Anda di halaman 1dari 15

BAB IV

PENGKAJIAN DAN ANALISA


MANAJEMEN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Dari hasil pengkajian yang dilakukan mulai dari tanggal 07 November
s/d 10 November 2016 dengan mengkaji sumber daya (manusia), material,
metode, money dan mutu keperawatan yang digunakan melalui observasi dan
wawancara terhadap perawat di ruang perawatan Mamminasa Baji RSUD
Labuang Baji didapatkan data sebagai berikut:
1. Sumber Daya Manusia (MI-Man)
a. Ketenagaan
1) Struktur Organisasi
Ruang Perawatan Mamminasa Baji RSUD Labuang Baji
Makassar dipimpin oleh seorang Kepala Ruangan dan dibantu oleh 2
orang Ketua Tim, dan 8 orang Perawat Pelaksana.
Adapun struktur organisasinya adalah:
Bagan 4.1. Struktur Organisasi Ruang Mamminasa Baji RSUD
Labuang Baji Makassar
Kepala Ruangan
Ns. Yorpa Tandiassang, S.Kep
Nip.19750430 199903 2 006

Ketua Tim A Ketua Tim B


Ns. Suwardha Yunus, S.Kep Ns. Andi Nur Inayah, S.Kep
Nip.19831021 2007 2 004 Nip.19821021 200701 2 005

Perawat Pelaksana Tim A Perawat Pelaksana Tim B

Sukmawati Hasan, S.Kep Juwariah, S.kep


Nip.19811217 2 006 Nip.19790630 200604 2 021

Adriana Anugrah Amk Ida Darmawati, S.Kep


Nip.19871019 200902 2 001 Nip.19820418 200701 2 004

Fauchia Usfar, Amk Ns. Mashayati, S.Kep


Nip. Nip.19810325 200701 2 010

Suriani, Amk Ns, Mirnawati, S.Kep


NR. 151/2012 Nip.
2) Jumlah Tenaga Keperawatan di Ruang Perawatan Mamminasa Baji
RSUD Labuang Baji
Tabel 4.1
Tenaga Keperawatan di Ruang Perawatan Mamminasa Baji RSUD
Labuang Baji Makassar
No Kualifikasi Jumlah
1 Profesi Ners 5
2 S1 Keperawatan 3
3 D3 Keperawatan 3
Total 11

Dari hasil analisa Tabel diatas tentang tenaga keperawatan di


Ruang Perawatan Mamminasa Baji RSUD Labuang Baji didapatkan
bahwa masih ada tenaga keperawatan yang berpendidikan D3 dan S1
Keperawatan.
Menurut Nursalam (2014), wewenang dan tanggung jawab
melaksanakan praktek keperawatan di Rumah Sakit dilakukan oleh
perawat profesional (NERS).
3) Kebutuhan Tenaga
Perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan menggunakan
metode Gillies:
Ruang Perawatan Mamminasa Baji RSUD Labuang Baji
berkapasitas tempat tidur 14 tempat tidur, jumlah rata-rata pasien
yang di rawat 8 orang per hari. Kriteria pasien yang dirawat tersebut
adalah 6 orang pasien minimal care, 1 orang pasien parsial care dan
1 orang pasien total care. Hari kerja efektif adalah 6 hari/minggu.
Berdasarkan situasi tersebut maka dapat dihitung jumlah kebutuhan
tenaga perawat di ruang tersebut adalah sebagai berikut:
a) Jam keperawatan yang dibutuhkan pasien/hari
Keperawatan langsung
Minimal care 6 orang pasien x 2 jam = 12 jam
Parsial care 1 orang pasien x 3 jam = 3 jam
Total care 1 orang pasien x 6 jam = 6 jam
Jumlah = 21 jam
Perawatan tidak langsung 8 orang pasien x 1 jam = 8 jam
Penyuluhan kesehatan 8 orang pasien x 0,25 jam = 2 jam
Total jam secara keseluruhan adalah 31 jam
b) Jumlah jam keperawatan yang dibutuhkan per pasien per hari
adalah 31 jam 8 orang pasien = 4 jam
c) Jumlah kebutuhan tenaga keperawatan
= 4 jam/pasien/hari x 8 pasien/hari x 265
(365 hari 76) x 7 jam
= 8840
2023
= 4 orang
Jumlah tenaga yang dibutuhkan dalam satu unit harus ditambah
20% x 20 = 4 orang
Jadi, jumlah tenaga yang dibutuhkan secara keseluruhan 4 + 4 =
8 orang/hari.
d) Jumlah tenaga keperwatan per shift
8 orang x 4 jam = 3 orang/shift
7 jam
Kesimpulan dari hasil perhitungan menggunakan metode
gillies kebutuhan tenaga di Ruang Perawatan Mamminasa Baji
RSUD Labuang Baji memenuhi standar.
b. BOR (Bad Ocupacy Rate)
Perhitungan BOR (Bad Ocupacy Rate) pasien di Ruang Perawatan
Mamminasa Baji RSUD Labuang Baji
Tabel 4.2. BOR di Ruang Perawatan Mamminasa Baji RSUD Labuang
Baji Makassar Tanggal 07 November 2016
No Shift Pav VIP VVIP BOR
1 Pagi 3 7 4 7/14x100 %=
(2 kosong) (3 kosong) (2 kosong) 50%
2 Sore 3 7 4 7/14x100 %=
(2 kosong) (3 kosong) (2 kosong) 50%
3 Malam 3 7 4 7/14x100 %=
(2 kosong) (3 kosong) (2 kosong) 50%

Tabel 4.3. BOR di Ruang Perawatan Mamminasa Baji RSUD Labuang


Baji Makassar Tanggal 07 November 2016
No Shift Pav VIP VVIP BOR
1 Pagi 3 7 4 8/14x100
(2 kosong) (3 kosong) (2 kosong) %= 57%
2 Sore 3 7 4 8/14x100
(2 kosong) (2 kosong) (2 kosong) %= 57%
3 Malam 3 7 4 8/14x100
(2 kosong) (3 kosong) (2 kosong) %= 57%

c. Penghitungan Beban Kerja Perawat


Pembagian kerja secara normatif pada setiap shift di Ruang
Perawatan Mamminasa Baji berdasarkan hasil wawancara dengan
perawat bahwa shift dibagi menjadi 3 shift yaitu shift pagi, sore dan
malam dengan jumlah perawat pada setiap shift yaitu shift pagi 4 orang,
shift sore 2 orang dan shift malam 2 orang dengan jumlah jam kerja per
shift yaitu:
1) Shift pagi pukul 07.30-14.00 (6,5 Jam)
2) Shift sore pukul 14.00-21.00 (7,5 Jam)
3) Shift malam pukul 20.30-07.30 (10,5 Jam)
2. Sarana dan Prasarana (M2/Material)
a. Penataan Gedung/Lokasi dan Denah Ruangan
Lokasi penerapan proses manajerial Ruang Perawatan
Mamminasa Baji RSUD Labuang Baji dengan uraian sebagai berikut :
1) Sebelah utara merupakan ruang perawatan yang dikelola oleh tim
A
2) Sebelah selatan merupakan ruang perawatan yang dikelola oleh tim
B
3) Sebelah barat merupakan ruang nurse station
4) Sebelah timur merupakan arah belakang ruangan
b. Fasilitas
1) Fasilitas untuk pasien
a) Kamar Pavilium : 3 kamar
b) Kamar VIP : 7 kamar
c) Kamar VVIP : 4 kamar
Tabel. 4.4. Daftar Fasilitas Untuk Pasien Ruang Perawatan
Mamminasa Baji RSUD Labuang Baji
No Nama Barang Jumlah Kondisi Ideal Usulan
1 Tempat Tidur 14 bed Baik 1:1 -
2 Meja Pasien 14 buah Baik 1:1 -
Cukup
Perlu
3 Ac 14 buah Baik, 1:1
diperbaiki
3 rusak
4 Kursi Roda 2 buah Baik 2-3/ruagan -
Perlu
5 Branchart - - 1/ruangan
ditambah
6 Jam Dinding 14 buah baik 1/ruangan -
7 Timbangan 1 buah baik 1/ruangan -
8 Kamar Mandi/Wc 14 buah baik 1/ruangan -
9 Dapur - - - -
Cukup
10 Wastafel 14 buah 1/ruangan -
baik

2) Fasilitas Untuk Petugas Kesehatan


a) Ruang kepala ruangan menjadi 1 dengan nurse station
b) Ruang perawat berada dibelakang ruang kepala ruangan
c) Kamar mandi perawat/WC ada 1
d) Tidak ada ruang staf dokter
e) Nurse station merupakan ruang tertutup
f) Gudang berada disamping instalasi gizi
3) Alat Kesehatan yang Ada di Ruang Mamminasa Baji
Tabel. 4.5. Daftar Alat Kesehatan Ruang Perawatan Mamminasa
Baji RSUD Labuang Baji

No Nama Barang Jumlah Kondisi Ideal Usulan


1 Stetoskop 2 buah baik 1/ruangan -
2 Lemari es 15 buah baik 1/ruangan -
3 Com 2 buah baik 3/ruangan Ditambah
4 Tabung O2 3 buah baik 2/ruangan -
5 Bak injeksi 2 buah baik 2/ruangan -
Ember sampah
6 14 buah baik 1:1 -
pasien
7 Lemari kaca 14 buah baik 1/ruangan -
8 Lemari besi 14 buah baik 1/ruangan -
9 Tensimeter 2 buah baik 2/ruangan -
10 Pinset anatomis 2 buah baik 2/ruangan -
11 Pinset cirugis 2 buah baik 2/ruangan -
Gunting
12 2 buah baik 2/ruangan -
nekrotomi
13 Gunting perban 2 buah baik 2/ruangan -
Korentang dan
14 2 buah baik 2/ruangan -
tempat
15 Bengkok 2 buah baik 2/ruangan -
16 Suction 1 buah baik 2/ruangan Ditambah
17 Telepon 1 buah baik 1/ruangan -
18 Computer - - - -
Alat pemadam
19 1 buah baik 1/ruangan -
kebakaran
20 Lemari obat 2 buah baik 2/ruangan -
21 Lampu darurat - - - -
22 Kereta obat 2 buah Baik 1/ruangan -
23 Standar Baskom - - - -
24 Standar infus 23 1 rusak 1:1 -
25 Ambu bag - - - -
Manometer O2
26 3 buah baik 2/ruangan -
lengkap
27 Standar O2 1 buah baik 2/ruangan -
28 Termometer 2 buah baik 5/ruangan Ditambah

4) Consumable (obat-obatan dan bahan habis pakai).


5) Administrasi penunjang-RM
a) Buku Injeksi
b) Buku Observasi
c) Lembar Dokumentasi
d) Buku Observasi Suhu dan Nadi
e) Buku Timbang Terima
f) SOP
g) SAK
h) Buku Visite
i) Leaflet
Hasil observasi langsung ditemukan bahwa nurse station di
ruang perawatan mamminasa baji RSUD labuang baji merupakan
jenins ruangan tertutup sehingga pengamatan untuk pasien kurang
optimal serta penataan ruangan yang kurang teratur.
Menurut Hatmoko (2010), ruang perawat (nurse station )
hendaknya terletak pada lokasi yang dapat mengamati pasien dan
adanya aksebilitas visual maupun fisik petugas ruang rawat terhadap
kondisi dan situasi ruang rawat.
Hasil wawancara dengan perawat mengenai SOP yang digunakan
di ruang perawatan mamminasa baji RSUD labuang baji masih
menggunakan SOP lama.
3. Metode (M3/Methode)
a. Penerapan metode praktik keperawatan profesional (MPKP)
Dari hasil observasi dan wawancara di ruang perawatan
mamminasa baji RSUD Labuang Baji didapatkan hasil:
1) Model asuhan keperawatan yang diterapkan pada ruang
perawatan Mamminasa Baji adalah menggunakan metode TIM
yang terdiri dari : 1 orang kepala ruangan, 2 orang ketua tim dan
8 orang perawat pelaksana.
Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Nursalam
(2014), metode tim terdiri atas anggota yang berbeda-beda
dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekolompok
pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2 sampai 3 tim/grup
yamng terdiri atas tenaga profesional, technical dan pembantu
dalam satu kelompok kecil yang saling membantu.
2) Pelaksanaan model asuhan keperawatan di ruang mamminasa
baji RSUD Labuang baji sudah sesuai dengan tugas pokok dan
fungsi masing-masing. Penerimaan pasien baru dan pengkajian
dilakukan oleh perawat yang ada pada saat itu, kemudian
pengkajian dilengkapi oleh ketua tim. Selanjutnya ketua tim
menentukan diagnosa keperawatan dan rencana asuhan
keperawatan (intervensi). Pelaksanaan (implementasi) dari
rencana asuhan keperawatan yang telah disusun dijalankan oleh
perawat pelaksana. Perawat pelaksana juga yang melaporkan
segala sesuatu mengenai keadaan pasien baik secara lisan
maupun tulisan. Pengawasan atau supervisi dari pelaksanaan
asuhan keperawatan di ruangan dilakukan oleh kepala ruangan.
b. Timbang terima/Overan
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara bahwa timbang
terima (overan) selalu dilakukan setiap pergantian shift tetapi belum
semua prosedur dilaksanakan dengan baik seperti proses timbang
terima hanya berfokus pada masalah/diagnosa medis pasien, rencana
tindakan yang sudah dan belum dilakukan serta hal-hal penting
lainnya yang perlu dilimpahkan dalam timbang terima tidak
disampaikan, dan tidak dilakukannya Post-timbang terima..
Menurut Nursalam (2013) menjelaskan bahwa pelaksanaan
overan diawali dengan komunikasi verbal dan tertulis sesuai dengan
kondisi pasiennya berdasarkan dokumentasi perawatan, yang
kemudian di catat oleh ketua tim dan perawat pada shift berikutnya.
Tahapan selanjutnya adalah penjelasan pasien sesuai dengan tempat
tidur pasien, yang kemudian diakhiri dengan tahapan validasi data
pasien. Cahyono (2008) juga berpendapat bahwa tujuan utama
komunikasi timbang terima adalah untuk memberikan informasi
yang akurat mengenai keperawatan, pengobatan, pelayanan, kondisi
utama pasien, perubahan yang sedang terjadi, dan perubahan yang
dapat diantisipasi. Informasi harus dijamin akurat agar tidak terjadi
kesalahan dalam proses pemberian pelayanan bagi pasien.
c. Ronde keperawatan
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada perawat
di ruang perawatan mamminasa baji RSUD Labuang Baji didapatkan
bahwa dalam satu tahun terakhir tidak pernah dilaksanakan ronde
keperawatan. Hal ini disebabkan karena tidak ditemukannya masalah
atau kasus tertentu yang mengharuskan dilakukannya ronde
keperawatan.
d. Sentralisasi obat
Berdasarkan hasil observasi data yang didapatkan di ruangan
Maminasa Baji Rumah Sakit Labuang Baji yaitu belum diadakan surat
persetujuan sentralisasi obat, dan surat serah terima obat.
Pada pengelolaan Sentraisasi obat menurut Nursalam (2014),
bahwa sentralisasi obat dengan alur seperti berikut; pada saat keluarga
pasien telah kembali dari apotik membawa obat maka keluarga harus
kembali keperawat, selanjutnya perawat yang telah ditunjuk akan
memberikan surat persetujuan sentralisasi obat dan di tanda tangani
oleh perawat yang menerangkan, pasien yang menyetujui
dilakukansentralisasi obat, di sertai saksi-saksi. Selanjutnya obat
diserahkan kepada perawat dan akan didokumentasikan dalam lembar
serah terima obat dan buku terima obat.
Bagan 4.2. Alur Pelaksanaan Sentralisasi Obat (Nursalam,2012).

DOKTER
Koordinasi dengan
Perawat
PASIEN/KELUARGA

Surat persetujuan
FARMASI/APOTEK
sentralisasi obat
dari perawat
PASIEN/KELUARGA Lembar searah
terimaobat
PP/PERAWAT YANG MENERIMA Buku serah terima/
masuk obat

PENGATURAN DAN PENGELOLAAN OLEH PERAWAT

PASIEN/KELUARGA
e. Supervisi
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan sehubungan
dengan supervisi dalam struktur organisasi di ruangan Mamminasa
Baji didapatkan bahwa tenaga keperawatan telah melakukan
supervisi sesuai dengan uraian tugas masing-masing berdasarkan
struktur organisasi yang ada yaitu sebagai berikut:
1) Kepala Ruangan
a) Mengamati pelaksanaan Asuhan Keperawatan melalui
pengamatan sendiri atau laporan langsung secara lisan dari
ketua tim
b) Mengamati, mengecek dan memeriksa rencana keperawatan
serta catatan yang dibuat selama dan sesduah proses
keperawatan yang dilaksanakan
c) Mengamati perkembangan pasien
d) Mengecek kecukupan fasilitas/peralatan untuk hari itu
e) Mengecek personil yang ada
f) Mengatur pekerjaan
g) Mengamati Ketua Tim/Perawat Pelaksana apakah telah
bekerja sesuai dengan fungsi masing-masing
h) Mengamati satu personil atau area kerja
i) Melengkapi laporan harian sebelum pulang
2) Ketua Tim
a) Mengamati, mengecek dan memeriksa rencana keperawatan
serta catatan yang dibuat selama dan sesduah proses
keperawatan
b) Mengobservasi perkembangan pasien
c) Mengamati dan menentukan kebutuhan pasien
d) Mengamati kerja dari anggota tim
f. Penerimaan pasien baru
Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan, dalam
proses penerimaan pasien baru di ruang perawatan Mamminasa Baji
RSUD Labuang Baji Makassar sebagian besar telah mengacu pada
SOP penerimaan pasien baru yaitu menyiapkan tempat tidur dan
perlengkapan kamar pasien sesuai pesanan, menyiapkan nursing kids,
saat pasien tiba di ruangan, perawat pelaksana/perawat yang diberi
delegasi menerima dan mengantar pasien ke kamar yang telah di
sediakan. Perawat memperkenalkan diri pada klien dan keluarga serta
memberikan informasi tentang orientasi ruangan (termasuk perawat
yang bertanggung jawab, sentrslisasi obat, dokter yang bertanggung
jawab).
Adapun yang belum terpenuhi adalah tidak adanya lembar
penerimaan pasien baru, dan tidak adanya lembar sentralisasi obat.
g. Discharge Planning
Dari hasil observasi dan wawancara dengan perawat diruang
perawatan Mamminasa Baji RSUD Labuang Baji Makassar,
didapatkan informasi bahwa dalam proses Discharge Planning
belum optimal dilakukan, yaitu saat pasien akan pulang dilakukan
pemberian pendidikan kesehatan hanya dilakukan secara lisan pada
pasien/keluarga tanpa dibekali brosur/leaflet.
Menurut The Royal Marsenden Hospital (2004) dalam Siahaan
(2009) menyatakan bahwa salah satu tujuan Discharge Planning
adalah menyediakan informasi tertulis dan verbal kepada pasien dan
keluarga untuk mempertahankan kebutuhan mereka dalam proses
pemulangan.
h. Pendokumentasian
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi buku rekam medik di
ruang perawatan mamminsa baji RSUD Labuang baji, model
pendokumentasian menggunakan lembar pengkajian dan catatan
asuhan keperawatan yang terangkum dalam buku rekam medik. Dari
4 buku rekam medik yang diobservasi semuanya ditemukan data
pengkajian yang belum lengkap. Pendokumentasian dilakukan oleh
ketua tim dan dibantu oleh perawat pelaksana. Pendokumentasian
asuhan keperawatan khususnya dalam perumusan diagnosa dan
intervensi menggunakan referensi baru yaitu NANDA NIC-NOC
2015.
4. M4/MONEY
Berdasarkan hasil wawancara kepada tiga perawat didapatkan
informasi bahwa pengelolaan keuangan ruang perawatan mamminasa
baji RSUD labuang baji dikelola oleh pihak rumah sakit dan menurut
mereka pembagian jasa layanan/insentif masih sangat kurang
memuaskan.
5. Mutu (M5/Mutu Pelayanan Keperawatan)
Dari hasil observasi yang dilakukan di ruang perawatan
mamminasa baji RSUD labuang baji ditemukan bahwa
a. Patient safety
1) Ketepatan identifikasi pasien menggunakan gelang tangan yang
berisi keterangan nama pasien, umur, dan nomor rekam medik.
Gelang tangan terdiri dari 4 warna; warna pink untuk pasien
berjenins kelamin perempuan, warna biru muda untuk pasien
berjenis kelamin laki-laki, warna kuning untuk pasien dengan
resiko jatuh, dan warna merah untuk pasien dengan indikasi
alergi.
2) Peningkatan komunikasi yang efektif dengan sistem SBAR dan
TBAK
3) Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-alert
medications) menggunakan 7 benar prinsip pemberian obat.
namun prinsip pemberian obat yang terbaru sudah
menggunakaan prinsip 8 benar pemberian obat.
4) Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
menggunakan pedoman hand hygiene 7 langkah mencuci tangan
disaat 5 moment. Namun saat pelaksanaannya, beberapa perawat
melakukan hand hygiene hanya saat setelah melakukan tindakan
keperawatan dan setelah kontak dengan cairan tubuh pasien.
Menurut WHO mensyaratkan five moment of hand
hygiene yaitu; sebelum kontak dengan pasien, sebelum
melakukan tindakan, setelah kontak dengan cairan tubuh pasien,
setelah melakukan tindakan, dan setelah kontak dengan area
sekitar pasien.
5) Fasilitas pendukung pengurangan resiko jatuh di kamar pasien
seperti keset kaki sudah memenuhi standar (tidak licin dan
terbuat dari bahan karet), kebersihan kamar mandi/WC baik.
Namun ditemukan beberapa falfon yang bocor dan rapuh akibat
lembab atau terserap air.
b. Kepuasan
Selama beberapa hari pengamatan dilakukan pada 3 pasien
pulang di ruang mamminasa baji RSUD Labuang Baji tidak pernah
diberikan quesioner untuk mengukur tingkat kepuasan pasien.
Depkes RI Tahun 2005:31 mengemukakan bahwa kepuasan
pasien berhubungan dengan mutu pelayanan rumah sakit, dengan
mengetahui tingkat kepuasan pasien, manajemen rumah sakit dapat
melakukan peningkatan mutu pelayanan. Persentase pasien yang
menyatakan puas terhadap pelayanan berdasarkan hasil survey
dengan instrumen yang baku.
B. Identifikasi Masalah
Setelah dilakukan pengkajian, selanjutnya dilakukan identifikasi masalah
untuk memudahkan prioritas. Adapun identifikasi masalahnya yaitu:
1. Masih ada tenaga keperawatan yang latar belakang pendidikannya S1
keperawatan yang belum menempuh jenjang pendidikan profesi Ners
2. Kurangnya pemeliharaan secara rutin terhadap fasilitas pada kamar pasien
3. Belum tercapainya sarana dan prasarana secara optimal
4. Nurse station yang belum memenuhi syarat dan penataan ruang yang
kurang teratur
5. SOP yang digunakan masih menggunakan SOP lama
6. Timbang terima/overan hanya berfokus pada masalah/ diagnosa pasien,
rencana tindakan yang sudah dan belum dilakukan serta hal-hal penting
lainnya yang perlu dilimpahkan dalam timbang terima tidak di sampaikan,
dan tidak dilakukannya post timbang terima
7. Pelaksanaan sentralisasi obat belum optimal seperti belum adanya surat
persetujuan sentralisasi obat dan serah terima obat
8. Pelaksanaan penerimaan pasien baru belum optimal seperti tidak adanya
lembar penerimaan pasien baru dan tidak adanya lembar pesetujuan
sentralisasi obat
9. Tidak tersedianya brosur/leaflet untuk pasien saat melakukan discahrge
planning, pemberiaan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga
hanya di lakukan secara lisan.
10. Dari 4 buku rekam medic yang di observasi semuanya ditemukan data
pengkajian yang belum lengkap.
11. Pada observasi patient safety, pengurangan resiko infeksi menggunakan
pedoman hand hygiene 7 langkah cuci tangan dengan five moment of hand
hygiene, namun saat pelaksaanaanya beberapa perawat melakukan hand
hygiene hanya saat setelah melakukan tindakan keperawatan dan setelah
kontak dengan cairan tubuh pasien.
12. Pada observasi fasilitas pendukung pengurangan resiko jatuh, ditemukan
beberapa falfon yang bocor dan rapuh akibat lembab atau terserap air.
13. Pengamatan yang dilakukan pada 3 orang pasien pulang ditemukan bahwa
pasien tidak pernah diberikan quesioner untuk mengukur tingkat kepuasan
pasien.