Anda di halaman 1dari 7

49

BAB VI

PEMBAHASAN

Pendidikan merupakan suatu alat yang akan membina dan mendorong

seseorang untuk berfikir secara rasional maupun logis, dapat meningkatkan kesadaran

untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya (seefektif dan seefisien mungkin) dengan

menyerap banyak pengalaman mengenai keahlian dan keterampilan sehingga menjadi

cepat tanggap terhadap gejala-gejala sosial yang terjadi,( Soekanto,2003).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui

panca indera manusia yaitu indera pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa dan

raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2007). Perilaku sehat adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif

untuk memelihara dan mencegah resiko terjadinya penyakit serta melindungi diri dari

ancaman penyakit (Wahyu, 2009).

6.1 Hubungan Pendidikan Ibu dengan Perawatan Pasca Episiotomi Perineum oleh
Ibu Nifas
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa dari 46 responden yang
bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Waled dan di lakukan tindakan
episiotomi perineum dari tanggal 29 April sampai dengan 22 Mei 2014 sebanyak
46 responden dengan pendidikan SD 26 orang SMP 9 orang SMA 8 orang dan
Perguruan Tinggi 3 orang.
50

Berdasarkan tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 46 responden terdapat

hampir sebagian besar responden melaksanakan perawatan perineum dengan

baik yaitu 31 orang (67,4%) dan yang melaksanakan perawatan episiotomi

perineum cukup yaitu 11 orang (23,4%) sedangkan yang melaksanakan

perawatan episiotomi perineum kurang yaitu 4 orang (8,7%).

Perawatan luka perineum pada ibu nifas akan lebih baik bila

ditunjang dengan tingginya tingkat pendidikan. Berdasarkan tabel 5,3

pendidikan ibu nifas sebagian besar berpendidikan akhir SD yaitu 26

responden (56,5%) dan berdasarkan uji analisis didapatkan bahwa nilai hasil

P value = 0,00 Karena P value <0,05 maka ada hubungan yang bermakna Ho

ditolak dan H1 diterima, jadi dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara

pendidikan ibu dengan perawatan pasca episiotomi perineum pada masa nifas.

Menurut Koentjoroningrat yang dikutip oleh Nursalam dan Siti Pariani

(2002), makin tinggi pendidikan seseorang, makin mudah menerima

informasi, sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki dan

sebaliknya bila pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan

sikap seseorang terhadap nilai-nilai baru yang diperkenalkan. Tingkat

pendidikan yang tinggi akan mempermudah seseorang menerima informasi,

sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki khususnya mengenai

perawatan luka perineum.

Selain faktor pendidikan yang mempengaruhi perawatan pasca

episiotomi perineum pada ibu nifas ada juga faktor penganggu seperti
51

lingkungan misalnya terdapat orang yang di panuti seperti orang tua, kelurga

atau paraji yang lebih dipatuhi semua cara perawatan dan sarannya

dibandingkan dengan cara perwatan dan saran yang diberikan oleh Dokter

atau Bidan, faktor penganggu lainnya adalah obat herbal dan yang paling

penting adaalh ibu nifas itu sendiri yang tidak mematuhi instruksi yang

diberikan oleh Dokter dan Bidan.

6.2 Kesembuhan Luka Episiotomi Perineum

Berdasarkan tabel 5.3 hasil identifikasi kesembuhan luka perineum pada ibu

nifas dari 46 responden terbagi menjadi 3 kategori yaitu responden yang

kesembuhan episiotomi perineum baik yaitu 30 orang (65,2%), kesembuhan

episiotomi perineum cukup 11 orang (23,9%) dan kesembuhan episiotomi

perineum kurang baik yaitu 5 orang (10,9 %). Masih adanya kesembuhan luka

perineum yang tidak baik yaitu tidak berbentuk jaringan parut minimal dalam

waktu 6 hari setelah melahirkan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kecepatan

penyembuhan tergantung pada letak dan kedalaman insisi. Kebanyakan

episiotomi sembuh sebelum minggu keenam pospartum ( Persisi H, 1995).

Selain itu kesembuhan luka perineum dipengaruhi juga oleh beberapa faktor

yaitu faktor internal antara lain usia, dimana penyembuhan luka lebih cepat

terjadi pada usia muda dari pada orang tua. Orang yang sudah lanjut usianya

tidak dapat mentolerir stres seperti trauma jaringan atau infeksi. Proses

penyembuhan pasca episiotomi sama seperti jahitan oprasi lain. Perhatikan

tanda-tanda infeksi pada luka episiotomi perineum seperti nyeri, merah, bengkak,
52

atau keluar cairan tidak lazim (keluar nanah atau darah). Penyembuhan luka

biasanya berlangsung 2-3 minggu setelah melahirkan (Maryunani,2009)

Jenis benang yang digunakanpun sangat berpengaruh dalam kecepatan

kesembuhan luka episiotomi perineum. Di Rumah Sakit Umum Daerah Waled

benanag yang digunakan untuk menjahit episiotomi perineum yaitu dengan

Chromic catgut 2,0. Manfaat dari Chromic catgut 2,0.dapat diserap oleh tubuh,

penyerapannya lebih lama yaitu sampai 20 hari. Chromic catgut 2,0 berguna

untuk penjahitan luka yang dianggap belum merapat dalam waktu 10 hari dan

bila mobilitas harus segera dilakukan. Catgut kromik adalah benang catgut yang

telah dikombinasi dengan garam-garaman krom. Fungsi garam-garaman krom

adalah menunda proses proteolisis yang menyebabkan catgut dapat

direabsorpsi,sehingga memperpanjang waktu agar benang dapat dipertahankan

dalam jaringan bersama-sama selama proses penyembuhan.

6.1 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan pada penelitian ini disebabkan oleh beberapa faktor,

diantaranya:

1. Peneliti

a. Waktu yang diberikan selama penelitian kurang cukup dikarenakan Saya

harus menunggu ibu nifas pada hari ke 7 baru dilakukan penelitian.

2. Responden
53

a. Ada beberapa responden yang tidak mau untuk dilakukan pemeriksaan

episiotomi perineum secara visual walaupun sudah didampingi dengan

Ibu Bidan atau Ibu Kader dengan alasan ibu nifas malu terhadap peneliti.

3. Instrumen/ Alat

a. Data alamat Pasien

Data tentang alamat pasien yang kurang lengkap misalnya nama atau

nomor blok, nomor telepon hal ini lah yang menjadi kendala dalam

penelitian untuk mencari alamt rumah ibu nifas selaku responden


54

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian Hubungan Pendidikan Ibu Dengan Perawatan Pasca

Episiotomi Perineum Di Rumah Ibu Nifas, Yang Bersalin Di Rumah Sakit Umum

Daerah Waled dapat disimpulkan bahwa :

1. Sebagian besar cara perawatan perineum pada ibu nifas yang bersalin di Rumah

Sakit Umum Daerah Waled pada tanggal 29 April 22 Mei tahun 2014 dalam

kategori baik 31 orang (67,4%), kategori cukup yaitu 11 orang (23,9%) dan

kategori kurang yaitu 4 orang (8,7%).

2. Hasil didapatkan bahwa nilai hasil P value = 0,00 Karena P value <0,05 maka

ada hubungan yang bermakna Ho ditolak dan H1 diterima, jadi dapat

disimpulkan bahwa ada hubungan antara pendidikan ibu dengan perawatan pasca

episiotomi perineum pada masa nifas.

B. SARAN

1. Bagi profesi kesehatan

Lebih meningkatkan kemampuan dalam memberikan pelayanan kesehatan

dapat lebih luas jangkauannya, termasuk pelayana kesehatan pada ibu nifas,

misalnya dengan lebih meningkatkan pendidikan kesehatan melalui pemberian

penyuluhan tentang perawatan luka episiotomi perineum dan lebih meningkatkan

pada komunikasi, informasi dan edukasi (KIE).


55

2. Bagi Responden

Meningkatkan peran aktif ibu nifas untuk mendapatkan informasi kesehatan

terutama tentang perawatan luka episiotomi perineum sehingga ibu nifas

termotivasi untuk melakukan perawatan luka episiotomi perineum dengan benar

dan didapatkan tingkat kesembuhan luka perineum yang semakin baik lagi.

3. Bagi Peneliti selanjutnya

A. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang Hubungan Pendidikan

Ibu Dengan Perawatan Pasca Episiotomi Perineum Di Rumah Ibu

Nifas dan diperluas hubungannya dengan variabel lain, karena dalam

penelitian ini waktunya cukup singkat sehingga didapatkan responden

yang kurang memenuhi.

B. Untuk peneliti selanjutnya diharapakan dapat melakukan penelitian

tentang faktor-faktor yang mempengeruhi kesembuhan luka episiotomi

perineum pada Ibu Nifas dengan tingkat pendidikan ibu yang tinggi.