Anda di halaman 1dari 16

Bahan Ajar

Fisika

ELASTISITAS & HUKUM HOOKE

SMA KELAS XI
SEMESTER GASAL
2

Pernahkah kamu berpikir bahan apakah yang dipakai untuk membangun gedung pencakar
langit? Pada kenyataannya angin atau gempa dapat menyebabkan goncangan pada gedung hingga
beberapa meter. Mengapa gedung tinggi seperti itu dapat dikategorikan aman?
Dalam membangun gedung pencakar langit, hal pertama yang harus diperhatikan adalah rancangan
gedungnya, di sini arsitek dan insinyur teknik sipil bekerja sama untuk membuat rancangan gedung
yang kuat dan stabil. Perbandingan antara tinggi dan lebar harus diperhatikan agar gedung stabil. Titik
berat masing-masing lantai pada gedung juga harus berada di daerah tengah lantai agar gedung stabil
dan tidak goyang berlebihan yang menggangu kenyamanan penghuninya.
Setelah kita mempunyai rancangan
gedung yang diinginkan, kita juga harus
membuat fondasi yang kuat. Apakah kalian
tahu sebenarnya tempat parkir di basement itu
apa? Yap, kalian benar itu adalah juga
bagian dari fondasi gedung. Kadang-kadang
fondasi basement dilengkapi dengan fondasi
tiang bor di bawahnya. Fondasi adalah
pengikat gedung dengan tanah. Semakin kuat
fondasinya, gedung tersebut akan semakin
stabil terhadap goncangan dan gaya horizontal
seperti angin dan gempa bumi.
Selain itu yang tidak kalah penting
adalah pemilihan material untuk gedung
pencakar langit tentu harus kuat. Coba
banyangkan jika ada rangka yang kurang kuat
sehingga mudah runtuh, bisa dipastikan umur
gedung tersebut sangat singkat. Supaya gedung
tidak runtuh ketika ada gempa bumi, struktur
atau rangkanya tidak boleh terlalu kaku atau getas. Keruntuhan getas gedung dapat dibayangkan
seperti batang korek api kayu yang kaku dan mudah dipatahkan.
Sekarang bayangkan karet. Karet memiliki elastisitas yang tinggi sehingga tidak mudah untuk
dipatahkan atau dipotong. Tetapi tentunya kita tidak mungkin membangun gedung yang sangat elastis
seperti itu karena gedung akan bergoyang saat ada angin atau gempa bumi yang menerpanya. Nah,
jadi gedung yang tinggi harus cukup kaku tapi tidak terlalu kaku dan cukup elastis atau fleksibel, agar
tidak mudah patah atau roboh.
Untuk membangun gedung seperti itu, dibutuhkan kerangka dan dinding yang kuat. Kerangka
terdiri dari balok-balok mendatar dan kolom-kolom (tiang-tiang) vertikal yang dihubungkan satu sama
3

lainnya menjadi satu struktur yang cukup kaku dan kuat. Biasanya rangka dan dinding ini terbuat dari
beton dengan tulangan baja. Bisa juga rangka terdiri dari kombinasi rangka baja yang dibalut dengan
beton dan dihubungkan dengan dinding beton. Rangka baja sangat kuat tapi tidak cukup kaku
(fleksibel) sedangkan beton sangat kaku, sehingga kombinasi keduanya akan menghasilkan kerangka
yang ideal. Bila rangka masih fleksibel, maka rangka dihubungkan dengan dinding yang cukup kaku
dan kuat yang terbuat dari beton, agar kombinasinya memiliki kekakuan dan kekuatan yang
dibutuhkan.

PETA KONSEP

Elastisitas Zat Padat


terdiri atas

dijelaskan
dengan
Tegangan Regangan Modulus Modulus Modulus
(stress) (strain ) Young Geser Bulk

Hukum Hooke
untuk
menganalisis

Susunan Pegas

terdiri atas

Susunan Pegas Seri Susunan Pegas Paralalel


4

Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan dapat


menganalisis pengaruh gaya terhadap sifat elastisitas suatu
bahan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendahuluan

P
ada bab sebelumnya anda telah mempelajari konsep tetang benda
tegar. Masih ingatkah anda apa yang dimaksud dengan benda tegar
? benda tegar merupakan benda yang tidak mengalami perubahan
bentuk ketika pada benda tersebut dikerjakan suatu gaya. Seperti halnya
partikel, benda tegar juga merupakan benda ideal. Pada kenyataannya
setiap benda dapat mengalami perubahan bentuk dan ukuran (deformasi)
ketika pada benda tersebut dikenai gaya luar. Akan tetapi, ketika suatu
gaya luar dikerjakan pada suatu benda, gaya-gaya internal pada benda
cenderung mempertahankan bentuk dan ukuran benda dengan melawan
gaya-gaya luar yang dikerjakan pada benda. Kecenderungan gaya-gaya
internal inilah yang dideskripsikan sebagai konsep elastisitas, yang terdiri
atas tegangan tarik, regangan, modulus Young, modulus geser, dan
modulus Bulk.
5

A. Elastisitas

1. Pengertian Elastisitas
Semasa kecil kita mungkin pernah bermain karet gelang, tanah liat, atau plastisin. Saat kita
menarik karet gelang dengan simpangan yang kecil, karet semakin panjang. Jika tarikan dihilangkan,
maka bentuk karet kembali seperti semula. Lain halnya dengan tanah liat, tanah liat saat ditekan akan
berubah bentuk. Jika tekanan dihilangkan, ternyata bentuk tanah liat tidak kembali seperti semula.
Sifat sebuah benda yang dapat kembali ke bentuk semula disebut elastis. Benda-benda yang
mempunyai elastisitas atau sifat elastis seperti karet gelang, dan pegas disebut benda elastis. Lalu
dapatkah kamu mendeskripsikan sifat benda plastis beserta contoh benda plastis lainnya?
Berdasarkan pengalaman sehari-hari, bila kita menarik karet gelang dengan simpangan yang
kecil (karet gelang diberi gaya yang kecil), maka karet gelang dapat kembali ke bentuk semula.
Namun, bila karet gelang ditarik dengan gaya yang besar, maka bentuknya tidak kembali seperti
semula. Pada keadaan terakhir ini, karet gelang sudah tidak bersifat elastis. Jadi, sifat elastis zat padat
memiliki batas tertentu. Pegas atau benda-benda lain yang dikenai gaya besar akan hilang sifat
elastisitasnya. Gaya pada benda elastis akan menimbulkan tegangan, sehingga benda bertambah
panjang.

Kegiatan LKPD 1
Berdasarkan pengertian benda elastis dan plastis, lakukanlah secara diskusi
kelompok pendataan terhadap benda-benda padat yang ada di lingkungan
sekitar anda baik di rumah ataupun di sekolah. Klasisifikasikan benda-benda
tersebut ke dalam benda elastis atau benda plastis.

2. Tegangan (Stress)
Apakah yang dimaksud dengan tegangan tarik (stress) ? Mari perhatikan gambar 2.1 !
L

F F
A A

Gambar 2.1 Bahan yang diberi gaya pada kedua ujungnya


6

Gambar 2.1 memperlihatkan suatu batang yang luasnya A. Setiap ujung batang tersebut
mengalami gaya tarik sebesar F yang sama besar dan berlawanan arah. Batang itu dikatakan
mengalami tegangan. Tarikan oleh gaya F akan tersebar merata pada luas penampang A. Sehingga
tegangan dapat didefenisikan perbandingan besar gaya F terhadap luas penampang bidang A.
Secara matematis tegangan dapat dinyatakan :

dimana :
(sigma) = Tegangan (stress) (N/m2 atau pascal)
F = Gaya tarik/tekan (N)
A = Luas Penampang (m2)

Ayo Diskusi dan Kulik Literatur !


Anda telah mempelajari mengenai tegangan (stress). Diskusikanlah dengan
mencari dari berbagai bahan bacaan materi apakah benda padat yang diberikan
tarikan saja dikatakan memiliki tegangan, bagaimana dengan benda yang
ditekan apakah mengalami tekanan? Berikan alasan anda.

L0
L
3. Regangan (strain)
Gaya yang bekerja pada benda padat
tentunya akan menyebabkan benda padat
F F
tersebut mengalami deformasi (perubahan
L
bentuk dan ukuran).
Mari perhatikan gambar 2.2 ! Gambar 2.2 Proses bahan mengalami regangan

Pada gambar 2.2 meggambarkan sebuah batang yang mengalami regangan akibat gaya tarik
F. panjang batang mula-mula adalah L0. Setelah mendapat gaya tarik F batang tersebut berubah
panjangnya menjadi L. dengan demikian batang tersebut mendapatkan pertambahan panjang sebesar
L, dengan L = L Lo. Oleh karena itu regangan didefenisikan sebagai perbandingan antara
pertambahan panjang dengan panjang benda mula-mula. Secara matematis regangan dinyatakan :
7

L
=L
0

dimana :
(epsilon) = Regangan (strain)
L = pertambahan panjang benda (m)
L0 = panjang mula-mula benda (m)
4. Modulus Young
Setelah anda mempelajari konsep tegangan dan regangan ketika suatu benda padat yang
berbentuk padat ditarik pada kedua ujungnya mari kita temukan hubungan keduanya.
Cobalah anda menggantungkan sebuah beban pada beberapa bahan, misalnya pada kawat dan karet.
Apa yang terjadi? Kedua bahan tersebut akan bertambah panjang. Tetapi perpanjangan diantara
keduanya pasti berbeda. Pertambahan panjang pada kawat mungkin tidak begitu nampak, tetapi
perpanjangan pada karet dapat dengan mudah dilihat. Perbedaan ini disebabkan kawat mempunyai
modulus elastisitas atau modulus Young lebih besar daripada karet.
Modulus elastisitas/modulus Young merupakan angka yang menggambarkan tingkat
elastisitas suatu bahan. Semakin tinggi modulus elastisitasnya, artinya bahan tersebut semakin kaku.
Ini berarti untuk menekan bahan yang memiliki modulus elastisitas/modulus Young besar
membutuhkan gaya yang besar.
Ketika anda menggantungkan beban pada kawat dan karet, kedua bahan ini tampak lebih
tegang dari keadaan semula atau bahan mengalami tegangan. Selain itu, kawat dan karet mengalami
perubahan panjang atau bahan mengalami regangan. Ini berarti modulus elastisitas/modulus Young
berkaitan dengan tegangan dan regangan. Dengan demikian modulus elastisitas/modulus Young dapat
didefenisikan hasil bagi antara tegangan dengan regangan. Secara matematis modulus
elastisitas/modulus Young dapat didefenisikan :

F
Tegangan A
E= =
Regangan L
L0

. L0
E=
A. L

dimana:
E = Modulus elastisitas/modulus Young (N/m2 atau pascal)
8

Contoh Soal
Sebuah bahan elastis silinder dengan panjang 20 cm dan luas penampang 5
cm2 dalam keadaan tergantung bebas. Pada penampang yang bebas ditarik
dengan gaya 2 Newton sehingga beban bertambah panjang 1 cm.
Hitunglah :
a. Tegangan (stress) dari bahan elastis tersebut.
b. Regangan (strain) dari bahan elastis tersebut.
c. Modulus bahan elastis tersebut.
Penyelesaian
Diketahui : L0 = 20 cm = 0,2 m
A = 5 cm2 = 5 x 10-4 m2
F=2N
L = 1 cm = 0,01 m
Ditanya : a. =?
b. =?
c. E =?
Jawab :
L
a. = b. = L c. E =
0

2 0,01 4.000
= = = 0,05 E= = 8 x104 N 2
5 x 104 0,2 0,05 m
= 4.000 N 2
m

5. Modulus geser
Perubahan bentuk lain yang mungkin terjadi ketika
suatu benda dikenai gaya adalah perubahan geser (shear
deformation). Mari perhatikan gambar 2.3 ! Gambar tersebut
menunjukkan sebuah gaya F yang dikerjakan sejajar
permukaan atas pada sebuah lemari. Akibatnya pada bidang
bawah lemari bekerja gaya yang sama besar dan berlawanan
arah (-F). dalam keadaan demikian lemari mengalami
modulus geser. Dalam hal ini, ukuran yang menyatakan Gambar 2.3 Lemari yang mengalami perubahan geser.
Diunduh dari http://philschatz.com/physics-book/resources/Figure_06_03_06a.jpg
elastisitas suatu benda atau bahan padat terhadap perubahan
geser dinamakan modulus geser (shear modulus).
9

Secara matematis besarnya modulus geser dinyatakan :



Tegangan gese
S= =
x
L0


=

dimana :
S = Modulus geser (N/m2 atau pascal) A = Luas bidang tekan (m2)
P = Tekanan (N/m2 atau pascal) x = pergeseran yang dikenai gaya (m)
L0 = Tinggi bahan (m)
6. Modulus Bulk
Sekarang coba anda tinjau apabila pada sebuah benda padat yang
ditekan dari segala arah seperti pada gambar. Jika tekanan dari semua
arah yang diberikan sama besar, maka zat padat tersebut akan mengalami
perubahan ukuran (volume) tanpa berubah bentuk. Secara fisis, ukuran
yang menyatakan elasitisitas suatu bahan padat (termasuk cair dan gas)
terhadap volume dinyatakan modulus Bulk.
Secara matematis modulus Bulk suatu benda dengan persamaan :
Gambar 2.4 Benda padat mengalami perubahan
volume tanpa perubahan bentuk ketika mengalami
gaya yang sama besar dari semua arah.
http://philschatz.com/physics-book/resources/Figure_06_03_09a.jpg


= =

0


=

0
dimana:
B = modulus Bulk (N/m2 atau pascal) V0 = Volume awal (m3)
P = Tekanan (N/m2 atau pascal) V = Volume akhir (m3)

Makna fisis dari tanda (-) pada persamaan modulus Bulk bermakna tekanan (P) akan
menyebabkan penurunan volume (V bernilai negatif) dan sebaliknya penurunan tekanan (P bernilai
negatif) akan menyebabkan kenaikan volume (V bernilai positif)
10

Tabel Nilai modulus beberapa bahan


Bahan Modulus Young (N/m2) Modulus Geser (N/m2) Modulus Bulk (N/m2)
Air - - 0,21 x 1010
Raksa - - 2,8 x 1010
Tungsten 35 x 1010 14 x 1010 20 x 1010
Baja 20 x 1010 8,4 x 1010 6 x 1010
Tembaga 11 x 1010 4,2 x 1010 14 x 1010
Kuningan 9,1 x 1010 3,5 x 1010 6,1 x 1010
Aluminium 7,0 x 1010 2,5 x 1010 7,0 x 1010
Kaca 6,5 7,8 x 1010 2,6 3,2 x 1010 5,0 5,5 x 1010
Kuarsa 5,6 x 1010 2,6 x 1010 2,8 x 1010

B. Hukum Hooke

Penggunaan pegas banyak anda jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Shockbreaker sepeda
motor/mobil, springbed, neraca pegas dan masih banyak lagi alat-alat yang menggunakan sifat elastis
pegas. Ketika anda duduk di atas sepeda motor, pegas pada shockbreaker akan memendek. Begitu
pula ketika anda menggantungkan benda di neraca pegas, maka pegas di dalamnya akan memanjang.
Kalau jeli mengamati, anda akan menemukan bahwa sebuah beban dengan berat tertentu akan
menyebabkan pertambahan panjang yang berbeda untuk dua jenis pegas yang berbeda. Perbedaan
pertambahan panjang ini dibabkan karakteristik pegas yang dinyatakan sebagai konstanta pegas.
Konstanta pegas menggambarkan kekakuan pegas. Semakin besar konstanta yang dimiliki pegas,
pegas semakin kaku dan semakin sulit diregangkan atau ditekan. Begitu pula sebaliknya, jika
konstanta pegas kecil, pegas tersebut semakin mudah diregangkan atau ditekan. Maka dengan
demikian, jika konstanta pegas semakin besar maka gaya yang diberikan untuk meregangkan atau
menekannya juga semakin besar.

Kegiatan LKPD 2
Nahuntuk mengetahui hubungan antara besar gaya dengan pertambahan
panjang pegas dan konstanta pegas lakukanlah kegiatan percobaan Hukum
Hooke.
11

Dengan melakukan kegiatan LKPD 2 anda


F telah menyelidiki hubungan antara gaya yang
bekerja pada pegas dan pertambahan pegas.
Hubungan antara kedua besaran tersebut telah
diselidiki oleh ilmuwan bernama Hooke. Anda
L telah menemukan bahwa gaya yang bekerja pada

pegas sebanding dengan pertambahan panjang
pegas (F L). Hubungan ini dinyatakan dengan
Gambar 2.5 grafik hubungan gaya (F) dengan grafik pada gambar
perpanjang pegas (L)

Secara matematis, hubungan kesebandingan antara besar gaya dan pertambahan pegas ini
mengharuskan adanya konsanta, yaitu konstanta pegas (k) yang secara fisis mewakili sifat pegas
ketika dikenai gaya. Berdasarkan grafik F = f(L), nilai konstanta pegas sama dengan nilai grafik

kemiringan F = f(L), yaitu =
= tan di beberapa buku fisika, pertambahan perubahan
panjang pegas ini dinyatakan dengan x sehingga hubungan antara gaya, konstanta pegas dan
pertambahan panjang pegas dapat dinyatakan sebagai berikut :

= .

dimana:
k = Tetapan pegas (N/m)

Persamaan ini merupakan representasi matematis dari pernyataan Robert Hooke. Hooke
merupakan seorang ilmuwan Inggris yang mengemukakan Jika gaya tidak melampaui batas
elastisitas pegas, maka pertambahan panjang pegas berbanding lurus dengan gaya tariknya.
Apakah yang terjadi pada pegas ketika masa beban pada kegiatan LKPD 2 terus ditambah ?
apakah pegas akan tetap elastis? Gaya tarik yang dikerjakan pada benda dapat mengubah bentuk dan
ukuran benda. Jika gaya yang dikerjakan pada benda lebih kecil dari batas elastisitas benda maka
benda akan kembali ke bentuk atau ukuran semula ketika gaya itu dihilangkan. Akan tetapi jika gaya
yang diberikan lebih besar dari batas elastisitas, maka benda berubah secara permanen.
12

Ayo Diskusi dan Kulik Literatur !


Dibawah ini terdapat gambar 2.6 grafik hubungan antara gaya F dengan
pertambahan panjang pada sebuah kawat. Jelaskanlah arti (dari titik A sampai
titik E) dari grafik tersebut dan presentasikan hasilnya di depan teman-teman anda.

Berdasarkan persamaan tegangan dan regangan, maka hubungan modulus Young (E) dengan
gaya (F) untuk benda elastis selain pegas dapat ditentukan dengan :

F = k x (hukum Hooke)

F
A FL0
E= = L = ( Modulus Young)
AL
L0

AE
Sehingga = L
L0
AE
k= (tetapan gaya bahan elastisitas)
L0

Contoh Soal
Sebuah pegas dalam keadaan tergantung bebas mempunyai panjang 10 cm.
Pada ujung bebas digantungkan beban 200 gram hingga panjang pegas
menjadi 11 cm. jika g = 10 m/s2, berapakah konstanta pegas tersebut ?
Penyelesaian
Diketahui : x0= 10 cm = 0,1 m
m = 200 gr = 0,2 kg
x = 11 cm = 0,11 m
13

g = 10 m/s2
Ditanya : k =?
Jawab :
x = x x0
x = 0,11 0,1 = 0,01 m
F m.g 2.10
k = x = = 0,01
x

2
k = 0,01 = 200 Nm

C. Susunan Pegas

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan beberapa pegas digunakan secara
bersamaan, sebagai contoh spring bed menggunakan pegas dalam jumlah banyak yang disusun secara
paralel. Jika beberapa pegas disusun sedimikian rupa, bagaimakah konstanta pegas gabungannya ?
secara garis besar susunan pegas ada dua macam yaitu susunan seri dan susunan paralel. Mari kita
bahas susunan pegas satu-persatu.

1. Susunan seri
Susunan seri dapat kita buat dengan cara menyambung pegas dengan pegas lain, sehingga
pegas gabungan semakin panjang. Dari pelajaran sebelumnya telah dipelajari, jika pegas ditarik
dengan suatu gaya, pegas akan bertambah panjang sebanding dengan gaya yang menariknya.
Bagaimanakah pertambahan panjang pada susunan seri pegas, jika ditarik dengan gaya F ? jika
susunan seri pegas diberi gaya F, setiap pegas akan bertambah panjang. Bukan hanya pegas yang
dekat dengan penyebabnya saja yang bertambah panjang, tetapi semua pegas akan bertambah
panjang. Pada susunan pegas seri gaya yang diberikan beban akan sama pada setiap pegas. Jadi, kita
mendapatkan persamaan :
FS = F1 = F2 = . . .= Fn

Dimana :
FS = Besar gaya pada rangkaian seri (N)
F1, F2 = Besar gaya pada pegas 1, 2

Gambar 2.6 Susunan Pegas Seri


14

Gaya F yang diberikan pada susunan pegas seri menyebabkan setiap pegas bertambah
panjang, maka pertambahan susunan seri pegas merupakan jumlah dari pertambahan setiap pegas.

xS = x1 + x2 ++ xn
dimana :
xs = Pertambahan pegas
x1, x2 = Pertambahan panjang pegas 1, 2

Anda telah mendapatkan hubungan antara x dan F dalam persamaan berikut :

Dari kedua persamaan tersebut, kita mendapatkan persamaan :

1 2
= + + +
1 2

Karena F1 = F2 = = Fn maka persamaan tersebut menjadi :

1 1 1 1
= + + +
1 2

2. Susunan paralel
Susunan pegas paralel dapat kita temukan pada springbed, shockbreaker sepeda motor atau
alat olahraga yang digunakan untuk melatih otot. Ketika kita menarik alat olahraga tersebut dengan
posisi mendatar, pertambahan panjang semua pegas sama besar. Sehingga jika beberapa pegas
disusun paralel, kita mendapatkan persamaan :

xp = x1 = x2 == xn
Dimana :
xp = Pertambahan panjang pegas susunan paralel
x1, x2,= Pertambahan panjang pegas 1, 2,

Gambar 2.7 Susunan Pegas Paralel


15

Pada saat anda menarik alat tersebut, gaya yang anda berikan terbagi menjadi dua untuk
setiap pegas. Ini berarti jika rangkaian paralel terdiri dari beberapa tegas, gaya total yang anda
lakukan dapat dituliskan dengan persamaan berikut :
FP = F1 = F2 = . . .= Fn

Dengan menstubtitusikan persamaan F = kx , kita mendapatkan persamaan :


kPxP = k1x1 + k2x2++ kn
kPx = k1x + k2x ++kn

sehingga kita mendapatkan persamaan konstanta pegas susunan paralel sebagai berikut :

kP = k1 + k2 ++kn

kP = konstanta pegas susunan paralel (N/m)

Contoh Soal
Dua buah pegas identik memiliki konstanta pegas 600 N/m. tentukanlah
konstanta pegas pengganti dari kedua pegas tersebut jika :
a. Disusun seri
b. Disusun paralel
Penyelesaian
Diketahui : k1 = k2 = 600 N/m
Ditanya : a. ks =?
b. kp =?
Jawab :
1 1 1
a. ks
=k +k b. kP = k1 + k2
1 2
1 1 1
ks
= 600 + 600 kP = 600 + 600
600
ks = = 300 Nm kP = 1.200 N/m
2

Tugas
Selidikilah dari berbagai literatur tentang elastisitas sarang laba-laba
Selidikilah dari berbagai literatur tentang elastisitas tulang
Buatlah hasil penyelidikanmu dalam bentuk makalah
16

Daftar Pustaka

Buku Fisika SMA Untuk SMA/MA Kelompok Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam Penerbit
Yrama W

http://philschatz.com/physics-book/contents/m42081.html
http://www.cyberphysics.co.uk/graphics/diagrams/SHM/springs_series.png
http://anakbertanya.com/bagaimana-caranya-membangun-gedung-yang-sangat-tinggi/
https://tekno.tempo.co/read/news/2012/02/03/095381584/ilmuwan-ungkap-rahasia-kekuatan-jaring-
laba-laba