Anda di halaman 1dari 6

Reovirus (Respiratory Enteric Orphan Virus)

Disusunoleh:
Dimas Prasetyo B94164213

Kelompok E
PPDH Gelombang II Tahun 2016/2017

Dosen Penanggung Jawab:


Prof Drh Ekowati Handhayani, MS, PhD, APVet

Dosen Pembimbing Nekropsi:


Dr Drh Wiwin Winarsih, MSi, APVet

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
Etiologi

Reovirus (Respiratory Enteric Orphan Virus) merupakan anggota genus


Orthoreovirus didalam famili Reoviridae. Reovirus bereplikasi didalam
sitoplasma dan tidak memiliki pembungkus dengan bentuk simetris icosahedral.
Diameter virus 75 nm dan densitas pada cesium chloride 1,36-1,37 g/mL (Saif et
al. 2008). Virus ini merupakan virus yang dapat ditemukan pada peternakan dan
tidak muncul sebagai penyakit yang berbahaya, namun reovirus dapat ditemukan
diberbagai jaringan dan organ pada ayam yang menyebabkan berbagai macam
penyakit seperti viral arthritis, runting stunting syndrome, immunosupresi dan
malabsorbsi. Tingkat keparahan penyakit tergantung dari setelah infeksi reovirus
seperti umur maupun status kekebalan Hewan yang rentan rerinfeksi oleh
reovirus adalah ayam broiler berusia muda dengan tingkat mortalitas yang tinggi
(Calnek 1997).
Infeksi reovirus pada ayam dapat menyebabkan dua manifestasi yang
berbeda yaitu radang sendi (tenosinovitis) dan sindroma kekerdilan. Peran
reovirus sebagai penyebab tenosinovitis sudah tidak diragukan lagi, namun
perannya pada sindroma kekerdilan atau malabsorpsi masih dipertanyakan. Hal ini
disebabkan infeksi tunggal reovirus menunjukkan hasil yang tidak konsisten
(Wahyuwardani et al. 2005).
Faktor ekonomis yang disebabkan infeksi reovirus dikaitkan dengan
meningkatnya mortalitas, penurunan performans ayam seperti kehilangan bobot
badan akibat buruknya konversi pakan ayam, sehingga terjadinya penurunan biaya
yang didapatkan oleh peternak. Salah satu cara untuk mendiagnosa infeksi
reovirus pada ayam adalah viral arthritis yang ditandai adanya eksudat serous
pada persendian (Calnek 1997).

Patogenesa

Penularan reovirus dapat terjadi melalui rute vertikal secara transovari


ataupun kontaminasi pada kerabang telur. Penularan secara horizontal juga dapat
terjadi melalui per oral, respirasi dan luka pada kulit (Jones 2008). Reovirus
dikeluarkan dari saluran respirasi dan pencernaan setelah ayam 10 hari terpapar
virus ini, sehingga kontaminasi fekal menjadi sumber utama penebaran infeksi
reovirus. Ayam DOC lebih mudah terinfeksi reovirus secara rute inhalasi
dibandingkan rute oral (Roessle 1986).
Reovirus juga ditemukan pada embrio ayam yang induknya telah
diinfeksikan reovirus. Reovirus ditemukan pada hati, hock joint maupun saluran
pencernaan dari embrio ayam. Hal ini menunjukan reovirus dapat menginfeksi
dengan rute vertikal (Menendez et al. 1975). Beberapa agen penyakit seperti
Mycoplasma synoviae, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, infectious bursal
disease virus, chicken anemia virus serta Eimeria, baik sebagai agen primer atau
sekunder dilaporkan bersinergisme dalam menyebabkan infeksi reovirus yang
lebih parah. Reovirus akan menyebabkan lesi pada saluran pencernaan serta lesi
pada pankreas sehingga menyebabkan malabsorbsi bagi ayam. Malnutrisi
menyebabkan gangguan nutrisi sehingga ayam menjadi kerdil. Imunosupresi juga
terjadi pada ayam yang dapat menyebabkan kondisi sepsis pada ayam (Jones
2008).

Patologi Anatomis

Reovirus dapat menular melalui rute vertikal (transovari dan kontamninasi


kerabang telur) dan horizontal (oral, respirasi, luka kulit kaki dan kontaminasi
vaksin lain). Infeksi reovirus yang bersifat patogen pada ayam menimbulkan
manifestasi malabsorbsi dan tenosinovitis. Pada infeksi akut terlihat ayam tidak
bisa berjalan dan beberapa ayam mengalami kekerdilan. Infeksi kronis
kelumpuhan lebih terlihat pada ayam dengan satu atau kedua hock joint tidak
dapat bergerak. Ayam yang terlalu banyak duduk akibat tidak bisa bergerak,
sering mengalami selulitis pada otot sternumnya (breast bruising) (Calnek 1997).
Lesi tendinitis dapat meluas ke arah tarsus menimbulkan luka ulseratif pada kaki
(footpad ulserative) (Jones 2008).
Pada persendian lutut biasanya mengandung eksudat, pada awal infeksi
ditandai dengan adanya edema pada tendon tarsal. Hemoragi ptechie muncul pada
membran sinovial diatas lutut. Peradangan kronis ditunjukan dengan pengerasan
dan bergabungnya lapisan tendon. Kondilus dan epikondilus juga mengalami
perubahan (Calnek 1997).

Gambar 1 Kebengkakan pada tendon

Gangguan pernapasan pada ayam muda juga dapat terjadi apabila ayam
terinfeksi reovirus. Namun, reovirus yang dideteksi pada peternakan bukan
menjadi agen utama, bersama Mycoplasma gallisepticum akan menghasilkan lesi
pada saluran pernapasan (Calnek 1997).
Blue wing disease adalah kondisi yang dikarakteristikan dengan tingkat
mortalitas 10%, perdarahan pada subkutan dan muskular, atrofi timus, limpa dan
bursa. Reovirus juga memperlihatkan peningkatan patogenitas bersama infeksi
lain seperti E.coli dan infectious bursal disease virus (Calnek 1997). Kepucatan
pada kulit dan perubahan pada bulu ditemukan pada sindroma ini. Berat badan
yang rendah yang ditandai dengan kekerdilan ataupun sindroma malabsorbsi dan
juga helicopter wing syndrome telah dikaitkan dengan beberapa agen kausatif
termasuk reovirus.
Manifestasi malabsorpsi secara klinis ditandai dengan terjadinya diare.
Diare pada ayam yang ditemukan pada awal infeksi merupakan reaksi fisiologis
yang timbul karena adanya usaha untuk menetralisir agen yang masuk ke dalam
usus. Enteritis terjadi pada ayam yang diinfeksikan reovirus yang ditandai adanya
degenerasi, nekrosis epitel kripta usus dan dilatasi kripta usus, menunjukan bahwa
ayam tersebut mengalami malabsorbsi (Wahyuwardani et al. 2005).

Gambar 2 Ayam yang mengalami kekerdilan akibat malabsorbsi

Hambatan pertumbuhan yang terjadi akibat infeksi reovirus di lapangan


dapat mencapai 31.6-67% (Syafriati et al. 2000). Hambatan pertumbuhan ini
terjadi akibat reovirus yang bersifat imunosupresif sehingga ayam penderita
mudah mendapatkan infeksi sekunder lain yang memperparah terjadinya
hambatan pertumbuhan (Noor et al. 2000). Kerusakan pada organ pankreas yang
berupa vakuolisasi sel asinar diguga akan mengganggu sekresi enzim-enzim
digesti sehingga memperparah gejala hambatan pertumbuhan. Perubahan pada
limpa yang mengalami hipertrofi diduga terjadi akibat pegambil alihan fungsi
bursa fabrisius yang atrofi (Wahyuwardani et al. 2005).
Gambar 3 Hipertrofi pada limpa dan atrofi bursa fabrisius

Diferensial Diagnosa

Viral arthritis bukan merupakan lesi patognomonis dari infeksi reovirus dan
beberapa lesi pada persendian dapat disebabkan oleh Mycoplasma synoviae,
Staphylococcus, E.coli, ataupun bakteri lain. Pada kasus atrofi bursa maupun
timus juga dapat dikaitkan dengan adanya infeksi bursal disease virus. Infeksi
mikroorganisme pada saluran pencernaan seperti Salmonella, E.coli ataupun
Eimeria juga dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan sehingga
terjadinya malanutrisi. Defesiensi vitamin dan mineral seperti tiamin, riboflavin
maupun niasin dapat mengganggu pertumbuhan pada ayam.

Pengendalian

Vaksinasi dilakukan pada induk ayam breeder (Grand parent stock dan
parent stock), diharapkan sistem kekebalan maternal mampu melindungi
anakanak ayam hingga berumur 12 minggu. Vaksinasi dilakukan pada saat masa
starter dan dibooster pada saat akan bertelur
Pencegahan dengan biosecurity, avian reovirus tahan terhadap desinfektan
biasa, berikut adalah desinfektan dan cara pencegahan dalam penularan reovirus
dengan menggunakan alkohol 70%, iodine (organic) 0.5%, H2O2 5%, dengan
suhu 600 C mati dalam tempo 810 jam. DOC paling peka terinfeksi reovirus, &
infeksi paling cepat dan mudah menjalar lewat foot pad sehingga perlu diberi alas
koran 45 hari pertama di bawah pemanas, luka kaki oleh serutan kayu/ sekam
akan berkurang.
Daftar Pustaka

Calnek BW. 1997. Disease of Poultry. 10th Ed. Iowa (US): Iowa State University
Pr.
Jones RC. 2008. Disease of Poultry. 12nd Ed. Singapore: Blackwell Publishing
Asia
Menendez NA, Calnek BW, Cowen BS. 1975. Localization of avian reovirus
(FDO isolate) in tissues of mature chickens.Avian Dis 19:112117.
Roessler DE. 1986. Studies on the pathogenicity and persistence of avian reovirus
pathotypes in relation to age resistance and immunosuppression. PhD
Thesis. University of Delaware, Newark.
Saif YM, Fadly AM, Glisson JR, McDouglad LR, Nolan LK, Swayne DE. 2008.
Disease of Poultry. Lowa (US): Blackwell Pub.
Syafriati, Parede L, Poeloengan M, Wahyuwardani S, Sani Y. 2000. Sindroma
kekerdilan pada ayam pedaging. Pros. Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
512-519.
Wahyuwardani S, Huminto H, Parede L. 2005. Perubahan patologi secara
makroskopi dan mikroskopi pada ayam perdaging yang diinfeksi reovirus
isolat lokal. JITV 10(1): 63-69