Anda di halaman 1dari 13

UJI BANDING EFEKTIVITAS MICONAZOLE DAN KETOCONAZOLE 1%

DENGAN ZINC PYRITHIONE 1% SECARA IN VITRO TERHADAP


PERTUMBUHAN Pityrosporum ovale

TUGAS FARMAKOLOGI III

Oleh :

Gabrilla Nida Dusturiya

NPM : 12700401

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA

2016
KATA PENGANTAR

Rasa puji syukur kami sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.Karena

atas berkat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan

yang diharapkan. Dalam makalah ini saya membahas obat yang bernama

MICONAZOLE DAN KETOKONAZOLE.

Dalam mengerjakan makalah ini, untuk itu saya ucapkan rasa terima kasih

yang sedalam-dalamnya. Saya sampaikan kepada :

Lusiani Tjandra, SSI,Apt,M.Kes yang telah bersedia memberikan

bimbingan, arahan, tugas, koreksi, dan saran

Demikian makalah ini saya susun dan semoga dapat bermanfaat bagi para

pembaca. Saya menyadari dalam pembuatan makalah ini banyak ditemukan

kesalahan dan kekurangan, untuk itu saya mohon kritik dan saran guna membangun

dan menyempurnakan makalah ini. Terimakasih.

Surabaya, 30 Desember 2016

Penyusun,
DAFTAR ISI

Judul........................................................................................................... i

Kata Pengantar.......................................................................................... ii

Daftar Isi..................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi.........................................................................................
2. Rumus Struktur.............................................................................
3. Farmakolgi Umum........................................................................
4. Farmakokinetik.............................................................................
5. Farmakodinamik .........................................................................
6. Efek Samping..............................................................................

BAB III PEMBAHASAN

BAB IV PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................
BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Ketoconazole adalah obat antijamur per oral yang bekerja sistemik,

yang penyerapan obatnya berbeda-beda tiap individu. Obat ini berguna dalam

menekan aktivitas pertmbuhan berbagai jamur. Penyerapan obat ini akan

terhambat jika pH lambung bersifat basa. Sehingga tidak dianjurkan konsumsi

obat ini bersama antasida atau obat mag. Sedangan pengaruh makanan tidak

terlalu berpengaruh dalam penyerapan obat ini, namun sebaiknya penggunaan

obat ini diminum sesudah makan, karena asama lambung akan dihasilkan

lebih banyak dalam lambung sesaat sesudah makan. Sehingga, obat lebih

mudah diserap oleh usus. Jika bersamaan dengan antasida, diberi jarak

minimal setengah jam sebelum atau sesudah mengonsumsiantasida.

Ketoconazole adalah obat antifungi sintetik yang digunakan untuk

mencegah dan mengobati kulit dari infeksi jamur, terutama pada pasien

infeksi jamur dari penyakit AIDS. secara okmersial obat ini digunakan

sebagai bahan anti-dandruff (anti ketombe) pada shampoo, salep kulit, dan

tablet. Contoh produk yang mengandung obat ini adalah Johnson and

Johnson. Ketokonazol biasanya diresepkan untuk infeksi topikal seperti

athletes foot, kurap, kandidiasis (infeksi ragi atau jamur), dan gatal atlet.

Obat ini tidak dianjurkan bagi penderita gangguan jantung. Karena reaksinya

dengan beberapa obat seperti terfenadin (antihistamin/antialergi).


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Miconazole nitrat merupakan anti jamur azol turunan imidazole. Obat

ini bekerja dengan menghambat bioseintesis egosterol pada membran sel

jamur yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada dinding sel jamur,

sehingga terjadi peningkatan permeabilitas membran, dan pada akhirnya

menyebabkan sel jamur kehilangan nutrisi selulernya. Obat ini biasanya

bersifat fungistatik dan dapat bersifat fungsidal pada konsentrasi yang tinggi

atau pada jamur yang rentan terhadap obat ini seperti Candida. Obat ini

memiliki aktivitas anti jamur dengan spektrum luas mencakup banyak jamur

termasuk dermatofit dan ragi seperti Candida albicans, Candida

guilliermondii, Candida tropicalis, Epidermophyton floccosum, Microsporum

canis, Trichophyton mentagrophytes, dan Trichophyton rubrum. Selain itu

obat ini juga memiliki aktivitas bakterisidal terhadap bakteri gram positif

seperti Staphylococcus aureus. Obat ini dapat mengalami resistensi silang.


2. Rumus Struktur

Rumus molekul : C18H14CI4N20

Nama kimia :5,6,9,17,19,21-Heksahidroksi-23-metoksi-

2,4,12,16,18,20,22-heptametil-8-[N-(4-metil-1-

piperazinil)formimidoil]-2,7-

(epoksipentadeka[1,11,13]trienimino]nafto[2,1-b]furan-

1,11-(2H)-dion 21-asetat [13292-46-1]

Berat molekul : 822,95

3. Farmakologi Umum

Miconazole adalah obat yang digunakan untuk mengobati berbagai

infeksi jamur pada kulit seperti (panu, kurap, dan kaki atlet), dan infeksi jamur

pada mulut dan vagina. Selain itu, juga bisa digunakan sebagai obat sariawan

pada bayi. Obat ini termasuk golongan imidazole yang bekerja dengan cara

mengubah permeabilitas dinding sel jamur. Miconazole mengikat fosfolipid

dalam membran sel dan menghambat biosintesis ergosterol dan sterol lain
yang diperlukan untuk produksi membran sel. Hal ini menyebabkan kematian

sel melalui hilangnya unsur intraseluler.

Obat ini dipasarkan dalam berbagai bentuk sediaan seperti miconazole

cream, tablet vagina, atau troche / tablet hisap untuk infeksi jamur pada

tenggorokan. Sediaan oral diperoleh hanya dengan resep dokter, sedangkan

sediaan topikal seperti cream untuk jamur kulit bisa diperoleh tanpa resep

dokter.

4. Farmakokinetik

Ketokonazol merupakan anti jamur sistemik per oral yang

penyerapannya bervariasi antar individu , obat ini menghasilkan kadar

plasma yang cukup untuk menekan aktivitas berbagai jenis jamur

penyerapan melalui saluran cerna akan berkurang pada pasien dengan pH

lambung yang tinggi. Pada pemberiaan bersama antagonis H2 atau bersamaan

antasida.

Obat ini ditemukan dalam urin, kelenjar lemak, liur, juga pada kulit

yang mengalami infeksi, dan cairan vagina, Kadar Ketokonazol dalam cairan

otak sangat kecil, Dalam plasma 84%, ketokonazol berikatan dengan protein

plasma terutama albumin.

Berikatan dengan eritrosit 15%, dalam bentuk bebas 1%. Metabolis

lintas utama, dan sebagian besar Ketokonazol Diekskresikan bersama cairan


empedu ke lumen usus dan hanya sebagian kecil saja Dikeluarkan bersama

Urin.

5. Farmakodinamik

Ketokonazol aktif sebagai anti jamur baik sistemik maupun

nonsistemik efektif terhadap Candida, Coccidiodes immitis, Cryptococcus

neoformans, H.capsulatum, B.dermatitis, Aspergillus dan Sporothrix spp.

6. Efek Samping

Efek toksik ketokonazol lebih ringan :

Mual dan muntah adalah efek samping yang paling sering dijumpai keadaan

ini akan lebih ringan bila obat ditelan bersama makanan. Efek samping yang

jarang : sakit kepala, Vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, pruritus, parestisia,

gusi berdarah, erupsi kulit trombositopenia. Obat ini dapat meningkatkan

aktivitas enzim hati untuk sementara waktu .

Efek samping meconazole yaitu :

Pada kebanyakan orang, penggunaan obat ini tidak menimbulkan efek

samping yang serius. Efek samping yang biasa ditimbulkan antara lain, rasa

terbakar, tersengat, bengkak, iritasi, kemerahan, benjolan seperti-jerawat, dan

pengelupasan pada kulit yang diobati. Beberapa reaksi alergi yang pernah

dilaporkan, namun sangat jarang terjadi antara lain: ruam, gatal / bengkak

(terutama wajah / lidah / tenggorokan), pusing berat, kesulitan bernapas.


BAB III

PEBAHASAN

Mikonazol Nitrat diindikasikan untuk infeksi kulit yang disebabkan

olehdermatofit atau khamir dan fungi (kutu air di telapak kaki atau athletes foot) .

Karena memiliki khasiatantibakteri terhadap bakteri gram positif, maka Mikonazol

Nitrat dapat digunakanuntuk mengobati penyakit fungi yang mengalami infeksi

sekunder bakteri.

Untuk dermatofitosis sedang atau berat yang mengenai kulit kepala, telapak

dan kukusebaiknya dipakai griseofulvin.Dosis dan pemakaian mikonazol adalah

dioleskan pada kulit yang terkenafungi 2 kali sehari. Gosokkan krim dengan jari

sampai krim menyerap ke dalamkulit. Lamanya terapi bervariasi antara 2-6 minggu

tergantung dari tempat dan berat ringannya penyakit. Agar penyakitnya tidak kambuh

lagi, pengobatan harus dilanjutkan 10 hari setelah semua gejala hilang.

Kontraindikasi mikonazol adalahtidak boleh digunakan pada pasien yang

alergi terhadap Mikonazol atau bahantambahan yang terdapat pada krim. Peringatan

dan perhatian dari obat ini yaitu bila terjadi reaksi sensitifitas atau iritasi, obat harus

dihentikan,dan penggunaan secara topical hanya sejumlah kecil Mikonazol Nitrat yan

diabsorpsi, namun penggunaan pada wanita hamil perlu diawasi. Penyakit panu

mengakibatkan gangguan pigmentasi.

Penelitian ini menguji efektivitas antara ketokonazol 1% dengan zinc

pyrithione 1% secara in vitro dalam menghambat pertumbuhan Pityrosporum ovale


dengan melihat terbentuk atau tidak terbentuknya zona hambat pada media

Sabouraud Dekstrosa Agar. Pada penelitian ini setiap media Sabouraud Dekstrosa

Agar dibuat dua sumuran sehingga akan didapatkan rata-rata untuk masing-masing

zona hambat. Pengujian dalam dua kali ulangan (dua sumuran) dimaksudkan agar

menghasilkan kesimpulan reliabel, konsisten, bukan hanya karena faktor peluang

(Murti, 2010).

Hasil penelitian ini, pada 30 cawan petri media Sabouraud Dekstrosa Agar

yang terdiri dari : (1) 10 cawan petri media Sabouraud Dekstrosa Agar yang berisi

biakan Pityrosporum ovale yang diberi perlakuan dengan menambahkan ketokonazol

1% didapatkan hasil adanya zona bening pada 10 media. Efektivitas ketokonazol 1%

pada penelitian ini mempunyai nilai rata-rata daya hambat 5,125 cm, nilai daya

hambat terbesar 5,65 cm, dan nilai daya hambat terkecil 4,5 cm ; (2) 10 cawan petri

media Sabouraud Dekstrosa.

Agar yang berisi biakan Pityrosporum ovale yang diberi perlakuan dengan

menambahkan zinc pyrithione 1% didapatkan hasil adanya zona bening pada 10

media. Efektivitas zinc pyrithione 1% pada penelitian ini mempunyai nilai rata-rata

daya hambat 3,96 cm, nilai daya hambat terbesar 4,65 cm, dan nilai daya hambat

terkecil 3,15 cm ; (3) 10 cawan petri media Sabouraud Hal tersebut menunjukkan

bahwa Pityrosporum ovale dapat hidup pada media Sabouraud Dekstrosa Agar yang

dibuat pada penelitian ini dan efektivitas antijamur yang digunakan pada penelitian

ini merupakan kekuatan dari efektivitas dari antijamur tersebut.


BAB IV

KESIMPULAN

Dalam penelitian Pierard et al., 2003 (in vivo) dilakukan secara acak untuk

membandingkan efektivitas sampo ketokonazol 2% dengan sampo zinc pyrithione

1%, diperoleh data statistik secara signifikan menunjukkan bahwa ketokonazol lebih

efektif dengan subyek menunjukkan 73% perbaikan dan sampo zinc pyrithione 1%

dengan subyek menunjukkan 67% perbaikan. Pemberian sediaan ketokonazol secara

topikal dapat ditoleransi dengan baik sedangkan efek samping yang tidak diinginkan

jarang terjadi. Keberadaan ketokonazol di keratin stratum komeum kulit hanya dapat

tereliminasi oleh pergantian korneosit stratum komeum Hal ini diduga sebagai

penyebab ketokonazol dalam hal rendahnya angka kekambuhan akibat rekolonisasi

Pityrosporum ovale di kulit kepala (Pierrard et al., 2002)

Sedangkan sediaan zinc pyrithione yang setelah pengolesan sampo pada kulit

kepala, partikel zinc pyrithione akan dideposisikan di kulit kepala dan tidak hilang

hanya dengan dibilas dengan air akan tetapi secara bertahap akan berkurang

jumlahnya sampai dua atau tiga hari setelah pengolesan. Deposisi zinc pyrithione

tergantung pada konsentrasi sampo, lama kontak dengan kulit, pH sampo dan asal

deterjen pada formulasi sampo (Loden et al., 2002).


DAFTAR PUSTAKA

Bergbrant, I. M. 1995. Seborrhoeic dermatitis and Pityrosporum yeasts. Department of


Dermatology, University of Gothenburg, Sahlgrenska Hospital, Gotborg, Sweden.

Brooks, G. F., Butel, J. S., Morse, S. A. 2007. Mik robiologi kedokteran. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Brown, R. G., Burns, T. 2007. Lecture Notes on Dermatology Edisi
Kesembilan. Jakarta : Erlangga.

Burns, T., Breathnach, S., Cox, N., Griffiths, C. 2010. Rook s Textbook of Dematology.
Oxford : Bla

Dahlan, M. S. 2009. Statistik untuk Kedok teran dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika.
Hal 85.

Dawson, T. L. 2007. Malassezia globosa dan restricta: Terobosan Pemahaman tentang


Etiologi dan Pengobatan Ketombe dan Seborrheic Dermatitis melalui Whole-Genome
Analisis. Jurnal Prosiding Simposium Dermatologi Investigasi (2007) 12, 15-19. The Procter
& Gamble Company, C incinnati, Ohio, Amerika Serikat.

Djuanda, A., Hamzah, M., Aisah, S. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.

Gupta, A. K., Bluhm, R., Summerbel, R. 2002. Pityriasis versicolor. J Eur Acad
Dermatolckwell Scientific publication.

Indranarum, T., Suyoso, S. 2001. Penatalaksanaan Tinea Kapitis. Berkala Ilmu penyakit Kulit
dan Kelamin vol.13 No. 1 April 2001. Hal 30-35.

Katzung, B. G. 2004. Basic & Clinical Pharmacology. Singapore : The McGrawHill


Companies. Hal 656.

Kaur, I. P., Kakkar, S. 2010. Topical delivery of antifungal agents. University Institute of
Pharmaceutical Sciences, Panjab University, Chandigarh, India.

Kerr, K., Darcy, T., Henry, J., Mizoguchi, H., Schwartz, J. R., Morrall, S., Filloon, T.,
Wimalasena, R., Fadayel, G., Mills, K. J. 2011. Epidermal changes associated with
symptomatic resolution of dandruff: biomarkers of scalp health. Int J Dermatol