Anda di halaman 1dari 5

1. Klasifikasi endapan timah primer (After S.S.

Smirnov, dari Magakyan, 1968)


Klasifikasi ini mengacu pada publikasi S.S. Smirnov yang membagi endapan timah mejadi
3 tipe utam mineral pembawa timah, yaitu stanniferous pegmatiites, quartz-casiterite, dan
sulfide-cassiterite.
a. Stanniferous Pegmatiites
Stanniferous Pegmatiites berkembang luas di banyak endapan timah, terutama di
daerah yang mineralisasinya berasosiasi dengan intrusi dalam dari granit asam dan di
sebelahnya berkembang pegmati dan bijih kuasa-kasiterit Pegmatitnya sendiri memiliki
tipe quartz mikroklin dengan albit, muskovit, topaz, spodumen, dan tourmalin. Kasiterit
terdiseminasi melalui tubuh pegmatite danhadir sebagai Kristal dipiramidal yang besar.
Kristal ini berwarna coklat gelap atau hitam dan mengandung tantalum dan columbium.
Stanniferous pegmatiites dan endapan placer hadir di beberapa tempat dengan endapan
ang kecil seperti di di wilayah Kalba-Narym, Timur Sayany, Republik Kongo, dll. Tipe
endapan ini menyuplay konsentrat kasiterit dunia sebesar 10%
b. Quartz-Cassiterite Vein
Quartz-casiterite vein, stockwork, dan greinsen terbentuk secara genetic berasosiasi
dengan intrusi batuan granitic asam yang berhubungan juga dengan pembentukan
Stanniferous pegmatiites. Formasi ini berkembang pada area yang sama sebagai
pegmatite, dimana secara gradual terjadi transisi antara stanniferous pegmatiites dan
quartz-cassiterite vein dan greisens. Di banyak tempat, urat kuarsa-kasiterit ini
berasosiasi dengan granit dikedalaman yang dangkal dan berhubungan dengan stock
granit hipabisal dan berkembang pada zona endokontak dan eksokontak. Endapan
kuarsa-ksiterit ini biasanya lebih dangkal dari pada stanniferous pegmatiites.
Tipe endapan ini dikarakteristikan oleh alteriasi yang intensif dari batuan
terdekatnya (greisenisasi) dengan melimpahnya topaz, fluorit, dan biasanya kasiterit
beasosiasi dengan wolframit, sedikit nismuthinite, molybdenite, arsenopyrite, tantalo-
columbite, dan mineral-mineral yang mengandung uranium dan tembaga. Dari jenis
mineral yang berasosiasi dan proses greisenisasi batuan induknya, endapan ini dianggap
sebagai hasil dari proses hidrotermal terperatur tinggi dan preumatolitik.
Jenis endapan ini merupaka jenis endapan yang banyak berkembang di Asia
Tenggara (Malaysia, Thailand, Indonesia, Myanmar), Cina, Portugal, Cornwall, dan
beberapa endapan di utara Bolivia, Nigeria, dan Kongo. Tipe endapan ini menyuplay
konsentrat kasiterit dunia sebesar 60-70%
c. Sulfide-Cassiterite.
Seiring berkebangnya waktu, Smirnov merubah nama endapan ini menjadi group
of cassiterit deposits rich in sulphides of ferruginous silicates,or both. Endapan ini
terjadi secara independen dari kedua endapan sebelumnya dan secara genetic
berhubungan dengan graniroid asam yang tersolidifikasi pada kedalaman yang relative
dangkal. Berdasarkan kondisi mineralisasinya, formasi ini dibagi menjadi:
Endapan Hidrotermal
Endapan hidrotermal kasiterit dengan tourmaline, klorit, pyrrhotite, dan arsenopirit
bersuhu menengah ini berhubungan dengan intrusi granitoid dekat permukaan.
Endapan ini bernilai ekonomi karena mineralisasinya dan kualitas bijihnya yang
tinggi. Smirnov memperkirakan kelompok ii terbagi atas 2 sub tipe, endapan sulfide
dan endapan dengan turmalin dan klorit tanpa sulfida.
Endapan Skarn
Endapan ini beraosisiasi dengan arsenopirit, scheelite, pyrrhotite, marmatit, dan
klorit. Jenis ini berada di central Asia, Karelian ASSR, da di bawat laut Afrika, dan
Alaska.
Endapan Hidrotermal Suhu Tinggi
Tipe ini disebut juga dengan Mexican Type berasosiasi dengan specular hematite pada
proses ekstrusif yang bersifat asam. Endapan ini dijumpai di Rusia, Amerika dan
Meksiko.
Endapan Hidrotermal Tin-Lead-Zinc Suhu Menengah
Pada jenis endapan ini kasiterit memilik kristal berukuran halus yang saling
intergrowth dengan galena dan sphalerit. Endapan ini berasosiasi dengan intrusi
granitoid yang tergantikan pada kedalaman yang dangkal oleh proses ekstrusif.
Endapan Hidrotermal Tin-Silver Suhu Rendah-Menengah
Endapan ini berhubungan dengan stock riolit dekat permukaan dan komposisinya
sama dengan endapan mineralisasi perak.

Greisen

a. Terminolog

Greisen merupakan suatu endapan yang tersusun oleh kurasa dan muskovit, dengan
beberapa mineral lain seperti fluorite, topaz, dan tourmaline. System ini biasanya
dikontrol oleh magma yang kaya akan H2O seperti granitoid pembawa muskovit, dimana
magmanya terkristalkan pada kedalaman beberapa kilometer hingga 10 km. Greisenisasi
menurut Scherba tahun 1970 dalam Pirajno 2009 adalah proses alterasi post magmagic
bersuhu tinggi oleh larutan kaya volatile dan berasosiasi dengan pendinginan batuan
granitic intrusive. Sedangkan menurut Burt tahun 1981 dalam Pirajno 2009 greisenisasi
sebagai batuan granitic yang terkena fluida hidrotermal yang tersusun oleh campuran
mika dan kuarsa (umumnya lithian), dengan topaz, tourmaline, fluorite, dan mineral yang
kaya F- atau B-. Sistem greisens dihasilkan dari proses late hingga post-metasomatisme
yang kompleks yang mempengaruhi dan berlangsung dalam massa granit hampir
konsolidasi dan batuan yang berdekatan. Proses ini melibatkan konsentrasi komponen
volatile seperti F,B, Li, dan biasanya berasosiasi dengan mineralisasi Sn, W, U, Mo, Be,
Li, dan F. Sistem ini dapat terbentuk dalam dua tipe yaitu endogreisen dimana fluida tetap
didalam batuan granitiknya tipe ini juga disebut sistem tertutup. Kemudian tipe
eksogreisen dimana fluida keluar melalui rekahan-rekahan yang ada pada batuan samping
tipe ini juga disebut sebagai sistem terbuka.

Proses greisenisasi melibatkan proses alkaline, proses greisenisasi, dan proses


pengendapan urat. Sementara Smirnov (1976) membagi lagi berdasarkan perubahan
mineralogy di lingkungan endogreisen menjadi transgresif dan progresif proses, dimana
dipengaruhi oleh suhu dan Ph. Di endogreisen proses pertama adalah metasomatisme
alkali, dimana proses albitisasi menjadi proses yang penting. Secara umum, system
greisens berkembang oleh preses pengurangan rasio alkali/H + yang mengakibatkan
destabilisasi K-feldspar,plagioklas, dan mika, dan mengarah ke tahap sensu sticto dengan
pergantian mineral oleh kuarsa dan muskovit. Silisifikasi biasanya juga hadir selama dan
setelah proses greisenisasi terjadi dan dibuktikan dengan penggantian kuarsa yang
intensif. Muskovit sendiri dihasilkan dari penggantian feldspar dan biotit. Proses
penggantian biotit menjadi muskovit dalam greisenisasi memegang peranan yang
pengting dalam pembentukan endapan Sn-W untuk menghasilkan Sn, W, dan Mo
(Eugster, 1984 dan Barsukov, 1957 dalam Pirajno 2009). Proses lepasnya unsure ini dari
mica untuk menjadi mineral bijih ditandai kehadiran mineral sulfide dan mineral oksida
dalam rekahan yang halus dari mica dalam granit yang tergreisenasi. Hal ini dibuktikan
oleh Taylor (1979) dalam Evans (1993) terhadap kandungan Sn dalam fase mineral dalam
granit pembawa timah dimana mengandung sphene 230-260 ppm, ilmenit 15-80 ppm.
berdasarkan Eugster (1984), ilmenites bisa mengandung 1000 ppm Sn, 100 ppm Mo, 60
ppmW, 1000 ppm Nb, and biotite 1000 ppm Sn, 10 ppm W, 60 ppm Mo, and 100 ppm
Nb.

Greisenasi akan overprint mineral-mineral sulfide dan dari banyak kasus dicirikan
dengan nukleasi local muskovit, albit, dan tourmaline. Quartz-albite, albit dan
adularia,yang terbentuk sepanjang rekahan akan berasosiasi dengan urat kuarsa yang
mengandung mineral sulfide dan oksida (seperti pyrite, chalcopyrite, cassiterite,
wolframite, scheelite, arsenopyrite, molybdenite, dll)
Kasiterit sebagai mineral utama yang menghasilkan timah, sebagian besar timah yang dilepaskan selama
proses pelapukan terkandung bersama mineral lain. Timah mencapai proporsi maksimal yang cukup luas
secara mineralogy umumnya di mineral yang dihasilkan dari endapan skarn dan mineral ferromagnesian
yang teroksidasi akibat bereaksi dengan atmosfer.

Hesp dan Rigby (1972) dalam Taylor (1977) berpendapat bahwa kehadiran Sn di dalam magma
untuk membentuk kasiterit dan konsentrasinya selama proses krstalisasi fraksinasi tergantung
pada komposisi magma, mekanisme diferensiasi / kristalisasi fraksional, konsentrasi Sn, dan
factor geologi. Selama proses kristalisasi timah hadir sebagai Sn 4+ otau dalam bentuk yang lebih
kompleks sehingga dapat terjadi proses substitusi dengan Fe 3+, Mg2+, dan Li+ dalam mineral
termasuk biotit (Hesp, 1971) atau terakumulasi dalam lelehan sisa silikat. Timah hadir di di
lelehan alumino silikat sebagai komposisi batuan granitic dalam bentuk Sn4+ baik dalam unsure
bebas Sn4+ atau dalam bentuk stano-alumino-silikat kompleks (Rankama and Sahama,
1950,Stemprok, 1969, Hesp and Rigby, 1972 dalam Taylor, 1979). Jika timah hadir dalam
lelehan sebagai Sn4+ , maka ketika tertransport dalam fase encer akan berubah menjadi Sn 2+,
partisi harus bergantung pada vugasitas oksigen. Konsentrasi timah tertinggi dalam fase encer
akan terbentuk pada vugasitas oksigen yang rendah. Sementara saat vugasitas oksigen tinggi
timah dalam bentuk Sn4+ akan partisi ke fase lelehan dan terkonsentrasi dalam mineral biotit,
dimana konsentrasi timah terbanyak akan berkorelasi dengan rasio Fe 3+/ Fe2+ + Mg2+ (Durasova,
1967 dalam Taylor, 1979).

Magma yang banyak mendatangkan timah adalah magma intrusive yang hadir di akhir dimana
terfraksinasi dan mengandung silica yang tinggi (Hesp dan Rigby, 1972 dan Nedaskovskii dan
Narnov, 1968 dalam Taylor, 1979). Untuk batuan silica yang mengandung sedikit biotitdan
hornblende terletak di bagian atas dari batuan intrusive dan batuan yang lebih muda. Di level
bawah timah hadir di biotit dan hornblende, sementara untuk di level yang tinggi timah hadir
sebagai kasiterit.