Anda di halaman 1dari 14

Tugas Kelolaan Individu

Keperawatan Jiwa

LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN JIWA : PERILAKU KEKERASAN
DI RS KHUSUS DAERAH KOTA MAKASSAR

Oleh :

ALIA RIZQI MAUIDHOH, S.Kep


16.04.003

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


YAYASAN PERAWAT SULAWESI SELATAN
STIKES PANAKKUKANG MAKASSAR
2017
TINJAUAN TEORI
GANGGUAN JIWA : PERILAKU KEKERASAN

A. Pengertian
Kekerasan adalah kekutan fisik yang digunakan untuk meyerang
atau merusak orang lain. Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak adil
dan sering mengakibatkan cedera fisik (Ann Isaacs, 2005).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik pada
dirinya sendiri maupun orang lain disertai dengan amuk dan gaduh gelisah
yang tak terkontrol (Budi Ana Keliat, 2011).
Kesimpulan dari pengertian perilaku kekerasan merupakan respons
terhadap stressor yang dihadapi oleh seseorang yang ditunjukkan dengan
perilaku melakukan kekerasan, baik pada diri sendiri, orang lain, maupun
lingkungan, dan bertujuan untuk melukai orang lain secara fisik maupun
psikologis.
Rentang respon Marah

Respon Adaktif Respon


Maladaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif Kekerasan


Keterangan :
a. Asertif
Kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakiti orang lain. Dimana pada tipe
asertif ini klien mampu mengungkapkan kemarahannya tanpa menyalahkan
orang lain.
b. Frustasi
Respon yang terjadi akibat individu gagal mencapai tujuan, keputusan / rasa
aman dan individu tidak menemukan alternatif lain.
c. Pasif
Kegagalan mencapai tujuan karena tidak realitas atau terhambat. Disini klien
merasa tidak bisa mengungkapkan perasaannya, tidak berdaya dan
menyerah.
d. Agresif
Memperlihatkan permusuhan, keras, dan menuntut, mendekati orang lain
dengan ancaman, memberi kata kata ancaman tanpa niat melukai orang
lain. Klien mengekspresikan secara fisik, tapi masih terkontrol, mendorong
orang lain dengan ancaman
e. Kekerasan
Dapat disebut juga dengan amuk yaitu perasaan marah dan bermusuhan yang
kuat disertai kehilangan kontrol diri individu dapat merusak diri sendiri,
orang lain dan lingkungan. Contohnya membanting barang-barang menyakiti
diri sendiri (bunuh diri).

B. Psikopatologi/Psikodinamika
1. Etiologi
Menurut Yosep (2007), beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
perilaku kekerasan adalah:
1. Faktor predosposisi
1) Teori Biologik
Teori biologik terdiri dari beberapa pandangan yang berpengaruh terhadap
perilaku:
a. Neurobiologik
Ada tiga area pada otak yang berpengaruh terhadap proses impuls agresif,
yaitu sistem limbik, lobus frontal, dan hipotalamus. Neurotransmitter juga
mempunyai peranan dalam memfasilitasi atau menghambat proses impuls
agresif. Sistem limbik merupakan sistem informasi, ekspresi, perilaku, dan
memori, apabila ada gangguan pada sistem ini maka akan meningkatkan
atau menurunkan potensial perilaku kekerasan, apabila gangguan pada
lobus frontal maka individu tidak mampu membuat keputusan, kerusakan
pada penilaian, perilaku tidak sesuai, dan agresif. Beragam komponen dari
sistem neurologis mempunyai implikasi memfasilitasi dan menghambat
impuls agresif. Sistem limbik terlambat dalam menstimulasi timbulnya
perilaku agresif, dan pusat otak atas secara konstan berinteraksi dengan
pusat agresif.
b. Biokimia
Berbagai neurotransmitter (epinephrine, norepinefrine, dopamine,
asetikolin, dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi atau
menghambat impuls agresif.
c. Gangguan Otak
Sindroma otak terbukti sebagai faktor predisposisi perilaku agresif dan
tindak kekerasan. Tumor otak, khususnya yang menyerang sistem limbik
dan lobus temporal. Trauma otak akan menimbulkan perubahan serebral
dan penyakit seperti ensefalitis, dan epilepsi, khususnya pada lobus
temporal, terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak
kekerasan.
2) Teori Psikologik
a. Teori Psikoanalitik
Teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk mendapatkan
kepuasan dan rasa aman yang dapat mengakibatkan tidak berkembangnya
ego dan membuat konsep diri rendah. Agresif dan tindak kekerasan
memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri dan
memberikan arti dalam kehidupannya. Perilaku agresif dan perilaku
kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap rasa
ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri.
b. Teori Pembelajaran
Anak belajar melalui perilaku meniru dari contoh peran orangtuanya.
Contoh peran tersebut ditiru karena dipersepsikan sebagai prestise atau
berpengaruh, atau jika perilaku tersebut diikuti dengan pujian yang positif.
Namun, dengan perkembangan yang dialaminya, mereka mulai meniru
pola perilaku guru, teman, dan orang lain. Individu yang dianiaya ketika
masih kanak-kanak atau mempunyai orang tua yang mendisiplinkan anak
mereka dengan hukuman fisik akan cenderung untuk berperilaku
kekerasan setelah dewasa.
3) Teori Sosiokultural
Pakar sosiolog lebih menekankan pengaruh faktor budaya dan struktur
sosial terhadap perilaku agresif. Terdapat kelompok sosial yang secara
umum menerima perilaku kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan
masalahnya. Masyarakat juga berpengaruh pada perilaku tindak kekerasan,
apabila individu menyadari bahwa kebutuhan dan keinginan mereka tidak
dapat terpenuhi secara konstruktif. Penduduk yang ramai atau padat dan
lingkungan yang ribut dapat berisiko untuk perilaku kekerasan.
2. Faktor Presipitasi
Menurut Yosep (2007), faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku
kekerasan adalah:
1) Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial
ekonomi.
2) Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak
membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melakukan
kekerasan dalam menyelesaikan konflik.
3) Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan
alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat
menghadapi rasa frustasi.
4) Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan,
perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan
keluarga.

2.2.2 Tanda dan Gejala


Menurut Yosep (2007), tanda dan gejala perilaku kekerasan sebagai
berikut:
1. Fisik : muka merah dan tegang, mata melotot dan pandangan tajam, tangan
mengepal, rahang mengatup, postur tubuh kaku dan jalan mondar-mandir.
2. Verbal : bicara kasar, suara tinggi, membentak atau berteriak, mengancam
secara verbal atau fisik., mengumpat dengan kata-kata kotor, ketus.
3. Perilaku: melempar atau memukul benda/orang lain, melukai diri
sendiri/orang lain, merusak lingkungan, amuk/agresif dan tindak
kekerasan.
4. Emosi: merasa tidak aman dan tidak nyaman, merasa terganggu, dendam,
dan jengkel, merasa tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk dan ingin
berkelahi, merasa menyalahkan dan menuntut.
5. Intelektual : mendominasi, berdebat, cerewet ,berperilaku kasar,
meremehkan.
6. Spiritual: merasa berkuasa dan merasa benar, mengkritik pendapat dan
menyinggung perasaan orang lain, tidak perduli, berperilaku kasar.
7. Sosial : menarik diri, merasakan pengasingan, penolakan, ejekan, dan
sindiran.
8. Perhatian : mencuri, melakukan penyimpangan seksual.

B. Proses Terjadinya Masalah


Depkes (2000) mengemukakan bahwa stress, cemas dan marah merupakan
bagian kehidupan sehari -hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. Stress
dapat menyebabkan kecemasan yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan
dan terancam. Respon terhadap marah dapat diekspresikan secara eksternal
maupun internal. Secara eksternal dapat berupa perilaku kekerasan sedangkan
secara internal dapat berupa perilaku depresi dan penyakit fisik. Mengekspresikan
marah dengan perilaku konstruktif dengan menggunakan kata-kata yang dapat
dimengerti dan diterima tanpa menyakiti orang lain, akan memberikan perasaan
lega, menu runkan ketegangan, sehingga perasaan marah dapat diatasi (Depkes,
2000). Perilaku yang tidak asertif seperti perasaan marah dilakukan individu
karena merasa tidak kuat. Individu akan pura-pura tidak marah atau melarikan diri
dari rasa marahnya sehingga rasa marah tidak terungkap. Kemarahan demikian
akan menimbulkan rasa bermusuhan yang lama dan pada suatu saat dapat
menimbulkan kemarahan destruktif yang ditujukan kepada diri sendiri
(Depkes,2000)
2.2.4 Akibat Perilaku Kekerasan
Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi
menciderai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko menciderai merupakan suatu
tindakan yang memungkinkan dapat melukai / membahayakan diri, orang lain,
dan lingkungan.
Tanda dan gejala :
1. Memperlihatkan permusuhan
2. Mendekati orang lain dengan ancaman
3. Memberikan kata kata ancaman dengan rencana melukai\
4. Menyentuh orang lain dengan cara menakutkan
5. Mempunyai rencana untuk melukai

2.3 Diagnosa Medis dan Diagnosa Keperawatan

2.3.1 Diagnosa Medis


a. Skizofrenia
b. Gangguan tingkah laku

2.3.2 Diagnosa Keperawatan


a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan
perilaku kekerasan/amuk
b. Perilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan harga diri rendah: HDR

2.4 Penatalaksanaan (Medis dan Keperawatan)


2.4.1 Penatalaksanaan Medik
Dalam pandangan psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa), jika seseorang
mengalami suatu gangguan atau penyakit, maka yang sakit atau terganggu itu
bukan terbatas pada aspek jiwanya saja atau raganya saja, tetapi keduanya sebagai
kebutuhan manusia itu sendiri. Adapun penatalaksanaan medik menurut MIF
Baihaqi, dkk, 2005 sebagai berikut :
a. Somatoterapi
Dengan tujuan memberikan pengaruh-pengaruh langsung berkaitan
dengan badan, biasanya dilakukan dengan :
1) Medikasi psikotropik
Medikasi psikotropik berarti terapi langsung dengan obat psikotropik atau
psikofarma yaitu obat-obat yang mempunyai efek terapeutik langsung pada proses
mental pasien karena efek obat tersebut pada otak. Obat antipsikotik, contohnya
Chlorpromazine, Haloperidol dan Stelazine, phenotizin
2) Terapi Elektrokonvulsi (ECT)
Terapi ini dilakukan dengan cara mengalirkan listrik sinusoid ke tubuh
penderita menerima aliran listrik yang terputus-putus. ECT ini berfungsi untuk
menenangkan klien bila mengarah pada keadaan amuk.
b. Psikoterapi
Psikoterapi adalah salah satu pengobatan atau penyembuhan terhadap
suatu gangguan atau penyakit, yang pada umumnya dilakukan melalui wawancara
terapi atau melalui metode-metode tertentu misalnya : relaksasi, bermain dan
sebagainya. Tujuan utamanya adalah untuk menguatkan daya tahan mental
penderita, mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang baru dan lebih baik
serta untuk mengembalikan keseimbangan adaptifnya.
c. Manipulasi lingkungan
Manipulasi lingkungan adalah upaya untuk mempengaruhi lingkungan
pasien, sehingga bisa membantu dalam proses penyembuhannya. Tujuan
utamanya untuk mengembangkan atau merubah / menciptakan situasi baru yang
lebih kondusif terhadap lngkungan. Misalnya dengan mengalihkan penderita
kepada lingkungan baru yang dipandang lebih baik dan kondusif, yang mampu
mendukung proses penyembuhan yang dilakukan.
Menurut Yosep ( 2007 ) obat-obatan yang biasa diberikan pada pasien
dengan marah atau perilaku kekerasan adalah :
a. Antianxiety dan sedative hipnotics, obat-obatan ini dapat mengendalikan
agitasi yang akut. Tapi obat ini tidak direkomendasikan untuk penggunaan
dalam waktu lama karena dapat menyebabkan kebingungan dan
ketergantungan, juga bisa memperburuk simptom depresi.
b. Buspirone obat antianxiety, efektif dalam mengendalikan perilaku
kekerasan yang berkaitan dengan kecemasan dan depresi.
c. Anti depressants, penggunaan obat ini mampu mengontrol impulsif dan
perilaku agresif klien yang berkaitan dengan perubahan mood.
d. Mood stabilizer, misalnya Lithium dan Carbamazepin, efektif untuk
agresif karena manik.
e. Antipsychotic dipergunakan untuk perawatan perilaku kekerasan, misalnya
Nozinan.

.4.2 Penatalaksanaan keperawatan


Ada tiga strategi tindakan keperawatan pada klien dengan perilaku
kekerasan. Strategi tindakan itu terdiri dari :
1. Strategi preventif : kesadaran diri, penyuluhan klien dan latihan asertif.
2. Strategi Antisipasi : komunikasi, perubahan lingkungan, tindakan perilaku
dan psikofarmakologi.
3. Strategi pengekangan : manajemen krisis, pengasingan dan pengikatan.
Terapi yang dapat dilakukan yaitu:
a. Terapi keluarga : Keluarga dibantu untuk menyelesaikan konflik, cara
membatasi konflik, saling mendukung dan menghilangkan stress.
b. Terapi kelompok : Terapi kelompok berfokus pada dukungan dan
perkembangan keterampilan sosial dan aktifitas lain dengan berdiskusi dan
bermain untuk mengembalikan kesadaran klien
c. Terapi musik : Dengan terapi musik klien terhibur dan bermain untuk
mengembalikan kesadaran klien, kare na dengan perasaan terhibur maka
klien dapat mengontrol emosinya.
2.5 Rencana tindakan keperawatan klien dengan perilaku kekerasan
TGL Diagnosa Perencanaan Intervensi
Keperawatan

Tujuan Kriteria

1 2 3 4 5

Resiko perilaku TUM 1.1 klien mau membalas salam 1.1.1 beri salam/ panggil nama
mencederai diri 1.2 klien mau menjabat tangan sebutkan nama perawat
berhubungan klien tidak mencederai 1.3 klien mau menyebutkan nama jelaskan maksud hubungan imteraks
diri 1.4 klien mau tersenyum dan kontrak yang akan dibuat
dengan perilaku
kekerasan
1.5 klien mau kontak mata beri rasa aman dan sikap empati
TUK 1.6 klien maumengetahui nama perawat lakukan kontak singkat tapi sering
1. Klien dapat
membina
hubungan saling
percaya
2. klien dapat 2.1 klien dapat mengungkapkan 1.1.1 beri kesempatan untuk mengungkapkan
mengidentifikasi perasaannya perasaannya
penyebab perilaku 2.2 klien dapat mengungkapkan 2.2.1 bantu klien untuk mengungkapkan
kekerasan perasaan jengkel/ kesal (pada diri perasaan jengkel/ kesal
sendiri, lingkungan, dan orang lain)
3. klien dapat 3.1 klien dapat mengungkapkan 1.1.1 anjurkan klien mengungkapkan apa yang
mengidentifikasi perasaan saat marah/ jengkel dialami dan dirasakan saat marah/ jengkel
tanda dan gejala 1.1.2 observasi tanda dan gejala perilaku
perilaku kekerasan kekerasan pada klien
3.2.1 simpulkan bersama klien tanda dan gejala
3.2 klien dapat menyimpul tanda dan perilaku kekerasan yang akan dialami
gejala jengkel/ kesal yang dialami
4. klien dapat 4.1 klien dapat mengungkapkan perilaku 4.1.1 anjurkan klien mengungkapkan perilaku
mengidentifikasi kekerasan yang biasa dilakukan kekerasan yang biasa dilakukan klien
perilaku kekerasan 4.2 klien dapat bermain peran sesuai (verbal, diri sendiri, lingkungan, dan orang
yang biasa perilaku kekerasan yang biasa lain).
dilakukan dilakukan 4.1.2 Bantu klien bermain peran sesuai dengan
perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
4.3 Klien dapat mengetahui cara yang 4.3.1 Bicarakan dengan klien, apakah dengan
biasa dilakukan untuk cara yang klien lakukan masalahnya
menyelesaikan masalah selesai
5. Klien dapat 5.1 Klien dapat menjelaskan akibat dari 5.1.1 Bicarakan akibat/ kerugian dari cara yang
mengidentifikasi cara yang digunakan klien dilakukan klien
akibat perilaku Akibat pada diri sendiri 5.1.2 Bersama klien menyimpulkan akibat dar
kekerasa Akibat pada orang lain cara yang dilakukan oleh klien
Akibat padalingkungan 5.1.3 Tanyakan pada klien apakah ia ingin
memepelajari cara baru yang sehat
6. Klien dapat 6.1 Klien dapat menyebutkan contoh 6.1.1 Diskusikan kegiatan fisik yang bisa
mendemonstrasika pencegahan perilaku kekerasan dilakukan klien, beri pujian atas kegiatan
n cara fisik untuk secara fisik: fisik yang biasa dilakukan klien
mencegah perilaku Tarik napas dalam 6.1.2 Diskusikan dua cara fisik yang paling
kekerasan Pukul kasur dan bantal mudah dilakukan untuk mencegah perilaku
Ddl: kegiatan fisik kekerasan, yaitu: tarik napas dalam dan
pukul bantal dan kasur.
6.2 Klien dapat mendemonstrasikan cara 6.2.1 Diskusikan cara melakukan napas dalam
fisik untuk mencegah perilaku 6.2.2 Beri contoh klien tentang cara menarik
kekerasan napas dalam
6.2.3 Minta klien mengikuti contoh yang
diberikan sebanyak 5 kali
6.2.4 Beri pujian positif atas kemampuan klien
6.2.5 Tanyakan perasaan klienn setelah selesai
6.2.6 Anjutkan klien menggunaka cara yang
telah dipelajari saat marah / jengkel
6.2.7 Lakukan hal yang sama dengan 6.2.1
sampai 6.2.6 untuk cara fisik lain dalam
pertemuan yang lain
6.3 Klien mempunyai jadwal untuk 6.3.1 Diskusikan dengan klien mengena
meltih cara pencegahan fisik yang frekuensi latihan yang akan dilakukan
telah dipelajari sebelumnya sendiri oleh klien
6.3.2 Susun jadwal kegiatan untuk melatih cara
yang telah dipelajari
6.4 Klien mengevaluasi kemampuan 6.4.1 Klien mengevaluasi pelaksanaan latihan
dalam melakukan cara fisik sesuai cara pencegahan perilaku kekerasan yang
jadwal yang telah disusun telah dilakukan dengan mengisi jadwa
kegiatan harian
6.4.2 Validasi kemampuan klien dalam
melaksanakan latihan
6.4.3 Berikan pujian atas keberhasila klien
6.4.4 Tanyakan pada klien apakah kegiatan
cara pencegahan perilaku kekerasan dapa
mengurangi perasaan marah
7. Klien dapat 7.1 Klien dapat menyebutkan cara bicara 7.1.1 Diskusikan cara bicara yang baik dengan
mendemonstrasika (verbal) yang baik dalam mencegah klien
n cara sosialuntu perilaku kekerasan 7.1.2 Beri contoh cara bicara yang baik
mencegah perilaku Meminta dengan baik Meminta dengan baik
kekerasan Menolak dengan baik Menolak dengan baik
Mengungkapkan perasaan Mengungkapkan perasaan dengan baik
dengan baik
7.2 Klien dapat mendemontrasikan cara 7.2.1 Meminta klien mengikuti contoh cara
verbal yang baik bicara yang baik
Meminta dengan baik
Saya minta uang untuk beli makan
Menolak dengan baik
maaf, saya tidak bisa melakukan
karena ada kegiatan
Mengungkapkan perasaan dengan baik
saya kesal karena permintaan saya
tidak dikabulkan disertai nada suara
yang rendah
7.2.2 Minta klien untuk mengulangi sendiri
7.2.3 Beri pujian atas keberhasilan klien
7.3 Klien mempunyai jadwal untuk 7.3.1 Diskusiakan dengan klien tentang waktu
melatih cara bicara yang baik dan kondisi cara bicara yang dapat dilatih
diruangan, misalnya : meminta obat, baju
dll.; kmenolak kan ajakan merokok tidur
tidak tepat waktu, menceritakan kesalahan
pada perawat
7.3.2 Susun jadwal kegiatan untuk melatih cara
yang telah dipelajari
7.4 Klien melakukan evaluasi terhadap 7.4.1 Klien mengevaluasi pelaksanaan latihan
kemampuan cara bicara yang sesuai cara bicara yang baik dengan mengis
dengan jadwal yang disusun jadwal kegiatan
7.4.2 Validasi kemampuan klien dalam
melaksanakan latihan
7.4.3 Beri pujian atas keberhasilan klien
7.4.4 Tanyakan pada klien bagaimana perasaan
setelah latihan bicara yang baik apakah
keinginan marah berkurang.