Anda di halaman 1dari 21

TUGAS MAKALAH

KARSINOMA MAMMAE

Disusun Oleh:

Dita Meisy wulandari

H1P010044

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2017
BAB I

PENDAHULUAN

Ketahuilah di Indonesia penderita karsinoma/kanker/keganasan dari tahun ke tahun


terus meningkat akibat peningkatan angka harapan hidup, sosial ekonomi,serta perubahan
pola penyakit. Diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru untuk setiap 100.000
penduduk per tahunnya, salah satunya kanker payudara. Kanker payudara merupakan kanker
terbanyak kedua sesudah kanker leher rahim di Indonesia. Berdasarkan Pathological Based
Registration di Indonesia, KPD menempati urutan pertama dengan frekuensi relatif sebesar
18,6%. (Data Kanker di Indonesia Tahun 2010, menurut data Histopatologik ; Badan
Registrasi Kanker Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI) dan Yayasan
Kanker Indonesia (YKI)). Diperkirakan angka kejadiannya di Indonesia adalah 12/100.000
wanita, sedangkan di Amerika adalah sekitar 92/100.000 wanita dengan mortalitas yang
cukup tinggi yaitu 27/100.000 atau 18 % dari kematian yang dijumpai pada wanita. Penyakit
ini juga dapat diderita pada laki - laki dengan frekuensi sekitar 1 %.Di Indonesia, lebih dari
80% kasus ditemukan berada pada stadium yang lebih lanjut, dimana upaya pengobatan sulit
dilakukan. Oleh karena itu perlu pemahaman tentang upaya pencegahan, diagnosis dini,
pengobatan kuratif maupun paliatif serta upaya rehabilitasi yang baik, agar pelayanan pada
penderita kanker dapat dilakukan secara optimal.
BAB 2

TINJAUN PUSTAKA

Defenisi

Kanker payudara adalah keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel
duktus maupun lobulusnya, yang meliputi saluran kelenjar air susu dan jaringan
penunjangnya yang tumbuh infiltratif, destruktif, serta dapat bermetastasis.

Klasifikasi

1. Non invasive carcinoma


a) Ductal carcinoma in situ

Ductal carcinoma in situ, juga disebut intraductal cancer, merujuk pada sel kanker yang
telah terbentuk dalam saluran dan belum menyebar. Saluran menjadi tersumbat dan
membesar seiring bertambahnya sel kanker di dalamnya.Kalsium cenderung terkumpul
dalam saluran yang tersumbat dan terlihat dalam mamografi sebagai kalsifikasi terkluster
atau tak beraturan (clustered or irregular calcifications) atau disebut kalsifikasi mikro
(microcalcifications) pada hasil mammogram seorang wanita tanpa gejala kanker. DCIS
dapat menyebabkan keluarnya cairan puting atau munculnya massa yang secara jelas
terlihat atau dirasakan, dan terlihat pada mammografi. DCIS kadang ditemukan dengan
tidak sengaja saat dokter melakukan biopsy tumor jinak.Sekitar 20%-30% kejadian
kanker payudara ditemukan saat dilakukan mamografi.Jika diabaikan dan tidak ditangani,
DCIS dapat menjadi kanker invasif dengan potensi penyebaran ke seluruh tubuh. DCIS
muncul dengan dua tipe sel yang berbeda, dimana salah satu sel cenderung lebih invasif
dari tipe satunya.Tipe pertama, dengan perkembangan lebih lambat, terlihat lebih kecil
dibandingkan sel normal.Sel ini disebut solid, papillary atau cribiform.Tipe kedua,
disebut comedeonecrosis, sering bersifat progresif di awal perkembangannya, terlihat
sebagai sel yang lebih besar dengan bentuk tak beraturan.
Gambar. Ductal Carcinoma in situ (A) dan Sel-sel kanker menyebar keluar
dari ductus, menginvasi jaringan sekitar dalam mammae (B)

b) Lobular carcinoma in situ

Meskipun sebenarnya ini bukan kanker, tetapi LCIS kadang digolongkan sebagai tipe kanker
payudara non-invasif. Bermula dari kelenjar yang memproduksi air susu, tetapi tidak
berkembang melewati dinding lobulus. Mengacu pada National Cancer Institute, Amerika
Serikat, seorang wanita dengan LCIS memiliki peluang 25% munculnya kanker invasive
(lobular atau lebih umum sebagai infiltrating ductal carcinoma) sepanjang hidupnya.
Gambar. Lobular karsinoma in situ

2. Invasive carcinoma
a) Pagets disease dari papilla mammae

Pagets disease dari papilla mammae pertama kali dikemukakan pada tahun 1974. Seringnya
muncul sebagai erupsi eksim kronik dari papilla mammae, dapat berupa lesi bertangkai,
ulserasi, atau halus. Paget's disease biasanya berhubungan dengan DCIS (Ductal Carcinoma
in situ) yang luas dan mungkin berhubungan dengan kanker invasif. Biopsi papilla mammae
akan menunjukkan suatu populasi sel yang identik (gambaran atau perubahan pagetoid).
Patognomonis dari kanker ini adalah terdapatnya sel besar pucat dan bervakuola (Paget's
cells) dalam deretan epitel. Terapi pembedahan untuk Paget's disease meliputi lumpectomy,
mastectomy, atau modified radical mastectomy, tergantung penyebaran tumor dan adanya
kanker invasif.
b) Invasive ductal carcinoma

Adenocarcinoma with productive fibrosis (scirrhous, simplex, NST) (80%)

Kanker ini ditemukan sekitar 80% dari kanker payudara dan pada 60% kasus
kanker ini bermetastasis (baik mikro maupun makroskopik) ke KGB aksila. Kanker
ini biasanya terdapat pada wanita premenopause atau postmenopause dekade
kelima sampai keenam, didapatkan massa soliter dan keras. Batasnya kurang tegas
dan pada potongan meilntang, tampak permukaannya membentuk konfigurasi
bintang di bagian tengah dengan garis berwarna putih kapur atau kuning menyebar
ke sekeliling jaringan payudara. Sel-sel kanker sering berkumpul dalam kelompok
kecil, dengan gambaran histologi yang bervariasi.

Medullary carcinoma (4%)

Medullary carcinoma adalah tipe khusus dari kanker payudara, berkisar 4% dari
seluruh kanker payudara yang invasif dan merupakan kanker payudara herediter
yang berhubungan dengan BRCA-1. Peningkatan ukuran yang cepat dapat terjadi
sekunder terhadap nekrosis dan perdarahan. Pada 20% kasus ditemukan bilateral.
Karakterisitik mikroskopik dari medullary carcinoma berupa ;

(1) infiltrat limforetikular yang padat terutama terdiri dari sel limfosit dan plasma ;

(2) inti pleomorfik besar yang berdiferensiasi buruk dan mitosis aktif ;

(3) pola pertumbuhan seperti rantai, dengan minimal atau tidak ada diferensiasi
duktus atau alveolar.

Sekitar 50% kanker ini berhubungan dengan DCIS dengan karakteristik terdapatnya
kanker perifer, dan kurang dari 10% menunjukkan reseptor hormon. Wanita dengan
kanker ini mempunyai 5-year survival rate yang lebih baik dibandingkan NST atau
invasive lobular carcinoma.
3. Tubular carcinoma (2%)

Tubular carcinoma merupakan tipe khusus lain dari kanker payudara sekitar 2%
dari semua kanker payudara yang invasif. Biasanya ditemukan pada wanita
perimenopause dan pada periode awal menopause. Long-term survival mendekati
100%.4

4. Invasive lobular carcinoma (10%)

Invasive lobular carcinoma sekitar 10% dari kanker payudara. Gambaran


histopatologi meliputi sel-sel kecil dengan inti yang bulat, nucleoli tidak jelas,
dan sedikit sitoplasma. Pewarnaan khusus dapat mengkonfirmasi adanya musin
dalam sitoplasma, yang dapat menggantikan inti (signet-ring cell carcinoma).
Seringnya multifokal, multisentrik, dan bilateral. Karena pertumbuhannya yang
tersembunyi sehingga sulit untuk dideteksi.4

Gambar. Sitology karsinoma lobular invasive payudara


Diagnosis

Diagnosis berdasarkan Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Anamnesis

Keluhan Utama

1. Benjolan di payudara

2. Kecepatan tumbuh dengan/tanpa rasa sakit

3. Nipple discharge, retraksi puting susu, dan krusta

4. Kelainan kulit, dimpling, peau dorange, ulserasi, venektasi

5. Benjolan ketiak dan edema lengan

Keluhan Tambahan

1. Nyeri tulang (vertebra, femur)

2. Sesak dan lain sebagainya


tanyakan juga faktor resiko yang berperan dalam terjadinya kanker payudara ini, diantaranya:

jenis kelamin wanita, usia > 50 tahun


riwayat keluarga dan genetik (Pembawa mutasi gen BRCA1, BRCA2, ATM atau TP53
(p53)
riwayat penyakit payudara sebelumnya (DCIS pada payudara yang sama, LCIS, densitas
tinggi pada mamografi)
riwayat menstruasi dini (< 12 tahun) atau menarche lambat (>55 tahun)
riwayat reproduksi (tidak memiliki anak dan tidak menyusui)
menggunakan KB hormonal
obesitas
konsumsi alkohol
riwayat radiasi dinding dada
faktor lingkungan.
Pemeriksaan Fisik

Inspeksi

Palpasi
Setelah itu dilakukan pencatatan hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan berupa:

Status generalis (Karnofsky Performance Score)


Status lokalis :
Payudara kanan atau kiri atau bilateral
Massa tumor :
Lokasi
Ukuran
Konsistensi
Bentuk dan batas tumor
Terfiksasi atau tidak ke kulit, m.pectoral atau dinding dada
Perubahan kulit
Kemerahan, dimpling, edema/nodul satelit Peau de orange, ulserasi
Perubahan puting susu/nipple
Tertarik, Erosi, Krusta, dan Discharge
Status kelenjar getah bening
Kgb aksila: Jumlah, ukuran, konsistensi, terfiksir terhadap sesama atau jaringan
sekitar
Kgb infraklavikula: idem
Kgb supraklavikula: idem
Pemeriksaan pada daerah metastasis
Lokasi : tulang, hati, paru, otak
Bentuk
Keluhan

Pemeriksaan Laboratorium
Dianjurkan:
1. Pemeriksaan darah rutin dan pemeriksaan kimia darah sesuai dengan perkiraan
metastasis.
2. Tumor marker : apabila hasil tinggi, perlu diulang untuk follow up.
Pemeriksaan Pencitraan

Mamografi Payudara

Mamografi adalah pencitraan menggunakan sinar X pada jaringan payudara yang


dikompresi.Mamogram adalah gambar hasil mamografi.Untuk memperoleh interpretasi hasil
pencitraan yang baik, dibutuhkan dua posisi mamogram dengan proyeksi berbeda 45 derajat
(kraniokaudal dan mediolateralobligue). Mamografi dapat bertujuan skrining kanker
payudara, diagnosis kanker payudara, dan follow up / kontrol dalam pengobatan.
Mammografi dikerjakan pada wanita usia diatas 35 tahun, namun karena payudara orang
Indonesia lebih padat maka hasil terbaik mamografi sebaiknya dikerjakan pada usia >40
tahun. Pemeriksaan Mamografi sebaiknya dikerjakan pada hari ke 7-10 dihitung dari hari
pertama masa menstruasi; pada masa ini akan mengurangi rasa tidak nyaman pada wanita
pada waktu dikompresi dan akan memberi hasil yang optimal. Untuk standarisasi penilaian
dan pelaporan hasil mamografidigunakan BIRADS yang dikembangkan oleh American
College of Radiology.

Tanda primer berupa:

1. Densitas yang meninggi pada tumor


2. Batas tumor yang tidak teratur oleh karena adanya proses infiltrasi ke jaringan sekitarnya
atau batas yang tidak jelas (komet sign).
3. Gambaran translusen disekitar tumor
4. Gambaran stelata.
5. Adanya mikrokalsifikasi sesuai kriteria Egan
6. Ukuran klinis tumor lebih besar dari radiologis.

Tanda sekunder :

1. Retraksi kulit atau penebalan kulit

2. Bertambahnya vaskularisasi

3. Perubahan posisi putting


4. Kelenjar getah bening aksila (+)

5. Keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak teratur

6. Kepadatan jaringan sub areolar yang berbentuk utas.

USG Payudara

Salah satu kelebihan USG adalah dalam mendeteksi massa kistik.

Gambaran USG pada benjolan yang harus dicurigai ganas di antaranya:

Permukaan tidak rata

Taller than wider

Tepi hiperekoik

Echo interna heterogen

Vaskularisasi meningkat, tidak beraturan dan masuk ke dalam tumor membentuk sudut 90
derajat.

Penggunaan USG untuk tambahan mamografi meningkatkan akurasinya sampai 7,4 %.


Namun USG tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai modalitas skrining oleh karena
didasarkan penelitian ternyata USG gagal menunjukan efikasinya.

MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan CT-SCAN

Walaupun dalam beberapa hal MRI lebih baik daripada mamografi, namun secara umum
tidak digunakan sebagai pemeriksaan skrining karena biaya mahal dan memerlukan waktu
pemeriksaan yang lama. Akan tetapi MRI dapat dipertimbangkan pada wanita muda dengan
payudara yang padat atau pada payudara dengan implant, dipertimbangkan pasien dengan
risiko tinggi untuk menderita kanker payudara.
Pemeriksaan Patologi Anatomi

Pemeriksaan patologi pada kanker payudara meliputi pemeriksaan sitologi, morfologi


(histopatologi), pemeriksaan immunohistokimia, in situ hibridisasi dan gene array (hanya
dilakukan pada penelitian dan kasus khusus).

Cara Pengambilan Jaringan:

Biopsi Jarum Halus, Biopsi Apus dan Analisa Cairan Biopsi jarum halus, biopsi apus dan
analisa cairan akan menghasilkan penilaian sitologi. Biopsi jarum halus atau yang lebih
dikenal dengan FNAB dapat dikerjakan secara rawat jalan (ambulatory). Pemeriksaan
sitologi merupakan bagian dari triple diagnostic untuk tumor payudara yang teraba atau pada
tumor yang tidak teraba dengan bantuan penuntun pencitraan. Yang bisa diperoleh dari
pemeriksaan sitologi adalah bantuan penentuan jinak/ganas; dan mungkin dapat juga sebagai
bahan pemeriksaan ER dan PgR, tetapi tidak untuk pemeriksaan HER2Neu.

Pemeriksaan Immunohistokimia

Pemeriksaan Imunohistokimia (IHK) adalah metode pemeriksaan menggunakan antibodi


sebagai probe untuk mendeteksi antigen dalam potongan jaringan (tissue sections) ataupun
bentuk preparasi sel lainnya. IHK merupakan standar dalam menentukan subtipe kanker
payudara.Pemeriksaan IHK pada karsinoma payudara berperan dalam membantu menentukan
prediksi respons terapi sistemik dan prognosis.

Pemeriksaan imunohistokimia yang standar dikerjakan untuk kanker payudara adalah:

1. Reseptor hormonal yaitu reseptor estrogen (ER) dan reseptor progesteron (PR)

2. HER2

3. Ki-67
Pemeriksaan ER dan PR dilakukan pada material dari blok parafin (spesimen core biopsy dan
eksisi), dan dapat juga dari hapusan sitologi atau cell block. Pemeriksaan harus dilakukan
pada spesimen yang difiksasi dengan Neutral Buffer Formalin (NBF) 10%.Hasil dinyatakan
positif apabila > 1% inti sel terwarnai (baik dengan intensitas lemah, sedang, ataupun kuat).
Pemeriksaan status HER2 (c-erbB-2, HER2/neu) saat ini telah direkomendasikan untuk
karsinoma payudara invasif (DCIS tidak dievaluasi untuk HER2). Pemeriksaan HER2 harus
dilakukan pada blok paraffin dari jaringan yang difiksasi dengan NBF 10% dan tidak dapat
dilakukan dari hapusan sitologi. Hasil dinyatakan HER2 positif pada HER2 +3, sedangkan
HER2 +2 memerlukan pemeriksaan lanjutan berupa hibridisasi in situ.

Stadium

Klasifikasi Stadium

Stadium kanker payudara ditentukan berdasarkan Sistem Klasifikasi TNM American Joint
Committee on Cancer (AJCC) 2010, Edisi 7, untuk Kanker Payudara
Metastasis Jauh (M)

Mx Metastasis jauh tak dapat dinilai

M0 Tak ada metastasis jauh

M1 Terdapat Metastasis jauh

Pengelompokan Stadium
Penatalaksanaan

Terapi dapat bersifat kuratif atau paliatif.Terapi kuratif dianjurkan untuk stadium I, II, dan
III. Pasien dengan tumor lokal lanjut (T3,T4) dan bahkan inflammatory carcinoma mungkin
dapat disembuhkan dengan terapi multimodalitas, tetapi kebanyakan hanya bersifat paliatif.
Terapi paliatif diberikan pada pasien dengan stadium IV dan untuk pasien dengan metastasis
jauh atau untuk karsinoma local yang tidak dapat direseksi.

A. Terapi secara pembedahan

1. Mastektomi partial (breast conservation)

Tindakan konservatif terhadap jaringan payudara terdiri dari reseksi tumor primer hingga
batas jaringan payudara normal, radioterapi dan pemeriksaan status KGB (kelenjar getah
bening) aksilla.Reseksi tumor payudara primer disebut juga sebagai reseksi segmental,
lumpectomy, mastektomi partial dan tylectomy.Tindakan konservatif, saat ini merupakan
terapi standar untuk wanita dengan karsinoma mammae invasif stadium I atau II.Wanita
dengan DCIS hanya memerlukan reseksi tumor primer dan radioterapi adjuvan.Ketika
lumpectomy dilakukan, insisi dengan garis lengkung konsentrik pada nipple-areola complex
dibuat pada kulit diatas karsinoma mammae.Jaringan karsinoma diangkat dengan diliputi
oleh jaringan mammae normal yang adekuat sejauh 2 mm dari tepi yang bebas dari jaringan
tumor.Dilakukan juga permintaan atas status reseptor hormonal dan ekspresi HER-2/neu
kepada patologis. Setelah penutupan luka payudara, dilakukan diseksi KGB aksilla ipsilateral
untuk penentuan stadium dan mengetahui penyebaran regional.Saat ini, sentinel node biopsy
merupakan prosedur staging yang dipilih pada aksilla yang tidak ditemukan adanya
pembesaran KGB. Ketika sentinel node biopsy menunjukkan hasil negatif, diseksi KGB
akilla tidak dilakukan.

2. Modified Radical Mastectomy

Modified radical mastectomy mempertahankan baik M. pectoralis mayor and M. pectoralis


minor, dengan pengangkatan KGB aksilla level I dan II tetapi tidak level III. Modifikasi
Patey mengangkat M. pectoralis minor dan diseksi KGB axilla level III.
Batasan anatomis pada Modified radical mastectomy adalah batas anterior M. latissimus dorsi
pada bagian lateral, garis tengah sternum pada bagian medial, bagian inferiornya 2-3 cm dari
lipatan infra-mammae dan bagian superiornya m. subcalvia.

Seroma dibawah kulit dan di aksilla merupakan komplikasi tersering dari mastektomi dan
diseksi KGB aksilla, sekitar 30% dari semua kasus. Pemasangan closed-system suction
drainage mengurangi insidensi dari komplikasi ini. Kateter dipertahankan hingga cairan
drainage kurang dari 30 ml/hari. Infeksi luka jarang terjadi setelah mastektomi dan
kebanyakan terjadi sekunder terhadap nekrosis skin-flap. Pendarahan sedang dan hebat jarang
terjadi setelah mastektomi dan sebaiknya dilakukan eksplorasi dini luka untuk mengontrol
pendarahan dan memasang ulang closed-system suction drainage. Insidensi lymphedema
fungsional setelah modified radical mastectomy sekitar 10%. Diseksi KGB aksilla ekstensif,
terapi radiasi, adanya KGB patologis dan obesitas merupakan faktor-faktor predisposisi.

B. Terapi secara medikalis (non-pembedahan)

1. Radioterapi

Terapi radiasi dapat digunakan untuk semua stadium karsinoma mammae. Untuk wanita
dengan DCIS, setelah dilakukan lumpectomy, radiasi adjuvan diberikan untuk mengurangi
resiko rekurensi lokal, juga dilakukan untuk stadium I, IIa, atau IIb setelah lumpectomy.
Radiasi juga diberikan pada kasus resiko/kecurigaan metastasis yang tinggi. Pada karsinoma
mammae lanjut (Stadium IIIa atau IIIb), dimana resiko rekurensi dan metastasis yang tinggi
maka setelah tindakan pembedahan dilanjutkan dengan terapi radiasi adjuvan.

2. Kemoterapi

a. Kemoterapi adjuvan

Kemoterapi adjuvan memberikan hasil yang minimal pada karsinoma mammae tanpa
pembesaran KGB dengan tumor berukuran kurang dari 0,5 cm dan tidak dianjurkan. Jika
ukuran tumor 0,6 sampai 1 cm tanpa pembesaran KGB dan dengan resiko rekurensi tinggi
maka kemoterapi dapat diberikan.
Faktor prognostik yang tidak menguntungkan termasuk invasi pembuluh darah atau limfe,
tingkat kelainan histologis yang tinggi, overekspresi HER-2/neu dan status reseptor hormonal
yang negatif sehingga direkomendasikan untuk diberikan kemoterapi adjuvan. Contoh
regimen kemoterapi yang digunakan antara lain siklofosfamid, doxorubisin, 5-fluorourasil
dan methotrexate. Untuk wanita dengan karsinoma mammae yang reseptor hormonalnya
negatif dan lebih besar dari 1 cm, kemoterapi adjuvan cocok untuk diberikan. Rekomendasi
pengobatan saat ini, berdasarkan NSABP B-15, untuk stadium IIIa yang operabel adalah
modified radical mastectomy diikuti kemoterapi adjuvan dengan doxorubisin diikuti terapi
radiasi.

b. Neoadjuvant chemotherapy

Kemoterapi neoadjuvan merupakan kemoterapi inisial yang diberikan sebelum dilakukan


tindakan pembedahan, dimana dilakukan apabila tumor terlalu besar untuk dilakukan
lumpectomy. Rekomendasi saat ini untuk karsinoma mammae stadium lanjut adalah
kemoterapi neoadjuvan dengan regimen adriamycin diikuti mastektomi atau lumpectomy
dengan diseksi KGB aksilla bila diperlukan, diikuti kemoterapi adjuvan, dilanjutkan dengan
terapi radiasi. Untuk Stadium IIIa inoperabel dan IIIb, kemoterapi neoadjuvan digunakan
untuk menurunkan beban atau ukuran tumor tersebut, sehingga memungkinkan untuk
dilanjutkan modified radical mastectomy, diikuti dengan kemoterapi dan radioterapi.

3. Terapi anti-estrogen

Dalam sitosol sel-sel karsinoma mammae terdapat protein spesifik berupa reseptor hormonal
yaitu reseptor estrogen dan progesteron. Reseptor hormon ini ditemukan pada lebih dari 90%
karsinoma duktal dan lobular invasif yang masih berdiferensiasi baik. Setelah berikatan
dengan reseptor estrogen dalam sitosol, tamoxifen menghambat pengambilan estrogen pada
jaringan payudara.
Respon klinis terhadap anti-estrogen sekitar 60% pada wanita dengan karsinoma mammae
dengan reseptor hormon yang positif, tetapi lebih rendah yaitu sekitar 10% pada reseptor
hormonal yang negatif. Kelebihan tamoxifen dari kemoterapi adalah tidak adanya toksisitas
yang berat. Nyeri tulang, hot flushes, mual, muntah dan retensi cairan dapat terjadi pada
pengunaan tamoxifen. Resiko jangka panjang pengunaan tamoxifen adalah karsinoma
endometrium. Terapi dengan tamoxifen dihentikan setelah 5 tahun. Beberapa ahli onkologi
merekomendasikan tamoxifen untuk ditambahkan pada terapi neoadjuvan pada karsinoma
mammae stadium lanjut terutama pada reseptor hormonal yang positif. Untuk semua wanita
dengan karsinoma mammae stadium IV, anti-estrogen (tamoxifen), dipilih sebagai terapi
awal.

4. Terapi antibodi anti-HER2/neu

Penentuan ekspresi HER-2/neu pada semua karsinoma mammae yang baru didiagnosis, saat
ini direkomendasi. Hal ini digunakan untuk tujuan prognostik pada pasien tanpa pembesaran
KGB, untuk membantu pemilihan kemoterapi adjuvan karena dengan regimen adriamycin
menberikan respon yang lebih baik pada karsinoma mammae dengan overekspresi HER-
2/neu. Pasien dengan overekspresi Her-2/neu mungkin dapat diobati dengan trastuzumab
yang ditambahkan pada kemoterapi adjuvan.

Prognosis

Survival rates untuk wanita yang didiagnosis karsinoma mammae antara tahun 1983-1987
telah dikalkulasi berdasarkan pengamatan, epidemiologi dan hasil akhir program data,
didapatkan bahwa angka 5-year survival untuk stadium I adalah 94%, stadium IIa 85%, IIb
70%, dimana pada stadium IIIa sekitar 52%, IIIb 48% dan untuk stasium IV adalah 18%.
Daftar Pustaka

1. .Evans A, Ellis I. 2002. Breast Benign Calcification. In: Evans A, Pinder S, Wilson R,
Ellis I, ed. 2002. Breast Calcification a Diagnostic Manual. London: Greenwich
Medical Media. p 4, 5-6, 12, 20
2. R. Sjamsuhidajat, Wim De Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed. 2. Jakarta : EGC :
p. 390 402.
3. Cohen S.M, Aft R.L, and Eberlein T.J. 2002. Breast Surgery. In: Doherty G.M et all,
ed. The Washington Manual of Surgery. Third edition. Philadelphia: Lippincott
Williams and Wilkins. p 40.
4. Jatoi I, Kaufmann M, Petit J.Y. 2006. Diagnostic Procedures. In: Schroder G, ed.
Atlas of Breast Surgery. Berlin: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. p 19-21
5. Moningkey, Shirley Ivonne. 2000. Epidemiologi Kanker Payudara. Medika : Jakarta