalau ada larangan secara syari. Dalam

sebuah hadist Rosulullah SAW pernah ditanyapara sahabat tentang

hukum minyak sapi (samin), keju, kulit binatangbeserta bulunya

untuk perhiasan maupun untuk tempat duduk.

2. Pengertian Haram

Kata haram berasal dari bahasa Arab ()yang berarti larangan

(dilarang oleh agama). Termasuk di antara keluasan dan kemudahan

dalam syariat Islam, Allah - Subhanahu wa Taala- menghalalkan

semua makanan yang mengandung maslahat dan manfaat, baik yang

kembalinya kepada ruh maupun jasad, baik kepada individu

maupun masyarakat. Demikian pula sebaliknya Allah mengharamkan

semua makanan yang memudhorotkan atau yang mudhorotnya lebih

besar daripada manfaatnya. Hal ini tidak lain untuk menjaga kesucian

dan kebaikan hati, akal, ruh, dan jasad, yang mana baik atau buruknya

keempat perkara ini sangat ditentukan - setelah hidayah dari Allah-


dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia yang kemudian

akan berubah menjadi darah dan daging sebagai unsur penyusun hati

dan jasadnya.

3. Jenis Makanan Dan Minuman Halal

Prinsip pertama yang ditetapkan Islam, pada asalnya : segala

sesuatu yang diciptakan Allah itu halal.tidak ada yang haram, kecuali

jika ada nash (dalil) yang shahih (tidak cacat periwayatannya) dan

sharih (jelas maknanya) yang mengharamkannya

Artinya : Dialah yang menciptakan untuk kalian segala sesuatu di

bumi. (Al-Baqarah:29)

Makanan yang enak dan lezat belum tentu baik untuk tubuh, dan

boleh jadi makanan tersebut berbahaya bagi kesehatan. Selanjutnya

makanan yang tidak halal bisa mengganggu kesehatan rohani.

Daging yang tumbuh dari makanan haram, akan dibakar di hari kiamat

dengan api neraka.

1) Makanan halal

a) Makanan halal dari segi jenis ada tiga :

(1) Berupa hewan yang ada di darat maupun di laut,

seperti kelinci, ayam, kambing, sapi, burung, ikan.

(2) Berupa nabati (tumbuhan) seperti padi, buah-buahan,

sayur-sayuran dan lain- lain.

(3) Berupa hasil bumi yang lain seperti garam semua.


b) Makanan yang halal dari cara memperolehnya perolehnya, yaitu

(1) Halal makanan dari hasil bekerja yang diperoleh dari

usaha yang lain seperti bekerja sebagai buruh, petani,

pegawai, tukang, sopir, dll.

(2) Halal makanan dari mengemis yang diberikan secara

ikhlas, namun pekerjaan itu halal , tetapi dibenci Allah

seperti pengamen.

(3) Halal makanan dari hasil sedekah, zakat, infak, hadiah,

tasyakuran, walimah, warisan, wasiat, dll.

(4) Halal makanan dari rampasan perang yaitu makanan

yang didapat dalam peperangan (ghoniyah).

2) Minuman Halal

Minuman yang halal pada dasarnya dapat dibagi menjadi 4 bagian :

a) Semua jenis aiar atau cairan yang tidak membahayakan

bagi kehidupan manusia, baik membahayakan dari segi

jasmani, akal, jiwa, maupun aqidah.

b) Air atau cairan yang tidak memabukkan walaupun

sebelumnya pernah memabukkan seperti arak yang berubah

menjadi cuka.

c) Air atau cairan itu bukan berupa benda najis atau benda

suci yang terkena najis.


d) Air atau cairan yang suci itu didapatkan dengan cara-cara

yang halal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama

Islam.

4. Jenis Makanan dan Minuman Haram

Banyak terjadi salah sangka dari masyarakat bahwa menjari rezeki

yang haram saja sulit, apalagi yang halal. Hal itu malah memicu

banyak kesalahapahaman tentang halal dan haram suatu rezeki.

Akhirnya, banyak masyarakat menghalalkan segala cara untuk mencari

rezeki, padahal belum tentu halal. Kita sebagai orang bertaqwa

hendaknya menghindari hal itu dengan banyak mempelajari Al Quran

dan Hadist tentang pengertian halal dan haram.

1) Makanan Yang Diharamkan

Haram artinya dilarang, jadi makanan yang haram adalah

makanan yang dilarang oleh syara untuk dimakan. Setiap

makanan yang dilarang oleh syara pasti ada bahayanya dan

meninggalkan yang dilarang syara pasti ada faidahnya dan

mendapat pahala.

Haramnya makanan secara garis besar dapat dibagi dua macam :

a) Haram aini, ditinjau dari sifat benda seperti daging babi,

darang, dan bangkai. Haram karena sifat tersebut, ada tiga :

(1) Berupa hewani yaitu haramnya suatu makanan yang berasal

dari hewan seperti daging babi, anjing, ulat, buaya, darah

hewan itu, nanah dll.


(2) Berupa nabati (tumbuhan), yaitu haramnya suatu makanan

yang berasal dari tumbuhan seperti kecubung, ganja, buah,

serta daun beracun. Minuman buah aren, candu, morfin, air

tape yang telah bertuak berasalkan ubi, anggur yang

menjadi tuak dan jenis lainnya yang dimakan banyak

kerugiannya.

(3) Benda yang berasal dari perut bumi, apabila dimakan orang

tersebut, akan mati atau membahayakan dirinya, seperti

timah, gas bumi. Solar, bensin, minyak tanah, dan lainnya.

b) Haram sababi, ditinjau dari hasil usaha yang tidak

dihalalkan olah agama. Haram sababi banyak macamnya,yaitu :

(1) Makanan haram yang diperoleh dari usaha dengan cara

dhalim, seperti mencuri, korupsi, menipu, merampok, dll.

(2) Makanan haram yang diperoleh dari hasil judi, undian

harapan, taruhan, menang togel, dll.

(3) Hasil haram karena menjual makanan dan minuman haram

seperti daging babi, , miras, kemudian dibelikan makanan dan

minuman.

(4) Hasil haram karena telah membungakan dengan riba, yaitu

menggandakan uang.

(5) Hasil memakan harta anak yatim dengan boros / tidak benar.

2) Minuman Yang Diharamkan


a) Semua minuman yang memabukkan atau apabila diminum

menimbulkan mudharat dan merusak badan, akal, jiwa,

moral dan aqidah seperti arak, khamar, dan sejenisnya.

Allah berfirman : Mereka bertanya kepadamu tentang

khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat

dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa

keduanya lebih besar dari manfaatnya. (QS. Al-Baqarah :

219)

Dalam ayat lain Allah berfirman : Hai orang-orang yang

beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi,

(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah,

adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah

perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

(QS. Al-Maidah : 90)

Nabi SAW bersabda : Sesuatu yang memabukkan dalam

keadaan banyak, maka dalam keadaan sedikit juga tetap

haram. (HR An-Nasai, Abu Dawud dan Turmudzi).

b) Minuman dari benda najis atau benda yang terkena najis.

c) Minuman yang didapatkan dengan cara-cara yang tidak halan

atau yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Pada prinsipnya segala minuman apa saja halal untuk diminum

selama tidak ada ayat Al Quran dan Hadist yang

mengharamkannya. Bila haram, namun masih dikonsumsi dan


dilakukan, maka niscaya tidak barokah, malah membuat penyakit

di badan.

3) Minuman yang haram secara garis besar, yakni :

a) Berupa hewani yang haramnya suatu minuman dari hewan,

seperti darah sapi, darah kerbau, bahkan darah untuk obat

seperti darah ular, darah anjing, dan lain-lain.

b) Berupa nabati atau tumbuhan seperti tuak dari buah aren,

candu, morfin, air tape bertuak dari bahan ubi, anggur telah

bertuak, dan lain sebagainya.

c) Berupa berasal dari perut bumi yaitu : haram diminum sepeti

solar, bensin, spiritus, dan lainnya yang membahayakan.

D. Fenomena Makanan Di Indonesia


1. Pengertian Makanan Siap Saji dan kandungannya
Makanan siap saji
Makanan siap saji yang dimaksud adalah jenis makanan yang
dikemas, mudah disajikan, praktis, atau diolah dengan cara sederhana.
Makanan tersebut umumnya diproduksi oleh industri pengolahan
pangan dengan teknologi tinggi dan memberikan berbagai zat
aditif untuk mengawetkan dan memberikan cita rasa bagi produk
tersebut. Makanan siap saji biasanya berupa lauk pauk dalam kemasan,
mie instan, nugget, atau juga corn flakes sebagai makanan untuk
sarapan.
Zat aditif makanan
Zat aditif adalah bahan kimia yang dicampurkan ke dalam
makanan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas, menambahkan
rasa dan memantapkan kesegaran produk tersebut.
Kemasan makanan
Kemasan makanan adalah wadah atau tempat makanan agar
kualitas makanan tetap baik, meningkatkan penampilan produk, dan
memudahkan transportasi.
Jenis Zat Aditif dan Kemasan Makanan
Menurut Majeed (1996) zat aditif dapat dibagi menjadi beberapa
kelompok berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu:
1) agen emulsi yaitu aditif yang berbahan lemak dan air contohnya
lecitin
2) agen penstabil dan pemekat contohnya alginat dan gliserin,
3) agen penghalang kerak untuk mencegah penggumpalan,
4) agen peningkatan nutrisi contohnya berbagai vitamin,
5) agen pengawet contohnya garam nitrat dan nitrit,
6) agen antioksidan contohnya vitamin C dan E ; BHT (Butylated
Hydroxy- Toluen) dan BHA (Butylated Hydroxy-Anisol),
7) agen pengembang untuk roti dan bolu,
8 ) agen penyedap rasa contoh monosodium glutamat (MSG),
9) bahan pewarna.
Selain kesembilan zat aditif diatas juga terdapat bahan lain yang
ditambahkan dalam makanan diantaranya:
1) agen peluntur,
2) lemak hewani,
3) bahan pengasam,
4) bahan pemisah,
5) pati termodifikasi,
6) alkohol, dan
7) gelatin.
Disamping bahan-bahan yang telah disebutkan diatas yang
menggunaan, ukuran dan aturannya sudah ditentukan sesuai Standar
Nasional Indonesia (SNI), yang patut kita waspadai adalah adanya
pewarna maupun pengawet yang ditambahkan yang penggunaannya
bukan untuk makanan seperti, borak dan formalin sebagai pengawet yang
telah dilaporkan oleh Suriawiria (2003). Dimana disinyalir 86,2% mie
basah yang terdapat dipasar dan swalayan mengandung formalin. Selain
itu warna merah pada terasi 50% adalah menggunakan pewarna
rhodamin B yang seharusnya digunakan untuk tekstil.Selain itu rhodamin
juga biasa diberikan dalam sirop untuk menimbulkan warna merah.
Kemasan makanan siap saji
Sampai saat ini menurut Ketua Federasi Pengemasan Indonesia
Hengky Darmawan di Indonesia sistem pengemasannya baru 10% yang
sesuai aturan SNI.Pemilihan jenis kemasan harus memperhatikan food
grade dan food safety (Kompas, 2003).
Beberapa faktor yang mempengaruhi produsen dalam memilih
kemasan adalah tampil menarik, mampu melindungi produk yang
dikemas, dan pertimbangan ekonomis. Bahan yang digunakan selama ini
berupa plastik atau styrofoam (pembungkus mie instant dan nugget),
PVC (polyvinyl clorida untuk pembungkus kembang gula), kaleng
(makanan buah, susu, makanan lauk-pauk).

2. Makanan siap saji menurut pandangan islam


Makanan siap saji merupakanan makanan yang mudah dijumpai
di berbagai tempat, makanan siap saji juga sering menjadi pilihan
setiap orang karena makanan ini mudah diolah dan tidak memerlukan
banyak waktu untuk membuatnya, sebagai konsumen yang ingin serba
instan terkadang kurang cermat melihat atau mencari kandungan
bahan yang terdapat dalam makanan siap saji,hal ini menyebabkan
kosumen tidak mengetahui kandungan dalam makanan tersebut
apakah halal atau tidak.Dalam syariat Islam, Allah -Subhanahu wa
Taala- menghalalkan semua makanan yang mengandung maslahat
dan manfaat, baik yang kembalinya kepada ruh maupun jasad, baik
kepada individu maupun masyarakat. Demikian pula sebaliknya Allah
mengharamkan semua makanan yang memudhorotkan atau yang
mudhorotnya lebih besar daripada manfaatnya. Hal ini tidak lain untuk
menjaga kesucian dan kebaikan hati, akal, ruh, dan jasad, yang mana
baik atau buruknya keempat perkara ini sangat ditentukan -setelah
hidayah dari Allah- dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh
manusia yang kemudian akan berubah menjadi darah dan daging
sebagai unsur penyusun hati dan jasadnya. Karenanya Nabi -
Shallallahu alaihi wasallam- pernah bersabda: Daging mana saja
yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih pantas
untuknya.
Makanan yang haram dalam Islam ada dua jenis:
Yang diharamkan karena dzatnya. Maksudnya asal dari
makanan tersebut memang sudah haram, seperti: bangkai, darah, babi,
anjing, khamar, dan selainnya.

Yang diharamkan karena suatu sebab yang tidak berhubungan


dengan dzatnya. Maksudnya asal makanannya adalah halal, akan
tetapi dia menjadi haram karena adanya sebab yang tidak berkaitan
dengan makanan tersebut. Misalnya: makanan dari hasil mencuri,
upah perzinahan, sesajen perdukunan, makanan yang disuguhkan
dalam acara-acara yang bidah, dan lain sebagainya.

E. Sertifikasi Halal MUI


prosedur dan mekanisme penetapan fatwa halal, secara singkat dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. MUI memberikan pembekalan pengetahuan kepada para auditor
LP.POM tentang benda-benda haram menurut syariat Islam.
Dalam hal ini benda haram li-zatih dan haram li-ghairih yang karena
cara penanganannya tidak sejalan dengan syariat Islam. Dengan arti
kata, para auditor harus mempunyai pengetahuan memadai tentang
bendabenda haram tersebut.
2. Para auditor melakukan penelitian dan audit ke pabrik-pabrik
(perusahaan) yang meminta sertifikasi halal, pemeriksaan yang
dilakukan meliputi :
a. Pemeriksaan secara seksama terhadap bahan-bahan produk, baik
bahan baku maupun bahan tambahan (penolong).
b. Pemeriksaan terhadap bukti-bukti pembelian bahan produk.
3. Bahan-bahan tersebut kemudian diperiksa di laboratorium, terutama
bahan-bahan yang dicurigai sebagai benda haram atau mengandung
benda haram (najis), untuk mendapat kepastian
4. Pemeriksaan terhadap suatu perusahaan tidak jarang dilakukan lebih
dari satu kali, dan tidak jarang pula auditor (LP.POM) menyarankan
bahkan mengharuskan agar mengganti suatu bahan yang dicurigai atau
diduga mengandung bahan yang haram (najis) dengan bahan yang
diyakini kehalalannya atau sudah bersertifikat halal dari MUI atau dari
lembaga lain yang dipandang berkompeten, jika perusahaan tersebut
tetap menginginkan mendapat sertifikat halal dari MUI.
5. Hasil pemeriksaan dan audit LP.POM tersebut kemudian dituangkan
dalam sebuah Berita Acara, dan kemudian Berita Acara itu diajukan ke
Komisi Fatwa MUI untuk disidangkan.
6. Dalam Sidang Komisi Fatwa, LP.POM menyampaikan dan
menjelaskan isi Berita Acara, dan kemudian dibahas secara teliti dan
mendalam oleh sidang komisi.
7. Suatu produk yang masih mengandung bahan yang diragukan
kehalalannya, atau terdapat bukti-bukti pembelian bahan produk yang
dipandang tidak transparan oleh Sidang Komisi, dikembalikan kepada
LP.POM untuk dilakukan penelitian atau auditing ulang ke perusahaan
bersangkutan.
8. Sedangkan produk yang telah diyakini kehalalannya oleh Sidang
Komisi, diputuskan fatwa halalnya oleh Sidang Komisi.
9. Hasil Sidang Komisi yang berupa fatwa halal kemudian dilaporkan
kepada Dewan Pimpinan MUI untuk di-tanfz-kan dan keluarkan Surat
Keputusan Fatwa Halal dalam bentuk Sertifikat Halal. Untuk
menjamin kehalalan suatu produk yang telah mendapat Sertifikat
Halal, MUI menetapkan dan menekankan bahwa jika sewaktu waktu
ternyata diketahui produk tersebut mengandung unsur-unsur bahan
haram (najis), MUI berhak mencabut Sertifikat Halal produk
bersangkutan. Disamping itu, setiap produk yang telah mendapat
Sertifikat Halal diharuskan pula memperhatikan atau memperpanjang
Sertifikat halalnya setiap dua tahun, dengan prosedur dan mekanisme
yang sama. Jika, setelah dua tahun terhitung sejak berlakunya
Sertifikat Halal, perusahaan bersangkutan tidak mengajukan
permohonan (perpanjangan) Sertifikat Halal perusahaan itu dipandang
tidak lagi berhak atas sertifikat Halal, dan kehalalan produk-produknya
diluar tanggung jawab MUI. Bagi masyarakat yang ingin mendapat
informasi tentang produk (perusahaan) yang telah mendapat Sertifikat
Halal MUI dan masa keberlakuannya, LP.POM MUI telah
menerbitkan Jurnal Halal.
Hasil kajian yang memerlukan fatwa MUI disampaikan kepada
MUI untuk mendapat fatwa halal. Hasil kajian yang memerlukan fatwa
MUI dan yang telah mendapat fatwa halal dari MUI diterbitkan
sertifikat halalnya dan dikukuhkan oleh Menteri Agama. Adapun
prosedurnya sebagai berikut :
a. Sistem Sertifikat Halal
Menteri Agama melalui lembaga pemeriksa halal menyerahkan
sertifikat halal kepada pemohon dengan tembusan kepada
badan pengawas obat dan makanan. Sertifikat halal berlaku
selama dua tahun dan dapat diperbarui untuk jangka waktu
yang sama sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Menteri Keuangan atas Bagian proyek sarana dan
prasarana produk halal direktorat Jenderal bimbingan
masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Sistem dan
Prosedur Penetapan Fatwa Produk Halal Majelis Ulama
Indonesia,
Menteri Agama menetapkan struktur biaya sertifikasi halal
yang sama terhadap pemohon. Sertifikat halal dapat dicabut
apabila pelaku usaha pemegang sertifikat yang bersangkutan
melakukan pelanggaran dibidang halal setelah diadakan
pemeriksaan oleh lembaga pemeriksa halal dan mendapat
rekomendasi dari KHI untuk pencabutan sertifikat halal.
Setiap pelaku usaha yang telah mendapatkan sertifikat halal
terhadap produknya mencantumkan keterangan atau tulisan
halal dan nomor sertifikat pada label setiap kemasan produk
dimaksud.
Bentuk, warna dan ukuran tentang keterangan atau tulisan
halal dan nomor registrasi halal ditetapkan oleh Menteri
Agama. Produk pangan, obat, kosmetika dan produk lain
berasal dari luar negeri yang dimasukkan ke Indonesia berlaku
ketentuan sebagaimana diatur dalam keputusan ini.
Sertifikat halal yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi
luar negeri dapat diakui setelah melakukan perjanjian saling
pengakuan yang berlaku timbal balik (re-ciprocal), penilaian
terhadap lembaga sertifikasi, dan tempat proses produksi.
Perjanjian tersebut dilaksanakan oleh Menteri Agama dan
badan yang berwenang di luar negeri sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.

b. Biaya
Biaya pemeriksaan, sertifikat halal, dan survailen ditanggung
oleh pelaku usaha yang mengajukan permohonan. Besar biaya
pemerikasaan dan biaya sulvailen ditetapkan oleh lembaga
pemeriksa halal, sedangkan biaya sertifikasi ditetapkan sesuai
dengan peraturan yang berlaku. Biaya sertifikasi disetorkan ke
kas negara.

c. Pembinaan, Pengawasan Dan Pelaporan


Pembinaan pelaku usaha di bidang penerapan sistem jaminan
halal dilaksanakan oleh Departemen Agama. Pengawasan
terhadap produksi, impor dan peredaran produk halal
dilaksanakan oleh instansi yang berwenang.

d. Landasan Hukum
1. UU No. 7/1996 tentang Pangan
Didalam UU No. 7 tahun 1996 beberapa pasal berkaitan
dengan masalah kehalalan produk pangan, yaitu dalam Bab
label dan iklan pangan pasal 30, 34, dan 35.
2. PP No. 69/1999 tentang Label dan Iklan Pangan
Ada dua pasal yang berkaitan dengan sertifikasi halal dalam
PP No. 69 ini yaitu pasal 3, ayat (2), pasal 10 dan 11.
3. Kepmenkes No. 924/Menkes/SK/VIII/1996 tentang
perubahan atas Kepmenkes No. 82/Menkes/SK/I/1996
tentang Pencantuman Tulisan Halal pada Label
Makanan.