Anda di halaman 1dari 35

BAB IV

TUGAS KHUSUS

4.1 Latar Belakang


Minyak dan gas bumi merupakan salah satu pemegang peranan yang sangat
penting dalam pembangunan nasional. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut,
diperlukan suatu proses atau tahapan yang meliputi kegiatan eksplorasi, eksploitasi
dan produksi. Ditinjau dari banyaknya masalah yang terjadi di lapangan, maka untuk
memproses hasil produksi dari sumur-sumur di lapangan dibutuhkan suatu fasilitas
yang tepat dan baik, guna mendapatkan hasil proses pemisahan yang diharapkan.
Stasiun Pengumpul I Ketaling Timur (SP I KTT) adalah salah satu lapangan
yang dikelola oleh PT. Pertamina EP Asset 1 Field Jambi. SP I KTT sampai saat ini
memiliki 41 sumur produksi. SP I KTT memiliki fasilitas proses pengolahan, yaitu
header manifold, free water knock out (FWKO), dan heater treater. Fluida yang
terproduksi dari sumur-sumur dialirkan melalui flowline ke header manifold, dan
dilakukan proses pemisahan fluida di FWKO dan heater treater sebelum dipompakan
ke Stasiun Pengumpul Utama Kenali Asam (SPU KAS) dan selanjutnya disalurkan ke
Kilang Plaju. Pada umumnya fluida yang terproduksi dari sumur-sumur di SP I KTT
water cut-nya sudah mencapai + 95 %, oleh karena itu dalam melakukan proses
pemisahannya memerlukan tangki free water knock out (FWKO) karena dirancang
untuk memisahkan air bebas dari minyak dan emulsi seperti memisahkan gas dan
cairan yang berasal dari sumur.
Terdapat 41 sumur produksi aktif di struktur Ketaling Timur, dengan total
produksi gross saat ini mencapai 20.000 barrel fluid per day (bfpd) dan produksi nett
mencapai 720 barrel oil per day (bopd) atau sekitar 30 barrel oil per hour (boph).
Produksi dari seluruh sumur tersebut dialirkan menuju SP I KTT untuk dilakukan
pemisahan fluida. Proses pemisahan dilakukan secara mekanik menggunakan FWKO
berkapasitas 30.000 barel. Minyak hasil pemisahan dialirkan menuju tangki 5, 6, dan
7 (tangki crude oil), gas hasil pemisahan dialirkan menuju flare, sedangkan air hasil
pemisahan dialirkan menuju tangki 8 dan 9 (tangki air). Flowsheet produksi minyak
mentah di SP I KTT terdapat pada Gambar 4.1

33
34

Gambar 4.1 Flowsheet Proses Produksi Minyak Mentah di SP I KTT


Sumber: PT. Pertamina EP Asset 1 Field Jambi, 2015

FWKO di SP I KTT tersebut mulai beroperasi pada tahun 2017 dan


kondisinya saat ini belum mengalami perbaikan. Berdasarkan hasil inspeksi,
ditemukan perbaikan yang bersifat permanen menggunakan metode fillet welded
patches di 4 lokasi dan metode insert plates di 1 lokasi. Mengacu pada standard/code
API 510 ninth edition perbaikan dengan metode fillet welded patches hanya
diperkenankan untuk perbaikan yang bersifat temporer, bukan permanen. Atas dasar
inilah salah satu rekomendasi dari pihak inspektor menyebutkan agar proses
perbaikan untuk FWKO tidak dilanjutkan. Gambar 4.2 menunjukan FWKO existing
di SP I KTT beserta bagian yang mengalami perbaikan. Dengan demikian dibutuhkan
pengadaan alat FWKO yang baru melalui perhitungan perancangan FWKO untuk
mengganti FWKO existing tersebut.

Gambar 4.2 Kondisi FWKO Existing di SP I KTT


Sumber: PT. Pertamina EP Asset 1 Field Jambi, 2015

Selain bermasalah pada bagian fisik alat, saat ini performance FWKO di SP I
KTT juga mengalami masalah. Hal ini terlihat dari jumlah minyak yang di-recover
dari tangki 8 dan 9 (tangki air). Tabel 4.1 menunjukan data recover minyak di SP I
KTT yang terjadi pada bulan Juni 2015.
35

Tabel 4.1 Data Recover Minyak di SP I KTT Selama Bulan Juni 2015
Kuantitas Kuantitas
Tanggal Keterangan Tanggal Keterangan
(bbl) (bbl)
1 10 Tangki 9 14 25 Tangki 9
2 25 Tangki 9 15 25 Tangki 9
3 25 Tangki 9 16 25 Tangki 9
4 25 Tangki 9 17 20 Tangki 9
5 25 Tangki 9 18 20 Tangki 9
6 30 Tangki 9 19 30 Tangki 9
7 30 Tangki 9 20 80 Tangki 9
8 30 Tangki 9 21 30 Tangki 8 dan Tangki 9
9 30 Tangki 9 22 30 Tangki 8 dan Tangki 9
10 26 Tangki 9 23 30 Tangki 8 dan Tangki 9
11 23 Tangki 9 24 30 Tangki 8 dan Tangki 9
12 23 Tangki 9 25 32 Tangki 8 dan Tangki 9
13 20 Tangki 9 26 32 Tangki 8 dan Tangki 9
Sumber: PT. Pertamina EP Asset 1 Field Jambi, 2015

4.2 Kasus yang Diamati


Kasus yang diamati adalah Evaluasi Kinerja FWKO berdasarkan
pertimbangan kasus yang terjadi di lapangan dengan tujuan sebagai berikut.
1. Mengetahui efisiensi alat FWKO existing yang telah beroperasi selama 10 tahun
berdasarkan perhitungan neraca massa.
2. Melakukan perancangan FWKO untuk mengganti FWKO existing berdasarkan
ASME Section I and VIII Fundamentals setelah mengetahui harga efisiensi
FWKO existing.

4.3 Uraian Kasus yang Diamati


4.3.1 Free Water Knock Out (FWKO)
Free Water Knock Out (FWKO) adalah alat separasi minyak dan gas bumi
yang menggunakan prinsip separasi flash pada tekanan dan temperatur tetap. Produksi
dari sumur minyak di separator vertikal sedangkan produksi dari sumur gas diproses
di separator horizontal. Hal ini karena pada separator horizontal (dalam hal ini
FWKO) memiliki daerah pemisahan yang lebih luas dan panjang dibandingkan
separator vertikal. Bentuk separator horizontal dapat dilihat pada Gambar 4.3.
36

Gambar 4.3 Jenis Separator Horizontal


Sumber: Protelium Production Engineering Data, 2015

Suatu separator minyak/gas yang ideal, yang bertitik tolak dari pendapatan
cairan yang maksimum, adalah suatu konstruksi yang dirancang sedemikian rupa,
sehingga dapat menurunkan tekanan aliraan fluida dari sumur pada inlet separator,
menjadi atau mendekati tekanan atmosfer pada saluran keluar separator. Gas
dikeluarkan dari separator secara terus menerus segera setelah terpisah dari cairan.
Hal ini dikenal dengan differential separation.

Gambar 4.4 Prinsip Pemisahan


Sumber: Protelium Production Engineering Data, 2015

Pemisahan tergantung dari efek gravitasi untuk memisahkan cairan, sebagai


contoh hasil pemisahan minyak, gas dan air akan terpisah bila ditempatkan pada satu
wadah karena mempunyai perbedaan densitas satu sama lainnya. Proses pemisahan
karena adanya perbedaan densitas fluida dan efek gravitasi terlihat pada Gambar 4.4.
37

4.3.2 Neraca Massa pada FWKO


Neraca massa pada FWKO merupakan neraca massa tanpa reaksi dengan
massa crude oil yang masuk sebesar 20.000 bfpd yang terdiri dari campuran gas
sebesar 0,44%, minyak sebesar 5%, air sebesar 94,57% dan padatan sebesar 0,02%.
Pada FWKO existing minyak yang dihasilkan dari FWKO sebesar 30 bopd.

4.3.3 Perancangan FWKO


4.3.3.1 Beban yang Bekerja pada FWKO
FWKO merupakan sebuah bejana tekan yang dikenai bermacam-macam
pembebanan yang berbeda-beda pada setiap komponennya. Kategori dan intensitas
gaya-gaya ini menjadi fungsi dari pembebanan alami dan geometri serta kontruksi
dari komponen bejana.

1. Tekanan Desain
Tekanan desain adalah tekanan yang digunakan untuk menentukan ketebalan
shell minimum yang diperlukan bejana. Tekanan desain besarnya di atas tekanan
operasi (10% dari tekanan operasi atau minimum 10 psi) ditambah dengan
besarnya static head dari fluida kerja. Tekanan desain minimum untuk bejana
code nonvacuum adalah 15 psi. Untuk tekanan desain yang lebih kecil code tidak
berlaku. Bejana dengan tekanan operasi terukur harganya negatif umumnya
didesain untuk bejana vakum.
Tekanan kerja ijin maksimum (maximum allowable working pressure)
didefinisikan sebagai tekanan maksimum terukur yang diijinkan untuk diukur
pada bagian paling atas dari bejana pada kondisi operasi dan pada tekanan desain.
Definisi ini berdasarkan asumsi sebagai berikut:
Pada kondisi korosi.
Masih di bawah pengaruh temperatur desain.
Pada kondisi operasi normal.
38

Di bawah pengaruh pembebanan lain.


Tabel 4.2 adalah maximum allowable working pressure pada beberapa material
metal.
Tabel 4.2 Maximum Allowable Working Pressure (MAWP) dari Beberapa Material Metal
Material Sepc. No. & Grade Temperatur (F) MAWP (Psi)
SA-516 Gr 55 20 to 650 13700
SA-516 Gr 60 750 12000
SA-516 Gr 65 850 8300
SA-516 Gr 70 20 to 800 13700
Carbon Steel SA-285 Gr A 950 11000
Plates and Sheets SA-285 Gr B 1050 5000
SA-285 Gr C 1200 1000
SA 36 20 to 750 20000
SA-203 Gr A 850 16800
SA-203 Gr B 950 10000
SA-203 Gr D 1000 6200
SA-203 Gr E 20 18700
SA-240 Gr 304 650 11200
High Alloy Steel SA-240 Gr 304 L 20 18700
Plates SA-240 Gr 316 650 11200
SA-240 316L 800 10500
Sumber: ASME Section I and Section VIII Fundamentals

Tekanan yang dialami bejana bisa dikategorikan menjadi dua jenis yaitu
tekanan dalam (internal pressure) dan tekanan luar (external pressure). Tekanan
dalam pada bejana berasal dari fluida yang dikandung oleh bejana itu sendiri,
biasanya adalah bejana yang memiliki tekanan kerja lebih besar dari tekanan
atmosfer. Sedangkan tekanan luar adalah tekanan untuk bejana vakum. Tekanan
desain dirumuskan sebagai berikut.

Pd = Po + a +

Di mana:
Pd : tekanan desain (atm)
Po : tekanan operasi (atm)
a : 0,1Po atau 10 psi minimum atau 0,68 atm minimum
Static head : gH
: densitas udara (kg/m3)
g : percepatan gravitasi bumi (m/s2)
39

H : tinggi bejana (m)

2. Bobot Mati Bejana (Dead Load)


Dead load adalah beban yang berupa berat bejana itu sendiri dan elemen-
elemen lain yang terpasang secara permanen pada bejana. Berat bejana biasanya
digolongkan menjadi 3, yaitu:
Bobot kosong
Adalah berat bejana tanpa insulasi luar, fire proofing, panel-panel operasi,
atau struktur luar dan perpipaan. Pada dasarnya ini adalah berat bejana yang
hanya terdiri dari shell dan head.
Bobot operasi
Adalah berat bejana pada kondisi terpasang dan beroperasi penuh. Ini
adalah berat bejana dengan tambahan insulasi internal maupun eksternal,
fireproofing, segala elemen internal, opening yang menghubungkan sistem
perpipaan, semua struktur yang diperlukan pada sistem bejana, dan peralatan
yang lain (heat exchangers).
Shop test dead load
Berat bejana yang hanya terdiri dari shell saja setelah proses pengelasan
selesai dan diisi dengan fluida tester (air).

3. Beban Angin
Angin yang dimaksud adalah angin dengan aliran yang turbulen dipermukaan
bumi dengan kecepatan yang bervariasi. Angin disini juga diasumsikan sebagai
angin yang mempengaruhi kecepatan rata-rata terentu pada fluktuasi aliran
turbulen tiga dimensi lokal. Gambar 4.5 menunjukkan pengaruh angin terhadap
bejana tekan.

Pw

D
Hv

Gambar 4.5 Pengaruh Tekanan Angin terhadap Bejana Tekan


Sumber: Coulson & Richardson, 2005
40

Arah aliran biasanya horizontal meskipun bisa saja menjadi vertikal ketika
melewati permukaan yang berintangan. Kecepatan angin diukur berdasarkan
ketinggian standar 30 ft atau 9,14 m. Tekanan angin dirumuskan sebagai berikut.

2
Pw = 0,05vw Pers. 13.79a, Coulson & Richardson

Di mana:
Pw : tekanan angin (atm)
vw : kecepatan angin (mph)

Akibat tekanan angin ini maka terjadi geseran dan momen. Tegangan geser
akibat beban angin dirumuskan sebagai berikut.

Fw = Pw Do Pers. 13.80, Coulson & Richardson

Dan momen terbesar di dasar bejana akibat angin adalah:

Fw H2
M= Pers. 13.77, Coulson & Richardson
Do

Di mana :
Fw : tegangan geser total (kg/m)
Pw : tekanan angin (atm)
Do : diameter luar bejana (m)
M : bending moment (kg.m)
H : tinggi bejana (m)
Pw : tekanan angin (atm)
41

4. Beban karena Gempa


Kekuatan seismik pada bejana berasal dari pergerakan getaran yang tidak
teratur secara tiba-tiba di dalam tanah tempat bejana berada dan bejana
terpengaruh oleh gerakan tersebut. Faktor utama yang merusakan struktur bejana
akibat getaran adalah intensitas dan durasi gempa yang terjadi. Gaya dan tegangan
yang terjadi selama gempa pada struktur adalah transien, tegangan dinamik alami,
dan tegangan kompleks. Untuk menyederhanakan prosedur desain komponen
horizontal pergerakan gempa biasanya diabaikan dengan asumsi pada arah
horizontal struktur memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan pergerakan
gempa. Gaya aksi akibat gempa arah horizontal pada bejana direduksi dalam gaya
statik equivalen. Hal yang terpenting untuk mengatasi kekuatan gempa pada
sebuah struktur adalah struktur yang paling beresiko mengalami kegagalan
terhadap pengaruh seismik gempa harus didesain untuk bisa menahan gaya geser
horizontal minimum yang diterima pada bagian dasar bejana pada segala arah.
Tegangan yang terjadi pada FWKO akibat beban seismik adalah tegangan geser di
dasar bejana dan momen. Tegangan geser dasar adalah tegangan geser total akibat
beban seismik pada FWKO. Tegangan geser untuk bejana dengan silinder shell
yang kaku bisa dirumuskan sebagai berikut.

Fs = Ce Wv Pers. 13.80, Coulson & Richardson

Dimana :
Fs : tegangan geser total (kg.m)
Wv : berat bejana (kg)
Ce : numerical coeffisien

Harga koefisien numeris bisa ditentukan dengan persamaan berikut.

1
Ce = 15T Pers. 3-2, Seismic Design for Bulidings

Sedangkan harga periode getaran (T) bisa dicari dengan menggunakan persamaan
berikut.
42

0,06 H
T= Pers. 3-3A, Seismic Design for Bulidings
Do

Sedangkan momen yang terjadi akibat gempa dirumuskan sebagai berikut.

2H
M = [Ft H + (Fe Ft ) ( 3 )]

Di mana :
Fs : tegangan geser total (kg/m)
Ft : tegangan akibat getaran gempa (kg/m)
: 0,7TFe atau Ft = 0 untuk T < 0,7
M : bending moment (kg.m)
H : tinggi bejana + support (m)

4.3.3.2. Komponen Utama Bejana Tekan


Komponen utama bejana tekan merupakan komponen yang paling dominan
dan selalu ada pada setiap bejana tekan. Komponen-komponen yang ada pada FWKO
di SP I KTT antara lain shell, head, nozzle, dan support.
1. Shell
Shell adalah komponen yang paling utama yang berisi fluida yang bertekanan.
Pada umumnya ada dua tipe shell yang ada yaitu shell silindris dan spherical
shell. Tetapi hanya shell silindris yang sering digunakan dalam desain bejana
tekan. Ketebalan shell dipengaruhi oleh tekanan desain. Tekanan desain
dibedakan menjadi dua yaitu tekanan desain internal dan tekanan desain eksternal.
Untuk menentukan ketebalan shell dapat diperoleh melalui persamaan berikut.

PR
t = SE+0,6P Tabel 18.3 Walas, Hal. 625

Di mana:
t : ketebalan minimum shell yang diperlukan (m)
P : tekanan desain internal (atm)
43

R : jari-jari dalam shell (m)


S : allowable stress (atm)
E : joint efficiency

2. Head
Seluruh bejana tekan harus ditutup dengan head. Head lebih banyak berbentuk
kurva dari pada pelat datar. Bentuk kurva lebih banyak memiliki keuntungan
antara lain kuat sehingga ketebalan head bisa lebih tipis, lebih ringan walaupun
agak mahal. Berikut beberapa tipe head dan persamaan unuk menetukan ketebalan
dinding.
a. Hemispherical Head
Ketebalan dinding hemispherical head diperoleh melalui persamaan
berikut.

PR
t = 2SE+0,2 P Tabel 18.3 Walas, Hal. 625

Gambar 4.6 Hemispherical Head


Sumber: Wallas, 1990
44

b. Ellipsoidal Head
Ketebalan dinding ellipsoidal head diperoleh melalui persamaan berikut.

PD
t = 2SE+0,2P Tabel 18.3 Walas, Hal. 625

Gambar 4.7 Ellipsoidal Head


Sumber: Wallas, 1990

c. Conical head
Ketebalan dinding conical head diperoleh melalui persamaan berikut.

PD
t = 2cos(SE+0,6P) Tabel 18.3 Walas, Hal. 625

Gambar 4.8 Conical Head


Sumber: Wallas, 1990

d. Flat head
Ketebalan dinding flat head diperoleh melalui persamaan berikut.

t = d0,3P/S Tabel 18.3 Walas, Hal. 625


45

Gambar 4.9 Flat Head


Sumber: Wallas, 1990

Di mana:
t : ketebalan minimum head yang diperlukan (m)
P : tekanan desain internal (atm)
D : diameter dalam shell (m)
R : jari-jari dalam shell (m)
S : allowable stress (atm)
E : joint efficiency

3. Nozzle
Nozzle adalah komponen silinder yang berupa lubang yang menembus shell
atau head dari bejana tekan. Bentuk nozzle pada bejana tekan dapat dilihat pada
Gambar 4.10. Nozzle memiliki beberapa fungsi antara lain:
Merekatkan pipa yang berfungsi untuk mengalirkan fluida dari atau ke bejana
tekan.
Sebagai tempat untuk sambungan instrumen, seperti level gauges, thermowells
atau pressure gauges.
Sebagai tempat masuk orang untuk mempermudah perawatan.
Sebagai tempat untuk akses langsung ke peralatan lain misalnya heat
exchanger.
46

Gambar 4.10 Nozzle pada shell dan head


Sumber: Towler, Pressure Vessel Design

Ketebalan dinding nozzle yang diperlukan:

P D
d i
t n = 2SE1,2P Tabel 18.3 Walas, Hal. 625
d

Di mana:
tn : tebal dinding nozzle (m)
Di : diameter dalam nozzle (m)
S : allowable stress (atm)
E : joint effieciency

Gambar 4.11 Reinforcement pada nozzle


Sumber: Towler, Pressure Vessel Design

Luas total reinforcements (Gambar 4.11) yang diperlukan di bawah tekanan


dalam tidak boleh kurang dari A.

A = Di t s F + 2t n t s F(1 fr1 )

Di mana:
A : luas reinforcement (m2)
Di : diameter dalam nozzle (m)
ts : tebal shell (m)
tn : tebal dinding nozzle (m)
F : faktor koreksi = 1
frl : faktor reduksi kekuatan
47

4. Support
Komponen ini berfungsi untuk menahan bejana tekan agar tidak berpindah
atau bergeser. Penyangga ini harus bisa menahan beban baik berupa beban berat
bejana ataupun beban dari luar seperti angin dan gempa bumi. Perancangan
penyangga tidak seperti desain bejana tekan karena penyangga tidak mempunyai
tekanan.
a. Saddle Supports
Tabung horizontal biasanya disangga dengan saddle supports (Gambar
4.12) pada dua tempat. Struktur seperti ini akan menyebarkan berat bejana
sehingga akan menghindari terjadinya tegangan lokal pada shell pada titik
sangga.

Gambar 4.12 Saddle Support


48

Sumber: asmedigitalcollection.asme.org

Dimensi penyangga tergantung pada ukuran dan kondisi desain dari


bejana tekan. Untuk menentukan tebal saddle yang dibutuhkan didasarkan
pada momen pada sambungan support.

4M
t=C 2 Pers. 13.85, Coulson & Richardson
h Do SE

Di mana:
t : tebal support (m)
M : momen sambungan antara support dengan base (kg.m)
Ch : konstanta empiris = 1
E : Efisiensi sambungan = 0,6 untuk butt weld
Do : Diameter luar support (m)
S : support allowable stress (atm)

b. Leg Supports
Bejana tekan vertikal kecil biasanya menggunakan penyangga tipe leg
support (Gambar 4.13). Perbandingan maksimum antara panjang leg dengan
diameter bejana tekan biasanya 2:1. Banyaknya leg yang dibutuhkan
tergantung pada ukuran bejana tekan dan besarnya beban yang diterima.

Gambar 4.13 Leg Support


Sumber: asmedigitalcollection.asme.org
49

c. Lug Supports
Lug support (Gambar 4.14) adalah penyangga yang penyambunganya
langsung dilas di shell. Jenis penyangga seperti ini bisa juga digunakan pada
bejana tekan vertikal. Lug support bisa digunakan pada bejana tekan dari
ukuran kecil sampai medium (diameter 0,3 sampai 3 m) dan bejana tekan
dengan perbandingan tinggi dan diameter antara 2:1 sampai 5:1.

Gambar 4.14 Lug Support


Sumber: asmedigitalcollection.asme.org

d. Skirt Supports
Bejana tekan silindris vertikal biasanya menggunakan penyangga tipe
skirt support (Gambar 4.15). Penyangga skirt adalah perpanjangan shell yang
dilas lebih rendah dari shell pada bejana tekan vertikal silindris. Sedangkan
skirt untuk bejana tekan tipe spherical dilas di dekat garis tengah bejana.

Gambar 4.15 Skirt Support


Sumber: Coulson & Richardson

e. Anchor Bolts dan Base Ring


50

Anchor bolts (Gambar 4.16) berfungsi untuk mengunci bejana agar


tetap pada pondasinya. Beban yang bekerja pada anchor bolts adalah beban
momen akibat angin maupun gempa bumi.

Gambar 4.16 Base Ring


Sumber: asmedigitalcollection.asme.org

Ukuran anchor bolts ditentukan dengan menggunakan luas total yang


dibutuhkan untuk melawan momen yang bekerja pada dasar bejana. Luas total
anchor bolt yang dibutuhkan dirumuskan sebagai berikut.

1 4M
Ab = N S [ D T ] Wv Pers. 13.92, Coulson & Richardson
b b

Tegangan tekan pada dasar ring didapat melalui persamaan berikut.

4M W
Fb = [D2 + Dv ] Pers. 13.93, Coulson & Richardson
s s

Minimum width dapat diperoleh melalui persamaan berikut.

Fb
Lb = 1000f Pers. 13.94, Coulson & Richardson
c

Tebal Bolt yang dibutuhkan pada base ring dapat diperoleh melalui
persamaan berikut.

3Sc
t b = Lr + Cc Pers. 13.95, Coulson & Richardson
S

Di mana:
Ab : area bor bolt (m2)
51

Nb : jumlah bolt yang digunakan


S : maximum allowable stress (atm)
Ms : bending moment pada base (kg.m)
Wv : berat bejana (kg)
Db : diameter bolt (m)
Fb : compressive load (kg/m)
M : bending moment (kg.m)
Ds : diameter support (m)
Wv : berat vessel (kg)
Lb : Lebar base ring (m)
Fb : compressive load (kg/m)
Sc : maximum allowable bearing pressure (atm)
Sc : actual bearing pressure (atm)

4.3.3.3. Pengelasan pada Bejana


Sambungan las pada bejana tekan (Gambar 4.17) dikategorikan menjadi
beberapa bagian menurut standar ASME Part UW.
1. Kategori A
Sambungan berlas longitudinal yang berada pada badan utama, ruang hubung,
transisi diameter atau nozzel; tiap sambungan berlas yang berada pada bejana
berbentuk bola, pada formed head atau flat head, atau pada pelat sisi dari suatu
bejana bersisi-datar; sambungan berlas melingkar yang menghubungkan
hemispherical head ke badan utama, ke transisi diameter, ke nozzel atau ke ruang
hubung.

2. Kategori B
Sambungan berlas melingkar yang berada pada badan utama, ruang hubung,
nozzel, atau transisi diameter termasuk sambungan antara transisi dan silinder baik
pada ujung besar maupun ujung kecilnya; sambungan berlas melingkar yang
menghubungkan formed head selain hemisferis ke badan utama, ke transisi
diameter, ke nozzel atau ke ruang hubung.
52

3. Kategori C
Sambungan berlas yang menghubungkan flensa, Van Stone Lap, dudukan
tube, atau flat cover ke badan utama, ke formed head, ke transisi diameter, ke
nozzel atau ke ruang hubung; tiap sambungan berlas yang menghubungkan satu
pelat sisi ke palat sisi lainya dari bejana bersisi-datar.

4. Kategori D
Sambungan berlas yang menghubungkan ruang hubung atau nozzel ke badan
utama, ke bejana berbentuk bola, ke transisi diameter, ke head atau bejana bersisi
datar, dan sambungan yang menghubungkan nozzel ke ruanghubung (untuk nozzel
pada ujung kecil dari trsnsisi diameter, lihat kategori B). Tabel 4.3 menampilkan
degree of radiograph pada setiap kategori sambungan.

Gambar 4.17 Kategori Sambungan Las pada Bejana Tekan


Sumber: asmedigitalcollection.asme.org

Tipe-tipe sambungan las bejana tekan:


a. Double-welded butt joint

b. Single-welded butt joint

c. Double-full fillet lap joint


53

d. Single-full fillet lap joint with plug welds

Tabel 4.3 Degree of Radiograph


Degree of Radiographic
Joint
Joint Description Examination
Category
Full Spot None
Double Welded butt A, B, C, D 1 0,85 0,7
Single Welded Butt A, B, C, D 0,9 0,8 0,66
Double full fillet lap A, B, C 0,55
Single full fillet lap B, C 0,5
Sumber: Tabel 13.3, Coulson & Richardsons

4.4 Pengambilan dan Pengolahan Data


1. Spesifikasi FWKO Horizontal Existing pada SP KTT I
Nama Unit : Free Water Knock Out (FWKO)
Kapasitas : 10.000 bfpd
Tag.No : SP- IIIV - 102
MFD. By : PT. Fabrikatama Indonesia Perintis Batam
Tekanan Desain : 120 psi
Temperatur Desain : 200F
Tahun Pembuatan : 2005

2. Spesifikasi FWKO Horizontal Baru pada SP I KTT


Data spesifikasi FWKO horizontal di SP I KTT PT. Pertamina EP
Asset 1 Field Jambi terdapat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Data Spesifikasi Alat FWKO di SP I KTT


Spesifikasi Unit Data
Natural gas/HC
Operating case
liquid/water
Fluid
Operating pressure psi 70
Operating Temperature F 86
Design pressure psi 120
54

Design temperature F 200


Vapor
Molar flow MMSCFD 0,44
Mass flowrate lb/h 1.042
Density lb/ft3 0,32
Viscosity cP 0,01
Molecular Weight 22,25
Oil
Act Liquid Volume flow bpd 9.329
Mass Flowrate lb/h 11.761
Density lb/ft3 55
Viscosity cP 15
Water
Act Liquid Volume flow bpd 15.100
Mass Flowrate lb/h 223.831
Density lb/ft3 62,67
Viscosity cP 0,8
Vessel
Horizontal/vertical Horizontal
Shell internal diameter in 102
Shell length ft 30
Wind Speed mph 33,6
Seismic Factor
Joint Efficiency 1
Radiography 100%
Head Type Ellipsoidal 2:1
Corrosion Allowance in 0,125
Weir
Height in 82
27 ft upstream, 3 ft
Position ft
downstream
Internals
Seperation efficiency 99%
Inlet device Half open pipe
Mist extractor type Wire mesh
Sumber: PT. Pertamina EP Asset 1 Field Jambi, 2015
55

4.5 Pembahasan
4.5.1 Perhitungan Neraca Massa FWKO
1. Menghitung Neraca Massa pada FWKO Existing
Volume minyak terproduksi = 30 boph x 0,16 m3/jam
= 4,77 m3/jam
Massa minyak terproduksi = 4,77 m3/jam x 881,05 kg/m3
= 4.202,17 kg/jam
produk
Efisiensi alat = x 100% = 78,77 %
umpan

Fluida (A) = 107.356,69 kg/jam


Gas = 472,64 kg/jam
Minyak = 5.334,69 kg/jam B = 372,29 kg/jam
Air = 101.528,03 kg/jam Gas = 372,29 kg/jam
Padatan = 21,32 kg/jam

C = 25.856,58 kg/jam
FWKO Gas = 100,34 kg/jam
Efisiensi 78,77 % Minyak = 4.202,17 kg/jam
Air = 21.554,40 kg/jam

D = 81.110,71 kg/jam
Air = 79.978,18 kg/jam
E (padatan) = 21,32 kg/jam
Minyak = 1.132,53 kg/jam

Neraca Massa Total


56

Massa masuk = massa keluar Pers. 4.3, Pauline


A=B+C+D+E
107.356,69 kg/jam = 372,29 kg/jam + 25.856,58 kg/jam + 81.110,71 kg/jam
107.356,69 kg/jam = 107.356,69 kg/jam

Neraca Massa Komponen


Masuk (Fluida A):
Massa Gas
Gas = Massa Umpan x 100%
472,64 kg/jam
= 107.356,69 kg/jam x 100% = 0,44%
Massa Minyak
Minyak = x 100%
Massa Umpan
5.334,69 kg/jam
= 107.356,69 kg/jam x 100% = 5%
Massa Air
Air = Massa Umpan x 100%
101.528,03 kg/jam
= 107.356,69 kg/jam x 100% = 94,57%
Massa Padatan
Padatan = x 100%
Massa Umpan
21,32 kg/jam
= 107.356,69 kg/jam x 100% = 0,02%

Keluar
B
- Gas = 78,77% x Gas A
= 78,77 % x 472,64 kg/jam = 364,13 kg/jam
C
- Minyak = 78,77 % x minyak A
= 78,77 % x 5.334,69 kg/jam = 4.202,17 kg/jam
- Air = air masuk air keluar D
= 101.528,03 kg/jam 79.978,18 kg/jam
= 21.554,40 kg/jam
D
- Minyak = minyak masuk minyak keluar (C)
= 5.334,69 kg/jam 4.202,17 kg/jam
= 1.132,53 kg/jam
57

- Air = 78,77 % x Air A


= 78,77 % x 101.528,03 kg/jam
= 79.978,18 kg/jam

Tabel 4.5 Neraca Massa Komponen di FWKO Existing


Keluar (kg/jam)
Komponen Masuk (kg/jam)
B C D E
Gas 472,64 372,29 100,34
Minyak 5.334,69 4.202,17 1.132,53
Air 101.528,03 21.554,40 79.978,18
Padatan 21,32 21,32
Subtotal 107.356,69 372,29 25.856,58 81.110,71 21,32
Total 107.356,69 107.356,69

2. Neraca Massa pada FWKO Baru

Fluida = 236681 lb/h


Gas = 1042 lb/h
Minyak
\ = 11761 lb/h B = 1031,58 lb/h
Air = 223831 lb/h Gas = 1031,58 lb/h
Padatan = 47 lb/h

C = 13892,13 lb/h
FWKO Gas = 10,42 lb/h
Efisiensi 99% Minyak = 11643,4 lb/h
Air = 2238,31 lb/h

D = 221710,3 lb/h
Air = 221592,47 lb/h
E (padatan) = 47 lb/h Minyak = 117,61 lb/h

Neraca Massa Total


Massa masuk = massa keluar (Eq. 4.3, Pauline)
A=B+C+D+E
236634 lb/h = 1031,58 lb/h + 13892,13 lb/h + 221710,3 lb/h + 46,53 lb/h
236634 lb/h = 236634 lb/h

Neraca Massa Komponen


58

Masuk (Fluida A):


Massa Gas
Gas = Massa Umpan x 100%
1042 lb/h
= 236681 lb/h x 100% = 0,44%
Massa Minyak
Minyak = x 100%
Massa Umpan
11761 lb/h
= 236681 lb/h x 100% = 5%
Massa Air
Air = x 100%
Massa Umpan
223831 lb/h
= 236681 lb/h x 100% = 94,57%
Massa Padatan
Padatan = x 100%
Massa Umpan
47 lb/h
= 236681 lb/h x 100% = 0,02%

Keluar
B
- Gas = 99% x Gas A
= 99 % x 1042 lb/h = 1031,58 lb/h
C
- Minyak = 99 % x minyak A
= 99 % x 11761 lb/h = 11643,4 lb/h
- Air = air masuk air keluar D
= 223831 lb/h 221592,47 lb/h
= 2238,31 lb/h
D
- Minyak = minyak masuk minyak keluar (C)
= 11761 lb/h 11643,3 lb/h
= 117,61 lb/h
- Air = 99 % x Air A
= 99 % x 221710,3 lb/h
= 221592,47

Tabel 4.6 Neraca Massa Komponen di FWKO Baru


Komponen Crude Keluar (lb/h)
Masuk (lb/h)
Oil B C D E
59

Gas 1042 1031,58 10,42


Minyak 11761 11643,4 117,61
Air 223831 2238,31 221592,47
Padatan 47 47
Subtotal 236634 1031,58 13892,13 221710,77 47
Total 236634 236634

4.5.2 Perancangan FWKO


4.5.2.1 Komponen FWKO yang Dibutuhkan
1. Shell
Desain shell berdasarkan standar ASME UG-27 dan UG-28. Shell berupa
silinder. UG-27 menyatakan bahwa ketebalan shell di bawah tekanan dalam
harus tidak boleh kurang dari ketebalan hasil perhitungan dengan formula
yang telah ditentukan. Sedangkan UG-28 menyatakan bahwa aturan untuk
mendesain shell atau tabung pada ASME Section VIII hanya untuk shell tipe
silindris dan spherical. Tebal minimum shell ditambah faktor korosi
berdasarkan ASME Section VIII adalah 0,3125 in atau 7,94 mm. FWKO di SP
I KTT menggunakan shell silindris horizontal yang diilustrasikan pada
Gambar 4.18.
60

Gambar 4.18 Shell


Sumber: asmedigitalcollection.asme.org

Keterangan gambar:
Do : diameter luar bejana
Di : diameter dalam bejana
L : panjang shell

2. Head
Desain head berdasarkan standar ASME UG-32 yang menyatakan bahwa
ketebalan head yang dibutuhkan pada titik paling tipis setelah proses
pembentukan harus dihitung berdasarkan persamaan yang telah ditentukan.
Desain head pada FWKO yang dipakai adalah ellipsoidal heads seperti pada
ASME UG-32 (d). Tebal minimum head ditambah faktor korosi berdasarkan
ASME Section VIII adalah 0,3125 in atau 7,94 mm. Perbandingan antara
major axis dan minor axis adalah 2:1 yang diilustrasikan pada Gambar 4.19.

Gambar 4.19 Ellipsoidal Head


61

Sumber: asmedigitalcollection.asme.org

Keterangan gambar:
Do : diameter luar head
Ro : jari-jari head
t : tebal head
L : panjang head

3. Nozzle
Desain nozzle (Gambar 4.20) berdasarkan standar ASME UG-36 yang
menyatakan bahwa opening pada bejana atau head lebih baik berbentuk
lingkaran, elips atau obround. Tebal minimum nozzle ditambah faktor korosi
berdasarkan ASME Section VIII adalah 0,0916 in dengan luas reinforcement
minimum adalah 1,1263 in2 atau 7,26 cm2 (Nozzle dengan reinforcement).
Nozzle pada FWKO yang akan dirancang adalah berbentuk silindris dengan
penyambungan las (reinforcement).
62

Gambar 4.20 Nozzle dengan Reinforcements


Sumber: asmedigitalcollection.asme.org

Keterangan gambar
tn : tebal dinding leher nozzel
t : tebal shell
Dp : diameter reinforcement
Rn : jari-jari nozzle
Z : tinggi reinforcement + nozzle

4. Bolts dan Nuts


Desain bolt mengacu pada ASME UG-12 dan UG-13. UG-12 menyatakan
bahwa bolts dan studs bisa digunakan untuk menyambung komponen yang
bisa dilepas. Sedangkan UG-13 menyatakan bahwa nuts harus menyesuikan
aplikasi Part of Subsection C (UCS-11 dan UNF-13)

5. Support
Desain penyangga mengacu pada ASME UG-54 (Gambar 4.21). Jenis
penyangga yang digunakan untuk desain FWKO horizontal adalah saddle
support. UG-54 menyatakan bahwa semua bejana harus ditopang dan
penyangga tersebut harus disusun dan atau disambung ke dinding bejana
sedemikian sehingga bisa menopang beban maksimum.
63

Gambar 4.21 Saddle Support


Sumber: asmedigitalcollection.asme.org

4.5.2.2 Data Perhitungan FWKO


Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan (Lampiran D), dimensi akhir
yang didapat untuk desain FWKO terdapat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Dimensi Perancangan FWKO


Nilai
No. Komponen Persamaan Keterangan
Rancangan ASME
PR
1. Shell t= + Cc 14,48 mm Satisfactory
SE 0,6P
64

Head PD
2. t= + Cc 14,48 mm Satisfactory
2SE 0,2P
Fluid Inlet
3.
Nozzle
Pd R i
Tebal Nozzle tn = + Cc 3,81 mm Satisfactory
SE 0,6Pd
Reinforcement A = Di t s F + 2t n t s F(1 fr1 ) 22,06 cm2 Satisfactory
Inspection
4.
opening
Pd R i
Tebal nozzle tn = + Cc 4,83 mm Satisfactory
SE 0,6Pd
reinforcement A = Di t s F + 2t n t s F(1 fr1 ) 56,13 cm2 Satisfactory
Gas Outlet
5.
Nozzle
Pd R i
Tebal Nozzle tn = + Cc 3,56 mm Satisfactory
SE 0,6Pd
Reinforcement A = Di t s F + 2t n t s F(1 fr1 ) 11,03 cm2 Satisfactory
Oil Outlet
6.
Nozzle
Pd R i
Tebal Nozzle tn = + Cc 3,56 mm Satisfactory
SE 0,6Pd
Reinforcement A = Di t s F + 2t n t s F(1 fr1 ) 11,03 cm2 Satisfactory
Water Outlet
7.
Nozzle
Pd R i
Tebal Nozzle tn = + Cc 3,81 mm Satisfactory
SE 0,6Pd
Reinforcement A = Di t s F + 2t n t s F(1 fr1 ) 22,06 cm2 Satisfactory
Tebal Saddle 4M
8. t sd = + Cc 22,09 mm Satisfactory
Support Ch D2o SE
3Sc
9. Tebal bolts t b = Lr + Cc 16,51 mm Satisfactory
S
10. Hold Up Time
Vh
Gas th = 7 menit Satisfactory

Vw
Vh
Minyak th = 14 menit Satisfactory

Vw
Vh
Air th = 11 menit Satisfactory

Vw

4.6 Kesimpulan
Pada pelaksanaan Kerja Praktek di PT. Pertamina EP Asset 1 Field Jambi
dengan tugas khusus Evaluasi Sistem Kerja Alat Free Water Knock Out (FWKO)
berkapasitas 30.000 bfpd dengan total produksi gross pada tahun 2014 sebesar 20.000
bfpd dan total produksi nett sebesar 720 bopd, dapat disimpulkan bahwa FWKO
existing pada SP I KTT sudah tidak diperkenankan untuk beroperasi karena sudah
tidak memenuhi aspek QHSE Excellence.
65

Berdasarkan perhitungan neraca massa di FWKO, diperoleh data pada Tabel


4.8 sebagai berikut.

Tabel 4.8 Perbandingan Data FWKO Existing dan FWKO Baru di Lapangan Ketaling
Data Existing Baru
Minyak keluar (lb/h) 3815,39 5281,403
Massa Terakumulasi (lb/h) 24761,51 1073,354
Efisiensi alat (%) 77,78 99

Berdasarkan Tabel 4.8, efisiensi FWKO existing mengalami penurunan


sebesar 26% dari 99% sejak pembelian pada tahun 2005. Hal ini mengakibatkan
terjadinya penurunan kinerja separasi FWKO dalam memisahkan fluida. Dengan
efisiensi sebesar 77,78%, minyak yang diperoleh akan mengalami penurunan seperti
yang terlihat pada Tabel 4.6, sehingga penjualan turut menurun. Hal ini terlihat dari
efisiensi alat yang sudah menurun dari 99% menjadi 77,78% melalui perhitungan
neraca massa pada FWKO existing sehingga jumlah minyak yang di-recover dari
tangki 8 dan 9 mengalami peningkatan. Mengingat alat tersebut telah beroperasi
selama 10 tahun, maka pihak perusahaan harus mengganti dengan FWKO yang baru
berkapasitas sama, yaitu 30.000 bfpd dengan efisiensi 99%, sehingga kinerja separasi
FWKO berjalan dengan maksimum.

Pengadaan FWKO dapat didesain melaui perhitungan yang telah dilakukan,


untuk FWKO kapasitas 30.000 bfpd, tekanan 120 psi, temperatur 200 F, kecepatan
angin 33,6 mph, maka dimensi akhir komponen-komponen FWKO yang aman
digunakan sebagai berikut:
1. Shell
Material shell : SA 516 Gr 70
Tebal dinding shell : 0,57 in
2. Head
Material head : SA 516 Gr 70
66

Tebal dinding head : 0,57 in


3. Fluids Inlet Nozzle
Material leher nozzle : SA 516 Gr 70
Tebal leher nozzle : 0,15 in
Jenis flange : slip on flange
Jumlah bolts : 12 bolts
4. Inspection opening
Material leher nozzle : SA 516 Gr 70
Tebal leher nozzle : 0,19 in
Tebal pelat tutup : 1,05 in
Jenis flange : slip on flange 150 lb
Jumlah bolts : 12 bolts
5. Gas Outlet Nozzle
Material leher nozzle : SA 516 Gr 70
Tebal leher nozzle : 0,14 in
Jenis flange : slip on flange
Jumlah bolts : 12 bolts
6. Oil Outlet Nozzle
Material leher nozzle : SA 516 Gr 70
Tebal leher nozzle : 0,14 in
Jenis flange : slip on flange
Jumlah bolts : 12 bolts
7. Water Outlet Nozzle
Material leher nozzle : SA 516 Gr 70
Tebal leher nozzle : 0,15 in
Jenis flange : slip on flange
Jumlah bolts : 12 bolts
8. Support
Jenis support : saddle support
Material saddle : A 36
Tinggi : 25 in
Tebal saddle : 0,87 in
9. Anchor bolts
Material bolts : SA 193 B7
67

Ukuran bolts : 0,65 in


10. Hold Up Time
Gas : 7 menit
Minyak : 14 menit
Air : 11 menit
Berdasarkan dimensi perancangan yang telah didapat, rancangan FWKO
tersebut telah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh ASME sehingga data
perancangan ini dapat direalisasikan terhadap FWKO baru untuk menggantikan
FWKO existing di SP I KTT PT. Pertamina EP Asset 1 Field Jambi.