Anda di halaman 1dari 11

BAB I

LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. E
Umur : 10 tahun
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Magelang
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Status pernikahan : Belum menikah
Pekerjaan : Pelajar
Tanggal pemeriksaan : 17 Mei 2017
2. ANAMNESIS
Anamnesa dilakukan hari senin, Tanggal 17 Mei 2017 secara autoanamnesa
di poli THT RST dr. Soedjono magelang.
Keluhan Utama
Pasien datang ke Poliklinik THT dengan keluhan utama nyeri pada telinga
kiri.
Keluhan tambahan
Pasien juga mengeluhkan telinga kiri terasa penuh dan pendengaran telinga
kiri sedikit berkurang, sebelumnya pasien mengalami demam disertai batuk
pilek.
Riwayat penyakit sekarang
Sebelumnya pasien mengalami demam yang dialami sejak 5 hari yang lalu,
disertai dengan batuk pilek sejak 5 hari yang lalu. Pasien sudah berobat ke
Puskesmas dan keluhan demam serta batuk pilek sudah tidak ada. Setelah itu
baru timbul keluhan nyeri telinga kiri sejak 1 hari yang lalu. Telinga kiri
terasa penuh. Pasien menyangkal adanya cairan yang keluar dari telinga.
Pasien juga mengeluhkan pendengaran telinga kiri sedikit menurun.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit serupa : disangkal
Riwayat penyakit congenital : disangkal

Riwayat operasi telinga : disangkal

Riwayat paparan bising : disangkal

Riwayat penggunaan obat ototoksik : disangkal

Riwayat batuk pilek : 5 hari yang lalu

Riwayat alergi : disangkal

Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada yang mengalami keluhan serupa.
Tidak ada yang memiliki riwayat infeksi saluran nafas atas.
Riwayat alergi disangkal.
Riwayat pengobatan
Sudah pernah berobat di Puskesmas diberikan obat analgetik antipiretik.
Keluhan demam dan batuk pilek sudah berkurang.
Riwayat Sosial Ekonomi
Kesan ekonomi cukup pasien didukung dengan BPJS.
3. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran/GCS : Compos mentis
Status Gizi : Baik
Kooperatif : Kooperatif

Status Lokalis (Telinga, Hidung, Tenggorokan)


a. Kepala dan leher :
Kepala : mesocephale
Wajah : simetris
Leher : pembesaran kelenjar limfe (-)
b. Gigi dan Mulut :
Gigi geligi : normal
Lidah : normal, kotor (-), tremor (-)
Pipi : bengkak (-)

c. Telinga :
Kanan Kiri
Auricula Bentuk normal Bentuk normal
Nyeri tarik (-) Nyeri tarik (-)
Tragus pain (-) Tragus pain (-)
Pre-auricular Bengkak (-) Bengkak (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Fistula (-) Fistula (-)
Retro-auricular Bengkak (-) Bengkak (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Mastoid Bengkak (-) Bengkak (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
CAE Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Serumen (-) Serumen (-)
Sekret (-) Sekret (-)
Membran timpani Mengkilat Hiperemis pada daerah
Refleks cahaya (+)
marginal (tepi)
Perforasi (-)
Ref. Cahaya (+) suram
Retraksi (-)
Oedem (-) Perforasi (-)
Retraksi (-)
Oedem (+)

d. Hidung dan Sinus Paranasal :


Luar Kanan Kiri
Bentuk Normal Normal
Sinus Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Inflamasi/tumor (-) (-)
Rhinoskopi anterior Kanan Kiri
Sekret (-) (-)
Mukosa Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Konka inferior Hipertrofi (-) Hipertrofi (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Tumor (-) (-)
Septum Deviasi (-)
Massa (-) (-)

e. Faring :
Orofaring Kanan Kiri
Mukosa Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Dinding faring Granular (-) Granular (-)
Palatum mole Ulkus (-) Ulkus (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Arcus laring Simetris (+) Simetris (+)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Uvula Ditengah
Edema (-)
Tonsil :
- Ukuran T0 T0
- Permukaan Tidak rata Tidak rata
- Warna Hiperemis (-) Hiperemis (-)
- Kripte Melebar (-) Melebar (-)
- Detritus (-) (-)
.
4. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan dengan garpu tala (tes Rinne, tes Weber, tes Swabach)
Pemeriksaan audiometri
Darah lengkap
5. RINGKASAN
Pasien datang dengan keluhan otalgia (+) telinga kiri, pendengaran

berkurang (+), telinga kiri terasa penuh. Pasien memiliki riwayat demam (+),

batuk pilek (+) sebelumnya yaitu sejak 5 hari yang lalu, tetapi keluhan tersebut

telah reda setelah diobati di puskesmas. Pada pemeriksaan THT didapatkan

membran timpani kiri Hiperemis pada daerah marginal (tepi) dan reflek Cahaya

(+) suram.

6. DIAGNOSIS BANDING
Otitis Media Akut Stadium Hiperemis Auris Sinistra
Otitis Media Efusi Auris Sinistra
7. DIAGNOSA SEMENTARA
Otitis Media Akut Stadium Hiperemis Auris Sinistra
8. TERAPI
MEDIKAMENTOSA
Dekongestan hidung topical HCl Efedrin 0,5% dalam larutan

fisiologis

Kortikosteroid Deksametasone oral 0,01mg/kgBB/ 3x1 hari

Analgetik

AntibiotikAmoxycilin oral 40mg/kgBB/3x1 hari

EDUKASI

Memberitahukan pasien untuk jangan mengorek-ngorek telinga


Telinganya tidak boleh kemasukan air

9. KOMPLIKASI

Otitis Media Kronis

Perforasi membrane timpani

Timpanosklerosis

Mastoiditis akut

Paresis dan paralisis n.facialis

1. PROGNOSA
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad sanam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : ad bonam
BAB II
PEMBAHASAN

1. TEMUAN DARI HASIL ANAMNESA DAN PEMERIKSAAN


Anamnesa dan pemeriksaan fisik
Dari anamnesa didapatkan seorang anak perempuan usia 10 tahun datang
dengan keluhan nyeri pada telinga kiri, telinga terasa penuh dan pendengaran
telinga kiri sedikit berkurang yang didahului oleh demam, batuk dan pilek. Dari
pemeriksaan fisik telinga kiri didapatkan membran timpani telinga kiri hiperemis.
Hal ini menunjukan bahwa telah terjadi reaksi peradangan pada telinga tengah
yang didahului dengan adanya faktor predisposisi infeksi pada telinga tengah
yaitu adanya sumbatan pada tuba eustachius akibat infeksi saluraan nafas atas,
sehingga menimbulkan gejala-gejala yang dikeluhkan pasien.

2. Otitis Media Akut


Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring
dan faring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba
ke dalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba eustachius, enzim dan antibodi.
Otitis media akut terjadi karena factor pertahanan tubuh ini terganggu.
Sumbatan tuba eustachius merupakan factor penyebab utama dari otitis media.
Karena fungsi tuba eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam
telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah
dan terjadi peradangan.
Dikatakan juga, bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran
nafas atas. Pada anak, makin sering anak terserang infeksi saluran nafas, makin
besar kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh
karena tuba eustachiusnya pendek, lebar dam letaknya agak horizontal.
Patofisiologi
Kuman penyebab utama pada OMA ialah bakteri piogenik, seperti
Streptokokus hemolitikus, stafilokokus aureus, pneumokokus. Selain itu kadang-
kadang ditemukan juga hemofilus influenza, escherichia colli, streptokokus
anhemolitikus, proteus vulgaris dan pseudomonas aurugenosa. Hemofillus
influenza sering ditemukan pada anak yang berusia di bawah 5 tahun. Respon dari
infeksi tersebut adalah pembentukan reaksi inflamasi akut ditandai dengan
vasodilatasi yang khas, eksudasi, invasi leukosit, dan respon imunologi lokal
didalam rongga telinga tengah, dimana hal tersebut menghasilkan gambaran klinis
dari otitis media akut. Selain diakibatkan oleh bakteri OMA juga bisa disebabkan
oleh infeksi virus, ataupun saling berkaitan. Dimana Infeksi virus yang menyerang
dan merusak lapisan mukosa saluran pernafasan dapat mempermudah bakteri
menjadi pathogen di nasofaring, tuba eustachius dan rongga telinga bagian tengah.
Stadium Otitis Media Akut
Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5
stadium. Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membrane timpani yang
diamati melalui liang telinga luar.
1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Tanda adanya oklusi tuba eustachius ialah gambaran retraksi membran
timpani akibat terjadinya tekanan negative di dalam telinga tengah, akibat
absorbs udara. Kadang-kadang membrane timpani tampak normal (tidak
ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi,
tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis
media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi. Gejala klinisnya
berupa pendengaran yang berkurang, nyeri telinga.
2. Stadium Hiperemis (Stadium Pre-Supurasi)
Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di
membrane timpani atau seluruh membrane timpani tampak hiperemis serta
edem. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang
serosa sehingga sukar terlihat. Gejala klinisnya berupa nyeri telinga,
gangguan tidur, pendengaran berkurang, serta dapat disertai tinitus dan
demam.
3. Stadium Supurasi
Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel
superficial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani,
menyebabkan membrane timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga
luar.
Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat,
serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat.
Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi
iskemia, akibat tekanan pada kepiler-kepiler, serta timbul tromboflebitis
pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini
pada membran timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan
berwarna kekuningan. Di tempat ini akan terjadi rupture.
Bila tidak dilakukan insisi membrane timpani (miringotomi) pada stadium
ini, maka kemungkinan besar membrane timpani akan rupture dan nanah
keluar ke liang telinga luar.
Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup kembali,
sedangkan apabila terjadi rupture, maka lubang tempat rupture tidak
mudah tertutup kembali.
4. Stadium Perforasi
Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau
virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi rupture membrane timpani
dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak
yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan anak
dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut dengan otitis media akut
stadium perforasi.
5. Stadium Resolusi
Bila membrane timpani tetap utuh, maka keadaan membrane timpani
perlahan-lahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka
sekret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik
atau virulansi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa
pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan
sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul. OMA dapat
menimbulkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila secret menetap di
kavum timpani tanpa terjadinya perforasi.
Gejala Klinik OMA
Gejala klinik OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien.
Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam
telinga, keluha di samping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat
batuk pilek sebelumnya.
Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, selain rasa nyeri
terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang
dengar. Pada bayi dan anak kecil gejala khas OMA ialah suhu tubuh tinggi dapat
sampai 39.5C (pada stadium supurasi), anak gelisah dan sukar tidur, tiba-tiba
anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang dan kadang-kadang anak
memegang telinga yang sakit. Bila terjadi rupture membrane timpani, maka secret
mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang.

Terapi
Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya.
a. Pada stadium oklusi terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba
eustachius, sehingga tekanan negative di telinga tengah hilang. Untuk ini
diberikan obat tetes hidung, HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik
(anak<12 tahun) atau HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik yang
berumur di atas 12 tahun dan pada orang dewasa. Selain itu sumber infeksi
harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab penyakit adalah
kuman, bukan oleh virus atau alergi.
b. Terapi pada stadium pre-supurasi adalah antibiotika, obat tetes hidung dan
analgesika. Antibiotika yang dianjurkan ialah golongan penisilin atau
ampisilin. Terapi awal diberikan penisilin intramuscular agar didapatkan
konsentrasi yang adekuat di dalam darah, sehingga tidak terjadi mastoiditis
yang terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa, dan
kekambukan. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal selama 7 hari.
Bila pasien alergi terhadap penisilin, maka diberikan eritromisin. Pada
anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50-100 mg/kg BB perhari, dibagi
dalam 4 dosis,atau amoksisilin 40mg/kg BB/hari dibagi 3 dosis, atau
eritromisin 40 mg/kg BB/ hari.
c. Pada stadium supurasi, selain diberikan antibiotika, idealnya harus disertai
dengan miringitomi, bila membrane timpani masih utuh. Dengan
miringotoni gejala-gejala klinis lebih cepat hilang dan rupture dapat
dihindari.
d. Pada stadium perforasi sering terlihat secret banyak keluar dan kadang
terlihat secret keluar secara berdenyut. Pengobatan yang diberikan adalah
obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat.
Biasanya secret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam
waktu 7-10 hari.
e. Pada stadium resolusi, maka membrane timpani berangsur normal
kembali, secret tidak ada lagi dan perforasi membrane timpani menutup.
Bila tidak terjadi resulusi biasanya akan tampak secret mengalir di liang
telinga luar melalui perforasi di membrane timpani. Keadaan ini dapat
disebabkan karena berlatjutnya edema mukosa telinga tengah. Pada
keadaan demikian, antibiotika dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila 3
minggu setelah pengobatan secret masih tetap banyak, kemungkinan telah
terjadi mastoiditis.