Anda di halaman 1dari 48

BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL APRIL 2017

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN REFERAT

UNIVERSITAS TADULAKO

SINUSITIS JAMUR INVASIF AKUT

OLEH :

Amelia Angelin Ligianto, S.Ked

N 111 15 045

PEMBIMBING KLINIK:

dr. Christian Lopo, Sp.THT-KL

DIBUAT DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN


KLINIK

BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2017

1
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Amelia Angelin Ligianto

Stambuk : N 111 15 045

Judul Referat : Sinusitis Jamur Invasif Akut

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Fakultas Kedokteran
Universitas Tadulako.

Palu, April 2017

Mengetahui,

Pembimbing Klinik Co Assisten

dr. Christian Lopo, Sp.THT-KL Amelia Angelin Ligianto, S.Ked

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................. .... i

LEMBAR PENGESAHAN............................................................................ ii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1

BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG............................... 1


1. Anatomi Hidung .................................................................
2. Vaskularisasi Hidung..........................................................
3. Inervasi Hidung. .................................................................
4. Fisiologi Hidung. ................................................................
B. ANATOMI DAN FISIOLOGI SINUS PARANASALIS .......

1. Anatomi Hidung ..................................................................


2. Vaskularisasi Hidung. ..........................................................
3. Inervasi Hidung.. .................................................................
4. Fisiologi Hidung ..................................................................
BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI

A. DEFINISI............................................................................... . 1
B. EPIDEMIOLOGI .................................................................... 1
C. FAKTOR PREDISPOSISI ...................................................... 11
D. ETIOLOGI .............................................................................. 12
E. PATOFISIOLOGI ................................................................... 13
F. GAMBARAN KLINIS ........................................................... 15
G. GAMBARAN RADIOLOGI .................................................. 15
H. DIAGNOSIS ........................................................................... 16

3
I. DIAGNOSIS BANDING ........................................................ 16
J. PENATALAKSANAAN ........................................................ 19
K. KOMPLIKASI ........................................................................ 19
L. PROGNOSIS ........................................................................... 20

BAB III KESIMPULAN............................................................................ 21

ALGORITMA.......... ...................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 23

BAB I
PENDAHULUAN
Sinusitis jamur didefinisikan sebagai suatu spektrum dari kondisi
patologik yang berkaitan dengan inflamasi sinus paranasal akibat adanya jamur.
Infeksi sinus oleh jamur jarang terdiagnosis karena sering luput dari perhatian.
Penyakit ini mempunyai gejala yang mirip dengan sinusitis kronik yang
disebabkan oleh bakteri, adakalanya gejala yang timbul non-spesifik, bahkan
tanpa gejala. Jamur adalah organisme seperti tumbuhan yang tidak mempunyai
klorofil yang cukup. Jamur mengasorbsi makanan dari bahan organik yang telah
mati. Jamur tidak hanya mengasorbsi makanan dari benda mati saja, tetapi
kadang-kadang jamur dapat mengasorbsi makanan dari organisme yang masih
hidup. Hal inilah yang disebut sebagai infeksi jamur.1,2
Jamur termasuk organ saprofitik yang dapat berubah menjadi patogen bila
kondisi sinus tidak normal misalnya karena ada obstruksi muara sinus dan
gangguan ventilasi. Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Sesuai
anatomi sinus yang terkena, dapat dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis
etmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sfenoid. Bila mengenai beberapa sinus
disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut
pansinusitis. Yang paling sering ditemukan ialah sinusitis maksila dan sinusitis
etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid lebih jarang. Pada anak hanya sinus
maksila dan sinus etmoid yang berkembang, sedangkan sinus frontal dan sinus
sfenoid belum. Agen etiologi sinusitis dapat berupa virus, bakteri, atau jamur.3,4

4
Sinusitis jamur adalah infeksi jamur pada sinus paranasal, suatu keadaan
yang tidak jarang ditemukan. Angka kejadian meningkatnya pemakaian antibiotic,
kortikosteroid, obatobat imunosupresan, dan radioterapi. Kondisi yang
merupakan predisposisi antara lain diabetes mellitus, netropenia, penyakit AIDS,
dan perawatan yang lama di rumah sakit. Jenis jamur yang paling sering
menyebabkan infeksi sinus paranasal adalah spesies Aspergillus dan Candida.5
Para ahli membagi sinusitis jamur sebagai bentuk invasive dan non
invasive. Sinusitis invasive terbagi menjadi invasive akut fulminan dan invasive
kronik indolen. 5
Sinusitis jamur invasive akut, ada invasi jamur ke jaringan dan vascular.
Sering terjadi pada pasien diabetes yang tidak terkontrol, pasien dengan
imunosupresi seperti leukemia atau neutropenia, pemakaian steroid lama dan
terapi imunosupresan. Imunitas yang rendah dan invasi pembuluh darah
menyebabkan penyebaran jamur sangat cepat dan dapat merusak dinding sinus,
jaringan orbita dan sinus kavernosus. Di kavum nasi, mukosa berwarna biru
kehitaman, dan ada mukosa konka atau septum yang nekrotik. Sering berakhir
dengan kematian. 5

5
BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG


1. Anatomi hidung
Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Hidung
bagian luar menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas
struktur hidung luar dibedakan atas tiga bagian, yang paling atas adalah
kubah tulang yang tak dapat digerakkan, di bawahnya terdapat kubah
kartilago yang sedikit dapat digerakkan dan yang paling bawah adalah
lobulus hidung yang mudah digerakkan. Bagian puncak hidung disebut
apeks. Agak ke atas dan belakang dari apeks disebut batang hidung
(dorsum nasi), yang berlanjut sampai ke pangkal hidung dan menyatu
dengan dahi. Yang disebut kolumela membranosa mulai dari apeks, yaitu
diposterior bagian tengah pinggir dan terletak sebelah distal dari kartilago
septum. Titik pertemuan kolumela dengan bibir atas dikenal sebagai dasar
hidung. Disini bagian bibir atas membentuk cekungan dangkal memanjang
dari atas kebawah yang disebut filtrum. Sebelah menyebelh kolumela
adalah nares anterior atau nostril (lubang hidung) kanan dan kiri, sebelah
laterosuperior dibatasi oleh ala nasi dan sebelah inferior oleh dasar
hidung.2,3,4

6
Gambar 1. Hidung Bagian Luar 1
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang
dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi
untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Bagian hidug dalam
terdiri atas struktur yang membentang dari os internum disebelah anterior
hingga koana di posterior, yang memisahkan rongga hidung dari
nasofaring. Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari
depan kebelakang, dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengahnya
menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi
bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares
posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.
Bagian dari kavum nasi yang letaknyasesuai ala nasi, tepat dibelakang
nares anterior, disebut dengan vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh
kulit yang banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang
disebut dengan vibrise. 2,3,4

7
Gambar 2. Tulang Hidung Bagian Luar Tampak Anterolateral 1

Gambar 3. Tulang Hidung Bagian Luar Tampak Inferior1

Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding yaitu dinding medial,


lateral, inferior dan posterior.

8
Gambar 4. Batas Lateral Kavum Nasi 2
Dinding medial hidung ialah septum nasi. Septum nasi ini dibentuk
oleh tulang dan tulang rawan, dinding lateral terdapat konkha superior,
konkha media dan konkha inferior. Yang terbesar dan letaknya paling
bawah ialah konkha inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka
media, yang lebih kecil lagi konka superior, sedangkan yang terkecil ialah
konka suprema dan konka suprema biasanya rudimenter.4,5,6

Gambar 5. Concha Nasalis 2


Di bagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang
terdiri atas sinus maksilla, etmoid, frontalis dan sphenoid. Dan sinus
maksilla merupakan sinus paranasal terbesar diantara lainnya, yang

9
berbentuk pyramid ireguler dengan dasarnya menghadap ke fossa nasalis
dan puncaknya kearah apex procesus zigomatikus os.maxila.2
Dinding lateral nasal meliputi sebagian os.etmoidale, os.maxilaris,
palatina, lacrimale, dan lamina pterygoideus medialis os sphenoidale, os
nasal dan concha nasalis inferior. Tiga hingga empat concha terproyeksi
dari os.etmoidale. Concha nasalis inferior dianggap sebagai struktur
mandiri. Setiap struktur ini melapisi ruangan udara di bawahnya dan
sebelah lateralnya yang dikenal dengan nama meatus. Sepotong kecil
tulang yang terproyeksi dari os.etmoidale yang menutupi muara sinus
maxilaris yang terletak di lateral dan membentuk palung diposterior
concha nasalis media. Bagian tulang yang tipis disebut processus
uncinatus. Dinding samping nasal bagian superior terdiri atas cellula
etmoidalis yang membatasi epitel olfaktori dan lamina cribosa disebelah
lateral. Disebelah superior cellula ethmoidalis anterior terdapat sinus
frontalis yang bermuara diantara cellula. Bagian superoposterior dinding
nasus bagian lateral adalah dinding anterior sinus sphenoidalis yang berada
di inferior sella turcica dan sinus cavernosus.

10
Gambar 6. Dinding Hidung Lateral3

Gambar 7. Septum Nasi 3


Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os
maxilla dan labirin etmoid,sedangkan konka media,superior,dan suprema

11
adalah bagian dari labirin etmoid. elah antara konka inferior dengan dasar
hidung dinamakan meatus inferior, berikutnya celah antara konkha media
dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas konkha media disebut
meatus superior. Meatus medius merupakan salah satu celah yang penting
dan merupakan celah yang lebih luas dibandingkan dengan meatus
superior. Disini terdapat muara dari sinus maksilla, sinus frontal dan
bahagian anterior sinus etmoid. Dibalik bagian anterior konka media yang
letaknya menggantung, pada dinding lateral terdapat celah yang berbentuk
bulat sabit yang dikenal sebagai infundibulum. Ada suatu muara atau
fisura yang berbentuk bulan sabit menghubungkan meatus medius dengan
infundibulum yang dinamakan hiatus semilunaris. Dinding inferior dan
medial infundibulum membentuk tonjolan yang berbentuk seperti laci dan
dikenal sebagai prosesus unsinatus.2,3,4

2. Vaskularisasi Hidung
Secara garis besar perdarahan hidung berasal dari 3 sumber utama yaitu:6
1. Arteri Etmoidalis anterior
2. Arteri Etmoidalis posterior cabang dari arteri oftalmika
3. Arteri Sfenopalatina, cabang terminal arteri maksilaris interna yang
berasal dari arteri karotis eksterna

Gambar 8. Vaskularisasi Cavum Nasi 4

12
Gambar 9. Drainase Vena Cavum Nasi 3,4
Bagian atas hidung rongga hidung mendapat pendarahan dari a.
etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a. oftalmika
dari a.karotis interna. Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan
dari cabang a. maksilaris interna, di antaranya adalah ujung a.palatina
mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama
n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior
konka media. Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang
cabang a.fasialis.
Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-
cabang a.sfenopalatina,a.etmoid anterior, a.labialis superior, dan a.palatina
mayor yang disebut pleksus Kiesselbach (Littles area). Pleksus
Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma, sehingga
sering menjadi sumber epistaksis(pendarahan hidung) terutama pada anak.
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan
berdampingan dengan arterinya . Vena di vestibulum dan struktur luar

13
hidung bermuara ke v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus
kavernosus.3,4

3. Inervasi Rongga Hidung


Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris
dari n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari nervus nasosiliaris,
yang berasal dari nervus oftalmikus.Saraf sensoris untuk hidung terutama
berasal dari cabang oftalmikus dan cabang maksilaris nervus trigeminus.
Cabang pertama nervus trigeminus yaitu nervus oftalmikus memberikan
cabang nervus nasosiliaris yang kemudian bercabang lagi menjadi nervus
etmoidalis anterior dan etmoidalis posterior dan nervus infratroklearis.
Nervus etmoidalis anterior berjalan melewati lamina kribosa bagian
anterior dan memasuki hidung bersama arteri etmoidalis anterior melalui
foramen etmoidalis anterior, dan disini terbagi lagi menjadi cabang nasalis
internus medial dan lateral. Rongga hidung lainnya, sebagian besar
mendapat persarafan sensoris dari nervus maksila melalui ganglion
sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatina, selain memberi persarafan
sensoris, juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk
mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut serabut sensorid dari
nervus maksila.Serabut parasimpatis dari nervus petrosus profundus.
Ganglion sfenopalatinum terletak dibelakang dan sedikit diatas ujung
posterior konkha media.

Gambar 10. Percabangan Nervus Trigeminus3

14
Nervus olfaktorius turun dari lamina kribrosa dari permukaan
bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor
penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.

Gambar 11. Innervasi Cavum Nasi3

4. Struktur Histologi Rongga Hidung


Rongga hidung dilapisi oleh mukosa dilapisi oleh mukosa secara
histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernapasan (mukosa respiratori)
dan mukosa penghidu (mukosa olfaktorius).

Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior, dan
sepertiga atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu tidak
bersilia (pseudostratified collumner non ciliated epithelium). Epitelnya
dibentuk oleh tiga macam sel yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor
penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna cokelat kekuningan. Pada
bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang-
kadang terjadi metaplasia, menjadi sel epitel skuama.7

Luas permukaan kavum nasi sekitar 150 cm dengan total volume


sekitar 15 mL. Hidung sebagian besar dilapisi oleh mukosa respiratorius.
Mukosa hidung terdiri dari palut lendir (mucous blanket), epitel kolumnar
berlapis semu bersilia, membran basalis, lamina propria yang terdiri dari

15
lapisan subepitel, lapisan media dan lapisan kelenjar profunda.Pada gambar 13
tampak lapisan lapisan mukosa hidung. Lapisan atas dari sel epitel (merah
muda) yang membentuk lapisan teratas mukosa. Silia dilapisi palut lendir dan
serum yang diproduksi kelenjar Bowman (merah) yang dibawahnya terdapat
mukosa membran (kuning). Dibawah membran mukosa adalah lapisan
penunjang kartilago (oranye) dan lapisan tulang (ungu).7

Gambar 12. Histologi Mukosa Hidung7


Mukosa Olfaktorius
.Di antara sel-sel reseptor (neuron) terdapat banyak kelenjar
Bowman penghasil mukus (air, mukopolisakarida, enzim, antibodi,
garam-garam dan protein pengikat bau). Sejumlah besar kelenjar
Bowman terdapat dalam lamina propria pada region olfaktorius. Sel-sel
reseptor bau merupakan satu-satunya sistem saraf pusat yang dapat
berganti secara regular (4-8 minggu).8
Sistem olfaktorius terdiri dari mukosa olfaktorius pada bagian atas
kavum nasal, fila olfaktoria, bulbus subkalosal pada sisi medial lobus
orbitalis. Saraf ini merupakan saraf sensorik murni yang serabut-
serabutnya berasal dari membran mukosa hidung dan menembus area
kribriformis dari os. etmoidal untuk bersinaps di bulbus olfaktorius, dari
sini, traktus olfaktorius berjalan dibawah lobus frontal dan berakhir di
lobus temporal bagian medial sisi yang sama. Neuroepitel olfaktorius
terletak di bagian atas rongga hidung di dekat cribiform plate, septum
nasi superior dan dinding nasal superolateral. Struktur ini merupakan

16
neuroepitelium pseudostratified khusus yang didalamnya terdapat
reseptor olfaktorius utama.8
Neuron olfaktorius mempunyai akson yang tidak bermielin,
akson dari sensosel dikumpulkan menjadi satu dalam bentuk serat saraf
yang melalui lamina kribrosa ke dalam bulbus olfaktorius. Bulbus
olfaktorius terletak di basal lobus frontalis. Bulbus olfaktorius terdiri
atas beberapa lapisan ( dari luar ke dalam bulbus), yaitu lapisan
gromerular, lapisan pleksiformis eksternalis, lapisan sel mitral, lapisan
pleksiformis internal dan lapisan sel granula. Di dalam bulbus
olfaktorius terjadi sinaps dengan dendrit neuron kedua. Akson-akson
neuron kedua membentuk traktus olfaktorius, yang berjalan ke otak
untuk berhubungan dengan sejumlah nuklei, fasikuli dan traktus
lainnya. 8

Gambar 13. Mukosa olfaktorius8

Neuroepitel olfaktorius
Neuroepitel olfaktorius terdapat di atap rongga hidung, yaitu di
konka superior, septum bagian superior, konka media bagian superior
atau di dasar lempeng kribriformis. Luas area olfaktorius ini 5 cm2.
Neuroepitel olfaktorius merupakan epitel kolumnar berlapis semu

17
yang berwarna kecoklatan, warna ini disebabkan pigmen granul coklat
pada sitoplasma kompleks golgi.9

Gambar 14. Regio neuroepitel olfaktorius


Sel di neuroepitel olfaktorius ini terdiri dari sel pendukung yang
merupakan reseptor olfaktorius. Terdapat 20-30 miliar sel reseptor.
Pada ujung dari masing-masing dendrit terdapat olfactory rod dan
diujungnya terdapat silia. Silia menonjol pada permukaan mukus. Pada
neuroepitel ini terdapat sel penunjang atau sel sustentakuler. Sel ini
berfungsi sebagai pembatas antara sel reseptor, mengatur komposisi ion
lokal mukus dan melindungi epitel olfaktorius dari kerusakan akibat
benda asing. Mukus dihasilkan oleh kelenjar Bowmans yang terdapat
pada bagian basal sel.9

Gambar 15. Membran Mukus yang Berasal dari Neuroepitel Olfaktorius

18
5. Fisiologi Hidung
1. Sebagai jalan nafas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas
setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring,
sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi,
udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama
seperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah,
sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung
dengan aliran dari nasofaring.
2. Pengatur kondisi udara (air conditioning)
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan
udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan
cara :
a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir.
Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari
lapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi
sebaliknya.
b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya
pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan
septum yang luas, sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal.
Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o
3. Sebagai penyaring dan pelindung
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan
bakteri dan dilakukan oleh :
a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi
b. Silia
c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada
palut lendir dan partikel partikel yang besar akan dikeluarkan
dengan refleks bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring
oleh gerakan silia.

19
d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut
lysozime.
4. Indra penghirup
Hidung juga bekerja sebagai indra penghirup dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian
atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi
dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.
5. Resonansi suara
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan
hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga
terdengar suara sengau.
6. Proses bicara
Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng)
dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle
turun untuk aliran udara.
7. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan
saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa
hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau
tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

B. ANATOMI SINUS PARANASALIS


1. Anatomi Sinus Paranasalis
Sinus paranasal merupakan salah salah satu organ tubuh manusia yang
sulit dideskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Sinus
paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk
rongga di dalam tulang. Ada empat pasang (delapan) sinus paranasal, empat buah
pada masing-masing sisi hidung ; sinus frontalis kanan dan kiri, sinus etmoid
kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus maksila, yang terbesar, kanan dan
kiri disebut Antrum Highmore dan sinus sfenoidalis kanan dan kiri. Semua
rongga sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung,

20
berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-
masing. 1,3
Secara klinis sinus paranasal dibagi menjadi dua kelompok yaitu bagian
anterior dan posterior. Kelompok anterior bermuara di bawah konka media, pada
atau di dekat infundibulum, terdiri dari sinus frontal, sinus maksila, dan sel-sel
anterior sinus etmoid. Kelompok posterior bermuara di berbagai tempat di atas
konka media terdiri dari sel-sel posterior sinus etmoid dan sinus sphenoid. Garis
perlekatan konka media pada dinding lateral hidung merupakan batas antara
kedua kelompok. Proctor berpendapat bahwa salah satu fungsi penting sinus
paranasal adalah sebagai sumber lender yang segar dan tak terkontaminasi yang
dialirkan ke mukosa hidung. 3

Gambar 13. Sinus Paranasalis

Sinus maksila atau Antrum Highmore, merupakan sinus paranasal


yang terbesar. Merupakan sinus pertama yang terbentuk, diperkirakan
pembentukan sinus tersebut terjadi pada hari ke 70 masa kehamilan. Saat lahir
sinus maksila bervolume 6-8 ml, yang kemudian berkembang dengan cepat
dan akhirnya mencapai ukuran maksimal yaitu 15 ml pada saat dewasa. 6
Sinus maksila berbentuk piramid ireguler dengan dasarnya
menghadap ke fosa nasalis dan puncaknya ke arah apeks prosesus

21
zigomatikus os maksila. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os
maksila yang disebut fosa kanina,dinding posteriornya adalah permukaan
infra-temporal maksila, dinding medialnya ialah dinding lateral rongga
hidung. Dinding medial atau dasar antrum dibentuk oleh lamina vertikalis os
palatum, prosesus unsinatus os etmoid, prosesus maksilaris konka inferior,
dan sebagaian kecil os lakrimalis. Dinding superiornya ialah dasar orbita dan
dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan palatum. Ostium sinus
maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke
hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid. Menurut Morris, pada buku
anatomi tubuh manusia, ukuran rata-rata sinus maksila pada bayi baru lahir 7-
8 x 4-6 mm dan untuk usia 15 tahun 31-32 x 18-20 x 19-20 mm. Antrum
mempunyai hubungan dengan infundibulum di meatus medius melalui lubang
kecil, yaitu ostium maksila yang terdapat di bagian anterior atas dinding
medial sinus. Ostium ini biasanya terbentuk dari membran. Jadi ostium
tulangnya berukuran lebih besar daripada lubang yang sebenarnya. Hal ini
mempermudah untuk keperluan tindakan irigasi sinus. 1,3
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila
adalah : 1) dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas
, yaitu premolar (P1 dan P2) , molar (M1 dan M2), kadang-kadang juga gigi
taring (C) dan gigi molar (M3) , bahkan akar-akar gigi tersebut tumbuh ke
dalam rongga sinus, hanya tertutup oleh mukosa saja. Gigi premolar kedua
dan gigi molar kesatu dan dua tumbuhnya dekat dengan dasar sinus. Bahkan
kadang-kadang tumbuh ke dalam rongga sinus, hanya tertutup oleh mukosa
saja. Proses supuratif yang terjadi di sekitar gigi-gigi ini dapat menjalar ke
mukosa sinus melalui pembuluh darah atau limfe, sedangkan pencabutan gigi
ini dapat menimbulkan hubungan dengan rongga sinus yang akan
mengakibatkan sinusitis. 2) sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi
orbita. 3) Ostim sinus maksila lebih tinggi letaknya dari dasar sinus, sehingga
drainase hanya tergantung dari gerak silia, dan drainase harus melalui
infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid
anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat

22
menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.
1,3

Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke


emapat fetus, berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum
etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun
dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun. 1,3
Bentuk dan ukuran sinus frontal sangat bervariasi , dan seringkali juga
sangat berbeda bentuk dan ukurannya dari sinus dan pasangannya, kadang-
kadang juga ada sinus yang rudimenter. Bentuk sinus frontal kanan dan kiri
biasanya tidak simetris, satu lebih besar dari pada lainnya dan dipisahkan oleh
sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya
mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalnya tidak
berkembang. Ukuran rata-rata sinus frontal : tinggi 3 cm, lebar 2-2,5 cm,
dalam 1,5-2 cm, dan isi rata-rata 6-7 ml. Tidak adanya gambaran septum-
septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto rontgen menunjukkan
adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis
dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah
menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang
terletak di ressus frontal yang berhubungan dengan infundibulum etmoid. 1
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan
akhir-akhir ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus infeksi
bagi sinus-sinus lainnya. 1
Sel-sel etmoid, mula-mula terbentuk pada janin berusia 4 bulan,
berasal dari meatus superior dan suprema yang membentuk kelompok sel-sel
etmoid anterior dan posterior. Sinus etmoid sudah ada pada waktu bayi lahir
kemudian berkembang sesuai dengan bertambahnya usia sampai mencapai
masa pubertas. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti piramid
dengan dasarnya di bagian posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5
cm, tinggi 2,4 cm, dan lebarnya 0,5 cm di bagian anterior dan 1,5 cm di
bagian posterior, volume sinus kira-kira 14 ml. 1
Sinus etmoid berongga rongga terdiri dari sel-sel yang menyerupai
sarang tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang

23
terletak di antara konka media dan dinding medial orbita. Berdasarkan
letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di
meatus medius, dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior.
Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut
resesus frontal, yang berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid yang
terbesar disebut bula etmoid. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu
penyempitan infundibulum, tempat bermuaranya ostium sinus maksila.
Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan
sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan
sinusitis maksila. 1
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan
lamina kribrosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat
tipis dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Di bagian belakang sinus
etmoid posterior berbatasan dengan sinus sphenoid. 1
Sinus sfenoid terbentuk pada janin berumur 3 bulan sebagai
pasangan evaginasi mukosa di bagian posterior superior kavum nasi.
Perkembangannya berjalan lambat, sampai pada waktu lahir evaginasi
mukosa ini belum tampak berhubungan dengan kartilago nasalis posterior
maupun os sfenoid. Sebelum anak berusia 3 tahun sinus sfenoid masih kecil,
namun telah berkembang sempurna pada usia 12 sampai 15 tahun. Letaknya
di dalam korpus os etmoid dan ukuran serta bentuknya bervariasi. Sepasang
sinus ini dipisahkan satu sama lain oleh septum tulang yang tipis, yang
letakya jarang tepat di tengah, sehingga salah satu sinus akan lebih besar
daripada sisi lainnya. 3
Letak os sfenoid adalah di dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid
posterior. Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum
intersfenoid. Ukurannya adalah tinggi 2 cm, dalamnya 2,3 cm, dan lebarnya
1,7 cm. Volumenya berkisar dari 5 sampai 7,5 ml. Saat sinus berkembang,
pembuluh darah dan nervus bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat
berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding
sinus sfenoid. Batas-batasnya adalah : sebelah superior terdapat fosa serebri
media dan kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya adalah atap nasofaring,

24
sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan a.karotis interna
(sering tampak sebagai indentasi) dan di sebelah posteriornya berbatasan
dengan fosa serebri posterior di daerah pons. 1
2. Fisiologi sinus paranasal
Sinus paranasal secara fisiologi memiliki fungsi yang bermacam-
macam. Bartholini adalah orang pertama yang mengemukakan bahwa ronga-
rongga ini adalah organ yang penting sebagai resonansi, dan Howell mencatat
bahwa suku Maori dari Selandia Baru memiliki suara yang sangat khas oleh
karena mereka tidak memiliki rongga sinus paranasal yang luas dan lebar. Teori
ini dpatahkan oleh Proetz , bahwa binatang yang memiliki suara yang kuat,
contohnya singa, tidak memiliki rongga sinus yang besar. Beradasarkan teori dari
Proetz, bahwa kerja dari sinus paranasal adalah sebagai barier pada organ vital
terhadap suhu dan bunyi yang masuk. Jadi sampai saat ini belum ada persesuaian
pendapat mengenai fisiologi sinus paranasal . Ada yang berpendapat bahwa sinus
paranasal tidak mempunyai fungsi apa-apa, karena terbentuknya sebagai akibat
pertumbuhan tulang muka. 1,6
Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara
lain adalah :
(1) Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan
mengatur kelembaban udara inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah ternyata
tidak didapati pertukaran udara yangdefinitif antara sinus dan rongga hidung.
Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000 volume
sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk
pertukaran udara total dalam sinus. Lagipula mukosa sinus tidak mempunyai
vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung. 1
(2) Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai buffer (penahan) panas , melindungi
orbita dan fosa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi
kenyataannya, sinus-sinus yang besar tidak terletak di antara hidung dan organ-
organ yang dilindungi. 1
(3) Membantu keseimbangan kepala

25
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang
muka. Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang hanya akan
memberikan pertambahan berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini
dianggap tidak bermakna. 1
(4) Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan
mempengaruhi kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat , posisi sinus
dan ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang
efektif. Tidak ada korelasi antara resonansi suara dan besarnya sinus pada
hewan-hewan tingkat rendah. 1
(5) Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan
mendadak, misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus.1
(6) Membantu produksi mukus.
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil
dibandingkan dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk
membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus
ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling strategis. 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Sinusitis jamur invasif akut adalah bentuk sinusitis jamur yang paling agresif.
Hal ini terlihat terutama pada pasien immunocompromised dan merupakan
sumber morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Ini harus dibedakan dari dua
bentuk lain dari sinusitis jamur invasif: sinusitis jamur invasif kronis dan sinusitis
invasif granulomatosa kronis, yang dibahas secara terpisah.
B. Anatomi

26
Anatomi hidung terutama terbagi menjadi dua bagian besar yaitu nasus
eksternus (hidung luar) dan bagian kavitas nasalis. Bagian luar terdiri terutama
atas tulang hidung dengan luas kurang lebih sepertiga bagian hidung dan dua
pertiganya merupakan tulang rawan. Bentuk luar hidung sangat bervariasi dalam
hal ukuran dan bentuk, terutama karena perbedaan pada tulang-tulang rawan
hidung. Pada permukaan inferior terdapat dua lubang, yakni nares anterior yang
terpisah satu dengan yang lain oleh septum nasi. Septum nasi inilah yang
membagi kavitas nasi menjadi dua rongga kanan dan kiri. Septum nasi terdiri dari
komponen berikut:5,6
a) Lamina perpendikularis ossis ethmoidalis
b) Os vormer
c) Kartilago septi nasi

Bagian hidung yang berupa tulang terdiri atas:6


a) Kedua os nasale
b) Prosesus frontalis maksilaris
c) Pars nasalis ossis frontalis

Gambar 1. Tulang dan tulang rawan hidung6

Bagian tulang rawan hidung terdiri dari lima tulang rawan utama, yaitu dua
kartilago nasi lateral, dua kartilago alares dan sebuah kartilago septi nasi.6

27
kavitas nasalis

Gambar 2. Kartilago hidung7

Sama halnya dengan kartilago, kulit di atasnya dapat dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu sepertiga atas, tengah dan bawah. Sepertiga atas memiliki kulit yang
lebih tebal, yang semakin menipis sampai sepertiga tengah. Sedangkan sepertiga
bawah menebal kembali karena mengandung lebih banyak kelenjar sebasea.8
Kavitas nasi yang dapat dimasuki melalui nares anterior berhubungan dengan
nasofaring melalui kedua koana (nares posterior). Kavitas nasi dilapisi oleh
membran mukosa kecuali vestibulum nasi yang dilapisi kulit. Membran mukosa
hidung melekat sangat erat pada periosteum dan perikondrium tulang dan tulang
rawan hidung. Membran mukosa ini berkesinambungan dengan membran mukosa
yang melapisi nasofaring di sebelah posterior, sinus paranasal di sebelah superior
dan lateral serta saccus lacrimalis dan konjungtiva di sebelah superior.6

28
Gambar 4. Cavum nasi9

Dinding lateral kavitas nasi tidak rata karena adanya tiga tonjolan yang
berbentuk seperti gulungan, yakni konka nasalis. Konka nasalis superior, konka
nasalis media dan konka nasalis inferior membagi rongga hidung menjadi empat
lorong, yaitu meatus nasalis superior meatus nasalis media, meatus nasalis inferior
dan hiatus semilunaris.6
Meatus nasi superior adalah sebuah lorong yang sempit antara konka nasalis
superior dan konka nasalis media dan merupakan tempat bermuaranya sinus
etmoidalis superior. Meatus nasi media berukuran lebih panjang dan lebih luas
daripada yang atas. Bagian anterosuperiornya berhubungan dengan sebuah lubang
yang berbentuk corong, yakni infundibulum yang merupakan jalan pengantar ke
sinus frontalis. Hubungan dari masung-masing sinus frontalis ke infundibulum
melalui duktus frontonasalis. Sinus maksilaris juga bermura ke meatus nasalis
media.6
Meatus nasi inferior adalah sebuah lorong horisontal yang terletak
inferolateral terhadap konka nasalis inferior. Duktus nasolakrimalis bermuara di
bagian anterior meatus nasalis inferior. Hiatus semilunaris merupakan sebuah alur
yang berbentuk setengah lingkaran dan merupakan muara sinus frontalis. Bulla

29
ethmoidalis adalah sebuah tonjolan yang membulat di sebelah superior hiatus
semilunaris dan baru terlihat setelah konka media disingkirkan.6
Kompleks ostiomeatal (KOM) merupakan celah pada dinding lateral hidung
yang dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea. Struktur anatomi penting
yang membentuk KOM adalah prosessus unsinatus, infundibulum etmoidalis,
hiatus semilunaris, bulla etmoidalis, agger nasi, dan resesus frontal. KOM
merupakan unit fungsional yang merupakan tempat ventilasi dan drainase dari
sinus-sinus yang terletak di anterior yaitu frontalis, etmoidalis anterior dan
maksilaris. Jika terdapat obstruksi pada celah yang sempit ini, maka akan terjadi
perubahan patologis yang signifikan pada sinus-sinus yang terkait.4

Gambar 5. Kompleks osteomeatal5

Bagian atas rongga hidung mendapatkan perdarahan dari a.etmoidalis anterior


dan posterior yang merupakan cabang dari a.optalmika dari a.karotis interna.
Bagian bawah rongga hidung mendapat perdarahan dari cabang a.maksilaris
interna, diantaranya ialah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar
dari foramen sfenopalatina bersama n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung
di belakang ujung posterior konka media.4

30
Bagian depan hidung mendapat perdarahan dari cabang-cabang a.fasialis.
pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang a.sfenopalatina,
a.etmoidalis anterior, a.labialis superior, dan a.palatina mayor yang disebut
pleksus Kiesselbach (Littles area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan
mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis terutama
pada anak.4
Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan
dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke
v.optalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung
tidak memiliki katup sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya
penyebaran infeksi sampai ke intrakranial.4

Gambar 6. Pembuluh darah septum nasi5

Persarafan sensorik bagian depan dan atas rongga hidung didapatkan dari
n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n. nasosiliaris dan berasal dari
n. optalmikus (N V-1). Rongga hidung lainnya sebagian besar mendapat
persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatina. Saraf motorik
oleh cabang n.fasialis mempersarafi otot-otot hidung bagian luar.5

31
Gambar 7. Persarafan sensorik bagian luar hidung10

Gambar 8. Persarafan cavum nasi7

Saraf otonom di hidung ada dua macam:11


a) Saraf post ganglion saraf simpatik (Adrenergik)
Saraf simpatis meninggalkan korda spinalis setinggi T1-3 berjalan ke atas dan
mengadakan sinaps pada ganglion servikalis superior. Serabut post sinaps berjalan
sepanjang pleksus karotikus dan kemudian sebagai n.petrosus profundus

32
bergabung dengan serabut saraf parasimpatis yaitu n.petrosus superfisialis mayor
membentuk n.vidianus yang berjalan dalam kanalis pterigoideus. Saraf ini tidak
mengadakan sinaps di dalam ganglion sfenopalatina dan kemudian diteruskan
oleh cabang palatina mayor ke pembuluh darah mukosa hidung. Saraf simpatis
secara dominan mempunyai peranan penting terhadap sistem vaskuler hidung dan
sangat sedikit mempengaruhi kelenjar.11
b) Serabut saraf preganglion parasimpatik (Kolinergik)
Serabut ini berasal dari ganglion genikulatum dan pusatnya adalah di nukleus
salivatorius superior di medula oblongata. Sebagai n.petrosus superfisialis mayor
berjalan menuju ganglion sfenopalatina dan mengadakan sinaps di dalam ganglion
tersebut. Serabut-serabut post ganglion menyebar menuju mukosa hidung.
Peranan saraf parasimpatis ini terutama terhadap jaringan kelenjar yang
menyebabkan sekresi hidung yang encer dan vasodilatasi jaringan erektil.11

Gambar 8. Persarafan otonom pada hidung11

Fungsi penghidu berasal dari n.olfaktorius. Nervus ini turun melalui lamina
kribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada
sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi

33
atas mukosa pernapasan (mukosa respiratorik) dan mukosa penghidu (mukosa
olfaktorius). Mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan
permukaannya dilapisi oleh epitel kolumner berlapis semu yang memiliki silia
(cilliated pseudostratified collumner epithelium) dan diantaranya terdapat sel-sel
goblet.4
Dalam keadaan normal mukosa respiratori berwarna merah muda dan selalu
basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Di
bawah epitel terdapat lamina propria yang banyak mengandung pembuluh darah,
kelenjar mukosa dan jaringan limfoid.4

Gambar 9. Mukosa respiratorik4

Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan
sepertiga atas septum. Mukosanya dilapisi epitel kolumner berlapis semu yang
tidak bersilia (pseudostratified collumner non ciliated epithelium). Epitelnya
dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penyokong, sel basal, dan sel olfaktorius
neuroepitel. Permukaan apikalis sel olfaktorius mengandung mikrovili non-motil
halus yang terjulur ke dalam mukus yang menutupi epitel. Dari basis sel
olfaktorius terjulur akson yang berjalan ke dalam lamina propria berupa berkas

34
saraf olfaktorius tidak bermielin atau filia olfaktoria. Saraf olfaktorius
meninggalkan rongga hidung dan masuk ke dalam bulbus olfaktoria di dasar
otak.11

Gambar 10. Mukosa olfaktoria11

Sistem transpor mukosilier merupakan sistem pertahanan aktif rongga hidung


terhadap virus, bakteri, jamur atau partikel berbahaya lain yang terhirup bersama
udara. Efektivitas sistem transpor mukosilier dipengaruhi oleh kualitas silia dan
palut lendir. Palut lendir ini dihasilkan oleh sel-sel goblet pada epitel dan kelenjar
seromusinosa submukosa. Bagian bawah dari palut lendir terdiri dari cairan serosa
sedangkan bagian permukaannya terdiri dari mukus yang lebih elastik dan banyak
mengandung protein plasma seperti albumin, IgG, IgM, dan faktor komplemen.
Sedangkan cairan serosa mengandung laktoferin, lisozim, inhibitor lekoprotease
sekretorik, dan IgA sekretorik.4
Glikoprotein yang dihasilkan sel mukus penting untuk pertahanan lokal yang
bersifat antimikrobial. IgA berfungsi mengeluarkan mikroorganisme dari jaringan
dengan mengikat antigen tersebut pada lumen saluran napas, sedangkan IgG
beraksi di dalam mukosa dengan memicu reaksi inflamasi jika terpajan dengan
antigen bakteri. Pada sinus maksilaris, sistem transpor mukosilier bergerak
mengeluarkan sekret dengan gerakan membentuk gambaran halo atau bintang dan

35
mengarah ke ostium. Gerakan sistem transpor mukosilier pada sinus frontal dan
sfenoid mengikuti gerakan spiral sedangkan pada sinus etmoidal terjadi gerakan
rektilinear. Pada dinding lateral terdapat dua rute besar transpor sekret. Rute
pertama, gabungan dari sinus frontal, maksilaris dan etmoidalis bergabung dekat
infundibulum dan selanjutnya dibawa sepanjang dinding medial konka inferior
menuju nasofaring. Transpor aktif berlanjut ke batas epitel bersilia dan epitel
skuamosa pada nasofaring dan selanjutnya jatuh ke bawah dibantu gaya gravitasi
dan proses menelan.4
Rute kedua merupakan gabungan sekresi sinus etmoidal posterior dan sfenoid
yang bertemu di resesus sfenoetmoid dan menuju nasofaring pada bagian
posterosuperior orifisium tuba Eustachius. Sekret yag berasal dari meatus superior
dan septum akan bergabung dnegan sekret tuba pertama di inferior tuba
Eustachius. Sekret ke pada septum akan berjalan vertikal ke arah bawah terlebih
dahulu kemudian kebelakang dan menyatu di bagian inferior tuba Eustachius.4

C. Fisiologi

Hidung memiliki fungsi fisiologis respirasi (mengatur kondisi udara,


penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan
mekanisme imunologik lokal), fungsi penghidu, fungsi fonetik berguna untuk
resonansi suara, membantu proses bicara dan mencegah hantaran suara sendiri
melalui konduksi tulang, fungsi statik dan mekanik untuk meringankan kepala,
proteksi terhadap trauma dan pelindung panas, serta fungsi refleks nasal.4
1. Fungsi respirasi
Udara inspirasi masuk ke hidung menuju sistem respirasi melalui nares
anterior, lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke
arah nasofaring. Aliran udara di hidung ini berbentuk lengkungan atau arkus.
Udara yang dihirup akan mengalami humidifikasi oleh palut lendir. Suhu udara
yang melalui hidung diatur sehingga berkisar 37 derajat Celcius. Fungsi pengatur
suhu ini dimungkinkan oleh banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan
adanya permukaan konka dan septum yang luas. Partikel debu, virus, bakteri dan

36
jamur yang terhirup bersama udara akan disaring di hidung oleh : a) rambut
(vibrissae) pada vestibulum, b) silia, dan c) palut lendir. Debu dan bakteri akan
melekat pada palut lendir dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan
dengan refleks bersin.4
2. Fungsi penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa
olfakroius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas
septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut
lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.4
3. Fungsi fonetik
Resonansi oleh hidung penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan
bernyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang
sehingga terdengar suara sengau (rinolalia). Hidung membantu proses
pembentukan kata-kata. Kata-kata dibentuk oleh lidah, bibir dan palatum mole.
Pada pembentukan konsonan nasal (m, n, ng) rongga mulut tertutup dan hidung
terbuka, palatum mole turun untuk aliran udara.4
4. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan
saluran cerna, kardiovaskuler dan pernapasan. Iritasi mukosa hidung akan
menyebabkan refleks bersin dan napas berhenti. Rangsangan bau tertentu akan
menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.4

D. Etiologi

Tidak sama halnya dengan rinitis alergi, rinitis non alergi karena pekerjaan,
hormonal, makanan, iritan kimiawi, atau emosional yang dapat ditegakkan dengan
beberapa informasi etiologi. Etiologi rinitis vasomotor tidak diketahui dan
umumnya diagnosis ditegakkan dengan eksklusi. Beberapa hipotesis telah
dikemukakan untuk menerangkan patofisiologi rinitis vasomotor diantaranya
disfungsi sistem otonom, neuropeptida, nitrik oksida, dan trauma.4

37
Istilah rinitis vasomotor digunakan untuk mendeskripsikan pasien dengan
rinitis sepanjang tahun yang gejalanya meningkat pada perubahan kondisi
lingkungan seperti suhu udara yang dingin dan kering atau kelembaban udara
yang tinggi, alkohol, bau-bauan yang kuat seperti pemutih atau parfum, makanan
pedis, dan bahan iritan seperti asap rokok, debu, dan asap bahan bakar kendaraan.
Gangguan ini tidak berhubungan dengan infeksi, alergi atau pun eosinofil.1

E. Patogenesis
Sesuai dengan etiologi, beberapa hipotesis diungkapkan untuk menerangkan
patofisiologi rinitis vasomotor :4
1. Neurogenik (disfungsi sistem otonom)
Serabut simpatis hidung berasal dari korda spinalis segmen T1-2,
menginervasi terutama pembuluh darah mukosa dan sebagian kelenjar. Serabut
simpatis melepaskan ko-transmiter noradrenalin dan nueropeptida Y (NPY) yang
menyebabkan vasokonstriksi dan penurunan sekresi hidung. Tonus simpatis ini
berfluktuasi sepanjang hari yang menyebabkan adanya peningkatan tahanan
rongga hidung yang bergantian setiap 2-4 jam. Keadaan ini disebut siklus nasi.
Dengan adanya siklus ini, seseorang akan mampu untuk bernapas dengan tetap
normal melalui lubang hidung yang berubah-ubah luasnya.4,10

Gambar 11. Inervasi saraf simpatis di hidung 3

Serabut saraf parasimpatis berasal dari nukleus salivatorius superior menuju


ganglion sfenopalatina membentuk n.vidianus yang kemudian menginervasi
pembuluh darah dan terutama kelenjar eksokrin. Pada rangasangan akan terjadi

38
pelepasan ko-transmitter asetilkolin dan vasoaktif intestinal peptida yang
menyebabkan peningkatan sekresi hidung dan vasodilatasi, sehingga terjadi
kongesti hidung. 4,10

Gambar 12. Inervasi parasimpatis di hidung3

Bagaimana tepatnya saraf otonom ini bekerja belumlah diketahui dengan


pasti, tetapi mungkin hipotalamus bertindak sebagai pusat penerima impuls
eferen, termasuk rangsang emosional dari pusat yang lebih tinggi. Dalam keadaan
hidung normal, persarafan simpatis lebih dominan. Walau demikian, sistem
parasimpatis pada kondisi normal diaktifkan dengan adanya stimulus eksogen
berbahaya yang ditangkap nervus trigeminus, maka dikeluarkan signal ke sistem
saraf pusat agar mengaktifkan sistem saraf parasimpatis untuk memberikan refleks
nasal. Refleks yang terjadi berupa bersin, pengeluaran sekret dan kongesti. Rinitis
vasomotor diduga sebagai akibat dari ketidakseimbangan impuls saraf otonom di
mukosa hidung yang berupa bertambahnya aktivitas sistem parasimpatis. 4,10
2. Neuropeptida
Pada mekanisme ini terjadi suatu disfungsi hidung yang diakibatkan oleh
meningkatnya rangsangan terhadap saraf sensorik serabut C di hidung. Adanya
rangasangan abnormal saraf sensorik ini akan diikuti dengan peningkatan
pelepasan neuropeptida seperti substansi P dan calcitonin gene-related protein
yang menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular dan sekresi kelenjar.
Keadaan ini menerangkan terjadinya peningkatan respon pada hipereaktifitas
hidung.4
3. Nitrik oksida

39
Kadar NO yang tinggi dan persisten di lapisan epitel hidung dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan atau nekrosis epitel, sehingga rangasangan
non-spesifik berinteraksi langsung ke lapisan subepitel. Akibatnya terjadi
peningkatan reaktifitas serabut trigeminal dan recruitment refleks vaskular dan
kelenjar mukosa hidung. 4
4. Trauma
Rinitis vasomotor dapat merupakan komplikasi jangka panjang dari trauma
hidung melalui mekanisme neurogenik dan/atau neuropeptida. 4

F. Gejala Klinik

Pada rinitis vasomotor, gejala sering dicetuskan oleh berbagai rangsangan


non-spesifik, seperti asap/rokok, bau yang menyengat, parfum, munuman
beralkohol, makanan pedas, udara dingin, pendingin dan pemanas ruangan,
perubahan kelembaban, perubahan suhu luar, kelelahan dan stres/emosi. Pada
keadaan normal faktor-faktor ini tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu
tersebut.4
Kelainan ini memiliki gejala yang mirip dengan rinitis alergi, namun gejala
yang dominan adalah hidung tersumbat bergantian kiri dan kanan, tergantung
pada posisi pasien. Selain itu terdapat rinore yang mukoid atau serosa. Keluhan ini
jarang disertai dengan gejala mata. Gejala dapat memburuk dipagi hari waktu
bangun tidur oleh karena adanya perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab,
juga oleh karena asap rokok dan sebagainya.4
Berdasarkan gejala yang menonjol, kelainan ini dibedakan menjadi tiga
golongan: 4,10
a) Golongan bersin (sneezers), gejala biasanya memberikan respon baik dengan
terapi antihistamin dan glukokortikoid topikal;
b) Golongan rinorea (runners), gejala dapat diatasi dengan pemberian
antikolinergik topikal; dan
c) Golongan tersumbat (blockers), kongesti umumnya memberikan respon yang
baik dengan terapi glukokortikoid.

40
G. Diagnosis

Diagnosis umumnya ditegakkan dengan cara ekslusi, yaitu menyingkirkan


adanya rinitis alergi, infeksi, okupasi, hormonal dan akibat obat. Dalam anamnesis
dicari faktor yang mempengaruhi timbulnya gejala. Pada rinoskopi anterior
tampak gambaran yang khas yaitu edema mukosa hidung, konka berwarna merah
gelap atau merah tua, tetapi dapat pula pucat. Permukaan konka dapat licin atau
berbenjol-benjol (hipertrofi). Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid biasanya
sedikit. Akan tetapi pada golongan runners akan didapatkan sekret serosa dan
jumlahnya banyak. 4

H. Diagnosis Banding
1. Rinitis Alergi
Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi
alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen
yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan
ulangan dengan alergen spesifik tersebut.1
Rinitis alergi diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap
provokasi atau reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri atas 2 fase yaitu reaksi alergi
fase cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam
setelahnya. Fase kedua adalah reaksi alergi fase lambat (RAFL) yang berlangsung
2-4 jam dengan puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai
24-48 jam. 1
Diagnosisnya ditegakkan berdasarkan anamnesis dimana gejala rinitis alergi
yang khas ditandai dengan serangan bersin berulang. Gejala lain ialah keluar
ingus yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang
kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Seringkali
gejala yang timbul tidak lengkap terutama pada anak. Pemeriksaan rinoskopi
anterior di dapatkan mukosa edema, basah, berwarna pucat atau livid disertai
adanya sekret encer yang banyak. Bila gejala persisten, mukosa inferior tampak

41
hipertrof. Gejala spesifik lainnya pada anak terdapat bayangan gelap di infraorbita
yang terjadi karena statis vena sekunder akibat obstruksi. Gejala ini disebut
allergic shiner. Selain itu sering juga tampak anak menggosok-gosok hidung
karena gatal dengan punggung tangan. Keadaan ini disebut allergic sallute.
Keadaan menggosok hidung ini lama-kelamaan akan menimbulkan garis
melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah yang disebut allergic crease.4
Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan in vitro atau in vivo. Pemeriksaan
in vitro dilakukan dnegan 1) hitung eosinofil dalam darah tepi. Hasilnya dapat
normal atau meningkat. Selain itu dapat dilakukan 2) pemeriksaan IgE total atau
IgE spesifik dengan RAST (Radio Immuno Sorbent Test) atau ELISA (Enzyme
Linked Immuno Sorbent Assay Test). 3) pemeriksaan sitologi hidung dari sekret
hidung atau kerokan mukosa walaupun tidak dapat memastikan diagnosis, tetap
berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah
banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil lebih dari 5
sel/lapang pandang kemungkinan disebabkan alergi makanan. Sedangkan jika
ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri.4
Pemeriksaan in vivo dilakukan dengan skin prick test, uji intrakutan atau
intradermal yang tunggal atua berseri (Skin End-Point Titration/SET), SET
dilakukan untuk alergen inhalan dnegan menyuntikkan allergen dalam berbagai
konsentrasi yang bertingkat kepekatannya. Untuk alergi makanan, uji kulit yang
banyak digunakan belakangan ini adalah Intracutaneus Provocative Dilutional
Food Test (IPDFT), namun gold standar adalah diet eliminasi dan provokasi
(Challenge Test).9

2. Rinitis Induksi Obat


Beberapa obat yang dapat menyebabkan kongesti hidung adalah obat
antihipertensi dan vasokonstriktor topikal (tetes hidung atau semprot hidung) yang
digunakan dalam waktu lama sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang
menetap. Mukosa hidung merupakan organ yang sangat peka terhadap rangsangan

42
atau iritan. Obat topikal vasokonstriktor dari golongan simpatomimetik akan
menyebabkan siklus nasi terganggu dan akan berfungsi normal kembali apabila
obat dihentikan.7
Vasodilatasi rebound pada rinitis medikamentosa dapat terjadi akibat
penyalahgunaan tetes hidung dekongestan simpatomimetik dan semprot hidung.
Rata-rata individual menderita kongesti hidung mendapat kesembuhan segera
selama beberapa jam dengan menggunakan preparat topikal ini. Namun
penggunaan jangka lama dapat berakibat keadaan kongestif kronik dimana
membran hidung menjadi peka terhadap iritan, terutama bila diberikan secara
intermiten.7
Kerusakan yang terjadi pada mukosa hidung pada pemakaian obat tetes
hidung dalam waktu lama ialah : 1, 7
a) Silia rusak
b) Sel goblet berubah ukuran
c) Membran basal menebal
d) Pembuluh darah melebar
e) Stroma edema
f) Hipersekresi kelenjar mukus dan perubahan pH sekret hidung
g) Lapisan submukosa menebal
h) Lapisan periosteum menebal

3. Nonallergic rhinitis with eosinophilia syndrom (NARES)


NARES merupakan salah satu bentuk rinitis non-alergi dimana terjadi
inflamasi lokal yang menjadi dasar kondisi patologis. NARES ditandai dengan
gejala perennial seperti bersin paroksismal, rinore serosa yang banyak dan gatal
pada mukosa nasofaring serta kadang-kadang penurunan penciuman yang
memiliki pola kekambuhan on-again-off-again atau intermiten. Pasien
umumnya berusia dekade tiga dan memiliki karakteristik timbulnya sepanjang
tahun tetapi dengan episode paroksismal atau tiap serangan berikutnya gejala
semakin memburuk. Diagnosis dibuat saat hitung eosinafil dari smear nasal
jumlahnya lebih dari 5% serta tes alergi negatif. 1,3,10

43
Dalam sebuah studi dijelaskan 42% pasien dengan NARES tidak dapat
ditentukan faktor trigger yang memicu onset akut, 31% berhubungan dengan
cuaca, 15% dengan bau dan 12% dengan substansi iritan. Eosinofilia pada
NARES dapat menyebabkan disfungsi mukosa nasal karena mayor basic protein
(MBP) dan eosinophil cationic protein (ECP) yang dilepaskan oleh granul
eosinofil mampu merusak epitelium bersilia pada nasal serta memperpanjang
waktu transpor mukosilier. Memanjang atau tertundanya transpor mukosilier
dapat menyebabkan peningkatan kecenderungan infeksi dan predisposisi
berkembangnya polip nasi. Meskipun demikian, adanya eosinofil pada NARES
menjadi prediktor penting untuk terapi yang merespon dengan terapi antiinflamasi
topikal seperti steroid intranasal dan antihistamin spray. 1,3,10

I. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada rinitis vasomotor bervariasi tergantung pada trigger


dan gejala yang menonjol. Secara garis besar dibagi dalam :4
1. Menghindari stimulus/faktor pencetus
2. Pengobatan simtomatis dengan obat-obatan dekongestan oral, cuci oral
dengan larutan fisiologis, kauterisasi konka hipertrofi.
3. Pemberian kortikosteroid topikal 100-200 mikrogram. Dosis maksima 400
mg sehari, hasilnya akan terlihat setelah pemakanan paling sedikit 2 minggu.
Saat ini tersedia kortikosteroid topikal baru dalam larutan aqua seperti
flutikason propionat dan mometason furoat dengan pemakaian cukup sekali
sehari dosis 200 mcg.
4. Pada kasus dengan rinore berat dapat ditambahkan antikolinergik topikal
(ipatropium bromida).
5. Tindakan operasi dengan cara bedah-beku, elektrokauter, atau konkotomi
parsial konka inferior
6. Neurodektomi n.vidianus yaitu dengan melakukan pemotongan pada
n.vidianus. Hal ini dipilih bila dengan cara di atas hasil tidak optimal.

J. Komplikasi

44
Komplikasi yang terjadi dapat berupa:4
1. Pembentukan polip nasi yaitu suatu perkembangan non-kanker pada hidung
atau sinus mengarah pada inflamasi kronik. Polip ukuran kecil dapat tanpa
keluhan akan tetapi semakin besar akan menimbulkan sumbatan aliran udara
sehingga sulit bernapas.
2. Sinusitis merupakan radang pada selaput yang membungkus sinus.
Tersumbatnya hidung dalam jangka waktu lama meingkatkan kemungkinan
menderita sinusitis.
3. Infeksi telinga tengah. Terjadi akibat meningkatnya cairan hidung dan hidung
tersumbat

K. Prognosis

Prognosis pengobatan golongan obstruksi lebih baik dibanding golongan


rinore. Oleh karena golongan rinore sangat mirip dengan rinitis alergi, perlu
anamnesis dan pemeriksaan yang teliti untuk memastikan diagnosisnya.4

BAB III

KESIMPULAN

Rinitis vasomotor adalah suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa


adanya infeksi, alergi, eosinofilia, perubahan hormonal (kehamilan, hipertiroid),

45
dan pajanan obat (kontrasepsi oral, antihipertensi, B-bloker, aspirin, klorpromazin,
dan obat topikal hidung dekongestan. Patofisiologi rinitis vasomotor diantaranya
disfungsi sistem otonom, neuropeptida, nitrik oksida, dan trauma. Gejala klinik
rinitis vasomotor berupa bersin, rinorea, dan tersumbat. Diagnosis umumnya
ditegakkan dengan cara ekslusi, yaitu menyingkirkan adanya rinitis alergi, infeksi,
okupasi, hormonal dan akibat obat. Penatalaksanaan pada rinits vasomotor
bervariasi tergantung pada trigger dan gejala yang menonjol. Prognosis
pengobatan golongan obstruksi lebih baik dibanding golongan rinore.

ALGORITMA

Keluhan Utama : Rinore/Bersin/Hidung Tersumbat

Rinitis alergi Rinitis non-alergi

Di sertai : Medikamentosa
NARES Vasomotor
1. mata merah dan gatal
serta lakrimasi 46
2. Riwayat atopi
Di cetuskan faktor non- Riwayat penggunaan
spesifik dekongestan jangka
1. Udara dingin panjang
2. Asap rokok
3. Bau menyengat
4. Kelelahan
5. emosi

Pemeriksaan Fisik :
1. Inspeksi : alergic sign
2. Rinoskopi anterior : mukosa
hidung warna livida

Penatalaksanaan:
1. Hindari pencetus
2. Medikamentosa simtomatis
a. Dekongestan
b. Kortikosteroid
c. Antikolinergik
d. Cuci hidung
e. Kauterisasi
3. Operatif
a. Bedah beku
b. Elektrokauterisasi
c. Konkotomi
d. Neurektomi N.vidianus

Evaluasi Output Gejala tidak


kembali gejala kembali
dan
pemeriksaan
Tidak teratasi Teratasi
Gejala
kembali
Komplikasi

Evaluasi terapi
DAFTAR PUSTAKA

47
1. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinus paranasal. In: Buku ajar ilmu kesehatan
telinga, hidung, tenggorok, kepala leher. Soepardi EA, Iskandar N, editors. 5th
ed. FKUI. Jakarta; 2001: 90-92, 115-20.
2. Hilger PA. Hidung dan sinus paranasalis. In:Boies buku ajar penyakit THT.
Effendi H, Santoso K, editors. 6th ed. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta;
1997: 176, 241.
3. Fungal sinusitis. [online]. 2008 [cited 2008 March 19]: [2 screens]. Available
from: URL:
http//www.americanacademyofotolaryngologic.org/Fungal_sinusitis.html.
4. Ramadan HH. Sinusitis, Fungal. [online]. 2006 Aug 25 [cited 2008 March 19]:
[9 screens]. Available from: URL:
http//www.emedicine.com/sinusitis,fungal.html
5. Soetjipto D, Mangunkusumo E. Sinus paranasal. In: Buku ajar ilmu kesehatan
telinga, hidung, tenggorok, kepala leher. Soepardi EA, Iskandar N, editors. 5th
ed. FKUI. Jakarta; 2001: 90-92, 115-20.

48