Anda di halaman 1dari 5

Borang Portofolio Internship RSU Berkah Pandeglang Periode November 2016- 2017

Portofolio II

Nama Peserta dr. Holy Fitria Ariani


Nama Wahana RSU Berkah Pandeglang
Topik Retensio urine ec. Benign Prostat Hiperplasia
Tanggal (kasus) 25 Juli 2017
Nama Pasien Tn. D No. RM : -
Tanggal Presentasi Nama Pendamping : dr. Yeni purwati
Tempat Presentasi RSU Berkah Pandeglang
Obyektif presentasi
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan
Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja
Lansia Bumil
Deskripsi Tn. D, 71 tahun datang ke IGD dengan keluhan tidak bisa BAK sejak 9
jam SMRS.
Tujuan : Mengevakuasi urine, mengurangi nyeri pada suprapubis, dan mencegah
infeksi saluran kencing
Bahan bahasan : Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas : Diskusi Presentasi dan Diskusi Email Pos

Data Pasien : Nama : Tn. D Usia : 71 tahun No Registrasi :


Nama Klinik : RSU Berkah Pandeglang Telepon : Terdaftar Sejak :

Data Utama untuk bahan diskusi :


1. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke UGD RSU Berkah Pandeglang pada tanggal 25 Juli 2017 dengan keluhan tidak bisa
BAK sejak 9 jam SMRS. Pasien mengeluhkan nyeri pada perut bagian bawah, demam disangkal oleh
pasien. Awalnya pancaran kencing pasien melemah lalu menetes setelah itu kencing tidak keluar sama
sekali walau pasien sudah mengedan saat BAK. Sebelumnya pasien pernah mengalami keluhan seperti ini
dan didiagnosa BPH. Pasien disarankan untuk dilakukan operasi. Keluhan seperti demam disangkal oleh
pasien.

1. Riwayat Pengobatan :
Pasien rutin mengkonsumsi obat hipertensi amlodipine 1x10mg.
2. Riwayat Kesehatan :
Pasien pernah mengalami keluhan seperti ini dan di diagnosa BPH. Pasien memiliki
riwayat penyakit hipertensi.
3. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga pasien yang mempunyai keluhan serupa.
4. Riwayat Pekerjaan :
Pasien seorang pensiunan dan sudah tidak bekerja.
5. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (Rumah, Lingkungan, Pekerjaan)
Pasien hanya tinggal bersama anaknya beserta cucunya.
6. Riwayat Imunisasi (disesuaikan dengan pasien dan kasus)
Pasien tidak mengingat mengenai riwayat imunisasinya.
7. Lain-lain (Pemeriksaan fisik dan Penunjang)
Tanda Vital ( UGD RSU Berkah 25/07/2017 pukul 07.00)
Nadi : 90 kali/menit
Tensi : 160/90 mg/dl
RR : 20 kali/menit
Suhu : 36,8 c
SpO2 : 90%
GCS : E4M5V6 (15) compos mentis
Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-
Leher : JVP tidak distensi, dalam batas normal
Paru : Suara nafas Vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-
Jantung : S1, S2 normal reguler, irama sinus, murmur -/-, gallop -/-
Abdomen : Datar lembut. Bising usus (+) normal. Hepar dan lien tidak teraba,
Full blast (+)
Ekstremitas : CRT < 2 detik, Edema -/-.
Hasil Laboratorium (25/07/2017)
Hb : 13 gr/dl
Ht : 42%
Leukosit : 10.140/uL
Trombosit : 495.000/uL

Daftar Pustaka:
1. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam FKUI 2006
2. Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapis, 2014
Hasil Pembelajaran
1. Diagnosa Benign Prostat Hiperplasia
3. Mekanisme terjadinya Benign Prostat Hiperplasia
4. Edukasi pada pasien mengenai Benign Prostat Hiperplasia
5. Langkah-Langkah penatalaksanaan Benign Prostat Hiperplasia
6. Motivasi kepatuhan untuk kontrol untuk mencegah keluhan

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio:

Subyektif:
Pasien mengeluhkan tidak bisa BAK sejak 9 jam SMRS. Selain itu, pasien mengeluhkan nyeri
pada perut bagian bawah. Demam disangkal oleh pasien.
Obyektif:
Dari hasil pemeriksaan fisik dan darah rutin dapat ditegakkan diagnosis benign prostat
hiperplasia. Diagnosa ditegakkan berdasarkan:
Gejala Klinis (tidak bisa BAK sejak 9 jam SMRS, nyeri pada suprapubik serta
mengedan pada saat BAK).
Pemeriksaan fisik didapatkan nyeri suprapubik serta full blast.
Riwayat mengalami keluhan yang sama dan dilakukan pemeriksaan rectal
toucher dan pasien diagnosa BPH.
Pada pemeriksaan lab tidak ditemukan peningkatan leukosit.
Hasil laboratorium :
Hb : 13 gr/dl
Ht : 42%
Leukosit : 10.140/uL
Trombosit : 450.000/uL

Assessment :

Pasien tidak dapat BAK sejak 9 jam SMRS dan perut bagian bawah terasa nyeri
dikeranakan oleh retensi urin yang disebabkan karena pembesaran prostat. Sebelumnya
memang pasien sudah pernah mengalami keluhan yang sama, telah dilakukan
pemeriksaan rectal toucher dan diagnosa pembesaran prostat jinak (BPH). Pasien
disarankan untuk dilakukan operasi tetapi keluarga sedang bermusyawarah karena pasien
tidak memiliki jaminan kesehatan. Pasien tidak teratur untuk kontrol ke poli bedah untuk
penyakitnya sehingga belakangan BAK pasien mulai tidak lancer, pancaran mulai tidak
kencang lama kelamaan menetes, lalu BAK mulai mengedan dan akhirnya tidak dapat
BAK sama sekali. Gejala ini disebut gejala Lower Urinary Tract Syndrome (LUTS).
BPH biasa terjadi pada laki-laki usia tua, hal ini berhubungan dengan etiologi dari BPH
yaitu peningkatan kadar estrogen yang menginduksi reseptor androgen sehingga
meningkatkan sensitivitas prostat terhadap testoteron bebas. Secara patologis, pada BPH
terjadi proses hyperplasia sejati disertai dengan peningkatan jumlah sel. Gejala klinis
yang ditimbulkan terbagi atas dua jenis yaitu gejala obstruktif dan gejala iritasi. Gejala
obstruksi timbul akibat sumbatan secara langsung terhadap uretra. Otot detrusor pada
kandung kemih gagal berkontraksi cukup kuat atau cukup lama sehingga kontraksi yang
dihasilkan terputus-putus. Hal ini yang terajadi pada pasien ini, akibatnya terjadi retensi
urine yang kelamaan dapat menimbulkan ISK. Pada pasien ini belum terjadi ISK karena
dari hasil laboratorium kadar leukosit masih normal dan pada klinis tidak terdapat
demam.

4. Plan :
Diagnosis : Retensio urine ec. Benign prostat hiperplasia. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemerisaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Pengobatan :
Pada pasien ini dilakukan pemasangan kateter urine untuk mengevakuasi urine pasien lalu pasien
di sarankan kontrol ke poli bedah umum 3 hari kemudian untuk dievaluasi. Pasien diberikan
paracetamol 3x500 mg tablet dan antibiotik cefixime 2x1 tablet untuk mencegah terjadinya
infeksi.
Prinsip pengobatan BPH adalah untuk mengurangi resistensi otot polos prostat atau mengurangi
volume prostat.
Farmakologi:
Penyekat adrenergik- alpha 1 selektif
Pemberian penyekat alpha bertujuan menghambat kontraksi otot polos prostat sehingga
mengurangi resistensi tonus leher kandung kemih dan uretra.
Tamsulosin 0,2 mg - 0,4 mg 1x1 tab.
Prazosin 2 x 1-2 mg
Penghambat 5 alpha-reduktase
Menghambat enzim 5 alpha-reduktase, suatu katalisator perubahan testoteron menjadi
dihidrotestoteron (DHT). Efek maksimumnya terlihat setelah 6 bulan.
Finasterid 1 x5 mg
Dutasterid 1 x 0,5 mg
Pembedahan:
Tiga teknik pembedahan yang direkomendasikan adalah:
Prostatektomi terbuka
Insisi prostat transuretra (TUIP)
Reseksi prostat transuretra (TURP)
Pendidikan: Edukasi terhadap pasien agar pasien mejalani gaya hidup sehat dan rutin kontrol ke
poli bedah atas penyakitnya.

Rujukan: direncanakan jika proses penyakit berlanjut dan menyebabkan komplikasi.