Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS

IDIOPATIK TROMBOSITOPENI PURPURA

Pembimbing:
dr. Elhamida Gusti, Sp.PD

Disusun Oleh :
Wahyu Hasanah
030.13.255

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


RSUD BUDHI ASIH JAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERSETUJUAN
LAPORAN KASUS

Judul:
IDIOPATIK TROMBOSITOPENI PURPURA

Penyusun:
WAHYU HASANAH
030.13.255

Telah disetujui oleh


Pembimbing

dr. Elhamida Gusti, Sp.PD

2
BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Rosmita S.A.G
Tanggal lahir : 05 April 1970
Usia : 46 tahun 8 bulan
Status Pernikahan : Menikah
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku : Madura
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pedagang baju
Alamat : Jln. Kramat Kosambi II no. 3
Tanggal Masuk : 24 Mei 2017
Kamar Inap Rawat : Edelweis barat
Tanggal Keluar :-

B. ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis dan Alloanamnesis
Tanggal : 24 Mei 2017
Pukul : 20.00 WIB

Keluhan Utama
Keluar darah dari hidung sejak 1 hari SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD dengan keluhan mimisan sejak 1 hari SMRS, darah yang
keluar berwarna merah segar dan kental. Mimisan keluar spontan dan hilang timbul
dengan durasi mimisan 15 menit dan sulit berhanti, mimisan terjadi sesaat setelah

3
pasien mendengar berita duka dari keluarga bahwa orang tua pasien meninggal
dunia. Riwayat jatuh dengan hidung terbentur dan kebiasaan mengkorek-korek
hidung disangkal. Pasien juga mengeluhkan adanya bintik-bintik merah dikedua
kaki, beberapa di tubuh, dan adanya lebam pada tangan yang timbul sejak 2 hari
sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengatakan BAB awalnya berwarna
merah lalu hitam sebanyak 3-4x/ hari dengan konsistensi cair, tidak ada lendir sejak
1 hari SMRS. Pasien menyangkal adanya perdarahan pada gusi yang sulit berhenti
dan menstruasi yang berkepanjangan. Keluhan baru pertama kali terjadi. Pasien
mengatakan ada riwayat terkena DBD 6 minggu yang lalu dan dirawat selama 5
hari di rumah sakit dan telah dinyatakan sembuh oleh dokter.
Pasien juga mengeluhkan demam tinggi dan menggigil saat malam hari yang
hilang timbul sejak 3 minggu SMRS, dan adanya keringat malam hingga pasien
harus mengganti baju. Demam hilang dengan pemberian obat penurun panas namun
hanya beberapa saat saja. Penurunan berat badan 5 kg tanpa sebab yang jelas dan
tidak nafsu makan juga dirasakan pasien dalam 1 bulan terakhir. Batuk, nyeri dada
dan sesak nafas disangkal. Tidak ada keluarga yang terkena TB dalam satu rumah.
Pasien mengatakan mudah lelah jika beraktifitas, dirasakan sejak 2 hari terakhir.
Riwayat penyakit jantung disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien pernah di rawat di rumah sakit karena DBD satu setengah bulan yang lalu.
Riwayat DM, hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal dan penyakit bawaan
disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan pasien, riwayat
keluarga DM, hipertensi, penyakit autoimun, penyakit jantung dan penyakit ginjal
disangkal.

4
Riwayat Pengobatan
Pasien mengkonsumsi Neurobion jika merasa pegal dan kesemutan.

Riwayat Alergi
Tidak ada riwayat alergi terhadap obat ataupun makanan tertentu.

Riwayat Kebiasaan
Pasien tidak rutin berolah raga, hanya berjalan kaki setiap pagi untuk berdagang.
Kebiasaan seperti merokok, minum jamu, teh, kopi dan meminum-minuman
alkohol disangkal.

Riwayat Makanan
Pasien tidak nafsu makan sejak 1 bulan terakhir makan 3 kali sehari hanya 4-5
sendok makan, menu makanan sehari-hari nasi, sayur dan lauk pauk seperti telur,
tempe, tahu, ayam dan sesekali daging.

Anamnesis Menurut Sistem


a. Umum : Lemas (+), BB menurun (+), demam (+) malam hari
b. Kepala : Pusing (-), trauma (-), rambut rontok (-), warna hitam
c. Mata : hiperemis (+), gatal (-), gangguan penglihatan (-)
d. Hidung : trauma (-), nyeri (-), secret (-) epistaksis (+), sumbatan
(+), hiperemis (-)
e. Telinga : nyeri (-), secret (-), perdarahan (-), tinnitus (-), gangguan
pendengaran (-)
f. Mulut : mukosa kering (+), gusi berdarah (-), mukosa berdarah
(-) lidah kotor (-) sariawan (-), gangguan kecap (-)
g. Tenggorokan : dysphagia (-) serak (-)
h. Leher : benjolan (-) nyeri (-)
i. Thoraks : Jantung: berdebar (-), nyeri dada (-)
Paru: Sesak nafas (-), batuk (-), hemaptoe (-),orthopnoe
(-), PND (-), DOE (-), nyeri dada (-)

5
j. Abdomen : kembung (-), mual (-), muntah (-), darah (-), Nyeri ulu
hati (-), nyeri kolik (-), perut membesar (-), mencret (-),
tinja berdarah (+), tinja hitam (+)
k. Sal. Kemih : nyeri BAK (-), poliuria (-), polakisuria (-), hematuria (-)
l. Eks. Atas : kulit kering (-),bengkak (-), nyeri sendi (-), deformitas (-
), sianosis (-) ptekie (+) ekimosis (+)
m. Eks. Bawah : kulit kering (-),bengkak (+), nyeri sendi (-), deformitas (-
), sianosis (-), ptekie (+) purpura (+)

C. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Tampak sakit sedang, lemas


Kesadaran : Compos Mentis (GCS: E4V5M6)
Cara bicara : Normal, koheren
Cara berbaring : Semi fowler
Cara duduk : Membungkuk
Penampilan : Penampilan rapi dan bersih
Keadaan khusus : Sesak (-) pucat (+) oedem (-) ikterik (-), nyeri perut (-)
Status gizi : TB 146 cm BMI : 18,77 (Normal)
BB 40 kg
Tanda Vital : Tekanan darah 90/60 mmHg
: Nadi 89 x/menit
: Pernapasan 18 x/menit
: Suhu 36,9 oC
: Suhu malam 38,5 oC
Status generalis
Kulit
Warna kulit sawo matang, pucat (-), sianosis (-), ikterik (-), turgor kulit baik,
kulit kering (-), ptekie (+), ekimosis (+), purpura (+)
Kepala

6
Normosefali, bentuk lonjong tidak ada deformitas, rambut putih sebagian,
distribusi merata, tidak mudah dicabut.
Telinga : daun telinga bentuk normal simetris (normotia), nyeri tarik atau
nyeri lepas (-/-), liang telinga lapang (+/+), serumen (-/-)
Hidung : ukuran normal, tidak ada deformitas/septum deviasi, tidak terdapat
sekret, tidak ada pernapasan cuping hidung, kavum nasi tampak lapang (+/+)
Mata : konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (+/+),
refleks cahaya langsung (+/+), reflek cahaya tidak langsung (+/+)
Mulut : sianosis (-), bibir kering (+), mukosa mulut kering (+), mukosa
mulut berdarah (+), ptekie (+), oral hygine baik, uvula letak di tengah, tidak
hiperemis, arkus faring tidak hiperemis dan tidak tampak detritus, tonsil
T2/T2, lidah tampak kotor (-)
Leher
Inspeksi : Tidak tampak benjolan KGB dan kelenjar tiroid
Palpasi : Kelenjar getah bening tidak teraba membesar, kelenjar tiroid
tidak teraba membesar, letak trakea normal tidak ada deviasi
Thorax
Inspeksi : ptekie minimal (+), gerak pernafasan simetris, pernafasan , tulang
iga tidak terlalu vertikal maupun horizontal, retraksi otot-otot pernapasan (-)
Palpasi : gerakan nafas kanan kiri simetris, vocal fremitus simetris, Ictus
cordis teraba setinggi ICS 5, 2 cm medial dari garis midclavicula kiri.
Perkusi :
Didapatkan perkusi sonor pada kedua lapang paru kanan dan kiri
Batas paru dan hepar : setinggi ICS 5 linea midclavicula kanan dengan
suara redup dan ditemukan peranjakan (+) 2 jari pemeriksa.
Batas paru dan jantung kanan : setinggi ICS 3 hingga 5 linea sternalis
kanan dengan suara redup.
Batas paru dan jantung kiri : setinggi ICS 5 1 cm linea midclavicula kiri
dengan suara redup.
Batas atas jantung : setinggi ICS 3 linea parasternalis kiri.

7
Batas paru dan lambung : setingi ICS 7 linea aksilaris anterior kiri dengan
suara timpani.
Auskultasi :
Paru: suara napas vesikuler +/+, wheezing -/-, ronkhi -/-.
Jantung: Bunyi jantung I & II regular murmur (-) gallop (-)
Abdomen
Inspeksi
Bentuk abdomen normal, mendatar dan simetris
Warna kulit sawo matang, pucat (-), ikterik (-), kemerahan (-), spider navy
(-), ptekie minimal (+)
Gerak dinding simetris, tipe pernapasan thorakoabdominal.
Auskultasi
Bising usus (+) 1-3 x/menit.
Tidak terdengar arterial bruit ataupun venous hum.
Perkusi
Batas bawah hepar didapatkan setinggi ICS 7 garis midklavikula kanan
dengan suara pekak. Batas atas hepar didapatkan setinggi ICS 5 linea
midclavicula kanan dengan suara redup
Palpasi
Dinding abdomen rata, nyeri tekan epigastrium (-), nyeri lepas tekan (-)
turgor kulit normal.
Splenomegali (+) pada garis shuffner 2.
Ekstremitas
Bentuk dan proporsi ukuran terhadap tubuh baik.
Inspeksi : Simetris, ptekie (+), ekimosis (+), oedem ekstremias superior (-
/-), oedem ekstremitas inferior (-/-) , palmar eritema (-/-), telapak tangan
pucat (+/+).
Palpasi : kulit kering (-), akral hangat, oedem (-/-) pitting ekstremitas
inferior (-/-)

8
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM (24/05/2017)
JENIS HASIL NILAI NORMAL
HEMATOLOGI
Leukosit 6.6 ribu/L 3.6 11
Eritrosit 3.7 juta/L 3.8 5.2
Hemoglobin 11.1 g/dL 11.7 15.5
Hematokrit 32 % 35 47
Trombosit 6 ribu/L 150 440
MCV 87.0 fL 80 100
MCH 29.7 pg 26 34
MCHC 34.1 g/dL 32 36
RDW 14.0 % < 14
KIMIA KLINIK
HEPAR
AST/SGPT 75 mU/dl < 27
AST/SGPT 71 mU/dl < 34
METABOLISME KARBOHIDRAT
Glukosa darah sewaktu 103 mg/dL < 110
GINJAL
Ureum 25 mg/dL 13 43
Kreatinin 0.93 mg/dL < 1.1
ELEKTROLIT
Natrium 129 mmol/L 135 155
Kalium 3.2 mmol/L 3.6 5.5
Klorida 96 mmol/L 98 109

9
FOTO THORAKS
Foto : Thoraks AP
Deskripsi : bercak-bercak
halus yang tersebar merata
diseluruh lapangan paru
Kesan : TB milier

EKG

Hasil : gelombang QRS lemah


Kesan : abnormal EKG

10
E. RINGKASAN
Ny. Rosmita, 48 tahun, datang ke IGD RS budhi asih dengan keluhan keluar darah
dari hidung sejak 1 hari SMRS, bintik-bintik merah diseluruh tubuh, BAB berwarna
merah dan hitam. Pasien juga demam tinggi, menggigil, dan berkeringat jika malam
hari, penurunan berat badan 5 kg tanpa sebab yang jelas dan hilang nafsu makan.
Riwayat pernah terkena DBD. Dari pemeriksaan fisik pasien lemas, TD 100/60
mmHg, suhu saat malam hari 38,5 oC, kulit ptekie seluruh tubuh, ekimosis dan
purpura pada ekstremitas, konjungtiva anemis, bibir dan mukosa kering, mukosa
mulut berdarah dan ada ptekie, splenomegali (+) pada garis shuffner 2 dan telapak
tangan pucat. Dari pemeriksaan lab didapatkan trombositopenia (trombosit 6 /l),
anemia (Hb 11.1 g/dL), peningkatan enzim hepar, hiponatremi (129 mmol/L) dan
hipokalemi (3.2 mmol/L).

F. DAFTAR MASALAH
1. Trombositopenia susp ITP
2. Susp TB milier
3. Anemia
4. Hipokalemia
5. Hipenatremia

G. ANALISIS MASALAH
1. Trombositopenia susp ITP
Diagnosis ITP ditegakkan berdasarkan anamnesis terhadap pasien dengan
mimisan, bintik-bintik merah dan beberapa lebam pada kulit, BAB merah dan
hitam dan riwayat pernah terkana DBD. Dari pemeriksaan fisik didapatkan
kulit ptekie dan beberapa ekimosis pada ekstremitas, adanya perdarahan dan
ptekie pada mukosa mulut dan splenomegali pada garis shuffner 2. Dari hasil
pemeriksaan lab yang sudah dilakukan ditemukan adanya trombositopenia
(6.000/ L). ITP terjadi pada sebagian besar kasus karena pasca infeksi virus
seperti yang dialami pasien.
Adapun rencana tatalaksana yang akan dilakukan adalah :

11
a. Rencana diagnostik
Pemeriksaan lab darah lengkap, hapusan darah tepi, pemeriksaan antibody
IgM dan IgG anti dengue. Pada pasien telah dilakukan dan didapatkan nilai
trombosit 6.000/L dan anti dengue IgM dan IgG negatif.
b. Rencana terapi
Non medikamentosa
Rawat inap
Badrest total
Edukasi : menghindari sikat gigi, korek-korek hidung, trauma terhadap
kulit.
Tranfusi trombosit 10 kantong
Medikamentosa
Methil predisolon 2 x 250 (selama 2 hari)
Transamin 3 x 1 ampul

2. Susp TB milier
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis terhadap pasien dengan demam dan
menggigil pada malam hari sejak 3 minggu dan keringat malam, penurunan berat
badan 5 kg tanpa sebab dan tidak nafsu makan. Dan dari pemeriksaan foto rontsen
toraks bercak-bercak halus yang tersebar merata diseluruh lapangan paru.
a. Rencana diagnostik
Pemeriksaan foto thorak paru, pemeriksaan BTA 3x, pemeriksaan mantoux
test.
b. Rencana terapi
Non medikamentosa
Rawat inap
Badrest total
Edukasi
Medikamentosa

12
Streptomicin 1x 1000 mg
Metilprednisolon 2x250 mg iv
Episan syr 3x1 C
Rifampisin 1 x 300 mg
INH 1x 300 mg
Etambutol 1000 mg

3. Anemia
Anemia adalah menurunnya jumlah eritrosit dan Hb dalam darah yaitu <3.8 juta/L
atau 11.7 g/dl. Kadar hemoglobin yang rendah menyebabkan oksigenasi keseluruh
organ tubuh mulai dari otak hingga otot kaki berkurang sehingga timbulah keluhan
mudah sekali lelah jika beraktifitas. Sedangkan pada pemeriksaan fisik didapatkan
konjungtiva anemis, telapak tangan pucat dan pada pemeriksaan darah rutin
didapatkan jumlah Hb 11,1 g/dl. Anemia merupakan gajala dari suatu penyakit,
pada pasien ini kemungkinan anemia disebabkan karena perdarahan yang terjadi
sistemik.
a. Rencana diagnostik
Darah rutin, hapusan darah tepi, pemeriksaan fungsi ginjal, EKG, darah samar.
b. Rencana tatalaksana
Non-Medikamentosa
- Edukasi : makan yang lunak, teratur, hindari makanan yang keras dan
susah dicerna
- Bedrest
Medikamentosa
- Pemberian transfusi PRC 500 cc

4. Hipokalemia
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan
elektrolit serum K 3.2 mmol/L. Gangguan elektrolit dapat disebabkan langsung
oleh adanya perdarahan yang terjadi terus menerus didalam tubuh, seperti pada
pasien ini dengan adanya perdarahan pada saluran cerna)

13
a. Rencana diagnostik
Pemeriksaan elektrolit plasma
b. Rencana terapi
IVFD KCl 20 meq / 8 jam
KSR 3x1
5. Hiponatremia
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan
elektrolit serum Na 129 mmol/L.
a. Rencana diagnostik
Pemeriksaan elektrolit plasma
b. Rencana terapi
IVFD NaCl 0.9 % / 8 jam

H. PROGNOSIS
Ad Vitam : dubia ad bonam
Ad sanational : dubia ad bonam
Ad Fungsional : dubia ad bonam

I. FOLLOW UP
24 Mei 2017
S Os mengeluh mimisan hilang timbul sebanyak 5 kali dengan durasi
15 menit, bintik-bintik merah di ekstremitas bawah sejak 2 hari
SMRS, demam, menggigil dan berkeringat saat malam hari, lemas
(+), riwayat DBD 6 minggu yang lalu, riwayat DM, HT (-)
O Kesadaran : CM, lemas Abd: Supel, BU (+), NT
KU : Tampak sakit sedang epigastrium (-) splenomegali
TD: 90/60 mmHg Eks: AH+/+, edema (-/-), ptekie
N : 94 x/m dan ekimosis (+)
RR: 16x/m
S : 36.5C Lab :

14
Mata: CA +/+ SI -/- Hematologi Rutin
Jantung: SI/II reg m- g- - Leukosit: 6.6 ribu/uL
Pulmo: SNV +/+ Rh-/- Wh -/- - Eritrosit : 3.7 juta/uL
- Hb : 11.1 g/dL Metabolisme Karbohidrat
- Ht : 32 % - Glukosa Darah Sewaktu : 103
- Trombosit : 6 ribu /uL mg/dL
- MCV : 70.7 Fl Elektrolit
- MCH : 17.7 pg - Natrium : 129 mmol/L
- MCHC : 25.1 g/dL - Kalium : 3.2 mmol/L
- RDW : 15.7% - Klorida : 196 mmol/L
Hepar Fungsi Ginjal
SGOT : 75 mU/dl Ureum : 25 mg/dL
SGPT : 71 mU/dl Kreatinin : 0.93 mg/Dl

A - Trombositopeni susp ITP


- Susp TB milier
- Anemia
- Hipokalemia
- Hiponatremia
P IFVD NaCl 0.9 % / 8 jam + KCl Cek H2TL, Fe, TIBC, transfusi
50 meq / 8 jam PRC 500 cc
Transfusi 10 kantung trombosit
Methilprednisolon 3 x 62,5
Pantoprazole 2 x 40 mg
Clanex 3 x 1 gr
Lasal 2 cc
CaCO3 3x1
Episan syr 3x1C
Ambroxol syr 3x1C
BK III 3x1

15
26 Mei 2017
S Os mengeluh BAB hitam sebanyak 1x, mimisan 1x dari pukul 03.00
06.00, demam, menggigil, sulit tidur, BAK lancar, Rw BAB hitam
2 hari yang lalu.
O Kesadaran : CM Lab :
KU : Tampak sakit sedang Hematologi Rutin
TD: 100/70 mmHg - Leukosit: 7.9 ribu/uL
N : 82 x/menit - Eritrosit : 2.9 juta/uL
RR: 20 x/menit - Hb : 8.7 g/dL
S : 36.6 C - Ht : 25 %
Mata: CA +/+ SI -/- - Trombosit : 2 ribu/uL
Jantung: SI/II reg m- g- Elektrolit
Pulmo: SNV +/+ Rh-/- Wh-/- Na : 135 mmol/L
Abd: Supel, BU+, NT K : 2.9 mmol/L
epigastrium (-), splenomegali Cl : 102 mmol/L
Eks: AH+/+, edema (-/-), ptekie Lab tanggal 25/5/17
(+), ekimosis (+), purpura (+) Virus
Anti dengue IgM : (-)
Anti dengue IgG : (-)
- Fe : 151 ug/dL
- TIBC : 162 ug/dL

- Trombositopenia susp ITP


- Susp TB milier
- Anemia
- Hipokalemia

16
P IFVD NaCl 0.9 % / 8 jam + KCl Cek H2TL, darah samar,
50 meq / 8 jam
Transfusi PRC 500 cc
Inj. Methilprednisolon 3 x 125
Inj. Pantoprazole 2 x 40 mg
Inj. Clanexy 3 x 1 gr
CaCO3 3x1
Episan syr 3x1C
Ambroxol syr 3x1C
BK III 3x1

29 Mei 2017
S Os tidak ada keluhan, tidak bisa tidur (+), nafsu makan menurun,
BAB hitam (+)
O Kesadaran : CM Lab :
KU : Tampak sakit sedang Hematologi Rutin
TD: 110/80 mmHg - Leukosit: 6.0 ribu/uL
N : 78x/m - Eritrosit : 2.9 juta/uL
RR: 16x/m - Hb : 8.7 g/dL
S : 36,9C - Ht : 25 %
Mata: CA +/+ SI -/- - Trombosit : 2 ribu/uL
Jantung: SI/II reg m- g- Darah samar : (+)
Pulmo: SNV +/+ Rh-/- Wh-/- Elektrolit :
Abd: Supel, BU+, NT (-) Na : 135 mmol/L
splenomegali K : 3.5 mmol/L
Eks: AH+/+, edema (-/-), ptekie Cl : 102 mmol/L
(+), ekimosis (+), purpura (+)
Hasil gambaran darah tepi:
Anemia normositik normokrom
dan trombositopenia

17
A - Trombositopeni susp ITP
- Susp TB milier
- Anemia
- Hipokalemia ringan
P IFVD NaCl 0.9 % / 12 jam INH 1x300 mg
Inj. Methilprednisolon 1 x 250 Rifampisin 1x300 mg
Inj. Cefoperazone 3x1 ampul Etambutol 1x1000 mg
Inj. Streptomicyn 3x1 (k/p) KSR 3x1
Inj. Omeprazole 2x1 Cavit D3 3x1
Inj. Vit K 3x1
Inj.Transamin 3x1 Cek H2TL ulang, elektrolit
CaCO3 3x1 ulang, anti HIV
Episan syr 3x1C
Ambroxol syr 3x1C
BK III 3x1

31 Maret 2017
S Menggigil saat malam hari (+), lemas (+), BAB hitam (+)
O Kesadaran : CM Lab :
KU : Tampak sakit sedang Hematologi Rutin
TD: 110/70 mmHg - Leukosit: 6.6 ribu/uL
N : 91x/m - Eritrosit : 3.2 juta/uL
RR: 16x/m - Hb : 9.4 g/dL
S : 37,0 C - Ht : 28 %
Mata: CA+/+ SI -/- - Trombosit : 6 ribu/uL
Jantung: SI/II reg m (-) g (-) - MCV : 87.7 fL
Pulmo: SNV +/+ Rh -/- Wh -/- - MCH : 29.7 pg
Abd: Supel, BU (-), NT (+) - MCHC : 33.9 g/Dl
splenomegali - RDW : 18.7%
Eks: AH (+/+), edema (-/-) - Anti HIV (-)

18
A - Trombositopeni susp ITP
- Susp TB milier
- Anemia
- Hiponatremia
P IFVD NaCl 0.9 % / 12 jam BK III 3x1
Inj. Methilprednisolon 1 x 250 INH 1x300 mg
Inj. Cefoperazone 3x1 ampul Rifampisin 1x300 mg
Inj. Streptomicyn 3x1 (k/p) Etambutol 1x1000 mg
Inj. Vit K 3x1 KSR 3x1
Inj. Transamin 3x1 Cavid D3 3x1
CaCO3 3x1 Cell cabs 2x2
Episan syr 3x1C
Ambroxol syr 3x1C Pemeriksaan H2TL ulang

19
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

1. Idiopatic Trombocytopenic Purpura (ITP)


Idiophatic thrombocytopenic purpura (ITP) merupakan suatu kelainan
didapat yang berupa gangguan autoimun yang mengakibatkan trombositopenia oleh
karena adanya penghancuran trombosit dan megakriosit secara dini akibat adanya
autoantibodi yang mengenal antigen pada trombosit dan megakariosit
menghasilkan peningkatan destruksi trombosit dan menurunkan angka produksi
trombosit yang biasanya berasal dari Imunoglobulin G. Ditandai dengan
trombositopenia yang menetap (angka trombosit darah perifer kurang dari
150.000/l) akibat autoantibodi yang mengikat antigen trombosit menyebabkan
destruksi prematur trombosit dalam sistem retikuloendotel terutama limfa.1

Patogenesis
Etiologi yang mendasari terjadinya ITP tidak diketahui secara pasti namun
beberapa penelitian mengungkapkan beberapa faktor risiko seperti pasca infeksi
bakteri ataupun virus yang menyebabkan timbulnya autoantibodi. Sindrom ITP
disebabkan oleh autoantibodi trombosit spesifik IgG yang berikatan dengan
trombosit autolog kemudian
dengan cepat dibersihkan di
hepar dan lien dari sirkulasi
oleh sistem fagosit mono-
nuklear melalui reseptor Fc
makrofag. Pada sebagian besar
penderita akan terjadi meka-
nisme kompensasi dengan
peningkatan kompensasi deng-
an peningkatan produksi
trombosit. Dan pada sebagian

20
kecil orang pembentukan trombosit akan terganggu, sebagian akibat destruksi
trombosit.
Faktor yang memicu munculnya antibodi tidak diketahui. Autoantibodi IgG
antitrombotik ditemukan pada 50 - 85% penderita. Masa hidup trombosit
memendek pada pasien ITP sekita 2-3 hari sampai beberapa menit.1

Patofisiologi
Etiologi idiopatik Predisposisi : Autoimun,
hiperspenisme, infeksi virus

Reaksi autoimun

Auto antibodi (Ig G)


Kematian organ

Melekat pada trombosit


Gagal organ

Meyerarang platelet dalam darah


Fungsi organ menurun

Edema Dihancurkan oleh makrofag di RE,


penghancuran trombosit berlebihan

Peradangan
Jumlah trombosit menurun

Perdarahan organ Apabila terjadi trauma


ITP terjadi perdarahan

Hemorargik
Hb turun

Perdarahan sukar dihentikan Perdarahan bawah kulit


Suplai O2 dan nutrisi kurang

Evakuasi darah dan cairan Ptekie, ekimosis dan Mudah lelah saat beraktifitas
berlebihan purpura

Anemia Elektrolit imbalance

Gambaran Klinis
Kebanyaka terjadi pada anak jarang pada dewasa, onset penyakit mendadak,
riwayat infeksi virus mengawali terjadi perdarahan berulang, 90% kasus pada anak
terjadi pasca infeksi ISPA oleh virus. Banyak terjadi pada wanita diumur
pertengahan. Episode perdarahan dapat terjadi beberapa hari hingga minggu.
Menifestasi perdarahan berupa ekimosis, ptekie, purpura. Hubungan antara
perdarahan dengan jumlah trombosit yaitu bila trombosit > 50.000 /l maka

21
biasanya asimptomatik, jika trombosit 30.000 50.000 /l terdapat luka memar
atau hematom, juka trombosit 10.000 30.000/l terdapat perdarahan spontan,
menoragi dan perdarahan memanjang bila ada luka, jika trombosit <10.000 /l
maka terjadi perdarahan mukosa (epistaksis, perdarahan gastrointestinal, dan
genitourinaria) dan risiko perdarahan SSP.
Adanya splenomegali ringan dan tidak ada limfadenopati. Pada lebih kurang
15% penderita didapatkan anemia ringan karena perdarahan yang dialaminya.2
Pemeriksaan hapusan darah tepi diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan
pseudotrombositopenia, sindrom trombosit raksasa yang diturunkan (inherited
giant platelet syndrome), dan kelainan hematologi lainnya. Diagnosis ITP
ditegakkan dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab trombositopenia yang
lain.3 Bentuk sekunder kelainan ini didapatkan bersamaan dengan systemic lupus
erythematosus (SLE), sindroma antifosfolipid, leukemia atau limfoma, defisiensi
IgA, hipogamaglobulinemia, infeksi HIV atau hepatitis C, dan pengobatan dengan
heparin atau quinidine.2,3,4

Diagnosis
Gejala klinis berupa riwayat perdarahan secara akut atau spontan, baik pada
kulit, petekiae, purpura atau perdarahan mukosa hidung (epistaksis) dan
perdarahan mukokutaneus lainnya, biasanya gejala tersebut didahului dengan
infeksi virus/ bakteri atau pasca imunisasi.
Pemeriksaan fisik bisa ditemukan adanya tanda anda perdarahan seperti yang
disebutkan diatas, kadang didapatkan pembesaran splenomegali namun dalam
hal kita harus tetap memikirkan kemung penyakit lain.
Pemeriksaan laboratorium berupa trombositopenia, retikulositosis ringan,
anemia bila terjadi kronis, waktu perdarahan memanjang, pada sumsum ulang
dijumpai banyak megakariosit agranuler atau tidak mengandung trombosit
Antibodi monoklonal untuk mendeteksi glikoprotein spesifik pada membran
trombosit mempunyai spesifitas 85%, belum digunakan secara luas.

22
Tatalaksana
Non medikamentosa
- Menghindari aktifitas fisik yang berat untuk mencegah trauma terutama
trauma kepala.
- Mengihindari pemakaian obat yang mempengaruhi fungsi trombosit.
- Perawatan dirumah sakit jika terjadi perdarahan mukokutaneus yang luas atau
perdarahan internal disertai trombosit < 20.000 /l
Medikamentosa
Terapi lini pertama
- Terapi awal ITP adalah dengan pemberian kortikosteroid yaitu prednison
jika pada kasus yang hebat dapat diberikan metilprednisolon iv sebagai lini
kedua. Jika respon awal baik yaitu peningkatan trombosit 30.000 /l, >
50.000 /l setelah 10 hari terapi awal maka pemakaian KS dilanjutkan
sampai 1 bulan kemudian tappering off, jika tidak berespon perlu
dipertimbangkan untuk splenektomi
- Imunoglobulin intravena dosis 1 mg/kgBB/ hari selama 2-3 hari digunakan
berturut-turut digunakan bila terjadi perdarahan internal, saat trombosit
<5.000 /dl meskipun telah mendapat terapi KS dalam beberapa hari atau
adanya purpura yang progresif. Beberapa penelitian menunjukkan
peningkatan yang cepat jumlah trombosit dengan efek samping yang
minimal pada pengobatan IVIG. Seperti kortikosteroid, IVIG juga
menyebabkan blokade pada system retikuloendotelial yang dapat
meningkatkan jumlah trombosit dalam waktu cepat (umumnya dalam 48
jam), sehingga merupakan pengobatan pilihan untuk ITP dengan perdarahan
yang serius (berat secara klinis).5
- Splenektomi biasanya mempunyai respon komplit yang cepat dan remisi
klinisnya panjang. Angka trombosit mungkin tidak sepenuhnya kembali
normal. Pada ITP dewasa splenektomi dapat digunakan sebagai terapi lini
kedua yang gagal dengan pemberian KS. Efek splenektomi adalah dapat
menghilangkan tempat-tempat antibodi yang tertempel trombosit yang

23
bersifat merusak dan menghilangkan produksi antibodi anti trombin,
indikasi splenektomi yaitu:
a. Bila trombosit < 50.000 /l setelah 4 minggu
b. Angka trombosit tidak menjadi normal setelah 6-8 minggu
c. Angka trombosit norma namun menurun juka di tappering off.
Terapi lini kedua
- Steroid dosis tinggi dengan pemberian deksametason 40 mg/hari selama 4
hari, diulang setiap 28 hari untuk 6 siklus. Jika tidak berespon diganti
dengan obat lainnya.
- Metilprednisolon dapat diberikan pada anak dan dewasa yang resisten
dengan terapi prednison dosis konvensional. Penderita ITP berat
menggunakan dosis tinggi metilprednisolon 30 mg/kg iv mempunyai angka
respon yang lebih tinggi. Penggunaan steorid iv hanya bersifat sementara
dan dilajutkan dengan KS oral untuk menjaga trombosit tetap stabil.
- IgIV dosis tinggi dengan dosis 1 g/kg/hari selama 2 hari berturut-turut
dikombinasi dengan metilprednisolon dosis tinggi akan meningkatkan
jumlah trombosit. Efek samping berupa sakit kepala.
- Anti D intravena telah menunjukkan penigkatan trombosit 79-90% pada
pasien-pasien dewasa dengan Rh positif. Dosis anti D 50-75 g/kg perhari
IV. Mekanisme kerja anti D yakni destruksi sel darah merah rhesus D positif
yang secara khusus dibersihkan oleh RES terutama lien, jadi bersaing
dengan autoantibodi yang menyelimuti trombosit Fc reseptor blockade.
- Alkaloid vinka, merupakan obat anti kanker untuk menekan autoantibodi
dan dapat meningkatkan trombosit dengan cepat, misalnya pemberian
vinkristin 2 mg/ minggu selama 4-6 minggu.
- Immunosupresif dan kemoterapi kombinasi, diperlukan jika gagal berespon
dengan terapi lainnya, dengan azathioprin 2 mg/kg maks 150 mg/hari atau
siklofosfamid sebagai obat tunggal dapat dipertimbangkan dan responnya
bertahan sampai 25%. 1

24
Prognosis
Angka morbiditas dan mortalitas meningkat pada angka trombosit yang
rendah < 10.000 /l dengan perdarahan intracranial dan dengan terapi yang tidak
adekuat. Sebagian besar kasus perdarahan intrakranial terjadi pada pasien yang
menghitung trombosit kurang dari <10.000 /l.

2. ANEMIA
Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa
eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa
oksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer.6

Kriteria anemia menurut WHO adalah:

NO KELOMPOK KRITERIA ANEMIA

1. Laki-laki dewasa < 13 g/dl

2. Wanita dewasa tidak hamil < 12 g/dl

3. Wanita hamil < 11 g/dl

Klasifikasi Anemia

No Morfologi Sel Keterangan Jenis Anemia

1. Anemia Bentuk eritrosit yang - Anemia Pernisiosa


makrositik - besar dengan - Anemia defisiensi folat
normokromik konsentrasi
hemoglobin yang
normal

25
2. Anemia Bentuk eritrosit yang - Anemia defisiensi besi
mikrositik - kecil dengan - Anemia sideroblastik
hipokromik konsentrasi - Thalasemia
hemoglobin yang
menurun

3. Anemia Penghancuran atau - Anemia aplastik


normositik - penurunan jumlah - Anemia posthemoragik
normokromik eritrosit tanpa disertai - Anemia hemolitik
kelainan bentuk dan - Anemia Sickle Cell
konsentrasi - Anemia pada penyakit
hemoglobin kronis

DAFTAR PUSTAKA
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid II edisi VI. Jakarta: Interna Publishing; 2014
2. Frederiksen H, Schmidt K. The incidence of idiopathic thrombocytopenic
purpura in adults increase with age Blood 1999;94:909-13.
3. Douglas B, Cines MD, Immune thrombocytopenic purpura. N Engl J Med
2002;346:995-1008.
4. Imbach P. Immune thrombocytopenic purpura. Dalam: Lilleyman JS, Hann
IM, Blanchette VS, penyunting. Pediatric Hematology, edisi ke 2. New York:
Churchill Livingstone, 1998;437-47.
5. Halperin DS, Doyle JJ. Is bone marrow examination justified in idiopathic
thrombocytopenic purpura? AmJ Dia Child 1998;142:508-11.
6. Adamson WJ et al, 2005, Anemia and Polycythemia in Harrisons Principles
of Internal Medicine 16th edition ; NewYork : McGraw Hill.

26
27