Anda di halaman 1dari 16

Pielonefritis

BAB I
KONSEP TEORI

A. Definisi
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal (pelvis renalis), tubulus, dan
jaringan intestinal dari salah satu atau kedua ginjal. (Brunner dan Suddarth, 2002)
Pielofritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal yang sifatnya akut maupun
kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama satu sampai dua minggu. Bila
pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang
disebut dengan pielonefritis kronis.

B. Etiologi
Penyebab dari pielonefritis adalah berbagai macam bakteri. uropatogen adalah agen bakteri
yang meliputi Escherichia coli, klebsilla, proteus, dan staphylococcus aureus. Infeksi saluran
kemih terutama pada kondisi statis kemih akibat batu saluran kemih, refluks vesikoureter dan
penurunan imunitas pada proses penuaan, serta peningkatan kadar glukosa dalam urine pada pasien
diabetes melitus dimana akan menyebabkan pertumbuhan bakteri lebih besar.

C. Klasifikasi
Ginjal merupakan bagian utama dari sistem saluran kemih yang terdiri atas organ organ tubuh yang
berfungsi memproduksi maupun menyalurkan air kemih atau urin keluar tubuh. berbagai penyakit
dapat menyerang komponen komponen ginjal, antar lain yaitu infeksi ginjal. Pielonefritis dibagi
dua macam yaitu :
1. Pyelonefritis akut merupakan salah satu penyakit ginjal yang sering ditemui. Gangguan ini
tidak dapat dilepaskan dari infeksi saluran kemih. Pielonefritis akut biasanya sin gkat dan sering
terjadi infeksi berulang karena terapi tidak sempurna atau infeksi baru, 20% dari infeksi yang
berulang terjadi setelah dua minggu setelah terapi selesai. Infeksi bakteri dari saluran kemih bagian
bawah ke arah ginjal, hal ini akan mempengaruhi fungsi ginjal. Infeksi saluran urinarius atas
dikaitkan dengan selimut antibodi bakteri dalam urin. Ginjal biasanya membesar disertai infiltrasi
interstisial sel-sel inflamasi. Abses dapat dijumpai pada kapsul ginjal dan pada taut
kortikomedularis. Pada akhirnya, atrofi dan kerusakan tubulus serta glomerulus terjadi. Infeksi
ginjal lebih sering terjadi pada wanita, hal ini karena saluran kemih bagian bawahnya (uretra)
lebih pendek dibandingkan laki-laki, dan saluran kemihnya terletak berdekatan dengan vagina dan
anus, sehingga lebih cepat mencapai kandung kemih dan menyebar ke ginjal. Insiden penyakit ini
juga akan bertambah pada wanita hamil dan pada usia di atas 40 tahun. Demikian pula penderita
kencing manis/diabetes mellitus dan penyakit ginjal lainnya lebih mudah terkena infeksi ginjal dan
saluran kemih.
2. Pielonefritis kronis
Pyelonefritis kronis juga berasal dari adanya bakteri, tetapi dapat juga karena faktor lain seperti
obstruksi saluran kemih dan refluk urin. Pyelonefritis kronis dapat merusak jaringan ginjal secara
permanen akibat inflamasi yang berulang kali dan timbulnya parut dan dapat menyebabkan
terjadinya renal failure (gagal ginjal) yang kronis. Ginjal pun membentuk jaringan parut progresif,
berkontraksi dan tidak berfungsi. Proses perkembangan kegagalan ginjal kronis dari infeksi ginjal
yang berulang-ulang berlangsung beberapa tahun atau setelah infeksi yang gawat. Pembagian
Pielonefritis akut Sering ditemukan pada wanita hamil, biasanya diawali dengan hidro ureter dan
hidro nefrosis akibat obstruksi ureter karena uterus yang membesar.

D. Manisfestasi Klinis
Gejala yang paling umum dapat berupa demam tiba-tiba. Kemudiandapat disertai menggigil, nyeri
punggung bagian bawah, mual, dan muntah.Pada beberapa kasus juga menunjukkan gejala ISK
bagian bawah yang dapat berupa nyeri berkemih dan frekuensi berkemih yang meningkat.Dapat
terjadi kolik renalis, dimana penderita merasakan nyeri hebatyang desebabkan oleh kejang ureter.
Kejang dapat terjadi karena adanyairitasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal. Bisa
terjadi pembesaran pada salah satu atau kedua ginjal. Kadang juga disertai otot perut berkontraksi
kuat.Pada anak-anak, gejala infeksi ginjal seringkali sangat ringan dan lebihsulit untuk dikenali.
Tanda gejala sesuai dengan klasifikasi meliputi :
1. Pyelonefritis akut ditandai dengan :
a. Pembengkakan ginjal atau pelebaran penampang ginjal
b. Pada pengkajian didapatkan adanya demam yang tinggi, menggigil,nausea,
c. nyeri pada pinggang, sakit kepala, nyeri otot dan adanya kelemahanfisik.
d. Pada perkusi di daerah CVA ditandai adanya tenderness.
e. Klien biasanya disertai disuria, frequency, urgency dalam beberapahari.
f. Pada pemeriksaan urin didapat urin berwarna keruh atau hematuriadengan bau yang tajam, selain
itu juga adanya peningkatan sel darah putih.

2. Pielonefritis kronis Pielonefritis kronis Terjadi akibat infeksi yang berulang-ulang,


sehingga kedua ginjal perlahan-lahan menjadi rusak. Tanda dan gejala:
a. Adanya serangan pielonefritis akut yang berulang-ulang biasanya tidak mempunyai gejala yang
spesifik.
b. Adanya keletihan.
c. Sakit kepala, nafsu makan rendah dan BB menurun.
d. Adanya poliuria, haus yang berlebihan, azotemia, anemia, asidosis, proteinuria, pyuria dan
kepekatan urin menurun.
e. Kesehatan pasien semakin menurun, pada akhirnya pasien mengalamigagal ginjal.
f. Ketidak normalan kalik dan adanya luka pada daerah korteks.
g. Ginjal mengecil dan kemampuan nefron menurun dikarenakan luka pada jaringan.
h. Hipertensi

E. Patofisiologi
Invasi bakteri pada parenkim ginjal memberikan manisfestasi peradangan dalam bentuk
pielonefritis. Infeksi dipengaruhi oleh faktor invasi bakteri dan faktor imunologis host. Faktor
bakteri seperti Escherichia coli yang bersifat uropatogenik menempel pada sel epitel, dan mampu
bertahan dari pembersihan aliran urine. Invasi bakteri ini melekat pada epitel dan memicu respon
peradangan aliran urine. Invasi bakteri ini melakukan proses fagositosis dalam urine secara
maksimal pada pH 6,5-7,5 dan osmolalitas dari 485 mOsm. Apabila nilai-nilai ini menyimpang
akan mengakibatkan penurunan proses fagositosis secara signifikan.
Umumnya bakteri seperti Eschericia coli, Streptococus fecalis, Pseudomonas aeruginosa,
dan Staphilococus aureus yang menginfeksi ginjal berasal dari luar tubuh yang masuk melalui
saluran kemih bagian bawah (uretra), merambat ke kandung kemih, lalu ke ureter (saluran kemih
bagian atas yang menghubungkan kandung kemih dan ginjal) dan tibalah ke ginjal,yang kemudian
menyebar dan dapat membentuk koloni infeksi dalam waktu 24-48 jam. Infeksi bakteri pada ginjal
juga dapat disebarkan melalui alat-alatseperti kateter dan bedah urologis. Bakteri lebih mudah
menyerang ginjal bilaterdapat hambatan atau obstruksi saluran kemih yang
mempersulit pengeluaran urin, seperti adanya batu atau tumor.
Pada pielonefritis akut, inflamasi menyebabkan pembesaran ginjal yang tidak lazim.
Korteks dan medula mengembang dan multipel abses. Kalik dan pelvis ginjal juga akan
berinvolusi. Resolusi dari inflamasi menghsilkan fibrosis dan scarring. Pielonefritis kronis muncul
stelah periode berulang dari pielonefritis akut. Ginjal mengalami perubahan degeneratif dan
menjadi kecilserta atrophic. Jika destruksi nefron meluas, dapat berkembang menjadi gagal ginjal.
Respon perubahan patologis pada saluran kemih bagian atas akan memberikan berbagai masalah
keperawatan pada pasien yang mengalami pielonefritis akut.
F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan untuk memperkuat diagnosis pielonefritisadalah:
1. Laboratorium : pada pemeriksan darah menunjukan adanya leukositosis disertai peningkatan laju
endap darah, urinalisis terdapat piuria, bakteriuria, dan hematuria. Pada pielonefritis akut yang
mengenai kedua sisi ginjal akan mengakibatkan terjadinya penurunan faal ginjal. Hasil kultur urine
terdapat bakteriuria dan tes sensitivitas dilakukan untuk menentukan organisme penyebab
sehingga dapat ditemukan agens antimikroba yang tepat.
2. Radiologi : pemeriksaan foto polos pada abdomen menunjukan adanya kekaburan dari bayangan
otot psoas dan mungkin terdapat bayangan radio-opak dan batu saluran kemih. Pada PIV terdapat
bayangan ginjal membesar dan terdapat keterlambatan pada fase nefrogram. Perlu dibuat diagnosa
banding dengan inflamasi pada organ disekitar ginjal antara lain : pankreatitis, apendisitis,
kolesistitis, divertikulitis, pneumonitis, dan inflamasi pada organ pelvis. dan rontgen bisa
membantu menemukan adanya batu ginjal, kelainan struktural atau penyebab penyumbatan
air kemih lainnya
3. Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ultrasonografi dapat dilakukan untuk mengetahui lokasi obtruksi di traktus urinarius, menghilangkan obstruksi adalah penting untuk
menyelamatkan ginjal dari kehancuran.
4. BUN/ kreatinin : meningkat diatas normal (rasio normal 10:1 hingga 20:1)
5. Serum Electrolytes
6. Biopsi ginjal : mungkin dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk diagnosis histologik.
7. Pemeriksaan IVP : Pielogram intravena (IVP) mengidentifikasi perubahanatau abnormalitas struktur.

G. Penatalaksanaan Medis
Infeksi ginjal akut setelah diobati beberapa minggu biasanya akansembuh tuntas. Namun
residu infeksi bakteri dapat menyebabkan penyakitkambuh kembali terutama pada penderita yang
kekebalan tubuhnya lemahseperti penderita diabetes atau adanya sumbatan atau hambatan aliran
urinmisalnya oleh batu, tumor dan sebagainya.
1. Penatalaksanaan medis menurut Barbara K. Timby dan Nancy E. Smith tahun 2007:
a. Mengurangi demam dan nyeri dan menentukan obat-obat antimikrobial seperti trimethroprim-sulfamethoxazole (TMF-SMZ, Septra),
gentamycin dengan atau tanpa ampicilin, cephelosporin, atau ciprofloksasin (cipro)selama 14 hari.
b. Merilekskan otot halus pada ureter dan kandung kemih, meningkatkan rasanyaman, dan meningkatkan kapasitas kandung kemih menggunakan
obatfarmakologi tambahan antispasmodic dan anticholinergic sepertioxybutinin (Ditropan) dan propantheline (Pro-Banthine).
c. Pada kasus kronis, pengobatan difokuskan pada pencegahan kerusakanginjal secara progresif .

2. Penatalaksanaan keperawatan menurut Barbara K. Timby dan Nancy E.Smith tahun 2007:
a. Mengkaji riwayat medis, obat-obatan, dan alergi.
b. Monitor Vital Sign.
c. Melakukan pemeriksaan fisik.
d. Mengobservasi dan mendokumentasi karakteristik urine klien.
e. Mengumpulkan spesimen urin segar untuk urinalisis.
f. Memantau input dan output cairan.
g. Mengevaluasi hasil tes laboratorium (BUN, creatinin, serum electrolytes).
h. Memberikan dorongan semangat pada klien untuk mengikuti prosedur pengobatan. Karena pada kasus kronis, pengobatan bertambah lama
danmemakan banyak biaya yang dapat membuat pasien berkecil hati.

H. Komplikasi
Ada tiga komplikasi penting dapat ditemukan pada pielonefritis akut(Patologi Umum & Sistematik
J. C. E. Underwood, 2002: 669)
1. Nekrosis papila ginjal. Sebagai hasil dari proses radang, pasokan darah pada area medula akan
terganggu dan akan diikuti nekrosis papila ginjal,terutama pada penderita diabetes melitus atau
pada tempat terjadinyaobstruksi.
2. Fionefrosis. Terjadi apabila ditemukan obstruksi total pada ureter yangdekat sekali dengan ginjal.
Cairan yang terlindung dalam pelvis dansistem kaliks mengalami supurasi, sehingga ginjal
mengalami pereganganakibat adanya pus.
3. Abses perinefrik. Pada waktu infeksi mencapai kapsula ginjal, dan meluaske dalam jaringan
perirenal, terjadi abses perinefrik.Komplikasi pielonefritis kronis mencakup penyakit ginjal
stadium akhir (mulai dari hilangnya progresifitas nefron akibat inflamasi kronik dan jaringan
parut), hipertensi, dan pembentukan batu ginjal (akibat infeksi kronik disertai organisme pengurai
urea, yang mangakibatkan terbentuknya batu)(Brunner & Suddarth, 2002: 1437).

Invasi kuman bakteri kesaluran kemih


WOC
Ketidakmampuan pertahanan lokal terhadap infeksi
Resiko kekurangan volume cairan
Reaksi infeksi inflamasi sistemik
Pielonefritis akut
Perubahan eliminasi urine
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
BB menurun
Anoreksia, mual
Hipertermi
Proses demam, menggigil
Kelemahan
Reaksi infeksi-inflamasi lokal, iritasi pada saluran kemih
Maturia, piuria, disuria, urgensi
Nyeri
Nyeri pada pinggang, perut, panggul, pinggang, nyeri tekan pada sudut kostovertebra
Pemenuhan informasi
Resiko kekambuhan infeksi saluran kemih
Laju metabolik meningkat
Penempelan bakteridiurotelium lokal terhadap infeksi

BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

1.PENGKAJIAN
Dalam melakukan pengkajian pada klien pielonefritis menggunakan pendekatan bersifat
menyeluruh yaitu :
1. Identitas klien
Anak wanita dan wanita dewasa mempunyai insiden ter infeksi pielonefritis. Pada usia 35 keatas.

2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Keluhan utama yang sering didapatkan meliputi keluhan nyeri dan keluhan iritasi miksi (disuria,
hematuria, piuria, urgensi)
b. Riwayat penyakit sekarang
Riwayat peningkatan suhu tubuh disertai menggigil biasanya dikeluhkan beberapa hari sebelum
klien meminta pertolongan pada tim kesehatan. Pada klien pielonefritis biasanya didapatkan
keluhan nyeri. Pengkajian keluhan nyeri sebagai berikut :
P : penyebab nyeri pada kostovertebra akibat respon peradangan pada pileum dan parenkim ginjal.
Q : kualitas nyeri seperti tertusuk tusuk
R : area nyeri pada panggul, nyeri tekan pada sudut kostovertebral, nyeri di daerah perut dan
pinggang.
S : Skala nyeri bervariasi pada rentang sedang sampai berat (2-3) (0-4)
T : Onset nyeri dimulia bersamaan dengan keluhan timbulnya demam.

c. Riwayat penyakit dahulu


Kaji apakah ada riwayat penyakit sepertiadanya keluhan obstruksi pada saluran kemih (yang
meningkatkan kerentanan ginjal terhadap infeksi). Tumor kandung kemih, striktur, hiperplasia
prostatik benigna, dan diabetes melitus. Penting untuk dikaji meliputi riwayat pemkaian obat
obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat.
d. Riwayat penyakit keluarga
Mengidentifikasi apakah di keluarga ada riwayat penyakit menular atau turunan.

Pemeriksaan Fisik
1. B1 (Breathing)
Bila tidak melibatkan infeksi sistemik, pola napas dan jalan napas dalam kondisi efektif walau
secara frekuensi mengalami peningkatan.
2. B2 (Blood)
Bila tidakmelibatkan respon sistemik, status kardiovaskuler tidak mengalami perubahan walau
secara frekuensi denyut jantung mengalami peningkatan. Perfusi perifer dalam batas normal, akral
hangat, akral hangat.
3. B3 (Brain)
Pada wajah biasanya tidak didapatkan adanya perubahan konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterik, mukosa mulut tidak mengalami peradangan. Status neurologis tidak mengalami
perubahan, tingkat kesadaran dalam batas normal dimana orientasi (tempat, waktu, orang) baik.

4. B4 (Bladder)
a. Inspeksi : tidak ada pembesaran pada suprapubis, tidak ada kelaianan pada genitalia eksterna.
Didapatkan disuria, pada pielonefritis yang mengenai kedua ginjal sering didapatkan penurunan
urine output karena terjadi pe nurunan dari fungsi ginjal.
b. Palpasi : sering didapatkan distensi kandung kemih. Pada palpasi area kostovertebra sering
didapatkan adanya perasaan tidak nyaman dan mungkin didapatkan adanya massa dari pembesaran
ginjal akibat infiltrasi interstisial sel-sel inflamasi pada palpasi ginjal.
c. Perkusi : perkusi pada sudut kostovertebra memberikan stimulus nyeri lokal disertai suatu
penjalaran ke nyeri ke pinggang dan perut.
d. Auskultasi : tidak didapatkan adanya bruit ginjal
5. B4 (Bowel)
Didapatkan adanya mual, muntah, serta anoreksia sehingga sering didapatkan penurunan berat
badan terutama pada pielonefritis kronik. Penurunan peristaltik usus sering didapatkan.
6. B6 (Bone)
Didapatkan malaise dan adanya kelemahan fisisk secara umum.

Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut b.d proses peradangan dan infeksi
b. Hipertermi b.d demam, respon imunologi terhadap infeksi
c. Perubahan pola eliminasi urine(disuria,dorongan,frekuensi dan atau nokturia b.d infeksi pada ginjal
d. Resiko kekurangan volume cairan b.d intake tidak adekuat
e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi yang tidak adekuat, efek sekunder dari anoreksia, mual, muntah

Rencana keperawatan
1. Diagnosa 1 : Nyeri b.d infeksi pada ginjal.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24
jam pasien merasa nyaman dan nyeri berkurang ataupun hilang.
Kriteria hasil :
- Tidak ada keluhan nyeri saat berkemih.
- Tidak mengekspresikan nyeri secara verbal atau pada wajah.
- Tidak ada kegelisahan.

Intervensi Rasional

1. Pantau intensitas,lokasi, dan faktor Untuk mengetahui skala nyeri yang


yang memperberat atau meringankan dialami oleh klien.
nyeri.

2. Anjurkan klien untuk beristirahat Dengan istirahat yang cukup dapat


yang cukup. merilekskan otot-otot klien.

3. Anjurkan klien untuk minum dalam Untuk membantu klien dalam


jumlah banyak berkemih.
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam Analgesik memblok lintasan nyeri
pemberian terapi analgesik. sehingga mengurangi nyeri.

2. Diagnosa 2 : Hipertermi b.d respon imunologi terhadap infeksi.


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
demam klien berkurang.
Kriteria hasil :
- Suhu tubuh kembali normal.
- Suhu kulit lembab.

Intervensi Rasional
1. Mengobservasi suhu tubuh klien. Untuk mengetahui seberapa tinggi
suhu tubuh klien.

2. Pantau suhu lingkungan. Suhu rungan dan jumlah elimut harus


diubah untuk mmpertahankan suhu
mendekati normal.

3. Berikan kompres hangat pada daerah Untuk membantu mnurunkan suhu


sekitar axila, dan hindari penggunaan tubuh,selain itu alkohol dapa
alkohol. mngeringkan kulit.

4. Kolaborasi dengan tim medis dalam Digunakan untuk mengurangi demam


pemberian terapi antipiretik. dengan aksi sentralnya pada
hipotalamus.

3. Diagnosa 3 : Perubahan pola eliminasi urine(disuria,dorongan,frekuensi dan


atau nokturia b.d infeksi pada ginjal.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
pola eliminasi kembali normal.
Kriteria hasil :
- Tidak ada disuria maupun nokturia
- Input dan output seimbang
- Pola eliminasi normal kembali

Intervensi Rasional
1. ukur dan catat urine setiap kali Untuk mengetahui adanya perubahan
berkemih. warna dan untuk mrngetahui input
serta output klien.
2. Anjurkan klien untuk minum dalam Untuk membantu meningkatkan input
jumlah banyak agar klien dapat segera dan output klien.
berkemih.
3. Palpasi kandung kemih. Untuk mengetahui adanya distensi
kandung kemih.
4. Kolaborasi dengan tim medis dalm Untuk membantu menpercepat proses
pemberian terapi. penyembuhan klien.

4. Diagnosa 4 : Resiko kekurangan volume cairan b/d intake tidak adekuat.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam klien
dapat mempertahankan pola eliminasi secra adekuat.
Kriteria hasil :
- Tidak memiliki konsentrasi urine yang berlebih.
- Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam.

Intervensi Rasional
1. Ukur dan catat urine setiap kali Untuk mengetahui adanya perubahan
berkemih. warna dan untuk mengetahui input
ataupun output.
2. Tempatkan klien pada posisi telentang Memaksimalkan aliran balik vena bila
atau sesuai kenutuhan. terjadi hipotensi.

3. Patntau membran mukosa kering. Tugor kulit yang kurang baik, dan rasa
haus yang berlebih akan memperkuat
tanda-tanda dehidrasi.
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam Untuk membantu mempercepat proses
pemberian terapi. penyembuhan pasien.

BAB III
ANALISA KASUS

A. Kasus
Seorang remaja Ny.S berumur 18 tahun sudah 1 hari berada diruang penyakit dalam RS.Mawar.
Ny.S dibawa keluarganya ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dirasakan sekitar 2 minggu yang
lalu. Setelah dilakukan pengkajian didapatkan data Ny. S mengalami disuria. Disuria juga sudah
dialami sejak 1 minggu yang lalu. Hasil pemeriksaan urin didapatkan protein +2, Ny. S sering
meminta minum karena merasa haus baik siang maupun malam. Hasil pemeriksaan TTV
didapatkan TD : 160/100 mmHg, suhu 38,5 0C, Hr 105 x/menit. Lakukan asuhan keperawatan
pada Ny.S tersebut.
B. Pengkajian
Nama : Ny. S
Umur : 18 tahun
Bangsa / suku : Indonesia
Jenis kelamin : perempuan
Pendidikan :-
Diagnosa Medis : pielonefritis

Keluhan Utama :
Px mengeluh nyeri.
Riwayat penyakit sekarang :
Ny.S dibawa keluarganya ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dirasakan sekitar 2 minggu yang
lalu. Setelah dilakukan pengkajian didapatkan data Ny. S mengalami disuria. Disuria juga sudah
dialami sejak 1 minggu yang lalu. Menurut hasil pemeriksaan urin didapatkan protein +2.
Riwayat penyakit dahulu :
Klien tidak ada riwayat penyakit dahulu seperti (hipertensi maupun infeksi lain), klien merasakan
nyeri sudah sejak 2 minggu yang lalu dan mengalami disuria sejak 1 minggu yang lalu sebelum
masuk Rumah Sakit.

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada riwayat penyakit keluarga.

C. Observasi dan Pemeriksaan fisik :


1. Tanda tanda Vital
TD : 160/100mmhg
Suhu : 38,5 oC
Nadi : 105 x/menit
Kesadaran : compos metis
Pemeriksaan laboratorium : urin protein +2
Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Pernafasan (B1)
a. Keluhan : tidak Sesak, tidak Nyeri waktu nafas
b. Batuk : tidak
c. Sekret : tidak
d. Irama Nafas : teratur
e. Jenis : Normal
f. Suara Nafas : Normal
g. Alat bantu nafas : Tidak

2. Sistem KardioVaskuler (B2)


a. Keluhan Nyeri Dada : Tidak
b. Irama Jantung : Reguler
c. S1/S2 tunggal : Ya
d. Suara Jantung : Normal
e. Heart rate : 105x/menit
f. CRT : Normal 2 detik
g. Akral : Hangat

3. Sistem Persyarafan (B3)


a. Kesadaran : Compos metis
b. Keluhan Pusing : Tidak
c. Pupil : Isokor
d. Sclera : Normal
e. Konjungtiva : Normal

4. Sistem Perkemihan (B4)


a. Inspeksi : Didapatkan disuria, pada pielonefritis yang mengenai kedua ginjal sering didapatkan
penurunan urine output karena terjadi penurunan dari fungsi ginjal.
b. Palpasi : Didapatkan perasaan tidak nyaman nyeri dan mungkin didapatkan adanya massa dari
pembesaran ginjal akibat infiltrasi interstisial sel-sel inflamasi pada palpasi ginjal.
c. Perkusi : perkusi pada sudut kostovertebra memberikan stimulus nyeri lokal disertai suatu
penjalaran ke nyeri ke pinggang dan perut.
d. Auskultasi : tidak didapatkan adanya bruit ginjal

5. Sistem Pencernaan (B5)


Tidak didapatkan mual atau muntah, didapatkan klien sering meminta minum karena sering haus
pada siang maupun malam hari.

6. Sistem Muskoleskeletal (B6)


Inspeksi : Tidak didapatkan kelainan pada ekstermitas, pergerakan sendi bebas.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

D. Analisa Data
Data Etiologi Masalah
DO : px mengeluh nyeri Pielonefritis Nyeri akut
DS :
- Gelisah
- Wajah menyeringai
Infeksi pada pieleum dan
- Skala nyeri 6
parenkim ginjal
- Nyeri sudah 2 minggu
- TD : 160/100 mmHg Reaksi infeksi inflamasi
- Suhu : 38,5 C
Nyeri pada pinggang, nyeri
perut

DO : Suhu Tubuh Pasien Peradangan/ infeksi ginjal Hipertermi


meningkat
DS : proses demam, menggigil
- TD = 160/100 mmHg
- S = 38,5 C
- RR = 105 x/menit
peningkatan suhu tubuh
- Kulit hangat

DO : Px mengalami disuria Iritasi pada saluran kemih Perubahan eliminasi urine

DS :
- Disuria sudah 1 minggu
Disuria
- Di dapat hasil
pemeriksaan protein 2+
Perubahan eliminasi urin
- S = 35,5 C
DO : pasien mengeluh sering Haus berlebih Resiko kekurangan volume
haus cairan
DS : haus dirasakan siang Kelemahan
maupun malam hari,
kelelahan Laju metabolik meningkat
S : 38,5

volume cairan
E. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan respon inflamasi akibat infeksi pada pielum dan parenkim
2. Hipertermi berhubungan dengan respon imunologi terhadap infeksi
3. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan respon inflamasi saluran kemih, iritasi saluran
kemih
4. kekurangan volume cairan berhubungan dengan rasa haus yang berlebih

F. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa : Nyeri akut b/d respon inflamasi akibat infeksi pada pielum dan parenkim
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.
Kriteria hasil :
- Skala nyeri menurun atau hilang.
- Px dapat melakukan prinsip management nyeri tanpa bantuan.

Intervensi Rasional

1. Pantau intensitas nyeri dan skala Untuk mengetahui seberapa berat rasa
nyeri. nyeri yang dirasakan px.

2. Lakukan manajemen nyeri


keperawatan :
a. Atur posisi fisiologis a. Posisi fisiologis akan meningkatkan
asupan O2 ke jaringan yang
mengalami iskemia sekunder dari
b. Istirahatkan klien inflamasi
b. Istirahat akan menurunkan kebutuhan
O2 jaringan perifer sehingga akan
c. Manajemen lingkungan, berikan meningkatkan suplai darah ke jaringan
lingkungan yang nyaman dan c. Lingkungan tenang akan menurunkan
kondusif, batasi pengunjung ruangan stimulus nyeri eksternal atau
kesensitifan terhadap cahaya dan
menganjurkan klien membantu
meningkatkan kondisi O2, ruangan
yang akan berkurangapabila banyak
pengunjung yang berada diruangan
3. Ajarkan teknik relaksasi pada px. Untuk mengurangi rasa
nyeri,meningkatkan kenyamanan pada
px.
4. Kolaborasi dengan dokter dalam Untuk membantu penyembuhan
pemberian obat analgesik. dengan farmakologi.
2. Diagnosa : Hipertermi b/d respon imunologi terhadap infeksi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam masalah teratasi.
Kriteria hasil :
- Suhu tubuh px turun ataupun normal 36,5o C 37,5o C
- Tidak merasakan panas lagi

Intervensi Rasional

1. Observasi ttv. Untuk mengetahui keadaan umum px.

2. Monitor intake dan output setiap 8 jam. Untuk mengetahui input output cairan
melalui parental dan oral.

3. Anjurkan banyak minum bila tidak ada Agar tidak mengalami rasa lemas dan
kontra indikasi. dehidrasi.

4. Berikan kompres hangat pada daerah sekitar Untuk membantu menurunkan suhu tubuh
axilla. px.

5. Berikan antipieretik sesuai program. Untuk membantu proses penyembuhan px.

3. Diagnosa : Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan respon


inflamasi saluran kemih
Tujuan : Selama 3 x 24 jam gangguan eliminasi dapat teratasi secara
optimal sesuai kondisi klien
Kriteria hasil :
- tidak ada keluhan iritasi dalam melakukan miksi, seperti disuria dan urgensi
- mampu melakukan miksi setiap 3-4 jam
- produksi urine 50 cc/jam, urine tidak keruh atau urine yang keluar berwarna kuning jernih

Intervensi Rasional

1. kaji pola berkemih dan catat produksi Menegtahui fungsi ginjal


urine tiap 6 jam
2. palpasi kemungkinan adanya distensi Menilai perubahan kandung kemih
kandung kemih akibat dari infeksi saluran kemih

3. istirahatkan pasien Pada kondisi istirahat, maka ada


kesempatan jaringan untuk
memperbaiki diri
4. anjurkan klien untuk minum minimal Membantu mempertahankan fungsi
2000 cc/hari ginjal
5. kolaborasi : Pemeriksaan kultur dan uji sensitivitas
- diagnostik kultur dan uji sensitivitas dapat menentukan jenis antimikroba
yang sesuai
- pemberian antimikroba
Antimikroba yang bersifat bakterisid
dapat membunuh kuman yang
diberikan sesuai dengan uji sensitivitas

4. Diagnosa 4 : resiko kekurangan volume cairan b.d rasa haus yang berlebih
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
volume cairan terpenuhi dengan baik
Kriteria hasil :
- klien tidak merasakan haus lagi baik siang maupun malam
- memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam
Intervensi Rasional

1. pantau pola berkemih ukur dan catat Untuk mengetahui adanya


produksi urine setiap kali berkemih perubahan warna dan untuk
mengetahui input dan out put
2. pantau membran mukosa yang kering turgor kulit yang kurang baik dan
turgor kulit yang kurang baik dan rasa rasa haus yang berlebih
haus yang berlebih memperkuat tanda memperkuat tanda tanda dehidrasi
tanda dehidrasi

3. Tempatkan pasien pada posisi 3. Memaksimalkan aliran balik vena


terlentang tandelenburg sesuai bila terjadi hipotensi
kebutuhan pasien
4. Kolaborasai 4. Tipe dan jumlah cairan tergantung
Berikan terapi cairan ( normal salin ) pada derajad kekurangan cairan.
sesuai indikasi.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal yang sifatnya akut maupun
kronis. Penyebab pielonefritis ini adalah berbagai. uropatogen adalah agen bakteri yang meliputi
Escherichia coli, klebsilla, proteus, dan staphylococcus aureus. Infeksi saluran kemih terutama
pada kondisi statis kemih akibat batu saluran kemih, refluks vesikoureter dan penurunan
imunitas pada proses penuaan. Dari kasus diatas dapat dilakuakan pengkajian. Gejala pada klien
dengan pielonefritis biasanya timbul secara tiba-tiba berupa demam, menggigil, nyeri di
punggung bagian bawah, mual, muntah.