Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia memiliki suatu kewajiban dalam hal memuaskan kebutuhan

tertentu yang harus dipenuhi melalui proses homeostasis, baik itu kebutuhan

fisiologis maupun kebutuhan psikologis. Kebutuhan merupakan suatu hal yang

sangat penting, bermanfaat, atau diperlukan untuk menjaga homeostasis dan

kehidupan itu sendiri. Dalam hierarki maslow, kebutuhan fisiologis memiliki

prioritas tertinggi dan salah satu kebutuhan fisiologis tersebut adalah istirahat dan

tidur (Wahid, 2008).

Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi

oleh semua orang. Dengan istirahat dan tidur yang cukup, tubuh dapat berfungsi

secara optimal. Istirahat dan tidur sendiri memiliki makna yang berbeda pada

setiap individu. Secara umum, istirahat berarti suatu keadaan tenang, relaks, tanpa

tekanan emosional, dan bebas dari perasaan gelisah. Jadi, beristirahat bukan

berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali. Tidur adalah status perubahan

kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun.

Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang minimal, tingkat kesadaran

yang bervariasi, perubahan proses fisiologis tubuh, dan penurunan respon

terhadap stimulus eksternal. Hampir sepertiga dari waktu kita, kita gunakan untuk

tidur. Hal tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa tidur dapat memulihkan atau

mengistirahatkan fisik setelah seharian beraktivitas, mengurangi stres dan

1
2

kecemasan, serta dapat meningkatkan kemampuan dan konsentrasi saat hendak

melakukan aktivitas sehari-hari (Hidayat, 2010).

Kurang tidur di malam hari atau proses tidur yang terganggu jelas

merugikan kesehatan dan performa di siang hari. Mulai dari menurunnya

motivasi, penurunan kemampuan konsentrasi dan daya ingat, hingga buruknya

suasana hati. Kondisi kurang tidur juga menurunkan daya tahan tubuh seseorang

(Prasadja, 2008). Kondisi kurang tidur atau gangguan dalam pemenuhan akan

tidur yang dapat terjadi seperti insomnia, parasomnia, hipersomnia, narkolepsi,

dan sleep apnea serta penyakit gangguan tidur lainnya (Qimi, 2009).

Salah satu gangguan tidur yang paling sering terjadi adalah insomnia.

Insomnia adalah gejala kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang untuk tidur

atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan untuk itu (Kaplan HI dan

Sadock BJ, 2010). Gejala tersebut biasanya diikuti gangguan fungsional saat

bangun dan beraktivitas di siang hari. Sekitar sepertiga orang dewasa mengalami

kesulitan memulai tidur dan atau mempertahankan tidur dalam setahun, dengan

17% di antaranya mengakibatkan gangguan kualitas hidup (American Academy

of Sleep Medicine, 2015).

Insomnia dapat disebabkan oleh lebih dari empat puluh kondisi medis,

separuh dari jumlah ini adalah kondisi psikologis seperti kekhawatiran, stress,

atau depresi. Individu yang mengalami stres atau depresi sangat berpeluang

menderita insomnia (Listiani, 2009). Faktor lain yang dapat menyebabkan

insomnia yaitu psikologis dan biologis, penggunaan obat-obatan dan alkohol,

lingkungan yang mengganggu serta kebiasaan buruk, juga dapat menyebabkan


3

gangguan tidur. Faktor psikologis memegang peranan utam tehadap

kecenderungan insomnia (wibowo, 2009).

Gangguan tidur seperti insomnia dapat terjadi pada setiap umur, tetapi

lebih sering terjadi pada umur 60 tahun ke atas. Sekitar 40-50% usia geriatri

mengalami insomnia dan prevalensinya lebih besar terjadi pada wanita daripada

laki laki. Pada lanjut usia (lansia) terjadi peningkatan fase bangun tidur, fase

bangun tidur yang lebih lama, penurunan efisiensi tidur, penurunan gelombang

tidur lambat, kualitas tidur yang buruk, dan penurunan durasi tidur malam. Waktu

tidur dan waktu bangun pada lansia sekitar 0,5-1 jam lebih cepat dibandingkan

pada dewasa muda (fase lanjut) (Prurigo, 2015).

Beberapa penelitian menjelaskan bahwa gangguan tidur atau kurang tidur

merupakan faktor risiko hipertensi pada orang dewasa dan lansia. Hasil tidur yang

lebih singkat dapat menyebabkan gangguan metabolisme dan endokrin, yang

dapat berkontribusi menyebabkan gangguan kardiovaskular (Javahert et al.,

2010). Tekanan darah secara normal menurun ketika sedang tidur normal (sekitar

10-20% masih dianggap normal). Keadaan ini terjadi karena penurunan aktivitas

simpatis pada saat tidur. Apabila tidur mengalami gangguan, maka tidak terjadi

penurunan tekanan darah penurunan tekanan darah saat tidur sehingga akan

meningkatkan risiko terjadinya hipertensi. Setiap 5% penurunan normal yang

seharusnya terjadi dan tidak dialami oleh seseorang, maka kemungkinan 20%

akan terjadi peningkatan tekanan darah (Calhoun & Harding, 2011).

Setiap tahun diperkirakan sekitar 20-50% orang dewasa dan lansia

melaporkan adanya gangguan tidur dan sekitar 17 % mengalami gangguan tidur


4

serius. Berdasarkan survei yang ada, prevalensi insomnia yang terjadi di Amerika

mencapai 60-70 kasus pada orang dewasa dan lanjut usia (Vgontzas, 2009). World

Health Organization/ WHO menjelaskan pada tahun 2013, kurang lebih 18%

penduduk dunia pernah mengalami insomnia (Amir, 2014).

Menurut World Health Organization/ WHO di Amerika Serikat lansia

yang mengalami gangguan tidur pertahun sekitar 100 juta orang. Setiap tahun

diperkirakan prevalensi gangguan tidur lansia diantaranya yaitu sekitar 67% pada

tahun 2010. Pada usia lanjut 60 tahun di jumpai 7% kasus yang mengeluh masalah

tidur (hanya tidur tidak lebih lima jam perhari) (Utami, 2015).

Menurut National Institute of Health America, gangguan tidur menyerang

50% lansia yang tinggal di rumah dan 66% lansia yang tinggal di fasilitas jangka

panjang misalnya panti jompo (Fitriani, 2014). Prevalensi kejadian insomnia pada

lansia di Indonesia sekitar 49% atau 9,3 juta lansia. Di pulau Jawa dan Bali

prevalensi insomnia juga cukup tinggi sekitar 44% dari jumlah total lansia

sebanyak 18,96 juta orang (Dinkes RI, 2010).

Jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2009 tercatat sebesar 19 juta jiwa

dengan usia harapan hidup 66,2 tahun. Jumlah lansia pada tahun 2010 mengalami

peningkatan menjadi 24 juta jiwa, tahun 2011 jumlah lansia mengalami

penurunan sebanyak 20 juta jiwa dan tahun 2020 diperkirakan mengalami

peningkatan sebesar 28,8 juta jiwa dengan usia harapan hidup 71 tahun (Depkes,

2012).

Data Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh menunjukkan bahwa jumlah

lansia di Provinsi Aceh terus meningkat dari 5,3 juta jiwa (2009), menjadi 14,4
5

juta jiwa (2010) dan diperkirakan pada tahun 2020 mencapai 28,8 juta jiwa.

Jumlah lansia di Kota Lhokseumawe terus meningkat dari 5,3 ribu jiwa (2008)

menjadi 14,4 ribu jiwa (2010) (Profil Kesehatan Provinsi Aceh, 2012).

Data awal yang telah peneliti kumpulkan menunjukkan bahwa jumlah

lansia di Kota Lhokseumawe berkisar 1,8 ribu jiwa (2017) dan mempunyai dua

panti jompo yaitu Panti Jompo Darussaadah dengan jumlah lansia sebanyak 60

orang dan Panti Jompo An-Nur berjumlah 24 orang (Dinas Sosial Kota

Lhokseumawe, 2017).

Lansia yang dominan lebih memilih tinggal di panti jompo daripada di

kota, dikarenakan sulit untuk tidur, sering terbangun lebih awal, sakit kepala di

siang hari, kesulitan berkonsentrasi, mudah marah, hilangnya produktivitas kerja,

serta menurunya imunitas. Kurang tidur menyebabkan masalah pada kualitas

hidup lansia, memperburuk penyakit yang mendasarinya, mengubah perilaku,

suasana hati menjadi negatif, mengakibatkan kecelakaan (Fitriani, 2014).

1.2 Rumusan Masalah

Salah satu gangguan tidur yang paling sering terjadi adalah insomnia.

Insomnia dapat terjadi pada setiap umur, tetapi lebih sering terjadi pada umur 60

tahun ke atas. Salah satu akibat dari gangguan tidur bisa menyebakan hipertensi.

Lansia yang berada di panti jompo Kota Lhokseumawe memiliki tingkat

gangguan tidur yang lebih tinggi dibandingkan dengan lansia yang berada di

lingkungan keluarga, dikarenakan adanya tekanan di luar dirinya seperti masalah

keuangan, hilangnya produktivitas kerja dan lingkungan sekitar yang


6

menyebabkan lansia sulit untuk tidur atau insomnia. Berdasarkan uraian diatas,

maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul hubungan antara

gangguan tidur dengan hipertensi pada lansia di Panti Jompo Kota Lhokseumawe

tahun 2017.

1.3 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang tersebut maka pertanyaan penelitian yaitu:

1. Bagaimana gambaran karakteristik (usia dan jenis kelamin) pada lansia di

Panti Jompo Kota Lhokseumawe tahun 2017?

2. Bagaimana gambaran tekanan darah pada lansia di Panti Jompo Kota

Lhokseumawe tahun 2017?

3. Bagaimana gambaran gangguan tidur pada lansia di Panti Jompo Kota

Lhokseumawe tahun 2017?

4. Bagaimana hubungan antara gangguan tidur dengan hipertensi pada lansia

di Panti Jompo Kota Lhokseumawe tahun 2017?

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan umum

Mengetahui hubungan antara gangguan tidur dengan hipertensi pada lansia

di Panti Jompo Kota Lhokseumawe tahun 2017.

1.4.2 Tujuan khusus

1. Mengetahui gambaran karakteristik (usia dan jenis kelamin) pada lansia di

Panti Jompo Kota Lhokseumawe tahun 2017.


7

2. Mengetahui gambaran tekanan darah pada lansia di Panti Jompo Kota

Lhokseumawe tahun 2017.

3. Mengetahui gambaran gangguan tidur pada lansia di Panti Jompo Kota

Lhokseumawe tahun 2017.

4. Mengetahui hubungan antara gangguan tidur dengan hipertensi pada lansia

di Panti Jompo Kota Lhokseumawe tahun 2017.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat teoritis

1. Sebagai sumber informasi atau referensi tentang hubungan gangguan tidur

dengan hipertensi pada lansia di Panti Jompo Kota Lhokseumawe.

2. Dapat dijadikan salah satu referensi bagi peneliti lain yang ingin meneliti

dalam bidang ini.

1.5.2 Manfaat praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah agar hasil penelitian ini dapat

dijadikan referensi bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan bidang kesehatan

khususnya dalam menangani gangguan tidur pada lansia di Panti Jompo Kota

Lhokseumawe sehingga dapat menurunkan angka kejadian hipertensi pada lansia.