Anda di halaman 1dari 184

BAB 1.

TINJAUAN UNTUK PENELITIAN

TOPIK PEMBAHASAN

Motivasi dan Tujuan Penelitian


Karakteristik Penelitian
Metode Ilmiah
o Karateristik Ilmu
o Rasionalisme dan Empirisme
o Pengembangan Ilmu dan Penelitian
Proses Penelitian
o Masalah Penelitian
o Telaah Teoritis
o Pengujian Fakta
o Kesimpulan
Paradigma Penelitian
o Paradigma Kuantitatif
o Paradigma Kualitatif
Kriteria Penelitian Ilmiah
Motivasi dan Tujuan Penelitian

Hakekat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari aspek motivasi yang

mendorong peneliti untuk melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yang

berbeda, diantaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masang-masang. Manajer,

konsultan bisnis, mahasiswa, dosen secara individu atau para praktisi dan para akademisi

secara kolektif, masing-masing mempunyai motivasi dan tujuan tertentu dalam melakukan

penelitian. Motivasi dan tujuan penelitian secara umum pada dasarnya sama, yaitu bahwa

penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui

sesuatu. Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan

kebutuhan dasar manusia yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.

Kegiatan penelitian dimulai ketika manusia menaruh perhatian pada sesuatu yang ada

(fakta) disekitar kehidupannya. Perhatian dan pengamatan terhadap fakta-fakta dan di dorong

oleh keinginan untuk mengetahui fakta-fakta yang diamati secara lebih mendalam akan

memunculkan berbagai macam pertanyaan. Adanya hasrat mempertanyakan sesuatu yang

menjadi perhatiannya. Selanjutnya akan diikuti dengan usaha manusia untuk memperoleh

jawaban dari pertanyaan pertanyaan yang muncul dibenaknya. Pertanyaan-pertanyaan

tersebut menjadi sesuatu masalah yang memerlukan solusi. Penelitian dengan demikian

secara ringkas dapat digambarkan sebagai suatu kegiatan yang dimulai dengan pengamatan

terhadap fakta yang menarik perhatian dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan. Kegiatan

penelitian tidak berhenti sampai disini, karena pertanyaan-pertanyaan yang muncul

selanjutnya akan mendorong usaha untuk mencari jawaban pertanyaan atau memecahkan

masalah dengan pengetahuan yang dimiliki manusia. Pengamatan terhadap fakta, identifikasi

masalah, dan usaha untuk menjawab masalah dengan menggunakan pengetahuan, merupakan

esensi dari kegiatan penelitian.


Tujuan penelitian, dengan demikian adalah untuk memperoleh pengetahuan yang

dapat menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah. Beberapa penulis buku metodologi

penelitian mengemukakan tujuan penelitian di dalam rumusan definisi penelitian. Masing-

masing mengemukakan definisi dan tujuan penelitian berdasarkan sudut pandang yang

berbeda. Berdasarkan apa yang mereka kemukakan, tidak mudah untuk mengintegrasikan

berbagai pendapat tersebut ke dalam suatu definisi tunggal. Rumusan definisi yang lengkap

setidaknya akan memudahkan untuk memahami hakekat penelitian. Misal, menurut Buckley

eval. penelitian didefinisikan sebagai suatu penyelidikan yang sistematis untuk

meningkatkan sejumlah pengetahuan. Defisini tersebut secara eksplisit menyatakan tujuan

penelitian untuk meningkatkan pengetahuan. Tujuan penelitian yang lain dinyatakan secara

jelas oleh sekarang. Penelitian merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi

untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban.

Berdasarkan tujuan penelitian yang dikemukakan dalam rumusan definisi penelitian


tersebut, motivasi untuk melakukan penelitian pada dasarnya dapat ditimbulkan oleh dua sisi
yang saling terkait. Di satu sisi penelitian merupakan refleksi dari keinginan positif manusia
untuk meningkatkan pengetahuannya mengenai sesuatu. Pada sisi yang lain kegiatan tersebut
di dorong oleh keinginan reaktif manusia untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan
masalah dalam sehari-hari.

Karakteristik Penelitian

Tujuan penelitian merupakan salah satu dari tiga karakteristik penelitian yang

dikemukakan oleh Murdick. Dua karakteristik yang lain adalah metode-metode penelitian

dan hubungan antara penelitian dengan ilmu (Gambar 1.1.).

Tujuan Penelitian, seperti yang telah dikemukakan di muka, dapat dilihat dari dua

sisi : (1) untuk mengembangkan pengetahuan, dan (2) untuk memecahkan masalah atau

menjawab pertanyaan penelitian. Tujuan pertama dalam penelitian-penelitian bisnis

merupakan tujuan yang bersifat jangka panjang karena umumnya tidak terkait secara

langsung dengan pemecahan masalah-masalah praktis. Tujuan kedua merupakan tujuan yang
bersifat jangka pendek. Hasil penelitian yang lebih menekankan pada usaha pemecahan

masalah-masalah praktis diperlukan untuk pertimbangan dalam pembuatan keputusan bisnis.

Metode-metode Penelitian. Definisi di muka menyatakan, bahwa penelitian

meruapakan usaha penyelidikan yang sistematis dan terorganisasi. Kata sistematis dan

terorganisasi menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuannya. Penelitian menggunakan cara-

cara atau prosedur-prosedutR tertentu yang diatur dengan baik (metode-metode). Metodologi

penelitian berisi pengetahuan yang mengkaji ketentuan mengenai metode-metode yang

digunakan dalam penelitian.

Penelitian dan Ilmu. Penelitian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk

mengembangkan pengetahuan. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang memiliki

kriteria tertentu. Penelitian

Gambar 1.1 Karakteristik Penelitian

Pengembangan
Pengetahuan

Tujuan
Penelitian

Karakteristik Metode-metode
Penelitian Penelitian
Pemecahan
Masalah
Hubungan
Penelitian - Ilmu

Dengan demikian, mempunyai hubungan yang erat dengan ilmu. Penelitian pada dasarnya
merupakan operasionalisasi dari metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan
ilmiah yang dikenal dengan Metode Ilmiah (scientific method).
Metode Ilmiah

Berdasarkan karakteristiknya, penelitian merupakan kegiatan yang terkait dengan


pengembangan ilmu. Pembahasan mengenai metode ilmiah, disamping aspek motivasi tujuan
dan definisi penelitian, dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai hakekat
penelitian. Pengetahuan mengenai metode ilmiah akan membantu pemahaman mengenai
struktur berpikir yang menjadi landasan penelitian.

Metode ilmiah merupakan prosedur atau cara-cara tertentu yang digunakan untuk
memperoleh pengetahuan yang disebut ilmu (pengetahuan ilmiah). Tidak semua pengetahuan
berupa ilmu, karena ilmu merupakan pengetahuan yang memiliki kriteria tertentu. Cara untuk
memperoleh pengetahuan dalam kajian filsafati dikenal dengan istilah epistemologi (filsafat
pengetahuan). Metode ilmiah dengan demikian merupakan epistemologi ilmu yang mengkaji
sumber-sumber untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Uraian mengenai metode ilmiah
disini, tentu saja tidak selengkap pembahasan dalam kajian filsafat pengetahuan. Fokus
pembahasan metode ilmiah disini diarahkan untuk memahami hakekat penelitian sebagai
operasionalisasi dari prosedur-prosedur tertentu untuk memperoleh pengetahuan ilmiah.

Karakteristik Ilmu

Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasa

dan berpikir yang menjadi dasar manusia dalam bersikap dan bertindak. Ilmu merupakan

bagian dari pengetahuan yang memberikan penjelasan mengenai fakta atau fenomena alam

(fakta yang benar atau yang umumnya dinilai benar). Pengetahuan yang menjelaskan

fenomena alam bermanfaat untuk memprediksi fenomena-fenomena alam. Pengetahuan

yang terkandung dalam ilmu dinilai sebagai pengetahuan yang benar untuk menjawab

masalah-masalah dalam kehidupan manusia.

Ilmu sebagai sumber kebenaran adalah pengetahuan yang memiliki kriteria tertentu.
Suatu pengetahuan dapat dikategorikan sebagai ilmu, jika memenuhi setidaknya dua kriteria
yaitu sebagai pengetahuan yang rasional dan teruji.

Pengetahuan yang rasional mempunyai pengertian sebagai pengetahuan yang

disusun dengan menggunakan pikiran dan timbangan yang logis atau masuk akal.

Pengetahuan yang rasional disusun berdasarkan pola berpikir tertentu yang masuk akal.

Pengetahuan yang disusun dengan logika tertentu sering dikatakan sebagai pengetahuan yang
menggunakan penalaran. Karakteristik pengetahuan yang rasional adalah yang

menggunakan logika tertentu atau penalaran dalam membuat suatu kesimpulan.

Ilmu menjadi sumber kebenaran untuk mengatasi segala persoalan dalam kehidupan

manusia. Kebenaran dalam ilmu, meskipun demikian harus dipahami sebagai kebenaran yang

tidak mutlak. Kebenaran ilmu bersifat relatif, karena kebenaran ilmu tergantung pada pola

berpikir yang digunakan ilmu dalam menyusun pengetahuannya. Suatu pengetahuan yang

benar menurut penalaran atau logika tertentu. Kemungkinan belum tentu benar menurut

penalaran atau logia yang lain.

Pengetahuan yang teruji adalah pengetahuan yang disusun berdasarkan fakta atau

fenomena. Fakta dapat berupa kejadian-kejadian atau segala sesuatu yang dialami dalam

kehidupan nyata atau tertangkap oleh pengalaman hidup manusia. Salah satu kriteria ilmu.

Rasionalisme dan Empirisme

Kriteria pengetahuan sebagai ilmu menurut ketentuan dalam metode ilmiah, pada dasarnya

merupakan kombinasi dari dua pendekatan Rasionalisme dan Empirisme. Rasionalisme

adalah pendekatan dalam memperoleh pengetahuan yang benar dengan menggunakan

penalaran. Sedang, Empirisme menggunakan fakta atau fenomena empiris sebagai

sumber kebenaran untuk menyusun pengetahuan.

Pendekatan rasionalisme menyusun pengetahuan secara konsisten dan komulatif berdasarkan


pada pengetahuan-pengetahuan yang telah tersusun sebelumnya. Artinya, suatu pengetahuan
disusun berdasarkan penalaran yang konsisten dengan penalaran pengetahuan-pengetahuan
sebelumnya. Adanya konsistensi penalaran antara pengetahuan yang baru dengan
pengetahuan-pengetahuan yang telah tersusun sebelumnya menunjukkan bahwa konstruksi
pengetahuan baru merupakan pengembangan secara komulatif dari pengetahuan-pengetahuan
yang telah tersusun sebelumnya.

Empirisme merupakan pendekatan untuk memperoleh pengetahuan yang memisahkan antara

pengetahuan yang diperoleh berdasarkan fakta dan pengetahuan yang tidak berdasarkan
fakta. Pengetahuan yang benar menurut pendekatan empirisme adalah pengetahuan yang

disusun berdasarkan fakta atau fenomena. Pengetahuan yang rasional tetapi tidak didukung

oleh fakta, menurut pendekatan empirisme bukan merupakan pengetahuan yang benar.

Cooper dan Emory menjelaskan metode ilmiah sebagai salah satu pola berpikir yang terletak
diantara pola berpikir yang berorientasi pada rasionalisme (digambarkan dengan sumbu
vertikal) dengan pola berpikir yang berorientasi pada empirisme (digambarkan dengan sumbu
horizontal). Kombinasi antara pendekatan rasionalisme dengan pendekatan empirisme
menegaskan dua kriteria utama suatu pengetahuan ilmiah, yaitu :

1. Adanya konsistensi pengetahuan berikutnya dengan pengetahuan-pengetahuan


sebelumnya sehingga secara komulatif mengembangkan pengetahuan yang telah ada.
2. Adanya kesesuaian antara pengetahuan yang dikembangkan dengan fakta atau
fenomena empiris.

Pengembangan Ilmu dan Penelitian

Ilmu, seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, merupakan pengetahuan rasional dan teruji

yang menjelaskan (dan memprediksi) fenomena-fenomena alam. Penjelasan atau keterangan

mengenai fenomena alam disebut Teori. Ilmu, dengan demikian, merupakan

pengetahuan yang teoritis yang memberi penjelasan atau keterangan mengenai

fenomena-fenomena alam.

Ada dua aspek utama yang tercakup dalam proses pengembangan ilmu, yaitu :

1. Penyusunan konstruksi teori.


2. Pengujian, verifikasi atau evaluasi terhadap konstruksi teori.

Keduanya saling berjalinan dan berkelanjutan dalam proses pengembangan ilmu, karena
konstruksi teori disusun secara bertahap melalui proses pengujian atau verifikasi.

Fakta atau fenomena alam dalam kehidupan bukanlah sesuatu yang bersifat statis, melainkan
mengalami perubahan sesuai dengan berjalannya waktu,ilmu, dengan demikian, harus selalu
dikembangkan sesuai dengan perubahan-perubahan pada fenomena alam yang dijelaskannya.
Ilmu yang tidak dikembangkan kemungkinan akan menjadi pengetahuan teoritis yang tidak
sesuai dengan fakta yang telah mengalami perubahan. Ilmu yang tidak dikembangkan sesuai
dengan perubahan fakta yang dijelaskannya akan menjadi teori yang usang dan kehilangan
relevansinya, sehingga lama kelamaan akan ditinggalkan oleh manusia.
Agar tetap terpelihara sebagai pengetahuan yang benar, teori-teori dari suatu ilmu perlu
dievaluasi atau diuji apakah masih relevan untuk menjelaskan dfenomena-fenomena alam
yang telah berubah. Agar tetap relevan dengan fenomena yang dijelaskannya, kemungkinan
diperlukan rekonstruksi teori. Proses pengembangan ilmu yang meliputi penyusunan dan
pengujian terhadap konstruksi teori secara operasional dilakukan melalui penelitian-
penelitian. Proses pengembangan ilmu kemungkinan berupa penelitian yang menguji
kesesuaian antara teori-teori yang ada dengan fakta yang dijelaskannya. Pengembangan ilmu
dapat pula berupa penelitian untuk menyusun konstruksi teori berdasarkan fenomena-
fenomena yang diteliti. Hasil penelitian kemungkinan berupa kesimpulan apakah suatu teori
didukung oleh fakta, atau diperlukan rekonstruksi teori agar relevan dengan fkta yang
dijelaskan.

Penelitian, dengan demikian, merupakan oopersionalisasi dari proses pengembangan ilmu.


Hasil suatu penelitian diharapkan dapat memperbaiki temuan-temuan penelitian sebelumnya.
Peran penelitian dalam pengembangan ilmu menunjukkan jalinan erat antara penilitian
dengan ilmu. Penelitian secara bertahap dan berkelanjutan memberikan kontribusi terhadap
pengembangan ilmu melalui penyusunan dan pengujian konstruksi teori.

Proses Penelitian

Penelitian sebagai proses untuk mengembangkan pengetahuan dan menjawab suatu masalah
memerlukan terpenuhinya persyaratan antara lain :

1. Merupakan penyelidikan sistematis terhadap masalah tertentu.


2. Menggunakan metode ilmiah.
3. Mengumpulkan bukti yang cukup dan representative sebagai dasar untuk menarik
kesimpulan.
4. Mengguanakan penalaran yang logis atau tidak memihak (bias) dalam menarik
kesimpulan.

Gambar 1.2 berikut menyajikan proses penelitian yang secara garis besar terdiri atas empat
tahap :

1. Masalah atau pertanyaan penelitian.


2. Telaah teoritis.
3. Pengujian fakta.
4. Kesimpulan.

Gambar 1.2 :
TELAAH TEORITIS HIPOTESIS

MASALAH/PERTANYAAN
PENELITIAN KESIMPULAN

PENGUJIAN FAKTA HASIL

Masalah Penelitian

Penelitian dapat dilihat sebagai proses yang mencakup penemuan masalah (problem
finding) dan pemecahan masalah (problem solving). Penemuan masalah merupakan tahap
penelitian yang paling sulit dan krusial karena tujuan penelitian adalah menjawab masalah
penelitian, sehingga suatu penelitian tidak dapat dilakukan dengan baik jika masalahnya tidak
dirumuskan secara jelas. Proses penemuan masalah mencakup tahap-tahap, antara lain
identifikasi bidang permasalahan, pemilihan atau penentuan pokok masalah, dan perumusan
masalah atau pertanyaan penelitian. Rumusan masalah atau pertanyaan penelitian akan
mempengaruhi pelaksanaan tahap selanjutnya dlam proses penelitian. Konsep-konsep teoritis
yang ditelaah harus relevan dengan rumusan masalah yang diteliti. Rumusan masalah juga
menjadi pertimbangan dalam penelitian metode-metode pengujian fakta. Pendekatan yang
digunakan penelitian untuk menjawab masalah penelitian disebut dengan strategi penelitian.

Telaah Teori

Telaah teori yang dinamakan pula kajian teoritis, karangan teoritis, atau landasan teoritis.
Merupakan tahap dalam proses penelitian yang bertujuan untuk menyusun kerangka teoritis
untuk menjadi dasar menjawab masalah atau pertanyaan penelitian. Agar penelitian
menghasilkan jawaban yang dapat diterima sebagai sumber kebenaran, diperlukan teori untuk
menjelaskna fakta yang diteliti. Telaah teoritis merupakan bagian dari proses penelitian yang
memberikan jawaban masalah penelitian secara rasional atau berdasarkan penalaran. Menurut
ketentuan dalam metode ilmiah, telaah teoritis merupakan tahap penelitian yang menguji
terpenuhinya kriteria pengetahuan yang rasional .

Proses ini memerlukan eleborasi oleh peneliti terhadap pengetahuan pengetahuan teoritis
yang relevan dengan masalah penelitian . Teori teori yang di telaah berasal dari literature,
diantaranya adalah berupa hasil penelitian-penelitaian sebelumnya . Telaah teoritis, oleh
karena itu, sering disebut telaah literature ( literature review ) . Jawaban masalah atau
pertanyaan penelitian dari proses telaah teoritis merupakan berupa dugaan- dugaan yang di
rumuskan dalam bentuk pernyataan yang di sebut hipotesis yang duji.

Proses penelitian yang mengembangkan hipotesis melalui telaah teoritis ini merupakan tipe
penelitian yang bertujuan untuk menguji teori atau hipotesis ( hypothesis testing ) .
Pengujian hipotesis yang di lakukan melalui proses pengujian fakta ini merupakan proses
pengembangan ilmu atau teori yang mengunakan pendekatan deduktif . Tipe penelitian
yang banyak dibahas dalam Buku-Buku Metodologi Penelitain ini dikenal dengan
pendekatan hypotetico-deductive . Pendekatan penelitian ini menggunakan hipotesis
sebagai pedoman dan arah untuk menentukan metode-metode penelitian yang digunakan
dalam pengujian fakta.

Pengujian Fakta

Pengujian fakta atau sering pula disebut dengan pengujian data, merupakan tahap dalam
proses penelitian yang secara garis besar terdiri atas proses : pemilihan, pengumpulan, dan
analisis fakta yang terkait dengan masalah yang diteliti. Data adalah sekumpulan fakta yang
diperoleh melalui pengamatan (observasi) langsung atau survey. Pengujian fakta atau data
pada dasarnya merupakan proses untuk memilih, mengumpulkan, dan menganalisis data,
yang hasilnya digunakan sebagai dasar (bukti) yang cukup dan repsresentatif untuk
menyusun kesimpulan penelitian. Prosedur-prosedur yang digunakan oleh peneliti dalam
pemilihan, pengumpulan, dan analisis data secara keseluruhan disebut dengan desain
penelitian.

Pemilihan data merupakan bagian dari proses pengujian data yang berkaitan dengan
penentuan jumlah dan jenis data yang diteliti. Peneliti dapat menggunakan seluruh data yang
ada (populasi) atau mengunakan sebagian data (sampel). Ada beberapa alasan dan teknik
yang dapat digunakan oleh peneliti dalam pemilihan sampel. Karakteristik sampel yang
dipilih untuk diuji harus representative dengan karakteristik populasi yang diwakilinya.

Pengumpulan data merupakan bagian dari proses pengujian data yang berkaitan dengan
sumber dan cara untuk memperoleh data penelitian. Ada beberapa metode yang dapat
digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data, yang secara garis besar antara lain melalui
metode observasi dan survey.

Analisis data merupakan bagian dari proses pengujian data yang hasilnya digunakan sebagai
bukti yang memadai untuk menarik kesimpulan penelitian. Agar hasilnya dapat memberikan
bukti yang meyakinkan, umumnya peneliti menggunakan teknik statistik untuk menganalisis
data penelitian. Teknik-teknik statistik yang digunakan tergantung pada konteks jawaban atau
pemecahan masalah yang diinginkan dalam penelitian.

Hasil dari proses pengujian fakta disamping dimaksudkan untuk menguji hipotesis, dapat
juga digunakan untuk mengembangkan hipotesis. Penelitian yang mengembangkan hipotesis
melalui proses pengujian fakta merupakan tipe penelitian yang mempunyai tujuan untuk
penyusunan teori atau hipotesis melalui pengujian, pengungkapan atau penemuan fakta
(fact-finding). Pengembangan hipotesis melalui pengujian fakta merupakan proses
pengembangan ilmu atau teori yang menggunakan pendekatan induktif. Berdasarkan
ketentuan dalam metode ilmiah, pengujian fakta merupakan bagian dari proses penelitian
yang menguji terpenuhinya criteria pengetahuan yang teruji.

Kesimpulan

Kesimpulan merupakan hasil penelitian yang member balikan (feed-back) pada masalah atau
pertanyaan penelitian. Tujuan penelitian, seperti yang telah disebutkan di muka, adalah
pengembangan ilmu dan pemecahan masalah. Kesimpulan penelitian yang lebih menekankan
pada pengembangan ilmu kemmungkinan dapat berupa :

1. Dukungan atau penolakan terhadap hipotesis penelitian yang dikembangkan dari


telaah teoritis.
2. Pengungkapan fakta yang digunakan sebagai dasar untuk penyusunan teori atau
hipotesis.

Kesimpulan dari tipe penelitian yang menekankan pada pemecahan masalah berupa informasi
mengenai solusi masalah yang bermanfaat sebagai dasar pembuatan keputusan.

PARADIGMA PENELITIAN

Paradigma Penelitian, terutama dalam ilmu-ilmu sosial, merupakan kerangka berpikir yang
menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan
peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma Penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti
memahami suatu masalah, kriteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah
penelitian.8
Paradigma penelitian secara ekstrim dipisahkan menjadi : (1) paradigma kuantitatif
dan (2) paradigma kualitatif.

Paradigma Kuantitatif (Quantitative Paradigm)

Paradigma kuantitatif disebut juga dengan paradigma tradisional (traditional), positivis


(positivist), eksperimental (experimental), atau empirisis (empiricist). Paradigma kuantitatif
atau penelitian kuantitatif menekankan pada pengujian teori-teori melalui pengukuran
variabel-variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur
statistik. Penelitian-penelitian dengan pendekatan deduktif yang bertujuan untuk menguji
hipotesis merupakan contoh tipe penlitian yang menggunkan Paradigma kuantitatif

Paradigma Kualitatif (Qualitative Paradigm)

Paradigma kualitatif dinamankan juga dengan pendekatan konstruktifis, naturalistis atau


interpretatif (constructivist, naturalistic or interpretative approach), atau perspektif
posimodern. Paradigma kualitatif merupakan paradigma penelitian yang menekankan pada
pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas
atau natural setting yang holistis, kompleks dan rinci. Penelitian-penelitian dengan
pendekatan induktif yang mempunyai tujuan penyusunan konstruksi teori atau hipotesis
melalui pengungakapan fakta merupakan contoh tipe penlitian yang menggunkan Paradigma
kuantitatif.

Perbedaan Asumsi

Perbedaan antara paradigma kuantitatif dan paradigma kualitatif terletak pada asumsi-asumsi
yang digunakan dalam penelitian. Perbedaan asumsi selanjutnya akan mempengaruhi strategi
dan desain penelitian tersebut diantaranya adalah sebagai berikut9 (Gambar 1.1.):

1. Hubungan peneliti dengan fakta yang diteliti menurut paradigma kuantitatif


diasumsikan bersifat independen sehingga peneliti dapat menguji realitas fakta secara
obyektif, terbatas pada dimensi tunggal, bebas nilai dan tidak bias.

2. Sebaliknya menurut asumsi paradigma kualitatif, penelitian berinteraksi dengan fakta


yang diteliti sehingga lebih bersifat subyektif, tidak bebas nilai dan bias. Paradigma
kualitatif melihat realitas sosial dalam berbagai (banyak) dimensi.

3. Proses penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan deduktif,juga induktif, sedang


penelitian kualitatif menggunakan pendekatan induktif.

4. Paradigma kuantitatif menekankan pengujian teori dengan analisis kuantitatif


dibandingkan pendekatan kualitatif yang memberikan tekanan pada penyusunan teori
melalui pengungkapan fakta dengan analisis kualitatif.

Gambar 1.3 Perbedaan Asumsi Paradigma Kuantitatif dan Kualitatif

Paradigma Kuantitatif Paradigma Kualitatif

Realitas bersifat obyektif dan berdimensi Realitas bersifat subyektif dan berdimensi
tunggal banyak

Peneliti independen terhadap fakta yang Peneliti berinteraksi dengan fakta yang
ditelit diteliti

Bebas nilai dan tidak bias Tidak bebas nilai dan bias

Pendekatan deduktif Pendekatan induktif

Pengujian teori dengan analisis kuantitatif Penyusunan teori dengan analisis kualitatif

Dewasa ini penelitian ilmu-ilmu sosial mengalami perkembangan yang cukup pesat,
mengejar ketertinggalanya dari penelitian ilmu-ilmu alam, dengan variasi pendekatan
penelitian yang mengacu kedua paradigma penelitian tersebut. Materi pembahasan mengenai
metode-metode penelitian dalam buku ini meskipun sebagian besar difokuskan pada metode-
metode yang berlaku dalam penelitian kuantitatif, sebagian diantaranya memberikan ruang
pembahasan mengenai metode-metode penelitian dengan pendekatan interpretatife.

KRITERIA PENELITIAN ILMIAH

Penelitian ilmah mempunyai kriteria tertentu. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai
kriteria suatu penelitian ilmiah yang baik :

1. Menyatakan tujuan secara jelas


2. Menggunkan landasan teoritis dan metode pengujian data yang relevan
3. Mengembangkan hipotesis yang dapat diuji dari telaah teoritis atau berdasarkan
pengungkapan data
4. Mempunyai kemampuan untuk diuji ulang (replikasi)
5. Memilih data dengan presisi dan sehingga hasilnya dapat dipercaya
6. Menarik kesimpulan secara obyektif

7. Melaporkan hasilnya secara parsimony

8. Temuan penelitian dapat digeneralisasi

Menyatakan tujuan dengan jelas.


Penelitian ilmiah yang baik adalah penelitian yang menyatakan tujuan penelitian
(purposiveness). Tujuan penelitan pada dasarnya adalah menjawab suatu masalah atau
pertanyaan. Peneliti perlu merumuskan masalah atau pertanyaan penelitian dengan jelas agar
dapat menyatakan tujuan penelitian. Proses penelitian selanjutnya difokuskan pada usaha
untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh peneliti.
Menggunakan landasan teoritis dan metode pengujian data yang relevan.
Penelitian ilmiah menggunakan teori-teori yang ketat dan baik (rigor) sebagai landasan untuk
menjawab masalah atau pertanyaan penelitian. Disamping itu, penelitian ilmiah memerlukan
penerapan metode pemilihan, pengumpulan dan analisis data yang sesuai dan diperlukan
untuk menjawab masalah yang diteliti.
Mengembangkan hipotesis yang dapat diuji dari telaah teoritis atau berdasarkan
pengungkapan data.
Penelitan ilmiah dengan pendekatan deduktif mengembangkan hipotesis-hipotesis melalui
telaah teoritis yang harus dapat diuji (testability) dengan data yang dikumpulkan. Penelitian
ilmiah dengan pendekatan induktif mengembangkan hipotesis melalui pengungkapan data
yang diteliti.
Mempunyai kemampuan untuk diuji ulang (replikasi).
Salah satu kriteria penelitian ilmiah ditunjukkan dengan kemampuan suatu penelitian untuk
dilakukan pengujian ulang (direlikasi) oleh penelitian-penelitian berikutnya (replicability).
Karakteristik ini mengagambarkan cara pengembangan ilmu,seperti yang telah diuraikan
dalam pembahasan mengenai metode ilmiah, dilakukan secara bertahap melalui pengujian-
pengujian.
Memilih data dengan presisi dan sehingga hasilnya dapat dipercaya.
Data yang dipilih untuk dikumpulkan dan dianalisis dalam penelitian ilmiah umumnya
berupa sampel dari suatu populasi data. Pengujian terhadap data sampel diharapkan akan
memberikan hasil kesimpulan yang berlaku untuk seluruh populasi. Oleh karena itu,
penelitian ilmiah menghendaki proses pemilihan data yang memiliki karakteristik
representatife dan presisi dengan karakteristik populasinya. Pengujian terhadap data yang
secara presisi (precision). Menggambarkan realitas populasinya akan menghasilkan
kesimpulan yang akurat, dapat dipercaya (confidence) dan andal.
Menarik kesimpulan secara obyektif.
Peneliti, seperti telah dibahs sebelumnya, mengumpulkan bukti yang cukup dan representatif
sebagai dasar untuk menarik kesimpulan dengan menggunakan penalaran logis dan obyektif
atau tidak memihak (objectivity). Obyektivitas merupakan asumsi yang berlaku pada
paradigma penelitian kuantitatif.
Melaporkan hasilnya secara parsimony.
Laporan penelitian sebaiknya menjelaskan fenomena atau masalah yang diteliti secara
simplel atau parsimony. Penyajian laporan secara sederhana bukan berarti mengurangi
penjelasan menganai masalah tersebut. Penjelasan yang berlebihan umumnya cenderung akan
mengaburkan fokus masalah dan argumentasi ilmiah yang digunakan untuk menjawab
masalah penelitian.
Temuan penelitian dapat digeneralisasi.
Penelitian ilmiah juga menghendaki temuannya mempunyai kemampuan untuk dapat
digeneralisasi (generalizability), dalam arti bahwa temuan penelitian dapat diterapkan pada
lingkup yang lebih luas. Semakin luas kisaran aplikasi dari jawaban masalah yang ditemukan
oleh suatu penelitian, akan semakin meningkatkan kontribusi dari temuan tersebut tehadap
pengembangan teori atau praktik

RINGKASAN
Penelitian merupakan refleksi dari keinginan untuk mengetahui sesuatu berupa fakta-
fakta atau fenomena alam. Perhatian dan pengamatan terhadap fakta atau fenomena
merupakan awal dari kegiatan penelitian yang menimbulkan suatu pertanyaan atau
masalah. Penelitian pada dasarnya merupakn penyelidikan yang sistematis denagn
tujuan untuk : memperoleh pengetahuan yang bermanfaat untuk menjawab pertanyaan
atau memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Ada tiga faktor yang merupakan karakteristik penelitian : (1) tujuan penelitian, (2)
metode-metode penelitian, dan (3) hubungan penelitian denagn ilmu. Disamping aspek
motivasi dan tujuan penelitian, peneliti perlu mempelajari metodologi penelitian
sebagai pengetahuan yang mengkaji ketentuan-ketentuan yang berlaku dalm metode-
metode penelitian. Penelitian mempunyai jalinan erat dengan ilmu, karena penelitian
merupakan operasionalisasi dari metode yang digunakan untuk memperoleh
pengetahuan yang disebut ilmu (metode ilmiah).
Hubungan penelitian dengan ilmu dapat dikaji dari perannya dalam proses penyusunan
dan pengujian konstruksi ilmu. Penelitian merupakan proses pengembangan ilmu yang
dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Penyusunan konstruksi ilmu dilakukan
untuk menguji konsistensinya dengan ilmu-ilmu sebelumnya dan secara komulatif
mengembangkannya melalui pengujian-pengujian terhadap kesesuaian penalaran ilmu
dengan fakta yang dijelaskannya.
Proses penelitian dapat dilihat secara keseluruhan sebagai : proses penemuan masalah
dan proses pemecahan masalah. Penemuan masalah penelitian meliputi: identifikasi
bidang permasalahan, pemilihan atau penentuan pokok masalah, dan perumusan
masalah. Pemecahan masalah yang diteliti mencakup dua dimensi pengujian, yaitu :
telaah teoritis dan pengujian fakta. Kedua dimensi pengujian tersebut menjadi dasar
bagi peneliti untuk menarik kesimpulan hasil penelitian.
Kerangka berpikir yang menjadi landasan dalam penelitian secara ekstrim
dikelompokkan ke dalam dua paradigma, yaitu : (1) penelitian kuantitatif dan (2)
penelitian kualitatif. Pardigma penelitian mempengaruhi cara pandang penelitia
terhadap fakta dan memahami permasalahan, perlakuan terhadap ilmu untuk menjawab
masalah-masalah penelitian. Penlitian kuantitatif dan penelitian kualitatif mempunyai
perbedaan asumsi-asumsi yang mempengaruhi penerapan strategi dan desain penelitian
pada masing-masing paradigma penelitian.

BAB 1 : Tinjauan Umum Penelitian

Penelitian kualitatif mempunyai perbedaan asumsi-asumsi yang mempengaruhi penerapan


strategi dan desain penelitian pada masing-masing paradigma penelitian.
Aspek utama yang menjadi kriteria suatu penelitian ilmiah adalah bahwa suatu penelitian
sebaiknya:

(1) mempunyai tujuan.

(2) menggunakan landasan dan metode pengujian data yang relevan,

(3) mengembangkan hipotesis yang dapat diuji dari telaah teoretis atau disusun berdasarkan
pengungkapan data.
(4) mempunyai kemampuan untuk diuji ulang(replikasi).

(5) memilih data dengan presisi dan sehingga hasilnya dapat dipercaya,

(6) menarik kesimpulan secara obyektif.

(7) melaporkan hasilnya secara simple.

(8) temuan penelitian dapat digeneralisasi.

PERTANYAAN DISKUSI

1.1 Jelaskan apa motivasi yang mendorong kegiatan penelitian.


1.2 Sebutkan definisi dan tujuan penelitian
1.3 Mengapa penelitian mempunyai jalinan erat dengan ilmu?
1.4 Jelaskan apa yang dimaksud dengan metode ilmiah.
1.5 Sebutkan dan uraikan dengan singkat karateristik ilmu.
1.6 Bagaimana peran penelitian dalam pengembangan ilmu?
1.7 Uraikan proses penelitian secara garis besar.
1.8 Jelaskan maksud penelitian sebagai operasionalisasi dari metode ilmiah
1.9 Mengapa penemuan masalah merupakan tahap penelitian yang paling
sulit dan krusial?
1.10 Berikan penjelasan singkat perbedaan antara paradigma penelitian
kuantitatif dan penelitian kualitatif.
1.11 Jelaskan kriteria penelitian ilmiah yang baik.

CATATAN AKHIR

1.Buckley,J.W.,M.H.,Buckley,and I I.Chiang,1976,Research Methodology


&
business Decisions,National Association of Accountans and The Society
of
Management Accountans of Canada,hal.28.

2.Sekaran,U.,1992,Research Methods For Business: A Skill Building


Approach,2nd Edition,John Wiley & Sons,Inc.New York,USA,hal.4.

3.Murdick,R.F.1966,Business Research;Concepts and


Practice,International Texbook Co.,Pennsylvania,USA,hal 15-16.

4.Senn,P.R.,1971.Social Science and Its


Methods,Holbrook,Boston,USA,hal
4-6

5.Cooper,D.R,and C.W,Emory,1996,Business Research Methods,5th


Editions,Richard D.Irwin,Inc.,USA,hal.22-25.

6.Luck,D.J.,H.C.Wales,and D.A.Taylor,1961,Marketing Research,Prentice-


Hall,Inc,Englewood Cliffs,USA,hal.5.

7.Creswell,J.W.,1994,Research Design;Qualitative & Quantitative


Approach ,Sage Publications,Inc.,Thousand Oaks,California,USA,hal.1.

8.Guba,E.G.,and Lincoln,Y.,1988,Do inquiry paradigms imply inquiry


methodologies?in D.M Fetterman(Ed).Qualitative Approaches to
Evaluation in Education,Praeger,New York,USA,hal.89-115.

9.Sekaran,op.cit,hal.10-14.
BAB 2 LINGKUP DAN KLASIFIKASI PENELITIAN BISNIS

TUJUAN PEMBAHASAN
-Menjelaskan pengertian dan lingkup penelitian bisnis
-Memberikan contoh topik-topik penelitian manajemen
dan akuntansi
-Membahas klasifikasi penelitian bisnis berdasarkan
karateristik masalah
-Membahas klasifikasi penelitian bisnis berdasarkan
jenis data
-Menjelaskan tipe-tipe penelitian kualitatif

PENELITIAN BISNIS
-Lingkup Penelitian Manajemen
-Lingkup Penelitian Akuntansi

KLASIFIKASI PENELITIAN
BISNIS
-Berdasarkan Tujuan Penelitian
* Penelitian Dasar
* Penelitian Terapan

-Berdasarkan Karateristik
Masalah
*Penelitian Historis
*Penelitian Deskriptif
*Studi Kasus dan Lapangan
*Penelitian Korelasional
*Penelitian Kausal-Komparatif
*Penelitian Eksperimen

-Berdasarkan Jenis Data


*Penelitian Opini
* Penelitian Empiris
* Penelitian Arsip

-Tipe-tipe Penelitian Kualitatif


PENELITIAN BISNIS

Pembahasan dalam buku ini menitikberatkan pada lingkup penelitian yang


lebih spesifik,yaitu penelitian bisnis.Definisi penelitian bisnis adalah proses pengumpulan
dan analisis data yang sistematis dan obyektif untuk membantu pembuatan keputusan-
keputusan bisnis.Perbedaan utama antara penelitian bisnis dengan penelitian yang lain
terletak pada jenis dan sifat fakta yang diuji.Fakta dalam penelitian bisnis berkaitan dengan
manusia dan usahanya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.Manusia merupakan
makhluk hidup yang paling kompleks diantara makhluk hidup yang lain.
Penelitian bisnis mengalami perkembangan yang pesat sejalan dengan perkembangan
lingkungan bisnis.Kemajuan teknologi computer,komunikasi,transportasi,
dan permanufakturan merupakan faktor utama yang menyebabkan perubahan lingkungan
bisnis yang cepat dan mengarah pada kompetisi bisnis yang ketat dalam skala global.
Keadaan ini mendorong para pelaku bisnis untuk selalu berusaha memperoleh keunggulan
bersaing yang berkelanjutan dalam jangka panjang.Perubahan lingkungan bisnis yang cepat
menyebabkan kondisi lingkungan bisnis yang tidak menentu.Para manajer atau seca
ra kolektif disebut manajemen memerlukan informasi yang valid dan andal untuk mendu
kung pembuatan keputusan.Informasi diperlukan untuk mengurangi ketidakpastian.Sema
kin banyak dan semakin baik informasi yang diperoleh akan membantu pembuatan keputu
san manajemen yang cepat dan relevan untuk mengatasi berbagai masalah bisnis.Fungsi
utama manajemen sebagai pembuat keputusan dan fungsi penyediaan informasi (keuangan)
oleh akuntansi,merupakan fungsi-fungsi yang memegang peran penting dalam organisasi
bisnis untuk memperoleh keunngulan bersaing.Kunci keunggulan bersaing terletak pada
penguasaan informasi.Kebutuhan informasi yang valid dan andal sebagai dasar untuk
pembuatan keputusan manajemen,mendorong perkembangan dan kebutuhan penelitian
bisnis,termasuk diantaranya adalah penelitian manajemen dan akuntansi.

Lingkup Penelitian Manajemen

Lingkup penelitian manajemen dapat dikelompokkan antara lain lain ke dalam bidang-
bidang : bisnis umum,pemasaran,keuangan(finance),manajemen dan perilaku organisasional,
system informasi manajemen,manajemen operasi,dan manajemen sumber daya
manusia.Berikut ini adalah beberapa contoh topik utama dalam penelitian manajemen:

Bisnis Umum : peramalan jangka pendek dan jangka panjang,tren bisnis dan
industry,
inflasi dan penentuan harga,akuisisi,ekspor dan perdagangan internasional.
Pemasaran dan Penjualan : potensi pasar,bagian dan segmentasi pasar,karateristik
pasar,konsep produk baru,penjualan,saluran distribusi,promosi penjualan,perilaku
konsumen.
Keuangan : anggaran,sumber-sumber pembiayaan,modal kerja,investasi,tingkat
bunga dan risiko kredit,biaya modal,penilaian saham dan obligasi,portofolio,hasil-
risiko,rasio-rasio keuangan,analisis biaya,lembaga keuangan,merger,dan akuisisi.
Manajemen dan Perilaku Organisasional : manajemen mutu terpadu,motivasi dan
kepuasan kerja,gaya kepemimpinan,produktivitas tenaga kerja,efektivitas
organisasio
nal,budaya dan komunikasi organisasi,studi gerak dan waktu,serikat pekerja.
Sistem Informasi Manajemen ,antara lain meliputi studi mengenai: system
informasi eksekutif,system komunikasi bisnis,system dukungan keputusan,aliansi
fungsi system informasi,personal system informasi,pengembangan system
informasi.

Lingkup Penelitian Akuntansi


Lingkup penelitian akuntansi antar lain dalam bidang akuntansi keuangan,pasar modal,
akuntansi manajemen,auditing,system informasi akuntansi,dan perpajakan.Berikut ini adalah
contoh topik utama dalam penelitian akuntansi :

Akuntansi Keuangan : teori-teori akuntansi,standar akuntansi keuangan,kebijakan dan


metode akuntansi,pengukuran dan pengakuan akuntansi,system pelaporan,pos-pos
laporan keuangan,rasio-rasio keuangan,pengaruh informasi akuntansi,akuntansi
keuangan internasional.
Investasi dan Pasar Modal : efisiensi pasar,saham dan obligasi,penawaran efek
perdana,pe
mecahan saham,pengumuman dividen,risiko dan hasil,institusi bursa efek,reksa
dana,pe
ngaruh pajak,insider trading.

Akuntansi Manajemen : anggaran,insentif,pengukuran kinerja,harga transfer,akuntansi


pertanggung

Klasifikasi penelitian bisnis


Kegiatan penelitian yang dilakukan pada berbagai disiplin ilmu pada dasarnya menggunakan
metode-metode penelitian yang relatif tidak berbeda.suatu kegiatan penelitian dalam
praktiknya kemungkinan merupakan penelitian yang mencakup multi disiplin ilmu dan
merupakan kombinasi penerapan dari beberapa metode penelitian.adanya berbagai sudut
pandang dan pendekatan yang digunakan sebagai dasar klasifikasi penelitian kemungkinan
dapat menyebabkan rancu dan tumpang tindih dalam mengidentifikasi tipe
penelitian.pengetahuan mengenai klasifikasi penelitian.bagaimanapun,diperlukan untuk
mengenal kategori penelitian dan mempelajari karakteristik dari masing-masing metode
penelitian.penelitian dapat di klasifikasikan berbagai dasar sudut pandang,diantaranya
berdasarkan: (1) tujuan penelitian,(2) karakteristik masalah,dan(3)jenis data.

Berdasarkan tujuan penelitian


Tujuang penelitian,seperti yang telah di bahas dimuka,meliputi:pengembangan teori
dan pemecahan masalah.berdasarkan kedua tujuan tersebut,penelitian dapat di klasifikasikan
sebagai

1. Penelitian dasar,yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan teori


2. Penelitian terapan,yaitu penelitian yang menekankan pada pemecahan masalah

Penelitian dasar
Penelitian dasar (basic,pure,fundamental research)merupakan tipe penelitian yang berkaitan
juga dengan pemecahan persoalan,tetapi dalam pengertian yang berbeda,yaitu berupa
persoalan,tetapi dalam pengertian yang berbeda,yaitu berupa persoalan yang bersifat teoritis
dan tidak mempunyai pengaruh secara langsung dengan penentuan kebijakan,tindakan atau
kinerja tertentu.tujuan penelitian dasar adalah pengembangan dan evaluasi terhadap konsep-
konsep teoritis.temuan penelitian dasar diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap
pengembangan teori.

Penelitian dasar selanjutnya dapat di klasifikasikan berdasarkan pendekatan yang


digunakan pengembangan teori yaitu:

Penelitian deduktif adalah tipe penelitian yang bertujuan untuk menguji(testing)hipotesis


melalui validasi teori atau pengujian aplikasi teori pada keadaan tertentu.tipe penelitian ini
mengunakan hipotesis a priori(berdasarkan teori,bukan berdasarkan fakta)sebagai pedoman
atau arah untuk memilih,mengumulkan dan menganalisis data pengembangan hipotesis
berdasrkan teori merupakan perbedaan utama penelitian induktif yang mengembangkan
hipotesis berdasarkan fakta.hasil pengujian data mendukung atau menolak hipotesis yang di
kembangkan dari telah teoritis (hipotesis a priori)

Penelitian induktif merupakan tipe penelitian yang mempunyai tujuan untuk


mengembangkan (generating)teori atau hipotesis melalui pengungkapan
fakta(factfinding).tipe penelitian ini menekankan pada kebenaran dan realitas fakta untuk
menghindari adaya teori-teori atau opini-opini yang membingungkan.glaser dan strauss
mengemukakan tipe penelitian ini sebagai penelitian yang bertujuan untuk menemukan teori
(grounded theory) dengan pengumpulan data analisis secara sistematis melalui penelitian
social(social research).proses induktif dalam penelitian ini juga di terapkan pada penelitian-
penelitian yang menggunakan pendekatan interpretative

Penelitian-penelitian akademik yang dilakukan oleh mahasiswa (student research)sebagai


tugas akhir yang di laporkan dalam bentuk skripsi,tesis dan sidertasi umumnya merupakan
tipe penelitian dasar

Penelitian terapan

(apllied research)merupakan tipe penelitian yang menekankan pada pemecahan masalah-


masalah praktis.penelitian diarahkan untuk menjawab pertanyaan spesifik dalamrangka
penentuan kebijakan,tindakan atau kinerja tertentu .temuan penelitian umumnya berupa
informasi yang di perlukan untuk pembuatan keputusan dalam pemecahan masalah masalah
pragmatis.masalah masalah praktis dapat berupa masalah-masalah dalam suatu organisasi
yang ada sekarang dan segera memerlukan pemecahan atau berupa keadaan tertentu dalam
suatu organisasi bisnis yang perlu segera dilakukan pembenahan

Penelitian terapan lebih lanjut dapat di klasifikasikan menjadi


Penelitian evaluasi (evaluation research),yang digunakan untuk mendukung pemilihan
terhadap beberapa alterantif tindakan dalam proses pembuatan keputusan bisnis .penelitian
melakukan penliaian terhadap efektivitas suatu tindakan kegiatan,atau program .

Penelitian dan pengembangan(research and development),yang dimaksudkan untuk


mengembangkan prduk baru atau pengembangan proses untuk menghasilkan produk.

Penelitian aksi (actionresearch)yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan atau


pendekatan pemecahan masalah tertentu.masalah yang di teliti umumnya merupakan masalah
praktis dan relevan dengan kondisi aktual lingkungan kerja .

Faktor-faktor utama yang membedakan antara penelitian dasar dengan penelitian


terapan berdasarkan konteks dan tujuan masing-masing tipe penelitian.antara lain sebagai
berikut(gambar2.1)

Penelitian dasar Peneltian terapan


Lingkungan akademik Lingkungan pemerintah atau bisnis
Inisiatif berasal dari peneliti Inisiatif berasal dari klien(sponsor)
Dibiayai peneliti atau bantuan Dibiayai klien melalui kontrak
Penelitian mandiri Penelitian kelompok
Satu atau dua disiplin Multi disiplin
Laboraturium dan lapangan Lapangan
Lebih fleksibel Kurang fleksibel
Sensitivitas biaya lebih rendah Sensitivitas biaya lebih tinggi
Jadwal longgar Jadwal ketat
Pengembangan ilmu Pemecahan masalah
Menjawab sedikit pertanyaan Menjawab banyak pertanyaan
Menguji signifikasi secara statistik Menguji signifikasi secara praktis

Berdasaran karakteristik masalah


Berdasarkan karakteristik masalah yang di teliti penelitian dapat diklasifikasikan
kedalam

Penelitian historis
Penelitian deskriptif
Studi kasus atau lapangan
Penelitian korelasional
Penelitian kausal komaratif
Penelitian eksperimen.

Penelitian historis

Historical research merupakan penelitian terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan


fenomena masa lalu(historis)tujuan penelitian historis adalah melakukan rekonstruksi
fenomena masa lalu secara sistematis obyektif dan akurat untuk menjelaskan feomena masa
sekarang atau mengantisipasi fenomena masa yang akan datang ,sumber data penelitian
historis terdiri atas sumber primer ,yaitu sumber yang berasal dari pengamatan langsung
peneliti terhadap kejadian yan tercatat dan sumber sekunder berupa sumber yang berasal dari
pengamatan orang lain.

Penelitian deskriptif

Descriptiv research merupakan penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat


ini dari suatu populasi.tujuan penelitian deskruptif adalah untuk menguji hipotesis atau
menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan current status dari subyek yang di teliti .tipe
penelitian iniumumnya berkaitandengan opini(individu,kelompok atau
organisasional)kejadian atau proses metode pengumpulan data yang sering digunakan untuk
penelitian berupa opini dari subyek yang diteliti(responden)melalui tanya jawab ada dua cara
dalam metode survei (1)kuisioner(pertanyaan tertulis)dan(2)wawancara secara lisan.kuisioner
dapat secara langsung dikomunikasikan kepada dan di kumpulkan dari responden secara
perorangan atau dapat juga dikomunikasikan dan dikumpulkan melalui pos.wawancara dapat
dilakukan dengan komunikasi tatap muka atau melalui telepon

Studi kasus dan lapangan

(case and field study) merupakan penelitiandengan karakteristikmasalah yang


berkaitan denganlatar belakang dan kondisi saat ini dari subyek yang di teliti serta
interaksi dengan lingkungan.subyek yang di teliti dapat berupa individu,kelompok,lembaga
atau komunitas tertentu.tujuan studi kasus adalah melakukan penyidikan secara mendalam
mengenai subyej tertentu untuk memberikan gambaran yang lengkap mengenai subyek
tertentu ,lingkungan penelitian kemungkinan berkaitan dengan suatu siklus kehidpan atau
hanya mencakup bagian tertentu yang difokuskan pada faktor-faktor tertentu atau unsur-unsur
kejadian secara keseluruhan.

Studi kasus cenderung menguji relatif banyak varibel peneltian dengan sejumlah
sample relatf sedikit dibandingkan dengan metode survei yang cenderung menguji variable
penelitian dalam jumlahrelatif sedikit dengan jumlah yang relatif banyak variabel adalah
segala sesuatu yang dapat diberi bermacam-macam nilai contoh variabel antara
lain:umur,tingkat pendidikan dan motivasi antara dua variabel atau lebih. Tujuan penelitian
ini adalah untuk menentukan ada atau tidaknya korelasi antar variabel atau membuat prediksi
berdasarkan korelasi antar variabel. Tipe penelitian ini menenkaknkan pada tingkat hubungan
yang dapat juga digunakan untuk membuat prediksi . jika hubungan antar variabel relatif
tinggi, kemungkinan sifat hubungannya merupakan hubungan sebab akibat (causal effect) .
hubungan antar variabel yang berupa sebab akibat dapat diteliti melalui tipe penelitian kausal
komparatif dan eksperimen.

Penelitian Kausal Komparatif

Penelitian Kausal Komparatif (Causal Comparative Research) merupakan tipe penelitian


dengan karakteristik masalah berupa hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih.
Peneliti melakukan pengamatan terhadapa konsekusensi-konsekuensi yang timbul dan
menelusuri kembali fakta yang secara masuk akal sebagai faktor penyebabnya. Penelitian
kausal komparatif merupakan tipe penelitian ex post factoyaitu tipe penelitian terhadapa
data yang dikumpulkan setelah terjadinya suatu fakta atau peristiwa tersebut sebagai variabel
yang dipengaruhi (variabel dependen) dan melakukan penyelidikan terhadap variabel variabel
yang mempengaruhi.

Penelitian Eksperimen

Penelitian Eksperien ( Experimental Research) merupakan tipe enelitian yang mempunyai


karakteristik yang sama dengan tipe penelitian kausal komparatif ,yaitu mengenai hubungans
sebab akibat anatar dua variabel atau lebih. Dalam penelitian eksperimen, peneliti melakukan
manipulasi atau pengendalian (Control) terhadap setidaknya satu variabel independen ,sedang
pada penelitian kausal komparatif tidak ada perlakuan (treatment) dari peneliti terhadap
variabel independen. Manipulasi pengendalian atau treatment peneliti terhadap variabel
independen tertentu merupakan karakteristik dari penelitian eksperimen,yang sengaja
dilakukan peneliti untuk melihat pengaruh perlakuan tersebut terhada variabel dependen.
Untuk melihat pengaruhnya terhadap variabel dependenm peneliti melakukan eksperimen
dengan kelompok subyek yang diteliti,dimana peneliti melakukan treatment terhadap variabel
independen kelompok yang satu ,sedang variabel indepeneden kelompok yang lain tidak
dimanipulasi.

Misal, seorang peneliti melakukan eksperimen untuk melihat pengaruh metode


penilaian prestasi kerja yang dilakukan oleh karyawan sendiri (selfapprasial) terhadap
semangat kerja karyawan yang bersangkutan. Untuk itu, peneliti membandingkan dua
kelompok:
Kelompok satu melakukan penilaian sendiri dan
Kelompok dua menggunakan metode penilaian yang dilakukan orang lain dalam hal ini
bertindak sebaga pengawas (supervisor). Peneliti dapat menguji hubungan sebab akibat
antara variabel metode penilaian dengan metode penilaian semangat kerja ,dengan cara
mengukur semangat kerja masing masing kelompok yang diteliti. Dalam contoh tersebut
variabel yang dimanipulasi adalah metode penilaian.

Gambar 2.2. Skema Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Karakteristik Masalah.


Gambar 2.2 diatas menyajikan skema yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam
klasifikasi penelitian berdasarkan karakteristik masalah.

Berdasarakan Jenis Data

Berdasarkan jenis data yang diteliti,penelitian dapat diklasifikasikan kedalam :


(1) penelitian opini,yang menekankan pada penelitian terhadap data berupa pendapat atau
persepsi orang lain, (2) penelitian empiris,yang mengutamakan penelitian terhadap data dsan
fakta empiris,dan (3) penelitian arsip, yang menitik beratkan pada penelitian terhadap data
berupa fakta tertulis.

Penelitian Opini

Penelitian Opini (opinion research) merupakan penelitian terhadap fakta berupa opini atau
pendapat orang (responden). Data yang diteliti dapat berupa pendapat responden secara
individual atau secara kelompok. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki pandangan
,persepti atau penilaian seseorang terhadap masalah tertentu yang berupa tanggapan
responden terhadap diri responden terhadap kondisi lingkungan dan perubahanna. Sesuai
dengan jenis data yang diuji ,penelitian ini menggunakan metode survei ,tujuan survei antara
lain untuk (1) mengumpulkan informasi faktual secara detail, (2) mengindentifikasi masalah
atau justifikasi kondisi kondisi dan praktik saaat ini, (3) membuat perbandingan dan evaluasi.
Berdasarkan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data ,penelitian deskriptif dapat
dikategorikan kedalam tipe penelitian ini.

Penelitian Empiris

Peneltian Empiris ( empirical research) merupakan penelitian terhadap fakta empiris yang
diperoleh berdasarkan observasi atau pengalaman . Penelitian ini memerlukan kehadiran
peneliti untuk melakukan observasi terhadap fakat atau segala sesuatu yang dialami tanpa
perantaraan orang lain . Penelitian empiris umumnya lebih menekankan pada penyelidikan
aspek perilaku daripada opini. Obyek yang diteliti lebih ditekankan pada kejadian yang
sebenarnya dari pada persepsi orang mengenai kejadian. Studi kasus dan lapangan serta
penelitian eksperimen merupakan contoh tipe penelitian ini.

Penelitian Arsip

Penelitian Arsip (archival research) merupakan penelitian terhadap fakta yang tertulis
(dokumen) atau berupa arsip data. Dokumen atau arsip yang diteliti berdasarkan sumbernya
dapat berasal dari data internal yaitu : dokumen,arsip dan catatan orisinil yang diperoleh dari
suatu organisasi atau berasal dari data eksternal ,yaitu publikasi data yang diperoleh melalui
orang lain. Proses pengumpulan data berupa dokumen atau arsip dapat dikerjakan sendiri
oleh peneliti atau berupa publikasi data yang proses pengumpulannya dikerjakan oleh orang
lain.

Tipe-tipe Penelitian Kualitatif


Metode yang digunakan dalam seleksi ,koleksi dan analisis data yang tercakup dalam proses
pengujian data dipengaruhi oleh paradigma penelitian. Pembahasan klasifikasi penelitian
dimuka merupakan tipe penelitian yang sebagian besar umumnya termasuk dalam paradigma
penelitian kuantitatif (Gambar 2.2)

Berdasarkan paradigma penelitian kualitatif ada beberapa tipe penelitian yang


diklasifikasikan berdasarkan metode pengumpulan dan analisis data ,teknik penulisan laporan
,atau berdasarkan desain penelitian yang me;iputi keseluruhan tahap dalam proses penelitian.
Beberapa diantarnya adalah : human enthology,ecological
psychology,holisticetnography,cognitive antropology,etnography of comunication,dan
symbolic interactionism. Penelitian kualitatif dapat pula diklasifikasikan kedalam beberapa
pendekatan dan perspektif, anatara lain: pendekatan interpretif( interpretive approach),
pendekatan artisitik(artisticapproach), pendekatan sistematik (systematic approach),
perspektif antropologis(antropological perspectives), perspektif sosiologis(sociological
perspectives), perspektif biologis (biological perpectives), studi kasus (cases study), studi
kognitif (cognitive study) dan penilaian historis (historical research)

Penelitian Induktif
Penelitian Dasar
Penelitian Deduktif

Tujuan Penelitian
Penelitian Evaluasi

Penelitian
Penelitian Terapan
Pengembangan

Penelitian Historis Penelitian Tindakan


Klasifikasi Penelitian

Penelitian
Deskriptif
Studi Kasus
Karakteristik Lapangan
Masalah Penelitian
Korelasional
Penelitian Kausal
Komparatif
Penelitian
Eksperimen

Penelitian Opini

Sifat dan jenis data Penelitian Empiris

Penelitian Arsip
RINGKASAN

Tujuan penelitaian bisnis dalam jangka pendek adalah merupakan usaha yang segera
diperlukan untuk membantu pembuatan keputusan bisnis yang berkaitan dengan
pemecahan masalah masalah praktis. Tujuan dalma jangka panjang adalah
mengembangankan konsep konsep teoritis yang tidak terkait secara langsung
dengan pemecahan masalah-masalah praktis.
Lingkup penelitian menejemen dapat dikelompokkan antara lain kedalam bidang :
bisnis umum, pemasaran, keuangan, menejemen dan perilaku organisasional, sistem
informasi menejemen,sedangkan lingkup penelitian akuntansi antara lain meliputi
bidang : akuntansi keuangan, investasi dan pasar modal, akuntansi menejemen,
auditing, sisitem informasi akuntansi dan perpajakan.
Penelitian bisnis dapat diklasifikasikan menjadi berbagai sudut pandang diantaranya
berdasarkan: (1) Tujuan penelitian , (2) kharakteristik masalah , dan (3) jenis data .
Pengetahuan mengenai klasifikasi diperlukan untuk mengetahui kharakteristik dari
masing masing metode penelitian. Dalam prakteknya penelitian dapat dilakukan
secara multidisiplin dan merupakan kombinasi dari beberapa metode penelitian.
Penelitian dasar merupakan tipe penelitian yang lebih menekankan pada tujuan
pengembangan teori. Penelitian ini lebih lanjut diklasifikasikan menjadi : (1)
penelitian deduktif yang mempunyai tujuan untuk menguji konstruk teori , dan (2)
penelitian induktif yang mempunyai tujuan untuk menyusun konstruksi teori.
Penelitian terapan merupakan tipe penelitian yang lebih menekankan pada pemecahan
masalah masalah praktis , penelitian ini selanjutnya diklasifikasikan menjadi : (1)
penelitina evaluasi, untuk menilai efektifitas suatu tindakan, kegiatan atau program,
(2) penelitian dan pengembangan, untuk mengembangkan produk baru atau proses
menghasilkan produk , (3) penelitian aksi,untuk mengembangkan keterampilan dan
pendekatan baru serta memecahkan suatu masalah.
Berdasarkan karakteristik masalah yang di teliti, penelitian dapat diklasifikasikan
menjadi : (1) penelitian historis ,untuk masalh yang berkaitan dengan fenomena masa
lalu, (2) penelitian deskriptif, untuk masalah yang berkaitan dengan fenomena
sekarang, (3) studi kasus dan lapangan, untuk masalah yang
berkaitan dengan latar belakang , kondisi dari subjek tertentu , dan interaksinya
dengan linkungan , (4) penelitian korelasional , untuk masalah berupa hubungan
korelasional antara dua variabel atau lebih, (5) penelitian kausal komparatif, untuk
masalah berupa hubungan sebab akibat tetapi peneliti tidak melakukan manipulasi
terhadap variabel independen , (6) penelitian eksperimen, untuk masalah berupa
hubungan sebab akibat dimana peneliti melaukan manipulasi terhadap variabel
independen.
Penelitian berdasarkan jenis datanya, dapat diklasifikasikan menjadi: (1) penelitian
opini yang datanya berupa pendapat atau persepsi orang lain, (2) penelitian empiris
yang datanya berupa fakta yang di peroleh melalui observasi dan pengalaman , (3)
penelitian arsip yang datanya berupa arsip atau dokumen .
Tipe-tipe penelitian kualitatif dapat diklasifikasikan berdasarkan metode
pengumpulan dan analisis data, teknik penulisan laporan atau berdasarkan disain
penelitian , diantaranya : human ethology, ecological psychology, holistic etnogrpahy,
cognitive anthropology, ethnography of communication , dan symbolic
interactionism. Tipe penelitian kualitatif dapat pula di klasifikasikan ke dalam
beberapa pendekatan dan perspektif, antara lain: pendekatan interpretif, pendekatan
artistik , pendekatan sistematis, perspektif antropologis, perspektf sosiologis,
perspektif biologis, studi kasus, studi kognitf, dan penelitian historis.

PERTANYAAN DISKUSI

2.1. apa yang dimaksud dengan penalitian bisnis ?

2.2. mengapa penelitian bisnis mengalami perkembangan yang pesat ?

2.3. sebutkan beberapa contoh bidang dan topic utama penelitian dalam lingkup penelitian

manejemen.

2.4. sebutkan beberapa contoh bidang dan topic utama penelitian dalam lingkup penelitian
akuntansi.

2.5. berikan penjelasan singkat mengenai penelitin dasar dan penelitian terapan dan factor-
faktor utama yang membedakan antara keduanya.

2.6. uraikan secara singkat perbedaan pokok antara penelitian deduktif dengan penelitian
induktif.

2.7 uraikan secara singkat klasifikasi penelitian terapan .

2.8. jelaskan karakteristik masalah dan sumber data penelitian historis.

2.9. jelaskan perbedaan pokok antara penelitian historis dengan penelitian deskriptif

2.10. jelaskan perbedaan pokok antara penelitian korelasional , penelitian kausal


komparatif, dan penelitian eksperimen.

2.11. uraikan secara singkat klasifikasi penelitian berdasarkan jenis data .

2.12. berikan penjelasan jenis dan tujuan metode survey.

2.13. sebutkan tipe tipe penelitan kualitatif .


BAB 3

TOPIK PEMBAHASAN MASALAH PENELITIAN

PENTINGNYA MASALAH

TIPE MASALAH

KRITERIA MASALAH

SUMBER PENEMUAN
MASALAH

METODE PENEMUAN
MASALAH
PENDEKATAN
FORMAL
PENDEKATAN
INFORMATIF

PERUMUSAN MASALAH

KESALAHAN UMUM DALAM


PENEMUAN MASALAH

TUJUAN PEMBAHASAN

Menjelaskan arti pentingnya masalah


penelitian
Membahas tipe-tipe masalah penelitian
Membahas kriteria masalah penelitian
Menjelaskan sumber- sumber untuk
menemukan
masalh penelitian
Menjelaskan metode metode untu
menemukan masalah penelitian
Menjelaskan cara merumuskan masalh
atau pertanyaan penelitian
Membahas kesalahan-kesalahan umum
dalam penemuan masalah penelitian
MASALAH/ PERTANYAAN
PENELITIAN HIPOTESIS

TELAAH TEORITIS
HASIL

PENGUJIAN FAKTA

Pemilihan data

Pengumpulan data

Analisis data

KESIMPULAN

Materi bab 3 dan seterusnya membahas tahap-tahap dalam proses peneltian yang secara garis
besar meliputi : masalh penelitian, elaah teoritis pemilihan data, pengumpulan data dan
analisis data. Pembahasan mengenai masalah penelitian dalam bab ini pada dasarnya
berkaitan dengan tahap identifikasi bidang masalah, penentuan atau pemilihan topic , dan
perumusan maslah atau pertanyaan penalitian.

PENTINGNYA MASALAH ........................> BACA

Penelitian , seperti telah di kemukakan dalam bab 1 , dapat dilihat sebagai proses yang
mencakup dua tahap: penemuan masalah dan pemecahan masalah, penemuan masalah dalam
penelitian meliputi: identifikasi bidang masalah, penentuan atau pemilihan pokok masalah
(topik), dan perumusan atau formlasi masalah. Penemuan masalah merupakan tahap
penelitian yang paling sulit dan krusial karena masalah penelitian mempengaruhi strategi
yang di terapkan dalam pemecahan penelitian. Seperti yang di kemukakan oleh Einstein dan
Infield1, formulasi masalah penelitian sering merupakan tahap penelitian yang jauh lebih
esensial dibandingkan tahap pemecahan masalah. Bahakan menurut Isaac dan Michael2,
formulasi masalah penelitian dengan baik merupakan setengah dari tahap pemecahan
masalah.

Tidak mudah bagi peneliti untuk merumuskan masalah penelitian, terutama bagi
para peneliti pemula. Maslah penelitian sering dirumuskan terlalu umm sehingga dengan
pokok permasalahan yang tidak jelas akan menyuitkan tahap pemecahan masalah, yang
meliputi penentuan konsep-konsep teoritis yang ditelaah dan pemilihan metode pengujian
data. Semakin spesifik perumusan masalah penelitian semakin mudah untuk dilakukan
pengujian secara empiris. Mengingat pentingnya tahap penemuan masalah penelitian, perlu
pendekatan sistematis untuk merumuskan masalah penelitian yang baik sehingga
memudahkan tahap pemecahan masalah.

Pengalaman penulis dalam membimbng skripsi mahasiswa menunjukkan bahwa


mereka umumnya memerlukan waktu yang relatif lama untuk dapat merumuskan masalah
penelitian dengan baik. Pokok masalah yang diteliti sering tidak terfokus, sehingga konsep-
konsep teoritis yang ditelaah dan metode yang digunakan dalam pengujian data tidak relevan
dalam masalah penelitian. Salah satu penyebabnya adalah penguasaan mahasiswa terhadap
literatur yang kurang memadai.

MASALAH PENELITIAN

Tipe maslah penelitian tergantung pada disiplin ilmu dan bidang studi yang menjadi
minat dan perhatian peneliti. Masalah penelitian pada dasarnya merupakan suatu keadaan
yang memerlukan solusi. Sekarang mengidentifikasikan empat kemungkinan tipe masalah
dalam penelitian bisnis: (1) masalah-masalah yang ada saat ini di suatu lingkungan
oraganisasi yang memerlukan solusi, (2) area-area tertentu dalam suatu organisasi yang
memerlukan pembenahan atau perbaikan, (3) persoalan-persoalan teoritis yang memerlukan
penelitian untuk menjelaskan (atau memprediksi) fenomena, (4) pertanyaan penelitian yang
memerlukan jawaban empiris,

Masalah-masalah di suatu lingkungan organisasional yang memerlukan solusi


merupakan tipe masalah-masalah praktis yang umumnya diteliti dalam penelitian terapan.
Masalahmasalah praktis dapat terjadi pada setiap tingkat dan fungsi organisasional. Berikut
ini contoh masalah praktis dalam suatu oranisasi yang memerlukan pemecahan melalui
penelitian.

Contoh 3.1.

Pimpuinan suatu perusahaan berdasarkan laporan realisasi penjualan selama


periode tertentu, mengidentifikasi adanya masalah dalam pencapaian target anggaran
penjualan produk X. Selama beberapa periode realisasi volume penjualan produk X lebih
kecil dibandingkan dengan volume yang dianggarkan. Pimpinan perusahaan memutuskan
untuk melakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang menyebabkan swlisih penjualan
produk X yang tidak menguntungkan. Hasil oenelitian dihaapkan dapat memberi informasi
bagi pimpinan perusahaan dalam pembuatan keputusan yang berkaitan dengan upaya
meningkatkan volume penjualan produk X.

Area-area tertentu dalam suatu organisasi yang memerlukan pembenahan atau


perbaikan. Keputusan manajemen kemunginan berupa kebijakan yang dibuat oleh karena
adanya suatu masalah yang segera memerlukan pemecahan. Ditinjau dari munculnya masalah
keputusan tersebut merupak kebijakan manajemen yang bersifat reaktif. Keputusan
manajemen dapat pula bersifat proaktif untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya
masalah tertentu padda masa yang akan datang.

Contoh 3.2

Manajemen perusahaan menilai bahwa kinerja bagian pengiriman produk kurang


ptimal dan perlu upaya untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen perusahaan.
Menurut penilaian manajemen dengan kinerja yang sekarang, kemungkinan aka
menimbulkan masalah ketidakpuasan konsumen pada masa yang akan mendatang.
Manajemen memerlukan informasi mengenai berbagai alternatif yang dapat dilakukan untuk
memperbaiki melalui penelitian yang hasilnya diharapkan dapat memberi dukungan
terhadap keputusan yang akan dibuat manjemen dalam rangka optimalisasi kinerja bagian
pengiriman produk.

Persoalan-persoalan teoritia yang memerlukan penelitin menjelaskan (atau


memprediksi) fenomena. Tidak semua hasil peneitian bisnis mrmrberikan kontribusi secara
langsung terhadap pemecahan masaah-masalah praktis. Para akademisi atau praktisi dapat
melakukan penelitian terhadp persoalan-persoalan teoritis yang mempunyai dampak tidak
langsung terhadapa pemecahan masalah-masalah praktis.

Contoh 3.3

Anggaran sebagai perencanaan keuangan suatu perusahaan merupakan pedoman


untuk menilai kinerja manajer dan bawhannya dengan cara membandingkan target
anggaran dengan realisasinya. Selisih anggarn kemungkinan dapat bersifat menguntungkan
atau tidak menguntungkan. Secara teoritis selisih anggaran dipengaruhi oleh dua aspek : [1]
target anggaran yang ditetapkan, [2] kinerja manajer dan bawahan. Penelitian dapat
diarahkan untuk dianalisis kedua aspek yang telah menyebabkan selisih anggaran tersebut.
Hasilnya dapat menjelaskan (atau memprediksi) kemungkinan terjadinya selisih anggaran.

Sejumlah pertanyaan penelitian yang memerlukan jawaban secara empiris. Hasil


penelitian di samping berupa deskripsi persoalan-persoalan teoritis yang digunakan untuk
menjelaskan (atau memprediksi) fenomena empiris, juga dapat diarahkan untuk mendapatkan
jawaban empiris dari suatu pertnyaan penelitian. Pertanyaan-pertanyaan teoritis dapat berupa
pertanyaan atau masalah penelitian-penelitian sebelumnya yang belum terjawab.

Contoh 3.4

Penelitian untuk menguji hubungan antara anggaran yang disusun secara


partisipatif dengan melibatkan para pimpinan dan bawahan terhadap kinerja individu yang
terlibat dalam proses penyusunan anggaran, hasilnya saling bertentangan antara satu
dengan yang lain. Ada yang menyatakan bahwa anggaran partisipatif mempunyai hubungan
yang positif adan signifikan dengan kinerja dari individu yang terlibat dalam proses
penyusunan anggaran. Di pihak lain, ada peneliti yang menemukan hubungan di antara
keduanya tidak signifikan atau bahkan mempunyai arah hubungan yang negatif. Penelitian
dapat diarahkan untuk menemukan jawaban empiris terhadap pertanyaan yang belum
terjawab atau jawaban penelitian-penelitian sebelumnya yang tidak jelas mengenai
hubungan antara anggaran pertisipatif dengan kinerja manajer atasan-bawahan4.

Penelitian yang berupa pengulangan (replikasi) atau perluasan (ekstensi)


terhadap penelititan sebelumnya merupakan bentuk-bentuk penelitian umum yang dilakukan
dalam penelitian dasar. Hasil

penelitian replikasi dan ekstensi bermanfaat untuk konfirmasi atau pengembangan


utnuk temuan-temuan penelitian sebelumnya.

KRITERIA MASALAH

Penemuan masalah penelitian, sekali lagi, bukan merupakanpekerjaan yang mudah. Ada
sejumlah kriteria yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penemuan masalah
penelitian, antara lain (1) merupakan bidang masalah dan topik yang menarik, (2) mempunyai
signifikansi ssecara teoritis dan praktis, (3) dapat diuji melalui pengumpulan dan analisis
data, (4) sesuai dengan waktu dan biaya yang tersedia5.

Bidang masalah dan topik yang menarik

Inisiatif penelitian dapat berasal dari peneliti atau pihak sponsor yang membiayai proyek
penelitian. Jika ide penelitian berasal dari peneliti, bidang masalah yang dipilih umnya adalah
yang menarik perhatian dan merupakan bidang keahlian yang dikuasai oleh peneliti.
Lingkungan peneliti termasuk: latar belakang pendidikan, pemikiran dan disiplin yang
ditekuni, merupakan faktor-fakyor yang mempengaruhi pemilihan bidang masalah yang
diteliti. Pemilihan bidangmaslah mengarahkan peneliti untuk menetukan topik atau pokok
masalah yang diteliti.

Contoh 3.5

Gambar 3.1 berikut ini menyajikan contoh bidang masalah dan topik penelitian dalam
lingkup penelititan akuntansi dan manajemen yang telah ada sebelumnya.

Gambar 3.1

Bidang Masalah Topik


Konsep produk baru
Pemasaran dan Penjualan Promosi penjualan
Perilaku konsumen

Penelitian saham dan obligasi


Keuangan Analisis rasio keuangan
Merger dan akuisisi

Motivasi kerja
Perilaku Organisasional Gaya kepemimpinan
Budaya Organisasional
Standar akuntansi keuangan
Akuntansi Kebijakan dan metode akuntansi
Kandungan informasi akuntansi

Pengukuran prestasi manajer


Akuntansi Manajemen Analisis biaya-volume-laba
Pembuatan keputusan investasi

Penerapan sistem informasi


Sistem Informasi Sikap manajemen-pemakai
Aplikasi perangkat lunak komputer

S Signifikansi secara teoritis atau prkatis

Peneliti harus mempertimbangkan apakah bidang masalah dan topik penelitian yang menarik
untuk diteliti mempunyai signifikansi secara teoritis (untuk penelitian dasar) atau secara
praktis (untuk penelitian terapan). Pertimbangan yang digunakan untuk menentukan
signifikansi masalah penelitian yang berkaitan dengan tiga hal sebagai berikut:

1. Adanya dukungan konsep-konsep teoretis dari penelitian-penelitian sebelumnya yang


mempunysi topik sejenis.

2. Tersedianya dan dapat diperolehnya data yang relevan dengan topik penelitian.

3. Kontribusi hasil penelitian terhadapp pengembangan teori atau pemecahan masalah praktis.

Dapat diuji melalui pengumpulan dan analisis data

Masalah penelitian yang baik tidak cukup sekedar memenuhi kriteia sebagai topik yang
menarik dan mempunyai signifikansi secara teoretis atau praktis. Masalah yang diteliti harus
dapat diuji melalui pengumpulandan analisis data, Masalah yang terlalu umum cenderung
akan melibatkan banyak variabel dan jumlah data yang harus dikumpulkan sehingga peneliti
akan sulit untuk menginterprestasikan hasilnya. Agar dapat diuji, peneliti perlu mengisolasi
masaah umum menjadi masalah spesifik yang mengidentifikasikan secara variabel-variabel
yang diteliti dan unit analisis7. Unit analisis adalah jenis satuan data yang dianalisis, antara
lain dapat nberupa individu, kelompok, bagian dari atau keseeluruhan organisasi, industri dan
negara.

Contoh 3.6

Peneliti untuk menguji pengaruh sistem penyusunan anggaran terhadap


peningkatan kinerja merupakan masalah umum yang dapat dispesifikasikan lebih lanjut ke
dalam beberapa rumusan masalah yang spesifik antara lain:
1. apakah penyusunan anggaran partisipatif mempunyai pengaruh terhadap
peningkatan kinerja manajer secara individual?

2. apakah anggaran yang disusun secara partisipatif mempunyai pengaruh


terhadap peningkatan kinerja bagian organisasi?

Berdasarkan contoh 3.6, peneliti mengisolasi masalah umum menjadi maslaah spesifik yang
menunjukkan variabel penelitian anggaran partisipatif dan kinerja, dan unit analisis berupa
manajer secara individual atau bagian organisasi.

S Sesuai dengan waktu dan biaya yang tersedia

Spesifikasi masalah yang diteliti, disamping berdasarkan pertimbangan agar masalah dapat
diuji, juga karena pertimbangan waktu dan biaya. Pembatasan skop masalah dapat
dilakukan.ada berbagai aspek, antara lain periode waktu pengamatan, unsur-unsur variabel
yang diteliti.

SUMBER PENEMUAN MASALAH

Sumber masalah penelitian yang utama, seperti yang telah dsiebutkan di muka, berasal dari
pengalaman dan literatu. Sumber masalah penelitian yang berasal dari :

1.literatur yang dipublikasikan, antara lain dalam bentuk : buku teks, jurnal, atau text-
database.

2. literatur yang tidak dipublikasikan, antara lain berupa: skripsi, tesis, disertasi, paper atau
makalah-makalah seminar.

Berikut ini pembahasan mengenai beberapa sumber penemuan masalah peneitian yang
berasal dari literatur yang dipublikasikan.

Buku teks merupakan salah satu jenis literatur yang dipublikasikan yang berisi banyak
informasi sebagai sumber penemuan masalah penelitian. Dari buku teks , peneliti dapat
menggunakan daftar referensi untuk memilih artikel asli atau buku-buku yang relevan dengan
masalah penelitian.

Jurnal merupakan jenis literatur yang berisi artikel-artikel yang menelaah berbagai macam
konsep-konsep teoritis, artikel yang dimuat dalam jurnal akademik atau jurnal profesional
dapat berupa artikel teoritis atau hasil penelitian empiris. Jurnal yang memuat artikel
akuntansi dan manajemen, sebagian diantaranya adalah: academy og management journal ;
academy of management review; administrative science quarterly; california management
review; harvard business review; management science; organizational behavior and human
performance; the accounting review; accounting; accounting, organizations and society;
auditing : a journal of theory and practic; contempory accounting research; journal of
accounting , auditng & finance. Di indonesia diantaranya adalah jurnal riset akuntansi
indonesia.
Text database merupakan jenis literatur yang berisi kompilasi daftar buku, jurnal, majalah
atau literatur lainnya yang dipublikasikan secara periodik. Text databse dapat berupa cetakan
dalam bentuk buku, disket, pita magnetik, laser disk, compact disk (CD ROMs), atau
dipublikasikan melalui website dalam jaringan internet.

Berdasarkan cakupan informasinya text database dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk:
(1) bibliographic database, (2) abstract database, (3) full-text database

1. Bibliographic database memuat daftar referensi antara lain menegenai judul artikel,
nama penulis, sumber publikasi, periode penerbitan, volume dan nomor halaman.
Contoh bibliographic database adalah :
Accounting research directory berisi daftar artikel hasil penelitian akuntansi
selama periode tertentu yang dimuat dalam sejumlah jurnal akuntansi
Business periodical index memuat daftar bibliografi artikel bisnis dan
manajemen yang dipublikasikan dalam sejumlah jurnal bisnis dan ekonomi.
Predicast F & S indeks berisi informasi yang lebih spesifik mengenai
perusahaan termasuk informasi mengenai akusisi, merger, produk dan
teknologi baru. Indeks ini memuat daftar bibliografi dari sejumlah publikasi
keuangan, majalah bisnis, paper dan laporan khusus.
2. Abstract database yang menyajikan abstrak atau ringkasan artikel. Salah satu jenis
abstract database adalah disertsai yang dsiertai yang berisi ringkasan komponen-
komponen utama dalam disertasi yang diklasifikasi berdasrkan judul, penulis dan
institusi. Dari sejumlah institusi akademik. Misal , dissertasion abstarcts international.
3. Full-text database memuat kumpulan materi artikel secara lengkap ( full-text). Full-
database umumnya dapat diperoleh pada institusi-institusi yang memeberikan jasa
pelayanan data-base komputer , misal management contens, business and industry
news, industry data sources, business on line, DATRIX,DIALOG atau BRS system.

METODE PENEMUAN MASALAH

Ide untuk menemukan masalah penelitian umunya berasal dari masalah-masalah penelitian
sebelumnya. Peneliti memperoleh ide dengan cara mengembangkan masalah-masalah
penelitian sebelumnya. Aspek-aspek yang dapat dikembangkan dari masalah-masalh
penelitian sebelumnya, antara lain adalah: lingkungan dari subyek yang diteliti, dimensi atau
perpektif masalah penelitian, dan metode penelitian.

Ide untuk menemukan masalah penelitian dapat diperoleh melalui dua pendekatan: formal
dan informal. Pendekatan formal secara umum dinilai lebih baik dibandingkan dengan
pendekatan informal.

Pendekatan Formal

Ada enam metode untuk menemukan masalah dengan pendekatan formal, yaitu: (1) metode
analog (2) metode renovasi, (3) metode dialektis, (4) metode morfologi, (5) metode
dekomposisi, dan metode (6) metode agregasi.
Metode Analog (analog method )

Metode ini menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian pada bidang
tertentu untuk menetukan masalah penelitian pada bidang yang lain yang terkait. Penggunaan
konsep analog akan membantu peneliti dalam merumuskan masalah penelitian yang ide dan
konsepnya berasal dari keberhasilan penerapan suatu teori atau metode pada bidang tertentu.

Misal, masalah penelitian mengenai.

(1) Studi semantik dalam penyajian laporan keuangan


(2) Penerapan teori komunikasi pada pembaca laporan keuangan.

Metode Renovasi (renovation method)

Menurut metode ini masalah penelitian dapat ditentukan dengan cara memperbaiki atau
mengganti komponen teori atau metode yang kurang relevan dengan komponen teori atau
metode lain yang lebih efektif. Misal , pelaksanaan program audit berdasarkan metode pos-
pos laporan sistem informasi. Penelitian diarahkan untuk menguji apakah penggantian
metode tersebut dapat mengeliminasi komponen teoritis dari proses audit yang kurang
relevan.

Metode Dialektis ( dialectic method )

Metode ini menentukan masalah penelitian dengan mengajukan usulan pengembangan


terhadap teori atau metode yang telah ada. Fokus masalah yang diteliti adalah penerapan teori
atau metode alternatif. Misal, metode pengukuran berdasarkan general price level accounting
dapat diusulkan sebagai alternatif dari metode historical cost accounting pada masa inflasi.
Rumusan pertanyaan dapat berupa apakah general price level accounting merupakan
metode pengukuran yang dapat memberikan informasi keuangan yang lebih baik pada masa
inflasi dibandingkan denga metode historical cost accounting ?

Metode Morfologi ( morphology method )

Metode ini merupakan metode formal yang digunakan untuk menemukan masalah penelitian
dengan menganalisis berbagai kemungkinan kombinasi bidang masalah penelitian yang
saling berhubungan dalam bentuk matrik. Setiap sel merupakan potensi elemen-elemen
masalah yang dapat diteliti. Misal, berikut ini contoh matrik kemungkinan kombinasi
masalah penelitian dalam bidang pendidikan akuntansi

parameter 1 2 3 4
a. mahasiswa Sikap Prestasi Kemampuan -
akademik komunikasi
b. kelembagaan Evaluasi Dosen Kegiatan Pengembangan
kinerja penelitian Lembaga
c. proses kurikulum Metode Ujian Prasarana &
pengajaran pengajaran sarana
d. administrasi & Struktur Administrasi Keuangan Program
keu organisasi akademik akreditasi
Berdasrkan kemapuan hubungan antars sel dalam contoh matriks tersebut, peneliti dapat
menentukan banyak topik penelitian dengan rumusan masalah anatara lain sebagai berikut :

(1) apakah ada hubungan antara kemampuan komunikasi dengan prestasi akademik
mahasiswa?
(2) Bagaimana pengaruh perbedaan sistem evaluasi kinerja pada sikap terhadap pekerjaan
dan kegiatan penelitian dosen
(3) Apakah metode dan sarana pengajaran mempunyai korelasi dengan program
peningkatan akreditasi ?
(4) Apakah struktur organisasional mempunyai pengaruh terhadap hubungan antara
kinerja dosen dengan pengembangan lembaga ?

Metode Dekomposisi (decomposition method )

Berdasrkan metode ini masalah peneltian ditemukan dengan cara membagi masalah ke dalam
elemen-elemen yang lebih spesifik. Peneliti dapat memeilih masalah penelitian berdasarkan
pada elemen tertentu. Misal , masalah akuntansi beli-sewa (leasing ) dapat dibagi menajadi
beberapa elemen yang lebih spesifik, antara lain :

(1) Dasar pengukuran ( biaya historis atau nilai sekarang )


(2) Penerapan teori nilai sekarang
(3) Materiality
(4) Matching cost with revenue

Berdasarkan dekomposisi masalah akuntansi beli-sewa tersebut, peneliti dapat


menentukan masalah dengan topik penelitian, misal: studi terhadap penerapan teori nilai
sekarang dalam akuntansi neli-sewa

Metode Agregasi ( aggregration method)

Metode ini merupakan kebalikan dari metode dekomposisi, yaitu menggunakan hasil
penelitian atau teori dari berbagai bidang penelitian yang berbeda untuk menentukan
suatu masalah penelitian yang lebih kompleks.

Misal, masalah penelitian yang menguji:

(1) Penerapan analisis input-ouput, teori utilitas,dan teori motivasi secara simultan untuk
pengukuran kinerja manajerial
(2) Penerapan teori nilai sekarang dalam akuntansi beli-sewa dan akuntansi sumber daya
manusia.

Pendekatan informal

Ada empat metode yand dapat digunakan untuk menemukan masalah penelitian dengan
pendekatan informal, yaitu: (1) metode perkiraan atau intuisi, (2) metode fenomenologi,
(3) metode konsensus, dan (4) metode pengalaman .
Metode perkiraan (conjecture method )

Metode ini menemukan masalah penelitian bisnis berdasarkan intuisi pembuat keputusan
mengenai situasi tertentu yang diperkirakan mempunyai potensi masalah. Penentuan
masalah dengan metode ini kurang didukung oleh bukti-bukti yang cukup, karena hanya
beradsarkan perkiraan pembuat keputusan.

Meteodologi Penelitian Bisnis: untuk Akuntansi dan Manajemen

Mempengaruhi intuisi pembuatan keputusan antara lain : hubungannya dengan lingkungan


disekitarnya,imajinasi, persepsi, dan kemampuan membuat kebijakan (judgment).
Misal, kerugian karena produk hilang untuk jenis produk yang mudah menguap dapat
terjadi pada proses pembelian, penyimpanan, atau penjualan produk. Penentuan masalah
penelitian dapat diarahkan untuk perbaikan sistem pembelian atau sistem penjualan produk.

Metode Fenomologi (Phenomenology Method )


Metode ini menemukan masalah penelitian berdasarkan hasil observasi terhadap fakta
atau kejadian. Pengamatan terhadap fenomena kemungkinan dapat mengarahkan pada
penyusunan suatu dugaan atau hipotesis. Fakta atau kejadian yang diamati dalam lingkungan
bisnis antara lain dapat berupa : latar belakang berdirinya perusahaan, filosofi dan kebijakan
manajemen, persepsi, sikap dan perilaku anggota organisasi, serta kinerja operasional
perusahaan.
Misal, pengamatan investor terhadap data keuangan historis suatu perusahaan atau
beberapa perusahaan dalam suatu industri dapat digunakan sebagai dasar dalam penentuan
topik masalah mengenai : manfaat rasio keuangan untuk memprediksi pertumbuhan laba atau
kandungan informasi laporan kas untuk pembuatan keputusan investasi.

Metode Konsensus (Consensus Method)


Ide masalah penelitian dapat ditemukan berdasarkan adanya konsessus atau konvensi
dalam praktik bisnis. Konsensus atau konvensi merupakan kebiasaan yang dipraktikkan
dalam bsnis yang tidak dilandasi oleh konsep atai teori yang baku.
Misal, kriteria untuk menentukan materiality dalam pengakuan dan penyajian
informasi akuntansi atau auditing, kemungkinan dapat digunakan sebagai dasar untuk
menentukan masaah penelitian.

Metode Pengalaman (Experiences Method )


Masalah penelitian, seperti yang telah disebut di muka, diantaranya dapat ditentukan
berdasarkan pengalaman perusahaan atau orang- orang dalam perusahaan.
Misal, pengalaman perusahaan dalam menghadapi kesulitan likuiditas atau reaksi
konsumen kemungkinan dapat mengarahkan pada penemuan masalah penelitian yang
berkaitan dengan peningkatan kemampuan kas atau perubahan teknik pemasaran.
BAB 3: Masalah Penelitian
Gambar 3.3 Metode Peenentuan Masalah

Metode Analogi

Metode Renovasi

Metode Dialektis
Pendekatan
Formal Metode Morfologi

Metode Dekomposisi

Metode Agregasi
Metode Penentuan

Masalah
Metode Perkiraan

Metode Fenomenologi
Pendekatan
Informal
Metode Konsensus

Metode Pengalaman

RUMUSAN MASALAH
Perumusan masalah atau pertanyaan penelitian merupakan tahap akhir dari penemuan
setelah penelitian memiliki bidang dan pokok masalah yang diteliti. Kriteria penelitian yang
baik menghendaki rumusan masalah atau pertanyaan penelitian yang jelas dan tidak ambigus.
Agar memudahlan penelitian dalam menentukan konsep- konsep teoritis yang ditelaah dan
memilih metode penguji data yang tepat, masalah penelitian seaiknnya dinyatakan dalam
bentuk pertanyaan yang mengekspresikan secara jelas hubungan antara dua variabel atau
lebih. Rumusan masalah dalam suatu penelitian dapat berupa lebih dari satu pertanyaan.
Gambar 3.7 Berikut ini adalah contoh rumusan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan.
1. Bagaimana pengaruh idealisme terhadap komitmen pada profesi
2. Apakah ada hubungan antara partisispasi pemakai dengan kepuasaan pemakai dalam
proses pengembangan sistem informasi
3. Apakah pengumuman right issue mempunyai kandungan informasi yang cukup untuk
membuat pasar bereaksi terhadap pengumuman tersebut
4. Does security trading volume increase signicantly when firm announce annual
earning

Rumusan masalah penelitian tidak harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.


Beberapa penelitian merumuskan masalah penelitiannya ke dalam pertanyaan tujuan
penelitian. Tujuan penelitian, meskipun demikian tidak harus sama dengan masalah yang
diteliti. Misal, tujuan penelitian adalah mengungkapkan penerapan sistem intensif di
perguruan tinggi . Masalah atau pertanyaan penelitian dirumuskan sebagai berikut: apakah
sistem intensif mempunyai pengaruh terhadap kinerja dosen?

Contoh 3.8. berikut ini adalah contoh rumusan masalah penelitian yang tidak dinyatakan
dalam bentuk pertanyaan, tetapi dinyatakan dalam tujuan penelitian.
1. Studi ini dimaksudkan untuk menguji dampak tiga variabel yaitu gava
kepemimpinan, ketidakpastian lingkungan, dan informasi job- relevan terhadap
kegunaan yang dirasakan dari sistem pengganggaran.
2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah informasi pemecahan saham dapat
secara murni mempengaruhi harga saham dengan melakukan pengawasan terhadap
laba per lembar saham, deviden, harga saham industri.
3. The purpose of this studi is twofold. First, it attempts to explore the effects of
acquisitions on the acquirersstock returns. Futher, the study analyzes the relationship
between the aggresiveness of the acquirer and its stock returns

KESALAHAN UMUM DALAM PENEMUAN MASALAH

Isacc dan Michael mengemukkan beberapa kesalahan yang umumnya dilakukan


peneliti dalam tahap penemuan masalah penelitian, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Peneliti mengumpulkan data tanpa rencana atau tujuan penelitian yang jelas.
2. Peneliti memperoleh sejumlah data dan berusaha untuk merumuskan masalah
penelitian sesuai dengan data yang tersedia.
3. Peneliti merumuskan masalah penelitian dalam bentuk terlalu umum dan ambiguitas
sehingga menyulitkan interprestasi hasil dan pembuatan kesimpulan penelitian.
4. Penelitian menemukan masalah tanpa terlebih dahulu menelaah hasil- hasil penelitian
sebelumnya dengan topik sejenis, sehingga masalah penelitian tidak didukung oleh
kerangka teoritis yang baik.
5. Peneliti memilih masalah penelitian yang hasilnya kurang memberikan kontribusi
terhadap pengembangan teori atau pemecahan masalah praktis.
RINGKASAN
Penemuan masalah merupakan tahap penelitian yang paling sulit dan krusial kerena
perannya yang penting dalam penentuan strategi pemecahan masalah. Penemuan
masalah merupakan tahap penelitian yang dinilai lebih esensial dibandingkan dengan
tahap pemecahan masalah. Masalah penelitian yang dirumuskan terlalu umum dan
ambiguitas akan menyulitkan peneliti untuk menentukan konsep- konsep teoritis yang
ditelaah dan memilih metode pengujian data.
Ada empat tipe masalah dalam penelitian bisnis, yaitu: (1) masalah- masalah yang ada
saat ini di suatu lingkungan organisasional yang memerlukan solusi, (2) area- area
tertentu dalam suatu organisasi yang memerlukan pembenahan atau perbaikan, (3)
persoalan- persoalan teoritis yang memerlukan penelitian untuk menjelaskan ( atau
memprediksi) fenomena. (4) Pertanyaan penelitian yang memerlukan jawaban secara
empiris.
Beberapa aspek yang menjadi pertimbangan peneliti dalam tahap penemuan masalah
penelitian, antara lain: (1) merupakan bidang masalah dan topik yang menarik, (2)
mempunyai signifikasi secara teoritis atau praktis, (3) dapat diuji melalui
pengumpulan dan analisis data, (4) sesuai dengan waktu dan biaya yang tersedia.
Sumber utama yang dapat digunakan untuk menemukan masalah penelitian berasal
dari literatur dan pengalaman. Sumber yang berasal literatur meliputi: (1) literatur
yang dipublikasikan antara lain berupa: buku teks, jurnal, text- database, dan (2)
literatur yang tidak dipublikasikan, antara lain berupa: skripsi, tesis, disertasi, paper
atau makalah- makalah seminar.
Kriteria penelitian yang baik menghendaki rumusan masalah atau pertanyaan
penelitian yang secara jelas menunjukkan variabel penelitian dan unit analisis.
Rumusan penelitian dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan atau dinyatakan dalam
tujuan penelitian.
Ide masalah penelitian dapat dikembangkan melalui dua pendekatan, yaitu: (1)
pendekatan formal meliputi metode: analog, renovasi, dialektis, morfologi,
dekomposisi dan agregasi, (2) pendekatan informal yang terdiri atas metode :
perkiraan atau intuisi, fenomologi, konsensus, dan pengalaman.

PERTANYAAN DISKUSI
3.1.1 Uraikan secara singkat arti pentingnya masalah penelitian.
3.1.2 Sebutkan dan beri penjelasan tipe- tipe masalah yang umumnya terdapat dalam
penelitian terapan.
3.1.3 Sebutkan dan beri penjelasan tipe- tipe masalah yang umumnya terdapat dalam
penelitian dasar.
3.1.4 Mengapa peneliti memilih bidang masalah dan topik penelitian yang menarik?
3.1.5 Beri penjelasan yang dimaksud dengan kriteria masalah penelitian yang
mempunyai signifikasi secara teoritis atau praktis.
3.1.6 Uraikan secara singkat bagaimana kriteria masalah penelitian yang dapat diuji
3.1.7 Sebut dan uraikan secara singkat sumber-sumber penemuan masalah penelitian
yang berasal dari literatur yang dipublikasikan
3.1.8 Berikan contoh rumusan masalah penelitian:
a) Yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan
b) Yang dinyatakan dalam bentuk penelitian
3.1.9 Sebut dan beri penjelasan singkat metode- metode untuk menemukan masalah
penelitian menurut pendekatan formal.
a) Buatlah matrik dan rumusan masalah penelitian dengan menggunakan
metode morfologi untuk bidang- bidang penelitian sebagai berikut ( pilih
dua bidang Manajemen pemasaran
b) Manajemen keuangan
c) Sistem informasi manajemen
d) Akuntansi keuangan
e) Akuntansi manajemen
f) auditing

CATATAN AKHIR
1. Einstein, A, and L. Infied, 1938, The Evolution of Physics, Simon & Schuster, New
York, USA, hal, 95.
2. Isaac, S, and W.B. Michael,1989, Handbook in Research and Evalution for
Educational and the Behavioral Sciences,2 Edition, Edits Publishers, California,
USA, hal.32.
3. Sekaran, U, 1992, Research methods For Business: A Skill Building Approach, 2
Edition, Jhon Wiley & Sons, Inc, New York, USA, hal 31- 32
4. Supomo, B dan N Indriantoro, 1998, Pengaruh Struktur dan Kultur Organisasional
terhadap Keefektifan Anggaran Partisipatif dalam Peningkatan Kinerja Manajerial:
Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia, Kelola, Vol. VII, No. 18,
hal. 61-84.
5. Gay, L,R, and P,L, Diehl, 1992, Research Methods for Bussiness and Management,
Macmillan Publishing Company, New York, USA, hal. 54-55.
6. Zikmud, W,G,1994, Business Research Methods, 4 Edition, The Dryden Press
Harcourt Brace College Publishers, Florida, USA, hal. 71- 74.
7. Dane, FC, 1990, Research Method,Brooks/ Cole Publishing Company, California,
USA , hal. 64-69.
8. Buckley, J,W, M,H< Buckley, and H. Chiang, 1976, Research Methodology &
Business decions, National Associaton of accountants and The Society of
Management Accountants of Canada, hal 14-19.
9. Pattillo, J.W,1980, The Role of Applied Research in Accounting, in Courtis, J,K ,
(E.d),Research and Methodology in accounting and financial management, AFM
Exploratory Series No.9, hal.4.
10. Williams,J,R, M,G, Tiller, H,C, Herring III, J,H, Scheiner, 1988 A framework for The
Development of Accounting Education Research, American Accounting Association,
Florida, USA, hal.4
11. Kerlinger,FN ,1986, Foundations of Behavioral Research, 3 Edition, Holt, Rinehart
and Winston, New York, USA, hal.17.

12. Khomsyiah, dan N., Indriantoro, 1998, Pengaruh Orientasi Etika terhadap Komitmen dan
Sensitivitas Etika Auditor Pemerintah di Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.
1, Januari, hal. 15

13. Sunarti, S., dan N., Indriantoro, 1998, Pengaruh Dukungan Manajemen Puncak dan
Komunikasi Pemakai-Pengembang terhadap Hubungan Partisipasi dan Kepuasan Pemakai
dalam Pengembangan Sistem Informasi , Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.1,
No.2,Juli, hal 194.

14. Budiarto, A., dan Z., Baridwan, 1999, Pengaruh Pengumuman Right Issue terhadap
Tingkat Keuntungan dan Likuiditas Saham di Bursa Efek Jakarta Periode 1995-1996,
Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 2, No. 1, Januari, hal.93.

15. Berhanu, B., dan A., Naim, 1998, The Information Content of Annual Earnings
Announcements: A Trading Volume Approach, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 1,
No. 2, Juli, hal. 164.

16. Kerlinger, loc.cit.

17. Muslimah, S., 1998, Dampak Gaya Kepemimpinan, Ketidakpastian Lingkungan, dan
Informasi Job-relevant terhadap Perceive Usefulness Sistem Anggaran, Jurnal Riset
Akuntansi Indonesia, Vol. 1, No. 2, Juli, hal. 221.

18. Ewijaya, dan N., Indriantoro, 1999, Analisis Pengaruh Pemecahan saham terhadap
Perubahan Harga Saham , Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.2, No. 1, Januari, hal. 55.

19. Suryawijaya , M.A., 1998, Banking Acquisition: Acquirers Aggresiveness and Stock
Returns ( A Case Study in the American Banking System), Jurnal Riset Akuntansi
Indonesia, Vol. 1, No. 2, Juli, hal. 209.

20. Issac, S., and W.B., Michael, loc.cit.


BAB 4

KERANGKA TEORETIS

TOPIK PEMBAHASAN
DEFINISI TEORI

KONSEP/ CONSTRUCT
Variabel dan Construct TUJUAN PEMBAHASAN
Nilai Variabel Menjelaskan definisi teori dan
elemen-elemen teori
VARIABEL Menjelaskan konsep dan construst
Variabel Independen dan dalam penelitian
Variabel Dependen Membahas variabel dan tipe-tipe
Variabel Moderating variabel penelitian
Variabel Intervening Menjelaskan definisi operasional
Variabel Kontinu dan pengukuran construst (variabel)
Variabel Kategoris Menjelaskan posisi dan
Variabel Aktif dan pengembangan teori berdasarkan
Variabel Atribut paradigma kuantitatif dan paradigma
kualitatif
DEFINISI OPERASIONAL Membahas fungsi, pengembangan
dan rumusan hipotesis penelitian
TEORI DAN PENELITIAN 56
Peran Penelitian
Posisi dan Peran Teori
Proses Pengembangan
Teori

HIPOTESIS
Proposisi dan Hipotesis
Fungsi Hipotesis
Pengembangan Hipotesis
Rumusan Hipotesis
MASALAH/PERTANYAAN
PENELITIAN

TELAAH HIPOTES
TEORETIS IS

PENGUJIAN FAKTA

Pemilihan Data HASIL


Pengumpulan Data

Analisa Data

KESIMPULAN

Materi bab 4 membahas kerangka teoretis yang menjadi landasan untuk jawaban
masalah atau pertanyaan penelitian. Materi yang dibahas secara garis besar meliputi: definisi
teori dan elemen-elemen teori : konsep, construst, variabel, definisi, proposisi atau hipotesis.

57
DEFINISI TEORI

Perbedaan paradigma penelitian dapat dilihat paling tidak pada dua aspek
utama,yaitu: (1) posisi dan peran teori, dan (2) cara pandang terhadap fenomena. Perbedaan
dalam dua aspek tersebut mempunyai implikasi pada perbedaan dalam perumusan definisi
teori. Mengingat pentingnya posisi dan peran teori dalam penelitian kuantitatif, peneliti perlu
memahami definisi teori yang menjelaskan mengenai elemen-elemen dan fungsi teori.
Pembahasan mengenai definisi teori berikut ini menggunakan kerangka berfikir penelitian
kuantitatif.

Menurut Kerlinger teori merupakan suatu kumpulan construct atau konsep (concept),
definisi (definitions), dan proposisi (propositions) yang menggambarkan fenomena secara
sistematis melalui penentuan hubungan antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan
(memprediksi) fenomena alam.

Ada tiga hal pokok yang diungkap dalam definisi teori:

1. Elemen teori terdiri atas: construct, konsep, definisi dan proposisi


2. Elemen-elemen teori memberikan gambaran sistematis mengenai fenomena melalui
penentuan hubungan antar variabel
3. Tujuan teori adalah untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena alam

KONSEP CONSTRUCT

Konsep-konsep (concept) atau constructs keduanya merupakan elemen-elemen teori.


Konsep dan construct mudah dikacaukan, karena keduanya memiliki pengertian yang mirip.
Istilah construct menurut kamus juga berarti konsep. Construct dan konsep untuk keperluan
penelitian dapat dibedakan. Konsep atau construct penelitian merupakan dasar pemikiran
peneliti yang kemudian dikomunikasikan kepada orang lain. Peneliti perlu merumuskan
konsep atau construct penelitian dengan baik agar hasilnya dapat dimengerti oleh orang lain
dan memungkinkan untuk direplikasi atau diekstensi oleh peneliti yang lain.

Misal, penelitian yang menguji apakah kemampuan berkomunikasi mempunyai


pengaruh terhadap prestasi akademik mahasiswa Agar dapat dinyatakan dalam rumusan
masalah penelitian yang jelas (tidak ambiguitas) dan merupakan hipotesis yang dapat diuji
melalui pengumpulan dan analisis data, perlu kejelasan: apa yang dimaksud dengan
kemampuan komunikasi?, prestasi akademik yang mana? Siapa yang dimaksud sebagai
mahasiswa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan dengan konsep dan construct
penelitian.

Konsep

Konsep mengekspresikan suatu abstraksi yang terbentuk melalui generalisasi dari


pengamatan terhadap fenomena-fenomena. Konsep merupakan abstraksi dari realitas yang
tersusun dengan mengklasifikasi fenomena-fenomena (antara lain berupa: obyek, kejadian,
atribut atau proses) yang memiliki kesamaan karateristik. Misal, prestasi akademik
merupakan konsep yang mengekspresikan abstraksi dari kemampuan belajar mahasiswa
antara lain dalam: mengerjakan matematika ekonomi,menyusun laporan keuangan, membuat
bagan arus prosedur akuntansi. Bobot adalah konsep yang menyatakan abstraksi dari suatu
benda yang mempunyai karateristik berat atau ringan.

Konsep mempunyai tingkat abstraksi yang bersifat progresif tergantung pada mudah
atau tidaknya fenomena-fenomena yang diabstraksikan dapat diidentifikasi. Misal, aktiva
tetap perusahaan berupa tanah, gedung, peralatan, dan kendaraan merupakan

Konsep-konsep yang mudah diidentifikasi, karena aktiva tersebut mempunyai wujud fisik
yang mudah diamati. Aktiva tetap juga merupakan konsep, yaitu merupakan penggolongan
aktiva-aktiva yang mempunyai karateristik: (1) dimiliki oleh perusahaan, (2) mempunyai
umur ekonomis lebih dari satu tahun, (3) digunakan dalam operasi perusahaan (tidak
dimaksudkan untuk dijual). Antara Konsep Tanah dengan Aktiva Tetap mempunyai
perbedaan tingkat abstraksi. Konsep Aktiva Tetap lebih abstrak atau lebih umum (general)
daripada konsep Tanah, karena tanah merupakan salah satu jenis aktiva tetap, sedang aktiva
tetap dapat berupa aktiva-aktiva yang berwujud dan aktiva-aktiva tidak berwujud (intangible
assets). Konsep Kepuasan Kerja (job satisfaction), Motivasi Kerja (job motivation), Sikap
terhadap Pekerjaan (attitude toward the job) lebih abstrak atau lebih sulit dibayangkan
dibandingkan dengan konsep Tanah dan Aktiva Tetap. Konsep-konsep yang lebih abstrak
tersebut sering dinamakan dengan construct
Construct

Construct sebenarnya bukan hanya merupakan konsep-konsep yang lebih abstrak, melainkan
mempunyai makna tambahan yang sengaja diadopsi untuk keperluan ilmiah. Misal,
kepuasan sebagai konsep merupakan suatu abstraksi dari pengamatan terhadap fenomena
psikologi yang dirasakan oleh seseorang. Perasaan tersebut merupakan respon seseorang
terhadap obyek tertentu yang dinyatakan dengan perasaan puas atau tidak puas. Kepuasan
terhadap suatu construct ilmiah mempunyai makna yang berbeda dengan pengertiannya
sebagai konflik,karena kepuasan sebagai construct merupakan abstraksi dari fenomena-
fenomena yang dapat diamati dari banyak dimensi. Pernyataan psikologis puas atau tidak
puasnya seseorang dapat disebabkan oleh tanggapan seseorang terhadap berbagai macam
obyek,salah satunya adalah terhadap pekerjaan yang selanjutnya disebut dengan construct
kepuasan kerja.

Construct kepuasan kerja merupakan abstraksi dari fenomena psikologis seseorang


terhadap pekerjaan yang dapat diamati berdasarkan persepsi yang bersangkutan terhadap
berbagai dimensi lingkungan pekerjaan, antara lain: (1) tugas-tugas yang dikerjakan, (2)
atasannya, (3) rekan sekerja, (4) kompensasi pekerjaan, (5) promosi karier. Masing-masing
dimensi lingkungan pekerjaan tersebut merupakan dimensi-dimensi construct kepuasan yang
tersusun menjadi construct yang lebih abstrak yaitu kepuasan kerja. Dimensi construct
kepuasan terhadap tugas misalnya, selanjutnya dapat diobservasi berdasarkan tanggapan
seseorang terhadap sifat, jenis, kondisi atau hal lain dari tugas-tugas yang dikerjakan, antara
lain dalam hal : rutinitas, kompleksitas, kegunaan, kesesuaian, atau tantangan. Rutinitas
tugas, kompleksitas tugas dan sebagaiannya, merupakan konsep-konsep yang dapat diamati.
Dimensi construct, dengan demikian, terdiri atas berbagai konsep yang dapat diamati.
Konsep-konsep yang dapat diamati pada setiap dimensi construct kepuasan (tugas, atasan,
rekan kerja, kompensasi, promosi), selanjutnya untuk keperluan penelitian ilmiah diukur
dengan menggunakan skala pengukuran tertentu menjadi variabel penelitian : kepuasan kerja.
Gambar 4.1. menyajikan construct kepuasan kerja yang terdiri atas konsep-konsep dalam
beberapa dimensi construct kepuasan.
Construct sengaja digunakan secara sistematis untuk penelitian ilmiah melalui dua
cara: (1) mengoprasionalisasikan construct kedalam konsep-konsep yang dapat diamati dan
ukur menjadi variable penelitian seperti yang telah dibahas sebelum ini, dan (2)
menghubungkan construct yang satu dengan construct yang lainmenjadi suatu konstruksi
teori. Misal, inovatif dan kreatif merupakan bagian dari fungsi kepuasan kerja dan prestasi
kerja
Gambar 4.1. Construct Kepuasan Kerja

Construct

KEPUASAN KERJA

Konsep
Dimensi Rutinitas, Kompleksitas
Kepuasan pada Tugas Kegunaan, Kesesuaian
Tantangan, dsb.

Konsep
Dimensi Pengaruh, Intelegensi
Kepuasan pada Atasan Prestasi, Perhatian
Tanggungjawab, dsb.

Konsep
Dimensi Stimulasi, Ambisi
Kepuasan pada Rekan Loyalitas, Sikap
Tanggungjawab, dsb.

Konsep
Dimensi Kewajaran, Kesesuaian
Kepuasan pada Keinginan, Keamanan,
Kompensasi Nilai, dsb.

Konsep
Dimensi Kesempatan, Kebijakan
Kepuasan pada Promosi Keterbukaan, Keadilan
Keterbatasan, dsb.
VARIABEL

VARIABEL dan Construct

Variabel, seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, adalah segala sesuatu yang dapat
diberi berbagai macam nilai. Teori mengekspresikan fenomena-fenomena secara sistematis
melalui pernyataan hubungan antar variabel. Construct adalah abstraksi dari fenomena-
fenomena kehidupan nyata yang diamati. Variabel, dengan demikian, merupakan proksi
(proxy) atau representasi dari construct yang dapat diukur dengan berbagai macam nilai.
Variabel merupakan mediator antara construct yang abstrak dengan fenomena yang nyata.
Variabel memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai fenomena-fenomena yang
digeneralisasi dalam construct. Hubungan antara variabel dengan construct dapat dijelaskan
melalui gambar 4.2. yang menyajikan hubungan antara teori, construct, variabel dan
fenomena.
Nilai Variabel

Variabel dapat diukur dengan berbagai macam nilai tergantung pada construct yang
dimilikinya. Nilai variabel dapat berupa angka atau berupa atribut yang menggunakan ukuran
atau skala dalam suatu kisaran nilai. Tipe-tipe skala pengukuruan variabel penelitian dibahas
pada bagian tersendiri. Contoh variabel antara lain: sikap, motivasi, prestasi akademik,
absensi. Sikap mahasiswa dapat dinilai dengan positif dan negatif. Motivasi belajar
mahasiswa dapat dinilai dengan tinggi, sedang, kurang. Prestasi akademik mahasiswa dapat
dinilai dengan keterangan sangat memuaskan, memuaskan, cukup, kurang. Absensi
mahasiwa dapat dinilai (dihitung) mulai dari angka nol sampai dengan jumlah tertentu
(seluruh mahasiswa dalam satu kelas). Gambar 4.2. Skema Hubungan Teori-Construct-
Variabel-Fenomena
Abstrak

Kebutuhan Ilmiah
TEORI CONSTRUCT

Proksi Pengukuran

VARIABEL
VARIABEL

Gambaran
sitematik

Realitas

FENOMENA SUBYEK/OBYEK
ALAM PENELITIAN
TIPE-TIPE VARIABEL PENELITIAN
Teori-teori dalam ilmu sosial memberikan gambaran sistematis mengenai fenomena
sosial melalui hubungan dua variabel atau lebih. Hubungan antar variabel pada dasarnya
merupakan simplikasi dari gambaran fenomena-fenomena sosial yang sebenarnya bersifat
kompleks. Banyak faktor yang saling terkait dalam suatu fenomena sosial. Penelitian
kuantitatif umumnya menggunakan asumsi dan batasan pada faktor-faktor tertentu yang
diamati dalam bentuk variabel-variabel penelitian, faktor-faktor lain yang tidak diamati
diasumsikan sebagai faktor-faktor yang tidak terkait secara signifikan dengan fenomena
tertentu yang diteliti.
Variabel penelitian dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa pendekatan,
diantaranya adalah berdasarkan :
1. Fungsi variabel
2. Sekala nilai variabel
3. Perlakuan terhadap variabel
Fungsi Variabel

Tipe-tipe variabel dapat diklasifikasi berdasarkan fungsi variabel dalam hubungan antar
variabel, yaitu : variabel independen (independent variable), variabel dependen (dependent
variable), variabel moderating (moderating variable), dan variabel intervening (intervening
variable).

Variabel Independen dan Variabel Dependen

Variabel independen adalah tipe variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel
yang lain. Variabel dependen adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh
variabel independen. Kedua tipe variabel ini merupakan kategori variabel penelitian yang
paling sering digunakan dalam penelitian karena mempunyai kemampuan dalam aplikasi
yang luas.
Tujuan penelitian, seperti halnya tujuan teori, adalah menjelaskan dan memprediksi
fenomena. Penjelasan dan prediksi fenomena secara sistematis digambarkan dengan
variabilitas variabel-variabel dependen yang dijelaskan atau dipengaruhiu oleh varaibel-
variabel independen bentuk hubungan antara variabel-variabel independen dengan variabel-
variabel dependen, seperti yang telah dibahas dalam bab 2 dapat berupa hubungan
korelasional dan hubungan sebab-akibat. Sesuai dengan fenomena sosial yang dijelaskan,
bentuk hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen dapat bersifat positif
atau negatif.
Variabel independen dinamakan pula dengan variabel yang diduga sebagai sebab
(presumed cause variable) dari variabel independen, yaitu variabel yang diduga sebagai
akibat (presumed effect variable). Variabel independen juga dapat disebut sebagai variabel
yang mendahului (antecedent variable) dan dependen sebagai variabel konsekuensi
(consequent variable).

PEMECAHAN MASALAH HARGA SAHAM

(VariabelIndependen) (VariabelDependen)
Pemecahan saham merupakan variable yang
didugasecaralogismenjelaskanataumempengaruhi variable hargasaham.Contohlainpenelitian
yang menggunakanlebihdarisatu variable dependendan variable independenantaralain,
penelitian yang menguji:

1. Pengaruhpengumumanright issue (variable independen) terhadaptingkatkeuntungan


(variable dependen) danlikuiditassaham (variable dependen).
2. Pengaruh desentralisasi (variable independen) dan karakteristik system
informasiakuntansimanajemen (variable independen) terhadapkinerjamanajerial
(variable dependen).

Variabel Moderating

Hubunganlangsungantara variable-variabelindependendengan variable-


variabeldependenkemungkinandipengaruhioleh variable-variabel lain. Salah
satudiantaranyaadalahvariaebel moderating, yaitutipe variable-variabel yang
memperkuatataumemperlemahhubunganlangsungantara variable independendengan variable
dependen.Variabel moderating merupakantipe variable yang
mempunyaipengaruhterhadapsifatatauarahhubunganantarvariable.Sifatatauarahhubungananta
ra variable-variabelindependendengan variable-variabeldependenkemungkinanpositifatau
negative dalamhalinitergantungdalam variable moderating. Olehkarenaitu, variable
moderating dinamakan pula dengan variable contingency.

Contoh 4.2

Berdasarkan hasil penelitian yang menguji pengaruh struktur organisasional (desentralisasi


atau sentralisasi) terhadap hubungan antara partisipasi dalam penyusunan anggaran
(partisipasi) dengan kinerja dinyatakan bahwa struktur organisasional merupakan factor
moderating yang mempengaruhi hubungan partisipasi dengan kinerja. Partisipasi mempunyai
hubungan positif dengan kinerja pada struktur organisasi desentralisasi. Sebaliknya,
partisipasi mempunyai hubungan negative dengan kinerja pada struktur organisasi
sentralisasi. Pengaruh variable moderating (struktur organisasional) terhadap sifat dan arah
hubungan antara variable independen (partisipasi) dengan variable dependen (kinerja)
dielaskan dengan gambar 4.4

Gambar 4.4 HubunganPartisipasi, desentralisasi, Sentralisasi, danKinerja

STRUKTUR
ORGANISASIONAL

Desentralisasi Sentralisasi

PARTISIPASI

Tinggi KINERJA TINGGI KINERJA RENDAH

Rendah KINERJA RENDAH KINERJA TINGGI


Model penelitian yang variable moderating terhadap hubungan antara variable
independen dengan variable dependen disajikan dalam gambar 4.5.berikut ini.

Gambar 4.5 Pengaruh variable moderating (struktur organisasional) terhadap hubungan


antara variable independen (partisipasi) dengan variable dependen (kinerja).

PARTISIPASI KINERJA

(Variabelindependen) (VariabelDependen)

STRUKTUR
ORGANISASIONAL

(Variabel moderating)

Variabel Intervening

variable-variabelindependendengan variable-variabeldependenmenjadihubungan yang


tidaklangsung. Variabelinterveringmerupakan variable yang terletakdiantara variable-
variabelindependendengan variable-variabeldependen, sehingga variable
independentidaklangsungmenjelaskanataumempengaruhi variable dependen.

Contoh 4.4

Brownell danmclnessmelakukanstudiempirisuntukmengujihubunganmotivasi, partisivasi,


dankinerja.Motivasidalampenelitiantersebutmerupakan variable intervening yang
didugadipengaruhiolehpartisipasidanmempengaruhikinerja.Gambar 4.6 berikutinimenyajikan
model penelitian yang menunjukkanhubunganantara variable independen, variable
intervening, dan variable dependen.

Gambar 4.6.HUbunganantara variable independen (partisipasi), variable intervening


(motivasi) dan variable dependen (kinerja).
PARTISIPASI MOTIVASI KINERJA

Contoh 4.5

Contohpenelitiaan yang lebih kompleks yang menunjukkan hubungan yyufg antara variable
independen, variable dependen, variable moderating, dan variable intervening, missal studi
yang menguji pengaruh moderating keahlian manajerial terhadap hubungan antara diversitas
tenaga kerja dengan sinergi kreatif dan pengaruh intervening sinergi kretif terhadap hubungan
antara diversitas tenaga kerja dengan efektivitas organisasional. Gambar 4.7.menyajikan
model penelitian yang menunjukkan hubungan antara variable-variaebl: independen,
dependen, moderating, dan intervening.

Gambar 4.7 Hubunganantara variable independen (diversitastenagakerja), variable dependen


(efektivitasorganisasional), variable moderating (keahlianmanajerial), dan variable
intervening (sinergikreatif).

Jggg

J DIVERSITAS MOTIVASI KINERJA


TEAGA KERJA KREATIF ORGANISASI

KEAHLIAN AAAL
Model penelitian (gambar 4.7) menunjukkanbagaimanadiversitastenagakerja
MANAJERIAL
(karenaperbedaanetnis, ras, ataukebanggan) mempunyaipengaruhterhadappencapaiantujuan

(efektivitas) organisasional, Diversitas tenaga kerja secara tidak langsung mempengaruhi


efektivitas organisasional melalui sinergi kreatif. Adanya diversitas tenaga kerja
akanmenghasilkan sinergi yang kreatif jika didukung keahlian manajerial yang memadai.

Skala Nilai Variabel

Variabel umumnya diukur dengan skala dalam kisaran nilai tertentu. Berdasarkan skala
nilainya, variable-variabel penelitian yang diklasifikasikan menjadi variable kontinu
(continuous variable) dan variable kategoris (categorical variable).Klasifikasi variable
penelitian berdasarkan skala nilainya bermanfaat terutama untuk menyusun perencanaan dan
analisis data penelitian.

jbsliuygdiuawgd
Variabel kontinu adalah tipe variable-variabel penelitian yang memiliki kumpulan nilai
yang teratur dalam kisaran tertentu. Nilai dalam variable kontinu setidaknya menggambarkan
peringkat atau jarak berdasarkan skala pengukuran tertentu, Skala nilai variable kontinu dapat
berupa, missal: (1) perbedaan lebih atau kurang: tinggi-sedang-rendah,atau (2) skornilai
yang berbeda dan mempunyai jarak: 1 sampaidengan 7. Tipe skala ini sering digunakan
dalam penelitian-penelitian teori keperilakuan.

Variable kategoris adalah tipe variable-variabel penelitian yang memiliki nilai berdasarkan
kategori tertentu atau lebih dikenal dengan sebutan skala nominal.Skala nilai pada variable
ini hanya merupakan label untuk mengidentifikasi kategori atau kelompok variable yang
bersangkutan. Contoh variable kategorisdikotomi: jenis kelamin (pria-wanita), perilaku (baik-
buruk), sikap (positif-negatif), atau variable kategorispolitomis: agama, tingkat pendidikan,
kewarganegaraan.

Perlakuan TerhadapVariabel

Karakteristik penelitian eksperimen, seperti yang telah dibahas sebelumnya, adalah adanya
manipulasi terhadap variable tertentu. Manipulasi dalam hal ini berarti memberikan
perlakuan yang berbeda kepada kelompok yang berbeda. Klasifikasi variable berdasarkan
pada perlakuan penelit iterhadap variable penelitian bermanfaat untuk mengetahui perbedaan
antara variable-variabel yang dimanipulasi dengan variable-variabel yang tidak dimanipulasi.

Variabel Aktif dan variable Atribut

Variabel-variabel penelitian dapat diklasifikasikan berdasarkan perlakuan peneliti terhadap


suatu variable, yaitu: variable aktif (active variable) danVariabel Atribut (attribute
variable). Variable aktif adalah variable-variabel penelitian yang dimanipulasi untuk
keperluan penelitian eksperimen.Tidak semua variable penelitian dapat dimanipulasi, missal
variable-variabel yang berkaitan dengan karakteristik manusia: intelegensi, sikap, jenis
kelmin, status social-ekonomi. Variable-variabel tersebut umumnya tidak mungkin atau suli
tuntuk dimanipulasi.Variable-variabel penelitian yang tidak dapat dimanipulasi disebut
dengan variable atribut.

DEFENISI OPERASIONAL

Variabel adalah contruct yang diukurdengan berbagai macam nilai untuk memberikan
gambaran yang lebih nyata mengenai fenomena-fenomena. Pengukuran construct merupakan
masalah yang kompleks karena berkaitan dengan fungsi variable untuk memberi gambaran
yang lebih kongkret mengenai abstraksi construct yang diwakilinya. Variabel-variabel yang
dapat diukur secara fisik (missal luas tanah atau berat kenderaan), relative mudah dilakukan
dengan bantuan alat ukur (instrument). Demikian pula pengukuran terhadap data demografi
(missal: pengalaman kerja, biaya, laba, aktiva, harga saham). Dalam penelitian bisnis,masalah
pengukuran umumnya dijumpai pada variable-variabel yang berkaitan dengan persepsi,
sikap, dan perilaku yang bersifat subyektif.
Penentuan variable pada dasarnya merupakan operasionalisasi terhadap construct,yaitu upaya
mengurang abstraksi construct sehingga dapat diukur. Defenisi Operasional adalah
penentuan construct sehingga menjadi variable yang dapatdiukur. Defenisi operasional
menjelaskan cara tertentu yang digunakan oleh peneliti dalam mengoperasionalisasikan
construct, sehingga memungkinkan bagi peneliti yang lain untuk melakukan replikasi
pengukuran denga cara yang sama atau mengembangkan cara pengukuran construct yang
lebih baik.

Contoh 4.6 berikut ini adalah contoh definisi operasional yang menjelaskan cara peniliti
mengoperasionalisasikan construct (pengukuran variable) struktur organisasional14

variable struktur organisasional diukur dengan instrument yang dikembangkan oleh Gordon
dan narayanan (1984). Instrument tersebut lima butir pertanyaan yang mengukir tingkat
pendelegasian wewenang manajer dalam pembuatan keputusan, yaitu: pengembangan
produk baru, pengangkatan dan pemberhentian karyawan, pemilihan investasi, alokasi
anggaran dan penentuan

TEORI DAN PENELITIAN

Peran dan penelitian

`` salah satu karakteristik penilitian , seperti yang telah dibahas sebelumnya ,


adalah adanya hubungan yang erat antara penelitian dengan ilmu. Penilitian pada dasarnya
merupakan operasionalisasi dari metode ilmiah , yaitu metode yang digunkana untuk
memperoleh pengetahuan ilmiah . hubungan antara penelitian dengan ilmu juga dijelaskan
melalui peran penelitian dalam pengembangna ilmu. Teori merupakan bagian dari ilmu yang
memberikan penjelasan (atau memprediksi) fenomena alam . teori sebagai bagaian dari ilmu
, dengan demikian, juga mempunyai jalinan erat dengan penelitian . penelitian merupakan
proses yang sistematis untuk mengembangkan teori

Posisi dan peran teori

Adanya perbedaan teori paradigma antara penelitian kuantitatif dengan


penelitian kualitatif mempengaruhi posisi dan peran teori dalam penelitian. Ditinjau dari segi
penelitian kedua paradigma tersebut mempunyai perbedaan yang prinsip, sehingga msing
masing meletakkan posisi dan peran teori dengan perlakuan yang berbeda .

Penelitian kuantitaif yang mempunyai tujuan untuk menguji atau verifikasi


teori, meletakkan teori secara deduktif menjadi landasan dalam penemuan dan pemecahan
masalh penelitian. Teori merupakan kerangka dalam penelitian kuantiatif yang melandasi
perumusan masalah atau pertanyaan, pengembanagn hipotesis, pengujian data, dan
pembuatan kesimpulan. Posisi dan peran strategis teori dalam penelitian kuantitatif
direfleksikan dalam hasil penelitian yang berupa dukung atau penolakan terhadp teori.
Penelitian kualitatif yang mempunyai tujuan untuk meyusun teori, memandang teori
sebagai hasil prose induksi dari pengamatan terhadap fakta (pengumpulan informasi). Teori
pada dasarnya merupakn kulminasi dari penelitian kualitatif yang disusun melaluii proses
pengumpulan data, kategorisasi data dan pengembangan pola atau susunan (patterns) teori

Proses pengembangan teori

Proses pengembangan teori, seperti yang telah dijelaskan dimuka, mencakup dua
aspek yaitu : pengujian dan penyusunan konstruksi teori. Kedua aspek tersebut melahirkan
dua metode dalam proses pengembangan teori : pendekatan deduktif dan penedekatan
induktif. Penelitian deduktif merupakan operasionalisasi dari proses pengembangan teori
yang menitikberatkan pada aspek pengujian konstruksi teori. Penelitian induktif, sebaliknya,
merupakan operasionliasasi dari proses pengembangan teori yang menitikberatkan pada
aspek penyusunan konstruksi teori. Pendekatan deduktif dan penelitian induktif masing
masing merupakan karakteristik utama dari paradigma penelitian kuantitatif dan paradigma
penelitian kualittatif. Gamabar 4.8 dan gambar 4.9 masing masing menyajikan proses
pengembangan teori dengan kedua pendekatan tersebut, sekaligus menjelaskan perlakuan
tehadap posisi dan peran teori oleh masing-masing paradigm penelitian
HIPOTESIS

PROPOSISI DAN HIPOTESIS

Proposisi merupakan salah satu dari elemen teori, disamping construct,


konsep dan definisi, yang member gambaran fenomena-fenomena secara sistematis melalui
penentuan hubungan natara variable. Proposisi merupakan ungkapan ataui pernyataan yang
dapat dipercaya , disangkal atau diuji kebenarannya , mengenai konsep atau construct , yang
menjelaskan dan memprediksi fenomena-fenomena . proposisi yang dirumuskan dengan
maksud untuk diuji secara empiris disebut dengan hipotesis

Fungsi Hipotesis

Hipotesis menyatakan hubungan yang diduga secara logis antar dua variable atau
lebih dalam rumusan proposisi yang dapat diuji secara empiris. Hipotesis dalam penelitian
kuantitatif, seperti yang telah dijelaskan dalm bab 1, dikemabngkan dari telaah teoritis
sebagai jawaban sementara dari masalah atau pertanyaan penelitian yang memerlukan
pengujian secara empiris
Hipotesis, dengan demikian, mempunyai beberapa fungsi yang penting dalam
penelitian kuantitatif , antara lain sebagai berikut:

1. Hipotesis menjelaskan masalah penelitian dan pemcahannnya secara rasional


2. Hipotesis menyatakan variable-variabel penelitian secara empiris
3. Hiptesis digunakan sebagai pedoman untuk memilih metode metode pengujian data
4. Hipotesis menjadi dasar untuk membuat kesimpulan penelitian

Pengemabangan Hipotesis

Hipotesis dikembnagkan dari telaah teoritis . sumber literature, seperti yang


dikemukakan sebelumnya dapat berasal dari literature yang dipublikasikan (jurnal ,buku
teks) atai literature yang tidak dipublikasikan (skripsi,tesis,disertasi). Sulit untuk menentukan
jumlah literature yang harus ditelaah untuk mengembangkan hipotesis. Cresswell
mengusulkan model sebagai parameter dalam masalh literature, yang terdiri atas lima
komponen yaitu:

1. Bagian pendahuluan literature berisi pengenalan mengenai pokok bahasan dalam


telaah literature dan sistematika pemabahasan
2. Telaah literature mengenai variable-variabel indenpenden , jika teredapat lebih dari
satu macam variable indenpenden (teramsuk diantarnya variabelmoderating atau
variable intervening), perlu dipertimbngkan untuk menitikberatkan telaah pada suatu
variable yang paling penting . telaah literature harus diabatasi atas pada topic-topic
yang relevan dengan variable indenpenden.
3. Telaah literature yang berkaitan dengan variable-variabel dependen. Jika ada lebih
dari satu macam variable dependen yang perlu dipertimbangkan
untukmenitikberatkan telaah pada satu variable dependen yang paling penting
4. Telaah literature yang berkaitan dengan hubungan antar variable indenp[enden dan
variable dependen (variable moderating dan variable intervening) . bagian ini
merupakan inti dari proses telaah literature untuk mengembangkan hipotesis
berdasarkan penalaran deduktif dari teori yang dihasilkan oleh penelitian sebelumnya.
Literature yang ditelaah harus dapat memberikan perspektif teori pada jawaban
masalh atau pertanyaan penelitian dinyatakan dalam rumusan hipotesis
5. Bagian akhir dari telaah literature berupa rangkuman yang memberikan penjelasan
mengenai pokok bahasan yang penting dalam telaah literatur

Telaah literatur, terutama yang bersumber pada penelitian - penelitian sebelumnya,


disamping diarahkan untuk memperoleh perspektif ilmiah yang menjadi pengembangan
hipotesis, juga dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan duplikasi dalam penggunaan
metode pengumpulan dan analisis data. Peneliti harus mengemukakan argumentasi
penggunaan metode tersebut dan kaitannya dengan metode yang digunakan dalam peneliti
sebelumnya. Peneliti dapat melakukan replikasi terhadap peneltian sebelumnya degan
pertimbangan untuk konfirmasi terhadap teori teori tertentu. penelitian juga dapat
melakukan ekstensi dengan tujuan untuk memperbaiki keterbatasan keterbatasan penelitian
terdahulu. Telah literatur juga bermanfaat untuk mengidentifikasi kemungkinan masalah
masalah penelitian terdahulu yang belum terjawab.

Telaah literatur merupakan sumber utama penyusunan kerangka teoritis suatu


penelitian. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan kerangka teoritis
adalah: (1) kerangka teoritis membahas identifikasi variabel-variabel yang relevan dengan
masalah penelitian dan diberi nama yang jelas dalam pembahasan kerangka toritis, (2)
kerangka teoritis menyatakan sifat atau arah hubungan atau perbedaan antara dua atau lebih
variabel yang diteliti, (3) kerangka teoritis menjelaskan hubungan atau perbedaan antara
hubungan atau perbedaan antar variabel penelitian yang divisualisasikam dalam bentuk
diagram, (4) kerangka teoritis menjelaskan perspektif yang menjadi landasan pengembangan
hipotesis berdasarkan pada temuan-temuan penelitian sebelumnya.

Contoh 4.7. berikut contoh pengembangan hipotesis dari telaah literatur yang dicuplik
dari artikel hasil penelitian yang telah dipublikasikan.

Menurut nodler dan thusman (1988), struktur organisasional merupakan alat


pengendalian organisasional yang menunjukkan tingkat pendeglegasian wewenang
pembuatan keputusan manajeman puncak kepada senior manajer dan manaje tingkat
menengah, yang secara ekstrem dikelompokkan meenjadi; sentralisasi dan desentralisasi.
Sebagian besar wewenang pembuatan keputusan kepad struktur organisasional yang
tersentralisasir dilakukan secara terpusat oleh manjemen puncak. Struktur desntralisasi, di
pihak lain, menunjukkan adanya pendegelasian wewenang pembuatan keputusan dari
manajem puncak kepada manejer pada tingkat lebih reendah. Dengan demikian, wewenang
pembuatan keputusan yang dilakukan oleh bawahan relatif lebih besar pada struktur
desentralisasi daripada struktur sentralisasi (gul et al. 1995). Struktur desentralisasi
memberikan tanggung jawab yang lebih besar pada para manajer dlam kegiatan perencanaan
dan metodologi penelitian bisnis: untuk akuntansi dan manjemen.

Pengendalian (waterhouse dan tiessen 1978)

Proses penyusunan anggaran sebagai bagian besar dari kegiatan perencanaan dan
pengendalian suatu organisasi, seperti yang dikemukakan oleh chenhall dan morris (1986).
Akan menghadapi masalah yang lebih kompleks terutama dalam kondisi lingkungan yang
tidak menentu (uncertainty). Fenomena yang akan datang relatif lebih sulit diprediksi jika
kondisi lingkungan yang sering berubah. Galbraith (1973) menyatakan pentingnya struktur
desentralisasi untuk merespon ketidakpastian lingkungan, karena struktur desentralisasi lebih
memungkinkan bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah untuk memperoleh informasi
yang lebih luas dibandingkan pada struktur sentralisasi. Organisasi dengan struktur
desentralisasi lebih sesuai denga kondisi lingkungan yang tidak menentu daripad struktur
sentralisasi (sekaran dan snodgrass (1986).

Waterhouse dan tiessen (1978) menyarankan penggunaan system anggaran partisifatif


untuk menghadapi kondisi lingkungan yang tidak menentu. Menurut tusman dan nadler
(1978), partisipasi lebih memungkinkan terjadinya pertukaran informasi antara atasan dengan
bawahan sehingga dapat mengurangi ketidakpastian. Para manjer organisasi dengan struktur
desentralisasi merasa mempunyai pengaruh yang lebih besar, sama halnya dengan pengaruh
yang dirasakan dalam penyusunan anggaran partisifatif. Dan merasa lebih nyaman dalam
kegiatan yang berkaitan dengan anggaran, dibandingkan dengan yang dirasakan oleh para
manjer organissi dengan struktur sentralisasi. Oleh karena itu, dalam kondisi lingkungan
yang tidak menentu, anggara partisipatif lebih efektif dibandingkan dengan anggaran
nonpartisifatif (burns dan waterhouse 1975).

Struktur desentralisasi lebih sesuai untuk kondisi lingkungan yang tidak mnentu,
sementara dalam kondisi tersebut, diperlukan prosses penyusunan anggaran yang partisipatif.
Partisipasi dalam pnyusunan anggaran, dengan demikian, akan lebih efektif pada struktur
desentralisasi daripada struktur sentralisasi. Partisifasi para manajer pada tingkat yang lebih
rendah pada dasarnya identik dengan esensi struktur desentralisasi (marchant 1981).

Penelitian gul et al. (1995) yang melibatkan 37 manajer departemen personalia.


Operasi dan pemasaran dari berbagai perusahaan manufaktur di hongkong, menemukan
bahwa partisipasi yang tinggi dalam penyususan anggaran mempunyai pengaruh positif
terhadap kinerja manajerial pada struktur desentralisasi. Temuan tersebut sesuai dengan saran
yang di kemukakan oleh emmanuel et al (1990). Bahwa anggara partisiptif lebih efektif pada
struktur desentralisasi daripada stuktur sentralisasi.

Berdasarkan tumuan-temuan penelitian tersebut, penelitian ini menguji pengaruh


struktur organisasional terhadap hubungan antara anggaran partisipatif dengan kinerja
manejerial, yang dinyatakam dengan rumusan hipotesis sebagai berikut.

Partisipasi yang tinggi dalam penyusunan anggaran mempunyai pengaruh positif


terhadap kinerja manajerial pada struktur desentralisasi, dan mempunyai pengarh negatif
pada struktur sentralisasi.

RUMUSAN HIPOTESIS

Kriteria

Rumusan hipotesis yang baik setidaknya mempertimbangkan kriteria-kriteria sebagai


berikut:

1. Berupa pernytaan yang mengarah pada tujuan penelitian.


Tujuan penelitian adalah memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan penelitian.
Hipotesis, dalam penelitian kuantitatif, merupakan jawaban rasional yang dideduksi
dari teori-teori yang ada.
2. Berupa pertanyaan yang dirumuskan dengan maksud untuk dapat diuji secara empiris.
Tujuan penelitian (terutama penelitian dasar) adalah menguji teori atau hipotesis.
Agar dapat diuji, hipotesis harus menyatakan secara jelas variabel-variabel yang
diteliti dan dugaan mengenai hubungan antar variabel.
3. Berupa pernyataan yang dikembangkan berdasarkan teori-teori yang lebih kuat
dibandingkan dengan hipotesis rivalnya. Beberapa teori kemungkinan saling
bertentangan antara yang satu dengan yang lain atau teori yang saatu lebih kuat
dengan teori yang lain. Hipotesis yang dikembangkan oleh peneliti harus mempunyai
dukungan teoritis yang lebih kuat daripada alternatif hipotesis hipotesis lainnya yang
kemungkinanan dapat dikembangkan berdasarkan teori yang lain.

Format

Rumusan hipotesis dapat dinyatakan dalam berbagai bentuk rumusan, diantaranya dalam
bentuk (1) PERNYATAAN jika maka (if then statment) atau proporsi, (2) hipotesis
nol (null hypotheses), dan (3) hipotesis alternatif (alternative hypotheses).

Format perrnyataan jika maka atau proporsi.

Hipotesis penelitian dapat dirumuskan dalam bentuk pernyataan jika maka atau
berupa proporsi yang menyatakan hubungan antar variabel dan perbedaan antara dua
kelompok atau lebih dalam kaitannya dengan variabel-variabel tertentu yng dapat diuji.

Contoh 4.8.

Jika karyawan mengalami tekanan dalam bekerja yang lebih rendah maka mereka akan
memperoleh kepuasan kerja yang lebih tinggi.

Karyawan yang mengalami tekanan dalam bekerja lebih rendah, akan memperoleh
kepuasan kerja yang lebih tinggi.

Hipotesis yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih atau perbedaan dua
kelompok dengan menggunakan istilah misal: positif, negatif, lebih atau kurang dari,
disebut dengan hipotesis directional yaitu hipotesis yang menytakan sifat atau arah
hubungan antar variabel. Hipotesis non-directional, sebaliknya merupakan hipotesis yang
tidak menyatakan arah hubungan antar variabel penelitian. Rumusan, hipotesis non-
directional umumnya disebabkan antara lain oleh: (1) belum ada (ditemukan) teori teori
yang menjadi landasan untuk menentukan arah hubungan antar variabel yang diteliti, (2)
menurut hasil penelitian-penelitian sebelumnya, ada konflik atau ketidakjelasan
(equivocal) hubungan antara variabel yang diteliti.

Personil end-user computer (EUC) yang memiliki sikap pesimis yang relatif rendah
terhadap komputer akan memperlihatkan tingkat keahlian komputerbyang lebih tinggi
daripada personil UEC yang memilikinsikap pesimis yang relatif tinggi (hipotesis
directional)

Ada hubungan langsung antara kegunaan yang dirasakan dari karakteristik partisipasi
penganggaranandengan ketiga variabel yaitu, gaya kepemimpinan, ketidakpastian
lingkungan yang dirasakan, dan informasi job-relevant (hipotesis nondirectional).
Format hipotesis nol

Hipotesis nol (null hypotheses) merupakan hipotesis yang menyatakan suatu hubungan
antar variabel yang definitif atau eksak sama dengan nol, atau secara umum dinyatakan
bahwa tidak ada hubungan atau perbedaan (signifikan) antar variabel yang diteliti.

Tidak ada perbedan secara signifikan antara persepsi akuntan dan mahasiswa terhadap
etika bisnis*

Pernyataan hipotesis nol dalam contoh tersebut dapat disajikam secara statistik sebagai
berikut:

............................................. atau .....................................

............

............

............

Format hipotesis arternatif

Hipotesis arternatif (alternative hypotheses) merupakan lawan pernyataan dari format


hipotesis non yang menunjukkan adanya hubungan atau perbedan (signifikan) antar
variabel yang diteliti.

Ada perbedaan motivasi kerja yang disignifikan antara pekerja pada


perusahaan asing mempunyai motifasi kerja yang lebih tinggu daripada
pekerja pada perusahaan nasional atau pekerja pada perusahaan nasional
mempunyai motivasi kerja yang lebih rendah daripada pekerja pada
perusahaan asing.

Pernyataan hipotesis alternatif dalam contoh (1) tersebut dapat disajikan


secara statistik sebagai berikut:

RINGKASAN

Elemen teori terdiri atas konsep, construct, definisi dan proposisi yang memberi
gambaran secara sistematis mengenai fenomena-fenomena melalui penentuan
hubungan antar variabel.
Konsep dan construct keduanya merupakan elemen teori yang mempunyai pengertian
yang mirip. Keduanya dapat dibedakan lebih dari sekedar abstraksi dari fenomena-
fenomena, yaitu dikaitkan dengan construct-construct yang lain dalam kontruksi teori
dan diukur sebagai variabel penelitian.
Variabel penelitian merupakan proksi dari construct yang diukur untuk memberi
gambaran yang lebih nyata mengenai fenomena-fenomena yang diteliti.
Variabel dapat diklasifikasikan berdasarkan : (1) fungsi variabel: variabel independen,
variabel dependen, variabel moderating, dan variabel intervening, (2) skala nilai
variabel: variabel kontinu dan variabel kategoris, (3) perlakuan terhadap variabel:
variabel aktif dan variabel atribut.
Definisi operasional menjelaskan operasionalisasi pengukuran construct menjadi
variabel penelitian. Penjelasan tersebut diperlukan agar peneliti yang lain dapat
melakukan replikasi pengukuran suatu construct dengan cara yang sama. Definisi
operasional juga dimaksudkan untuk pengembangan pengukuran construct yang lebih
baik pada penelitian-penelitian selanjutnya.
Proposisi merupakan pernyataan-pernyataan mengenai hubungan antar variabel
penelitian yang dapat dipercaya, disangkal atau diuji kebenarannya. Hipotesis
merupakan proposisi yang dirumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris.
Hipotesis dalam penelitian kuantitatif merupakan jawaban masalah atau pertanyaan
penelitian yang dikembangkan berdasarkan teori-teori yang perlu diuji melalui proses
pemilihan, pengumpulan dan analisis data. Hipotesis dapat dirumuskan dalam
bentuk: (1) proposisi yang dapat diuji, (2) pernyataan jika-maka , (3) hipo-tesis nol,
dan (4) hipotesis alternatif.
Kriteria untuk merumuskan hipotesis yang baik adalah: (1) berupa pernyataan yang
mengarah pada tercapainya tujuan penelitian, (2) berupa pernyataan yang dirumuskan
dengan maksud untuk dapat diuji secara empiris, (3) berupa pernyataan yang
dikembangkan berdasarkan teori-teori yang lebih kuat dibandingkan dengan hipotesis
rivalnya
Pengembangan hipotesis melalui telaah literatur diarahkan untuk menghasilkan
perspektif teoretis untuk jawaban masalah atau pertanyaan penelitian. Telaah lite-
ratur yang merupakan sumber utama penyusunan kerangka teoretis dalam penelitian,
disamping untuk memberikan perpektif teoritis, juga dimaksudkan untuk menghindari
kemungkinan duplikasi dalam penggunaan metode pengujian data dan
mengidentifikasi masalah-masalah penelitian sebelumnya yang belum terjawab.

PERTANYAAN DISKUSI

1. Sebut dan jelaskan secara singkat hal-hal pokok yang terdapatnya dalam definisi teori
2. Apa yang dimaksud dengan konsep dan construct ? Jelaskan perbedaan dan berikut
contohnya
3. Jelaskan kaitan antara variabel dengan construct dan uraikan bagaimana hubungan
keduanya dengan fungsi fungsi dalam menjelaskan (memprediksi) fenomena-fenomena
4. Sebutkan tipe-tipe variabel penelitian yang diklasifikasikan berdasarkan:
a) Fungsi variabel
b) Skala nilai variabel
c) Perlakuan terhadap variabel
5. Jelaskan dan berikan contoh:
a) Peran variabel moderating terhadap hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen
b) Peran variabel intervening terhadap hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen
6. Uraikan secara singkat apa yang dimaksud dengan definisi operasional dan manfaatnya
dalam pengukuran construct
7. Berikan penjelasan mengenai posisi dan peran teori dalam penelitian kuantitatif dan
penelitian kualitaitf
8. Apakah perbedaan antara proposisi dengan hipotesis?
9. Apakah tujuan telaah literatur ? dan uraikan model yang menjadi parameter untuk
menelaah literatur
10. Faktor-faktor apa saja yang menjadi pertimbangan peneliti dalam penyusunan kerangka
teoretis?
11. Sebut dan jelaskan kriteria rumusan hipotesis yang baik
12. Berikan contoh-contoh hipotesis yang dirumuskan dengan meggunakan format:
a) Proposisi
b) Pernyataan jika-maka
c) Hipotesis nol
d) Hipotesis alternatif

CATATAN AKHIR

1. Kerlinger, F.N., 1986, Foundation of Behavioral Research, 3rd Edition, Holt, Rinehart
and Winston, New York, USA, hal. 9.
2. Cooper, D.R., and C.W., Emory, 1996, Business Research Methods, 5th Edition, Richard
D. Irwin, Inc., USA, hal. 33.
3. Kerlinger, op.cit., hal 26
4. Cooper, locicit.
5. Kerlinger, op.cit., hal. 27
6. Ibid.
7. Dewar,R., and J., Werbel, 1979, Universaltistic and Contigency Prediction of Employee
Satisfaction and Conflict, Administrative Science Quarterly, hal. 71-76
8. Budiart, A., dan Z., Baridwan, 1999, Pengaruh Pengumuman Right Issue terhadap
Tingkat Keuntungan dan Likuiditas Saham di Bursa Efek Jakarta Periode 1995-1996,
Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 2, No. 1, Januari, hal. 91-116.
9. Nazaruddin, I., 1998, Pengaruh Desentralisasi dan Karateristik Informasi Sistem
Akuntansi Manajemen terhadap Kinerja Manajerial, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia,
Vol. 1, No. 2, Juli, hal. 141-162
10. Gul, F.A., J.S.L., Tsui,S.C.C., Fong, and H.Y.L., Kwok, Decentralisation as a Moderating
Factor in Budgetary Participation-Performance Relationship: Some Hongkong Evidence,
Accounting and Business Research Vo. 25, No. 98, hal. 107-113.
11. Bownell,P., and M., McInnes, 1986, Budgetary Participation, Motivation, and Managerial
Performance, The Accounting Review, Vol. LXI, No. 4, October, hal. 587-600.
12. Sekaram, U., 1992, Research Methods For Business: A Skill Building Aproach, 2nd
Edition, John Wiley & Sons, Inc., New York, USA, hal. 72.
13. Kerlinger, op.cit., hal. 35.
14. Supomo, B. Dan N. Indriantoro, 1998, Pengaruh Struktur dan Kultur Organisasional
terhadap Keefektifan Anggaran Partisipatif dalam Peningkatan Kinerja Manajerial: Studi
Empiris pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia, Kelola, Vol. VII, No. 18, hal. 69.
15. Creswell, J.W., 1994, Research Design: Qualitative & Quantitative Approach, Sage
Publications, Inc., Thousand Oaks, California, USA, hal. 81-97.
16. Ibid., hal. 88 dan 96.
17. Cooper, op.cit., hal.39.
18. Creswell, J.W., op.cit., hal. 27-32.
19. Dane, F.C., 1990, Research Methods, Brooks/Cole Publishing Company, California,
USA, hal. 62-65.
20. Supomo, B. Dan N. Indriantoro, op.cit., hal. 65-66.
21. Sekaran, U., op.cit., hal 80-84.
22. Rifa, D., dan Gudono, 1999, Pengaruh Faktor Demografi dan Personality terhadap
Keahlian dalam End-User Computing, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 2, No. 1,
Januari, hal. 25.
23. Muslimah, S., 1998, Dampak Gaya Kepimpinan , Ketidakpastian Lingkungan, dan
Informasi Job-Relevant terhadap Perceived Usefullness Sistem Anggaran, Jurnal Riset
Akuntansi Indonesia, Vol. 1, No. 2, Juli, hal. 226.
24. Ludigdo, U., dan M.Machfoedz, 1999, Persepsi Akuntan dan Mahasiswa terhadap Etika
Bisnis, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 2, No. 1, Januari, hal. 6.
BAB 5

DESAIN PENELITIAN
TOPIK PEMBAHASAN

TUJUAN STUDI

Studi Eksplorasi

Studi Deskriptif

Pengujian Hipotesis TUJUAN PEMBAHASAN

TIPE HUBUNGAN ANTAR Menjelaskan tujuan studi atau


VARIABEL
pengujian dalam penelitian
LINGKUNGAN (SETTING)
PENELITIAN
Membahas tipe-tipe hubungan antar
variabel
Studi Lapangan
Menjelaskan tipe studi berdasarkan
Eksperimen Lapangan
setting penelitian
Eksperimen Laboratorium
Membahas unit (tingkat agregasi) data
UNIT ANALISIS yang dianalisis dalam penelitian
HORISON WAKTU Membahas pola pengumpulan dan
Studi Satu Tahap horison waktu data penelitian

Studi Beberapa Tahap Menjelaskan tipe-tipe skala pengukuran


dan metode pengukuran sikap
PENGUKURAN CONSTRUCT

Skala Pengukuran

Metode Pengukuran Sikap


MASALAH/PETANYAAN
PENELITAN

TELAAH TEORITIS ------------------------------HIPOTESIS

PENGUJIAN FAKTA

Seleksi
-------------------------------- HASIL
Koleksi

Analisa
KESIMPULAN

Tujuan Studi .... . Tipe Hubungan Variabel

Setting Studi ..... Unit Analisis

Horison Waktu ..... Pengukuran Construct

Desain Penelitian

Metode pemilihan, pengumpulan dan analisis data dipengaruhi oleh tujuan dan masalah atau
pertanyaan penelitian. Sebelum membahas tahap pengujian data bab ini akan dibahas terlebih
dahulu aspek-aspek yang terkait dengan tujuan dan karakteristik masalah penelitian, yaitu (1)
Tujuan studi, (2) Tipe hubungan antar variabel. (3) Lingkungan (setting) studi, (4) Unit
analisis, (5) Horison waktu, dan (6) Pengukuran construct. Pemilihan, pengumpulan dan
analisis data serta keenam aspek tersebut merupakan elemen-elemen desain penelitian.

TUJUAN STUDI

Tujuan penelitian, seperti yang telah diuraikan dalam bab 1, pada dasarnya adalah
pengembangan teori dan pemecahan masalah. Kedua tujuan penelitian tersebut bersifat
umum. Penelitian, disamping itu, secara lebih spesifik menyatakan tujuan studi atau
pengujian. Hasil penelitian secara lebih spesifik dapat dimaksudkan sebagai : (1) studi
eksplorasi , (2) studi deskriptif, atau (3) pengujian hipotesis.

Studi Eksplorasi

Studi eksplorasi (exploration study) atau studi penjajakan dilakukan jika peneliti
memiliki keterbatasan informasi mengenai masalah penelitian tertentu, karena penelitian-
penelitian sebelumnya yang meneliti masalah tersebut relatif belum banyak dilakukan oleh
peneliti yang lain. Peneliti tidak memperoleh informasi mengenai pemecahan masalah
tersebut. Demikian juga mengenai informasi latar belakang masalah yang diperlukan oleh
peneliti untuk memahami dan merumuskan masalah penelitian, penyusunan kerangka teoritis,
pengembangan hipotesis dan pengujiannya.

Studi eksplorasi, pada dasarnya adalah untuk memahami karakteristik fenomena atau
masalah yang diteliti, karena belum banyaknya literatur hasil penelitian yang membahas
masalah tersebut atau masalah yang sejenis. Studi ini diperlukan untuk menjajaki sifat dan
pola fenomena yang menarik perhatian peneliti dan merupakan usaha untuk memperoleh
pengetahuan yang bermanfaat untuk penyusunan konstruksi teori. Peneliti melalui studi
eksplorasi dapat mengembangkan konsep atau construct yang jelas mendefinisikan variabel-
variabel penelitian yang penting. Studi ini setidaknya mempunyai tiga tujuan yang saling
terkait: (1) melakukan diagnosa terhadap fenomena tertentu, (2) menyaring alternatif-
alternatif, (3) menemukan ide-ide baru.

Studi penjajakan dalam penelitian bisnis umumnya dilakukan untuk mengklarifikasi


masalah-masalah bisnis yang kurang jelas atau ambiguitas. Sebelum dilakukan penelitian
untuk menemukan solusi masalah, terlebih dahulu dilakukan studi eksplorasi untuk
memperoleh informasi mengenai esensi masalah yang terjadi. Hasil dari studi eksplorasi
memberi dukungan informasi berupa klarifikasi masalah untuk melakukan penelitian lebih
lanjut. Studi eksplorasi dapat untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Studi eksplorasi dapat
dikelompokkam ke dalam empat kategori: (1) survei pengalaman, (2) analisis data sekunder,
(3) metode studi kasus, (4) uji coba (pilot study)

untuk analisis kualitatif. Masing-masing kategori menawarkan berbagai teknik pengumpulan


data.

Data yang dikumpulkan dalam studi eksplorasi dapat menggunakann berbagai teknik, antara
lain observasi dan wawancara. Tipe data yang dikumpulkan dalam studi ini sebagian besar
berupa data kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data yang dikumpulkan dalama studi ini,
peneliti dapat mengembangkan teori atau hipotesis yang perlu diuji melalui penelitian-
penelitian berikutnya. Berikut ini adalah contoh fenomenayang memerlukan studi eksplorasi:

Contoh 5.1

Manajer sebuah perusahaan multinasional di USA berkeinginan untuk mengetahui nilai-nilai


etika kerja dari para pekerja di salah satu anak perusahaan tersebut yang berada Pennatur
(sebuah kota kecil di India Selatan). Sangat sedikit informasi mengenai Pennatur yang
diperoleh oleh manajer. Informasi mengenai nilai-nilai etika kerja dimiliki para pekerja
tersebut penting bagi manajer untuk mengetahui apakah ada perbedaan nilai-nilai etika kerja
dibandingkan dengan para pekerja yang bekerja pada perusahaan-perusahaan mereka di
Amerika yang,tentu saja, memiliki perbedaan kultur. Manajer, oleh karena itu, melakukan
studi eksplorasi untuk memperoleh informasi mengenai: nilai-nilai kultur, agama, politik,
ekonomi, sosial, dan aspek lain yang membentuk nilai-nilai etika para pekerja di Pennatur.

Studi Deskriptif

Studi deskriptif (descriptive study), seperti yang telah dikemukakan sebelumnya,


merupakan penelitian terhadap fenomena atau populasi tertentu yang diperoleh peneliti dari
subyek berupa: individu, organisasional, industri atau perspektif yang lain. Tujuan studi ini
untuk menjelaskan aspek-aspek yang relevan dengan fenomena yang diamati. Studi ini
membantu peneliti untuk: menjelaskan karakteristik subyek yang diteliti, mengkaji berbagai
aspek dalam fenomena tertentu, dan menawarkan ide masalah untuk pengujian atau penelitian
selanjutnya. Jika dalam studi eksplorasi dimaksudkan untuk memahami karakteristik
fenomena atau masalah yang diteliti, studi ini dimaksudkan untuk menjelaskan karaketeristik
fenomena atau masalah yang ada.

Studi deskriptif menjelaskan karakteristik suatu fenomena yang dapat digunakan


sebagai dasar pembuatan keputusan untuk memecahkan masalah-masalah bisnis. Studi ini,
meskipun pada dasarnya tidak dimaksudkan untuk memecahkan masalah-masalah bisnis,
disebut juga dengan analisis diagnosis yang datanya dapat berupa data kualitatif dan data
kuantitatif. Pengumpulan data melalui studi ini, meskipun demikian, kadang-kadang
dimaksukdan juga untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan penelitian.

Contoh 5.2

Wall Street Journal melakukan survei terhadap para pembacanya dengan


tujuan untuk menjelaskan karakteristik mereka. Hasil studi tersebut
menjelaskan bahwa rata-rata penghasilan pembaca secara individual adalah $
108,000, rata-rata penghasilan rumah tangga sebesar $ 146,300, dan mereka
memiliki kekayaan bersih rata-rata senilai $ 1 juta. Umur rata-rata responden
49 tahun, dan hampir separoh dari jumlah responden adalah lulusan perguruan
tinggi. Hasil survei juga menunjukkan bahwa 31% dari pembaca yang menjadi
responden mempunyai jabatan manajer level puncak (CEO), 21% menduduki
jabatan manajer level menengah, dan 15% sebagai konsultan instansi
pemerintah.

Pengujian Hipotesis

Penelitian yang bertujuan untuk menguji hipotesis (hypotheses testing) umumnya


merupakan penelitian yang menjelaskan fenomena dalam bentuk hubungan antar variabel.
Tipe hubungan antara dua variabel atau lebih, seperti yang telah diuraikan dalam bab 2, dapat
berupa hubungan korelasional, komparatif (perbandingan) dan hubungan sebab akibat.
Hipotesis penelitian dikembangkan berdasarkan teori-teori yang selanjutnya diuji berdasarkan
data yang dikumpulkan. Pengujian hipotesis merupakan tujuan studi (termasuk studi
eksplorasi dan studi deskriptif) yang mempunyai pengaruh terhadap elemen desain penelitian
yang lain, terutama dalam pemilihan metode pengujian data.

Contoh penelitian-penelitian yang betujuan untuk menguji hipotesis telah banyak


diberikan dalam buku ini, terutama dalam bab 4 pada bagian yang membahas mengenai
hipotesis. Tipe penelitian ini banyak terdapat pada penelitian-penelitian akademis, terutama
yang dilakukan oleh mahasiswa pasca sarjana dalam rangka penyusunan tesis dan disertasi.

Survey
Pengalaman

Analisis Data
Studi sekunder
Explorasi
Studi Kasus
Studi
Tujuan Studi
Deskriptif Uji coba
Pengujian (pilot study)
Hipotesis
Gambar 5.1 Tujuan studi atau pengujian

TIPE HUBUNGAN ANTAR VARIABEL

Tipe hubungan antar variabel yang diteliti, seperti yang dikemukakan sebelum ini,
dapat berupa hubungan korelasional, yaitu asosiasi antara variabel satu dengan variabel
lainnya yang bukan merupakan hubungan sebab akibat. Perbedaan antara kedua tipe
hubungan tersebut dapat dilihat dari karakteristik hubungan antara variabel independen
dengan variabel dependen. Jika variabel dependen tersebut (sebut variabel Y)dijelaskan atau
dipengaruhi oleh variabel independen tertentu (Sebut variabel X ), maka dapat dinyatakan
bahwa variabel X menyebabkan variabel Y. Hubungan antara variabel X dengan variabel Y
tersebut merupakan hubungan sebab-akibat. Hubungan antar variabel dalam fenomena sosial
(termasuk fenomena bisnis), sering tidak hanya satu atau dua variabel independen saja yang
menyebabkan suatu masalah (variabel dependen). Jika terdapat banyak variabel independen
yang menjelaskan atau mempengaruhi variabilitas suatu variabel dependen maka tipe
hubungan antar variabel yang paling mungkin adalah berupa hubungan korelasional (asosiasi)
daripada hubungan sebab-akibat.
Contoh 5.3

Pertanyaan penelitian yang menguji hubungan sebab-akibat :

Apakah sikap seseorang mempengaruhi keahliannya dalam menggunakan


komputer?

Pertanyaan penelitian yang menguji hubungan korelasional

Apakah umur, jenis kelamin, pengalaman, sikap dan kepribadian seseorang


mempunyai asosiasi dengan keahlian dalam menggunakan komputer?

Gambar 5.2 tipe hubungan antara variabel

Korelasional

Tipe hubungan

Sebab-akibat

LINGKUNGAN (SETTING) STUDI

Penelitian terhadap suatu fenomena dapat dilakukan pada lingkungan yang natural
dan lingkungan yang artifisial (buatan). Fenomena yang ada pada lingkungan penelitian yang
natural merupakan kejadian-kejadian alamiah yang berjalan secara normal. Lingkungan
(setting) penelitian dapat sengaja dibuat oleh peneliti untuk keperluan penelitian eksperimen
yang menguji hubungan sebab-akibat. Peniliti melakukan manipulasi terhadap variabel
tertentu dan membuat lingkungan (setting) penelitian untuk meneliti akibat-akibat yang
ditimbulkannya.

Berdasarkan kondisi lingkungan penelitian dan tingkat keterlibatan peneliti ,


penelitian dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu (1) Studi lapangan, (2)
Eksperimen lapangan, (3) eksperimen laboratorium.

Studi Lapangan (field study)


Studi lapangan merupakan tipe penelitian yang menguji hubungan korelasioanal antar
variabel dengan kondisi lingkungan penelitian yang natural dan tingkat keterlibatan peneliti
yang minimal.

Contoh 5.4

Seorang dosen meneliti asosiasi antara nilai tes masuk dengan indeks prestasi
mahasiswa. Subjek penelitian adalah mahasiswa baru jurusan akuntansi sebuah perguruan
tinggi. Untuk keperluan tersebut, peneliti melakukan analisis korelasi terhadap nilai tes
masuk setiap mahasiswa dengan indeks prestasi mereka pada semester pertama.

Eksperimen Lapangan (field experiment)

Eksperimen lapangan merupakan tipe penelitian eksperimen yang dilakukan pada


lingkungan penelitian yang alamiah atau bukan buatan. Peneliti dalam penelitian ini
melakukan manipulasi terhadap variabel tertentu untuk mengetahui akibat yang
ditimbulkannya. Tingkat keterlibatan peneliti dalam studi ini lebih tinggi dibandingkan
dengan yang dilakukan peneliti dalam studi lapangan.

Contoh 5.5

Seorang dosen ingin meneliti hubungan sebab-akibat antara metode pengajaran


dengan prestasi akademik mahasiswa. Untuk keperluan tersebut, peneliti meminta kepada
dosen lain yang mengajar dua kelas paralel (gasal dan genap) untuk memberikan kuliah
dengan metode pengajaran yang berbeda. Metode pengajaran yang diterapkan pada kelas
gasal adalah memberikan kuliah dengan bantuan modul bahan kuliah dan pembahasan soal-
soal latihan setiap kali tatap muka. Modul bahan kuliah dan latihan soal oleh dosen yang
sama tidak diberikan pada perkuliahan disemester genap. Kedua kelas diuji dengan soal yang
sama masing-masing pada ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Berdasarkan
perbedaan metode pengajaran tersebut, peneliti menganalisis pengaruhnya terhadap nilai rata-
rata hasil ujian dari setiap kelas.

Eksperimen Laboratorium (Laboratory Experiment)

Eksperimen laboratorium merupakan tipe penelitian yang menguji hubungan sebab-


akibat pada lingkungan yang artifisial (buatan). Keterlibatan peneliti dalam eksperimen
laboratorium paling tinggi dibandingkan dengan studi lapangan dan eksperimen lapangan.
Peneliti terlibat dalam pembuatan setting yang artifisial dan melakukan manipulasi terhadap
variabel tertentu.

Contoh 5.6

Seorang dosen ingin meneliti hubungan sebab-akibat antara tingkat bunga dengan
tabungan melalui eksperimen yang menggunakan lingkungan artifisial. Peneliti
mengumpulkan 40 orang mahasiswa semester terakhir jurusan manajemen yang mempunyai
umur kurang lebih sama sebagai partisipan dalam eksperimen tersebut. Partisipan dibagi
menjadi 4 kelompok (masing-masing kelompok sepuluh orang). Setiap kelompok partisipan
diberi uang dalam jumlah yang sama. Masing-masing kelompok diberi kebebasan untuk
mengatur penggunaan uang tersebut untuk berbagai kepentingan, cara dan jumlah sesuai
dengan yang mereka inginkan. Peneliti dalam eksperimen ini melakukan manipulasi terhadap
variabel tingkat bunga. Bunga simpanan ditentukan dalam beberapa tingkat. ( 0,10,13, dan 15
persen). Masing-masing kelompok, dengan demikan , mempunyai peluang untuk dapat
menggandakan uang mereka atau sebaliknya kemungkinan mereka menderita kerugian dalam
eksperimen tersebut.

Gambar 5.3 Setting penelitian

Studi
lapangan
Setting
alamiah
eksperimen
Setting lapangan
penelitian
Setting Eksperimen
artifisial laboratorium

UNIT ANALISIS

Unit analisis, seperti yang dibahas didalam bab 3 merupakan tingkat agregasi data
yang dianalisis dalam penelitian. Unit analisis yang ditentukan berdasarkan pada rumusan
masalah atau pertanyaan penelitian, merupakan elemen yang penting dalam desain penelitian
karena memengaruhi proses pemilihan, pengumpulan dan analisis data.

Misal, penelitian mengenai perilaku pekerja dapat menggunakan unit analisis tingkat
individual jika yang diamat adalah perilaku pekerja secara individual. Unit data yang
dianalisis adalah data yang berasal dari setiap individual pekerja. Jika fokus yang diteliti
adalah perilaku pekerja dalam suatu kelompok, maka unit analisisnya adalah tingkat
kelompok yang dalam lingkungan organisasional dapat berupa kelompok kerja, Satuan tugas,
bagian, seksi, atau departemen. Unit data yang dianalis, meskipun demikian, merupakan data
yang berasal dari individual pekerja. Untuk memperoleh unit analisis tingkat kelompok
dilakukan penjumlahan atau agregasi terhadap data individual pekerja dalam satu kelompok.
Demikan pula jika fokus penelitian pada perilaku organisasional maka unit analisisnya adalah
tingkat organisasional. Unit data yang dianalisis merupakan penjumlahan dari seluruh data
inidvidual pekerja yang menjadi anggota organisasi.

Contoh lain dalam penelitian pasar modal yang berkaitan dengan harga saham. , dapat
difokuskan pada harga saham suatu perusahaan (unit analisis tingkat perusahaan), harga
saham dari perusahaan-perusahaan dalam satu industri (tingkat industri), atau harga saham
dari seluruh perusahaan yang terdaftar di suatu bursa efek (tingkat multi industri).
Penelitian-penelitian mengenai kultur dapat menggunakan unit analisis berbagai tingkat
antara lain tingkat negara (kebangsaan ) organisasional, departemen atau kelompok unit
kerja.

HORISON WAKTU

Data penelitian dapat dikumpulkan sekaligus pada periode tertentu (satu titik waktu)
atau dikumpulkan secara bertahap dalam beberapa periode waktu yang relatif lebih lama
(lebih dari dua titik waktu) tergantung pada karakteristik masalah penelitian yang akan
dijawab.

Gambar 5.4. Unit Analisis

Individual Kelompok Organisasional

Unit
Analisis

Perusahaan Industri Negara

Studi Satu Tahap (One Shot Study)

Penelitian yang datanya dikumpulkan sekaligus disebut dengan studi satu tahap (one-shot
study). Data yang dikumpulkan dapat berupa dari datasatu atau beberapa subjek penelitian
yang mencakup satu atau beberapa periode waktu (hari,minggu,bulan,atau tahun). Tipe studi
ini lebih menekankan pada frekuensi tahap pengumpulan data,yaitu satu tahap atau sekaligus.
Misal, penelitian mengumpulkan data penelitian untuk mengetahui preferensi konsumen
terhadap sejumlah merk produk. Pengumpulan data dilakukan sekaligus melalui metode
survei. Setelah itu peneliti tidak melakukan survei lagi terhadap responden yang sama.
Studi Cross Sectional Studi Time Series

Studi satu tahap sering dikacaukan dengan studi cross-sectional, yaitu studi untuk
mengetahui hubungan komparatif beberapa subyek penelitian. Studi cross-sectional umumnya
merupakan tipe studi satu tahap yang datanya berupa beberapa subyek pada waktu tertentu.
Misalnya, studi perbndingan mengenai profitabilitas lima perusahaan pada tahun tertentu.
Studi cross-sectional beberapa dengan studi Series yang lebih menekankan pada data
penelitian berupa data rentetan waktu. Misalnya, penelitian mengenai perkembangan
penjualan suatu perusahaan selama periode tahun 1990-1998. Studi komparatif yang lebih
kompleks dapat berupa kombinasi antara studi cross sectional dengn studi time series.

Studi Beberapa Tahap atau Studi Jangka Panjang (longitudinal Study)

Usaha peneliti untuk menjawab suatu masalah atau pertanyaan penelitian kemungkinan tidak
cukup dengan satu tahap pengumpulan data. Penelitian-penelitian untuk mengetahui pola
kecenderungan, hubungan kausal-komparatif dan hubungan sebab akibat umumnya
memerlukan lebih dari satu tahap pengumpulan data pada saat (titik waktu) yang
berbeda.Studiini umumnya merlukan waktu lebih lama dan usaha lebih banyak dibandingkan
dengan tipe studi satu tahap, oleh karena itu sering disebut dengan studi jangka panjang
(longtudinal study). Pengamatan yang dilakukan dalam studi jangka panjang relatif lebih
intensif dan lebih baik dibandingkan dengan observasi pada studi satu tahap, meskipun
memerlukan waktu dan biaya relatif lebih mahal. Misal, peneliti melakukan pengamatan
intensif terhadap realitas (praktik) akuntansi pada perusahaan tertentu dalam jangka waktu
relatif lama.

PENGUKURAN CONSTRUCT

Construct merupakan abstraksi dari fenomena atau realitas yang untuk keperluan penelitian
harus dioperasionalisasikan dalam bentuk variabel yang diukur dengan berbagai macam nilai.
Definisi operasional, seperti yang telah dibahas dalam bab 4, merupakan penjelasan mengenai
cara-cara tertentu yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur (mengoperasionalisasi)
construct menjadi variabel yang dapat diuji. Definisi operasional umumnya merupakan
pedoman atau ketentuan yang dapat digunakan oleh peneliti lain untuk mengukur suatu
construct dengan cara yang sama. Construct dapat diukur dengan angka atau atribut yang
menggunakan skala tertentu

Skala Pengukuran

Construct merupakan abstraksi dari fenomena yang dapat berupa: kejadian, proses, subyek
atau obyek tertentu. Sesuai dengan sifat dan jenis fenomena yang diabstraksikan oleh
construct, tipe skala pengukuran construct terdiri atas: (1) skala nominal, (2) skala ordinal, (3)
skala interval, (4) skala rasio.

Skala Nominal (Nominal Scale)

Skala nominal adalah skala pengukuran yang menyatakan kategori, kelompok atau klasifikasi
dari construct yang diukur dalam bentuk variabel. Misal, jenis kelamin merupakan variabel
yang terdiri atas dua kategori: pris dan wanita. Skala pengukuran jenis kelamin dapat
dinyatakan dengan angka: 1 (pria) dan 2 (wanita). Variabel jenis kelamin merupakan kategori
yang bersifat saling meniadakan (mutually exclusive), artinya bahwa seorang respoden hanya
memiliki satu kategori jenis kelamin: pria dan wanita. Skala nominal disamping menyatakan
katagori variabel yang saling meniadakan , juga menyatakan kategori yang bersifat
collectively exhaustive,yaitu tidak ada kategori yang lain. Kecuali yang dinyatakan dalam
skala nominal. Contoh variabel lain yang bersifat mutually exsclusive dan collectively
exhaustive adalah status perkawinan dan agama yang dianut oleh responden.

Skala nominal merupakan tipe skala pengukura yang paling sederhana. Angka atau atribut
yang digunakan dalam pengukuranhanya merupakan satu nama untuk menyebutkan kategori
atau kelompok variabel. Skala nominal, oleh karena itu, juga dinamakan dengan skala
kategoris. Nilai variabel dengan skala nominal hanya menjelaskan kategori, tetapi tidak
menjelaskan nilai perangkat, jarak atau perbandingan.

Contoh 5.7

Berikut ini adalah contoh instrumen penelitian yang menanyakan identitas responden
dengan sekala nominal:

1. Jenis kelamin : pria wanita


2. Status perkawinan : menikah tidak menikah
3. Agama : Islam katolik kristen
Budha Hindu

4. Departemen : Pemasaran/penjualan
Produksi/Operasi
Akuntansi
Keuangan

Personalia/umum

Lainnya

Skala ordinal (ordinal scale)

Skala ordinal adalah skala pengukuran yang tidak hanya menyatakan kategori, tetapi juga
menyatakan peringkat construct yang di ukur. Peringkat nilai menunjukkan suatu urutan
penilaian atau tingkat preferensi. Misal, peneliti ingin mengetahui prefeni calon mahasiswa
terhadap 5lima perguruan tinggi unggulan. Responden dimintak untuk menyusun urutan
pilihan terhadap masing-masing perguruan tinggi dengan menyatakan dalam bentuk angka 1
sampai dengan 5. Angka 1 menunjukkan tingkat pilihan responden yang pertama terhadap
perguruan tinggi tersebut,demikian seterusnya sampai angka 5 yang menunjukkan tingkat
pilihan yang terakhir.
Skala ordinal mempunyai kelebihan dibandingkan dengan skala nominal, karena menyatakan
kategori dan peringkat, misal: A lebih berat dari B atau C lebih baik dari D. Skala ordinal,
meskipun demikian tidak menunjukkan jarak atau intervalberapa silisih berat antara A dengn
B atau seberapa baik antara C dibandingkan dengan D.

Contoh 5.8

Berikut ini adalah contoh instrumen penelitian yang menggunakan skala pengukuran ordinal:

1. Sebutkan peringkat pilihan saudara terhadap metode depresiasi aktiva tetap terwujud berikut
ini dengan menyatakan angka 1,2,3, dan 4 yang menunjukkan urutan pilihan saudara.
......Metode garis lurus
......Metode saldo menurun (nilai buku)
......Metode jumlah angka tahun
......Metode unit produksi
2. Sebutkan peringkat pilihan saudara terhadapwilayah pemasaran di daerah istimewa
yogyakarta yang memungkinkan untuk perluasan usaha dengan menyatakan angka 1,2,3, dan
seterusnya.
......Metode Bandul gunungkidul
......Metode Gunungkidul
......Metode Kulonprogo
......Metode Slemen
......Metode Yogyakarta
Skala interval (Interval Scale)

Skala interval merupakan skala pengukuran yang menyatakan kategori. Peringkat dan jarak
construct yang diukur. Skala nominal, dengan kata lain, tidak hanya mengukur perbedaan
subyek atau objek secara kualitatif melalui kategorisasi dan menyatakan urutan preferensi.
Tetapi juga mengukur jarak antara pilihan yang satu dengan yang lain. Skala interval, dengan
demikian, merupakan skala pengukuran yang lebih baik dibandingkan dengan skala nominal
dan skala ordinal.
Skala interval dpat dinyatakan dengan angka 1 sampai dengan 5 atau 1 sampai dengan 7.
Skala pengukuran ini mengunakan konsep jarak atau interval yang sama (equality interval)
karena skala ini tidak menggunakan angka 0 (nol) ebagai titik awal perhitungan. Nilai skala
interval bukan angka absolut, misal jarak antara 1 dengan 2 sama dengan jarak antara 3 dan 4.
Ukuran suhu (temperatur) merupakan contoh klasik tipe skala ini, suhu ukuran 40derajat
celsius tidak dapat dikatakan sebagai suhu yang dua kali lebih panas dari 20 derajat celcius.
Penunjuk waktub (kalender atau jam) merupakan contoh skala interval.
Jumlah hari antara tanggal 1 sampai dengan tanggal 4 sama dengan jumlah hari pada tanggal
21 sampai dengan 24.

Contoh 5.9
Berikut ini adalah contoh instrumen penelitian yang mengukur construct sikap terhadap
pekerjaan (contoh 1) dan mengukur construct partisipasi dalam penyusunan anggaran (contoh
2) yang menggunakan skala interval:
1. Mohon bapak/ibu memberi tanggapan terhadap 3 (tiga) butir pernyataan berikut ini sesuai
dengan memilih (melingkari) salah satu diantarapilihan jawaban yang tersedia.
STS TS N S SS
1 2 3 4 5
1.Pekerjaan yang sang saya lakukan mendorong saya untuk 1 2 3 4 5
menjadi kreatif

2.Pekerjaan saya merupakan pekerjaan yang 1 2 3 4 5


membosankan

3.Secara keseluruhan saya merasa puas dengan 1 2 3 4 5


pekerjaan saya

Catatan :

1.STS = sangat tidak setuju. 2.TS = tidak setuju. 3. N = netral


2.S = setuju 5.SS = sangat setuju

2. Mohon Anda mwnjawab 6(enam) butir pertanyaan berikut ini dengan memilih
(melingkari) nomor diantara 1 sampai dengan 7. Skala nomor menunjukkan seberapa dekat
jawaban Anda dengan kedua alternative jawaban yang tersedia.

1. Kategori manakah diawah ini yang menjelaskkan dengan sebaik-baiknya tentang


kegiatan Anda ketika anggaran sedang disusun?

Saya ikut dalam penyusunan

1 2 3 4 5 6 7
Semua tak
satu
Anggaran anggaran
pun

2. Kategori manakah dibawah ini yang menjelasskan dengan paling baik alassan yang
diberikan oleh atasan anda ketika revisi anggaran dibuat? Alasannya

1 2 3 4 5 6 7
Sangat masuk akal sangat
sembarangan
Dan/atau logis dan/atau tidak
logis
3. Seberapa sering anda mengatakan permintaan, pendapat dan/atau usulan tentang
anggaran ke atasan anda tanpa diminta

1 2 3 4 5 6 7
Sangat
tidak
sering
pernah

4. Menurutt perasaan anda, sebrapa banyak pengaruh anda yang tercermin dalam
anggaran akhir (final)?

1 2 3 4 5 6 7
Sangat banyak tidak ada
jumlahnya

5. Bagaimanakah anda memandang kontribusi anda terhadap anggaran?

Kontribusi saya

1 2 3 4 5 6 7
Sangat
sangat
penting tidak
penting

6. Seberapa sering atasan anda meminta pendapatan dan/atau usulan ketika anggaran
sedang disusun?

1 2 3 4 5 6 7
Sangat
tidak
sering
pernah

Skala Rasio (Ratio Scale)

Skala rasio merupakan skala pengukuran yang menunjukkan kategori, peringkat, jarak dan
perbandingan construct yang diukur. Skala rasio menggunakan nilai absolut, sehingga
memperbaiki kelemahan skala interval yang menggunakan nilai relatif. Nilai uang atau
ukuran berat merupakan contoh pengukuran dengan skala rasio. Nilai uang sebesar satu juta
rupiah merupakan kelipatan sepuluh kali dari nilai uang seratus ribu rupiah. Jika berat barat
badan seseorang adalah 70 kilogram sama dengan sua kali lipat dari orang yang memiliki
berat badan 35 kilogram. Skala rasio banyak digunakan dalam penelitian-penelitian akuntansi
dan manajemen keuangan.
Contoh 5.10.

Berikut adalah contoh pertanyaan penelitian yang menggunakan skala rasio :

1. Berapa total penjualan bersih perusahaan Bapak/Ibu dalam setahun kurang


dari Rp. 500 juta
Antara Rp. 500 juta s.d. Rp. 1 milyar
Lebih dari Rp. 1 milyar s.d. Rp. 100 milyar
Lebih dari Rp. 100 milyar s.d. Rp. 500 milyar
Lebih dari Rp. 500 milyar
2. Berapa jumlah karyawan yang bekerja di departemen/bagian Bapak/Ibu :
Kurang dari 50 orang
Antara 50 orang s.d. 100 orang
Lebih dari 100 orang tetapi kurang dari 150 orang
Antara 150 orang s.d. 200 orang
Lebih dari 200 orang
3. Berapa jam rata rata dalam satu minggu yang Bapak/Ibu perlukan
mengerjakan tugas pokok dnegan menggunakan computer .
Jam.

Gambar 5.5. berikut ini menyanjikan tipe-tipe pengukuran (kategori, peringkat, jarak dan
perbandingan) dari construct berdasarkan skala : nominal, ordinal, interval dan rasio.

Gambar 5.5. Skala Pengukuran

Tipe Pengukuran
Skala Kategori Peringkat Jarak Perbandingan

Nominal Ya Tidak Tidak Tidak


Ordinal Ya Ya Tidak Tidak
Interval Ya Ya Ya Tidak
Rasio Ya Ya Ya Ya

Metode Pengukuran Sikap (Attitude Measurement Method)

Construct sikap sering digunakan dalam penelitian-penelitian bisnis. Komponen sikap dapat
dijelaskan melalui tiga 17 :

1) Afektif, merefleksikan perassaan atau emosi seseorang terhadap suatu obyek,


2) Kognitif, menunjukkan kesadaran seseorang terhadap atau pengetahuan mengenai
obyek tertentu,
3) Komponen-komponen perilaku, menggambarkan suatu keinginan-keinginan atau
kecenderungan seseorang untuk melakukan tindakan.
Berikut ini metode-metode yang sering digunakan dalam pengukuran construct sikap yaitu :
Skala Sederhana, Skala Kategori, Skala Likert, Perbedaan Semantis, Skala Numeris, dan
Skala Grafis.

Skala Sederhana (Simple Attitude Scale)

Metode pengukuran sikap yang paling sederhana adalah skala sederhana yang menggunakan
skala nominal, misal: setuju atau tidak. Tipe skala ini digunakan terutama jika kuisioner
penelitian berisi relative banyak butir pertanyaan, tingkat pendidikan rendah, atau alasan
yang lain.

Contoh 5.11.

Berikan tanggapan mengenai tugas tugas ditempat kerja anda dengan member tanda x atau
pada jawaban :

Ya ,jika menggambarkan pekerjaan anda


Tidak ,jika tidak menggambarkan pekerjaan anda
? ,jika anda tidak dapat memutuskan
1. Menarik
Ya
Tidak
?
2. Memuaskan
Ya
Tidak
?
3. Menantang
Ya
Tidak
?
4. Rutin
Ya
Tidak
?
5. Bermanfaat
Ya
Tidak
?

Skala Kategori (category Scale)


Skala kategori adalah metode pengukuran sikap yang berisi beberapa alternative kategori
pendapat yang memungkinkan bagi responden untuk memberikan alternative penilaian. Skala
kategori pada dasarnya merupakan perluasan dari skala sederhana. Skala ini memberikan
yang lebih banyak informasi dan mengukur lebih sensitive dimensi construst dibandingkan
dengan skala sederhana. Skala kategori yang dinamakan juga skala butir penilaian (itemized
rating scale) ini dapat dinyatakan dengan angka. Berikut ini adalah tipe-tipe skala kategori
yang umumnya digunakan untuk mengatur sikap responden yang berkaitan dnegan : kualitas
(contoh 1), urgensi (2), menarik (3), kepuasan (4), frekuensi (5)18:

Contoh 5.12.
1. Menurut penelitian Saudara prosedur akuntansi pengeluaran produk dari gudang
diperusahaan tempat saudara bekerja.
Sangat bagus
Bagus
Sedang
Jelek
Sangat jelek
2. Bagaiman anada memandang kontribusi anda terhadap anggaran. Kontribusi saya:
Sangat penting
Penting
Netral
Kurang penting
Tidak penting
3. Penggunaan teknologi computer membuat pekerjaan Saudara
Sangat menarik
Menarik
Netral
Kurang menarik
Tidak menarik
4. Bagaiman peayanan staf penjualan dari perusahaan pemasok yang selama ini menjadi
mitra kerja perusahaan Bapak/Ibu ?
Sangat memuakan
Memuaskan
Sedang
Kurang memuaskan
Tidak memuaskan
5. Seberapa sering anda aktif mencari pekerjaan baru diluar tempat kerja anda sekarang?
Sangat sering
Sering
Kadang kadang
Jarang
Tidak pernah

Skala Likert (Likert Scale)


skala likert merupakan metode yang mengukur sikap dnegan menanyakan setuju atau
ketidaksetujuan-nya terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu. Metode pengukuran yang
paling sering digunakan ini diekembangkan oleh Rensis Likert sehingga dikenal denga nama
Skala Likert. Nama lain dari skala ini adalah summated rotings 19 . Skala likert pada
umumnya menggunakan lima angka penilaian yaitu: (1)sangat setuju, (2)setuju, (3)tidak pasti
atau netral, (4)tidak setuju, (5)sangat tidak setuju. Urutan setuju atau tidak setuju dapat juga
dibalik mulai dari sangat tidak setuju sampai dnegan sangat setuju. Alternative angka
penilaian dalam skala ini dapat bervariasi dari 3 sampai dengan 9.

Contoh 5.13.
1. Ditempat saya bekerja keputusan-keputusan yang penting sering dibuat oleh
individual daripada kelompok.
1) Sangat tidak setuju (STS)
2) Tidak setuju (TS)
3) Tidak pasti (TP)
4) Setuju (S)
5) Sangat setuju (SS)
2. Atasan langsung saudara sangat mendukung penggunaan teknologi computer untuk
melaksanakan tugastugas pokok saudara
1) Sangat tidak setuju (STS)
2) Tidak setuju (TS)
3) Tidak pasti (TP)
4) Setuju (S)
5) Sangat setuju (SS)

Skala Perbedaan Semantis (Semantic Differential Scale)

Skala perbedaan Semantis merupakan metode pengukuran sikap dengan menggunakan skala
penilaian tujuh butir yang menyatakan secara verbal dua kutub (bipolar) penilaian yang
ekstrem. Dua kutub ekstrem yang dinyatakan dalam metode ini antara lain dapat berupa
penilaian mengenai baik:baik-buruk, kuat-lemah, modern-kuno. Responden diminta mengisi
ruang semantis yang tersedia untuk merefleksikan seberapa dekat sikap responden terhadap
subyek, obyek atau kejadian tertentu diantara dua kutub penilaian yang ekstrem. Metode
pengukuran ini umumnya digunakan untuk mengetahui sikap penilaian responden terhadap
merk dagang, produk, identifikasi perusahaan, pekerjaan, individu tertentu, dan dimensi
construct yang lain-lain.

1. Berilah penilaian saudara atas produk baru X dengan memberikan tanda pada ruang
yang tersedia. Jawaban saudara menunjukkan seberapa dekat penilaian saudara dari
kedua alternatif jawaban yang bersifat ekstrem.

Bagus Jelek

Suka Tidak Suka

Menguntungkan Tidak Menguntungkan

Positif Negatif
2. Berilah penilaian saudara sejauh mana kepuasan anda terhadap profesi peneliti yang
sekarang anda tekuni dengan memberikan tanda pada ruang yang tersedia. Jawaban
saudara menunjukkan seberapa dekat penilaian saudara dari kedua alternatif jawaban
yang bersifat ekstrem.

Profesi peneliti profesi peneliti tidak


Menyenangkan saya menyenangkan saya

Saya puas sebagai saya tidak puas


Peneliti sebagai peneliti

Saya cocok dengan saya tidak cocok


Pekerjaan peneliti dengan pekerjaan peneliti

Skala Numeris (Numerical Scale)

Skala Numeris merupakan metode yang terdiri atas 5 atau 7 alternatif nomor untuk mengukur
sikap responden terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu. Skala Numeris pada dasarnya
tidak berbeda dengan skala perbedaan semantis, karena juga menggunakan dua kutub
penilaian yang ekstrem diantara alternatif nomor.

Contoh: berilah penilaian saudara atas pertanyaan berikut ini dengan melingkari alternatif
nomor yang tersedia. Jawaban saudara menunjukkan seberapa dekat penilaian saudara dari
kedua alternatif jawaban yang bersifat ekstrem.

1. Seberapa besar wewenang didelegasikan kepada para manajer untuk masing-masing


kelompok keputusn berikut ini.
a. Pengembangan produk baru

1 2 3 4 5 6 7

Tidak ada pendelegasian Didelegasikan sepenuhnya

b. Pengalokasian anggaran

1 2 3 4 5 6 7

Tidak ada pendelegasian Didelegasikan sepenuhnya

c. Penentuan investasi dalam jumlah besar

1 2 3 4 5 6 7

Tidak ada pendelegasian Didelegasikan sepenuhnya


2. Seberapa sering pimpinan meminta pendapat atau usulan saudara ketika anggaran
sedang disusun?

1 2 3 4 5 6 7

Sangat sering Tidak pernah

Skala Grafis (Graphic Rating Scale)

Skala Grafis merupakan metode pengukuran sikap yang disajikan dalam bentuk grafis atau
gambar. Metode ini menyatakan penilaian responden terhadap subyek, obyek atau kejadian
tertentudengan titik atau angka tertentu yang terletak didalam atau grafik penilaian.

Contoh : 1. Berilah penilaian terhadap gaya kepemimpinan atasan saudara sekarang dengan
memberikan tanda pada ruang yang tersedia dalam gambar penilaian berikut ini.

10 sangat baik

5 cukup

1 sangat jelek

2.Bagaimana menurut penilaian saudara terhadap metode pemasaran yang diterapkan


oleh perusahaan saudara selama ini. Lingkarilah pada alternatif nomor pada gambar
berikut ini.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Sangat Efisien Sangat Tidak


Efisien
dan efektif dan Tidak Efektif
Contoh metode Pengukuran sikap

SKALA SEDERHANA

SKALA KATEGORI

SKALA LIKERT
METODE
PENGUKURAN SKALA PERBEDAAN SEMANTIS
SKALA

SKALA NUMERIS

SKALA GRAFIS

RINGKASAN

Desain penelitian meliputi: tujuan studi, tipe hubungan variabel, setting penelitian,
unit analisis, horison waktu, skala pengukuran, dan metode pengujian data yang
dirancang untuk menjawab masalah atau pertanyaan penelitian.
Tujuan studi dalam penelitian dapat berupa: (1) studi eksplorasi (penjajakan) yang
dimaksudkan untuk memahami permasalahan yang relatif belum banyak diteliti, (2)
studi deskriptif, yaitu untuk menjelaskan karakteristik masalah yang bermanfaat untuk
pemecahan masalah, dan (3) pengujian hipotesis mengenai hubungan antar variabel
berdasarkan fakta empiris.
Tipe hubungan antar variabe dapat berupa: (1) hubungan korelasional, yaitu asosiasi
antara beberapa variabel independen dengan variabel dependennya, (2) hubungan
sebab-akibat, yang menjelaskan pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependennya.
Lingkungan (setting) penelitian dapat berupa lingkungan alamiah yang bukan buatan
peneliti atau lingkungan artifisial yang sengaja dibuat oleh peneliti. Studi lapangan
merupakan tipe penelitian yang menggunakan setting alamiah dengan keterlibatan
peneliti yang minimal. Eksperimen lapangan seperti halnya studi lpangan yang
menggunakan setting alamiah, tetapi ada keterlibatan peneliti yang melakukan
manipulasi terhadap variabel tertentu.eksperimen laboratorium merupakan tipe
penelitian yang menggunakan setting artifisial dan adanya manipulasi terhadap
variabel penelitian tertentu oleh peneliti
Unit analisis merupakan tingkat agresi data yang dianalisis, antara lain meliputi :
individual, kelompok, organisasional, perusahaan, industri, atau negara. Data yang
dikumpulkan secara individual digunakan untuk menghitung unit analisis pada
tingkat agresi yang lebih besar.
Studi atau tahap merupakan tipe penelitian yang datanya dikumpulkan sekaligus
dalam satu tahap. Jika data penelitian dikumpulkan melalui beberapa tahap titik
waktu, maka studi tersebut dinamakan dengan studi jangka panjang. Studi cross
sectional merupakan tipe penelitian yang menganalisis perbandingan data antar
subyek dalam periode waktu tertentu, sedang studi time sries menganalisis
perbandingan data beberapa periode waktu dari subyek penelitian tertentu.
Construct dalam penelitian dapat diukur dengan menggunakan empat tipe skala
pengukuran, yaitu: (1) skala nominal, yang menyatakan kategori, (2) skala ordinal,
yang menyatakan kategori dan peringkat, (3) skala interval, yang menyatakan kategori
peringkat dan jarak, (4) skala rasio, yang mengukur: kategori, peringkat, jarak, dan
perbandingan.
Metode pengukuran sikap, antara lain terdiri atas: (1) skala sederhana yang mengukur
sikap dengan skala nominal, (2) skala kategori yang menggunakan beberapa alternatif
penilaian untuk mengukur sikap, (3) skala likert, mengukur sikap melalui pernyataan
setuju atau ketidaksetujuan responden, (4) skala perbedaan semantis, mengukur sikap
dengan menggunakan alternatif penilaian yang terletak diantara dua kutub ekstrem,
(5) skala numeris, seperti skala perbedaan semantis, menggunakan alternatif
penilaian dengan angka yang terletk diantara dua kutub ekstrem, (6) skala grafis,
mengukur sikap dengan menggunakan gambar atau grafik.

PERTANYAAN DISKUSI

5.1. uraikan apa yang dimaksud dengan desai penelitian

5.2. jelaskan apa yang dimaksud dengan:

a. studi eksplorasi atau studi penjajakan

b. studi deskriptif

5.3. uraikan secara singkat bagaimana cara membedakan hubungan antara dua
variabel atau lebih ke dalam hubungan korelasional dengan hubungan sebab-akibat.
5.4. berikan penjelasan singkat perbedaan pokok antara studi lapangan, eksperimen
lapangan dan eksperimen laboratorium.

5.5. apa yang dimaksud dengan unit analisis? Jelaskan tingkat dan contohnya.

5.6. uraikan secara singkat perbedaan antara studi satu tahap, studi cross sectional,
studi time series dan studi jangka panjang (longitudinal).

5.7. jelaskan pengertian, kelebihan, kelemahan, dan contoh skala pengukuran berikut
ini :

a. skala nominal

b. skala ordinal

c. skala interval

d. skala rasio

5.8. buatlah ppenjelasan singkat perbedaan antara skala nominal, skala ordinal, skala
interval, dan skala rasio.

5.9 Buatlah contoh instrument yang menggunakan skala pengukur berikut ini
(selain contoh yang ada di buku).

a. Skala nominal.
b. Skala ordinal.
c. Skala interval.
d. Skala rasio.

5.10 Sebut dan uraikan secara singkat metode-metode pengukuran sikap.

5.11 Jelaskan perbedaan antara:

a. Skala sederhana dengan skala kategori.


b. Skala kategori dengan skala likert.
c. Skala perbedaan semantis dengan skala numeris.

5.12 Buatlah contoh instrument pengukur sikap (selain contoh yang ada di
buku)yang menggunakan metode pengukuran berikut ini.

a. Skala sederhana.
b. Skala kategori.
c. Skala perbedaan semantis.
d. Skala likert.
e. Skala numeris.
f. Skala grafis.
CATATAN AKHIR

1. Sekaran,U., 1992,Research Methods For Busines: A Skill Building


Ap.proach,2nd Edition, John Wiley & Sons,Inc., New York, USA, hal.93.
2. Cooper, D.R., and C.W., Emory,1996, Business Research Methods,5th
Edition,Richard D. Irwin Inc.,USA, hal. 117-118.
3. Zikmund, W.G., 1994, Business Research Methods, 4th Edition, The Dryden
Press Harcourt Brace College Publishers, Florida, USA , hal. 89-91.
4. Ibid., hal.11.
5. Ibid., hal.92.
6. Sekaran, U., op. cit., hal.95.
7. Ibid.
8. Ibid., hal.97.
9. Zikmund, W.G., op.cit., hal.34.
10. Gay, L.R., and P.L., Diehl, 1992, Research methods for Business and
Management, Macmillan Publishing Company, New York, USA, hal.14.
11. Baca penjelasan Sekaran, U., op.cit.100.
12. Ibid., hal. 109-110.
13. Rasyid,E.R., 1998, Saling peran (Interplay) antara Akuntansi dan budaya
Perusahaan:Penelitian Empiris dengan Metode Interpretif Etnografis,Jurnal
Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 1, No.1, Januari, hal.43-66.
14. Dane, F.C., 1990, Research Methods,Brooks/Cole Publishing Company,
California, USA,hal.249.
15. Cooper, D.R., and C.W., Emory,op.cit., hal 46.
16. Hunton, J.E., P.E., Neidermeyer, and B. Wier, 1996, Hierarhical and Gender
Differences in Private Accounting Practice, Accounting Horizons, vol. 10, no.
2,June, hal. 14-31.
17. Milani, K, 1975, The Relationship of participation in Budgeting-setting to
Industrial Xsupervisor Performance and Attitudes: A Field Study,The
Accounting Review, April, hal.274-284.
18. Zikmund, W.G., op.cit., hal.298.
19. Ibid. , hal.302.
20. Ibid. , hal.301.
BAB 6

PEMILIHAN DATA (SAMPEL) PENELITIAN

TOPIK PEMBAHASAN

POPULASI
SAMPEL
PENELITIAN SAMPEL DAN SENSUS
KRITERIA PEMILIHAN SAMPEL
METODE PEMILIHAN SAMPEL
METODE PEMILIHAN SAMPEL PROBABILITAS
Teori dan distribusi pemilihan sampel probabilitas
Pemilihan Sampel Acak Sederhana
Pemilihan sampel Acak Sistematis
Pemilihan Sampel Acak Berdasarkan Strata
Pemilihan Sampel Acak Berdasarkan Kelompok
Pemilihan Sampel Area
METODE PEMILIHAN SAMPEL
NONPROBABILITAS
Pemilihan Sampel Berdasarkan Kemudahan
Pemilihan Sampel Bertujuan
PEDOMAN PENENTUAN METODE SAMPLING
PENENTUAN UKURAN SAMPEL
KESALAHAN STATISTIK
Kesalahan Pemilihan Sampel
Kesalahan Sistematis
TUJUAN

Mendefinisikan
populasi,sampel,elemen,subyek,populasi
target,kerangka sampel,dan unit sampel
Menjelaskan alasan penelitian dengan menggunakan
sampel dan hubungan antara sampel dengan populasi
Menjelaskan tujuan dan tahap-tahap pemilihan sampel
Membahas metode pemilihan sampel probabilitas dan
nonprobabilitas
Membahas penentuan ukuran sampel
Menjelaskan kesalahan pemilihan sampel dan
kesalahan sestematis(nonsampling)

PEMBAHASAN

MASALAH/PERTANYAAN

PENELITIAN

TELAAH TEORITIS HIPOTESIS

PENGUJIAN FAKTA

PEMILIHAN DATA HASIL

PENGUMPULAN DATA
ANALISIS DATA

KESIMPULAN

Proses penelitian pada dasarnya meliputi perumusan masalah penelitian dan


pemecahan maalahnya melalui telaah teoritis dan pengujian fakta.Bab ini membahas
pemilihan data yang merupakan kegiatan awal dari tahap pengujian fakta penelitian,sebelum
pengumpulan dan analisis data.Materi yang dibahas meliputi populasi,sampel,penelitian
sampel,dan sensus serta alasan nya,prosedur pemilihan sampel,metode pemilihan sampel
probabilitas dan nonprobabilitas,penentuan ukuran sampel,kesalahan pemilihan sampel

POPULASI

Tipe data penelitian secara ekstrem dapat di kelompokkan ke dalam data kuantitatif
dan data kualitatif. Data kuantitatif menunjukkan jumlah atau banyaknya sesuatu.
Pendapatan dividen, nilai persediaan produk, gaji karyawan, utang bank merupakan contoh
data kuantitatif. Data kualitatif merupakan data yang dapat dikategorisasi tetapi tidak dapat
dikuantitatifkan. Data kualitatif dapat dijelaskan melalui perhitungan jumlah setiap kategori
yang diamati. Misal, data yang menunjukkan jenis pekerjaan responden, dapat dinyatakan
dengan berapa jumlah responden yang bekerja sebagai pegawai negri, pegawai swasta, atau
pengusaha dan proporsi masing-masing kategori terhadap total responden. Peneliti
kuantitatif, seperti yang telah dibahas sebelumnya, lebih menekankan, pada analisis data
kuantitatif. Penelitian kualitatif, sebaliknya lebih menekankan pada analisis data kualitatif.

problematic yang ada dalam pemilihan data kuantitatif umumnya berkaitan dengan
populasi data yang diteliti. populasi (population). yaitu sekelompok orang, kejadian atau
segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu. anggota populasi disebut dengan
elemen populasi (population element).masalah populasi timbul terutama pada penelitian
opini yang menggunakan metode survey sebagai teknik pengumpulan data.

Penentuan populasi berbeda dengan penentuan unit analisis, meskipun keduanya


berkaitan dengan unit data yang dianalisis, missal, penelitian mengenai kinerja dapat
menggunakan unit analisis pada tingkat individual (seseorang), kelompok (sekelompok
orang) atau tingkat organisasional ( departemen,divisi atau korporat). jika dipilih unit analisis
tingkat individual, masalah selanjutnya adalah menentukan populasi data: siapa dan berapa
jumlah orang yang akan diteliti jika peneliti ingin menginvestigasikan kinerja manajer secara
individual, maka populasidata penelitian adalah setiap orang yang mempunyai karakterisitik
sebagai manajer. apakah peneliti akan meneliti semua orang yang mempunyai predikat
manajer?

SAMPEL

Peneliti dapat meneliti seluruh elemen populasi (disebut dengan sensus) atau meneliti
sebagian dari elemen-elemen populasi (disebut dengean penelitian sampel) Peneliti, secara
teknis umumnya mengalami kesulitan untk melakukan sensus (census), jika jumlah elemen
populasinya relatif banyak atau bahkan sulit dihitung. Kendala yang dihadapi peneliti
umumnya masalah keterbatasan waktu, biaya dan tenaga kerja yang tersedia. peneliti oleh
karena itu, karena alas an praktis dapat meneliti sebagian dari elemen-elemen populasi
sebagai sampel (sample). anggota sampel disebut dengan subyek (subject).

PENELITIAN SAMPEL DAN SENSUS


Alasan Penelitian Sampel

Ada beberapa faktor yang menjadi alasan peneliti melakukan penelitian sampel daripada
sensus, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Jika jumlah elemen populasi relatif banyak, peneliti tidak mungkin mengumpulkan seluruh
elemen populasi , karena akan memerlukan biaya dan tenaga yang relatif tidak sedikit.
2. Kualitas data yang dihasilakan oleh penelitian sampel sering lebih baik dibandingkan
dengan hasil sensus, karena prose pengumpulan dan analisis data sampel yang relatif sediki
daripada data populasi dapat dilakukan relatif lebih teliti. supervise peneliti terhadap tenaga
pengumpul data dan pemrosesan data dapat dilakukan lebih baik.
3. Proses penelitian dengan menggunakan data sampel relatif lebih cepat dibandingkan
sensus, sehingga dapat mengurangi jangka waktu antara saat timbulnya kebutuhan informasi
hasil penelitian dengan saat tersedianya informasi yang diperlukan.
4. Alasan lain yang menghendaki penelitian dengan sampel terutama dalam kasus pengujian
yang bersifat merusak. Misal, perusahaan bola lampu bermaksud melakukan uji kendali mutu
terhadap seluruh bola lampu hasil produksinya, dengan memilih sebagian (sampel) untuk
diuji daya tahannya. Pengujian dimaksudkna untuk menentukan apakah seluruh bola lampu
yang dihasilkan telah sesuai dengan standar mutu. Perusahaan dalam hal ini tidak mungkin
nmenguji seluruh bola lampu yang diproduksi , kecuali perusahaan tidak bermaksud menjual
bola lampu tersebut.

Alasan Sensus

Peneliti, meskipun demikian, sebaiknya mempertimbangkan untuk menginvestigasi


seluruh elemen populasi, jika elemen-elemen populasi relatif sedikit dan variabilitas setiap
elemen relatif tinggi (heterogen). sensus juga menjelaskan karakteristik setiap elemen dari
suatu populasi, misal: penelitian jumlah dan kondisi social ekonomi penduduk yang tidak
dapat dilakukan dengan meneliti sampel.

Hubungan Sampel dan Populasi

Berdasarkan sebagian dari elemen populasi yang dikumpulkan dan dianalisis, hasilnya
diharapkan dapat menjelaskan karakteristik seluruh elemen populasi, Analisis data sampel
secara kuantitatifmengahasilkan statistic sampel (sampel statistics) yang digunakan untuk
mengestimasi parameter populasinya (population parameters). statistic merupakan ukuran
numeris yang dihitung dari pngukuran sampel. Parameteradalah ukuran deskripsi numeris
yang dihitung dari pengukuran populasi . Statistik sampel digunakan untuk membuat
inferensi mengenai parameter populasinya. Deskripsi sampel dan populasinya secara
kuantitaif berup statistic atau parameter yang umumnya mengukur tendensi sentral (rata-rata,
median, modus) dan dispersi (deviasi standard an varian). statistic deskriptif yang mebgukur
tendensi sentral dan disperse secara rinco akan dibahas dalam bab 8. gambar 6.1 berikut ini
menunjukkan hubungan antara sampe dengan populasi

Gambar 6.1 Hubungan sampel-Populasi

Sample Populasi

Statistik Parameter
(X,s,s2) (,,2)

estimasi
KRITERIA PEMILIHAN SAMPEL

Peneleitian dengan menggunakan sampel yang respresentatif akan memberikan hasil


yang mempunyai kemampuan untuk digeneralisasi. Kriteria sampel yang respresentatif
tergantung pada dua aspek yang saling berkaitan yaitu :akurasi sampel dan ketelitian (presisi)
sampel.

AKURASI

Sampel yang akurat adalah sejauh mana statistic sampel dapat mengestimasi
parameter populasi dengan tepat. Akurasi berkaitan dengan tingkat keyakinan (confidence
level). semakin akurat suatu sampel maka semakin tinggi tingkat keyakinan bahwa statistic
sampel mengestimasi parameter populasinya dengan tepat, tingkat keyakinan dalam statistic
dinyatakan dengan persentase. jika dinyatakan tingkat keyakinan 95%, maka berarti akurasi
statistic sampel dapat mengestimasi parameter populasinya dengan benar adalah 95% dan
probabilitas bahawa estimasi hasil penelitian tidak benar adalah 5%yang dinyatakan dengan
tingkat signifikansi (significance level) sebesar 0,05 (p 0,05).

PRESISI

Sampel yang presisi adalah sejauh mana hasil peneliytian berdasarkan sampel dapat
merefleksikan realitas populasinya dengan teliti. presisi menunjukkan tingkat ketetapan hasli
penelitian berdasarkan sampel menggambarkan karakteristik populasinya. presisi umumnya
dinyatakan dengan interval keyakinan (confidence interval) dari sampel yangdipilih. Misal,
manajer pemasaran berdasarkan pengamatan terhadap sampel penelitian mengestimasi bahwa
volume penjualan produk perusahaan dalam bulan mei berkisar antara 60 sampai dengan 70
unit. jika realisasi penjualan adala 65 unit, maka estimasi tersebut lebih presisi dibandingkan
dengan estimasi antara 50 sampai 70 unit.

PROSEDUR PEMILIHAN SAMPEL

Peneliti perlu menggunakan prosedur pemilihan sampel yang sistematis agar di


peroleh sampel yang representatif. prosedur pemilihan sampel memerlukan beberapa tahap
sebagai berikut (gambar 6.2):

1. mengidentifikasi populasi target


2. memilih kerangka pemilihan sampel
3.menentukan metode pemilihan sampel
4.merencanakan prosedur penentuan unit sampel
5. menenutkan ukuran sampel
6. menentukan unit sampel

Populasi Target (Target Population)

Tahap pertama yang dilakukan peneliti dalam pemilihan sampel adalah


mengidentifikasi populasi target , yaitu populasi spesifik yang relevan dengan tujuan atau
masalah penelitian. Penentuan populasi target dalam banyak kasus bukan hal yang sulit.
Misal, populasi targetnya adalah manajer perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek
Jakarta (BEJ).Peneliti dapat mengindentifikasi para manajer yang menjadi populasi target
penelitian, yaitu seluruh manajer dari perusahaan manufaktur yang terdaftardi BEJ. para
manajer dari perusahaan jasa atau perusahaan dagang yang terdaftar di BEJ bukan merupakan
elemen-elemen populasi target atau yang relevan dengan penelitian tersebut

Gambar 6.2 Prosedur pemilihan sampel

Mengidentifikasi Populasi Target

Memilih Kerangka Pemilihan Sampel

Menentukan Metode Pemilihan Sampel

Menentukan Ukuran Sampel

Merencanakan Prosedur Pemilihan Unit Sampel

Menentukan Unit Sampel

Penentuan populasi target, meskipun demikian, dalam kasus tertentu kemungkinan tidak
mudah dilakukan. Missal, sebuah perusahaan bermaksut mengetahui prilaku konsumen
produk tertentu yang dihasilkannya. Populasi targetnya adalah para manajer bagian
pembelian dari perusahaan pelanggan. Berdasarkan hasil penelitian pembeli di perusahaan
pelanggan adalah manajer bagian teknik perusahaan tersebut. Penentuan populasi target
merupakan hal yang penting dalam proses pemilihan data penelitian. Karena berkaitan
dengan Identifikasi elemen-elemen populasi yang menjadi dasar pemilihan sampel penelitian.

Kerangka Sampel (Sampel Frame)

Kerangka sampel adalah daftar elemen-elemen populasi yang dijadikan dasar untuk
mengambil sampel. Kerangka sampel biasanya berbeda dengan populasi target yang
ditentukan. Missal, populasi target adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah
Mada (FE-UGM), jika peneliti menggunakan sebuah daftar mahasiswa FE-UGM, ada
kemungkinana daftar tersebut belum memuat mahasiswa baru atau mungkin masih
mencantumkan mahasiswa yang telah lulus. Perbedaan antara elemen populasi target dengan
elemen kerangka sampel merupakan sumber kesalahan (error) yang berkaitan dengan
kerangka sampel.

Metode Pemilihan Sampel (Sampling Methods)

Ada banyak cara yang dapat digunakan untuk memilih sampel. Metode-metode
pemilihan sampel secara garis besar dikelompokkan menjadi dua:

1. Metode pemilihan sampel probabilitas (probability sampling methods) atau


metode pemilihan sampel secara acak (randomly sampling method), yaitu terdiri
atas metode-metode: simple random sampling, systematic system, stratified
random sampling, cluster sampling, dan area sampling.
2. Metode pemilihan sampel nonprobabilitas (non-probability sampling methods)
disebut juga dengan metode pemilihan sampel secara tidak acak (non-randomly
sampling method), yang terdiri atas metode-metode: convenience sampling,
judgement samp;ing, dan quota sampling.

Perbedaan pokok antara kedua metode terletak pada probabilitas setiap elemen
populasi terpilih sebagai subyek sampel. Metode probabilitas memberikan kesempatan
yang sama pada setiap elemen populasi untuk terpilih sebagai sampel dengan pemilihan
sampel yang dilakukan secara acak. Metode non-probabilitas, memilih sampel secara
tidak acak sehingga setiap elemen pupolasi mempunyai probabilitas yang berbeda untuk
dipilih menjadi sampel. Penjelasan masing masing metode secara rinci ditempatkan pada
bagian lain dalam bab ini.
Unit Sampel (Sampel Unit)

Unit sampel adalah suatu elemen atau sekelompok elemen yang menjadi dasar untuk
dipilih sebagai sampel. Pemilihan sampel berdasarkan kerangka sampel dapat dilakukan
melalui prosedur satu tahap atau beberapa tahap. Elemen elemen dalam unit sampel
pada prosedur pemilihan sampel. Pemilihan sampel dengan prosedur beberapa tahap, unit
sampel diambil dari kerangka sampel secara bertahap dalam beberapa tingkat:
Gambar 6.3. Prosedur Pemilihan Sampel Tiga Tahap

DAFTAR MAHASISWA
(Kerangka Sampel)

Dipilih
BERDASARKAN
JURUSAN
(Unit Sampel Primer)

BERDASARKAN
TAHUN ANGKATAN
(Unit Sampel
Sekunder)

BERDASARKAN INDEKS
PRESTASI
(Unit Sampel Tersier)

Misal, prosedur pemilihan sampel berdasarkan kerangka sampel daftar mahasiswa FE-UGM
dapat dilakukan melalui beberapa tahap sebagai berikut: pertama kerangka sampel
dikelompokan kedalam unit sampel primer berdasarkan jurusan, kedua ditentukan unit
sampel sekunder berdasarkan tahun angkatan dari jurusan yang terpilih, dan akhirnya di
tentukan unit sampel tersier berdasarkan indeks prestasi dari tahun angkatan yang terpilih.
Gambar 6.2. menyajikan proses pemilihan sampel melalui prosedur tiga tahap:

METODE PEMILIHAN SAMPEL PROBABILITAS

Metode pemilihan sampel probabilitas, seperti yang telah dibahas sebelumnya, menggunakan
konsep bahwa setiap elemen populasi mempunyai probabilitas yang sama untuk terpilih
sebagai sampel. Pemilihan sampel secara acak dapat dilakukan dengan cara yang sederhana
atau cara yang lebih kompleks, tergantung pada tujuan pemilihan sampel dan tersediannya
waktu, biaya dan tenaga.

Teori dan Distribusi Pemilihan Sampel Probabilitas


(Probability Sampling Theory and Distribution)

Tujuan penelitian sampel, sekali lagi, agar hasil analisis data berdasarkan sampel dapat di
generalisasi pada tingkat populasinya. Sampel yang representatif ditunjukan dengan estimasi
statistic sampel terhadapa parameter populasinya secara akurat dan presisi. Sampel yang
representative, yaitu jika rata-rata sampel mempunyai kisaran yang relatif dekat dengan rata-
rata populasinya. Faktor utama dalam metode pemilihan sampel probabilitas adalah proses
pemilihan yang dilakukan secara acak.
Untuk memperoleh sampel yang mencerminkan karakteristik populasinya secara tepat
dalam hal ini tergantung dalam dua faktor: metode pemilihan dan penentuan ukuran sampel.
Pemilihan sampel secara acak lebih memungkinkan untuk memperoleh sampel yang
representatif disbanding dengan pemilihan sampel secara tidak acak. Hal ini dijelaskan oleh
Central Limit Theorem, bahwa

jika sampel n dipilih secara acak dari suatu populasi yang tidak normal dengan
rata-rata dan deviasi standar tertentu, semankin besar jumlah n yang dipilih, maka
distribusi pemilihan sampel dari rata-rata sampel x akan didistribusikan secara
normal

Contoh 6.1.

Beriut ini adalah contoh mengenai statistik pemilihan sampel probabilitas. Misalnya ada 10
orang dalam suatu kelompok dan masing masing mempunyai uang dalam jumlah yang
berbeda. Untuk memudahkan perhitungan anggap saja orang pertama tidak mempunyai
uang orang kedua mempunyai uang Rp.1 orang ketiga mempunyai Rp.2 demikian seterusnya
sehingga orang kesepuluh memiliki Rp.9. jumlah uang yang dimiliki orang orang dalam
kelompok tersebut adalah Rp.45 sehingga rata rata uang yang dimiliki sebesar Rp.$.50

Berdasarkan data tersebut, jika dipilih secara acak 2 orang sebagai sampel maka ada 45
kemungkinan sampel yang dapat dipilih. Berdasarkan jumlah uang yang dimiliki, beberapa
sampel memiliki rata rata yang sama , missal: sampel (Rp0,-+Rp.6,-); (Rp.1,-+Rp.5,-);
(Rp.2,-+Rp.4,-) memiliki uang rata rata Rp.3. gambar 6.3. menyajikan distribusi rata rata
sampel yang dipilih. Berdasarkan gambar tersebut menunjukan normalitas dari distribusi
rata rata sampel. Rata rata sampel yang besarnya sama dengan rata rata populasi (Rp.4.50,-
) jumlah paling banyak yaitu 5 sampel: (Rp.0,-+Rp.9,-); (Rp.1,-+Rp.8,-); (Rp.2,-+Rp.7,-);
(Rp.3,-+Rp.6,-); (Rp.4,-+Rp.5,-). Normalitas distribusi rata rata sampel jugadapat dilihat
pada contoh ukuran sampel yang lain (misal. Terdiri atas 3,4,5, atau 6 orang)

Gambar 6.4. Distribusi Pemilihan Sampel


9
8
7
6
5
4
3
2
1
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Pemilihan Sampel Secara Acak Sederhana (Simple Random Sampling)


Metode pemilihan sampel secara acak sederhana memberikan kesempatan yang sama yang
bersifat tak terbatas pada setiap elemen populasi untuk dipilih sebagai sampel. Metode ini
relatif sedrhana karena hanya memerlukan satu tahap prosedur pemilihan sampel. Setiap
elemen populasi secara independen mempunyai probabilitas dipilih satu kali (tanpa
pengembalian). Pemilihan sampel secara acak sederhana secara oprasional memerlukan
media yang memuat daftar seluruh elemen untuk dipilih sebagai sampel secara manual atau
dengan bantuan computer.

Contoh 6.2.

Peneliti ingin memilih 100 mahasiswa sebagai sampel dari jumlah populasi
5000
Mahasisiswa. Peneliti membuat daftar nomor mahasiswa dari nomor 1
sampai
5000 sebagai kerangka sampel. Selanjutnya pemilihan sampel secara acak
sederhana dapat dilakukan dengan bantuan computer yang memuat tabel
nomor mahasiswa secara acak. Pemilihan sampel dilakukan dengan memilih
100
nomor secara acak dari 5000 nomor yang ada

metode pemilihan sampel secara acak sederhan memungkinkan terpilihnya sampel


yang mempunyai bias paling sedikit dan tingkat generelisasi yang tinggi. Sampel yang bias
adalah sampel yang menyimpang dari tujuan pemilihan sampel, yang secara kuantitatif dapat
diukur berdasarkan akurasi dan presisi estimasi statistic sampel terhadap parameter
populasinya. Proses pemilihan sampel menurut metode ini, meskipun demikian dinilai
membosankan dan memerlukan biaya relatif lebih mahal.

Pemilihan Sampel Sistematis (Systematic Sampling)


Metode pemilihan sampel secara acak sederhana meskipun mudah dipahami, tetapi jarang
digunakan dalam praktik karena relatif sulit dan memerlukan banyak tenaga dan biaya,
terutama jika jumlah elemen populasinya relatif banyak. Pemilihan sampel dari kerangka
sampel dapat dilakukan dengan cara yang sistematis, yaitu memilih secara acak setiap elemen
dengan nomor tertentu dari tabel nomor sebagai kerangka sampel. Pemilihan nomor dimulai
dengan nomor tertentu secara acak selanjutnya dipilih nomor nomor berikut dalam jarak
tertentu yang sama.

Contoh 6.3

Peniliti (menggunakan data contoh 6.2.) memilih 100 nomor sebagai sampel dari tabel 5000
nomor. Berdasarkan metode sampel sistematis, peneliti dapat memilih nomor tertentu, misal
nomor 50 untuk sampel yang pertama, sampel kedua nomor 100, ketiga nomor 150, demikian
seterusnya sampai sampel keseratus nomor 5.000. Sampel yang dipilih adalah nomor-nomor
dalam tabel yang mempunyai jarak 50 dimulai dari nomor 50.

Sampel yang dipilih berdasarkan metode pemilihan sampel sisitematis ini, tergantung pada
penentuan nomor sampel yang pertama dan jarak nomor antara sampel yang satu dengan
yang lain. Kelemahan metode ini, oleh karena itu, memungkinkan untuk terjadinya bias
sistematis, yaitu penyimpangan sampel dari tujuanannya karena sistematisasi yang digunakan
oleh peneliti dalam pemulihan sampel. Metode ini relatif lebih mudah diterapkan jika telah
tersedia kerangka sampel.

Pemilihan Sampel Acak Berdasarkan Strata (Stratified Random Sampling)

Pemilihan sampel secara acak dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengklasifikasisuatu
populasi ke dalam sub-sub populasi berdasarkan karakteristik tertentu dari elemen-elemen
populasi (misal, berdasarkan jenis kelamin, jenis industri,tahun angkatan, size perusahaan).
Sampel kemudian dipilih dari setiap sub populasi dengan metode acak sederhana atau metode
sistematis. Cara pemilihan sampel ini disebut dengan metode pemilihan sampel secara acak
berdasarka strata. Dasar yang digunakan untuk stratifikasi sub populasi dipertimbangkan
aspek relevansinya dengan tujuan penelitian.

Contoh 6.4

Seorang peneliti berkeinginan untuk mengetahui motivasi belajar mahasiswa berdasarkan


sampel 100 mahasiswa dari kerangka sampel yang berisi 5.000 mahasiswa. Untuk keperluan
tersebut, peneliti membagi populasi kedalam empat strata unit sampelberdasarkan tahun
angkatan mahasiswa (I, II, III, dan IV). Selanjutnya dari masing-masing strata dipilih
sejumlah mahasiswa secara acak. Jumlah subyek yang dipilih ditentukan dengan dua
alternatif, (1) secara proporsional sebesar 2% dari jumlah elemen pada setiap unit sampel
atau (2) secara tidak proporsional dalam jumlah yang sama tanpa memperhatikan jumlah
elemen pada setiap unit sampel. Gambar 6.3 berikut ini menyajikan contoh pemilihan sampel
acak dengan stratifikasi secara proporsional dan tidak proporsional.

Gambar 6.5. contoh Pemilihan Sampel Acak dengan Stratifikasi Secara Proporsional dan
Tidak Proporsional

Jumlah Subyek
Tidak
Strata Jumlah Proporsional Proporsional
Angkatan Elemen (2% dari Jumlah Elemen)
I 2.000 40 25
II 1.000 20 25
III 1.500 30 25
IV 500 10 25
Jumlah 5.000 100 100

Metode ini dinilai sebagai metode pemilihan sampel secara acak yang paling efisien dan lebih
relevan dengan masalah atau pertanyaan penelitian diantara alternatif metode pemilihan
sampel probabilitas . pemilihan sampel berdasarkan strata menekankan pada homogenitas
karakteristik elemen-elemen pada masing-masing strata, tetapi karakteristik elemen-elemen
antara strata yang satu dengan yang lain relatif heterogen. Kelemahan metode ini, yaitu jika
perbedaan jumlah elemen antara strata yang satu dengan strata yang lain cukup besar, secara
proporsional ada kemungkinan jumlah subyek pada strata tertentu terlalau kecil dan pada
strata yang lain terlalu besar. Jika jumlah subyek pada masing-masing strata tidak
proporsional, ada kemungkinan pada strata tertentu jumlah subyek sama atau hampir sama
dengan jumlah elemennya atau sebaliknya jumlah subyek relatif kecil dibandingkan dengan
jumlah elemennya.

Pemilihan Sampel Berdasarkan Kelompok (Clustered Sampling)

Pemilihan sampel berdasarkan kelompok dapat dilakukan satu tahap (one stage) atau
beberapa tahap (multi stage) penentuan unit sampel. Elemen-elemen populasi dikelompokkan
ke dalam unit-unit sampel seperti yang dilakukan dalam metode pemilihan sampel dengan
stratifikasi. Perbedaannya metode ini lebih menekankan pada heterogenitas pada karakteristik
elemen-elemen pada masing-masing unit sampel, tetapi karakteristik elemen-elemen antara
kelompok unit sampel satu dengan unit sampel yang lain relatif homogen. Jika pemilihan
sampel dilakukan satu tahap, maka subyek sampel dapat dapat dipilih secara acak sederhana
atau cara sistematis dari setiap unit sampel. Jumlah sauyek yang dipilih dapat ditentukan
secara proporsional atau tidak proporsional dengan jumlah elemen pada masing-masing unit
sampel. Unit sampel pada pemilihan sampel melalui beberapa tahap ditentukan secara
bertahap dalam beberapa tingkat unit sampel. Metode ini mempunyai kelemahan karena
menghasilkan data yang tingkat reliabilitasnya paling rendah diantara alternatif metode
pemilihan sampel probabilitas. Kelebihan metode ini terletak pada biaya pengumpulan data
secara geografis yang relatif rendah.

Contoh 6.5.

Berikut ini contoh prosedur pemilihan sampel berdasarkan kelompok melalui beberapa tahap
pemilihan sampel. Peneliti ingin memilih 100 mahasiswa fakultas ekonomi sebagai sampel
dari populasi sejumlah 5.000 mahasiswa, dengan cara sebagai berikut:

1. Peneliti mengelompokkan populasi 5.000 mahasiswa ke dalam kerangka sampel


berdasarkan jurusan: akuntansi, manajemen, ekonomi pembangunan. Jumlah elemen
masing-masing kelompok kerangka sampel adalah akuntansi (2.500), manajemen
(1.500), ekonomi pembangunan (1.000).
2. Peneliti selanjutnya menentukan unit sampel primer sebanyak 1.000 mahasiswa yang
dipilih secara acak berdasarkan jurusan. Untuk memudahkan perhitungan jumlah
mahasiswa setiap jurusan yang dipilih ditentukan secara proporsional dengan jumlah
elemen pada masing-masing jurusan, sebagai berikut:
Akuntansi 2.500/5.000 x 1.000 = 500
Manajemen 1.500/5.000 x 1.000 = 300
Ekonomi Pembangunan 1.000/5.000 x 1.000 = 200

3. Kemudian dari 1.000 unit sampel primer, peneliti memilih secara acak 200 unit
sampel sekunder berdasarkan tahun angkatan (I, II, III dan IV). Proporsi jumlah
mahasiswa setiap angkatan pada masing-masing jurusan adalah sebagai berikut:
angkatan I 40%, angkatan II 30%, angkatan III 20%, dan angkatan IV 10%. Jumlah
elemen dalam unit sampel primer. Gambar 6.4 berikut ini menyajikan perhitungan
elemen dalam unit sampel primer (berdasarkan jurusan) dan unit sampel sekunder
(berdasarkan angkatan):

Gambar 6.6. Perhitungan Elemen Unit Sampel Primer dan Unit Sampel Sekunder

Akuntansi Manajemen Ek.


Pembangunan
P S P S P S
I 200 40 120 24 80 16
II 150 30 90 18 60 12
III 100 20 60 12 40 8
IV 50 10 30 6 20 4
Jumlah 500 100 300 60 200 40

Keterangan: P = unit sampel primer; S = unit sampel sekunder

4. Akhirnya, dari 200 unit sampel sekunder dipilh secara acak 100 unit sampel tersier
berdasarkan indeks prestasi (lebih dari 3,00; antara 2,00 sampai dengan 3,00; kurang
dari 2,00). Proporsi IP setiap angkatan pada masing-masingjurusan adalah: lebih dari
3,00 25%; antara 2,00 sampai dengan 3,00 50%; kurang 2,00 25%. Jumlah unit
sampel tersier ditentukan secara proporsional dengan jumlah elemen unit sampel
sekunder. Gambar 6.6. berikut ini menyajikan perhitungan elemen dalam unit sampel
tersier (berdasarkan IP):

Gambar 6.7. Perhitungan Elemen Unit Sampel Bertingkat

Jurusan Angkat Unit Unit >3.30 2.30 3.00


(Sampel) an Prim Sekund < 2.00
er er
Samp Unit Samp Unit Samp Unit
el Tersi el Tersi el Tersi
er er er
Akuntansi I 200 40 10 5 20 10 10 5
2.500 II 150 30 7 4 15 8 8 4
III 100 20 5 3 10 5 5 3
IV 50 10 2 1 5 3 3 2
Manajemen I 120 24 6 3 12 6 6 3
1.500 II 90 18 4 2 9 5 5 3
III 60 12 3 2 6 3 3 2
IV 30 6 1 1 3 2 2 1
Ek.
Pembangun I 80 16 4 2 8 4 4 2
an
1.000 II 60 12 3 2 6 3 3 2
III 40 8 2 1 4 2 2 1
IV 20 4 1 1 2 1 1 1
5.000 1000 200 48 27 100 52 52 27
Keterangan:

Hasil pembulatan

Jumlah unit sampel tersier = 27 + 52 + 27 =106

Pemilihan Sampel Area (Area Sampling)

Metode pemilihan sampel area pada dasarnya merupakan metode pemilihan sampel acak
berdasarkan kelompok yang digunakan untuk memilih sampel dari populasi yang lokasi
geografisnya terpencar. Metode ini diterapkan jika faktor lokasi menjadi pertimbangan
penting dalam pemilihan sampel. Area pemilihan sampel dapat dibagi berdasarkan wilayah
administrasi pemerintahan (propinsi, kabupaten, kotamadia, atau area yang lebih kecil),
berdasarkan wilayah pemasaran produk perusahaan, atau menggunakan dasar pembagian area
yang lain. Metode ini digunakan untuk menghemat biaya pemilihan sampel dan tidak
tergantung pada kerangka sampel.

Contoh 6.6

Suatu survei untuk mengetahui perilaku terhadap produk tertentu disuatu wilayah kotamadia
memilih subyek sampel penelitian berupa rumah tangga dengan menggunakan metode area
sampling. Peneliti menggunakan peta wilayah kotamadiauntuk mengidentifikasi dan memilih
secara acak kecamatan-kecamatan yang dijadikan sampel penelitian. Selanjutnya peneliti
sampel kelurahan secara acak dari kecamatan-kecamatan yang terpilih. Berdasarkan
kelurahan yang terpilih peneliti dapat memilih sampel rukun wilayah (RW) secara acak.
Kemudian peneliti dapat memilih sampel rukun tetangga (RT) secara acak dari RW yang
terpilih. Akhirnya responden penelitian berupa rumah tangga dipilih secara acak dari RT
yang terpilih.

METODE PEMILIHAN SAMPEL NONPROBABILITAS

Pemilihan sampeldengan metode nonprobabilitas atau secara tidak acak, elemen-elemen


populasi tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Penelitian
berdasarkan sampel yang dipilih secara tidak acak akan memberikan hasil yang diragukan
kemampuan generalisasinya. Pemilihan metode ini umumnya berdasarkan kepada
pertimbangan waktu yang relatif lebih cepat dan biaya yang relatif lebih murah dibanding
dengan metode pemilihan sampel probabilitas.

Pemilihan Sampel Berdasarkan Kemudahan (Convenience Sampling)

Sesuai dengan namanya, metode ini memilih sampel dari elemen populasi (orang atau
kejadian) yang datanya mudah diperoleh peneliti. Elemen populasi yang dipilih sebagai
subyek sampel adalah tidak terbatas sehingga peneliti memiliki kebebasan untuk memilih
sampel yang paling cepat dan murah. Misal, peneliti dalam penelitian mengenai perilaku
konsumen terhadap suatu produk dapat melakukan survei kepada setiap pengunjung yang
dijumpai di toko swalayan. Metode ini diterapkan pada penelitian-penelitian penjajakan.
Kelebihan umumnya metode ini adalah waktu pelaksanaan yang relatif cepat dengan biaya
yang relatif murah. Kelemahannya hasil analisis data sampel mempunyai tingkat generalisasi
rendah.

Pemilihan Sampel bertujuan (Porposive Sampling)

Peneliti kemungkinan mempunyai tujuan atau target tertentu dalam memilih sampel secara
tidak acak. Acaka dua jenis metode pemilihan sampel ini, yaitu: pemilihan sampel
berdasarkan pertimbangan dan berdasarkan kuota.

Pemilihan Sampel Berdasarkan Perimbangan (Judgment Sampling)

Merupakan tipe pemilihan sampel secara acak yang informasinya diperoleh dengan
menggunakan pertimbangan tertentu (umumnya disesuaikan dengan tujuan atau masalah
penelitian). Elemen populasi yang dipilih sebagai sampel dibatasi pada elemen-elemen yang
dapat memberikan informasi berdasarkan pertimbangan. Misal, jika peneliti ingin mengetahui
informasi yang berkaitan dengan perusahaan maka peneliti dapat memilih para manajer
sebagai sampel penelitian. Para manajer pada berbagai level organisasi (puncak, menengah,
atau operasional) merupaka subyek yang tepat untuk memberikan informasi berdasarkan
pertimbangan tertentu dibandingkan dengan subyek dalam perusahan yang bukan manajer.
Faktor kepraktisan (kecepatan waktu dan biaya yang murah) merupakan pertimbangan pokok
dalam metode pemilihan sampel secara tidak acak ini. Meskipun demikian, kelemahan
metode ini adalah pada hasil analisis yang kemampuan generalisasinya rendah.

Pemilihan Sampel Berdasarkan Kuota (Quota Sampling)

Pemilihan sampel secara tidak acak dapat dilakukan berdasarkan kuota (jumlah tertinggi)
untuk setiap kategori dalam suatu populasi target. Misal, peneliti menentukan kuota
responden berdas arkan jenis industri, skala perusahaan, departemen fungsional, atau gender
pekerja. Tujuan metode pemilihan sampel secara tidak acak berdasarkan kuota umumnya
untuk menaikkan tingkat representatif sampel penelitian. Kemampuan generalisasi hasil
analisis data sampel yang dipilih berdasarkan metode ini masih dipertanyakan.

PEDOMAN PENENTUAN METODE SAMPLING

Penentuan metode pemilihan sampel probabilitas dan nonprobabilitas merupakan aspek


penting (disamping aspek ukuran sampel) yang mempunyai ketepatan estimasi statistik
sampel terhadap parameter populasinya. Setiap alternatif metode pemilihan sampel
mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Penentuan metode pemilihan sampel
yang digunakan tergantung pada tersedianya waktu, biaya dan tenaga. Pertimbangan pokok
yang digunakan sebagai pedoman untuk menentukan metode pemilihan sampel, meskipun
demikian, adalah tujuan atau masalah penelitian. Gambar 6.7. berikut menyajikan skema
sebagai pedoman untuk menentukan metode pemilihan sampel berdasarkan hasil atau
informasi penelitian yang diharapkan.

PENENTUAN UKURAN SAMPEL (SAMPLE SIZE)


Banyak pendapatan yang mengatakan bahwa untuk memperoleh sampel yang representatif
diperlukan ukuran sampel yang besar. Berapa besarnya sampel yang diperlukan? Ada yang
menyatakan paling sedikit 10% dari jumlah populasinya. Pendapat-pendapat tersebut kurang
tepat, karena untuk menentukan ukuran sampel tergantung pada variasi populasinya. Semakin
besar dispersi atau variasi suatu populasi maka semakin besar pula ukuran sampel yang
diperlukan agar estimasi terhadap parameter populasi dapat dilakukan dengan akurat dan
presisi. Ukuran sampel, disamping itu, juga dipengaruhi oleh tingkat keyakinan peneliti
dalam melakukan estimasi.

Contoh 6.7

Berikut ini adalah ilustrasi untuk memberikan penentuan ukuran sampel. Misal, seorang
manajer ingin mengestimasi penarikan saldo tabungan di suatu Bank yang kisaran jumlahnya
(kurang lebih) sebesar Rp. 500.000,-, dengan tingkat keyakinan (confidence level) sebesar
95%. Jika berdasarkan sampel yang diteliti memiliki deviasi standar rata-rata sebesar Rp.
3.500.000,- berapa ukuran sampel yang harus diteliti?

1. Langkah pertama yang diperlukan oleh peneliti adalah menghitung varian atau
dispersi populasi dengan menggunakan rumus perhitungan rata-rata populasi sebagai
berikut:
= + k . sx

dimana, m adalah rata-rata populasi

adalah rata-rata sampel

k adalah nilai t tabel pada tingkat kepercayaan tertentu

sx adalah dispersi (varian) populasi

Gambar 6.8. Skema Pedoman Penentuan Metode Pemilihan Sampel

Sampel yang representatif merupakan


faktor penting dalam penelitian

Ya Tidak

Pilih Alternatif Metode Pilih Alternatif Metode


Sampling Probabilitas Sampling Nonprobabilitas

Hasil Penelitian yang Informasi


Diterapkan Yang Diharapkan
Mempunyai Menekankan Menekankan Cepat Mempunyai
Kemampuan Informasi Antar Informasi Setiap Bebas Maksud Tertentu
Generalisasi Kelompok Kelompok

Metode
Metode
Metode Jumlah Metode Judgment
Convience
Simple Elemen setiap Area Sampling
Sampling
Random Kelompok Sampling
Sampling
Metode
Quota
Metode Tidak Metode Stratified Sampling
Systematic Sama Sampling Proporsional
Sampling

Sama Metode Stratified


Metode Sampling
Clustered Nonproposional
Sampling

Berikut data contoh 6.7 pengoperasian rumus (6-1) adalah sebagai berikut:

500.000 = 1,96 sx

sx = 500.000/1,96 = 255.100

2. Besarnya sampel dihitung dengan rumus:



sx = (6.2)
1

dimana, s adalah deviasi standar rata-rata sampel

n adalah ukuran sampel


Berdasarkan data contoh 6.7 pengoperasian rumus (6.2) adalah sebagai berikut:
3.500.000
255.100 =
1

n = 187

3. Jika jumlah populasi adalah 185, maka peneliti tidak mungkin meneliti sampel
sebanyak 187 (hasil perhitungan di atas). Peneliti dalam hal ini dapat menerapkan
rumus koreksi untuk menghitung sampel yang diperlukan jika jumlah populasinya
hanya 185. Rumus koreksinya adalah sebagai berikut:

sx = x (6.3)
1 1

dimana, N adalah jumlah elemen populasi


Pengoperasian rumus (6.3) adalah sebagai berikut:
3.500.000 185
255.100 = x =
1 184

n = 94

BAB 6 : Pemilihan Data (Sampel) Penelitian

KESALAHAN STATISTIK (STATISTICAL ERROR)

Jika data sampel yang diteliti menghasilkan nilai statistik yang tidak sesuai dengan nilai
parameter populasinya secara akurat dan presisi, berarti ada kesalahan statistik (statistical
error). Ada dua faktor yang penyebab kesalahan statistik, yaitu: kesalahan dalam pemilihan
sampel (sampling error) dan kesalahan sistematis (systematic error) yaitu kesalahan yang
bukan berasal dari proses pemilihan sampel (nonsampling error).

Kesalahan Pemilihan Sampel (Sampling Error)

Kesalahan dalam pemilihan sampel dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan pada setiap
prosedur dalam pemilihan sampel, antara lain: kesalahan dalam kerangka sample (sampling
frame error) kesalahan dalam penentuan unit sampel (unit sampling error), atau kesalahan
dalam pemilihan sampel secara acak (random sampling error).

Kesalahan kerangka sampel. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, disebabkan oleh
adanya perbedaan antara elemen-elemen dalam kerangka sampel (misal, daftar mahasiswa
atau daftar telepon) dengan elemen-elemen populasi target.Kerangka sampel kemungkinan
belum memuat elemen-elemen populasi yang baru masuk. Jika jumlah dan karakteristik
elemen tersebut relatif signikan, maka kemungkinan akan menyebabkan pemilihan elemen
dari kerangka sampel yang kurang representatif.

Kesalahan unit sampel. Penentuan elemen-elemen dalam suatu unit sampel kemungkinan
kurang mewakili karakteristik populasinya. Tingkat heterogenitas elemen-elemen populasi
dapat menyebabkan timbulnya kesalahan dalam unit sampel yang ditentukan berdasarkan
strata atau kelompok (cluster) tertentu. Elemen-elemen tertentu kemungkinan mempunyai
kesempatan untuk masuk dalam beberapa strata atau kelompok unit sampel. Jika elemen unit
sampel hanya dipilih sekali, kesalahan dalam mengklasifikasi elemen-elemen ke dalam strata
atau kelompok tertentu sebagai unit sampel merupakan sumber kesalahan yang menyebabkan
oleh penentuan unit sampel.

Kesalahan pemilihan sampel secara acak Terjadi karena kemungkinan adanya variasi
dalam pemilihan subyek sampel secara acak. Tipe kesalahan ini kemungkinan disebabkan
oleh nilai elemen-elemen yang sangat variatif atau ekstrem (tinggi sekali atau rendah sekali)
sehingga dapat saling menghapus dalam penghitungan rata-rata. Kesalahan tersebut secara
teknis merupakan fluktuasi statistik yang terjadi karena adanya variasi nilai elemen-elemen
yang dipilih sebagai sampel. Semakin kecil variasi nilai elemen-elemen, maka semakin
rendah kemungkinan tingkat kesalahan pemilihan sampel secara acak.
Kesalahan Sistematis (Systematic Error)

Kesalahan sistematis merupakan kesalahan yang disebabkan oleh faktor-faktor diluar proses
pemilihan sampel (nonsampling error). Kesalahan sistematis terutama disebabkan oleh
kelemahan desain penelitian dan kesalahan pelaksanaa penelitian. Ada dua faktor yang
mempengaruhi kesalahan sistematis, yaitu : kesalahan responden error (respondent error) dan
kesalahan administratif (administrative error).

Kesalahan responden. Hasil analisis data yang dikumpulkan dengan metode survei
tergantung pada jawaban responden penelitian. Jika responden penelitian mau bekerja sama
dan menjawab pertanyaan dengan benar, maka hasil penelitian akan dapat memenuhi tujuan
yang diharapkan. Kesalahan responden terdiri atas dua jenis kesalahan sebagai berikut :

Nonresponse bias (error), adalah kesalahan yang ditimbulkan karena subyek sampel
yang tidak memberikan respon (nonresponden) ternyata lebih representatif daripada sampel
yang memberikan tanggapan, sehingga sampel yang diteliti kurang akurat dan presisi
mencerminkan karakteristik populasinya. Jika semua sampel memberikan tanggapan atas
suatu survei, maka tingkat respon (response rate) survei tersebut adalah 100%. Nonresponse
bias terjadi jika dalam survei dengan tingkat tanggapan 30%, ternyata 70% sampel yang tidak
memberikan jawaban lebih representatif daripada 30% sampel yang memberikan respon.
Masalah ini bukan hanya terjadi pada pengumpulan data dengan survei melalui pos,
melainkan juga pada survei melalui perseorangan, wawancara melalui telepon, dan
wawancara tatap muka.

Response bias (error), merupakan kesalahan yang timbul karena jawaban responden yang
tidak benar. Responden mungkin secara sengaja atau tidak sengaja menjawab pertanyaan
yang tidak sesuai dengan kenyataannya sehingga menyebabkan interpretasi peneliti yang
keliru terhadap jawaban responden. Beberapa hal yang dapat menimbulkan responden bias,
antara lain :

1. Kecenderungan responden yang memberikan jawaban setuju atas pertanyaan-pertanyaan


yang tidak dipahaminya sekalipun (acquiescence bias).
2. Kecenderungan responden yang memberikan jawaban secara ekstrem (extremity bias)
atau secara netral (neutrality bias) terhadap sebagian besar pertanyaan.
3. Adanya saling peran antara pewawancara dengan responden sehingga jawaban responden
terpengaruh oleh opini pewawancara (interviewer bias) atau adanya bantuan wawancara
kepada responden untuk menjawab pertanyaan (auspices bias).

Kesalahan Administratif adalah kesalahan yang disebabkan oleh kelemahan


administrasi atau pelaksanaa pekerjaan penelitian. Ada tiga tipe kesalahan administratif,
yaitu : kesalahan dalam pemrosesan data (data processing error), kesalahan pewawancara
(interviewer error), dan kecurangan pewawancara (interviewer cheating)

Kesalahan Pemrosesan Data kemungkinan terjadi karena kesalahan dalam proses


prosedural atau aritmatik melalui komputer. Akurasi pemrosesan data dan komputer,
bagaimanapun tergantung pada ketelitian manusia dalam pembuatan program dan
memasukkan data ke dalam komputer. Tipe kesalahan ini dapat diminimalisir dengan
penetapan prosedur yang teliti dan cermat mulai dari pengeditan data, pemberian kode
dan tahap-tahap lainnya dalam pemrosesan data dengan menggunakan komputer.

Kesalahan Pewawancar adalah tipe kesalahan administratif yang disebabkan oleh


keteledoran pewawancara. Kesalahan tersebut dapat berupa kekeliruan pewawancara
dalam mencatat jawaban responden atau kesalahan berupa hilangnya bagian informasi
yang penting karena pewawancara kurang cepat mencatat jawaban responden yang
disampaikan secara lisan. Kesalahan pewawancara juga dapat ditimbulkan oleh persepsi
selektif dari pewawancaraa yang hanya mencatat jawaban responden yang tidak sesuai
dengan sikap dan pendapat wawancara.

Kecurangan Pewawancara. Kesalahan administratif kemungkinan disebabkan oleh


kecuraangan pewawancara yang sengaja melompati butir pertanyaan mengenai topik
yang sensitif agar wawancara cepat selesai. Kecurngan dapat pula terjadi jika
pewawancara atau pelaksana survei menjawab sendiri daftar pertanyaan atau kuisioner.

Metodologi Penelitian Bisnis: untuk Akuntansi dan Manajemen

Gambar 6.9. Tipe-tipe Kesalahan Statistik

Kesalahan Kerangka
Sampel

Kesalahan Kesalahan
Pemilihan Unit Sampel
Sampel
Kesalahan Pemilihan
Sampel Secara Acak
Kesalahan
Statistik Nonresponse Bias
Kesalahan Responden
Response Bias
Kesalahan
Kesalahan
Sistematis
Pemrosesan Data
Kesalahan Kesalahan
Administrasi Pewawancara

Kecurangan
Pewawancara
RINGKASAN

Masalah pemilihan data (kuantitatif) berkaitan dengan populasi data yang diteliti.
Peneliti secara teknis tidak mungkin melakukan sensus, yaitu penelitian terhadap seluruh
anggota (elemen) populasi kare4na alasan waktu, biaya, dan tenaga. Peneliti dapat
melakukan penelitian terhadap sampel, yaitu sebagian dari elemen populasi, karena :
lebih praktis, cepat memperoleh informasi hasil penelitian dengan kualitas data yang
lebih baik dan alasan lebih baik terutama untuk kasus pengujian yang bersifat merusak.
Hasil penelitian sampel diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai karakteristik
populasinya, karena sampel yang representatif akan menghasilkan estimasi statistik
sampel yang mencerminkan parameter populasinya secara akurat dan presisi.
Sampel yang representatif diperoleh melalui prosedur pemilihan sampel yang benar.
Prosedur pemilihan sampel dimulai dari identifikasi populasi target, yaitu populasi yang
relevan dengan tujuan atau masalah penelitian. Berdasarkan populasi target yang telah
diidentifikasi peneliti dapat menentukan media yang digunakan sebagai kerangka sampel
(daftar yang berisi elemen-elemen populasi). Sebelum menentukan unit sampel (suatu
elemen atau sekelompok elemen yang dipilih sebagai sampel) dan menentukan ukuran
(besarnya) sampel, peneliti perlu menentukan metode yang digunakan untuk memilih
sampel.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk memilih sampel, yang secara garis
besar dikelompokkan menjadi dua : metode pemilihan sampel probabilitas dan metode
pemilihan sampel nonprobabilitas. Perbedaan kedua metode pemilihan sampel (sampling)
terletak pada kesempatan yang diberikan kepada setiap elemen populasi untuk dipilih
menjadi subyek (anggota) sampel. Faktor yang menjadi pertimbangan dalam penentuan
metode sampling, antara lain : usaha untuk memperoleh sampel yang representatif, hasil
penelitian yang mempunyai kemampuan untuk digeneralisasi, waktu dan biaya untuk
memperoleh data penelitian.
Metode pemilihan sampel probabilitas memberikan kesempatan yang sama kepada setiap
elemen populasi untuk dipilih menjadi sampel. Pemilihan sampel secara acak dapat
bersifat tak terbatas (simple random sample) atau bersifat terbatas berdasarkan cara
tertentu yang sistematis (systematic sampling), berdasarkan pembagian strata (stratified
random sampling), berdasarkan pembagian kelompok (clustered sampling) atau
pembagian area (area sampling). Masing-masing metode mempunyai kelebihan dan
kelemahan.
Metode pemilihan sampel nonprobabilitas dapat dilakukan berdasarkan kemudahan atau
maksud tertentu. Sampel yang dipilih secara tidak acak berdasarkan tujuan tertentu dapat
menggunakan metode berdasarkan pertimbangan atau berdasarkan kuota. Kelemahan
pokok metode pemilihan sampel nonprobabilitas adalah kemampuan generalisasi dari hasil
penelitian, meskipun mempunyai kelebihan yang relatif lebih praktis.
Sampel yang representatif dipengaruhi oleh dua faktor utama : metode pemilihan sampel
yang digunakan dan penentuan ukuran atau besarnya sampel. Ukuran sampel ditentukan
berdasarkan variasi atau dispersi populasi dan keyakinan peneliti dalam melakukan
estimasi statistik sampel, dispersi populasi dan tingkat keyakinan dapat diukur secara
kuantitatif untuk menentukan ukuran sampel dengan rumus perhitungan rata-rata populasi.
Jika data sampel yang diteliti menghasilkan statistik yang tidak mencerminkan parameter
populasiya secara akurat dan presisi berarti ada kesalahan statistik. Kesalahan statistik
bukan hanya disebabkan karena kesalahan pemilihan sampel, tetapi dapat juga disebabkan
oleh kesalahan diluar proses pemilihan sampel (kesalahan sistematis). Kesalahan
pemilihan sampel dapat disebabkan oleh kesalahan dalam penentuan kerangka sampel,
unit sampel dan pemilihan smpel secara acak. Sedang kesalahan sistematis dapat
disebabkan oleh kesalahan responden dan kesalahan administratif.

PERTANYAAN DISKUSI

6.1. Berikan pengertian mengenai istilah istilah berikut ini :


a. populasi e. populasi target
b. elemen f. kerangka sampel
c. sampel g. unit sampel
d. subyek
6.2. Uraikan alasan mengapa peneliti melakukan penelitian sampel daripada sensus
6.3. Jelaskan bagaimana hubungan antara sampel dengan populasi
6.4. Uraikan secara singkat kriteria sampel yang representatif dan perbedaan antara akurasi
dengan presisi
6.5. Uraikan dengan singkat tahap-tahap pemilihan sampel
6.6. Jelaskan mengapa peneliti perlu mengidentifikasi populasi target
6.7. Berikan penjelasan secara singkat perbedaan antara kerangka sampel dengan unit
sampel
6.8. Jelaskan mengapa metode pemilihan sampel probabilitas lebih memungkinkan
memperoleh sampel yang representatif daripada metode pemilihan sampel
nonprobabilitas
6.9. Berikan penjelasan singkat mengenai pengertian, kelebihan, dan kelemahan metode
pemilihan sampel acak sederhana dan metode pemilihan sampel sistematis
6.10. Uraikan pengertian metode pemilihan sampel berdasarkan strata dan metode pemilihan
sampel berdasarkan kelompok, jelaskan pula perbedaan antara kedua metode tersebut.
6.11. Jelaskan apa yang dimaksud dengan area sampling dan bagaimana kaitannya dengan
metode pemilihan sampel berdasarkan kelompok
6.12. Uraikan secara singkat mengapa hasil penelitian dengan sampel yang pemilihannya
menggunakan metode nonprobablitas mempunyai kemampuan generalisasi yang
rendah

6. 13 berikan ilustrasi sebagai contoh metode pemilihan sampel nonprobabilitas


berikut ini :
a. Berdasarkan kemudahan
b. Berdasarkan pertimbangan
c. Berdasarkan kuota
6. 14 Jelaskan faktor apa saja yang menentukan ukuran sampel dan berikan contoh
Perhitungan ukuran sampel
6. 15 Uraikan secara singkat tipe-tipe kesalahan berikut ini :
a. kesalahan pemilihan sampel
b. kesalahan sistematis

CATATAN AKHIR

1. Mendenhall, W., and Beaver, R.J., 1992, A Course in Business Statistic, 3rd edition,
PWS-Kent Publishing Company, Boston, USA, hal. 16
2. Sekaran, U ., 1992, Research Methods For Business: A Skill Building Approach, 2nd
Edition, John Wiley & Sons, Inc., New York, USA, hal. 225
3. Zikmund, W,G., 1994, Business Research Methods, 4th Edition, The Dryden Press
Harcourt Brace Collage Publishers, Florida, USA, hal.356.
4. Cooper, D.R., and C.W., Emory 1996, Business Research Methods 5th Edition, Richard
D. Irwin, Inc., USA, hal.200
5. Deming, W.E., 1960, Sample Design in Business Research, John Wiley & Sons, New
York, USA, hal.200
6. Cooper, D.R., and C.W., Emory, loc. Cit
7. Babbie, E., 1994, The Practice of Social Research, 7th Edition, Wadsworth Publishing
Company, USA, hal. 195-196
8. Mendenhall, W., and Beaver, R.J., op.cit., hal.31
9. Zikmund, W.G, op.cit., hal 361
10. Mendenhall, W., and Beaver, R.J., op.cit., hal 182.
11. Babbie, E., op.cit., hal.195-198
12. Fowler, F.J., 1993, Survey Research Methods, 2nd Edition, Sage Publications, Inc,
California, USA, hal. 14.
13. Sekaran, U., op.cit., hal 239.
14. Zikmund, W.G., op.cit., hal 365-367.
15. Cooper, D.r., and C.w., Emory, op.cit., hal.206
BAB 7

TOPIK PEMBAHASAN

SUMBER DAN METODE


PENGUMPULAN DATA

JENIS DATA
Data Subyek TUJUAN
Menjelaskan jenisPEMBAHASAN
dan sumber data, serta
Data Fisik
kaitannya dengan metode pengumpulan
Data Dokumenter
data penelitian

SUMBER DATA
Menjelaskan tujuan, tipe dan penelusuran
Data Primer data dalam penelitian data sekunder
Data Sekunder
Membahas metode survey dan metode
PENELITIAN DATA SEKUNDER observasi sebagai metode pengumpulan
Tujuan penelitian data data primer
Sekunder
Tipe Data Sekunder Menjelaskan kelebihan dan kelemahan
Penelusuran Data teknik wawancara dan teknik kuisioner
Sekunder dalam metode survey

METODE SURVEI Menjelaskan tipe-tipe observasi dalam


Wawancara penelitian data primer
Kuisioner

METODE OBSERVASI
Observasi Langsung
Observasi Terhadap
Peilaku dan Lingkungan
Sosial
Observasi Mekanik
MASALAH/PERTANYAAN
PENELITIAN

TELAAH TEORITIS HIPOTESIS

PENGUJIAN FAKTA

Pemilihan Data
HASIL
Pengumpulan Data

Analisis data

KESIMPULAN

Bab ini membahas proses pengumpulan data yang merupakan bagian dari tahap pengujian
fakta setelah proses pemilihan data. Materi pembahasan dimulai dengan jenis dan sumber
data yang terkait dengan pemilihan metode pengumpulan data penelitian. Metode
pengumpulan data penelitian dibahas berdasarkan sumber data sekunder dan primer.
Pembahasan mengenai metode pengumpulan data primer terdiri atas: (1) metode survei, yang
terdiri atas teknik wawancara dan teknik kuisioner, dan (2) metode observasi.

JENIS DATA

Berdasarkan jenis data yang diteliti, seperti yang telah dibahas dalam bab 2, penelitian dapat
diklasifikasikan ke dalam: penelitian opini, penelitian empiris dan penelitian arsip. Jenis data
penelitian berkaitan dengan sumber data dan penelitian arsip. Jenis data penelitian berkaitan
dengan sumber data dan pemilihan metode yang digunakan oleh peneliti untuk memperolwh
data penelitian. Penentuan metode pengumpulan data dipengaruhi oleh jenis dan sumber data
penelitian yang dibutuhkan.

Data penelitian pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Data Subyek
2. Data Fisik
3. Data documenter
Data subyek (Self-Report Data)

Data subyek adalah jenis data penelitian yang berupa opini, sikap, pengalaman atau
karakteristik dari seseorang atau sekelompok orang yang menjadi subyek penelitian
(responden) . Data subyek, dengan demikian, merupakan data penelitian yang dilaporkan
sendiri oleh responden secara individual atau secara kelompok yang sumbernya. Data subyek
selanjutnya diklasifikasi berdasarkan bentuk tanggapan (respon) yang diberikan, yaitu : lisan
(verbal), tertulis dan ekspresi. Respon verbal diberikan tanggapan atas pertanyaan yang
diajukan oleh peneliti dalam wawancara. Respon tertulis diberikan sebagai tanggapan atas
pertanyaan tertulis (kuisioner) yang diajukan oleh peneliti . respon ekspresi diperoleh peneliti
dari proses observasi.

Data Fisik (Physical Data)

Data fisik merupakan jenis data penelitian yang berupa obyek atau benda-benda fisik, antara
lain dalam bentuk : bangunan atau bagian dari bangunan, pakaian, buku , dan senjata. Data
fisik merupakan benda berwujud yang menjadi bukti suatu keberadaan atau kejadian pada
masa lalu. Data fisik dalam penelitian bisnis dikumpulkan melalui metode observasi.

Data Dokumenter (Documentary Data)

Data documenter adalah jenis data penelitian yang antara lain berupa faktur, jurnal, surat-
surat, notulen hasil rapat, memo atau dalam bentuk laporan, program. Data documenter
memuat apa dan kapan suatu kejadian atau transaksi. Serta siapa yang terlibat dalam suatu
kejadian. Data documenter dalam penelitian dapat menjadi bahan atau dasar observasi dan
analisis dokumen yang dikenal dengan content analysis. Data documenter yang dihasilkan
melalui content analysis antara lain berupa : kategori isi, telaah dokumen, pemberian kode
berdasarkan karakteristik kejadian atau transaksi.

Jenis data penelitian


Lisan (verbal)

Data Subyek

Tertulis

Jenis Data Data Fisik

Ekspresi

Data
dokumenter
SUMBER DATA

Sumber data penelitian merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam
penentuan metode pengumpulan data, disamping jenis data yang telah dibahas dimuka.
Sumber data penelitian terdiri atas :sumber data primer dan sumber data sekunder.

Data primer (Primary Data)

Data primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber
asli (tidak melalui media perantara). Data primer secara khusus dikumpulkan oleh peneliti
untuk menjawab pertanyaan penelitian. Data primer dapat berupa opini subyek (orang) secara
individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik) , kejadian atau
kegiatan, dan hasil pengujian. Peneliti dengan data primer dapat mengumpulkan data sesuai
dengan yang diinginkan, karena data yang tidak relevan dengan tujuan penelitian dapat
dieliminir untuk mengumpulkan data primer, yaitu : 1) metode survey dan 2) metode
observasi yang secara rinci akan dibahas pada bagian lain dalam bab ini.

Data sekunder (secondary data)

Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak
langsung melalui metode perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data sekunder
umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data
documenter) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan.

PENELITIAN DATA SEKUNDER

Metode penelitian yang umumnya menggunakan data sekunder adalah penelitian arsip yang
memuat kejadian masa lalu/ historis. Pengumpulan data sekunder relatif lebih cepat dan lebih
murah dibandingkan dengan pengumpulan data primer. Data sekunder, meskipun demikian,
umumnya tidak dirancang secara spesifik untuk memenuhi kebutuhan penelitian tertentu.
Seluruh atau sebagian aspek dari data sekunder kemungkinan tidak sesuai kebutuhan suatu
penelitian. Peneliti, oleh karena itu, sebelum menggunakan data sekunder harus melakukan
evaluasi apakah data sekunder yang tersedia dapat memenuhi kebutuhan peneliti.

Beberapa aspek dari data sekunder yang harus dievaluasi oleh peneliti, antara lain berkaitan
dengan hal-hal sebagai berikut :

1. Kemampuan data yang tersedia untuk menjawab masalah atau pertanyaan (kesesuaiannya
dengan tujuan penelitian)
2. Kesesuaian antara periode waktu tersedianya data dengan periode waktu yang diinginkan
dalam penelitian.
3. Kesesuain antara populasi data yang ada dengan populasi yang menjadi perhatian peneliti.
4. Relevansi dan konsistensi unit pengukur yang digunakan.
5. Biaya yang diperlukan untuk megumpulkan data sekunder.
6. Kemungkinan bias yang ditimbulkan oleh data sekunder.
7. Dapat atau tidaknya dilakukan pengujian terhadap akurasi pengumpulan data.
Hubungan Sumber dan Jenis Data Penelitian Data Subyek

Data Primer

Data Fisik
Sumber Data

Data sekunder Data Dokumenter

Tujuan Penelitian

Peneliti perlu memahami bahwa tidak semua jenis masalah atau pertanyaan dalam penelitian
bisnis dapat dijawab dengan menggunakan data sekunder. Ada dua kategori tujuan penelitian
bisnis yang umumnya menggunakan data sekunder, yaitu : pengungkapan fakta dan
penyusunan model.

Pengungkapan Fakta (Fact Finding)

Tujuan penelitian untuk mengungkapkan fakta merupakan salah satu kategori yang
mengungkapkan kinerja dan kondisi keuangan suatu perusahaan atau beberapa perusahaan
dalam satu industry memerlukan berupa analisis perbandingan data keuangan secara
horizomtal (beberapa perusahaan dalam satu periode) atau secara vertical (satu perusahaan
dalam beberapa periode).

Penyusunan Model ( Model Building)

Tujuan penelitian untuk menyusun model yang menunjukkan hubungan antara dua variabel
atau lebih, merupakan kategori penelitian dengan data sekunder yang lebih kompleks
dibandingkan dengan pengungkapan fakta. Model yang disusun umumnya menggunakan
persamaan hubungan variabel yang bersifat deskriptif atau prediktif. Berikut ini adalah
contoh penelitian data sekunder yang mempunyai tujuan untuk menyusun model hubungan
antara dua variabel atau lebih.

Tipe Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian bisnis umumnya dapat diperoleh dari perusahaan yang diteliti
atau data yang dipublikasikan untuk umum. Berdasarkan sumbernya, data sekunder dapat
diklasifikasikan menjadi data internal dan data eksternal.

Data Internal

Dokumen-dokumen akuntansi dan operasi yang dikumpulkan, dicatat dan disimpan didalam
suatu organisasi merupakan tipe data internal. Peneliti yang bukan berasal dari organisasi
tersebut umunya sulit untuk emmperoleh data internal. Beberapa contoh data internal, antara
lain : faktur penjualan, jurnal penjualan , laporan penjualan periodic, surat0surat, notulen
hasil rapat dan memo manajemen.

Data Eksternal

Data sekunder eksternal umunya disusun oleh suatu entitas selain peneliti dari organisasi
yang bersangkutan. Tipe data sekunder eksternal berdasarka penerbitnya antara lain dapat
berupa :

1 Buku, jurnal atau berbagai macam bentuk terbitan secara periodic yang diterbitkan oleh
organisasi dari instansi tertentu ,missal Jurnal Riset Akuntansii Indonesia oleh Kompartemen
Akuntan Pendidik Ikatan Akuntan Indonesia.

2 Terbitan yang dipublikasikan oleh Instansi pemerintah , missal Indikator ekonomi oleh biro
pusat statistik atau statistic ekonomi dan keuangan oleh Bank Indonesia

3 Terbitan yang dikeluarkan oleh media massa atau perusahaan penerbit, misal Indonesian
Capital Market Directory oleh Institute for Economic and Financial Research.

Data sekunder eksternal berdasarkan tipe data yang dipublikasikan , antara lain dapat berupa :

1. Data sensus
2. Data statistic
3. Data pasar
4. Data industry
5. Direktori perusahaan
6. Data investasi
7. Indeks atau pedoman referensi

Penelusuran Data Sekunder


Kepustakaan merupakan bahan utama dalam penelitian data sekunder. Penelusuran data
sekunder memerlukan cara agar penelitian data sekunder dapat dilakukan lebih cepat dan
efisien. Untuk mencari data sekunder yang diperlukan dapat dimulai dengan penelusuran
terhadap indeks bibliographic, yaitu indeks mengenai judul artikel, penulis, nama dan jenis
penerbitan atau data indeks yang sesuai dengan klasifikasi desain dan metode penelitian.
/dalam penelitian bisnis, penelusuran indeks dapat juga menggunakan klasifikasi bidang
bisnis, misal : keuangan , akuntansi, marketing atau manajemen sumber daya manusia. Jika
tidak tersedia indeks bibliographic, peneliti dapat menggunakan daftar Referensi dalam buku
atau artikel yang dimuat dalam jurnal , majalah atau surat kabar.
Penelusuran data ekunder dilakukan dengan dua cara :
1. Penelusuran secara manual untuk data dalam format kertashasil cetakan
2. Penelusuran dengan computer untuk data dalam format elektronik
Tipe data sekunder Misal, faktur penjualan, jurnal
penjualan, laporan penjualan
Data
periodic, surat-surat, notulen
Internal
hasil rapat, dan memo
manajemen.
Tipe data
sekunder
Buku, Jurnal, Majalah atau
Bulletin antara lain yang
Data
memuat data indeks atau
Eksternal
referensi hasil sensus, statistic,
pasar, industry , direktori
perusahaan dan investasi.

Penelusuran secara Manual

Data sekunder yang disajikan dalam format kertas hasil cetakan diperoleh melalui
penelusuran secara manual. Cara penelusuran ini relative lebih lama dibandingkan dengan
menggunakan computer. Saat ini belum semua data sekunder yang dibutuhkan dengan
menggunakan computer. Saat ini belum semua data sekunder yang dibutuhkan oleh peneliti
disaikan dalam format elektronik, sehingga penelusuran oleh peneliti disajikan dalam format
elektronik, sehingga penelusuran secara manual masih diperlukan. Data sekunder yang
disajikan dalam format kertas hasil cetakan antara lain berupa : jurnal, masalah, bulletin, dan
bentuk publikasi yang diterbitkan secara periodic , buku, atau sumber data lainnnya (misal
laporan tahunan perusahaan ).

Penelusuran dengan Komputer

Penelusuran data sekunder dengan computer relative lebih cepat, lengkap, dan efektif
dibandingkan dengan penelusuran secara manual. Data sekunder yang memerlukan
penelusuran dengan computer adalah data yang disajikan dalam format elektronik. Data
elektronik (database) dapat berupa numeric dan text database . Data sekunder berupa
database, seperti yang dijelaskan dalam bab 3. Terdiri atas tiga tipe : bibliographic, abstract
dan full-text database. Bibliographic dan abstract database adalah reference database yaitu
berisi kutipan-kutipan singkat yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut oleh peneliti. Full-
text database merupkan source database memuat informasi lengkap yang berisi data berupa
angka atau teks yang dapat diakses melalui internet, online systems atau CD-ROM. Data
sekunder yang tersedia antara lain berupa ; katalog perpustakaan, database informasi,
laporan-laporan atau artikel hasil penelitian.
METODE SURVEI (SURVEY METHODS)

Metode survey dan metode observasi, seperti yang telah disebutkan di muka, merupakan
metode pengumpulan data primer yang diperoleh secara langsung dari sumber asli. Data
primer dikumpulkan oleh peneliti dimaksudkan umtuk menjawab pertanyaan penelitian.
Metode survey merupakan metode pengumpulan data primer yang menggunakan pertanyaan
lisan dan tertulis. Metode ini memerlukan adanya kontak atau hubungan antara peneliti
dengan subyek (responden) penelitian untuk memperoleh data yang diperlukan. Metode
survey, oleh karena itu, merupakan metode pengumpulan data primer berdasarkan
komunikasi antara peneliti dengan responden. Data penelitian berupa data subyek yang
menyatakan opini, sikap, pengalaman atau karakteristik subyek penelitian secara individual
atau secara kelompok. Data yang diperoleh sebagian besar merupakan data deskriptif,
meskipun demikian, pengumpulan data dengan metode survey dapat diranvang untuk
menjelaskan sebab akibat atau mengungkapkan ide ide. Peneliti umumnya menggunakan
metode survey untuk mengumpulkan data yang sama dari banyak subyek. Ada dua teknik
pengumpulan data dalam metode survey, yaitu: 1. wawancara , 2. Quisioner.

Wawancara (Interview)

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dalam metode survey yang menggunakan
pertanyaan secara lisan kepada subyek penelitian. Teknik wawancara dilakukan jika peneliti
memerlukan komunikasi atau hubungan dengan responden. Data yang dikumpulkan
umumnya berupa masalah tertentu yang bersifat kompleks, sensitive atau controversial,
sehingga kemungkinan jika dilakukan dengan teknik quisioner akan kurang memperoleh
tanggapan responden. Teknik wawancara dilakukan terutama untuk responden yang tidak
dapat membaca menulis atau jenis pertanyaan yang memerlukan penjelassan dari
pewawancara atau memerlukan penjelasan dari pewawancara atau memerlukan
penerjemahan. Hasil wawancara selanjutnya dicatat oleh pewawancara sebagai data
penelitian. Teknik wawancara dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: melalui tatap muka
atau melalui telepon.

Wawancara Tatap Muka (Personal atau Face to face Interviews)

Metode pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan cara komunikasi secara langsung
(tatap muka) antara pewawancara yang mengajukan pertanyaan secara lisan dengan
responden yang menjawab pertanyaan secara lisan. Wawancar tatap muka dapat dilakukan di
tempat bekerja responden, di rumah responden, di pusat perbelanjaan atau di tempat lain.

Teknik wawancara tatap muka mempunyai kelebihan dibandingkan wawancara


melalui telepon dan teknik kuisioner. Teknik ini memungkinkan yang mengajukan banyak
pertanyaan dan yang memerlukan waktu lebih lama dibandingkan dengan wawancara melalui
telepon. Teknik ini memungkinkan bagi pewawancara untuk memahami kompleksitas
masalah dan menjelaskan maksud penelitian kepada responden. Partisipasi responden
penelitian relative lebih tinggi dibandingkan dengan teknik kuisioner.
Wawancara tatap muka, meskipun demikian, dapat menyebabkan kemungkinan
jawaban responden yang bisa karena terpengaruh oleh pewawancara. Teknik ini memerlukan
banyak biaya dan tenaga jika jumlah responden penelitian relative banyak dan lokasi
wawancara secara geografis terpencar.

Wawancara dengan Telepon (Telephone Interviews)

Pertanyaan peneliti dan jawaban responden (wawancara) dapat juga dikemukakan melalui
telepon. Teknik ini dapat mengatasi kelemahan wawancara tatap muka karena dapat
mengumpulkan data dari responden yang letak geografisnya terpencar dengan biaya lebih
murah dan diperoleh dengan waktu yang relative cepat. Jumlah tenaga pengumpulan data
relative lebih sedikit dibandingkan dengan tenaga yang diperlukan dalam wawancara tatap
muka.

Kelemahannya, pewawancara tidak dapat mengamati ekspresi wajah responden ketika


menjawab pertanyaan yang pada kondisi tertentu diperlukan untuk meyakinkan apakah
responden menjawab peetanyaan sesuai dengan fakta. Wawancara melalui telpon
memungkinkan bagi responden memutus hubungan telpon karena merasa keberatan
menjawab suatu pertanyaan. Jika responden penelitian yang diharapkan adalah merupakan
sampel dari populasi yang umum, maka tidak semua sampel yang representative mempunyai
pesawat telepon. Wawancara dengan telpon, disamping itu memiliki kelemahan pada
terbatasnya jumlah pertanyaan yang dapat diajukan. Durasi wawancara dengan telepon
umumnya tidak lebih dari sepuluh menit untuk setiap responden.

Perkembangan teknologi computer memungkinkan teknik wawancara via telepon


dengan bantuan computer (computer Assisted Telephone Interviewing) untuk mencatat
jawaban responden. Pewawancara mengajukan pertanyaan via telepon sesuai dengan
tampilan pada monitor dan memasukkan data kedalam computer berdasarkan jawaban
responden yang disampaikan melalui telepon. Jawaban responden secara otomatis akan
disimpan dalam memori computer. Computer Assisted Telephone Interviewing umumnya
memerlukan jawaban yang terstruktur berdasarkan program tertentu. jika jawaban responden
tidak sesuai dengan yang telah diprogramkan, computer akan menolak jawaban responden.

Kuisioner (Questionnaires)

Pengumpulan data penelitian pada kondisi tertentu kemungkinan tidak memerlukan


kehadiran penelitian. Pertanyaan peneliti dan jawaban responden dapat dikemukakan secara
tertulis melalui suatu kuisioner. Teknik ini memberikan tanggungjawab kepada respon den
untuk membaca dan menjawab pertanyaan. Kuisioner dapat distribusikan dengan berbagai
cara, antara lain: kuisioner disampaikan langsung oleh peneliti, dikirim bersama-sama dengan
pengiriman paket atau majalah, diletakkan ditempat-tempat yang ramai dikunjungi banyak
orang, dikirim melalui pos, facsimile atau menggunakan teknologi computer.

Kuisioner secara Personal (Personally Administered Questionnaires)

Jika lokasi antar responden relative berdekatan, misal dalam suatu perusahaan atau tempat
kerja, penggunaan teknik kuisioner yang disampaikan dan dikumpulkan langsung peneliti
merupakan cara yang sesuai. Peneliti dapat berhubungan langsung dengan responden dan
memberikan penjelasan seperlunya dan kuisioner dapat langsung dikumpulkan setelah selesai
dijawab oleh responden. Teknik ini, seperti halnya wawancara tatap muka, biayanya relative
mahal jika jumlah respondennya relative banyak dan letak geografisnya terpencar.

Kuisioner Lewat Pos (Mail Questionnaires)

Kuisioner yang diajukan kepada responden dan jawaban responden dikirim melalui pos.
Teknik ini memungkinkan peneliti memperoleh jawaban dari responden yang letak
geografisnya terpencar. Jumlah pertanyaan yang diajukan relative banyak yang tidak efisien
jika pertanyaan tersebut diajukan lewat telepon. Kelemahan utama teknik kuisioner yang
dikirim lewat pos, responden sering menolak untuk menjawab dengan tidak mengirimkan
kembali kusioner kepada peneliti. Teknik ini memiliki tingkat tanggapan (response rate) yang
paling rendah dibandingkan dengan teknik pengumpulan data primer yang lain. Apalagi jika
peneliti tidak memberikan perangko balasan. Kemungkinan tanggapan responden tidak sesuai
dengan konteks pertanyaan atau kuisioner yang dikembalikan responden tidak diisi secara
lengkap sehingga tidak dapat digunakan sebagai data penelitian

Gambar 7.4, berikut ini menyajikan secara ringkas kelebihan dan kelemahan masing-
masing teknik pengumpulan data penelitian yang digunakan dalam metode survey

Gambar 7.4. kelebihan dan Kelemahan Teknik Wawancara dan Teknik Kuisioner

Teknik survei Kelebihan Kelemahan


Wawancara - Menghasilkan lebih banyak data 1. Memungkinkan terjadinya
Tatap Muka - Kontak langsung dengan bias
responden, sehingga peneliti 2. Memerlukan biaya dan
dapat menanyakan masalah waktu yang realtif banyak,
yang lebih kompleks, sensitive, jika jumlah responden
atau controversial (sampel) relative besar dan
- Tingkat partisipasi responden secara goegrafis letaknya
relative tinggi terpencar.

Wawancara 1. Waktu pengumpulan data


Via Telepon responden relative lebih cepat 1. Pewawancara tidak dapat
dengan tenaga dan biaya yang mengamati ekspresi
realtif lebih sedikit responden saat
memberikan tanggapan
2. Memperoleh tanggapan segera
dari responden setelah 2. Responden setiap saat
pewawancara dapat dapat menolak untuk
menghubunginya lewat telepon. menanggapi pertanyaan
dengan memutus hubungan
telepon
3. Durasi wawancara relative
terbatas
4. Responden bukan
merupakan sampel yang
refresentatif mewakili
semua lapisan masyarakat
Kuisioner 1. Peneliti dapat memberi
secara Personal penjelasan mengenai tujuan
survey dan pertanyaan yang 1. Waktu dan biaya pengumpulan
kurang dipahami oleh data relative banyak jika
responden responden yang harus
2. Tanggapan atas kuisioner dapat dihubungi secara geografis
langsung dikumpulkan oleh terpencar
peneliti setelah selesai diisi oleh 2. Memungkinkan terjadinya bias
responden oleh surveyor

Kuisioner
Melalui Pos 1. Pengumpulan data
responden yang terpencar
memerlukan waktu dan 1. Tingkat tanggapan (response
biaya relative sedikit rate) responden umumnya
dibandingkan dengan teknik lebih rendah dibandingkan
wawancara dengan teknik wawancara dan
2. Jumlah pertanyaan yang kuisioner yang dikumpulkan
diajukan relative lebih secara personal
banyak 2. Tanggapan responden
3. Meminimalisasi kemungkinan tidak sesuai
kemungkinan terjadinya dengan konteks/maksud
bias oleh peneliti pertanyaan dalam kuisioner
3. Responden kemungkinan
mengisi kuisioner secara tidak
lengkap

METODE OBSERVASI (OBSERVATION METHODS)

Metode pengumpulan data primer dalam penelitian ilmiah selain survei adalah observasi,
yaitu proses pencatatan pola perilaku subyek (orang), obyek (benda) atau kejadian yang
sistematik tanpa adanya pertanyaan atau komunikasi dengan individu-individu yang diteliti.
Kelebihan metode observasi dibandingkan dengan metode survei bahwa data yang
dikumpulkan umumnya tidak terdistors, lebih akurat dan bebas dari response bias. Metode
observasi dapat menghasilkan data yang lebih rinci mengenai perilaku (subyek), benda atau
kejadian (obyek) dibandingkan dengan metode survei. Metode observasi meskipun demikian,
tidak bebas dari kesalahan-kesalahan. Pengamat kemungkinan memberikan catatan tambahan
yang bersifat subyektif (observer bias), seperti halnya terjadinya bias karena pengaruh peran
pewawancara dalam metode survei.

Tipe-tipe Observasi

Ada beberapa jenis subyek, obyek dan kejadian yang dapat diobservasi oleh peneliti, antara
lain : perilaku fisik, perilaku verbal, perilaku ekspresif, benda fisik, atau kejadian-kejadian
yang rutin dan temporal. Teknik observasi dalam penelitian bisnis dapat dilakukan dengan
observasi langsung oleh peneliti atau dengan bantuan peralatan mekanik. Tipe observasi yang
dilakukan langsung oleh peneliti dinamakan observasi langsung (direct observation),
terutama untuk subyek atau obyek penelitian yang sulit diprediksi. Teknik observasi yang
dilakukan dengan bantuan peralatan mekanik, antara lain: kamera foto, video, mesin
penghitung disebut observasi mekanik (mechanical observation). Observasi mekanik
umunya diterapkan pada penelitian terhadap perilaku atau kejadian yang bersifat rutin,
berulang-ulang dan telah terprogram sebelumnya.
Teknik observasi langsung dan observasi mekanik dapat dilakukan tanpa sepengetahuan
subyek yang diteliti (hidden observation) atau dengan sepengetahuan responden (visible
observation). Observasi yang dilakukan tanpa sepengetahuan responden dimaksudkan agar
perilaku atau kejadian yang diamati dapat berlangsung wajar atau alami dan untuk
menghindari kemungkinan perilaku reaktif dari subyek yang diteliti. Penggunaan teknik
hidden observation (disebut juga unobstrusive observation) diharapkan dapat
meminimalkan kemungkinan terjadinya respondent error. Meskipun sebagian besar teknik
observasi diterapkan pada setting lingkungan yang alami, peneliti dapat juga melakukan
observasi pada setting artifisal (contrived observation). Observasi pada setting lingkungan
buatan umumnya diterapkan pada penelitian yang bertujuan untuk menguji suatu hipotesis.

Observasi Langsung (Direct Observation)

Penggunaan teknik observasi langsung memungkinkan bagi peneliti untuk mengumpulkan


data mengenai perilaku dan kejadian secara detail. Peneliti dalam observasi langsung tidak
berusaha untuk memanipulasi kejadian yang diamati. Pengamat hanya mencatat apa yang
terjadi sehingga mempunyai peran yang pasif. Banyak tipe data yang dikumpulkan melalui
teknik observasi langsung ini hasilnya lebih akurat dan memerlukan biaya yang relatif lebih
ekonomis dibandingkan dengan teknik wawancara atau pertanyaan yang digunakan dalam
metode survei. Data yang diperoleh melalui observasi langsung kadang digunakan untuk
melengkapi data yang diperoleh melalui wawancara atau kuisioner.
Teknik observasi langsung, meskipun tidak memerlukan komunikasi dengan reponden, tidak
bebas dari kemungkinan kesalahan. Data yang dikumpulkan melalui teknik ini kadang
dipengaruhi oleh subyektivitas pengamat dalam menginterpretasikan perilaku atau kejadian
selama proses observasi. Metode observasi pada penelitian terhadap perilaku lebih
menekankan pada respon subyek secara nonverbal dibandingkan dengan metode survei yang
lebih menekankan pada respon subyek secara verbal. Respon nonverbal atau perilaku
ekspresi yang umumnya digunakan dalam komunikasi, antara lain : mengangguk, tersenyum
mengernyitkan alis mata, dan ekspresi wajah yang lain atau bahasa tubuh (isyarat). Observasi
terhadap perilaku ekspresi atau komunikasi nonverbal yang lain sering menghasilkan
interpretasi yang keliru. Misal, pengamat kemungkinan menginterpretasikan bahwa
tersenyum atau tertawa merupakan ekspresi dari kegembiraan seseorang.

Observasi Terhadap Perilaku dan Lingkungan Sosial

Tujuan observasi dalam banyak hal adalah untuk memahami perilaku dan kejadian-kejadian
dalam lingkungan sosial. Ada dua teknik observasi yang dapat digunakan pada penelitian
terhadap lingkungan sosial, yaitu : (1) participant observation dan (2) nonparticipant
observation.

Participant Observation

Penelitian melakukan observasi dengan cara melibatkian atau menjadi bagian dari lingkungan
sosial atau organisasi yang diamati. Peneliti melalui teknik ini dapat memperoleh data yang
relatif lebih banyak dan akurat, karena peneliti dapat secara langsung mengamati perilaku dan
kejadian-kejadian dalam lingkungan sosial yang diteliti. Kehadiran peneliti kemungkinan
dapat diketahui atau tidak diketahui oleh lingkungan sosial yang diamati. Teknik yang
digunakan untuk mengumpulkan data adalah kombinasi antara observasi langsung dan
wawancara secara formal dan nonformal.

Nonparticipant Observation

Peneliti dapat melakukan observasi sebagai pengumpul data tanpa melibatkan diri atau
menjadi bagian darilingkungan sosial atau organisasi yang diamati. Misal, seorang peneliti
dapat berada di sudut ruangan suatu kantor untuk melihat dan mencatat bagaimana seorang
manajer menggunakan waktunya. Kegiatan ini umumnya memerlukan waktu yang relatif
lama, apalagi jika manajer yang diamati jumlahnya relatif banyak.

Content Analysis

Content analysis merupakan metode pengumpulan data penelitian melalui teknik observasi
dan analisis terhadap isi atau pesan dari suatu dokumen (antara lain berupa: iklan, kontrak
kerja, laporan, notulen, rapat, surat jurnal, majalah atau surat kabar). Tujuan content analysis
adalah melakkan identifikasi terhadap karakteristik atau informasi spesifik yang terdapat pada
suatu dokumen untuk menghasilkan deskripsi yang objektif dan sistematik. Hasil content
analysis seperti yang telah dijelaskan dimuka, antara lain: kategori isi, telaah, pemberian kode
berdasarkan karakteristik kejadian atau transaksi yang terdapat dalam suatu dokumen.
Buku megatrends yang ditulis oleh John Naisbitt merupakan contoh penerapan content
analysis dalam penelitian bisnis. John Naisbit adalah seorang peneliti yang dalam buku
tersebut memaparkan hasil content analysis terhadap 6000 surat kabar yang terbit di USA
berupa proyeksi kecenderungan sosial. Berdasarkan hasil content analysis ada dua
kecenderungan masyarakat di USA yang menonjol, yaitu: (1) kecenderungan
penyelenggaraan pemerintahan dinegara federal kearah desentralisasi kekuasaan, (2)
kecenderungan penyelenggaraan manajemen perusahaan kearah perampingan usaha
(downsizing) dan menjadi lebih demokratik, equalitarian dan spontan.

Observasi Mekanik

Teknik observasi dalam keadaan tertentu sering lebih tepat dilakukan dengan bantuan mesin
dibandingkan dilakukan oleh manusia. Observasi mekanik dalam penelitian bisnis dilakukan
untuk mengukur dan mengevaluasi reaksi fisik atau bagian tubuh dari manusia. Ada empat
macam peralatan mekanik yang dapat digunakan untuk mengukur reaksi fisik, yaitu: (1)
pengukur penggerakan mata (eye-tracking monitors), (2) pengukur pergerakan biji atau
manik mata (pupilometers), (3) pengukur reaksi kulit (psychogalyanometer), dan (4)
pengukur perubahan suara (voice pitch analyzers).
Alat-alat mekanik yang digunakan dalam observasi saat ini mengalami perkembangan pesat
sejalan dengan perkembangan teknologi komputer. Misal, saat ini mulai banyak digunakan
teknik observasi mekanik melalui deteksi karakter (huruf,angka atau simbol) secara optik
dengan sistem kode produk universal (universal product code). Contoh penggunaan sistem ini
adalah penggunaan kode batang (bar codes) pada produk yang dijual di supermarket untuk
mempercepat transaksi penjualan dan pencatatannya dengan bantuan optical scanner. Sistem
yang digunakan juga untuk fungsi penyimpanan dan pengiriman produk ini, tentu saja,
menghasilkan pelayanan penjualan dan informasi yang lebih cepat dan akurat dibandingkan
jika dilakukan langsung oleh manusia.
Gambar 7.5 Tipe Observasi

Hidden
Observasi Observation
Langsung

Tipe Observasi Visible


Observation
Observasi
Mekanik

RINGKASAN

Data penelitian dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu: (1) data subyek yang
berupa opini, sikap, pengalaman atau karakteristik subyek penelitian, (2) data fisik berupa
benda berwujud yang menunjukkan keberadaan atau kejadian pada masa lalu, dan (3) data
dokumenter yang memuat arsip mengenai apa, kapan suatu kejadian dan siapa yang
terlibat dalam kejadian tersebut. Berdasarkan bentuk tanggapan yang diberikan responden,
data subyek dikelompokkan ke dalam: (1) respon lisan, respon tertulis dan respon
ekspresi.
Sumber data penelitian diklasifikasikan ke dalam: (1) sumber primer, yang diperoleh
langsung dari sumber data tanpa melalui media perantara dan (2) data sekunder yang
diperoleh melalui media perantara. Data primer secara spesifik dikumpulkan peneliti untuk
menjawab masalah atau pertanyaan penelitian, sedang data sekunder tidak secara spesifik
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan enelitian tertentu.
Penelitian dengan menggunakan data sekunder merupakan penelitian terhadap jenis data
dokumenter yang proses pengumpulan datanya relatif lebih cepat dan lebih murah
dibandingkan dengan proses pengumpulan data primer. Penelitian data sekunder umunya
mempunyai tujuan: (1) pengungkapan fakta dan (2) penyusunan model. Tipe data
sekunder dapat dikelompokkan menjadi: (1) data internal yang diperoleh peneliti dari
suatu organisasi, dan (2) data eksternal yang sengaja dipublikasikan untuk kepentingan
umum. Data sekunder dapat dicari atau ditelusur secara manual atau melalui komputer.
Metode survei merupakan metode pengumpulan data primer yang memerlukan adanya
komunikasi antara peneliti dengan responden. Ada dua cara pengumpulan data dalam
metode survei: (1) teknik wawancara, yang terdiri atas: wawancara tatap muka dan
wawancara melalui telepon, (2) teknik kuesioner yang penyampaian dan pengumpulannya
dapat dilakukan secara personal atau melalui pos. Masing-masing teknik pengumpulan
data dalam metode survei mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Selain metode survei, pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan menggunakan
metode observasi. Metode survei lebih menekankan pada tanggapan responden dalm
bentuk respon verbal dan tertulis, sedangmetode observasi lebih menekankan pada respon
ekspresi. Metode observasi dapat dilakukan secara langsung (observasi langsung) atau
dengan bantuan peralatan mekanik. Penerapan teknik observasi langsung dapat dilakukan
dengan sepengetahuan subyek yang diamati (visible observation) atau tanpa
sepengetahuan subyek penelitian (hidden observation).

7. Hastuti, A.W., dan B., Sudibyo, 1998, Pengaruh publikasi laporan arus kas terhadap
volume perdagangan saham di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia,
Vol. 1 No. 2, Juli, hal. 239-254.
8. Utami, W., dan suharmadi, 1998, pengaruh informasi penghasilan perusahaan
terhadap harga saham di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.
1 No. 2, Juli, hal. 255-268.
9. Zainuddin dan j., Hartono 1999, Manfaat Rasio keuangan dalam Memprediksi
Pertumbuhan Laba : Suatu Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan yang terdaftar
di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 2 No. 1, Januari, hal.
66-90.
10. Budiarto, A., dan Z., Baridwan, 1999, Pengaruh Pengumuman Right Issue terhadap
Tingkat Keuntungan dan Likuiditas Saham di Bursa Efek Jakarta Periode 1995-
1996, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 2 No. 1, Januari, hal. 91-116.
11. Jin, L.S., dan M., Machfoeds, 1998, Faktor-Faktor yang mempengaruhi praktik
perataan laba pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset
Akuntansi Indonesia, Vol. 1 No. 2, Juli, hal. 174-191.
12. Cooper, D.R., and C.W., Emory, op.cit., hal. 244-245.
13. Zikmund, W.G., op.cit., hal. 170.
14. Hedrick, T.E., L., Bickman, and D.J., Rog, op.cit., hal.85.
15. Sekaran, U., 1992, Research Methods For Business : A Skill Building Approach, 2nd
Edition, John Willey & Sons, Inc., New York, USA, hal. 215-216.
16. Jorgensen, D.L., 1989, Participant Observation : A Methodology for Human Studies,
Sage Publications, Inc., USA, hal. 12-13.
17. Zikmund, W.G., op.cit., hal.234.
TOPIK PEMBAHASAN ANALISIS DATA (1)

PNEGGUNAAN STATISTIK

TAHAP PERSIAPAN
Pengeditan
Pemberian Kode TUJUAN PEMBAHASAN
Pemrosesan Data
Membahas penggunaan statistik dalam analisa
data
STATISTIK DESKRIPTIF Penelitian

Membahas tahap persiapan analisis data :


FREKUENSI pengeditan,
pemberian kode, dan pemrosesan data
TENDENSI SENTRAL
Menjelaskan statistik seskriptif dengan
Rata-rata menggunakan tabel
Median frekuensi, tendensi sentral dan dispersi
Modus
Menjelaskan uji kualitas data : reliabilitas dan
validitas
DISPERSI
Deviasi Rata-rata
Deviasi Absolut Rata-
rata
Deviasi Kuadrat Rata-
rata
Varian
Deviasi Standar

UJI KUALITAS DATA


Reliabilitas
Validitas
Analisis data penelitian yang merupakan bagian dari proses pengujian data setelah pemilihan
dan pengumpulan data penelitian. Proses analisis data penelitian umumnya terdiri atas
beberapa tahap yaitu : tahap pengujian, analisis deskriptif, pengujian kualitas data dan
pengujian hipotesis. Bab ini membahas semua tahap dalam analisis data tersebut, kecuali
pengujian hipotesis yang dibahas di bab 9. Materi yang dibahas antara lain yaitu : (1) Tahap
persiapan analisis data. Editing, coding dan data processing. (2) Statistik deskriptif dengan
menggunakan ukuran frekuensi, tendensi sentral dan dispersi. (3) Uji kualitas data yang
terdiri atas uji reliabilitas da validitas.

PENGGUNAAN STASTISTIK

Statistik mempunyai banyak pengertian, diantaranya adalah sebagai sekumpulan metode yang
dapat digunakan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal dari suatu data1. Tujuan
penelitian adalah menjawab masalah atau pertanyaan penelitian melalui proses analisis data.
Statistik oleh peneliti digunakan sebagai metode untuk menganalisis data yang dapat berupa :
deskripsi dan estimasi data untuk menarik kesimpulan hasil penelitian. Jika data yang diteliti
berupa sampel, statistik dapat digunakan untuk menarik kesimpulan yang dapat berupa : (1)
deskripsi statistik sampel (Statistik deskriptif) (2) estimasi statistik sampel terhadap
parameter populasinya. (statistik inferensial) dengan menggunakan teknik probabilitas2.

Statistik inferensial selanjutnya dapat dikategorikan kedalam statistik parametrik


dan statistik non-parametrik. Penggunaan statistik parametrik jika data penelitian diukur
dengan skala interval dan skala rasio dan asumsi bahwa distribusi data populasi yang
digunakan untuk memilih sampel penelitian adalah normal. Sedang statistik non-parametrik
digunakan jika data penelitian diukur dengan skala nominal dan skala ordinal, sehingga tidak
memerlukan asumsi data populasi yang distribusinya normal.
TAHAP PERSIAPAN

Analisis data dilakukan setelah peneliti mengumpulkan semua data yang diperlukan dalam
penelitian. Peneliti biasanya melakukan beberapa tahap persiapan data untuk memudahkan
proses analisis data dan interpretasi hasilnya, yaitu4 : pengeditan, pemberian kode, dan
pemprosesan data.

Pengeditan (Editing)

Pengeditan merupakan proses pengecekan dan penyesuaian yang diperlukan terhadap data
penelitian untuk memudahkan proses pemberian kode dan pemprosesan data dengan teknik
statistik. Data penelitian yang dikumpulkan oleh peneliti melalui metode survei atau metode
observasi perlu diedit dari kemungkinan kekeliruan dalam proses pencatatan yang dilakukan
oleh pengumpul data, pengisian kuisioner yang tidak lengkap atau tidak konsisten. Tujuan
pengeditan

Pemberian Kode ( Coding )

Pemberian kode merupakan proses identifikasi dan klasifikasi data penelitian kedalam skor
numeric atau karakter symbol. Proses ini diperlukan terutama untuk data penelitian yang
dapat diklasifikasi misalnya jawaban dari tipe pertanyaan tertutup yang tidak memberikan
alternative kepada responden selain pilihan jawaban yang tersedia. Pemberian kode pada
jawaban dari tipe pertanyaan terbuka relatife lebih sulit karena memerlukan judgement dari
pemberi kode dalam menginterpretasikan jawaban responden. Tujuan pemberian kode pada
tipe pertanyaan terbuka adalah untuk mengurangi variasi jawaban responden menjadi
beberapa kategori umum sehingga dapat diberi skor numeric atau symbol. Teknis pemberian
kode dapat dilakukan sebelum atau setelah pengisian kuisioner. Proses pemberian kode akan
memudahkan dan meningkatkan efisiensi proses data entry ke dalam komputer.

Pemrosesan Data ( Data Processing )

Banyak peneliti saat ini yang melakukan analisis data dengan bantuan teknologi komputer.
Beberapa paket aplikasi statistic yang dapat digunakan untuk analisis data dengan komputer,
antara lain: SPSS, SAS, stat easy dan minitab. Diantara program aplikasi tersebut yang sering
digunakan dalam penelitian bisnis adalah statistical package for the social sciences dan
statistical analysis system. Proses analisis data dengan menggunakan komputer, tentu saja
relative lebih cepat dan hasilnya lebih akurat.

STATISTIK DESKRIPTIF

Statistic deskriptif dalam penelitian pada dasarnya merupakan proses transformasi data
penelitian dalam bentuk tabulasi sehingga mudah dipahami dan diinterpretasikan. Tabulasi
menyajikan ringkasan, pengaturan atau penyusunan data dalam bentuk tabel numeric dan
grafik. Statistic deskriptif umumnya digunakan oleh peneliti untuk memberikan informasi
mengenai karakteristik variable penelitian yang utama dan demografi responden. Ukuran
yang digunakan dalam deskripsi antara lain berupa: frekuensi, tendensi sentral, disperse dan
koefisien korelasi antar variable penelitian. Ukuran yang digunakan dalam statistic deskriptif
tergantung pada tipe skala pengukuran construct yang digunakan dalam penelitian.

FREKUENSI

Frekuensi merupakan salah satu ukuran dalam statistic deskriptif yang menunjukkan nilai
distribusi data penelitian yang memiliki kesamaan kategori. Frekuensi suatu distribusi data
penelitian dinyatakan dengan ukuran absolute atau proporsi. Penyajian statistic deskriptif
yang menggunakan ukuran frekuensi dapat menggunakan tabel numeric atau grafik.

TENDENSI SENTRAL(CENTRAL TENDENCY)

Tendensi sentral merupakan ukuran dalam statistik deskriptif yang menunjukan nilai sentral
dari distribusi data penelitian. Tendensi sentral dapat dinyatakan dengan tiga macam ukuran,
yaitu : rata-rata, median dan modus yang masing-masing mengukur nilai sentral dalam
pengertian yang berbeda.

Rata-rata (mean)

Pengukuran rata-rata merupakan cara yang paling umum digunakan untuk mengukur nilai
sentral suatu distribusi data berdasarkan nilai rata-rata yang dihitung dengan cara membagi
nilai hasil penjumlahan sekelompok data dengan jumlah data yang diteliti.

Rata-rata sampel dinyatakan dengan notasi x dan rata-rata populasi dinyatakan dengan notasi
u(dibaca : mu) yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Berdasarkan data dalam gambar 8.7 , rata-rata unit penjualan per bulan adalah 30 yaitu 270
dibagi 9. Angka rata-rata dalam contoh ini dapat digunakan untuk menilai kinerja setiap
wiraniaga dengan membandingkan antara unit penjualan masing-masing wiraniaga dengan
rata-rata unit penjualan.

Median

Median adalah pengukuran tendensi sentral berdasarkan nilai data yang terletak ditengah-
tengah(midpoint) dari suatu distribusi data penelitian yang disusun secara berurutan.

Angka tengah terletak pada urutan ke-5, maka median atau angka tengah dari susunan data
dalam gambar 8.8. adalah 35.
rata-rata dan median keduanya merupakan pengukuran nilai sentral suatu distribusi data.
Keduanya relatif tidak berbeda jika nilai-nilai dari data yang diteliti relatif tidak ekstrem.
Perbedaan nilai-nilai data yang ekstrem akan menyebabkan distribusi data yang tidak
simetris. Berbeda dengan angka rata-rata, median kurang sensitif terhadap nilai-nilai yang
ekstrem. Gambar 8.9. (b) berikut ini menunjukan pengaruh nilai ekstrem pada rata-rata dan
median.
Modus

Modus merupakan tendensi sentral berdasarkan data yang memiliki frekuensi paling banyak
dalam suatu distribusi data. Berdasarkan data dalam gambar 8.7. dan 8.8. angka yang
memiliki frekuensi paling banyak(modus) adalah 40.

DISPERSI(dispersion)

Dispersi mengukur variasi data yang diteliti dari angka rata-ratanya. Perbedaan antara nilai
data yang diteliti dengan nilai rata-ratanya disebut dengan deviasi(deviation) yang dihitung
dengan rumusan
ada berbagai cara untuk menukur deviasi, antara lain: (1) deviasi rata-rata, (2) deviasi absolut
rata-rata, (3) deviasi kuadrat rata-rata, (4) varian, (5) deviasi standar

Deviasi rata- rata (average deviation)

Deviasi rata-rata adalah penjumlahan dari deviasi masing-masing data yang diteliti dengan
nilai rata-ratanya dibagi dengan jumlah data. Deviasi rata-rata dinyatakan dengan rumus
sebagai berikut:

()
Deviasi rata-rata =

Deviasi dari masing-masing data yang diteliti akan mempunyai nilai negatif jika nilai data
yang diteliti lebih kecil dari nilai rata-ratanya. Demikian pula sebaliknya nilai deviasi
masing-masing data yang diteliti bersifat positif jika nilai data yang diteliti lebih besar dari
nilai rata-rata. Kelemahan deviasi rata-rata adalah jika nilai deviasi yang bertanda negatif
sama besarnya dengan nilai deviasi yang bertanda positif, maka deviasi rata-rata yang
merupakan penjumlahan dari deviasi masing-masing data yang diteliti akan sama dengan nol.

Deviasi absolut rata- rata(mean absolute deviation)

Deviasi absolut rata-rata menghitung deviasi rata-rata dengan mengabaikan tanda positif atau
negatif pada nilai deviasi setiap data yang diteliti dan hanya menggunakan nilai absolut untuk
masing-masing deviasi. Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut:
[ ]
Deviasi absolut rata-rata =

Deviasi kuadrat rata-rata(mean squared deviation)

cara lain yang digunakan untuk menghilangkan tanda positif atau negatif pada masing-
masing deviasi, selain deviasi absolut rata-rata.adalah dengan mengkuadratkan masing-
masing deviasi. Penjumlahan dari masing-masing deviasi kuadrat dibagi dengan jumlah data
adalah rata-rata dari deviasi yang di kuadratkan. Rumus perhitungannya adalah sebagai
berikut:
() 2
deviasi kuadrat rata-rata =

varian(variance)

nilai rata-rata dari deviasi yang dikuadratkan tersebut bermanfaat untuk mengukur variabilitas
sampel. Penghitungan nilai rata-rata tersebut dalam kaitannya dengan peroses inferensi akan
cenderung menghasilkan estimasi yang lebih rendah terhadap parameter populasinya. Karena
menggunakan jumlah data(n) sebagai dari jumlah deviasi yang dikuadratkan. Untuk
mengeliminasi masalah estimasi tersebut, penghitungan nilai rata-rata deviasi yang
dikuadratkan dibagi dengan(n-1). Perhitungan rata-rata ini selanjutnya disebut dengan varian
sampel(s).

()2
Varian = S2= (1)

Deviasi standar(standard deviation)

varian mengukur dispersi dengan nilai yang dikuadratkan. Penggunaan kuadrat sebagai
ukuran mempunyai kelemahan, yaitu :

1. Semakin besar nilai deviasi masing-masing data yang diteliti dari rata-ratanya maka
nilaivariannya juga semakin besar.

2. Jika data yang diteliti berupa satuan uang (rupiah), maka variannya dalam bentuk
rupiah yang dikuadratkan.

Untuk mengembalikan ukuran dispersi menjadi ukuran (semula) yang sama dengan
ukuran data yang diteliti, dihitung nilai akar dari varian yang selanjutnya disebut dengan
deviasi standar (s).

(xi x)2
Deviasi Standar = s = (1)

Contoh 8.6

Berikut ini adalah contoh perhitungan disperse dengan menggunakam data dalam gambar
8.10
Gambar 8.10 Perhitungan Dispersi

a = 9 , x = 30
X (xi x) | xi x | (xi x)2
40 10 10 100
10 20 20 400
20 10 10 100
40 10 10 100
35 5 5 25
25 5 5 25
15 15 15 225
40 10 10 100
45 15 15 225
0 100 1.300

Berdasarkan data diatas, pengukuran tendensi sentral dan disperse adalah sebagai berikut :

Deviasi Rata-rata =0
Deviasi Absolut Rata-rata = 100/9 = 11,11
Deviasi Kuadrat Rata-rata = 1.300/9 = 144,44
Varian = 1.300/8 = 162,50
Deviasi Standar = 162,50 = 12,75
Contoh 8.7

Untuk memberikan gambaran mengenai penggunaan statistik deskriptif


dalam analisis data penelitian, berikut ini diberikan contoh statistik
deskriptif variabel penelitian (Gambar 8.11). Gambar 8.11 menyajikan
tabel statistik deskriptif yang menjelaskan skor jawaban responden pada
setiap variabel penelitian dengan ukuran kisaran teoritis, kisaran
sesungguhnya, rata-rata dan deviasi standar.

Gambar 8.11. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian

Variabel Kisaran Kisaran Rata-rata Deviasi


Penelitian Teoritis Sesungguhnya Standar
Partisipasi 6-24 13-42 31,04 6,47
Ketidakpastian Lingkungan 12-60 18-40 28,59 5,00
Komitmen Organisasi 9-45 27-45 36,39 3,73
Senjangan Anggaran 4-20 4-16 9,99 2,93
Kisaran teoritis menjelaskan kisaran yang seharusnya antara skor jawaban paling rendah
berdasarkan jumlah butir dan jumlah skala interval dalam kuisioner. Kisaran sesungguhnya
menjelaskan skor jawaban responden penelitian terendah dan tertinggi. Rata-rata
menunjukkan tendensi sentral dari distribusi skor jawaban responden. Perbandingan antara
rata-rata dengan deviasi standar menunjukkan dispersi skor jawaban responden. Normalitas
distribusi skor jawaban responden ditunjukkan dengan besar kecilnya perbedaan antara nilai
rata-rata dengan deviasi standarnya. Ukuran median yang kadang-kadang digunakan dalam
statistik deskriptif variabel penelititan, juga untuk menunjukkan normalitas distribusi skor
jawaban responden dengan cara membandingkan antara nilai median dengan nilai rata-
ratanya.
Kualitas Data

Kesimpulan penelitian yang berupa jawaban atau pemecahan masalah penelitian, dibuat
berdasarkan hasil proses pengujian data yang meliputi pemilihan, pengumpulan dan analisis
data. Kesimpulan, oleh karena itu, tergantung pada kualitas data yang dianalisis dan instrumen
yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Ada dua konsep untuk mengukur
kualitas data, yaitu : reliabilitas dan validitas. Artinya, suatu penelitian akan menghasilkan
kesimpulan yang bias jika datanya kurang reliable dan kurang valid. Sedang, kualitas data
penelitian ditentukan oleh kualitas instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data.

Reliabilitas

Konsep reliabilitas dapat dipahami melalui ide dasar konsep tersebut yaitu konsistensi.
Peneliti dapat mengevaluasi instrumen penelitian berdasarkan perspektif dan teknik yang
berbeda. Tetapi pertanyaan mendasar untuk mengukur reliabilitas data adalah bagaimana
konsistensi data yang dikumpulkan? pengukuran reliabilitas menggunakan instrumen
numerik yang disebut dengan koefisien. Konsep reliabilitas dapat diukur melalui 3
pendekatan, yaitu : (1) koefisien stabilitas, (2) koefisien ekuivalensi, (3) reliabilitas
konsistensi internal.

Koefisien Stabilitas (Coefficient of Stability)

Suatu penelitian yang menggunakan data primer, setidaknya berkaitan dengan 4 hal: (1)
subyek yang diteliti, (2) Construct yang diukur, (3) instrumen pengukuran, (4) saat
pengukuran. Peneliti kemungkinan bermaksud untuk menggunakan instrumen pengukur
construct yang sama terhadap subyek penelitian tertentu sebanyak dua kali pada saat yang
berbeda. Perbedaan waktu antara pengukuran yang satu dengan pengukuran yang lain dapat
berupa bilangan hari, minggu, bulan, atau bahkan tahun. Peneliti dalam hal ini bermaksud
untuk menguji stabilitas jawaban responden dari suatu waktu ke waktu berikutnya dengan
cara menghitung koefisien korelasi dari skor jawaban responden yang diukur dengan
instrumen yang sama pada saat yang berbeda. Proses pengujian stabilitas yang dikenal juga
dengan test-retest reability pada dasarnya untuk mengetahui reliabilitas data berdasarkan
stabilitas atau konsistensi jawaban responden. Salah satu metode statistik yang umumnya
digunakan untuk mengukur koefisien stabilitas atau teknik test-retest ini adalah Pearson
correlation.
Koefisien Ekuivalensi (Coefficient of Equivalence)

Pengukuran reliabilitas dapat juga dilakukan dengan menggunakan instrumen pengukur yang
berbeda untuk mengukur suatu construct terhadap subyek penelitian tertentu pada saat yang
sama.
Pendekatan yang juga disebut dengan alternate forms reliability ini lebih menekankan pada
perbedaan bentuk instrumen, sedang subyek penelitian, construct pada saat pengukurannya
adalah sama. Peneliti melalui pendekatan ini menguji korelasi skor jawaban responden untuk
mengetahui koefisien ekuivalensi antara skor jawaban dengan menguunakan instrumen
pengukuran yang berbeda.

Reliabilitas Konsistensi Internal (Internal Consistency Reliability)

Pengujian terhadap konsistensi internal yang dimiliki oleh suatu instrumen merupakan
alternatif lain yang dapat dilakukan oleh peneliti untuk menguji reliabilitas, disamping
pengukuran koefisien stabilitas dan ekuivalesi. Konsep reliabilitas menurut pendekatan ini
adalah konsistensi diantara butir-butir pertanyaan atau pernyataan dalam suatu instrumen.
Tingkat keterkaitan antar butir pertanyaan atau pernyataan dalam suatu instrumen untuk
mengukur construct tertentu menunjukkan tingkat reliabilitas konsistensi internal instrumen
yang bersangkutan. Untuk mengukur konsistensi internal, peneliti hanya memerlukan sekali
pengujian dengan menggunakan teknik statistik tertentu terhadap skor jawaban responden
yang dihasilkan dari penggunaan instrumen yang bersangkutan. Ada tiga macam teknik yang
dapat digunakan untuk mengukur konsistensi internal, yaitu: (1)split-half reliability
coefficient, (2) Kuder-Richardson #20 dan (3) Cronbachs alpha.

Contoh 8.8.
Gambar 8.12. berikut ini menyajikan contoh hasil cetakan penerapan SPSS
untuk pengujian reliabilitas konsistensi internal berdasarkan teknik
Cronbachs alpha atau alpha.

Validitas (validity)

Validitas data penelitian ditentukan oleh proses pengukuran yang akurat. Oleh karena itu, jika
kata sisnonim dari kata reliabilitas yang paling tepat adalah konsistensi, maka esensi dari
validitas adalah akurasi. Suatu instrumen pengukur dikatakan valid jika instrumen tersebut
mengukur apa yang seharusnya diukur. Dengan perkataan lain instrumen tersebut dapat
mengukur construct sesuai dengan yang diharapkan peneliti.
Misal, penggunaan suatu instrumen oleh peneliti dimaksudkan untuk mengukur kepuasan
pada tugas. Jika kemudian yang terukur oleh instrumen tersebut adalah kepuasan pada atasan
atau dimensi kepuasan yang lain, maka validitas instrumen tersebut perlu dipertanyakan. Ada
kemungkinan data penelitian memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi, tetapi kurang valid.
Suatu data penelitian yang valid, bagaimanapun harus reliable karena akurasi memerlukan
konsistensi. Misal, jika peneliti bermaksud mengukur kinerja perusahaan dengan
menggunakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk menghitung laba perusahaan,
maka instrumen tersebut dinilai cukup valid karena laba merupakan salah satu indikator
kinerja perusahaan. Tetapi jika instrumen terebut digunakan dua kali Pada saat yang berbeda
untuk mengukur laba pada perusahaan yang sama ternyata hasilnya berbeda secara signifikan
(tidak konsisten). Maka instrumen tersebut meskipun valid tetapi tidak reliable sehingga akan
menghasilkan kesimpulan yang bias jika digunakan sebagai alat pengukur.
Ada tiga pendekakatan yang dapat digunakan untuk mengukur validitas: (1) content
validity, (2) criterion-related validity dan (3) construct validity.

Content (Face) Validity merupakan salah satu konsep pengukuran validitas dimana
suatu instrumen dinilai memiliki content validity jika mengandung butir-butir pertanyaan
yang memadai dan representatif untuk mengukur construct sesuai dengan yang diinginkan
peneliti. Suatu instrumen dinilai memiliki face validity jika menurut penilaian subyektif
diantara para profesional bahwa instrumen tersebut menunjukkan secara logis dan
merefleksikan secara akurat sesuatu yang seharusnya diukur. Jika apa yang terkandung dalam
suatu instrumen menunjukkan secara jelas apa yang ingin di ukur, maka instrumen tersebut
memiliki content (face) validity yang tinggi. Misal, instrumen yang berisi pertanyaan:
berapa jumlah anak yang anda miliki? merupaka butir pertanyaan yang jelas dan dari
pertanyaan tersebut menunjukkan apa yang ingin diukur.
Criterion-related Validity adalah konsep pengukuran validitas yang menguji tingkat
akurasi dari instrumen yang baru dikembangkan. Uji criterion-related validity dilakukan
dengan cara menghitung koefisien korelasi antara skor yang diperoleh dari penggunaan
instrumen baru dengan skor dari penggunaan instrumen lain yang telah ada sebelumnya yang
memiliki kriteria relevan. Instrumen baru memiliki validitas yang tinggi jika koefisien
korelasinya tinggi. Ada dua jenis criterion-related validity, yaitu: (1) concurrent validity,
jika pengujian korelasi dilakukan terhadap skor instrumen baru dengan instrumen yang
mempunyai kriteria relevan, di mana penggunaan keduanya dilakukan pada ssaat bersamaan,
dan (2) predictive validity, jika korelasi skor kedua instrumen tersebut merupakan hasil
pengukuran pada saat yang berbeda, dimana pengukuran instrumen yang baru dilakukan
sebelum pengukuran instrumen lain yang memiliki kriteria relevan.

Construct Validity. Suatu instrumen dirancang untuk mengukur construct tertentu.


Construct validity merupakan konsep pengukuran validitas dengan cara menguji apakah suatu
instrumen mengukur construct sesuai dengan yang diharapkan. Ada dua cara pengujian
construct validity, yaitu: (1) convergent validity, dimana validitas suatu instrumen ditentukan
berdasarkan konvergensinya dengan instrumen lain yang sejenis dalam mengukur construct
dan (2) discriminant validity, dimana validitas suatu instrumen ditentukan berdasarkan
rendahnya korelasi dengan instrumen lain yng digunakan untuk mengukur construct lain

Gambar 8.13. Jenis Uji Kualitas Data

Koefisien Stabilitas

Koefisien Ekuivalensi
Reliabilitas

Konsistensi Internal

Uji
Kualitas
Data Content (Face)
Validity

Concurrent
Criterion related Validity
Validitas Validity
Predictive
Validity

Convergent
Validity

Construct Validity
Discriminant
RINGKASAN Validity

Statistik digunakan untuk menganalisis data penelitian yang berupa deskripsi dan
estimasi data untuk menarik kesimpulan hasil penelitian. Untuk menganalisis data
penelitian statistik dikelompokkan ke dalam: statistik deskriptif yang menjelaskan data
penelitian melalui teknik tabulasi dan statistik inferensial untuk mengestimasi sampel
ke dalam populasi. Statistik inferensial lebih lanjut dikelompokkan menjadi: statistik
parametrik dan statistik non-parametrik.
Tahap persiapan yang umumnya dilakukan oleh peneliti untuk memudahkan proses
analisis data adalah: pengeditan, pemberian kode, dan pemrosesan data. Dewasa ini
pemrosesan data penelitian dilakukan dengan bantuan teknologi komputer.
Statistik deskriptif pada dasarnya merupakan proses transformasi data ke dalam bentuk
tabulasi yang mudah dipahami dan diinpretasikan. Statistik deskriptif umumnya
digunakan untuk menjelaskan variabel penelitian yang utama dan demografi responden.
ukuran yang digunakan dalam analisis deskriptif dapat berupa frekuesni, tendensi
sentral (rata-rata, median, modus), dan dispersi (varian dan deviasi standar).
Kesimpulan hasil penelitian dibuat bed\rdasarkan hasil proses pengujian data yang
dikumpulkan dan dianalisis oleh peneliti. Kualitasn data penelitian, oleh karena itu,
menentukan bisa atau tidaknya kesmipulan yang dibuat oleh peneliti. Untuk menguji
kualitas data dapat dilakukan dengan menguji reabilitas (konsistensi) dan validitas
(akurasi) dari data yang dikumpulkan.
Konsep reliabilitas dapat diukur melalui tiga pendekatan : koefisien stabilitas,
koefisien ekuivalensi dan konsistensi internal. Sedang konsep validitas data diuji
dengan tiga pendekatan: content (face) validity, criterion-related validity, dan construct
validity. Penentuan Criterion-related validity selanjutnya dikelompokkan ke da;am :
concurrent validity dan predictive validity. Sedang construct validity dapat ditentukan
dengan dua cara yaitu: convergent validity dan discriminant validity.

PERTANYAAN DISKUSI

8.1. Jelaskan apa fungsi statistik dalam penelitian dan pengertian istilah-istilah berikut ini:
a Statistik deskriptif
b Statistik inferensial
c Statistik parametrik
d Statistik non-parametrik
8.2. Jelaskan mengapa peneliti memerlukan tahap persiapan sebelum menganalisis data
penelitian dan aktivitas apa saja yang harus dilakukan.
8.3. Uraikan secara singkat tujuan statistik deskriptif dan ukuran apa saja yang digunakan
dalam menjelaskan variabel penelitian.
8.4. Berikan contoh tabel frekuensi yang disajikan dalam angka absolut dan persentase.
8.5. Jelaskan pengertian ukuran tendensi sentral dan dispersi dan berikan contoh masing-
masing.
8.6. Uraikan perbedaan antara rata-rata dengan median dan dalam hal apa keduanya
berbeda.
8.7. Jelaskan mengapa peneliti perlu menguji kualitas data dan konsep apa saja yang
digunakan untuk mengukur kualitas data penelitian.
8.8. Jelaskan perbedaan istilah-istilah berikut ini:
a Reabilitas dengan validitas
b Koefisien stabilitas, koefisien ekuivalensi dan koefisien alpha
c Content validity, criterion-related validity dan construct validity
d Concurrent Validity dengan predictive validity
e Convergent validity dengan discriminant validity

CATATAN AKHIR

1. Dunn, O.J, and Clark, V.A., 1987, Applied Statistic, 2nd Edition, John Wiley & Sons,
Inc, New York, USA, hal.1.
2. Dowdy,S., and Wearden, S., 1983, Statistic For Research, John wiley & Sons, Inc,
New york, USA, hal.1.
3. Sekaran, U., 1992, Research Methods For Busines: A Skill Building Approach, 2nd
edition, John Wiley &Sons, Inc., New York, USA, hal. 259.
4. Zikmund, W.G., 1994, Business Research Methods, 4th Edition, The Dryden Press
Harcourt Brace College Publishers, Florida, USA, hal. 440.
5. Sekaran, U., op. Cit., hal. 282.
6. Barrow, m., 1996., Statistic For Economics, Accounting and Business Studies, 2nd
Edition, Longman Publishing, New York, USA, hal. 4-5.
7. Zikmund, W.G., op.cit., hal. 462.
8. Suwandi dan Indriantoro, N., 1999, Pengujian Model Turnover Pasewark dan
Strawser: Studi Empiris pada Lingkungan Akuntan Publik, Jurnal riset Akuntansi
Indonesia, vol. 2, No. 2, Januari, hal. 173-195
9. Mendenhall, W., and Beaver, R.J., 1992, A Course in Business Statistics, 3rd Edition
PWS-KENT Publishing Company, Boston, USA, Hal.34.
10. Ibid., hal. 38-39.
11. Yuwono, I.B., 1999, Pengaruh Komitmen Organisasi dan Ketidakpastian Lingkungan
terhadap Hubungan antara Partisipasi Anggaran dengan Senjangan Anggaran, Jurnal
Bisnis dan Akuntansi. Vol. 1, No.1, April, hal. 37 55.
12. Huck, S.W., and Cormier, W.H., 1996, Reading Statistics and Research, 2nd Edition,
Harper Collins College Publishers, New York, USA, hal.76. Zikmund,
ANALISIS DATA (2)

MASALAH/PERTANYAA
N PENELITIAN

TELAAH TEORITIS HIPOTESIS

PENGUJIAN FAKTA
HASIL
Pemilihan Data

Pengumpulan Data

Analisis Data

KESIMPULAN

Bab ini, seperti yang dikemukakan sebelumnya, membahas pengujian hipotesis yang
merupakan bagian dari proses analisis data penelitian. Materi penting yang dibahas antara
lain: (1) Elemen-elemen dan proses pengujian hipotesis, (2) Kesalahan tipe I dan II dalam
pembuatan keputusan menerima atau menolak hipotesis, (3) Pengujian statistic alpha, (4)
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode statistic, (5) Analisis deskriptif dan
pengujian hipotesis pada analisis univariate, (6) Uji perbedaan dalam analisis bivariate, (7)
Analisis dependensi dan interpendensi dalam analisis multivariate.

PENGUJIAN HIPOTESIS

Salah satu tujuan penelitian adalah menguji hipotesis. Berdasarkan paradigm penelitian
kuantitatif, hipotesis merupakan jawaban atas masalah penelitian yang secara rasional di
deduksi dari teori. Tujuan pengujian hipotesis, oleh karena itu, untuk menentukan apakah
jawaban teoritis yang terkandung dalam pernyataan hipotesis didukung oleh fakta yang
dikumpulkan dan dianalisis dalam proses pengujian data. Pernyataan hipotesis, seperti yang
telah dibahas dalam bab 4, dapat dirumuskan dalam format: pernyataan jika-maka, hipotesis
nol, atau hipotesis alternatif.

Estimasi dan Probabilitas


Pengujian hipotesis merupakan proses yang kompleks, terutama jika data yang diteliti
merupakan data sampel atau bagian dari populasi. Pernyataan hipotesis, sebagaimana
diketahui, merupakan ekspektasi peneliti mengenai karakteristik populasi yang didukung oleh
logika teoritis. Berdasarkan hasil pengujian terhadap sebagian dari populasi (sampel), peneliti
membuat keputusan menolak atau mendukung hipotesis. Pengujian hipotesis (yang
menggambarkan karakteristik populasi) dengan menggunakan data sampel (yang
menggambarkan karakteristik sampel) pada dasarnya merupakan pembuatan keputusan
melalui proses inferensi yang memerlukan akurasi peneliti dalam melakukan estimasi.

Proses Inferensi

POPULASI PemilihanAcak SAMPEL

Karakteristik Analisis

PARAMETER Inferensi STATISTIK

Proses inferensi pada dasarnya dapat dilakukan melalui satu dari dua cara, yaitu: estimasi
nilai parameter populasi atau membuat keputusan mengenai nilai parameter (proses pengujian
hipotesis). Estimasi nilai parameter populasi akurasinya tergantung pada representasi sampel
yang diambil dari populasi yang bersangkutan. Dalam proses pengujian hipotesis, jika
kenyataannya terdapat deviasi antara statistic sampel dengan parameter populasi (yang
diekspektasi peneliti dalam hipotesis), peneliti harus menyadari adanya kemungkinan
kesalahan dalam pembuatan keputusan menolak atau mendukung hipotesis. Peneliti, dengan
perkataan lain, harus mempunyai criteria atau standar yang digunakan untuk membuat
keputusan terhadap hipotesis yang diuji berdasarkan sampel. Kriteria keputusan yang
ditetapkan oleh peneliti dalam istilah statistic disebut tingkatsignifikansi (significance level)

KriteriaKeputusan (Decision Criterion)

Tingkat signifikansi adalah tingkat probabilitas yang ditentukan oleh peneliti untuk membuat
keputusan menolak atau mendukung hipotesis. Dalam bab 6 telah dibahas istilah tingkat
keyakinan (confidence level) yaitu tingkat probabilitas yang ditetapkan oleh peneliti bahwa
statistic sampel dapat mengestimasi parameter populasi secara akurat. Sebaliknya tingkat
signifikasi menunjukkan probabilitas kesalahan yang dibuat peneliti untuk menolak atau
mendukung hipotesis. Kriteria keputusan berdasarkan tingkat signifikasi, missal 0,05atau
0.10, menunjukkan bahwa keputusan yang dibuat oleh peneliti untuk menolak atau
mendukung hipotesis mempunyai probabilitas kesalahan sebesar lima persen atau sepuluh
persen.

Hipotesis Nol dan Hipotesis Alternatif

Hipotesis nol (Ho), seperti yang dikemukakan dimuka, merupakan salah satu format rumusan
hipotesis yang menyatakan status quo3 .Tujuan menyusun format Ho adalah untuk
memberikan kemungkinan tidak adanya perbedaan antara ekspetasi peneliti dengan fenomena
yang diteliti. Kemungkinan sebaliknya: ada perbedaan antara ekspektasi peneliti dengan data
yang dikumpulkan, dirumuskan dalam format hipotesis alternative (HA). Benar atau tidaknya
keputusan yang dibuat peneliti untuk menolak Ho (mendukung HA) atau tidak dapat menolak
HO (menolak HA) menggunakan landasan teori probabilitas. Oleh karena itu, diperlukan
penetapan tingkat signifikansi dalam pengujian statistik yang menunjukkan probabilitas
bahwa keputusan peneliti adalah salah. Atau sebaliknya, penentuan tingkat keyakinan yang
menunjukkan probabilitas akurasi keputusan yang dibuat oleh peneliti.

Kesalahan Tipe I dan II (Type I and Type II Errors)

Proses pengujian hipotesis dengan menggunakan data sampel, seperti yang telah dibahas
sebelumnya, berlandaskan pada teori probabilitas karena kenyataannya sulit bagi peneliti
untuk memastikan apakah karakteristik sampel yang diteliti tidak mempunyai perbedaan
secara signifikan dengan karakteristik populasi dihipotesiskan. Pengujian hipotesis, oleh
karena itu, merupakan proses pembuatan keputusan (menolak atau mendukung) yang tidak
bebas dari kemungkinan kesalahan. Ada dua kemungkinan kesalahan yang dibuat peneliti
dalam membuat keputusan:

1. Keputusan peneliti menolak hipotesis nol, pada hal kenyataannya hipotesis nol adalah
benar. Kesalahan ini selanjutnya disebut dengan kesalahan tipe I (type I errors)
2. Keputusan peneliti tidak dapat menolak hipotesis nol, padahal kenyataannya hipotesis
nol adalahs alah. Kesalahan ini selanjutnya disebut dengan kesalahan tipe II (type II
errors)

Kesalahan tipe I mempunyai tingkat probabilitas yang diberi symbol alpha () sedangkan
kesalahan tipe II mempunyai tingkat probabilitas yang diberi symbol beta ().

Kemungkinan terjadinya kesalahan tipe I dan tipe II dapat dikurangi dengan cara menambah
jumlah sampel yang diteliti. Meskipun demikian, perlu diketahui bahwa kedua tipe kesalahan
tersebut mempunyai sifat hubungan yang berlawanan arah. Pengurangan probabilitas
terjadinya kesalahan tipe I () berarti merupakan peningkatan probabilitas terjadinya
kesalahan tipe II (), demikian pula sebaliknya. Dalam bisnis, kesalahan tipe I dinilai lebih
serius dibandingkan kesalahan tipe II. Oleh karena itu, criteria keputusan yang digunakan
peneliti dalam pengujian hipotesis lebih ditekankan pada penetapan tingkat signifikansi alpha
daripada beta.
PENGUJIAN STATISTIK(STATISTICAL TEST)

Pengujian hipotesis, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, merupakan bagian


dari proses inferensi atau pengujian statistic sampel untuk mengestimasi parameter populasi
dan pembuatan keputusan. Kesimpulan dari hasil penelitian yang menggunakan sampel harus
dibuat secermat mungkin dan disertai oleh kesadaran peneliti terhadap pola berpikir proses
pengujian hipotesis yang berlandaskan pengujian data sampel.

Contoh 9.1

Logika yang melandasi proses dan elemen-elemen pengujian hipotesis dapat


dijelaskan melalui ilustrasi berikut ini. Missal, menurut hipotesis penelitian ada 50% lebih
dari seluruh konsumen menyukai minuman ringan merk A. untuk menguji hipotesis tersebut,
peneliti meneliti 100 orang dari konsumen minuman ringan dan 97 orang diantarnya
menyatakan menyukai minuman ringan merk A hasil survey bmenunjukkan dukungan
terhadap hipotesis peneliti.

Menurut istilah statistik, hipotesis penelitian yang diuji dalam peneliti merupakan
hipotersis alternative(HA) yang dinyatakan dengan symbol HA : p > 0.50. Proses pengujian
hipotesis dimaksudkan untuk memperoleh bukti yang mendukung HA : p > 0.50. atau dengan
perkataan lain, tujuan pengujian hipotesis adalah menolak hipotesis nol bahwa preferensi
konsumen terhadap minuman ringan merk A sama dengan 50% (Ho: p = 0,50). Data yang
dikumpulkan dan di analisis merupakan sampel sebanyak 100 (n=100) yang dipilih dari suatu
populasi. Sampel yang akan diuji dapat digambarkan sebagai serangkaian nilai x dalam suatu
garis lurus yang menjadi dasar pembuatan keputusan melalui proses penghitungan yang
disebut dengan pengujian statistik. Serangkaian nilai dalam garis lurus tersebut (gambar
9.3) dibagi menjadi dua bagian (daerah) keputusan, yaitu: daerah penolakan (rejection
region) dan daerah penerimaan (acceptance region). Peneliti dapat menentukan probabilitas
nilai pada penolakan, missal kisaran nilai antara 60 sampai dengan 100. Kisaran nilai daerah
penerimaan, dengan denikian, adalah antara 0 sampai dengan 60. Jika pengujian statistic
terhadap sampel menghasilkan nilai yang berada pada daerah penolakan (60-100). Berarti
hipotesis nol ditolak atau hasil pengujian memberikan bukti mendasari keputusan untuk
mendukung hipotesis alternatif. Demikian pula sebaliknya, hasil penelitian tidak dapat
menolak hipotesis nol, jika pengujian statistic terhadap sampel menghasilkan nilai yang
berada pada daerah penerimaan (0-60).
Perlu dicatat disini bahwa kalimat tidak dapat menolak hipotesis nol umumnya
lebih banyak digunakan untuk menganti kalimat menerima atau mendukung hipotesis nol.
Alasan yang melandasi penggunaan kalimat tersebut adalah karena hipotesis nol yang
menyatakan tidak ada perbedaan atau tidak ada hubungan antara dua atau lebih variable
penelitian pada kenyataan tidak pernah dapat dibuktikan. Penggunaan istilah daerah
penerimaan dalam pengujian statistik hanya untuk membantu penelitian untuk membuat
keputusan berdasarkan data yang diuji. Untuk menyatakan keputusan yang menerima atau
mendukunghipotesis nol, berdasarkan alasan di atas, lebih sesuai digunakan kalimat tidak
dapat menolak hipotesis nol.

Gambar 9.3 Nilai untuk pengujian statistik sampel X

Berdasarkan hasil survey 97 dari 100 responden menyatakan menyukai munuman


ringan merk A, dengan demikian keputusan yang dibuat peneliti aadalah menolak hipotesis
nol yang menyatakan bahwa konsumen yangh menyukai munuman ringan merk A sama
dengan 50% atau mendukung hipotesis alternative yang menyatakan bahwa konsumen yang
menyukai munuman ringan A adalah lebih dari 60%.

Uraikan di muka menunjukkan bahwa elemen-elemen pokok dalam pengujian


hipotesis terdiri atas:

1. Hipotesis nol dan hipotesis alternative


2. Daerah penolakan dan daerah penerimaan
3. Pengujian statistic
4. Pembuatan keputusan (kesimpulan)

Pengujian Alpha (a)

Pengujian hipotesis dapat pula dilakukan dengan mengguanak konsep


pengujian statistik terhadap probabilitas terjadinya kesalahan tipe I(a). probabilitas
terjadinya kesalahan tipe I dapat ditentukan jika peneliti mengetahui distribusi
pemilihan sampel (X) dari suatu pengujian statistic. Pengujian alpha (a) menggunakan
asumsi bahwa hipotesis nol adalah benar

Contoh 9.2

Missal, dengan menggakan data pada contoh 9.1., nilai rata-rata dan deviasi standar
dari 100 sampel x yang diamati dapat dihitung dengan ara sebagai berikut:
Berdasarkan nilai rata-rata sampel dan deviasi standar, peneliti dapat menentukan
nilai x yang terletak pada daerah penolakan, missal lebih besar dari dua kali deviasi standar di
atas nilai rata-rata sampel x (u =50). Maka nilai x terletak di daerah penolakan adalah lebih
besar dari 2o + u = [(2)(5)+50] = 60 atau 60,61,62 sampai dengan 100. Selanjutnya, jika
distribusi sampel x normal, maka peneliti dapat menentukan probabilitas x terletak pada
daerah penolakan (lihat gambar 9.4) atau nilai signifikansi adalah sebesar 0,0256 . Artinya,
hasil pengujian statistik yang mendukung hipotesis alternative bahwa konsumen yang
menyukai minuman ringan merk x lebih besar dari 50(p>0,50), mempunyai tingkat
probabilitas kesalahan sebesar 2,5%.

Pengujian Satu Sisi Dan Dua Sisi(One-tailed Test- Two tailed Test).

Pengujian statistic dapat dilakukan dengan dua cara: satu sisi dan dua sisi, tergantung
tipe hipotesis alternatif7. Dalam pengujian satu sisi atau disebut juga dengan pengujian
directional, daerah penolakan Ho terletak pada sisi kanan atau sisi kiri dari nilai rata-rata
sampel, tergantung pada tipe pernyataan hipotesis, missal:

HA > 50 (daerah penolakan terletak pada sisi kanan, contoh gambar 9.4) atau

HA < 50 (daerah penolakan terletak pada sisi kiri).

Jika hipotesis alternatif dinyatakan dengan HA = 50 ( tidak sama dengan 50) maka
digunakan pengujian dua sisi(pengujian non-directional). Daerah penolakan Ho dalam
pengujian non-directional terletak pada sisi kanan dan sisi kiri dari nilai rata-rata sampel
(lihat gamabr 9.5).

PEMILIHAN METODE STATISTIK

Statistic, seperti yang telah dibahas dalam bab sebelumnya, merupakan sekumpulan
metode yang diperlukan dalam proses analisis data peneliti untuk menginterpretasikan data
dan menarik kesimpulan yang masuk akal berdasarkan data tersebut. Pengujian hipotesis
berkaitan dengan proses pembuatan, oleh karena itu, memerlukan statistik untuk
menghasilkan keputusan, oleh karena itu, memerlukan statistik untuk menghasilkan
keputusan yang masuk akal. Pemilihan metode stastik yang relevan untuk menguji hipotesis
penelitian merupakan bagian dari kompleksitas proses pengujian hipotesis. Pemilihan metode
statistic yang digunakan dalam pengujian hipotesis pada dasarnya dipengaruhi tiga factor
utama: (1) tujuan studi, (2) jumlah variable yang diteliti, dan (3) skala pengukuran yang
digunakan. Ketiga factor tersebut saling terkait dalam mempengaruhi penentuan metode
statistik. Peneliti belum dapat menentukan metode statistik yang relevan berdarkan
pertimbangan terhadap satu atau dua faktor saja. Misal, penelitian yang dilakukan oleh dua
orang yang berbeda meskipun tujuan studinya sama tetapi jika jumlah variable san skala
pengukuran yang digunakan berbeda, maka kedua peneliti tersebut tidak dapat menggunakan
metode statistik yang sama untuk menganalisis data.

Tujuan Studi

Tujuan studi atau tujuan pengujian, seperti yang telah dibahas dalam bab 5, secara
spesifik ada tiga, yaitu: (1) penjajakan (eksplorasi), (2) deskriptif, dan (3) pengujian hipotesis.
Penggunaan statistik untuk analisi data pada studi penjajajkan dan studi deskriptif adalah
teknik-teknik yang digunakan dalam statistic deskriptif. Penelitian dengan tujuan untuk
menguji hipotesis menggunakan teknik-teknik yang digunakan dalam statistik inferensial
yaitu statistic parametric maupun non parametric, tergantung pada normalitas distribusi data
dan tipe skala pengukuran yang digunakan. Ada dua bentuk hipotesis yang diuji, yaitu: (1) uji
komparasi (perbedaan) dan (2) uji asosiasi (hubungan). Hipotesis yang menguji hubungan
selanjutnya dapat dikategorikan ke dalam uji hubungan korelasional dan hubungan sabab-
akibat

Jumlah variable penelitian

Jumlah variable yang diteliti merupakan factor lain yang dipertimbangkan oleh peneliti dalam
pemilihan metode statistik.Berdasarkan jumlah variabel yang diteliti,penelitian dapat
diklasifikasikan dalam tiga kategori:satu variabel,dua variabel,lebih dari dua
variabel.Berdasarkan kategori penelitian tersebut,metode-metode statistik dapat diidentifikasi
berdasarkan kategori analisis data sebagai berikut: (1)analisis data univariate,(2)analisis data
bivariate,dan (3) analisis data multivariate.

Analisis Data Univariate, terdiri atas metode-metode statistic deskriptif dan statistik
inferensial yang digunakan untuk menganalisis data satu variabel penelitian.Penelitian
terhadap satu variabel umumnya bertujuan untuk mendeskripsikan distribusi satu variabel
peneliatian dan uji perbedaan antara data yang diteliti dengan ekpektasi atau hipotesis
peneliti.

Analisis Data Bivariate ,terdiri atas metode-metode statistic deskriptif dan statistic
inferensial yang digunakan untuk menganalisis data dua variabel penelitian.Penelitian
terhadap dua variabel biasanya mempunyai tujuan untuk mendeskripsikan distribusi
data,menguji perbedaan dan mengukur hubungan antara dua variabel yang lain diteliti.

Analisis Data Multivariate, terdiri atas metode-metode statistic deskriptif dan


statistic inferensial yang digunakan untuk menganalisis data lebih dari dua variabel
penelitian.Tujuan penelitian,disamping interdepedensi antar variabel yang diteliti.Gambar
9.7. Klasifikasi Jumlah Variabel dan Kategori analisis data
Satu Variabel . Analis Univariate

Jumlah Variabel Dua Variabel ..... Analisi Bivariate

Lebih dari Dua Analisis Multivariate

Variabel

Skala Pengukuran

Pemilihan Metode statistic juga dipengaruhi oleh tipe skala pengukuran yang digunakan. (1)
skala nominal, (2) skala ordinal, (3) skala interval dan (4) skala rasio.Tipe skala pengukuran
menjadi pertimbangan penelitian untuk menentukan pemilihan metode parametric dan non
parametric dalam statistic inferensial.Jika suatu penelitian menggunakan skala interval dan
skala rasio dengan ukuran sampel relative besar (n>30) statistic parametric merupakan
metode analisis data yang tepat.Jika penelitian tidak menggunakan asumsi
normalitas,penggunaan statistic non-parametrik merupakan metode analisis yang tepat untuk
menganalisi data interval dan rasio.Sedang statistic non parametric merupakan metode yang
relavan untuk menganalisis data penelitian yang mengunakan skala nominal dan ordinal.
Gambar 9.8. Tipe Skala Pengukuran dan Metode Statistik

Deskripsi Skala nominal Uji Hipotesis


dan ordinal

Statistik Deskriptif
Statistik Inferensial
Non-Parametrik
Skala interval
dan Rasio

Deskripsi

DIstribusi Data Uji Hipotesis Distribusi Data tidak


Nominal Nominal

Statistik Inferensial
Parametrik

ANALISIS UNIVARIATE

Pemilihan metode statistic,seperti yang telah dikemukakan sebelumnya,dipengaruhi oleh tiga


factor penting yang saling terkait:tujuan studi atau masalah penelitan yang akan
dijawab,jumlah variabel dan skala pengukuran.Metode statistic yang digunakan dalam
penelitian terhadap satu variabel,oleh karena itu,dipengaruhi oleh tujuan studi dan skala
pengukuran yang digunakan.

Analisis Deskriptif

Jika penelitian bermaksud menjelaskan distibusi data dari suatu variabel yang diteliti,peneliti
dapat menggunakan statistic deskriptif.Ukuran yang digunakan dalam mendeskripsikan
frekuensi,tendensi sentral dan disperse,seperti yang dijelaskan dalam bab 8,tergantung pada
jenis skala pengukuran contruct yang digunakan dalam penelitian.Gambar 9.8. berikut ini
menyajikan deskripsi distribusi data pada analisis deskriptif terhadap dua atau lebih variabel
penelitian (analisis Bivariate dan multivariate) .
Gambar 9.9. Tipe Deskripsi Distribusi Data dan Skala Pengukuran

Skala Pengukuran

Deskripsi Distribusi

Data Nominal Ordinal


Interval-Rasio

1. Frekuensi Proporsi(persentase) Absolut & Proporsi Absolut &


Proporsi
2. Tendensi Modus Median Rata-
rata
3. DIspresi - Inter-quartile Deviasi
Standar

Uji Hipotesis

Penggunaan metode statistic untuk penelitiaan terhadap satu variabel penelitian yang
bertujuan untuk menguji hipotesis dapat ditentukan berdasarkan tujuan studi (masalah atau
pertanyaan penelitian) dan skala pengukuran variabel yang bersangkutan.Uji Hipotesis
terhadap satu variabel umumnya berupa uji perbedaan nilai sampel dengan popolasi atau nilai
dari data yang diteliti dengan nilai ekspektasi (hipotesis) peneliti.Variasi pengujian hipotesis
pada analisis Univeriate tergantung pada tujuan atau pertanyaan penelitian dan skala
pengukuran yang digunakan (gambar 9.9.).Misal,jika data penelitian diukur dengan skala
nominal untuk mengidentifikakasi jumlah kategori suatu variabel penelitian,peneliti dapat
menggunakan chi-square test dan t-test untuk membedakan antara dua proporsi kategori suatu
variabel penelitian.Jika data penelitian berupa skala ordinal,digunakan metode chi-square test
untuk penelitian yang bertujuan untuk menentukan urutan kategori dan metode kolmogorov-
sminov test untuk menentukan urutan kategori dari suatu variabel.Z-test dan I-test digunakan
pada analisis data yang diukur dengan skala interval dan skala rasio yang bertujuan untuk
menguji perbedaan antara sampel dengan populasi.
Gambar 9.10. Contok Metode Statistik Berdasarkan Tujuan Studi dan Skala Pengukuran

Tujuan studi Pertanyaan Penelitian Skala Metode


Statistik
Pengukuran
1.Identifikasi jumlah Apakah jumlah Manager Nominal Chi-aquare
test
Kategori wanita sama dengan jumlah
Yang diekspektasikan

2.Perbedaan Proporsi Apakah Proporsi Akuntan Nominal t-test


proporsi
Kategori wanita sama dengan jumlah
Akuntan pria?

3.Perbedaan urutan Apakah distribusi nilai ujian Ordinal Chi-square


test
Kategori untuk kategori A,B,C,D
Berbeda dengan distribusi nilai
Yang diperkirakan

4.Penentuan umum Apakah urutan merk produk Ordinal


Kolmogorov-
Kategori yang disukai konsumen sesuai Smirnov
test
Dengan urutan merk yang
Dihipotesiskan?

5.Perbedaan nilai Apakah rata-rata gaji karyawan Interval atau rasio Z-


test(sampel
Sampel dengan nilai yang diteliti mempunyai perbedaan besar)
atau
Populasi yang signifikan dengan rata-rata t-
test(sampel
Gaji seluruh karyawan perusahaan kecil)

Metode statistic yang dapat digunakan dalam analisis Univariate sebenarnya tidak terbatas
pada metode-metode statistic yang disebutkan dalam contoh (gambar 9.9.),karena masih
banyak lagi tujuan atau pertanyaan penelitian yang dapat dirumuskan.Berikut ini dibahas
contoh penerapan metode statistic untuk pengujian hipotesis pada analisis univariate dengan
chi-square test .Contoh penerapan metode statistik yang lain dapat dipelajari dalam buku-
buku yang secara spesifik membahas penggunaan metode statistik untuk penelitian.

Contoh 9.4.

Misal,penelitian terhadap manajer yang berbeda pada perusahaan asing yang beroperasi di
Indonesia mempunyai tujuan studi diantaranya untuk mengetahui perbedaan jumlah
anatara manajer wanita dengan manajer pria.Peneliti merumuskan hipotesis dalam format
hipotesis nol (Ho): tidak ada perbedaan yang signifikan jumlah antara manajer wanita
dengan manajer pria Berdasarkan pengamatan terhadap 100 sampel yang diteliti,diketahui
bahwa 60 diantaranya adalah manajer pria.
Berdasarkan data tersebut diatas,dengan tingkat signifikasi sebesar 0,05 peneliti dapat
menguji hipotesis nol tersebut dengan metode pengujian chi-square sebagai berikut:

)2
2 =

dimana,
2 = Statistik Chi-square
= Frekuensi yang diamati
= Frekuensi yang diekspektasikan

Operasionalisasi dari rumus pengujian Chi-square adalah sebagai berikut:

Jenis Kelamin probabilitas Ekspektasi ( - ) (


) /

Wanita 40 0.5 50 10 2.0

Pria 60 0.5 50 -10 2.0

Jumlah 100 1.0 100 0 2 =4.0

Selanjutnya peneliti menentukan nilai Kritis Chi-square (terdapat dalam table nilai
kritis chi-square) pada tingkat signifikansi yang ditetapkan (=0,05) dengan tingkat
kebebasan (degrees of freedom) yang dihitung dalam rumus: d.f. = k 1,dimana k adalah
jumlah sel yang terkait dengan data kolom atau baris ( dalam contoh kasus ini adalah
2).Berdasarkan data dalam table,nilai kritis chi-square dengan d.f. = 1 dan = 0,05 atau
2 =0,050 adalah3,84146.Nilai hitung chi-square (4,0),dengan demikian,lebih besar dari nilai
kritis (Lampiran 2) chi-square (3,84),sehingga kesimpulan yang harus dibuat peneliti adalah
menolak hipotesis nol.

Uji Perbedaan (Test Of Differences)

Uji perbedaan dalam analisis bivariate dapat berupa perbedaan dua kategori
(kelompok) data atau perbedaan antar tiga atau lebih kelompok data dari dua variabel yang
diteliti. Misal, penelitian terhadap empat kelompok mahasiswa mempunyai tujuan
untuk mengetahui pengaruh perbedaan (variabel) metode pengajaran yang diterima oleh
setiap kelompok mahasiswa terhadap (variabel) kinerja setiap kelompok mahasiswa.
Jumlah kelompok dan skala pengukuran kedua variabel tersebut mempengaruhi
pemilihan metode statistik pengujian data. Gambar 9.11 menjelaskan metode uji
perbedaan yang umumnya digunakan dalam analisis bivariate.

Gambar 9.11. Uji Perbedaan Bivariate

Tujuan Studi Uji Perbedaan

Skala Pengukuran Antara Dua Kelompok Independen Antar Tiga atau Lebih
Kelompok
Independen

Nominal Z-test (dua proporsi) Chi-square test


Chi-square test

Ordinal Mann Whitney U-test Kruskal-Wallis


test
Wilcoxon test

Interval dan Rasio Z-test atau t-test terhadap One-way Anova


Kelompok Independen

Metode statistic yang digunakan untuk uji perbedaan antara dua variabel penelitian
dipengaruhi oleh jumlah kelompok independen dari setiap variabel dan tipe skala
pengukuran. Untuk menguji perbedaan antara du kelompok independen dari dua variabel
penelitian, peneliti dapat menggunakan Z-test dan Chi-square untuk data yang diukur
dengan skala nominal, Mann- Whitney U-test dan Wilcoxon test untuk skala ordinal,
dan jika skala pengukurannya interval dan rasio digunakan Z-test atau t-test terhadap
kelompok independen. Untuk menguji perbedaan antara ketiga atau lebih kelompok
independen dari dua variabel penelitian, metode statistik yang relavan adalah Chi-square
test untuk data yang diukur dengan skala nominal, Kruskall Wallis test untuk skala
ordinal, dan jika pengukurannya interval dan rasio digunakan metode one-way anova.

Berikut ini adalah contoh penerapan metode statistik Kruskal-Wallis test untuk menguju
perbedaan tiga atau lebih kelompok independen dalam dua variabel yang diukur dengan
skala ordinal. Kruskal-Wallis test dapat dikatakan sebagai metode pengujian statistik
non-parametrik yang ekuivalen dengan metode pengujian statistik parametric analysis of
variance (anova).
Misal, peneliti bermaksud untuk menguji perbedaan kualitas diantara tiga rumah produksi
(production house) berdasarkan peringkat kualitas dari sinetron yang dihasilkannya.
Setiap rumah produksi mengajukan lima buah sinetron terbaiknya untuk dinilai oleh sebuah
tim yang independen dan cukup kompeten dalam bidang sinematografi. Peringkat
kualitassinetron ditetapkan dengan nomor urut 1 untuk kualitas terbaik sampai dengan
nomor 15 untuk kualitas terendah. Gambar 9.12 berikut ini adalah daftar peringkat kualitas
sinetron pada masing-masing rumah produksi.
Gambar 9.12. Hasil Penilaian Peringkat Kualitas Sinetron

Rumah Produksi Rumah Produksi Rumah Produksi


A B C

9 6 1
5 13 7
3 10 15
14 2 12
8 4 11

RA 39 RB 35 RC 46

Uji statistik Kruskall-Wallis uji statistik H yang dihitung sebagai berikut:

12 2
= (+1) [ ] 3( + 1)

Dimana:

Ri = jumlah peringkat setiap kelompok


ni = besarnya sampel setiap kelompok
n = jumlah sampel semua kelompok

12 (39)2 (35)2 (46)2


H = 15(15+1) [ 5
+ 5
+ 5
] 3(15 + 1)

12
H = 240 [ 1521 + 1225 + 2116] 48

H = 0,05(972,4) 48

H = 48,62 48

H = 0,62

Selanjutnya dengan tingkat signifikansi = 0,05 dan d.f. = K-1 = 3-1 = 2 (K adalah jumlah
kelompok yang diteliti), dihitung nilai kritis H berdasarkan table chi-square ( 2 ) adalah
sebesar 5,991. Karena Hhitung (0,62) lebih kecil daripada Htabel (5,99) maka hasil ini
tidak dapat menolak hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan kualitas sinetron
yang dihasilkan ketiga rumah produksi (hipotesis nol).
Uji Hubungan (Test of Association)

Hubungan antara satu variabel dengan variabel penelitian yang lain, seperti yang telah
dibahas sebelumnya, dapat berupa hubungan korelasi dan hubungan sebab akibat. Uji
hubungan dalam analisis bivariate berikut ini lebih ditekankan pada bentuk hubungan
korelasional. Metode statistic yang sangat popular untuk menguji hubungan antara dua
variabel penelitian yang diukur dengan skala interval dan rasio, yaitu: analisis regresi
(regression analysis) dan pengukuran koefisien korelasi (correlation coefficient
measurement).Gambar 9.13 menjelaskan metode uji hubungan yang umumnya digunakan
dalam analisis bivariate.

Contoh 9.6.

Berikut ini adalah contoh penerapan metode correlation coefficient untuk menguji
hubungan antara dua variabel penelitian.
Misal, peniliti ingin menguji hubungan korelasional antara tinggal (Y) dengan
pertumbuhan produk domestik bruto (X) berdasarkan data dan pehitungan sebagai berikut

Gambar 9.13. Uji Hubungan Bivariate

Skala Pengukuran Contoh Pertanyaan Penilitian Metode Statistik

Nominal Apakah ada korelasi antara jenis kelamin Chi-square test


dengan keahlian pemakaian penggunaan Phi-coefficient
personal computer Contigency
coefficient

Ordianal Apakah peningkatan preferensi terhadap Chi-square test


produk minuman ringan mempunyai Spearman rank
correlation
korelasi dengan peningkatan intensitas iklan Kendalls rank
correlation
produk yang bersangkutan di televisi

Interval dan Rasio Apakah tingkat partisipasi manajer dalam Correlation coeffitient
penyusunan anggaran mempunyai korelasi (Pearsons r)
dengan peningkatan kinerja manajerial Bivariate regression
analysis
Gambar 9.14. Data dan Perhitungan

Negara Tingkat Tingkat Pertumbuhan


Kelahiran PDB Y2 X2
XY
(Y) (X)

Brazil 30 5,1 900 26,61


153
Kolumbia 29 3,2 841 10,24
92,8
Kosta Rika 30 3,0 900 9
90
India 35 1,4 1.225 1,96
49
Meksiko 36 3,8 1.296 14,44
136,8
Peru 36 1 1.296 1
36
Philipina 34 2,8 1.156 7,84
95,2
Senegal 48 0,3 2.304 0,09 -
14,4
Korea Selatan 24 6,9 576 47,61
165,6
Sri Lanka 27 2,5 729 6,25
67,5
Taiwan 21 6,2 441 38,44
130,2
Thailand 30 4,6 900 21,16
138
Jumlah 380 40,2 12.564 184,04
1.139,70

Berdasarkan data dan hasil penghitungan diatas, koefisien korelasi antara Y dan X dapat
dihitiung Sebagai berikut :

n XY - X Y
=
[ X ( X)][Y (Y2)]

12 x 1.138,7 40,2 x 280


=
[12 x 184,04 (40,2)2][12 x 12,564 (380)2]
= ,

Jika peneliti merumuskan pernyataan hipotesis nol (Ho): tidak ada korelasi antara
tingkat kelahiran dengan pertumbuhan PDB, dan untuk menguji hipotesis digunakan t-test
dengan derajat bebas (degress of freedom) = n 2. Uji dihitung dengan cara berikut:

,
=
(, )

= ,

Jika benar digunakan tingkat signifikan 5% dan derajat bebas 10 (12-2) untuk
pengujian dua sisi menghasilkan nilai kritis (ttabel) sebesar 2,228 (lampiran 3). Dengan
demikian karena thitung (2,228) maka hipotesis nol yang menyatakan bahwa tidak ada korelasi
antara tingkat kelahiran dengan pertumbuhan PDB ditolak.

ANALISIS MULTIVARIATE

Penelitian bisnis umumnya merupakan usaha untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan
masalah-masalah bisnis yang multidimensional. Analisis multifariate, oleh karena itu banyak
digunakan dalam penelitian bisnis untuk pemecahan masalah yang komplek.
Metode statistik dalam analisis multivariate, seperti yang dikemukakan sebelumnya, secara
garis besar dibagi menjadi dua kelompok yaitu : (1) Metode-metode dependensi. (2) Metode-
metode interdependensi.

Analisis Dependensi (Analysis of Dependence)


Analisis dependensi merupakan merode-metode statistik dalam analisis multivariate
yang digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi satu atau lebih variabel dependen
berdasarkan beberapa variabel independen. Metode statistik yang termasuk dalam kelompok
analisis depedensi antara lain: analisis regresi berganda, analisis diskriminan, multivariate
analisys of variance (MANOVA) dan canonical caroaltion analisys.
Penggunaan metode statistic, seperti yang dijelaskan dimuka, dipengaruhi oleh
Tujuan studi, jumlah variabel dependen, dan skala pengukuran yang digunakan. Gambar 9.14
menyajikan metode-metode depedensi dalam analisis multivariate berdasarkan tujuan studi,
jumlah variabel dan skala pengukuran.

Gambar 9.15 Metode-metode Depedensi dalam analisis Multivariate


Jumlah Variabel Skala Pengukuran Metode
Tujuan Studi
Dependen Independen Dependen Independen
Tujuan pengaruh
Analisis
beberapa variabel Dua atau Interval Interval
satu regresi
independen terhadap lebih atau rasio atau rasio
berganda
variabel independen
Memprediksi subyek atau
obyek penelitian
mempunyai dua atau
Dua atau Interval Analisis
lebih kategori mutually Satu Nominal
lebih atau rasio deskriminan
exclusive berdasarkan
beberapa variabel
independen
Menentukan korelasi
antara dua atau lebih Canonical
Dua atau Dua atau Interval Interval
variabel dependen dengan correlation
lebih lebih atau rasio atau rasio
beberapa variabel analisys
independen
Menguji signifikan
perbedaan rata-rata Multivariate
Dua atau Interval
beberapa variabel antara Satu Nominal analysis of
lebih atau rasio
dua level dalam suatu variance
variabel

Analisis Regresi Berganda (Multiple Regression Analysis) pada dasarnya merupakan


ekstensi dari metode regresi dalam analisis brivariate yang umumnya digunakan untuk
menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen dengan
skala pengukuran interval atau rasio dalam suatu persamaan linear. Pengaruh independen
(karena umumnya ada korelasi antar variabel independen), dalam analisis regresi berganda
dapat diukur secara parsial (ditunjukkan oleh coefficients of partial regression) dan secara
bersama-sama yang ditunjukkan oleh coefficients of multiple determination R2.
Analisis Diskriminan (Discriminant Analysis) Merupakan metode statistic untuk
memprediksi pengaruh beberapa variabel independen (diukur dengan skala interval atau
rasio) terhadap satu variabel dependen (obyek atau orang) dengan dua atau lebih kategori
yang diukur dengan skala nominal. Missal penelitian untuk memprediksi : (1) Pengaruh
current ratio, returns on aassets dan debts/ assets ratio terhadap kebangkutan atau
ketidakbangkrutan suatu perusahaan (2) Pengaruh pengalaman kerja, indeks prestasi
kelulusan dan nilai tes masuk kerja terhadap kesuksesan atau kegagalan seorang manajer.
Canonical Correlation Analysis pada dasarnya merupakan ekstensi dari metode
regresi berganda untuk menguji korelasi antar dua atau lebih variabel dependen dan beberapa
variabel independen yang semuanya diukur dengan skala interval atau rasio. Missal, peneliti
ingin menguji korelasi antara sekelompok variabel perilaku konsumen (variabel independen)
dengan sekelompok variabel kepribadian konsumen (variabel independen).
Multivariate Analysis of Variance (MANOVA) merupakan metode statistic yang
digunakan untuk menguji perbedaan nilai rata-rata antar kelompok dalam dua atau lebih
variabel dependen berdasarakan satu variabel independen yang diukur dengan skala nominal.
Missal, penelitian untuk menguji pengaruh system kompensasi (variabel independen)
terhadap volume penjualan dan kepuasan kerja.
Metode statistic lainya yang termasuk kelompok metode-metode depedensi adalah
metode Linear Structursl Relationship (LISREL) dan conjoint analysis10 . Lisrel merupakan
metode statistic yang digunakan untuk mengetahui hubungan sebab-akibat antar construcu
yang tidak dapat diukur secara langsung (umumnya yang berkaitan dengan sikap, perasaan
atau motifasi). Untuk mengetahui hubungan sebab-akibat antar variabel, LISREL
menggunakan metode (1) model pengukuran, untuk mengukur construct berdasarkan lebih
dari satu pendekatan (karena Construct tidak dapat diukur secara langsung) dan (2) model
persamaan structural, untuk mengetahui hubungan sebab akibat antar variabel (construct)
yang tidak dijelaskan. Model ini sering disajikan dalam bentuk gambar anaisis jalur (path
analysis diagram). Misalnya peneliti ingin menguji sebab-akibat antar variabel pelatihan
kerja, motifasi antar kerja dan kinerja karyawan. Pelatihan kerja diukur melalui pendidikan
formal dan latihan di tempat kerja. Motifasi diukur melaui tes motifasi dan pengamatan
terhadap perilaku. Kinerja diukur dengan hasil pekerjaan dan pengamatan manajer (atasan).

Cojoint Analysis merupakan metode statistic yang mengukur kombinasi korelasi antara
variabel (diukur dengan skala nominal dan ordinal) yang bermanfaat untuk pembuatan
keputusan. Analisis ini umumnya digunakan dalam penelitian-penelitian marketing dan
pengembangan produk. Missal, peneliti ingin membuat keputusan untuk membeli computer.
Faktor-faktor (variabel) yang dijadikan pertimbangan antara lain ; merk, harga, kecepatan,
kapasitas, dan pemanfaatan.

Analisis Interpedensi (Analysis of Interpedence)


Analisis dependensi merupakan metode-metode statistic dalam analisis multivariate
yang digunakan untuk mengetahui struktur dari sekelompok variabel atau obyek. Metode
statistic yang termasuk dalam kelompok analisis interpedensi anatara lain: factor analysis,
cluster analysis, dan multidimensional scaling. Berikut ini pembahasan singkat mengenai
analisis independensi

Factor Analysis adalah metode statistic yang digunakan dalam meringkas informasi
jumlah banyak yang dihasilkan dari proses pengukuran (berupa konsep-konsep) menjadi
sebuah dimensi atau construct yang lebih kecil (selanjutna disebut factor). Misal, informasi
mengenai umur, tinggi, berat, jabatan, pendidikan, dan sumber penghasilan karyawan dari
sejumlah perusahaan melalui factor analysis kemungkina dapat diringkas menjadi dua factor,
yaitu : ukuran (umur, tinggi, dan berat) dan status social (jabatan, pendidikan, dan sumber
penghasilan)
Cluster Analysis adalah metode statistic yang digunakan untuk mengelompokkan
subyek atau obyek penelitian dalam jumlah banyak menjadi sekelompok-kelompok dalam
jumlah kecil yang bersifat mutually exclusive. Suatu kelompok (clutser) terdiri atas subyek
atau obyek yang mempunyai karakteristik yang heterogen. Missal, 24 perusahaan minuman
ringan dikelompokkan berdasarkan karakteristik perusahaan berdasarkan dua dimensi : yang
diproduksi dan jumlah biaya produksi. 24 perusahaan tersebut melalui cutser analysis dapat
dikelompokkan menjadi tiga kelompok sebagai berikut :
Gambar 9.16. Contoh pengelompokkan perusahaan berdasarkan karakteristik Unit Penjualan
dan jumlah biaya produksi.

Kelompok Unit Penjualan Biaya Produksi


I Tinggi Rendah
II Sedang Sedang
II Rendah Tinggi
Factor analysis pada dasarnya juga berkaitan dengan proses pengelompokkan konsep-konsep
kedalam dimensi atau construct, sedang cluyser analysis mengelompokkan subyek atau
obyek kedalam dimensi atau construct.
Multidimensional Scaling merupakan metode statistic yang digunakan untuk
mengukur obyek kedalam ruang multidimensi berdasarkan kesamaan persepsi responden
terhadap obyek. Perbedaan persepsi responden terhadap obyek direflesikan dengan jarak
relative antar obyek dalam ruang multi dimensi. Missal: hofstede (1994) mengukur kultur 53
negara berdasarkan survey yang dilakukan terhadap karyawan perusahaan IBM yang
beroperasi di Negara tersebut, diantaranya diukur berdasarkan dimensi kultur power distance
dan individualist-colletivist. Gambar 9.16 menunjukkan beberapa Negara berdasarkan indeks
dimensi kulturnya.
Dimensi power distance diukur antar lain berdasarkan perbedaan kekuasaan (power)
anatara individu dalam institusi atau organisasi. Dimensi individualist-collectivist diukur
berdasarkan tingkat perhatian yang diberikan oleh para individu terhadap kepentingan
individu ata masyarakat (kolektif). Berdasarkan gambar 9.16 panama mempunyai dimensi
kultur power distance yang reltif lebih tinggi dan dimensi kultur yang lebih collectivist
dibandingkan dengan Negara-negara lain. Negara tersebut USA meskipun merupakan Negara
yang memiliki dimensi kultur power distance yang relative tinggi dibandingkan dengan
Australia.

Gambar 9.17. Posisi beberapa Negara berdasarkan Dimensi kultur


Keputusan (tingkat iugnifikasi yang diterapkan) dan teknik pengkajian satu sisi atau dua sisi,
(3) penghitungan statistik terhadap data yang dikumpulkan, (4)pembuatan kesimpulan
menolak atau mendukung hipotesis.

Berdasarkan tujuannya, metode statistik dikelompokkan menjadi dua : (1) statistik deskriptif,
dan (2) statistik inferensial terutama untuk penelitian yang dimaksudkan untuk menguji
hipotesis. Statistik inferensial terdiri atas : statistik parametrik dan statistik non parametrik
yang penggunaanya dipengaruhi setidaknya oleh dua aspek : asumsi normalitas distribusi
data yang diteliti dan tipe skala pengukuran yang digunakan.
Berdasarkan jumlah variabel penelitian, metode-metode statistik dapat dikelompokkan
kedalam tiga kategori : (1) Analisis univariateI (untuk variabel penelitian), dan (3) Analisis
multivariate (untuk lebih dari dua variabel penelitian).
Metode statistik yang umumnya digunakan dalam analisis univariate antara lain : (1) chi-
square test dan t-test untuk menguji variabel yang diukur dengan skala nominal, (2) chi-
square test dan kolmogorov-sminov test untuk menguji variabel yang diukur dengan skala
ordinal, dan (3) Z-test untuk menguji variabel yang diukur dengan skala interval atau rasio.
Ada dua bentuk pengujian yang umumnya digunakan dalam analisis bivariate, yaitu uji
perbedaan dan uji hubungan. Dalam uji perbedaan, metode statistik yang digunakan antara
lain : (1) chi-square test dan Z-test jika variabel penelitian diukur dengan skala nominal, (2)
Mann-Whitney U test, Wilcoxon (Matched-Pairs) test, dan Kruskal-Wallis test jika variabel
penelitian diukur dengan skala ordinal, dan (3) Z-test, t-test atau analysis of variance
(ANOVA) jika variabel penelitian diukur dengan skala interval atau rasio.
Metode statistik dalam analisis bivariate yang digunakan untuk menguji hubungan, antara
lain adalah : (1) chi-square test, phi coefficient, dan contigency coefficient untuk skala
nominal, (2) chi-square test, Spearman rank correlation, dan kendalls rank correlation
untuk skala ordinal, (3) correlation coeficient (Pearsons r) dan bivariate regresion analysis
untuk skala interval dan rasio.
Metode statistik dalam analysis multivariate dikelompokkan menjadi dua kategori : analisis
dependensi dan analisis interpendensi. Analisis dependensi pada dasarnya bertujuan

untuk menjelaskan dan memprediksi lebih dari dua variabel penelitian. Sedang analisis
interpendensi bertujuan untuk memahami struktur variabel atau objek penelitian.

Multiple regression analysis, discriminant analysis, canonical correlation analysis, LISREL


dan cojoint analysis merupakan metode-metode statistik yang umumnya digunakan analisis
dependensi. Factor analysis, cluster analysis, dan multidimensional scaling merupakan contoh
metode statistik yang umumnya digunakan dalam analisis interpendensi.
PERTANYAAN DISKUSI

9.1 Pengujian hipotesis merupakan proses yang kompleks, terutama jika data yang diteliti
berupa data
sampel. Jelaskan mengapa demikian.

9.2 Uraikan secara singkat yang dimaksud dengan kriteria keputusan.

9.3 Jelaskan mengapa dalam pengujian hipotesis lebih ditekankan pada penentuan tingkat
dignifikasi
alpha daripada beta.

9.4 Berikan alasan mengapa penggunaan kalimat tidak dapat menolak hipotesis no
lebih sering
digunakan daripada menerima hipotesis nol.

9.5 Sebutkan dan berikan penjelasan secara singkat elemen-elemen pokok dalam
pengujian hipotesis

9.6 Faktor- faktor apa yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode statistik untuk
pengujian data.
Berikan penjelasan masing-masing faktor tersebut.

9.7 Dalam analisis bivariate ada beberapa bentuk pengujian, sebutkan dan berikan contoh
metode-metode metode statistik yang relavan untuk setiap jenis pengujian.

9.8 Uraikan secara singkat perbedaan tujuan antara analisis dependensi dengan analisis
interdependensi.

9.9 Manajemen sebuah hotel menghendaki tingkat hunian sebesar 60%. Berdasarkan
pengamatan selama
50 hari, rata-rata tingkat hunian adalah 60% dengan deviasi standar 8%. Ujilah
dengan 10%, apakah berdasarkan hasil pengamatan tersebut dapat ditarik kesimpulan
bahwa tingkat hunian hotel tersebut melebihi 60%.

9.10 Berdasarkan data pegawai berikut ini, tentukan apakah ada perbedaan pegawai yang
mengundurkan
diri antara departemen yang satu dengan departemen yang lain

Departemen
Produksi Marketing Keuangan Akuntansi
Jumlah pegawai awal tahun 108 57 16 23
Pegawai yang keluar tahun ini 20 13 4 3
CATATAN AKHIR

1. Dowdy, S., and Wearden, S., 1983, Statistic For Research, John Willey & Sons, Inc., New
York, USA, hal. 72-73.
2. Zikmund, W.G., 1994, Business Research Methods, 4th Edition, The Dryden Press Harcourt
Brace College Publishers, Florida, USA, hal. 488-489.
3. Ibid.
4. Mendenhall, W., and Breaver, R.J., 1992, A Course in Business Statistics, 3th Edition, PWS-
KENT Publishing Company, Boston, USA, hal 269-270.
5. Cooper, D.R., and Emory, C.W., 1995, Business Research Methods, 5th Edition, Richard
D.Irvin, Inc., USA, hal. 436.
6. Ibid. Hal 435.
7. Misal, Dowdy dan Wearden (1983), Dunn dan Clark (1987), Barrow (1996).
8. Barrow, M., 1996., Statistics For Economics, Accounting and Business Studies, 2nd Edition,
Longman Publishing, New York, USA, hal. 217.
9. Cooper, D.R., and Emory, C.W., op.cit. hal. 521.
10. Cooper, D.R., and Emory, C.W., op.cit. hal. 532-533.
11. Penjelasan yang lebih rinci baca misal. Zikmund, W.G. (1994) dan Cooper, D.R., and Emory,
C.W., (1995)
TOPIK PEMBAHASAN LAPORAN PENELITIAN

TUJUAN PENYUSUNAN LAPORAN


Penelitian Dasar
Penelitian Terapan

FORMAT LAPORAN TUJUAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN Menjelaskan tujuan penyusunan laporan penelitian


dasar dan terapan.
KERANGKA TEORETIS
Membahas format laporan penelitian, meliputi bagian
METODOLOGI PENELITIAN pembukaan, bagian isi dan bagian laporan.

Membahas sub-bagian dalam bagian pembukaan


HASIL DAN PEMBAHASAN laporan
penelitian, meliputi : halaman judul, halaman
pengesahan,
KESIMPULAN daftar isi, kata pengantar, abstrak dan contoh abstrak.

Menjelaskan dan memberikan contoh bagian isi


KETERBATASAN laporan,
meliputi : pendahuluan, kerangka teoretis, metodologi
REKOMENDASI penelitian, hasil dan pembahasan, kesimpulan,
keterbatasan, dan rekomendasi.
PENULISAN LAPORAN
Proses Penulisan Menjelaskan proses dan teknik penulisan laporan,
Teknik Penulisan meliputi : tahap penyusunan laporan, teknik dan gaya
penulisan : catatan, kutipan, tabel dan grafik, huruf,
tanda
baca, pemisahan kata, paragraf, dan pemberian nomor.
TUJUAN PENYUSUNAN LAPORAN

Laporan penelitian adalah informasi yang disampaikan secara tertulis atau lisan dengan
tujuan untuk mengkomunikasikan kesimpulan hasil atau temuan penelitian dan rekomendasi
yang diperlukan. Format laporan penelitian (Kepada manajemen, publik atau pihak tertentu)
tergantung pada tujuan penyusunan laporan. Laporan penelitian disusun berdasarakan suatu
tujuan yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Berdasarkan tujuannya, seperti yang telah
dibahas dalam bab 2, penelitian dapat diklasifikasikan menjadi : penelitian dasar dan
penelitian terapan.

Penelitian Dasar (Basic Research)


Tujuan utama penelitian dasar adalah untuk mengembangkan ilmu. Penelitian dasar, oleh
karena itu, umumnya dilakukan dilingkungan akademik (Perguruan Tinggi). Berdasarkan
tujuan dan maksud dilakukannya penelitian (dasar) di lingkungan perguruan tinggi,
selanjutnya dapat dipisahkan menjadi dua kategori : (1) Penelitian dasar untuk peningkatan
kualitas akademik dosen, dan (2) Penelitian dasar untuk memperoleh gelar akademik
(penelitian mahasiswa).

Penelitian Dosen
Penelitian dasar yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualifikasi akademik umumnya
dilakukan dosen (secara mandiri atau kelompok) sebagai salah satu bagian dari kegiatan tri
darma perguruan tinggi. Sumber biaya penelitian dapat berasal dari dosen (peneliti) yang
bersangkutan atau institusi peneliti. Disamping itu, institusi pemerintah atau swasta juga
memberikan bantuan biaya penelitian untuk pengembangan dosen dan perguruan tinggi.
Format laporan penelitian umumnya ditentukan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan atau
institusi yang memberikan bantuan biaya penelitian.

Penelitian Mahasiswa (Student Research)

Penelitian dasar yang dilakukan oleh mahasiswa atau yang dikenal dengan sebutan penelitian
mahasiswa, umumnya merupakan karya ilmiah yang menjadi kualifikasi untuk memperoleh
gelar kesarjanaan, yaitu : (1) Skripsi, untuk gelar kesarjanaan strata satu (Sarajana), (2)
Thesis, untuk gelar kesarjanaan strata dua (Magister),

Penelitian Terapan (Applied Research)

Penelitian terapan adalah panelitian yang bertujuan untuk pemecahanmasalah praktis


yang dihadapi oleh institusi atau organisasi tertentu yang umumnya dilakukan di
lingkunganapemerintah atau bisnis. Sesuai dengan tujuan yang diinginkan, penelitian terapan
lebih lanjut dapat diklasifikasikan ke dalam: penelitian evaluasi, pengembanganatau aksi
(action research). Inisiatif dan biaya penelitian berasal dari organisasi yang mempunyai
masalah yang memerlukan penelitian untuk memecahkannya. Format penyusunan laporan
penelitian dapat berasal dari organisasi sponsor atau lembaga penelitian yang mengerjakan
proyek penelitian.

FORMAT LAPORAN (REPORT FORMAT)

Setiap laporan penelitian, meskipun disusun berdasarkan masing-masing tujuan


penyusunan dan maksud penelitian, beberapa konvensi format laporan bersifat universal.
Format-laporan penelitian pada dasarnya merupakan kerangka pengorganisasian dari bagian-
bagianlaporan penelitian. Format laporan penelitian secara umum dapat disusun berdasarkan
tiga bagian (gambar 10.1), yaitu: (1) Bagian Pembukaan (Prefatory Parts), Bagian Isi (Main
Body), dan Bagian Lampiran (Appended Parts); Bagian pembukaan terdiri atas: Halaman
Judul, Halaman Pengesahan, Daftar Isi, Kata Pengantar dan Abstrak. Bagian isi terdiri atas:
Pendahuluan, Kerangka Teoretis, Metodologi Penelitian, Hasil dan Pernbahasan,
Kesirnpulan, Keterbatasan dan Rekomendasi' Bagian Lampiran antara lain terdiri atas:
Formulir Pengumpulan Data, Kalkulasi Rinci, Tabel, dan Referensi.

Halaman Judul (Title Page)

Halaman judul merupakan bagian pernbukaan dari laporan penelitian yang memuat
informasi antara lain mengenai: judul penelitian, judul laporan, identiias penyusun laporan,
kepada siapa laporan dilujukan, dan periode penyusunan1aporan.Untuk laporan penelitian
yang tidak dipublikasikan (misal, skripsi) halaman judul biasanya dibuat dua macam dalam
bentuk dan isi yang sama, yaitu: halamanjudul bagian Iuar (hardbover) dan halaman jndul
bagian dalam.

Halaman Pngesahan (Authorization Page)

Laporan penelitian akademik (penelitian dosen atau mahasiswa)biasanya mempunyai


halaman pengesahan, yaitu bagian dari laporan penelitian yang berisi identitas peneliti,
sumber biaya penelitian dan otorisiasi (persetujuan) dosen pembimbing penelitian dan
institusi yang brkepentingan. Pada penelitian yang dilakukan Scara kelompok (tim),
identitas peneliti dapat diwakili oleh ketua tim penelili. Khusus untuk penelitian mahasiswa
ada tambahan halaman pengesahan dari dosen penguji, motif) dan halaman persembahan.

Laporan panelitiangterapan biasanyaftidakamenggnnakan halaman pengesahan Stelah


halaman judul, laporan ponclitian terapan umumnya berisi halaman yang memuat surat
penyerahan secara for mal (letter of trasmittal) dari peneliti kepada penerima laporan
(institusi sponsor).

Halaman Judul
BAGIAN Halaman Pengesahan
PEMBUKAAN
Daftar Isi
Kata Pengantar
Abstrak

Pendahuluan
Kerangka Teoritis Hipotesis
FORMAT BAGIAN
Metodolodi
LAPORAM
ISI Hasil dan Pembahasan
Kesimpulan
Keterbatasan dan
Rekomendasi

Formulir Pengumpulan data


BAGIAN
Kalkulasi Rinci
LAMPIRAN Tabel Umum
Referensi
Daftar Isi (Table of Contenta)

Daftar isi adalah bagian pembukaan dari laporan penelitian yang memberikan
informasi mengenai bagian dan sub-bagian pembahasan dalam laporan disertasi referehsi
nornor halaman. Pada bagian isi laporan penelitian biasanya menggunakan istilah bab dan
sub-bab untuk klasifikasi pernbahasan. jika di dalam Iaporan penelitian memuat gambar atan
tabel, setetah daftar isi ditambahkan halaman yang memuat daftar gambar atau daftar tabel.

Kata Pengantar (Preface)

Kata pengantar merupakan bagian pembukaan dari laporan penelitian yang memuat
maksud dan tujuan peneliti menyusun Iaporan. Pada bagian ini biasanya peneliti
menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah rnembantu penelitian
yang sedang dilaporkan. Kata pengantar dibuat ringkas dengan panjang halarnan satu sampai
dua lembar.

Abstrak (Abstrack)

Nama lain dari Abstrak yang sering digunakan dalam laporan penelitian adalah
sinopsis (synopsis) dan ringkasan atau intisari (summary). Abstrak merupakan bagian vital
dalam laporan penelitian, karena bagian pembukaan dari laporan penelitian ini memberikan
informasi secara ringkas mengenai: alasan peneliti melakukan penelitian, aspek-aspek
masalah yang diteliti, metode-metode peneiitian yang digunakan,dan kesirnpulan hasil
penelitian.'

Berdasarkan informasi yang disajikan pada bagian ini, pembaca secara sekilas dapat
memahami esensi penelitian yang dilaporkan. Berbeda denganfbagian lain dari Iaporan
penelitian yang umumnya ditulis dengan spasi ganda, abstrak ditulis dgengan spasi tunggal
(umumnya disajikan dalam bahasa Inggris). Panjang halaman abstrak biasanya satu atau
maksimal duafhalaman terdiri atas 150 tsampai dengan 400 kata. Abstrak biasanya diikuti
oleh sedikitnya empat kata kunci (key words) untuk memudahkan penyusunan bibliographic
atau abstract database.
Abstrak umurnnya memuat empat elemen informasi. Pertama,pernyataan mengenai tujuan
penelitian termasul alasan pokok dan tujuan khusus dari penelitian. Kedua, informasi
mengenai pengujian (pemilihan, pengumpulan dan analisis) data dan hasilnya, Ketiga,
kesimpulan yang dibuat berdasarkan hasil agnalisis data dan yang terakhir adalah
rekomendasi untuk penelitiafn selanjutnya (untuk penelitian dasar) atau rekomendasi untuk
kebijakan dan tindaikan yang harus dilakukan (untuk penelitian terapan

uraian yang cukup mengenai arti pentingnya penelitian yang sedang dilaporkan dan alas an
pemilihan bidang masalah dan topik yang diteliti. Termasuk didalamnya, uraian singkat
mengenai penelitian-penelitian setopik yang telah dilakukan sebelumnya serta hasil temuan
yang penting. Selanjutnya uraian pada bagian ini diarahkan untuk menjawab antara lain
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1. Apakah penelitian yang sedang dilaporkan merupakan studi eksploratif?


2. Jika tidak, bagaimana kaitan antara penelitian yang sedang dilaporkan dengan
penelitian-penelitian sebelumnya?
3. Mengapa penelitian yang sedang dilaporkan merupakan replikasi (pengulangan) dari
penelitian sebelumnya?
4. Atau jika merupakan ekstensi (perluasan) dari penelitian sebelumnya, dalam hal apa
dan apa perlunya?

Selanjutnya pada bagian pendahuluan ini, peneliti harus menyatakan rumusan masalah
yang diteliti secara jelas dan dapat diuji melalui pengumpulan data. Batasan dan asumsi-
asumsi apa yang dipertimbangkan dalam penelitian juga dikemukakan pada bagian ini.
Uraian berikutnya adalah penjelasan mengenai tujuan yang diharapkan oleh peneliti
dengan adanya penelitian tersebut dan manfaat atau kontribusi apa yang diberikan oleh hasil
penelitian tersebut, baik dari aspek teoretis maupun aspek praktis. Uraian pada bagian ini
dapat diakhiri dengan penjelasan singkat mengenai pengorganisasian materi dalam laporan
penelitian.

KERANGKA TEORETIS (THEORETICAL FRAMEWORK)

Kerangka teoretis yang juga disebut landasan teoretis atau telaah literature merupakan bagian
dari isi laporan penelitian yang diletakkan pada Bab II. Bagian ini memuat konsep-konsep
teoretis yang digunakan sebagai kerangka atau landasan untuk menjawab masalah penelitian.
Pembahasan pada bagian ini, difokuskan pada literatur-literatur yang membahas konsep
teoretis yang relevan dengan rumusan masalah dan konsep teoretis yang kurang relevan
dengan upaya pemecahan masalah penelitian.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pada penelitian yang bertuuan untuk menguji
hipotesis, uraian dalam kerangka teoretis diarahkan untuk memperoleh perspektif ilmiah yang
menjadi landasan perumusan hipotesis dari penelitian yang sedang dilaporkan. Jika terdapat
lebih dari satu hipotesis yang diuji dalam penelitian yang sedang dilaporkan , bagian ini
sebaiknya membahas landasan teoretis dalam beberapa tahap sesuai dengan jumlah hipotesis
yang diuji. Hal ini dimaksudkan dalam menjawab masalah penelitian yang dinyatakan dalam
rumusan hipotesis mudah dipahami oleh pembaca laporan.
Hipotesis yang dinyatakan dalam bagian ini harus dirumuskan sesuai dengan tujuan
penelitian dan mengidentifikai variabel-variabel yang diteliti. Untuk memudahkan pembaca
dalam memahami aspek-aspek dari variable yang menjadi perhatian peneliti serta
menunjukkan sifat dan arah antar variable yang dinyatakan dalam rumusan hipotesis,
pembahasan pada bagian ini sebaiknya dilengkapi dengan diagram yang memvisualisasikan
model penelitian yang sedang dilaporkan.
Contoh telaah teoretis dan pengembangan hipotesis dapat dilihat kembali pada contoh
4.7. yang dibahas dalam bab 4.

METODOLOGI PENELITIAN (RESEARCH METHODOLOGY)

Metodologi penelitian merupakan bagian dari isi laporan yang menjelaskan pendekatan dan
metode penelitian yang sedang dilaporkan. Beberapa hal yang biasanya diuraikan pada
bagian ini antara lain mengenai: sumber data, horison waktu, unit analisis data, metode
pengumpulan dan pemilihan data, variabel dan pengukurannya, serta metode statistik yang
digunakan untuk menganalisis data.
Uraian diawali dengan menjelaskan data yang diteliti, antara lain berkaitan dengan:
sumber (primer atau sekunder), waktu (cross-sectional atau time-series), dan unit analisis
(individual, organisasional, perusahaan atau negara). Selanjutnya dijelaskan metode yang
digunakan peneliti untuk memilih dan mengumpulkan data penelitian. Jika digunakan sampel
perlu penjelasan mengenai populasi atau kerangka sampel yang digunakan untuk memilih
sampel, jumlah dan metode penentuan sampel. Pada penelitian opini yang menggunakan
metode survei, bagian ini biasanya juga menjelaskan teknik survey yang digunakan, tingkat
respon yang diterima dan (jika dipandang perlu) pengujian non-response bias. Semua
penjelasan di atas sebaiknya disertai dengan pertimbangan atau argumentasi mengenai
relevansi penentuan metode atau teknik yang digunakan dengan pemecahan masalah yang
diteliti.

Contoh 10.2. Berikut ini adalah contoh bagian metodologi penelitian dalam laporan
penelitian yang mengungkapkan mengenai data penelitian, termasuk metode pemilihan
sampel dan pengumpulannya3.

Untuk mencapai tujuan penelitian, sampel diambil dari perusahaan-perusahaan baik


swasta maupun BUMN yang beroperasi dalam bidang jasa, perdagangan ataupun
manufaktur yang sedang dan telah mengembangkan sistem informasi. Karena tidak tersedia
daftar anggota populasi dari organisasi-organisasi yang sedang dan telah mengembangkan
system informasi yang berbasis computer, maka populasi ditentukan yaitu perusahaan-
perusahaan besar yang berlokasi di wilayah Indonesia, dengan pertimbangan bahwa
perusahaan akan memiliki kegiatan operasional yang kompleks, dan kompleksitas usaha ini
akan mendorong organisasi untuk mengadopsi teknologi, diantaranya teknologi informasi,
Informasi identitas perusahaan diperoleh dari Handbook of The Top Companies and Big
Group in Indonesia 1996 yang diterbitkan oleh PT Kompas Indonesia. Sampel penelitian ini
dipilih dari buku tersebut secara acak.
Data diperoleh dengan mengirimkan kuisioner kepada manajer devisi atau departemen
melalui mail-survey. Penelitian ini difokuskan pada manajer divisi/departemen sebagai
responden didasarkan atas pertimbangan, antara lain (Choe 1996):
1. Manajer divisi/departemen sebagai pemakai informasi akan lebih obyektif dalam
menilai efektivitas system informasi yang dikembangkan.
2. Manajer divisi/departemen sebagai pemakai infomasi mempunyai kepentingan yang
sama dibandingkan dengan pemakai dari luar perusahaan yang jumlahnya sulit
diidentifikasi dan mempunyai kepentingan yang berbeda.
Dalam penelitian ini, peneliti tidak mengetahui secara pasti jumlah populasi yang akan
diteliti, maka untuk kepentingan analisis statistic, pneliti menentukan jumlah minimum
respon sebanyak 60. Dengan mempertimbangkan tingkat respon di Indonesia yang masih
relatif rendah (berkisar 10%-20%) maka dikirim 600 kuisioner. Agar responden penelitian
ini mencakup sebagian besar manajer departemen fungsional yang terdapat dalam suatu
perusahaan, peneliti mengirim 2-3 kuisioner kepada responden di 225 perusahaan.
Dari jumlah kuisioner yang dikirim, ada31 kuisioner yang tidak sampai ke alamat yang
dituju dan 101 orrang manajer yang mengirimkan jawaban , 7 diantaranya digugurkan
karena data yang ada di dalamnya tidak lengkap. Jumlah kuisioner yang digunakan dalam
analisis data, dengan demikian sebanyak 94 (tingkat pengembalian 16,5%).

Contoh 10.3. Contoh penjelasan pengujian non-response bias pada laporan penelitian
yang menggunakan metode survey adalah sebagai berikut4 :

Salah satu kelemahn mail survey adalah bahwa responden yang mau berpartisipasi
adalah mereka yang mempunyai kepentingan pribadi terhadap penelitian. Secara leebih
umum, kemungkinan terjaadi bahwa karakteristik mereka yang berpartisipasi
(mengembalikan kuisioner) dan yang tidak mau berpartisipasi (non-response) berbeda.
Apabila hal ini terjadi, maka hasil analisis data dengan non-response kemungkinan akan
berbeda dengan hasil analisis data tanpa non-response. Masalah ini (non-response bias)
akan semakin serius apabila tingkat pengembalian (response rate) sangat rendah.
Untuk mengatasi masalah ini, uji non-response bias dilakukan dengan cara membandingkan
karakteristik mereka yang berpartisipasi dengan mereka yang tidak berpartisipasi. Karena
data mengenai non-response subyek tidak tersedia (data sekunder tidak tersedia), responden
yang mengembalikan setelah tanggal yang ditentukan dalam surat pengantar (late response)
dianggap sebagai responden yang tidak menjawab. Dari 132 kuisioner yang kembali, 98
dikategorikan sebagai kuisioner yang dikembalikan awal (early response) dan 34 kuisioner
dikategorikan yang datang akhir (late response) dan dianggap kelompok non-response.
Adapun karakterisitiok responden yang dibandingkan adalah konflik peran, orientasi peran
dan kepuasan kerja. Hasil pengujian dengan t-test menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan
yang signifikan antara dua kelompok responden tersebut.
Pembahasan dalam bagian ini selanjutnya mengemukakan definisi operasional variabel
penelitian, yaitu penjelasan mengenai variabel yang diteliti dan cara pengukurannya. Jika
digunakan instrument untuk mengukur variabel penelitian, sebaiknya diuraikan dengan jelas
mengenai instrument yang digunakan, siapa yang mengembangkan, variabel yang diukur,
tipe skala pengukuran, dan bagaimana cara mengukur variabel berdasarkan data yang
dikumpulkan.

Contoh 10.4. Berikut ini adalah contoh bagian metodologi penelitian dalam laporan
penelitian yang mengungkapkan (salah satu) variabel penelitian dan cara
pengukurannya5.

Untuk mengukur keterlibatan dan pengaruh seorang manajer atau bawahan dalam proses
penyusunan anggaran, digunakan instrument yang dikembangkan oleh Milain (1975).
Instrumen Milain dipilih karena telah menunjukkan tingkat reabilitasi yang cukup tinggi,
seperti dalam penelitian Nouri (1985), Chenhall (1986), Mia (1988) dan Frucot dan Shearon
(1991).
Di Indonesia instrument ini juga telah digunakan antara lain oleh Indriantoro (1993),
Asnawi (1997), Indarto (1997), Supomo dan Indriantoro (1998), Wartono (1998), dan Fitri
(1998).
Setiap responden diminta untuk menjawab enam butir pertanyaan yang tingkat partisipasi
responden, pengaruh yang dirasakan responden dalam proses penyusunan anggaran, dengan
cara memilih satu nilai dalam skala satu sampai tujuh. Skala rendah (nilai 1) menunjukkan
tingkat partisipasi yang tinggi, sebaliknya skala tinggi (nilai 7) menunjukkan tingkat
partisipasi yang rendah.

Akhir pembahasan bagian ini biasanya menjelaskan metode statistik yang digunakan
untuk menganalisis data penelitian. Jika analisis data dimasudkan untuk menguji hipotesis,
sebaiknya dijelaskan kriteria keputusan yang digunakan untuk menolak atau mendukung
hipotesis.

Contoh 10.5. Berikut ini adalah contoh penjelasan mengenai metode analisis data dalam
bagian metodologi penelitian6.

Model empiris pengujian hipotesis adalah dependen variabel yang merupakan fungsi
dari interaksi dua variabel independen. Pendekatan ini diadopsi dari Allison (1997) dan
Schoonhoven (1981) yaitu :

Y = b + b1X1 +b2X2 +
b3X1X2
.(1)

Keterangan:
Y = Kinerja manajerial
B1 , b2 , b3 = Koefisien regresi
X1 dan X2 = Variabel independen dari desentralisasi dan masing-masing informasi
akuntansi manajemen yang diterapkan secara berurutan
X1X2 = Interaksi X1 dan X2

Persamaan dalam regresi berganda ini merupakan cara yang dapat digunakan untuk
menguji interaksi (Allison 1977; Schoohoven 1981). Dalam penelitian ini, pendekatan
interaksi bertujuan untuk menerangkan variasi kinerja manajerial dari dua interaksi variabel
independen. Pembuktian matematis oleh Southwood (1978) dan penerapan secara empiris
Schoohoven 1981 dan Govindarajon (1986) menunjukkan effek utama (main effect) dari
masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen tidak dapat
diinterprestasikan. Fokusnya adalah pada signifikansi dan sifat pengaruh interaksi dua
variabel indepen terhadap

HASIL DAN PEMBAHASAN(RESULT AND DISCUSSIONS)

Bagian ini terdiri atas hasil dan pembahasan.Beberapa artikel hasil penelitian
menempatkan bagian pembahasan menjadi satu dengan bagian kesimpulan. Pengorganisaian
materi pada bagian Hasil, pembahasan,kesimpulan,keterbatasan dan rekomendasi, terutama
pada artikel hasil penelitian,tidak mempunyai ketentuan yang baku. Dalam skripsi, Tesis atau
Distersi, bagian Hasil dan pembahasan biasanya ditempatkan dalam bab lv, sedangkan
bagian kesimpulan, keterbatasan dan rekomendasi disajikan dalam bab v.
Hasil merupakan bagian dari isi laporan penelitian yang memberikan informasi
mengenai hasil analisis data yang mebantu peneliti menginterprestasi data yang diteliti
sehingga memudahkan untuk membuat kesimpulan.Hasil analisis data yang membantu
peneliti menginterprestasi data yang diteliti sehingga memudahkan untuk membuat
kesimpulan. Hasil analisis data yang dikemukakan pada bagian ini antara lain memuat:
deskripsi statistic mengenai sampel penelitian, demografi responden(jika ada), variable-
variabel penelitian,dan hasil pengujian hipotesis. Untuk memudahkan pembaca dalam
memahami dan menginterprestasi hasil analisis data, pada bagian ini biasanya digunakan
table dan grafik.
Pembahasan merupakan bagian dari isi laporan penelitian yang mendiskusikan
implikasi dari hasil analisis data dan interprestasi yang dibuat peneliti. Jika penelitian
dimaksudkan untuk menguji hipotesis, dalam bagian ini dibahas konsekuensi dari hasil
pengujian yang memungkinkan menolak atau mendukung hipotesis. Dalam pembahasan
peneliti dapat merujuk hasil penelitian-penelitian setopik yang sesuaii atau tidak sesuai
dengan hasil penelitian yang sedang dilaporkan.

Contoh 10.6 Contoh deskripsi statistic demografi responden dan variable penelitian,
masing-masing dapat dilihat kembali pada gambar 8.3 dan 8.1 dalam pembahasan bab
8. Berikut ini diberikan contoh hasil pengujian hipotesis dan pembahasannya.

Hasil analisis regresi secara keseluruhan menunjukkan angka 2 sebesar 42% F=10,7
dengan signifikasi p kurang dari 0,0001. Berarti ada hubungan yang signifikan antara
variable independen (kinerja manajerial) dengan semua prediktornya (variable
indenpenden). Variasi perubahan kinerja manajerial dijelaskan oleh semua variable
indevenden sebesar 47%. Table menunjukkan bahwa pengaruh partisipasi terhadap kinerja
manajerial tidak signifikan. Hasil penelitian ini dengan demikian, menolak hipotesis (1) yang
menyatakan bahwa partisipasi yang tinggi akan meningkatkan kinerja manajerial. Interaksi
antara partisipasi dengan struktur menunjukkan koefesien positif sebesar 1,314 pada tingkat
signifikasi kurang dari 0,01, Artinya struktur desentralisasi mempunyai pengaruh
moderating terhadap hubungan antara anggaran partisifatif dengan peningkatan kinerja
manajerial. Dengan demikian,hasil penelitian ini mendukung hipotesis(2) yang menyatakan
bahwa partisipasi yang tinggi dalam penyusunan anggaran akan mempunyai pengaruh
positif pada struktur desentralisasi, dan pengaruh negative pada struktur sentralisasi.
Hasil Analisis Regresi

Variabel Koefesien Kesalahan Standar Nilai-t Prob


Konstanta 62,778 3,666 17,264 000
Partisipasi 9,440 2,148 0,359 ts
Struktur -1,497 2,126 0,704 ts
Kultur -10352 2,021 0,156 ts
Part-Struktur 1,314 0,451 2,915 005
Part-Kultur 8,123 1,757 4,624 001
2
= 42; = 10,700; = 000

Dasar pemikiran yang mendukung temuan tersebut, bahwa keefektifan anggaran partisipasi
tidak hanya memerlukan keterlibatan para manajer pada level yang lebih rendah, melainkan
juga perlu adanya pendelegasian wewenang kepada mereka , sehingga mereka mempunyai
wewenang yang lebih besar untuk mempengaruhi penyusunan target anggaran yang menjadi
pedoman penilaian kinerja mereka. Para manajer lebih termotivasi untuk meningkatkan
kinerjanya sesuai dengan anggaran.Karena mereka terlibat dalam proses penyusunannya dan
menerima pendelegasian wewenang yang relative lebih besar dalam pembuatan keputusan
yang berkaitan dengan anggaran. Partisipasi dan pendelegasian wewenang kepada para
manajer pada struktur desentralisasi kemungkinan menyebabkan perasaan yang lebih nyaman
dalam melaksanakan kegiatan, sehingga mereka lebih dapat meningkatkan kinerjanya
dibandingkan dengan para manajer pada struktur sentralisasi.

Jika penelitian yang sedang dilaporkan menggunakan instrument pengukur, pada bagian ini
biasanya dikemukakan hasil uji reliabilitas dan validitas terhadap instrument pengukur yang
digunakan. Disamping itu, sering dikemukakan juga hasil uji reliabilitas dan validitas
penggunaan instrument pengukur yang sama oleh peneliti-peneliti yang lain sebagai bahan
perbandingan dengan hasil dari penelitian yang sedang dilaporkan.

Contoh 10.7.Berikut ini adalah contoh uji reliabilitas dan validitas yang disajikan
dalam suatu laporan penelitian.

Untuk lebih menyakinkan bahwa skala yang digunakan adalah skala yang tepat maka
peneliti melakukan uji ulang terhadap reliabilitas dan validitas pengukuran data. Uji ini
dilakukan untuk mengetahui konsistensi dan akurasi data yang dikumpulkan dari
penggunaan instrument(Huck dan Cormier 1996). Untuk uji reliabilitas digunakan Cronbach
alpha,sedang untuk menguji validitas digunakan analissi factor terhadap setiap intem
dengan menggunakan Varimax Rotation. Hasil uji reliabilitas dan validitas menunjukkan
bahwa skala pengukuran yang dipakai valid dan reliable seperti yang terlihat dalam table
berikut ini:

Variabel Butir Alpha* Alpha* Elgen-Valu Variance(%)


Computer Anxiety
Fear 9 0,85 0,83 6,097 32,1
Anticipation 10 0,84 0,80 2,224 11,7
Computer attiude
Pessimism 9 0,82 0,72 4,241 21,2
Optimism 7 0,79 0,87 4,713 23,6
Intimidation 4 0,86 0,86 1,930 9,7
Math Anxiety 15 0,93 0,95 9,097 60,6
Keahlian EUC 32 0,95 0,96 16,369 51,2

*Penelitian Harrison dan Rainer(1992)


**penelitian ini
Kesimpulan (Conclusions)

Kesimpulan merupakan bagian dari isi laporan penelitian yang memuat informasi mengenai
kesimpulan yang dibuat peneliti.Kesimpulan yang dibuat biasanya merupakan pendapat
singkat peneliti berdasarkan hasil dan pembahasan pada bagian sebelumnya. Berdasarkan
kesimpulan yang dibuat,peneliti selanjutnya biasanya membuat rujukan beberapa hasil
penelitian sebelumnya untuk perbandingan apakah temuan penelitiannya mendukung atau
menolak hasil temuan penelitian-penelitian sebelumnya.

Contoh 10.8 Berikut ini adalah contoh uraian pada bagian kesimpulan dari suatu
penelitian

Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian Wilson (1986), Rayburn(1986), dan
penelitian Livnat dan Zarrowin(1990) karena dalam priode sampel penelitian ini tidak
ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara laba, akrual dan arus kas dengan return
saham. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang sama dengan hasil penelitian Wahyuni
(1998) dan Ngaisah(1998) yang juga menggunakan Bursa Efek Jakarta sebagai sampel
penelitian.

Keterbatasan (Limitations)

Keterbatasan merupakan bagian dari isi laporan penelitian yang mengemukakan kelemahan-
kelemahan yang disadari oleh peneliti dalam melakukan penelitian yang sedang dilaporkan
yang kemungkinan dapat mempengaruhi hasil penelitian. Keterbatasan penelitian merupakan
indikasi penting yang harus dikemukakan, terutama untuk penelitian berikutnya yang akan
menggunakan penelitian yang sedang dilaporkan sebagai bahan rujukan. Banyak factor yang
kemungkinan dapat menyebabkan keterbatasan penelitian,diantaranya adalah: (1)
kompleksitas masalah yang diteliti sehingga kemungkinan adanya pengaruh factor lain(yang
tidak diteliti) terhadap variabel yang diamati, (2) aspek-aspek yang terkait dengan desain
penelitian,misal: penentuan waktu unit analisis,setting penelitian (3) kelemahan pada
penentuan kerangka sampel dan metode pemiliha sampel yang tidak acak,(4)kemungkinan
adanya kesalahan yang ditimbulkan oleh responden dan non-responden,(5) variable yang
diteliti dan instrument pengukur yang digunakan,(6) metode statistic yang digunakan dalam
pengujian data.

Contoh 10.9 berikut ini adalah contoh uraian pada bagian keterbatasan daru suatu
laporan

Hasil penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan. Pertama,hubungan antara


perubahan laba akutansi dengan rasio keuangan dan hubungan antara nilai Pr dengan
cumulative excess return mungkin dipengaruhi oleh factor lain yang dapat mempengaruhi
hasil penelitian. Keduan,sampel yang digunakan tidak random dan hanya mendasarkan pada
perusahaan manufaktur,sehingga hasil penelitian tidak dapat digunakan sebagaidasar
generalisasi. Ketiga, penelitian ini melakukan pengujian tanpa mempertimbangan size effect.
Ukuran perusahaan mungkin mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memperoleh
laba. Keempat penggunaan data laporan keuangan tahun 1997 kemungkinan mempengaruhi
hasil alalisis karena pada tahun itu terjadi krisis ekonomi. Kelima , jumlah rasio keuangan
yang digunakan sangat sedikit dan komposisi rasio yang signifikan masing-masing model
berbeda. Keenam, dasar utama penelitian ini menggunakan penelitian sebelumnya yang
dilakukan di luar negeri, khususnya Amerika sehingga perbedaan kondisi ekonomi dan
budaya tidak dapat dikontrol dalam model. Ketujuh, faktor ekonomi seperti inflasi,tingkat
bunga, subsidi pemerintah, dan lain sebagainya belum dipertimbangkan dalam penelitian
ini.

Rekomendasi (Recommendations)

Bagian akhir dari isi lapran penelitian memuat rekomendasi atau saran yang deberikan oleh
peneliti .rekomendasi pada penelitian dasar, dimaksudkan sebagai masukan untuk penelitian-
penelitian berikutnya yang menggunakan topik sejenis dengan penelitian yang sedang
dilaporkan. Rekomendasi pada penelitian terapan, biasanya berupa saran-saran untuk
pembuatan kebijakan atau penentuan tindakan yang akan dilakukan.

Contoh 10.10 Contoh rekomendasi pada sebuah laporan penelitian adalah sebagai
berikut

Dengan hasil penelitian yang beragam mengenai arti penting construct job insecurity dalam
suatu proses turnover yang dihadapi oleh organisasi. Maka penelitian selanjutnya dapat
lebih difokuskan pada pemahaman hubungan kontrak tersebut dengan berbagai variable
yang ada dan arit pentingnya pembentukan persepsi karyawan.
Predictor keinginan berpindah dalam studi ini hanya berhasil menerangkan 28,5% varians
variable terebut, oleh karena itu,masih terbuka kesempatan bagi penelitian selanjutnya untuk
mencari dan menemukan variable-variabel lain yang secara bersama-sama dapat
menjelaskan dengan lebih baik keinginan staf untuk berpindah. Untuk konfirmasi lebih lanjtu
model turnover Paskwark dan Strawser (1996), studi selanjutnya dapat dilakukan secara
longitudinal untuk menghubungkan keinginan berpindah staf akuntan dengan tingkat
perpindahan yang sesungguhnya.

LAMPIRAN(APPENDIX)

Laporan penelitian biasanya menyertakan lampiran-lampiran yang antara lain memuat :


formulir pengupulan data ( instrument pengukur ), kalkulasi rinci, table dan daftar pustaka
dan referensi. Materi yang di muat dalam lampiran merupakan materi yang bersifat teknis
atau atau rinci yang kurang relevan jika disajikan pada bagian isi laporan. Pemuatan formulir,
kalkulasi rinci, dan table (yang bersifat umum) ke dalam lampiran di dasari pada
pertimbangan bahwa materi-materi tersebut akan mengganggu pembahasan materi pokok
pada bagian isi laporan penelitian. Misal, table yang di muat pada isi bagian laporan di
pertimbangkan sebagai materi yang terkait dan membantu penjelasanmateri pokok. Pemuatan
kalkulasi rinci biasanya selain menambah panjang halaman pada bagian isi laporan,
kemungkinan akan mengaburkan focus penjelasan materi pokok. Pada bagian lampiran
peneliti dapat memuat daftar pustaka, untuk semua literature yang menjadi bahan bacaan atau
memuat referensi, yaitu terbatas pada literarur-literatur yang dikutip pad materi pokok
laporan penelitian.

PENULISAN LAPORAN (REPORTWRITING)

Faktor lain yang perlu diketahui oleh peneliti untuk menyusun laporan penelitian, disamping
tujuan penyusunan, materi dan format laporan penelitian, adalah berkaitan dengan penulisan
laporan yaitu proses dan teknik penulisan. Penerapan proses penelitian dengan baik akan
membantu kelancaran penyusunan laporan penelitian.

Proses Penulisan (Writing Process)


Tahap-tahap pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh peneliti dalam penulisan laporan dapat
dijelaskan melalui ilustrasi berikut ini (gambar 10.2). Setelah peneliti menyiapkan data dan
materi yang akan di muat dalam laporan, peneliti mempertimbangkan penyusunan format.

PROSES PENYUNANAN LAPORAAN PENELITIAN

Menyiapkan materi dan data

MENYIAPKAN MAT
Menentukan format laporan

Menyusun Garis Besar Materi

Menulis Draft Laporan

Meningkatkan efektifitas dan efisien


penggunaan kalimat

Memperbaiki tata bahasa

dan penggunaan istilah

Mengevaluasi kesesuaian (proporsi)


struktur isi dan relevansi isi

Menulis Laporan final


Laporan secara keseluruhan. Dalam penulisan skripsi, tesis atau disertasi, mahasiswa dapat
menggunakan ketentuan format laporan yang di tetapkan oleh perguruan tinggi yang
bersangkutan. Tahap selanjutnya berdasarkan laporan yang di tentukan, peneliti membuat
garis besar materi, sebelum memulai menulis draft atau konsep laporan. Setelah menyusun
draft laporan, peneliti perlu mengedit penggunaan kalimat yang tidak efektif dan tidak
efesien, kekeliruan tata bahasa dan istilah-istilah yang digunakan. Sebelum sampai pada
penyusunan laporan final, peneliti perlu mengevaluasi proporsi bagian-bagian dalam laporan
dan relevansi pembahasan dari bagian awal sampai dengan akhir laporan.

TEKNIK PENULISAN (TECHNICAL WRITING)

Laporan penelitian disusun untuk memberikan informasi dan mengkomunikasikan hasilnya


kepada pihak lain. Penulisan laporan penelitian mempunyai variasi teknik dan gaya (style)
yang berpengaruh pada pembacanya. Perguruan tinggi penyelenggara pendidikan gelar
biasanya menerbitkan ketentuan yang mengatur teknik dan gayapenulisan laporan penelitian
mahasiswa (skripsi, tesis atau disertasi). Ketentuan tersebut antara lain mengatur : jenis kertas
sampul dan isi laporan, dan ukuran kertas, panjang halaman, catatan, kutipan, gambar (table
dan grafik), penulisan huruf , tanda baca, pemisahan kalimat, pemberian nomor.

Catatan (notes). Catatan berupa referensi, penjelasan atau komentar yang diletakkan di luar
badan tulisan. Pemuatan catatan dalam laporan mempunyai maksud untuk menunjukkan
sumber informasi atau memberikan tekanan penjelasan. Ketentuan mengenai catatan biasanya
mengatur kapan dan bagaimana pengguna catatan, dimana letak catatan dan pemberian tanda
(citation). Catatan dapat diletakkan pada bagian bawah dari badan tulisan (catatan kaki), di
bawah gambar, ilustasi atau table (footnotes), atau pada bagian akhir dari suatu bab
(endnotes). Disamping itu, catatan dapat diletkkan menyertai kalimat pembahasan pada badan
tulisan sebagai penjelasan referensi (editorial notes).

Kutipan (Quations). Tujuan penguipan pada dasarnya adalah memberikan ilustrasi yang
menjelaskan, menegaskan, atau member dukungan terhadap ide, argumentasi atau
kesimpulan peneliti (penulis laporan). Ketentuan mengenai kutipan biasanya mengatur apa
saja yang seharusnya dikutip, panjang kutipan, cara penulisan kutipan dan daftar sumber
kutipan (referensi). Sumber kutipan berasal dari : buku, jurnal, makalah, paper, laporan, surat
kbar, majalah atau jenis informasi yang lain.
Tabel (Table) dan Grafik (Graph). Informasi yang disajikan dalam laporan penelitian
biasanya berkaitan dengan informasi yang disusun, diklasifikasi, diringkas dan disusun dalam
bentuk table atau grafik agar jelas dan mudah dipahami oleh pembaca laporan Ketentuan
mengenai table biasanya mengatur mengenai : tipe, panjang, letak, pemberian nomor, judul,
isi, dan pengatuan spasi dalam penyajian tabel. Sedangkan ketentuan mengenai grafik
umumnya mengatur : jenis, letak, pemberian nomor, judul, batas baris dan pengunaan huruf.

Gaya (Syle). Gaya penulisan dalam laporan antara lain mencakup teknik-teknik penulisan :
(1) huruf (missal: capital, miring, atau tebal), (2) tanda baca (misaal: titik, koma, atau tanda
kurung), (3) pemisahan kata, (4) penggunaan singkatan, (5) teknik penulisan paragraph, dan
(6) pemberian nomor (bagian, bab, sub-bab, dan halaman). Pemberian nomor pada laporan
penelitian, kecuali nomor halaman yang umumnya menggunakan sistem numeric, dapat
menggunakan system numeric, alfabetik atau kombinasi dari keduanya. Sistem penomoran
halaman biasanya mengatur penomoran pada bagian pembukaan dan isi laporan, serta
pengaturan tempat nomor halaman.

RINGKASAN

Laporan penelitian pada dasarnya memuat informasi mengenai kesimpulan hasil


penelitian dan rekomendasi yang diperlukan. Format laporan penelitian tergantung
pada tujuan peyusunan laporaan yang terkait dengan tujuan penelitian. Format
laporan penelitian secara umum terdiri atas tiga bagian, yaitu: pembukaan, isi dan
lapiran.
Bagian pembukaan laporan memuat antara lain: halaman judul, halaman pengesahan,
letter of transmittal (jika diperlukan), daftar isi, kta pengantar dan abstrak. Bagian isi
laaporan penelitian secara garis besar memuat: pendahuluan, kerangka teoretis,
metodologi penelitian, hasil dan pembahasan, kesimpulan, keterbatasan dan
rekomendasi. Bagian lampiran laporan penelitin antara lain berisi: formulir
pengumpulan data, kalkulasi rinci, tabel umum dan referensi.
Abstrak merupakan bagian vital dari laporan penelitian yang memuat informasi
singkat mengenal alasan peneliti melakukan penelitian, masalah yang diteliti, metode
penelitian dan kesimpulan hasil penelitian. Panjang halaman abstrak maksimum dua
lembar atau terdiri atas 150 sampai dengan 400 kata yang ditulis dengan spasi
tunggal. Untuk memudahkan penyusunan indeks, pada bagian akhir abstrak ditulis
sedikitnya empat kata kunci.
Ada sedikitnya tiga aspek yang dimuat dalam bagian pendahuluan: (1) lataar belakang
yang menjadi motivasi peneliti untuk melakukan penelitian, (2) perumusan masalah
atau pertanyaan penelitian. (3) tujuan dan manfaat penelitian.
Kerangka teoretis merupakaan bagian dari isi laporan penelitian yang membahas
konsep-konsep teoretis yang menjadi landasan penelitian untuk menjawab masalah
penelitian atau pegembangan hipotesis.
Metodologi penelitian merupakan bagian dari isi laporan penelitian yang memuat
inforrmasi desain dan metode penelitian. Beberapa diantaranya adalah : sumber data,
metode pemilihan dan pengumpulaan data, variable penelitian dan cara
pengukurannya, serta metode pengujian statistic yang digunakan.
Bagian hasil, pembahasan dan kesimpulan dari laporan penelitian memut informasi
mengenai hasil analisis data sebagai dasar untuk membuat kesimpulan. Untuk
memudahkan pembahasan,dalam bagiaan ini biasanya dilengkapi dengan ilustrasi,
tabel,atau grafik. Pembahasan biasanya mencakup implikasi-implikasi yang
kemungkinan ditimbulkan oleh hasil analisis data. Kesimpulan yang dibuat
berdasarkan interprestasi dari hasil analisis data dapat berupa penjelasan deskriptif
mengenai fenomena yang diteliti atau berupa hasil pengujian statistic.
Keterbatasan adalah bagian dari laporan penelitian yang memuat indikasi kelemahan-
kelemahan penelitian yang sedang dilaporkan yang kemungkinannya dapat
mengganggu hasil penelitian.. penelitian perlu menyaatakan semua keterbatasan yang
dapat mempengaruhi hasil penelitian.
Rekomendasi adalah bagian dalam laporan penelitiaan yang memuat saran-saran
peneliti untuk dasar pembuatan kebijakan atau tindakan (khususnya pada penelitian
terapan) atau untuk penelitian-penelitian selanjutnya (pada penelitian dasar)

Pengetahuan peneliti mengenai proses dan teknik penulisan artikel bermanfaat untuk
kelancaran penyusunan laporan penelitian. Teknik penulisan laporan penelitian dalam bentuk
skripsi, tesis atau disertai biasanya diatur oleh masing-masing perguruaan tinggi