Anda di halaman 1dari 22

SATUAN ACARA PENYULUHAN

MANAJEMEN NYERI POST OPERASI BPH

Amirullah 125070207111010
Riyan Aji Anggana 125070207111012

KELOMPOK 6B
K3LN

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Manajemen Nyeri

Sub Topik : Manajemen Nyeri Post Operasi BPH

Sasaran : Keluarga dan Pasien Post Operasi

Tempat : Rumah Klien

Hari / Tanggal : Rabu / 13 April 2016

Waktu : Pukul 09.30 10.00 WIB (1 x 30 menit)

Pertemuan ke :pertama

Penyaji :Amirullah dan Riyan Aji Anggana

A. Latar Belakang Masalah


Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan.
Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersama banyak proses penyakit atau
bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobatan. Nyeri sangat
mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang dibanding suatu penyakit manapun.

Perawat menghabiskan lebih banyak waktunya bersama pasien yang mengalami nyeri
dibanding tenaga profesional perawatan kesehatan lainnya dan perawat mempunyai
kesempatan untuk menghilangkan nyeri dan efeknya yang membahayakan. Peran pemberi
perawat primer adalah untuk mengidentifikasi dan mengobati penyebab nyeri dan meresepkan
obat-obatan untuk menghilangkan nyeri.

Manajemen nyeri merupakan suatu proses atau tindakan keperawatan yang dilakukan
baik secara kolaboratif ataupun secara individu pada pasien pasca pembedahan guna
mengontrol atau mengurangi nyeri serta mengendalikan rasa nyeri yang di rasa oleh pasien.
Manajemen nyeri penting dilakukan dan paling tidak harus mendapat perhatian dari petugas
perawat atau petugas kesehatan lainnya untuk mengurangi keluhan nyeri pada pasien.
Pengendalian nyeri pada pasien pasca pembedahan dapat mengurangi keluhan serta resiko
lain akibat dari nyeri. Manajemen secara individu dapat dilakukan dengan cara mengajarkan
teknik distraksi dan relaksasi berupa nafas dalam dan teknik pengalihan perhatian guna
mengurangi resiko nyeri pada pasien.

Faktor penyebab nyeri biasanya muncul karena luka post operasi yang masih basah
atau matur dan belum lepas dari 2 x 24 jam sebagai ukuran pantauan untuk mengkaji status
nyeri. Nyeri juga ditimbulkan karena gerak atau mobilisasi dini pada pasien post operasi. Untuk
mencegah atau mengontrol nyeri perlu perhatian atau monitoring dan evaluasi serta kaji status
nyeri pasien. Pada dasarnya pelayanan kesehatan dari suatu tim terpadu yang terdiri dari
dokter, perawat, fisioterapis, ataupun tenaga kesehatan lainnya diperlukan agar terapi yang
dilakukan pada pasien berjalan dan dilakukan optimal oleh penderita atau pasien itu sendiri.
Manajemen nyeri bertujuan untuk membantu pasien dalam mengontrol nyeri ataupun
memanajemen nyeri secara optimal, mengurangi resiko lanjut dari efek samping nyeri tersebut,
yang pada akhirnya pasien mampu mengontrol ataupun nyeri yang dirasa tersebut hilang.

Ruang rawat inap khusus bedah memiliki peranan penting untuk menangani masalah
nyeri pada pasien terutama pasien post operasi. Ruang Bougenville BRSU Tabanan sebagai
salah satu ruang rawat inap bedah juga memiliki tanggung jawab dalam pemulihan kondisi
pasien post operasi. Keluhan nyeri yang sering muncul pada pasien post operasi menandakan
kurangnya pengetahuan pasien ataupun keluarga untuk menanggulangi atau kiat-kiat untuk
mangatasi atau mengontrol nyeri. Hal ini perlu diperhatikan agar nyeri pasien sedini mungkin
dapat di kontrol atau di atasi untuk penyembuhan yang seoptimal mungkin.

B. Tujuan
1. Tujuan instruksional Umum
Setelah dilakukan proses penyuluhan kesehatan selama 30 menit, diharapkan
pasien dan keluarga dapat memahami tentang manajemen nyeri pada luka post
operasi.

2. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mengikuti proses penyuluhan kesehatan, pasien dan keluarga diharapkan
mampu:
a. Menjelaskan pengertian nyeri.
b. Menyebutkan penyebab timbulnya nyeri.
c. Menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri.
d. Menyebutkan cara mengkaji persepsi nyeri.
e. Menyebutkan cara-cara untuk mengatasi nyeri pada luka post operasi.

C. Metode
Ceramah, demonstrasi dan diskusi/tanya jawab

D. Media
Flip chart dan leaflet.

E. Materi Penyuluhan
1. Pengertian Nyeri
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nyeri
3. Mengkaji Persepsi Nyeri
4. Cara-cara Mengatasi Nyeri Post Operasi
(Materi Terlampir)

F. Evaluasi
Evaluasi dilakukan secara lisan dengan memberikan pertanyaan :
1. Apa pengertian dari nyeri?
2. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri!
3. Sebutkan cara mengkaji persepsi nyeri!
4. Sebutkan cara-cara mengatasi nyeri post operasi!
G. Kegiatan Penyuluhan Kesehatan
Tahap Kegiatan Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Pasien dan
Hari/Tgl/Jam
Penyuluhan Kesehatan Kesehatan keluarga
Rabu, 13 April 1. Pembukaan Mengucapkan salam. Pasien dan keluarga
2016 (5 menit) membalas salam.
Pukul 09.30 Menyebutkan nama dan Pasien dan keluarga
10.00 WIB asal. menerima kehadiran
mahasiswa dengan baik.
Menjelaskan tujuan. Pasien dan keluarga
memahami tujuan
dengan baik.
Mengkaji tingkat Pasien dan keluarga
pengetahuan Pasien dan berpartisipasi dalam
keluarga tentang nyeri. diskusi awal.

2. Inti Menjelaskan tentang Pasien dan keluarga


(20 menit) konsep BPH serta mendengarkan dan
pengertian, faktor-faktor memperhatikan dengan
yang mempengaruhi nyeri, baik.
cara mengkaji persepsi
nyeri, cara-cara mengatasi
nyeri pada luka post
operasi. Pasien dan keluarga
Memberi kesempatan pada mengajukan pertanyaan.
pasien dan keluarga untuk
menanyakan hal-hal yang
kurang jelas.

3. Penutup Mengevaluasi tujuan Pasien dan keluarga


(5 menit) penyuluhan kesehatan. mampu
menjawab/menjelaskan
kembali.
Mengucapkan terima kasih Pasien dan keluarga
atas perhatian yang membalas salam.
diberikan dan memberi
salam penutup.
LAMPIRAN MATERI PENYULUHAN

Latar Belakang

Hiperplasia prostat jinak juga dikenal sebagai Benign Prostatic Hypertrophy (BPH)
adalah diagnosis histologis yang ditandai oleh proliferasi dari elemen seluler prostat. Akumulasi
seluler dan pembesaran kelenjar timbul dari proliferasi epitel dan stroma, gangguan diprogram
kematian sel (apoptosis), atau keduanya. (Detters, 2011).
BPH melibatkan unsur-unsur stroma dan epitel prostat yang timbul di zona periuretra
dan transisi dari kelenjar. Hiperplasia menyebabkan pembesaran prostat yang dapat
menyumbat aliran urin dari kandung kemih. BPH dianggap sebagai bagian normal dari proses
penuaan pada pria yang tergantung pada hormon testosteron dan dihidrotestosteron (DHT).
Diperkirakan 50% pria menunjukkan histopatologis BPH pada usia 60 tahun. Jumlah ini
meningkat menjadi 90% pada usia 85 tahun. (Detters, 2011).
Disfungsi berkemih yang dihasilkan dari pembesaran kelenjar prostat dan Bladder Outlet
Obstruction (BOO) disebut Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS). Ini juga sering disebut
sebagai prostatism, meskipun istilah ini jarang digunakan. Pernyataan ini tumpang tindih, tidak
semua laki-laki dengan BPH memiliki LUT dan tidak semua pria dengan LUT mengalami BPH.
Sekitar setengah dari pria yang didiagnosis dengan BPH histopatologi menunjukkan LUT berat.
(Detters, 2011).
Manifestasi klinis dari LUT meliputi frekuensi kencing, urgency (buang air kecil yang
tidak dapat ditahan), nocturia (bangun di malam hari untuk buang air kecil), atau polakisuria
(sensasi buang air kecil yang tidak puas). Komplikasi terjadi kurang umum tetapi mungkin dapat
terjadi acute urine retention (AUR), pengosongan kandung kemih terganggu, kebutuhan untuk
operasi korektif, gagal ginjal, infeksi saluran kemih berulang, batu kandung kemih, atau gross
hematuria. (Detters, 2011).
Volume prostat dapat meningkat dari waktu ke waktu pada pria dengan BPH. Selain itu
gejala dapat memburuk dari waktu ke waktu pada pria dengan BPH yang tidak diobati dan risiko
AUR sehingga kebutuhan untuk operasi korektif meningkat. (Detters, 2011).
Pasien yang tidak mengalami gejala tersebut harus mengalami kewaspadaan pada
komplikasi BPH. Pasien dengan LUT ringan dapat diobati dengan terapi medis pada awalnya.
Transurethral resection of the prostate (TURP) dianggap standar kriteria untuk menghilangkan
BOO yang disebabkan BPH. Namun, ada minat yang cukup besar dalam pengembangan terapi
minimal invasif untuk mencapai tujuan TURP sambil menghindari efek samping. (Detters, 2011)

1. Pengertian
BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria lebih
tua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran
urinarius ( Marilynn, E.D, 2000 ).
Benigne Prostat Hyperplasia adalah pembesaran atau hypertropi prostat. Kelenjar
prostat membesar, memanjang ke arah depan ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran
keluar urine, dapat menyebabkan hydronefrosis dan hydroureter (Dafid Arifiyanto, 2008).
Hiperplasia prostat benigna adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat (secara
umum pria lebih tua dari 50 tahun) menyebabkan berbagai derajat obstruksi urethral dan
pembatasan aliran urinarius (Doengoes, Morehouse & Geissler, 2000, hal 671).
Kelenjar prostat bila mengalami pembesaran, organ ini membuntu uretra Pars Prostatika
dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli (Poernomo, 2000, hal 74).

2. Etiologi
Penyebab hiperplasia prostat belum diketahui dengan pasti, ada beberapa pendapat
dan fakta yang menunjukan, ini berasal dan proses yang rumit dari androgen dan estrogen.
Dehidrotestosteron yang berasal dan testosteron dengan bantuan enzim 5-reduktase
diperkirakan sebagai mediator utama pertumbuhan prostat. Dalam sitoplasma sel prostat
ditemukan reseptor untuk dehidrotestosteron (DHT). Reseptor ini jumlahnya akan meningkat
dengan bantuan estrogen. DHT yang dibentuk kemudian akan berikatan dengan reseptor
membentuk DHT-Reseptor komplek. Kemudian masuk ke inti sel dan mempengaruhi RNA
untuk menyebabkan sintesis protein sehingga terjadi protiferasi sel. Adanya anggapan bahwa
sebagai dasar adanya gangguan keseimbangan hormon androgen dan estrogen, dengan
bertambahnya umur diketahui bahwa jumlah androgen berkurang sehingga terjadi peninggian
estrogen secara retatif. Diketahui estrogen mempengaruhi prostat bagian dalam (bagian
tengah, lobus lateralis dan lobus medius) hingga pada hiperestrinisme, bagian inilah yang
mengalami hiperplasia. (Hardjowidjoto,2000).
Menurut Basuki (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab prostat
hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat erat kaitannya
dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Beberapa hipotesis
yang diduga sebagai penyebab timbulnyahiperplasi prostat adalah :
1. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut.
2. Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan) sebagai pemicu pertumbuhan stroma
kelenjar prostat.
3. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang mati.
4. Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem sehingga
menyebabkan produksi selstroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan.

Pada umumnya dikemukakan beberapa teori yaitu :


Teori Sel Stem, sel baru biasanya tumbuh dari sel stem. Oleh karena suatu sebab
seperti faktor usia, gangguan keseimbangan hormon atau faktor pencetus lain. Maka sel stem
dapat berproliferasi dengancepat, sehingga terjadi hiperplasi kelenjar periuretral.
Teori kedua adalah teori Reawekering menyebutkan bahwa jaringan kembali
seperti perkembangan pada masa tingkat embriologi sehingga jaringan periuretral dapat
tumbuh lebih cepat dari jaringan sekitarnya.
Teori lain adalah teori keseimbangan hormonal yang menyebutkan bahwa dengan
bertanbahnya umur menyebabkan terjadinya produksi testoteron dan terjadinya konversi
testoteron menjadi estrogen. (Sjamsuhidayat, 2005).

3. Patofisiologi
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di sebelah inferior
buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat
normal pada orang dewasa 20gram. Menurut Mc Neal (1976) yang dikutip dan bukunya
Basuki (2000), membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona, antara lain zona perifer, zona
sentral, zona transisional, zona fibromuskuler anterior dan periuretra (Basuki, 2000).
Sjamsuhidajat (2005), menyebutkan bahwa pada usia lanjut akan terjadi perubahan
keseimbangan testosteron estrogen karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi
tertosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer. Basuki (2000) menjelaskan
bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormon tertosteron, yang di dalam sel-
sel kelenjar prostat hormon ini akan dirubahmenjadi dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan
enzim alfa reduktase. Dehidrotestosteron inilah yang secaralangsung memacu m-RNA di dalam
sel-sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan kelenjar prostat.
Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya perubahan pada
traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan patofisiologi yang disebabkan
pembesaran prostat sebenarnyadisebabkan oleh kombinasi resistensi uretra daerah prostat,
tonus trigonum dan leher vesika dan kekuatankontraksi detrusor. Secara garis besar, detrusor
dipersarafi oleh sistem parasimpatis, sedang trigonum, leher vesika dan prostat oleh sistem
simpatis. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadiresistensi yang
bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan mencoba mengatasi
keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat
detrusor kedalam kandung kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut
trahekulasi (buli-buli balok). Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan
mukosa yang kecil dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase penebalan
detrusor ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila keadaan berlanjut
maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi
untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda
gejala yaitu obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi
dengan cukup lama dan kuat sehingga kontraksi terputus-putus (mengganggu permulaan
miksi), miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran lemah, rasa belum puas setelah
miksi. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran prostat
akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksiwalaupun belum penuh atau
dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor (frekuensi miksi meningkat, nokturia, miksi sulit
ditahan/urgency, disuria).
Karena produksi urin terus terjadi, maka satu saat vesiko urinaria tidak mampu lagi
menampung urin,sehingga tekanan intravesikel lebih tinggi dari tekanan sfingter dan obstruksi
sehingga terjadi inkontinensia paradox (overflow incontinence). Retensi kronik menyebabkan
refluks vesiko ureter dan dilatasi. ureter danginjal, maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal
ginjal. Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik mengakibatkan
penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen
yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria akan
membentuk batu endapan yang menambal. Keluhan iritasi dan hematuria. Selain itu, stasis urin
dalam vesika urinariamenjadikan media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat
menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluksmenyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).
4. Tanda dan Gejala
Gambaran klinis pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu obstruksi
dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan cukup lama dan
kuat sehingga mengakibatkan: pancaran miksi melemah, rasa tidak puas sehabis miksi, kalau
mau miksi harus menunggu lama (hesitancy), harus mengejan (straining), kencing terputus-
putus (intermittency), dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan
inkontinen karena overflow.
Gejala iritasi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran
prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun belum penuh
atau dikatakan sebagai hipersenitivitasotot detrusor dengan tanda dan gejala antara lain: sering
miksi (frekwensi), terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturia), perasaan ingin miksi yang
mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria) (Mansjoer,2000)
Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium :
1. Stadium I
Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai habis.
2. Stadium II
Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak sampai
habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria dan menjadi
nocturia.
3. Stadium III
Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.
4. Stadium IV
Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine menetes secara periodik
(over flowin kontinen).

Menurut Smeltzer (2002) menyebutkan bahwa :


Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia, dorongan ingin
berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine yangturun dan harus mengejan
saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing (urine terus menerus setelah berkemih), retensi
urine akut. Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini :
1. Rectal Gradding
Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong :
a. Grade 0 : Penonjolan prostat 0-1 cm ke dalam rectum.
b. Grade 1 : Penonjolan prostat 1-2 cm ke dalam rectum.
c. Grade 2 : Penonjolan prostat 2-3 cm ke dalam rectum.
d. Grade 3 : Penonjolan prostat 3-4 cm ke dalam rectum.
e. Grade 4 : Penonjolan prostat 4-5 cm ke dalam rectum.

2. Clinical Gradding
Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur, disuruh kencing dahulu
kemudian dipasang kateter.
a. Normal : Tidak ada sisa
b. Grade I : sisa 0-50 cc
c. Grade II : sisa 50-150 cc
d. Grade III : sisa > 150 cc
e. Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing

5. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Soeparman (2000), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada pasien
dengan BPH adalah :a. Laboratorium
1. Sedimen Urin
Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran kemih.
2. Kultur Urin
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan sensitifitas
kumanterhadap beberapa antimikroba yang diujikan. b. Pencitraan1). Foto polos
abdomenMencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat dan kadang
menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari retensi urin.
3. IVP ( Intra Vena Pielografi)
Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau
hidronefrosis,memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada buli-buli.
4. Ultrasonografi ( trans abdominal dan trans rektal )
Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan
keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor.
5. Systocopy
Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan
melihat penonjolan prostat ke dalam rektum.
Menurut Doenges (1999), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada pasien
dengan BPH adalah :
1. Laboratorium
a. Sedimen Urin
Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran kemih.
b. Kultur Urin
Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan sensitifitas kuman
terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.

2. Pencitraan
a. Foto polos abdomen
Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat dan kadang
menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari retensi urin.
b. IVP (Intra Vena Pielografi)
Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis,
memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada buli-buli.
c. Ultrasonografi (trans abdominal dan trans rektal)
Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan keadaan
patologi lainnya seperti difertikel, tumor.
d. Systocopy
Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan melihat
penonjolan prostat ke dalam rektum.

6. Penatalaksanaan Medis
1. Watchfull Waiting
Tatalaksana pada penderita BPH saat ini tergantung pada LUTS yang diukur dengan
sistem skor IPSS. Pada pasien dengan skor ringan (IPSS 7 atau Madsen Iversen 9),
dilakukan watchful waiting atau observasi yang mencakup edukasi, reasuransi, kontrol periodik,
dan pengaturan gaya hidup. Bahkan bagi pasien dengan LUTS sedang yang tidak terlalu
terganggu dengan gejala LUTS yang dirasakan juga dapat memulai terapi dengan malakukan
watchful waiting. Saran yang diberikan antara lain :
a. Mengurangi minum setelah makan malam (mengurangi nokturia).
b. Menghindari obat dekongestan (parasimpatolitik).
c. Mengurangi minum kopi dan larang minum alkohol (mengurangi frekuensi miksi).
d. Setiap 3 bulan mengontrol keluhan.
2. Tatalaksana Invasif
Tatalaksana invasif pada BPH bertujuan untuk mengurangi jaringan adenoma. Indikasi
absolut untuk melakukan tatalaksana invasif :
a. Sisa kencing yang banyak
b. Infeksi saluran kemih berulang
c. Batu vesika
d. Hematuria makroskopil
e. Retensi urin berulang
f. Penurunan fungsi ginjal
Standar emas untuk tatalaksana invasif BPH adalah Trans Urethral Resection of the
Prostate (TURP) yang dilakukan untuk gejala sedang sampai berat, volume prostat kurang dari
90 gram, dan kondisi pasien memenuhi toleransi operasi. Komplikasi jangka pendek pada
TURP antara lain perdarahan, infeksi, hiponatremi, retensi karena bekuan darah. Komplikasi
jangka panjang TURP adalah striktur uretra, ejakulasi retrograd, dan impotensi.
Trans Urethral Incision of the Prostate (TUIP) dapat dilakukan apabila volume prostat
tidak begitu besar/ada kontraktur leher vesik / prostat fibrotik. Indikasi TUIP yaitu keluhan
sedang atau berat dan volume prostat tidak begitu besar.
Bila alat yang tersedia tidak memadai, maka dapat dilakukan operasi terbuka dengan
teknik transvesikal atau retropubik. Karena morbiditas dan mortalitas yang tinggi yang
ditimbulkannya, operasi sejenis ini hanya dilakukan apabila ditemukan pula batu vesika yang
tidak bisa dipecah dengan litotriptor / divertikel yang besar (sekaligus diverkulektomi) / volume
prostat lebih dari 100cc.(Sjamsuhidajat, 2004)

7. Terapi Obat dan Implikasi Keperawatan


1. Medical Treatment
Ada beberapa jenis pengobatan medikamentosa pada BPH yaitu :
a. Penghambat adrenergik alfa
Obat ini menghambat reseptor alfa pada otot polos di trigonum, leher vesika, prostat, dan
kapsul prostat, sehingga terjadi relaksasi, penurunan tekanan di uretra pars prostatika,
sehingga meringankan obstruksi. Perbaikan gejala timbul dengan cepat, contohnya Prazosin,
Doxazosin, Terazosin, Afluzosin, atau Tamsulosin. Efek samping yang dapat timbul adalah
karena penurunan tekanan darah sehingga pasien bisa mengeluh pusing, capek, hidung
tersumbat, dan lemah.
b. Penghambat enzim 5 reduktase
Obat ini menghambat kerja enzim 5 reduktase sehingga testosteron tidak diubah menjadi
DHT, konsentrasi DHT dalam prostat menurun, sehingga sintesis protein terhambat. Perbaikan
gejala baru muncul setelah 6 bulan, dan efek sampingnya antara lain melemahkan libido, dan
menurunkan nilai PSA.
c. Phytoterapi
Obat dari tumbuhan herbal ini mengandung Hypoxis Rooperis, Pygeum Africanum, Urtica Sp,
Sabal Serulla, Curcubita pepo, populus temula, Echinacea pupurea, dan Secale cereale.
Banyak mekanisme kerja yang belum jelas diketahui, namun PPygeum Africanum diduga
mempengaruhi kerja Growth Factor terutama b-FGF dan EGF. Efek dari obat lain yaitu anti-
estrogen, anti-androgen, menurunkan sex binding hormon globulin, hambat proliferasi sel
prostat, pengaruhi metabolisme prostaglandin, anti-inflamasi, dan menurunkan tonus leher
vesika.(Sjamsuhidajat, 2004)

8. Perawatan diri pasca Operasi

Batasi aktivitas terlalu berat setelah operasi


Makan- makanan bergizi dengan tinggi kalori dan protein (Nasi, Ikan, Ayam, Telur, Susu,
dsb)
( Kurangi minum kopi, tidak boleh minum alcohol )
Mengurangi minum setelah makan malam
Mengurangi mengejan saat BAB
Minum air putih 2,5 3 liter per hari
Segera BAK saat kandung kemih sudah terasa penuh
Rutin minum obat
Kontrol rutin ke dokter
Segera lapor ke dokter atau RS jika ditemukan 1. tanda- tanda urine berwarna keruh dan
berbau busuk
1. Nyeri saat berkemih
2. Demah
3. Penurunan jumlah air kencing
9. Komplikasi BPH

Infeksi saluran kemih


Hemorroid atau wasir
Hematuri atau kencing berdarah
Batu Kandung Kemih
Gagal Ginjal

Nyeri Post operasi BPH

A. Pengertian Nyeri
1. Nyeri adalah suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau perasaan yang
bisa menimbulkan ketegangan (Alimul, 2006).
2. Nyeri adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan
fisik maupun dari serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik,
fisiologis, dan emosional (Alimul, 2006).

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nyeri


1. Usia
Usia merupakan variabel yang penting yang mempengaruhi nyeri khususnya anak-anak
dan lansia. Pada kognitif tidak mampu mengingat penjelasan tentang nyeri atau
mengasosiasikan nyeri sebagai pengalaman yang dapat terjadi di berbagai situasi. Nyeri
bukan merupakan bagian dari proses penuaan yang tidak dapat dihindari, karena lansia
telah hidup lebih lama mereka kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami kondisi
patologis yang menyertai nyeri. Kemampuan klien lansia untuk menginterpretasikan
nyeri dapat mengalami komplikasi dengan keadaan berbagai penyakit disertai gejala
samar-samar yang mungkin mengenai bagian tubuh yang sama.

2. Jenis Kelamin
Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam berespon
terhadap nyeri. Toleransi nyeri sejak lama telah menjaadi subjek penelitian yang
melibatkan pria dan wanita. Akan tetapi toleransi terhadap nyeri dipengaruhi oleh faktor-
faktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap individu, tanpa memperhatikan
jenis kelamin.
3. Kebudayaan
Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri. Ada
perbedaan makna dan sikap yang dikaitkan dengan nyeri dikaitkan dengan nyeri
diberbagai kelompok budaya. Suatu pemahaman tentang nyeri dari segi makna budaya
akan membantu perawat dalam merancang asuhan keperawatan yang relevan untuk
klien yang mengalami nyeri.

4. Makna nyeri
Makna seseorang yang dikaitkan dengan nyeri mempengaruhi pengalaman nyeri dan
cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri. Individu akan mempersepsikan nyeri
dengan cara berbeda-beda, apabila nyeri tersebut memberikan kesan ancaman, suatu
kehilangan dan tantangan. Misalnya seorang wanita yang bersalin akan
mempersepsikan nyeri berbeda dengan seorang wanita yang mengalami nyeri akibat
cedera karena pukulan pasangannya.

5. Perhatian
Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat sedangkan upaya
pengalihan atau distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun. Konsep ini
merupakan salah satu konsep yang perawat terapkan di berbagai terapi untuk
menghilangkan nyeri seperti relaksasi, teknik imajinasi terbimbing dan massage.
Dengan memfokuskan perhatian dan konsentrasi klien pada stimulus yang lain, maka
perawaat menempatkan nyeri pada kesadaran yang perifer.

6. Ansietas
Ansietas sering kali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat menimbulkan
perasaaan ansietas. Individu yang sehat secara emosional biasanya lebih mampu
mentoleransi nyeri sedang hingga berat daripada individu yang memiliki status
emosional yang kurang stabil. Klien yang mengalami cedera atau menderita penyakit
kritis, sering kali mengalami kesulitan mengontrol lingkungan dan perawatan diri dapat
menimbulkan tingkat ansietas yang tinggi. Nyeri yang tidak kunjung hilang sering kali
menyebabkan psikosis dan gangguan kepribadian.

7. Keletihan
Keletihan meningkatkan persepsi nyeri rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri
semakin intensif dan menurunkan kemampuan koping. Apabila keletihan disertai
kesulitan tidur, maka persepsi nyeri bahkan dapat terasa lebh berat. Nyeri seringkali
lebih berkurang setelah individu mengalami suatu periode tiddur yang lelap dibanding
pada akhir hari yang melelahkan

8. Pengalaman Sebelumnya
Pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan
menerima nyeri dengan lebih mudah pada masa yang akan datang. Apabila seorang
klien tidak pernah mengalami nyeri maka persepsi pertama nyeri dapat mengganggu
koping terhadap nyeri.

9. Gaya koping
Pengalaman nyeri dapat menjadi suatu pengalaman yang membuat merasa kesepian.
Apabila klien mengalami nyeri di keadaan perawatan kesehatan, seperti di rumah sakit
klien merasa tidak berdaya dengan rasa sepi itu. Hal yang sering terjadi adalah klien
merasa kehilangan kontrol terhadap lingkungan atau kehilangan kontrol terhadap hasil
akhir dari peristiwa-peristiwa yang terjadi. Nyeri dapat menyebabkan ketidakmampuan,
baik sebagian maupun keseluruhan/total.

10. Dukungan keluarga dan sosial


Faktor lain yang bermakna mempengaruhi respon nyeri adalah kehadiran orang-orang
terdekat klien dan bagaimana sikap mereka terhadap klien. Individuu dari kelompok
sosial budaya yang berbeda memiliki harapan yang berbeda tentang orang tempat
mereka menumpahkan keluhan tentang nyeri.

C. Mengkaji Persepsi Nyeri


Alat alat pengkajian nyeri dapat digunakan untuk mengkaji persepsi nyeri seseorang.
Agar alat alat pengkajian nyeri dapat bermanfaat, alat tersebut harus memenuhi
kriteria berikut :
1. Mudah dimengerti dan digunakan
2. Memerlukan sedikit upaya pada pihak pasien
3. Mudah dinilai
4. Sensitif terhadap perubahan kecil terhadap intensitas nyeri
Deskripsi verbal tentang nyeri
Individu merupakan penilai terbaik dari nyerinya yang dialaminya dan karenannya harus
diminta untuk menggambarkan dan membuat tingkatnya. Informasi yang diperlukan harus
menggambarkan nyeri individual dalam beberapa cara antara lain :
1. Intensitas nyeri
Individu dapat diminta untuk membuat tingkatan nyeri pada skala verbal ( misalnya
tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri hebat atau sangat hebat ; atau 0-10 : 0 = tidak ada
nyeri, 10 = nyeri sangat hebat )
2. Karakteristik nyeri, termasuk letak (untuk area dimana nyeri pada berbagai organ),
durasi (menit,jam,hari,bulan), irama (terus menerus, hilang timbul,periode
bertambah dan berkurangnya intensitas atau keberadaan dari nyeri), dan kualitas
(nyeri seperti ditusuk, seperti terbakar, sakit, nyeri seperti digencet)
3. Faktor-faktor yang meredakan nyeri (misalnya gerakan, kurang bergerak,
pengerahan tenaga, istirahat, obat-obat bebas) dan apa yang dipercaya pasien
dapat membantu mengatasi nyerinya.
4. Efek nyeri terhadap aktifitas kehidupan sehari- hari (misalnya tidur, nafsu makan,
konsentrasi, interaksi dengan orang lain, gerakan fisik, bekerja, dan aktivitas-
aktivitas santai). Nyeri akut sering berkaitan dengan ansietas dan nyeri kronis
dengan depresi.
5. Kekhawatiran individu tentang nyeri. Dapat meliputi berbagai masalah yang luas,
seperti beban ekonomi, prognosis, pengaruh terhadap peran dan perubahan citra
diri.
6. Skala analogi visual (VAS). Skala analogi visual sangat berguna dalam mengkaji
intensitas nyeri. Skala tersebut adalah berbentuk garis horizontal sepanjang 10
cm, dan ujungnya mengindikasikan nyeri yang berat. Pasien diminta untuk
menunjuk titik pada garis yang menunjukan letak nyeri terjadi disepanjang rentang
tersebut. Ujung kiri biasanya menandakan tidak ada atau tidak nyeri sedangkan
ujung kanan biasa menandakan berat atau nyeri yang paling buruk untuk menilai
hasil,sebuah penggaris diletakkan disepanjang garisdan jarak yang dibuat pasien
pada garis dari tidak ada nyeri diukur dan ditulis dalam centimeter.

D. Cara-cara Mengatasi Nyeri Post Operasi


1. Mengurangi faktor yang dapat menambah nyeri
a. Ketidakpercayaan
Pengakuan perawat akan rasa nyeri yang diderita pasien dapat mengurangi nyeri.
Hal ini dapat dilakukan melalui pernyataan verbal, mendengarkan dengan penuh
perhatian mengenai keluhan nyeri pasien, dan mengatakan kepada pasien bahwa
perawat mengkaji rasa nyeri pasien agar dapat lebih memahami tentang nyeri.
b. Kesalahpahaman
Mengurangi kesalahpahaman pasien tentang nyerinya akan mengurangi nyeri. Hal
ini dilakukan dengan memberitahu pasien bahwa nyeri yang dialami bersifat
individual dan hanya pasien yang tahu secara pasti tentang nyerinya.
c. Ketakutan
Memberikan informasi yang tepat dapat mengurangi ketakutan pasien dengan
menganjurkan pasien untuk mengekspresikan bagaimana mereka menangani nyeri.
d. Kelelahan
Kelelahan dapat memperberat nyeri. Untuk mengatasinya, kembangkan pola
aktivitas yang dapat memberikan istirahat yang cukup.
e. Kebosanan
Kebosanan dapat meningkatkan rasa nyeri. Untuk mengurangi nyeri dapat
digunakan pengalih perhatian yang bersifat terapeutik. Beberapa teknik pengalih
perhatian adalah bernapas pelan dan berirama, memijat secara perlahan, menyanyi
berirama, aktif mendengarkan musik, membayangkan hal-hal yang menyenangkan,
dan sebagainya.

2. Memodifikasi stimulus nyeri dengan menggunakan teknik-teknik seperti:


a. Teknik latihan pengalihan
Menonton TV
Berbincang-bincang dengan orang lain
Mendengarkan musik
b. Teknik relaksasi
Menganjurkan pasien untuk menarik napas
Mengisi paru-paru dengan udara, menghembuskannya secara perlahan,
melemaskan otot-otot tangan, kaki, perut, dan punggung, serta mengulangi hal
yang sama sambil berkonsentrasi hingga didapat rasa nyaman, tenang, dan
rileks.
c. Stimulasi kulit
Menggosok secara halus pada daerah nyeri
Menggosok punggung
Menggunakan air hangat dan dingin
Memijat dengan air mengalir
3. Pemberian analgetik, yang dilakukan mengganggu atau memblok transmisi stimulasi
agar terjadi perubahan persepsi dengan cara mengurangi kortikal terhadap nyeri. Jenis
analgetiknya adalah narkotika dan bukan narkotika. Jenis narkotika digunakan untuk
menurunkan tekanan darah dan menimbulkan depresi pada fungsi vital, seperti
respirasi. Jenis bukan narkotika yang paling banyak dikenal di masyarakat adalah
Aspirin, Asetaminofen, dan bahan antiinflamasi non steroid. Golongan Aspirin
(Asetysalicylic acid) digunakan untuk memblok rangsangan pada sentral dan perifer,
kemungkinan menghambat sintesis prostaglandin yang memiliki khasiat setelah 15-20
menit dengan efek puncak obat sekitar 1-2 hours. Aspirin juga menghambat agregasi
trombosit dan antagonis lemah terhadap vitamin K, sehingga dapat meningkatkan
waktu perdarahan dan protombin jika diberikan dalam dosis yang besar. Golongan
Asetaminofen sama dengan Aspirin, tetapi tidak menimbulkan perubahan kadar
protombin dan jenis Non Steroid Anti Inflammatory Drugs (NSAID), juga dapat
menghambat prostaglandin dan dosis yang rendah dapat berfungsi sebagai analgetik.
Kelompok obat ini meliputi Ibuprofen, Mefenamic acid, Fenoprofen, Naprofen,
Zomepirac dan lainnya.
4. Pemberian stimulator listrik, yaitu dengan menghambat atau mengubah stimulasi nyeri
yang kurang dirasakan. Bentuk stimulator metode stimulus listrik meliputi:
Transcutaneus electrical stimulator (TENS) digunakan untuk mengontrol stimulus
manual daerah nyeri tertentu dengan menempatkan beberapa electrode di luar.
Percutaneus implanted spinal cord epidural stimulator merupakan alat stimulator
sumsum tulang belakang dan epidural yang diimplan di bawah kulit dengan
transistor timah penerima yang dimasukkan ke dalam kulit pada daerah epidural
dan kolumna vertebrae.
Stimulator kolumna vertebrae, sebuah stimulator dengan stimulus alat penerima
transistor dicangkok melalui kantong kulit intra klavikula atau abdomen, yaitu
electrode ditanam melalui pembedahan pada dorsum sumsum tulang belakang.
5. Terapi Relaksasi yang bias diterapkan
Terapi atau tekhnik nafas dalam guna mengurangi atau mengontrol rasa nyeri
yang di rasa datang tiba-tiba.
Terapi pengalihan nyeri dengan cara mengalihkan focus bukan pada rasa nyeri,
melainkan pada fokus yang lain seperti berbincang-bincang, menonton televise,
mendengarkan musik, atau hal lain sehingga dapat mengalihkan perhatian dari
nyeri.
Tekhnik pemijitan atau pengurutan secara halus pada bagian yang dirasa nyeri,
dengan cara mengurut secara melingkar di sekitar area luka yang di rasa nyeri
dengan sentuhan lembut.

DAFTAR PUSTAKA

Alimul, A., A,. A. (2006). Pengantar kebutuhan dasar manusia 1. Jakarta: Salemba Medika.

Basuki, Purnomo. (2000). Dasar-Dasar Urologi, Perpustakaan Nasional RI, Katalog Dalam
Terbitan (KTD): Jakarta.

Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman
Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Hardjowidjoto, S. (2000). Benigna Prostat Hiperplasi. Airlangga University Press: Surabaya
Potter, P.,A & Perry, A.,G.(2005). Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep,proses,dan
praktik (edisi 4) Jakarta : EGC.

Sjamsuhidayat, (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.Jakarta: EGC


Smeltzer, Suzanne C, Brenda G Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth. Edisi 8 Vol 2. Jakarta : EGC.
DAFTAR HADIR

PENYULUHAN MANAJEMEN NYERI PADA LUKA POST OPERASI

1. Penyaji 1 : Amirullah
2. Penyaji 2 : Riyan Aji anggana
No. Nama Pasien/Keluarga Paraf

Malang, 13 April 2016


Mengetahui,
Pembimbing Akademik,
Pembimbing Ruangan,

( Ns. Ni Putu Kamaryati, S. Kep. )


( I Nyoman Merta )
NIR. 99034
NIP. 140287827