Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan kelainan endokrin pada

wanita usia reproduktif yang umum ditemukan. SPOK setidaknya mempengaruhi

4-12 % wanita pada kelompok usia reproduktif. Sindroma ovarium polikistik

(SOPK) merupakan kelainan kompleks endokrin dan metabolik yang ditandai

dengan adanya anovulasi kronik dan atau hiperandrogenisme yang diakibatkan

oleh kelainan dari fungsi ovarium dan bukan oleh sebab lain. Pada kenyataannya,

baik gejala klinik, pemeriksaan biokimiawi maupun pemeriksaan penunjangnya

dapat memberikan hasil yang bervariasi. 1,2

Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK) pertama kali diperkenalkan oleh

Stein dan Leventhal (1935) dalam bentuk penyakit ovarium polikistik (polycyctic

ovary disease/Ovarium polikistik/Stein-Leventhal Syndrome), dimana gambaran

dari sindroma ini terdiri dari polikistik ovarium bilateral dan terdapat gejala

ketidakteraturan menstruasi sampai amenorea, riwayat infertil, hirsutisme,

retardasi pertumbuhan payudara dan kegemukan. Sindroma ini dicirikan dengan

sekresi gonadotropin yang tidak sesuai, hiperandrogenemia, peningkatan konversi

perifer dari androgen menjadi estrogen, anovulasi kronik, dan ovarium yang

sklerokistik dengan demikian sindroma ini merupakan satu dari penyebab paling

umum dari infertilitas. 3

Mayoritas wanita dengan sindrom ovarium polikistik memiliki masalah

kegemukan/ obesitas dan mengalami resistensi insulin yang menyebabkan

keadaan hiperandrogen (kadar androgen yang tinggi) pada ovarium dengan akibat

1
akan menghambat perkembangan folikel dan memicu terjadinya siklus

anovulatorik. Saat ini sudah terbukti bahwa sindrom ovarium polikistik tidak

hanya menyebabkan kelainan pada bidang ginekologi saja tetapi juga berkaitan

dengan kelainan metabolisme lain, yaitu adanya resistensi insulin yang

berimplikasi pada kesehatan jangka panjang pasien. perempuan dengan kelainan

ini mempunyai risiko lebih besar untuk mendapat penyakit diabetes melitus,

penyakit jantung koroner dan karsinoma endometrium. 4,5

1.2.Batasan Masalah

Makalah ini membahas tentang definisi, epidemiologi, etiologi dan faktor

resiko, patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi serta prognosis dari

Sindrom Ovarium Polikistik.

1.3.Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui definisi, epidemiologi,

etiologi dan patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi serta

pencegahan dari Sindrom Ovarium Polikistik, sekaligus sebagai syarat dalam

mengikuti kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kebidanan dan Kandungan di

Rumah Sakit Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.

1.4.Metode Penulisan

Penulisan makalah ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang

merujuk kepada beberapa literatur.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK)

Sindrom ovarium polikistik (SPOK) secara konvensional didefinisikan

sebagai kombinasi hiperandrogenisme (hirsutisme dan jerawat) dan anovulasi

(oligomenore, infertilitas, dan perdarahan uterus disfungsional) dengan polikistik

Ovarium. Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan serangkaian gejala

yang dihubungkan dengan hiperandrogenisme dan anovulasi kronik yang

berhubungan dengan kelainan endokrin dan metabolik pada wanita tanpa adanya

penyakit primer pada kelenjar hipofise atau adrenal yang mendasari.2,6

Anovulasi kronik terjadi akibat kelainan sekresi gonadotropin sebagai

akibat dari kelainan sentral dimana terjadi peningkatan frekuensi dan amplitudo

pulsasi GnRH dengan akibat terjadi peningkatan kadar LH serum dan peningkatan

rasio LH/ FSH serta androgen. Hiperandrogenisme secara klinis dapat ditandai

dengan hirsutisme, timbulnya jerawat (akne), alopesia akibat androgen dan

naiknya konsentrasi serum androgen khususnya testosteron dan androstenedion.

Sedangkan kelainan metabolik berhubungan dengan timbulnya keadaan

hiperandrogenisme dan anovulasi kronik.3,7

2.2 Epidemiologi

Kejadian SOPK dengan gejala klinis beragam dan memberikan gambaran

angka yang bervariasi. Adam dkk melaporkan bahwa pada penderita ovarium

kistik yang di diagnosa secara sonografi didapati 30% menderita amenorrhea, 75

% dengan oligomenorrhea dan 90% didapati adanya peningkatan kosentrasi kadar

luteinizing horman (LH) dan androgen. 3

3
Di Amerika Serikat, sindrom ovarium polikistik (SOPK) adalah salah satu

gangguan endokrin yang paling sering pada perempuan usia reproduktif, dengan

prevalensi 4-12%. Hingga 10% dari wanita dalam kunjungan ginekologi

terdiagnosis SOPK. Pada beberapa penelitian di Eropa, prevalensi SOPK telah

dilaporkan mencapai 6,5-8%. 8

Untuk Indonesia, belum ada data resmi yang menunjukkan jumlah

penderita sindrom polikistik karena tidak adanya kejelasan dalam pelaporan dan

pencacatan kasusnya. Namun, sebagai gambaran di RS Dharmais ditemukan kira-

kira 30 penderita setiap tahunnya. Data hasil penelitian di RSU Raden

Mattaher,Jambi terdapat 47 orang yang menderita kista ovarium dari tahun 2009

2010. Di RSUP H. Adam Malik,Medan terdapat jumlah seluruh penderita kista

ovarium tahun 2008 2009 sebanyak 47 orang. Di Rumah Sakit Umum

Dr.Pirngadi Medan dari bulan Januari 2010 sampai dengan Oktober 2010

penderita kista ovarium pada wanita usia subur berjumlah 34 orang, sementaradi

Rumah Sakit ST. Elisabeth,Medan, data seluruh penderita kista ovarium yang

diperoleh terdapat 116 orang penderita pada tahun 2008 2012 .9

Terdapat banyak variabilitas etnis pada hirsutisme telah diamati. Sebagai

contoh, perempuan Asia (Timur dan Asia Tenggara) memiliki hirsutisme yang

kurang daripada wanita kulit putih dengan nilai serum androgen yang sama.

Dalam sebuah studi yang menilai hirsutisme pada perempuan China selatan,

peneliti menemukan prevalensi 10,5%. Pada wanita dengan hirsutisme, ada

peningkatan yang signifikan dalam kemunculan jerawat, ketidakteraturan

menstruasi, ovarium polikistik, dan acanthosis nigricans. 8

4
2.3 Etiologi dan faktor resiko

Penyebab sindrom polikistik ovarium ini belum diketahui, namun diduga

terdapat keterkaitan dengan proses pengaturan ovulasi dan ketidakmampuan

enzim yang berperan dalam sintesis estrogen di ovarium. Berikut ini penjabaran

mengenai etiologi dan patogenesis sindrom polikistik ovarium : 9

1. Peningkatan faktor pertumbuhan menyebabkan peningkatan respon

ovarium terhadap Luteinizing Hormone (LH) dan Follicle Stimulating

Hormone (FSH), sehingga perkembangan folikel ovarium bertambah dan

produksi androgen akan meningkat. Perkembangan folikel yang berlebihan

ini akan menyebabkan banyaknya folikel yang bersifat kistik.

2. Adanya hubungan antara obesitas dan peningkatan resiko polikistik

ovarium melalui peningkatan resistensi insulin yang menyebabkan sel teka

memproduksi androgen dan menghambat Sex Hormone Binding Globulin

(SHBG) sehingga androgen bebas meningkat. Keadaan ini menyebabkan

androgen banyak di aromatisasi menjadi estrogen yang akan menghasilkan

LH dan memicu pematangan folikel.

3. Hiperandrogen , anovulasi dan polikistik ovarium disebabkan oleh factor

genetic terkait kromosom X.

Pajanan testosteron dalam rahim bisa menyebabkan kerentanan terhadap

perkembangan lanjut dari SOPK. Penelitian pada hewan telah menunjukkan

bahwa pajanan dalam rahim berkorelasi dengan perkembangan sindroma mirip

SOPK termasuk hiperinsulinemia, hiperandrogenisme, oligoanovulasi, dan

ovarium polikistik. Pajanan androgen dapat mengganggu hormon estrogen dan

5
progesteron dalam menghambatan GnRH, sehingga berkontribusi dalam

peningkatan frekuensi pulsasi. 10

Lingkungan/gaya hidup juga merupakan salah satu faktor yang

berpengaruh. Sejumlah faktor gaya hidup dan pajanan dari lingkungan telah

dikaitkan dengan fenotip SOPK yang lebih parah. Gaya hidup sedentari dikaitkan

dengan peningkatan disfungsi metabolik, dan peningkatan berat badan

berhubungan dengan oligoanovulasi dan hiperandrogenisme. BPA (bisphenol A)

dan zat kimia pengganggu-androgen dari lingkungan dapat berakumulasi dalam

jumlah besar pada individu dengan SOPK karena berkurangnya klirens hati; hal

ini juga menginduksi produksi androgen dan resistensi insulin.10

Faktor lain yang berpengaruh adalah faktor endokrine (kenaikan LH/FSH

ratio, hiperandrogenisme) dan faktor metabolik (resistensi insulin).4Obesitas,

meskipun tidak diyakini menyebabkan PCOS, diketahui memperburuk gejala

penyakit. Obesitas ada pada 30-75% dari perempuan dengan SOPK. disfungsi

adiposa memberikan kontribusi terhadap munculnya intoleransi glukosa dan

hiperinsulinemia, yang kemudian dapat memperparah manifestasi dari

hiperandrogenisme. Perempuan obesitas dengan SOPK berada pada peningkatan

risiko untuk anovulasi dan selanjutnya subfertilitas.10

2.4 Patofisiologi

Sindrom ovarium polikistik adalah suatu anovulasi kronik yang

menyebabkan infertilitas dan bersifat hiperandrogenik, di mana terjadi gangguan

hubungan umpan balik antara pusat (hipotalamus-hipofisis) dan ovarium sehingga

kadar estrogen selalu tinggi yang mengakibatkan tidak pernah terjadi kenaikan

kadar FSH yang cukup adekuat. Selain itu dijumpai pula peningkatan kadar

6
androgen. Kelainan metabolik berupa hiperinsulinemia dan resistensi insulin ikut

berperan dalam timbulnya SOPK.2

a) Hiperandrogenisme10

Hiperandrogenisme adalah fitur yang paling karakteristik dari SOPK, dan

beberapa berpendapat bahwa itu adalah ciri dari penyakit. Hiperandrogenisme

diperburuk oleh hiperinsulinemia dan arrest folikel antral dan dapat sendirinya

meningkatkan risiko arrest folikel. Karakteristik ovarium serupa telah diketahui

pada perempuan dengan kondisi lain berupa kelebihan androgen seperti

hiperplasia adrenal kongenital.

b) Kelainan Neuroendokrin10

Perempuan dengan SOPK memiliki peningkatan frekuensi pulsasi GnRH;

pulsasi yang lebih pendek terutama mendorong produksi luteinizing hormone

(LH) dan mengakibatkan penurunan produksi hormon perangsang folikel (FSH).

Pasien dengan SOPK sering menunjukkan peningkatan rasio LH:FSH, yang dapat

berkontribusi terhadap kelebihan androgen ovarium relatif terhadap estrogen.

Belum diketahui apakah pasien dengan SOPK secara intrinsik memiliki

mekanisme pulsasi GnRH yang lebih cepat yang menyebabkan

hiperandrogenisme di ovarium, atau jika oligoanovulasi sendiri mendorong

pulsasi lebih cepat pada GnRH melalui pengurangan progesteron yang beredar.

Biasanya, progesteron dilepaskan oleh korpus luteum setelah ovulasi.

Progesteron bertindak untuk memperlambat pulsasi GnRH. Pada SOPK,

penurunan peristiwa ovulasi dapat menyebabkan penurunan sirkulasi progesteron.

7
Paparan terhadap androgen ketika dalam rahim atau prepubertas dapat

menurunkan efek penghambatan estrogen dan progesteron pada hipotalamus dan

berkontribusi terhadap peningkatan pulsatilitas.

c) Resistensi insulin dan DM Tipe 210

Pada SOPK, 50-70% pasien menunjukkan kelainan metabolik, termasuk

toleransi glukosa yang buruk dan hiperinsulinemia. Ini bukan semata-mata

konsekuensi dari peningkatan obesitas sentral; melainkan, obesitas dan kelainan

hormonal diduga memberikan kontribusi tambahan terhadap resistensi insulin.

Pasien dengan SOPK menunjukkan tingkat resistensi insulin yang lebih tinggi

dibandingkan pasien dengan BMI dan adipositas viseral yang sama yang tidak

memiliki SOPK.

Resistensi insulin fungsional dianggap sebagai konsekuensi dari defek pada

transportasi glukosa yang dimediasi insulin dan penyinalan pada adiposit dan

miosit; ini mungkin akibat dari disregulasi produksi adipokine dan penyinalan dari

jaringan adiposa tetapi mekanisme ini tidak sepenuhnya dimengerti.

Hiperinsulinemia yang dihasilkan berujung kepada luapan insulin ke

jaringan lain, terutama kulit. Insulin bekerja melalui insulin-like growth factor

receptor menyebabkan pertumbuhan keratinosit berlebih yang menyebabkan

acanthosis nigricans.

d) Ovarium polikistik10

Ovarium polikistik ada pada 20-30% perempuan dan tidak penting dalam

mendiagnosis SOPK. Kista pada ovarium polikistik bukan kista sejati, melainkan

folikel antral yang telah arrest dalam perkembangannya. Hal ini diduga terjadi

karena kelainan hormonal:

8
Hiperandrogenisme: arrest terjadi ketika sel-sel granulosa ovarium secara

normal mulai memproduksi estrogen dengan aromatisasi androstenedion

yang diproduksi oleh sel-sel teka; kelebihan 5a-reduced androgen pada

ovarium dianggap menghambat aksi aromatisasi dan karena itu mengurangi

sintesis estradiol, yang diperlukan untuk pematangan lebih lanjut.

Hiperinsulinemia: memperparah hiperandrogenisme ovarium dengan (1)

meningkatkan aktivitas 17a-hidroksilase dalam sel teka dan mendorong

produksi androstenedion dan testosteron; (2) mendorong produksi androgen

yang distimulasi oleh LH dan IGF1 (Insulin-like growth factor 1); dan (3)

meningkatkan testosteron bebas dengan mengurangi produksi globulin

pengikat hormon seks (SHBG).

Pada sindrom ovarium polikistik siklus ovulasi normal terganggu. Karena

adanya peningkatan aktivitas sitokrom p-450c17 (enzim yang diperlukan untuk

pembentukan androgen ovarium) dan terjadi juga peningkatan kadar LH yang

tinggi akibat sekresi gonadotropine releasing hormone(GnRH) yang meningkat.

Hal ini sehingga menyebabkan sekresi androgen dari ovarium bertambah karena

ovarium pada penderita sindrom ini lebih sensitif terhadap stimulasi gonadotropin.

Peningkatan produksi androgen menyebabkan terganggunya perkembangan

folikel sehingga tidak dapat memproduksi folikel yang matang. Hal ini

mengakibatkan berkurangnya estrogen yang dihasilkan oleh ovarium dan tidak

adanya lonjakan LH yang memicu terjadinya ovulasi. Selain itu adanya resistensi

insulin menyebabkan keadaan hiperinsulinemia yang mengarah pada keadaan

hiperandrogen, karena insulin merangsang sekresi androgen dan menghambat

9
sekresi SHBG hati sehingga androgen bebas meningkat. Pada sebagian kasus

diikuti dengan tanda klinis akantosis nigrikans dan obesitas tipe android.2

2.5 Gambaran Klinis

1. Gangguan menstruasi dan infertilitas

Penderita SOPK sering datang dengan keluhan gangguan menstruasi dapat

berupa oligomenorea, amenorea dan infertilitas. Hal ini disebabkan oleh

adanya anovulasi kronik dan hiperandrogenemia.11

2. Hirsutisme

Keadaan dengan pertumbuhan rambut yang berlebihan pada kulit ditempat

yang biasa, seperti kepala dan ekstremitas. Keadaan ini terjadi akibat

pembentukkan androgen yang berlebihan akibat kerusakan enzim 3

betahidroksisteroid dehidrogenase.6,11

10
3. Obesitas

Wanita dengan berat badan yang berlebihan, 4-5 kali lebih sering terjadi

gangguan fungsi ovarium. Wanita yang gemuk menunjukkan aktivitas

kelenjar suprarenal yang berlebihan, peningkatan produksi testosteron,

androstenedion serta peningkatan rasio estron/estradion 2,5. Selain itu

dikemukakan pula penurunan kadae SHBG serum. Androgen merupakan

hormon yang diperlukan oleh tubuh untuk menghasilkan estrogen. Enzim

yang diperlukan untuk mengubah androgen menjadi estrogen adalah

aromatase. Jaringan yang dimiliki kemampuan untuk mengaromatisasi

androgen menjadi estrogen adalah sel-sel granulosa dan jaringan lemak.

Perubahan androstenedion menjadi E1 terjadi terutama di jaringan lemak,

dan tingkat perubahan ini berhubungan dengan jumlah jaringan lemak.

Pengurangan berat badan pada wanita gemuk berhubungan dengan

pengurangan kadar androgen dan estrogen terutama estron serum.

Hiperestronemia dan hiperinsulinemia adalah 2 hal yang berhubungan

dengan kegemukan yang berperan dalam patogenesis ovarium

polikistik.6,11

4. Acanthosis nigricans

Acanthosisnigricansis ditandai dengan adanya pelat coklat dan beludru

dengan aksentuasi pada Alur-alur kulit. Dermatopatologi paling sering

diamati di daerah leher dan intertriginous seperti ketiak, selangkangan dan

daerah inframammary dan dilaporkan pada 5% pasien SPOK.Meski bisa

dikaitkan dengan obesitas, SPOK dan diabetes, mungkin ada pada

penyakit genetik, reaksi obat (asam nikotinat) dan keganasan. Munculnya

11
acanthosisnigricans menunjukkan tes toleransi glukosa. Saat parah, luas

dan progresif, mungkin terkait dengan keganasan.6

5. Akne, seborrhoe, pembesaran klitoris , pengecilan payudara.

Keadaan ini terjadi akibat pembentukkan androgen yang berlebihan. 11

2.6 Diagnosis

1. Anamnesis

Anamnesis harus difokuskan pada pola menstruasi, kehamilan

sebelumnya (jika ada), obat-obatan yang sedang dikonsumsi, konsumsi

merokok, konsumsi alkohol, pola makan, dan riwayat anggota keluarga

dengan diabetes atau penyakit kardiovaskular. Ketidakteraturan menstruasi

(80%) terjadi segera setelah menarke, termasuk amenore sekunder dan atau

oligomenore.13

Pada 75% penderita SOPK mengalami infertilitas akibat anovulasi

kronik, dan beberapa ditemukan memiliki gejala sisa pada jangka panjang.

Gejala sisa pada penderita SOPK dapat berupa penyakit kardiovaskular dan

dislipidemia, intoleransi glukosa atau diabetes mellitus yang tidak tergantung

insulin (DM tipe 2), hiperplasia endometrium atau adenokarsinoma akibat

pajanan estrogen kronik pada uterus.13

2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik pada penderita SOPK harus ditujukan pada tanda-

tanda hirsutisme yaitu kebotakan, jerawat (akne), klitoromegali (pembesaran

klitoris), distribusi rambut pada tubuh (muka, di atas bibir, dada, linea alba),

pengecilan payudara, dan tanda-tanda resistensi insulin (obesitas, distribusi

lemak sentripetal, akantosis nigrikans). Sedangkan pada pemeriksaan

12
bimanual dapat juga ditemukan ovarium yang membesar atau dapat juga tidak

teraba.12,13

Hirsutisme (70%) adalah suatu keadaan dimana ditemukan pola

pertumbuhan rambut pria (diatas bibir, dagu, dada, punggung) pada seorang

perempuan. Sedangkan akantosis nigrikans adalah penanda dermatologis

akibat resistensi insulin dan hiperinsulinemia yang ditandai dengan perubahan

warna kulit menjadi abu-abu kecoklatan, halus, kadang-kadang seperti veruka

pada leher, selangkangan dan aksila. Oleh sebab itu, efek-efek ekstrem dari

anovulasi kronik hiperandrogenik dari SOPK disebut sebagai Sindrom HAIR-

AN (hiperandrogenisme, resistensi insulin, dan akantosis nigrikans).13

Menurut National Institute of Health National Institute of Child

Health and Human Development NIH-NICHD untuk mendiagnosa SOPK

ditetapkan :2

Kriteria mayor :

Anovulasi

Hiperandrogenemia

Kriteria minor :

Resistensi insulin

Hirsutisme

Obesitas

Meningkatnya rasio LH:FSH> 2,5

Gambaran ovarium polikistik pada USG

13
Pada tabel di atas, terdapat dua kriteria mayor dan 5 kriteria minor untuk

mendiagnosis SOPK. Diagnosis SOPK ditegakkan bila paling sedikit ditemukan 1

kriteria mayor dan 2 kriteria minor.

Sedangkan berdasarkan Konsensus Rotterdam (2003) SOPK didiagnosis

dengan adanya minimal 2 dari 3 hal di bawah:5

hiperandrogenisme klinis dan/atau hiperandrogenemia

Oligoanovulasi

ovarium polikistik pada USG

Sesuai dengan Kriteria Rotterdam pada tahun 2003, konsep ovarium

polikistik yaitu paling tidak ditemukan pada atu ovarium terdiri dari 12 atau lebih

folikel dengan diameter 2 - 9 mm dan / atau meningkatnya ukuran ovarium> 10

ml (The ESHRE Rotterdam / ASRM, 2004).

Selain kriteria ini, kondisi medis lainnya yang dapat menyebabkan

anovulasi kronis dan androgen berlebih harus disingkirkan, seperti: 5

Hiperprolaktinemia / hipertiroidisme;

Hiperplasia adrenal kongenital, bentuk klasik dan nonklas;

Sindrom Cushing; Tumor ovarium sekretori adrenal androgen

Berdasarkan konsensus Amsterdam ESHRE / ASRM 2012, SOPK

didefinisikan adanya 2 dari 3 kriteria: 6

Disfungsi menstruasi dan / atau ovarium polikistik;

Hyperandrogenia dan / atau hiperandrogenisme;

USG menunjukkan ovarium polikistik

14
3. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium seperti testosterone (T) atau

dehidroepiandrosteron sulfat (DHEAS) bermanfaat untuk menunjukkan

hiperandrogenisme ovarium. Tumor yang mensekresi androgen pada ovarium atau

kelenjar adrenal juga selalu disertai dengan kadar androgen dalam sirkulasi yang

meningkat, tetapi tidak terdapat kadar absolut yang bersifat patognomonik untuk

suatu tumor atau kadar minimum yang dapat menyingkirkan kemungkinan adanya

tumor. Kadar T yang tinggi selalu berasal dari ovarium (> 1,5 ng/ml), sedangkan

kadar DHEAS yang tinggi selalu berasal dari suprarenal (> 5-7ng/ml).12,13

Indikasi pemeriksaan T maupun DHEAS dapat di lihat dari ringan beratnya

pertumbuhan rambut. Bila pertumbuhan rambut yang terlihat hanya sedikit saja

(ringan), maka kemungkinan besar penyebab tingginya androgen serum adalah

akibat gangguan pada ovarium yaitu berupa anovulasi kronik, sedangkan bila

terlihat pertumbuhan rambut yang mencolok, maka peningkatan androgen

kemungkinan besar berasal dari kelenjar supra renal yang dapat berupa

hiperplasia, atau tumor.12

USG dan atau laparoskopi merupakan alat utama untuk diagnosis SOPK.

Dengan USG, hampir 95 % diagnosis dapat dibuat. Pada USG terlihat gambaran

seperti roda pedati, atau folikel-folikel kecil berdiameter 7-10 mm. Baik dengan

USG, maupun dengan laparoskopi, ke dua, atau salah satu ovarium pasti tampak

membesar.12

Dengan USG pada 25% perempuan normal ditemukan adanya ovarium

polikistik. Perempuan dengan ovarium polikistik meunjukkan kadar FSH,

Prolaktin dan estrogen normal, sedangkan LH sedikit tinggi (nisba LH/FSH>3).

15
LH yang tinggi akan meningkatkan sintesis testosteron di ovarium, dan membuat

stroma ovarium menjadi tebal dan membuat folikel atresi.2,5

Kriteria Ultrasonografis (USG) :

Kriteria diagnostik jika memakai USG transabdominal:

1. Penebalan stroma

2. Lebih dari 10 folikel berdiameter 2-8 mm di subkorteks dalam satu

bidang.

Kriteria diagnostik jika memakai USG transvaginal:

1. Penebalan stroma 50%

2. Volume ovarium lebih dari 8 cm3

3. Lebih dari 15 folikel dengan diameter 2-10 mm dalam satu bidang

Pemeriksaan penunjang pada SOPK beserta tujuan pemeriksaannya

akan dijelaskan pada : 2,5

Tabel Pemeriksaan Laboratorium Pada SOPK

Pemeriksaan Nilai normal Tujuan

-hCG Menyingkirkan kehamilan

TSH 0,5-4,5 U/mL (0,5-4,5 mU/L) Menyingkirkan gangguan

tiroid

Prolaktin Menyingkirkan

hiperprolaktinemia

Testosteron (total) Menyingkirkan tumor yang

menghasilkan androgen

16
Testosteron (bebas) 20-30 tahun: 0,06-2,57 pg/mL Menegakkan diagnosis atau

(0,20-8,90 pmol/L) monitoring terapi

40-59 tahun: 0,4-2,03 pg/mL (1,40-

7,00 pmol/L)

DHEAS 600-3.400 ng/mL (1,6-9,2 mol/L) Menyingkirkan tumor yang

menghasilkan androgen

Androstenedione 0,4-2,7 ng/mL (1,4-9,4 nmol/L) Menegakkan diagnosis

17- Menyingkirkan NCAH (non-

hydroxyprogesterone classic congenital adrenal

hyperplasia)

Insulin puasa Menyingkirkan

hiperinsulinemia

Glukosa puasa 65-119 mg/dL (3,6-6,6 mmol/L) Menyingkirkan diabetes tipe

2 atau intoleransi glukosa

Rasio glukosa puasa 4,5 Menyingkirkan resistensi

: insulin insulin

Kolesterol (total) 150-200 mg/dL (1,5-2 g/L) Monitor perubahan gaya

hidup

Kolesterol HDL 35-85 mg/dL (0,9-2,2 mmol/L) Monitor perubahan gaya

hidup

Kolesterol LDL 80-130 mg/dL (2,1-3,4 mmol/L) Monitor perubahan gaya

hidup

Biopsi endometrium Tidak ada tanda Menyingkirkan keganasan

17
hiperplasia/keganasan atau hiperplasia

Diagnosis SOPK ditegakkan dengan menyingkirkan penyebab lain oligomenorea atau

hiperandrogenisme.

-hCG = beta subunit human chorionic gonadotropin;

TSH = thyroid-stimulating hormone;

DHEAS = dehydroepiandrosterone sulfate;

NCAH = nonclassic adrenal hyperplasia;

HDL = high-density lipoprotein;

LDL = low-density lipoprotein

2.7 Diagnosis Banding

1. Sindroma Cushing

Korteks adrenal memproduksi tiga kelas hormon tiroid

yaituglukokortikoid, mineralokortikoid, dan steroid seks (androgen dan

prekursor estrogen). Pada keadaan tertentu dapat terjadi hiperfungsi kelenjar

adrenal yang secara klinis terjadi peningkatan pada hormon-hormon tersebut.

Peningkatan glukortikod disertai dengan intoleransi glukosa akan

mengakibatkan peningkatan glukoneogenesis dan antagonis aksi insulin.

Sedangkan overproduksi prekursor steroid seks mengakibatkan perempuan

penderita sindroma cushing mengalami hiperandrogenisme (hirsutisme, acne,

oligomenore atau amenore, dan berkurangnya rambut atau mengalami

kebotakan).14

18
2. Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH)

Congenital adrenal hyperplasia merupakan suatu penyakit yang

diturunkan secara resesif autosomal dengan klinis hiperandrogenisme pada

saat pubertas. perempuan dengan hyperplasia adrenal congenital dapat

mengalami virilisasi dan maskulinisasi pada usia 3-7 tahun. Pada 39%

perempuan dengan congenital adrenal hyperplasia mengalami gangguan

menstruasi, dengan hirsurtisme tanpa oligomenore, serta sebanyak 22%

mengalami peningkatan androgen sirkulasi tanpa manifestasi klinis.14

3. Androgenproducing Ovarian Neoplasms

Kejadian neoplasma ovarii yang memperoduksi androgen, misalnya pada

tumor sel granulosa lebih banyak ditemukan pada perempuan postmenopause

dibandingkan dengan premenopause. Penyakit ini berhubungan dengan fungsi

pembentukan estrogen dini sehingga biasanya ditemukan dengan pubertas

prekoks. Total abdominal hysterectomy (TAH) dan bilateral salpingo

oophorectomy (BSO) merupakan terapi pilihan untuk penyakit ini. Salah satu

tumor penghasil androgenik lainnya adalah tumor stromal sklerosing, yang

biasanya ditemukan pada perempuan usia kurang dari 30 tahun. Manifestasi

klinis pada penyakit ini tampak sebagai hiperandrogenisme atau estrogen

berlebih, dan virilisasi atau maskulinisasi.14

2.8. Penatalaksanaan 2,5

Tujuan dari terapi pada SOPK adalah

(1) menghilangkan gejala dan tanda hiperandrogenisme,

(2)mengembalikan silus haid menjadi normal

(3) memperbaiki fertilitas

19
(4) menghilangkan gangguan metabolisme yang terjadi.

Pendekatan terapi dilakukan dengan 3 macam:

a. Non farmakologi

Tanda dan gejala hirsutisme akan memakan waktu yang cukup

lama untuk kembali normal setelah pemberian anti androgen. Untuk

menghiangkan bulu-bulu yang tumbuh pada penderita SOPK, banyak

perempuan melakukan tindakan elektolisis atau laser untu tujuan

kosmetik.

Pengendalian dan penurunan berat badan

Penurunan berat badan akan memberikan pengaruh terhadap kadar

hormon dalam sirkulasi. Penelitian menerangkan pada 6 orang penderita yang

mengalami penurunan berat badan sebesar 16,2 kg akan menyebabkan

penurunan kadar testosteron, 4 orang diantaranya terjadi ovulasi.11

Penurunan berat badan juga dapat menurunkan resiko terjadinya diabetes,

hipertensi dan hiperkolesterolemia.9 Penurunan berat badan yang tidak terlalu

drastis dapat mengatasi kadar androgen dan kadar insulin serta infertiliti.

Penurunan berat badan sebesar 5 7% dalam waktu 6 bulan sudah dapat

menurunkan kadar androgen sedemikian rupa sehingga ovulasi dan fertilitas

menjadi pulih pada 75% kasus SOPK.11

- Penurunan berat badan. Memperoleh berat badan yang ideal akan

memperbaiki kesehatan penderita dan dapat mengatasi masalah kesehatan

jangka panjang. Meningkatkan aktivitas dan makan makanan sehat

merupakan kunci pengendalian berat badan.

20
- Olah raga. Penderita diharap untuk menjadikan olah raga teratur sebagai

bagian penting dalam kehidupannya. Berjalan kaki merupakan aktivitas

yang paling baik dan sederhana yang dapat dengan mudah dikerjakan.

- Makanan sehat dan gizi seimbang yang terdiri dari kombinasi buah dan

sayuran, produk makanan kecil berkalori rendah yang dapat memuaskan

nafsu makan dan menngatasi kebiasaan makan kecil.

- Pertahankan berat badan yang sehat.

- Hentikan kebiasaan merokok

b. Farmakologi4,15

a. Kontrasepsi oral

Tujuannya untuk menurunkan produksi steroid ovarium dan

produksi androgen adrenal, meningkatkan sex hormon binding globulin

(SHBG), menormalkan rasio gonadotropin dan menurunkan kosentrasi

total testosteron dan androstenedione di dalam sirkulasi, mengembalikan

haid yang normal sehingga dapat mencegah hiperplasi endometrium dan

kanker endometrium. Medroxyprogesteron asetat dapat dijadikan sebagai

terapi untuk mengembalikan gejala hirsutisme. Dosis 150 mg

intramuskuler setiap 6 minggu selama 3 bulan atau 20-40 mg perhari.

b. Antiandrogen

Fungsinya untuk menurunkan produksi testosteron maupun untuk

mengurangi kerja dari testosteron. Beberapa antiandrogen yang tersedia

adalah : Cyproteron acetat yang bersifat kompetitif-inhibisi terhadap

testosteron dan dyhirotestosteron pada reseptor androgen. Dosis 100mg

per hari pada hari 5-15 siklus haid. Flutamide bersifat menekan

21
biosintesa testosteron. Dosis 250 mg 3 kali pemberian perhari selama 3

bulan. Finasteride yang merupakan inhibitor spesifik enzym 5

reduktase digunakan dengan dosis 5 mg/hari.

c. GnRh agonis

Pemberian GnRh agonis akan memperbaiki denyut sekresi LH

sehingga luteinisasi prematur dari folikel dapat di cegah dan dapat

memperbaiki rasio FSH/LH. GnRH agonis dapat diberikan dengan dosis

tunggal, 3 mg pada hari ke 8 siklus haid, atau dengan dosis ganda setiap

hari 0,25 mg mulai hari ke 7 siklus haid. . Penambahan kontrasepsi oral

atau terapi penggantian estrogen untuk pengobatan agonis GnRH dapat

mencegah keropos tulang dan efek samping lainnya dari menopause,

seperti hot flushes dan atrofi genital. Supresi hirsutisme tidak menambah

potensi dengan terapi penambahan estrogen untuk pengobatan agonis

d. Insulin sensitizer

Karena hiperinsulinemia memainkan peran dalam SOPK terkait

anovulasi, pengobatan dengan insulin sensitizers dapat menggeser

keseimbangan endokrin terhadap ovulasi dan kehamilan, baik

penggunaan sendiri atau dalam kombinasi dengan modalitas pengobatan

lain.

Betujuan untuk menekan aktifitas cytochrom P450c-17 ovarium,

yang akan menurunkan kadar androgen, LH dan hiperinsulinemia.

Diberikan dosis 500 mg 3 kali pemberian perhari selama 30 hari. Tidak

terdapat penelitian mengenai kisaran dosis metformin pada sindrom

ovarium polikistik, tapi penelitian kisaran dosis pada pasien diabetes

22
menggunakan kadar hemoglobin glikase sebagai pengukur outcome,

menunjukkan bahwa dosis 2000 mg per hari sudah optimal.

Dosis dan jangka waktu yang optimal untuk pemberian metformin

pada penderita SOPK dengan insulin resisten sampai sekarang belum

ditemukan suatu konsensus. Beberapa peneliti memberi pengobatan 4

sampai 8 minggu dengan dosis 500 mg tiga kali sehari sebagai

pengobatan awal sebelum diberikan clomiphene citrate, tetapi banyak

pasien yang merasa tidak nyaman dan sering menemukan efek samping

dengan pemberian 4 sampai 8 minggu tersebut, sehingga banyak yang

tidak melanjutkan pengobatan. Untuk mempersingkat waktu dan

meningkatkan kepatuhan dalam pengobatan, banyak peneliti mencoba

pemberian metformin yang lebih singkat. Hwu dkk memberikan

metformin dengan dosis 500 mg tiga kali sehari untuk 12 hari sebelum

dimulai pengobatan dengan clomiphene citrate. Pada penelitian tersebut

ovulasi ditemukan pada 42.5% dibandingkan hanya 12.5% pada

kelompok kontrol. Khorram dkk memberikan metformin 500 mg tiga kali

sehari dimulai dari hari pertama withdrawal bleeding (setelah pemberian

medroxy-progesterone acetate 10 mg perhari selama 10 hari) dan

pemberian clomiphene citrate pada hari ke lima sampai hari ke sembilan.

Pada penelitian tersebut ditemukan 44% dan 31% dibandingkan hanya

6.7% dan 0% pada kelompok kontrol yang ovulasi dan keberhasilan

untuk hamil.

23
e. Clomiphene Citrat

Merupakan terapi pilihan untuk induksi ovulasi dan mengembalikan

fungsi fertilisasi. Pada keadaan hiperandrogen pada perempuan yang

anovulasi. Dosisnya 50 mg satu kali pemberian perhari dengan dosis

maksimal perhari dapat ditingkatkan menjadi 200 mg.

Clomiphene citrate merupakan estrogen lemah sintetis yang meniru

aktivitas antagonis estrogen bila diberikan pada dosis farmakologi khas

untuk induksi ovulasi. Fungsi hipofise-hipotalamus-ovarium axis

diperlukan untuk kerja klomifen sitrat yang tepat. Lebih khusus lagi,

clomiphene sitrat diperkirakan dapat mengikat dan memblokir reseptor

estrogen di hipotalamus untuk periode yang lama, sehingga mengurangi

umpan balik estrogen normal hipotalamus-ovarium. Blokade ini

meningkatkan jumlah GnRH di beberapa wanita yang anovulatoir.

Peningkatan kadar GnRH menyebabkan peningkatan sekresi hipofise

gonadotropin, yang memperbaiki perkembangan folikel ovarium.

Clomiphene citrate juga dapat mempengaruhi ovulasi melalui

tindakan langsung pada hipofisis atau ovarium. Sayangnya, efek

antiestrogen clomiphene sitrat pada tingkat endometrium atau serviks

memiliki efek yang merugikan pada kesuburan pada sebagian kecil

individu. Obat ini adalah suatu antagonis estrogen yang bekerja dengan

mengadakan penghambatan bersaing dengan estrogen terhadap

hipotalamus sehingga efek umpan balik estrogen ditiadakan. Dengan

demikian hipotalamus akan melepaskan LH-FSH-RH yang selanjutnya

akan rnenyebabkan hipofisis anterior meningkatkan sekresi FSH dan LH.

24
Dengan demikian akan terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel serta

ovulasi.

c. Operatif 3

Terapi pembedahan kadang-kadang dilakukan pada kasus

infertilitas akibat SOPK yang tidak segera mengalami ovulasi setelah

pemberian terapi medikamentosa. Melalui pembedahan, fungsi ovarium di

pulihkan dengan mengangkat sejumlah kista kecil. Pilihan tindakan

diantara lain:

a. Wedge Resection

Yaitu mengangkat sebagian ovarium. Tindakan ini dilakukan untuk

membantu agar siklus haid menjadi teratur dan ovulasi berlangsung secara

normal. Tindakan ini sudah jarang dikerjakan oleh karena memiliki

potensi merusak ovarium dan menimbulkan jaringan parut.

b. Laparoscopic ovarian drilling

Merupakan tindakan pembedahan untuk memicu terjadinya ovulasi

pada penderita SOPK yang tidak segera mengalami ovulasi setelah

menurunkan berat badan dan memperoleh obat-obat pemicu ovulasi. Pada

tindakan ini dilakukan elektrokauter atau laser untuk merusak sebagian

ovarium. Beberapa hasil penelitian memperlihatkan bahwa dengan

tindakan ini dilaporkan angka ovulasi sebesar 80% dan angka kehamilan

sebesar 50%. perempuan yang lebih muda dan dengan BMI dalam batas

normal akan lebih memperoleh manfaat melalui tindakan ini.

25
2.9 Komplikasi

a. Infertilitas

Infertilitas pada sindrom ovarium polikistik berkaitan dengan dua hal.

Pertama karena adanya oligoovulasi/anovulasi. Keadaan ini berkaitan dengan

hiperinsulinemia di mana terdapat resistensi insulin karena sel-sel jaringan

perifer khususnya otot dan jaringan lemak tidak dapat menggunakan insulin

sehingga banyak dijumpai pada sirkulasi darah. Makin tinggi kadar insulin

seorang perempuan, makin jarang perempuan tersebut mengalami menstruasi.16

Penyebab yang kedua adalah adanya kadar LH yang tinggi sehingga

merangsang sintesa androgen. Testosteron menekan sekresi SHBG oleh hati

sehingga kadar testosteron dan estradiol bebas meningkat. Kenaikan kadar

estradiol memberi umpan balik positif terhadap LH sehingga kadar LH makin

meningkat lagi sedangkan kadar FSH tetap rendah. Hal ini menyebabkan

pertumbuhan folikel terhambat, tidak pernah menjadi matang apalagi terjadi

ovulasi.17

b. Hipertensi dan penyakit jantung koroner2

Diketahui bahwa obesitas sering diderita oleh pasien sindrom ovarium

polikistik. Lemak tubuh yang berlebihan ini memberi konsekuensi terjadinya

resistensi insulin. Obesitas dan resistensi insulin mengarah pada perubahan

respons sel-sel lemak terhadap insulin, di mana terjadi gangguan supresi

pengeluaran lemak bebas dari jaringan lemak.

Peningkatan lemak bebas yang masuk ke dalam sirkulasi portal

meningkatkan produksi trigliserida, selain itu juga terdapat peningkatan

aktivitas enzim lipase yang bertugas mengubah partikel lipoprotein yang besar

26
menjadi lebih kecil. Akibatnya ditemukan penurunan konsentrasi kolesterol

high density lipoprotein (HDL) dan peningkatan kadar kolesterol low density

lipoprotein (LDL) yang bersifat aterogenik sehingga mempercepat proses

aterosklerosis pembuluh darah dengan akibat berkurangnya kelenturan yang

berhubungan dengan terjadinya hipertensi. Kombinasi trigliserida yang tinggi

dan kolesterol HDL yang rendah berkaitan erat dengan penyakit

kardiovaskuler, yang pada pasien sindrom ovarium polikistik muncul di usia

yang relatif lebih muda.

c. Diabetes melitus2

Sindrom ovarium polikistik berkaitan erat dengan masalah insulin.

Adanya resistensi sel-sel tubuh terhadap insulin menyebabkan organ tubuh

tidak dapat menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen sehingga kadarnya

meningkat di dalam darah.

d. Masalah kulit dan hirsutisme17,18

Keadaan ini berkaitan dengan hiperandrogenisme. Kadar androgen

yang tinggi menyebabkan pengeluaran sebum yang berlebihan sehingga

menyebabkan masalah pada kulit dan rambut. Pasien mengeluhkan seringnya

terjadi peradangan pada kulit akibat penyumbatan pori serta pertumbuhan

rambut pada tubuh yang berlebihan. Kelainan yang biasanya timbul adalah

dermatitis seboroik, hidradenitis supuratif, akantosis nigrikans dan kebotakan.

Akantosis nigrikans selain berhubungan dengan keadaan hiperandrogen juga

terkait dengan adanya hiperinsulinemia.

27
e. Obesitas

Obesitas pada sindrom ovarium polikistik dideskripsikan sebagai

obesitas sentripetal, di mana distribusi lemak ada di bagian sentral tubuh

terutama di punggung dan paha. perempuan dengan sindrom ini sangat mudah

bertambah berat tubuhnya. Obesitas tipe ini berkaitan dengan peningkatan

risiko menderita hipertensi dan diabetes.2

f. Kanker endometrium

Risiko lain yang dihadapi perempuan dengan sindrom ini adalah

meningkatnya insiden kejadian kanker endometrium. Hal ini berhubungan

dengan kadar estrogen yang selalu tinggi sehingga endometrium selalu terpapar

oleh estrogen ditambah adanya defisiensi progesteron. Kanker ini biasanya

berdiferensiasi baik, angka kesembuhan lesi tingkat I mencapai angka >90%.

Kadar estrogen yang tinggi kemungkinan juga meningkatkan terjadinya kanker

payudara.2

2.10 Prognosis

SOPK meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular dan cerebrovaskular

dengan adanya hiperandrogenisme dan peningkatan apolipoprotein. Sekitar 40%

pasien dengan SOPK memiliki resiko resistensi insulin, independen dari berat

badan, sehingga meningkatkan resiko diabetes mellitus tipe 2 dengan konsekuensi

komplikasi kardiovaskular. Penderita SOPK juga beresiko mengalami karsinoma

endometrium.8

28
BAB III

KESIMPULAN

Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan serangkaian gejala yang

dihubungkan dengan hiperandrogenisme dan anovulasi kronik yang

berhubungan dengan kelainan endokrin dan metabolik pada wanita tanpa

adanya penyakit primer pada kelenjar hipofise atau adrenal yang mendasari

Di Amerika Serikat, sindrom ovarium polikistik (SOPK) adalah salah satu


gangguan endokrin yang paling sering pada perempuan usia reproduktif,

dengan prevalensi 4-12%. Untuk Indonesia, belum ada data resmi yang

menunjukkan jumlah penderita sindrom polikistik karena tidak adanya

kejelasan dalam pelaporan dan pencacatan kasusnya.

Penyebab sindrom polikistik ovarium ini belum diketahui, namun diduga


terdapat keterkaitan dengan proses pengaturan ovulasi dan ketidakmampuan

enzim yang berperan dalam sintesis estrogen di ovarium.

Gambaran klinis berupa : Gangguan menstruasi dan infertilitas, hirsutisme,


obesitas, Acanthosis nigricans akne, seborrhoe, pembesaran klitoris , dan

pengecilan payudara.

Penatalaksanaan dapat dilakukan secara farmakologi, non farmakologi dan


operatif

29