Anda di halaman 1dari 30

PRESENTASI KASUS

Mioma Uteri Submukosa

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di


Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi RSUD Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh:
Muhammad Satya Arrif Zulhani
20164011033

Diajukan kepada:
dr. Erick Yuane, Sp.OG.

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan


Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Departemen Ilmu Obstetri dan Ginekologi
Rumah Sakit Panembahan Senopati

2017
HALAMAN PENGESAHAN
Mioma Uteri Submukosa

Disusun oleh:

Muhammad Satya Arrif Zulhani


20164011033

Disetujui dan disahkan pada tanggal:


__12 Juni 2017

Mengetahui,
Dosen Pembimbing

dr. Erick Yuane, Sp.OG.


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos yang terdiri dari sel-sel jaringan otot
polos, jaringan pengikat fibroid dan kolagen. Mioma uteri merupakan tumor pelvis yang
terbanyak pada organ reproduksi wanita. Kejadian mioma uteri sebesar 20 40% pada
wanita yang berusia lebih dari 35 tahun dan sering menimbulkan gejala klinis berupa
menorrhagia dan dismenorea. Selain itu mioma juga dapat menimbulkan kompresi pada
traktus urinarius, sehingga dapat menimbulkan gangguan berkemih maupun tidak dapat
menahan berkemih (Prawirohardjo, 2014).

Kejadian mioma uteri di Indonesia sebesar 2,39%-11,70% pada semua penderita


ginekologi yang dirawat. Mioma uteri memiliki banyak faktor risiko. Risiko mioma uteri
meningkat seiring dengan peningkatan umur. Kasus mioma uteri terbanyak terjadi pada
kelompok umur 40-49 tahun dengan usia rata-rata 42,97 tahun sebanyak 51%. Risiko
mioma uteri meningkat pada wanita nullipara (Kurniasari, 2010).

Beberapa penelitian menemukan hubungan antara obesitas dan menarche dini


dengan peningkatan insiden mioma uteri. Wanita yang mempunyai Indeks Massa Tubuh
(IMT) di atas normal, dan menarche dini (<10 tahun) berkemungkinan lebih sering
menderita mioma uteri. Mioma umumnya ditemukan pada wanita usia reproduksi, dan
belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarche, pada masa menopause mioma akan
mengecil seiring dengan penurunan hormon estrogen dalam tubuh (Kurniasari, 2010).
BAB II
IDENTITAS PASIEN
A. Identitas Pasien
Nama : Ny. Hartini
Umur : 47 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Buruh
Agama : Islam
Alamat : Bulusan Canden Bantul
Tanggal masuk : 13 Mei 2017

B. Anamnesa
13 Mei 2017 pukul 11.30 (alamanda 2)
Keluhan Utama
Pasien datang ke poli dengan keluhan nyeri perut bagian bawah
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan nyeri perut bagian bawah, menstruasi tidak teratur, dan
keluar darah merah segar ketika berhubungan seksual
Riwayat obstetri
I : 1999, aterm, pervaginam, perempuan, BBL = 2900gr
II : 2005, aterm, pervaginam, perempuan, BBL = 3100gr
III: 2009, aterm, perabdominal, perempuan, BBL= 3500gr
IV: 2010, aterm, perabdominal, laki-laki, BBL= 3000gr
Riw. Haid : menarche umur 13 tahun.
Riw. Menikah : menikah 1x dengan suami sekarang sejak 20 th yll
Riw. KB : (+) dengan IUD
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat Hipertensi, terkontrol tanpa obat rutin

Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada riwayat penyakit dalam keluarga
C. Pemeriksaan Fisik
Status generalis
KU : Baik Composmentis, tampakanemis
Vital sign : TD: 120/80mmhg, RR: 18x/m N:82x/m T: 36C
TB : 155 cm
BB : 52 kg
Kepala : CA (+)/(+), SI(-)/(-)
Leher : Pembesaran tiroid (-)
Thorax : Simetris (+), retraksi (-), SDV (+)/(+), BJ (-), S1 S2 reguler (+)
Abdomen : nyeri tekan (+) region hipogastric, Supel (+)
Ekstremitas : Akral hangat (+)/(+)/+)/(+) , Edema (-)/(-)

Pemeriksaan Dalam
Inspekulo:
-tampak massa bulat sebesar telur ayam, sedikit lonjong memanjang keluar dari servix
uteri
-tampak perdarahan keluar dari kanalis servikalis
-portio licin
-OUE sedikit terbuka
-Fluor (-)

Vaginal Toucher:
Teraba massa bertangkai (pedunculated) sebesar telur ayam, perabaan kenyal, permukaan
rata, bergerak bersamaan saat fundus uteri digerakkan, tangkai sebesar jari kelingking
orang dewasa

D. Pemeriksaan Laboratorium

Laboratorium :
(RUJUKAN)
Hemoglobin : 9.22 (14-18) g/dl
Lekosit : 6.84 (4-11) ribu/ul
Eritrosit : 5.3 (4.50-5.50) ribu/ul
Trombosit : 317 (150-450) ribu/ul
Hematokrit : 34. (42.0-52.0) vol%

Eosinofil :2 (2-4%) %
Basofil :0 (0-1%) %
Batang :5 (2-5%) %
Segmen : 60 (51-67%) %
Limfosit : 30 (20-35%) %
Monosit :3 (4-8%) %

Golongan darah :O
PPT : 13.4 (12-16) detik
APTT : 31.3 (28-38) detik
Control PPT : 14.0 (11-16) detik
Control APTT : 34.7 (28-36.5) detik
SGOT : 17 (<31) U/L
SGPT : 11 (<31) U/L
Protein Total : 7.66 (6.2-8.4) g/dl
Albumin : 4.27 (3.5-5.5) g/dl
Globulin : 3.39 (2.8-3.2) g/dl
Ureum : 18 (17-43) mg/dl
Creatinin : 0.97 (0.90-1.30) mg/dl
GDS : 91 (80-200) mg/dl
Natrium : 136.9 (137-145) mmol/l
Kalium : 4.22 (3.50-5.10) mmol/l
Klorida : 104.8 (98-107) mmol/l
HbsAg Titer : Non Reaktif (Non Reaktif)
HIV Screening: Negatif (Negatif)

E. Pemeriksaan USG
USG: kesan terdapat mioma di posterior uterus ukuran 15x5 cm memanjang sampai
keluar kanalis servikalis

F. Diagnosis Kerja
Mioma Geburt pada P4A0

G. Penatalaksanaan
-Transfusi darah s/d Hb 10gr/dL
-Pro ekstirpasi (pemuntiran)
-Observasi KU/VS

H. Follow Up

13 Mei 2017 pukul 15.00


S: Pasien datang ke poli dengan keluhan nyeri perut bagian bawah disertai
menstruasi yang tidak teratur, darah yang keluar berwarna merah segar terutama
ketika berhubungan seksual. BAB dan BAK normal lancar tak ada keluhan
Riwayat obstetri
I : 1999, aterm, pervaginam, perempuan, BBL = 2900gr
II : 2005, aterm, pervaginam, perempuan, BBL = 3100gr
III: 2009, aterm, perabdominal, perempuan, BBL= 3500gr
IV: 2010, aterm, perabdominal, laki-laki, BBL= 3000gr
Riw. Haid : menarche umur 13 tahun.
Riw. Menikah : menikah 1x dengan suami sekarang sejak 20 th yll
Riw. KB : (+) dengan IUD
O:
KU : Baik Composmentis, tampakanemis
Vital sign : TD: 120/80mmhg, RR: 18x/m N:82x/m T: 36C
TB : 155 cm
BB : 52 kg
Kepala : CA (+)/(+), SI(-)/(-)
Leher : Pembesaran tiroid (-)
Thorax : Simetris (+), retraksi (-), SDV (+)/(+), BJ (-), S1 S2 reguler (+)
Abdomen : nyeri tekan (+) region hipogastric, Supel (+)
Ekstremitas : Akral hangat (+)/(+)/+)/(+) , Edema (-)/(-)

Inspekulo:
-tampak massa bulat sebesar telur ayam, sedikit lonjong memanjang keluar dari servix
uteri
-tampak perdarahan keluar dari kanalis servikalis
-portio licin
-OUE sedikit terbuka
-Fluor (-)

Vaginal Toucher:
Teraba massa bertangkai (pedunculated) sebesar telur ayam, perabaan kenyal, permukaan
rata, bergerak bersamaan saat fundusuteri digerakkan, tangakai sebesar jari kelingking
orang dewasa

USG: kesan terdapat mioma di posterior uterus uk. 15x5 cm memanjang sampai keluar OUE

A: Mioma geburt dengan anemia

P:
-Pro ekstirpasi (pemuntiran mioma
-Transfusi darah s/d Hb 10gr/dL
-Observasi KU VS

14 Mei 2017 pukul 06.00


S: Nyeri pereut bagian atas sudah berkurang, perdarahan (-), pusing cekot cekot
O: KU: Baik CM
VS:TD: 120/80 RR:18x/m S:36.2 C N:84x/m
A: Post ekstirpasi mioma geburt H1
P:
-Amoxiilin 3x500
-Asam mefenamat 3x500mg

15 Mei 2017 pukul 06.00


S: Keluhan (-)
O: KU: Baik CM
VS:TD: 110/70 RR:18x/m S:36.2 C N:82x/m

A: Post ekstirpasi mioma geburt H2


P:
-Amoxicilin 3x500mg
-Asam mefenamat 3x500mg
-BLPL
Inj.
Cefotaxime
1gr/12 jam/IV

mobilisasi

Inj
cefotaxime
1gr/12jam/IV
Transfusi 1
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Mioma Uteri
Mioma uteri adalah tumor jinak pada daerah rahim atau lebih tepatnya
otot rahim dan jaringan ikat di sekitarnya. Mioma belum pernah ditemukan
sebelum terjadinya menarkhe, sedangkan setelah menopause hanya kirakira 10%
mioma yang masih tumbuh. Neoplasma jinak ini berasal dari otot uterus dan
jaringan ikat yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan dikenal juga
istilah fibromioma, leiomioma, atapun fibroid (Prawirohardjo, 2014).
Mioma juga sering disebut sebagai fibroid, adalah tumor jinak yang
berkembang di dalam ataupun sekitar uterus. Istilah medis dari fibroid biasa
disebut sebagai leiomyomas, adalah tumor pada jaringan otot yang tumbuh pada
dinding uterus (Healthgrades 2013).
Sebagian besar kasus mioma uteri adalah tanpa gejala, sehingga
kebanyakan penderita tidak menyadari adanya kelainan pada uterusnya. Hanya 10-
20% yang membutuhkan penanganan. Gejala klinik yang ditimbulkan terutama
perdarahan menstruasi yang berlebihan, infertilitas, abortus berulang, dan nyeri
akibat penekanan massa tumor. (Thomason,2008)
Pengobatan mioma uteri dengan gejala klinik umumnya adalah tindakan
operasi yaitu histerektomi ( pengangkatan rahim ) atau pada wanita yan ingin
mempertahankan kesuburannya, miomektomi ( pengangkatan mioma ) dapat
menjadi pilihan (Djuwantono, 2004).
Secara patologi, mioma uteri berbentuk bulat, putih mutiara, licin, dan
kenyal. Mioma uteri tidak menyatu pada lapisan myometrium melainkan dilapisi
jaringan ikat tipis di permukaan luarnya. Secara histologi, mioma uteri tersusun
atas otot polos, jaringan ikat fibrosa, dan banyak pembuluh darah (Edmonds, 2007)
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uterus dan hanya 1-3%,
sisanya adalah dari korpus uterus. Maka pembagian menurut letaknya dapat kita
dapati sebagai:
1. Mioma submukosum: berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam
rongga uterus. Mioma submukosum dapat tumbuh bertangkai menjadi polip,
kemudian dilahirkan melalui saluran serviks dan disebut myom geburt. Myom jenis
ini dapat mengalami infeksi dan nekrosis karena gangguan sirkulasi
darahnya,sehingga menimbulkan gejala metroragia atau menoragia disertai leukore
dan gangguan gangguan yang disebabkan oleh infeksi dari uterus itu sendiri.
Myom geburt sendiri sering disalahartikan dengan kanker serviks
2. Mioma intramural: mioma terdapat di dinding uterus di antara serabut
miometrium
3. Mioma subserosum: apabila tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol
pada permukaan uterus, diliputi oleh serosa. Mioma subserosum dapat pula
tumbuh menempel pada jaringan lain misalnya ke ligamentum atau omentum dan
kemudian membebaskan diri dari uterus, sehingga disebut wandering/parasitic
fibroid (Prawirohardjo, 2014).
Gambar 1. Letak-letak tumbuhnya mioma pada uterus (Miller-Keane, 2003)
B. Epidemiologi Mioma Uteri
Kejadian mioma uteri sebesar 20-40% pada wanita yang berusia lebih dari
35 tahun. Wanita yang sering melahirkan sedikit kemungkinannya untuk
perkembangan mioma ini dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah hamil
atau hanya satu kali hamil. Statistik menunjukkan 60% mioma uteri berkembang
pada wanita yang tidak pernah hamil atau hanya satu kali hamil. Prevalensi
meningkat apabila ditemukan riwayat keluarga, ras dan nulipara. Mioma uteri
terjadi pada 10% wanita ras kaukasia dan 30% wanita kulit hitam. Predisposisi
genetik dan faktor-faktor lingkungan (misalnya, variasi hormon) dapat menjadi
pencetusnya. Setelah menopause, mioma menyusut karena stimulasi estrogen
sudah menurun. Sekitar 1 dari 1000 kasus mioma merupakan leiomiosarkoma atau
karsinoma (Sinclair dkk, 2010)..
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32%-0,6%
dari seluruh mioma dan merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus
(Prawirohardjo, 2007). Studi yang dilakukan oleh Ekine dkk (2015) menyebutkan
bahwa angka kejadian gangguan reproduksi di negara berkembang mencapai 36%
dari total beban sakit yang diderita selama masa produktif. Diperkirakan insiden
mioma uteri sekitar 20% -35% dari seluruh wanita di dunia (Ekine et al., 2015).
.National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion
periode 1994-1999, melaporkan bahwa mioma uteri merupakan salah satu
penyebab dilakukannya tindakan histerektomi pada wanita Amerika usia
reproduktif 7.403 dari 3.525.237 histerektomi atau sekitar 2,1 per 1000
wanita.Menurut Center of Disease Prevention and Control (CDC) Tahun 2013
yang dikutip dari Rawal Medical Journal menyebutkan bahwa tindakan
histerektomi dilakukan pada sekitar 5 per 1000 wanita Amerika setiap tahun
(Bhati, 2013).

C. Etiologi Mioma Uteri


Meskipun penyebab pasti dari mioma belum diketahui, penelitian lebih
lanjut menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
mioma uteri, yaitu: faktor hormonal, faktor pertumbuhan (growth factor), dan
biologi molekuler dari tumor jinak ini. Faktor-faktor ini yang kemungkinan
berperan pada inisiasi perubahan genetik pada mioma termasuk kelainan abnormal
intrinsik pada miometrium, kenaikan jumlah receptor estrogen di miometrium,
perubahan hormonal atau respon terhadap inflamasi pada saat menstruasi.
Perubahan genetik ini dipengaruhi oleh promotor (hormon) dan efektor (faktor
pertumbuhan).
Mioma merupakan monoklonal dimana sekitar 40% kromosomnya
ditemukan abnormalitas, sementara 60% sisanya mengalami mutasi yang tidak
diketahui. Perbedaan genetik antara mioma dan leiomiosarkoma menunjukkan
bahwa keduanya berasal dari sel yang berbeda dan leiomiosarkoma bukan
merupakan hasil dari degenerasi malignansi mioma. Baik estrogen maupun
progesteron diduga berperan dalam inisiasi terjadinya perkembangan mioma.
Sementara faktor pertumbuhan yang diproduksi oleh sel otot lunak dan fibroblas
berperan dalam mengontrol proliferasi dan stimulasi pertumbuhan mioma (Parker,
2007).
D. Gejala pada Mioma Uteri
Walaupun munculnya mioma tidak pernah dikaitkan dengan mortalitas,
tetapi mioma dapat meningkatkan morbiditas dan mempengaruhi kualitas hidup
seseorang. Gejala-gejala yang umumnya timbul yang patut dicurigai ke arah
terjadinya mioma uteri antara lain:
- Perdarahan abnormal, biasanya menoragia, keluhan ini yang biasanya
mendorong pasien untuk memeriksakan diri

- Periode menstruasi >7 hari

- Nyeri pelvis

- Gangguan berkemih seperti sulit berkemih tuntas, nokturia, inkontinensia urin

- Konstipasi
13
-Nyeri punggung, ataupun nyeri pada tungkai atas (mayoclinic).

Pada mioma geburt gejala yang menonjol berupa perdarahan pervaginam


diantara siklus haid yang bervariasi mulai dari perdarahan bercak hingga
perdarahan massif. Darah yang keluar berupa darah segar dan kadang disertai nyeri
sehingga dapat diduga sebagai haid yang memanjang. Selain itu mioma submukosa
juga dapat menyebabkan perdarahan intermenstrual, perdarahan post coital,
perdarahan vaginal terus menerus atau dismenore. (Prawirohardjo, 2014).

E. Penegakan Diagnosis pada Mioma Uteri


Leiomioma dapat dikaitkan dengan ketidakteraturan menstruasi, nyeri, dan
infertilitas; Oleh karena itu, diperlukan diagnosis banding berbasis gejala secara
menyeluruh seperti tertera pada tabel yang diambil dari Kate E. Rice, 2012 berikut

Diagnosis mioma geburt dapat ditegakkan mulai dari anamnesis, dimana


pasien bisa meraba suatu massa yang menonjol keluar dari jalan lahir yang
dirasakan bertambah panjang serta adanya riwayat perdarahan pervginam terutama
pada perempuan pada usia 40 tahun, kadang juga dikeluhkan perdarahan kontak
seperti saat berhubungan seksual.
Pada pemriksaan fisik terutama pemeriksaan abdomen luar kemungkinan
tidak didapatkan kelainan, namun dapat juga ditemukan pada palpasi bimanual
uterus yang bentukya tidak ireguler, tidak lunak, atau terdapat penonjoan yang
berbenjol benjol yang keras ketika dilakukan palpasi. Pada pemeriksaan
ginekologik teraba massa yang keluar dari kanalis servikalis, lunak, mudah
digerakkan, bertangkai, serta mudah berdarah. Melalui pemeriksaan inspekulo
terlihat massa keluar dari kanalis servikalis berwarna pucat.
Pada pemeriksaan laboratorium, temuan anemia merupakan akibat paling
sering dari mioma. Hal ini disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan
habisnya cadangan zat besi. Kadang-kadang mioma menghasilkan eritopoetin
yang pada beberapa kasus meyebabkan polisetemia. Adanya hubungan antara
polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan mioma terhadap
ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik ureter dan kemudian
menginduksi pembentukan eritropoetin ginjal. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan
darah lengkap, urin lengkap dan tes kehamilan pada pasien mioma (Prawirohardjo,
2014).
Secara klinis mioma subserosa dan intramural dapat didiagnosa dari
pemeriksaan pada pelvis dengan temuan adanya perbesaran, bentuk abnormal dan
irregular, dan non tender pada uterus. Pemeriksaan dengan USG tidak diperlukan
jika diagnosis hampir pasti dapat ditegakkan. Tetapi umumnya untuk mioma
submukosa diperlukan konfirmasi hasil pemeriksaan dengan pencitraan seperti
USG, histeroskopi, saline-infusion sonography atau MRI untuk menegakkan
diagnosa (Parker, 2007).
Pencitraan dengan radiologi juga dapat dilakukan untuk mendukung
diagnosa mioma uteri. Pencitraan radiologi yang dapat dilakukan antara lain USG,
saline infusin sonography, histeroskopi dan MRI. USG transvaginal adalah
pencitraan yang paling sering tersedia dan paling murah dalam segi biaya dan
membantu dalam membedakan mioma dengan kondisi lain dari pelvis. Mioma
dengan ukuran yang besar mungkin lebih baik bila dicitrakan dengan kombinasi
antara USG transabdominal dan transvaginal. Hasil USG pada mioma dapat
bervariasi, tetapi umumnya kesan simetris, batas tegas, hipoekoik, dan massa yang
heterogen. USG mungkin tidak adekuat dalam menentukan pastinya berapa jumlah
mioma yang ada dan posisi dari mioma, tetapi USG transvaginal dapat
menentukan dengan syarat volume uterus <375ml atau berisi empat mioma atau
lebih sedikit.
MRI adalah alat yang paling baik saat ini untuk menentukan jumlah, posisi
dan ukuran dari mioma uteri dan mempunyai modalitas paling baik untuk melihat
penetrasi dari mioma submukosa pada miometrium. Keunggulan MRI lainnya
adalah tidak adanya ketergantungan terhadap teknik yang dilakukan oleh operator
dan rendahnya tingkat perbedaan dalam pembacaan interpretasi oleh pemeriksa
dari gambaran mioma submukosa, mioma intramural dan adenomiosis
dibandingkan dengan menggunakan USG transvaginal, saline-infusion sonogram
ataupun histeroskopi (Parker, 2007)

F. Penatalaksanaan Mioma Uteri


Tidak semua mioma uteri memerlukan pembedahan, 55% dari semua
mioma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan dalam bentuk apa pun,
terutama apabila mioma itu masih kecil dan tidak menimbulakan gangguan.
Walaupun demikian mioma uteri memerlukan pengamatan setiap 3-6 bulan.
Penanganan mioma uteri menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor terbagi
kepada:
1. Terapi medisinal (hormonal)
Saat ini pemakaian Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonis
memberikan hasil yang baik memperbaiki gejala klinis mioma uteri. Tujuan
pemberian GnRH agonis adalah mengurangi ukuran mioma dengan jalan
mengurangi produksi estrogen dari ovarium. Pemberian GnRH agonis sebelum
dilakukan tindakan pembedahan akan mengurangi vaskularisasi pada tumor
sehingga akan memudahkan tindakan pembedahan. Terapi hormonal

14
yang lainnya seperti kontrasepsi oral dan preparat progesteron akan mengurangi
gejala pendarahan tetapi tidak mengurangi ukuran mioma uteri (Hadibroto, 2005).

2. Terapi pembedahan
Indikasi terapi bedah untuk mioma uteri menurut American College of
obstetricians and Gyneclogist (ACOG) dan American Society of Reproductive
Medicine (ASRM) adalah
a. Perdarahan uterus yang tidak respon terhadap terapi konservatif
b. Dugaan adanya keganasan
c. Pertumbuhan mioma pada masa menopause
d. Infertilitas kerana gangguan pada cavum uteri maupun karena oklusi tuba
e. Nyeri dan penekanan yang sangat menganggu
f. Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius
g. Anemia akibat perdarahan (Hadibroto,2005).

Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah miomektomi atau histerektomi.


1. Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus.
Miomektomi ini dilakukan pada wanita yang ingin mempertahankan fungsi
reproduksinya dan tidak ingin dilakukan histerektomi. Tindakan ini dapat
dikerjakan misalnya pada mioma submukosum dengan cara ekstirpasi lewat
vagina. Apabila miomektomi ini dikerjakan karena keinginan memperoleh anak,
maka kemungkinan akan terjadi kehamilan adalah 30-50% (Prawirohardjo, 2014).
Tindakan miomektomi dapat dilakukan dengan laparotomi, histeroskopi maupun
dengan laparoskopi. Pada laparotomi, dilakukan insisi pada dinding abdomen
untuk mengangkat mioma dari uterus. Keunggulan melakukan miomektomi adalah
lapangan pandang operasi yang lebih luas sehingga penanganan terhadap
perdarahan yang mungkin timbul pada pembedahan miomektomi dapat ditangani
dengan segera. Namun pada miomektomi secara laparotomi resiko terjadi
perlengketan lebih besar, sehingga akan mempengaruhi faktor fertilitas pada
pasien, disamping masa penyembuhan paska operasi lebih lama, sekitar 4-6
minggu. Pada miomektomi secara histeroskopi dilakukan terhadap mioma
submukosum yang terletak pada kavum uteri. Keunggulan teknik ini adalah masa
penyembuhan paska operasi sekitar 2 hari. Komplikasi yang serius jarang terjadi
namun dapat timbul perlukaan pada dinding uterus, ketidakseimbangan elektrolit
dan perdarahan. Miomektomi juga dapat dilakukan dengan menggunakan
laparoskopi. Mioma yang bertangkai diluar kavum uteri dapat diangkat dengan
mudah secara laparoskopi. Mioma subserosum yang terletak didaerah permukaan
uterus juga dapat diangkat dengan tehnik ini. Keunggulan laparoskopi adalah masa
penyembuhan paska operasi sekitar 2-7 hari. Resiko yang terjadi pada
pembedahan ini termasuk perlengketan, trauma terhadap organ sekitar seperti usus,
ovarium, rektum serta perdarahan. Sampai saat ini miomektomi dengan
laparoskopi merupakan prosedur standar bagi wanita dengan mioma uteri yang
masih ingin mempertahankan fungsi reproduksinya (Hadibroto, 2005).
15
2. Histerektomi
Histerektomi adalah pengangkatan uterus, yang umumnya adalah tindakan terpilih
(Prawirohardjo, 2014). Tindakan histerektomi pada mioma uteri sebesar 30% dari
seluruh kasus. Histerektomi dijalankan apabila didapati keluhan menorrhagia,
metrorrhagia, keluhan obstruksi pada traktus urinarius dan ukuran uterus sebesar
usia kehamilan 12-14 minggu (Hadibroto, 2005). Tindakan histerektomi dapat
dilakukan secara abdominal (laparotomi), vaginal dan pada beberapa kasus
dilakukan laparoskopi. Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara
yaitu total abdominal hysterectomy (TAH) dan subtotal abdominal histerectomy
(STAH). Masing - masing prosedur ini memiliki kelebihan dan kekurangan. STAH
dilakukan untuk menghindari resiko operasi yang lebih besar seperti perdarahan
yang banyak, trauma operasi pada ureter, kandung kemih dan rektum. Namun
dengan melakukan STAH kita meninggalkan serviks, di mana kemungkinan
timbulnya karsinoma serviks dapat terjadi. Pada TAH, jaringan granulasi yang
timbul pada tungkul vagina dapat menjadi sumber timbulnya sekret vagina dan
perdarahan paska operasi di mana keadaan ini tidak terjadi pada pasien yang
menjalani STAH. Histerektomi juga dapat dilakukan pervaginam, dimana tindakan
operasi tidak melalui insisi pada abdomen. Secara umum histerektomi vaginal
hampir seluruhnya merupakan prosedur operasi ekstraperitoneal, dimana
peritoneum yang dibuka sangat minimal sehingga trauma yang mungkin timbul
pada usus dapat diminimalisasi. Maka histerektomi pervaginam tidak terlihat parut
bekas operasi sehingga memuaskan pasien dari segi kosmetik. Selain itu
kemungkinan terjadinya perlengketan paska operasi lebih minimal dan masa
penyembuhan lebih cepat dibandng histerektomi abdominal (Hadibroto, 2005).

G. Komplikasi Mioma Uteri


Komplikasi yang terjadi pada mioma uteri :
a) Degenerasi Ganas
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari
seluruh mioma, serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus. Keganasan
umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat.
Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan
apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause.
b) Torsi (Putaran Tangkai)
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi
akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen
akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi. Hal ini
hendaknya dibedakan dengan suatu keadaan di mana terdapat banyak sarang
mioma dalam rongga peritoneum.
c) Nekrosis dan Infeksi
Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan karena
gangguan sirkulasi darah padanya. Misalnya terjadi pada mioma yang dilahirkan
hingga perdarahan berupa mtroragia atau menoragia disertai leukorea dan
gangguangangguan yang disebabkan oleh infeksi dari uterus sendiri.
d) Mempengaruhi kehamilan
Mengurangi kemungkinan perempuan menjadi hamil, terutama miomauteri
submukosum. Kemungkinan abortus juga akan bertambah. Kelainan letak janin
dalam rahim kemungkinan juga dapat terjadi, terutama pada mioma yang besar
dan letak subserosum (Prawirohardjo, 2014).

16
BAB IV
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
A. Pembahasan
Pada kasus ini dilakukan terapi yaitu pembedahan berupa histerektomi
supracervical. Untuk pilihan terapi pembedahan pada mioma uteri pada umumnya
yang dilakukan di RSPS adalah: vaginal histerektomi, total abdominal
histerektomi, subtotal abdominal histerektomi (histerektomi supracervical).
1. Vaginal histerektomi
Biasanya dipilih jika organ dalam panggul yang bermasalah berukuran
kecil, tidak adanya perkiraan terjadinya perlengketan yang luas,
diperkirakan tidak adanya kelainan pada adneksa, dan bagian organ
yang prolapse sudah mulai terlihat dari vagina. Jika dibandingkan
dengan abdominal histerektomi, akan lebih menguntungkan dari sisi
pasien, seperti pemulihan yang lebih cepat sehingga mengurangi
lamanya waktu untuk dirawat di rumah sakit dan mengurangi biaya
yang harus dikeluarkan serta mengurangi nyeri pascaoperasi
(Cunningham, et al., 2014)
2. Abdominal histerektomi
Dengan abdominal histerektomi bisa mendapatkan akses yang lebih
leluasa untuk melakukan tindakan operatif pada organ dalam panggul,
metode ini juga dipilih jika terjadi perbesaran organ dalam panggul dan
mengantisipasi adanya perlengketan organ yang luas. Selain itu
abdominal histerektomi juga dapat memberikan akses pada operator
jika memang harus melakukan ooferoktomi sekaligus. Tetapi,
abdominal histerektomi dapat membuat pasien akan lebih lama dalam
masa pemulihan di rumah sakit, meningkatkan nyeri pada luka jahitan,
dan risiko besar terjadinya demam post operative dan infeksi luka
operasi. Jika dibandingkan dengan vaginal histerektomi, abdominal
histerektomi berisiko besar terjadinya perdarahan hingga membutuhkan
transfuse, juga adanya cedera pada ureter, tetapi mempunyai risiko
rendah terhadap komplikasi perdarahan postoperative dan cedera pada
vesica urinaria (Cunningham, et al., 2014).
3. Supracervical histerektomi
Pada histerektomi, keputusan untuk mengangkat serviks umumnya
akan didiskusikan dengan pasien. Supracervical histerektomi adalah
mengangkat hanya corpus uteri tanpa mengangkat semua bagian uterus
dan serviks. Awalnya histerektomi supracervical dilakukan karena
adanya risiko peningkatan perdarahan jika dilakukan insisi hingga
serviks, juga dapat mengakibatkan kerusakan organ dan
memperpanjang waktu operasi. Tetapi sekarang tidak hanya hal tesebut
yang menjadi pertimbangan, perbaikan pada gejala organ berkemih dan

17
menjaga agar tidak hilangnya fungsi seksual dari pasien, maka
supracervical histerektomi dapat dipilih. Tetapi melalui beberapa
penelitian, fungsi seksual antara pasien yang telah menjalani abdominal
histerektomi dengan supracervical histerektomi tidak jauh berbeda.
Sehingga sekarang, supracervical histerektomi pada kasus tumor jinak
tidak terlalu memberikan perbedaan manfaat yang signifikan bila
dibandingkan dengan abdominal histerektomi. Risiko perdarahan pada
saat operasi mungkin lebih banyak didiskusikan terlebih dahulu antara
dokter dan pasien (Cunningham, et al., 2014).
4. Miomektomi
Miomektomi adalah prosedur untuk mengangkat mioma dari uterus
tanpa mengangkat uterus itu sendiri. miomektomi umumnya dipilih
karena dapat lebih memelihara fungsi uterus terutama pada wanita-
wanita yang belum/sulit untuk beranak dan mempertahankan fungsi
seksual.

18
Gambar 2. Perbandingan dari masing-masing histerektomi (Shaw, 2015).
19
Gambar 3. Perbandingan time recovery antara masing-masing tindakan operatif
(Ob/Gyn, 2014).

B. Kesimpulan
Pada kasus ini, dilakukan supracervical histerektomi, karena adanya
perlengketan uterus dengan organ pencernaan. Ukuran mioma yang kurang lebih
sekepala bayi juga akhirnya membuat operator mengambil tindakan untuk melakukan
supracervical histerektomi dibandingkan miomektomi. Total abdominal histerektomi
tidak dilakukan karena untuk meminimalisir perdarahan yang terjadi dan
menyesuaikan dengan letak dari mioma yang ada pada corpus uterus.

20
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Bhati, K., Lashari, A.A dan Shaik, F. 2013. A Clinic-Pathologic Correlation of Elective

Abdominal Hysterectomy at Teaching Hospital Khairpur Pakistan. Rawal Medical

Journal. Vol.38. No. 2. April-June 2013 : 1-4.

Budi R. Hadibroto. 2005. Mioma Uteri. Majalah Kedokteran. Volume 38. No. 3:

September 2005: 256-258.

Cunningham, F. G., Leveno, K. J., Bloom, S. L., Spong, C. Y., Dashe, J. S., Hoffman, B.
L., et al. (2014). William Gynecology Second Edition. New York: Mc Graw-Hill
Education.
Djuwantono T. 2004. Terapi GnRH agonis sebelum histerektomi. Mioma: Farmacia 3:38-
41.
Edmonds DK (2007). Dewhursts texbook of obstetrics & gynaecology. 7th ed.
Massachusetts: Blacwell; 2007. p. 638-44.
Ekine, A.A., Lawani, O.L., Iyoke, A.C., Jeremiah, I dan Ibrahim, A.I. 2015. Review of

Clinical Presentation of Uterine Fibroid and the Effect of Theraupetic Intervention

of Fertility.American Journal of Clinical Medicine Research. Vol 3. No.1. Januari

Maret 2015 : 9-13.

Healthgrades Editorial Staff. (2013). Health Grades Inc.US. from Health Grades:
https://www.healthgrades.com/conditions/myoma-fibroid. Diakses tanggal 26 Mei
2017
Kate E. Rice, MS, WHNP, RN, Jenny R. Secrist, MS, WHNP, RN, Elizabeth L.Woodrow,
MS,WHNP, RN, Laura M. Hallock, MS,WHNP, RN, Jeremy L. Neal, CNM, PhD,
RN (2012), Etiology, Diagnosis, and Management of Uterine Leiomyomas.
Journal of Midwifery &Womens Health. Vol 57. p:242-243

Kurniasari, T. (2010). Karakteristik Mioma Uteri di RSUD dr. Moewardi SUrakarta


periode Januari 2009-Januari 2010. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas
Maret.
Miller-Keane Encyclopedia and Dictionary of Medicine, Nursing, and Allied Health,
Seventh Edition. 2003
Ob/Gyn, S. F. (2014). Santa Fe Ob/Gyn. Retrieved november 7, 2016, from
http://www.santafeobgyn.com/procedures-surgery-laparoscopic-hysterectomy.php
Parker, W. 2007. Etiology, Symptomatology and Diagnosis of Uterine Myomas.
Departemen of Obstetric and GynekologyUCLA School of Medicine California.
Vol.87. No.4. April 2007 : 725-733

Prawirohardjo, S. (2014). Ilmu Kandungan. Jakarta: Sagung Seto.


Roberts, J., & Hubel, C. (2009). The Two Stage Model Of Preeclampsia. Thropoblast
Research, 32-37.

21
S, K., G, L., W, W., N, L., C, A., A, A., et al. (2010). Supracervical Hysterectomy. US
National Library Of Medicine.
Shaw, H. A. (2015). Vaginal Hysterectomy. Medscape.
Sinclair, D. C., Mastroyannis, A., & Taylor, H. S. (2010). Leiomyoma Simultaneously
Impair Endometrial BMP-2-Mediated Decidualization and Anticoagulant
Expression through Secretion of TGF-3. Journa lOf Clinical Endocrinology and
Metabolism.
Thomason, Philip. 2008. Leiomyoma, Uterus (Fibroid).
http://emedicine.medscape.com/article/405676-overview. Diakses tanggal 26 Mei 2017.
22