Anda di halaman 1dari 48

REFARAT

PENYAKIT INFEKSI MENULAR

SEKSUAL

Disusun Oleh:
Abdul Rahman Nasution (1102013001)

Pembimbing :
Dr. Yenny Sp.KK. M.Kes

Kepaniteraan Klinik
Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Bagian Ilmu Kulit Kelamin RSUD Arjawinangun
Juni 2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama melalui
hubungan seksual. Cara hubungan seksual tidak hanya terbatas secara genito-genital saja, tetapi
dapat juga secara oro-genita atau ano-genital, sehingga kelainan yang timbul akibat penyakit
kelamin ini tidak terbatas hanya pada daerah genital saja, tetapi dapat juga pada daerah ekstra
genital.

Tidak semua IMS hanya ditularkan melalui hubungan seksual, tetapi ada IMS yang dapat
menular melalui kontak langsung dengan alat-alat yang tercemar, seperti: handuk, termometer,
jarum suntik, atau melalui cairan tubuh (darah, cairan vagina, sperma, saliva) dan juga dapat
ditularkan dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya atau pada saat inpartu.

Secara epidemiologi penyakit ini tersebar di seluruh dunia, angka kejadian paling tinggi
tercatat di Asia Selatan dan Asia Tenggara, diikuti Afrika bagian Sahara, Amerika Latin, dan
Karibean. Jutaan IMS oleh virus juga terjadi setiap tahunnya, diantaranya ialah HIV, virus herpes,
human papilloma virus, dan virus hepatitis B. Di Amerika, jumlah wanita yang menderita infeksi
klamidial 3 kali lebih tinggi dari laki- laki. Dari seluruh wanita yang menderita infeksi klamidial,
golongan umur yang memberikan kontribusi yang besar ialah umur 15-24 tahun.

Di Indonesia sendiri, telah banyak laporan mengenai prevalensi infeksi menular seksual
ini. Beberapa laporan yang ada dari beberapa lokasi antara tahun 1999 sampai 2001 menunjukkan
prevalensi infeksi gonore dan klamidia yang tinggi antara 20%-35% (Jazan, 2003). Selain
klamidia, sifilis maupun gonore, infeksi HIV/AIDS saat ini juga menjadi perhatian karena
peningkatan angka kejadiannya yang terus bertumbuh dari waktu ke waktu.

Penyebab IMS dapat dikelompokkan atas beberapa jenis, yaitu bakteri (diantaranya
N.gonorrhoeae, C.trachomatis, T.pallidum, Haemophilus ducreyi, dan Klebsiella), virus
(diantaranya HSV, HPV, HIV, Hepatitis B virus, Molluscum contagiosum virus), protozoa
(diantaranya Trichomonas vaginalis), jamur (diantaranya Candida albicans), ektoparasit
(diantaranya Sarcoptes scabiei dan Pthirus pubis).

2
BAB II
PEMBAHASAN
I. Definisi Penyakit Infeksi Menular Seksual

Infeksi Menular Seksual (IMS) didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan karena adanya
invasi organisme virus, bakteri, parasit dan kutu kelamin yang sebagian besar menular melalui
hubungan seksual, baik yang berlainan jenis ataupun sesama jenis.

Penyakit menular seksual adalah penyakit yang menyerang manusia dan binatang melalui
transmisi hubungan seksual, seks oral dan seks anal. Kata penyakit menular seksual semakin
banyak digunakan, karena memiliki cakupan pada arti' orang yang mungkin terinfeksi, dan
mungkin mengeinfeksi orang lain dengan tanda-tanda kemunculan penyakit. Penyakit menular
seksual juga dapat ditularkan melalui jarum suntik dan juga kelahiran dan menyusui.

II. Etiologi

PENYEBAB PENYAKIT
BAKTERI Neisseria gonorrhoeae Uretritis, Epididimis, Servisitis, Proktitis,
Faringitis, konjuntivitis.
Chlamydia trachomatis Uretritis, Epididimitis, Servisitis, Proktitis,
Mycoplasma hominis Salpingitis, Limfogranuloma venerum
Ureaplasma urealyticum (hanya C.trachomatis).
Treponema pallidum Sifilis
Gardnerella vaginalis Vaginitis
VIRUS Herpes simplex virus Herpes genitalis
Herpes B virus Hepatitis fulminans akut dan kronik
Human papilloma virus Kondiloma akuminatum
Molluscum contagiosum Moluskum kontagiosum
Human immunodeficiency AIDS (acquired immune deficiency
virus syndrome)
PROTOZOA Trichomonas vaginalis Vaginitis, Uretritis
FUNGUS Candida albicans Vulvovaginitis, balanitis, balanopostitis

3
EKTOPARASIT Phthirus pubis Pedikulosis pubis
Sarcoptes scabiei var. Skabies
Hominis

III. Gejala Umum Penyakit Menular Seksual

Gejala Perempuan Laki-laki


Luka Luka dengan atau tanpa rasa sakit disekitar alat kelamin, anus, mulut
atau bagian tubuh yang lain. Tonjolan kecil-kecil, diikuti luka yang
sangat sakit di sekitar alat kelamin
Cairan tidak normal Cairan dari vagina bisa gatal, Cairan bening atau berwarna
kekuningan, kehijauan, berbau atau berasal dari pembukaan
berlendir. Duh tubuh bisa juga kepala penis atau anus.
keluar dari anus.
Sakit pada saat buang PMS pada wanita biasanya tidak Rasa terbakar atau rasa sakit
air kecil menyebabkan sakit atau burning selama atau setelah urination
urination terkadang diikuti dengan duh
tubuh dari penis
Perubahan warna terutama di bagian telapak tangan atau kaki. Perubahan bias
kulit menyebar ke seluruh bagian tubuh
Tonjolan seperti Tumbuh tomjolan seperti jengger ayam di sekitar alat kelamin
jengger ayam
Sakit pada bagian Rasa sakit yang muncul dan hilang,
bawah perut yang tidak berkaitan dengan
menstruasi bisa menjadi tanda
infeksi saluran reproduksi (infeksi
yang telah berpindah ke bagian
dalam system reproduksi, termasuk
servik, tuba falopi, dan ovarium)

4
Kemerahan Kemerahan pada sekitar alat Kemerahan pada sekitar alat
kelamin, atau diantara kaki kelamin, kemerahan dan sakit
di kantong zakar

IV. Jenis-jenis Penyakit Menular Seksual


1. Gonore
1.1.definisi
Gonore merupakan penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri
Neisseria gonorrhoeae yang bersifat purulen dan dapat menyerang permukaan mukosa
manapun di tubuh manusia (wanita : endoserviks dan kelenjar bartholine, sedangkan pada
pria : pada membrane mukosa uretra ).
1.2.Epidemiologi
Di dunia, gonore merupakan IMS yang paling sering terjadi sepanjang abad ke 20, dengan
perkiraan 200 juta kasus baru yang terjadi tiap tahunnya. Sejak tahun 2008, jumlah
penderita wanita dan pria sudah hampir sama yaitu sekitar 1,34 tiap 100.000 penduduk
untuk wanita dan 1,03 tiap 100.000 penduduk untuk pria.

Gonore umunmya ditularkan melalui hubungan seks baik secara genito-genital, oro-genital
dan ano-genital. Di samping itu penularan juga dapat terjadi secara manual melalui alat-
alat pakaian, handuk, termometer serta penularan dari ibu kepada bayi saat melalui jalan
lahir yang manifestasinya dapat berupa infeksi pada mata yang dikenal dengan blenorrhea.
Penularan dari pria kepada wanita lebih sering karena adanya retensi ejakulat yang
terinfeksi di dalam vagina.

Pada pria umumnya menyebabkan uretritis akut sementara pada wanita menyebabkan
servisitis yang biasanya asimptomatis. Faktor risiko untuk infeksi Neisseria gonorrhoeae
antara lain: status sosial ekonomi yang rendah, aktivitas seksual yang dini, hidup serumah
tanpa ikatan perkawinan, homoseksual, heteroseksual, biseksual, adanya riwayat infeksi
Neisseria gonorrhoeaea sebelumnya, pengobatan gonore dengan antibiotik yang tidak
adekuat dan seks bebas.
1.3. Etiologi

5
Gonore disebabkan oleh gonokokus yang ditemukan oleh Neisser pada tahun 1879. Kuman
ini masuk dalam kelompok Neisseria dan dikenal ada 4 spesies yaitu, N.gonnorhoeae,
N.meningitidis, N.catarrhalis dan N.pharyngis sicca. Gonokok termasuk golongan
diplokokus berbentuk biji kopi dengan lebar 0,8 u dan pajang 1,6 u. Kuman ini bersifat
tahan asam, gram negatif, dan dapat ditemui baik di dalam maupun di luar leukosit. Kuman
ini tidak dapat bertahan hidup pada suhu 39 derajat Celcius, pada keadaan kering dan tidak
tahan terhadap zat disinfektan. Gonokok terdiri atas 4 tipe yaitu tipe 1, tipe 2, tipe 3 dan
tipe 4. Namun, hanya gonokok tipe 1 dan tipe 2 yang bersifat virulen karena memiliki pili
yang membantunya untuk melekat pada mukosa epitel terutama yang bertipe kuboidal atau
lapis gepeng yang belum matur dan menimbulkan peradangan.

1.4.Gejala Klinis
Pada Pria:
- Masa inkubasi sangat singkat, umumnya sekitar 2-5 hari, kadang-kadang lebih
lama.
- Manifestasi tersering adalah uretritis dengan keluhan subjektif berupa rasa gatal
dan panas di bagian distal uretra disekitar orifisium uretra eksternum (OUE),
kemudian disusul disuria, polakisuria, keluar duh tubuh mukopurulen dari OUE
yang kadang-kadang disertai darah dan perasaan nyeri waktu ereksi.
- Pemeriksaan fisik menunjukkan OUE hiperemis, edema, dan ektropion.
Didapatkan pula sekret uretra mukopurulen/purulen, serta pembesaran kelenjar
getah bening inguinal medial unilateral atau bilateral.

6
- Selain itu, ada juga manifestasi klinis yang ditimbulkan berupa Tysonitis,
Parauretritis, Cowperitis, Prostatitis, Vesikulitis, Vas deferentitis, Epididimitis
(komplikasi).

Pada wanita :

- 50% asimptomatik : Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda
dari pria. Pada wanita, gejala subjektif jarang ditemukan dan hampir tidak pernah
didapati kelainan objektif.
- Infeksi awal bermanifestasi sebagai uretritis atau servisitis.
- Uretritis : duh tubuh mukupurulen, gatal pada vagina, disuria, kadang-kadang
poliuria. OUE merah dan edema.
- Servisitis: dapat asimptomatik, kadang menimbulkan nyeri punggung bawah.
Serviks hiperemis disertai erosi dan terdapat sekret mukopurulen
- Jika infeksi mengenai organ genitalia bagian atas dapat menyebabkan penyakit
radang panggul (PID).
- Selain itu terdapat manifestasi klinis berupa parauretritis, bartolinitis, salpingitis
(komplikasi).

Pada Neonatus :

- Penularan terjadi pada saat proses persalinan pervaginam, dimana terdapat riwayat
kontak bayi dengan sekret vagina ibu yang terinfeksi gonore.
- Opthalmia neonatorum : sekret purulen pada neonatus.

Gonore ekstragenital

1. Proktitis : rasa panas pada anus. Pada pemeriksaan fisis didapatkan mukosa
eritematosa, edematosa, serta mukopurulen.
2. Orofaringitis : menular melalui hubungan orogenital. Lebih sering faringitis dan
tonsilitis.
3. Konjungtivitis : Pada bayi baru lahir dari ibu dengan servisitis gonore, orang dewasa
yang tertular lewat tangan atau alat. Manifestasi klinis berupa fotofobia, konjungtiva
bengkak dan merah, sekret mukopurulen.

7
1.5.Diagnosis
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan klinis, serta
pemeriksaan penunjang. Adapun pemeriksaan penunjangnya berupa :
1. Pemeriksaan Gram dengan menggunakan sediaan langsung dari duh uretra memiliki
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi (90-95%). terutama pada duh uretra pria,
sedangkan duh endoserviks memiliki sensitivitas yang tidak begitu tinggi (45-65%)
dengan spesifitas yang tinggi (90-99%). Pemeriksaan menggunakan pewarnaan gram
ini akan menunjukkan N.gonorrhoeae berupa gonokokus gram negatif dan dapat
ditemukan baik di dalam maupun luar sel leukosit.
2. Kultur untuk bakteri N.gonorrhoeae umumnya dilakukan pada media pertumbuhan
Thayer-Martin yang mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman
gram positif dan kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negatif-gram dan
nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur. Pemeriksaan kultur ini merupakan
pemeriksaan dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, sehingga sangat
dianjurkan dilakukan terutama pada pasien wanita. Pemeriksaan kultur dilakukan
untuk identifikasi spesies bakteri.
3. Tes defenitif: dimana pada tes oksidasi akan ditemukan semua Neisseria akan
mengoksidasi dan mengubah warna koloni yang semula bening menjadi merah muda
hingga merah lembayung. Kemudia dilanjutkan tes fermentasi dengan tes fermentasi
memakai glukosa, maltosa, dan sukrosa. N. Gonorrhoeae hanya meragikan glukosa.
4. Tes beta-laktamase: tes ini menggunakan cefinase TM dis. BBL 961192 yang
mengandung chromogenic cephalosporin, dan akan menyebabkan perubahan warna
koloni dari kuning menjadi merah apabila kuman mengandung enzim beta-laktamase.

8
5. Tes Thomson: untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah berlangsung. tes ini
dilakukan dengan menampung urine setelah bangun pagi ke dalam 2 gelas dan tidak
boleh menahan kencing dari gelas pertama ke gelas kedua. Hasil dinyatakan positif
jika gelas pertama tampak keruh sedangkan gelas kedua tampak jernih.
6. Pemeriksaan lain: ELISA, imunofluoresensi, dll.
1.6.Tatalaksana
Non-medikamentosa:
- Bila memungkinkan dilakukan pemeriksaan dan pengobatan pada pasangan tetapnya
- Dianjurkan abstinensia sampai infeksi dinyatakan sembuh secara laboratoris, bila
tidak memungkinkan anjurkan penggunaan kondom
- Kunjungan ulang untuk tindak lanjut di hari ke-3 dan hari ke-7
- Lakukan konseling mengenai infeksi, komplikasi yang dapat terjadi, pentingnya
keteraturan berobat.
- Lakukan Provider Initiated Testing and Counseling (PITC) terhadap infeksi HIV dan
kemungkinan mendapatkan infeksi menular seksual lainnya.
- Bila memungkinkan lakukan pemeriksaan penapisan untuk IMS lainnya.

Medikamentosa

- Penisilin : yang efektif ialah penisilin G prokain akua. Dosis 4,8 juta unit + 1 gram
probenesid. Dahulu kombinasi penisilin + probenesid merupakan pilihan utama,
kecuali daerah yang tinggi insidens Neisseria Gonorrhoeae Penghasil Penisillin
(N.G.P.P). saat ini secara epidemiologis pengobatan yang dianjurkan adalah obat per
oral dengan dosis tunggal. Obat pilihan utama adalah sifiksim dosis tnggal, per oral.
- Sefiksim merupakan sefalosporin generasi ke-3 dipakai dengan dosis 400 mg.
Efektifitas dan sensitifitas sampai saat ini paling baik, yaitu sebesar 95%.
- Golongan kuinolon yaitu Levofloksasin 500 mg dosis tunggal, Ofloksasin 400mg,
siprofloksasin 250-500 mg dan norfloksasin 800 mg secara oral.
- Tiamfenikol dengan dosis 3,5 gram dosis tunggal secara oral. Angka
kesembuhan ialah 97,7%. Tidak dianjurkan pemakaiannya pada kehamilan.

9
2. Infeksi Genital Nonspesifik

Definisi

Infeksi Genital Nonspesifik (IGNS) adalah penyakit menular seksual berupa peradangan di
uretra, rektum atau serviks yang disebabkan oleh kuman nonspesifik.

Etiologi

Kurang lebih 75% telah diselidiki penyebab IGNS dan diduga penyebabnya adalah
Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum dan Mycoplasma hominis, Gardnerella
vaginalis, alergi, dan bakteri.

Gejala Klinis

Pada pria gejala baru timbul biasanya setelah 1-3 minggu kontak seksual dan umumnya tidak
seberat gonore. Gejala berupa disuria ringan, perasaan tidak enak di uretra, sering kencing dan
keluar duh tubuh seropurulen. Dibandingkan dengan gonore perjalanan penyakit lebih lama karena
masa inkubasi yang lebih lama dan ada kecenderungan kambuh kembali. Komplikasi dapat terjadi
berupa prostatitis, vesikulitis dan epididimititis.

Pada wanita infeksi lebih sering terjadi di serviks dibandingkan dengan vagina, kelenjar
Bartholin atau uretra. Sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina berwarna putih
atau jernih, disuria ringan, sering kencing, nyeri di daerah pelvis dan dispareunia. Pada
pemeriksaan serviks dapat dilihat tanda-tanda servisitis yang disertai adanya folikel-folikel kecil
yang mudah berdarah. Komplikasi dapat berupa Bartholinitis, salpingitis dan sistitis.

10
Diagnosis

Diagnosis ditegakkan atas dasar gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan
laboratorium terlebih dahulu harus disingkirkan kuman-kuman spesifik yakni gonokok,
Trichomonas vaginalis, Candida albicans dan G. vaginalis. Untuk laboratorium dengan fasilitas
yang terbatas, kriteria diagnosis berdasarkan jumlah sel leukosit P.M.N (polimorfonuklear) pada
wanita sediaan hapus duh tubuh dengan pewarnaan Gram, dengan jumlah sel P.M.N >5 lapangan
penglihatan besar sedangkan pada laki-laki jumlah sel P.M.N >30 lapangan penglihatan besar dan
tidak ditemukan kuman gonokok, Trichomonas vaginalis dan Candida alnicans. Kriteria secara
mikroskopik dapat dilihat adanya benang-benang dalam urin.

Tatalaksana

Obat yang paling efektif adalah golongan tetrasiklin dan eritromisin. Disamping itu dapat juga
dengan gabungan sulfa-trimetroprim, spiramisin dan kuinolon.

Dosis:

Tetrasiklin HCL : 4x500mg sehari selama 1 minggu atau 4x250mg sehari selama 2 minggu

Doksisiklin : 2x100mg sehari selama 7 hari

Eritromisin : untuk penderita yang tidak tahan tetrasiklin, wanita hamil atau usia

kurang dari 12 tahun, 4x500mg sehari selama 1 minggu atau 4x250mg

sehari selama 2 minggu

Sulfa-trimetroprim : 2x2 tablet sehari selama seminggu

Azitromisin : 1 gram dosis tunggal

Spiramisin : 4x500mg sehari selama seminggu

Ofloksasin : 2x200 mg sehari selama 10 hari.

3. Trikomoniasis

Definisi

11
Trikomoniasis adalah infeksi saluran urogenital yang dapat bersifat akut atau kronik dan
disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.

Epidemiologi

Penularan umumnya melalui hubungan kelamin, tetapi dapat juga melalui pakaian, handuk,
atau karena berenang. Oleh karena itu trikomoniasis ini terutama ditemukan pada orang dengan
aktivitas seksual tinggi, tetapi dapat juga ditemukan pada bayi dan penderita setelah menopause.
Penderita wanita lebih banyak dibanding pria

Etiologi

Penyebab trikomoniasis ialah Trichomonas vaginalis yang pertama kali ditemukan oleh
Donne pada tahun 1836. Merupakan flagelata berbentuk filiformis, berukuran 15-18 mikron,
mempunyai 4 flagela, dan bergerak seperti gelombang.

Parasit ini berkembang biak secara belah pasang memanjang dan dapat hidup dalam
suasana pH 5-7,5. Pada suhu 500C akan mati dalam beberapa menit, tetapi pada suhu 0 0C dapat
bertahan sampai 5 hari.

Ada dua spesies lainnya yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu T. tenax yang hidup di
rongga mulut dan non patogen sering dihubungkan dengan gingivitis atau spesies
Pentatrichomonas hominis yang ditemukan dalam usus besar yang pada umumnya tidak
menimbulkan penyakit.

Patogenesis

T. vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan cara
invasi sampai mencapai jaringan epitel dan subepitel. Masa tunas rata-rata 4 hari sampai 3
minggu. Pada kasus yang lanjut terdapat bagian-bagian dengan jaringan granulasi yang jelas.
Nekrosis dapat ditemukan di lapisan subepitel yang menjalar sampai di permukaan epitel. Di
dalam vagina dan uretra parasit hidup dari sisa-sisa sel, kuman-kuman, dan benda lain yang
terdapat dalam sekret.

Gejala Klinis

1. Trikomoniasis pada wanita

12
Yang diserang terutama dinding vagina, dapat bersifat akut maupun kronik. Pada kasus
akut sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-kuningan, kuning hijau, berbau tidak
enak (malodorus), dan berbusa. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab. Kadang-
kadang terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak sebagai
granulasi berwarna merah dan dikenal sebagai strawberry appearance dan disertai gejala
dispareuria, perdarahan pasca koitus, dan perdarahan intermenstrual. Bila sekret banyak
yang keluar dapat timbul iritasi pada lipat paha atau di sekitar genitalia eksterna. Selain
vaginitis dapat juga terjadi uretritis. Pada kasus yang kronik gejala lebih ringan dan sekret
vagina biasanya tidak berbusa.
2. Trikomoniasis pada laki-laki
Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang preputium,
vesikula seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran klinis lebih ringan
dibandingkan dengan wanita. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis non gonore, misalnya
dysuria, polyuria, dan secret uretra mukoid atau mukopurulen. Urin biasanya jernih, tetapi
kadang-kadang ada benang-benang halus. Pada bentuk kronik gejalanya tidak khas; gatal
pada uretra, dysuria, dan urin keruh pada pagi hari.

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan mikroskopis
Pada wanita spesimen diambil dari vagina berupa apusan forniks anterior dan
posterior yang diambil menggunakan lidi kapas atau sengkelit steril, kemudian
diletakkan pada kaca benda yang telah diberi beberapa tetes larutan garam fisiologis.
Pada pria spesimen diambil dengan cara mengerok mukosa uretra dengan
menggunakan sengkelit steril kemudian diletakkan pada kaca benda dan dilakukan
pemeriksaan sediaan basah. Trichomonas vaginalis dapat dideteksi di dalam sedimen
urin. Pemeriksaan urin pertama pagi hari, terbaik dilakukan bila pemijatan prostat
terlebih dahulu.
Pewarnaan
Spesimen dapat diwarnai dengan pewarnaan Giemsa, Papanicolau, Leishman,
Gram atau acridine orange. Trichomonas vaginalis tidak hidup dalam media transport
biasa sehingga dilakukan pewarnaan acridine orange untuk melihat DNA organisme

13
yang sudah mati. Pewarnaan gram tidak dianjurkan karena gambaran sel PMN dan
parasit Trichomonas vaginalis tampak sama.
Pembiakan
Terdapat bermacam media pembiakan untuk diagnosis trikomoniasis diantaranya
medium Trichosel broth, Diamonds medium, Hollander, Kupferbergs atau Feinberg
medium. Kultur menjadi standar baku terkini untuk menegakkan diagnosis. Prosedurnya
sukar dan mahal serta membutuhkan waktu 3-5 hari. Hal ini menyebabkan pemeriksaan
kultur tidak digunakan sebagai pemeriksaan rutin. Beberapa peneliti menyatakan bahwa
95% kasus dapat ditegakkan diagnosisnya dengan pembiakan.
Nucleic acid amplification test (NAAT)
Metode NAAT, seperti polymerase chain reaction (PCR) menjadi alternatif dalam
mendiagnosis infeksi TV karena rendahnya sensitivitas preparat basah dan terbatasnya
ketersediaan medium biakan. Spesimen usapan vagina lebih sensitif untuk pemeriksaan
PCR dibandingan dengan urin. Sedangkan pada laki-laki, spesimen urin lebih sensitive
dibandingkan usapan uretra.

Tatalaksana

Pengobatan dapat diberikan secara topical atau sistemik.

Secara topikal:
o Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hydrogen peroksida 1-2% dan larutan asam
laktat 4%.
o Bahan berupa supsitoria bubuk yang bersifat trikomoniasidal.
o Jel dan krim, yang berisi zat trikomoniasidal.
Secara sistemik (oral):
o Obat yang sering digunakan tergolong derivate nitromidazol seperti:
Metronidazole : dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg per hari selama 7 hari
Nimorazol : dosis tunggal 2 gram
Tinidazol : dosis tunggal 2 gram
Omidazol : dosis tunggal 1.5 gram

14
Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita:

1. Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah jangan terjadi
infeksi pingpong.
2. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum dinyatakan
sembuh.
3. Hindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.

Prognosis

Prognosis baik. Angka kesembuhan dengan metronidazol adalah 90-95% dan


tinidazol 86-100%.

4. Vaginosis Bakterial

Definisi
Vaginosis bakterial adalah keadaan abnormal pada ekosistem vagina yang
disebabkan bertambahnya pertumbuhan flora vagina bakteri anaerob menggantikan
Lactobacillus yang mempunyai konsentrasi tinggi sebagai flora normal vagina. Awalnya
infeksi pada vagina hanya disebut dengan istilah vaginitis, di dalamnya termasuk vaginitis
akibat Trichomonas vaginalis dan akibat bakteri anaerob lain berupa Peptococcus dan
Bacteroides.
Epidemiologi
Penyakit bakterial vaginosis lebih sering ditemukan pada wanita yang
memeriksakan kesehatannya daripada vaginitis jenis lainnya. Frekuensi bergantung pada
tingkatan sosial ekonomi penduduk pernah disebutkan bahwa 50 % wanita aktif seksual
terkena infeksi G. vaginalis, tetapi hanya sedikit yang menyebabkan gejala sekitar 50 %
ditemukan pada pemakai AKDR dan 86 % bersama-sama dengan infeksi Trichomonas.

Etiologi
Meskipun penyebab dari vaginosis bacterialis belum diketahui dengan pasti, tetapi
secara epidemiologi kumpulan gejala yang timbul pada vaginosis bakterial berhubungan

15
dengan aktivitas seksual. Vaginosis bakterial merupakan infeksi vagina tersering pada
wanita dengan seksual aktif. Pada suatu analisis dari data flora vagina memperlihatkan
bahwa ada 4 jenis bakteri vagina yang berhubungan dengan vaginosis bakterial yaitu:
Gardnerella vaginalis, Bacteroides Spp, Mobiluncus Spp, Mycoplasma hominis.

Gejala Klinis
Wanita dengan bakterial vaginosis dapat tanpa gejala. Gejala yang paling sering
pada bakterial vaginosis adalah adanya cairan vagina yang abnormal (terutama setelah
melakukan hubungan seksual) dengan adanya bau vagina yang khas yaitu bau amis/bau
ikan (fishy odor).
Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina (gatal, rasa terbakar), kalau ditemukan
lebih ringan daripada yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis atau C.albicans.
Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa terbakar, dan seperlima timbul kemerahan dan
edema pada vulva. Nyeri abdomen, dispareuria, atau nyeri waktu kencing jarang terjadi,
dan kalau ada karena penyakit lain.
Pada pemeriksaan biasanya menunjukkan sekret vagina yang tipis dan sering
berwarna putih atau abu-abu, viskositas rendah atau normal, homogen, dan jarang berbusa.
Sekret tersebut melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan tipis atau kelainan
yang difus. Gejala peradangan umum tidak ada. Sebaliknya sekret vagina normal, lebih
tebal dan terdiri atas kumpulan sel epitel vagina yang memberikan gambaran bergerombol.
Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan:
1. Duh tubuh vagina berwarna abu-abu, homogen dan berbau
2. Pemeriksaan preparat basah
Dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes cairan NaCl 0,9% pada sekret vagina
diatas objek glass kemudian ditutupi dengan coverslip. Dan dilakukan pemeriksaan
mikroskopik menggunakan kekuatan tinggi (400 kali) untuk melihat clue cells, yang
merupakan sel epitel vagina yang diselubungi dengan bakteri (terutama Gardnerella
vaginalis). Pemeriksaan preparat basah mempunyai sensitifitas 60% dan spesifitas 98%
untuk mendeteksi bakterial vaginosis. Clue cells adalah penanda bakterial vaginosis.

16
3. Bau amin setelah diteteskan 1 tetes larutan KOH 10% pada sekret vagina. Tes ini
disebut juga tes Sniff (tes amin).
4. pH vagina 4,5-5,5
5. Pemeriksaan kromatografi
Perbandingan suksinat dan laktat meninggi sedangkan asam lemak utama yang
dibentuk adalah asam asetat.
6. Pemeriksaan biakan
Biakan dapat dikerjakan pada media di antaranya: agar Casman dan Protease peptone
starch agar, dibutuhkan suhu 37oC selama 48-72 jam dengan ditambah CO2 5%. Koloni
sebesar 0,5-2 mm, licin, opak dengan tepi yang jelas dan dikelilingan zona
hemolitikbeta. Sebagai media transpor dapat digunakan media transpor Stuart atau
Amies.
7. Tes biokimia
Reaksi oksidase, inidol dan urea negatif, menghidrolisis hipurat dan kranji. Untuk
konfirmasi harus disingkarkan infeksi karena T.vaginalis dan C.albicans.

17
Tatalaksana

A. Terapi sistemik
Metronidazol merupakan antibiotik yang paling sering digunakan yang
memberikan keberhasilan penyembuhan lebih dari 90%, dengan dosis 2 x 400
mg atau 500 mg setiap hari selama 7 hari. Jika pengobatan ini gagal, maka
diberikan ampisilin oral (atau amoksisilin) yang merupakan pilihan kedua dari
pengobatan keberhasilan penyembuhan sekitar 66%). Mempunyai aktivitas
sedang terhadap G.vaginalis, tetapi sangat aktif terhadap bakteri anaerob,
efektifitasnya berhubungan dengan inhibisi anaerob. Metronidazol dapat
menyebabkan mual dan urin menjadi gelap.
Klindamisin 300 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Sama efektifnya dengan
metronidazol untuk pengobatan bakterial vaginosis dengan angka kesembuhan
94%. Aman diberikan pada wanita hamil. Sejumlah kecil klindamisin dapat
menembus ASI, oleh karena itu sebaiknya menggunakan pengobatan
intravagina untuk perempuan menyusui.
Amoksilav (500 mg amoksisilin dan 125 mg asam klavulanat) 3 x sehari
selama 7 hari. Cukup efektif untuk wanita hamil dan intoleransi terhadap
metronidazol.
Tetrasiklin 250 mg, 4 x sehari selama 5 hari.
Doksisiklin 100 mg, 2 x sehari selama 5 hari.
Eritromisin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari.
Cefaleksin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari.

B. Terapi Topikal
Metronidazol gel intravagina (0,75%) 5 gram, 1 x sehari selama 5 hari.
Klindamisin krim (2%) 5 gram, 1 x sehari selama 7 hari.
Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari.
Triple sulfonamide cream. (Sulfactamid 2,86%, Sulfabenzamid 3,7% dan
Sulfatiazol 3,42%), 2 x sehari selama 10 hari, tapi akhir-akhir ini dilaporkan
angka penyembuhannya hanya 15 45 %.

18
5. Kandidosis Vulvovaginalis
Definisi
Kandidosis vulvovaginalis (KVV) adalah infeksi mukosa vagina dan vulva (epitel
tidak berkeratin) yang disebabkan oleh spesies Candida. Penyebab terbanyak (80-90%)
adalah Candida albicans, sedangkan penyebab terbanyak kedua dan ketiga adalah
Candida glabrata (Torulopsisglabrata) dan Candida tropicalis. Merupakan infeksi jamur
oportunistik yang dapat terjadi secara primer atau sekunder dan dapat bersifat akut,
subakut maupun kronis episodik. Infeksi kronis bila berlangsung lebih dari 3 tahun.

Epidemiologi

Kandidosis vulvovaginalis umumnya lebih banyak pada perempuan dengan status


sosial ekonomi rendah dan masa kehamilan. Kandidiasis vulvovaginalis terjadi pada
banyak perempuan selama hidupnya, dengan persentase sekitar 70-75% wanita
mendapatkan setidaknya sekali infeksi KVV selama masa hidupnya, sekitar 40-50%
cenderung berulang mengalami kekambuhan atau serangan infeksi kedua.

Etiologi

Kandidosis vulvovaginalis disebabkan oleh Candida albicans (85-90%) dan ragi


(yeast) lain dari genus Candida dan setidaknya ditemukan sebanyak 150 spesies. Namun
hanya 7 spesies yang penting diketahui sebagai penyebab infeksi patogen, yaitu Candida
albicans, Candida glabrata, Candida tropicalis, Candida parapsilosis, Candida krusei,
Candida kefyr dan Candida guillermondii. Kandida tumbuh sebagai blastospora bentuk
oval tanpa kapsul, dan bereproduksi melalui pembentukan tunas, hifa yang pipih,
memanjang tidak bercabang dapat tumbuh dalam biakan atau in vivo sebgai tanda
penyakit yang aktif (budding).
Banyak faktor resiko yang merupakan predisposisi terjadinya kandidosis
vulvovaginalis. Hal ini erat hubungannya dengan lingkungan yang hangat dan lembab,
pakaian rapat dan ketat, pemakaian kontrasepsi, antibiotik spectrum luas, kortikosteroid,
pemakaian pembersih vagina, menderita Diabetes mellitus, obesitas, penyakit infeksi,
stress, reaksi alergi dan keganasan serta imunosupresan. Selain itu dapat pula melalui
hubungan seksual.

19
Gejala Klinik
a. Rasa gatal / iritasi serta keputihan tidak berbau atau kadang berbau asam
b. Discharge berwarna putih seperti susu pecah dan mukoid atau cair dengan butir-butir
gumpalan keju (cottage cheeses)
c. Pada vulva dan vagina terdapat tanda-tanda radang disertai maserasi, pseudomembran,
fisura, lesi satelit papulo pustular. Labia mayor tampak bengkak, merah dan ditutupi
oleh lapisan putih yang menunjukkan maserasi.

Diagnosis
Diagnosis kandidiasis vulvovaginalis ditegakkan berdasarkan keluhan penderita,
pemeriksaan klinis, pemeriksaan laboratorium berupa sediaan basah maupun gram,
pemeriksaan biakan jamur dan pemeriksaan pH cairan vagina.
Biakan jamur dari cairan vagina dilakukan untuk konfirmasi terhadap hasil pemeriksaan
mikroskopis yang negatif (false negative) yang sering ditemukan pada kandidiasis
vulvovaginalis kronis dan untuk mengindentifikasi spesies non-Candida albicans. Sejak
spesies ini sering ditemukan pada sejumlah kandidiasis vulvovaginalis kronis dan sering
timbul resistensi terhadap fluconazol maka identifikasi jamur dengan kultur menjadi penting.
Biakan jamur mempunyai nilai sensitivitas yang tinggi sampai 90% sedangkan
pemeriksaan sediaan basah dengan KOH 10% kepekaannya hanya 40%. Hapusan sebaiknya
diambil dari sekret vagina dan dari dinding lateral vagina. Pemeriksaan gram tidak terlalu
sensitif tetapi bisa sangat menolong utnuk pemeriksaan yang cepat. Pseudohifa, ragi dan
miselia memberi reaksi gram positif akan tetapi pemeriksaan gram dan KOH yang negatif
tidak lebih menyingkirkan kemungkinan kandidiasi vulvovaginalis dan perlu dikonfirmasi
dengan kultur. Kultur dilakukan pada media Sabouraud atau media Nideerson (media yang
mengandung antibiotika). Ragi akan tumbuh dalam waktu 48 jam atau lebih, tetapi
kebanyakan daat tumbuh dalam waktu 24 jam.

20
Diagnosis Banding

1. Trikomoniasis
Sekret banyak dan encer, warna kekuningan, berbusa dan berbau tidak enak. Jarang
terdapat lesi kulit.
2. Vaginosis bakterial
Sekret encer, tipis, homogen, warna putih atau keabu-abuan serta berbau amis. Tidak
ditemui inflamasi pada vagina dan vulva.
Tatalaksana
Berikut ini adalah yang penting dilakukan dalam pengobatan kandidosis vulvovaginitis.

1. Eliminasi faktor predisposisi sebagai penyebab.


2. Pemilihan regimen antijamur yang tepat hingga keluhan menghilang dan
pemeriksaan mikroskopis dan kultur negatif.
3. Untuk infeksi rekuren sebaiknya selalu dilakukan kultur dan uji sensitivitas
antijamur.

Macam obat antijamur yang digunakan untuk terapi kandidosis vulvovaginitis:

Nama obat Formulasi Dosis


Ketokonazole 200 mg oral tablet 2 x 1 tab, selama 5-7 hari
Flukonazole 150 mg oral tablet Dosis tunggal
50 mg oral tablet 1 x 1 tab, selama 7 hari
Itrakonazole 100 mg oral kapsul 2 x 1 cap, selama 2 hari
2 x 2 cap, 1 hariselang 8 jam

21
Klotrimazole 1%krim intravagina 5 g, selama 7-14 hari
2% krim intravagina 5 g, selama 3 hari
100 mg tab vag 1 tab vag, selama 7 hari
2 tab vag/hari, selama 3 hari
200 mg tab vag 1 tab vag, selama 3 hari
500 mg tab vag 1 tab vag, 1 hari
Mikonazole 2% krim 5 g, selama 1-7 hari
100 mg vag supp 1 tab vag, selama 7 hari
200 mg vag supp 1 tab vag, selama 1-7 hari
1200 mg vag supp 1 tab vag, selama 1 hari
Nystatin 100.000 u tab vag 1 x 1 tab, selama 12 hari
Amphoterisin B 50 mg tab vag 1 x 1 tab, selama 7-12
100 mg cap hari

6. Sifilis

6.1.Definisi

Sifilis ialah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum, sangat kronik dan
bersifat sistemik. Pada perjalanannya dapat menyerang hampir semua alat tubuh, dapat
menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dan dapat ditularkan dari ibu ke
janin. Ditularkan secara kontak seksual dan dari ibu ke janin.
6.2.Etiologi

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yang merupakan spesies Treponema
dari famili Spirochaetaceae, ordo Spirochaetales. Bentuknya sebagai spiral teratur yang
bergerak, panjangnya antara 6-15 um, lebar 0,15 um, terdiri atas 8-24 lekukan. Treponema
pallidum mempunyai titik ujung terakhir dengan 3 aksial fibril yang keluar dari bagian
ujung lapisan bawah. Treponema dapat : bergerak berotasi cepat, fleksi sel dan maju seperti
gerakan pembuka tutup botol. Membiak secara pembelahan melintang, pembiakan pada

22
umumnya tidak dapat dilakukan di luar badan. Di luar badan kuman tersebut cepat mati,
sedangkan dalam darah untuk transfusi dapat hidup 72 jam.

6.3.Klasifikasi

Sifilis dibagi menjadi :


1. sifilis kongenital
2. sifilis akuisita (didapat).
Sifilis kongenital dibagi menjadi :
1. dini (sebelum 2 tahun)
2. Lanjut (setelah 2 tahun)
3. stigmata.
Sifilis akuisita dapat dibagi menurut dua cara, yaitu secara klinis dan epidemiologik.
Sifilis berdasarkan klinis yaitu :
1. Stadium I (S I)
2.Stadium II (S II)
3.Stadium III (S III)
Sedangkan berdasarkan epidemiologi yaitu :
1. Stadium dini menular : dalam satu tahun sejak infeksi mencakup S I, S II, stadium
rekuren, dan stadium laten dini.
2. stadium lanjut tak menular : setelah satu tahun sejak infeksi mencakup S III dan stadium
laten lanjut.

6.4.Patogenitas

Stadium dini
Treponema pallidum masuk ke dalam kulit dengan cepat melalui membran mukosa
yang utuh/selaput lendir dan kulit yang lecet/luka/lesi/mikrolesi secara langsung biasanya
melalui senggama. Kemudian berkembang biak dan terjadi penyebaran dengan cepat
secara limfogen (ke dalam KGB) dan hematogen (masuk aliran darah dan menyebar
keseluruh organ tubuh. Bergerak masuk ke ruang interstitial jaringan dengan cara gerakan
cork-screw (seperti membuka tutup botol). Kemudian jaringan bereaksi dengan
membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit dan sel-sel plasma, terutama
perivaskular, pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi dikelilingi oleh T.pallidum

23
dan sel-sel radang. Treponema tersebut terletak diantara endotelium kapiler dan jaringan
perivaskular di sekitarnya. Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan perubahan
hipertrofik endotelium yang menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis obliterans).
Kehilangan pendarahan akan menyebabkan erosi, pada pemeriksaan klinis tampak sebagai
stadium I (S I).
Sebelum S I terlihat, kuman telah mencapai KGB regional secara limfogen dan
membaik. Pada saat itu terjadi pula penjalaran hematogen dan menyebar ke semua organ
tubuh. Multiplikasi ini diikuti oleh reaksi jaringan sebagai S II, yang terjadi 6-8 minggu
sesudah S I. S I akan sembuh perlahan-lahan karena kuman di tempat tersebut jumlahnya
berkurang, kemudian ter-bentuklah fibroblas-fibroblas dan akhirnya sembuh berupa
sikatriks. S II juga mengalami regresi perlahan-lahan dan lalu menghilang.
Tibalah stadium laten yang tidak disertai gejala, meskipun infeksi yang aktif masih
terdapat. Sebagai contoh pada stadium ini seorang ibu dapat melahirkan bayi dengan sifilis
kongenita.
Kadang-kadang proses imunitas gagal mengontrol infeksi sehingga T.pallidum
membiak lagi pada tempat S I dan menimbulkan lesi rekuren atau kuman tersebut
menyebar melalui jaringan menyebabkan reaksi serupa dengan lesi rekuren S II, yang
terakhir ini lebih sering terjadi daripada yang terdahulu. Lesi menular tersebut dapat timbul
berulang-ulang, tetapi pada umumnya tidak melebihi dua tahun.

Stadium lanjut

Stadium laten dapat berlangsung bertahun-tahun, dan T.pallidum dalam keadaan


dorman. Meskipun demikian antibodi tetap ada dalam serum penderita. Keseimbangan
antara treponema dan jaringan dapat sekonyang-konyang berubah, sebabnya belum jeals,
mungkin trauma merupakan salah satu faktor presipitasi. Pada saat itu muncullah S III
berbentuk guma. Meskipun pada guma tersebut tidak dapat ditemukan T.pallidum,
reaksinya hebat karena bersifat destruktif dan berlangsung bertahun-tahun. Setelah
mengalami masa laten yang bervariasi guma tersebut timbul di tempat-tempat lain.

Treponema mencapai sistem kardiovaskular dan sistem saraf pada waktu dini,
tetapi kerusakan terjadi perlahan-lahan sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun untuk
menimbulkan gejala klinis. Penderita dengan guma biasanya tidak mendapat gangguan

24
saraf dan kardiovaskular, demikian pula sebaliknya. Kira-kira 2/3 kasus dengan stadium
laten tidak memberi gejala.

6.5.Gejala Klinis

1. Sifilis akuisita
A. Stadium dini
I. Sifilis primer (S I)
- Masa tunas biasanya 2-4 minggu
- Kelainan kulit (afek primer) dimulai sebagai: papul lentikular yang permukaannya
segera menjadi erosi, lalu menjadi ulkus. Ulkus biasanya bulat, soliter, dengan dasar
jaringan granulasi berwarna merah dan bersih, diatasnya hanya tampak serum. Dinding
tak bergaung, kulit di sekitarnya tidak menunjukkan tanda-tanda radang akut. Ulkus
indolen dan teraba indurasi sehingga disebut Ulkus durum
- Afek primer umumnya berlokasi di genitalia eksterna. Pria pada sulkus koronarius,
wanita pada labia mayor dan minor. Selain itu dapat juga di ekstragenital (lidah, tonsil,
dan anus).
- Afek primer sembuh sendiri antara 3-10 minggu.
- Pembesaran KGB regional di inguinalis medialis timbul satu minggu setelah afek
primer. Kelenjar ini soliter, indolen, tidak lunak, lentikular, tidak supuratif, dan tidak
terdapat periadenitis. Kulit disekitar tidak menunjukkan tanda radang akut.

II. Sifilis Sekunder (S II)


- Timbul 6-8 minggu sejak stadium I. Stadium II dapat berlangsung hingga 9 bulan

25
- Terdapat gejala konstitusi: anoreksia, berat badan menurun, malaise, nyeri kepala,
demam yang tidak tinggi dan atralgia
Kelainan kulit: menyerupai berbagai kelainan kulit lainnya ( sehingga disebut The
Great Imitator).
- Kelainan kulit pada stadium II umumnya tidak gatal, sering disertai limfadenitis
generalisata.
- Kelainan kulit yang eksudatif (membasah) pada S II sangat menular, sedangkan yang
kelainan kering kurang menular. Kondilama lata dan plaque muqueuses adalah bentuk
yang sangat menular.
- Kelainan kulit pada S II umumnya tidak gatal, sering disertai limfadenitis generalisata.
- S II dini: kelainan kulit generalisata, simetris, lebih cepat hilang (beberapa hari hingga
minggu).
S II lanjut : tidak generalisata, bersifat setempat, tidak simetris, lebih lama bertahan
(beberapa minggu hingga beberapa bulan).
Bentuk lesi pada S II:
1. Pada kulit
- Tipe makula : ditandai dengan makula berwarna pink, berbentuk bulat atau lonjong,
dan tidak bersisik yang terdapat di daerah badan dan fleksor tangan. Lesi ini biasa
disebut roseola sifilitik.
- Tipe papul : a. Papuloskuamous yaitu lesi berupa papul/plak yang dilapisi skuama,
diskoid, eritema/warna kecoklatan, berbentuk bulat/lonjong.
b. Lentikular yaitu lesi berupa papul ukuran lentikular yang umumnya terdapat di
dahi, perioral, lipatan nasolabial, dan daerah genitalia
c. Corymbose yaitu lesi berupa papul-papul kecil mengelilingi satu papul besar (lesi
satelit).
d. Nodular yaitu lesi berupa nodul-nodul yang kadang salah didiagnosis dengan
penyakit granumatosa
e. Annular yaitu lesi terdiri atas papul-papul yang berbentuk lonjong atau bulat
pinggirannya lebih aktif dan bagian tengah mengalami central healing

26
f. Follicular yaitu lesi berupa eritema berbentuk bulat, berbentuk miliar, dan bersifat
akuminata. Tipe ini jarang ditemukan dan dilaporkan ditemukan pada pecandu
alkohol
g. Kondiloma lata yaitu lesi berupa papul-papul lentikular yang berkonfluensi dan
akibat gesekan antar kulit permukaannya menjadi erosi dan maserasi. Tampak
vegetasi yang memberikan gambaran bunga kol. Tempat predileksi di lipat paha,
skrotum, vulva, perianal, muka, ketiak
h. Korona venerik yaitu lesi berupa papul-papul pada daerah dahi yang berbentuk
arsinar/sirsinar yang menyerupai mahkota.
2. Mukosa
- Angina sifilitika yaitu berupa makula eritematous yang cepat berkonfluensi
membentuk eritama yang difus dan berbatas tegas. Pasien mengeluh nyeri saat
menelan, dan jika mengenai faring juga akan memberikan keluhan suara parau
- Plaque musqueuses (mucous patch) yaitu papul eritematosa, permukaannya datar,
biasanya miliar atau lentikular, timbul bersama-sama dengan S II bentuk papul
pada kulit
3. Rambut
- S II dini : terjadi kerontokan rambut bersifat difus dan tidak khas yang disebut
sebagai alopesia difusa
- S II lanjut : terjadi kerontokan setempat-setempat, tampak sebagai bercak yang
ditumbuhi oleh rambut tipis seolah-olah seperti digigit ngengat, disebut sebagai
alopesia areolaris (moth eaten hari loss).
4. Kuku
- Onikia sifilitika : kuku berubah menjadi putih, kabur, rapuh, terdapat alur
transversal dan longitudinal, serta bagian distal lempeng kuku menjadi
hiperkeratotik sehingga kuku terangkat
- Paronikia sifilitika : radang kronik, kuku menjadi rusak dan terlepas
III. Sifilis Laten Dini
Fase dimana tidak didapatkan gejala klinis (asimptomatik), tetapi tes serologi (+).
Tes likuor serebrospinalis (-).
IV. Sifilis Rekuren

27
Relaps dapat terjadi baik secara klinis berupa kelainan kulit mirip S II, maupun
serologik yang telah negatif menjadi positif. Hal ini terutama terjadi pada sifilis
yang tidak diobati atau mendapat pengobatan tidak adekuat.
B. Stadium Lanjut
V. Sifilis Laten Lanjut
Biasanya tidak menular, diagnosa ditegakkan dengan pemeriksaan tes serologik. Masa
laten berlangsung beberapa tahun hingga bertahun-tahun, bahkan dapat seumur hidup.
Likuor serebrospinalis hendaknya diperiksa untuk menyingkarkan neurosifilis
asimptomatik. Perlu dilakukan X-Ray aorta untuk melihat adanya aortitis.
VI. Stadium Tersier (S III)
Kelainan kulit sifilis tersier ada 3 yaitu:
- Nodul granulomatous yaitu lesi berupa nodul yang central healing yang
berubah menjadi plak yang berbentuk anular dan bersifat serpiginosa. Lesi
paling sering terdapat pada daerah lengan, punggung, dan muka
- Plak granulomatous psoriasiformis yaitu lesi berupa plak psoriasiformis (plak
dengan skuama berlapis-lapis)
- Guma (paling khas) berupa infiltrat berupa nodul subkutan sirkumskrip, kronis,
biasanya melunak, dan destruktif. Guma paling sering terdapat pada daerah
kulit kepala dan dahi. Guma dapat menyebabkan destruksi dari kartilago dan
tulang hidung sehingga menyebabkan saddle nose.

Kelainan pada mukosa berupa guma di selaput lendir baik itu pada mulut,
tenggorokan atau septum nasi. Guma akan melunak, membentuk ulkus, bersifat
destruktif sehingga dapat merusak tulang rawan septum nasi atau palatum molle.

VII. Sifilis Kardiovaskular


T.pallidum menyerang vasa vasorum aorta endarteritis disertai nekrosis jaringan
pembentukan jaringan fibrosis aorta tidak dapat berdilatasi secara maksimal
aneurisma
Aortitis daerah tersering adalah aorta adcendens
Aneurisma aorta dapat mengenai aorta ascendens, arkus aorta, dan aorta
abdominalis

28
Coronary ostial stenosis dapat menyebabkan gejala seperti angina pektoris dan
gagal jantung kongestif
Insufisiensi katup aorta menyebabkan aorta regurgitasi
Myocardial gummatous disease guma yang menyerang umumnya daerah
ventrikel kiri dan septum ventrikel menyebabkan blok jantung dan gangguan
konduksi.
VIII. Neurosifilis
Terdiri dari :
- Nerosifilis asimptomatik
- Sifilis meningovasular (sifilis serebrospinalis), misalnya meningitis,
meningomielitis, endarteritis sifilitika.
- Sifilis parenkim : tabes dorsalis dan demensia paralitika
- Guma (umumnya terdapat pada meningens, terjadi akibat perluasan dari
tulang tengkorak. Jka membesar akan menyerang dan menekan parenkim
otak.
2. Sifilis Kongenital
I. Sifilis Kongenital Dini
- Kelainan kulit yang pertama kali terlihat pada waktu lahir adalah bulla
bergerombol, simetris pada telapak tangan dan kaki, kadang-kadang pada
tempat lain di badan. Cairan bulla mengandung banyak T.pallidum. Bayi
tampak sakit. Bentuk ini disebut pemfigus sifilitika.
- Kelainan lain biasanya timbul saat bayi berumur beberapa minggu dan mirip
erupsi pada S II, pada umumnya berbentuk papul atau papuloskuamosa yang
simetris dan generalisata. Pada tempat yang lembab papul dapat mengalami
erosi seperti kondiloma lata.
- Ragades merupakan kelainan umum yang terdapat pada sudut mulut, lubang
hidung, dan anus; bentuknya memancar (radiating).
- Dapat terjadi alopesia terutama pada sisi dan belakang kepala
- Onikia sifilitika : kuku terlepas akibat papul dibawahnya.
- Pada mukosa dapat terlihat plaque muqueuses seperti S II. Kelainan ini sering
terdapat pada daerah mukoperiosteum dalam kavum nasi yang menyebabkan

29
timbulnya rinitis dan disebut syphilitic snuffles. Kelainan tersebut disertai
sekret yang mukopurulen atau seropurulen yang sangat menular dan
menyebabkan sumbatan sehingga pasien sulit bernafas dengan hidung.
- Pada organ lain dapat terjadi hepatomegali, splenomegali, kelainan ginjal,
kelainan pada paru-paru, tulang, mata, hematologi dan saraf.
II. Sifilis Kongenital Lanjut
- Umumnya terjadi antara umur 7-15 tahun
- Guma dapat menyerang kulit, tulang, selaput lendir dan organ dalam
- Khas Guma pada hidung dan mulut
- Tulang mengalami periostitis sifilitika pada tibia umumnya mengenai 1/3
tengah tulang dan menyebabkan penebalan yang disebut sabre tibia.
- Mata : keratitis interstitial
- Cluttons joints : pembengkakan kedua sendi lutut disertai efusi
- Neurosifilis berbentuk paralisis generalisata
III. Stigmata
Stigmata pada lesi dini:
- Wajah Rinitis parah dan terus menerus pada bayi menyebabkan gangguan
pertumbuhan septum nasi dan tulang lain pada kavum nasi. Terjadi depresi
pada jembatan hidung (saddle nose). Maksila tumbuh lebih kecil daripada
mandibula (bulldog jaw).
- Gigi Gigi Hutchinson yaitu hanya terdapat pada gigi seri permanen. Gigi
tampak lebih kecil dari yang normal, sisi gigi konveks, sedangkan daerah untuk
mengigit konkaf.
Moons molar, terdapat pada gigi molar pertama. Permukaannya berbintil-bintil
sehingga mirip murbai. Enamel gigi tipis sehinggi mudah karies dan cepat
tanggal
- Ragades terutama terdapat pada sudut mulut, jarang pada lubang hidung dan
anus. Terbentuk dari papul-papul yang berkonfluensi; akibat pergerakan mulut
terjadi fisura yang kemudian mengalami infeksi sekunder, jika sembuh
meninggalkan jaringan parut lliniar di sudut mulut.

30
- Jaringan parut koroid Koroidenitis pada sifilis kongenital dini meninggalkan
kelainan permanen di fundus okuli
- Kuku Onikia akan merusak dasar kuku dan meninggalkan kelainan yang
permanen : kelainan ini tidak khas
Stigmata pada lesi lanjut :
- Kornea keratitis interstitial dapat meniggalkan kekeruhan pada lapisan
dalam kornea
- Sikatriks gumatosa Guma pada kulit meninggalkan sikatriks. Pada palatum
dan septum nasi meninggalkan perforasi
- Atrofi optikus Atropi optikus primer terjadi jika sifilis menyerang SSP
- Trias hutchinson yaitu sindrom yang terdiri atas keratitis interstitialis, gigi
hutchinson, dan kelumpuhan nervus VIII (tuli).

6.6.Pemeriksaan penunjang

Untuk menegakkan diagnosis sifilis, diagnosis klinis harus dikonfirmasikan dengan


pemeriksaan laboratorium berupa :

1. Pemeriksaan lapangan gelap dengan bahan pemeriksaan dari bagian dalam lesi,
untuk melihat adanya T. Pallidum
a. Pemeriksaan lapangan gelap (dark field) Ruam sifilis primer, dibersihkan
dengan larutan Nacl fisiologis, serum diperoleh dari bagian dasar lesi
dengan cara menekan lesi dan serum akan keluar. Diperiksa dengan
mikroskop lapangan gelap menggunakan minyak imersi T. Pallidum
berbentuk ramping, gerakan lambat dan angulasi.
b. Mikroskop fluoresensi Bahan apusan dari lesi dioleskan pada gelas objek,
difiksasi dengan aseton. Sediaan diberi antibiotic spesifik yang dilabel
fluoresensi, kemudian diperiksa dengan mikroskop fluoresensi. Peneliti
lain melaporkan bahwa pemeriksaan ini dapat member hasil non spesifik
dan kurang dapat dipercaya dibandingkan pemeriksaan lapangan gelap.
2. Penentuan antibody di dalam serum Pada waktu terjadi infeksi treponema, baik
yang menyebabkan sifilis, frambusio atau pinta akan dihasilkan berbagai variasi

31
antibody. Beberapa tes yang dikenal sehari-hari yang mendeteksi antibody non
spesifik, akan tetapi dapat menunjukkan reaksi dengan IgM dan IgG adalah :
a. Tes yang menentukan antibody nonspesifik :
Tes wasserman
Tes khan
Tes VDRL (Veneral Diseases Research Laboratory)
Tes RPR (Rapid Plasma Reagin)
Tes automated regain
b. Antibody terhadap kelompok antigen yaitu :
Tes RPCF (reiter protein complement fixation)
c. Yang menentukan antibody spesifik yaitu :
Tes TPI (Treponema Pallidum Immobilization)
Tes FTA ABS (Fluorescent Treponema Absorbed)
Tes TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination Assay)
Tes ELisa (Enzyme Linked immune sorbent assay)

6.7.Tatalaksana

Pengobatan dimulai sedini mungkin, makin dini hasilnya makin baik. Pada sifilis
laten terapi bermaksud mencegah proses lebih lanjut. Pengobatannya menggunakan
penisilin dan antibiotik lain.
1. Penisilin
Penisilin dapat menembus plasenta sehingga mencegah infeksi Pada janin dan dapat
menyembuhkan janin yang terinfeksi; juga efektif untuk neurosifilis.
Kadar yang tinggi dalam serum tidak diperlukan, asalkan jangan kurang dari 0,03
unit/ml. Yang penting ialah kadar tersebut harus bertahan dalam serum selama 10-14
hari untuk sifilis dini dan lanjut, 21 hari untuk neurosifilis dan sifilis kardiovaskular.
Jika kadarnya kurang dari angka tersebut, setelah lebih dari 24-30 jam, maka kuman
dapat berkembang biak. Menurut lama kerjanya, terdapat tiga macam penisilin:
a. Penisilin G prokain dalam akua dengan lama kerja 24 jam, jadi bersifat kerja singkat.
b. Penisilin G prokain dalam minyak dengan aluminium monostearat (PAM), lama kerja
72 jam, bersifat kerja sedang.

32
c. Penisilin G benzatin dengan dosis 2,4 juta unit akan bertahan dalam serum 2-3 minggu,
jadi bersifat kerja lama.
Ketiga obat tersebut diberikan intramuskular. Cara pemberian penisilin tersebut
sesuai dengan lama kerja masing-masing; yang pertama diberikan setiap hari, yang
kedua setiap tiga hari, dan yang ketiga biasanya setiap minggu.
Penisilin G benzatin karena bersifat kerja lama, maka kadar obat dalam serum
dapat bertahan lama dan lebih praktis, sebab penderita tidak perlu disuntik setiap hari
seperti pada pemberian penisilin G prokain dalam akua. Obat ini mempunyai
kekurangan, yakni tidak dianjurkan untuk neurosifilis karena sukar masuk ke dalam
darah di otak, sehingga yang dianjurkan ialah penisilin G prokain dalam akua. Karena
penisilin G benzatin memberi rasa nyeri pada tempat suntikan, sehingga tidak
dianjurkan pemberiannya kepada bayi. Demikian pula PAM memberi rasa nyeri pada
tempat suntikan dan dapat mengakibatkan abses jika suntikan kurang dalam; obat ini
kini jarang digunakan.
Pada sifilis kardiovaskular, terapi yang dianjurkan ialah dengan penisilin G
benzatin 9,6 juta unit, diberikan 3 kali 2,4 juta unit, dengan interval seminggu. Untuk
neurosifilis terapi yang dianjurkan ialah penisilin G prokain dalam akua 18-24 juta unit
sehari, diberikan 3-4 juta unit, i.v. setiap 4 jam selama 10-14 hari.
Pada sifilis kongenital, terapi anjurannya ialah penisilin G prokain dalam aqua
100.000-150.000 satuan/kg berat badan/ hari, yang diberikan 50.000 unit/kg B.B., i.m.,
setiap hari selama 10 hari.

2. Antibiotik lain
Selain penisilin, masih ada beberapa antibiotik yang dapat digunakan sebagai
pengobatan sifilis, meskipun tidak se-efektif penisilin.
Bagi yang alergi terhadap penisilin diberikan tetrasiklin 4 x 500 mg/hari, atau
eritromisin 4 x 500 mg/hri, atau doksisiklin 2 x 100 mg/hari. Lama pengobatan 15 hari
bagi S I dan S II dan 30 hari bagi stadium laten. Eritromisin bagi yang hamil,
efektivitasnya meragukan. Doksisiklin absorbsinya lebih baik daripada tetrasiklin,
yakni 90-100%, sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%.
Pada penelitian terbaru didapatkan bahwa doksisiklin atau eritromisin yang
diberikan sebagai terapi sifilis primer selama 14 hari, menunjukkan perbaikan.

33
Obat yang lain ialah golongan sefalosporin, misalnya sefaleksin 4 x 500 mg
sehari selama 15 hari. Juga seftriakson setiap hari 2 gr, dosis tunggal i.m. atau i.v.
selama 15 hari.
Azitromisin juga dapat digunakan untuk S I dan S 11, terutama dinegara yang
sedang berkembang untuk menggantikan penisilin. zDosisnya 500 mg sehari sebagai
dosis tunggal. Lama pengobatan 10 hari. Menurut laporan Verdun dkk.
Penyembuhannya mencapai 84,4%. Lama pengobatan 10 hari.
7. Ulkus Mole
Definisi
Ulkus mole atau sering disebut chancroid, ialah penyakit infeksi genitalia akut,
setempat, dapat inokulasi sendiri (autoinoculable), disebabkan oleh Haemophillus ducreyi,
dengan gejala klinis khas berupa ulkus pada tempat masuk dan seringkali disertai supurasi
kelenjar getah bening regional.
Epidemiologi
Penyakit chancroid lebih banyak didiagnosis pada laki-laki dengan rasio laki-laki :
perempuan antara 3 : 1 sampai 25 : 1 atau lebih tinggi. Prevalensi chancroid tinggi pada
kelompok sosial ekonomi rendah, terutama pada pekerja seks. Diantara pekerja seks,
prevalensi ulkus genital antara 5-35%. H. Ducreyi dapat dikultur kira-kira 50% dari ulkus
tersebut. Baru-baru ini beberapa penelitian di Afrika dan Thailand memperlihatkan bahwa
chancroid merupakan faktor resiko penting penyebaran HIV pada heteroseksual.
Etiologi
Penyebab ulkus mole ialah Haemophillus ducreyi, merupakan bakteri gram negatif,
anaerobik fakultatif, dan perlu hemin (faktor X) untuk pertumbuhannya. H.ducreyi
berbentuk batang kecil atau pendek dengan ujung bulat, tidak bergerak dan tidak berspora.
Pada bahan apusan ulkus dengan pengecatan Gram, menunjukkan susunan sejajar, sehingga
memberi gambaran seperti rel kereta api atau sekawanan ikan. Sifat lainnya yang khas ialah
dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit, memberikan hasil positif pada tes oksidase, negatif
katalase dan menghasilkan fosfatase alkali.
Gejala Klinis
Masa inkubasi berkisar 1-14 hari pada umumnya kurang dari 7 hari. Lesi kebanyakan
multipel, jarang soliter, biasanya pada daerah genital, jarang pada daerah ekstragenital.

34
Mula-mula kelainan kulit berupa papul, kemudian menjadi vesiko-pustul pada tempat
inokulasi cepat pecah menjadi ulkus.

Ulkus: kecil, lunak pada perabaan, tidak terdapat indurasi, berbentuk cawan,
pinggir tidak rata. Sering bergaung, rapuh dan dikelilingi halo yang erimatosa. Ulkus sering
tertutup dengan jaringan nekrotik, dasar ulkus berupa jaringan granulasi yang mudah
berdarah, dan pada perabaan terasa nyeri. Tempat predileksi pada laki-laki ialah permukaan
mukosa preputium, sulkus koronarius, frenulum penis, dan batang penis. Dapat juga timbul
lesi di dalam uretra, skrotum, perenium atau anus. Pada wanita ialah labia, klitoris,
fourchette, vestibuli, anus, dan serviks.

Lesi ekstragenital terdapat pada lidah, jaringan, bibir, payudara, umbilikus, dan
konjungtiva. Karena adanya inokulasi sendiri, dengan cepat dapat timbul lesi yang
multipel, dengan cara ini dapat timbul lesi di daerah pubis, abdomen, dan paha.

Gejala sistemik jarang timbul, kalaupun ada hanya demam sedikit atau malaise
ringan.

Jenis-jenis bentuk klinis:

a. Ulkus mole folikularis


Timbul pada folikel rambut, pada permukaannya menyerupai folikulitis yang
disebabkan oleh kokus, tetapi cepat menjadi ulkus. Lesi seperti ini dapat timbul pada
vulva dan pada daerah berambut di sekitar genitalia dan sangat superficial.
b. Dwarf chancroid
Lesi sangat kecil dan menyerupai erosi pada herpes genitalis, tetapi dasarnya tidak
teratur dan tepi berdarah.
c. Transient chancroid (chancre mou valant)
Lesi kecil, sembuh dalam beberapa hari, tetapi 2-3 minggu kemudian diikuti timbulnya
bubo yang meradang pada daerah inguinal. Gambaran ini menyerupai limfogranuloma
venereum.
d. Papular chancoroid (ulkus mole elevatum)
Dimulai dengan ulkus yang kemudian menimbul terutama pada tepinya. Gambarannya
menyerupai kondilomata lata pada sifilis stadium II.

35
e. Giant chancroid
Mula-mula timbul ulkus kecil, tapi meluas dengan cepat dan menutupi satu daerah.
Sering mengikuti abses inguinal yang pecah dan dapat meluas ke daerah suprapubis
bahkan daerah paha dengan cara autoinokulasi.
f. Phagedenic chancroid
Lesi kecil menjadi besar dan destruktif dengan jaringan nekrotik yang luas. Genitalia
eksterna dapat hancur, pada beberapa kasus disertai infeksi organisme Vincent.
g. Time serpiginosa
Lesi membesar karena perluasan atau autoinokulasi dari lesi pertama ke daerah lipat
paha atau paha, ulkus jarang menyembuh, dapat menetap berbulan-bulan atau
bertahun-tahun.

Diagnosis

1. Pemeriksaan sediaan apus


Diambil bahan pemeriksaan dari tepi ulkus yang tergaung, dibuat hapusan pada
gelas alas, kemudian dibuat pewarnaan gram, Unna-Pappenhim, wright, atau giemsa.
Hanya pada 30-50% kasus ditemukan basil berkelompok atau berderet seperti rantai.

Gambar 2. Apusan eksudat gram yang diambil dari


ulkus genital menunjukkan pola karakteristik H.
36

Ducreyi
2. Biakan kuman
Bahan diambil dari pus bubo atau lesi kemudian ditanam pada perbenihan/pelat
agar khusus yang ditambahkan darah kelinci yang sudah difebrinasi. Akhir-akhir ini
ditemukan bahwa perbenihan yang mengandung serum darah penderita sendiri yang
sudah diinaktifkan memberikan hasil yang memuaskan. Inkubasi membutuhkan waktu
48 jam. Medium yang mengandung gonococcal medium base, ditambah dengan
hemoglobin 1%, iso-Witalex 1% dan vankomisin 3 mcg/ml akan mengurangi
kontaminasi yang timbul.
3. Teknik immunofluorosens untuk menemukan antibody
4. Biopsi
Biopsi dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis, Pada gambaran
histologis ditemukan :
a. Daerah superfisial pada dasar ulkus neutrofil, fibrin, eritrosit, dan jaringan nekrotik.
b. Daerah tengah: pembuluh-pembuluh darah kapiler baru dengan proliferasi sel-sel
endotel sehingga lumen tersumbat dan menimbulkan trombosis. Terjadi perubahan
degeneratif pada dinding pembuluh darah.
c. Daerah sebelah dalam: infiltrat padat terdiri atas sel-sel plasma dan sel-sel limfoid.
5. Autoinokulasi
Bahan diambil dari lesi yang dicurigai, diinokulasikan pada kulit sehat daerah lengan bawah
penderita yang digores lebih dahulu. Pada tempat tersebut akan timbul ulkus mole. Sekarang
cara ini tidak dipakai lagi.
Diagnosis Banding
1. Herpes genitalis
Herpes genitalis kelainan kulitnya ialah vesikel yang berkelompok dan jika memecah
menjadi erosi, lebih superfisial, jadi bukan ulkus seperti pada ulkus mole disertai gejala
prodromal. Tanda-tanda radang akut lebih mencolok pada ulkus mole. Diagnosis
dengan biakan atau mikroskop electron negatif stain. Pada sediaan hapus berupa bahan

37
yang diambil dari dasar ulkus tidak ditemukan sel raksasa berinti banyak pada ulkus
mole.
2. Granuloma Inguinal
Pada granuloma inguinal lesi dapat menjadi ulkus granulomatosa berbentuk bulat,
menimbul seperti beludru, dan mudah berdarah. Pembengkakan di daerah inguinal dapat
timbul menyertai lesi genital, sebagai masa induratif atau abses yang akhirnya pecah
menimbulkan ulkus yang khas.
Tatalaksana
1. Sistemik
Perubahan H. ducreyi terhadap pengaruh antibiotik menyebabkan rekomendasi
pengobatan sebelumnya tidak terpakai lagi. H. ducreyi telah resisten terhadap
sulfonamide, tetrasiklin, ampisilin, kloramfenikol, dan kanamisin. Centers of disease
control merekomendasikan pengobatan ulkus mole dengan:
b. Azitromisin 1 gr oral dosis tunggal atau
c. Seftriakson 250 mg intramuscular dosis tunggal atau
d. Siprofloksasin dosis 500 mg oral 2 x sehari selama 3 hari atau
e. Eritromisin 500 mg 4 x sehari selama 7 hari, pernah dilaporkan kasus resisten
terhadap eritromisin di China.

Selain obat-obatan tersebut diatas yang juga efektif adalah:


- Trimetoprim 160 mg sulfametoksasol 800 mg 2x sehari selama 7 hari sebagai
pengobatan alternatif. Penggunaan dosis tunggal trimetoprin 640 mg,
sulfametoksasol 3200 mg mempunyai efektifitas lebih rendah dari rejimen lain. Pada
penelitian didapatkan angka kegagalan pengobatan 55% untuk ulkus dan 80% untuk
bubo, pada penggunaan dosis tunggal kombinasi tersebut.
- Kombinasi amoksisilin 500 mg dan asam klavulanat 125 mg oral 3x sehari selama 7
hari.
- Fleroksasin dosis tunggal 200 mg.
- Sefalotin 3 gr sehari intravenous selama 7 hari.

38
Dapat terjadi relaps setelah sembuh sempurna pada lokasi yang sama dengan lesi
sebelumnya pada sekitar 5 % penderita. Kegagalan pengobatan pasangan seksual
biasanya sebagai penyebab relaps.
2. Topikal
Pengobatan topikal pada kasus ini terdiri atas pemberian antiseptik seperti povidon iodin.
Limfadenitis tidak boleh di insisi. Bila perlu diaspirasi untuk mencegah ruptur spontan.
Pada penderita yang mengeluh ulkusnya sangat nyeri, dapat diberi terapi topikal dengan
kompres dingin untuk mengurangi peradangannya. Penderita dianjurkan untuk istirahat,
karena bila penderita tetap melakukan aktivitasnya maka akan memudahkan terjadinya
adenopati. Penderita dengan fimosis sebaiknya dilakukan sirkumsisi apabila semua lesi
aktif telah sembuh, dan tampaknya bubo jarang berkembang setelah sirkumsisi dilakukan.
8. Herpes Simpleks
Definisi

Infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau
tipe II yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan
eritematosa pada daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer
maupun rekurens.

Epidemiologi

Penyakit ini tersebar kosmopolit dan menyerang baik pria maupun wanita dengan frekuensi
yang tidak berbeda. Infeksi primer oleh virus herpes simpleks (VHS) tipe I biasanya dimulai
pada usia anak-anak, sedangkan infeksi VHS tipe II biasanya terjadi pada decade ke-2 atau ke-
3 dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual.

Etiologi

VHS tipe I dan II merupakan virus herpes hominis yang merupakan virus DNA. Pembagian
tipe I dan II berdasarkan karakteristik pertumbuhan pada media kultur, antigenic marker dan
lokasi klinis (tempat predileksi).

Gejala Klinis

Infeksi primer

39
Tempat predileksi VHS tipe I di daerah pinggang ke atas terutama di daerah mulut dan
hidung. Inokulasi dapat terjadi secara kebetulan, misalnya kontak kulit pada perawat, dokter gigi
atau pada orang yang sering menggigit jari (herpetic Whitlow). Infeksi primer oleh VHS tipe II
mempunyai tempat predileksi di daerah pinggang ke bawah terutama di dearah genital, juga
dapat menyebabkan herpes meningitis dan infeksi neonatus.

Infeksi primer berlangsung lebih lama dan lebih berat, kira-kira 3 minggu dan sering disertai
gejala sistemik, misalnya demam, malaise dan anoreksia dan dapat ditemukan pembengkakan
kelenjar getah bening regional.

Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab
dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen, dapat menjadi krusta
dan kadang-kadang mengalami ulserasi yang dangkal, biasanya sembuh tanpa sikatriks. Pada
perabaan tidak terdapat indurasi.

Fase laten

Fase ini berarti pada penderita tidak ditemukan gejala klinis, tetapi VHS dapat ditemukan
dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis.

Infeksi rekurens

Gejala klinis yang timbul lebih ringan daripada infeksi primer dan berlangsung kira-kira 7-10
hari. Sering ditemukan gejala prodromal lokal sebelum timbul vesikel berupa rasa panas, gatal
dan nyeri. Infeksi rekurens ini dapat timbul pada tempat yang sama atau tempat lain/tempat di
sekitarnya.

40
Diagnosis

Virus herpes dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiak. Pada keadaan tidak ada lesi
dapat diperiksa antibodi VHS. Pada percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa dapat
ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear.

Diagnosis Banding

Herpes simpleks di daerah sekitar mulut dan hidung harus dibedakan dengan impetigo vesiko
bulosa. Pada daerah genitalia harus dibedakan dengan ulkus durum, ulkus mole, maupun ulkus
yang mendahului penyakit limfogranuloma venereum.

Tatalaksana

Pada lesi yang dini dapat digunakan obat topikal berupa salap/krim yang mengandung
preparat idoksuridin (stoxil, virugent, virugent-P) dengan cara aplikasi, yang sering dengan
interval beberapa jam. Preparat asiklovir yang dipakai secara topikal. Asiklovir ini cara kerjanya
mengganggu replikasi DNA virus. Pengobatan oral berupa preparat asiklovir tampaknya
memberikan hasil yang lebih baik dengan dosis 5 x 200 mg sehari selama 5 hari. Pengobatan
parenteral dengan asiklovir terutama ditujukan kepada penyakit yang lebih berat. Preparat
arabinosid (vitaribin). Interferon sebuah preparat glikoprotein yang dapat menghambat
reproduksi virus juga dapat dipakai secara parenteral.

41
Prognosis

Kematian oleh infeksi HSV jarang terjadi. Infeksi dini yang segera diobati mempunyai
prognosis lebih baik, sedangkan infeksi rekuren hanya dapat dibatasi frekuensi kambuhnya.
Pada orang dengan gangguan imunitas, misalnya penyakit-penyakit dengan tumor di sistem
retikuloendoteial, pengbatan dengan imunosupressan yang lama, menyebabkan infeksi ini dapat
menyebar ke alat-alat dalam dan fatal. Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya
usia seperti pada orang dewasa.

9. Kondiloma Akuminatum

Definisi
Kondiloma akuminata adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh virus
papiloma humanus (VPH) tipe tertentu dengan kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit
dan mukosa.
Epidemiologi
Di Amerika Serikat dari 122 juta penduduk berusia 15 49 diperkirakan lebih dari 1%
yang menderita kondiloma akuminata dan 2% yang subklinis. Di Swedia, dengan
menggunakan metode PCR, ditemukan prevalensi KA akibat infeksi VPH tipe 6 atau 16
pada 84% pria yang datang di klinik IMS.
Etiologi
Lebih dari 90% kondiloma akuminata disebabkan oleh Virus Papiloma Humanus
(VPH) tipe 6 dan 11. VPH merupakan virus DNA yang merupakan virus epiteliotropik
(menginfeksi epitel) dan tergolong dalam famili Papovaviridae. Berdasarkan kemungkinan
terjadinya displasia epitel dan keganasan maka VPH dibagi menjadi VPH berisiko rendah
(low risk), VPH beresiko sedang (moderate risk) dan VPH berisiko tinggi (high risk). VPH
tipe 6 dan tipe 11 paling sering ditemukan pada kondiloma akuminata yang eksofitik dan
pada displasia derajat rendah (low risk), sedangkan VPH tipe 16 dan 18 sering ditemukan
pada displasia keganasan yang berisiko tinggi (high risk) sedangkan risiko menengah
(moderate risk) terdiri atas VPH tipe 33, 35, 39, 40, 43, 45, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 58. Pada
sekitar 10% pasien mengalami kondiloma akuminata yang diakibatkan oleh kombinasi
beberapa VPH.

42
Gejala Klinis
Masa inkubasi KA berlangsung Antara 1-8 bulan (rata-rata 2-3 bulan). VPH masuk ke
dalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit, sehingga KA sering timbul di daerah yang mudah
mengalami trauma pada saat hubungan seksual.
Pada pria tempat yang sering terkena adalah glans penis, sulkus koronarius, frenulum,
dan batang penis, sedangkan pada wanita adalah fourchette posterior, vestibulum.
Kondiloma akuminata dibagi dalam 3 bentuk, yaitu:
1. Bentuk akuminata
Terutama dijumpai pada lipatan dan lembab. Terlihat vegetasi bertangkai dengan
permukaan yang berjonjot-jonjot seperti jari. Beberapa kutil dapat bersatu membentuk
lesi yang lebih besar sehingga tampak seperti kembang kol. Lesi yang besar ini sering
dijumpai pada wanita yang mengalami fluor albus, pada wanita hamil, dan pada keadaan
imunitas terganggu.
2. Bentuk papul
Lesi bentuk papul biasanya didapati pada daerah dengan keratinisasi sempurna, seperti
batang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal dan perineum. Kelainannya berupa
papul dengan permukaan yang halus dan licin, multipel dan tersebar secara diskret.
3. Bentuk datar
Secara klinis, lesi bentuk ini terlihat sebagai makula atau bahkan sama sekali tidak
tampak dengan mata telanjang (infeksi subklinis), dan baru terlihat setelah dilakukan tes
asam asetat. Dalam hal ini penggunaan kolposkopi sangat menolong. Selain ketiga
bentuk klinis diatas, dijumpai juga bentuk klinis yang lain yang telah diketahui
berhubungan dengan keganasan pada genitalia, yaitu:
a. Giant condyloma Buschke-Lowenstein

Bentuk ini diklasifikasikan sebagai karsinoma sel skuamosa dengan keganasan


derajat rendah. Hubungan antara kondiloma akuminata dengan giant condyloma
diketahui dengan ditemukannya HPV tipe 6 dan tipe 11. Lokalisasi lesi yang paling
sering adalah pada penis dan kadang-kadang pada vulva dan anus. Klinis tampak
sebagai kondiloma yang besar, bersifat invasif lokal dan tidak bermetastasis. Secara

43
histologis giant condyloma tidak berbeda dengan kondiloma akuminata. Giant
condyloma ini umumnya refrakter terhadap pengobatan.

b. Papulosis Bowenoid

Secara klinis berupa papul likenoid berwarna coklat kemerahan dan dapat
berkonfluens menjadi plakat. Ada pula lesi yang berbentuk makula eritematosa dan
lesi yang mirip leukoplakia atau lesi subklinis. Umumnya lesi multipel dan kadang-
kadang berpigmentasi. Berbeda dengan kondiloma akuminata, permukaan lesi
papulosis Bowenoid biasanya halus atau hanya sedikit papilomatosa. Gambaran
histopatologik mirip penyakit bowen dengan inti yang berkelompok, sel raksasa
diskeratotik dan sebagai mitotik atipik. Dalam perjalanan penyakitnya, papulosis
Bowenoid jarang menjadi ganas dan cenderung untuk regresi spontan.

Diagnosis

1. Tes asam asetat (acetowhitening)

44
Bubuhkan asam asetat 5% dengan lidi kapas pada lesi yang dicurigai. Dalam 1-5 menit
lesi akan berubah warna menjadi putih (acetowhite). Perubahan warna pada lesi di daerah
perianal perlu waktu lebih lama (sekitar 15 menit).

2. Koloskopi
Merupakan tindakan yang rutin dilakukan di bagian kebidanan, namun belum digunakan
secara luas di bagian penyakit kulit. Pemeriksaan ini terutama berguna untuk melihat lesi
kondiloma akuminata yang subklinis, dan kadang-kadang dilakukan bersama dengan tes
asam asetat.
3. Pemeriksaan histopatologi
Pada KA yang eksofitik, pemeriksaan dengan mikroskop cahaya akan memperlihatkan
gambaran papilomatosis, akantosis, rete ridges yang memanjang dan menebal,
parakeratosis dan vakuolisasi pada sitoplasma (koilositosis).
Diagnosis Banding
1. Kondiloma lata
Merupakan salah satu bentuk sifilis stadium II. Lesi berupa papul-papul dengan
permukaan yang lebih halus, bentuknya lebih bulat daripada kondiloma akuminata, besar,
berwarna putih atau abu-abu, lembab, lesi datar, plakat yang erosif, ditemukan banyak
spirochaeta pallidum. Terdapat pada daerah lipatan yang lembab seperti anus dan vulva.
2. Karsinoma sel skuamosa
Karsinoma sel skuamosa adalah suatu proliferasi ganas dari keratinosit epidermis yang
merupakan tipe sel epidermis yang paling banyak dan merupakan salah satu dari kanker
kulit yang sering dijumpai setelah basalioma. Vegetasi yang seperti kembang kol, mudah
berdarah, dan berbau. Kadang-kadang sulit dibedakan dengan kondiloma akuminata.
Pada lesi yang tidak memberikan respon pada pengobatan perlu dilakukan pemeriksaan
histopatologi.
Tatalaksana
Ada beberapa cara pengobatan KA, yaitu dengan kemoterapi, tindakan bedah dan
imunoterapi. Pemilihan cara pengobatan yang dipakai tergantung pada besar, lokalisasi, jenis
dan jumlah lesi.
Kemoterapi
1. Tinktura podofilin 10-20%

45
Setelah melindungi kulit di sekitar lesi dengan vaselin agar tidak terjadi iritasi.,
oleskan tinktura podofilin pada lesi dan biarkan selama 1-4 jam, kemudian cuci.
Pemberian obat dilakukan seminggu duakali sampai lesi hilang.
2. Podofilotoksin 0,5% (podofiloks)
Podofilotoksin tersedia dalam bentuk solutio, krim atau gel dan digunakan 2 kali
sehari selama 3 hari berturut dalam seminggu, maksimal sampai 4 minggu. Untuk
jenis solutio pada lesi di penis, sedangkan krim atau gel pada lesi di anal atau
vaginal.
3. Asam trikloroasetat 50-90%
Pemberiannya adalah seminggu sekali dan harus hati-hati karena dapat
menimbulkan ulkus yang dalam.
4. Krim 5-fuorourasil 1-5%
Obat ini terutama untuk KA yang terletak di atas meatus uretra. Pemberiannya
setiap hari sampai lesi hilang. Sebaiknya penderita tidak miksi selama 2 jam
setelah pengobatan.
Tindakan bedah
Bedah scalpel, bedah listrik, bedah beku (N2 cair, N2O cair), bedah laser (CO2 laser)
Interferon
Dapat diberikan dalam bentuk suntikan (i.m atau intralesi) dan topikal (krim).
Interferon alfa diberikan dengan dosis 4-6 mU. i.m 3 kali seminggu selama 6 minggu
atau dengan dosis 1-5 mU i.m selama 6 minggu. Interferon beta diberikan dengan
dosis 2x106 unit i.m selama 10 hari berturut-turut.
Immunoterapi
Pada penderita dengan lesi yang luas dan resisten terhadap pengobatan dapat
diberikan pengobatan bersama imunomodulator. Imiquimod dalam bentuk krem,
dioleskan 3x seminggu, paling lama 16 minggu. Dicuci setelah 6-8 jam pemakaian.

46
DAFTAR PUSTAKA

Daili Sjaifil F. Infeksi Menular Seksual. In: Djuanda A, Mochtar H, Aisah S (eds.). 2015. Ilmu
Penyakit Kulit Dan Kelamin Edisi ke-7. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Judanarso, Jubianto. 2002. Ulkus Mole. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ketiga hal.
396-400. FK UI, Jakarta

Menaldi Sri L, dkk., 2014. Kapita Selekta Dermatologi infeksi, infeksi menular seksual. EGC,
Jakarta

Malik SR, Amin S, Anwar AI. Gonore. In: Amiruddin MD, editor. 2004. Penyakit Menular
Seksual. Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
Mitaart, Adolf. 2010. Infeksi Herpes Pada Pasien Imunokompeten. Manado : FK Sam Ratulangi

47
48