Anda di halaman 1dari 24

BAB II

DASAR TEORI

2.1. Pengertian Stratigrafi

Stratigrafi merupakan salah satu cabang dari ilmu geologi, yang berasal dari

bahasa Latin, Strata (perlapisan, hamparan) dan Grafia (memerikan,

menggambarkan). Jadi Stratigrafi merupakan ilmu yang mempelajari lapisan-

lapisan batuan serta hubungannya satu dengan yang lain kemudian kejadian-

kejadian di alam dalam hubungan ruang dan waktu yang meliputi umur, hubungan

lateral/vertikal, ketebalan, penyebaran dan keterjadiannya, yang memiliki tujuan

untuk mendapatkan pengetahuan sejarah bumi dan pengetahuan lainnya dari

lapisan batuan yang mempunyai arti ekonomis ataupun tidak (Syarifin,1984).

Batas satuan stratigrafi ditentukan sesuai dengan batas penyebaran ciri

satuan tersebut sebagaimana didefinisikan Batas satuan Stratigrafi jenis tertentu

tidak harus berhimpit dengan batas satuan satuan stratigrafi jenis lain, bahkan

dapat memotong satu sama lain (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996). Unit

Stratigrafi terdiri dari 2 kategori (North American Stratigraphic Codes, 1983)

yaitu:

A. Kategori yang berdasar atas kandungan Material (Content of starta) atau Batas-

batas fisika suatu perlapisan.

1. Unit Litostratigrafi

2. Unit Litodemik

3. Unit Magnetopolariti

4
5

4. Unit Biostratigrafi

5. Unit Pedostratigrafi

6. Unit Allostratigrafi

B. Kategori yang berhubungan dengan umur geologi

Kategori Matrial

1. Unit Kronastratigrafi

2. Unit Polariti-Kronostratigrafi

Kategori Non-Material

1. Unit Geokronologi

2. Unit Polariti-Geokronologi

2.2. Prinsip Dasar Stratigrafi

Prinsip-prinsip yang digunakan dalam penentuan urut-urutan kejadian

geologi adalah sebagai berikut:

1. Prinsip Superposisi

Prinsip ini sangat sederhana, yaitu pada kerak bumi tempat diendapkannya

sedimen, lapisan yang paling tua akan diendapkan paling bawah, kecuali pada

lapisan-lapisan yang telah mengalami pembalikan.

Gambar 2.I umur relatif batuan sedimen (http://bumipunbercerita.blogspot.com)


6

2. Hukum Datar Asal (Original Horizontality)

Prinsip ini menyatakan bahwa material sedimen yang dipengaruhi oleh

gravitasi akan membentuk lapisan yang mendatar (horizontal). Implikasi dari

pernyataan ini adalah lapisan-lapisan yang miring atau terlipatkan, terjadi setelah

Proses pengendapan pengecualian Pada keadaan tertentu (lingkungan delta,

pantai, batugamping, terumbu, dll) dapat terjadi pengendapan miring yang disebut

Kemiringan Asli (Original Dip) dan disebut Clinoform.

3. Azas Pemotongan (Cross Cutting)

Prinsip ini menyatakan bahwa sesar atau tubuh intrusi haruslah berusia

lebih muda dari batuan yang diterobosnya.

Gambar 2.2 cross cutting(http://bumipunbercerita.blogspot.com)

4. Prinsip Kesinambungan Lateral (Continuity)

Lapisan sedimen diendapkan secara menerus dan berkesinambungan

sampai batas cekungan sedimentasinya. Penerusan bidang perlapisan adalah

penerusan bidang kesamaan waktu atau merupakan dasar dari prinsip korelasi

stratigrafi. Dalam keadaan normal suatu lapisan sedimen tidak mungkin terpotong
7

secara lateral dengan tiba-tiba, kecuali oleh beberapa sebab yang menyebabkan

terhentinya kesinambungan lateral, yaitu :

Gambar 2.3 continuity(http://bumipunbercerita.blogspot.com)

- Pembajian

Menipisnya suatu lapisan batuan pada tepi cekungan sedimentasinya

Gambar 2.4 pembajian pada tepian cekungan(http://bumipunbercerita.blogspot.com)

- Perubahan Fasies Perbedaan sifat litologi dalam suatu garis waktu pengendapan

yang sama, atau perbedaan lapisan batuan pada umur yang sama (menjemari).

Gambar 2.5 penghilangan lapisan secara lateral(http://bumipunbercerita.blogspot.com)

- Pemancungan atau Pemotongankarena Ketidakselarasan Dijumpai pada jenis

ketidakselarasan Angular Unconformity di mana urutan batuan di bawah bidang


8

ketidakselarasan membentuk sudut dengan batuan diatasnya. Pemancungan atau

pemotongan terjadi pada lapisan batuan di bawah bidang ketidakselarasan.

Gambar 2.6 pemancungan. (http://bumipunbercerita.blogspot.com)

-Dislokasi karenasesar Pergeseran lapisan batuan karena gaya tektonik yang

menyebabkan terjadinya sesar atau patahan.

Gambar 2.7 dislokasi(http://bumipunbercerita.blogspot.com)

5. Azas Suksesi Fauna (Faunal Succesions)

Penggunaan fosil dalam penentuan umur geologi berdasarkan dua asumsi

dalam evolusi organik.Asumsi pertama adalah organisme senantiasa berubah

sepanjang waktu dan perubahan yang telah terjadi pada organise tersebut tidak

akan terulang lagi. Sehingga dapat dikatakan bahwa suatu kejadian pada sejarah

geologi adalah jumlah dari seluruh kejadian yang telah terjadi sebelumnya.

Asumsi kedua adalah kenampakan-kenampakan anatomis dapat ditelusuri melalui

catatan fosil pada lapisan tertua yang mewakili kondisi primitif organisme

tersebut.

6. Teori Katastrofisme (Catastrophism)


9

Teori ini dicetuskan oleh Cuvier, seorang kebangsaan Perancis pada tahun

1830. Ia berpendapat bahwa flora dan fauna dari setiap zaman itu berjalan tidak

berubah, dan sewaktu terjadinya revolusi maka hewan-hewan ini musnah.

Sesudah malapetaka itu terjadi, maka akan muncul hewan dan tumbuhan baru,

sehingga teori ini lebih umum disebut dengan teori Malapetaka.

7. Teori Uniformitarianisme (Uniformitarianism)

Teori ini dicetuskan oleh James Hutton, teori ini berbunyi The Present is

The Key to The Past , yang berarti kejadian yang berlangsung sekarang adalah

cerminan atau hasil dari kejadian pada zaman dahulu, sehingga segala kejadian

alam yang ada sekarang ini, terjadi dengan jalan yang lambat dan proses yang

berkesinambungan seragam dengan proses-proses yang kini sedang berlaku. Hal

ini menjelaskan bahwa rangkaian pegunungan-pegunungan besar, lembah serta

tebing curam tidak terjadi oleh suatu malapetaka yang tiba-tiba, akan tetapi

melalui proses alam yang berjalan dengan sangat lambat.

Kesimpulan dari teori Uniformitarianisme adalah :

Proses-proses alam berlangsung secara berkesinambungan.

Proses-proses alam yang terjadi sekarang ini, terjadi pula pada masa

lampau namun dengan intensitas yang berbeda.

8. Siklus geologi

Siklus ini terdiri dari proses Orogenesa (Pembentukan Deretan

Pegunungan), proses Gliptogenesa (Proses-proses Eksogen/ Denudasi) dan proses

Litogenesa (Pembentukan Lapisan Sedimen). Bumi tercatat telah mengalami


10

sembilan kali siklus geologi, dan yang termuda adalah pembentukan deretan

pegunungan Alpen.

2.3. Hubungan Stratigrafi dengan Sedimentologi

Sedimentologi adalah studi tentang proses-proses pembentukan, transportasi

dan pengendapan material yang terakumulasi sebagai sedimen di dalam

lingkungan kontinen dan laut hingga membentuk batuan sedimen. Stratigrafi

adalah studi batuan untuk menentukan urutan dan waktu kejadian dalam sejarah

bumi. Dua subjek yang dapat dibahas untuk membentuk rangkaian kesatuan skala

pengamatan dan intrepetasi.Studi proses dan produk sedimen memperkenankan

kita menginterpretasi dinamika lingkungan pengendapan. Rekaman-rekaman

proses ini di dalam batuan sedimen memperkenankan kita menginterpretasikan

batuan ke dalam lingkungan tertentu. Untuk menentukan perubahan lateral dan

temporer di dalam lingkungan masa lampau ini, diperlukan kerangka kerja

kronologi.

Kerangka waktu disediakan oleh aspek-aspek stratigrafi yang berbeda dan

memperkenankan kita menginterpretasikan batuan sedimen ke dalam susunan

dinamika lingkungan. Rekaman tektonik dan proses iklim yang berlangsung

sepanjang waktu geologi terdapat di dalam batuan seiring dengan bukti evolusi

kehidupan di bumi.

Istilah stratigrafi dimulai oleh dOrbigny di tahun 1852, tapi konsep

lapisan-lapisan batuan, atau strata lebih tua dari itu. Di tahun 1667, Steno

mengembangkan prinsip superposisi: dalam suatu sikuen batuan berlapis, lapisan

yang dibawah berumur lebih tua daripada lapisan di atasnya. Stratigrafi dapat
11

dipertimbangkan sebagai hubungan antara batuan dan waktu, dan sejarah bumi

terekam di dalam lapis-lapis batuan, meskipun sangat tidak lengkap. Stratigrafer

perhatiannya tertuju pada pengamatan, deskripsi dan interpretasi langsung dan

bukti nyata di dalam batuan untuk menentukan hubungan waktu dan ruang selama

sejarah bumi.

Gambar2.8 Perlapisan konglomerat dan batupasir (tengah, kiri) tersigkap di utara

Spanyol, diinterpretasi sebagai endapan kipas aluvial (8.4): secara stratigrafi, perlapisan

ini lebih muda dari perlapisan batugamping di belakangnya.

(http://bumipunbercerita.blogspot.com)

Stratigrafi menikmati kebangkitannya kembali dalam ilmu bumi karena ide-

ide baru yang telah dikembangkan dalam beberapa tahun ini, khususnya konsep

sikuen stratigrafi. Sedangkan tata nama unit stratigrafi di dalam daerah yang
12

berbeda dan dasar biostratigrafi untuk mendefinisikannya juga masih penting,

stratigrafi pada saat ini sering dimaksudkan sebagai perubahan lingkungan selama

perkembangan cekungan sedimen. Stratigrafi juga dikenal sebagai kunci untuk

memahami hampir semua proses bumi karena analisis stratigrafi menyediakan

informasi tentang peristiwa-peristiwa sepanjang sejarah bumi. Geofisika

menyediakan dasar fisika perilaku litosfer tapi rekaman stratigrafi menyediakan

bukti bagaimana cara litosfer berperilaku seiring dengan waktu.

Sedimentologi hanya ada sebagai cabang ilmu geologi untuk beberapa dekade.

Sedimentologi berkembang karena unsur-unsur stratigrafi fisika menjadi lebih

kuantitatif dan lapis-lapis strata dijelaskan berdasarkan proses fisika, kimia dan

biologi yang membentuknya. Tidak adanya terobosan besar sampai

berkembangnya teori tektonik lempeng. Suatu konsep menginterpretasi batuan

dalam proses modern yang menyokong sedimentologi modern dimulai pada abad

18 dan 19 (present is the key to the past). Sedimentologi berkembang karena

penelitian yang lebih tertuju pada interpretasi batuan sedimen dan mulai

mencakup petrologi sedimen, yang sebelumnya lebih atau sedikit terpisah dari

stratigrafi. Sekarang subjeknya meliputi semua hal dari analisis sub-mikroskopik

butir hingga evolusi paleogeografi seluruh cekungan sedimen.

A. Mekanisme Transportasi Sedimen

Batuan sediment memang sangat menarik untuk dibahas. Selain bentuknya

yang unik dan beragam serta jumlahnya yang melimpah di muka bumi

(hampir 75% kulit bumi terdiri atas batuan sedimen), proses-proses yang

terjadi juga sangatlah menarik untuk dibahas. Salah satu proses yang
13

menarik adalah bagaimana sedimen sebagai penyusun batuan sedimen

dapat terangkut dan diendapkan menjadi batuan sedimen. Sebelum

mengetahui bagaimana sedimen terangkut dan terendapkan dalam suatu

cekungan mungkin ada baiknya kita dapat memahami prinsip apa saja

yang bisa kita temukan dalam batuan sedimen. Prinsip-prinsip tersebut

sangatlah beragam diantaranya prinsip uniformitarianism. Prinsip penting

dari uniformitarianism adalah proses-proses geologi yang terjadi sekarang

juga terjadi di masa lampau. Prinsip ini diajukan oleh Charles Lyell di

tahun 1830. Dengan menggunakan prinsip tersebut dalam mempelajari

proses-proses geologi yang terjadi sekarang, kita bisa memperkirakan

beberapa hal seperti kecepatan sedimentasi, kecepatan kompaksi dari

sediment, dan juga bisa memperkirakan bagaimana bentuk geologi yang

terjadi dengan proses-proses geologi tertentu.

Lapisan horizontal yang ada di batuan sedimen disebut bedding.

Bedding terbentuk akibat pengendapan dari partikel-partikel yang

terangkut oleh air atau angin. Kata sedimen sebenanrya berasal dari

bahas latin sedimentum yang artinya endapan. Batas-batas lapisan

yang ada di batuan sedimen adalah bidang lemah yang ada pada batuan

dimana batu bisa pecah dan fluida bisa mengalir. Selama susunan

lapisan belum berubah ataupun terbalik maka lapisan termuda berada di

atas dan lapisan tertua berada di bawah. Prinsip tersebut dikenal sebagai

prinsip superposition. Susunan lapisan tersebut adalah dasar dari skala

waktu stratigrafi atau skala waktu pengendapan. Pengamatan pertama


14

atas fenomena ini dilakukan oleh Nicolaus Steno di tahun 1669. Beliau

mengajukan beberapa prinsip berkaitan dengan fenomena tersebut.

Prinsip-prinsip itu adalah prinsip horizontality,

superposition, dan original continuity. Prinsip horizontality menjelaskan

bahwa semula batuan sedimen diendapkan dalam posisi

horizontal. Pembentuk batuan sedimen adalah partikel-partikel atau

sering disebut sedimen yang terbentuk akibat hancuran batuan yang

telah ada sebelumnya seperti batuan beku, batuan metamorf, dan juga

batuan sedimen sendiri. Berdasarkan ukuran partikel dari sedimen

klastik, sedimen-sedimen dapat dibedakan sebagai berikut :

Faktor-faktor yang mengontrol terbentuknya sedimen adalah iklim,

topografi, vegetasi dan juga susunan yang ada dari batuan. Sedangkan

faktor yang mengontrol pengangkutan sedimen adalah air, angin, dan

juga gaya grafitasi. Sedimen dapat terangkut baik oleh air, angin, dan

bahkan salju. Mekanisme pengangkutan sedimen oleh air dan angin

sangatlah berbeda. Pertama, karena berat jenis angin relatif lebih kecil

dari air maka angin sangat susah mengangkut sedimen yang ukurannya

sangat besar. Besar maksimum dari ukuran sedimen yang mampu

terangkut oleh angin umumnya sebesar ukuran pasir. Kedua, karena

sistem yang ada pada angin bukanlah sistem yang terbatasi (confined)

seperti layaknya channel atau sungai maka sedimen cenderung tersebar

di daerah yang sangat luas bahkan sampai menuju atmosfer. Sedimen-

sedimen yang ada terangkut sampai di suatu tempat yang disebut


15

cekungan. Di tempat tersebut sedimen sangat besar kemungkinan

terendapkan karena daerah tersebut relatif lebih rendah dari daerah

sekitarnya dan karena bentuknya yang cekung ditambah akibat gaya

grafitasi dari sedimen tersebut maka susah sekali sedimen tersebut akan

bergerak melewati cekungan tersebut. Dengan semakin banyaknya

sedimen yang diendapkan, maka cekungan akan mengalami penurunan

dan membuat cekungan tersebut semakin dalam sehingga semakin

banyak sedimen yang terendapkan. Penurunan cekungan sendiri banyak

disebabkan oleh penambahan berat dari sedimen yang ada dan kadang

dipengaruhi juga struktur yang terjadi di sekitar cekungan seperti

adanya patahan. Sedimen dapat diangkut dengan tiga cara:

Suspension: ini umumnya terjadi pada sedimen-sedimen yang sangat kecil

ukurannya (seperti lempung) sehingga mampu diangkut oleh aliran air

atau angin yang ada.

Bed load: ini terjadi pada sedimen yang relatif lebih besar (seperti pasir,

kerikil, kerakal, bongkah) sehingga gaya yang ada pada aliran yang

bergerak dapat berfungsi memindahkan pertikel-partikel yang besar di

dasar. Pergerakan dari butiran pasir dimulai pada saat kekuatan gaya aliran

melebihi kekuatan inertia butiran pasir tersebut pada saat diam. Gerakan-

gerakan sedimen tersebut bisa menggelundung, menggeser, atau bahkan

bisa mendorong sedimen yang satu dengan lainnya.

Saltation yang dalam bahasa latin artinya meloncat umumnya terjadi pada

sedimen berukuran pasir dimana aliran fluida yang ada mampu menghisap
16

dan mengangkut sedimen pasir sampai akhirnya karena gaya grafitasi yang

ada mampu mengembalikan sedimen pasir tersebut ke dasar.

Pada saat kekuatan untuk mengangkut sedimen tidak cukup besar dalam

membawa sedimen-sedimen yang ada maka sedimen tersebut akan jatuh atau

mungkin tertahan akibat gaya grafitasi yang ada. Setelah itu proses

sedimentasi dapat berlangsung sehingga mampu mengubah sedimen-sedimen

tersebut menjadi suatu batuan sedimen.

B. Struktur Sedimen

Struktur sedimen termasuk ke dalam struktur primer yaitu struktur yang

terbentuk pada saat pembentukan batuan (pada saat sedimentasi).

Pembagian struktur sedimen :

a. Struktur Sedimen Pengendapan

b. Struktur Sedimen Erosional

c. Struktur Sedimen Pasca Pengendapan

d. Struktur Sedimen Biogenik

a. Struktur Sedimen Pengendapan

Adalah struktur sedimen yang terjadi pada saat pengendapan

batuan sedimen.

Perlapisan/Laminasi
17

Perlapisan merupakan suatu bidang kesamaan waktu yang dapat

ditunjukan oleh

perbedaan besar butir atau warna dari bahan penyusunnya.Dikatakan

perlapisan bila

tebalnya >1 cm dan dikatakan sebagai laminasi bila tebalnya <1 cm.

Perlapisan dapat dibagi menjadi 4 macam :

1) Perlapisan/laminasi sejajar (Paralel Bedding/Lamination) :

Bentuk lapisan/ laminasi batuan yang tersusun secara horisontal dan

saling sejajar satu dengan yang lainnya.

2) Perlapisan/laminasi silang siur (Cross Bedding/Lamination) :

Bentuk lapisan/ laminasi yang terpotong pada bagian atasnya oleh

lapisan/laminasi berikutnya dengan sudut yang berlainan dalam satu

satuan perlapisan.

3) Perlapisan bersusun (Graded Bedding) :

Perlapisan batuan yang dibentuk oleh gradasi butir yang makin

halus ke arah atas (normal graded bedding) atau gradasi butir yang makin

kasar ke arah atas (reverse graded bedding). Normal graded bedding dapat

dipakai untuk menentukan top atau bottom lapisan batuan.

. Gelembur gelombang (current ripple) :

Bentuk permukaan perlapisan bergelombang karena adanya arus

sedimentasi.
18

b. Struktur Sedimen Erosional

Adalah struktur sedimen yang terjadi akibat proses erosi pada saat

pengendapan batuan sedimen.

Dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Flute cast : struktur sedimen berbentuk seruling dan terdapat

pada dasar suatu lapisan, dapat dipakai untuk menentukan arus

purba

2. Groove Marks, Gutter Cast, Impack Marks, Channels and

Scours, dll

1. Pointed Flute Cast

2. Bulbous Flute Cast

3. Grove Cast

4. Flute Mark

5. Impact Mark

c. Struktur Sedimen Pasca Pengendapan

Adalah struktur sedimen yang terjadi setelah pengendapan batuan

sedimen.

- Load cast : struktur sedimen terbentuk pada permukaan lapisan akibat

pengaruh beban sedimen di atasnya.

- Convolute Bedding: bentuk liukan pada batuan sedimen akibat proses

deformasi.
19

- Sandstone dike : lapisan pasir yang terinjeksikan pada lapisan sedimen

di atasnya akibat proses deformasi.

- Contoh lain : Ball-and-Pillow Structures, Dish-and-Pillar Structure,

Stylolites, dll.

C. Lingkungan Pengendapan

Lingkungan pengendapan adalah tempat

mengendapnya material sedimen beserta kondisi fisik, kimia,

dan biologi yang mencirikan terjadinya mekanisme pengendapan tertentu

(Gould, 1972). Interpretasi lingkungan pengendapan dapat ditentukan dari

struktur sedimen yang terbentuk. Struktur sedimen tersebut digunakan

secara meluas dalam memecahkan beberapa macam masalah geologi,

karena struktur ini terbentuk pada tempat dan waktu pengendapan,

sehingga struktur ini merupakan kriteria yang sangat berguna untuk

interpretasi lingkungan pengendapan. Terjadinya struktur-struktur sedimen

tersebut disebabkan oleh mekanisme pengendapan dan kondisi serta

lingkungan pengendapan tertentu.

Beberapa aspek lingkungan sedimentasi purba yang dapat

dievaluasi dari data struktur sedimen di antaranya adalah mekanisme

transportasi sedimen, arah aliran arus purba, kedalaman air relatif, dan

kecepatan arus relatif. Selain itu beberapa struktur sedimen dapat juga

digunakan untuk menentukan atas dan bawah suatu lapisan.

Didalam sedimen umumnya turut terendapkan sisa-sisa organisme

atau tumbuhan, yang karena tertimbun,terawetkan. Dan selama proses


20

Diagenesis tidak rusak dan turut menjadi bagian dari batuan sedimen atau

membentuk lapisan batuan sedimen. Sisa-sia organisme atau tumbuhan

yang terawetkan ini dinamakan fossil. Jadi fosill adalah bukti atau sisa-sisa

kehidupan zaman lampau. Dapat berupa sisa organisme atau tumbuhan,

seperti cangkang kerang, tulang atau gigi maupun jejak ataupun cetakan.

Dari studi lingkungan pengendapan dapat digambarkan atau direkontruksi

geografi purba dimana pengendapan terjadi.

Lingkungan pengendapan merupakan keseluruhan dari kondisi

fisik, kimia dan biologi pada tempat dimana material sedimen

terakumulasi. (Krumbein dan Sloss, 1963) Jadi, lingkungan pengendapan

merupakan suatu lingkungan tempat terkumpulnya material sedimen yang

dipengaruhi oleh aspek fisik, kimia dan biologi yang dapat mempengaruhi

karakteristik sedimen yang dihasilkannya.

Secara umum dikenal 3 lingkungan pengendapan, lingkungan darat

transisi, dan laut. Beberapa contoh lingkungan darat misalnya endapan

sungai dan endapan danau, ditransport oleh air, juga dikenal dengan

endapan gurun dan glestsyer yang diendapkan oleh angin yang dinamakan

eolian. Endapan transisi merupakan endapan yang terdapat di daerah

antara darat dan laut seperti delta,lagoon, dan litorial. Sedangkan yang

termasuk endapan laut adalah endapan-endapan neritik, batial, dan abisal.

Contoh Lingkungan Pengendapan Pantai : Proses Fisik : ombak dan

akifitas gelombang laut, Proses Kimia : pelarutan dan pengendapan dan

Proses Biologi : Burrowing. Ketiga proses tersebut berasosiasi dan


21

membentuk karakteristik pasir pantai, sebagai material sedimen yang

meliputi geometri, tekstur sedimen, struktur dan mineralogy.

D. Parameter Lingkungan Pengendapan

Parameter fisik meliputi elemen static dan dinamik dari lingkungan

pengendapan.

1. Elemen fisik

Elemen fisik statis meliputi geometri cekungan(Basin); material yang

diendapkan seperti kerakal silisiklastik, pasir, dan lumpur; kedalaman air;

suhu; dan kelembapan. Elemen fisik dinamik adalah faktor seperti energy

dan arah aliran dari angin, air dan es; air hujan; dan hujan salju.

2. Parameter kimia

Termasuk salinitas, pH, Eh, dan karbondioksida dan oksigen yang

merupakan bagian dari air yang terdapat pada lingkungan pengendapan.

3. Parameter biologi

Dari lingkungan pengendapan dapat dipertimbangkan untuk meliputi

kedua-duanya dari aktifitas organism, seperti pertumbuhan tanaman,

penggalian, pengeboran, sedimen hasil pencernaan, dan pengambilan dari

silica dan kalsium karbonat yang berbentuk material rangka. Dan

kehadiran dari sisa organism disebut sebagai material pengendapan.

E. . Proses Sedimentasi dan Produknya


22

Tiap lingkungan sedimen memiliki karakteristik akibat parameter fisika,

kimia, dan biologi dalam fungsinya untuk menghasilkan suatu badan

karakteristik sedimen oleh tekstur khusus, struktur, dan sifat komposisi.

Hal tersebut biasa disebut sebagai fasies. Istilah fasies sendiri akan

mengarah kepada perbedaan unit stratigrafi akibat pengaruh litologi,

struktur, dan karakteristik organik yang terdeteksi di lapangan. Fasies

sedimen merupakan suatu unit batuan yang memperlihatkan suatu

pengendapan pada lingkungan.

Proses Pengendapan Di Air Dan Darat

Proses pengendapan di air, terbentuknya berupa timbunan di laut dan akan

berakhir di air hangat. Namun pada kenyataan yang sering dijumpai,

beberapa dikarenakan oleh aliran sungai. Ini juga termasuk timbunan di

danau dan delta. Keseluruhan proses pengendapan hingga saat ini dapat

diamati dalam berbagai bentuk walaupun ada beberapa aspek pengendapan

yang tidak sempurna. Kemungkinan ini digunakan untuk

mengklasifikasikan cara utama dimana material mengendap karena

perpindahan air.

Proses pengendapan di daratan, sebagai tempat awal, tertransportasikan

oleh arus sungai yang deras. Batuan yang terpisah / tanah yang tererosi

akan dibawa oleh aliran sungai, mulai dari dasar hingga menuju

puncaknya. Selama arus bergerak membelok dan memasuki area,

kecepatannya akan menurun dan semakin banyaknya muatan yang dibawa

akan terendap pada kerucut aluvial atau kipas aluvial. Endapan akan dapat
23

dibedakan disekitar pegunungan dan sering dijumpai pada derah yang luas

dan dalam. Banyak material sedimen ditemukan di daratan pesisir di

Amerika dan kemungkinan terbentuk di daerah tersebut. Timbunan

menunjukkan stratigrafi yang berasal dari formasi alaminya, dan karena

perubahan volume aliran sungai yang deras, lapisan yang ada di dekatnya

akan menjadi sangat berubah. Timbunan kerucut aluvial selalu

menunjukkan perbedaan utama dari endapan kasar [termasuk bongkahan]

di puncak dengan lempung di luarnya. Jika proses erosi terus berlanjut

tanpa adanya pergerakan bumi, material yang ada di kerucut alivisl akan

tererosi sendirinya.

Tingkat akhir dalam proses pertumbuhan sungai juga menjadi faktor

proses pengendapan. Setelah sungai mencapai tingkat dewasa, akan

bertambah volume pengangkatan material sedimennya. Natural leeves

akan terbentuk pada saluran sungai dan pada saat itu juga air meluap,

mengisi area lain disetiap sampingnya dimana proses pengendapannya

lambat. Area ini lebih dikenal sebagai alluvial / plain. Timbunan material

di area tersebut juga akan terstratigrafikan.

Didaerah padang pasir, sungai mengalir menuju ke cekungan dalam yang

kering / terisi air yang dangkal. Pengendapannya terjadi di bebrapa daerah

dimana ketika air meluap membawa banyak material. Jika pergerakan

bumi mendukung proses pengendapan, dalamnya timbunan akan menjadi

seimbang dan kejadian ini ternyata sudah berlangsung dari waktu yang

cukup lama. Material akan terstratigrafikan, namun banyak juga yang


24

hilang. Material tersebut bervariasi, biasanya mencakup lapisan garam dan

gypsum. Sungai mengalir menuju danau dan membawa timbunan

kemudian menuju delta dan laut.

Pengendapan di laut biasanya terbentuk dalam 3 daerah, yaitu :

1. Zona pantai

2. Zona dangkalan

3. Zona laut dalam

Material pada zona pantai memiliki keadaan alami secara sementara, sejak

timbul di garis pantai dan akan berubah secara tetap. Material ini didominasi oleh

materioal kasar (pasir dan kerikil).

Transportasi

Proses transprtasi adalah proses perpindahan / pengangkutan material yang

diakibatkan oleh tenaga kinetis yang ada pada sungai sebagai efek dari gaya

gravitasi. Sungai mengangkut material hasil erosinya dengan berbagai cara, yaitu

a. Traksi, yaitu material yang diangkut akan terseret pada dasar sungai.

b. Rolling, yaitu material akan terangkut dengan cara menggelinding pada dasar

sungai.

c. Saltasi, yaitu material akan terangkut dengan cara meloncat pada dasar sungai.

d. Suspensi, yaitu proses pengangkutan material secara mengambang dan

bercampur dengan air sehingga menyebabkan air sungai menjadi keruh.

e. Solution, yaitu pengangkutan material larut dalam air dan membentuk larutan

kimia.

G. Sedimentasi
25

Proses sedimentasi adalah proses pengendapan material karena aliran

sungai tidak mampu lagi mengangkut material yang dibawanya. Apabila tenaga

angkut semakin berkurang, maka material yang berukuran besar dan lebih berat

akan terendapkan terlebih dahulu, baru kemudian material yang lebih halus dan

ringan. Bagian sungai yang paling efektif untuk proses pengendapan ini adalah

bagian hilir atau pada bagian slip of slope pada kelokan sungai, karena biasanya

pada bagian kelokan ini terjadi pengurangan energi yang cukup besar. Ukuran

material yang diendapkan berbanding lurus dengan besarnya energi pengangkut,

sehingga semakin ke arah hilir, energi semakin kecil, material yang

diendapkanpun semakin halus.

Sedimentasi adalah terbawanya material hasil dari pengikisan dan pelapukan oleh

air, angin atau gletser ke suatu wilayah yang kemudian diendapkan. Semua batuan

hasil pelapukan dan pengikisan yang diendapkan lama kelamaan akan menjadi

batuan sedimen. Hasil proses sedimentasi di suatu tempat dengan tempat lain akan

berbeda.

Pengendapan oleh air laut

Batuan hasil pengendapan oleh air laut disebut sedimen marine.

Pengendapan oleh air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil

pengendapan oleh air laut, antara lain pesisir, spit, tombolo, dan penghalang

pantai. Pesisir merupakan wilayah pengendapan di sepanjang pantai. Biasanya

terdiri dari material pasir. Ukuran dan komposisi material di pantai sangat

bervariasi tergantung pada perubahan kondisi cuaca, arah angin, dan arus laut.

Arus pantai mengangkut material yang ada di sepanjang pantai. Jika terjadi
26

perubahan arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut material material ke laut

yang dalam. Ketika material masuk ke laut yang dalam, terjadi pengendapan

material. Setelah sekian lama, terdapat akumulasi material yang ada di atas

permukaan laut. Akumulasi material itu disebut spit. Jika arus pantai terus

berlanjut, spit akan semakin panjang. Kadang kadang spit terbentuk melewati

teluk dan membetuk penghalang pantai (barrier beach).

Pengendapan oleh angin

Sedimen hasil pengendapan oleh angin disebut sedimen aeolis. Bentang alam

hasil pengendapan oleh angin dapat berupa gumuk pasir (sand dune). Gumuk

pantai dapat terjadi di daerah pantai maupun gurun. Gumuk pasir terjadi bila

terjadi akumulasi pasir yang cukup banyak dan tiupan angin yang kuat. Angin

mengangkut dan mengedapkan pasir di suatu tempat secara bertahap sehingga

terbentuk timbunan pasir yang disebut gumuk pasir.

Pengendapan oleh gletser

Sedimen hasil pengendapan oleh gletser disebut sedimen glacial. Bentang alam

hasil pengendapan oleh gletser adalah bentuk lembah yang semula berbentuk V

menjadi U. Pada saat musim semi tiba, terjadi pengikisan oleh gletser yang

meluncur menuruni lembah. Batuan atau tanah hasil pengikisan juga menuruni

lereng dan mengendap di lembah. Akibatnya, lembah yang semula berbentuk V

menjadi berbentuk U.

1. Deposisi

Pengendapan Terjadi saat pengangkutan partikel yang membutuhkan

energi dan terjadi pada waktu yang relatif singkat. Endapan tersusun atas butiran
27

butiran mineral. Dapat juga menghasilkan endapan kimia pada kondisi yang

berbeda.

2. Litifikasi

Terjadi dalam beberapa tahap, All taken together are termed Diagenesis.

a. Kompaksi - Squeezing out of water.

b. Sementasi - Precipitation of chemical cement from trapped water

c. Rekristalisasi- Growth of grains in response to new equilibrium conditions