Anda di halaman 1dari 8

DERMATOTERAPI

Dermatoterapi adalah ilmu yang mempelajari tentang pengobatan penyakit kulit. 1


Jenis-jenis dermatoterapi :1
a. Medikamentosa : topikal, sistemik
b. Bedah kulit : bedah scalpel, bedah listrik, bedah kimia, bedah beku
c. Penyinaran : radioterapi, sinar UV, sinar laser
d. Psikoterapi
Yang akan dibahas disini adalah pengobatan topikal.

Farmakokinetik Obat Topikal


Untuk dapat masuk ke dalam lapisan kulit, bahan/obat aktif dalam suatu sediaan
topikal harus dilepaskan dari vehikulumnya setelah sediaan obat topikal diaplikasikan.
Pelepasan/ disolusi bahan aktif dari vehikulumnya ditentukan oleh koefisien partisinya.
Makin besar nilai koefisien partisi, maka bahan aktif makin mudah terlepas dari vehikulum. 2
Bahan aktif yang telah terlepas dari vehikulumnya akan berinteraksi dengan
permukaan kulit/ stratum korneum. Bahan aktif yang telah berinteraksi dengan stratum
korneum akan segera berdifusi ke dalam stratum korneum. Difusi yang terjadi dimungkinkan
dengan adanya gradien konsentrasi. Pada awalnya, difusi bahan aktif terutama berlangsung
melalui folikel rambut (jalur transfolikular). Setelah tercapai keseimbangan (steady state),
difusi melalui stratum korneum menjadi lebih dominan. Difusi terdiri dari 2 jalur, yakni jalur
transfolikular dan jalur transkorneal.2
Difusi bahan/obat aktif melalui kedua jalur di atas pada akhirnya akan mencapai
lapisan yang lebih dalam yaitu epidermis hingga kemudian dermis. Dengan adanya pembuluh
darah dalam dermis, bahan aktif yang mencapai lapisan dermis kemudian akan diresorpsi
oleh sistem sirkulasi.2

Pengobatan Topikal
Prinsip obat topikal secara umum terdiri atas 2 bagian:
a. Bahan Dasar (vehikulum)
b. Bahan Aktif

Bahan Dasar (Vehikulum)


Vehikulum atau basis obat adalah bahan dasar obat yang dipakai untuk membawa
bahan aktif pada kulit dan mampu meningkatkan penetrasi obat pada kulit. Pada umumnya
sebagai pegangan ialah pada keadaan dermatosis yang membasah dipakai bahan dasar yang
cair/basah, misalnya kompres; dan pada keadaan kering dipakai bahan dasar padat/kering,
misalnya salap. 1
Secara sederhana bahan dasar dibagi menjadi : 1
1. Cairan
2. Bedak
3. Salap
Disamping itu ada 2 campuran atau lebih bahan dasar, yaitu:
4. Bedak kocok (lotion), yaitu campuran cairan dan bedak
5. Krim, yaitu campuran cairan dan salap
6. Pasta, yaitu campuran salap dan bedak
7. Linimen (pasta pendingin), yaitu campuran cairan, bedak, dan salap

Cairan Bedak Kocok Bedak

Krim Pasta Pendingin Pasta Berlemak

Salap
Gambar 1. Bagan Vehikulum. 1
1. Cairan
Cairan terdiri atas:
a. Solusio artinya larutan dalam air
b. Tingtura artinya larutan dalam alkohol
Solusio dibagi dalam:
1. Kompres
2. Rendam (bath), misalnya rendam kaki, rendam tangan
3. Mandi (full bath)
Prinsip pengobatan cairan ialah membersihkan kulit yang sakit dari debris (pus, krusta
dan sebagainya) dan sisa-sisa obat topikal yang pernah dipakai. Di samping itu terjadi
perlunakan dan pecahnya vesikel, bula, dan pustula. Hasil akhir pengobatan ialah keadaan
yang membasah menjadi kering, permukaan menjadi bersih sehingga mikroorganisme tidak
dapat tumbuh dan mulai terjadi proses epitelisasi. Harus diingat bahwa pengobatan dengan
cairan dapat menyebabkan kulit menjadi terlalu kering. Jadi pengobatan cairan harus dipantau
secara teliti, kalau keadaan sudah mulai kering pemakaiannya dikurangi dan kalau perlu
dihentikan untuk diganti dengan bentuk pengobatan lainnya. Cara kompres lebih disukai
daripada cara rendam dan mandi, karena pada kompres terdapat pendinginan dengan adanya
1
penguapan, sedangkan pada rendam dan mandi terjadi proses maserasi.
Dikenal 2 macam cara kompres, yaitu kompres terbuka dan kompres tertutup. Prinsip
dasar kompres terbuka adalah penguapan cairan kompres disusul absorpsi eksudat atu pus.
Diindikasikan pada dematosis madidans, infeksi kulit dengan eritema yang mencolok dan
ulkus kotor yang mengandung pus dan kusta. Memiliki efek mengeringkan kulit,
vasokonstriksi dan eritema berkurang. Dilakukan dengan cara kasa dicelup ke dalam cairan
kompres, diperas, lalu dibalutkan dan didiamkan, biasanya sehari dua kali selama 3 jam.
Hendaknya jangan sampai terjadi maserasi. Bila kering dibasahkan lagi. Daerah yang
dikompres luasnya 1/3 bagian tubuh agar tidak terjadi pendinginan. Sedangkan kompres
tertutup memiliki prinsip dasar vasodilatasi, digunakan pada kelainan yang dalam, dan
1
dilakukan dengan pembalut tebal dan ditutup dengan bahan impermeabel.

2. Bedak
Bedak yang dioleskan di atas kulit membuat lapisan tipis di kulit yang tidak melekat
erat sehingga penetrasinya sedikit sekali. Memiliki efek mendinginkan, antiinflamasi ringan,
antipruritus lemah, dan proteksi mekanis. Diindikasikan pada dermatosis yang kering dan
superfisial serta untuk m empertahankan vesikel/bula agar tidak pecah, misalnya pada
varisela dan herpes zoster. Tidak boleh digunakan pada dermatitis yang basah, terutama bila
disertai dengan infeksi sekunder.1

3. Salap
Salap ialah bahan berlemak atau seperti lemak, yang pada suhu kamar berkonsistensi
seperti mentega. Bahan dasar biasanya vaselin, tapi dapat pula lanolin atau minyak.
Diindikasikan pada dermatosis yang kering dan kronik, dermatosis yang dalam dan kronik,
karena daya penetrasi salap paling kuat jika dibandingkan dengan bahan dasar lainnya, serta
dermatosis yang bersisik dan berkrusta. Tidak boleh digunakan pada dermatitis madidans.
Jika kelainan kulit terdapat pada bagian badan yang berambut, penggunaan salap tidak
dianjurkan dan salap jangan dipakai di seluruh tubuh.1

4. Bedak Kocok
Bedak kocok terdiri atas campuran air dan bedak, yang biasanya ditambah dengan
gliserin sebagai bahan perekat. Supaya bedak tidak terlalu kental dan tidak cepat menjadi
kering, maka jumlah zat padat maksimal 40% dan jumlah gliserin 10-15%. Hal ini berarti bila
beberapa zat aktif padat ditambahkan, maka persentase tersebut jangan dilampaui.
Diindikasikan pada dermatosis yang kering, superfisial dan agak luas, yang diinginkan adalah
sedikit penetrasi serta pada keadaan subakut. Tidak boleh digunakan pada dermatitis
madidans dan daerah badan yang berambut.1

5. Krim
Krim adalah campuran W (water, air), O (oil, minyak) dan emulgator.
Krim ada dua jenis:
- Krim W/O: air merupakan fase dalam dan minyak fase luar
- Krim O/W: minyak merupakan fase dalam dan air fase luar
Selain itu dipakai emulgator, dan biasanya ditambah bahan pengawet, misalnya
paraben dan juga dicampur dengan parfum. Berbagai bahan aktif dapat dimasukkan di dalam
krim. Diindikasikan untuk kosmetik, dermatosis yang subakut dan luas (penetrasi yang lebih
besar daripada bedak kocok) dan boleh digunakan di daerah yang berambut. Tidak digunakan
pada dermatitis madidans.1
6. Pasta
Pasta ialah campuran homogen bedak dan vaselin. Pasta bersifat protektif dan
mengeringkan. Diindikasikan pada dermatosis yang agak basah. Tidak digunakan pada
dermatosis yang eksudatif dan daerah yang berambut.1

7. Pasta Berlemak (Linimen)


Linimen atau pasta pendingin ialah campuran cairan, bedan, dan salap. Diindikasikan
pada dermatosis yang subakut. Tidak digunakan pada dermatosis madidans.1

8. Gel
Ada vehikulum lain yang tidak termasuk dalam Bagan Vehikulum. Gel ialah
sediaan hidrokoloid atau hidrofilik berupa suspensi yang dibuat dari senyawa organik. Zat
untuk membuat gel diantaranya ialah karbomer, metilselulosa, dan tragakan. Gel segera
mencair, jika berkontak dengan kulit dan membentuk satu lapisan. Absorpsi per kutan lebih
baik daripada krim.1

Bahan Aktif
Memilih obat topikal selain faktor vehikulum, juga faktor bahan aktif yang
dimasukkan ke dalam vehikulum yang mempunyai khasiat tertentu yang sesuai untuk
pengobatan topikal. Khasiat bahan aktif topikal dipengaruhi oleh keadaan fisiko-kimia
permukaan kulit, di samping komposisi formulasi zat yang dipakai. 1
Penetrasi bahan aktif melalui kulit dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk
konsentrasi obat, kelarutannya dalam vehikulum, besar partikel, viskositas, dan efek
vehikulum terhadap kulit. 1
Bahan aktif yang digunakan diantaranya ialah:
1. Aluminium asetat
Contohnya ialah larutan Burowi yang mengandung aluminium asetat 5%. Efeknya
adalah astringen dan antiseptik ringan. Jika hendak digunakan sebagai kompres diencerkan
1:10.1
2. Asam asetat
Dipakai sebagai larutan 5% untuk kompres, bersifat antiseptik untuk infeksi
Pseudomonas.1
3. Asam benzoat
Mempunyai sifat antiseptik terutama fungisidal. Digunakan dalam salap Whitfield
dengan konsentrasi 5%. Whifield II berisi asam salisilat 6% dan asam benzoat 12%.
Sedangkan salap lain ialah whitfield I berisi asam salisilat 3% dan asam benzoat 6%, jadi
konsentrasi bahan aktif hanya separuhnya.1
4. Asam borat
Konsentrasinya 3%, tidak dianjurkan untuk dipakai sebagai bedak, kompres atau
dalam salap berhubung efek antiseptiknya sangat sedikit dan dapat bersifat toksik, terutama
pada kelainan yang luas dan erosif terlebih-lebih pada bayi. 1

5. Asam salisilat
Merupakan zat keratolitik yang tertua yang dikenal dalam pengobatan topikal.
Efeknya adalah mengurangi proliferasi epitel dan menormalisasi keratinisasi yang terganggu.
Pada konsentrasi rendah (1-2%) mempunyai efek keratoplastik, yaitu menunjang
pembentukan keratin yang baru. Pada konsentrasi tinggi (3-20%) bersifat keratolitik dan
dipakai untuk keadaan dermatosis yang hiperkeratotik. Pada konsentrasi sangat tinggi (40%)
dipakai untuk kelainan-kelainan yang dalam, misalnya kalus dan veruka plantaris. Asam
salisil dalam konsentrasi 1%o dipakai sebagai kompres, bersifat antiseptik. Penggunaannya,
misalnya untuk dermatitis eksudatif. Asam salisil 3%-5% juga bersifat mempertinggi absorbsi
per kutan zat-zat aktif. 1
6. Asam undesilenat
Bersifat antimikotik dengan konsentrasi 5% dalam salap atau krim. Dicampur dengan
garam seng (Zn undecylenic) 20%.1
7. Asam vit.A (tretinoin, asam retinoat) 1
Efek
- Memperbaiki keratinisasi menjadi normal, jika terjadi gangguan
- Meningkatkan sintesis D.N.A dalam epitelium germinatif
- Meningkatkan laju mitosis
- Menebalkan stratum granulosum
- Menormalkan parakeratosis
Indikasi
- Penyakit dengan sumbatan folikular
- Penyakit dengan hiperkeratosis
- Pada proses menua kulit akibat sinar matahari
8. Benzokain
Bersifat anestesi. Konsentrasinya -5%, tidak larut dalam air, lebih larut dalam
minyak (1:35), dan lebih larut lagi dalam alkohol. Dapat digunakan dalam vehikulum yang
lain. Sering menyebabkan sensitisasi. 1
9. Benzil benzoat
Cairan berkhasiat sebagai skabisid dan pedikulosid. Digunakan sebagai emulsi denga
konsentrasi 20% atau 25%.1

10. Camphora
Konsentrasinya 1-2%. Bersifat antipruritus berdasarkan penguapan zar tersebut
sehingga terjadi pendinginan. Dapat dimasukkan ke dalam bedak atau bedak kocok yang
mengandung alkohol agar dapat dipakai dalam salap dan krim. 1
11. Kortikosteroid topikal
Merupakan obat topikal yang paling banyak digunakan dalam pengobatan penyakit
kulit. Hal ini disebabkan karena kortikosteroid mempunyai efek antiinflamasi, antimitosis,
dan antiproliferasi. Indikasi penggunaan kortikosteroid topikal pada bayi dan anak tidak
banyak berbeda dengan dewasa. Absorpsi kortikosteroid ke kulit anak dan bayi lebih besar.
Pada umumnya golongan eczema atau dermatitis merupakan golongan penyakit yang
responsive terhadap steroid, sedangkan psoriasis palmo-plantar, lupus eritematoses discoid
dan liken planus termasuk golongan yang kurang responsif. 2
Kortikosteroid topikal dibagi menjadi 7 golongan besar, diurutan berdasarkan anti-
inflamasi dan antimitotic. Golongan I yang paling kuat daya anti-inflamasi dan
antimitotiknya (superpoten). Sebaliknya, golongan 7 adalah yang terlemah. 1
12. Menthol
Bersifat antipruritik seperti camphora. Pemakaiannya seperti pada camphora,
konsentrasinya -2%. 1
13. Podofilin
Damar podofilin digunakan dengan konsentrasi 25% sebagai tingtur untuk kondiloma
akuminatum. Setelah 4-6 jam hendaknya dicuci. 1
14. Selenium disulfid
Digunakan sebagai sampo 1% untuk dermatitis seboroik pada kepala dan tinea
versikolor. Kemungkinan terjadinya efek toksis rendah. 1
15. Sulfur
Merupakan unsur yang telah digunakan selama berabad-abad dalam dermatologi.
Bersifat antiseboroik, anti akne, antiskabies, antibakteri positif. Gram dan antijamur. Yang
digunakan adalah sulfur dengan tingkat terhalus, yaitu sulfur presipitatum (belerang endap)
berupa bubuk kuning kehijauan. Biasanya dipakai dalam konsentrasi 4-20%. Dapat
digunakan dalam pasta, krim, salap, dan bedak kocok. Contoh dalam salap adalah salap 2-4
yang mengandung asam salisilat 2% dan sulfur presipitatum 4%. Sedangkan contoh dalam
bedak kocok ialah losio Kummerfeldi dipakai untuk akne. 1

16. T e r
Preparat golongan ini didapat sebagai hasil destilasi kering dari batubara, kayu dan
fosil. Yang berasal dari batubara, misalnya liantral dan likuor karbonis detergens. Yang
berasal dari kayu, misalnya oleum kadini dan oleum ruski. Contoh yang berasal dari fosil
ialah iktiol. 1
Preparat ter yang kami sering gunakan ialah likuor karbonis detergens karena tidak
berwarna hitam seperti yang lain dan tidak begitu berbau. Konsentrasi 2-5%. Efeknya anti
pruritus, antiradang, antieksem, antiakantosis keratoplastik, dapat digunakan untuk psoriasis
dan dermatitis kronis dalam salap. Jika terdapat lesi yang universal, misalnya pada psoriasis,
tidak boleh dioleskan di seluruh lesi karena akan diabsorbsi dan memberi efek toksik
terhadap ginjal. Cara pengolesan digilir, tubuh dibagi 3, hari I : kepala dan ekstremitas atas,
hari II : batang tubuh dan hari III ekstremitas bawah. 1
Efek sampingnya pada pemakaian ter perlu diperhatikan adanya reaksi fototoksik,
pada ter yang berasal dari batubara dapat juga terjadi folikulitis dan ter akne. Efek karsinogen
ter batubara dapat terjadi pada pemakaian lama. Pada pemakaian dalam waktu yang singkat
efek samping ini tidak pernah terjadi. 1
17. Zat antiseptik
Zat ini bersifat antiseptik dan/atau bakteriostatik. Zat-zat antiseptik lebih disukai
dalam bidang dermatologi daripada zat antibiotik, sebab dengan memakai zat antiseptik
persoalan resistensi terhadap antibiotik dapat dihindarkan. 1
Golongan antiseptik: 1
a. Alkohol
b. Fenol
c. Halogen
d. Zat-zat pengoksidasi
e. Senyawa logam berat
f. Zat warna

Sumber :

1. Djuanda, A., Mochtar H, Siti A. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 6. Jakarta:
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2011. Hal. 342-52.
2. Aieska DS, Bruce ES. Principles of Topical Therapy. In: Wolff K, Lowel AG, Stephen
IK, Barbara AG, Amy SP, David JL, editors. Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine, 8th ed. New York: McGraw Hill; 2012. p. 2644-51.