Anda di halaman 1dari 18

DISKUSI TOPIK KHUSUS

HUBUNGAN KEPERCAYAA IBU TERHADAP TUMBUHH


KEMBANGANAK USIA 0-12 BULAN

DISUSUN OLEH :
Jessica Gakenti (H1AP11)
Raisya Farah Monica (H1AP1)
Zenit Djaja (H1AP)

PEMBIMBING :
dr. Fitri Desimilani
dr. Wahyu sudarsono. MPH

KEPANITERAAN KLINIK KEDOKTERAN KOMUNITAS


UPTD PKM KUALA LEMPUING KOTA BENGKULU
FAKULTAS KEDOKTERANDAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

B. TUJUAN DAN MANFAAT

Diskusi topik khusus bertema hubungan kepercayaan ibu terhadap tumbuh kembang anak

usia 0-12 bulan konsep rumah sehat wilayah pesisir ini bertujuan untuk memberikan gambaran

pengetahuan tentang "Sistem Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) dan Sistem

Pembuangan Ekscret (Jamban) di daerah pesisir" sebagai wilayah yang sarat dengan berbagai

kepentingan. Selain itu makalah ini juga disusun untuk memenuhi salah satu tugas kedokteran

komunitas. Adapun manfaat dari diskusi ini, yaitu dapat menambah pengetahuan bagi para

pembaca dan penulis khususnya, tentang Sistem pengelolaan Saluran Pembuangan Air

Limbah dan Sistem Pembuangan Ekscret (Jamban).

C. RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan rumah sehat?

2. Apa syarat syarat rumah sehat?

3. Apa fungsi rumah dalam kehidupan sehari-hari ?

4. Apa saja standar dan peraturan rumah sehat itu?

5. Bagaimana konsep dan sistem saluran pembuangan air limbah dan jamban di kawasan

pesisir ?
6. Bagaimana konsep dan sistem saluran pembuangan ekskreta (Jamban) di kawasan Pesisir

?
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KEPERCAYAAN IBU

1. PENGERTIAN

Kata kepercayaan berasal dari bahasa jerman trost yang artinya kenyamanan.

Kepercayaan seseorang akan diberikan kepada orang yang memang layak untuk

dipercaya. Kepercayaan diperlukan untuk menjalin dan melakukan interaksi dalam suatu

hubungan (Shaw, 1997).

Terdapat beberapa pengertian dari kepercayaan, dimana kepercayaan adalah

sebagian psikologis dari keadaan pasrah untuk menerima kekurangan berdasarkan harapan

positif dan niat atau perilaku orang lain (Lendra, 2004). Selain itu, pengertian lain adalah

derajat dimana seseorang percaya menaruh sikap positif terhadap keinginan baik dan

keandalan orang lain yang dipercayanya dalam situasu yang berubah-ubah dan beresiko

(Das & Teng, 1998).

2. FUNGSI RUMAH

a.

3. PERSYATAN RUMAH SEHAT

a. Vektor penyakit
Indeks lalat harus memenuhi syarat.

Indeks jentik nyamuk dibawah 5%.

b. Penghijauan

Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan pelindung dan juga

berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian alam.

Adapun ketentuan persyaratan kesehatan rumah tinggal menurut Kepmenkes No.

829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut :

1) Bahan bangunan

Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan bahan yang dapat membahayakan

kesehatan, antara lain : debu total kurang dari 150 mg/m2 , asbestos kurang dari 0,5

serat/m3 per 24 jam, plumbum (Pb) kurang dari 300 mg/kg bahan;

Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya

mikroorganisme patogen.

2) Komponen dan penataan ruangan

Lantai kedap air dan mudah dibersihkan;

Dinding rumah memiliki ventilasi, di kamar mandi dan kamar cuci kedap air dan

mudah dibersihkan;

Langit-langit rumah mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan;

Bumbungan rumah 10 m dan ada penangkal petir;

Ruang ditata sesuai dengan fungsi dan peruntukannya;

Dapur harus memiliki sarana pembuangan asap.

3) Pencahayaan
Pencahayaan alam dan/atau buatan langsung maupun tidak langsung dapat menerangi

seluruh ruangan dengan intensitas penerangan minimal 60 lux dan tidak menyilaukan mata.

4) Kualitas udara

Suhu udara nyaman antara 18 30 o C;

Kelembaban udara 40 70 %;

Gas SO2 kurang dari 0,10 ppm/24 jam;

Pertukaran udara 5 kaki 3 /menit/penghuni;

Gas CO kurang dari 100 ppm/8 jam;

Gas formaldehid kurang dari 120 mg/m3

5) Ventilasi : Luas lubang ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% luas lantai.

6) Vektor penyakit : Tidak ada lalat, nyamuk ataupun tikus yang bersarang di dalam rumah.

7) Penyediaan air

Tersedia sarana penyediaan air bersih dengan kapasitas minimal 60 liter/ orang/hari;

Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan/atau air minum

menurut Permenkes 416 tahun 1990 dan Kepmenkes 907 tahun 2002.

8) Pembuangan Limbah

Limbah cair yang berasal rumah tangga tidak mencemari sumber air, tidak

menimbulkan bau, dan tidak mencemari permukaan tanah;

Limbah padat harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan bau, tidak

mencemari permukaan tanah dan air tanah.

9) Sarana Penyimpanan Makanan

Tersedia sarana penyimpanan makanan yang aman.


10) Kepadatan hunian Luas kamar tidur minimal 8 m2 dan dianjurkan tidak untuk lebih dari

2 orang tidur.

Persyaratan tersebut diatas berlaku juga terhadap kondominium, rumah susun (rusun),

rumah toko (ruko), rumah kantor (rukan) pada zona pemukiman.

Pelaksanaan ketentuan mengenai

persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menjadi tanggung jawab

pengembang atau penyelenggara pembangunan perumahan, dan pemilik atau penghuni rumah

tinggal untuk rumah.


4. KONSEP DAN SISTEM SALURAN PEMBUNGAN AIR LIMBAH DAN JAMBAN DI

KAWASAN PESISIR

a. Konsep dan Sistem Saluran Pembuangan Air Limbah di Kawasan Pesisir

Menurut Ehless dan Steel, air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah

tangga, industri, dan tempat-tempat umum lainnya dan biasanya mengandung bahan-bahan

atau zat yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu lingkungan. Air

limbah yang paling banyak dan paling tidak teratur dihasikan oleh rumah tangga. Sebagian

besar air limbah rumah tangga mengandung bahan organic sehingga memudahkan di dalam

pengelolaannya. Volume air limbah yang dihasilkan dalam suatu masyarakat dipengaruhi

oleh beberapa factor, antara lain :

a. Kebiasaan manusia. Makin banyak orang menggunakan air, makin banyak air limbah

yang dihasilkan.

b. Penggunaan sistem pembuangan kombinasi atau terpisah. Pada sistem kombinasi,

volume air limbah bervariasi dari 80-100 galon atau lebih perkapita, sedangkan pada

sistem terpisah volume limbah mencapai rata-rata 25-50 galon perkapita.

c. Waktu. Air limbah tidak mengalir merata sepanjang hari, tetapi bervariasi bergantung

pada waktu dalam sehari dan musim. Di pagi hari, manusia cenderung menggunakan air

yang menyebabkan aliran air limbah lebih banyak, sedangkan di tengah hari volumenya

lebih sedikit, dan di malam hari agak meningkat lagi.

Membangun sanitasi yang berkelanjutan (sustainabel) dan drainase didaerah rendah

dan pesisir benar benar memberikan tantangan teknis dan lingkungan tersendiri. Mengapa

sanitasi sangat sulit untuk dibangun di daerah pesisir ?


a. Air tanah

Air tanah sangat dangkal terlebih dimusim hujan, sangat menyulitkan dalam

membangun struktur bawah tanah dalam situasi seperti ini.

b. Daerah pesisir yang sangat rata/datar

Sangat sulit mendapatkan aliran gravitasi untuk saluran drainase dan penyaluran air

limbah (khususnya sistem terpusat).

c. Ketersediaan Tanah

Hampir semua tanah disekitar daerah pemukiman adalah milik pribadi, ini merupakan

masalah jika akan membangun fasilitas untuk umum seperti pengolahan limbah

komunal. Secara umum, dampak dari pembuangan air limbah yang tidak menjalani

pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan seperti :

1) Kontaminasi dan pencemaran pada air permukaan dan badan-badan air yang

digunakan oleh manusia.

2) Mengganggu kehidupan dalam air, mematikan hewan dan tumbuhan air.

3) Menimbulkan bau (sebagai hasil dekomposisi zat anaerobic) dan zat anorganik).

4) Menghasilkan lumpur yang dapat mengakibatkan pendangkalan air sehingga

terjadi penyumbatan yang dapat menimbulkan banjir.

Hal mendasar yang menyebabkan sulitnya pelaksanaan upaya sanitasi

lingkungan di daerah pesisir adalah rendahnya pemahaman mengenai pentingnya

upaya sanitasi lingkungan serta kemampuan financial yang kurang mencukupi bagi

setiap rumah tangga untuk mengupayakan sanitasi lingkungan rumah tangga yang

memenuhi syarat.
Untuk daerah pesisir, seyogyanya dapat diupayakan prasarana drainase

yang terpusat, karena lokasi pesisir yang merupakan daerah resapan air sehingga

meyulitkan untuk membuat SPAL bagi masing-masing rumah tangga. Gambar di

samping menunjukkan buruknya sanitasi lingkungan di daerah pesisir khususnya

SPAL. Dampak fisik yang dapat langsung dilihat akibat buruknya sanitasi

lingkungan di daerah pesisir adalah lingkungan yang kotor, tidak teratur dan

tentunya berbau. Hal inilah yang menjadi penyumbang timbulnya gangguan

ekosistem di daerah pesisir dan pantai.

b. Konsep dan Sistem Saluran Pembuangan Ekskreta (Jamban) di Kawasan

Pesisir

Masalah penyehatan lingkungan pemukiman khususnya pada pembuangan

tinja merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu

mendapatkan prioritas. Penyediaan sarana pembuangan tinja masyarakat terutama

dalam pelaksanaannya tidaklah mudah, karena menyangkut peran serta

masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya dengan prilaku, tingkat ekonomi,

kebudayaan dan pendidikan.

Sebanyak 19,67 persen (data tahun 2007) warga tidak memiliki jamban.

Sangat menyedihkan, mereka membuang begitu saja kotoran ke sungai,"

(Wisjnuprapto guru besar Teknik Penyehatan Institut Teknologi Bandung, Selasa

(11/8/2009).

Berarti, selama ini mereka yang tidak mempunyai jamban membuang tinja

di tempat terbuka seperti kebun, sawah, ataupun sungai dan laut. Parahnya, hal ini

menjadi kebiasaan yang terutama disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan.


Tidak hanya itu, minimnya penghasilan dan sumber mata pencaharian membuat

sebagian besar mereka berpikir bahwa lebih baik mencari yang hemat dan efisien

dibanding harus mengeluarkan biaya untuk membuat jamban. Toh, mereka juga

jarang sakit. Anggapan inilah yang membuat upaya sanitasi berjalan kurang

maksimal.

Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan satu

bahan buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan

sebagai media bibit penyakit, seperti diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan

dan gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada

sumber air dan bau busuk serta estetika.

A septic system is an efficient, inexpensive, convenient, and safe method

for treating and disposing of household wastewater before it is recycled back to

the groundwater system. However, the system must be properly installed and

maintained.

Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk

membuang tinja atau kotoran manusia atau najis bagi suatu keluarga yang lazim

disebut kakus atau WC. Syarat jamban yang sehat sesuai kaidah-kaidah kesehatan

adalah sebagai berikut :

1. Tidak mencemari sumber air minum

2. Tidak berbau tinja dan tidak bebas dijamah oleh serangga maupun tikus.

3. Air seni, air bersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah sekitar olehnya

itu lantai sedikitnya berukuran 1 X 1 meter dan dibuat cukup landai, miring kearah

lobang jongkok.
4. Mudah dibersihkan dan aman penggunaannnya.

5. Dilengkapi dengan dinding dan penutup

6. Cukup penerangan dan sirkulasi udara.

7. Luas ruangan yang cukup

8. Tersedia air dan alat pembersih.

Pemanfaatan jamban keluarga sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan

dan kebiasaan masyarakat. Tujuan program JAGA (jamban keluarga) yaitu tidak

membuang tinja ditempat terbuka melaingkan membangun jamban untuk diri sendiri

dan keluarga. Penggunaan jamban yang baik adalah kotoran yang masuk hendaknya

disiram dengan air yang cukup, hal ini selalu dikerjakan sehabis buang tinja sehingga

kotoran tidak tampak lagi. Secara periodic Bowl, leher angsa dan lantai jamban

digunakan dan dipelihara dengan baik, sedangkan pada jamban cemplung lubang

harus selalu ditutup jika jamban tidak digunakan lagi, agar tidak kemasukan benda-

benda lain.

Mengingat kondisi kawasan pesisir yang landai, berpasir dan sangat mudah

terendam, diperlukan teknik khusus dalam membuat septic tank. Karena, dengan

kondisi yang mudah terendam, septic yang dibuat harus memperhatikan jarak dengan

sumber air. Jangan sampai kotoran mengkontaminasi air yang akan digunakan sehari-

hari. Contoh gambaran situasi kesehatan lingkungan (sanitasi) di salah satu daerah

pesisir yaitu Pelayanan Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Tamako Kabupaten

Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara.

Upaya kesehatan lingkungan ditandai oleh rendahnya jumlah anggota

keluarga yang tidak memiliki SAB, SPAL, dan jamban keluarga. Data tahun 2001,
diantara 63.756 KK 49.760 (78%) telah menikmati fasilitas air bersih. Tetapi pada

tahun 2003, diantara 96.162 KK yang ada, hanya 54.839 (57%) yang menikmati

fasilitas air bersih. Sementara cakupan keluarga yang memiliki jamban 58% (2000)

79% (2001), dan 63% (2002). Sementara SPAL, 9,4% (2000), 31% (2001) dan 30%

(2002). Memang kondisi alam yang tediri dari daerah pinggiran sungai dan pesisir

pantai serta tingginya daya resap tanah memegang peranan penting terjadinya kondisi

ini disamping tentu saja pemahaman dan kemampuan finanasial yang rendah, dapat

dianggap sebagai pencetus terjadinya keadaan ini.

Kondisi ini telah menggambarkan buruknya upaya sanitasi lingkungan di

daerah pesisir khususnya untuk Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) dan

jamban. Untuk mengantisipasi semakin buruknya upaya sanitasi lingkungan di

daerah pesisir, dapat diterapkan metode berikut untuk pembuatan jamban.

Gambaran mengenai lokasi yang dapat digunakan antara septic dengan air

tanah adalah :

Air tanah selalu berada pada jarak sekitar 4 kaki dibawah permukaan.

Air tanah normalnya berada pada jarak sekitar 4 kaki di bawah permukaan

kecuali untuk waktu tertentu (kurang dari seminggu) selama musim hujan.

Air permukaan normalnya berada pada jarak sekitar 2 kaki di bawah permukaan

kecuali untuk waktu tertentu (kurang dari seminggu) selama musim hujan.

Air tanah secara periodik naik hingga mencapai 2 kaki di atas permukaan atau

kamu tidak mengetahuinya.

Dalam penetuan letak kakus ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu jarak

terhadap sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung pada :


Keadaan daerah datar atau lereng;

Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam;

Sifat, macam dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau kapur.

Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya

peresapan tanah. Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber

air dan lokasi jamban berkisar antara 8 s/d 15 meter atau rata-rata 10 meter. Dalam

penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan :

Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawah dari

letak sumber air. Andaikata tidak mungkin dan terpaksa di atasnya, maka jarak

tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan atau kekiri dari

letak sumur.

Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang sering

digenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya lantai jamban

(diatas lobang) dibuat lebih tinggidari permukaan air yang tertinggi pada waktu

banjir.

Mudah dan tidaknya memperoleh air.

Contoh jamban yang banyak digunakan di kawasan pesisir. Tentunya

kondisi ini kurang sehat bagi masyarakat yang berada di sekitarnya dan dapat

menyebabkan timbulnya berbagai gangguan kesehatan. Sistem pembuangan

ekskreta (jamban) di daerah pesisir terutama harus memperhatikan kondisi air

tanah. Selain itu, dapat diupayakan metode pembuangan ekskret (kotoran manusia)

dengan cara menampung pada satu bak khusus yang dapat dilakukan secara

komunal dan pada akhirnya nanti akan diangkut oleh mobil penyedot kotoran. Cara
ini merupakan cara yang paling aman untuk diupayakan di daerah pesisir,

mengingat sulitnya memperole lokasi yang dapat digunakan sebagai tempat

penampungan kotoran. Selain itu, kesinambungan daripada pelaksanaan upaya ini

dapat dilakukan dengan penyuluhan dan pemberian pemahaman Perilaku Hidup

Bersih dan Sehat (PHBS) bagi masyarakat pesisir.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN


A. KESIMPULAN

Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang digunakan di daerah pesisir sangat tidak

memenuhi syarat, bahkan sebagian besar masyarakat pesisir tidak menggunakan SPAL. Di

daerah pesisir sangat minim digunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Terbukti

dari kurangnya animo masyarakat untuk membuat dan menggunakan jamban keluarga.

Hal-hal di atas dikarenakan factor-faktor seperti kondisi fisik lingkungan, keterbatasan

dana dan infrastruktur, serta factor ekonomi, social dan budaya masyarakat. Termasuk di

dalamnya kurangnya pelayanan kesehatan dan pengetahuan masyarakat mengenai Perilaku

Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

B. SARAN

Selain aspek dan standar-standar yang berlaku untuk rumah sehat, segi estetika dan

kenyamanan dapat diperhatikan. Sebaiknya bagi masyarakat wilayah pesisir seharusnya

memiliki saluran pembuangan air limbah sendiri yang baik sehingga taraf kesehatan

masyarakat setempat meningkat dan dibuat nya jamban sendiri untuk tiap keluarga untuk

memenuhi konsep rumah sehat. Selain itu pemilik rumah dapat menambahkan tanaman-

tanaman di teras maupun di belakang rumah untuk meningkatkan keindahan rumah. Selain

lebih enak untuk dipandang, hal ini juga akan membuat penghuni merasa lebih nyaman serta

kebersihan lebih mudah untuk dijaga. Kebersihan pangkal kesehatan adalah pepatah yang

benar adanya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Amran Saru. 2004. Makalah Pengelolaan Terpadu Pembangunan Dan Ekosistem Wilayah

Pesisir : Bogor.
2. Budiman Chandra.2007. Pengantar Kesehatan Lingkugan. Jakarta:EGC Budiman

Chandra.2007. Pengantar Kesehatan Lingkugan. Jakarta:EGC

3. Chandra, DR. Budiman. Pengantar KL. Penerbit Buku Kedokteran EGC. (Hal 142-150) :

Jakarta.

4. Coast *A* Syst North Carolina. (Hal 2-3). Published By NORTH CAROLINA

COOPERATIVE EXTENSION SERVICE.

5. Depkes RI Ditjen PPM dan PL (2002) Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat.

6. Kepmenkes RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 ttg Persyaratan Kesehatan Perumahan.

7. Mahfoedz, Irham.2008, Menjaga Kesehatan Rumah Dari Berbagai Penyakit. Jogyakarta.

8. Makalah Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Berkelanjutan Pasca Tsunami Desember

2004. (Hal 5-6) : Semarang.

9. Munif Arifin, 2009. Rumah Sehat dan Lingkunganya. diakses dari

environmentalsanitation.wordpress.com, November November 2011.

10. Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-prinsip Dasar. Jakarta:

Rineka Cipta.

11. Osmond, Deanna L. dkk. tt. Improving Septic System Maintenance in Coastal

Communities.