Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelopak mata yang disebut juga palpebra merupakan lipatan kulit yang terdapat dua buah
untuk tiap mata. Ia dapat digerakkan untuk menutup mata, dengan ini melindungi bola mata
terhadap trauma dari luar yang bersifat fisik atau kimiawi serta membantu membasahi kornea
dengan air mata pada saat berkedip. Dalam keadaan terbuka, kelopak mata memberi jalan masuk
sinar ke dalam bola mata yang dibutuhkan untuk penglihatan. Membuka dan menutupnya
kelopak mata dilaksanakan oleh otot-otot tertentu dengan persarafannya masing-masing.

Ptosis adalah kondisi kelopak mata yang tidak dapat membuka dengan optimal seperti
mata normal ketika memandang lurus ke depan (drooping eye lid). Blepharoptosis, juga disebut
sebagai ptosis. Ptosis menggambarkan kelopak mata bagian atas yang tidak normal pada posisi
primer yang rileks. Ptosis dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara. Penulis
mengklasifikasikannya sebagai penyakit bawaan atau yang didapat dan sebagai (1) aponeurotik,
(2) mikogen, (3) neurogenik, atau (4) mekanik. Sedangkan menurut derajatnya ptosis dibagi
menjadi ptosis ringan jika batas kelopak mata atas menutupi kornea < 2 mm, ptosis sedang jika
batas kelopak mata atas menutupikornea 3 mm dan ptosis berat jika batas kelopak mata atas
menutupi kornea > 4mm.
Blepharoptosis merupakan penyebab penting dari kehilangan penglihatan. Mengingat
penatalaksanaan ptosis tergantung dari etiologi dan derajat ptosis maka perlu diketahui lebih
jelas tentang etiologi dan derajat ptosis. Menurut etiologinya, pada ptosis congenital (myogenic
etiology) dilakukan pembedahan (memperpendek) otot levator yang lemah serta aponeurosisnya
ataumenggantungkan palpebra pada otot frontal. Jenis operasi untuk ptosis kongenital adalah
reseksi levator eksternal. Pada ptosis yang didapat (aponeurotic etiology), misalnya pada
myastenia gravis dilakukan koreksi penyebab. Jika koreksi penyebab tidak mungkin, maka
kelopak mata diperpendek menurut arahvertikalnya (jika fungsi levator baik) atau diikatkan ke
frontal (jika fungsi levator buruk). Prosedur Fasenella-Servat lebih sering digunakan untk kasus
ptosis yang didapat.
Sedangkan menurut derajatnya, untuk ptosis ringan yang tidak didapatikelainan kosmetik
dan tidak terdapat kelainan visual seperti ambliopia, strabismusdan defek lapang pandang, lebih
baik dibiarkan saja dan tetap diobservasi. Bilaakan dilakukan operasi, prosedur Fasenella-Servat
diindikasikan untuk ptosisringan. Pada kasus ptosis moderat diindikasikan pembedahan dengan
teknik reseksi levator eksternal. Sedangkan pada ptosis berat, frontalis sling
merupakan pendekatan yang paling baik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Histologi


Kelopak mata atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta
mengeluarkan sekresi kelenjarnya membentuk film air mata di depan kornea. Palpebra
merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma,
trauma sinar, dan pengeringan bola mata. Kelopak mata mempunyai lapisan kulit yang tipis
pada bagian depan, sedang di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut
konjungtiva tarsal.Secara garis besar palpebra superior terbagi menjadi 2 lapisan, yaitu
lapisan anterior (kulit dan otot orbikularis) dan lapisan posterior (tarsus, aponeurotik levator,
otot muller dan konjungtiva).
1. Kulit
Palpebra memiliki kulit yang tipis 1 mm dan tidak memiliki lemak subkutan. Kulit
disini sangat halus dan mempunyai rambut vellus halus dengan kelenjar sebaseanya, juga
terdapat sejumlah kelenjar keringat.

Gambar 1. Potongan sagital mata


2. Otot orbikularis
Otot skelet yang berfungsi untuk menutup mata. Otot ini terdiri dari lempeng yang tipis
yang serat-seratnya berjalan konsentris. Otot ini dipersarafi oleh nervus fasialis yang
kontraksinya menyebabkan gerakan mengedip, disamping itu otot ini juga dipersarafi
oleh saraf somatik eferen yang tidak dibawah kesadaran.
3. Tarsus
Jaringan ikat fibrous 25 mm, merupakan rangka dari palpebra. Didalamnya terdapat
kelenjar meibom yang membentuk oily layer dari air mata.
4. Septum Orbita
Terletak di bawah otot orbikularis post septalis pada kelopak mata atas dan bawah.
Septum orbita ini adalah jaringan ikat yang tipis, merupakan perluasan dari rima orbita.
5. Otot levator dan aponeurotik levator palpebra
Merupakan major refractor untuk kelopak mata atas. M. levator palpebra, yang
berorigo pada anulis foramen orbita dan berinsersi pada tarsus atas dengan sebagian
menembus M. orbikularis okuli menuju kulit kelopak bagian tengah. M. levator palpebra
dipersarafi oleh nervus okulomotoris, yang berfungsi untuk mengangkat kelopak mata
atau membuka mata.

Gambar 2. Potongan sagital palpebra superior


2.2 Defenisi Ptosis
Ptosis adalah istilah medis untuk suatu keadaan dimana kelopak mata atas (palpebra
superior) turun di bawah posisi normal saat membuka mata yang dapat terjadi unilateral atau
bilateral. Posisi normal palpebra superior adalah 2 mm dari tepi limbus atas dan palpebra
inferior berada tepat pada tepi limbus bawah. Kelopak mata yang turun akan menutupi
sebagian pupil sehingga penderita mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara
menaikkan alis matanya atau menghiperekstensikan kepalanya. Bila ptosis menutupi pupil
secara keseluruhan maka keadaan ini akan mengakibatkan ambliopia.
2.3 Etiologi
Secara garis besar ptosis dapat dibedakan atas 2, yaitu :

1. Ptosis yang didapatkan (acquired); pada umumnya disebabkan oleh :

a. Faktor mekanik : Akibat berat yang abnormal dari palpebra dapat menyulitkan otot
levator palpebra mengangkat palpebra. Hal ini dapat disebabkan oleh inflamasi akut atau
kronik berupa edema, tumor atau materi lemak yang keras, misalnya xanthelasma.

b. Faktor miogenik : Ptosis pada satu atau kedua kelopak mata sering merupakan tanda
awal myasthenia gravis dan kejadiannya diatas 95% dari kasus yang ada.

c. Faktor neurogenik (paralitik) : Terdapat intervensi pada jalur bagian saraf cranial III
yang mempersarafi otot levator pada tingkat manapun dari inti okulomotor ke myoneural
junction. Ptosis didapat (acquired) biasanya terjadi unilateral.

d. Faktor trauma : Trauma tumpul maupun tajam pada aponeurosis levator maupun otot
levator sendiri juga menyebabkan ptosis. Pada pemeriksaan histologik, defek terjadi
karena adanya kombinasi faktor miogenik, aponeurotik dan sikatriks. Perbaikan
terkadang terjadi dalam 6 bulan atau lebih, jika tidak ada perbaikan maka tindakan
pembedahan dapat menjadi alternatif.

2. Ptosis congenital: akibat kegagalan perkembangan m.levator palpebra. Dapat terjadi


sendiri maupun bersama dengan kelainan otot rektus superior (paling sering) atau
kelumpuhan otot mata eksternal menyeluruh (jarang). Hal ini bersifat herediter.

2.4 Insiden
Sampai saat ini insidens ptosis belum pernah dilaporkan. Ptosis kongenital dapat mengenai
seluruh ras, angka kejadian ptosis sama antara pria dan wanita. Ptosis kongenital biasanya
tampak segera setelah lahir maupun pada tahun pertama kelahiran.
2.5 Klasifikasi

Berdasarkan kejadiannya, ptosis dibagi atas :

A. Kongenital

1. Unilateral : kegagalan perkembangan innervasi abnormal otot levator palpebra. Bila


cukup berat dapat menyebabkan ambliopia dan harus segera ditangani dengan
pembedahan. Dapat menyertai Marcus Gunn syndrome (kelainan nervus III dan nervus
V), dimana kontraksi m.levator palpebra terjadi bila rahang membuka ke samping pada
sisi yang berlawanan.

2. Bilateral : infantile myastenia gravis atau anak dari ibu yang menderita MG.

3. Ptosis yang menyertai Sturge Weber, von Recklinghausen syndrome dan alkohol fetal
syndrome.

B. Didapat (acquired)

1. Terkait dengan penyakit muskular, kelainan neurologis, faktor mekanik. Pada beberapa
kasus memerlukan penanganan secepatnya.

2. Myastenia Gravis

3. Botulinism

4. Paralysis n. III akibat trauma, tumor, degenerative CNS disease, lesi vaskular.

5. Distrofi miotonik.

6. Tumor, trauma, jaringan sikatrik pada palpebra.

7. Horner syndrom (ptosis, miosis dan dishidrosis ipsilateral).

Pada kepustakaan lain juga dibahas mengenai pseudoptosis dimana palpebra superior
jatuh tanpa adanya insufisiensi retraksi otot levator palpebra. Pseudoptosis dapat terlihat
pada kelainan seperti hordeolum, kalazion, tumor palpebra, atau blefarokalasis yang
mengakibatkan kelopak mata sukar diangkat. Pengobatan yang diberikan pada
pseudoptosis adalah dengan mengobati dan menghilangkan penyebab pseudoptosis
tersebut.

Berdasarkan jarak jatuhnya palpebra superior, ptosis diklasifikasikan atas 3 derajat :

Amount Ptosis Classification


less than or equal to 2mm Mild

3mm Moderate

greater than or equal to 4mm Severe

2.6 Gejala Klinis


Pasien ptosis sering datang dengan keluhan utama jatuhnya kelopak mata atas dengan atau
tanpa riwayat trauma lahir, paralisis n. III, horner syndrom ataupun penyakit sistemik
lainnya. Keluhan tersebut biasanya disertai dengan ambliopia sekunder. Pada orang dewasa
akan disertai dengan berkurangnya lapang pandang karena mata bagian atas tertutup oleh
palpebra superior. Pada kasus lain, beberapa orang (utamanya pada anak-anak) keadaan ini
akan dikompensasi dengan cara memiringkan kepalanya ke belakang (hiperekstensi) sebagai
usaha untuk dapat melihat dibalik palpebra superior yang menghalangi pandangannya.
Biasanya penderita juga mengatasinya dengan menaikkan alis mata (mengerutkan dahi). Ini
biasanya terjadi pada ptosis bilateral. Jika satu pupil tertutup seluruhnya, dapat terjadi
ambliopia. Ptosis yang disebabkan distrofi otot berlangsung secara perlahan-lahan tapi
progresif yang akhirnya menjadi komplit. Ptosis pada myasthenia gravis onsetnya perlahan-
lahan, timbulnya khas yaitu pada malam hari disertai kelelahan, dan bertambah berat
sepanjang malam. Kemudian menjadi permanen. Ptosis bilateral pada orang muda
merupakan tanda awal myasthenia gravis. Pada ptosis kongenital seringkali gejala muncul
sejak penderita lahir, namun kadang pula manifestasi klinik ptosis baru muncul pada tahun
pertama kehidupan. Kebanyakan kasus ptosis kongenital diakibatkan oleh suatu disgenesis
miogenic lokal. Bila dibandingkan dengan otot yang normal, terdapat serat dan jaringan
adipose di dalam otot, sehingga akan mengurangi kemampuan otot levator untuk
berkontraksi dan relaksasi. Kondisi ini disebut sebagai miogenic ptosis kongenital. Pada
kepustakaan lain digambarkan juga perbedaan klinik antara congenital myogenic and
neurogenic ptosis dan congenital aponeurotic ptosis.
2.7 Cara Pemeriksaan
Pemeriksaan fisis pada pasien ptosis dimulai dengan empat pemeriksaan klinik :
1. Palpebra Fissure Height
Jarak ini diukur pada posisi celah terlebar antara kelopak bawah dan kelopak atas
pada saat pasien melihat benda jauh dengan pandangan primer.
Fissura pada palpebra diukur pada posisi utama (orang dewasa biasanya 10-12
mm dengan kelopak mata teratas menutup 1 mm dari limbus). Jika ptosis unilateral,
pemeriksa harus membedakan dengan artifak strabismus vertikal (hipotropia) atau
retraksi kelopak mata kontralateral. Kelopak mata harus dieversi untuk menyingkirkan
penyebab lokal ptosis misalnya konjungtivitis papilar raksasa. Jika ptosis asimetris,
khususnya bila kelopak mata atas mengalami retraksi dokter harus secara manual
mengangkat kelopak yang ptosis untuk melihat jika terjadi jatuhnya kelopak atas pada
mata lain.
2. Margin-reflex distance
Jarak ini merupakan jarak tepi kelopak mata dengan reflek cahaya kornea pada
posisi primer, normalnya 4 mm. Refleks cahaya dapat terhalang pada kelopak mata
pada kasus ptosis berat dimana nilainya nol atau negatif. Bila pasien mengeluh terganggu
pada saat membaca maka jarak refleks-tepi juga harus diperiksa.
3. Upper lid crease
Jarak dari lipatan kelopak atas dengan tepi kelopak diukur. Lipatan kelopak atas
sering dangkal atau tidak ada pada pasien dengan ptosis kongenital.
4. Levator function
Untuk mengevaluasi fungsi otot levator, pemeriksa mengukur penyimpangan total
tepi kelopak mata, dari penglihatan ke bawah dan ke atas, sambil menekan dengan kuat
pada alis mata pasien untuk mencegah kerja otot frontalis. Penyimpangan normal kelopak
atas adalah 14-16 mm. Sebagai tambahan, jarak refleks kornea - kelopak mata dan jarak
tepi kelopak atas-lipatan kelopak atas diukur.
5. Bells Phenomenon
Penderita disuruh menutup/memejamkan mata dengan kuat, pemeriksa membuka
kelopak mata atas, kalau bola mata bergulir ke atas berarti Bells Phenomenon (+).
Palpebra Fissure Height 9,5 7,5
Margin-Reflex Distance +4 +2
Upper Lid Crease 8 11
Levator Function 15 14
Example of ptosis data sheet

Jarak penyimpangan fungsi kelopak mata :


- Baik : lebih dari 8 mm
- Sedang : 5-8 mm
- Buruk : kurang dari 5 mm

Gambar 3. Cara pengukuran fungsi otot levator

Pemeriksaan Laboratorium
Jika dicurigai myasthenia gravis, memeriksa kadar reseptor asetilkolin antibodi serum.
Pemeriksaan Pencitraan
Berikut ini adalah indikasi untuk melakukan studi neuroimaging (misalnya, MRI, CT
Scan) dari orbit dan otak:
1. Sejarah tidak konsisten dan onset tidak jelas
2. temuan neurologis lain bersama dengan ptosis
3. suspect fraktur orbita dengan riwayat trauma
4. Terlihat atau teraba massa tutup
5. Suspect tumor orbital (misalnya limfoma, leukemia, rhabdomyosarcoma)
6. Adanya sindrom Horner dengan atau tanpa temuan neurologis lainnya
7. Adanya kelumpuhan saraf kranial ketiga dengan atau tanpa temuan neurologis
lainnya
Tes lainnya
Jika dicurigai myasthenia gravis, tes berikut dianjurkan:
1. EMG
2. Tensilon test
3. Ice Test
Jika diduga adanya gangguan mitokondria, EKG dianjurkan.
Prosedur
Jika diduga adanya gangguan mitokondria, biopsi otot harus dilakukan.
2.8 Diagnosa

Diagnosis ptosis tidak sulit untuk ditegakkan. Berdasarkan pada anamnesa dan
pemeriksaan yang tepat maka selain diagnosis, juga dapat diketahui causa dari ptosis dan derajat
beratnya ptosis sehingga dapat ditentukan tindakan dan penanganan yang tepat.

2.9 Penatalaksanaan

Apabila ptosisnya ringan, tidak didapati kelainan kosmetik dan tidak terdapat kelainan visual
seperti ambliopia, strabismus dan defek lapang pandang, lebih baik dibiarkan saja dan tetap
diobservasi. Penanganan ptosis pada umumnya adalah pembedahan. Pada anak-anak dengan
ptosis tidak memerlukan pembedahan secepatnya namun perlu tetap diobservasi secara periodik
untuk mencegah terjadinya ambliopia. Bila telah terjadinya ambliopia, pembedahan dapat
direncanakan secepatnya. Namun jika hanya untuk memperbaiki kosmetik akibat ptosis pada
anak, maka pembedahan dapat ditunda hingga anak berumur 3-4 tahun.

Indikasi pembedahan :
1. Fungsional Gangguan axis penglihatan. Ambliopia dan stabismus dapat menyertai ptosis pada
anakanak.

2. Kosmetik Tujuan operasi adalah simetris, dan simetris dalam semua posisi pandangan hanya
mungkin jika fungsi levator tidak terganggu.

Kontra Indikasi pembedahan:

1. Kelainan permukaan kornea

2. Bells Phenomenon negatif

3. Paralisa nervus okulomotoris

4. Myasthenia gravis

Prinsip-Prinsip Pembedahan : Pembedahan dapat dilakukan pada pasien rawat jalan cukup
dengan anestesi lokal. Pada ptosis ringan, jaringan kelopak mata yang dibuang jumlahnya
sedikit. Prinsip dasar pembedahan ptosis yaitu memendekkan otot levator palpebra atau
menghubungkan kelopak mata atas dengan otot alis mata. Koreksi ptosis pada umumnya
dilaksanakan hanya setelah ditemukan penyebab dari kondisi tersebut. Dan perlu diingat bahwa
pembedahan memiliki banyak resiko dan perlu untuk didiskusikan sebelumnya dengan ahli
bedah yang akan menangani pasien tersebut.
BAB III

LAPORAN KASUS
3.1 Profil Keluarga

Tn. EB Ny. RT

Tn. PB Tn. YB Ny. RB Nn. NB

Terdapat 2 kepala keluarga dalam rumah pasien:

Nama Kepala Keluarga I : Tn. Eduardus Bolang


Umur : 60 tahun
Pekerjaan : Pensiunan PNS
Pendidikan terakhir : Sarjana
Nama Istri (Pasien) : Ny. Rosalina Tlonaen
Umur : 58 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan terakhir : SMA
Status pernikahan : Sah
Jumlah anak : 3 orang
Nama anak :
o Anak I : Petrus Bolang
Umur : 36 tahun
Pendidikan : Sarjana
o Anak II : Yopi Bolang
Umur : 32 tahun
Pendidikan : Sarjana
o Anak III : Nancy Bolang
Umur : 28 tahun
Pendidikan : Sarjana
Suku : Alor
Agama : Kristen protestan
Alamat : Naikoten 1

Nama Kepala Keluarga II

Nama Kepala Keluarga II : Tn. Yopi Bolang


Umur : 32 tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan terakhir : Sarjana
Nama Istri (Pasien) : Ny. Rolin Bolang
Umur : 29 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan terakhir : SMA
Status pernikahan : Sah
Jumlah anak : 3 orang

Pasien adalah istri dari anak ke dua dalam keluarga ini. Pasien bertatus sebagai
menantu dari kepala keluarga I. Dirumah pasien, terdapat 2 kepala keluarga.
3.2 Status Kesehatan Pasien

a) Anamnesis

1) Anamnesis :
Keluhan utama : Kelopak mata kiri pasien tidak membuka seperti normal.
Riwayat penyakit sekarang : Pasien mengeluhkan kelopak mata kiri pasien yang tidak
dapat membuka secara normal sejak 1 bulan yang lalu. Awalnya kelopak mata pasien jatuh
menutupi bola mata sedikit namun perlahan menutup bola mata kiri secara menyeluruh dan
tidak dapat membuka. Pasien sering mengalami sakit kepala hebat hingga pasien menangis
dan tidak bisa tidur ataupun melakukan aktivitas biasa. Pasien juga mengalami muntah yang
tidak disertai dengan mual. Pasien sudah pergi ke dokter dan disarankan untuk melakukan CT
Scan Kepala.
Riwayat penyakit dahulu : Sekitar 2 tahun lalu setelah melahirkan anak terakhir
pasien sempat mengalami kelumpuhan wajah sebelah kiri hingga mulut bengkok dan
didiagnosis sebagai Bells Palsy yang kemudian sembuh dengan pengobatan oleh dokter.
Pasien juga terdiagnosa hipertensi tetapi tidak melakukan pengobatan.
Riwayat keluarga : Keluarga pasien tidak pernah mengalami hal yang sama.
Riwayat Pengobatan : Pasien mengkonsumsi obat :
1. Metilprednisolon
2. Ranitidin
3. Vitamin B Complex
Riwayat Sosio-Ekonomi : Pasien termasuk dalam sosio-ekonomi menengah karena
suami pasien merupakan wiraswasta yang tidak pasti pendapatannya.
b) Pemeriksaan Fisik
2.3.1 Status Generalis
Keadaan umum : Tampak sehat
Kesadaran : Compos Mentis, GCS (E= 4, V=5, M=6)
Tanda Vital :
- Tekanan darah : 160/100 mmHg
- Nadi : 77x/menit
- Pernapasan : 19x/menit
- Suhu : 36,9C
Kepala : dalam batas normal, deformitas (-)
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)
Hidung : dalam batas normal, deviasi septum (-)
Mulut : mukosa bibir lembab, sianosis (-)
Leher
Palpasi : pembesaran kelenjar getah bening (-)
Thoraks / Pulmo
Inspeksi :bentuk dada simetris kiri dan kanan, gerakan dada simetris, tipe
pernapasan torakoabdominal
Palpasi : massa (-), taktil fremitus kiri dan kanan kesan normal
Perkusi : sonor pada paru kiri dan kanan
Auskultasi : vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : tidak terdapat kelainan, dalam batas normal
Auskultasi : S1-S2 reguler, tunggal, murmur (-), gallop (-)
Perkusi : pekak (+), tidak tampak pembesaran jantung
Abdomen
Inspeksi : perut tampak datar, sesuai gerak pernapasan
Palpasi : hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-)
Perkusi : timpani (+)
Auskultasi : bising usus (+) kesan normal
Ekstremitas
Superior
Edema : -/-
Sianosis : -/-
Akral : hangat
Sensorik : +/+
Inferior :
Edema : -/-
Sianosis : -/-
Akral : hangat
Sensorik : +/+
2.3.2 Status Neurologis
1. Saraf Cranialis
N. Olfactorius
Subyektif : tidak dievaluasi
Obyektif : tidak dievaluasi
N. Opticus
Visus : sulit dievaluasi
Melihat warna : sulit dievaluasi
Funduskopi : tidak dievaluasi
N. Occulomotorius, N. Trochlearis, N. Abducens
Kedudukan bola mata : Posisi bola mata setangkup
Pergerakan bola mata:
Nasal :
Temporal :
Atas :
Bawah :
Temporal bawah :
Eksoftalmus :-
Celah mata (Ptosis) : + pada mata kiri
Pupil:
Bentuk bulat
Lebar 3mm, 3mm
Perbedaan lebar isokor
Reaksi pupil
Reaksicahaya langsung : (+)/(+)
Reaksi cahaya konsensuil : (+)/(+)

N. Trigeminus
Cabang Motorik
Otot Maseter : dalam batas normal
Otot Temporal : dalam batas normal
Otot Pterygoideus int/ext : dalam batas normal
Cabang Sensorik
N. Oftalmikus :dalam batas normal
N. Maxillaris : dalam batas normal
N. Mandibularis : dalam batas normal
Refleks kornea langsung : dalam batas normal
Refleks kornea konsensuil : dalam batas normal
N. Facialis
Waktu Diam
Kerutan dahi : sama tinggi
Tinggi alis : sama tinggi
Sudut mata : sama tinggi
Lipatan nasolabial : sama tinggi

Gambar 4. Posisi kerutan dahi dan tinggi alis mata waktu diam

Waktu Gerak
Mengerutkan dahi : dalam batas normal
Menutup mata : dalam batas normal
Bersiul : dalam batas normal
Memperlihatkan gigi : dalam batas normal
Pengecapan 2/3 depan lidah : tidak dievaluasi
Sekresi air mata : tidakdievaluasi
Gambar 5. Posisi kerutan dahi dan tinggi alis mata waktu diam

Gambar 6. Sudut nasolabial saat bersiul


N. Vestibulocochlearis
Vestibuler
Vertigo : (-)
Nistagmus : (-)
Tinitus : (-/-)
Cochlearis : tidak dievaluasi
N. Glossopharyngeus dan N. Vagus
Bagian Motorik:
Menelan : dalam batas normal
Kedudukan arcus pharynx : sulit dievaluasi
Kedudukan uvula : sulit dievaluasi
Pergerakan arcus pharynx : sulit dievaluasi
Detak jantung : normal
Bising usus : normal
Bagian Sensorik:
Pengecapan 1/3 belakakang lidah : sulit dievaluasi
Refleks muntah : sulit dievaluasi
Refleks palatum mole : sulit dievaluasi
N. Accesorius
Mengangkat bahu : dalam batas normal
Memalingkan kepala : dalam batas normal
N. Hypoglossus
Disatri :-
Lidah
Tremor :-
Atrofi :-
Fasikulasi :-
Ujung lidah saat istirahat : dalam batas normal
Ujung lidah saat dijulurkan : dalam batas normal
Diagnosis Kerja

- Ptosis susp SOP ( Space Occupying Process)

Penatalaksanaan

- Pasien disarankan untuk melakukan CT Scan

- Medikamentosa : 1. Metilprednisolon 16mg (3x1)

2. Ranitidine 150mg (2x1)

3. Vitamin B Complex (1x1)


3.3 Analisa Perbandingan Kasus Dan Teori

Gejala Klinis SOP Bells Palsy Sindrom Horner


Ptosis Nyeri kronik Kelumpuhan 1 sisi Ptosis kelopak
progressive wajah secara mata atas
mendadak
Nyeri Kepala Muntah Nyeri di sekitar Masuknya bola mata
telinga kedalam
(enoftalmus)
Muntah Gangguan neurogis Rasa bengkak dan Anhidrosis
fokal kaku pada wajah
Hipertensi Kelumpuhan N. VII Warna kemerahan
(1-7 hari) pada wajah yang
sakit
BAB IV

LAPORAN KEGIATAN
4.1 Kunjungan Pasien

Kegiatan kunjungan pasien dimulai dari tanggal 22 Juli 2017 pukul 10.00 pada
minggu ke V di Puskesmas Bakunase. Dimulai dari anamnesis pasien serta dilakukan
pemeriksaan neurologis (pemeriksaan nervus cranial) dan didapatkan adanya gejala
ptosis (kelopak mata tidak dapat membuka secara normal). Selain itu terdapat gejala
peningkatan tekanan intrakranial seperti nyeri kepala hebat serta muntah. Berdasarkan
gejala pasien diduga ptosis pasien disebabkan oleh adanya suatu massa intracranial oleh
sebab itu pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan CT Scan namun pasien belum
melakukan pemeriksaan tersebut. Semenjak didiagnosis dengan kecurigaan tumor otak
pasien mengalami gangguan secara psikis yakni kesedihan berkepanjangan, menarik diri
dari lingkungan, susah tidur, dan tidak bersemangat dalam melakukan aktivitas. Keluarga
pasien mencoba membantu untuk memberi support kepada pasien.

Selama kegiatan pengunjungan kami memberi KIE pada pasien :

- Sebaiknya pasien segera melakukan pemeriksaan lanjutan CT Scan agar dapat


mengetahui diagnosa pasti sehingga dapat segera diterapi sesuai causa penyebab.

- Mengkonsumsi makanan bergizi, kurangi makanan yang mengandung pengawet,


makanan yang dibakar, serta mengandung bahan karsinogenik.

- Istirahat yang cukup dan tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat.

- Lebih banyak terbuka kepada keluarga dan melakukan aktivitas positif seperti
melakukan hobi : menjahit, mengikuti kegiatan keagamaan,dan lainnya.
Gambar 7. Kegiatan Konseling Dan Edukasi Pasien
BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Kegiatan kunjungan didapatkan pasien dengan keluhan kelopak mata tidak dapat
membuka secara normal (ptosis). Ptosis adalah istilah medis untuk suatu keadaan dimana
kelopak mata atas (palpebra superior) turun di bawah posisi normal saat membuka mata
yang dapat terjadi unilateral atau bilateral. Untuk menegakkan diagnosis ptosis, dilakukan
berdasarkan pada anamnesa dan pemeriksaan yang tepat, selain itu juga dapat diketahui
causa dari ptosis dan derajat beratnya ptosis sehingga dapat ditentukan tindakan dan
penanganan yang tepat.
Seperti pada pasien ini perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk dapat
mengetahui diagnosa pasti agar bukan hanya diterapi secara simptomatik tetapi dapat juga
terapi causal. Selain itu juga pasien perlu diberikan KIE agar dapat memodifikasi gaya hidup
dan juga lebih berpikiran positif terhadap penyakitnya.

5.2 Saran

Saran bagi keluarga pasien :

Terus memberikan support dan dukungan kepada pasien untuk menghadapi penyakitnya.

Saran bagi Puskesmas Bakunase:

Menghimbau kepada pustu-pustu untuk segera melapor ke Puskesmas apabila ditemukan


gejala atau penyakit yang tidak dapat ditangani di pustu.

Merujuk pasien-pasien yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut ke fasilitas


kesehatan sekunder.