Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gaya hidup yang tidak sehat seperti mengkonsumsi makanan yang dapat
merangsang peningkatan asam lambung, seperti : asinan, cuka, sambal, serta
kebiasaan merokok dan minum alkohol, dapat meningkatkan jumlah penderita
gastritis. Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan saluran pencernaan yang
paling sering terjadi. Akhir-akhir ini peningkatan penyakit Gastritis atau yang secara
umum dikenal dengan istilah sakit maag atau sakit ulu hati meningkat sangat pesat
dan banyak di keluhkan masyarakat. Kejadian penyakit gastritis terjadi karena pola
hidup yang bebas hingga berdampak pada kesehatan tubuh (Mustakim, 2009:12).
Gastritis bukanlah penyakit tunggal, tetapi beberapa kondisi yang mengacu
pada peradangan lambung. Biasanya peradangan tersebut merupakan akibat dari
infeksi bakteri yang dapat mengakibatkan borok lambung yaitu Helicobacter Pylory
dan merupakan satu-satunya bakteri yang hidup di lambung. Keluhan Gastritis
merupakan suatu keadaan yang sering dan banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-
hari. Tidak jarang kita jumpai penderita Gastritis kronis selama bertahun-tahun pindah
dari satu dokter ke dokter yang lain untuk mengobati keluhan Gastritis tersebut.
Bila penyakit gastritis ini terus dibiarkan, akan berakibat semakin parah dan
akhirnya asam lambung akan membuat luka-luka (ulkus) yang dikenal dengan tukak
lambung. Bahkan bisa juga disertai muntah darah. Menurut penelitian Aprianto
(2009), gastritis yang tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan komplikasi
yang mengarah kepada keparahan.yaitu kanker lambung.
Badan penelitian kesehatan dunia WHO mengadakan tinjauan terhadap
delapan Negara dunia dan mendapatkan beberapa hasil presentase angka kejadian
gastritis di dunia. Dimulai dari Negara yang kejadian gastritisnya paling tinggi yaitu
Amerika dengan presentase mencapai 47% kemudian di ikuti oleh India dengan
presentase mencapai 43%, lalu dibeberapa negara lainnya seperti Inggris 22%, China
31%, Jepang 14,5%, Kanada 35%, Perancis 29,5% dan Indonesia 40,85%. Angka
kejadian gastritis pada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi
274,396 kasus dari 238,452,952 jiwa penduduk. Menurut Maulidiyah dan Unun
(2006), angka kejadian infeksi Gastritis pada beberapa daerah di Indonesia
menunjukkan data yang cukup tinggi. Dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk
mengetahui Hubungan Pola makan dengan Kasus Gastritis Remaja Saat Ini.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah sesuai dengan uraian tersebut di atas,
dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
a. Apakah ada hubugan antara pola makan dengan kasus gastritis pada remaja?
b. Mengapa pola makan tidak teratur depat mengakibatkan gastritis?

1.3 Tujuan Penulisan


Secara umum penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui definisi dan
ethiologi gastritis. Secara khusus tujuan yang ingin dicapai dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut.
a. Untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kasus gastritis pada remaja saat
ini
b. Untuk mengetahui mengapa pla makan tidak teratur dapat menyebabkan gastritis

1.4 Manfaat Penulisan


Secara teoretis makalah ini diharapkan dapat bermanfat dalam menambah
khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam ilmu kedokteran untuk mengeahui
hubungan pola makan dengan kasus gastritis. Sedangkan secara praktis makalah ini
diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa, pendidikan, masyarakat maupun
pemerintah.
a. Bagi mahasiswa.
Melalui makalah ini diharapankan dapat mengetahui Hubungan antara gastritis dan
pola makan remaja saat ini.
b. Bagi institusi.
Melalui makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai bahan kajian
untuk pengetahuan di masa yang akan datang.
c. Bagi pembaca.
Melalui makalah ini pembaca diharapkan mendapat informasi, wacana, serta
pengetahuan baru tentang judul

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Pola Makan
2.1.1Pengertian Pola Makan
Pola makan adalah gambaran mengenai macam, jumlah, dan komposisi bahan
makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang yang merupakan ciri khas dari suatu
kelompok masyarakat tertentu (Harna,2009). Pola makan adalah suatu cara atau
usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan maksud tertentu seperti
mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan
penyakit (Depkes RI, 2009).

Gambar 2.1
Jenis makanan sehat

2.1.2 Pola Makan Sehat


a. Makanlah sesuai waktu
b. Biasakan membawa bekal makan dari rumah. Selain menghemat uang jajan,
membawa makan siang dari rumah akan menghemat waktumu dengan tidak
perlu mengantri di outlet makanan.
c. Pilih makanan yang dipanggang atau rebus, bukan digoreng. Di bandingkan
makanan yang dipanggang atau rebus, makanan yang digoreng mempunya
50% kalori atau lemak lebih banyak.

3
d. Kurangi fastfood. Makansekali-kali boleh, tetapi jaga porsinya dan hindari
fastfood berukuran besar. Kalori dalam fastfood berukuran besar akan
ditumpuk menjadi lemak dan mengakibatkan naiknya berat badan.
Kebanyakan fastfood juga kaya akan lemak jenuh, gula, garam, dan kurang
nutrisi penting vitamin dan mineral.
e. Mengemil dengan sehat. Salah sau cemilan sehat adalah buah dan sayur.
Selain kaya serat, buah san sayur mengandung vitamin dan mineral yang baik
untuk kesehatan. Supaya tidak bosan, variasikan dengan yogurt buah, jus, atau
salad.
f. Makan nutrisi yang cukup dan seimbang. Selain karbohidrat (nasi, roti, pasta),
juga konsumsi protein (daging ayam tanpa kulit, daging sapi tanpa lemak),
lemak (ikan, kacang, salad dressing rendah lemah, alpukat), juga buah dan
sayur dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
g. Hindari soft drink. Minuman ini tidak mengandung vitamin, mineral, protein
aau serat. Daripada minum soft drink dengan hanya mendapakan asupan
karbohidrat, lebih baik minum susu dengan kandungan nutrisi yang lebih
baragam, terutama nutrisi kalsium yang baik untuk pertumbuhan dan
kesehatan tulang.

2.1.3 Pola Makan Remaja


Periode remaja ditandai dengan pertumbuhan yang cepat (growth spurt), baik
tinggi maupun berat badannya. Kebutuhan zat gizi sangat berhubungan dengan
besarnya tubuh, hingga kebutuhan yang tinggi terdapat pada periode pertumbuhan
yang cepat. Growth spurt pada anak perempuan sudah dimulai pada umur 10-12
tahun, sedangkan pada anak laki-laki 12-14 tahun (Arisman, 2009:13)
Permulaaan growth spurt pada anak tidak selalu sama pada umur yang sama
melainkan terdapat perbedaan secara individual (Hanum, 2008). Pertumbuhan yang
cepat biasanya diiringi oleh bertumbuhnya aktivitas fisik sehingga kebutuhan zat gizi
akan naik pula. Nafsu makan anak laki-laki sangat bertambah sehingga tidak
menemui masalah untuk memenuhi kebutuhan zat gizinya. Sedangkan anak
perempuan akan lebih mementingkan penampilan, takut gemuk sehingga membatasi
diri dengan memilih makanan yang tidak banyak mengandung energi dan sering tidak
makan pagi (Ellya, 2010:10).
Menurut Daniel (1977) dalam Arisman (2009) hampir 50 % remaja tidak

4
sarapan pagi terutama pada remaja akhir. Penelitian yang lain membuktikan masih
banyak remaja yaitu 89 % yang menyakini kalau sarapan memang penting, namun
hanya 60 % dari mereka yang sarapan secara teratur.
Menurut ahli antropologi Margaret Mead, pola pangan atau food pattern
adalah cara seseorang atau sekelompok orang memanfaatkan pangan yang tersedia
sebagai aksi terhadap tekanan ekonomi dan sosio budaya yang dialaminya. Pola
pangan ada kaitannya dengan kebiasaaan makan (food habit) (Almatsier, 2009).
Pola konsumsi makan remaja yang sering tidak teratur, sering jajan, sering
tidak makan pagi dan sama sekali tidak makan siang. Meningkatnya aktivitas
kehidupan sosial dan kesibukan pada remaja akan memengaruhi kebiasaan makan.
Remaja dengan aktivitas sosial tinggi, memperlihatkan peran teman sebaya menjadi
tampak jelas. Di kota besar sering terlihat kelompok remaja bersama-sama makan di
rumah makan yang menyajikan makanan siap saji (fast food) yang berasal dari
negara- negara barat. Fast food tersebut pada umumnya mengandung kadar lemak
maupun kalori tinggi, sehingga apabila dikonsumsi setiap hari dalam jumlah yang
banyak dapat menyebabkan kegemukan dengan segala dampaknya (Sayogo, 2006).
Menurut hasil Riskesdas (2013) proporsi penduduk 10 tahun yang
mengkonsumsi makanan berisiko yaitu makanan/ minuman manis 1 kali dalam
sehari secara nasional adalah 53,1% dan Provinsi Sumatera Utara termasuk kepada
persentase yang tinggi yaitu (62,5%). Proporsi nasional penduduk dengan perilaku
konsumsi makanan berlemak, berkolesterol dan makanan gorengan 1 kali per hari
40,7% sementara Provinsi Sumatera Utara dengan persentase sebanyak 21,4%.
Hampir 4 dari 5 penduduk Indonesia mengonsumsi penyedap 1 kali dalam sehari
dengan persentase (77,3%) dan Provinsi Sumatara Utara termasuk tinggi dengan
persentase (44,6%).
Pengalaman baru, kegembiraan di sekolah, rasa takut kalau terlambat sekolah
menyebabkan anak menyimpang dari kebiasaan makan yang sudah menyimpang dari
kebiasaan waktu makan yang sudah diberikan pada mereka. Sementara kebutuhan
energi akan meningkat karena mereka lebih banyak melakukan aktivitas fisik,
misalnya olahraga, bermain dan lain-lain (Waryana, 2010).
Ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan
menimbulkan masalah gizi, baik itu berupa masalah gizi lebih maupun gizi kurang.
Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat,
misalnya penurunan konsentrasi belajar, risiko melahirkan bayi dengan BBLR, dan

5
penurunan kesegaran jasmani. Dan asupan makanan pada masa remaja sebaiknya
mengandung jumlah zat-zat gizi yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Sebagai
contoh remaja putri membutuhkan makanan dengan kandungan zat besi yang tinggi
terlebih bagi remaja putri yang mengalami menstruasi setiap bulan (Sayogo, 2006).
Hasil survei terhadap mahasiswa kedokteran di Perancis membuktikan 16 %
mahasiswa kehabisan cadangan besi, sementara 75 % menderita kekurangan besi.
Penelitian lain terhadap masyarakat miskin di Kairo menunjukkan asupan besi
sebagian besar remaja perempuan tidak mencukupi kebutuhan harian yang
dianjurkan. Di negara yang sedang bekembang, sekitar 27 % remaja laki-laki dan 26
% remaja perempuan mengalami anemia, sementara di negara maju angka tersebut
hanya berkisar pada bilangan 5 % dan 7 %. Secara garis besar, sebanyak 44 %
perempuan di negara berkembang, termasuk Indonesia mengalami anemia gizi besi,
sementara ibu hamil lebih besar yaitu 55 %. Di Amerika Serikat sebagian remaja
tidak memperoleh kalsium sebanyak yang dianjurkan oleh RDA. Survei Departemen
Pertanian Amerika (1995) membuktikan bahwa remaja putri yang berusia 12-19 tahun
hanya mengkonsumsi 777 mg kalsium sehari (Arisman, 2009).
Saat mencapai puncak kecepatan pertumbuhan, remaja biasanya makan lebih
sering dan dalam jumlah yang banyak. Sesudah masa growth spurt biasanya mereka
akan lebih memerhatikan penampilan dirinya terutama pada remaja putri. Mereka
seringkali terlalu ketat dalam pengaturan pola makan dalam menjaga penampilannya,
sehingga dapat mengakibatkan kekurangan zat gizi (Sayogo, 2006).

2.1.4 Faktor Faktor yang Mempengarui Pola Makan


Pola makan yang terbentuk sangat erat kaitannya dengan kebiasaan makan
seseorang. Secara umu faktor yang mempengaruhi terbentuknya pola makan adalah
Faktor ekonomi, sosial budaya, agama, pendidikan dan lingkungan, umur dan jenis
kelamin (Sediaotama,2004)
a. Faktor Eknomi
Faktor eokomi yang cukup atau lebih dapat mempengaruhi pangan yang akan di
makan. Meningkatnya pendapatan keluarga akan meningkatkan peluang untk
membeli pangan dengan kualitas yang lebih baik dan sebaliknya. Apabila
menurunya pendapatan itu akan daya beli pangan akan menurun begitu juga
kualitasnya.
Meningkatnya taraf hidup masyarakat pengaruh prmosi melali iklan, serta

6
kemudian informasi, dapat menyebabkan perubahan gaya hidup dan timbulnya
kebutuhan psikogenik baru dikalangan ekonomi atas. Tingginya pendapat apabila
tidak diimbangi dengan pengetahuan gizi yang cukup akan menyebabkan
seseorang sangat konsumtif dalam pola makanya sehari-hari.
b. Faktor Sosial Budaya
Patangan dalam mengkonsumsi makanan tertentu ini dapat dipengaruhi oleh
factor sosial atau budaya yang ada dilingkungan kita masing-masing. Pantangan
yang didasari oleh kepercayaan pada umumnya mengandung perlambangan atau
nasehat yang dianggap baik ataupun tidak baik itu akan menjadi kebiasaan.
Kebudayaan masyarakat mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi seseorang
dalam memilih dan mengelolah makanan yang akan di konsumsi.
Kebudaayn menuntun orang dalam cara bertingkah lulu da memenuhi
keputuhan dasar biologinya, termasuk kebutuhan terhadap pangan. Budaya
mempengaruhi seseorang dalam apa saja yang aka dimakan, proses
pengelolaannya, dan cara penyajiannya serta untuk siapa dan dalam kondisi apa
makanan itu boleh di konsumsi. Kebudayaan juga mengatur seseorang tentang
kapan seseorang boleh dan tidak boleh mengkonsumsi suatu makanan (hal ini
dikenal dengan istilah Tabu) meski tidak semua hal tabu tersebut masuk akal dan
baik dari sisi kesehatan. Tidak sedikit hal tabu tersebut yang ditabukan
merupakan hal baik jika ditinjau dari sisi kesehatan.
c. Agama
Agama juga mempengaruhi pola makan seseorang. Pantangan yang didasari oleh
agama, khususnya islam disebut haram yang apa bila di konsumsi akan
melanggar hokum agama dan berdosa. Adanya makanan terhadap
makanan/minuman tertentu diharamkan oleh agama dikarenakan
makanan/minuman tersebut membahayakan jasmani atau rohani bagi yang
mengkonsumsi. Konsep halal dan haram sangat berpengaruh dalam memili bahan
makanan yang akan dikonsumsi.
d. Pendidikan
Pendidikan dalam hal ini biasanya berkaitan dengan pengetahuan. Pengetahuan
akan berpengaruh terhadap pemilihan bahan makanan dan pemenuhan kebutuhan
gizi. Contohya prinsip yang dimiliki seseorang dengan pendidikan rendah
biasanya adalah yang penting kenyang, sehinggan porsinya bahan makanan
sumber kabohidrat lebih banyak ketimbang kelompok bahan makanan lain.

7
Sebaliknya, sekelompok orang dengan pendidikan tinggi memeliki
kecenderungan memilih bahan makanan sumber protein dan akan berusaha
menyeimbangkan dengan kebutuhan gizi lainya
e. Lingkungan
Faktor lingkungan cukup besar pengaruhya dalam membentuk prilaku makan.
Lingkungan yang dimaksud dapat berupa keluarga, sekolah serta adanya promosi
melalui media elektronik maupuncetak. Kebiasaan makan dalam keluarga sangat
berpengaruh besar terhadap pola makan seseorang. Kesukaan seseorang akan
makanan juga terbentuk dari kebiasaan makan yang terdapat dalam keluarga.
Lingkungan sekolah, termasuk di dalamnya para guru dan teman sebaya, dan
keberadaann tempat jajan sangat berpengaruh terhadap terbentuknya pola makan,
khususnya bagi siswa sekolah. Anak-anak yang mendapatkan informasi yang
tepat tentang makanan sehat dari para gurunya dan didukung oleh tersedianya
kantin dan tempat jajan yang menjuan makanan yang sehat akan membentuk pola
makan yang baik pada anak.
Keberadaan iklan atau promosi makanan ataupun minuman melalui media
elektronik maupun cetak sangat besar pengaruhnya dalam membentuk pola
makan. Tidak sedikit orang tertarik untuk mengkonsumsi atau membeli jeis
makanan tertentu setelah melihat promosinya melalui iklan di televise, sehingga
masyarat dapat memilih bahan makanan yang diinginkan dengan tetap
menerapkan prinsip gizi seimbang.
f. Faktor usia
Faktor usia sangat berpengaruh terhadap penyakit gastritis, karena masa remaja
adalah masa mencari identitas diri, adanya keinginan untuk dapat deterima oleh
teman sebaya dan mulai tertarik oleeh lawan jenis menyebabkan remaja sangat
menjagapenampilan. Semua itu sangat mempengaruhi pola makan remaja,
termasuk pemilihan bahan makanan dan frekuensi makan. Remaja takut merasa
gemuk sehingga remaja menghindari sarapan dan makan siang atau hanya makan
sehari sekali (baliwati,2004)
g. Jenis kelamin
Jenis kelamin adalah karakteristik remaja yang terdiri dari laki-laki dan
perempuan. Jenis kelamin mempengaruhi besar kecil kebutuhan gizi bagi
seseorang. Pria lebih banyak membutuhhkan zat tenaga dan protein ldari pada
wanita. Karena secara kodrat pria diciptakan untuk tampil lebih aktif dan lebih

8
kuat dari wanita.

2.2 Remaja
2.2.1 Definisi Remaja
Masa remaja adalah masa transisi dalam rentang kehidupan manusia,
menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa (Santrock, 2003).
Masa remaja disebut pula sebagai masa penghubung atau masa peralihan
antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada periode ini terjadi perubahan-
perubahan besar dan esensial mengenai kematangan fungsi-fungsi rohaniah dan
jasmaniah, terutama fungsi seksual (Kartono, 1995).
Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa
Latin adolescare yang artinya tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan.
Bangsa primitif dan orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja
tidak berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan. Anak dianggap sudah
dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi (Ali & Asrori, 2006).
Menurut Rice (dalam Gunarsa, 2004), masa remaja adalah masa peralihan,
ketika individu tumbuh dari masa anak-anak menjadi individu yang memiliki
kematangan. Pada masa tersebut, ada dua hal penting menyebabkan remaja
melakukan pengendalian diri. Dua hal tersebut adalah, pertama, hal yang bersifat
eksternal, yaitu adanya perubahan lingkungan, dan kedua adalah hal yang bersifat
internal, yaitu karakteristik di dalam diri remaja yang membuat remaja relatif lebih
bergejolak dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya (storm and stress
period).
Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik,
emosi dan psikis. Masa remaja, yakni antara usia 10-19 tahun, adalah suatu periode
masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas. Masa
remaja adalah periode peralihan dari masa anak ke masa dewasa (Widyastuti,
Rahmawati, Purnamaningrum; 2009).
Pubertas (puberty) ialah suatu periode di mana kematangan kerangka dan
seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja. Akan tetapi, pubertas
bukanlah suatu peristiwa tunggal yang tiba-tiba terjadi. Pubertas adalah bagian dari
suatu proses yang terjadi berangsur-angsur (gradual) (Santrock, 2002).
Pubertas adalah periode dalam rentang perkembangan ketika anak-anak
berubah dari mahluk aseksual menjadi mahluk seksual. Kata pubertas berasal dari

9
kata latin yang berarti usia kedewasaan. Kata ini lebih menunjukkan pada
perubahan fisik daripada perubahan perilaku yang terjadi pada saat individu secara
seksual menjadi matang dan mampu memperbaiki keturunan (Hurlock, 1980).
Santrock (2002) menambahkan bahwa kita dapat mengetahui kapan seorang
anak muda mengawali masa pubertasnya, tetapi menentukan secara tepat permulaan
dan akhirnya adalah sulit. Kecuali untuk menarche, yang terjadi agak terlambat pada
masa pubertas, tidak ada tanda tunggal yang menggemparkan pada masa pubertas.
Pada 1974, WHO (World Health Organization) memberikan definisi tentang remaja
yang lebih bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan tiga kriteria,
yaitu biologis, psikologis, dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi
tersebut berbunyi sebagai berikut. Remaja adalah suatu masa di mana:
a. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda- tanda
seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
b. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari
kanak-kanak menjadi dewasa.
c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada
keadaan yang relatif lebih mandiri (Muangman dalam Sarwono, 2010).
Dalam tahapan perkembangan remaja menempati posisi setelah masa anak dan
sebelum masa dewasa. Adanya perubahan besar dalam tahap perkembangan remaja
baik perubahan fisik maupun perubahan psikis (pada perempuan setelah mengalami
menarche dan pada laki-laki setelah mengalami mimpi basah) menyebabkan masa
remaja relatif bergejolak dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya. Hal ini
menyebabkan masa remaja menjadi penting untuk diperhatikan.

2.2.2 Karakteristik masa remaja

Karateristik perkembangan normal yang terjadi pada remaja dalam


menjalankan tugas perkembangannya dalam mencapai identitas diri antara lainmenilai
diri secara objektif dan merencanakan untuk mengaktualisasikan kemampuannya.
Dengan demikian pada fase ini, seorang remaja akan :

a. Menilai rasa identitas pribadi


b. Meningkatkan minat pada lawan jenis
c. Menggabungkan perubahan seks sekunder dalam citra tubuh
d. Memulai perumusan tujuan okupasional

10
e. Memulai pemisahan diri dari otoritas keluarga

Hurlock (1990) mengemukakan berbagai ciri dari remaja diantaranya adalah :

a. Masa remaja adalah masa peralihan


Yaitu peralihan sari satu tahap perkembangan ke perkembangan berikutnya
secara berkesinambungan. Pada masa ini remaja bukan lagi seorang anak dan
juga bukanlah seorang dewasa. Di mana remaja diberi waktu untuk
membentuk gaya hidup dan menentukan pola perilaku, nilai-nilai dan sifat-
sifat yang sesuai dengan yang diinginkan mereka.

b. Masa remaja adalah masa terjadi perubahan


Ada 4 perubahan besar yang terjadi pada remaja, yaitu perubahan emosi,
peran, minat pola perilaku dan sikap menjadi ambivalen.

c. Masa remaja adalah masa yang banyak masalah


Masalah remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi. Hal ini karena
remaja tidak bisa menyelesaikan masalahnya tanpa meminta bantuan
oranglain sehingga terkadang penyelesaian masalah tidak sesuai dengan yang
diharapkan.

d. Masa remaja adalah masa mencari identitas


Identitas diri yang dicari remaja berupa kejelasan siapa dirinya dan apa peran
mereka di tengah masyarakat.

e. Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan kekuatan


Ada stigma dari masyarakat bahwa remaja adalah anak yang tidak rapi, tidak
dapat dipercaya, cenderung perilaku merusak sehingga menyebabkan orang
dewasa harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja.

f. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik


Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kacamatanya sendiri, baik
dalam melihatdirinya maupun oranglain.

11
g. Masa remaja adalah ambang masa dewasa
Dengan berlalunya usia belasan, remaja yang semakin matang berkembang
dan berusaha memberi kesan seseorang yang hampir dewasa. Ia akan
memusatkan dirinya pada perilaku yang dihubungkan dengan status orang
dewasa, misalnya dalam berpakaian dan bertindak.
2.3 Gastritis
2.3.1 Pengertian Gastritis
Gastritis berasal dari kata gaster yang artinya lambung dan itis yang berarti
inflamasi/peradangan. Gastritis adalah peradangan pada mukosa lambung.
Menurut Hirlan dalam Suyono (2006), gastritis adalah proses inflamasi pada
lapisan mukosa dan submukosa lambung, yang berkembang bila mekanisme
protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain. Gastritis
merupakan inflamasi dari mukosa lambung klinis berdasarkan pemeriksaan
endoskopi ditemukan eritema mukosa, kerapuhan bila trauma yang ringan saja
sudah terjadi perdarahan (Hadi, 2002).

Gambar 2.2
Gastritis

Penyebab asam lambung tinggi antara lain : aktivitas padat sehingga telat
makan, stress tinggi yang berimbas pada produksi asam lambung berlebih. Faktor
lain yaitu infeksi kuman (e-colli, salmonella atau virus), pengaruh obat-obatan,
konsumsi alkohol berlebih (Purnomo, 2009). Secara hispatologi dapat dibuktikan
dengan adanya infiltrasi sel-sel. Sedangkan, menurut Lindseth dalam Prince

12
(2005), gastritis adalah suatu peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang
dapat bersifat akut, kronis, difus, atau lokal. Gastritis merupakan suatu
peradangan mukosa lambung paling sering diakibatkan oleh ketidakteraturan diet,
misalnya makan terlalu banyak dan cepat atau makan makanan yang terlalu
berbumbu atau terinfeksi oleh penyebab yang lain seperti alkohol, aspirin, refluks
empedu atau terapi radiasi (Brunner, 2006).

Secara garis besar, gastritis dapat dibagi menjadi beberapa macam


berdasarkan pada manifestasi klinis, gambaran hispatologi yang khas, distribusi
anatomi, dan kemungkinan patogenesis gastritis. Didasarkan pada manifestasi
klinis, gastritis dapat dibagi menjadi akut dan kronik. Harus diingat, bahwa
walaupun dilakukan pembagian menjadi akut dan kronik, tetapi keduanya tidak
saling berhubungan. Gastritis kronik merupakan kelanjutan dari gastritis akut
(Suyono, 2006).

Gejala gastritis atau maag antara lain: tidak nyaman sampai nyeri pada saluran
pencernaan terutama bagian atas, mual, muntah, nyari ulu hati, lambung merasa
penuh, kembung, bersendawa, cepat kenyang, perut keroncongan dan sering
kentut serta timbulnya luka pada dinding lambung. Gejala ini bisa menjadi akut,
berulang dan kronis. Disebut kronis bila gejala itu berlangsung lebih dari satu
bulan terus-menerus dan gstritis ini dapat ditangani sejak awal yaitu:
mengkonsumsi makanan lunak dalam porsi kecil, berhenti mengkonsumsi
makanan pedas dan asam, berhenti merokok serta minuman beralkohol dan jika
memang diperlukan dapat minum antasida sekitar setengah jam sebelum makan
atau sewaktu makan (Misnadiarly, 2009).

Lambung sering disebut sebagai maag yang berfungsi untuk menampung


makanan. Sakit maag sering dihubungkan dengan faktor stress dan makan yang
tidak teratur. Keadaan stress memang bikin makan tidak teratur. Orang masih
percaya bahwa penyakit maag disebabkan oleh stress. Keadaan stress
menyebabkan produksi cairan asam lambung meningkat sehingga tegang oleh
cairan asam lambung. Cairan asam lambung ini bisa mengikis dinding lambung
sehingga luka dan terasa perih bila terkena bahan asam. Bila luka lambung
semakin meluas, berisiko melukai pembuluh darah dan terjadi perdarahan yang

13
dimuntahkan sebagai muntah darah. Hati-hatilah jangan stress berkepanjangan,
tidak ada gunanya dan makanlah secara teratur. Makanan dari lambung akan
disalurkan ke usus untuk dicerna kemudian diserap dan masuk dalam aliran darah
menuju hati (Budiman, 2011).

Gangguan pencernaan diakibatkan oleh kebiasaan pola makan yang buruk dan
stress sehari-hari. Banyak kasus gangguan pencernaan tidak ditemukan
penyebabnya secara organik dengan adanya luka atau kerusakan pada organ.
Masalah pencernaan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor eksternal yang
membahayakan fungsi sistem pencernaan seperti stress, kebiasaan makan yang
kurang sehat, tidak teratur, diet yang salah, pengobatan yang menyebabkan iritasi,
infeksi kronis dan hadirnya bakteri dalam saluran pencernaan. Banyak gangguan
pencernaan yang dapat teratasi dengan mengubah gaya hidup dengan mengurangi
stress, berhenti merokok, berolahraga secara rutin dan menjalankan diet yang
tepat (Prita, 2010).

2.3.2 Jenis-jenis Gastritis.


Gastritis dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Gaastritis akut
Adalah inflamasi akut mukosa lambung pada sebagian besar kasusu
merupakan penyakit ringan dan sembuh dengan sempurna. Salah satunya
bentuk gastritis akut yang manifestasi klinisnya dapat berbentuk penyakit
ayng berat adalah gastritis hemoragik. Karena pada penyakit gastritis ini
akan dijumpai pendarahan mukosa lambung dalam berbagia derajat dan
terjadi erosi yang berarti hilangnya kuntinuitasnya mukosa lambung pada
beberapa tempat, menyertai inflamasi pada mukosa lambung tersebut
(Slamet Suyono,2001:127)

b. Gastritis kronik
Adalah peradangan mukosa kronis yang akhirya menyebabkan atrofi
mukosa dan metaplasia epitel. Penyakit ini memiliki sub kelompok kausal
yang tersendiri dan pola kelainan histologic yang berbeda-beda diberbagai
tempat didunia. Di dunia barat, prevalensi perubahan histologic yang

14
menunjukan gastritis kronis melebihi 50% untuk populas usia lanjut
(Vinay Kumar, 2007:622)

2.3.3 etiologi
a. sekresi asam lambung
Sel pariental mengeluarkan asam lambung (HCL) sedangkan sel pepik
mengeluarkan pepsinogen oleh HCL diubah menjadi pepsin dimana pepsin
dan HCL adalah factor agresif, terutama pepsin mileu pH< 4 sangat agresif
terhadap mukosa lambung, keduanya merupakan produk utaman yang
dapa menimblkan kerusakan mukosa lambung sehingga disebut sebagai
penyebab endogen. (Aru W. Sudoyo, 2006 :340-341)
Bahan iritasi seperti rokok, alcohol, dan aspirin akan menimbulkan
efek mukosa barrier dan terjadi difusi balik ion histamine, histain
terangsang untuk mengeluarkan asam lambung, timbul dilatasi dan
meningkatkan permebilitas pembuluh kapiler, kerusakan mukosa lambung,
dan gastritis.
b. infeksi helicobacter pylori
helicobacter pylori adalah bakteri gram negative yang berbentuk spiral
atau batang bengkok dan memiliki flagella yang berselaput pada satu
kutupnya. Helicobacter pylori hidup pada gastrum antrum, lapisan mukosa
lambung yang menutupi mukosa lambung dan dapat melekat pada
permukaan epitel mukosa lambung.
Helivobacter pylori menghasilkan enzim urease yang akan mengubah
urea dalam mucus lambung yang kuat, selain urease kuman itu juga
menghasilkan enzim protease dan fosfoliase diduga merusak glikoprotein
dan fosfolipid yang menutupi mukosa lambung, katalase yang melindungai
kuman dari adikan reaktif yang dikeuarkan netrofil. Disamping
enzimkuman itu juga menghasilkan toksik dan berbran dalam timbulnya
radang dan reaksi imun local.
Cara penularan helicobacter pylori yaitu sampai sekarang belum dapat
dipastikan. Satu-satnya jalan infeksi melalui muut, tetapi bgaimana infeksi
lambung seorang penderita masuk kedalam mulut kemudian ke lambung
orang lain masih belum jelas. Teori yang dianut untuk memindahkan
infeksi ke orang lain adalah fekal-oral atau oral-oral. Hal ini didukung

15
peneitian Kelly yang berhasil melakukan kultur feses terhadap 12(48%)
dari 25 orang yang serologis positif menderita infeksi helicobacter pylori
(Sudaryat Sutaatmaja, 2007:273)

2.3.4 Penyebab Gastritis:

a. Makan tidak teratur atau terlambat makan. Biasanya menunggu lapar dulu,
baru makan dan saat makan langsung makan terlalu banyak (Puspadewi,
2009).
b. Bisa juga disebabkan oleh bakteri bernama Helicobacter pylori. Bakteri
tersebut hidup di bawah lapisan selaput lendir dinding bagian dalam lamung.
Fungsi lapisan lendir sendiri adalah untuk melinudngi kerusakan dinding
lambung akibat produksi asam lambung. Infeksi yangt diakibatkan bakteri
Helicobacter menyebabkan peradangan pada dinding lambung yang disebut
gastritis (Aziz, 2011).
c. Merokok akan merusak lapisan pelindung lambung. Oleh karena itu, orang
yang merokok lebih sensitive terhadap gastritis maupun ulser. Merokok juga
akan meningkatkan asam lambung, melambatkan kesembuhan dan
meningkatkan resiko kanker lambung (Yuliarti, 2009).
d. Stress. Hal ini dimungkinkan karena karena system persarafan di otak
berhubungan dengan lambung, sehingga jika seseorang mengalami stress, bisa
muncul kelainan dalam lambungnya. Stress bisa menyebabkan terjadi
perubahan hormonal di dalam tubuh. Perubahan itu akan merangsang sel-sel
dalam lambung yang kemudian memproduksi asam secara berlebihan. Asam
yang berlebihan ini membuat lambung terasa nyeri, perih dan kembung.
Lama- kelamaan hali ini dapat menimbulkan luka di dinding lambung (Sari,
2008).
e. Efek samping obat-obatan tertentu. Konsumsi obat penghilangan rasa nyeri,
seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) misalnya aspirin, ibuproven
(Advil, Motrin dll), juga naproxen (aleve), yang terlalu sering dapat
menyebabkan penyakit gastritis, baik itu gastritis akut maupun kronis (Aziz,
2011).
f. Mengkonsumsi makanan terlalu pedas dan asam. Minum minuman yang
mengandung alkohol dan cafein seperti kopi. Hal itu dapat meningkatkan

16
produksi asam lambung berlebihan hingga akhirnya terjadi iritasi dan
menurunkan kemampuan fungsi dinding lambung (Suratum, 2010).
g. Alkohol, mengkonsumsi olkohol dapat mengiritasi (merangsang) dan
mengikis permukaan lambung (Suratum, 2010).
h. Terapi radiasi, refluk empedu, zat-zat korosif (cuka, lada) menyebabkan
kerusakan mukosa gaster dan menimbulkan edema dan pendarahan.
i. Kondisi yang stressful (trauma, luka bakar, kemoterapi dan kerusakan susunan
syaraf pusat) merangsang peningkatan produksi HCl lambung.
j. Asam empedu adalah cairan yang membantu pencernaan lemak. Cairan ini
diproduksi di hati dan dialirkan ke kantong empedu. Ketika keluar dari
kantong empedu akan dialirkan ke usus kecil (duodenum). Secara normal,
cincin pylorus (pada bagian bawah lambung) akan mencegah aliran asam
empedu ke dalam lambung setelah dilepaskan ke duodenum. Namun, apabila
cincin tersebut rusak dan tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik atau
dikeluarkan karena pembedahan maka asam empedu akan mengalir ke
lambung sehingga mengakibatkan peradangan dan gastritis kronis (Suratum,
2010).
k. Serangan terhadap lambung. Sel yang dihasilkan oleh tubuh dapat menyerang
lambung. Kejadian ini dinamakan autoimun gastritis. Kejadian ini memang
jarang terjadi, tetapi bisa terjadi. Autoimun gastritis sering terjadi pada orang
yang terserang penyakit Hashimotos disease, Addisons disease dan diabetes
tipe I. Autoimun gastritis juga berkaitan defisiensi B12 yang dapat
membahayakan tubuh (Aziz, 2011).

2.3.5 Patologi Gastritis

Obat-obatan, alkohol, garam empedu, zat iritan lainnya dapat merusak


mukosa lambung (gastritis erosif). Mukosa lambung berperan penting dalam
melindungi lambung dari autodigesti oleh HCl dan pepsin. Bila mukosa lambung
rusak maka terjadi difusi HCl ke mukosa dan HCl akan merusak mukosa.
Kehadiran HCl di mukosa lambung menstimulasi perubahan pepsinogen menjadi
pepsin. Pepsin merangsang pelepasan histamine dari sel mast. Histamine akan
menyebabkan peningkatan pemeabilitas kapiler sehingga terjadi perpindahan
cairan dari intra sel ke ekstrasel dan meyebabkan edema dan kerusakan kapiler

17
sehingga timbul perdarahan pada lambung. Lambung dapat melakukan regenerasi
mukosa oleh karena itu gangguan tersebut menghilang dengan sendirinya.

Bila lambung sering terpapar dengan zat iritan maka inflamasi akan terjadi terus
menerus. Jaringan yang meradang akan diisi oleh jaringan fibrin sehingga lapisan
mukosa lambung dapat hilang dan terjadi atropi sel mukasa lambung. Faktor intrinsik
yang dihasilkan oleh sel mukosa lambung akan menurun atau hilang sehingga
cobalamin (vitamin B12) tidak dapat diserap diusus halus. Sementara vitamin B12 ini
berperan penting dalam pertumbuhan dan maturasi sel darah merah. Selain itu dinding
lambung menipis rentan terhadap perforasi lambung dan perdarahan (Suratum, 2010).

2.3.6 Manifestasi Klinis


Gejala penyakit Gastritis yang biasanya muncul adalah:
a. mual dan muntah
b. nyeri epigastrium yang timbul tidak lama setelah makan dan minum unsur-
unsur yang dapat merangsang lambung
c. pucat
d. lemah
e. keringat dingin
f. nadi kering
g. nafsu makan menurun secara drastic
h. suhu badan meningkat
i. sering bersendawa terutama dalam keadaan lapat
j. raza seperti terbakar di dalam perut
k. diare
l. kelelahan teramat sangat tidak wajar

18
Gambar 2.3
Gejala Gastriti

Sedangkan beberapa gejala yang tidak terlalu sering ditemui pada gastritis adalah:
a. terdapat darah pada muntahan anda
b. sitemukan darah pada feses atau tinja
c. feses/tinja ang berwarna hitam
2.3.7 Pencegahan dan Penanganan Gastritis
Penyembuhan penyakit gastiritis harus dilakukan dengan memperhatikan diet
makanan yang sesuai. Diet pada penyakit gastritis bertujuan untuk memberikan
makanan dengan jumlah gizi yang cukup, tidak merangsang, dan dapat mengurangi
laju pengeluaran getah lambung, serta menetralkan kelebihan asam lambung. Secara
umum ada pedoman yang harus diperhatikan yaitu :

a. Makan secara teratur. Mulailah makan pagi pada pukul 07.00 Wib. Aturlah
tiga kali makan makanan lengkap dan tiga kali makan makanan ringan.
b. Makan dengan tenang jangan terburu-buru. Kunyah makanan hingga
hancur menjadi butiran lembut untuk meringankan kerja lambung.
c. Makan secukupnya, jangan biarkan perut kosong tetapi jangan makan
berlebihan sehingga perut terasa sangat kenyang.
d. Pilihlah makanan yang lunak atau lembek yang dimasak dengan cara
direbus, disemur atau ditim. Sebaiknya hindari makanan yang digoreng
karena biasanya menjadi keras dan sulit untuk dicerna.
e. Jangan makan makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin karena akan
menimbulkan rangsangan termis. Pilih makanan yang hangat (sesuai
temperatur tubuh).
f. Hindari makanan yang pedas atau asam, jangan menggunakan bumbu
yang merangsang misalnya cabe, merica dan cuka.
g. Jangan minum minuman beralkohol atau minuman keras, kopi atau teh
kental.
h. Hindari rokok
i. Hindari konsumsi obat yang dapat menimbulkan iritasi lambung, misalnya
aspirin, vitamin C dan sebagaianya.

19
j. Hindari makanan yang berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi
lambung (coklat, keju dan lain-lain).
k. Kelola stres psikologi seefisien mungki (Misnadiarly, 2009).

20
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Hubungan pola makan dengan kasus gastritis.

Menurut tinjauan pustaka pada remaja dituntun untuk hidup mandiri yang
sebelumnya sangat bergantung dengan orang tua baik dalam memilih makanan dan
responden sering tidak sempat untuk sarapan dikarenakan karena lama mengantri
dikamar mandi dan persipan untuk berangkat sekolah. Menurut Soetjiningsih (2010)
Usia adalah salah satu faktor resiko terjadinya gastritis, terutama pada masa remaja
adalah masa peralihan dari yang sangat bergantung dengan orang tua ke masa yang
penuh tanggung jawab serta keharusan untuk sanggup mandiri. Permasalahan pola
makan yang timbul pada masa remaja yang mampu memicu timbulnya gastritis
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu para remaja memiliki kebiasaan
tidak sarapan dan biasanya para gadis remaja sering terjebak dengan pola makan tidak
sehat, menginginkan berat badan secara cepat bahkan sampai menggangu pola makan

Menurut jenis kelamin pada usian remaja, perempuan dan laki-laki. perempuan lebih
Perempuan lebih banyak takut merasa gemuk, dan menjalankan diet, perempuan dan
laki-laki juga sering memilih makanan dan tidak makan yang ada didapur rumah
maupun kantin sekolah. Menurut Baliwati (2014) masa remaja adalah masa mencari
identitas diri, adanya keinginan untuk dapat diterima oleh teman sebaya dan mulai
tertarik oleh lawan jenis menyebabkan remaja, termasuk pemilihan bahan makanan
dan frekuensi makan. Remaja takut merasa gemuk sehingga remaja menghindari
sarapan dan makan siang atau hanya makan satu hari satu kali.

Remaja memiliki pola makan yang buruk dan tidak teratur. Remaja sering tidak
makan satu hari 3 kali, porsi makan yang terkadang sedikit dan terkadang banyak, dan
jenis makanan yang cenderung mengakibatkan gastritis, responden juga sering tidak
selera atau cenderung bosan dengan menu yang diberikan oleh pihak pondok
pesantren. Menurut Hudha (2006) pola makan adalah cara atau perilaku yang
ditempuh seseorang atau sekelompok orang dalam memilih, menggunakan bahan
makanan dalam konsumsi pangan setiap hari yang meliputi frekuensi makan, porsi
makan, dan jenis makan yang berdasarkan faktor-faktor sosial, budaya dimana
mereka hidup.

21
Karena hal itu Kejadian gastritis lebih tinggi di tunjukan pada seseorang degan pola
makan yang buruk. Maka dari itu terdapat hubungan yang antara pola makan dengan
kejadian gastritis

Secara alami lambung akan terus memproduksi asam lambung setiap waktu dalam
jumlah yang kecil setelah 4-6 jam sesudah makan biasanya glukosa dalam darah telah
banyak terserap dan terpakai sehingga tubuh akan merasakan lapar dan pada saat itu
jumlah asam lambung terstimulasi. Bila seseorang telat makan sampai 2-3 jam, maka
asam lambung yang diproduksi semakin banyak dan berlebih dapat mengiritasi
mukosa lambung serta menimbulakan rasa nyeri di sekitar epigastrium (Bruner dan
Suddarth, 2010).

gastritis biasanya diawali oleh pola makan yang tidak teratur sehingga lambung
menjadi sensitive bila asam lambung meningkat. Pola makan yang baik dan teratur
merupakan salah satu dari penatalaksanaan gastritis dan juga merupakan tindakan
preventif dalam mencegah kekambuhan gastritis. Penyembuhan gastritis membutuh
kan pengaturan makanan sebagai uaya untuk memperbaiki kondisi pencernaan.
Terjadinya gastritis dapat disebebkan oleh pola makan yang tidak teratur yaitu
frekuensi makan, dan jumlah makanan. Pola makan yang baik mencegah terjadinya
gastritis. Pada kasusu gastritis. Frekuensi makan yang diperbanyak, tapi jumlah
makanan yang dimakan tidak banyak. Akan dalam porsi besar dapat menyebabkan
gastritis. Pada akhirnya kekuatan dinding lambung menurun, tidak jarang ini
menimbulkan luka pada lambung (Uripi, 2008)

3.2 pola makan tidak teratur mengakibatkan gastritis

Makan menjadi kebutuhan manusia untuk mendapatkan asupan yang akn diubah
kemjadi energi untuk melakukan kegiatan atau aktivitas. Idealnya makan yang teratur
adalah tiga kali sehari yaitu pagi, siang dan sore atau menjelang malam.
Namun banyak yang terkadang menyempelekan aktu makan. Hal inilah yang akan
memunculkan penyakit gastritis serta beberapa gangguan kesehatan lainya.

22
a. Gangguan peyerapan gizi.Kebiasaan makan tidak teratur dapat menyebabkan
gangguanpenyerapan gizi pada tubuh. Hal ini disebebkan oleh system yang
membutuhkan gizi dan berbagai macam vitamin yang diperlukan oleh
tubuhuntuk melakukan proses metabolisme yang dapat menghambat aktivitas.
Selain itu, jika mengalami kekurangan zat tersebut dapat berakibat pada tubuh
yang mengambil vitamin dan gizi dari tubuh yang lain. Padahal vitamin dan
gizi tersebut sudah memiliki peranannya masing-masing.
b. Gangguan pencernaan Makanan yang dikonsumsi akan memberikan sumber
tenaga untuk beraktivitas. Jika pola makan anda tidak teratur maka tubuh
yangterus bekerja akan terganggu karean tidak ada asuman makan masuk serta
tidak menghasilkan energy. Padahal sistem pencernaan makanan tetap bekerja.
Dampak system makanan tersebut akan melukai organ pencernaan sendiri.
c. Timbulnya peyakit Penyakit yang sering muncul jika pola makan tidak teratur
adalah gastritis (maag). Hal ini disebebkan oleh organ lambung kita tidak
bekerja sesuia dengan waktunya. Lambung akan sangat tidak terbiasa dengan
pola makan yang terus berganti-ganti. Akibatnya lambung tidak bisa
menyesuaikan waktu kerjanya, sehingga dapat merusak bagian lambung itu
sendiri
3.3 perilaku pencegahan gastritis akibat pola makan tidak sehat
Untuk mencegah dari risiko penyakit lambung seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar mempunyai pola makan
yang sehat, antara lain (1) jumlah makanan yang dikonsumsi; (2) jenis makanan; (3)
jadwal makan. Kriteria pola makan yang sehat lainnya sebagai berikut:

a. Makanlah sesuai waktunya. Makan tiga kali dalam sehari dengan cemilan di
antaranya adalah cara terbaik untuk mempertahankan berat badan dengan
sehat. Jadwal makan dapat dilakukan empat sampai lima kali dengan rincian
yaitu sarapan, snack siang, makan siang, snack sore, dan makan malam.
b. Pilih makanan yang dipanggang atau direbus, bukan digoreng. Dibandingkan
makanan yang dipanggang atau direbus, makanan yang digoreng mempunyai
50% kalori atau lemak lebih banyak dan dapat meningkatkan asam lambung
karena lemak sulit dicerna oleh lambung
c. Kurangi fast food. Kalori dalam fast food berukuran besar akan ditumpuk
menjadi lemak dan mengakibatkan naiknya berat badan. Kebanyakan

23
mengonsumsi fast food juga kaya akan lemak jenuh, gula, garam, dan kurang
nutrisi penting seperti vitamin dan mineral.
d. Mengemil dengan sehat. Salah satu cemilan sehat adalah buah dan sayur.
Selain kaya serat, buah dan sayur mengandung vitamin dan mineral yang baik
untuk kesehatan. Agar tidak bosan dapat divariasikan dengan yoghurt buah,
jus, atau salad.
e. Makan dengan gizi yang cukup dan seimbang. Selain karbohidrat (nasi, roti,
jagung), juga konsumsi protein (daging ayam tanpa kulit, daging sapi tanpa
lemak), lemak (ikan, kacang, salad dressing rendah lemak, alpukat), juga buah
dan sayur dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi harian.
Dengan proporsi karbohidrat 55-65%, protein 10-15%, dan lemak 25-35%.
Hindari memakan makanan yang pedas atau yang memiliki bumbu yang kuat
f. Hindari soft drink. Minuman ini tidak mengandung vitamin, mineral, protein
atau serat. Daripada minum soft drink dengan hanya mendapatkan asupan
karbohidrat, lebih baik minum susu dengan kandungan nutrisi yang lebih
beragam, terutama nutrisi kalsium yang baik untuk pertumbuhan dan
kesehatan tulang.
g. Atur porsi makan, jangan sampai berlebihan maupun kekurangan. Makanlah
dengan porsi yang ideal agar tidak memberatkan fungsi kerja lambung.
Usahakan makan tidak terburu-buru agar makanan terpotong dengan benar

Selain itu masalah pada lambung juga dapat disebabkan keadaan seseorang yang
stres, dimana banyak para remaja dengan kegiatan yang begitu padat sehingga banyak
tekanan yang berat untuk menyelesaikan semua hal tersebut. Terlebih lagi seorang
remaja yang terkadang tidak bisa mengatur kegitannya dengan baik, mereka
cenderung akan mengerjakan kegiatan mereka dengan panik dan tergesa-gesa. Hal-hal
tersebutlah yang dapat menyebabkan kadar asam lambung meningkat sehingga dapat
mengiritasi mukosa lambung. Oleh karena itu perilaku yang paling efektif untuk hal
tersebut adalah memenuhi kebutuhan nutrisi, istirahat cukup, olah raga teratur dan
relaksasi yang cukup.

24
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dapat disimpulakan bahwa masa remaja dengan penuh dengan berbagai
aktivitas yang padat dan gaya hidup yang ada pada masa kini seringkali membuat pola
makan remaja menjadi tidak sehat. Makanan merupakan sumber energi bagi tubuh
agar semua organ tubuh dapat berfungsi secara optimal. Apabila tidak mengatur pola
makan secara benar dan sehat, tentu akan berdampak pada timbulnya penyakit
terutama pada sistem pencernaan yaitu lambung seperti gastritis.
Beberapa perilaku pola makan yang menjadi faktor pemicu tterkena
penyakitnya bebagai penyakit lambung. Akibat kebiasaan makan yang tidak
memperhatikan kadar gizi dan melewatkan beberapa jam makan yang tidak
semestinya atau pun melakukan diet berlebihan pada remaja wanita, dan trend
globalisasi pun bisa menjadi factor yang membuat remaja suka memakan fast food
yang memiliki kadar lemak sangat tinggi dan memperlemah lambung.
4.2 Saran
a. bagi mahasiswa
bagi mahasiswa diharapkan untuk dapat memperkaya ilmu tentang gastritis ini.
b. bagi institusi
diharapkan untuk bisa mejadi bahan atau membantu bagi peneliti atau baha
referensi selanjutnya yang ada di institusi ini.
c. bagi masyarakat

Diharapkan kepada untuk lebih meningkatkan upaya untuk melakukan


pencegahan agar penderita terhindar dari kondisi gastritis yang fatal dan lebih
memperhatikan untuk mengonsumsi makanannya dan bisa dengan cara
mengkonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter.

25
DAFTAR PUSTAKA

Djaeni Sediaoetama, achmad (2010). Ilmu Gizi. Jakarta.

Hudha. (2006). HUbungan Pola Makan dan Aktifitas Fisik. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama

Hurlock. (2006). Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang


Kehidupan. Jakarta : Erlangga.

Smeltzer, Suzanne C. (2010). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Bruner and
Suddarth, Ed. 8. Jakarta: EGC.Soetjiningsih. (2010). Usia Remaja di
Tinjau Dari Kebutuhan Aspek Zat Gizi. Jakarta: Majalah Kesehatan
Indonesia Departement Kesehatan AKZI.

MRB Ginting. 2011. Pola Makan Remaja. Sumatera Utara: Repository USU.
Agustinus. 2014. Pola Makan Berpengaruh Pada Kesehatan. [Online] Tersedia di:
http://lifqual.com/pola-makan-berpengaruh-pada-kesehatan/ [Diakses 2 Juni
2017]
Sudoyono, Aru W, dkk (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Suratun, L. (2010). Asuhan Keperawatan klien gangguan Sistem Gastrointestinal.


Jakarta : Trans Info Media.Wijoyo, M Padmiarso. (2009). 15 Ramuan
Penyembuh Gastritis. Jakarta: Bee Media Indonesia.

Yayuk, F Baliwati. (2009). Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya.

Slamet Suyono, 2001, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid Dua Edisi Ketiga,
Jakarta: Balai Penerbit FKUI

26