Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persalinan preterm didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi sebelum

usia kehamilan 37 minggu. Persalinan preterm terjadi pada 5-10% kehamilan

tetapi menyumbang sebanyak 75% terhadap mortalitas perinatal.1 Angka

kelahiran kurang bulan berperan besar terhadap angka kematian bayi, yang mulai

meningkat di Amerika Serikat sejak tahun 1996. Berbagai jenis morbiditas,

terutama dikarenakan sistem organ yang imatur, secara signifikan meningkat pada

bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu dibandingkan dengan mereka

yang dilahirkan aterm. Hal ini berkaitan dengan maturitas organ bayi baru lahir

seperti paru, otak, dan gastrointestinal.2,3

Perhatian juga telah diberikan terhadap peningkatan angka bayi kurang

bulan dengan berat badan lahir rendah. Bayi ini kebanyakan tidak hanya

menderita komplikasi segera dari prematuritas, tetapi juga gejala sisa jangka

panjang, seperti cacat perkembangan saraf.2,3 Penelitian lain menunjukkan bahwa

umur kehamilan dan berat bayi lahir saling berkaitan dengan risiko kematian

perinatal. Pada kehamilan umur 32 minggu dengan berat bayi >1500 gram

keberhasilan hidup sekitar 85%, sedangkan pada umur kehamilan sama dengan

berat janin < 1.500 gram angka keberhasilan sebesar 80%. Pada umur kehamilan

<32 minggu dengan berat lahir < 1500 gram angka keberhasilan hanya sekitar

59%. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan persalinan preterm tidak hanya

tergantung umur kehamilan, tetapi juga berat bayi lahir.3

1
Penyebab persalinan preterm sering dapat dikenali dengan jelas. Namun,

pada banyak kasus penyebab pasti tidak dapat diketahui. Beberapa faktor

mempunyai andil dalam terjadinya persalinan preterm seperti faktor pada ibu,

faktor janin dan plasenta, ataupun faktor lain seperti sosioekonomik.3

Langkah-langkah yang menakjubkan telah dilakukan demi kelangsungan

hidup masa neonatus untuk bayi yang dilahirkan kurang bulan, terutama untuk

bayi yang lahir setelah 28 minggu.2

1.2 Batasan Masalah

Makalah ini membahas tentang definisi, epidemiologi, etiologi dan

patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi serta pencegahan dari

persalinan preterm.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui definisi, epidemiologi,

etiologi dan patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi serta

pencegahan dari persalinan preterm, sekaligus sebagai syarat dalam mengikuti

kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kebidanan dan Kandungan RSUD Padang

Panjang

1.4 Metode Penulisan

Penulisan makalah ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang

merujuk kepada beberapa literatur.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Persalinan preterm adalah persalinan yang berlangsung pada umur

kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. WHO

menyatakan bahwa bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37

minggu atau kurang.3 Partus prematurus atau persalinan prematur juga diartikan

sebagai dimulainya kontraksi uterus yang teratur disertai pendataran dan atau

dilatasi serviks serta turunnya bayi pada wanita hamil yang lama kehamilannya

kurang dari 37 minggu (kurang dari 259 hari) dari hari pertama haid terakhir.4

Himpunan Kedokteran Fetomaternal (POGI) di Semarang menetapkan bahwa

persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 22 37

minggu.5

2.2 Epidemiologi

Kejadian persalinan preterm tidak merata disetiap wanita hamil. Dari suatu

penelitian didapatkan bahwa kejadian persalinan preterm pada wanita dengan kulit

hitam adalah 2 kali lebih banyak dibandingkan ras lain di Amerika Serikat.

Penyebab prematuritas adalah terkait multifaktorial. Persalinan preterm wanita

kulit putih lebih banyak berupa persalinan preterm spontan dengan selaput

ketuban utuh, sedangkan pada wanita kulit hitam umumnya didahului dengan

ketuban pecah dini. Persalinan preterm juga dapat dibagi menurut usia kehamilan,

sekitar 5% persalinan preterm terjadi pada usia kurang dari 28 minggu (extreme

prematurity), sekitar 15% terjadi pada usia kehamilan 28-31 minggu (severe

3
prematurity), sekitar 20% pada usia 32-33 minggu (moderate prematurity), dan

60-70% pada usia 34-36 minggu (near term).5

Diperkirakan terdapat 12.870 persalinan preterm per 100.000 kelahiran di

seluruh dunia (9,6%), di USA kejadian persalinan preterm adalah 12 -13%, di

Afrika terdapat 4.047 persalinan preterm per 100 kelahiran (11,9%), di Eropa

sebesar 466 per 1000 kelahiran (6,2%), di Asia 6.097 per 1000 kelhiran atau

9,1%, dan di Asia Tenggara 6.097 per 1000 kelahiran (11,1%). Angka kejadian

persalinan prematur di Indonesia pada tahun 1983 adalah 18,5% dan pada tahun

1995 menurun menjadi 14,2%. Menurut data terakhir pada tahun 2005 jumlah

persalinan prematur di Indonesia adalah 10%.4

Prematuritas dewasa ini menjadi faktor tersering terkait morbiditas dan

mortalitas bayi. Anoksia 12 kali lebih sering terjadi pada bayi bayi prematur,

gangguan respirasi menyebabkan kematian sebesar 44% pada bayi usia kurang

dari 1 bulan. Jika berat bayi kurang dari 1000 gram maka angka kematian naik

menjadi 74%. Karena lunaknya tulang tengkorak serta immaturitas, bayi prematur

lebih rentan terhadap kompresi kepala. Perdarahan intrakranial lebih sering terjadi

pada bayi prematur dibandikan dengan bayi aterm.4 Setiap tahun sekitar 4 juta

bayi meninggal dalam 4 minggu pertama kehidupan (periode neonatal). Secara

global diperkirakan penyebab langsung kematian neonatal adalah prematuritas

(28%), infeksi berat 26%, dan asfiksia 28%. Persalinan preterm spontan paling

sering terjadi pada ibu dengan kulit putih, sedangkan ketuban pecah prematur

adalah penyebab paling sering terjadinya persalinan preterm pada ibu kulit hitam.2

4
2.3 Etiologi dan Patofisiologi

Penyebab persalinan preterm untuk semua kasus adalah berbeda beda.

Persalinan preterm, merupakan kelainan proses yang multifaktorial. Kombinasi

keadaan obstetrik, sosiodemografi, dan faktor medik memiliki pengaruh terhadap

terjadinya persalinan preterm. Kadang hanya resiko tunggal dijumpai seperti

distensi berlebih uterus, ketuban pecah dini atau trauma.3

Beberapa faktor resiko terjadinya persalinan preterm adalah abortus yang

mengancam, faktor gaya hidup seperti merokok, pertambahan berat badan ibu

yang tidak adekuat, penggunaan narkoba. Faktor maternal lain yang terlibat

adalah usia ibu terlalu muda atau terlalu tua, tubuh pendek, kesenjangan ras dan

etnik, hiperaktivitas selama kehamilan, faktor genetik, penyakit periodontal, cara

lahir, interval antara kehamilan sebelumnya dan saat ini, serta riwayat persalinan

preterm pada kehamilan sebelumnya.2

Banyak kasus persalinan prematur sebagai akibat proses patogenik yang

merupakan mediator biokimia yang mempunyai dampak terjadinya kontraksi

rahim dan perubahan serviks, yaitu:3

1. aktivasi aksis kelenjar hipotalamus-hipofisis-adrenal baik pada ibu

maupun janin, akibat stress pada ibu ataupun janin

2. inflamasi desidua-korioamnion atau sistemik akibat infeksi ascenden dari

traktus genitourinari atau infeksi sistemik

3. perdarahan desidua

4. peregangan uterus patologik

5. kelainan pada uterus atau serviks.

5
Berdasarkan penelitian 35% persalinan preterm terjadi tanpa diketahui

penyebab yang jelas, 30% akibat persalinan elektif, 10% pada kehamilan ganda,

dan sebagian lain akibat kondisi ibu dan janinnya. Kondisi selama kehamilan

yang berisiko terjadinya persalinan preterm adalah:3

Janin dan plasenta

- Perdarahan trimester awal

- Perdarahan antepartum (plasenta previa, solusio plasenta, vasa previa)

- Ketuban pecah dini (KPD)

- Pertumbuhan janin terhambat

- Cacat bawaan janin

- Kehamilan ganda/gemeli

- Polihidramnion

Ibu

- Penyakit berat pada ibu

- Diabetes melitus

- Preeklampsia/hipertensi

- Infeksi saluran kemih/genital/intrauterine

- Penyakit infeksi dengan demam

- Stress psikologik

- Kelainan bentuk uterus/serviks

- Riwayat persalinan preterm/ abortus berulang

- Inkompetensi serviks (panjang serviks kurang dari 1 cm)

- Pemakaian obat narkotik

- Trauma

6
- Perokok berat

- Kelainan imunologi/ kelainan resus

Dengan demikian, untuk memprediksi kemungkinan terjadinya persalinan

preterm harus dicermati beberapa kondisi yang dapat menimbulkan kontraksi,

menyebabkan persalinan prematur.3

2.3.1 Aktivasi Aksis Hipothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) Ibu dan Janin

Stress didefiniskan sebagai tantangan baik psikologis ataupun fisik yang

mengancam ataupun mengancam hemostasis pasien akan mengakibatkan aktivasi

prematur Hipothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) janin atau ibu. Stress semakin

diakui sebagai faktor resiko penting terjadinya persalinan preterm.

Neuroendrokin, kekebalan tubuh, proses perilaku (seperti depresi) telah dikaitkan

dengan kejadian persalinan preterm akibat stress. Proses aktivasi prematur HPA

dimediasi oleh corticothropine releasing hormone (CRH) plasenta. Dalam sebuah

hasil penelitian in vivo ditemukan hubungan yang signifikan antara stress

psikososial ibu dengan kadar CRH, ACTH, dan kortisol plasma ibu. Menurut

Hobel dkk, dibandingkan dengan wanita yang melahirkan aterm, wanita yang

preterm memiliki kadar CRH yang meningkat signifikan dengan mempercepat

peningkatan kadar CRH selama kehamilan.5

Pada persalinan preterm aksis HPA ibu dapat mendorong ekspresi CRH

plasenta. CRH plasenta menstimulasi janin untuk mensekresi kortisol dan

dehydroepiandrosterone synthase (DHEA-S) melalui aktivasi aksis HPA janin dan

menstimulasi plasenta untuk mensisntesis estriol dan prostaglandin, sehingga

mempercepat persalinan preterm.5

7
2.3.2 Infeksi Intra Uterin

Infeksi intra uterin merupakan salah satu penyebab terjadinya persalinan

preterm. Infeksi bakterial dalam uterus dapat terjadi antara jaringan maternal dan

fetal membran (dalam koriodesidual space), dalam fetal membran (amnion dan

korion), dalam placenta, dalam cairan amnion, dalam tali pusat. Infeksi pada fetal

membran disebut korioamnionitis, infeksi pada tali pusat disebut funisitis, infeksi

pada cairan amnion disebut amnionitis. Infeksi jarang terjadi pada kehamilan

prematur akhir (34-36 minggu), dan lebih sering terjadi pada usia kehamilan

kurang dari 30 minggu.6

Gambar 1 Tempat potensial terjadinya infeksi bakteri intrauterin

Data dari penelitian hewan, in vitro dan manusia seluruhnya memberikan

gambaran yang konsisten bagaimana infeksi bakteri menyebabkan persalinan

prematur spontan (gambar 2). Invasi bakteri pada rongga koriodesidua,

8
menyebabkan pelepasan endotoksin dan eksotoksin, mengaktivasi desidua dan

membran janin untuk menghasilkan sejumlah sitokin, termasuk including tumor

necrosis factor, interleukin-1, interleukin-1, interleukin-6, interleukin-8, dan

granulocyte colony-stimulating factor. Selanjutnya, cytokines, endotoxins, dan

exotoxins merangsang sistesis dan pelepasan prostaglandin dan juga mengawali

chemotaxis, infiltrasi, dan aktivasi neutrofil. Prostaglandin merangsang kontraksi

uterus sedangkan metalloprotease menyerang membran korioamnion yang

menyebabkan pecah ketuban. Metalloprotease juga meremodeling kolagen dalam

serviks dan melembutkannya.6

Terdapat jalur lain yang memiliki peranan yang hampir sama. Sebagai

contoh, prostaglandin dehydrogenase dalam jaringan korionik menginaktivasi

prostaglandin yang dihasilkan dalam amnion yang mencegahnya mencapai

miometrium dan menyebabkan kontraksi. Infeksi korionik yang menurunkan

aktivitas dehidrogenase ini menyebabkan peningkatan kuantitas prostaglandin

untuk mencapai miometrium.5

Jalur lain dimana infeksi menyebabkan persalinan prematur melibatkan

janin itu sendiri. Pada janin dengan infeksi, peningkatan produksi corticotropin-

releasing hormone menyebabkan meningkatnya sekresi kortikotropin janin, yang

kemudian meningkatkan produksi kortisol adrenal fetus. Sekresi kortisol yang

tinggi menyebabkan meningkatnya produksi prostaglandin. Contoh lain yaitu

ketika fetus itu sendiri terinfeksi, produksi sitokin fetus meningkat dan waktu

untuk persalinan jelas berkurang. Namun, kontribusi relatif kompartemen

maternal dan fetal terhadap respon peradangan keseluruhan tidak diketahui.5

9
Gambar 2. Alur kolonisasi bakteri koriodesidua yang menyebabkan

persalinan prematur

2.3.3 Perdarahan desidua (Decidual hemorrhage/thrombosis)

Perdarahan desidua dapat menyebabkan persalinan preterm. Lesi vaskular

dari plasenta biasanya dihubungkan dengan persalinan preterm dan ketuban pecah

dini. Lesi plasenta dilaporkan 34% dari wanita dengan persalinan preterm, 35%

dari wanita dengan ketuban pecah dini, dan 12% kelahiran term tanpa komplikasi.

Lesi ini dapat dikarakteristikan sebagai kegagalan dari transformasi fisiologi dari

arteri spiralis, atherosis, dan trombosis arteri ibu atau janin. Diperkirakan

mekanisme yang menghubungkan lesi vaskular dengan persalinan preterm ialah

iskemi uteroplasenta. Meskipun patofisiologinya belum jelas, namum trombin

diperkirakan memainkan peran utama. 2,7,8

10
2.3.4 Distensi uterus yang berlebihan (uterine overdistension)

Distensi uterus yang berlebihan memainkan peranan kunci dalam memulai

persalinan preterm yang berhubungan dengan kehamilan multipel,

polihidramnion, dan makrosomia. Kehamilan multipel, sering disebabkan oleh

reproduksi yang dibantu oleh tekhnologi (assisted reproduction technologies

(ART)), termasuk induksi ovulasi dan fertilisasi in vitro, dan merupakan satu dari

penyebab yang paling penting dari persalinan preterm di negara-negara maju. Di

Amerika Serikat misalnya, ART merupakan 1% dari semua kelahiran hidup, tetapi

17% dari semua kehamilan multipel; 53% neonatus hasil dari ART pada tahun

2003 merupakan anak kembar. Mekanisme dari distensi uterus yang berlebihan

hingga menyebabkan persalinan preterm masih belum jelas. Namun diketahui,

peregangan rahim akan menginduksi ekspresi protein gap junction, seperti

connexin-43 (CX-43) dan CX-26, serta menginduksi protein lainnya yang

berhubungan dengan kontraksi, seperti reseptor oksitosin. 2,7,8

2.3.5 Insufisiensi serviks

Insufisiensi serviks secara tradisi dihubungkan dengan pregnancy losses

pada trimester kedua, tetapi baru-baru ini bukti menunjukan bahwa gangguan

pada serviks berhubungan dengan outcomes kehamilan yang merugikan dengan

variasi yang cukup luas, termasuk persalinan preterm. Insufisiensi serviks secara

tradisi telah diidentifikasi di antara wanita dengan riwayat pregnancy losses

berulang pada trimester kedua, tanpa adanya kontraksi uterus. Terdapat lima

penyebab yang diakui atau dapat diterima, yaitu: (1) kelainan bawaan; (2) in-utero

diethylstilbestrol exposure; (3) hilangnya jaringan dari serviks akibat prosedur

11
operasi seperti Loop Electrosurgical Excision Procedure (LEEP) atau conization;

(4) kerusakan yang bersifat traumatis; dan (5) infeksi.8

Selain berhubungan dengan beberapa hal di atas, risiko persalinan preterm

juga meningkat pada perokok. Mekanisme meningkatnya risiko persalinan

preterm pada wanita yang merokok sampai saat ini belum jelas. Terdapat lebih

dari 3000 bahan kimia dalam batang rokok, yang masing-masing efek biologisnya

sebagian besar tidak diketahui. Namun, baik nikotin dan karbon monoksida

merupakan vasokonstriktor yang kuat dan dihubungkan dengan kerusakan

plasenta serta menurunnya aliran darah uteroplasenta. Kedua jalur tersebut

mengarah pada terhambatnya pertumbuhan janin dan persalinan preterm.7,8

2.4 Gejala Klinis

Sering terjadi kesulitan dalam diagnosis ancaman persalinan preterm.

Differensiasi dini antara persalinan palsu dengan persalinan sebenarnya sulit

ditentukan sebelum adanya pendataran dan dilatasi serviks. Kontraksi uterus

sendiri sulit dibedakan karena adanya kontraksi braxtons hicks. Kontraksi ini

digambarkan sebagai kontraksi yang tidak teratur, tidak ritmis, tidak begitu sakit

atau tidak sakit sama sekali, namun dapat menimbulkan keraguan besar dalam

diagnosis persalinan preterm. Tidak jarang wanita yang melahirkan sebelum aterm

memiliki kontraksi yang mirip dengan braxtons hicks yang mengarahkan ke

diagnosis yang salah, yaitu persalinan palsu. Beberapa kriteria yang dapat dipakai

sebagai ancaman persalinan preterm :2

a. Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu atau 140 dan 259 hari.

b. Kontraksi uterus (his) yang teratur yaitu berulang 7-8 kali atau 2-3 kali dalam

10 menit.

12
c. Merasakan gejala seperti kaku di perut, menyerupai rasa kaku seperti

menstruasi, rasa tekanan intrapelvik, nyeri punggung bawah (low back pain).

d. Mengeluarkan lendir bercampu darah pervaginam.

e. Pemeriksaan dalam menunjukkan serviks telah mendatar 50-80%, atau telah

terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm.

f. Selaput amnion sering kali telah pecah.

g. Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika.

2.5 Diagnosis

2.5.1 Anamnesis

Anamnesis diperlukan untuk mencari faktor resiko. Faktor resiko ini

penting dan dalam kaitannya dengan terjadinya persalinan preterm. Berikut adalah

beberapa faktor resiko terjadinya persalinan preterm :5

1. Faktor resiko mayor :

a. Kehamilan multipel

b. Polihidramniom

c. Anomali uterus

d. Dilatasi serviks > 2cm pada usia kehamilan 32 minggu

e. Riwayat abortus 2 kali atau lebih pada trimester II

f. Riwayat persalinan preterm sebelumnya

g. Riwayat menjalani prosedur operasi pada serviks (cone biopsy, loop

electrosurgical excision procedure)

h. Penggunaan cocain dan amphetamine

i. Operasi besar pada abdomen .

2. Faktor resiko minor

13
a. Perdarahan pervaginam setelah 12 minggu

b. Riwayat pyelonefritis

c. Merokok

d. Riwayat abortus

Pasien tergolong resiko tinggi apabila ditemukan lebih dari satu faktor

resiko mayor atau dua atau lebih fator resiko minor, atau keduanya. Disamping

faktor resiko di atas faktor resiko lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat

sosiobiologi (usia ibu, jumlah anak, obesitas, status sosioekonomi yang rendah,

ras, stress lingkungan) dan komplikasi kehamilan lainnya (infeksi maternal,

preeklampsia-eklampsia, plasenta previa, kehamilan yang diperolh melalui

bantuan medikasi, terlambat atau ridak melakukan asuhan antenatal).5

Gambar 3. Mekanisme persalinan preterm pada kehamilan ganda

2.5.2 Perubahan serviks

a. Dilatasi serviks

Dilatasi serviks asimtomatik setelah pertengahan masa kehamilan diduga

sebagai fator resiko persalinan preterm 2

14
b. Panjang serviks

Serviks memegang peranan ganda pada kehamilan. Serviks

mempertahankan isi uterus terhadap pengaruh gravitasi dan tekanan intrauterin

sampai persalinan, dan serviks akan berdilatasi untuk memungkinkan isi uterus

untuk melewatinya selama proses persalinan.

Kompetensi serviks tergantung pada kestuan antara anatomi dan

komposisi biokimia dari serviks. Salah satu indikator dini dari inkompetensia

serviks adalah terjadinya pemendekan dari serviks. Berdasarkan hasil penelitian

dengan ultrasounografi sebagai prediktor persalinan preterm menentukan bahwa

panjang serviks kurang dari 25 mm pada usia kehamilan 24-28 minggu dapat

meningkatkan resiko persalinan preterm.5

c. Inkompetensia Serviks

Inkompetensia serviks adalah diagnosis klinis yang ditandai dengan

dilatasi serviks berulang, tanpa rasa sakit, dan kejadian kelahiran spontan pada

midtrimester tanpa adanya pecah ketuban spontan, peradarahan, ataupun infeksi.

Dilatasi serviks ini dapat diiikuti prolaps dan menggembungnya membran janin ke

dalam vagina, dan akhirnya ekspulsi janin imatur. Penyebab inkompetensia

serviks ini belum jelas, namun terkait dengan riwayat trauma pada serviks seperti

dilatasi , kuretase, kauterisasi.5

2.5.3. Indikasi Wanita yang beresiko mengalami persalinan preterm

Cara utama untuk mengurangi resiko persalinan preterm dapat dilakukan

sejak awal, sebelum tanda tanda persalinan muncul. Dimulai dengan pengenalan

pasien yang beresiko, untuk diberi penjelasan dan penilaian klinik terhadap

persalinan preterm serta pengenalan kontraksi sedini mungkin, sehingga tindakan

15
pencegahan dapat segera dilakukan. Pemeriksaan serviks mempunyai manfaat

yang cukup besar dalam memprediksi terjadinya persalinan preterm. Bila

dijumpai serviks pendek (< 1cm) yang disertai dengan pembukaan yang

merupakan tanda serviks matang/inkompetensia serviks, maka pasien tersebut

dikatakan memiliki resiko mengalami persalinan preterm 3-4 kali.2

2.6 Penatalaksanaan

Manajemen persalinan perterm meliputi:9

1. Tirah baring (bedrest)

Kepentingan istirahat rebah disesuaikan dengan kebutuhan ibu, namun

secara statistik tidak terbukti dapat mengurangi kejadian kurang bulan secara

statistik.

2. Hidrasi dan sedasi

Hidrasi oral maupun intravena sering dilakukan untuk mencegah

persalinan preterm, karena sering terjadi hipovolemik pada ibu dengan

kontraksi premature, walaupun mekanisme biologisnya belum jelas. Preparat

morfin dapat digunakan untuk mendapatkan efek sedasi.

3. Pemberian tokolitik

Tokolitik akan menghambat kontraksi myometrium dan dapat menunda

persalinan. Berikut adalah alasan pemberian tokolitik pada persalinan preterm:3

Mencegah mortalitas dan morbiditas pada bayi prematur.

Memberi kesempatan bagi terapi kortikosteroid untuk menstimulir

surfaktan paru janin.

Memberi kesempatan trasnfer intrauterin pada afsilitas yang lebih lengkap.

Optimalisasi personel.

16
Beberapa macam obat yang dapat digunakan sebagai tokolisis :

a. Nifedipin

Nifedipin 10 mg/oral diulang 2-3 kali/jam, dilanjutkan tiap 8 jam sampai

kontraksi hilang. Obat dapat diberikan lagi jika timbul kontraksi berulang

(Sarwono,2010). Nifedipin diabsorbsi cepat di saluran pencernaan setelah

pemberial oral ataupun sublingual. Konsentrasi maksimal pada plasma umumnya

dicapai setelah 15-90 menit setelah pemberian oral, dengan pemberian sublingual

konsentrasi dalam plasma dicapai setelah 5 menit pemberian.10

b. Magnesium sulfat

Magnesium sulfat dipakai sebagai tokolitik yang diberikan secara

parenteral. Dosis awal 4-6 gr IV diberikan dalam 20 menit, diikuti 1-4 gram per

jam tergantung dari produksi urin dan kontraksi uterus. Bila terjadi efek toksik,

berikan kalsium glukonas 1 gram secara IV perlahan-lahan.9

Terapi tokolitik magnesium sulfat terbukti aman dan bermanfaat terhadap

janin dan ibu. Namun, perubahan tulang yang terlihat melalui rontgen terlihat

pada neonatus dari pasien yang menerima infus magnesium sulfat jangka panjang

(lebih dari 1 minggu). Perubahan-perubahan ini termasuk abnormalitas tulang

secara radiografi seperti perubahan dari tulang panjang, penipisan tulang parietal,

dan mineralisasi tulang yang abnormal. Ketika magnesium sulfat digunakan

dengan hati-hati sebagai obat tokolitik, efek sampingnya terhadap ibu, janin dan

neonatus biasanya sedikit dan tidaklah serius atau merusak.10

c. Beta2-sympathomimetics

Saat ini sudah banyak ditinggalkan. Preparat yang biasa dipakai adalah

ritodrine, terbutaline, salbutamol, isoxsuprine, fenoterol and hexoprenaline.

17
Contoh: Ritodrin (Yutopar) Dosis: 50 mg dalam 500 ml larutan glukosa 5%.

Dimulai dengan 10 tetes per menit dan dinaikkan 5 tetes setiap 10 menit sampai

kontraksi uterus hilang. Infus harus dilanjutkan 12 48 jam setelah kontraksi

hilang. Selanjutnya diberikan dosis pemeliharaan satu tablet (10 mg) setiap 8 jam

setelah makan. Nadi ibu, tekanan darah dan denyut jantung janin harus dimonitor

selama pengobatan.10

Kontra indikasi pemberian adalah penyakit jantung pada ibu, hipertensi

atau hipotensi, hipertiroidi, diabetes dan perdarahan antepartum. Efek samping

yang dapat terjadi pada ibu adalah palpitasi, rasa panas pada muka (flushing),

mual, sakit kepala, nyeri dada, hipotensi, aritmia kordis, edema paru,

hiperglikemi, dan hipoglikemi. Efek samping pada janin antara lain ft.tal

takhikardia. Inpoglikemia, hipokalemi, ileus dan hipotensi.10

d. COX (Cyclo-oxygenase) -2 inhibitor: Indomethacin

Dosis awal 100 mg, dilanjutkan 50 rng per oral setiap 6 jam untuk 8 kali

pemberian. Jika pemberian lebih dari dua hari,dapat rnenimbulkan

oligohidramnion akibat penurunan renal blood flow janin. Indometasin

direkomendasikan pada kehamilan >32 minggu karena dapat mempercepat

penutupan ductus arteriosus.9

4. Pemberian Steroid

Pemakaian kortikosteroid dapat menurunkan kejadian RDS, kematian

neonatal dan perdarahan intraventrikuler. Betametason merupakan obat terpilih,

diberikan secara injeksi intramuskuler dengan dosis 2x12 mg dengan jarak

pemberian 24 jam. Efek optimal dapat dicapai dalam 1 - 7 hari pemberian, setelah

7 hari efeknya masih meningkat. Apabila tidak terdapat betametason, dapat

18
diberikan deksametason dengan dosis 4 x 6 mg intramuskuler dengan jarak

pemberian 12 jam.3

5. Antibiotika

Pemberian antibiotika pada persalinan tanpa infeksi tidak dianjurkan

karena tidak dapat meningkatkan luaran persalinan. Pada ibu dengan ancaman

persalinan preterm dan terdeteksi adanya vaginosis bakterial, pemberian

eritromisin (3 x 500 mg sehari selama 3 hari) atau ampisilin (3 x 500 mg sehari

selama 3 hari.3

6. Perencanaan Persalinan

Persalinan preterm harus dipertimbangkan kasus perkasus, dengan

mengikutsertakan pendapat orang tuanya. Untuk kehamilan <32 minggu

sebaiknya ibu dirujuk ke tempat yang mempunyai fasilitas neonatal intensive care

unit (NICU).. Kehamilan 24- 37 minggu diperlakukan sesuai dengan risiko

obstetrik lainnya dan disamakan dengan aturan persalinan aterm. Tidak dianjurkan

forsep atau episiotomi elektif.9

2. 7 Komplikasi

Pada ibu, setelah persalinan preterm, infeksi endometrium lebih sering

terjadi sehingga mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka

episiotomi. Sedangkan bagi bayi, persalinan preterm menyebabkan 70% kematian

prenatal atau neonatal, serta menyebabkan morbiditas jangka pendek maupun

jangka panjang. Morbiditas jangka pendek diantaranya ialah respiratory distress

syndrome (RDS), perdarahan intra/periventrikular, necrotising enterocolitis

(NEC), displasia bronko-pulmoner, sepsis, dan paten duktus arteriosus. Adapun

morbiditas jangka panjang yang meliputi retardasi mental, gangguan

19
perkembangan, serebral palsi, seizure disorder, kebutaan, hilangnya pendengaran,

juga dapat terjadi disfungsi neurobehavioral dan prestasi sekolah yang kurang

baik.2,3,5,7

2.8 Pencegahan

Intervensi yang dilakukan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas

yang beruhungan dengan persalinan preterm dapat diklasifikasikan sebagai

berikut :

a. Pencegahan primer (sebelum pembuahan dan selama kehamilan)

Ditujukan kepada semua wanita, sebelum dan selama kehamilan untuk

mencegah dan mengurangi resiko.

- Memberikan pendidikan : kepada semua wanita usia reproduksi diberikan

pendidikan mengenai faktor faktor resiko persalinan preterm.

- Mengkonsumsi suplemen nutrisi

- Menghentikan konsumsi rokok

- Melakukan asuhan prenatal.

- Melakukan perawatan periodontal (Rima, 2010).

b. Pencegahan sekunder

Bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi resiko pada wanita yang

diketahui memiliki faktor resiko mengalami persalinan preterm. Bentuk

pencegahan sekunder antara lain, :

- Modifikasi aktivitas ibu (tirah baring, pembatasan aktifitas kerja)

- Pemberian sumplemen nutrisi

- Peningkatan perawatanbagi wanita yang beresiko

- Pemberian progesteron (Rima, 2010).

20
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Persalinan preterm adalah persalinan yang berlangsung pada umur kehamilan

20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. WHO menyatakan

bahwa bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37 minggu

atau kurang.

2. Diperkirakan terdapat 12.870 persalinan preterm per 100.000 kelahiran di

seluruh dunia (9,6%).

3. Penyebab persalinan preterm untuk semua kasus adalah berbeda beda.

Kombinasi keadaan obstetrik, sosiodemografi, dan faktor medik memiliki

pengaruh terhadap terjadinya persalinan preterm.

4. Sering terjadi kesulitan dalam diagnosis ancaman persalinan preterm.

Differensiasi dini antara persalinan palsu dengan persalinan sebenarnya sulit

ditentukan sebelum adanya pendataran dan dilatasi serviks.

5. Penatalaksanaan persalinan preterm meliputi tirah baring, hidrasi dan sedasi,

pemberian tokolitik, steroid dan antibiotik.

6. Persalinan preterm dapat menimbulakn komplikasi bagi ibu dan bayi

7. Intervensi yang dilakukan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas yang

beruhungan dengan persalinan preterm dapat diklasifikasikan sebagai pencegahan

primer dan tersier.

21